Anda di halaman 1dari 20

DESKRIPSI UMUM EUCALYPTUS spp.

DAN PENGEMBANGANNYA
MENJADI SPECIES TANAMAN POKOK DI HTI

Genus Eucalyptus di dunia terdiri dari lebih 700 spesies dan 138 varietas,
dimana di luar spesies dan varietas yang sudah diketahui masih mungkin
ditemukan

spesies-spesies dan varietas baru yang termasuk ke dalam

genus Eucalyptus (Blakley, 1955; Johnston and Marryatt 1965; Penford and
Willis, 1961 dalam Krugman and Whitesell (?); Rockwood et al 2008, Flynn
(?); www.wikipedia.org, Heathcore, 2002, White, 1993 ). Spesies yang
termasuk kedalam genus Eucalyptus memiliki bentuk pohon dengan batang
utama yang tinggi, walaupun demikian beberapa spesies dalam genus ini
ada yang berbentuk semak berkayu (Jacobs, 1979 dalam Krugman and
Whitesell,?). Genus Eucalyptus secara umum tumbuh alami di Australia,
namun beberapa spesies tumbuh alami di Philipina, Papua New Guinea, dan
Pulau Timor di Indonesia (Hall et al dalam Krugman and Whitesell, 1963).
Genus Eucalyptus merupakan salah satu genus yang banyak dibudidayakan
dalam bentuk hutan tanaman di berbagai belahan dunia, pohonnya dapat
digunakan sebagai ornamen, sebagai pohon peneduh, konservasi tanah,
kayu pertukangan dan bubur kertas atau pulp (Chippendale et al dalam
Krugman and Whitesell (?) ; Heathcore, 2002 ; http://www.anbg.gov.au;
Turnbull, 1999) . Lebih jelasnya http://www.bracelpa.org/ mengatakan ,
Eucalyptus dapat digunakan untuk berbagai keperluan baik untuk kayu serat
untuk berbagai industri kertas, kayu pertukangan, furniture, tiang, papan,
plywood, sumber makanan seperti madu, papan partikel, minyak atsiri, dsb.

Menurut Evans (1992), Eucalyptus spp menduduki 37.5 % dari seluruh areal
hutan tanaman di daerah tropis pada tahun 1980 sedangkan menurut Ball
(1993), Brown (2000), Flynn (?) dan Varmola dan Carle (2002), Eucalyptus
sebagai salah satu hardwood species penting sebagai penyuplai kayu dunia
sampai tahun 1995 terjadi penambahan luas hutan tanaman dan luas hutan
tanaman Eucalyptus mencapai 17.7% dari total luas hutan tanaman di dunia
atau

9.9 juta hektar dari luas hutan tanaman di dunia pada tahun yang

sama seluas 56.3 juta hektar seperti terlihat pada grafik di bawah ini :

Sementara FAO (2006, 2007) melaporkan bahwa perkembangan Hutan


tanaman di dunia sampai tahun 2005 sudah mencapai 181 juta hektar dan
10 negara yang memiliki luas hutan tanaman terluas adalah China, India,
Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Swedia, Polandia, Sudan, Brazil dan
Finlandia . Sementara jenis jenis yang dikembangkan sebagai tanaman
pokok terdiri dari 2 kelompok yaitu hardwood dan softwood. Untuk kelompok
hardwood didominasi oleh Eucalyptus spp. , Acacia spp. dan Tectona
grandis.
Sementara itu Rockwood et al (2008) melaporkan , Eucalyptus sudah
dikembangkan menjadi salah satu species penting dalam hutan tanaman
industri hampir di 90 negara dan telah mencapai luasan 18 juta hektar baik

itu di daerah tropis maupun sub tropis di benua Amerika Selatan, Asia,
Afrika dan Australia ataupun di daerah temperate seperti di Amerika Utara,
Eropa, Amerika Selatan dan Australia Selatan dan menurut Turnbull (1999),
pengembangan Eucalyptus spp. sudah dimulai pada abad ke 18 dengan
diperkenalkannya Eucalyptus dari Australia di benua Eropa oleh Charles
Louis L Heritier de Brutelle, seorang botanis Perancis. Dari sejak itu,
pengembangan Eucalyptus terus meluas ke berbagai negara .

Menurut

White (1993), pengembangan Eucalyptus ke India dimulai tahun 1790 ,


sedangkan di Nepal pada tahun 1890 dan ke Thailand pada tahun 1905.
Eucalyptus diperkenalkan ke Asia Tenggara sekitar tahun 1770 oleh seorang
botanis

bernama

Sir

Joseph

(http://www.wikipedia.org/).

Bank

dalam

Sedangkan

ekspedisi

menurut

James

Munishi

Cook

(2007),

pengembangan Eucalyptus secara komersil sudah dimulai tahun 1860 di


Victoria Australia terutama untuk pengembangan bahan obat-obatan.
Menurut Carle and Holmgren (2008), apabila dikelompokkan berdasarkan
wilayah, maka sampai tahun 2005 di dunia telah ada 13.8 juta hektar
Eucalyptus dan

wilayah Asia memiliki luas hutan tanaman Eucalyptus

terluas yaitu 7.6 juta hektar, kemudian disusul wilayah Amerika Selatan
seluas 4.5 juta hektar dan wilayah Afrika seluas 1.2 juta hektar dan sisanya
ada di wilayah Oceania seluas 0.5 juta hektar.

