Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radio Farmasi atau Farmasi Nuklir adalah penggunaan prinsip dan caracara farmasi dan radiokimia untuk membuat obat yang mengandung zat radioaktif
(radiofarmaka)

bagi

keperluan

zat

radioaktif

(radiofarmaka)

bagi

keperluan diagnosa dan penyembuhan (terapi) penyakit yang diidap pasien.


Radiofarmasetik adalah senyawa radioaktif yang digunakan untuk
diagnostik dan terapetik dari penyakit manusia. Dalam kedokteran nuklir hampir
95% radiofarmasetik digunakan untuk maksud diagnostik, sedangkan sisanya
digunakan untuk tujuan terapetik. Radiofarmasetik umumnya tidak mempunyai
efek farmakologis, sebab dalam banyak hal mereka digunakan dalam jumlah
sedikit. Dalam hal ini mereka tidak menunjukkan hubungan dosis-respon dan
maka dari itu berbeda dari obat konvensional. Sebab mereka digunakan pada
manusia, mereka hams steril dan bebas pirogen, dan mereka harus mengalami
semua persyaratan kontrol kualitas dari obat konvensional. Radiofarmasetik bisa
elemen radioaktif seperti

133

Xe atau

85

Kr, atau senyawa berlabel seperti

131

1-

iodinated protein dan senyawa berlabel 99mTc.


Pada tahun akhir-akhir ini penggunaan senyawa berlabel dengan
radionuklida tumbuh cepat dalam medikal, biokimia dan bidang lain yang sesuai.
Dalam bidang medikal, senyawa berlabel dengan emisi - terutama ditekankan
pada eksperimen in vitro dan pengobatan terape- tik, dimana label tersebut dengan
radio nuklida emisi - secara luas digunakan.
Dalam senyawa radio berlabel, atom-atom gugus atom dari molekul
disubstitusikan dengan atom atau gugus atom radioaktif yang sama atau berbeda,
atau kation tertentu dikhelatkan dengan beberapa molekul karier. Labeling dapat
dikerjakan dengan isotop dari elemen yang sama atau elemen yang berbeda.
Dalam beberapa proses labeling, variasi dari kondisi fisiko kimia dapat digunakan
untuk mencapai macam spesifik dari labeling.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Senyawa apa saja yang berlabel Senyawa berlabel 99mTc ?
1.2.2
Senyawa apa saja yang senyawa terradioiodinasi ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui Senyawa apa saja yang berlabel Senyawa berlabel
99m

1.3.2

Tc
Untuk mengetahui Senyawa apa saja yang senyawa terradioiodinasi

BAB 2
ISI

2.1 Senyawa berlabel 99mTc


2.1.1 Sirum albumin manusia berlabel 99mTc
Senyawa ini dibuat dengan pertama reduksi pertechnetate

99m

Tc-O4-

dengan stanoklorida dalma media asam dan kemudian ditambahkan campuran ini
ke dalam larutan 1% albumin serum manusia. Kemudian pH diatur menjadi 6
dengan NaOH encer. Radioaktivitas

99m

Tc yang tidak bereaksi dapat dihilangkan

dengan melewatkan campuran reaksi melalui Dowex-1 anion-exchange resin,


dimana albumin berlabel 99mTc tampak di dalam eluat dan

99m

Tc-O4- ditarik oleh

resin. Hasil labeling mendekati 90% - 95%.


