Sistem Pengkondisian Udara (AC) dan Fungsinya
Sistem Pengkondisian Udara (AC) dan Fungsinya
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan untuk
menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudian
komunikasi dan mobilitas dalam bangunan. Perancangan bangunan harus selalu
memperhatikan dan menyertakan fasilitas utilitas yang dikoordinasikan dengan perancangan
yang lain, seperti perancangan arsitektur, perancangan struktur, perancangan interior dan
perancangan lainnya. Dalam perancangan fasilitas utilitas, seorang arsitek juga harus
memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa faktor di antaranya, kemudahan dalam
penggunaan dan pemeliharaan, kesederhanaan jaringan sistem, kecilnya faktor resiko
crossing antar jaringan, keamanan terhadap pelaku utilitas, dan keamanan terhadap
lingkungan. Sistem utilitas itu sendiri terbagi menjadi beberapa sistem yang menunjang
kinerja bangunan yaitu sistem plambing, sistem sampah, pencahayaan alami, penghawaan
alami, pengkondisian udara (Air Conditioner), dan sistem transportasi (non-mekanis).
Dalam era modern ini, terutama di perkotaan dan daerah yang memiliki curah hujan
yang rendah, sistem utilitas pengkondisian udara (Air Conditioner) seperti sudah menjadi
fasilitas wajib yang harus ada di dalam setiap bangunan, terutama perkantoran dan bangunanbangunan umum seperti rumah sakit, pertokoan atau mall, bioskop, hotel, dan lain-lain.
Udara panas dan cuaca yang membuat gerah menjadi penyebab utama penggunaan
pengkondisian udara (Air Conditioner) tersebut. Udara panas menyebabkan rasa tidak
nyaman untuk beraktifitas. Kondisi ini akan semakin parah apabila orang bekerja atau
beraktifitas di dalam ruang yang tertutup dengan sirkulasi udara yang terbatas. Udara dengan
kelembaban tinggi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, hal ini karena pada kondisi
tersebut orang menjadi mudah berkeringat. Untuk mengatasi kondisi tersebut, udara di dalam
ruangan harus dikondisikan sehingga mempunyai karakteristik yang cocok dengan kondisi
tubuh orang yang menempati ruangan. Di dalam suatu ruangan yang udaranya dikondisikan,
temperatur dan kelembaban udara dapat dikontrol sampai kondisi dimana penghuni ruangan
merasa nyaman. Selain pengkondisian udara (Air Conditioner), sistem yang digunakan untuk
mendinginkan udara lainnya antara lain humidifier (pelembab), fan atau blower. Disamping
1
untuk mengontrol temperatur udara, AC dapat digunakan sekaligus untuk sirkulasi sehingga
kondisi udara tetap bersih. Oleh karena pengkondisian udara (Air Conditioner) seperti sudah
menjadi kebutuhan, seorang perancang juga harus tahu seluk-beluk tentang pengkondisian
udara (Air Conditioner) yang akan dipasang di suatu ruangan. Tujuannya adalah agar kriteria
pengkondisian udara (Air Conditioner) yang dipilih bisa sesuai dengan kriteria ruangan yang
telah dirancang, sehingga ruangan yang digunakan menjadi sejuk dan penghuni pun menjadi
nyaman. Arsitek sebagai perancang rumah dalam penggunaan pengkondisi udara (Air
Conditioner) juga harus bijaksana mengingat pengkondisi udara (Air Conditioner) memiliki
beberapa dampak negatif yang secara tak langsung merusak lingkungan seiring dengan
semakin bertambahnya perkantoran besar serta bangunan-bangunan umum seperti mall,
hotel, rumah sakit, dan sebagainya.
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dari tugas ini adalah setelah mengetahui dan memahami mengenai
sistem AC (Air Conditioner) baik komponen dan struktur, prinsip kerja, jenis-jenis AC,
kelebihan, serta kekurangannya. Mahasiswa diharapkan mampu untuk mengaplikasikan
pengetahuan tersebut baik itu dalam ruang lingkup lingkungan kampus maupun ketika telah
kembali ke masyarakat dan lingkungan kerja nantinya. Adapun membahas kekurangan dan
kelebihan AC (Air Conditioner) sendiri adalah agar kita sebagai mahasiswa yang nantinya
akan terjun ke masyarakat dapat menerapkan penggunaan AC (Air Conditioner) dengan
bijaksana.
1.4 MANFAAT
1.4.1 Untuk Mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai sitem kerja, komponen, layout,
dan kapasitas pengkondisian udara (Air Conditioner)
b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pembuatan makalah dan presentasi
1.4.2 Untuk Dosen
a. Memberi wawasan tambahan kepada Bapak/Ibu dosen mengenai siste kerja,
komponen, layout, dan kapasitas pengkondisian udara (Air Conditioner).
b. Membantu Bapak/Ibu dosen untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa
dalam pembuatan makalah dan presentasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PEMAHAMAN AC
Secara umum pengertian dari AC (Air Conditioner) suatu rangkaian mesin yang
memilik ifungsi sebagai pendingin udara yang berada di sekitar mesin pendingin tersebut.
Secara khusus pengertian dari AC (Air Conditioner) adalah suatu mesin yang di
gunakan untuk mendinginkan udara dengan cara mensirkulasikan gas refrigerant berada
di pipa yang di tekandan di hisap oleh kompresor.
Adapun sebab mengapa gas refrigerant di pilih sebagai bahan yang di
sirkulasikan, yaitu karena bahan ini mudah menguap dan bentuknya bias berubah-ubah,
yang berbentuk cairan dan gas. Panas yang berada pada pipa kondensor berasal dari gas
refrigerant yang di tekan oleh compressor sehingga bahan tersebut menjadi panas dan
pada bagian Automatic Expantion Valve pipa tempat sirkulasi gas refrigerant di perkecil,
sehingga tekanannya semakin meningkat dan pada pipa evaporator menja didingin.
Dalam SNI 03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara Pada Bangunan
Gedung terdapat istilah-istilah yang biasa digunakan berkaitan dengan AC dan beberapa standar
yang digunakan. Berikut adalah isi dari SNI 03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem
Tata Udara Pada Bangunan Gedung.
A. Ruang lingkup
1.
2.
Standar ini diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan,
pembangunan, pengoperasian, pemantauan dan pemeliharaan gedung, khususnya untuk
sistem tata udara dan refrigerasi, untuk mencapai sasaran penggunaan energi yang efisien.
B. Acuan
a). ASHRAE, Standard 90.1: Energy efficiency.
b). BOCA, International Energy Conservation Code, 2000.
c). SNI 03-6197-2000, Konservasi energi sistem pencahayaan pada bangunan
gedung.
C. Istilah dan definisi
Istilah dan definisi berikut berlaku untuk pemakaian standar ini.
1 beda temperatur beban pendinginan (Cooling Load Temperature Difference= CLTD)
beda temperatur ekuivalen yang digunakan untuk menghitung beban pendinginan sesaat
dari dinding atau atap (metoda CLTD).
2 infiltrasi
laju aliran udara tak terkendali dan tidak disengaja masuk ke dalam gedung melalui celah
dan bukaan lainnya dan akibat penggunaan pintu luar gedung. Infiltrasi disebut juga
sebagai kebocoran udara Iuar ke dalam gedung.
3 konduktansi termal (C)
laju aliran kalor konstan melalui suatu bahan akibat perbedaan temperatur antara satu
permukaan ke permukaan pada sisi lainnya, per satuan luas per satuan perbedaan
temperatur.
