Anda di halaman 1dari 63

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KESEHATAN KERJA

DENGAN APLIKASI KASUS DI KOMUNITAS PEKERJA DI


PERUSAHAAN EKSPOR IKAN HIDUP PT. CV ANUGRAH SAPUTRA DI
DESA TAPULAGA KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE
PROVINSI SULAWESI TENGGARA

OLEH

NPM. 910312906105.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AVICENNA


PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
KENDARI
2015

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pengertian sehat dapat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental
dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan
melainkan juga menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan
dan pekerjaannya (perry, potter. 2005: 5).
Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat
tetap sehat dan bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan
kesehatan atau penyakit. Oleh karena iu, perhatian utama dibidang kesehatan lebih
ditujukan ke arah pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta
pemeliharaan kesehatan seoptimal mungkin.
Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh empat
faktor yakni :
1. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia (organik/
anorganik,

logam

berat,

debu),

biologik

(virus,

bakteri, microorganisme) dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan,


pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
3. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan
kecacatan, rehabilitasi.
4. Genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
Pekerjaan mungkin berdampak negatif bagi kesehatan akan tetapi
sebaliknya pekerjaan dapat pula memperbaiki tingkat kesehatan dan kesejahteraan
pekerja bila dikelola dengan baik. Demikian pula status kesehatan pekerja sangat
mempengaruhi produktivitas kerjanya. Pekerja yang sehat memungkinkan
tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan pekerja yang
terganggu kesehatannya.
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas, beban,
dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

diperoleh produktivitas kerja yang optimal (Undang-undang kesehatan tahun


1992).
Adanya undang-undang kesehatan kerja di setiap negara mempunyai
dampak yang begitu besar untuk kondisi kesehatan di tempat kerja. Tujuan dari
hukum ini adalah untuk menciptakan kondisi kerja yang lebih aman dan lebih
sehat bagi para pekerja (suddarth. 2002: 27).
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan
sekedar kesehatan pada sektor industri saja melainkan juga mengarah kepada
upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health
of all at work). Sebenarnya hal ini merupakan keuntungan bagi pemilik lapangan
pekerjaan atau para pengusaha untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman
karena hasilnya adalah pengurangan biaya yang berhubungan dengan absennya
pekerja, perawatan pekerja di rumah sakit dan kecacatan (suddarth. 2002: 27).
Menurut Sumamur (1976), Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu
kesehatan/ kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/
masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik,
mental maupun sosial dengan usaha preventif terhadap penyakit/ gangguan
kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta
terhadap penyakit umum.
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari
sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun
rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil
budaya dan karyanya.
Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.
Pengertian Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau
peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta
benda atau kerugian terhadap proses (DepKes RI, no. 3, 1998).
Soekotjo Joedoatmodjo, Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Nasional (DK3N) menyatakan bahwa frekuensi kecelakaan kerja di perusahaan

