Anda di halaman 1dari 80

INFEKSI MENULAR SEKSUAL

PENDAHULUAN
Infeksi menular seksual adalah infeksi yang bisa menular dari seseorang ke orang lain
dengan perantaraan hubungan seksual. Semua orang beresiko tertular penyakit kelamin. Akan
tetapi menurut penelitian, kaum perempuan memiliki resiko lebih besar untuk tertular, karena
bentuk dan sifat alat reproduksi yang lebih rentan untuk terkena infeksi. Cara Hubungan seksual
tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital atau anogenital, sehingga kelainan yang timbul akibat infeksi menular seksual ini tidak terbatas hanya
pada daerah genital saja, tetapi dapat juga pada daerah- daerah ekstra genital. Biasanya gejala
tidak terlihat dengan mudah dan butuh waktu untuk inkubasi. Sehingga banyak penderita tidak
mengetahui dirinya telah mengidap penyakit. Secara umum dapat diidentifikasi keberadaan IMS
dengan melihat tanda-tanda penting, walaupun tidak mudah untuk melakukan. Misalnya ; rasa
gatal, nyeri & panas pada alat kelamin dan waktu buang air kecil , kadang mengeluarkan cairan
Pus atau nanah yang berbau dan berwarna.
Etiologi dan Penyakit Menular Seksual
1. Bakteri
Neisseria gonorrhoeae

Penyakit gonore

Chlamydia trachomatis
Mycoplasma hominis

Infeksi genital non- spesifik

Ureaplasma urealyticum
Treponema pallidum

Sifilis

Gardnerella vaginalis

Vaginitis

Donovania granulomatis
2. Virus

Granuloma inguinale

Herpes simplex virus

Herpes genital

Herpes B virus

Hepatitis fulminan akut atau kronis

Human papilloma virus

Kondiloma akuminata

Molluscum contangiosum virus

Moluskum kontangiosum
1

Human immunodeficiency virus

AIDS (Acquired Immune Deficiency Virus)

3. Protozoa
Trichomonas vaginalis
4. Fungus
Candida albicans

Vaginitis, uretritis, balanitis


Vulvovaginitis, balanitis, balanopostitis

5. Ektoparasit
Phthirus pubis

Pedikulosis pubis

Sarcoptes scabiei var. hominis

Skabies

GONORE
Gonore adalah penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri
Neisseria gonorrhoeae, bakteri diplokokkus gram negatif yang menjadikan manusia sebagai
perantaranya. Selama beberapa abad, bermacam nama telah digunakan untuk mendeskripsikan
infeksi yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae ini, diantaranya; strangury yang digunakan oleh
Hipocrates, penamaan gonore sendiri diberikan oleh Galen (130 SM) untuk menggambarkan
eksudat uretra yang sifatnya seperti aliran air mata (flow of seed) dan M. Neisser, dikenalkan
oleh Albert Neisser, yang menemukan mikroorganisme tersebut pada tahun 1879 dari pewarnaan
apusan yang diambil dari vagina, uretra dan eksudat konjungtiva.
Kultur dari bakteri N. gonorrhoeae dilaporkan pertama kali oleh Leistikow dan Loffler
pada tahun 1882 dan dikembangkan pada tahun 1964 oleh Thayer dan Martin yang menemukan
tempat biakan selektif pada media agar khusus. Media Thayer-Martin merupakan media yang
selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan
kuman positif-Gram, kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram dan nistatin
untuk menekan pertumbuhan jamur.
Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital, orogenital dan ano-genital. Tetapi di samping itu dapat juga terjadi secara manual melalui alat-alat,
2

pakaian, handuk, thermometer. N. gonorrhoeae tidak mengenal ras, sosial ekonomi atau kondisi
geografis. Laki-laki, wanita baik dewasa maupun anak-anak dapat tertular penyakit ini.

EPIDEMIOLOGI

Merupakan salah satu penyebab PMS terbanyak. Infeksi asimtomatik wanita 25 - 80% dan
pria 1 3%. Sebagian telah resisten terhadap penisilin Neisseria gonorrhea penghasil penisilin
(NGPP). Infeksi gabungan dengan Chlamydia pria 15 25% dan wanita: 30 40%. Infeksi ini
ditularkan melalui hubungan seksual, dapat juga ditularkan kepada janin pada saat proses
kelahiran berlangsung. Walaupun semua golongan rentan terinfeksi penyakit ini, tetapi insidens
tertingginya berkisar pada usia 15-35 tahun. Di antara populasi wanita pada tahun 2000, insidens
tertinggi terjadi pada usia 15 -19 tahun (715,6 per 100.000) sebaliknya pada laki-laki insidens
rata-rata tertinggi terjadi pada usia 20-24 tahun (589,7 per 100.000). Pada tahun 1987 dilaporkan
sebanyak 31/100.000 orang yang menderita, pada tahun 1994 dilaporkan penderita gonore
semakin berkurang yaitu hanya sekitar 31/100.000 orang yang menderita. Di Amerika Serikat,
insiden dari kasus gonore mengalami penurunan. Pada tahun 1975 dilaporkan 473/100.000 orang
yang menderita, dimana dengan angka tersebut menunjukkan bahwa kasus gonore di Amerika
Serikat mengalami penurunan sampai tahun 1984.
Faktor-faktor resiko:

Hubungan seksual dengan penderita tanpa proteksi


Mempunyai banyak pasangan seksual
Pada bayi saat melewati jalan kelahiran dari ibu yang terinfeksi
Pada anak penyalahgunaan seksual (sexual abuse) oleh penderita terinfeksi.

ETIOLOGI

N. gonorrhoeae adalah infeksi yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae. Albert Neisser


adalah yang menemukan mikroorganisme tersebut pada tahun 1879 dari pewarnaan apusan yang
diambil dari vagina, uretra dan eksudat konjungtiva. Bakteri N. gonorrhoeae tidak dapat
bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram negatif dengan ukuran lebar 0,8 mikro
dan panjang 1,6 mikro, tahan asam, terlihat di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di
udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 390C, dan tidak tahan zat
desinfektan. Bakteri gonokokkus tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung
mempengaruhi transmisi seksual. Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya
memerlukan 2-10% CO2 dalam pertumbuhannya di atmosfer.

Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui transferin,
laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah,
tumbuh optimal pada suhu 35-37o dan pH 7,2-7,6 untuk pertumbuhan yang optimal.
Gonokokkus terdiri dari 4 morfologi, type 1 dan 2 bersifat patogenik dan type 3 dan 4 tidak
bersifat patogenik. Tipe 1 dan 2 memiliki pili yang bersifat virulen dan terdapat pada
permukaannya, sedang tipe 3 dan 4 tidak memiliki pili dan bersifat non-virulen. Pili akan
melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.
Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis
gepeng yang belum berkembang (immatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.

PATOGENESIS

Neisseria gonorrhoeae merupakan gram negatif , intra seluler, diplokokus aerobic yang
mempengaruhi epitel kuboid atau kolumner host. Berbagai factor yang mempengaruhi cara
gonokokus memediasi virulensi dan patogenisitasnya. Pili dapat membantu pergerakan
gonokokus ke permukaan mukosa. Membran protein luar seperti apacity-associated (Opa)
meningkatkan perlekatan antra gonokokus ( bentuk koloni padat pada kultur media) dan juga
meningkatkan perlekatan dengan fagosit. Produksi yang dimediasi plasmid tipe TEM-1 beta
laktamase (penisilinase) juga berperan pada virulensinya. Gonokokus melekat pada sel mukosa
host (dengan bantuan pili dan protein Opa) dan kemudian penetrasi seluruhnya dan diantara sel
dalam ruang subepitel. Karakteristik respon host oleh invasi dengan neutrofil, diikuti dengan
pelepasan epitel, pembentukan mikroabses submukosal, dan discharge purulen. Apabila tidak
diobati, infiltrasi makrofag dan limfosit digantikan oleh neutrofil. Beberapa strain
mmenyebabkan infeksi asimptomatik.

GEJALA KLINIS

Masa inkubasi gonore sangat singkat, bervariasi antara 2-5 hari terkadang lebih lama,
dengan kebanyakan gejala biasanya muncul 2-5 hari setelah terinfeksi oleh penderita. Pada
sejumlah kecil kasus dapat asimptomatik selama beberapa bulan. Tanda, gejala dan komplikasi
berbeda pada pria dan wanita. Diketahui 10% laki-laki dan 50% wanita bersifat asimptomatik.
Pada traktus genitourinari pria dapat ditemukan:

Infeksi pada uretra umumnya menyebabkan duh uretra yang mukopurulen atau purulen

(>80%) dan atau disuria (>50%)


Orificium uretra eksternum eritematosa, edema, dan ektropion
Pada infeksi anal: gatal-gatal pada daerah anus
Infeksi oral: mungkin tanpa gejala atau sakit tenggorokan

Pada traktus genitourinari wanita bagian bawah:

Duh serviks yang mukopurulen atau purulen


Duh vagina atau pendarahan; vulvaginitis pada anak-anak

Pada traktus genitourinari wanita bagian atas:

PID (Pelvic Inflamatory Diseases)


Nyeri bagian bawah perut
Demam

Gejala lain:

Duh rektal yang mukopurulen atau purulen


Orofaringeal-faringitis
Mata purulen konjungtivitis
DGI (Disseminated Gonorrheal Infection):
- demam (biasanya <390C)
Pada pria

Infeksi pertama

Pada wanita
Komplikasi

Infeksi pertama

Komplikasi

Uretritis

Lokal : Tysonitis,

Uretritis

parauretritis, littritis,

Bartolinitis.

Cowperitis.
Asendens : prostatitis,

Lokal : parauretritis,

Servisitis

vesikulitis, vas

Asendens : salpingitis,
P.I.D (Pelvic
Inflammatory Diseases).

deferentitis /funikulitis,
epididimitis, trigonitis

Komplikasi diseminata pada pria dan wanita dapat berupa :


-

Artritis

Miokarditis

Endokarditis

Perikarditis

Meningitis

Dermatitis

Kelainan yang timbul akibat hubungan kelamin selain cara genito-genital, pada pria dan wanita
dapat berupa orofaringitis, proktitis, dan konjungtivitis.

1. Pada pria
Uretritis
Yang paling sering di jumpai adalah uretritis anterior akuta dan dapat menjalar ke
proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asendens, dan diseminata. Keluhan
subyektif berupa rasa gatal, panas di bagian distal uretra di sekitar orifisium uretra yang
kadang-kadang disertai darah, dan disertai perasaaan nyeri pada waktu ereksi.

Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum eritematosa, edematosa, dan


ektropion. Tampak bula duh tubuh yang mukopurulen, dan pada beberapa kasus dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.

Tysonitis
Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi biasanya terjadi pada
penderita dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihan yang kurang baik.
Diagnosis di buat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerah
frenulum yang nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan timbul abses dan merupakan sumber
infeksi laten.

Gambar. Butir Pus Kelenjar Tyson

Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi
pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.

Litritis

Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir. Bila
salah satu saluran tersumbat, dapat terjadi abses folikular. Didiagnosis dengan uretroskopi.

Cowperitis
Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. Kalau infeksi terjadi pada kelenjar
Cowper dapat terjadi abses. Keluhan berupa nyeri dan

adanya benjolan pada daerah

perineum disertai dengan rasa penuh, panas, nyeri pada waktu defekasi, dan disuria. Jika
tidak diobati abses akan pecah melalui kulit perineum, uretra, atau rektum, dan
mengakibatkan proktitis.

Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan
suprapubis, malaise, demam, nyeri kencing sampai hematuri, spasme otot uretra sehingga
terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air besar, dan obstipasi.
Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri tekan, dan
didapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak diobati, abses akan pecah, masuk ke
uretra posterior atau ke arah rektum mengakibatkan proktitis.
Bila prostatitis menjadi kronik, gejalanya ringan dan intermitten, tetapi kadang-kadang
menetap. Terasa tidak enak pada perineum bagian dalam dan rasa tidak enak bila duduk
terlalu lama. Pada pemeriksaan prostat terasa kenyal, berbentuk nodus, dan sedikit nyeri
pada penekanan. Pemeriksaan dengan pengurutan prostat biasanya sulit menemukan kuman
diplokok atau gonokok.

Vesikulitis

Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus ejakulatorius,
dapat timbul menyertai prostatitis akut atau epididimitis akut. Gejala subyektif menyerupai
gejala prostatitis akut, berupa demam, polakisuria, hematuria terminal, nyeri pada waktu
atau ejakulasi, dan spasme mengandung darah.
Pada pemeriksaan melalui rektum dapat di raba vesikula seminalis yang membengkak
dan keras seperti sosis, memanjang di atas prostat. Ada kalanya sulit menentukan batas
kelenjar prostat yang membesar.

Vas deferentitis atau funikulitis


Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama.

Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral, dan setiap epididimitis biasanya disertai
deferentitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada
uretra posterior yang disebabkan oleh salah penanganan atau kelainan penderita sendiri.
Faktor yang mempengaruhi keadaan ini antara lain irigasi yang terlalu sering dilakukan,
cairan irigator terlalu panas atau terlalu pekat, instrumentasi yang kasar, pengerutan prostat
yang berlebihan, atau aktivitas seksual dan jasmani yang berlebihan.
Epididimitis dan tali spermatika membengkak dan teraba panas, juga testis, sehingga
menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai ke dua
epididimis dapat mengakibatkan sterilitas.
Trigonitis
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria. Trigonitis
menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal, dan hematuria.
2. Pada wanita

10

Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologik alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita
bila penyakitnya akut maupun kronik, gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak
pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang kalau sudah ada
komplikasi. Disamping itu wanita mengalami tiga masa perkembangan :
1. Masa prapubertas : epitel vagina dalam keadaan belum berkembang (sangat tipis),
sehingga dapat terjadi vaginitis gonore.
2. Masa reproduktif : lapisan selaput lendir vagina menjadi matang, dan tebal dengan
banyak glikogen dan basil Doderlein. Basil ini akan memecahkan glikogen sehingga
suasana menjadi asam dan suasana ini tidak menguntungkan untuk tumbuhnya kuman
gonokok.
3. Masa menopause : selaput lendir vagina menjadi atrofi, kadar glikogen menurun, dan
basil Doderlein juga berkurang dan suasana ini menguntungkan untuk pertumbuhan
kuman gonokok, jadi dapat terjadi vaginitis gonore.
Pada mulanya hanya serviks uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang mukopurulen
dan mengandung banyak gonokok mengalir ke luar dan menyerang uretra, duktus
parauretra, kelenjar Bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah
kandung telur.

Uretritis
Gejala utama ialah disuria, kadang-kadang poliuria. Pada pemeriksaan orifisium uretra
eksternum tampak merah, edematosa dan ada sekret mukopurulen.
Parauretritis
Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.

Servisitis
11

Dapat asimtomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah. Pada
pemeriksaan serviks tampak merah denga erosi dan sekret mukopurulen. Duh tubuh akan
terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis.

Bartholinitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah, dan nyeri tekan. Kelenjar
Bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan penderita sukar duduk.
Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau kulit.
Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista.

Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut, atau kronis. Faktor predisposisinya, yaitu :
-

Masa puerperium (masa nifas)

Dilatasi setelah kuretase

Pemakaian IUD, tindakan AKDR

12

Cara infeksi langsung dari serviks melalui tuba Fallopii sampai pada daerah salping dan
ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang panggul. Infeksi ini dapat
menimbulkan kehamilan ektopik dan sterilitas. Gejalanya terasa nyeri pada daerah
abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau
abnormal.

