Anda di halaman 1dari 24

MATA KULIAH MANAJEMEN AGRIBISNIS

RANTAI PASOK SUSU

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Agribisnis
yang diampu oleh Ibu Dwi Lestari Rahayu, S.TP., M.Si

Oleh :
Ani Novitasari

1301080

Fadhil Ibrahim

1304163

Nur Agni Alvina

1306829

Rida Ananda

1305574

Trimelia Regina

1304932

(Kelompok 9)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGROINDUSTRI


FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan karunia-Nya penulis dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul
Rantai Pasok Susu sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Manajemen
Agribisnis.

Meskipun

banyak

hambatan

yang

dialami

dalam

proses

pengerjaannya, tapi penulis berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada


waktunya.
Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah
Manajemen Agribisnis yang telah membantu dan membimbing dalam
penyelesaian makalah ini. Penulis pun mengucapkan terima kasih kepada temanteman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.
Tentunya ada hal-hal yang ingin penulis berikan kepada masyarakat dari
hasil makalah ini. Karena itu penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi
sesuatu yang berguna bagi kita bersama.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Bandung, Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah...................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................................1
C. Tujuan...............................................................................................................1
D. Kegunaan..........................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................2
A. Konsep Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management).....................2
1.

Definisi Manajemen Rantai Pasok.........................................................2

2.

Anggota Rantai Pasok............................................................................4

3.

Proses Bisnis dalam Rantai Pasok.........................................................5

B. Suistanable Supply Chain.................................................................................7


BAB III PEMBAHASAN........................................................................................9
A. Bentuk Kelembagaan pada Agribisnis Sapi Perah............................................9
B. Tata Niaga dan Manajemen Rantai Pasokan Susu..........................................10
C. Fungsi Rantai Pasokan....................................................................................15
BAB IV KESIMPULAN.......................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................21

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengajukan beberapa
rumusan masalah sebagai berikut.
C. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui dan mendeskripsikan :
D. Kegunaan
Makalah ini diharapkan mampu menambah pengetahuan, wawasan dan
keilmuan penulis maupun pembaca mengenai ...

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management)
Manajemen rantai pasok (supply chain management) merupakan isu yang
sedang hangat dibicarakan saat ini. Sebagai dasar untuk memahami mengenai
bagaimana manajemen rantai pasok dilakukan, sebelumnya akan dijelaskan
definisi manajemen rantai pasok.
1. Definisi Manajemen Rantai Pasok
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan manajemen rantai pasok
(supply chain management), terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai definisi
rantai pasok (supply chain). Sampai saat ini belum ada sebuah definisi yang baku
untuk menjelaskan pengertian dari rantai pasok. Namun, dalam bukunya Hugos
(2003, 2-3) memberikan beberapa definisi rantai pasok, sebagai berikut:
a. A supply chain is the alignment of firms that bring products or services to
market (Lambert, Stock and Ellram di dalam Hugos, 2003, 2).
b. A supply chain consists of all stages involved, directly or indirectly, in
fulfilling a customer request. The supply chain not only includes the
manufacturer and suppliers, but also transporters, warehouses, retailers, and
customers themselves. (Chopra and Meindl, di dalam Hugos, 2003, 2).
c. A supply chain is a network of facilities and distribution options that performs
the functions of procurement of materials, transformation of these materials
into intermediate and finished products, and the distribution of these finished
products to customers (Ganeshan and Harrison di dalam Hugos, 2003, 3).
Menurut Chopra and Meindl (2007, 20), rantai pasok memiliki sifat yang
dinamis namun melibatkan tiga aliran yang konstan, yaitu aliran informasi produk
dan uang. Disamping itu, Chopra and Meindl juga menjelaskan bahwa tujuan
utama dari setiap rantai pasok adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan
menghasilkan keuntungan. Sementara itu, Ling Li (2007, 3) memaparkan bahwa
rantai pasok lebih menekankan pada semua aktivitas dalam memenuhi kebutuhan
konsumen yang di dalamnya terdapat aliran dan transformasi barang mulai dari
bahan baku sampai ke konsumen akhir dan disertai dengan aliran informasi dan
uang.
2