Diperkirakan pada tahun

2030 luas Eucalyptus di Asia akan mencapai 10.6 juta hektar. Asia Pacific
akan menjadi daerah yang penting dalam memproduksi kayu Eucalyptus
spp. melalui hutan tanaman (Ball, 1993)
Menurut Rockwood et al (2008), pada tahun 2000, India memiliki luas
tanaman Eucalyptus terbesar di dunia yaitu mencapai 8 juta hektar,
kemudian

disusul

negara

Brazil

dengan

luas

juta

hektar

dengan

produktivitas rata-rata 45-60 m3/ha/tahun. FAO ( 2005) melaporkan bahwa


pengembangan Eucalyptus sampai tahun 2005 hampir mencapai 13 juta

hektar di negara utama termasuk Congo , Indonesia, China, Malaysia,


Thailand, Prancis, Portugal, New Zealand dan Amerika Serikat. Bahkan
negara China dilaporkan menanam Eucalyptus seluas

+/- 3.500-43.000

Ha/tahun dan perkembangan hutan tanaman di China diperkirakan mencapai


325.000

1 .100.000 Ha dalam 20 tahun belakangan ini dan didominasi

oleh species Eucalyptus. Sementara Barr and Cossalter (2004) mengatakan,


pengembangan

Eucalyptus

species

di

China

didominasi

oleh

species

E.urophylla, E.teriticornis, dan beberapa hybrid seperti E.urophylla X


E.grandis, E.gradis X E.urophylla dan E.teriticornis X E.urophylla terutama di
3 provinsi yaitu Hainan, Guangdong dan Guangxi dan diperkirakan mencapai
penanaman 65.000 Ha/tahun dengan rata-rata MAI berkisar antara 10-20
m3/ha/tahun tergantung kepada lokasi dan tingkat manajemen hutan
tanaman. Minsheng (2003) mengatakan, China awalnya mengembangkan 2
jenis Eucalyptus yaitu E.citodora dan E.exserta pada tahun 1960-1980,
tetapi kemudian sejak tahun 1980

melakukan berbagai penelitian species

Eucalyptus lainnya termasuk pembuatan hybrid untuk menemukan klon-klon


yang sesuai dengan iklim dan tanah di China. Berbagai species yang diuji
adalah E.grandis, E.urophylla, E.camaldulensis, E.wetarensis, E.pellita,
E.dunii,

E.globulus,

E.simithii,

E.cloeziana,

E.maidenii,

E.salina

dan

E.benthamii. Disebutkan pula selain menguji species dan provenance, juga


dilakukan kegiatan breeding untuk menemukan klon-klon unggulan dan dari
klon yang telah terseleksi diperoleh potensi pertumbuhan antara 40-50
m3/ha/tahun, walaupun pertumbuhan Eucalyptus di komersial plantation di
China mempunyai range yang luas yaitu antara 10-70 m 3/ha/tahun
sedangkan Lal (2003) menyebutkan, clone Eucalyptus di India rata-rata
menghasilkan MAI 20-25m3/ha/tahun pada skala komersial, walaupun
dibeberapa daerah dapat menghasilkan MAI 50 m3/ha/tahun.

Kebanyakan jenis Eucalyptus hybrid yang dikembangkan saat ini adalah hasil
generasi pertama ( F1) dan umumnya berasal dari seksi Maidenaria
(misalnya E.globulus dan E.nitens) , Exsertaria (misalnya E.camaldulensis
dan

E.teriticornis),

dan

Transversaria

yang

telah

dirobah

menjadi

Latoangulatae, Broker dalam Payn, 2008) misalnya E.pellita, E.grandis dan


E.urophylla yang merupakan sub genus dari Symphyomyrtus (Griffin ;
Eldridge dalam Payn, 2008). Luas penanaman Eucalyptus sp. di dunia dalam
bentuk hutan tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Luas dan struktur umur hutan tanaman Eucalyptus spp. diberbagai negara tahun 1995
(FAO , 2006 dalam Rockwood et al 2008)

Sementara menurut James dan Lungo (2005), beberapa negara lain yang
juga mengembangkan Eucalyptus spp. sebagai tanaman utama di hutan
tanamannya seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

Dilaporkan juga oleh Rockwood et al (2008)

bahwa Eucalyptus spp. yang

banyak ditanam dalam hutan tanaman juga sudah mencakup jenis-jenis


hybrid (persilangan) dan 4 species yang sering dikawinsilangkan untuk
memperoleh

material

genetik

baru-hybrid

adalah

jenis

E.

grandis,

E.urophylla, E.camaldulensis dan E.globulus dan hampir mencapai 80% dari


luasan hutan tanaman Eucayptus yang ada di dunia. Selanjutnya menurut
James dan Lungo (2005) dan Varmola dan Carle (2002) , bahwa dari
puluhan jenis yang dikembangkan sebagai tanaman pokok di hutan tanaman
di berbagai negara maka ada 16 species yang mendominasi yaitu Pinus spp.,
Havea brasilensis, Eucalyptus spp., Populus spp., Tectona grandis, Pinus
radiata, Eucalyptus grandis, Pinus merkusii, Pinus taeda, Acacia nilotica,
Eucalyptus globulus,

Acacia auriculiformis, Eucalyptus saligna, P.elliotii,

Pinus caribaea var. Hondurensis dan Gmelina arborea.