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

semakin meningkat, sementara kesadaran pengusaha terhadap Kesehatan dan


Keselamatan Kerja (K3) masih rendah, yang lebih memprihatinkan pengusaha dan
pekerja sektor kecil menengah menilai K3 identik dengan biaya sehingga menjadi
beban, bukan kebutuhan. Direktur Operasi dan Pelayanan PT Jamsostek (Persero),
Djoko Sungkono menyatakan bahwa Data angka kecelakaan kerja tahun 2011 lalu
mencapai, 99.491 kasus. Jumlah tersebut kian meningkat dibanding tahun
sebelumnya. Pada tahun 2007 terjadi sebanyak 83.714 kasus, tahun 2008
sebanyak 94.736 kasus, tahun 2009 sebanyak 96.314 kasus, dan tahun 2010
sebanyak 98.711 kasus. Untuk pada 2011 terdapat 99.491 kasus atau rata-rata 414
kasus kecelakaan kerja per hari.
Menurut International Labour Organization (ILO), setiap tahun terjadi 1,1
juta kematian yang disebabkan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat
hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan
dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan pekerjaan, dimana
diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap
tahunnya (Pusat Kesehatan Kerja, 2005)
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan
sekedar kesehatan pada sektor industri saja melainkan juga mengarah kepada
upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health
of all at work).
Sebagai suatu usaha dalam pencegahan kecelakaan kerja di bidang
keperawatan dikembangkan suatu spesialisasi perawatan yang disebut dengan
perawatan kesehatan kerja (occupational health nursing).
Perawat okupasional dapat bekerja di unit tunggal dalam lingkungan
industri, menjadi konsultan paruh waktu atau dengan waktu yang terbatas, atau
menjadi anggota dari tim indisiplener yang terdiri dari pekerja kesehatan yang
bervariasi seperti perawat, dokter, fisiolog pelatih, pendidik kesehatan, konsulen,
ahli gizi, ahli teknik keselamatan, dan hygine industri (suddarth. 2002: 27).
Perawat kesehatan okupasional mempunyai fungsi dalam beberapa cara
yang dapat memberikan perawatan langsung pada pekerja yang sakit, melakukan
program pendidikan kesehatan untuk anggota staf perusahaan, aau menyususn
program kesehatan yang ditujukan untuk mengembangkan perilaku kesehatan

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

tertentu, seperti makan dengan benar dan olah raga yang cukup, serta bagaimana
menggunakan alat-alat perlindungan dan pentingnya penggunaan alat-alat tersebut
bagi keselamatan kerja, serta hygine pada setiap pekerja (suddarth. 2002: 27).
Maka dari itu, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang peraturan
pemerintah yang menyangkut kesehatan kerja dan memahami legalsasi yang
berhubungan, serta semua hal yang bersangkutan tentang kesehatan kerja,
keselamatan kerja serta kecelakaan kerja (K3) (Suddarth. 2002: 27).
Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang semua yang
berhubungan dengan K3 disertai dengan contoh asuhan keperawatan kesehatan
kerja. Diharapkan dengan makalah ini nantinya dapat dijadikan acuan bagi
mahasiswa keperawatan lain untuk dapat membantu meningkatkan kesehatan
kerja dengan menerapkan asuhan keperawatan kesehatan kerja yang komprehensif
dan kompeten.
1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan komunitas pada kesehatan kerja di
komunitas pekerja perusahaan CV.ANUGRAH SAPUTRA di Desa Tapulaga,
Kecamatan Soropia, kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara?

1.3

Tujuan
1. Menjelaskan tentang pengertian kesehatan kerja dan keselamatan kerja
2. Menjelaskan tentang prinsip dasar kesehatan kerja
3. Menjelaskan tentang Factor resiko di tempat kerja
4. Menjelaskan tentang ruang lingkup kesehatan kerja
5. Menjelaskan tentang tujuan keselamatan kerja
6. Menjelaskan tentang dasar hokum kesehatan dan keselamatan kerja
7. Menjelaskan tentang kecelakaan kerja
8. Menjelaskan tentang penyakit akibat kerja
9. Menjelaskan tentang ergonomi
10. Menjelaskan tentang alat pelindung kerja (PEE)
11. Menjelaskan tentang tujuan penerapan keperawatan kesehatan kerja
12. Menjelaskan tentang fungsi dan tugas perawat dalam keselamatan dan
kesehatan kerja
13. Menjelaskan tentang diagnosis spesifik penyakit akibat kerja
14. Menjelaskan tentang penerapan konsep lima tingkatan pencegahan
penyakit pada penyakit akibat kerja
15. Menjelaskan tentang promosi kesehatan dalam kesehatan dan keselamatan
kerja

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

16. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan komunitas pada kesehatan kerja


di komunitas pekerja perusahaan CV.ANUGRAH SAPUTRA di Desa
Tapulaga, Kecamatan Soropia, kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi
Tenggara
1.4