5
elemen bangunan yang menyelubungi bangunan gedung, yaitu dinding dan atap tembus
atau yang tidak tembus cahaya dimana sebagian besar energi termal, berpindah melalui
elemen tersebut.
14 sistem saluran udara variabel ( Variable Air Volume = VAV )
sistem tata udara yang mengendalikan temperatur bola kering dalam suatu ruangan
dengan mengatur laju aliran udara yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
15 sistem tata udara
keseluruhan sistem yang mengkondisikan udara di dalam gedung dengan mengatur
besaran termal seperti temperatur dan kelembaban relatif, serta kesegaran dan
kebersihannya, sedemikian rupa sehingga diperoleh kondisi ruangan yang nyaman.
16 transmitansi termal
koeffisien perpindahan kalor dari udara pada satu sisi bahan ke udara pada sisi lainnya.
17 ventilasi udara Iuar (Outdoor ventilation)
pemasukan udara segar dari Iuar ke dalam gedung dengan sengaja, untuk menjaga
kesegaran atau kualitas udara.
D. Perhitungan teknis
1. Kondisi perencanaan.
a.
Kondisi udara di dalam ruangan untuk perencanaan dipilih sesuai dengan fungsi
dan persyaratan penggunaan ruangan yang dimuat dalam standar.
b.
Apabila tidak ditentukan dalam standar, secara umum harus digunakan kondisi
perencanaan dengan temperatur bola kering 25C 1 C dan kelembaban relatif
60% 10% untuk kenyamanan penghuni.
c.
Kondisi udara di luar untuk perencanaan harus sesuai standar yang berlaku, atau
digunakan kondisi udara luar dalam standar lain yang disepakati oleh masyarakat
profesi tata udara dan refrigerasi.
c)
menimbulkan
kesalahan
dalam
perhitungan
beban
pendinginan.
b). Oleh karena itu identifikasi bahan bangunan serta memperkirakan nilai
transmitansi termal harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Nilai
transmitansi termal yang dicantumkan dalam berbagai standar Iuar negeri
tidak selalu sesuai dengan bahan yang digunakan pada bangunan gedung
di Indonesia, kecuali kalau bahan tersebut bahan yang diimpor.
B) Beban listrik.
a). Pada gedung komersial seperti perkantoran, beban pendinginan yang
ditimbulkan oleh lampu untuk pencahayaan dan peralatan listrik dalam
ruangan merupakan komponen beban tunggal yang sangat berarti (dapat
berkisar antara 15% sampai 20%).
b). Oleh karena itu perkiraan beban pendinginan yang terinci dari komponen
ini harus dibuat berdasarkan perencanaan sistem listrik untuk setiap
ruangan, tidak boleh digunakan nilai daya listrik per satuan luas Iantai
rata-rata dari seluruh gedung.
c). Ketentuan terinci untuk sistem pencahayaan dalam gedung yang dinilai
hemat energi diatur dalam SNI 03-6197-2000, Konservasi energi sistem
pencahayaan pada bangunan gedung.
C) Beban penghuni
a). Besarnya beban penghuni, walaupun bukan yang terbesar dibandingkan
dengan beban listrik, perlu dicermati polanya karena merupakan salah
satu peluang penghematan energi. Pada gedung kantor misalnya,
biasanya berkisar antara 10% sampai 15%.
b). Pola gerakan penghuni dapat berpengaruh pada beban maksimum
ruangan, sehingga mempengaruhi besamya kapasitas mesin pendingin.
Oleh karena itu penentuan beban penghuni harus dilakukan pula dengan
hati-hati dan kalau perlu memperhatikan pola gerakan atau pola
"kehadiran" penghuni (occupancy) di dalam ruangan.
D) Beban udara luar sebagai ventilasi dan infiltrasi
a). Udara luar yang dimasukkan sebagai ventilasi menimbulkan beban
pendingin sensibel maupun laten yang cukup tinggi. Pada umumnya
untuk gedung kantor dengan standar ventilasi yang benar, komponen
9
beban ini akan mencapai 12% sampai 18% dari beban pendingin
seluruhnya.
b). Walaupun nilainya Iebih kecil dari beban akibat sistem pencahayaan,
namun komponen beban Iatennya menjadi cukup berarti karena beban
laten terutama berasal dari penghuni dan udara luar saja.
c). Oleh karena itu, dalam kondisi yang memungkinkan biasanya diusahakan
untuk mencegah infiltrasi, dengan merencanakan ruangan bertekanan
positip (Iebih besar sedikit) dibandingkan tekanan udara Iuar.
E) Beban selubung bangunan
a). Beban pendinginan yang berasal dari luar melalui selubung bangunan,
misalnya untuk gedung kantor satu Iantai di Indonesia dapat mencapai
40% sampai 50% dari beban pendingin seluruhnya pada waktu terjadi
beban puncak.
b). Agar gedung yang direncanakan dapat memenuhi persyaratan hemat
energi, make pada awal perencanaan perlu dihitung besarnya Nilai
perpindahan termal menyeluruh (Overall Thermal Transfer Value =
OTTV) dan dibandingkan terhadap batas yang ditentukan dalam standar
yang berlaku.
c). Ketentuan ini dinyatakan dalam SNI 03-6197-2000, Konservasi energi
sistem pencahayaan pada bangunan gedung,
d). Apabila nilai yang diperoleh melampaui batas yang ditentukan bagi
gedung hemat energi, maka perlu dilakukan perubahan perencanaan
Arsitektur agar diperoleh nilai yang memenuhi ketentuan untuk gedung
hemat energi.
F) Beban lain-lain dan beban sistem
a). Beban lain-lain dan beban sistem harus diusahakan dapat dihitung atau
diperkirakan cukup teliti, misalnya dengan memeriksa kembali beban
kalor masuk sepanjang saluran udara setelah laju aliran udara dapat
dihitung.
b). Peralatan di dalam ruangan yang bertemperatur lebih rendah dari
temperatur ruang, seperti refrigerated cabvinet, akan menimbulkan beban
10
negatip dalam ruang. Oleh karena itu beban semacam ini perlu dicermati
karena dalam perhitungan akan dapat diperoleh beban ruang maksimum
yang akan lebih dekat dengan keadaan nyata.
3. Metoda perhitungan beban pendinginan
A.
B.
Pemilihan koil pendinginan dan fan peralatan pengolah udara yang paling
mendekati spesifikasi teknis tersebut perlu dilakukan dengan hati-hati
walaupun akan ada kompromi enjinering. Apabila tidak dapat diperoleh koil
yang sesuai dengan spesifikasi teknis dari analisis psikrometrik, maka perlu
dilakukan analisis psikrometrik berikutnya dengan menggunakan data koil
(misalnya bypass factor) yang paling dekat dengan spesifikasi untuk
menjamin bahwa sasaran perencanaan masih dapat dipenuhi.
Pemilihan sistem tata udara pada bangunan gedung komersial harus memperhitungkan
faktor yang mempengaruhi total pemakaian energi selama satu tahun, seperti :
penggunaan gedung tersebut, effisiensi dari peralatan tata udara yang dipakai, beban
pendinginan parsial dari gedung tersebut.