Dari daftar itu

diketahui species Eucalyptus yang dikembangkan berupa Eucalyptus spp.,


E.grandis, E.globulus dan

E.saligna. Tentunya pengelompokkan ke dalam

species Eucalyptus spp. didasarkan kepada banyaknya species Eucalyptus


yang dikembangkan dan kemungkinan terjadinya hybrid antar species.
Apabila dikelompokkan menjadi 2 grup besar yaitu jenis Conifer dan Non-

Conifer, maka di kelompok Non-Conifer species Eucalyptus spp. menjadi


yang paling dominan.
Menurut Moore dan Jopson (2008), penggunaan Eucalyptus sebagai bahan
baku pulp and paper sangat besar jumlahnya seiring dengan permintaaan
untuk pembuatan Bleach Eucalyptus Kraft Pulp (BEKP) yang mencapai 2
juta ton pada tahun 1980 menjadi 10 juta ton pada tahun 2005. Eucalyptus
pulp mempunyai kontribusi 50% untuk produksi pulp di dunia dan lebih dari
20% produksi chemical pulp. Bagaimanapun Amerika Selatan masih menjadi
produsen Eucalyptus pulp terbesar di dunia dengan 57% dari seluruh
produksi pulp Eucalyptus dunia dan Brazil menduduki posisi tertinggi di
benua ini, kemudian Asia menduduki posisi kedua dengan 13% dan disusul
Afrika 12% sedangkan sisanya adalah Oceania dan Eropa masing-masing
10% dan 8%.
Selain digunakan sebagai bahan baku pulp, Eucalyptus juga digunakan
untuk berbagai keperluan seperti kayu pertukangan (solid wood), veneer,
kayu bakar (kayu energi) dan kebutuhan lainnya untuk

berbagai industri

kosmetika, obat-obatan dan industri kimia lainnya.


Berikut disajikan informasi mengenai masing-masing spesies Eucalyptus
yang umum dikembangkan sebagai tanaman pokok Hutan Tanaman (Forest
plantation) di berbagai belahan dunia terutama di daerah tropis:

1. Eucalyptus urophylla
a) Nama Botani. Eucalyptus urophylla S.T. Blake. Nama urophylla berasal dari
bahasa latin ura = ekor dan phyllon = daun. Species ini memiliki bentuk
daun yang mirip dengan Eucalyptus decaisneana dan Eucalyptus alba,
bahkan beberapa orang sering keliru untuk menentukan E. urophylla karena

mirip dengan kedua spesies diatas. Sinonim : Eucalyptus alba Reinw. ex


Blume Eucalyptus decaisneana Blume (http://www.worldagroforestry.org/)
b) Family. Eucalyptus urophylla termasuk kedalam family Myrtaceae (jambujambuan)
c) Nama umum. Timor mountain gum (English), Ampupu dan Palavao preto
(Indonesia).
d) Gambaran Botani (Botanical Features). Pada tempat penyebaran alaminya
di hutan alam, spesies ini memiliki tinggi pohon hingga 24-45 m dan
memiliki diameter hingga lebih dari 1 m, dengan batangnya yang bundar
dan lurus yang mencapai setengah hingga dua pertiga dari seluruh tinggi
pohon. Spesies E.urophylla juga pernah ditemukan memiliki tinggi hingga 55
m dengan diameter lebih dari 2 m. Pada kondisi lingkungan yang ekstrim
spesies ini bisa sangat berbeda dengan pertumbuhannya di lingkungan yang
baik, di lingkungan yang ekstrim spesies ini bisa hanya berupa semak
berkayu dengan batang yang berbonggol dan memiliki tinggi hanya
beberapa meter saja. Spesies ini dikenal juga memiliki karakteristik kulit
batang yang dipengaruhi oleh kelembaban udara dan ketinggian tempat
tumbuh, pohon yang tumbuh di bawah ketinggian 1000 m d.p.l. yang
ditemukan di pulau Alor dan Flores memiliki kulit yang relatif halus.
Sementara pohon yang hidup pada tapak dengan ketinggian 1000 m d.p.l. 2000 m d.p.l. seperti yang terdapat di Pulau Timor dengan kondisi yang
lembab, kulit pohonnya biasanya bergaris-garis dangkal. Di tempat tumbuh
aslinya, spesies ini biasanya ditemukan berasosiasi dengan E. alba dan
ditengarai terjadi perkawinan silang antar keduanya, hasilnya adalah
individu pohon yang memiliki karakter batang antara E.urophylla dan E.alba.
Proses pembuahan dicirikan dengan mulai keluarnya bunga yang berbentuk
karangan bunga (inflorence), berwarna putih. Musim bunga berlangsung
antara bulan Januari hingga Maret, sedangkan buah masak dan siap dipanen
pada bulan Juni hingga September. Pembuahan terjadi setiap tahun secara

periodik. (Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia, Balai Teknologi Perbenihan,


Departemen Kehutanan R.I)
e)

Penyebaran

Tempat Tumbuh. Sebaran alami spesies E.urophylla berada

di Indonesia. Sebaran utamanya ada di pulau Timor, Alor dan Wetar, tetapi
beberapa populasi kecil spesies ini juga ditemukan di Pulau Flores, Adonara,
Lomblen dan Pantar. Lokasi sebaran alaminya memanjang dalam jarak
sekitar 500 km antara 122 Bujur Timur hingga 127 Bujur Timur , 73010 Lintang Selatan, ketinggian 90 2200 m d.p.l. Luasnya rentang
ketinggian tempat tumbuh E.urophylla menjadikannya sebagai spesies dari
genus Eucalyptus yang memiliki rentang ketinggian tempat tumbuh yang
paling besar.
Sebagai tanaman Exotic dikembangkan di berbagai negara seperti Australia,
Brazil, Kamerun, China, Kongo, Pantai Gading, French Guiana, Gabon,
Madagaskar,

Malaysia,

Papua

New

Guinea,

Vietnam,

dsb.