Senyawa ini juga bisa disiapkan dengan elektrolisis dari campuran

99m

Tc-

O4- dan 0,1% albumin larutan menggunakan elektroda zerconium dengan adanya
HCl encer. 99mTc7+ direduksi menjadi valensi yang lebih rendah dengan elektrolisis
dan technetium yang tereduksi diikat dengan albumin. Akhirnya, pH larutan diatur
menjadi 6-7 dengan NaOH.
Kedudukan valensi technetium didalam albumin berlabel 99mTc tidak
diketahui dengan pasti. Maka, telah dipostulatkan menjadi 5 +. Adanya beberapa
agen oksidasi atau pemberian oksidan kedalam sediaan dapat mengoksidasi
technetium tereduksi, menghasilkan pecahan komplek. Larutan albumin berlabel
harus disimpan antara 2 dan 8C untuk memperkecil degradasi dan pertumbuhan
bakteri. Sediaan baik hanya untuk 3-6 jam, terutama karena pendeknya waktu
paruh dari 99mTc. Tidak ada zat pengawet ditambahkan dan komplek bisa encerkan
dengan larutan garam fisiologis.
Kit albumin untuk labeling 99mTc secara komersial baik. Labeling
dikerjakan dengan penambahan sederhana dari

99m

Tc-O4- kepada kit dengan hasil

90%-99%.
Albumin berlabel banyak digunakan untuk mengukur volume darah dan
cardiac out put. Pemakaian lain termasuk pool darah dan gambaran plasenta dan
studi mengenai fungsi ventricular dari hati.
2.1.2 Albumin makroagregat berlabel 99mTc

99m

Tc-MAA dapat dibuat dari albumin berlabel

mengatur

Ph

menjadi

5,5

(titik

isoelektrik

99m

T c dengan pertama

albumin)

dan

kemudian

memanaskannya pada 100C selama 20 menit di dalam shaking water bath. pH


akhir diatur menjadi 6-7. Ukuran partikel bisa berjarak dari 10-100 p.m, dan
ukuran distribusi dapat bervariasi luas dari satu sediaan ke yang lain. Untuk alasan
ini, ukuran partikel harus dicek terutama untuk penggunaan manusia dengan
hemocytometer dibawah cahaya mikroskop dan suspensi mengandung partikel
yang lebih besar dari 150 m harus dihilangkan. Berbagai perusahaan mensuplay
MAA dalam bentuk kit yang berbeda, tetapi semua dari mereka adalah sama
dalam komposisi dasarnya. Kit umumnya berisi sediaan terliopilisasi dari 1-2 mg
albumin serum manusia teragregasi, 80-300 g stanoklorida, dan ditambahkan
HCl pada liopilisasi untuk pengaturan pH. Sebagai tambahan, perusahaan yang
berbeda menambahkan sejumlah yang berbeda dari subtansi lain, seperti sodium
asetat, asam asetat asam suksinat, laktosa, dan sebagainya, sebagai preserfatif dan
stabiliser.
Pembuatan

99m

Tc-MAA menggunakan beberapa kit dikerjakan sederhana

dengan menambahkan
Hasil dari

99m

Tc-O4- ke kit dan menggojognya untuk beberapa menit.

99m

Tc-MAA adalah sebesar 90%-99%. Sebagian besar sediaan adalah

stabil untuk 4-8 jam dan harus disimpan pada 2-8C. Sebab ukuran partikel
adalah besar, sediaan ini umumnya didespensikan dengan 18-21 gauge needles.
Selebihnya, darah harus tidak di aspirasikan dalam jarum suntik selama sediaan di
injeksikan sebab is cenderung untuk membentuk clots (cendalan) dalam kontek
dengan darah. Bila dinjeksikan, cendalan ini dapat menghasilkan dalam hot spots
dalam scanning.
Ini adalah agen pilihan untuk gambaran perfusi jantung dan secara tidak
teratur digunakan untuk mendeteksi klot dalam ekstrinitas yang lebih rendah,
prosedur ini di sebutnya fenography.