Pemilihan sistem tata udara, termasuk sistem kontrolnya harus memperhatikan dengan
balk karakteristik beban gedung terhadap waktu dalam sehari dan sepanjang tahun, agar
sistem tata udara dapat memberikan respon yang cukup baik pada beban puncak maupun
pada beban parsial. Sistem tata udara harus mampu memberikan respon terhadap
fluktuasi beban akibat kombinasi perubahan jumlah penghuni, beban cuaca, maupun
proses dalam ruangan itu sendin. Sebagai contoh, beban ruangan besar untuk pertemuan
atau rapat mungkin waktunya singkat dan tidak sering terjadi, sedang beban ruang
pengolahan data elektronik biasanya tidak banyak berubah sepanjang hari dan sepanjang
tahun.
Pemilihan peralatan primer dan peralatan sekunder sistem tata udara, serta penentuan
spesifikasinya adalah langkah penting yang ikut menentukan apakah sistem tata udara
secara keseluruhan akan dapat beroperasi dengan effisien atau hemat energi. Karena
peralatan primer dan sekunder tidak dibuat secara spesifik untuk gedung yang
direncanakan, maka akan dilakukan kompromi enjinering dengan memilih peralatan yang
paling dekat dengan spesifikasi yang direncanakan, dengan effisiensi yang terbaik yang
dapat diperoleh.
12
Perlu diusahakan agar dapat diperoleh karakteristik rinci dari peralatan primer dan
sekunder yang dipilih, untuk membuat analisa pemakaian energi pada beban parsial.
Analisa pemakaian energi pada beban parsial diperlukan untuk membuat perhitungan
pemakaian energi perencanaan.
Analisa beban parsial sangat penting untuk memilih jumlah unit chiller yang
kombinasinya paling hemat energi. Analisa beban parsial ini perlu dilakukan untuk
jangka waktu satu hari dan kemudian sepanjang tahun.
Tidak semua gedung yang telah berdiri sebelum standar ini diberlakukan telah
direncanakan dengan pertimbangan akan dilakukan pengukuran pemakaian energi
di kemudian hari. Oleh karena itu, pengukuran energi dan pengukuran beban
pendingin perlu dilakukan dengan tidak mengorbankan ketelitian dan kebenaran
prinsip pengukuran.
b.
Berikut Inl adalah petunjuk untuk sistem tata udara yang umum digunakan pada
gedung.
c.
Pengukuran untuk menghitung COP dilakukan pada mesin refrigerasi. Untuk mesin
refrigerasi yang evaporatornya menghasilkan air sejuk (chilled water), dilakukan
pengukuran kapasitas pendingin pada sisi air sejuk. Sedang untuk mesin refrigerasi
yang evaporatomya menghasilkan udara sejuk dilakukan pada sisi udara. Daya
listrik yang dipakai mesin refrigerasi untuk perhitungan COP adalah daya
kompresor saja.
d.
e.
sama dapat dilakukan pula kepada fan yang karakteristiknya diketahui dari pabrik
pembuatnya dan kondisinya relatif masih baru, sehingga dapat dianggap masih
beroperasi mengikuti kurva karakteristik tersebut.
f.
Seluruh analisa energi bertumpu pada hasil pengukuran, sehingga semua hasil
pengukuran harus dapat diandalkan dan mempunyai kesalahan (error) yang masih
dapat diterima. Oleh karena itu panting untuk menjamin bahwa alat ukur yang
digunakan dapat diandalkan dan telah dikalibrasi dalam batas waktu sesuai
ketentuan yang berlaku. Kalibrasi harus dilakukan oleh pihak yang diberi
wewenang hukum untuk itu.
2 Pengujian
a.
b.
Pengujian effisiensi dapat dilakukan pada sesuatu sub sistem atau sesuatu peralatan
dalam sistem tata udara, untuk memeriksa apakah sub sistem atau peralatan tersebut
masih bekerja dengan effisiensi yang dijamin pabrik. Kalau hasil pengujian
menunjukkan effisiensinya telah berkurang cukup besar, perlu diperiksa untuk
mencari kemungkinan perbaikan atau modifikasi agar dapat diperoleh effisiensi
yang lebih baik.
G. Konservasi energi
1 Tahap perencanaan
a. Sistem Kontrol dan Manajemen Energi
a). Sistem kontrol kapasitas pendingin direncanakan untuk mengatur operasi
peralatan tata udara dan refrigerasi di dalam rantang yang paling effisien atau hemat
energi. Peralatan tata udara dan refrigerasi yang karakteristik kapasitasnya dapat
diatur "mendekati" perubahan beban pendingin umumnya akan dapat beroperasi
dengan effisiensi yang terbalk. Sistem kontrol "On-Off' pada umumnya tidak
dianjurkan untuk konservasi energi karena kurang mampu mengatur kapasitas
sistem tata udara agar "mendekati" perubahan beban pendingin, kecuali pada kasus
tertentu.
14
b). Mesin refrigerasi perlu dipilih yang sudah dilengkapi dengan sistem kontrol
kapasitas, agar dapat dioperasikan kapasitas yang cukup untuk mengatasi beban
dengan masukan daya minimum. Dalam hal digunakan lebih dari satu mesin
refrigerasi pada satu sistem tata udara, perlu dilengkapi dengan sistem kontrol yang
mengatur giliran mesin refrigerasi bekerja serta mengatur kombinasi persentase
beban yang didukung oleh tiap mesin refrigerasi, sehingga dapat diperoleh masukan
energi yang minimum.
c). Pada sisi udara, pengaturan dengan laju aliran udara variabel merupakan salah
satu pilihan terbaik dari segi konservasi energi, namun pengoperasian fan pada
peralatan pengolah udara harus dicermati apakah perlu dilengkapi dengan
pengaturan kecepatan putaran.
d). Pengaturan kapasitas koil juga harus dipertimbangkan dengan hati-hati, baik
koil yang dialiri refrigeran maupun yang dialiri air sejuk. Koil pendingin dialiri air
sejuk yang dilengkapi dengan katup modulasi dua jalan akan menyebabkan pompa
air sejuk beroperasi dengan laju aliran berubah dengan berubahnya beban sehingga
termasuk beroperasi pada daerah yang effisiensinya rendah. Dengan sasaran
konservasi energi maka perlu dicari solusi yang memperbaiki effisiensi pompa pada
daerah operasinya.
e). Untuk sistem dengan air sejuk, perencanaan pompa dengan pengaturan
kecepatan putaran perlu dipertimbangkan untuk mengatur kapasitas pendinginan
pada beban parsial. Sistem semacam ini akan dapat mengoperasikan pompa di
dalam daerah pemakaian energi yang paling rendah dengan beban yang berubah.
f). Sistem manajemen energi perlu direncanakan untuk mengatur operasi
keseluruhan sistem tata udara agar berada dalam daerah yang hemat energi. Sistem
manajemen energi dapat direncanakan bahkan dapat sampai mencakup pengaturan
penyalaan lampu di dalam ruangan serta pemasukan udara ventilasi.
2 Tahap pengoperasian
a. Mesin refrigerasi
a). Jangka waktu operasi mesin refrigerasi dapat dikurangi, misalnya dengan
memanfaatkan besarnya masa air sejuk yang berfungsi sebagai semacam
penyimpan energi dingin.