Proktitis
Umumnya asimtomatik. Pada wanita dapat terjadi karena kontaminasi dari vagina dan
kadang-kadang karena hubungan genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya
lebih ringan daripada pria, terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan
tampak mukosa eritematosa, edematosa, dan tertutup pus mukopurulen.

Orofaringitis
Cara infeksi melalui kontak secara orogenital. Faringitis dan tonsilitis gonore lebih sering
daripada gingivitis, stomatitis, atau laringitis. Keluhan bersifat asimtomatik. Bila ada keluhan
sukar dibedakan dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan kuman lain. Pada pemeriksaan
daerah orofaring tampak eksudat mukopurulen yang ringan atau sedang.

Konjungtivitis
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita servisitis
gonore. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena penularan pada konjungtiva melalui tangan
atau alat-alat. Keluhannya berupa fotofobia, konjungtiva bengkak, dan merah dan keluar
eksudat mukopurulen. Bila tidak diobati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea,
panoftalmitis sampai timbul kebutaan.

13

Gambar. Gonore pada mata bayi

DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang yang
terdiri dari :
A. Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan gonokok negative-gram,
intraselular dan ektraselular. Specimen diambil dari duh tubuh pada pria diambil dari
daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar
bartholin, serviks dan rectum.
B. Kultur
Untuk identifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam media yang dapat
digunakan:
1. Media transport
- Media Stuart
Hanya untuk transport saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media
pertumbuhan.

- Media Transgrow
Media ini selektif dan nutritive untuk N. gonorrhoeae dan N. meningitides, dalam
perjalan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transport
dan media pertumbuhan, sehungga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan.
14

Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan menambahkan


trimetropin untuk mematikan proteus spp.
2. Media pertumbuhan
- Mc Leods Chocolate Agar
Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman gonokok,
-

kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh.


Media Thayer Martin
Media ini selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung vankomisin
untuk menekan pertumbuhan kuman positif-gram, kolestimetat untuk
menekan pertumbuhan bakteri negative-gram, dan nistatin untuk menekan

pertumbuhan jamur.
Modified Thayer Martin Agar
Isinya ditambah dengan trimetropin untuk mencegah pertumbuhan kuman
proteus spp.

C. Tes definitif
Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin
hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria
member reaksi positif dengan perubahan watrna koloni yang semula bening
berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung.

Tes fermentasi
Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glikosa,
maltose, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa.

D. Tes beta-laktamase
Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM disc. BBL 961192
yang mengandung chromogenic cephalosporin, akan menyebabkan perubahan warna dari
kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta-laktamase
E. Tes Thomson

15

Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah
berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu
ialah pengobatn setempat. Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan :
-

Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi


Urin dibagi dalm dua gelas
Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II
Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling
sedikit 80- 100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar dinilai
karena baru menguras uretra anterior.

Hasil pembacaan :
Gelas I

Gelas II

Arti

Jernih
Keruh
Keruh
Jernih

Jernih
Jernih
Keruh
Keruh

Tidak ada infeksi


Infeksi uretritis anterior
Panuretritis
Tidak mungkin

Tabel. Rekomendasi Pemeriksaan Laboratorium


Jenis

Sensitivitas

Spesifisitas

90- 95
45-65

95-99
90-99

+
+

+
+

+
+

94-98
85-95

> 99
> 99

+/+/-

+
+

+
+

pemeriksaan
Gram :
Uretra
Endoserviks
Kultur :
Uretra
Endoserviks

A : Klinik luar rumah sakit /praktek pribadi


B : Klinik rumah sakit dengan fasilitas laboratorium terbatas
C : Riset laboratorium lengkap

PENATALAKSANAAN

Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga dan sesedikit mungkin
efek toksiknya. Ternyata pilihan utama ialah penisilin + probenesid, kecuali di daerah yang tinggi
insidens Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase (N.G.P.P). Secara epidemiologis
16

pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal. Macam-macam obat yang dapat
dipakai antara lain :

Penisilin
Penisilin G prokain akua adalah obat yang paling efektif . Dosisnya 4,8 juta unit + 1 gram
probenesid. Angka kesembuhan pada tahun 1991 ialah 91,2 %. Di RSCM 3 juta unit + 1 gram
probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.

Ampisilin dan amoksisilin


Ampisilin dosisnya adalah 3,5 gram + 1 gram probenesid, dan amoksisilin 3 gram + 1
gram probenesid. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1987 hanya 61,4 %, sehingga tidak
dianjurkan penggunaan suntikan ampisilin. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin. Untuk
daerah dengan Nesseria gonprrhoeae penghasil Penisilinase (N.G.P.P) yang tinggi, penisilin,
ampisilin, dan amoksisilin tidak dianjurkan.

Sefalosporin
Seftriakson (generasi ke-3) cukup efektif dengan dosis 250 mg i.m. sefoperazon dengan
dosis 0.50 sampai 1.00 g secara im. Sefiksim 400 mg per oral dosis tunggal memberi angka
kesembuhan > 95 %.

Kanamisin
Dosisnya 2 gram im. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1985 adalh 85%. Baik
untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan pengobatan penisilin dan tersangka sifilis.

17

Spekinomisin
Dosisnya ialah 2 gram im. Baik untuk alergi penisilin, yang mengalami kegagalan
pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang juga tersangka menderita sifilis karena
obat ini tidak menutupi gejala sifilis.

Tiamfenikol
Dosisnya adalah 3,5 gram, secara oral. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1988
ialah 97,7 %. Tidak dianjurkan pemakiannya pada kehamilan.

Kuinolon
Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg,
siprofloksasin 250-500 mg dan norfloksasin 800 mg secara oral. Angka kesembuhan di RSCM
pada tahun 1992 untuk ofloksasin masih tinggi, yakin 100%. Mengingat pada beberapa tahun
terakhir ini resistensi terhadap siprofloksasin dan ofloksasin semakin tinggi, maka golongan
kuinolon yang dianjurkan adalah levoofloksasin 250 mg per oral dosis tunggal. Obat dengan
dosis tunggal yang tidak efektif lagi ialah tetrasiklin, streptomisin, dan spiramisin.
Rekomendasi World Health Organizarion (WHO) dalam pengobatan Gonore.
WHO 2001, standar pengobatan Gonore
1. First-line drug
Sefalosporin generasi ke-3 yang di rekomendasikan ialah cefixime (oral, 400 mg dosis
tunggal) atau seftriakson (i.m , 125 mg dosis tunggal). Golongan quinolon yang
direkomendasikan : siprofloksasin (oral,500 mg dosis tunggal). Spektinomisin (i.m. 2 g
dosis tunggal) merupakan antibiotic yang paling lama digunakan untuk pengobatan
gonore.
2. Second-and third-line agents
Penisilin sering di berikan dosis tunggal yaitu amoksisilin (oral, 3g) atau ampisilin (oral,3
g) apisilin diberikan bersamaan dengan probenesid (oral, 1 g ),dimana ekskresi ginjal
18

terganggu. Cotrimoxazole merupakan kombinasi sulfamethoxazole dengan trimetoprim


(400mg/80mg), oral 3 hari. Thiamphenicol di berikan 2,5 g oral, selama 2 hari.
kanamycin diberikan i.m (2 g, dosis tunggal) . Gentamisin diberikan i.m 240 mg, i.m.
Tetrasiklin tidak direkomendasikan untuk pengobatan gonore, karena multi-dose terapi
dan kontraindikasi pada kehamilan dan neonates. Makrolide baru seperti azithromimycin
(oral,1g, dosis tunggal) tidak direkomendasikan untuk gonore, tetapi dapat digunakan di
beberapa tempat meskipun harganya mahal. (Karl,2006)
Obat pilihan :
Sefiksim 400 mg oral dosis tunggal
Ofloksasin* 400 mg peroral dosis tunggal
Siprofloksasin* 500 mg peroral dosis tunggal
Seftriakson 250 injeksi IM dosis tunggal
Obat alternative :
Golongan Penisilin: kecuali untuk di daerah dengan angka NGPP tinggi
PP in akua 4,8 juta unit injeksi IM dosis tunggal + probenesid 1 gram
Ampisilin 3,5 gram / amoksisilin 3 gram peroral dosis tunggal + probenesid 1 gram
Tiamfenikol* 3,5 gram peroral dosis tunggal
Kanamisin 2 gram injeksi IM dosis tunggal
* Tidak boleh untuk wanita hamil/menyusui atau anak < 12 tahun.

Gonore Yang Disebabkan Oleh Neisseria gonorrhoeae Penghasil Penisilinase (N.G.P.P.)


Pada permulaan tahun 1976 N.G.P.P. ditemukan pertama kali di Timur jauh, dan segera
setelah waktu itu atau hampir bersamaan waktunya ditemukan di Amerika Serikat satu galur
Neisseria gonorrhoeae yang mampu membuat enzim beta-laktamase yang dapat merusak
penisilin menjadi senyawa inaktif. Galur demikian dikenal sebagai P.P.N.G. atau Penicillinase
Producing Neisseria gonorrhoeae.

19

Gonore dengan jalur Neisseria gonorrhoeae Penghasil Penisilinase (N.G.P.P.) ini sukar
diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan peninggian dosis. Disamping itu harus
dibedakan dengan gonokok yang resisten ringan terhadap antibiotik yang disebabkan karena
mutasi pada lokus. Resistensi ringan dapat diobati dengan penisilin dengan cara peninggian dosis
dan disebut resisten relatif.
Pengobatannya dengan menggunakan obat-obat yang dapat digunakan untuk pengobatan
gonore akibat galur N.G.P.P. ialah kuinolon, spektinomisin, sefalosporin, dan tiamfenikol.

Penatalaksanaan Uretritis Gonore Pada Saat Ini.

Table 1. Tidak ada Fasilitas Laboratorium


Duh Tubuh Uretra

Terapi standar GO

Alergi Penisilin

Terapi Alternatif
20

Duh Tubuh(-)
Sembuh
DuhSembuh
Tubuh (-)

Duh
Terapi
Tubuh(+)
NGU

7 hari

Duh Tubuh (+)

Rujuk

Tabel 2. Ada fasilitas Laboratorium


Duh Tubuh Uretra
Diplokukus intrasel
(+)
Terapi Standar
GO

Diplokokus
intrasel (-)
Alergi Penisilin

Leuko <
5

Terapi Alternatif

Terapi (-)

Leuko
>5

7 hari
Terapi NGU

21
Diplokokus (-)
Leuko , 5

Diplokokus(
-)

Terapi
Diplokokus
Alternatif
Leuko <5
Terapi NGU Leuko >5Leuko
Terapi (-)
<5

Rujuk
Leuko

7 hari

7 hari

Tabel 3. CDC (daerah dengan insidens NGPP tinggi)

Uretritis GO

Seftriakson 250 mg i.m atau


Spektinomisin 2 gr i.m atau
Siprofloksasin 500 mg. oral
+
Doksisilin 2x100 mg, selama 7 hari atau
Tetrasiklin 4x500 mg, selama 7 hari atau
Eritromisin 4x 500, selama 7 hari

Alternatif lain untuk GO


Sefluksasim 1 gr. Oral
22

+ 1 gr probenesid
Sefotaksim 1 gr i.m
+ Dosisiklin/tetrasiklin/eritromisin (seperti diatas)
(untuk daerah dengan insidens galur NGPP rendah)

Penisiline procain in aqua 4,8 juta unit, atau


Ampisilin3,5 gr, atau
Amoksisilin 3 gr

+ 1 gr probenesid

+
Doksisiklin 2x 100 mg, selama 7 hari, atau
Tetrasiklin 4x 500 mg, selama 7 hari, atau
Eritromisin 4x 500 mg, selama 7 hari

KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah:
1. Uretra yang berparut atau berbintik pada pria kemungkinan mengarah ke menurunnya
fertilitas atau obstruksi kandung kemih
2. Parutan atau bintik-bintik pada traktus reproduksi atas pada wanita dengan PID (penyakit
radang panggul) kemungkinan mengarah ke infertilitas, nyeri pelvis kronik dan
kehamilan ektopik
3. Adanya kemungkinan lahir prematur, infeksi neonatal dan keguguran akibat infeksi
gonokokkus pada wanita hamil
4. Adanya parutan pada kornea dan kebutaan permanen akibat infeksi gonokokkus pada
5.
6.
7.
8.
9.

mata
Adanya sepsis pada bayi baru lahir karena gonore pada ibu
Adanya kelainan neurologik lanjut akibat gonokokkal meningitis
Destruksi permukaan sendi artikular
Destruksi katup jantung
Kematian karena CHF atau meningitis

23

PROGNOSIS
Prognosis pada penderita dengan gonore tergantung cepatnya penyakit dideteksi dan
diterapi. Penderita dapat sembuh sempurna bila dilakukan pengobatan secara dini dan lengkap.
Tetapi jika pengobatan terlambat diberikan, maka kemungkinan besar dapat menyebabkan
komplikasi lebih lanjut.

PENCEGAHAN
Untuk mencegah penularan gonore, gunakan kondom dalam melakukan hubungan
seksual. Jika menderita gonore, hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai.
Walaupun sudah pernah terkena gonore, seseorang dapat terkena kembali, karena tidak akan
terbentuk imunitas untuk gonore. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa untuk
mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan. Selain itu, juga menyarankan para wanita
tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat
segera diobati dengan benar.