2.1.3 Mikrosper albumin berlabel 99mTc

Perbedaan dasar antara mikrosper dan makroagregat dari albumin terletak


dalam bentuk dan densite dari patikel (kerapatan). Mikrosper adalah bentuk sperik
uniform, dimana makrogregat adalah tidak uniform dalam bentuk.
Catat bentuk sangat irigular dari partikel MAA dibanding dengan bentuk
sperik dari partikel mikrosper.
Mikrosper adalah lebih rigid dan dan rapat dalam struktur, dan distribusi
ukuran mereka lebih sempit dan pada makroagregat.
Mikrosper albumin serum manusia dibuat dengan homogenezing larutan
albumin serum manusia dengan minyak jarak dan panaskan campuran pada 180C
selama 10 menit. Ini kemudian dicampur dengan dietil eter atau heptan dan
selanjutnya dipisahkan dengan sentrifugasi. Partikel dikeringkan, dilakukan
dengan stanofluorida, dan kemudian disaring untuk mendapatkan jarak ukuran
yang dikehendaki (1-10 m, 10-35 m, 35-60 m dst). Perusahaan 3M mensuplay
mikrosper albumin serum manusia dalam bentuk kit.
Pembuatan dan mikrosper berlabel 99mTc menggunakan kit dikerjakan
sederhana dengan menambahkan 99mTc-O4- ke dalam vial dan kemudian disonikasi
suspensi selama 5 menit. Bentuk partikel hams dicek dan suspensi hams dibuang
bila bentuknya lebih besar dari 150 m sebab partikel ini dapat occlude large
pulmonary arteries, menyebabkan embolisma regional.
Kadang-kadang agregasi dari mikrosper bisa terjadi didalam suspensi
dengan waktu setelah labeling, agregat ini dapat dihancurkan dengan
penggojogkan suspensi keras-keras atau sonikasi sebentar-sebentar terutama untuk
injeksi. Sediaan hams disimpan pada 2-8C dan digunakan dengan alat jarum 1821. Ini harus dalam 8 jam setelah pembuatan. Hasil labeling umumnya
mendapatkan 95% dan waktu hidup dari kit sekitar 6 bulan, bila disimpan di
refrigerator. Penggunaan mikrosper berlabel 99mTc sama dengan 99mTc-MAA.
2.1.4 Senyawa fosfat berlabel 99mTc
Sejak sekitar tahun 1970 sejumlah senyawa fosfat- 99mTc telah digunakan
untuk gambaran tulang belakang. Awalnya diperkenalkan
kemudian segera diganti 99mTc-polifosfat.

99m

Tc-tripolifosfat, yang

Pembuatan senyawa fosfat-99mTc melibatkan reduksi

99m

Tc-O4- dengan Sn2'

dalam media asam dan kemudian dibiarkan mereduksi technetium untuk mengikat
senyawa fosfat. pH akhir diatur menjadi 7 dengan NaOH encer. Difosfonat dan
pirofosfat adalah umumnya tersedia dalam bentuk kit.
Labeling dari senyawa fosfat dengan

99m

Tc-O4- dapat dikerjakan sederhana

dengan menambahkan 99mTc-O4- kedalam kit dan kemudian digojog larutan selama
beberapa menit. Hasil labeling lebih dari 90% dan sediaan umumnya baik untuk
3-6 jam setelah labeling. Kit mempunyai waktu hidup 6 bulan setelah diproduksi.
99m

Keadaan valensi dari Tc dalam

Tc-HEDP telah dilaporkan menjadi 4+, dan

dalam 99mTc-pirofosfat menjadi campuran dari 3+ dan 4+.


Senyawa

99m

Tc-HEDP,

991n

Tc-MDP, dan

99m

Tc-pirofosfat digunakan dalam

gambaran tulang belakang dan deteksi mikokardial infark. Beberapa penelitian


telah menggunakan agen ini untuk gambaran join dan sinofium.
2.1.5 DTPA berlabel 99mTc
Agen ini dibuat dengan reduksi 99mTc-O4- dengan stanoklorida dalam media
asam dan kemudian ditambahkan pada DTPA. Kit tersedia dalam bentuk
liopilisasi dibawah nitrogen. Dengan kit,
menambahkan

99m

Tc-DPTA dibuat sederhana dengan

99mTc

-O4- kedalam vial dan digojog selama 1 menit. Hasil labeling

lebih besar dari 95%.


Setelah pembuatan,

99m

Tc-DTPA adalah stabil selama hampir 6 jam.