Setelah mengetahui beberapa definisi rantai pasok, maka selanjutnya akan


dijelaskan definisi dari manajemen rantai pasok (supply chain management) itu
sendiri. Seperti rantai pasok yang memiliki beberapa definisi, manajemen rantai
pasok juga memiliki beberapa definisi. Berikut ini dua buah definisi manajemen
rantai pasok di dalam Hugos (2003, 3-4) :
a. The systematic, strategic coordination of the traditional business function and
the tactics across these business functions within a particular company and
across businesses within the supply chain, for the purposes of improving the
long-term performance of individual companies and the supply chain as a
whole (Mentzer, DeWitt, Deebler, Min, Nix, Smith, and Zakaria di dalam
Hugos, 2003, 3).
b. Supply Chain Management is the coordination of production, inventory,
location, and transportation among the participants in a supply chain to
achieve the best mix of responsiveness and efficiency for the market being
served (Hugos, 2003, 4).
Definisi lain mengenai manajemen rantai pasok diberikan oleh Ling Li
(2007, 5) sebagai berikut: merupakan sekumpulan aktivitas dan keputusan yang
saling terkait untuk mengintegrasikan pemasok, manufaktur, gudang, jasa
transportasi, pengecer dan konsumen secara efisien. Dengan demikian barang dan
jasa dapat didistribusikan dalam jumlah, waktu dan lokasi yang tepat untuk
meminimumkan biaya demi memenuhi kebutuhan konsumen.
Terdapat perbedaan antara konsep manajemen rantai pasok dengan konsep
logistik secara tradisional. Logistik umumnya mengacu pada aktivitas-aktivitas
yang terjadi di dalam sebuah organisasi, sedangkan rantai pasok mengacu pada
jaringan beberapa organisasi yang saling bekerjasama dan berkoordinasi untuk
memenuhi kebutuhan konsumen. Perbedaan lainnya, logistik lebih fokus pada
aktivitas-aktivitas seperti pengadaan, distribusi, pemeliharaan dan manajemen
persediaan. Sedangkan fokus manajemen rantai pasok selain yang dilakukan
dalam logistik juga beberapa aktifitas lain meliputi pemasaran, pengembangan
produk baru, keuangan dan layanan konsumen (Hugos, 2003, 4). Manajemen
rantai pasok yang efektif membutuhkan pengembanganpengembangan yang
dilakukan secara simultan baik dari sisi tingkat layanan konsumen maupun

internal operating efficiencies dari perusahaan-perusahaan dalam sebuah rantai


pasok.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dari tingkat layanan konsumen
adalah tingkat pemenuhan pesanan (order fill rates), ketepatan waktu pengiriman
(on-time delivery) dan tingkat pengembalian produk oleh konsumen dengan
berbagai alasan (rate of products returned by customer for whatever reason).
Sementara, dari sisi internal efficiencies, apakah sebuah organisasi dalam sebuah
rantai pasok memperoleh hasil yang baik dari investasi atas persediaan dan aset
lainnya dan menemukan cara untuk mengurangi pengeluaran operasional dan
penjualan. Atau dengan perkataan lain bagaimana mengelola rantai pasok agar
dapat responsif sekaligus efisien.
2. Anggota Rantai Pasok
Aktivitas dalam rantai pasok dimulai dengan adanya permintaan dari
konsumen dan diakhiri dengan aktivitas pembayaran oleh konsumen setelah
permintaannya terpenuhi. Ilustrasinya adalah sebagai berikut: Seseorang pergi ke
suatu toko serba ada untuk membeli minuman ringan. Rantai pasok dimulai dari
orang ini dan kebutuhannya akan minuman ringan.
Rantai berikutnya adalah took serba ada yang dikunjungi oleh orang ini.
Toko serba ada menyediakan minuman ringan dalam rak-rak di tokonya yang
dipasok oleh pemasok minuman ringan. Pemasok ini memasok minuman ringan
menggunakan truk dari satu toko ke took lainnya. Minuman ringan tersebut
dikirim dari produsen minuman ringan yang bahan bakunya diperoleh dari
beberapa pemasok. Rangkaian rantai pasok yang dimulai dari pemasok bahan
baku untuk pabrik pembuat minuman ringan dan berakhir di tangan konsumen
yang membutuhkan minuman ringan, merupakan mata rantai yang saling terkait.
Elemen yang termasuk dalam rantai pasok meliputi seluruh perusahaan
atau organisasi yang berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung
dengan focal company (dalam ilustrasi di atas adalah pabrik pembuat minuman
ringan), baik sebagai pemasok bahan baku maupun konsumen, dari point of origin
to the point of consumption. Menurut Stock and Lambert (2001, 63), seluruh

perusahaan atau organisasi yang terkait tersebut dibagi menjadi dua, yaitu
primary member dan supporting member.
Primary member atau anggota utama dari sebuah rantai pasok adalah
semua unit bisnis yang secara nyata melakukan aktivitas operasional atau
manajerial dalam sebuah proses bisnis. Proses bisnis ini dirancang untuk
menghasilkan produk atau jasa untuk konsumen tertentu atau pasar, dalam contoh
di atas adalah pabrik pembuat minuman ringan.
Sedangkan supporting member atau anggota pendukung dalam rantai
pasok adalah perusahaan yang menyediakan bahan awal, ilmu, utilitas, atau aset
lain yang penting tapi tidak langsung berpartisipasi dalam aktivitas yang
menghasilkan atau merubah sebuah input menjadi output untuk konsumen. Dalam
contoh di atas yang termasuk dalam anggota pendukung ini adalah pemasok
bahan baku, perusahaan penyewaan truk, toko-toko swalayan dan lain sebagainya.
Satu unit yang sama dapat menjadi anggota utama pada satu proses, namun dapat
juga menjadi anggota pendukung pada proses lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh
jenis proses bisnis dimana unit itu berperan.
3. Proses Bisnis dalam Rantai Pasok
Menurut James R. Stock dan Douglas M. Lambert (2001, 68 71),
pengelolaan rantai pasok yang sukses membutuhkan sistem yang terintegrasi.
Masing-masing unit dalam rantai pasok menjadi satu kesatuan, tidak berdiri
sendiri-sendiri sebagaimana halnya dengan rantai pasok tradisional. Kegiatan
operasi pada rantai pasok membutuhkan aliran informasi yang berkesinambungan
untuk menghasilkan produk yang baik pada saat yang tepat sesuai dengan
kebutuhan konsumen. Dalam hal ini konsumen menjadi fokus dalam setiap
operasi yang dilakukan.
James R. Stock dan Douglas M. Lambert (2001, 68 71) juga menyatakan
bahwa dalam rantai pasok yang terintegrasi terdapat proses-proses berikut ini :
a. Customer Relationship Management
Merupakan pengelolaan hubungan baik dengan konsumen, dimulai dengan
mengidentifikasi siapa konsumen kita, apa kebutuhannya, seperti apa
spesifikasi yang dikehendaki oleh konsumen. Dengan demikian, secara