15
b). Selain jangka waktu beban parsial perlu dicari kombinasi operasi unit jamak
(multiple units) yang akan menuntut masukan energi yang paling rendah
(multichiller, atau multi compressor pada satu chiller).
c) Dengan memperhatikan karakteristik pompa distribusi air sejuk, dicari setting
laju aliran. air keluar chiller minimum yang masih diijinkan sesuai ketentuan pabrik
pembuat chiller, sekaligus dengan memperhatikan rentang kenaikan suhu dalam
chiller.
b. Sistem distribusi udara dan air sejuk
a) Pada sistem tata udara dengan. air sejuk, perlu dicari upaya agar laju aliran air
sejuk minimal, kalau pompa distribusi air sejuk menunjukkan karakteristik daya
masukan rendah pada laju aliran air rendah.
b) Secara umum. infiltrasi udara Iuar perlu dicegah karena akan sulit
mengendalikan kondisi ruang sesuai yang direncanakan.
c. Beban Pendingin
a). Menaikkan setting temperatur ruang sampai batas maksimum yang masih berada
di dalam zona nyaman (comfort zone).
b). Berdasarkan rekaman pemakaian energi dicari jam pengoperasian AHU dan
FCU yang paling hemat energi.
c). Beban dalam ruangan yang dapat dimatikan tanpa mengganggu fungsi ruangan
merupakan salah satu peluang penghematan energi yang paling mudah, misalnya
mematikan lampu pada zona.eksterior slang hari jika pencahayaan alami sudah
cukup memadai.
3 Tahap pemeliharaan dan perbaikan
Pada pemeliharaan dan perbaikan, secara umum yang perlu diperhatikan untuk
penghematan energi terutama adalah menjaga agar kondisi pertukaran kalor dapat
berlangsung dengan baik, dengan menjamin tahanan kalor yang kecil.
a)
Pada kondenser perlu dilakukan pembersihan yang teratur pada sisi fluida
pendinginnya; kondenser berpendingin udara perlu pembersihan sirip pada
sisi udara, dan pada kondenser berpendingin air perlu pembersihan pipa air
dari kerak agar tidak terlalu tebal.
16
b)
Untuk kondenser berpendinginan udara, aliran udara luar perlu dijaga agar
cukup dan tidak terhalang, serta tidak terjadi "hubung pendek" antara aliran
udara keluar dari kondenser dengan aliran udara yang akan masuk
kondenser.
c)
Pada kondenser berpendinginan air maka sistem air pendingin perlu dijamin
kebersihan dan kelancarannya, mulai dari menara pendingin (cooling tower)
sampai pompa sirkulasi air kondenser.
d)
Pada masa pemeliharaan, perlu diperiksa apakah nilai EER atau kW/TR
mesin refrigerasi masih mendekati nilai yang dijamin oleh pabrik.
b. Sistem distribusi
Pemborosan energi dapat terjadi di berbagai bagian sistem tata udara, sepanjang
perjalanan kalor dari mulai sumbernya di ruangan sampai mencapai evaporator
pada mesin refrigerasi.
a)
Isolasi pipa air sejuk, pipa refrigeran dan ducting udara perlu diperiksa dan
diperbaiki untuk mencegah kebocoran kalor lebih banyak.
b)
Koil penukar kalor pada AHU dan FCU perlu dibersihkan dan dirapihkan
("disisir") untuk menjamin proses pertukaran kalor yang baik.
c)
4 Modifikasi
Modifikasi sistem tata udara dalam upaya penghematan energi dapat dilakukan sebagai
langkah terakhir apabila setelah dilakukan segala upaya pada waktu operasi dan pada tahap
pemeliharaan masih belum dicapai nilai pemakaian energi spesifik yang diinginkan.
H. Rekomendasi
1 Sistem dan peralatan tata udara yang sederhana.
a.
Jenis unitari (unitary) atau unit paket (packaged unit) yang digunakan pada gedung
komersial dengan satu alat kontrol temperatur (thermostat) untuk mengontrol
17
ruangan atau daerah yang dilayani peralatan tata udara merupakan sistem dan
peralatan tata udara yang sederhana.
b.
Kapasitas pendinginan dari peralatan tata udara sistem ini harus dapat mengatasi
beban pendinginan yang telah dihitung pada perhitungan beban pendinginan, serta
kapasitas peralatan tata udara ini tidak boleh melebihi beban pendinginan yang
telah dihitung.
c.
Peralatan tata udara ini direkomendasikan untuk memenuhi effisiensi minimum dan
kriteria seperti ditunjul kan pada tabel 8.1.3. Effisiensi ini harus diuji kebenarannya
melalui data yang diberikan oleh pabrik pembuat dengan sertifikasi melalui cara
pengetesan dan pengujian yang telah diakui.
Tabel 1 :
Effisiensi minimum dari peralatan tata udara unitari atau unit paket yang
dioperasikan dengan listrik
Catatan :
1 Btu/jam = 0,2931 W = 0,252 kKal/jam,
1 TR = 12.000 Btu/jam = 3517,2 W.
COP = Coefficient of Performance.
EER = Energy Efficiency Ratio.
ARI = Air Conditioning and Refrigeration Institut.
Daya listrik adalah daya listrik kompressor dan fan untuk pendinginan udara.
18
Sistem chiller ini digunakan untuk gedung komersial dengan kapasitas pendinginan
lebih besar dari 600.000 Btu/jam ( 176 kW). Sistem ini memakai media air sejuk
yang disalurkan dengan pompa ke koil pendingin di Fan Coil Unit (FCU) untuk
ruangan yang kecil atau di AHU (Air Handling Unit) untuk ruangan yang beda atau
daerah yang luas.
b)
Kapasitas pendinginan dari peralatan tata udara ini (chiller) tidak boleh melebihi
kapasitas perhitungan beban pendinginan yang telah dihitung, kecuali:
a). diperlukan peralatan pengganti (standby) dan sistem dilengkapi oleh alat
pengatur yang dapat mengoperasikan secara otomatis apabila peralatan utama tidak
beroperasi.
b). Unit ganda yang mempunyai tipe peralatan yang sama dengan total kapasitas
pendinginan yang melebihi perencanaan beban pendinginan dan dilengkapi dengan
alat kontrol yang mempunyai kemampuan untuk mengatur pengoperasian masingmasing unit berdasarkan beban pendinginan;
c)
d)
Bila beban rancangan melebihi 1.700.000 Btu/jam (500 kW) dan jika ditetapkan
bahwa sistem tata udara menggunakan mesin refrigerasi jenis
-
sentrifugal, maka peralatannya harus terdiri dari dua mesin refrigerasi atau
lebih untuk melayani beban.
e)
Peralatan tata udara chiller ini harus memenuhi persyaratan dengan effisiensi
minimum seperti ditunjukkan. pada tabel 8.2.5, apabila dilakukan pengetesan sesuai
cara pengetesan yang telah disetujui. Effisiensi ini harus diuji kebenarannya melalui
19
data yang diberikan oleh pabrik pembuat dengan sertifikasi melalui cara pengetesan
dan pengujian yang telah diakui.
Tabel 2
Effisiensi minimum dari Chiller paket yang dioperasikan dengan listrik
Catatan :
1 Btu/jam =0,2931 W = 0,252 kkal/jam
1 TR =12.000 Bturjam = 3517,2 W.
COP = Coefficient of Performance.
EER = Energy Efficiency Ratio.
ARI = Air Conditioning and Refrigeration Institute.
Daya listrik adalah daya listrik kompressor dan fan untuk pendinginan udara.