HERPES SIMPLEKS
PENDAHULUAN
Herpes simpleks merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks
(virus herpes hominis) tipe I atau II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas
kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat
berlangsung baik primer maupun rekurens.
Herpes genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas berupa vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren. Herpes genitalis terjadi pada alat genital dan
sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).
Ada dua macam tipe HSV yaitu : HSV-1 dan HSV-2 dan keduanya dapat menyebabkan
herpes genital. Infeksi HSV-2 sering ditularkan melalui hubungan seks dan dapat menyebabkan

24

rekurensi dan ulserasi genital yang nyeri. Tipe 1 biasanya mengenai mulut dan tipe 2 mengenai
daerah genital.
HSV dapat menimbulkan serangkaian penyakit, mulai dari ginggivostomatitis sampai
keratokonjungtivitis, ensefalitis, penyakit kelamin dan infeksi pada neonatus. Komplikasi
tersebut menjadi bahan pemikiran dan perhatian dari beberapa ahli, seperti : ahli penyakit kulit
dan kelamin, ahli kandungan, ahli mikrobiologi dan lain sebagainya. Infeksi primer oleh HSV
lebih berat dan mempunyai riwayat yang berbeda dengan infeksi rekuren.
Setelah terjadinya infeksi primer virus mengalami masa laten atau stadium dorman, dan
infeksi rekuren disebabkan oleh reaktivasi virus dorman ini yang kemudian menimbulkan
kelainan pada kulit. Infeksi herpes simpleks fasial-oral rekuren atau herpes labialis dikenali
sebagai fever blister atau cold sore dan ditemukan pada 25-40% dari penderita Amerika yang
telah terinfeksi.
Herpes simpleks fasial-oral biasanya sembuh sendiri. Tetapi pada penderita dengan
imunitas yang rendah, dapat ditemukan lesi berat dan luas berupa ulkus yang nyeri pada mulut
dan esofagus.
Virus herpes merupakan sekelompok virus yang termasuk dalam famili herpesviridae
yang mempunyai morfologi yang identik dan mempunyai kemampuan untuk berada dalam
keadaan laten dalam sel hospes setelah infeksi primer. Virus yang berada dalam keadaan laten
dapat bertahan untuk periode yang lama bahkan seumur hidup penderita. Virus tersebut tetap
mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaktivasi kembali sehingga dapat terjadi infeksi
yang rekuren.
Prevalensi yang dilaporkan dari herpes genitalis bergantung pada karakteristik
demografis, sosial ekonomi dan klinis dari populasi pasien yang pernah diteliti dan teknik
pemeriksaan laboratorium dan klinik digunakan untuk mendiagnosa.
Studi seroepidemiologi menunjukkan disparitas yang lebar antara prevalensi antibodi
dan infeksi klinis, ini mengindikasikan bahwa banyak orang mendapat infeksi subklinik.
EPIDEMIOLOGI HERPES GENITALIS
Prevalensi anti bodi dari HSV-1 pada sebuah populasi bergantung pada faktor-faktor
seperti negara, kelas sosial ekonomi dan usia. HSV-1 umumnya ditemukan pada daerah oral pada
masa kanak-kanak, terlebih lagi pada kondisi sosial ekonomi terbelakang.
25

Kebiasaan, orientasi seksual dan gender mempengaruhi HSV-2. HSV-2 prevalensinya


lebih rendah dibanding HSV-1 dan lebih sering ditemukan pada usia dewasa yang terjadi karena
kontak seksual. Prevalensi HSV-2 pada usia dewasa meningkat dan secara signifikan lebih tinggi
Amerika Serikat dari pada Eropa dan kelompok etnik kulit hitam dibanding kulit putih.
Seroprevalensi HSV-2 adalah 5 % pada populasi wanita secara umum di inggris, tetapi mencapai
80% pada wanita Afro-Amerika yang berusia antara 60-69 tahun di USA.
Herpes genital mengalami peningkatan antara awal tahun 1960-an dan 1990-an. Di
inggris laporan pasien dengan herpes genital pada klinik PMS meningkat enam kali lipat antara
tahun 1972-1994. Kunjungan awal pada dokter yang dilakukan oleh pasien di Amerika Serikat
untuk episode pertama dari herpes genital meningkat sepuluh kali lipat mulai dari 16.986 pasien
di tahun 1970 menjadi 160.000 di tahun 1995 per 100.000 pasien yang berkunjung.
Disamping itu lebih banyaknya golongan wanita dibandingkan pria disebabkan oleh
anatomi alat genital (permukaan mukosa lebih luas pada wanita), seringnya rekurensi pada pria
dan lebih ringannya gejala pada pria. Walaupun demikian, dari jumlah tersebut di atas hanya 9%
yang menyadari akan penyakitnya.
Studi pada tahun 1960 menunjukkan bahwa HSV-1 lebih sering berhubungan dengan
kelainan oral dan HSV-2 berhubungan dengan kelainan genital. Atau dikatakan HSV-1
menyebabkan kelainan di atas pinggang dan VHS-2 menyebabkan kelainan di bawah pinggang.
Tetapi didapatkan juga jumlah signifikan genital herpes 30-40% disebabkan HSV-1.
HSV-2 juga kadang-kadang menyebabkan kelainan oral, diduga karena meningkatnya kasus
hubungan seks oral. Jarang didapatkan kelainan oral karena VHS-2 tanpa infeksi genital. Di
Indonesia, sampai saat ini belum ada angka yang pasti, akan tetapi dari 13 RS
pendidikan Herpes genitalis merupakan PMS (Penyakit Menular Seksual) dengan gejala ulkus
genital yang paling sering dijumpai.
ETIOLOGI HERPES GENITALIS
Herpes genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang
merupakan anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :
1.

Herpes simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar
wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.

26

2.

Herpes simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya
(bokong, daerah anal dan paha).
Herpes simplex virus tergolong dalam famili herpes virus, selain HSV yang juga
termasuk dalam golongan ini adalah Epstein Barr (mono) dan varisela zoster yang
menyebabkan herpes zoster dan varicella. Sebagian besar kasus herpes genitalis disebabkan oleh
HSV-2, namun tidak menutup kemungkinan HSV-1 menyebabkan kelainan yang sama.
Pada umumnya disebabkan oleh HSV-2 yang penularannya secara utama melalui vaginal
atau anal seks. Beberapa tahun ini, HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes genital.
HSV-1 genital menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada mulut atau bibir, tetapi
beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau anal seks.

PATOGENESIS HERPES GENITALIS


HSV-1 dan HSV-2 adalah termasuk dalam famili herphesviridae, sebuah grup virus DNA
rantai ganda lipid-enveloped yang berperanan secara luas pada infeksi manusia. Kedua serotipe
HSV dan virus varicella zoster mempunyai hubungan dekat sebagai subfamili virus alphaherpesviridae.
Alfa herpes virus menginfeksi tipe sel multiple, bertumbuh cepat dan secara efisien
menghancurkan sel host dan infeksi pada sel host. Infeksi pada natural host ditandai oleh lesi
epidermis, seringkali melibatkan permukaan mukosa dengan penyebaran virus pada sistem saraf
dan menetap sebagai infeksi laten pada neuron, dimana dapat aktif kembali secara periodik.
Transmisi infeksi HSV seringkali berlangsung lewat kontak erat dengan pasien yang dapat
menularkan virus lewat permukaan mukosa.
27

Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet
pernapasan, atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. HSV-2 biasanya
ditularkan secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes, terjadi penggabungan
dengan DNA hospes dan mengadakan multiplikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit.
Waktu itu pada hospes itu sendiri belum ada antibodi spesifik. Keadaan ini dapat
mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya
virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan berdiam di sana serta
bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten di ganglia trigeminal,
sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglion sakral.
Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami
reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekuren. Pada saat ini dalam tubuh
hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya tidak
seberat pada waktu infeksi primer.
Faktor pencetus tersebut antara lain adalah trauma atau koitus, demam, stres fisik atau
emosi, sinar UV, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus
tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksul
baik genito genital, ano genital maupun oro genital.
Infeksi oleh HSV dapat bersifat laten tanpa gejala klinis dan kelompok ini bertanggung
jawab terhadap penyebaran penyakit. Infeksi dengan HSV dimulai dari kontak virus dengan
mukosa (orofaring, serviks, konjungtiva) atau kulit yang abrasi. Replikasi virus dalam sel
epidermis daan dermis menyebabkan destruksi seluler dan keradangan.
GEJALA KLINIK HERPES GENITALIS
Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari
infeksi awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul
antara 3 hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik berlangsung perlahan
dalam tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode
yang juga merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1 dan
HSV-2 agak susah dibedakan.

28

Tanda utama dari genital herpes adalah luka di sekitar vagina, penis, atau di daerah anus.
Kadang-kadang luka dari herpes genital muncul di skrotum, bokong atau paha. Luka dapat
muncul sekitar 4-7 hari setelah infeksi.
Gejala dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang
terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu. Adapun gejalanya sebagai berikut:

Nyeri dan disuria

Uretral dan vaginal discharge

Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)

Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal

Nyeri pada rektum, tenesmus

Tanda (sign) :

Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta tergantung pada tingkat
infeksi.

Limfadenopati inguinal

Faringitis

Cervisitis

Masa inkubasi berkisar sekitar 3-7 hari. Berdasarkan pernah tidaknya seseorang kontak
dengan Virus Herpes Simplex (HSV-2), infeksi Herpes genitalis berlangsung dalam 2 fase, yakni:
1. Fase Infeksi (lesi) Primer, ditandai dengan:

Dapat terjadi tanpa gejala (asimptomatis)


29

Diawali dengan rasa panas, rasa terbakar dan gatal pada area yang terserang.

Kemudian timbul vesikula (bintik-bintik) bergerombol, mudah pecah sehingga


menimbulkan perlukaan (mirip koreng) di permukaan kulit yang kemerahan (eritematus),
dan nyeri.

Selanjutnya dapat diikuti dengan demam, lemas sekujur tubuh (malaise) dan nyeri otot.

Terjadi pembesaran kelenjar getah bening di sekitar area yang terserang Herpes genitalis.
Infeksi primer biasanya terjadi seminggu setelah hubungan seksual (termasuk hubungan

oral atau anal). Tetapi lebih banyak terjadi setelah interval yang lama dan biasanya setengah dari
kasus tidak menampakkan gejala.
Erupsi dapat didahului dengan gejala prodormal, yang menyebabkan salah diagnosis
sebagai influenza. Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan berkembang menjadi vesikel
dan cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang tidak nyeri, lebih sering pada glans penis,
preputium, dan frenulum, korpus penis lebih jarang terlihat.
2 Fase Infeksi (lesi) Rekuren (kambuh).
Seseorang yang pernah infeksi primer, dapat mengalami kekambuhan. Adapun
kekambuhan terjadi karena berbagai faktor dan dapat dipicu oleh beberapa faktor pencetus,
misalnya kelelahan fisik maupun psikis, alkohol, menstruasi dan perlukaan setelah hubungan
intim.

Pada infeksi kambuhan (rekuren), gejala dan keluhan pada umumnya lebih ringan.
Gambaran penyakit bersifat lokal pada salah satu sisi bagian tubuh (unilateral), berbentuk
vesikuloulseratif (bercak koreng) yang biasanya dapat hilang dalam 5 hingga 7 hari.

Sebelum muncul bercak berkoreng, didahului dengan rasa panas, gatal dan nyeri.
Walaupun

keluhan

dan

gejala

bersifat

ringan,

seyogyanya

penderita

tidak

mengabaikannya. Berobat ke dokter merupakan langkah bijak agar terhindar dari kemungkinan
terjadinya infeksi sekunder dengan pelbagai dampak yang tidak kita inginkan.

30

Selain kedua fase di atas, dikenal juga fase laten, yakni fase dimana penderita tidak
mengalami keluhan dan gejala klinis, namun pada pemeriksaan laboratorium ditemukan HSV di
ganglion dorsalis (simpul saraf di bagian belakang tubuh).
Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu waktu bila ada faktor
pencetus, virus akan menjalani reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah lagi
rekuren, pada saat itu di dalam hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul
dan gejala tidak seberat infeksi primer.
Faktor pencetus antara lain: trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan
pencernaan, kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, dan beberapa kasus sukar diketahui
penyebabnya. Pada sebagian besar orang, virus dapat menjadi aktif dan menyebabkan outbreaks
beberapa kali dalam setahun. HSV berdiam dalam sel saraf di tubuh kita, ketika virus terpicu
untuk aktif, maka akan bergerak dari saraf ke kulit kita. Lalu memperbanyak diri dan dapat
timbul luka di tempat terjadinya outbreaks.
Mengenai gambaran klinis dari herpes progenitalis : gejaia klinis herpes progenital
dapat ringan sampai berat tergantung dari stadium penyakit dan imunitas dari pejamu. Stadium
penyakit meliputi :
Infeksi primer - stadium laten - replikasi virus - stadium rekuren

Manifestasi klinik dari infeksi HSV tergantung pada tempat infeksi, dan status imunitas
host. Infeksi primer dengan HSV berkembang pada orang yang belum punya kekebalan
sebelumnya terhadap HSV-1 atau HSV -2, yang biasanya menjadi lebih berat, dengan gejala dan
tanda sistemik dan sering menyebabkan komplikasi.
Berbagai macam manifestasi klinis:
1. infeksi oro-fasial
2. infeksi genital
3. infeksi kulit lainnya
4. infeksi okular
5. kelainan neurologist
6. penurunan imunitas
31

7. herpes neonatal
PEMERIKSAAN LABORATORIUM HERPES GENITALIS
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah Tes Tzank diwarnai dengan
pengecatan giemsa atau wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitifitas dan spesifitas
pemeriksaan ini umumnya rendah. Cara pemeriksaan laboratorium yang lain adalah sebagai
berikut.
A. Histopatologis
Vesikel herpes simpleks terletak intraepidermal, epidermis yang terpengaruh dan
inflamasi pada dermis menjadi infiltrat dengan leukosit dan eksudat sereus yang merupakan
kumpulan sel yang terakumulasi di dalam stratum korneum membentuk vesikel.
B. Pemeriksaan serologis ( ELISA dan Tes POCK )
Beberapa pemeriksaan serologis yang digunakan:
1. ELISA mendeteksi adanya antibodi HSV-1 dan HSV-2.
2. Tes POCK untuk HSV-2 yang sekarang mempunyai sensitivitas yang tinggi.
C. Kultur virus
Kultur virus yang diperoleh dari spesimen pada lesi yang dicurigai masih merupakan
prosedur pilihan yang merupakan gold standard pada stadium awal infeksi. Bahan pemeriksaan
diambil dari lesi mukokutaneus pada stadium awal (vesikel atau pustul), hasilnya lebih baik dari
pada bila diambil dari lesi ulkus atau krusta.
Pada herpes genitalis rekuren hasil kultur cepat menjadi negatif, biasanya hari keempat
timbulnya lesi, ini terjadi karena kurangnya pelepasan virus, perubahan imun virus yang cepat,
teknik yang kurang tepat atau keterlambatan memproses sampel. Jika titer dalam spesimen cukup
tinggi, maka hasil positif dapat terlihat dalam waktu 24-48 jam.
DIAGNOSIS HERPES GENITALIS
Secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan
dasar eritem dan bersifat rekuren. Gejala dan tanda dihubungkan dengan HSV-2. diagnosis dapat

32

ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisis jika gejalanya khas dan melalui pengambilan
contoh dari luka (lesi) dan dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Tes darah yang mendeteksi HSV-1 dan HSV-2 dapat menolong meskipun hasilnya tidak
terlalu memuaskan. Virus kadangkala, namun tak selalu, dapat dideteksi lewat tes laboratorium
yaitu kultur. Kultur dikerjakan dengan menggunakan swab untuk memperoleh material yang
akan dipelajari dari luka yang dicurigai sebagai herpes.
Pada stadium dini erupsi vesikel sangat khas, akan tetapi pada stadium yang lanjut tidak
khas lagi, penderita harus dideteksi dengan kemungkinan penyakit lain, termasuk chancroid dan
kandidiasis. Konfirmasi virus dapat dilakukan melalui mikroskop elektron atau kultur
jaringan.
Komplikasi yang timbul pada penyakit herpes genitalis anatara lain neuralgia, retensi
urine, meningitis aseptik dan infeksi anal. Sedangkan komplikasi herpes genitalis pada
kehamilan dapat menyebabkan abortus pada kehamilan trimester pertama, partus prematur dan
pertumbuhan janin terhambat pada trimester kedua kehamilan dan pada neonatus dapat terjadi
lesi kulit, ensefalitis, makrosefali dan keratokonjungtivitis.
Herpes genital primer HSV 2 dan infeksi HSV-1 ditandai oleh kekerapan gejala lokal dan
sistemik prolong. Demam, sakit kepala, malaise, dan mialgia dilaporkan mendekati 40 % dari
kaum pria dan 70% dari wanita dengan penyakit HSV-2 primer. Berbeda dengan infeksi genital
episode pertama, gejala, tanda dan lokasi anatomi infeksi rekuren terlokalisir pada genital.
DIAGNOSA BANDING HERPES GENITALIS

Ulkus durum : ulkus indolen dan teraba indurasi

Ulkus mole : ulkus kotor, merah dan nyeri

Sifilis : ulkus lebih besar, bersih dan ada indurasi

Balanopostitis : biasanya disertai tanda-tanda radang yang jelas

Skabies : rasa gatal lebih berat, kebanyakan pada anak-anak

Limfogranuloma venereum : ulkus sangat nyeri didahului pembengkakan kelenjar


inguinal.

