Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS

OLEH :
HENDRA APRIADI
2013.C.05a.0430

STIKES EKA HARAP PALANGKARAYA


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2016

LAPORAN PENDAHULUAN
FEBRIS / DEMAM
Oleh : Hendra Apriadi
2013.C.05a.0430
A. Pengertian Demam
Demam berarti suhu tubuh diatas batas normal biasa, dapat disebabkan oleh kelainan
dalam
otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakitpenyakit

bakteri,

tumor

otak

atau

dehidrasi.

(Guyton,

1990).

Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 380 C atau lebih. Ada juga
yang yang mengambil batasan lebih dari 37,80C. Sedangkan bila suhu tubuh lebih dari
400C disebut demam tinggi (hiperpireksia) . (Julia, 2000).
B. Klasifiikasi
1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun
kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan
berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan
juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal.
Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar
perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila
demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua
hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam
yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode
bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti
semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe
demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat
dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi
saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera
dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang
baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti
influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus
tetap waspada terhadap inveksi bakterial.
C. Etiologi
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan
dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun penyakit lain.
(Julia, 2000). Menurut Guyton (1990) demam dapat disebabkan karena kelainan dalam
otak
sendiri atau zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit
bakteri, tumor otak atau dehidrasi.
D. Patofisiologi
Demam terjadi sebagai respon tubuh terhadap peningkatan set point, tetapi ada
peningkatan
suhu tubuh karena pembentukan panas berlebihan tetapi tidak disertai peningkatan set
point.(Julia,2000)
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) anak terhadap
infeksi atau zatasing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada infeksi atau zat asing
masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan dilepaskannya
pirogen.

Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal dari dalam tubuh (pirogen
endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal dari infeksi oleh
mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing (non infeksi).
Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor) yang terdapat pada
tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di hipotalamus. Dalam hipotalamus
pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan
produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan suhu tubuh
dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi kelenjar
keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah ketidakseimbangan pembentukan dan
pengeluaran panas.
Inilah yang menimbulkan demam pada anak. Suhu yang tinggi ini akan merangsang
aktivitas tentara tubuh (sel makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi zat asing
tersebut dengan meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan
dalam

pembentukan

Sedangkan

sifat-sifat

antibodi
demam

atau

sistem

dapat

kekebalan

berupa

tubuh.

menggigil

(Sinarty,
atau

2003)

krisis/flush.

Menggigil. Bila pengaturan termostat dengan mendadak diubah dari tingkat normal ke
nilai yang lebih tinggi dari normal sebagai akibat dari kerusakan jaringan,zat pirogen atau
dehidrasi. Suhu tubuh biasanya memerlukan beberapa jam untuk mencapai suhu baru.
Krisis/flush. Bila faktor yang menyebabkan suhu tinggi dengan mendadak disingkirkan,
termostat hipotalamus dengan mendadak berada pada nilai rendah, mungkin malahan
kembali ke tingkat normal. (Guyton, 1999)
E. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala demam antara lain :
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8 C 40 C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan

F. Komplikasi
Menurut Corwin (2000),komplikasi febris diantaranya:
1. Takikardi
2. Insufisiensi jantung
3. Insufisiensi pulmonal
4. Kejang demam
G. Pemeriksaan penunjang
Uji coba darah,
Contoh pada Demam Dengue terdapat leucopenia pada hari ke-2 atau hari ke-3. Pada
DBD dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Masa pembekuan masih
normal, masa perdarahan biasanya memanjang, dapat ditemukan penurunan factor
II,V,VII,IX, dan XII. Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinemia,
hiponatremia, hipokloremia. SGOT, serum glutamit piruvat(SGPT), ureum, dan pH
darah mungkin meningkat, reverse alkali menurun.
Pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin.
Contoh pada DBD air seni mungkin ditemukan albuminuria ringan.
Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan
pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi.
Ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa.
H. Penatalaksanaan
1. Secara Fisik
a. Anak demam ditempatkan dalam ruangan bersuhu normal
b. Pakaian anak diusahakan tidak tebal
c. Memberikan minuman yang banyak karena kebutuhan air meningkat
d. Memberikan kompres
Berikut ini cara mengkompres yang benar :
- Kompres dengan menggunakan air hangat, bukan air dingin atau es
- Kompres di bagian perut, dada dengan menggunakan sapu tangan yang telah
dibasahi air hangat
- Gosok-gosokkan sapu tangan di bagian perut dan dada
- Bila sapu tangan sudah kering, ulangi lagi dengan membasahinya dengan air
hangat
2. Obat- obat Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di
hipotalamus.Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin dengan
jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus direndahkan
kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas diatas normal dan
mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi.