3 Sistem Fan
Rancangan sistem fan harus memenuhi ketentuan
a.
untuk sitem fan dengan.volume tetap, daya yang dibutuhkan motor pada sistem fan
gabungan tidak melebihi 1,36 W/ (m3 /jam).
b.
untuk sistem fan dengan volume aliran berubah, daya yang dibutuhkan motor untuk
sistem fan gabungan tidak melebihi 2,12 W/(m3/jam).
c.
setiap fan pada sistem volume aliran berubah atau VAV (Variable Air Volume)
dengan motor 60 kW atau lebih, harus memiliki kontrol dan peralatan yang
diperlukan agar fan tidak membutuhkan daya lebih dari 50% daya rancangan pada
50% volume rancangan berdasarkan data uji;
d.
ketentuan butir 8.3.1, 8.3.2 dan 8.3.3 tidak berlaku untuk fan dengan daya lebih
kecil dari 7,5 kW pada aliran rancangan.
4 Sistem pompa
20
Catatan :
1) bila pipa berada di lingkungan ambien perlu ditambah isolasi 12 mm.
2) tebal isolasi perlu ditambah bila ada kemungkinan terjadi kondensasi permukaan.
3) tebal isolasi ini berlaku untuk bahan dengan resistansi termal 28 hingga 32 m2.K/W
per meter
tebal isolasi pada temperatur rata-rata permukaan 2400. berlaku untuk tarikan sambungan
pipa ke unit-unit terminal atau koil pendingin hingga panjang 4 meter.
21
d).untuk bahan dengan resistansi termal lebih kecil dari 28 M2 K/W per meter, tebal
isolasi dihitung dengan
dimana
t
6 Isolasi ducting
Isolasi bagi sistem ducting (saluran udara), diharuskan memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a), semua ducting dan plenum yang terpasang sebagai bagian dari sistem ducting
harus diberi isolasi termal;
b), besarnya resistansi termal bahan isolasi ditentukan oleh rumus berikut:
dimana
T = beda temperatur rancangan antara udara dalam ducting dengan udara
sekeliling ducting, dalam K. Resistansi R terhitung tidak mencakup
resistansi film luar maupun dalam.
2.2 BAGIAN-BAGIAN AC DAN FUNGSINYA
a) Compressor (komfersi).
22
b) Recervoir.
Yaitu berfungsi untuk manyimpan gas dari condensor sebelum di alirkan ke
compressor.
c) Condensor (penguapan)
Berfungsi untuk tempa tpembuangan temperatu rpanas
23
Gambar 4 Condensor
Sumber : Google.com
d) Evaporator (pengembunan)
Berfungsi untuk tempat pembuangan temperatur dingin
Gambar 5 Evaporator
Sumber : Google.com
e) Filter Dryer.
Berfungsi sebagai penyaring sisa-sisa kotoran gas dan oli
24
2.3 JENIS-JENIS AC
1. AC CENTRAL
Pengertian Sistem AC Sentral (Central) merupakan suatu sistem AC dimana
proses
pendinginan
udara
terpusat
pada
satu
lokasi
yang
kemudian
Chiller, Unit pengatur udara atau Air Handling Unit (AHU), Cooling Tower, system
pemipaan, system saluran udara atau ducting dan system control & kelistrikan.
Komponen AC Sentral Ruangan :
Chiller adalah mesin refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi
evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke mesin
penukar kalor ( FCU / Fan Coil Unit ).
Berdasarkan sistem pendinginannya Chiller dibagi menjadi:
a. Air Cooled Chiller
dingin unit utama diatas, keruangan yang akan dikondisikan. Udara dingin yang
masuk kedalam ruangan dari AHU ini diatur dengan diffuser yang ada disetiap
ruangan, Atau kadangkadang dengan pipa-pipa langsung keruangan melalui alat
kipas koil (Fan coil unit) atau disingkat FCU. Dalam desain gedung, bila
menggunakan air cooled chiller perlu diperhatikan lokasi dan luas atap beton untuk
penempatan unit-unit chillernya. Yang sering kurang diperhatikan dalam desain atap
untuk air cooled chiller adalah akses untuk pemeliharaan unit tersebut. Ada kalanya
terjadi perubahan desain dari water cooled chiller ke air cooled chiller, karena
terutama masalah waktu instalasi ataupun keadaan air setempat.
dengan kemampuan mesin & temperature yang diharapkan. Air dingin dari mesin
Water chiller ini di pompa menuju media yang di dinginkan, seperti Matras Mesin
moulding, Transformator, SCR Tig Welding Dll. setelah melewati Media yang di
kehendaki, air kembali menuju ke bak pendinginan untuk di dinginkan oleh
evaporator. di dinginkan dalam bak oleh evaporataor, air kembali di pompa menuju
media yang dikehendaki. Water chiller mulai dengan cairan dijalankan melalui
kompresor, yang menyebabkan cairan untuk bepergian bersama sistem perpipaan dan
menyerap panas dari sumber yang dikehendaki. Hal ini kemudian pergi ke
evaporator, di mana ia berubah menjadi gas dan menyebarkan panas ke atmosfer.
Kemudian berjalan melalui kondensor, yang mengubah kembali menjadi cair dan
mengirimkannya kembali ke kompresor.Perangkat metering digunakan untuk
mengatur aliran air dan suhu kontrol. Siklus kompresi uap dapat menangani sampai
dua ratus ton cairan pada satu waktu, dan dapat mendinginkan mesin besar atau
kondisioner rumah tangga tunggal udara. Mesin refrigerasi dengan pendinginan air,
pada umumnya ditempatkan dalam lantai bawah (basement) suatu bangunan. Dalam
desain yang perlu diperhatikan adalah ventilasi keruangan chiller harus dihitung
dengan baik, agar ruangan tersebut jangan menjadi neraka bagi pengerjanya.
Perbedaan antara Air Cooled Chiller dan Water Cooled Chiller.
1. Air Cooled Chiller :
Efisiensi rendah
Effisiensi tinggi
28
29
Prinsip kerja secara sederhana pada AHU (air handling unit) ini adalah dengan
menghisap udara dari ruangan (return air) yang kemudian di campur dengan udara segar dari
lingkungan (fresh air) dengan komposisi yang bisa diubah ubah. Campuran tersebut masuk
menuju AHU melewati filter, coil pendingin, dan fan (blower), setelah itu udara yang telah
mengalami penurunan temperatur didistribusikan secara merata ke setiap ruangan melewati
saluran udara (ducting) yang telah dirancang terlebih dahulu sehingga lokasi yang jauh bisa
terjangkau dan merata.
30
Prinsip kerjanya adalah udara dihembuskan ke menara oleh sebuah fan yang
terletak pada saluran udara masuk sehingga terjadi kontak langsung dengan air yang
jatuh.
31
Prinsip kerjanya:
a.
b.
Udara masuk dari salah satu sisi (menara aliran tunggal) atau pada sisi yang
berlawanan (menara aliran ganda).
c.
Fan mengalirkan udara melintasi bahan pengisi menuju saluran keluar pada
puncak menara.
Prinsip kerjanya:
32
a. Air panas masuk pada puncak menara, melalui bahan pengisi (Filler)
b. Udara masuk dari samping menara melewati Filler, sehingga
terjadi kontak
33
2) Filler berbentuk film : terdiri dari permukaan plastik yang tipis dengan
jarak yang berdekatan dimana di atasnya terdapat semprotan air,
membentuk lapisan film yang tipis dan melakukan kontak dengan
udara. Permukaannya dapat berbentuk datar bergelombang, berlekuk,
atau pola lainnya. Jenis film Filler lebih efisien dan memberikan
perpindahan panas yang sama dalam volume yang lebih kecil daripada
Filler jenis splash.