periodik dapat dilakukan evaluasi sejauh mana tingkat kepuasan konsumen


telah terpenuhi.
b. Customer Services Management
Berfungsi sebagai pusat informasi bagi konsumen, menyediakan informasi
yang dibutuhkan secara real time mengenai jadwal pengiriman, ketersediaan
produk, keberadaan produk, harga dan lain sebagianya. Termasuk pula di
dalamnya pelayanan purna jual yang dapat melayani konsumen secara efisien
untuk penggunaan produk dan aplikasi lainnya.
c. Demand Management
Manajemen

permintaan

(demand

management)

berfungsi

untuk

menyeimbangkan kebutuhan konsumen dengan kapasitas perusahaan yang


menyediakan produk atau jasa yang dibutuhkan. Didalamnya termasuk
menentukan apa yang menjadi kebutuhan konsumen dan kapan dibutuhkannya.
Sistem manajemen permintaan yang baik menggunakan point of sale dan data
konsumen untuk mengurangi ketidakpastian serta meningkatkan efisiensi aliran
barang dalam rantai pasok. Kebutuhan pemasaran dan rencana produksi harus
dikoordinasikan,

kebutuhan

konsumen

dan

kapasitas

produksi

harus

diselaraskan agar persediaan secara global dapat dikelola dengan baik.


d. Customer Order Fulfillment
Proses pemenuhan permintaan konsumen tepat waktu, bahkan lebih cepat
dari yang disepakati dengan biaya pemenuhan yang seminimal mungkin,
memerlukan koordinasi yang baik dari setiap anggota rantai pasok. Tujuan
utamanya adalah menciptakan satu proses pemenuhan permintaan dengan
lancar mulai dari pemasok bahan baku sampai konsumen akhir.
e. Manufacturing Flow Management
Proses produksi diupayakan sedemikian rupa agar secepat mungkin dapat
menyediakan produk yang diperlukan dengan tingkat persediaan yang minimal.
Untuk itu diperlukan persiapan yang memadai dan kesesuaian permintaan
dengan kapasitas produksi. Termasuk persiapan proses produksi adalah
ketersediaan bahan baku yang terjamin sehingga kelancaran proses produksi
dapat dipertahankan. Untuk itu perlu dijalin hubungan yang baik dengan
pemasokpemasok terkait.

f. Product Development and Commercialization


Dimulai dengan evaluasi kebutuhan konsumen dan keluhan-keluhan yang
ada dari produk yang telah ada. Pengembangan produk baru memerlukan
kerjasama yang baik dengan para pemasok untuk menjamin ketersediaan bahan
baku yang diperlukan. Selain itu, perlu dipersiapkan pula teknologi dalam
bidang produksi yang dapat menunjang pengembangan produk ini.
g. Returns
Pengelolaan produk kembalian merupakan proses yang penting dan dapat
dijadikan sebagai salah satu keunggulan daya saing perusahaan. Kinerja
pengelolaan produk kembalian bisa diukur dengan parameter Return to
Available, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengganti produk kembalian
menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
B. Suistanable Supply Chain
Ekonomi dunia yang terus tumbuh, selain memberikan dampak positif
padatingkatkesejahteraanmasyarakatduniajugamenghasilkanpengaruhnegatif
padalingkungandanfaktorinisangateratkaitanyadenganfaktorsosialsebuah
bangsa.Halitulahyangmenjadidasarpemikiranmengenaipentingnyakonsep
rantaipasokyangberkelanjutan(sustainable).
Rantai pasok yang berkelanjutan merupakan perkembangan dari ilmu
rantaipasokitusendiri,dikatakanberkelanjutandikarenakanmemenuhi3faktor
utamadalamperwujudannyayaituekonomi,sosialdanlingkungan(Balkanetal,
2011).
Sustainability
Social

Economic

Environment

Health

Quality

Emissions

Noise

Efficiency

NaturalResources

Employees
Responsiveness
WasteandRecycling
Gambar3.MatricDimensionsandSubDimensionofSustainableSupplyChain
7

MenurutKaplanetal,padasaatinisebuahindustriberhasilatautidaknya
menerapkanstrategimanajemendapatterlihatdari4faktorberikutini:
1. Strategiperusahaanyangtepatdalammenghadapipersaingan.
2. Strategirantaipasok.
3. Bagaimana menghubungkan antara strategi perusahaan dan strategi rantai
pasok.
4. Bagaimanamembuatnyamenjadiberkelanjutan(sustainable).

