Anda di halaman 1dari 18

Abses Perianal dan Fistula Perianal

Pembimbing :
Dr.Jefferson Marampe Sp.B

Disusun oleh :
Ratna kurnianingsih (1102012228)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Raden Said Sukanto
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Periode 18 Juni 24 September 2016

Anatomi Anoraktal

Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel.
Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang
merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Kanalis analis dan kulit luar di
sekitarnya kaya akan persyarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri,
0

sedangkan mukosa rektum mempunyai persyarafan autonom dan tidak peka terhadap nyeri.
Darah vena di atas garis anorektum mengalir melalui sistem porta, sedangkan yang berasal
dari anus dialirkan ke sistem kava melalui V. Iliaka. Sistem limfe dari rektum mengalirkan
isinya melalui pembuluh limfe sepanjang pembuluh hemoroidalis superior ke arah kelenjar
limfe paraaorta melalui kelenjar limfe Iliaka Interna, sedangkan limfe yang berasal dari
kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal.
Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Sumbunya mengarah ke
ventrokranial yaitu mengarah ke umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal
dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi, sudut ini menjadi lebih besar.
Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata atau linea
dentata. Pada daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rektum.
Infeksi yang terjadi di sini dapat menimbulkan abses anorektum yang dapat membentuk
fistel. Lekukan antar-sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis analis sewaktu
melakukan colok dubur dan menunjukkan batas antara sfingter ekterna dan sfingter interna
(garis Hilton). Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter interna
dan sfingter eksterna. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter interna,
otot longitudinal, bagian tengah dari otot levator (puborektalis) dan komponen m. sfingter
eksternus. M. Sfingter internus terdiri dari serabut otot polos, sedangkan M. Sfingter
eksternus terdiri atas serabut olot lurik.

Gambar 1. Anatomi Anus dan Rektum

Abses Perianal

A. Pengertian
Abses perianal adalah infeksi pada ruang pararektal. Abses ini kebanyakan akan
mengakibatkan fistula. Abses perianal merupakan infeksi pada jaringan lunak sekitar saluran
anal, dengan pembentukan abses rongga diskrit. Tingkat keparahan dan kedalaman dari abses
cukup variabel, dan rongga abses sering dikaitkan dengan pembentukan saluran fistulous.
Abses perianal mudah diraba pada batas anus dengan kulit perianal, sebaliknya abses
anorektal yang terletak lebih dalam dapat diraba melewati dinding rectum atau lebih lateral
yaitu di bokong. Abses perianal biasanya tidak disertai demam, lekositosis atau sepsis pada
pasien dengan imunitas yang baik. Dengan penyebaran dan pembesaran abses yang
mengakibatkan abses mendekati permukaan kulit, nyeri yang dirasakan memburuk. Nyeri
memburuk dengan mengedan, batuk atau bersin, terutama pada abses intersfingter. Dengan
perjalanan abses, nyeri dapat mengganggu aktivitas seperti berjalan atau duduk.
B. Etiologi
Abses perianal merupakan gangguan sekitar anus dan rectum, dimana sebagian besar
timbul dari obstruksi kripta anal. Infeksi dan stasis dari kelenjar dan sekresi kelenjar
menghasilkan supurasi dan pembentukan abses dalam kelenjar anal. Biasanya, abses
terbentuk awal awal dalam ruang intersfingterik dan kemudian ke ruang potensial yang
berdekatan. Umumnya bakteri seperti stafilokokus dan Escherichia coli adalah penyebab
paling umum. Infeksi jamur kadang-kadang menyebabkan abses. Masuknya bakteri ke daerah
sekitar anus dan rektum.
C. Patofisiologis
Abses perianal terbentuk akibat berkumpulnya nanah di jaringan bawah kulit daerah
sekitar anus. Nanah terbentuk akibat infeksi kuman/bakteri karena kelenjar di daerah tersebut
tersumbat. Bakteri yang biasanya menjadi penyebab adalah Escherichia coli dan spesies
Enterococcus. Kuman/bakteri yang berkembang biak di kelenjar yang tersumbat lama
kelamaan akan memakan jaringan sehat di sekitarnya sehingga membentuk nanah. Nanah
yang terbentuk makin lama makin banyak sehingga akan terasa bengkak dan nyeri, inilah
yang disebut abses perianal. Pada beberapa orang dengan penurunan daya tubuh misalnya
penderita diabetes militus, HIV/AIDS, dan penggunaan steroid (obat anti radang) dalam