(http://www.worldagroforestry.org/ ; Payn, 2008; Vozzo (?) )


f) Iklim. E.urophylla tersebar dari mulai daerah beriklim panas, humid hingga
sub-humid. Tumbuh pada areal dengan ketinggian 400 m d.p.l. dengan suhu
rata-rata tahunan 25C hingga ketinggian 1900 m d.p.l. dengan suhu ratarata tahunan 15C. Di Pulau Timor banyak tegakan E.urophylla tumbuh pada
ketinggian di atas 1000 m d.p.l. dimana kondisi lingkungannya sering
berkabut, dengan curah hujan 1300-2200 mm/tahun dan musim kering
dalam rentang 3-4 bulan. Walaupun demikian di pulau lain di tempat
sebaran alaminya, spesies ini tumbuh juga pada daerah kering dengan curah
hujan 800-1500 mm dengan musim kering dalam rentang 5-8 bulan.
g) Fisiografis dan Tanah. E.urophylla secara umum ditemukan menjadi
spesies dominan pada hutan sekunder di pegunungan. Tumbuh pada lerenglereng gunung dan lembah. Tumbuh baik pada tanah yang dalam,
lembab/basah, berdrainase baik dengan pH yang yang mendekati netral

yang terbentuk dari letusan gunung berapi atau perubahan bentuk dari
batuan.
h) Type vegetasi. E.urophylla merupakan spesies dominan pada hutan
pegunungan
berasosiasi

sekunder,
dengan

di

tempat

Casuarina

penyebaran

junghuhniana,

alaminya

Palaquium,

spesies

ini

Planchonella,

Pygeum, dan Podocarpus. Pada tempat tumbuh dengan ketinggian di bawah


1500 m d.p.l. distribusi tegakan

E.urophylla membentuk pola mozaik dan

berasosiasi dengan E.alba.


i)

Manfaat/penggunaan E.urophylla. Kayu dari spesies ini, terutama yang berasal dari tanaman
muda sangat baik untuk digunakan menjadi kayu bakar dan arang. Selain itu spesies ini juga
memiliki kayu yang dapat digunakan untuk pertukangan dan bahan baku pulp karena memiliki
wood properties yang sangat baik. Berat jenis kayu dalam kondisi basah sesaat setelah
penebangan yang berasal dari tegakan di hutan alam sekitar 960 kg/m3. Walaupun demikian,
E.urophylla memiliki nilai basic density yang paling rendah jika dibandingkan dengan spesis dari
genus Eucalyptus yang lain, pada kondisi kering tanur adalah 540-570 kg/m 3 (Forestry
Compendium, CAB International dalam http://www.agroforestry.org/ )
Tekstur kayunya sedikit berserabut, tetapi mudah untuk dikerjakan (diolah),
dan menghasilkan kayu hasil pengolahan yang baik untuk dijadikan lantai
(flooring), papan, dan untuk kayu kontruksi. Di Brazil kayu dari spesies ini
sangat baik untuk digunakan sebagai bahan baku pulp, karena memiliki
wood properties yang sangat baik. Serat relatif pendek dengan panjang
sekitar 1.0 mm. Kayunya sangat bagus sebagai bahan baku produksi pulp,
dengan produksi sistem kimiawi diketahui mampu menghasilkan rendemen
pulp sebesar 49.5 %. Kayu yang berasal dari pohon yang sudah tua, sangat
bagus untuk digunakan sebagai material untuk konstruksi.

j) Silvikultur jenis.

Seleksi provenance sangat penting jika kita akan

membudidayakan E.urophylla. Hasil beberapa uji provenance menunjukkan


bahwa provenance yang berasal dari ketinggian tempat tumbuh diatas 1500
m d.p.l, menghasilkan pertumbuhan yang buruk jika ditanam pada dataran