BAB III
PEMBAHASAN
A. Bentuk Kelembagaan pada Agribisnis Sapi Perah
Bentuk kelembagaan pada agribisnis peternakan sapi perah terdiri atas
kelompok usaha koperasi dan nonkoperasi . Kelompok koperasi adalah : (a)
kelompok peternak, (b) gabungan kelompok (skala tempat penampungan susu),
dan (c) koperasi . Bentuk kelembagaan nonkoperasi yang bergerak dibidang ini
adalah kolektor susu, pemasok pakan, obat-obatan, dan sarana peternakan sapi
perah . Minat terhadap usaha sapi perah meningkat dari tahun ke tahun yang
terlihat dari adanya peningkatan jumlah peternak sapi perah .
Ditinjau dari skala usahanya, peternakan sapi perah di Indonesia dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu : (a) usaha petemakan sapi perah rakyat, dan (b)
perusahaan peternakan sapi perah . Usaha peternakan sapi perah rakyat sasarannya
diandalkan untuk perluasan lapangan kerja dan lapangan berusaha, peningkatan
pendapatan peternak, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah
pedesaan . Usaha ini sebagian besar tergabung dalam wadah koperasi yang
berperan sebagai pengumpul susu . Koperasi ini merupakan pemasok utama bahan
baku susu segar bagi IPS, yang mencapai 92% dari produksi nasional . Jumlah
sapi yang dikelola peternak rakyat sekitar 95% dari populasi yang ada dengan
rataan kepemilikan sekitar 3 ekor/peternak.
Perusahaan peternakan sapi perah, biasanya berlokasi di sekitar kota,
memiliki izin usaha, dan pemilikan sapi sekurang-kurangnya 10 ekor sapi dewasa
(laktasi dan kering) . Total jumlah sapi yang dikelola perusahaan peternakan sapi
perah ini sekitar 5% dari populasi nasional dengan rataan kepemilikan sekitar 28
ekor/perusahaan (Soetarno, 2003) . Oleh karena itu, pengembangan agribisnis
peternakan sapi perah tidak dapat lepas dari peran koperasi sebagai wadah
pembinaan dan pelayanan bagi anggota dalam hal penyedia sarana, penanganan,
dan penyaluran hasil usaha sehingga keberadaan koperasi betul-betul merupakan
tulang punggung dalam pembangunan peternakan sapi perah rakyat (Sugandi et
al ., 2008) .

Kelembagaan lain selain koperasi yang juga sangat berperanan pada


kemajuan peternakan sapi perah rakyat adalah kelompok peternak . Secara formal
kelompok ini sebagai media atau wadah mengelola usaha tani secara bersama .
Peran kelompok tani bagi pengembangan usaha tani khususnya kelompok
peternak sapi perah bagi para anggotanya dalam mewujudkan kemandirian sangat
penting . Fungsi kelompok merupakan wadah belajar mengajar bagi anggota guna
meningkatkan pengetahuan, keterampilan

dan sikap serta

tumbuh dan

berkembangnya dalam berusaha tani sehingga produktivitas meningkat,


pendapatan bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera (Menteri Pertanian
yang disitasi oleh Darmawan et al ., 2008) .
Penguatan peternak sapi perah dalam bentuk kelompok merupakan upaya
dalam meningkatkan usaha sapi perahnya . Manfaat yang dapat dirasakan oleh
peternak sapi perah dengan cara berkelompok adalah : (a) peternak dapat saling
mengontrol kualitas susu, (b) memudahkan pembinaan terhadap anggota
kelompok, (c) memudahkan dalam pendistribusian susu, dan (d) dapat saling
tolong menolong bila salah satu anggota mengalami kesulitan fisik maupun
finansial . Manfaat kerja sama yang dapat dibangun antarkelompok antara lain :
(a) mempermudah akses informasi, (b) melakukan koordinasi terhadap zoning
lahan pangonan atau lahan pencarian hijauan antarkelompok, dan (c) melakukan
kontrol terhadap penyakit endemik yang dapat menyebabkan kematian pada sapi
perah.
B. Tata Niaga dan Manajemen Rantai Pasokan Susu
Tata niaga susu di era globalisasi tidaklah sama dengan era sebelumnya .
Globalisasi perdagangan telah menyebabkan perubahan besar dalam sistem
perdagangan itu sendiri, dan juga sistem lain yang terkait, khususnya rantai
pasokan bahan yang diperdagangkan . Otonomi dan kemerdekaan perdagangan
semakin berubah dan bergerak menuju sistem yang saling terkait dengan variasi
yang besar dalam saling berhubungan . Perubahan sumber bahan, produksi, dan
tata niaga perlu diantisipasi dalam era perdagangan bebas ini karena danya risiko
penyebaran penyakit pada manusia dan mengancam keamanan pangan, seperti
bovine spongiform encephalopathy (BSE) atau terkenal dengan penyakit sapi gila,