Manfaat
1. Untuk Mengetahui tentang pengertian kesehatan kerja dan keselamatan
kerja
2. Untuk Mengetahui tentang prinsip dasar kesehatan kerja
3. Untuk Mengetahui tentang Factor resiko di tempat kerja
4. Untuk Mengetahui tentang ruang lingkup kesehatan kerja
5. Untuk Mengetahui tentang tujuan keselamatan kerja
6. Untuk Mengetahui tentang dasar hokum kesehatan dan keselamatan kerja
7. Untuk Mengetahui tentang kecelakaan kerja
8. Untuk Mengetahui tentang penyakit akibat kerja
9. Untuk Mengetahui tentang ergonomi
10. Untuk Mengetahui tentang alat pelindung kerja (PEE)
11. Untuk Mengetahui tentang tujuan penerapan keperawatan kesehatan kerja
12. Untuk Mengetahui tentang fungsi dan tugas perawat dalam keselamatan
dan kesehatan kerja
13. Untuk Mengetahui tentang diagnosis spesifik penyakit akibat kerja
14. Untuk Mengetahui tentang penerapan konsep lima tingkatan pencegahan
penyakit pada penyakit akibat kerja
15. Untuk Mengetahui tentang promosi kesehatan dalam kesehatan dan
keselamatan kerja
16. Untuk Mengetahui tentang asuhan keperawatan komunitas pada kesehatan
kerja di komunitas pekerja perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA
di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, kabupaten Konawe, Provinsi
Sulawesi Tenggara

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kesehatan Kerja Dan Keselamatan Kerja
Menurut Sumakmur (1988) kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/masyarakat
pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik,
atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor
pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum.
Kesehatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
1.
2.

Sasarannya adalah manusia


Bersifat medis.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin,

pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan
lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Sumakmur, 1993).
Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi distribusi baik barang
maupun jasa (dermawan, deden. 2012: 189).
Keselamatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
1.
Sasarannya adalah lingkungan kerja
2.
Bersifat teknik.
2.2 Prinsip Dasar Kesehatan Kerja
Upaya kesehatan kerjaadalah upaya penyesuaian antara kapasitas, beban,
dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar
diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU kesehatan tahun 1992).
Konsep dasar dari upaya kesehatan kerja ini adalah mengidentifikasi
permasalahan, mengevaluasi, dan dilanjutkan dengan tindakan pengendalian.
Sasaran kesehatan kerja adalah manusia dan meliputi aspek kesehatan dari
pekerjaitu sendiri (effendi, ferry. 2009: 233).
2.3 Faktor Resiko Di Tempat Kerja

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Dalam melakukan pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi


bahaya serta resiko yang bisa terjadi akibat sistem kerja atau cara kerja,
penggunaan mesin, alat dan bahan serta lingkungan disamping faktor manusianya.
Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan adanya sesuatu yang
potensial untuk mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau kerugian
yang dapat dialami oleh tenaga kerja atau instansi. Sedang kemungkinan potensi
bahaya menjadi manifest, sering disebut resiko. Baik hazard maupun resiko
tidak selamanya menjadi bahaya, asalkan upaya pengendaliannya dilaksanakan
dengan baik.
Ditempat kerja, kesehatan dan kinerja seseorang pekerja sangat
dipengaruhi oleh (effendi, Ferry. 2009: 233):
1.

Beban Kerja berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya
penempatan

pekerja

yang

sesuai

dengan

kemampuannya

perlu

diperhatikan. Beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang
terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan
2.

atau penyakit akibat kerja.


Kapasitas Kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan,
kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya. Kapasitas
kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta
kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat
melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan
pekerja sebagai modal awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus
pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat

3.

dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja, dll.


Lingkungan Kerja sebagai beban tambahan, baik berupa faktor fisik,
kimia, biologik, ergonomik,

maupun aspek

psikososial.