34
c. Pond
Pond terletak pada bagian bawah menara dan menerima air dingin yang mengalir
turun melalui menara dan Filler. Pond biasanya memiliki sebuah lubang atau titik
terendah untuk pengeluaran air dingin.
d. Drift eliminator
Alat ini menangkap tetesan air yang terjebak dalam aliran udara agar tidak hilang
ke atmosfer.
35
e. Louvers
Kegunaan louvers adalah titik masuk bagi udara menuju menara. Saluran masuk
ini dapat berada pada seluruh sisi menara.
36
f. Nosel/Sprinkler
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi Filler.
g. Fan
Fan digunakan di dalam menara untuk mengeluarkan udara panas yang ada di
dalam tower dan untuk menghisap udara dari luar melalui louvers.
h. Make-up Water
Air make-up memiliki pengaruh yang besar pada cooling tower karena mencegah
timbulnya mikroorganisme atau hal lainnya yang membawa beberapa komponen
yang dapat mengakibatkan timbulnya deposit maupun korosi. Make-up water
biasanya dilengkapi dengan Filter Water Sistem.
Prinsip kerja Cooling Tower:
Cooling tower ini menggunakan Fan / kipas untuk menghisap udara. Udara
dihisap melalui louver/pengarah dari samping masuk ke dalam
Cooling
Tower
kemudian dihisap ke atas. Udara dingin ini mengalami kontak langsung dengan air
panas yang jatuh dari Nozel/Sprinkler atas
menuju kolam
bawah,
sebelumnya disemprot dari Nozel/Sprinkler ke bawah melewati filler. Udara panas akan
dihembuskan kembali ke atmosfir oleh fan lewat bagian atas cooling tower. Air dingin
yang telah melewati kontak dengan udara dan filler akan berkumpul di bak penampung
37
(pond) di bagian
lagi ke kondensor.
Ada dua sistem AC Central yang ada di pasaran saat ini yaitu :
a. Sistem Air dan Sistem Freon.
Pada sistem air, media pembawa dingin yang berjalan dalam pipa distribusi
adalah air / water. Sedangkan pada sistem freon, media yang dipakai untuk membawa
dingin adalah freon.
Sistem air
Memiliki kelebihan dapat digunakan dalam skala yang besar / gedung bertingkat atau
mall yang berukuran besar. Sedangkan Sistem freon hanya dapat dipakai dalam
sistem yang tidak terlalu besar / jauh jaraknya antara unit indoor dan outdoor.
Sistem Freon
Pada sistem freon, unit AC Central yang dikenal biasa disebut dengan Split Duct.
Prinsip kerjanya hampir sama dengan sistem ac split biasa, akan tetapi lubang
udaranya menggunakan sistem ducting / pipa dan pada tiap-tiap keluaran udaranya
menggunakan diffuser. Untuk mengatur besar kecilnya udara yang keluar digunakan
damper.
Split Duct
38
fan
merupakan kipas/blower
sentrifugal
yang
berfungsi
untuk
pendingin. Setelah itu udara yang telah mengalami penurunan temperatur didistribusikan
secara merata ke setiap ruangan melewati saluran udara (ducting) yang telah dirancang
terlebih dahulu sehingga lokasi yang jauh sekalipun bisa terjangkau.
Beberapa kelemahan dari sistem ini adalah jika satu komponen mengalami
kerusakan dan sistem AC sentral tidak hidup maka semua ruangan tidak akan merasakan
udara sejuk. Selain itu jika temperatur udara terlalu rendah atau dingin maka
pengaturannya harus pada termostat di koil pendingin pada komponen AHU.
Dari penjelasan diatas, jelas sistem AC Sentral sangat berbeda dengan AC Split
baik dari segi fungsi maupun dari segi instalasi. Istilah Sistem AC Sentral (Central)
diperuntukkan untuk instalasi AC di satu gedung yang tidak memiliki pengatur suhu
sendiri-sendiri (misalnya per ruang). Semua dikontrol di satu titik dan kemudian hawa
dinginnya didistribusikan dengan pipa ke ruangan-ruangan. Dengan AC Central yang bisa
dilakukan cuma mengecilkan dan membesarkan lubang tempat hawa dingin AC masuk ke
ruang kita. Contoh AC Central adalah di mall, gedung mimbar, gedung perkantoran yang
luas atau di dalam bis ber-AC.
4
40
2.3 Debu/kotoran luar dibersihkan dengan cairan pembersih tanpa merusak bahan
mesin.
2.4 Filter udara, evaporator dan kondensor dengan kompresor udara hisap dibersihkan
setelah diberi disinfectan dan cairan pembersih.
2.5 Deposit yang sulit dan melekat pada dinding penukar kalor dibersihkan dengan
cara kimia atau fisis sesuai dengan prosedur yang ditentukan
2.6 Kebocoran pipa diidentifikasi dan segera diperbaiki
2.7 Kesalahan kerja peralatan diidentifikasi dan dicari sumber kesalahan kerja alat
tersebut.
2.8 Alat ukur, alat kontrol dan asesori diperiksa dan dilakukan perawatan yang
diperlukan.
3. Merawat dan memperbaiki mesin AC Sentral sesuai ketentuan
3.1 Sebelum dilakukan pembongkar mesin terlebih dahulu dilakukan pengeluaran
refrijeran.
3.2 Bagian dalam mesin dibersihkan dengan metode vakum bagian dalam sesuai
prosedur yang ditentukan.
3.3 Katub ekspansi atau pipa kapiler ekspansi dibersihkan dengan kompresor udara.
3.4 Desican dibersihkan, direkondisi dan dimasang kembali sesuai prosedur yang
ditentukan
3.5 Nosel pengkabut refrijerran dibersihkan dan dipasang kembali tanpa merusak alat
sesuai ketentuan
3.6 Alat ukuir, alat kontrol, alat pengaman listrik dan asesori lainnya diperiksa,
kerusakan diperbaiki dan dipasang kembali sesuai ketentuan
3.7 Peralatan rusak yang tidak mungkin diperbaiki diganti dengan alat baru serta
dipasang kembali tanpa adanya kerusakan alat
3.8 Untuk mengganti alat yang rusak sesuai spesifikasinya dilakukan pengadaan
barang.
3.9 Dijaga agar refriferan cair dan pelumas tidak masuk kedalam kompresor.
3.10 Kelengkapan pemasangan mesin diperiksa dan dilakukan re-instal untuk
meyakinkan bahwa bekerja dengan baik. sistem sudah dapat
41
3.11 Semua pekerjaan dilaksanakan dengan tidak ada kesalahan berarti dan tidak
mengulangi pekerjaan.
3.12 Semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam
kontrak kerja.
4. Mengevaluasi dan memeriksa hasil perawatan
4.1 Selama pekerjaan berlangsung kualitas hasil pekerjaan selalu diperiksa agar tidak
terjadi pengulangan pekerjaan.
4.2 Bila terjadi penyimpangan/masalah harus didiskusikan dengan pimpinan atau
seorang ahli yang berwenang sesauai prosedur yang berlaku.
4.3 Semua kejadian perawatan dan perbaikan dicatat dengan teliti dalam buku
perawatan mesin bersangkutan dan diperkirakan jadual perawatan selanjutnya.