10

penyakit mulut dan kuku, dioksin, serta pencemaran melamin atau formaldehid .
Konsumen di negara maju semakin memerhatikan keamanan pangan sehingga
menuntut lebih terjaminnya pangan melalui legislasi nasional dan internasional .
Pada tahun 2005, Uni Eropa menerbitkan aturan barn general food law, yang
menuntut lebih ketatnya jaminan kualitas pangan (Vorst et al ., 2007) . Kualitas
dan keamanan pangan menjadi tanggung jawab bersama pedagang dan pengecer,
tidak hanya tanggung jawab penghasil dan pengolah bahan pangan . Indikasi ini
menunjukkan bahwa strategi bisnis saat ini tidak saja harus memerhatikan
ekonomi tradisional, namun juga aspek teknologi serta topik actual seperti
keselamatan, manfaat kesehatan, cita rasa, manfaat gizi dan kesegaran produk.
Hal ini tidak hanya untuk produksi pangan dalam skala besar, tetapi juga untuk
produksi pangan spesial dengan nilai tambah tinggi . Oleh karena itu, kerja sama
yang semakin erat dengan berbagai pihak terkait, menjadi semakin penting untuk
mencapai pangan yang aman dan berkualitas tinggi bagi konsumen . Hal ini pada
akhirnya akan mengubah rantai pasokan tradisional yang ada.
Saat ini, sebagian besar konsumen memperoleh pasokan pangan dari
jaringan supermarket. Jaringan supermarket bahkan dinilai dua kali lebih besar
daripada nilai ekspor langsung produk pertanian. Share supermarket dalam tata
niaga produk pangan mencapai 40-70% di Asia dan melibatkan konsumen kelas
menengah serta pekerja kota bahkan desa (Griffins, 2000). Pengadaan sumber
barang seperti buah, sayuran, susu dan daging sangat kuat dipengaruhi oleh
organisasi rantai pasokan. Pasar ini membutuhkan barang yang homogen, pasokan
berkelanjutan, serta kualitas yang semakin baik dan stabil Pengadaan barang
semakin tergantikan oleh pemasok khusus, subkontraktor bahkan pembelian
terkonsolidasi melalui gudang wilayah atau perwakilan.
Rantai pasokan yang sebelumnya diatur oleh hubungan baik antara
pemasok dan pembeli (sesuatu yang kurang formal), saat ini lebih banyak
dikoordinasi dan dikelola oleh pemain utama, yakni jaringan supermarket.
Dengan kata lain, supermarket semakin menguasai dan mengontrol segmen/lini
bawahnya, setidaknya melalui kontrak, standar pribadi tertentu dan jaringan
sumber. Definisi rantai pasokan atau supply chain management, is the integrated
planning, implementation, coordination and control of all business processes and

11

activities necessary to produce and deliver, as efficiently as possible, products


that satisfy market requirements (Vorst et al., 2007). Dalam sistem pangan
pertanian di era globalisasi, para pelaku harus bekerja secara berkelanjutan pada
inovasi dan penemuan produk unggulan.
Dalam sistem pasar global, harga dan kualitas menjadi lebih penting
daripada sebelumnya, karena saat ini konsumen mempunyai lebih banyak pilihan
produk yang ditawarkan oleh rantai pasokan pesaing. Dengan demikian, terjadi
kenaikan integrasi saluran pasok dari lokal dan rantaisaluran pangan pertanian
lintas perbatasan. Hal ini dapat dianggap sebagai tantangan untuk pertanian dan
pengembangan pedesaan.
Tata niaga susu di dunia terdapat beberapa model, antara lain : (a) skala
kecil, tata niaga lokal dengan sistem pedagang perantara, (b) skala kecil, tata niaga
jauh dari pabrik pengolahan di desa, (c) skala kecil, tata niaga jauh dengan
transport bahan baku susu, (d) skala besar, sistem tata niaga terorganisasi dengan
pusat pengumpulan susu, serta (e) skala besar, sistem produksi dan tata niaga
(IDF, 1998). Pada sistem tata niaga yang pertama, produsen terdiri atas peternak
dengan skala 1-3 ekor sapi, dengan produksi susu dijual. Penjual perantara
berperan menjual produk ke wilayah sekitar peternak dalam bentuk susu segar
atau sedikit diolah dan memperoleh keuntungan dari selisih harga jual. Dengan
sepeda atau sepeda motor susu dijual dalam bentuk segar atau pasteurisasi
berukuran ''/2 liter, I liter dan dikemas dalam kemasan sederhana (plastik, botol).
Selisih harga tersebut diperkirakan tidak terlalu besar sehingga terjangkau oleh
konsumen. Namun, terdapat kerugian jika sistem ini diandalkan, seperti susu sama
sekali tidak dapat dijamin kesehatan, kebersihannya, ketepatan ukuran, dan
kemurniannya serta jangkauan penjualan yang terbatas.
Sistem tata niaga kedua, pada umumnya jarak antara produsen dengan
pabrik pengolahan susu relatif tidak jauh. Kondisi ini memiliki beberapa
keuntungan, seperti produsen mempunyai hubungan yang dekat dengan pengolah
sehingga pengolah dapat ikut mengawasi kualitas susu untuk mencegah terjadinya
pemalsuan susu. Sebaliknya peternak akan dapat memperoleh masukan terkait
dengan tata kelola usaha, hygiene susu, pakan, dan lain-lain. Hubungan yang baik
ini merupakan prakondisi yang sangat penting untuk suksesnya sistem ini .