jangka waktu lama, ataupun dalam kemoterapi akibat kanker biasanya abses akan lebih
mudah terjadi.
Kebanyakan abses perianal bersifat sekunder terhadap proses supuratif yang dimulai
pada kelenjar anal. Teori ini menunjukan bahwa obstruksi dari saluran kelenjar tersebut oleh
tinja, corpus alienum atau trauma akan menghasilkan stasis dan infeksi sekunder yang
terletak di ruang intersfingterik. Dari sini proses infeksi dapat menyebar secara distal
sepanjang otot longitudinal dan kemudian muncul di subkutis sebagai abses perianal, atau
dapat menyebar secara lateral melewati otot longitudinal dan sfingter eksternal sehingga
menjadi abses ischiorektal. Meskipun kebanyakan abses yang berasal dari kelenjar anal
adalah perianal dan ischiorektal ,tetapi ruang lain dapat terinfeksi.
Pergerakan infeksi ke atas dapat menyebabkan abses intersfingterik tinggi dan
kemudian dapat menerobos ke otot longitudinal lalu ruang supralevator sehingga
menyebabkan sebuah abses supralevator. Setelah abses terdrainase, secara spontan maupun
secara bedah, komplikasi abnormal antara lubang anus dan kulit perianal disebut fistula ani.

Gambar 2. Tempat Terbentuknya Abses Anorektal

Gambar 3. Penyebaran Abses Perianal

D. Gambaran Klinik
Awalnya, pasien bisa merasakan nyeri yang tumpul, berdenyut yang memburuk sesaat
sebelum defekasi yang membaik setelah defekasi tetapi pasien tetap tidak merasa nyaman.
Rasa nyeri diperburuk oleh pergerakan dan pada saat menduduk. Abses dapat terjadi pada
berbagai ruang di dalam dan sekitar rektum. Seringkali mengandung sejumlah pus berbau
menyengat dan nyeri. Apabila abses terletak superficial, maka akan tampak bengkak,
kemerahan, dan nyeri tekan. Nyeri memburuk dengan mengedan, batuk atau bersin, terutama
pada abses intersfingter. Dengan perjalanan abses, nyeri dapat mengganggu aktivitas seperti
berjalan atau duduk.
Abses yang terletak lebih dalam mengakibatkan gejala toksik dan bahkan nyeri
abdomen bawah, serta deman. Sebagian besar abses rectal akan mengakibatkan fistula. Abses
di bawah kulit bisa membengkak, merah, lembut dan sangat nyeri. Abses yang terletak lebih
tinggi di rektum, bisa saja tidak menyebabkan gejala, namun bisa menyebabkan demam dan
nyeri di perut bagian bawah.

Gambar 4. Gambar Klinis Abses Perianal

E. Diagnosa
Pemeriksaan colok dubur dibawah anestesi dapat membanru dalam kasus-kasus
tertentu, karena ketidaknyamanan pasien yang signifikan dapat menghalangi penilaian
terhadap pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Contohnya, evaluasi terhadap abses
ischiorektal yang optimal dapat dilakukan dengan hanya menggunakan pemeriksaan colok
dubur. Dengan adanya obat anestesi, fistula dapat disuntikkan larutan peroksida untuk
memfasilitasi visualisasi pembukaan fistula internal. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan

visualisasi endoskopik (transrektal dan transanal) adalah cara terbaik untuk mengevaluasi
kasus yang kompleks abses perianal dan fistula.
Dengan teknik endoskopik, tingkat dan konfigurasi dari abses dan fistula dapat jelas
divisualisasikan. Visualisasi endoskopi telah dilaporkan sama efektifnya seperti fistulografi.
Jika ditangani dengan dokter yang berpengalaman, evaluasi secara endoskopik adalah
prosedur diagnostik pilihan pada pasien dengan kelainan perirektal karena rendahnya risiko
infeksi serta kenyamanan pasien tidak terganggu. Evaluasi secara endoskopik setelah
pembedahan efektif untuk memeriksa respon pasien terhadap terapi.
Pemeriksaan Laboratorium
Belum ada pemeriksaan laboratorium khusus yang dapat dilakukan untuk
mengevaluasi pasien dengan abses perianal atau anorektal, kecuali pada pasien tertentu,
seperti individu dengan diabetes dan pasien dengan imunitas tubuh yang rendah karena
memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya sepsis bakteremia yang dapat disebabkan dari abses
anorektal. Dalam kasus tersebut, evaluasi laboratorium lengkap adalah penting.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi jarang diperlukan pada evaluasi pasien dengan abses perianal,
namun pada pasien dengan gejala klinis abses intersfingter atau supralevator mungkin
memerlukan pemeriksaan konfirmasi dengan CT scan, MRI, atau ultrasonografi dubur.
Namun pemeriksaan radiologi adalah modalitas terakhir yang harus dilakukan karena
terbatasnya kegunaannya. USG juga dapat digunakan secara intraoperatif untuk membantu
mengidentifikasi abses atau fistula dengan lokasi yang sulit.
F. Tatalaksana
Pada kebanyakan pasien dengan abses anorektal atau perianal, terapi medikamentosa
dengan antibiotik biasanya tidak diperlukan. Namun, pada pasien dengan peradangan
sistemik, diabetes, atau imunitas rendah, antibiotik wajib diberikan.
Abses perirektal harus diobati dengan drainase sesegera mungkin setelah diagnosis
ditegakkan. Jika diagnosis masih diragukan, pemeriksaan di bawah anestesi sering
merupakan cara yang paling tepat baik untuk mengkonfirmasi diagnosis serta mengobati.
Pengobatan yang tertunda atau tidak memadai terkadang dapat menyebabkan perluasan abses
dan dapat mengancam nyawa apabila terjadi nekrosis jaringan yang besar, atau bahkan
septikemia. Antibiotik hanya diindikasikan jika terjadi selulitis luas atau apabila pasien
immunocompromised, menderita diabetes mellitus, atau memiliki penyakit katub jantung.

Namun pemberianantibiotik secara tunggalbukan merupaka penobatan yang efektif untuk


mengobati abses perianal atau perirektal.
Kebanyakan abses perianal dapat didrainase di bawah anestesi lokal di kantor, klinik,
atau unit gawat darurat. Pada kasus abses yang besar maupun pada lokasinya yang sulit
mungkin memerlukan drainase di dalam ruang operasi. Insisi dilakukan sampai ke bagian
subkutan pada bagian yang paling menonjol dari abses. Dog ear" yang timbul setelah insisi
dipotong untuk mencegah penutupan dini. Luka dibiarkan terbuka dan sitz bath dapat dimulai
pada hari berikutnya.
G. Komplikasi
Jika tidak diobati, fistula anus hampir pasti akan membentuk, menghubungkan rektum
untuk kulit. Hal ini memerlukan operasi lebih intensif. Selanjutnya, setiap abses diobati dapat
(dan kemungkinan besar akan) terus berkembang, akhirnya menjadi infeksi sistemik yang
serius. Hal yang paling ditakutkan pada abses perianal adalah terjadinya fistel perianal. Fistel
perianal adalah saluran abnormal antara lubang anus/rektum dengan lubang bekas abses yang
bermuara pada kulit sekitar anus. Muara pada kulit sekitar anus tampak sebagai luka bekas
bisul yang tidak pernah menutup/sembuh dan tidak sakit.
Fistula anorektal terjadi pada 30-60% pasien dengan abses anorektal. Kelenjar
intersfingterik terletak antara sfingter internal dan eksternal anus dan seringkali dikaitkan
dengan pembentukan abses. Fistula anorektal timbul oleh karena obstruksi dari kelenjar
dan/atau kripta anal, dimana ia dapat diidentifikasi dengan adanya sekresi purulen dari
kanalis anal atau dari kulit perianal sekitarnya. Etiologi lain dari fistula anorektal adalah
multifaktorial dan termasuk penyakit divertikular, IBD, keganasan, dan infeksi yang
terkomplikasi, seperti tuberkulosis.