Keadaan valensi dari technetium dalam

99m

Tc-DTPA telah dipostulatkan menjadi

3+ dari bukti studi analitik. Agen chelat DTPA berlabel dengan 99mTc digunakan
untuk otak dan gambaran ginjal.
2.1.6 Sel darah merah berlabel 99mTc
Ada dua metoda dari labeling sel darah merah dengan 99mTc tambahan
dari tin sebelum penambahan

99m

Tc-O4- pada sel yang disebutnya dengan metoda

pretinning. Dan penambahan dari tin setelah penambahan 99mTc-O4 -- pada sel.
Pada metoda pritinning

99m

Tc-O4- ditambahkan ke campuran stanositrat dan sel

darah merah. Hasil labeling didapat bisa 85%-95%.


Pada metoda kedua, sedikit volume 99mTc diinkubasi dengan sel darah
merah pada

temperatur kamar selama 20 menit. Stanoklorida kemudian ditambahkan pada


campuran dan diaduk beberapa menit. Jumlah Sn2+ ditambahkan hams dalam
jarak 20-30 lig SnC12. 2H20 / ml packed sel merah. Dengan konsentrasi lebih
tinggi dari Sn2+, hasil sel yang terlabel akan turun. Hasil labeling dalam sediaan
normal sekitar 50%-70% yang lebih daripada yang didapat dengan metoda
pritinning. Maka dari itu waktu labeling diperpendek dibanding dengan metoda
pritinning. Penambahan langsung dari sel merah pada campuran

99m

Tc-O4- dan

Sn2+ basil kecil atau tidak ada setelah sel dilabel. Sebab label sel merah di
aglutinasikan dengan alumunium, adanya alumunium dalam eluat-99mTc dari
generator moly harus dihindari.
Untuk mekanisme labeling sel darah merah dengan
dipostulatkan bahwa

99m

Tc, telah

99m

Tc-O4- awalnya melalui membran sel dari sel merah, dan

seterusnya Sn2+ berdifusi ke dalam sel. Sn2+ mereduksi

99m

Tc7+, yang kemudian

mengikat pada protein secara instaseluler. Technitium-99mTc didapat berikatan


dengan hemoglobin. Sel darah merah berlabel 99mTc digunakan untuk bayangan
pol darah dan pengukuran dari volume sel merah dan sel yang surfifal. Aplikasi
lain adalah dalam studi fungsi fentrikular dari jantung. Mereka juga digunakan
untuk bayangan dari limfa dan studi aliran sel dalam limfa. Untuk maksud ini, sel
berlabel didenaturasikan oleh pemanasan pada 50C selama 20 menit.
2.1.7 HI DA berlabel 99mTc
HIDA disintesis dengan merefluk campuran dari jumlah molar yang
sesuaidari...... kloro-2-...... metilasetanilid dan sodium iminodiasetat dalam solven
etanol air (3:1). Labeling dari HIDA dengan

99m

Tc dibarengi dengan penambahan

99m

Tc-O4- pada campuran HIDA dan SnC12.2H20.


Tersedia kit yang mengandung HIDA terliopilisasi dan kaleng. Hasil

labeling lebih besar 99% bila direkonstitusikan dengan

99m

Tc-O4-. Ini djumpai

dengan metoda elektroforesis bahwa rasio HIDA pada technitium dalam komplek
99mTc-HIDA adalah 2:1 dan formula kimianya diperkirakan menjadi

99m

(HIDA)2-. Ini juga telah ditunjukkan bahwa oksidasi technitium dalam

99m

(HIDA)2- adalah 3+.

Tc
Tc

Beberapa senyawa N-tersubstitusi iminodiasetat lain telah disiapkan,


dilabel dengan

99m

Tc dan dibandingkan dengan HIDA. Contoh 2,6-dietil, derivat

para-isopropil dari N, a-asetanilid iminodiasetat (dietil-IDA dan PIPIDA).