rendah, sementara itu provenance yang berasal dari tempat tumbuh dengan
ketinggia 300-1100 m d.p.l. (dataran rendah), diketahui menunjukkan
pertumbuhan yang baik jika ditanam di daerah dataran rendah. Selain itu
provenance yang berasal dari dataran rendah dengan kondisi iklim yang
kering, menunjukkan pertumbuhan yang baik jika dibudidayakan pada
kondisi iklim humid-sub humid, tropis-sub tropis dengan bulan kering 1-5
bulan, bahkan pada daerah yang mengalami musim dingin. E.urophylla
biasanya diperbanyak dengan menggunakan biji/benih. Jumlah benih per kg
mencapai 450.000 benih. Pohonnya akan mulai berbunga pada usia 2 tahun,
dan akan mulai menghasilkan biji yang banyak pada usia 4 tahun.
Persemaian spesies ini diawali dengan melakukan penaburan biji, dimana
sebelum ditabur biji tidak diberikan perlakuan apapun. Setelah disemai,
ketika semai sudah memiliki 2 pasang daun, semai akan dipindahkan ke
kontainer. Sebagai media tumbuh sangat baik digunakan media yang remah
dan berdrainase baik. Bibit akan siap ditanam di lapangan ketika mencapai
tinggi minimal 25 cm, dengan masa produksi 10-12 minggu. Selain itu
E.urophylla maupun hybrid dari E.urophylla dan E.grandis dapat diperbanyak
dengan sistem vegetatif melalui stek batang. Silvikultur intensive dengan
pengolahan tanah dan aplikasi pupuk N, P dan K sangat penting untuk
menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik. Spesies ini sangat sensitif
dalam bersaing dengan gulma, sehingga pada usia hingga 12 bulan
sebaiknya tanaman berada dalam kondisi bebas gulma.
E.urophylla

memiliki

lingkungannya

pertumbuhan

mendukung,

dengan

yang
kondisi

sangat

baik

lingkungan

jika
dan

kondisi
tindakan

silvikultur yang baik tegakan spesies ini mampu memiliki MAI 20-30
m3/ha/tahun. Provenance tertentu bahkan bisa menghasilkan MAI hingga 50
m3/ha/tahun. E.urophylla dengan pertumbuhan yang sangat baik terdapat di
Amerika Selatan seperti Brazil, Afrika seperti Kamerun, Congo dan Pantai
Gading. Provenance yang berasal dari dataran rendah seperti yang berasal

dari pulau Flores, Alor dan Timor biasanya memiliki pertumbuhan yang lebih
cepat (Vercoe dan House 1992).
k) Hama dan penyakit. Kanker batang yang disebabkan oleh

Cryphonectria

cubensis, serangan jamur akar yang diakibatkan oleh Botryodiplodia sp.


Fusarium sp dan Helminthosporium sp. Adalah beberapa penyakit yang
diketahui menyerang pohon E.urophylla. Selain itu pada bibit dan tanaman
kecil, serangan rayap dan penggerek batang yang diakibatkan oleh Zeuzera
coffea. ( Hanum and Van der Maesen, ed. 1997)

2. Eucalyptus pellita
a) Nama Botani. Eucalyptus pellita F. Muell. Pertama kali dipublikasikan pada
tahun 1864. Nama pellita berasal dari pellitus = Kulit Penutup, istilah ini
mengacu pada daunnya yang mepunyai lapisan epidermis.
b) Nama Umum. Di Australia dikenal dengan nama red mahagony.
c) Family. Myrtaceae (jambu-jambuan)
d) Gambaran Botani. E.pellita memiliki ukuran pohon medium dengan tinggi
pohon mencapai 40 m dan diameter mencapai 1 m. Memiliki batang yang
lurus hingga setengah bagian dari tinggi pohon. Pada kondisi lingkungan
yang tidak sesuai spesies ini hanya mampu mencapai tinggi 15-20 m saja.
e) Sebaran Alami. E.pellita tersebar di dua daerah utama yaitu, di daerah
Muting Papua dan Papua New Guinea serta di Queensland. Berada dalam
letak geografis 1245-1840 Lintang Selatan (Untuk daerah sebaran di
Australia) dan 730-835 Lintang Selatan (untuk daerah sebaran di Papua).
Ketinggian tempat tumbuh dari 0-800 m d.p.l. (untuk sebaran Australia) dan
30-90 m d.p.l (untuk sebaran di Papua).
f) Iklim. sepesies ini tumbuh baik pada zona iklim humid hangat, dengan suhu
maksimum di bulan kering mencapi 24-34C, dan suhu rata-rata di bulan
basah 4C-19C. Rata-rata curah hujan 1000-4000 mm/tahun.

g) Fisiografi dan Kondisi Tanah. di Papua populasi spesies ini tersebar


terpencar (scatter), tumbuh dilokasi yang berada diantara area terbuka yang
basah karena memiliki drainase yang buruk

dan hutan hujan yang subur.

Tempat tumbuhnya memanjang dan sempit ditengah-tengah kedua lokasi


tersebut, dengan lebar sekitar 100 m saja. Tanah tempat tumbuhnya sangat
bervariasi dari mulai tanah dangkal berpasir yang bercampur batu-batuan,
tanah podsolik dangkal, juga tanah lempung yang dalam. Di Papua spesies
ini ditemukan tumbuh juga pada kondisi tanah berwarna merah dengan
tekstur liat dan lempung liat.
h) Type vegetasi. E.pellita (mahoni merah/red mahagony), tumbuh pada
areal

hutan

terbuka.

Berasosiasi

dengan

E.teriticornis,

E.tessellaris,

E.intermedia, E.torelliana. Di papua E.pellita berasosiasi dengan E.brassiana,


dan diketahui terjadi hybrid antar keduanya. Selain itu di Papua juga
berasosiasi

dengan

Acacia

aulacocarpa,

A.mangium,

Laphostemon

suaveolans (Paijman 1976).