KOMPLIKASI HERPES GENITALIS


33

Infeksi herpes genital biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada
orang dewasa. Pada sejumlah orang dengan sistem imunitasnya tidak bekerja baik, bisa terjadi
outbreaks herpes genital yang bisa saja berlangsung parah dalam waktu yang lama. Orang
dengan sistem imun yang normal bisa terjadi infeksi herpes pada mata yang disebut herpes
okuler. Herpes okuler biasanya disebabkan oleh HSV-1 namun terkadang dapat juga disebabkan
HSV-2. Herpes dapat menyebabkan penyakit mata yang serius termasuk kebutaan.
Wanita hamil yang menderita herpes dapat menginfeksi bayinya. Bayi yang lahir dengan
herpes dapat meninggal atau mengalami gangguan pada otak, kulit atau mata. Bila pada
kehamilan timbul herpes genital, hal ini perlu mendapat perhatian serius karena virus dapat
melalui plasenta sampai ke sirkulasi fetal serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian
pada janin. Infeksi neonatal mempunyai angka mortalitas 60%, separuh dari yang hidup
menderita cacat neurologis atau kelainan pada mata.

PENATALAKSANAAN HERPES GENITALIS


Sampai sekarang belum ada obat yang memuaskan untuk terapi herpes genitalis, namun
pengobatan secara umum perlu diperhatikan, seperti :

menjaga kebersihan lokal

menghindari trauma atau faktor pencetus.


Penggunaan idoxuridine mengobati lesi herpes simpleks secara lokal sebesar 5% sampai 40%

dalam dimethyl sulphoxide sangat bermanfaat. Namun, pengobatan ini memiliki beberapa efek
samping, di antaranya pasien akan mengalami rasa nyeri hebat, maserasi kulit dapat juga terjadi.
Meskipun tidak ada obat herpes genital, penyediaan layanan kesehatan anda akan meresepkan
obat anti viral untuk menangani gejala dan membantu mencegah terjadinya outbreaks. Hal ini
akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk menangani
herpes genital adalah

Asiklovir (Zovirus)

Famsiklovir

Valasiklovir (Valtres)

34

Asiklovir
Pada infeksi HVS genitalis primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5
hari), asiklovir oral 200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf
propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta mempercepat
penyembuhan.
Valasiklovir
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap
berubah menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai
54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah yang
sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir 200 mg 5
kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal.
Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi
HSV-1 dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk
fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu paruh
intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki potensi
pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan cepat menjadi
pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik.
Pada infeksi primer, penatalaksanaannya adalah sebagai berikut:
a) Obat untuk mengurangi keluhan (simptomatis), misalnya: analgesik untuk meredakan nyeri.
b) Antivirus:

Acyclovir, diminum 5 x 200 mg per hari selama 7-10 hari.

Valacyclovir, diminum 2 x 500 mg per hari selama 7-10 hari.

Famcyclovir, diminum 3 x 250 mg per hari selama 7-10 hari.


35

Pada infeksi kambuhan (rekuren):


Infeksi ringan, cukup dengan menggunakan obat untuk meredakan keluhan (simptomatis) dan
obat antivirus topikal (salep, cream), misalnya acyclovir cream, dioleskan 5 kali sehari atau
setiap 4 jam, selama 5-10 hari.
Pada infeksi berat:

Acyclovir, diminum 5 x 200 mg per hari selama 5 hari.


Acyclovir, diminum 3 x 400 mg per hari selama 5 hari.
Acyclovir, diminum 2 x 800 mg per hari selama 5 hari.
Valacyclovir, diminum 2 x 500 mg per hari selama 5 hari.
Famcyclovir, diminum 2 x 125 mg per hari selama 5 hari.
Jika kekambuhan (rekuren) terjadi lebih 8 kali dalam setahun, maka perlu dilakukan

terapi supresif selama 6 bulan, menggunakan:

Acyclovir, diminum 2 x 800 mg per hari selama 5 hari.


Valacyclovir, diminum 2 x 500 mg per hari selama 5 hari

Herpes genitalis adalah kondisi umum terjadi yang dapat membuat penderitanya
tertekan. Pada penelitian in vitro yang dilakukan Plotkin (1972), Amstey dan Metcalf (1975),
serta penelitian in vivo oleh Friedrich dan Matsukawa (1975), povidone iodine terbukti
merupakan agen efektif melawan virus tersebut. Friedrich dan Matsukawa juga mendapatkan
hasil memuaskan secara klinis dari povidone iodine dalam larutan aqua untuk mengobati herpes
genital.
Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit/ CDC (Center For Disease Control and
Prevention), merekomendasikan penanganan supresif bagi herpes genital untuk orang yang
mengalami enam kali atau lebih outbreak per tahun.
Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus dengan cara sectio caesaria bila pada
saat melahirkan diketahui ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum
ketuban pecah atau paling lambat 6 jam setelah ketuban pecah. Pemakaian asiklovir pada ibu
hamil tidak dianjurkan.

36

Sejauh ini pilihan sectio caesaria itu cukup tinggi dan studi yang dilakukan
menggarisbawahi apakah penggunaan antiviral rutin efektif menurunkan herpes genital yang
subklinis, namun hingga studi tersebut selesai, tak ada rekomendasi yang dapat diberikan.
PENCEGAHAN HERPES GENITALIS
Hingga saat ini tidak ada satupun bahan yang efektif mencegah HSV. Kondom dapat
menurunkan transmisi penyakit, tetapi penularan masih dapat terjadi pada daerah yang tidak
tertutup kondom ketika terjadi ekskresi virus. Spermatisida yang berisi surfaktan nonoxynol-9
menyebabkan HSV menjadi inaktif secara invitro. Di samping itu yang terbaik, jangan
melakukan kontak oral genital pada keadaan dimana ada gejala atau ditemukan herpes oral.
Secara ringkas ada 5 langkah utama untuk pencegahan herpes genital yaitu :
1.

Mendidik seseorang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan herpes genitalis dan
PMS lainnya untuk mengurangi transmisi penularan.

2.

Mendeteksi kasus yang tidak diterapi, baik simtomatik atau asimptomatik.

3.

Mendiagnosis, konsul dan mengobati individu yang terinfeksi dan follow up dengan
tepat.

4.

Evaluasi, konsul dan mengobati pasangan seksual dari individu yang terinfeksi.

5.

Skrining disertai diagnosis dini, konseling dan pengobatan sangat berperan dalam
pencegahan.
PROGNOSIS HERPES GENITALIS
Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati
mempunyai prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi
kambuhnya. Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya penyakit-penyakit dengan tumor di
sistem retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama, menyebabkan infeksi
ini dapat menyebar ke alat-alat dalam dan fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan
meningkatnya usia seperti pada orang dewasa. Terapi antivirus efektif menurunkan manifestasi
klinis herpes genitalis.

TRIKOMONIASIS
37

Definisi
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronis
dan merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Parasit ini paling sering menyerang wanita, namun pria dapat terinfeksi dan menularkan ke
pasangannya lewat kontak seksual. Vagina merupakan tempat infeksi paling sering pada wanita,
sedangkan uretra (saluran kemih) merupakan tempat infeksi paling sering pada pria.
Pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun
kronik. Pada kasus akut terlihat sekret vagina keruh kental berwarna kekuning-kuningan, kuning
hijau, berbau tidak enak dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Selain itu
didapatkan rasa gatal dan panas di vagina. Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual mungkin
juga merupakan keluhan utama yang dirasakan penderita dengan trikomoniasis. Pasien dengan
trikomoniasis dapat juga mengalami perdarahan pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah.
Bila sekret banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar bibir vagina.
Pada kasus yang kronis, gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.
Berbeda dengan wanita, pada pria biasanya tidak memberikan gejala. Kalaupun ada,
pada umumnya gejala lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Gejalanya antara lain iritasi di
dalam penis, keluar cairan keruh namun tidak banyak, rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau
setelah ejakulasi.

Klasifikasi
Class: Flagellata
Family: Trichomonadidae
Genus: Trichomonas
Species:
Trichomonas vaginalis
38

Trichomonas hominis (Hidup di kolon)


Trichomonas tenax (hidup di rongga mulut)

Sejarah dan Penyebaran


Spesies parasit ini ditemukan pertama kali oleh Donne 1836 pada sekresi purulen dari
vagina wanita dan sekresi traktus urogenital pria. Pada tahun 1837, protozoa ini dinamakan
Trichomonas vaginalis. Parasit ini bersifat cosmopolitan ditemukan pada saluran reproduksi pria
dan wanita. Penyebab terjadinya keputihan pada wanita. Biasa disebut leukorrhoe atau flour
albus.
Sejumlah faktor telah dikaitkan dengan peningkatan risiko terlular trikomoniasis, antara
lain:
a)
b)
c)
d)
e)

Multiple Sex Partners (pasangan seks lebih dari satu)


Merupakan keturunaan Afrika
Sebelumnya atau sedang terinfeksi PMS lain
Bakterial vaginosis
(derajat keasaman) pH vagina yang tinggi
39

Parasit Trichomonas vaginalis tersebar melalui hubungan seksual yaitu hubungan penis
dengan vagina atau vulva dengan vulva (daerah kelamin luar vagina) jika kontak dengan
pasangan yang terinfeksi. Wanita dapat terkena penyakit ini dari infeksi pria atau wanita, tetapi
pria biasanya hanya mendapatkan dari wanita yang terinfeksi. Suatu salah pengertian yang
umum adalah infeksi ini dapat ditularkan melalui toilet duduk, handuk basah atau kolam air
panas. Hal ini tidak mungkin karena parasit tidak bisa hidup lama di benda dan permukaannya
(Center for Disease Control, 2011).
Sejak ditemukannya trikomoniasis sebagai penyakit menular seksual, mereka yang
kemungkinan besar menyebarkan trikomoniasis adalah orang yang meningkatkan aktivitas
seksual dan memiliki lebih dari pasangan. Trikomoniasis kadang-kadang disebut penyakit pingpong karena pasangan seksual sering menyebarkan kembali. Penelitian telah menunjukkan
bahwa tingkat kesembuhan akan meningkat dan tingkat kambuh turun ketika pengobatan
dilakukan pada pasangan seksual dalam waktu yang sama (Center for Disease Control, 2011).
Organisme T. vaginalis ada di dalam epitel skuamosa dan sangat sedikit yang berasal
dari endoserviks, sedangkan T. vaginalis yang terdapat di dalam uretra ditemukan 90% dari kasus
Trikomoniasis. Dan sangat sedikit pula ditemukan pada epididimis dan prostat pada pria. Infeksi
T. vaginalis disertai oleh sejumlah besar polymorphonuclear neutrofil (PMNs) yaitu mekanisme
pertahanan diri tubuh yang bersama-sama dengan makrofag, membunuh organisme tersebut yang
disertai atau ditunjukkan dengan keluarnya cairan dari vagina. Organisme T. vaginalis tidak
invasif, ada yang hidup bebas di dalam rongga vagina atau di dalam epitelnya. Sekitar 50% kasus
trikomoniasis terjadi perdarahan mikroskopis (menggunakan teknik yang sesuai). IgA lokal
biasanya terdeteksi, tetapi konsentrasi serum antibodi tersebut masih rendah (Cook, 2009).

Morfologi

Berbentuk flagelata filiformis, tidak berwarna.


Tidak mempunyai bentuk kista. Bentuk trofozoid berukuran 7 25 mikron

40

Mempunyai 4 flagel anterior dan 1 flagel posterior yg melekat pada tepi membrane yang
bergelombang.
Parasit hidup di mukosa vagina dengan makan bakteri, sel-sel vagina dan leukosit.
Habitat
Wanita : vagina, uretra
Pria : uretra, epididimis, prostat
Diluar habitatnya parasit mati pada suhu 500C, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 00C.
Sitoplasmanya bergranula dimana granula tersebut pada umumnya terletak di sekitar custa dan
axostyle
Sitostoma tidak ada
Berkembang biak dengan longitudinal binary fission.
T. vaginalis bergerak dengan cepat berputar putar di antara sel epitel dan leukosit dengan
menggerakkan flagel anterior dan membrane gelombang.
Trichomonas Vaginalis hanya dapat hidup pada pH > 5,5 7,5. Pada biakan parasit mati pada
pH < 4,9. Ini sebabnya parasit tidak dapat hidup di secret vagina yang asam (pH 3,8 4,4).
Infeksi terjadi secara langsung waktu bersetubuh melalui bentuk Trofozoid.

Faktor Predisposisi
a. pH lingkungan 4,9-7,5, seperti pada kondisi:
haid
hamil
41

Pencucian vagina
Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan
vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri patogen.
b. Aktivitas seksual tinggi dan bergonta ganti pasangan.
c. Wanita lebih banyak dari pria. Wanita setelah menopause
d. Sanitasi buruk

Tanda dan Gejala


1. Pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina.
2. Pada kasus akut terlihat :
a. Disini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai
hijau, seringkali lebih kental, berbusa, dan berbau. Trichomonas vaginalis menghasilkan produk
metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel
vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial.
b. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab (Strawberry Appearance)
c. Perdarahan kecil kecil pada permukaan serviks.
d. Didapatkan rasa gatal dan panas di vagina.
e. Dysuria
f. Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual (dispareunia) mungkin juga merupakan keluhan
utama yang dirasakan penderita dengan trikomoniasis.
g. Dapat juga mengalami perdarahan pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah.
42

h. Bila sekret banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar bibir vagina.
3. Pada kasus yang kronis, gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.
4. Pada pria biasanya tidak memberikan gejala. Kalaupun ada, pada umumnya gejala lebih ringan
dibandingkan dengan wanita. Gejalanya antara lain :
a. Menyerang uretra, prostat, preputium, vesikula seminalis, epididimitis
b. Iritasi di dalam penis
c. Keluar cairan keruh namun tidak banyak
d. Rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau setelah ejakulasi.
e. Pada urine dijumpai benang-benang halus
f. Sakit dan pembengkakan dalam skrotum
5. Gejala Klinis Pada Wanita

Sekret vagina seropurulen, kuning kuning hijau merah, bau tidak enak, berbusa
Dinding vagina merah, sembab, ada jaringan granulasi (strawberry apperance)
Dispareunia, perdarahan pascacoital, perdarahan intermenstrual.
Iritasi lipat paha dan sekitar genital
Uretritis, bartholinitis, skenitis, sistisis