Kondisi

lingkungan kerja (misalnya, panas, bising, berdebu, zat-zat kimia, dll)


dapat menjadi beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan
tersebut secara sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan
atau penyakit akibat kerja.
Kapasitas, beban, dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama
dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

komponen tersebut akan menghasilkan kerja yang baik dan optimal (effendi,
Ferry. 2009: 233).
Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang
berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat
pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan di tempat kerja dan
lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor-faktor pelayanan kesehata kerja, perilaku
kerja, serta faktor lainnya (effendi, Ferry. 2009: 233).
2.4 Ruang lingkup kesehatan kerja
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja
dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis, dalam hal
cara atau metode, proses, dan kondisi pekerjaan yang bertujuan untuk (effendi,
Ferry. 2009: 233):
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja
disemua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun
kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan atau kondisi lingkungannya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktorfaktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang
sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
2.5 Tujuan keselamatan kerja
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakuakn
pekerjaan atau kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktivitas
nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.
2.6 Dasar Hukum
Dasar hukum tentang kesehatan dan keselamatan kerja adalah Undangundang RI No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Pasal 86 (dermawan,
deden. 2012: 190):

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan


atas :
a. Keselamatan dan kesehatan kerja
b. Moral kesusilaan
c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilainilai agama.
2. Untuk melindungi

keselamatan

kerja/buruh

guna

mewujudkan

produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan


Kesehatan Kerja.
Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.7 Kecelakaan kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor : 03 /MEN/1998
tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan bahwa yang dimaksud
dengan kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga
semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan
yang terjadi pada waktu bekerja pada perusahaan. Tak terduga, oleh karena
dibelakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesenjangan, lebih-lebih dalam
bentuk perencanaan (dermawan, deden. 2012: 189).
Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 adalah suatu sistem program
yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan
(preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam
lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila
terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi
biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan
kerja. Namun, patut disayangkan tidak semua perusahaan memahami arti
pentingnya K3 dan bagaimana implementasinya dalam lingkungan perusahaan.
2.7.1

Penyebab kecelakaan kerja


Secara umum, dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja adalah
penyebab dasar (basic causes) dan penyebab langsung (immediate causes)

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Penyebab dasar
a. Faktor manusia atau pribadi, antara lain karena kurangnya
kemampuan fisik, mental, dan psikologis, kurang atau lemahnya
pengetahuan dan keterampilan (keahlian), stress, dan motivasi
yang tidak cukup atau salah.
b. Faktor kerja atau lingkungan, antara lain karena ketidakcukupan
kemampuan kepemimpinan dan/ atau pengawasan, rekayasa
(engineering), pembelian atau pengadaan barang, perawatan
(maintenance), alat-alat, perlengkapan, dan barang-barang atau
bahan-bahan,

standart-standart

kerja,

serta

berbagai

penyalahgunaan yang terjadi di lingkungan kerja.


2. Penyebab langsung
a. Kondisi berbahaya (kondisi yang tidak standart/ unsafe
condition), yaitu tindakan yang akan menyebabkan kecelakaan
misalnya peralatan pengaman, pelindung atau rintangan yang
tidak memadai atau tidak memenuhi syarat, bahan dan peralatan
yang rusak, terlalu sesak atau sempit, sistem-sistem tanda
peringatan yang kurang memadai, bahaya-bahaya kebakaran dan
ledakan, kerapian atau tata letak (houskeeping) yang buruk,
lingkungan berbahaya atau beracun (gas, debu, asap, uap, dan
lainnya), bising, paparan radiasi, serta ventilasi dan penerangan
yang kurang (B, sugeng. 2003)
b. Tindakan berbahaya (tindakan yang tidak standart/ unsafe act),
yaitu tingkah laku, tindak tanduk atau perbuatan yang dapat
menyebabkan kecelakaan misalnya mengoperasikan alat tanpa
wewenang, gagal untuk memberi peringatan dan pengamanan,
bekerja dengan kecepatan yang salah, menyebabkan alat-alat
keselamatan

tidak

berfungsi,

memindahkan

alat-alat

keselamatan, menggunakan alat yang rusak, menggunakan alat


dengan cara yang salah, serta kegagalan memakai alat pelindung
atau keselamatan diri secara benar (B, sugeng. 2003).
2.7.2