(Dikutip Doran and Turnbull 1997, Hardwood et al 1997, http://www.dpi.qld.gov.au/)

3. Eucalyptus camaldulensis
a) Nama Botani. Eucalyptus camaldulensis

Dehnh. Nama

camaldulensis

berasal dari nama kota Camalduli, di Tuscany Italia, tempat dimana spesies
ini dibudidayakan. Spesies ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1832.
b) Family. Eucalyptus camaldulensis termasuk kedalam family Myrtaceae
(jambu-jambuan)
c) Nama umum. River red gum, Red gum, Murray red gum, River gum
(Australia)
d) Gambaran Botani (Botanical Features). Di Australia, E.camaldulensis ratarata mencapai tinggi pohon 20 m, bahkan ada yang mencapai tinggi 50 m,
dengan DBH mencapai 1-2 m atau lebih. Di areal terbuka dengan jumlah
tanaman yang jarang, spesies ini membentuk pohon yang pendek, dengan

batang yang gemuk dan berbonggol, serta tajuk yang lebar. Di plantation,
spesies ini mampu tumbuh hingga mencapai tinggi batang 20 m, dengan
tajuk yang tidak terlalu lebar. Kulitnya halus dan putih, abu-abu, atau
kecoklatan.
e) Sebaran Alami. E.camaldulensis tersebar luas pada berbagai lokasi, seperti
layaknya genus Eucalyptus lainnya. Terutama di daratan Australia. Tumbuh
disepanjang aliran air dan dataran rendah yang tergenang temporer. Tetapi
juga terdapat pada daerah-daerah dataran tinggi. Tersebar pada posisi
geografis 1230-38 Lintang Selatan dan ketinggian tempat tumbuh 20-700
m d.p.l.
f) Iklim. E.camaldulensis tumbuh pada berbagai kondisi iklim, dari mulai
daerah hangat hingga panas, sub-humid hingga semi-arid, dengan suhu
rata-rata pada bulan kering mencapai 24-40C, dan suhu rata-rata pada
bulan basah mencapai 3-15C. Rata-rata curah hujan tahunan adalah 250600 mm.
g) Fisiografis dan Tanah. E.camaldulensis tumbuh pada berbagai type tanah.
Tumbuh dengan baik pada tanah dengan tekstur liat yang tinggi (heavy
clay), juga tumbuh baik pada tanah alluvial dengan tekstur pasir.
h) Type vegetasi. E.camaldulensis merupakan spesies yang tumbuh di
sepanjang tepian sungai, dan di daerah kering di Australia. Pada daerahdaerah yang mendekati dataran tinggi di Australia, spesies ini berasosiasi
dengan

E.coolabab,

E.largiflorens,

E.leucoxylon,

E.microcarpa,

dan

E.melliondra.
i)

Manfaat/penggunaan. Kayu dari E.camaldulensis

sangat baik untuk

digunakan sebagai kayu bakar dan arang, bahkan di beberapa negara, kayu
E.camaldulensis

banyak yang digunakan untuk produksi arang sebagai

sumber energi pada pabrik besi dan baja. Spesies ini memiliki density yang
cukup baik dan kemampuan trubusan yang baik sehingga cocok digunakan
untuk penghasil kayu energi. Selain itu kayu yang berasal dari pohon yang

baik, dapat digunakan untuk furniture, karena memiliki karakter kayu yang
menarik. Spesies ini memiliki berat jenis basah kayu sebesar 500-700 kg/m 3
untuk kayu yang berasal dari tanaman muda dan 1130 kg/m 3 untuk kayu
yang berasal dari tanaman tua. Karena densitynya yang cukup tinggi maka
kayu dari spesies ini mampu menghasilkan rendemen yang tinggi jika akan
diproduksi menjadi arang atau pulp (Moura 1986).
j) Silvikultur

jenis.

E.camaldulensis

banyak

dikembangkan

dengan

menggunakan biji. Jumlah biji per kg mencapai 700.000 biji. Benih yang
baik memiliki kadar air 5-8% dan dapat dilakukan penyimpanan pada
tempat penyimpanan dengan suhu 3-5C, sehingga benih dapat terjaga
viabilitasnya dengan baik hingga beberapa tahun. Tidak ada perlakuan biji
sebelum dilakukan penaburan. Biji ditabur ditempat yang ternaungi dengan
suhu optimum 32C. Biji akan mulai berkecambah pada hari ke tujuh setelah
penaburan. Setelah itu kecambah dapat disapih kedalam kontainer. Naungan
diperlukan

selama

minggu

pertama

setelah

penyapihan.

Bibit

dapat

dipindahkan ke lapangan ketika tingginya sudah mencapai 30 cm dengan


masa produksi 12 minggu. Selain itu spesies ini juga dapat dikembangkan
secara vegetatif dengan menggunakan stek batang. Pengendalian gulma
sangat penting, karena spesies ini sangat sensitif dengan gulma. Aplikasi
pupuk lengkap N, P dan K sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Spesies ini mampu menghasilkan kayu hingga 70 m 3/ha/tahun pada usia 4
tahun jika ditanam pada tempat yang sesuai dan irigasi yang baik. Tetapi
pada kondisi yang tidak sesuai pertumbuhannya bisa kurang baik dengan
hasil 5-10 m3/ha/tahun yaitu pada areal kering.
k) Hama dan penyakit. Di nursery spesies ini dapat terserang jamur yang
menyebabkan damping-off (rebah semai), busuk batang dan bercak daun.
Selain itu serangan rayap juga menyerang bibit di persemaian. Jika sudah
menjadi tegakan, spesies ini dapat terserang berbagai serangga dan fungi.
(Dikutip

dari

Australian

Trees

and

http://www.proseanet.org/prohati2;