Fistula Perianal
A. Definisi
Fistula perianal adalah saluran abnormal yang dibatasi oleh jaringan granulasi, yang
menghubungkan satu ruang (dari lapisan epitel anus atau rektum) ke ruang lain, biasanya
menuju ke epidermis kulit di dekat anus, tapi bisa juga ke organ lainnya seperti kemaluan
Fistula ani disebut juga fistel perianal atau fistel para-anal. Fistula anorektal (Fistula
ani) adalah komunikasi abnormal antara anus dan kulit perianal. Kelenjar pada kanalis ani
terletak pada linea dentate menyediakan jalur organisme yang menginfeksi untuk dapat
mencapai ruang intramuscular.
B. Fisiologi
Normalnya, kelenjar rektum yang terdapat di kripta antar kolumna rektum berfungsi
sebagai barrier terhadap lewatnya mikroorganisme penyebab infeksi yang berasal dari lumen
usus ke daerah perirektal. Kelenjar ini mengeluarkan semacam lendir, berguna sebagai
pelicin/ lubrikasi. Saluran ini memiliki klep satu arah agar produksi bisa keluar tapi feses
tidak bisa masuk. Terhalangnya jalan keluar produksi dari kelenjar ini akibat stasis
menyebabkan kuman dan cairan feses masuk ke dalam kelenjar. Feses yang banyak
kumannya berkembang biak ke dalam kelenjar, membentuk peradangan yang jadi abses.
Abses akan mencari jalan keluar dan membentuk semacam pipa yang menembus kulit.
Akibatnya, kulit jadi tampak seperti bisul lalu pecah. Pecahan ini tidak bisa menutup karena
nanah selalu keluar dan tidak bisa kering karena berhubungan dengan feses. Kondisi ini bisa
berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
C. Insiden & Epidemiologi
Fistula perianal sering terjadi pada laki laki berumur 20 40 tahun, berkisar 1-3 kasus
tiap 10.000 orang. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses (tapi tidak semua abses
menjadi fistula). Sekitar 40% pasien dengan abses akan terbentuk fistula.
D. Etiologi
Kebanyakan fistula berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadangkadang fistula merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal. Terdapat
sekitar 7-40% pada kasus abses anorektal berlanjut menjadi fistel perianal. Namun lebih
sering penyebabnya tidak dapat diketahui. Organisme yang biasanya terlibat dalam
pembentukan abses adalah Escherichia coli, Enterococcus sp dan Bacteroides sp. Fistula juga

sering ditemukan pada penderita dengan penyakit Crohn, tuberkulosis, devertikulitis, kanker
atau cedera anus maupun rektum, aktinomikosis dan infeksi klamidia. Fistula pada anak-anak
biasanya merupakan cacat bawaan. Fistula yang menghubungkan rektum dan vagina bisa
merupakan akibat dari terapi sinat x, kanker, penyakit Crohn dan cedera pada ibu selama
proses persalinan.
E. Patofisiologi
Hipotesa kriptoglandular menyatakan bahwa infeksi yang pada awalnya masuk
melalui kelenjar anal akan menyebar ke dinding otot sphingter anal menyebabkan abses
anorektal. Abses yang pecah spontan, akhirnya meninggalkan bekas berupa jaringan granulasi
di sepanjang saluran, sehingga menyebabkan gejala yang berulang.
Ruang supralevator berada diatas levator ani dan di sisi rektum ,dimana ruang ini
menghubungkan bagian posterior yang lainnya. Mayoritas penyakit supurativ anorektal
terjadi karena infeksi dari kelenjar anus (cyptoglandular). Kelenjar ini terdapat melintang di
dalam ruang intersphinteric, dan tidak terdapat pada kripte anal yang berada pada kanalis anal
pada daerah garis dentata. Diawali kelenjar anus terinfeksi, sebuah abses kecil terbentuk di
daerah intersfincter. Abses ini kemudian membengkak dan fibrosis, termasuk di bagian luar
kelenjar anus di garis kripte. Ketidakmampuan abses untuk keluar dari kelenjar tersebut
proses purulen meluas sampai perineum, anus atau seluruhnya abses perianal atau
fistula. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses, tapi tidak semua abses menjadi
fistula.