Kerugian yang disebabkan kecelakaan akibat kerja


Kecelakaan menyebabkan lima jenis kerugian, antara lain:

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Kerusakan: Kerusakan karena kecelakaan kerja antara lain bagian


mesin, pesawat alat kerja, bahan, proses, tempat, & lingkungan
kerja.
2. Kekacauan Organisasi: Dari kerusakan kecelakaan itu, terjadilah
kekacauan dai dalam organisasi dalam proses produksi.
3. Keluhan & Kesedihan: Orang yang tertimpa kecelakaan itu akan
mengeluh & menderita, sedangkan kelurga & kawan-kawan
sekerja akan bersedih.
4. Kelainan & Cacat: Selain akan mengakibatkan kesedihan hati,
kecelakaan juga akan mengakibatkan luka-luka, kelainan tubuh
bahkan cacat.
5. Kematian: Kecelakaan juga akan sangat mungkin merenggut
nyawa orang & berakibat kematian.
Kerugian-kerugian tersebut dapat diukur dengan besarnya biaya
yang dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan. Biaya tersebut dibagi
menjadi biaya langsung & biaya tersembunyi.
Biaya langsung adalah biaya pemberian pertolongan pertama
kecelakaan, pengobatan, perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan,
upah selama tak mampu bekerja, kompensasi cacat & biaya perbaikan
alat-alat mesin serta biaya atas kerusakan bahan-bahan. Sedangkan biaya
tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu atau
beberapa waktu setelah kecelakaan terjadi.
2.7.3

Pencegahan kecelakaan akibat kerja


Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan:
1. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan
mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan,
kontruksi, perwatan & pemeliharaan, pengwasan, pengujian, &
cara kerja peralatan industri, tugas-tugas pengusaha & buruh,
latihan, supervisi medis, PPPK, & pemeriksaan kesehatan.
2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah mati
atau tak resmi mengenai misalnya kontruksi yang memnuhi syaratsyarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

praktek keselamatan & hygiene umum, atau alat-alat perlindungan


diri.
3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuanketentuan perundang-undangan yang diwajibkan.
4. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat & ciri-ciri bahanbahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman,
pengujian

alat-alat

perlindungan

diri,

penelitian

tentang

pencegahan peledakan gas & debu, atau penelaahan tentang bahanbahan & desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkat &
peralatan pengangkat lainnya.
5. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek
fisiologis & patologis faktor-faktor lingkungan & teknologis, &
keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
6. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola
kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.
2.8 Penyakit akibat kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat
kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian penyakit akibat
kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease (dermawan,
deden. 2012: 193).
Menurut peraturan menteri tenaga kerja RI nomor: PER-01/MEN/1981
tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja bahwa yang dimaksud dengan
penyakit akibat kerja (PAK) adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekrjaan
atau lingkungan kerja. Beberapa ciri penyakit akibat kerja adalah dipengaruhi oleh
populasi pekerja, disebabkan oleh penyebab yang spesifik, ditentukan oleh
pemajanan ditempat kerja, ada atau tidaknya kompensasi. Contohnya adalah
keracunan timbel (Pb), abestosis, dan silikosis (B, sugeng. 2003).
Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan
pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (international Labour Organization) di
Linz, Austria, dihasilkan definisi menyangkut penyakit akibat kerja sebagai
berikut :
1. Penyakit akibat kerja-occupational disease

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi


yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen
penyebab yang sudah diakui.
2. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan work related disease
Adalah penyakit yangt mempunyai bebrapa agen penyebab, dimana
dengan faktor resiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang
mempunyai etiologi kompleks.
3. Penyakit yang mengenai populasi kerja-disease of fecting working
populations
Adalah penyakit agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat
2.8.1

oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.