Shrub

karangan

BOSTID,

Doran
1983;

dan

Turnbull
Vozzo,

1997;
(?);

http://www.anbg.gov.au/cpbr/cdkeys/euclid3/euclidsample/html/Eucalyptus_camaldulensis_subsp._simulata.htm; http://idlbnc.idrc.ca/dspace/bitstream)

4. Eucalyptus grandis
a) Nama Botani. Eucalyptus grandis Hill ex Maiden
b) Family. Eucalyptus grandis termasuk kedalam family Myrtaceae (jambujambuan)
c) Nama umum. Rose gum, Flooded gum (Australia)
d) Gambaran Botani (Botanical Features). E.grandis (rose gum) adalah
species utama yang tumbuh di hutan primer Queensland dan New Sout
Wales Australia. Pohonnya dapat mencapai tinggi 43-55 m dan diameter
mencapai 122-183 cm. Bentuk pohonnya sangat tinggi, lurus dan batang
bebas cabang mencapai dua pertiga dari tinggi pohon. Kulitnya tipis dan
sedikit mengelupas, kulitnya bergalur vertikal dengan permukaan yang
halus, ditandai dengan salur-salur berwarna putih keperakan, abu-abu, terra
cotta, atau hijau muda. Pada ketinggian hingga 2 m dari pangkal batang,
kulit batang terlihat pecah-pecah secara vertikal.
e) Sebaran Alami. E.grandis meyebar alami pada daerah berlembah ataupun
datar yang berada pada jarak sekitar 160 km dari laut, berada di
Queensland dan New South Wales pada posisi geografis 26-30 Lintang
Selatan dan 13 Lintang Selatan.
f)

Iklim : E.grandis tumbuh alami pada daerah dengan iklim humid sub
tropis dengan rata-rata suhu minimum pada saat bulan basah adalah 210C, dan suhu rata-rata maksimum pada saat bulan kering adalah 29C.
Curah hujan rata-rata tahunan 1020-1780 mm.

g) Fisiografis dan Tanah: E.grandis tumbuh pada pada daerah datar atau
lereng-lereng curam di Queensland dan New South Wales. Spesies ini
tumbuh dengan baik pada tempat-tempat yang lembab atau basah,

berdrainase baik, tanah dalam, tanah alluvial berlempung yang berasal dari
letusan gunung berapi. Spesies ini juga dapat tumbuh pada tanah dengan
tekstur liat, asalkan memiliki drainase yang baik.
h)

Type vegetasi: E.grandis yang tumbuh di areal terbuka di tempat


alaminya, berasasosiasi E. intermedia, E. pilularis, E. microcorys, E.
resinifera, and E. saligna, as well as Syncarpia glomulifera, Tristania
conferta, dan Casuarina torulos. E.grandis biasanya tumbuh disekeliling
hutan hujan tropis, juga terdapat di dalam hutan hujan tropis.

i) Manfaat/penggunaan.

Kayu dari E.grandis memiliki warna merah muda

cerah pada bagian luarnya dan merah kehitam-hitaman pada kayu bagian
tengahnya. Kayu E.grandis banyak digunakan untuk keperluan konstruksi,
kayu perkakas, plywood, panel, untuk pembuatan perahu dan tiang
pancang. Selain itu kayu dari spesies dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku pulp. Basic Density pada kondisi kering tanur katu E.grandis

sekitar

450 kg/m3.
j) Silvikultur jenis.

E.grandis merupakan spesies yang sangat intoleran,

sehingga sangat terganggu pertumbuhannya apabila terdapat naungan.


Pemupukan dan pengendalian gulma sangan penting. Pengendalian gulma
setelah tanam yang dilakukan secara intensif, diketahui sangat berpengaruh
untuk

meningkatkan

pertumbuhan

tanaman.

Aplikasi

herbisida

untuk

pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sampai 24 bulan setelah tanam.


k) Hama dan penyakit. Di persemaian bibit E.grandis dapat terserang
Cylindrocladium scoparium yang menyebabkan terjadinya busuk pada
batang bibit. E.grandis di plantation dapat mengalami kanker pangkal
batang yang diakibatkan oleh Cryphonectria cubensis. Di negara India juga
dilaporkan bahwa spesies ini di plantation usia 1 tahun juga dapat terserang
rayap.
(dikutip dari Meskimen and Francis dalam http://www.na.fs.fed.us/; Hunde et al 2002 ;
BOSTID 1983; Latifah, 2004;
http://idl-bnc.idrc.ca/dspace/bitsteram)

5. Eucalyptus deglupta
a) Nama Botani. Eucalyptus deglupta Blume, Eucalyptus multiflora A. Rich. ex
A. Gray non Poir. Eucalyptus naudiniana F. Muell. Eucalyptus schlechteri
Diels.
b) Family. Eucalyptus deglupta termasuk kedalam family Myrtaceae (jambujambuan)
c) Nama umum. (English): deglupta, Mindanao, gum (Filipina) : amamanit,
bagras, banikag, Dingls (Indonesia) : aren, galang, leda

(Pidgin English)