Gambar 5. Perjalanan Abses Perianal Menjadi Fistula Perianal

F. Klasifikasi Fistula Perianal


9

Berdasarkan lokasi internal opening, maka fistula dibagi dalam dua kelompok yaitu :
a) Fistula letak rendah dimana internal opening fistel ke anus terdapat di bawah cincin
anorektal. Fistula letak rendah dapat dibuka tanpa takut adanya resiko inkontinensia
permanen akibat kerusakan bundle anorektal.
b) Fistula letak tinggi dimana internal opening fistel ke anus terdapat di atas cincin
anorektal. Pada fistula letak tinggi dilakukan koreksi bertahap dengan prosedur operasi
yang lebih sulit.
Sistem klasifikasi Parks menjelaskan ada 4 tipe fistula perianal yang terjadi akibat infeksi
kriptoglandular, yaitu:
a) Interspingterika merupakan bentuk fistula yang sering terjadi. Saluran fistel berada di
daerah intersphingterika.
b) Transphingterika, biasanya disebabkan oleh abses isiorektal. Fistula menghubungkan
intersphingtrerika dengan fosa isiorektal oleh adanya perforasi di sphingter eksternal dan
kemudian ke kulit.
c) Suprapshingterika, biasanya merupakan hasil dari abses supralevator. Seperti
Transphingterika tapi saluran berada di atas sphingter eksternal dan ada perforasi di
muskulus levator ani.
d) Ekstrasphingterika. Saluran melewati rektum ke lapisan kulit perineum, fossa isiorektal
melalui m. levator ani dan akhirnya ke dalam anus.

Gambar 6. Sistem Klasifikasi Parks

Hukum Goodsall
Fistula ani terdiri lubang interna dan eksterna. Dengan melihat adanya lubang externa
dapat diperkirakan letak lubang internanya dan salurannya dengan Goodsalls rule. Secara
umum, jika lubang eksterna berada di sebelah anterior dari anal tranversal line maka
10

salurannya berjalan radier membentuk garis lurus. Sebaliknya bila lubang eksterna berada di
sebelah posterior dari anal transversal line maka saluran akan melengkung menuju posterior
midline.

Gambar 7. Goodsall

G. Diagnosa
Anamnesis
Dari anamnesis biasanya ada riwayat kambuhan abses perianal dengan selang waktu
diantaranya, disertai pengeluaran nanah sedikit-sedikit. Pada colok dubur umumnya fistel
dapat diraba antara telunjuk dianus (bukan di rectum) dan ibu jari dikulit perineum sebagai
tali setebal kira-kira 3mm (colok dubur bidigital). Jika fistel agak lurus dapat disonde
sampai sonde keluar di kripta asalnya. Fistel perineum jarang menyebabkan gangguan
sistemik, fistel kronik yang lama sekali dapat mengalami degenerasi maligna menjadi
karsinoma planoseluler kulit. Sering memberikan sejarah yang dapat diandalkan nyeri
sebelumnya, bengkak, dan spontan atau drainase bedah direncanakan dari abses anorektal.
Tanda dan gejala sebagai berikut :

Nyeri pada saat bergerak, defekasi dan batuk


Ulkus
Keluar cairan purulen
Benjolan (Massa fluktuasi)
Pruritus ani
Demam
Kemerahan dan iritasi kulit di sekitar anus
General malaise

Pemeriksaan Fisik

11

Temuan pemeriksaan fisik tetap menjadi andalan diagnosis. Pada pemeriksaan fisik di
daerah anus (dengan pemeriksaan digital/rectal toucher) ditemukan satu atau lebih eksternal
opening fistula atau teraba adanya fistula di bawah permukaan kulit. Eksternal opening
fistula tampak sebagai bisul (bila abses belum pecah) atau tampak sebagai saluran yang
dikelilingi oleh jaringan granulasi. Internal opening fistula dapat dirasakan sebagai daerah
indurasi/ nodul di dinding anus setinggi garis dentata. Terlepas dari jumlah eksternal
opening, terdapat hampir selalu hanya satu internal opening.