Fisiologi
Vagina memiliki mekanisme perlindungan terhadap infeksi. Kelenjar pada vagina dan
serviks /leher rahim menghasilkan sekret yang berfungsi sebagai sistem perlindungan alami dan
sebagai lubrikan mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan & saat berhubungan seksual.
Jumlah sekret yang dihasilkan tergantung dari masing-masing wanita. Dalam keadaan normal,
kadang jumlah sekret dapat meningkat seperti saat menjelang ovulasi, stres emosional dan saat
terangsang secara seksual. Selain itu, terdapat flora normal basil doderlein yang berfungsi dalam
43

keseimbangan ekosistem pada vagina sekaligus membuat lingkungan bersifat asam (pH 3.8-4.5)
sehingga memiliki daya proteksi yang kuat terhadap infeksi.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara
Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil
metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap
bakteri pathogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus
(Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5
dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.
Patogenesis
Dasar Kelainan: Infiltrasi sejumlah besar trofozoit trichomonas vaginalis sehingga dapat
merusak epitel vagina secara kontak langsung dan oleh daya toksisitasnya.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone
menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan
dan virulensi dari Trichomonas vaginalis. T. vaginalis menginfeksi sel epitel vagina sehingga
terjadi proses kematian sel pejamu (host-cell death). Komponen yang berperan dalam proses
kematian sel tersebut adalah mikrofilamen dari T. vaginalis. Selama proses invasi,
T.vaginalis tidak hanya merusak sel epitel namun eritrosit. Eritrosit mengandung kolesterol
esensial dan asam lemak yang diperlukan bagi pembentukan membran trichomonad. Baik sel
epitel maupun eritrosit juga merupakan sumber zat besi.
Proses pengikatan dan pengenalan trichomonad dengan sel epitel pejamu melibatkan
minimal 4 protein permukaan spesifik T.vaginalis, yang dikenal dengan sistein proteinase.
Setelah proses pengikatan, akan timbul reaksi kaskade yang mengakibatkan sitotoksisitas
dan hemolisis pada sel. Lalu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan
cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan sub epitel . Masa tunas rata- rata 4 hari 3
minggu . Pada kasus yang lanjut terdapat bagian bagian dengan jaringan granulasi yang jelas.
Nekrosis dapat ditemukan di lapisan sub epitel yang menjalar sampai ke permukaan epitel.
Didalam vagina dan uretra parasit hidup di sisa-sisa sel ,kuman-kuman,dan benda- benda lain
yang terdapat dalam sekret.
44

Diagnosis Banding
Ada beberapa penyakit yang menggambarkan keadaan klinik yang mirip dengan trikomoniasis,
antara lain :
1. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis. Biasanya penyakit ini tidak bergejala tapi pada beberapa keadaan trikomoniasis akan
menunjukkan gejala. Terdapat duh tubuh vagina berwarna kuning kehijauan, berbusa dan berbau.
Eritem dan edem pada vulva, juga vagina dan serviks pada beberapa perempuan. Serta pruritos,
disuria, dan dispareunia. Pemeriksaan apusan vagina Trikomoniasis sering sangat menyerupai
penampakan pemeriksaan apusan bakterial vaginosis. Tapi Mobilincus dan clue cell tidak pernah
ditemukan

pada

Trikomoniasis.

Pemeriksaan

mikroskopoik

tampak

peningkatan

sel

polimorfonuklear dan dengan pemeriksaan preparat basah ditemukan protozoa untuk diagnosis.
Whiff test dapat positif pada trikomoniasis dan pH vagina 5 pada trikomoniasis.

Klinis : Terdapat flour albus yang banyak dengan warna putih kehijauan-hijauan, berbau lumut
serta berbuih, gatal pada vagina kadang-kadang sampai ke paha, dinding vagina terdapat banyak
ulkus, edematous, dan eritem
2. Kandidiasis
Kandidiasis merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans atau kadang
Candida yang lain. Gejala yang awalnya muncul pada kandidiasis adalah pruritus akut dan
keputihan. Keputihan seringkali tidak ada dan hanya sedikit. Kadang dijumpai gambaran khas
berupa vaginal thrush yaitu bercak putih yang terdiri dari gumpalan jamur, jaringan nekrosis
epitel yang menempel pada vagina. Dapat juga disertai rasa sakit pada vagina iritasi, rasa panas
dan sakit saat berkemih. Pada pemeriksaan mikroskopik, sekret vagina ditambah KOH 10%
berguna untuk mendeteksi hifa dan spora Candida. Keluhan yang paling sering pada kandidiasis
adalah gatal dan iritasi vagina. Sekret vagina biasanya putih dan tebal, tanpa bau dan pH normal.
45

Klinis : discharge banyak, berwarna putih, kental seperti susu pecah, kadang berbau ,kadang
tidak berbau, pada vulva dan vagina terdapat tanda-tanda radang disertai maserasi,
pseudomembran, fisura, lesi satelit papulopustular. Labia mayor tampak bengkak, merah dan
ditutupi oleh lapisan putih yang menunjukkan maserasi.
3. Bakterial Vaginosis
Kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang sering disebut sebagai kriteria Amsel
(1983) yang berpendapat bahwa terdapat tiga dari empat gejala, yaitu :
a. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina dan abnormal
b. pH vagina > 4,5 (dites dengan nitrazine paper).
c. Tes amin yang positif, yangmana sekret vagina yang berbau amis sebelum atau setelah
penambahan KOH 10% (Whiff test).
d. Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh epitel). Clue cells merupakan
sel epitel vagina granular yang diliputi oleh kokobasil sehingga batas sel tidak jelas.
e. Ditemukannya G. vaginalis sebagai flora vagina utama menggantikan laktobasilus

Klinis : Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina, sekret
berbau amis, tidak ditemukan adanya peradangan pada vagina dan vulva.
Diagnosis
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan Fisik
c. Pemeriksaan Spekulum
Pemeriksaan spekulum untuk menginspeksi vagina dan serviks secara langsung. Ada
beberapa macam, speculum metal cusco, atau bivalve adalah yang paling popular. Speculum ini

46

terdiri dari dua daun yang dimasukkan dalam keadaan tertutup, dan kemudian dibuka dengan
menekan pegangannya. 2 macam speculum dua daun yaitu :
1. Graves (speculum cocor bebek), speculum yang lebih umum digunakan. Daun daunnya lebih
lebar dan melengkung pada sisinya.
2. Pedersen, mempunyai daun yang lebih sempit dan rata, dipakai untuk wanita dengan introitus
kecil.
Teknik Penggunaan :
1. pasien dibaringkan dalam posisi litotomi
2. cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir
3. keringkan tangan dengan handuk bersih
4. gunakan sarung tangan dengan benar
5. bersihkan vulva dan perineum dengan kasa kering
6. ambil spekulum cocor bebek (sesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan) dengan tangan
kanan dan masukkan ke dalam introitus vagina dengan posisi lebar spekulum pada sumbu
vertikal (anteroposterior)
7. Pemeriksa menggunakan jari telunjuk dan tengah kiri untuk memisahkan labia dan menekan
perineum, speculum yang masih tertutup, dengan dipegang oleh tangan kanan pemeriksa
dimasukkan secara miring dengan perlahan-lahan kr dalam introitus diatas jari-jari tangan kiri.
Speculum tidak boleh di masukkan secara vertical, karena dapat timbul sedera pada
uretra/meatus.
8. Spekulum dimasukkan sejauh mungkin kedalam vagina,kalau sudah masuk dengan lengkap,
speculum diputar ke posisi transversal, dengan peganganya sekarang mengarah ke bawah, dan
dibuka secara perlahan-lahan.

47

9. Dinding vagina dan serviks dapat divisualisasikan adanya :


a. secret, eritema, erosi, ulserasi, leukoplakia, atau massa.
b. Apa bentuk orifisium externum servisis?
c. Apa warna serviks?

Pemeriksaan Penunjang
Trikomoniasis sering kali tidak terdiagnosis. Tes diagnostik yang paling umum
digunakan adalah yang terbaik 60-70% sensitif menurut Center for Disease Control. Baik wanita
dan pria, penyedia pelayanan kesehatan harus melakukan pemeriksaan fisik dan uji laboratorium
untuk mendiagnosis trikomoniasis, antara lain sebagai berikut:
a. Wet Mount
Wet mount adalah metode yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis
trikomoniasis. Metode ini menujukkan sensitivitas sebesar 60%. Untuk metode ini,
spesimen ditempatkan dalam medium kultur selama 2-7 hari sebelum diperiksa. Jika
trichomonads hadir dalam spesimen asli, mereka akan berkembang biak dan lebih mudah
untuk dideteksi. Hal ini baik sangat sensitif dan sangat spesifik.
b. VPIII Tes Identifikasi Mikroba (BD)
VPIII Tes Identifikasi mikroba (BD) adalah uji yang mengidentifikasi DNA
mikroba yang ada pada kompleks penyakit vaginitis. Identifikasi spesies Candida,
Gardnerella vaginalis, dan Trichomonas vaginalis dapat ditemukan dari sampel vagina
tunggal. Sensitivitas tes untuk mendeteksi T. vaginalis tinggi, dan dapat memberikan
hasil hanya dalam 45 menit.
c. Trichomonas Rapid Test
Trichomonas Rapid Test adalah tes diagnostik yang mendeteksi antigen untuk
trikomoniasis. Dengan memasukkan sampel usap vagina ke dalam tabung reaksi dengan
0,5 ml buffer khusus dengan beberapa perlakuan dan kemudian hasilnya dapat dibaca
dalam waktu 10 menit. Uji ini lebih sensitif dibandingkan uji wet mount.
d. Polymerase Chain Reaction

48

Dalam Polymerase Chain Reaction (PCR), sampel diperlakukan dengan enzim


yang memperkuat daerah tertentu dari DNA T. vaginalis. PCR telah terbukti sebagai
metode diagnostik yang paling akurat dalam studi baru-baru ini. Namun, PCR saat ini
hanya digunakan dalam penelitian, bukan pengaturan klinis.
e. Kalium Hidroksida (KOH) "Test Whiff"
Uji ini adalah teknik dasar yang dapat digunakan sebagai bagian dari diagnosis
klinis. Pengujian dilakukan dengan mencampurkan usapan cairan vagina dengan larutan
kalium hidroksida 10%, kemudian menciumnya. Bau amina (amis) yang kuat bisa
menjadi indikasi trikomoniasis atau vaginosis bakteri.
f. Test pH vagina
Trichomonads tumbuh terbaik di lingkungan asam kurang, dan pH vagina
meningkat mungkin merupakan indikasi trikomoniasis. Sebuah penyedia layanan
kesehatan melakukan tes dengan menyentuhkan kertas pH pada dinding vagina atau
spesimen usap vagina, kemudian membandingkannya dengan skala warna untuk
menentukan pH.
g. Pap Smear
Uji Pap Smear adalah pemeriksaan mikroskopis dari spesimen. Hal ini terutama
digunakan sebagai tes diagnostik untuk screening berbagai kelainan serviks dan infeksi
kelamin. Meskipun kadang-kadang dapat mendeteksi trichomonads, uji diagnosa ini
memiliki tingkat kesalahan tinggi dan tidak cocok untuk screening kecuali digunakan
bersamaan dengan tes yang lebih sensitif.

Gambar. Sekret vagina pada penderita Trikomoniasis

49

PENATALAKSANAAN
Pengobatan dapat topical maupun sistemik :
1. Topikal
a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrokarbon peroksida 1-2% dan larutan asam laktat.
b. Bahan berupa suposituria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.
c. Gel atau krim yang bersifat trikomoniasidal
2. Sistemik
Golongan obat Nitromidazol seperti :
1. Metronidazol : dosis tunggal 2gr atau 3 x 500mg/hari selama 7 hari.
2. Nimorazol : dosis tunggal 2gr
3. Tinidazol : dosis tunggal 2gr
4. Omidazol : dosis tunggal 1.5 gr
c. Anjuran pada waktu pengobatan
1. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah terjadinya infeksi
pingpong.
2. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh.
3. Hindari barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.
Rejimen yang dianjurkan
Metronidazol 2 g dosis tunggal, peroral.

50

a. Pengobatan ini sangat efektif dengan angka keberhasilan antara 82- 90%
b. Pengobatan juga diberikan kepada pasangan seksualnya dengan rejimen yang sama
c. Jika pasangan seksual-nya diobati bersama-sama maka angka kesembuhan melebihi 95%.
Angka reinfeksi 16-25% terjadi jika pasangan seksualnya tidak diobati
d. Penderita dan pasangan seksualnya dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual hingga
dinyatakan sembuh
Rejimen alternatif
a. Metronidazol 500 mg, 2 kali sehari selama 7 hari. Rejimen ini dianjurkan untuk penderita yang
tidak sembuh dengan pengobatan dosis tunggal
b. Metronidazol 2 g dosis tunggal selama 3-5 hari. Di- anjurkan untuk penderita yang gagal
dengan pengobatan ulangan
c. Rejimen metronidazol multidosis selama 7 hari sangat efektif untuk penderita pria
d. Metronidazol 250 mg, 3 kali sehari selama 7 hari
e. Metronidazol 1 g, 2 kali sehari selama 1-2 hari
f. Fenobarbital dan kortikosteroid akan menurunkan kadar metronidazol plasma dan akan
menurunkan aktifitas metronidazol terhadap Trichomonas vaginalis, sedangkan cimetidine akan
menaikan kadar metronidazol plasma
g. Kasus yang resisten secara klinis dapat diobati dengan dosis 2-4 g metronidazol selama 3-14
hari atau metronidazol 2 g peroral setiap hari disertai 500 mg yang diberikan intravagina

Komplikasi
Infeksi pelvis
51

Pada kehamilan :
o lahir premature
o bayi berat lahir rendah
o selulitis posthysterectomy

Prognosis
Metronidazol menunjukkan angka kesembuhan 95 %. Angka kesembuhan meningkat bila
kontak seksual memakai pengaman.

Pencegahan
Karena

trikomoniasis

merupakan

penyakit

menular

seksual,

cara

terbaik

menghindarinya adalah tidak melakukan hubungan seksual. Beberapa cara untuk mengurangi
tertularnya penyakit ini antara lain:
Pemakaian kondom dapat mengurangi resiko tertularnya penyakit ini.
Tidak pinjam meminjam alat-alat pribadi seperti handuk karena parasit ini dapat hidup

di luar tubuh manusia selama 45 menit.


Bersihkan diri sendiri segera setelah berenang di tempat pemandian umum.
Melakukan ANC selama masa kehamilan utuk skrining IMS (Infeksi Menular Seksual)
Meningkatkan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan
Seks yang aman dan dengan satu pasangan
Peningkatan status sosial ekonomi
Tidak berhubungan seksual dengan penderita
Tidak bergonta-ganti pasangan seksual
Memakai kondom
Jika merasa ada gejala, segera konsultasi ke dokter

52

KONDILOMA AKUMINATA
1. PENDAHULUAN
Virus alami dari genital warts, Venereal warts, verruca vulgaris, jengger ayam, kutil
kelamin pertama kali dikenal tahun 1907 oleh Ciuffo. Dengan berkembangnya teknik biologi
molekuler, Human Papillomavirus (HPV) diidentifikasi sebagai penyebab kondiloma
akuminata.
Kondiloma adalah kutil yang berlokasi di area genital (uretra, genital dan rektum).
Kondiloma merupakan penyakit menular seksual dan berpengaruh buruk bagi kedua
pasangan. Masa inkubasi dapat terjadi sampai beberapa bulan tanpa tanda dan gejala
penyakit. Biasanya lebih banyak selama masa kehamilan dan ketika terjadi pengeluaran
cairan yang berlebihan dari vagina. Meskipun sedikit, kumpulan bunga kol bisa berkembang
dan sebagai akibatnya adalah akumulasi bahan bahan purulen pada belahan belahan,
biasanya berbau tidak sedap warnanya abu abu, kuning pucat atau merah muda.
Kondiloma akuminata merupakan tonjolan tonjolan yang berbentuk bunga kol atau
kutil yang meruncing kecil yang bertumbuh kembang sampai membentuk kelompok yang
berkembang terus ditularkan secara seksual. Kondiloma akuminata dijumpai pada berbagai
bagian penis atau biasanya didapatkan melalui hubungan seksual melewati liang rectal
disekitar anus, pada wanita dijumpai pada permukaan mukosa pada vulva, serviks, pada
perineum atau disekitar anus..
Kondiloma sering kali tampak rapuh atau mudah terpecah, bisa terssebar multifocal
dan multisentris yang bervariasi baik dalam jumlah maupun ukurannya. Lesinya bisa sangat
meluas sehingga dapat menguasai penampakan normal dan anatomi pada genitalia. Daerah
tubuh yang paling umum adalah frenulum, korona, glans pada pria dan daerah introitus
posterior pada wanita.
53

Condyloma accuminatum [Kondiloma akuminata ] juga dikenal sebagai:


1. Kutil kelamin
2. Kutil kemaluan
3. Kutil genital (kutil genitalia)
4. Genital warts
5. Veruka akuminata
6. Venereal wart
7. Jengger ayam

2. GEJALA DAN TANDA YANG SERING MUNCUL


Kondiloma akuminata sering muncul disaerah yang lembab, biasanya pada penis, vulva,
dinding vagina dan dinding serviks dan dapat menyebar sampai daerah perianal
Berbau busuk
Warts/kutil memberi gambaran merah muda, flat, gambaran bunga kol
Pada pria dapat menyerang penis, uretra dan daerah rektal. Infeksi dapat dormant atau
tidak dapat dideteksi, karena sebagian lesi tersembunyi didalam folikel rambut atau
dalam lingkaran dalam penis yang tidak disirkumsisi.