4.4 Hasil pekerjaan diperiksa dengan seksama di akhir pekerjaan untuk meyakinkan
sesuai dengan yang diharapkan
4.5 Dibuat laporan hasil pekerjaan kepada pemberi kerja sesuai dengan tugasnya
2. AC SPLIT
43
AC Split adalah seperangkat alat yang mampu mengkondisikan suhu ruangan sesuai
yang kita inginkan, terutama mengkondisikan suhu ruangan menjadi lebih rendah
suhunya dibanding suhu lingkungan sekitarnya.AC Split memiliki desain yang terdiri dari
eksternal unit outdoor yang didalamnya terdapat compressor AC dan indoor unit.
Penggunaan AC Split tergantung pada fungsi dari suatu ruangan, biasanya digunakan
pada rumah hunian, akan tetapi tidak jarang pula digunakan pada bangunan seperti
apartemen, hotel, dan lain sebagainya tergantung pada manajemen suatu fungsi bangunan
tersebut.
A. SISTEM KERJA AC SPLIT
Prinsip kerja AC Split maupun pada mesin pendingin model lainnya adalah sama
yaitu menyerap panas udara didalam ruangan yang didinginkan, kemudian melepaskan
panas keluar ruangan. Pada Air Conditioner udara rungan terhisap disirkulasikan secara
terus menerus oleh blower (pada indoor unit) melalui sirip evaporator yang mempunyai
suhu yang lebih dingin dari suhu ruangan, saat udara ruangan bersirkulasi melewati
evaporator, udara ruangan yang bertemperatur lebih tinggi dari evaporator diserap
panasnya oleh bahan pendingin/refrigeran (evaporator), kemudian calor yang diterima
evaporator dilepaskan ke luar ruangan ketika aliran refrigeran melewati condenser (unit
outdor).
Jadi, temperatur udara yang rendah atau dingin yang kita rasakan pada ruangan
sebenarnya adalah sirkulasi udara di dalam ruangan, bukan udara yang dihasilkan oleh
perangkat AC Split. Unit AC hanyalah tempat bersikulasinya udara ruangan yang
sekaligus menangkap kalor (panas) pada udara ruangan yang bersirkulasi melewati
evaporator hingga mencapai temperatur yang diinginkan.
B. KOMPONEN AC SPLIT
1. Bagian Indoor
Pada AC Split pada bagian indoor unit AC Split umumnya terdapat komponen utama
yaitu:
a. Evaporator
44
Gambar 9 Evaporator
Sumber : google.com
Pada mesin pendingin AC Split evaporator terbuat dari pipa tembaga dengan
panjang dan diameter tertentu yang di bentuk berlekuk lekuk agar menghemat
tempat dan lebih efektif menyerap panas dari udara ruangan yang bersirkulasi
melaluinya. Karena pipa evaporator dilewati refrigerant yang memiliki suhu yang
sangat rendah, maka suhu evaporator mejadi rendah (dingin) dengan kisaran suhu
hingga mencapai 5C dengan begitu, suhu udara ruangan akan menjadi rendah
(dingin) ketika melewati evaporator.
Sumber : google.com
Motor Blower berfungsi untuk mensirkulasikan udara dalam ruangan, sehingga
udara ruangan dapat bersirkulasi melewati evaporator, setelah udara melewati
evaporator aliran udara di arahkan ke ruangan oleh pengatur aliran udara (motor
Stepper). Blower akan bekerja sampai temperatur udara ruangan sesuai keinginan.
Dengan kata lain blower akan berhenti kerja (Off) ketika temperatur udara ruangan
mencapai suhu yang kita inginkan (setting suhu pada pengaturan remote kontrol AC
Split).
c. Saringan ( filter ) Udara
2. Bagian Outdoor
Pada bagian outdoor AC Split secara umum terdapat terdapat komponen utama, yaitu:
46
a. Kondensor
Gambar 12 Kondensor
Sumber : google.com
Ketika refrigeran keluar melewati bagian indoor AC Split (evaporator), kalor
(panas) udara ruangan yang terbawa akan dilepaskan di bagian kondensor. Serupa
dengan evaporator, kondensor terbuat dari pipa tembaga yang dibuat berkelok kelok
dan dilengkapi sirip sirip yang bertujuan untuk melepas kalor udara berjalan dengan
efektif dan kalor (panas) udara yang terbawa oleh refrigerant (Freon) lebih cepat
dilepaskan atau dibuang ke udara bebas (luar ruangan).
b. Kipas
Pada bagian kondensor AC Split juga dilengkapi dengan kipas (fan). Fungsinya
adalah membuang panas pada condensor ke udara bebas.
c. Accumulator
Accumulator pada mesin pendingin berfungsi sebagai penampung sementara
refrigeran cair bertemperatur rendah dan campuran minyak pelumas evaporator.
Selain itu, accumulator berfungsi mengatur sirkulasi aliran bahan refrigeran agar bisa
keluar-masuk melalui saluran isap kompresor. Untuk mencegah agar refrigeran cair
tidak mengalir ke kompresor, accumulator mengkondisikan wujud refrigeran yang
masuk ke kompresor tetap dalam wujud gas. Sebab, ketika wujud refrigeran
berbentuk gas akan lebih mudah masuk ke dalam kompresor dan tidak merusak
bagian dalam kompresor.
d. Kompresor
47
Gambar 13 Kompresor
Sumber : google.com
Kompresor AC Split berfungsi mensirkulasikan aliran refrigeran. Dari
kompresor refrigerant (Freon) akan dipompa dan dialirkan menuju komponen utama
AC Split yaitu: kondenser, pipa kapiler, evaporator dan kembali lagi ke kompresor.
Refrigeran secara terus menerus melewati 4 komponen utam AC.
e. Saringan Refrigeran (strainer)
Setelah melepaskan kalor (panas) di kondensor, refrigeran akan dipompa oleh
kompresor menuju ke filter (strainer) Agar kotoran yang terbawa oleh refrigeran tidak
ikut terbawa ke pipa kapiler. Jika kotoran (seperti karat atau serpihan logam) terbawa
kedalam pipa kapiler, bisa menyebabkan kerusakan kompresor dan penyumbatan
yang menyebabkan sistem pendingi tidak bekerja optimal.
f. Pipa Kapiler
Sumber : google.com
Pipa Kapiler / Katup ekspansi pada unit AC Split berfungsi menurunkan tekanan
refrigeran sehingga merubah wujud refrigerant cair menjadi uap ketika zat pendingin
meninggalkan katup ekspansi / pipa kapiler dan memasuki evaporator.
g. Refrigant /Freon /Bahan Pendingin
Pada AC Split Refrigeran (Freon) merupakan zat atau bahan yang bersikulasi
secara terus menerus melewati komponen utama sistem pendingin (kompresor,
kondenser, pipa kapiler, dan evaporator). Bahan pendingin atau refrigeran tidak akan
berkurang selama tidak terjadi kebocoran pada sitem pendingin. Saat melewati
komponen utama pendingin, refrigeran akan mengalami perubahan wujud, temperatur
dan tekanananya. Sirkulasi refrigeran dalam unit AC disebut siklus refrigerasi kopresi
uap.
pada refrigeran dapat dengan mudah dipindahkan ke udara luar. Setelah melewati
proses kondensai, refrigeran menjadi berwujud cair yang bertemperatur lebih rendah,
tetapi tekanannya masih tinggi. Selanjutnya, refrigeran di alirkan menuju ke pipa
kapiler.