12

Penggabungan unit usaha kecil menjadi menengah atau koperasi akan


memungkinkan terciptanya lapangan kerja yang akan mencegah eksodus tenaga
kerja ke luar daerah. Pada prinsipnya sistem ini dapat dibagi menjadi dua tahap,
yakni tahap pertama adalah tata niaga bahan baku yang mudah rusak dari
produsen ke pengolah susu dengan waktu maksimal 2-3 -jam, dan tahap kedua
adalah tata niaga dari pengolah susu lokal ke konsumen dengan waktu yang
dibutuhkan tergantung masa kedaluarsa produk yang dibuat. Sistem ini pada
umumnya mempergunakan transpor yang terorganisasi maupun transpor umum.
Sistem tata niaga ketiga dibedakan menjadi dua, yaitu : (a) tanpa perlakuan
fisik dan kimia, serta (b) dengan perlakuan fisik dan kimia. Pada sistem tanpa
perlakuan, pusat pengumpulan susu berada dibawah pengawasan manajer pabrik,
dealer, koperasi atau asosiasi peternak. Susu dikumpulkan dengan alat angkut
yang relatif kecil pada pagi dan sore hari, dan segera dikirim ke pusat
penampungan atau pengolahan yang di tempat tersebut dilakukan uji
kualitas/kadar susu dan dilakukan pembayaran langsung ataupun secara periodik.
Dengan cara ini dapat mencegah penyimpanan susu semalaman yang akan
menurunkan kualitas. Setelah sampai di pabrik pengolahan maka susu akan diuji
lagi, didinginkan dengan air dingin (chilled water), dipasteurisasi, dikemas dan
dikirim langsung ke konsumen, atau sebelum dipasteurisasi dikirim ke tempat
penampungan yang lebih besar. Sistem ini harus berjalan cepat (kurang 2-3 jam)
sejak diperah sampai ke penampungan. Sistem dengan perlakuan merupakan
pengembangan sistem di atas, yaitu dengan menggunakan penampung susu yang
lebih besar (bulk storage vats) sebagai pengganti penampung skala kecil (churns).
Perlakuan fisik biasanya berupa pemanasan hingga temperatur 60-70C yang
digabung dengan air mengalir (tap water) sebagai pengganti chilling water.
Metode ini dinilai lebih murah daripada dengan pendinginan mekanik dan
hasilnya lebih baik di mana 90% bakteri yang ada dalam susu dapat tereliminasi.
Penggunaan hidrogen peroksida (H2O2) adalah alternatif ketiga yang sebaiknya
dihindarkan, ketika chilling, pendinginan atau pemanasan tidak dimungkinkan.
Dengan sistem ini susu dapat dipertahankan lebih lama dan mungkin
pengangkutan dengan tanki tidak perlu dilakukan sebanyak dua kali sehari.

13

Sistem tata niaga keempat, merupakan sistem yang dapat dikembangkan


pada kota besar yang membutuhkan pasokan susu segar dan olahannya dalam
jumlah besar. Hal ini merupakan sistem yang baik, khususnya jika daerah
penghasil susu berukuran kecil dan tersebar. Pada umumnya sistem ini terdiri dari
minimal tiga tahap, yakni : (a) tahap pertama, pusat pengumpulan susu di desa,
merupakan tempat penampungan susu, peternak dapat menyetor pagi dan sore; (b)
tahap kedua, susu dari peternak ditampung dalam bejana yang lebih besar dan
didinginkan dengan chilled water . Bejana ini dapat berupa refrigerated bulk tank
yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan pendinginan sekaligus. Susu
kemudian akan dibawa dengan tanki unit pengolahan susu lain; (c) tahap ketiga,
pabrik pengolahan mengolah susu dengan menggunakan bahan baku susu dari
berbagai daerah pengumpulan, untuk kemudian dikirim ke konsumen. Pabrik
olahan susu ini bisa merupakan pabrik yang dimiliki oleh koperasi susu.
Sistem tata niaga kelima, merupakan sistem yang terdiri dari unit-unit
produksi susu yang mempunyai sapi lebih dari 50 ekor laktasi, serta
dikelompokkan sebagai unit besar. Masing-masing unit membutuhkan sebuah
refrigerated bulk fat sendiri. Susu kemudian dikumpulkan setiap hari berikutnya
untuk dibawa ke unit pengolahan susu. Hasil olahan yang dihasilkan pabrik
kemudian dipasarkan dengan sistem tata niaga sendiri atau melalui unit terkait. Di
Indonesia sebagian besar susu dihasilkan oleh peternak rakyat berskala kecil yang
tersebar di beberapa pusat produksi. Sebagian besar susu disetor ke IPS (Industri
Pengolahan Susu) yang akan mengolah menjadi susu bubuk, susu kental manis,
susu pasteurisasi, keju, mentega dan lain-lain. Hubungan kerja sama antara
peternak dengan IPS umumnya melalui koperasi. Pusat pengumpulan susu berada
dibawah pengawasan koperasi, dan pengumpulan susu dilakukan sebanyak dua
kali sehari. Susu dari peternak dikumpulkan dalam sebuah mobil tanki dan segera
dikirim ke pusat penampungan di koperasi untuk dilakukan proses pendinginan
sebelum dikirimkan ke IPS.
Beberapa koperasi juga telah melakukan pengolahan sebagian susu
peternak menjadi susu ultra high temperature (UHT) maupun susu paseurisasi,
atau menjual susu segar langsung kepada konsumen. Pada masing-masing rantai
tata niaga terdapat biaya produksi yang ditimbulkan, yaitu :