Keduanya HIDA dan PIPIDA tersedia dalam perdagangan dalam bentuk kit.
Agen ini diklim menjadi salah satu yang paling banyak digunakan
radiofarmasetik untuk evaluasi fungsi hepatobiliar. PIPIDA telah dijumpai agen
hepatobiliar yang lebih baik dari HIDA.
2.1.8 Senyawa berlabel 99mTc lain
Banyak senyawa berlabel 99mTc sebagai tambahan pada yang diterangkan
diatas telah dibuat dan digunakan untuk studi klinik yang berbeda. Diantara
mereka adalah 99mTc-pirofosfat untuk gambaran liver, 99mTc-glukoheptonat untuk
gambaran ginjal dan otak,

99m

Tc-bleomisin untuk gambaran tumor,

piridoksillidine glutamat untuk gambaran gall-bladder.

99m

Tc-

99m

Tc-dimerkapto suksinat

untuk gambaran g,injal, 99mTc-tetrasiklin untuk gambaran infark miokardial,


99m

Tc-penisilamin untuk gambaran gall bladder dan ginjal. 99mTc-feri hidroksida

untuk gambaran paru-paru, 99mTc-Fe askoarbat untuk gambaran ginjal.


Prinsip labeling senyawa ini dasarnya sama dengan yang telah
didiskusikan, misalnya, reduksi dari 99mTc7+ untuk menurunkan keadaan valensi
dan kemudian addisi dari reduksi technetium pada senyawa yang dilabel.
Walaupun Sri++ digunakan sebagai agen reduksi dalam hampir semua kasus, agen
reduksi adalah penisilamin sendiri dalam hal 99mTc -penisilamin. Dalam hal
99m

Tc-Fe-ascorbate, asam askorbat dll sebagai agen reduksi dengan adanya Fe3+.

Setelah pemberian intravena dari 99mTcphytate, partikel koloid terbentuk in-vivo


dengan reaksi dari 99mTc -phytate dengan sirkulasi Ca2+ dalam darah.
2.2 Senyawa terradioiodinasi
2.2.1 Sodium iodida 131I
Iodine-131 dipisahkan dalam bentuk dari bentuk iodida dari produk dari
uranium fission atau iradiasi neutron dari tellurium. Ini tersedia carrier-free, dan
sesuai dengan USP XIX, jumlah dari bentuk kimia lain dari aktivitas tidak boleh
ada 5% dari total radioaktivitas. Ini disuply baik dalam kapsul maupun bentuk
cairan untuk pemberian oral. Kapsul dibuat dengan menguapkan larutan alkoholat

dari carrier-free iodida pada bagian dalam dinding kapsul gelatin. Aktivitas tinggal
hampir tetap, dan kapsul sangat baik dan safe untuk penggunaan dalam keduanya
dosis diagnostik dan terapetik.
Larutan

131

I sodium iodida jernih dan tak berwarna dan dibuat isotonik

dengan fisiologis salin. Iodium askorbat atau sodium tiosulfat ditambahkan untuk
menghindari addisi iodida pada iodine, yang dapat hilang dengan volatilisasi, pH
dijaga antara 7,5 dan 9,0. Radiasi (sinar W) dapat menyebabkan keduanya larutan
dan wadah gelap waktu hidup dari sediaan

131I

iodida adalah 4 minggu setelah

kalibrasi.
Agen ini digunakan sebagian besar untuk mengukur pengambilan thyroid
dan skanning thyroid setelah pemberian oral. Baik kapsul atau larutan untuk
penggunaan oral digunakan sebagai obat pilihan oleh dokter, walaupun absorpsi
iodine jelek, telah dilaporkan dengan kapsul. Penggunaan

131

I sodium iodida lain

adalah dalam pengobatan penyakit seperti kanker thyroid dan hiperthyroidisme.