Gambar 8. Eksternal Opening Fistula

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada studi laboratorium khusus yang diperlukan; studi pra operasi normal

dilakukan berdasarkan usia dan komorbiditas.


Pemeriksaan Radiologi
-

Fistulografi : Injeksi kontras melalui pembukaan internal, diikuti dengan

anteroposterior, lateral dan gambaran X-ray oblik untuk melihat jalur fistula.
Ultrasound endoanal / endorektal : Menggunakan transduser 7 atau 10 MHz ke
dalam kanalis ani untuk membantu melihat differensiasi muskulus intersfingter dari
lesi transfingter. Transduser water-filled ballon membantu evaluasi dinding rectal

dari beberapa ekstensi suprasfingter.


MRI : MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula kompleks, untuk memperbaiki

rekurensi.
CT- Scan : CT Scan umumnya diperlukan pada pasien dengan penyakit crohn atau
irritable bowel syndrome yang memerlukan evaluasi perluasan daerah inflamasi.

Pada umumnya memerlukan administrasi kontras oral dan rektal.


Barium Enema : untuk fistula multiple, dan dapat mendeteksi penyakit inflamasi

usus.
Anal Manometri : evaluasi tekanan pada mekanisme sfingter berguna pada pasien
tertentu seperti pada pasien dengan fistula karena trauma persalinan, atau pada
fistula kompleks berulang yang mengenai sphincter ani.
12

H. Penatalaksanaan
Tujuan terapi dari fistula ani adalah eradikasi sepsis tanpa menyebabkan inkonstinensia.
Terapi dari fistula tergantung dari jenis fistulanya sendiri. Terapi Konservatif Medikamentosa
dengan pemberian analgetik, antipiretik serta profilaksis antibiotik jangka panjang untuk
mencegah fistula rekuren.
Simple intersphincteric fistula sering diterapi dengan fistulotomy (membuka tract
fistula), kuretase, dan penyembuhan sekunder.
Pada fistula transsphinteric terapi tergantung dari lokasi kompleks sphincter yang
terkena. Bila fistula kurang dari 30% otot sphincter yang terkena dapat dilakukan
sphincterotomy tanpa menimbulkan inkonstinensia yang berarti. Bila fistulanya high
transsphincteric dapat dilakukan dengan pemasangan seton.
Pada fistula suprasphenteric biasanya diterapi juga dengan pemasangan seton.
Pada fistula extrasphincteric terapi tergantung dari anatomi dari fistula, biasanya bila
fistula diluar sphincter dibuka dan didrainase.
Seton digunakan untuk identifikasi tract, sebagai drainase, dan merangsang terjadinya
fibrosis dengan tetap menjaga fungsi dari sphincter. Cutting seton terbuat dari karet yang
diletak pada fistula untuk merangsang fibrosis. Noncutting seton terbuat dari plastic yang
digunakan sebagai drainase.
Beberapa metode telah diperkenalkan untuk mengidentifikasi tract fistula saat berada
di kamar operasi.

Memasukkan probe melalui lubang eksternal sampai ke bukaan internal, atau

sebaliknya.
Menginjeksi cairan warna seperti methylene blue, susu, atau hidrogen peroksida, dan

memperhatikan titik keluarnya di linea dentata.


Mengikuti jaringan granulasi pada traktus fistula.
Memperhatikan lipatan kripta anal saat traksi dilakukan pada traktus. Hal ini dapat
berguna pada fistula sederhana namun kurang berhasil pada varian yang kompleks

Terapi pembedahan:
Fistulotomi : Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit, dibiarkan
terbuka,sembuh per sekundam intentionem. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan

fistulotomi.
Fistulektomi : Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk menyembuhkan

fistula. Terapi terbaik pada fistula ani adalah membiarkannya terbuka.