54

Pada wanita condiloma akuminata menyerang daerah yang lembab dari labia minora dan
vagina. Sebagian besar lesi timbul tanpa simptom. Pada sebagian kasus biasanya terjadi
perdarah setelah coitus, gatal atau vaginal discharge
Ukuran tiap kutil biasanya 1-2 mm, namun bila berkumpul sampai berdiameter 10, 2 cm
dan bertangkai. Dan biasanya ada yang sangat kecil sampai tidak diperhatikan.
Terkadang muncul lebih dari satu daerah.
Pada kasus yang jarang, perdarahan dan obstruksi saluran kemih jika virus mencapai
saluran uretra
Memiliki riwayat kehidupan seksual aktif dengan banyak pasangan.
3. ETIOLOGI

Virus DNA golongan Papovavirus, yaitu: Human Papilloma Virus (HPV). HPV
tipe 6 dan 11 menimbulkan lesi dengan pertumbuhan (jengger ayam). HPV tipe 16, 18, dan
31 menimbulkan lesi yang datar (flat). HPV tipe 16 dan 18 seringkali berhubungan dengan
karsinoma genitalia (kanker ganas pada kelamin).

4. PATOFISIOLOGI
HPV merupakan kelompok virus DNA double-strand. Sekitar 30 jenis HPV dapat
menginfeksi traktus anogenital. Virus ini menyebabkan lokal infeksi dan muncul sebagai lesi
kondiloma papilomatous. Infeksi HPV menular melalui aktivitas seksual.
HPV yang berhubungan dengan traktus genital dibagi dalam kelompok resiko rendah dan
resiko tinggi yang didasarkana atas genotipe masing-masing. Sebagian besar kondiloma
genital diinfeksi oleh tipe HPV-6 atau HPV-11. Sementara tipe 16, 18, 31, 33, 45, 51, 52, 56,
68, 89 merupakan resiko tinggi.

55

Hubungan seksual

Papiloma virus bersifat epiteliotropik dan reflikasinya tergantung dari adanya epitel
skuamosa yang berdeferensisasi. DNA virus dapat ditemui pada lapisan bawah epitel, namun
Kontak dengan HPV

struktur protein virus tidak ditemukan. Lapisan basal sel yang terkena ditandai dengan batas
yang jelas pada dermis. Lapisan menjadi hiperplasia (akantosis), pars papilare pada dermis
PV 6 & 11 masuk melalui mikro lesi

memanjang. Gambaran hiperkeratosis tidak selalu ada, kecuali bila kutil telah ditemui pada
waktu yang lama atau pengobatan yang tidak berhasil, dimana stratum korneum hanya
mengandung 2 lapisan sel yang parakeratosis. Koibeytes terpancar pencar keluar dari
Penetrasi melalui kulit

lapisan terluar dari kutil genialia. Merupakan sel skuamosa yang zona mature perinuclear
yang luas dibatasi dari peripheral sitoplasma. Intinya bisa diperluas dan hyperchromasi, 2
Ditumpangi oleh patogen

Mikroabrasi permukaan epitel

atau lebih nuclei / inti bisa terlihat. Penelitian ultrastruktural menunjukkan adanya partikel
partikel virus pada suatu bagian nuclei sel. Koilositosis muncul untuk menunjukkan kembali
HPV masuk lapisan basal

suatu efek cytopathic spesifik dari HPV.

Keputihan disertai infeksi mikrorganismeRespon radang

I.

Patofisiologi Candiloma Akuminata


Mengambil alih DNA
Merangsang mediator kimia: histamin

Bau, berwarna kehijauan


HPV naik ke epidermis
Stimulasi saraf perifer
Gatal dan terasa terbakar
Menghantarkan pesan gatal ke otak

Bereplikasi

Tidak terkendali
ak nyaman saat
melakukan
hubungan
seksual
Impuls
elektronikimia
(gatal)
sepanjang nervus ke dorsal spinal cord
Nodul kemerahan di sekitar genitalia
Gangguan pola fungsi seksual

Thalamus

Penumpukan nodul merah membentuk seperti Gangguan


bunga kol citra diri
Korteks (intensitas) dan lokasi gatal dipersepsikan

Persepsi gatal

Pecah/muncul lesi

Gang. Integritas kulit

Gangguan rasa nyaman : Gatal


Lesi terbuka, terpajan mikroorganisme

Pelepasan virus bersama sel epitel

56
Resti penularan

Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk:


1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai dengan
permukaan berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih
besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering dijumpai pada
wanita yang mengalami fluor albus dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas
terganggu.
2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna, seperti
batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum. Kelainan berupa papul
dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret.
3. Bentuk datar

57

Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali tidak
tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes asam asetat. Dalam
hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong.

5. EPIDEMIOLOGI
Ras : tidak ada perbedaan
Jenis kelamin : pria 13%, wanita 9%, pernah mengidap kondiloma akuminata
Umur : kebanyakan wanita aktif seksual dibawah usia 25 tahun
Karena penyakit ini tidak dilaporkan dari spesialis lain atau praktek umum, maka
peningkatan substansial pada jumlah kasus baru sepanjang dekade terakhir dan tingkat
kejadian sekarang kira kira telah 2 kali lebih banyak dari laporan kejadian sebelumnya.
Dewasa ini kutil kelamin adalah penyakit PMS viral yang paling umum, 3 kali banyaknya
dari herpes genital dan tingkat kejadian hanya dilampaui oleh GO dan infeksi chlamidya.

6. FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1. Aktivitas Seksual
Kondiloma akuminata atau infeksi HPV sering terjadi pada orang yang mempunyai
aktivitas seksual yang aktif dan mempunyai pasangan seksual lebih dari 1 orang
(multiple). Winer et al., pada penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswi-mahasiswa
yang sering bergonta-ganti pasangan seksual dapat terinfeksi HPV melalui pemeriksaan
DNA. Wanita dengan lima atau lebih pasangan seksual dalam lima tahun memiliki resiko
7,1% mengalami infeksi HPV (anogenital warts) dan 12,8% mengalami kekambuhan
dalam rentang waktu tersebut. Pada penelitian yang lebih luas, WAVE III yang
melibatkan wanita berusia 18-25 tahun yang memiliki tiga kehidupan seksual dengan
pasangan yang berbeda berpotensi untuk terinfeksi HPV.
58

2. Penggunaan Kontrasepsi
Penelitian pada 603 mahasiswa yang menggunakan alat kontrasepsi oral ternyata
menunjukkan adanya hubungan terjadinya infeksi HPV pada servik. Namun hubungan
pasti antara alat kontrasepsi oral dengan angka kejadian terjadinya kondiloma akuminata
masih menjadi perdebatan di dunia.
Amo, 2005 mengemukakan bahwa kontrasepsi hormonal berasosiasi kuat dan
meningkatkan risiko terinfeksi KA pada perempuan, yaitu sebesar 19,45; 95% CI : 2,45
154,27 7. Penelitian lain menemukan bahwa kontrasepsi oral berisiko sebesar 1,7; 95%
CI : 1,3 2,2 untuk terjadinya KA.
3. Merokok
Hubungan antara merokok dengan terjadinya kondiloma akuminata masih belum
jelas. Namun pada penelitian ditemukan adanya korelasi antara terjadinya infeksi HPV
pada seviks dengan penggunaan rokok tanpa filter (cigarette) dengan cara pengukuran
HPV DNA.
PSK di Spanyol yang berumur 25 tahun ke atas dan tidak merokok mempunyai risiko
yang rendah untuk terjadinya KA (OR 0,33; 95% CI : 0,17 0,63) dibandingkan pada
PSK berumur < 25 tahun dan merokok (OR 2,28; 95% CI : 1,36 3,8) 7. Moscicki
(2001) melaporkan kebiasaan merokok berisiko terinfeksi KA sebesar 1,50; 95% CI :
0,77 2,94 5. Namun, kedua penelitian ini belum bisa menunjukkan adanya hubungan
dosis respon merokok terhadap terjadinya KA. Penelitian oleh Wen, dapat membuktikan
bahwa kebiasaan merokok 10 batang rokok per hari berisiko 2 kali terinfeksi KA
dibandingkan pada non perokok (95% CI : 1,7 3,7)15. Sedangkan Minerd (2006)
memaparkan bahwa kebiasaan merokok pada penderita HIV positif berisiko 3,9 kali lebih
besar terinfeksi KA
4. Kehamilan

59

Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa kehamilan


pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu besar dapat menghalangi
lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca persalinan. Selain itu dapat juga
menimbulkan kondiloma akuminata atau papilomatosis laring (kutil pada saluran nafas)
pada bayi baru lahir.
5. Imunitas
Kondiloma juga sering ditemukan pada pasien yang immunocompromised (misal :
HIV). Imunitas tubuh berperan dalam pertahanan tubuh terhadap HPV. Imunitas tubuh
yang rendah berisiko 1,99 kali lebihbesar (95% CI : 1,17 3,37) untuk terinfeksi KA.
Imunitas tubuh terhadap KA dapat juga diperoleh dari vaksin HPV, namun efektifitas
vaksin HPV ini masih dalam tahap penelitian.

7. KOMPLIKASI
KA merupakan IMS yang berbahaya karena dapat menyebabkanterjadinya
komplikasi penyakit lain yaitu :
a. Kanker serviks
Lama infeksi KA meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks. Moscicki, 2001
melaporkan bahwa risiko tertinggi terkena kanker serviks adalah pada kasus infeksi KA
selama 1 2 tahun (RH 10,27; 95% CI : 5,64 18,69). Risiko ini menurun pada infeksi
KA selama < 1 tahun (RH 7,4; 95% CI : 4,74 11,57) dan infeksi KA selama 2 3 tahun
RH 6,11; 95% CI : 1,86 20,06 5. Kanker serviks merupakan penyebab kematian kedua
pada perempuan karena kanker di negara berkembang dan penyebab ke 11 kematian pada
perempuan di AS. Tahun 2005, sebanyak 10.370 kasus kanker serviks baru ditemukan
dan 3.710 diantaranya mengalami kematian 7,10.
b. Kanker genital lain
Selain menyebabkan kanker serviks, KA juga dapat menyebabkan kanker genital
lainnya seperti kanker vulva, anus dan penis 4-7.
60

c. Infeksi HIV
Seseorang dengan riwayat KA lebih berisiko terinfeksi HIV 7.
d. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan
KA selama masa kehamilan, dapat terus berkembang membesar di daerah dinding
vagina dan menyebabkan sulitnya proses persalinan. Selain itu, kondisi KA dapat
menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga terjadi transmisi penularan KA pada janin.

8. KONDILOMA SELAMA KEHAMILAN

a. Kehamilan dan kondiloma acuminata/HPV


Wanita yang terpapar HPV selama kehamilan memiliki kekhawatiran bahwa virus ini
akan membahayakan bayi mereka. Dalam kebanyakan kasus HPV tidak mempengaruhi
perkembangan janin.
b. Pengaruh kondiloma selama kehamilan
Jika seorang wanita terpapar kondiloma selama kehamilan, maka kondiloma akan
cepat berkembang, kemungkinan karena terjadi pengeluaran cairan vagina berlebih yang
membuat lingkungan yang baik untuk virus, perubahan hormonal atau penurunan
kekebalan tubuh.
c. Pengaruh kondiloma acuminata/HPV terhadap bayi
HPV tidak mempengaruhi kehamilan dan kesehatan bayi secara langsung. Resiko
transmisi virus ini terhadap bayi sangat rendah.
Jika bayi terpapar virus saat kehamilan atau saat melahirkan maka transmisi ini
bisa menyebabkan terjadinya perkembangan wart/kutil pada korda vokalis dan kadang

61

pada daerah lain pada infan atau anak-anak. Kondisi ini disebut recurrent respiratory
papillomatous (RRP), hal ini sangaat berbahaya, namun hal ini sangat jarang terjadi.
d. Pengaruh kandiloma acuminata bagi persalinan
Menurut Sinal, Woods (2005), melahirkan melalui jalan lahir dari vagina yang
terinfeksi dapat menyebabkan lesi (semacam luka) di pernafasan bayi. Kutil kelamin
memang ditularkan ke bayi baru lahir atau pasangannya, dan ada kemungkinan untuk
berulang (kambuh)
Untuk alasan-alasan yang tidak diketahui, kutil genital sering meningkat jumlah
dan ukurannya selama kehamilan, terkadang memenuhi vagina atau menutupi perineum
sehingga pelahiran pervaginam atau episiotomi sulit dilakukan
1. Kemungkinan keadaan basah daerah vulva pada saat kehamilan merupakan
kondisi yang bagus untuk pertumbuhan virus
2. Adanya perubahan endokrin dan imunitas pada kehamilan juga dapat
mempengaruhi pertumbuhan kondiloma akuminata Pada kehamilan trimester
akhir, kondiloma akuminata sangat kering, mudah rusak dan berdarah. Selama
hamil, virus bereplikasi cepat dan dapat menyebabkan tumor
3. Penelitian juga melaporkan selama kehamilan prevalensi kondiloma akuminata
meningkat dari trimester 1-3 dan secara signifikan akan mengalami penurunan
pada periode post partum.
Pada persalinan dengan Condyloma genital, adanya candyloma beresiko:
1. Risiko penularan ke anaknya kalau dilahirkan melalui vagina.
2. Risiko terjadi perdarahan bila dilahirkan melalui vagina, yaitu bila jaringan yang
mengalami infeksi condyloma itu mengalami ruptur (mudahnya robek), bisa
menimbulkan perdarahan banyak.
Karena risiko itulah, dipertimbangkan untuk lebih baik dilahirkan melalui sesar.
e. Aktivitas
62

Tidak ada restriksi kecuali menghindari hubungan seksual


f. Diet
Tidak ada restriksi, namun sebaiknya mengkonsumsi nutrisi yang seimbang pada
program dietari untuk memastikan ibu mendapatkan sitem imun yang optimal.
Dietari program

Sangat penting
1. vitamin B-kompleks, penting untuk multiplikasi sel
2. vitamin C, antiviral

Penting
1.