14

1. Pada peternak: harga susu mencerminkan biaya tenaga kerja pakan hijauan,
pakan konsentrat, upaya pemuliaan dan reproduksi, sewa kandang, pengeluaran
keuangan khusus, dan sebagainya.
2. Pada industri pengolah : harga susu segar tergantung pada komposisi susu
(lemak, protein), kualitas bakteri, kualitas selsel darah putih, dan harga
musiman.
3. Pada konsumen : harga susu dan produk susu tergantung jenis dan nilai nutrisi
serta gastronominya.
C. Fungsi Rantai Pasokan
Masing-masing rantai pasokan merupakan perwujudan satu set yang secara
konsep memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling berhubungan dan terkait baik
secara fisik maupun keuangan . Fungsi-fungsi tersebut, yaitu :
1 . Fungsi yang berhubungan dengan komoditas fisik, meliputi :
a. Gerakan spasial dari produsen ke konsumen akhir atau industri pengguna.
b. Penyimpanan dan pergudangan .
c. Transformasi fisik dari komoditas bahan mentah menjadi satu set produk
akhir yang berkualitas yang siap dikonsumsi .
2. Fungsi terkait dengan dimensi harga dan pembayaran, meliputi:
a. Perpindahan dari pendapatan penjualan akhir kepada pihak yang terlibat
dalam pengolahan, tata niaga dan petani.
b. Perpindahan harga kembali kepada siapa saja yang terlibat dalam proses,
marketing dan petani.
Hal ini secara terperinci untuk rantai pasokan susu dan olahan susu sejak
pemerahan disajikan dalam Gambar 4 .

Gambar 4 . Rantai pasokan industri susu dan olahan susu

15

Hubungan antara peternak-kelompok peternak-koperasi susu sebagai


pemasok susu ke IPS mencerminkan suatu system rantai pasokan yang harus
dikelola dengan baik . Pembangunan industri sapi perah di Indonesia bukan hanya
karena alasan ekonomi peternak semata, tetapi juga untuk memenuhi permintaan
susu domestik, meningkatkan pendapatan petani, membantu pemerataan
pendapatan, menciptakan lapangan kerja, memperbaiki nilai tukar, serta
meningkatkan kualitas konsumsi gizi nasional . Industri sapi perah yang
didominasi oleh peternak rakyat karena tujuan pemerataan pendapatan dan
penciptaan lapangan kerja secara langsung akan berdampak kepada keterkaitan ke
belakang (backward linkage) dengan industry bibit, industri pakan, dan jasa
reproduksi-kesehatan, inseminasi buatan . Hal ini juga akan berdampak kepada
keterkaitan ke depan (forward linkage) dengan IPS serta industri penyediaan
sarana prasarana pemerahan, pengemasan, transportasi dan lainnya. Secara alami,
industri sapi perah memiliki tingkat keterkaitan dan dampak ganda yang cukup
tinggi dengan industri lainnya karena sebagian besar produk sapi perah digunakan
sebagai bahan baku industri .
Manajemen rantai pasokan susu (dairy supply chain management) dapat
didefinisikan sebagai 'the systemic, strategic coordination of the traditional
business functions within a particular company and across businesses within the
supply chain, for the purposes of improving long-term performance of the
individual companies and the supply chain as a whole' (Mentzer et al ., 2001
dalam Vorst et al ., 2007) . Oleh karena itu, secara individu keberadaan masingmasing pihak akan menentukan saling ketergantungan dan keberhasilan pasokan
susu secara keseluruhan sehingga dapat dikatakan terjadi semacam linkage ke
belakang dan ke depan, dengan pusat putaran adalah produksi susu . Secara
skematis hal tersebut tampak pada Gambar 5 .
Secara spesifik yang membedakan rantai pasokan dengan sistem tata
niaga, adalah adanya kepastian pasar antar pelaku bisnis melalui suatu kontrak
yang dilakukan antar pemangku kepentingan.

16

Gambar 5 . Sistem rantai pasokan susu


Tata niaga susu yang dihasilkan peternakan sapi perah rakyat membentuk
dua jenis saluran, yaitu saluran yang dikelola oleh koperasi dan nonkoperasi
(agen) (Paturochman, 2008) . Para pelaku tata niaga dalam saluran yang dikelola
koperasi adalah peternak, koperasi primer, koperasi sekunder, IPS, grosir,
pengecer dan konsumen . IPS sebagai konsumen antara telah menetapkan standar
kualitas susu yang disepakati oleh koperasi .
Dalam sistem ini, telah terjadi sistem rantai pasok dimana para pelaku tata
niaga telah melakukan sistem kontrak tata niaga dalam menyalurkan komoditi
(susu). Saluran tata niaga yang dikelola oleh koperasi, secara umum terdapat tiga
jenis, yaitu :
1 . Peternak - Kelompok - Koperasi - IPS (Jawa Barat dan Jawa Timur)
2 . Peternak - Pengumpul - Koperasi - IPS (DIY dan Jateng)
3 . Peternak - Pengumpul - IPS (DIY dan Jateng)
Secara skematis saluran tata niaga tersebut disajikan pada Gambar 6 .