: kamarere
d) Gambaran Botani (Botanical Features). Pohon E.deglupta dapat mencapai
tinggi 60 m-75 m, bentung batangnya lurus dan bulat dengan tinggi batang
bebas cabang mencapai 50-70 % dari seluruh tinggi pohon, dengan
diameter mencapai lebih dari 240 cm. Memiliki kulit batang yang halus,
warannya kombinasi antara kuning, coklat dan keunguanan, tetapi biasanya
berwarna hijau jika bagian luarnya terkelupas.
e) Sebaran Alami. E.deglupta tersebar alami di indonesia, Papua New Guinea
dan Philiphina. E.deglupta memerlukan sinar matahari yang banyak, di
tempat aslinya ditemukan tumbuh disepanjang sunga. Spesies ini juga
ditemukan pada daerah-daerah yang sempat terbuka akibat kegiatan
manusia ataupun bencana alam, seperti areal bekas terkena letusan gunung
berapi, dan perladangan berpindah. E. deglupta secara umum membentuk
tegakan yang murni, atau tidak berasosiasi dengan spesies lain. Walaupun
demikian pada beberapa tempat E.deglupta dengan Octomeles sumatrana,
sebagai spesies invasif pada hutan sekunder. E.deglupta adalah satu-satunya
anggota genus Eucalyptus yang dapat beradaptasi dengan baik pada hutan
hujan pegunungan dataran rendah. Spesies ini tidak dapat tumbuh dengan
baik, pada daerah kering, tetapi mampu tumbuh dengan baik pada daerah

dengan curah hujan tahunan tinggi yaitu diatas 1800 mm/tahun. Walaupun
menyukai daerah dengan curah hujan tinggi, spesies ini tidak menyukai
areal tergenang, dan sangat sensitif terhadap gangguan api. Daerah tropis
dengan

curah

hujan

tinggi,

merupakan

lokasi

yang

baik

untuk

mengembangkan E.deglupta dalam skala luas.


f) Iklim : E.deglupta tersebar di daerah dengan iklim tropis, pada ketinggian
0-1800 m d.p.l., dengan rata-rata suhu tahunan 23-31C, rata-rata curah
hujan tahunan 2500-5000 mm/tahun.
g) Fisiografis dan Tanah

: E.deglupta tumbuh dengan baik pada tanah

dengan teksur pasir/ringan dan tanah bertekstur lempung, tanah yang


berasal dari abu vulkanik dengan pH 6-7.5, tanah dalam, dengan draianse
yang baik.
h) Manfaat/penggunaan E.deglupta. Kayu dari spesies ini dapat digunakan
sebagai kayu bakar atau arang, bahan baku pulp, dengan sistem produksi
pulp secara kimia spesies ini akan menghasilkan pulp dengan warna yang
cerah dan kuat (strength) dengan rendemen pulp mencapai nilai 50 %.
Selain itu kayu E.deglupta dapat dijadikan sebagai bahan baku particel
board dan hardboard dan bahan baku untuk furniture. Basic density kayu
E.deglupta bervariasi dari mulai 390-810 kg/m3.
i) Silvikultur jenis. E.deglupta dapat diperbanyak dengan menggunakan biji
dan stek. Biji akan mulai berkecambah pada 4-20 hari setelah tabur. Daya
kecambahnyanya mencapai 50-60%. 1 gram biji yang kering dapat
menghasilkan 1000-2000 bibit. Kecambah harus berada dibawah naungan.
Ketika kecambah sudah memiliki 2-3 pasang daun, kecambah dapat segera
di pindahkan ke container. Selanjutnya bibit memerlukan sinar matahari
penuh. Ketika bibit sudah memiliki tinggi 25-30 cm atau setelah 3-4 bulan
pemeliharaan, maka bibit siap ditanam di lapangan. Dua minggu sebelum
dilakukan

penanaman,

bibit

harus

dijarangi,

dikurangi

frekuensi

penyiramannya, dan tidak diberi naungan. Perbanyakan secara vegetatif


dapat dilakukan dengan melakukan stek batang.
Pertumbuhan E.deglupta sangat cepat, jika dilakukan silvikultur dengan
intensif. Pemupukan dan pengendalian gulma sangat penting dilakukan.
Pengendalian gulma harus dilakukan hingga tanaman berusia 2 tahun. MAI
spesies ini bervariasi dari 15-55 m3/ha/tahun.
j) Hama dan penyakit. Hama rayap adalah hama yang paling banyak
menyerang baik itu di hutan alam ataupun plantation. Selain itu spesies ini
dapat terserang penggerek batang yang diakibatkan oleh Agrilis sp. Pada
tanaman yang sudah dewas, penyakit heart rot juga menyerang spesies ini.
Di persemaian bibit E.deglupta dapat terserang fungi sehingga menyebabkan
damping-off.(www.worldagroforestry.org; http://www.proseanet.org/prohati2 ; BOSTID
1983; http://idl-bnc.idrc.ca/dspace/bitstrem)

Ringkasan

mengenai

deskripsi

E.camaldulensis,

E.deglupta,

E.grandis,

E.torelliana, E.citorodora, E.pellita, E.urophylla, E.teriticornis dan E.globulus


yang merupakan species Eucalyptus spp. sudah banyak dibudidayakan
diberbagai belahan dunia .. Ringkasan ini dikutip langsung dari Tropical
Forest Paper No 15 A Guide for Species Selection for Tropical and Sub
tropical Plantation (Webb et al, 1984)