L-Cystein, suplai sulfur, sebagai preventasi dan perawatan kutil

2.

Vitamin A, menormalkan kulit dan epitel membran

3.

vitamin E, meningkatkan aliran darah dan membantu perbaikan jaringan

4.

Zinc, meningkatkan imunitas tubuh melawan virus

9. DIAGNOSA BANDING
Papul dan nodul pseudoverrucous adalah suatu kondisi yang dapat dilihat berkaitan
dengan ureterostomi dan pada daerah perianal yang berkaitan dengan defekasi yang tidak
dapat ditahan juga bisa menyerupai kondiloma acuminata. Papul papul yang terdapat
didaerah anogenital seperti molusca dan skintag,

Veruka vulgaris yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu abu atau sama dengan
warna kulit.

63

Kondiloma latum atau sifilis stadium II, klinis berupa plakat yang erosi,

Karsinoma sel skuamosa vegetasi yang seperti kembang kol mudah berdarah dan
berbau.

10. PENATALAKSANAAN
Karena virus infeksi HPV sangat bersifat subklinis dan laten, maka tidak terdapat
terapi spesifik terhadap virus ini, maka perawatan diarahkan pada pembersihan kutil kutil
yang tampak dan bukan pemusnahan virus. Pemeriksaan adalah lesi yang muncul sebelum
kanker serviks adalah sangant penting bagi pasien wanit yang memiliki lesi klinis atau
riwayat kontak. Perhatian pada pribadi harus ditekankan karena kelembaban mendukung
pertumbuhan kutil
a. Kemoerapi
1. Podophylin
Podophylin adalah resin yang diambil dari tumbuhan dengan kandungan
beberapa senyawa sitotoksik yang rasionya tidak dapat dirubah. Podophylino yang
paling aktif adalah podophylotoksin. Jenis ini mungkin terdiri atas berbagai
konsentrasi 10 25 % dengan senyawa benzoin tinoture, spirit dan parafin cair.yang
digunakan adalah tingtur podofilin 25 %, kulit di sekitarnya dilindungi dengan vaselin
atau pasta agar tidak terjadi iritasi setelah 4 6 jam dicuci. Jika belum ada
penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari, setiap kali pemberian tidak boleh lebih
dari 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksik ialah mual, muntah,
nyeri abdomen gangguan alat napas dan keringat kulit dingin. Pada wanita hamil
sebaiknya jangan diberikan karena dapat terjadi kematian fetus. Respon pada jenis
perawatan ini bervariasi, beberapa pasien membutuhkan beberapa sesi perawaan untuk
mencapai kesembuhan klinis, sementara pasien pasien yang lain menunjukkan
respon yang kecil dan jenis perawatan lain harus dipertimbangkan.
64

2. Podofilytocin
Ini merupakan satu bahan aktif resin podophylin dan tersedia sebanyak 0,5 %
dalam larutan eatnol. Ini merupakan agen anti mitotis dan tidak disarankan untuk
penggunaan pada masa kehamiolan atau menysui, jenis ini lebih aman dibandingkan
podophylin apilkasi mandiri dapat diperbolehkan pada kasus kasus keluhan yang
sesuai
3. Asam Triklorasetik (TCA)
Ini agent topikal alternatif dan seringkali digunakan pada kutil dengan
konsentrasi 30 50 % dioleskan setiap minggu dan pemberian harus sangat hati hati
karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. Bahan ini dapat digunakan pada masa
kehamilan.
4. Topikal 5-Fluorourasil (5 FU)
Cream 5 Fu dapat digunakan khususnya untuk perawatan kutil uretra dan vulva
vagina, konsentrasinya 1 5 % pemberian dilakukan setiap hari sampai lesi hilang dan
tidak miksi selama pemberian. Iritasi lokal buakn hal yang tidak bisa.
5. Interferon
Meskipun interferon telah menunjukkan hasil yang menjanjinkan bagi
verucciformis dan infeksi HPV anogenital, keefektifan bahan ini dalam perawatan
terhadap kutil kelamin masih dipertanyakan. Terapi parentral dan intra lesional
terhadapa kutil kelamin dengan persiapan interferon alami dan rekombinasi telah
menghasilkan tingkat respon yang berkisar antara 870 80 % pada laporan laporan
awal. Telah ditunjukkan pula bahwa kombinasi IFN dengan prosedur pembedahan
ablatif lainnya menghasilkan tingkat kekambuhan ( relapse rate ) dan lebih rendah.
Efek samping dari perlakuan inerferon sistemik meliputi panyakit seperti flu dan
neutropenia transien
b. Non Farmakologis
65

Obat Kutil pada kelamin (Kutil Kondiloma pada pria / Kutil Jengger Ayam pada
wanita). Penggunaan: Bubuk WARTS POWDER dicampur dengan air hangat dan
dioleskan pada bagian yang sakit, secara teratur 2x sehari. Tidak pedih, ampuh dan aman
karena terbuat dari bahan-bahan alami.
c. Terapi pembedahan
1. Kuret atau Kauter ( Elektrokauterisasi )
Kuret atau Kauter ( Elektrokauterisasi ) dengan kondisi anastesi lokal dapat
digunakan untuk pengobatan kutil yang resister terhadap perlakuan topikal munculnya
bekas luka parut adalah salah satu kekurangan metode ini.
2. Bedah Beku ( N2, N2O cair )
Bedah beku ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma akuminata pada wanita
hamil dengan lesi yang banyak dan basah.
3. Laser
Laser karbodioksida efektif digunakan untuk memusnahkan beberapa kutil kutil
yang sulit. Tidak terdapat kekawatiran mengenai ketidakefektifan karbondioksida yang
dibangkitkan selama prosedur selesai, sedikit meninggalkan jaringan parut.
4. Terapi Kombinasi
Berbagai kombinasi terapi yang telah dipergunakan terhadap kutil kelamin yang
membandel, contohnya kombinasi interferon dengan prosedur pembedahan, kombinasi
TCAA dengan podophylin, pembedahan dengan podophylin. Seseorang harus sangat
berhati hati ketika menggunakan terapi kombinasi tersebut dikarenakan beberapa dari
perlakuan tersebut dapat mengakibatkan reaksi yang sangat serius.

11. PROGNOSIS
66

Kondiloma akuminata dapat memberikan prognosis baik dengan perwatan yang teliti
dengan memeperhatikan higiene serta jaringan parut yang timbul sangat sedikit. Pengrauh
terhadap kehamilan, perkembangan kehamilan, janin sangat minimal.

URETRITIS NON SPESIFIK


Pendahuluan
Sebelum tahun 1970 hampir 90% kasus uretritis belum diketahui penyebabnya,
sedangkan 10% sudah diketahui penyebabnya, yaitu Gonokok, Trichomonas vaginalis, Candida
albicans dan benda asing. Dengan semakin majunya fasilitas diagnostik sesudah tahun 1970,
penyebab uretritis sudah diketahui 75%, sedangkan sisanya 25% lagi masih dalam taraf
penelitian.
Uretritis merupakan kondisi urologis yang normal terjadi dan sulit ditegakkan
diagnosanya oleh dokter, sehingga mempersulit pemberian pengobatan yang tepat. Organisme
seperti Trichomonas vaginalis, Neiserria gonorrheae, Chlamydial trachomatis dan Mycoplasma
sppdilaporkan menjadi penyebab terjadinya uretritis. Meski demikian, sebagian pasien dengan
uretritis tidak memiliki organisme tersebut. Dengan demikian, diagnosa uretritis khususnya pada
pria dengan tidak adanya penanda inflamasi uretra menjadi sulit, karena belum adanya informasi
yang jelas mengenai komposisi flora uretra pada pria normal maupun penderita uretritis.
Pada sebuah studi yang dilakukan, didapatkan beberapa mikroorganisme gram positif
yang menjadi mikroflora pada uretra seseorang yang normal. Lactobacilli, Coagulase
negative staphylococcidan Streptococci dilaporkan juga menjadi bagian dari flora normal.
Partisipasi dari beberapa flora normal ini diyakini menjadi bagian untuk mencegah invasi
mikroorganisme oportunistik.
Uretritis merupakan kondisi inflamasi yang terjadi pada uretra yang dapat disebabkan
oleh proses infeksi atau non infeksi dengan manifestasi discar, disuria, atau gatal pada ujung
uretra. Temuan fisik yang paling sering ditemukan berupa discar uretra, sedangkan temuan
67

laboratorium menunjukkan adanya peningkatan jumlah leukosit polimorfonuklear dengan


pengecatan Gram pada usapan uretra atau dari sedimen pancaran urin awal. Untuk memudahkan
dalam perawatan, seringkali infeksi uretritis diklasifikasikankan menjadi Uretritis Gonococcal
dan Uretritis Non-gonococcal (disebut pula uretritis non spesifik).
Disebut

sebagai

uretritis

gonococcal

jika

pada

pemeriksaan

laboratorium

ditemukan Neisseria gonorrhea, sebaliknya jika tidak ditemukan N.gonorrhea disebut sebagai
urethritis non gonococcal atau uretritis non spesifik. Kedua klasifikasi diatas termasuk dalam
kategori penyakit dengan transmisi secara seksual.
Infeksi Chlamidya trachomatis pada banyak negara merupakan penyebab utama infeksi
yang ditularkan melalui hubungan seksual. Laporan WHO tahun 1995 menunjukkan bahwa
infeksi oleh C. trachomatis diperkirakan 89 juta orang. Di Indonesia sendiri sampai saat ini
belum ada angka yang pasti mengenai infeksi C. trachomatis.

Definisi
Uretritis Non Spesifik (UNS) memiliki pengertian yang lebih sempit dari Infeksi Genital
Non Spesifik, dimana peradangan hanya pada uretra yang disebabkan oleh kuman non spesifik.
Yang dimaksud dengan kuman spesifik adalah kuman yang dengan fasilitas laboratorium biasa
atau sederhana dapat ditemukan seketika, misalnya gonokok, Candida albicans, Trichomonas
vaginalis dan Gardnerella vaginalis.
Uretritis Non Spesifik ditandai dengan keluarnya sekret dan/atau disuria, tetapi mungkin
juga asmtomatik. Chlamydial trachomatismerupakan mikroorganisme tersering di negara maju
yang menular melalui kontak seksual. Mikroorganisme ini utamanya menyerang traktus
genitalia.

Epidemiologi

68

Uretritis Non Spesifik banyak ditemukan pada orang dengan keadaan sosial ekonomi
lebih tinggi, usia lebih tua dan aktivitas seksual yang lebih tinggi. Juga ternyata pria lebih banyak
daripada wanita dan golongan heteroseksual lebih banyak daripada golongan homoseksual.
Chlamydia trachomatis merupakan penyebab Uretritis Non Spesifik (UNS) terbanyak
dibanding dengan organisme lain. Dari berbagai studi dilaporkan bahwa 30 60 % dari penderita
UNS dapat diisolasi C. trachomatis, selanjutnya 4 43 % dari pria penderita gonore dan 0 7 %
dari pria dengan uretritis asimtomatik.

Etiologi
Uretritis non spesifik adalah inflamsi pada uretra yang disebabkan oleh infeksi selain
gonococcal. Etiologi dari uretritis non spesifik dapat disebabkan oleh bakterial, viral, ataupun
parasit. Banyak organisme berbeda yang berperan dalam terjadinya uretritis terutama agen
bakteri basil Gram negative seperti E.Coli, Proteus, Klebsiella atauEnterobacter. Namun pada
kasus uretritis non spesifik yang dapat ditularkan secara seksual agen yang sangat berperan
adalah :
Bakteri

: Chlamydia

trachomatis,

Ureaplasma

urealyticum,

Haemophylus

vaginalis, dan Mycoplasma genitalium.


Viral

: Herpes simpleks, Adenovirus.

Parasit : Trichomonas vaginalis.


Tabel. Etiologi Uretritis Menular Seksual
Gonococcal :
N. gonorrhea
Nongonococcal :

69

C. trachomatis, 15-40%
M. genitalium, 15-25 %
Lain-lain, 20-50 %
T. vaginalis, 5-15%
U. urealyticum. <15%
HSV, 2-3%
Adenovirus, 2-4%
Haemophilus sp., jarang
Tidak diketahui

1. Infeksi Chlamydial trachomatis


Telah terbukti bahwa lebih dari 50% kasus Uretritis Non Spesifik disebabkan oleh kuman
ini. Chlamydial

trachomatis merupakan

parasit

intraobligat,

menyerupai

bakteri

gram

negatif. Chlamydial trachomatispenyebab Uretritis Non Spesifik ini termasuk subgroup A dan
mempunyai tipe serologic D-K.
Mikroorganisme ini menginfeksi 3-5% wanita muda yang secara seksual aktif. Prevalensi
kejadian pada pria tidak diketahui tetapi diperkirakan rendah. Prevalensi secara keseluruhan
diyakini meningkat, dikarenakan terdapat banyak infeksi yang tidak diketahui sehingga tidak
mendapatkan terapi. Terhitung 89 juta infeksi terjadi di dunia setiap tahunnya, dengan 4-5 juta
penderita berada di USA. Infeksi klamidial terjadi lebih banyak pada kelompok usia di bawah 25
tahun, dengan 1 atau lebih partner seksual, minim kontrasepsi, pengguna pil kontrasepsi dan
pelaku aborsi kehamilan.
70

Dalam perkembangannya, Chlamydial trachomatis mengalami 2 fase. Fase pertama (non


infeksiosa) terjadi keadaan laten yang dapat ditemukan pada genitalia maupun konjungtiva. Pada
saat ini, kuman bersifat intraseluler dan berada di dalam vakuol yang letaknya melekat pada inti
sel hospes (disebut badan inklusi). Sedangkan fase kedua (penularan) bila vakuola pecah kuman
keluar dalam bentuk badan elementer yang dapat menimbulkan infeksi pada sel hospes yang
baru.
Species C. trachomatis mempunyai 515 serovar, dimana serovar A,B dan C
menyebabkan tarchoma, serovar D sampai K menyebabkan infeksi genital, serovar L1 sampai L3
menyebabkan

limfogranuloma

venereum

(LGV). Chlamydia merupakan

bakteri

obligat

intraselular, hanya dapat berkembang biak di dalam sel eukariot hidup dengan membentuk
semacam koloni atau mikrokoloni yang disebut Badan Inklusi (BI). Chlamydia membelah
secara benary fision dalam badan intrasitoplasma. C. trachomatis berbeda dari kebanyakkan
bakteri karena berkembang mengikuti suatu siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk
yang berbeda, yaitu berupa Badan Inisial.
Chlamydial trachomatis merupakan bakteri pathogen intraseluler yang mengakibatkan
reaksi inflamasi. Pathogenesis dari sekuel inflamasi kronis dipercaya dimediasi oleh agen
imunologis. Tetapi hal ini masih dalam penelitian.
Chlamydial trachomatis adalah bakteri Gram negatif obligat intraseluler, dan merupakan
penyebab penyakit menular seksual yang paling sering terjadi. Diperkirakan terjadi 4 juta kasus
infeksi Chlamydia tiap tahunnya dengan angka prevalensi > 10 %, atau 15-40% dari kasus
uretritis non spesifik atau dua kali prevalensi dari kasus Gonorrhea. Traktus urogenital
merupakan daerah yang paling sering terinfeksi oleh C. trachomatis. Transmisi terjadi melalui
rute oral, anal, atau melalui hubungan seksual. Gejala terjadi dalam 1-3 minggu setelah infeksi.
Namun demikian, sering terjadi infeksi asimtomatik sebesar 80% pada wanita dan 50 % pada
pria. Co-infeksi dengan penyakit menular seksual lainnya sering kali terjadi terutama gonorrhea.
Manifestasi penyakit yang paling umum terjadi pada infeksi C. trachomatis adalah
uretritis, ditandai dengan discharge encer atau mukoid pada uretra, dapat disertai dengan disuria.