3. Proses Penurunan Tekanan.
Proses penurunan tekanan refrigeran dimulai ketika refrigeran meninggalkan
kondenser. Didalam pipa kapiler, terjadi proses penurunan tekanan refrigeran
sehingga refrigeran yang keluar memiliki tekanan yang rendah. Selain itu, pipa
kapiler juga berfungsi mengontrol aliran refrigeran di antara 2 sisi tekanan yang
berbeda, yaitu tekanan tinggi dan rendah. Selanjutnya, refrigeran cair yang memiliki
suhu dan tekanan rendah di alirkan menuju evaporator. Proses ini disebut proses
pendinginan.
4. Proses Evaporasi.
Proses evaporasi pada mesin pendingin dimulai ketika refrigeran akan masuk ke
dalam evaporator. Dalam keadaan ini, refrigeran berwujud cair, bertemperatur
rendah, dan bertekanan rendah. Kondisi refrigeran semacam ini dimanfaatkan untuk
mendinginkan udara luar yang melewati permukaan evaporator. Agar lebih efektif
mendinginkan udara ruangan, di gunakan blower (indoor) untuk mengatur sirkulasi
udara agar melewati evaporator. Proses yang terjadi pada pendinginan udara ruangan
Adalah : Proses penangkapan kalor (panas). Udara ruangan yang mempunyai
temperatur lebih tinggi dibandingkan dengan refrigeran yang mengalir didalam
evaporator. Karena evaporator menyerap panas udara di dalam ruangan, wujud
refrigeran cair dalam evaporator akan menjadi wujud gas, Selanjutnya, refrigeran
akan mengalir menuju ke kompresor . Proses ini terjadi berulang dan terus menerus
sampai suhu atau temperatur ruangan sesuai dengan keinginan
mudah dan pada beberapa merk AC, satu unit outdoor dapat digunakan pada sampai
dengan empat unit indoor. Karena pipa conduit dibeli terpisah dan di pasaran tersedia
pada berbagai ukuran panjang maka kita dapat mengatur penempatan unit indoor dan
unit
outdoor
terpisah
pada
jarak
tertentu
dalam
kisaran
yang
masih
direkomendasikan.
Berbagai pilihan unit indoor, apakah berupa AC split wall mounted, model ceiling
mounted atau AC floor standing. Sepertinya semua pabrikan AC split telah
melengkapi produknya dengan remote control sehingga ini membantu kita untuk
mengoperasikannya.
2. Kekurangan AC Split
-
Biasanya satu unit indoor sudah cukup untuk mendinginkan suatu ruangan namun ini
tergantung juga pada iinsulasi, cahaya matahari yang diterima ruangan tersebut,
penggunaan peralatan listrik dan jumlah orang didalam ruangan. Jika kebutuhan BTU
ternyata besar, maka ada pilihan untuk menggunakan lebih dari satu unit untuk satu
ruangan. Karena compressor AC terletak di unit outdoor sehingga AC split relatif
tidak menimbulkan suara didalam ruangan.
Penggunaan AC Split tidak cocok untuk ruangan yang luas ataua gak terbuka karena
akan membutuhkan banyak titik penempatan dan pemborosan listrik.
3. AC CASSETTE
Jenis AC Cassette ini, indoornya menempel di plafon. jenis AC Cassette dengan
berbagai ukuran mulai dari 1.5pk sampai dengan 6pk. Cara pemasangan ac ini
memerlukan keahlian khusus dan tenaga extra, tidak seperti memasang ac rumah atau
ac split, yang bisa dipasang sendirian.
AC Cassette ini lebih sering dipakai di dalam ruangan kantor dan ruangan
pertemuan karena AC ini dapat cepat mendinginkan ruangan yang lebih luas. AC
Cassette ini dipasang dan menempel pada plafon sehingga untuk memasangnya perlu
keahlian khusus daripada ketika memasang AC split.
51
Proses instalasinya sangat jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan instalasi
AC yang lainnya.
4. AC WINDOW
AC Window, pada AC jenis window, semua semua komponen AC seperti filter
udara, evaporator, blower, compressor, condenser, refrigerant filter, expansion valve
dan controll unit terpasang pada satu base plate, kemudian base plate beserta semua
52
komponen AC tersebut dimasukkan kedalam kotak plat sehingga menjadi satu unit
yang kompak.
Kelebihan AC window :
a. Pemasangannya pertama maupun pembongkaran kembali apabila akan
dipindahkan mudah dilaksanakan.
b. Pemeliharaan/perawatan mudah dilaksanakan.
c. Harga murah.
Kekurangan AC window :
a. Karena semua komponen AC terpasang pada base plate yang posisinya dekat
dengan ruangan yang didinginkan, maka cederung menimbulkan suara berisik
(terutama akibat suara dari compressor).
b. Tidak semua ruangan dapat dipasang AC window, karena AC window harus
dipasang dengan cara bagian condenser menghadap ketempat terbuka supaya
udara panas dapat dibuang kealam bebas. Desain bangunan seperti Ruko,
dimana ruangan yang berhubungan dengan udara luar hanya ada didepan dan
belakang saja, bahkan mungkin hanya bagian depan saja, maka pada ruangan
yang posisinya ditengah tidak dapat dipasang AC jenis window.
5. AC VRV
A. PENGERTIAN AC VRV
AC VRV (Variable Refrigerant Volume) merupakan AC yang memiliki VRV
system yang sudah dilengkapi CPU dan Kompresor inverter. VRV tidak konstan atau
tetap karena volume yg bersikulasi di dalam pipa tembaga akan selalu berubah
tekanannya tergantung dari kebutuhan pendinginannya. System VRV adalah suatu
teknologi pengaturan kapasitas AC yang memiliki kemampuan untuk mencegah
pendinginan yang berlebih pada suatu ruangan,sehingga dapat menghemat listrik si
pemakai. Tak hanya dapat menghemat listrik, System AC VRV juga memiliki tingkat
kebisingan yang rendah dan hemat tempat karena dapat menggunakan satu Unit
Outdoor untuk mensupply beberapa Unit Indoor, serta dapat mengatur jadwal dan
temperatur AC yang diinginkan secara terkomputerisasi.
B. SYSTEM KERJA AC VRV
53
54
2.
3.
4.
Dalam mengontrol kerja Compressor,PCB dan EEV, semua dapat dilakukan pada
panel depan sehingga memungkinkan pemeliharaan sederhana dan mudah.Semua
kesalahan(error) dapat dilihat pada LED yang terdapat pada Outdoor dan
ditampilkan dalam bentuk error code, sehingga semua error dapat ditanggulangi
dengan cepat.
5.
56
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dalam merancang sebuah bangunan, tentunya kita sebagai calon arsitek masa depan
harus memperhatikan sistem utilitas yang digunakan pada bangunan, yang salah satunya sistem
pengkodisian udara. Saat ini penggunaan AC sebagai pengondisian udara dalam ruang sudah
menjadi hal lumrah di kehidupan masyarakat terutama untuk gedung-gedung besar yang
kebutuhan akan AC langsungnya tidak dapat dipenuhi. Penggunaan AC memang banyak
keunggulannya, akan tetapi arsitek sebagai seorang perancang, selain mementingkan kebutuhan
klien akan pengkondisi udara juga harus bisa menyesuaikan dan juga harus memperhitungkan
penggunaan. Maka dari itu, seorang arsitek diharapkan mampu dan bisa mengembangkan
kreativitasnya dalam merancang sebuah gedung.
57
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional. 2000. SNI 03-6390-2000 Konservasi energi sistem tata udara
pada bangunan gedung.
58