2.2.2 Albumin terradioiodinasi
Walaupun albumin dapat dilabel dengan semua radioisotop iodine,
berlabel Albumin serum manusia,

131

I-

131

I-Radio iodinated serum Albumin (RISA),

yang sering disebut, banyak digunakan dalam kedokteran klinik. Ini dibuat dengan
iodinasi albumin serum manusia menggunakan metoda Kloramin-T pada 10C
dalam media alkali. lodida bebas dibuang dengan ion-exchange resin dan filtrasi
Millipore

digunakan

untk

mensterilkan

produk.

Sediaan

perdagangan

mengandung 0,9% benzyl alkohol sebagai preservative dan 0,45% larutan sodium
klorida untuk isotonisitas. Larutan hams disimpan pada 2- 8C untuk mengurangi
degradasi. Waktu hidup setelah iodinasi adalah 120 hari untuk
hari untuk

123

I-RISA dan 30

131

I-RISA. Untuk melarutkan RISA, seseorang harus menggunakan

garam isotonik yang mengandung sejumlah kecil albumin serum manusia. Yang
terakhir ini ditambahkan untuk mencegah adsorpsi RISA pada dinding dari
wadah.
RISA tampak jernih, tak berwarna sampai larutan agak kuning. Radiasi
dapat menyebabkan keduanya larutan albumin dan wadah menggelapkan dengan
waktu. Menurut USP XDC, pH larutan harus antara 7,0 dan 8,5 dan bentuk lain

dari aktivitas, termasuk iodida dan iodate, tidak lebih dari 3% dari total
radioaktivitas.
Volume darah dan output jantung diukur dengan RISA. Ini adalah agen
pilihan untuk skanning otak sampai

197

Hg-Klormerodin dan akhir-akhir ini

99m

Tc-

O4- menggantikannya sebab tingginya dosis radiasi pada pasien. Ini juga
digunakan dalam placental localization dan cistermography, tetapi banyak diganti
oleh agen lain yang baik.
2.2.3 Albumin makroagregat berlabel 131I
Albumin serum manusia adalah pertama dilabel dengan

131

I dan kemudian

dagregasi panas pada pH 5,5 untuk menghasilkan partikel yang ukurannya


terkontrol. Ukuran partikel MAA bervariasi antara 10 dan 90 gm. Sediaan harus
disimpan pada 2-4C. Ini biasanya disuply dalam vial multidose dan tidak boleh
digunakan lebih dari 2 minggu setelah tinggal kalibrasi. Larutan 131I-MAA
mengandung 1% benzyl alkohol sebagai agen antibakterisidal dan dibuat isotonik
dengan sodium klorida.
Ukuran partikel dicek dengan hemocytometer dibawah sinar mikroskop.
Bila ada partikel lebih besar dari 150 gm, sediaan hams dibuang. MAA terionisasi
digunakan terutama untuk gambaran perfusi paru-paru, Maka, karena tingginya
dosis radiasi pada pasien, ini telah diganti dengan

99m

Tc-MAA dan mikroskop

berlabel-99mTc
2.2.4 Rose Bengal 131I
Zat warna rose bengal mempunyai nama kimia tetra iodo, tetra kloro,
fluorescein. Ini diiodinasi oleh metoda pertukaran isotop menggunakan potasium
iodat sebagai oksidan. Iodinasi dikerjakan dengan inkubasi larutan etanol dari rose
bengal dengan potasium iodat dan

131

I-Sodium iodida pada pH agak asam dan

pada temperatur kamar selama 30-60 menit.


Radiofarmasetik ini disuply dengan 1% benzil alkohol sebagai preservativ
di dalam vial multi dose. Ia dapat disimpan pada temperatur kamar dan
mempunyai waktu hidup 4 minggu

setelah kalibrasi. Warna larutan deepred dan beberapa perubahan warna akan
terjadi sebagai perubahan kimia dalam zat warna. Menurut USP XIX, bentuk lain
dari radioaktivitas tidak boleh lebih 10% dari radioaktivitas total. Ini hanya
dikerjakan untuk studi fungsi liver, terutama dalam jaundice dan biliary
obstruction.
2.2.5 131I Sodium orto iodo hipurat
Struktur molekul dari
diiodinasi dengan

131

I-Sodium orto iodo hipurat (hippuran) Ini

131

I dengan metoda iodine monoklorid. Iodinasi dikerjakan

dengan memanaskan campuran iodinasi pada 100C selama 2 jam pada pH 6.