Penderita tifus perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi (agar penyakit ini tidak
menular ke orang lain). Penderita harus istirahat total minimal 7 hari bebas panas.
Istirahat total ini untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus. Makanan yang
dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan serat
kasar seperti daun singkong harus dihindari, jadi harus benar-benar dijaga
makanannya untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan.
Pengobatan yang diberikan untuk pasien febris typoid adalah antibiotika golongan
Chloramphenicol dengan dosis 3-4 x 500 mg/hari;
Petunjuk pemberian antipiretik:
Bayi 6 12 bulan : 1 sendok the sirup parasetamol
Anak 1 6 tahun : parasetamol 500 mg atau 1 1 sendokteh sirup
parasetamol
Anak 6 12 tahun : 1 tablet parasetamol 5oo mg atau 2 sendok the sirup
parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan air atau teh
manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari. Gunakan sendok takaran obat
dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan demam
dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan
kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang
berisiko kejang demam.

I.

Pengkajian
1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam,
gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah, nafsu makan,
diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah
atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan.
2. Melakukan pemeriksaan fisik.
3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium, foto
rontgent ataupun USG.

J. Diagnosa keperawatan
1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi.
2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporsis.
4.
K. Intervens

No. Diagnosa
1

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria hasil

Keperawatan
Hypertermia
b/d

Intervensi

Setelah dilakukan tindakan 1.

proses keperawatan selama.x 24

infeksi

Pantau suhu klien (derajat dan


pola) perhatikan menggigil/diaforsis

jam menujukan temperatur 2.

Pantau

suhu

lingkungan,

dalan batas normal dengan

batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai

kriteria:

indikasi

Bebas dari kedinginan

3.

Suhu tubuh stabil 36-37


C

Berikan

kompres

hangat

hindri penggunaan akohol


4.

Berikan

miman

sesuai

kebutuhan
5.

Kolaborasi untuk pemberian


antipiretik

Resiko injuri Setelah dilakukan tindakan 1.

Kaji tanda-tanda komplikasi lanjut

b/d

Kaji status kardiopulmonar

infeksi keperawatan selama ...... 24 2.

mikroorganis

jam anak bebas dari cidera 3.

me

dengan kriteria:
-

menunjukan 4.
tidak

untuk

pemantauan

laboratorium: monitor darah rutin

homeostatis
-

Kolaborasi
Kolaborasi

untuk

pembereian

antibiotik

ada

perdarahan
mukosa dan
bebas

dari

komplikasi
lain
3

Resiko

Setelah dilakukan tindakan

kurang

perawatan selama .x 24

jenis.

volume

jam volume cairn adekuat

masukan dan haluran kumulatif

cairan

b/d dengan kriteria:

1. Ukur/catat haluaran urine dan berat


Catat

ketidak

seimbangan

2. Pantau tekanan darah dan denyut

intake

yang

kurang

dan

deperosis

tanda

vital

jantung ukur CVP

dalam

batas

3. Palpasi denyut perifer

normal
-

nadi

4. Kaji membran mukosa kering, tugor


perifer

teraba kuat
-

haluran urine
adekuat

tidak

kulit yang kurang baik dan rasa halus


5. Kolaborasi untuk pemberian cairan IV
sesuai indikasi
6. Pantau nilai laboratorium, Ht/jumlah

ada

tanda-tanda

sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED,


GDS

dehidrasi

L. Implementasi
Implementasi yaitu tindakan-tindakan yang diberikan pada pasien setelah perencanaan
dibuat pada intervensi.
Pada implementasi perawat wajib untuk memasukkan format SOAP yaitu:
S : keluhan yang dikatakan pasien.
O: keadaan pasien yang perawat lihat.
A: pertimbangan antara masalah telah teratasi atau belum teratasi.
P: jika masalah teratasi maka intervensi dihentikan, dan jika masalah belum teratasi
maka intervensi dilanjutkan.
DAFTAR PUSTAKA
1.

Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik, Edisi 2. Jakarta,


EGC.

2.

Engel, Joyce. (1998). Pengkajian Pediatrik. Ed. 2. Jakarta, EGC

3.

Doenges,M.E. Geisler, A.C. Moorhouse, M.F.(2000). Rencana Keperawatan


Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Keperawatan. Jakarta:EGC.

4.

Hidayat,A. A.(2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba


Medika.

5.

Nanda. (2005). Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA : Definisi dan


Klasifikasi. Jakarta:Prima Medika.