Jenis penyakit akibat kerja
WHO membedakan empat kategori penyakit akibat kerja
(dermawan, deden. 2012: 193):
1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya
Pneumoconiosis.
2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya
karsinoma bronkhogenik.
3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di
antara faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya bronkhitis kronis.
4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah
ada sebelumnya, misalnya asma.
Dalam peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi Nomor: PER-

01/MEN/1981 dicantumkan 30 jenis penyakit, sedangkan pada keputusan


Presiden RI Nomor 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja
memuat jenis penyakit yang sama dengan tambahan penyakit yang disebabkan
bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. Jenis-jenis penyakit akibat kerja
tersebut adalah sebagai berikut:

Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan


parut (silikosis, antrakosiliksis, asbestosis) dan silikotuberkulosisyang

silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian.


Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan
oleh debu logam keras.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Penykit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) atau byssinosis


yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, hnep (serat yang diperoleh dari
batang tanaman cnnabis sativa), dan sisal (serat yang diperoleh dari

tumbuhan agave sisalana, biasanya dibuat tali).


Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat

perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.


Alveolitis alergica yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat

penghirupan debu organik.


Penyakit yang disebabkan oleh berilium (Be) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh kadmium (Cd) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh fosforus (P) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh kromium (Cr) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh mangan (Mn) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh arsenik (As) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit

persenyawaannya yang beracun.


Penyakit yang disebabkan oleh timbel (Pb) atau persenyawaannya yang

beracun.
Penyakit yang disebabkan flourin (F) atau persenyawaannya yang beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.
Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan

hidrokarbon alifatik atau aromatik yang bercun.


Penyakit yang disebabkan oleh benzema atau homolognya yang beracun.
Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena atau

homolognya yang beracun.


Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya.
Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol, atau keton.
Penyakit yang disebabkan olehgas atau uap penyebab asfiksia atau

yang

disebabkan

oleh

merkurium/

raksa

(Hg)

atau

keracunan seperti CO, hidrogen sianida, hidrogen sulfida atau derivatnya

yang beracun, amoniak, seng, braso, dan nikel.


Kelainan pendengarayang disebabkan oleh kebisingan.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot,

urat, tulang persendian dan pembuluh darah tepi atau saraf tepi).
Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan

tinggi.
Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi yang

mengIon.
Penyakit kulit atau dermatosis yang disebabkan oleh fisik, kimiawi atau

biologis.
Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh Ter, Pic, bitumen,
minyak mineral, antrasena, atau persenyawaan, produk dan residu dari zat-

zat tersebut.
Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang

didapat dalam suatu pekerjaan resiko kontaminsai khusus.


Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah, panas radiasi, atau

kelembapan udara yang tinggi.


Penyakit yang disebabkan oleh bahan lainnya termasuk bahan obat.

Menurut

(dermawan,

deden.

2012:

197-199)

penyakit

akibat

kerja/penyakit akibat hubungan kerja:


1. Penyakit Saluran Pernapasan
Penyakit akibat kerja pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun
kronis.
a. Akut misalnya :
Asma akibat kerja sering didiagnosis sebagai tracheobronchitis akut
atau karena virus.
b. Kronis, misalnya :
Asbestosis
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)
Edema paru akut : dapat disebabkan oleh bahan kimia seperti
nitrogen oksida.
2. Penyakit Kulit
a. Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam
kehidupan, kadang sembuh sendiri.
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

b. Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit


yang berhubungan dengan pekerjaan.
c. Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang
merupakan penyeba, membuat peka atau karena faktor lain.
3. Kerusakan Pendengaran
a. Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukkan akibat pajanan
kebisingan yang lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan.
b. Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang
dengan gangguan pendengaran.
c. Dibuat rekomendasi tentang