Radioiodinasi orto iodo hipurat adalah larutan tidak berwarna disuply dalam vial
multi dose yang mengandung 1% benzil alkohol sebagai preservatif dan tidak
boleh digunakan lebih dari 4 minggu setelah tanggal kalibrasi.
pH nya dijaga antara 7,0 dan 8,5. Menurut USP XIX, iodida bebas atau
bentuk lain dari radioaktivitas tidak boleh lebih dari 3% radioaktivitas total. Ini
dikerjakan untuk mengukur efektif aliran plasma ginjal pada manusia. Ini banyak
digunakan dalam renografi untuk diagnosis dari beberapa penyakit yang
berhubungan dengan obstruction renal seperti nekrosis tubular akut atau oreteral
stenosis.
2.2.6 Asam oleat dan triolein berlabel 125I atau 131I
Triolein adalah diodinasi dengan aksi dari iodine monoklorid pada lemak
triolein sangat murni dalam larutan karbon tetraldorida. Setelah iodinasi triolein
dihilangkan dari solven, dilarutkan dengan minyak kelapa sampai konsentrasi
sekitar 1 mCi/ml. Asam oleat diiodinasi dengan metoda yang sama dan
mempunyai sifat sama dengan triolein. Sifat dari senyawa ini agak altered
disebabkan oleh penjenuhan ikatan rangkap dengan radioiodin. Dua senyawa ini
diutamakan sebagai agen diagnostik untuk mengukur absorpsi lemak dalam
berbagai disfungsi gastro-intestinal. 19-Iodo kolesterol dan 613 iodometil -19-nor
kolesterol berlabel 131I.
Senyawa 19-Iodo kolesterol dilabel dengan
isotop. Campuran

131

131

I dengan metoda pertukaran

I- sodium iodida dalam benzen dan 19-iodo kolesterol dalam

aseton direfluk dibawah atmosfir nitrogen selama 4 jam, dan iodo kolesterol
berlabel di rekoveri dengan ekstraksi eter dengan hasil mendekati 50% - 60%.
Senyawa 6 B-iodometil-19-nor kolesterol (NP-59) disintesa dengan
merefluk koles-5- en- 3 B, 19-dio1-19-toluen-p-solfunat dalam etanol selama 4
jam. NP-59 dimurnikan dan kemudian diiodinasi dengan

131

I dengan metoda

pertukaran isotop. Ini diformulasi dalam alkohol dan mengandung tween 80. Pada
4C

131

I-NP-59 stabil selama 2 minggu, dan deiodinasi terjadi pada temperatur

kamar atau lebih tinggi.


Keduanya 19-iodo kolesterol berlabel

131

I dan NP-59 digunakan dalam

skanning glandula adrenal dan disuply oleh Universitas Michigan, Ann Arbor,
Machigan.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Senyawa berlabel 99mTc
1. Sirum albumin manusia berlabel 99mTc
2. Albumin makroagregat berlabel 99mTc
3. Mikrosper albumin berlabel 99mTc
4. Senyawa fosfat berlabel 99mTc
5. DTPA berlabel 99mTc
6. Sel darah merah berlabel 99mTc
7. HI DA berlabel 99mTc
8. Senyawa berlabel 99mTc lain
3.1.2 Senyawa terradioiodinasi
1. Sodium iodida 131I
2. Albumin terradioiodinasi
3. Albumin makroagregat berlabel 131I
4. Rose Bengal 131I
5. 131I Sodium orto iodo hipurat
6. Asam oleat dan triolein berlabel 125I atau 131I
3.2 Saran
3.2.1 Mahasiswa agar lebih mempelajari lebih lanjut tentang materi Karakteristik
dan radio farmasetik spesifik