Seton : Benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula. Terdapat dua macam Seton,
cutting Seton, dimana benang Seton ditarik secara gradual untuk memotong otot
sphincter secara bertahap, dan loose Seton, dimana benang Seton ditinggalkan supaya

13

terbentuk granulasi dan benang akan ditolak oleh tubuh dan terlepas sendiri setelah

beberapa bulan.
Advancement Flap : Menutup lubang dengan dinding usus, tetapi keberhasilannya

tidak terlalu besar.


Fibrin Glue: Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke dalam saluran
fistula yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh tubuh. Penggunaan fibrin
glue memang tampak menarik karena sederhana, tidak sakit, dan aman, namun
keberhasilan jangka panjangnya tidak tinggi, hanya 16%.

Pasca Operasi
Pada operasi fistula simple, pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah operasi.
Namun pada fistula kompleks mungkin membutuhkan rawat inap beberapa hari. Setelah
operasi mungkin akan terdapat sedikit darah ataupun cairan dari luka operasi untuk beberapa
hari, terutama sewaktu buang air besar. Perawatan luka pasca operasi meliputi sitz bath
(merendam daerah pantat dengan cairan antiseptik), dan penggantian balutan secara rutin.
Obat obatan yang diberikan untuk rawat jalan antara lain antibiotika, analgetik dan laksatif.
Aktivitas sehari hari umumnya tidak terganggu dan pasien dapat kembali bekerja setelah
beberapa hari. Pasien dapat kembali menyetir bila nyeri sudah berkurang. Pasien tidak
dianjurkan berenang sebelum luka sembuh, dan tidak disarankan untuk duduk diam berlamalama.
I. Komplikasi
Komplikasi dini pasca operasi, sebagai berikut :
Retensi urin
Pendarahan
Impaksi tinja
Thrombosed wasir
Komplikasi tertunda pascaoperasi, sebagai berikut :
Kambuh
Inkontinensia
stenosis Anal: Proses penyembuhan menyebabkan fibrosis dari lubang anus. Bulking
agen untuk membantu mencegah bangku sempit.
J. Prognosis
Fistel dapat kambuh bila lubang dalam tidak turut dibuka atau dikeluarkan, cabang
fistel tidak turut dibuka, atau kulit sudah menutup luka sebelum jaringan granulasi menempel
permukaan. Setelah fistulotomy standar, tingkat kekambuhan dilaporkan adalah 0-18% dan
tingkat dari setiap inkontinensia tinja adalah 3-7%. Setelah menggunakan Seton, melaporkan
14

tingkat kekambuhan adalah 0-17% dan tingkat dari setiap inkontinensia feses adalah 0-17%.
Setelah flap mukosa kemajuan, tingkat kekambuhan dilaporkan adalah 1-17% dan tingkat
dari setiap inkontinensia feses adalah 6-8%.

15

Perbedaan Abses Perianal dan Fistula Perianal

Definisi

Etiologi
Manifestasi

Tatalaksana

Abses Perianal
Fistula Perianal
infeksi pada kelenjar anal di Terbentuknya saluran yang
sekitar saluran anus
menghubungkan kelenjar anal
yang abses ke permukaan kulit.
Fistula terbentuk setelah
terjadinya abses.
Infeksi oleh bakteri pada Abses perianal, penyakit Crohn,
kelenjar anal
devertikulitis
Bengkak di daerah perianal dan Terdapat open external fistula
nyeri terus menerus.
yang mengeluarkan nanah dan
darah
Insisi dan drainase
Fistulotomi

16

Daftar Pustaka
Grace P, Borley N. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga.Jakarta : Erlangga.
Reksoprodjo S. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara. 2000.
Sabiston D, Oswari J. 1994. Buku Ajar Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Schwartz, Shires, Spencer. 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta :Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Tintinali JE, Stapczynski JS, MA OJ, Cline DM, etc. Tintinalls Emergency Medicine: A
Comprehensive Study Guide, 7th Edition.

17