Gambar 6 . Saluran tata niaga susu yang dikelola koperasi

17

Gambar 6 menunjukkan adanya perbedaan saluran tata niaga susu yang


dikelola koperasi pada masing-masing wilayah di Pulau Jawa . Jawa Barat dan
Jawa Timur memiliki kesamaan saluran, yang berbeda dengan di DIY dan Jawa
Tengah . Di DIY dan khususnya Jawa Tengah terjadi anomali tata niaga dengan
berkembangnya secara tidak terkendali "broker susu" yang merugikan peternak
dan IPS . Broker susu yang dicoba diberantas melalui pendirian koperasi sekarang
tumbuh kembali dengan subur. Kenyataan sekarang menunjukkan bahwa tata
niaga susu mempunyai jalur sebagaimana disajikan dalam Gambar 7 .

Gambar 7 . Tata niaga susu di DIY dan Jawa Tengah


Tata niaga pada Gambar 7 dipandang kurang efektif karena koperasi
(KUD/GKSI) dirugikan . Karena jika peternak memasarkan ke loper/broker maka
kewajibannya sebagai anggota tidak dapat dibayarkan kepada koperasi/GKSI
sehingga perlu dilakukan upaya perbaikan sebagaimana yang diusulkan pada
Gambar 8 .

Gambar 8 . Upaya perbaikan tata niaga susu di DIY dan Jawa Tengah
18

Gambar 8 menunjukkan bahwa hal yang paling mendasar adalah


menerapkan etika dalam sistem perdagangan antar koperasi dengan anggotanya
sehingga setiap peternak sebagai anggota koperasi akan memasarkan produksi
hanya kepada kelompoknya. Di Jawa Barat terdapat enam jenis sistem saluran tata
niaga susu yaitu :
1. Peternak-Koperasi-IPS-Grosir-Pengecer-Konsumen Akhir
2. Peternak-Koperasi-Konsumen akhir
3. Peternak-agen-Pedagang Pengecer-Konsumen Akhir
4. Peternak-agen-Industri Rumah tangga-Konsumen Akhir
5. Peternak-agen-Rumah Makan/restoran-Konsumen Akhir
6. Peternak-agen-IPS
Dalam sistem pemasaran susu ini, keseluruhannya belum menerapkan
sistem rantai pasokan, secara skematis seperti tampak pada Gambar 9 .

Gambar 9 . Saluran tata niaga susu non koperasi di Jawa Barat


Di Jawa Barat saluran pemasaran yang melibatkan "agen" berkembang
pesat terutama sejak tahun 2007. Hal ini disebabkan karena hampir 50%
koperasi/KUD unit susu di Jawa Barat tidak aktif, sementara kenaikan harga susu
dunia telah merangsang IPS membeli susu petemak dengan kenaikan harga yang
sangat kondusif. Pembelian susu ini dilakukan oleh para agen/kolektor susu yang
ada di perdesaan, khususnya di wilayah Koperasi/KUD susu yang tidak aktif. Para
agen/kolektor susu ini sebagian besar merupakan bentukan atau kepanjangan
tangan IPS, walaupun secara yuridis formal sulit dibuktikan bahwa agen tersebut
merupakan kepanjangan tangan IPS .

19

BAB IV
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah mengenai rantai pasok produk susu,
yaitu:

20

DAFTAR PUSTAKA
Anonirnus. 2008. Peningkatan Kemampuan dan Kapasitas Perencanaan
Produksi dan Kualitas Susu, Kelompok Ternak Anggota Koperasi
Susu di DIY dan Jawa Tengah. Salatiga, 15-16 Desember 2008.
Workshop Persusuan DIY-Jawa Tengah .
Baga, L. M. 2005. Penguatan Kelembagaan Koperasi Petani untuk
Revitalisasi Pertanian. Jakarta, 19 Juni 2005. Seminar Revitalisasi
Pertanian untuk Kesejahteraan Bangsa, yang Diselenggarakan oleh
Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) .
Effendhie, S. 2006.
Kuliah Tamu pada Mata Kuliah Pascapanen dan
Industri Susu. Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta .
FAO. 2008. Food Outlook. June 2008. Rome, Italy.
Firman, A . 2008 . Kajian Koperasi Persusuan di Jawa Barat. Prosiding
Focus Group Discussion Arah Pengembangan Industri Persusuan
Jangka Panjang. Bandung, 18-19 Januari 2008 . Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran, Bandung .
Paturochman, M. 2008. Hubungan antara Karakteristik dan Atribut
Produk Susu dengan Pertimbangan Pembelian Konsumen. Survey
Pemasaran Susu melalui Saluran yang Dikelola oleh Agen di Jawa
Barat . Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung .
Rahayu, S., S. Kuswaryan, A. Finnan, dan C. Firmansyah. 2005.
Pembentukan Model Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Sapi Perah.
Kerjasama Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran dengan Dinas
Provinsi Jawa Barat, Bandung .
Sugandi, D ., Budiman dan R. Tawaf. 2008. Dampak Penerapan Standar
Kualitas Susu terhadap Kinerja Usaha Koperasi Susu di Kabupaten
Bandung . Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Yusdja, Y. 2005. Kebijakan Ekonomi Industri Sapi Perah di Indonesia .
Analisis Kebijakan Pertanian 3 : 257-268.

21