71

Pada infeksi rectum menyebabkan proktitis pada wanita maupun pria. Infeksi juga dapat
termanifestasi sebagai Lymphogranuloma venerum.
Infeksi menular melalui kontak penetrasi seksual termasuk seks oral. Pada beberapa
kasus didapatkan penularan non kontak seksual, tetapi sangat jarang terjadi. Kebanyakan wanita
yang terinfeksi akan mengalami periode asimtomatik dalam hitungan bulan hingga tahun, tetapi
10-40% akan mengalami penyakit peradangan pelvis. Masa inkubasinya tidak diketahui. Bayi
yang lahir dari ibu yang terinfeksi akan mengalami konjungtivitis klamidial (30-50%) atau
pneumonia. Pada pria, uretritis dikeluhkan dalam kurun waktu 1 bulan setelah mendapat pajanan
infeksi, tetapi sekitar 50% kasus asimtomatik.
Terapi yang direkomendasikan adalah doksisiklin 100 mg bd untuk 7 hari atau
azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal. Keduanya sama secara klinis sama efektif. Pada
wanita hamil, eritromisin 500 md bd untuk 14 hari atau amoksisilin 500 mg td adalah obat
pilihan, tetapi penggunaan amoksisilin masih dalam perdebatan.

2. Infeksi Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis


Ureaplasma urealyticum merupakan 25% sebagai penyebab Uretritis Non Spesifik dan
sering bersamaan dengan infeksi Chlamydial trachomatis. Dahulu dikenal dengan nama T-strain
mycoplasma.Mycoplasma hominis juga sering bersama-sama dengan infeksiUreaplasma
urealyticum. Mycoplasma hominis sebagai penyebab Uretritis Non Spesifik masih diragukan,
karena kuman ini bersifat komensal yang dapat menjadi pathogen dalam kondisi
tertentu.Ureaplasma urealyticum merupakan mikroorganisme paling kecil, gram negative dan
sangat pleomorfik karena tidak memiliki dinding sel yang kaku.

3. Infeksi Mycoplasma genitalium


Mycoplasma sp. merupakan salah satu mikroorganisme terkecil yang dapt berkoloni di
traktur respirasi dan urogenital. Mycoplasma memiliki 13 spesies, 4 diantaranya menginfeksi
72

traktus genital, yaituMycoplasma hominis, M. genitalium, Ureaplasma parvum, dan U.


urealyticum. Sekitar 40-80 % wanita yang aktif secara seksual mengalami kolonisasi genital dari
ureaplasma. Organisme ini juga berperan dalam 20-30% kasus uretritis nonspesifik.
Pasien dengan infeksi mycoplasma genital sering tidak terdiagnosis, karena gejala yang
timbul biasanya dikaitkan dengan patogen lain yang lebih umum seperti Chlamydia. Seperti
halnya Chlamydia,

infeksimycoplasma genital

mengakibatkan

uretritis,

cervicitis,

PID,

endometritis, salpingitis, dan chorioamnionitis. Spesies lainnya dpat menyebabkan infeksi


pernapasan, arthritis septic, pneumonia neonatal, dan meningitis.

4. Infeksi Trichomonas vaginalis


Organisme lain seperti Trichomonas vaginalis dan virus herpes simpleks hanya berperan
kecil dalam kejadian kasus uretritis non spesifik. T. vaginalis merupakan protozoa yang
menyebabkan kondisi yang dinamakan trikomoniasis. T. vaginalis menginfeksi epitel vagina dan
uretra, menyebabkan ulserasi. Infeksi pada wanita menyebabkan timbulnya keputihan yang
berbau, berwarna kuning kehijauan, disertai pruritus, eritema dan dispareunia. Pada pria
seringkali asimtomatis, keluhan yang muncul berupa discar uretra, nyeri berkemih yang terasa
panas, dan frekuensi.

5. Alergi
Ada dugaan bahwa Uretritis Non Spesifik disebabkan oleh reaksi alergi terhadap
komponen sekret alat urogenital pasangan seksualnya. Alasan ini dikemukakan karena pada
pemeriksaan sekret Uretritis Non Spesifik tersebut ternyata steril dan pemberian obat
antihistamin dan kortikosteroid mengurangi gejala penyakit.

6. Bakteri
73

Mikroorganisme penyebab Uretritis Non Spesifik ini adalah Staphylococcus dan


Diphteroid. Sesungguhnya bakteri ini dapat tumbuh komensal dan menyebabkan uretritis hanya
pada beberapa kasus.

Gejala Klinis
Tanda dan gejala Uretritis Gonococcal (UG) dan Uretritis Non-Gonococcal (UNG) pada
dasarnya adalah sama, namun berbeda pada derajat keparahan gejala yang timbul. Kedua uretritis
baik gonococcal maupun non-gonococcal menyebabkan adanya lendir, dysuria, dan gatal pada
uretra. Lendir yang sangat banyak, dan purulen lebih sering pada gonorrhea, sedangkan pada
kondisi UNG, lendir yang dihasilkan lebih sedikit dan mukoid. Pada UNG, lendir sering hanya
muncul pada pagi hari, atau hanya terlihat seperti krusta yang melekat di meatus atau terlihat
seperti bercak pada pakaian dalam. frekuensi, hematuria, dan urgensi sering terjadi pada kedua
jenis infeksi. Masa inkubasi jauh lebih pendek pada infeksi gonorrhea, yaitu dalam 2-6 hari,
sedangkan pada UNG, gejala muncul dalam 1-5 minggu setelah infeksi, dengan masa inkubasi
rata-rata 2-3 minggu.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Kreiger yang membandingkan manifestasi klinis
uretritis gonococcal, chlamydial, dan trichomonal. Hanya 55% pria dengan trichomoniasis yang
mengalami lendir uretra, dibandingkan pada infeksi Chlamydia 82%, dan 93% pada gonorrhea.
Lendir yang dihasilkan pada infeksi N. gonorrhea, 82% berjumlah sangat banyak dan purulen.
Berbeda dengan infeksi Chlamydia danTrichomonal dengan sedikit lendir berwarna jernih atau
mukoid.

Tanda pada Pria


Gejala baru mulai timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak seksual dan umumnya
tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering
kencing dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonore, perjalanan penyakit
74

lebih lama karena masa inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan kambuh kembali. Pada
beberapa keadaan tidak terlihat keluarnya cairan duh tubuh, sehingga menyulitkan diagnosis.
Dalam keadaan demikian sangat diperlukan pemeriksaan laboratorium. Komplikasi yang dapat
terjadi berupa prostatitis, vesikulitis, epididimitis dan striktur uretra.

Tanda pada Wanita


Infeksi lebih ringan terjadi di serviks bila dibandingkan dengan vagina, kelenjar Bartholin
atau uretra sendiri. Sama seperti pada gonore, umumnya wanita tidak menunjukkan adanya
gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering
kencing, nyeri daerah pelvis dan dispareunia. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda
servisitis yang disertai adanya folikel-folikel kecil yang mudah berdarah. Komplikasi dapat
berupa bartholinitis, proktitis, salfingitis dan sistitis. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah
dilaporkan.

Diagnosis
Diagnosis secara klinis sukar untuk membedakan infeksi karena gonore atau non-gonore.
Menegakkan diagnosis servisitis atau uretritis oleh klamidia, perlu pemeriksaan khusus untuk
menemukan atau menentukan adanya C. trachomatis. Pemeriksaan laboratorium yang umum
digunakan sejak lama adalah pemeriksaan sediaan sitologi langsung dan biakan dari inokulum
yang diambil dari specimen urogenital. Baru pada tahun 1980an ditemukan tehnologi
pemeriksaan terhadap antigen dan asam nukleat C. trachomatis.
Pemeriksaan menyeluruh pada pasien dengan penyakit menular seksual, termasuk
uretritis, sangat penting dalam mengarahkan terapi yang tepat. Kuantitas discar pada uretritis
dapat dikategorikan banyak (mengalir secara spontan dari uretra), sedikit (keluar hanya jika
uretra di ekspos), sedang (keluar secara spontan, namun hanya sedikit). Warna dan karakter
discharge uretra harus diperhatikan. Lendir berwarna kekuningan atau hijau disebut sebagai
75

lender purulen. Lendir berwarna putih yang bercampur cairan jernih dinamakan lender
mukoid. Jika hanya lendir bening, dinamakan jernih. Adanya inflamasi pada meatus uretra,
edema penis, dan pembesaran kelenjar limfe juga harus diperhatikan.
Pemeriksaan sitologi langsung dengan pewarnaan giemsa memiliki sensitivitas tinggi
untuk konjungtivitis (95%), sedangkan untuk infeksi genital rendah (pria 15%, wanita 41%).
Sitologi dengan Papaniculou sensitivitasnya juga rendah, 62%. Hingga saat ini pemeriksaan
biakan masih menjadi baku emas pemeriksaan klamidia. Spesifitasnya mencapai 100%, tetapi
sensitivitasnya bervariasi bergantung pada laboratorium yang digunakan (nilai berkisar 75-85%).
Prosedur, tehnik dan biaya pemeriksaan biakan ini tinggi serta perlu waktu 3 hingga 7 hari.
Metode pendeteksian antigen ada beberapa cara, yaitu Direct Fluorescent Antibody
(DFA) yang menggunakan antibodi monoklonal atau poliklonal dengan mikroskop
imunofluoresen dan Enzyme Immuno Assay (EIA) atau Enzyme Linked Immunosorbent Assay
(ELISA) yang menggunakan antibodi monoklonal atau poliklonal dengan alat spektrofotometri.
Metode pendeteksian terbaru adalah dengan cara mendeteksi asam nukleat C. trachomatis.
Hibridisasi DNA Probe (Gen Probe) mendeteksi DNA CT lebih sensitive dibanding Elisa karena
dapat mendeteksi DNA dalam jumlah kecil melalui proses hibridisasi. Cara lain menggunakan
Amplifikasi Asam Nukleat (Polimerase Chain Reaction dan Ligase Chain Reaction).
Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2008, didapatkan hasil bahwa tidak
diperlukan adanya investigasi lebih lanjut menggunakan mikroskopi pada penderita yang
asimtomatik karena hanya presentase kecil penderita didapatkan hasil yang positif akan bakteri
patogen.
Penegakan diagnosis uretritis didasarkan pada tanda klinis serta pemeriksaan
laboratorium, sebagai berikut:
1.

Discar purulen atau mukopurulen.

2.

Pengecatan Gram pada sekresi uretra menunjukkan adanya >5 leukosit per lapang
pandang. Pengecatan Gram merupakan tes diagnostik yang umum digunakan untuk
mengevaluasi uretritis. Pemeriksaan ini cukup sensitif dan spesifik untuk menentukan
76

adanya uretritis dan ada tidaknya infeksi gonococcal. Infeksi gonococcal ditegakkan jika
ditemukan diplococcus intraseluler pada leukosit.
3.

Tes leukosit esterase pada pancaran urin pertama yang menunjukkan hasil positif atau
pemeriksaan mikroskopis pancaran urin pertama menunjukkan 10 leukosit per lapang
pandang besar.
Jika tidak ada kriteria diatas yang positif, pasien harus di tes untuk konfirmasi infeksi N.

gonorrhea atau C. trachomatis. Jika hasil tes menunjukkan infeksi N. gonorrhea atau C.
trachomatis, pasien harus diberikan perawatan yang sesuai, pasangan seksual ikut untuk
menjalani tes.

Penatalaksanaan
Secara umum, manajemen obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan
eritromisin. Di samping itu dapat juga digunakan gabungan sulfa-trimetoprim, spiramisin dan
kuinolon. Beberapa dosis obat yang dapat digunakan sebagai pada tabel berikut.
Tabel. Medikamentosa
Medikasi
Dosis
Tetrasiklin HCl 4 x

500mg

sehari

selama 1 minggu atau


4

250mg

sehari

selama 2 minggu
Oksitertrasiklin 4

250mg

sehari

Doksisiklin

selama 2 minggu
2 x 100mg sehari

Eritromisin

selama 1 minggu
4 x 500mg sehari
selama 1 minggu atau
77

250mg

sehari

selama 2 minggu
(untuk penderita tidak
tahan tetrasiklin, hamil,
atau < 12 tahun)
Sulfa-

2 x 2 tablet sehari

trimetoprim
Azitromisin
Spiramisin

selama 1 minggu
1 gram dosis tunggal
4 x 500mg sehari

Ofloksasin

selama 1 minggu
2 x 200 mg sehari
selama 10 hari

Pasien dengan infeksi klamidia harus dimonitor selama 2 minggu. Pemberian informasi
kepada pasangan, pencegahan hubungan seksual sementara serta penyelesaian terapi dengan
benar harus dicek. Dalam hal ini pasangan maupun semua orang yang memiliki kontak seksual
langsung dengan penderita harus diidentifikasi dan diberikan saran untuk mendapatkan terapi
serupa.
Pengobatan untuk infeksi mycoplasma genital, sama dengan pengobatan pada chlamydia.
Fluorokuinolon dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk M. Hominis dan Ureaplasma sp.
pada kondisi resistensi terhadap antibiotik lain.

Prognosis
Kadang-kadang tanpa pengobatan, penyakit lambat laun berkurang dan akhirnya sembuh
sendiri (50-70% dalam waktu sekitar 3 bulan). Setelah pengobatan, kira-kira 10% penderita akan
mengalami eksaserbasi atau rekurensi.

78

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. dkk, 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Indonesia.
2.Siregar. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta : EGC, 2005.
3. Indriati, Wresti . Duh Tubuh Genital . Dalam : www. repository.ui.ac.id. Departemen
Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin. FKUI RSCM.
4. Newman. LM, Moran. JS, 2007. Update on the management of gonorrhoeae in adult in
the

united

state.

The

infection

disease

http//:www.journals.uchicago.edu
5. Larry
I,
Lutwick.2009.
gonococcal

society

control

Infections.

of

Diakses

America.
dari

http://emedicine.medscape.com/artcle/218059-treatment.
6. Karl E, Miller. 2006. Diagnosis and Treatment of Neisseria gonorrheae infection. Am
Fam Physician 2006;73 : 1779-84, 1786. http://www.aafp.org/afp.
7. Fauci K.B., Jameson H.B., 2005. Harrisons Principles of Internal Medicine 16th Edition.
USA : Mc Graw Hill Companies.
8. Horner P., 2002. Chlamydia and Nonspecific Uretritis. Journal of Paediatrics, Obstetrics
and Gynaecology.
9. Ivanov Y.B., 2005. Microbiological Features of Persistent Nonspecific Uretritis in
Men. Journal of Microbiology, Immunology and Infection 2007;40:157-161.
10. Odom R.B., 2000. Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology 9th Edition.
Saunders Philadelpia.

79

11. Wolff K. et al, 2008. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7th Edition Volume 1
and 2. McGraw Hill Medical.

80