pencegahan

terjadinya

hilangnya

pendengaran.
4. Gejala pada Punggung dan Sendi
a. Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan panyakit pada
punggung yang berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak
berhubungan dengan pekerjaan.
b. Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan.
c. Atritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang tidak
wajar.
5. Kanker
a. Adanya presentase yag signifikan menunjukkan kasus kanker yang
disebabkan oleh pajanan di tempat kerja.
b. Bukti bahwa bahan di tempat kerja, karsinogen sering kali didapat dari
laporan klinis individu dari pada studi epidemiologi.
c. Pada kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen mulai > 20 tahun
sebelum diagnosis.
6. Coronary Artery Disease
Oleh karena stres atau karbon monoksida da bahan kimia lain di tempat
kerja.
7. Penyakit Liver
a. Sering di diagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus
atau sirosis karena alkohol.
b. Penting riwayat tentang pekerjaan, serta bahan toksik yang ada.
8. Masalah Neuropsikitarik
a. Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering
diabaikan.
b. Neuro pati perifer, sering dikaitkan dengan diabet, pemakaian alkohol
atau tidak diketahui penyebabnya, depresi SSP oleh karena
penyalahgunaan zat-zat atau masalah psikiatri.
c. Kelakuan yang tidak baik mungkin merupakan gejala awal dari stres
yang berhubungan dengan pekerjaan.
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

d. Lebih dari 100 bahan kimia (a.l solven) dapat menyebabkan depresi
Susunan Syaraf Pusat.
e. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen, timah, merkuri, methyl, butyl
ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer.
f. Carbon disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.
9. Penyakit yang Tidak Diketahui Sebabnya
a. Alergi
b. Gangguan kecemasan mungkin berhubungan dengan bahan kimia atau
lingkungan
c. Sick building syndrome
d. Multiple Chemical Sensitivities (MCS), misal : parfum derivate
2.8.2

petroleum, rokok.
Faktor penyebab penyakit akibat kerja
Faktor penyebab penyakit akibat kerja sangat banyak, tergantung
pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun
cara kerja, sehingga tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan :
1. Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan
yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.
2. Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja,
maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu,
uap, gas, larutan, awan atau kabut.
3. Golongan biologis : bakteri, virus, jamur
4. Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataan/ddesain
tempat kerja dan cara kerja/beban kerja.
5. Golongan psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stres

psikis, monotomi kerja, tuntutan pekerjaan dan lain-lain.


2.9 Ergonomi
2.9.1 Pengertian Ergonomi
Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha
menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau
sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi
yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal
mungkin.

Di

beberapa

Arbeitswissenschaft

negara

(Jerman),

Ergonomi

Biotechnology

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

diistilahkan
(Skandinavia),

Human (factor) Engineering atau Personal Research di Amerika


Utara. (Budiono, Sugeng, 2003).
2.9.2

Ruang lingkup ergonomi


Penerapan

ergonomi/ruang

lingkup

ergonomi

meliputi

(Setyaningsih, Yuliani, 2002):


1. Pembebanan kerja fisik
Beban fisik yang dibenarkan umumnya tidak
melebihi 30-40% kemampuan maksimum seorang pekerja
dalam waktu 8 jam sehari. Untuk mengukur kemampuan
kerja maksimum digunakan pengukuran denyut nadi yang
diusahakan tidak melebihi 30-40 kali per menit di atas
denyut nadi sebelum bekerja. Di Indonesia beban fisik
untuk mengangkat dan mengangkut yang dilakukan seorang
pekerja dianjurkan agar tidak melebihi dari 40 kg setiap
kali mengangkat atau mengangkut.
2. Sikap tubuh dalam bekerja
Sikap pekerjaan harus selalu diupayakan agar
merupakan sikap ergonomik. Sikap yang tidak alamiah
harus dihindari dan jika hal ini tidak mungkin dilaksanakan
harus diusahakan agar beban statis menjadi sekecilkecilnya. Untuk membantu tercapainya sikap tubuh yang
ergonomik sering diperlukan pula tempat duduk dan meja
kerja

yang

kriterianya

disesuaikan

dengan

ukuran

anthropometri pekerja.
Ukuran anthropometri tubuh yang penting dalam
ergonomi adalah :
a. Berdiri
b. Tinggi badan berdiri
c. Tinggi bahu
d. Tinggi siku
e. Tinggi pinggul
f. Depa
g. Panjang lengan
h. Duduk

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

i. Tinggi duduk
j. Panjang lengan atas
k. Panjang lengan bawah dan tangan
l. Jarak lekuk lutut sampai dengan garis punggung
m. Jarak lekuk lutut sampai dengan telapak
Keadaan bekerja sambil berdiri, mempunyai kriteria
a. Tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm di
bawah tinggi siku.
b. Pekerjaan yang lebih membutuhkan ketelitian,
tinggi meja yang digunakan 10-20 cm lebih
tinggi dari siku.
c. Pekerjaan yang memerlukan penekanan dengan
tangan, tinggi meja 10-20 cm lebih rendah dari
siku.
d. Mengangkat dan mengangkut
Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses
mengangkat dan mengangkut adalah beratnya
beban, intensitas, jarak yang harus ditempuh,
lingkungan kerja, ketrampilan dan peralatan
yang

digunakan.

Untuk

efisiensi

dan

kenyamanan kerja perlu dihindari manusia


sebagai alat utama untuk mengangkat dan
mengangkut.
3. Sistem manusiamesin
Penyesuaian

manusia-mesin

sangat

membantu

dalam menciptakan kenyamanan dan efisiensi kerja.


Perencanaan sistem ini dimulai sejak tahap awal dengan
memperhatikan kelebihan dan keterbatasan manusia dan
mesin

yang

digunakan

interaksi

manusia-mesin

memerlukan beberapa hal khusus yang diperhatikan,


misalnya :
a. adanya informasi yang komunikatif
b. tombol dan alat pengendali baik
c. perlu standard pengukuran anthropometri yang sesuai
untuk pekerjaannya.
4. Kebutuhan kalori

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Konsumsi kalori sangat bervariasi tergantung pada


jenis pekerjaan. Semakin berat kegiatan yang dilakukan
semakin besar kalori yang diperlukan. Selain itu pekerjaan
pria juga membutuhkan kalori yang berbeda dari pekerja
wanita. Dalam hal ini perlu diperhatikan juga saat dan
frekuensi pemberian kalori pada pekerja.
a. Pekerja Pria
Pekerjaan ringan : 2400 kal/hari
Pekerjaan sedang ; 2600 kal/hari
Pekerjaan berat : 3000 kal/hari
b. Pekerja Wanita
Pekerjaan ringan : 2000 kal/hari
Pekerjaan sedang ; 2400 kal/hari
Pekerjaan berat : 2600 kal/hari
5. Pengorganisasian kerja
Pengorganisasian kerja berhubungan dengan waktu
kerja, saat istirahat, pengaturan waktu kerja gilir (shift) dari
periode saat bekerja yang disesuaikan dengan irama faal
tubuh manusia. Waktu kerja dalam 1 hari antara 6-8 jam.
Dengan waktu istirahat jam sesudah 4 jam bekerja. Perlu
juga diperhatikan waktu makan dan beribadah. Termasuk
juga di dalamnya terciptanya kerjasama antar pekerja dalam
melakukan suatu pekerjaan serta pencegahan pekerjaan
yang berulang (repetitive).
6. Lingkungan kerja
Dalam peningkatan efisiensi dan produktifitas kerja
berbagai faktor lingkungan kerja sangat berpengaruh.
Berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh misalnya
suhu yang nyaman untuk bekerja adalah 24-26O C.
7. Olahraga dan kesegaran jasmani
Kegiatan

olahraga

dan

pembinaan

kesegaran

jasmani dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas.


Oleh karena itu, tes kesehatan sebelum bekerja/tes

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

kesegaran jasmani perlu dilakukan sebagai tahap seleksi


karyawan.
8. Musik dan dekorasi
Musik

dapat

meningkatkan

kegairahan

dan

produktivitas kerja dengan mempertimbangkan jenis, saat,


lama dan sifat pekerjaan. Dekorasi dan pengaturan warna
dapat memberikan kesan jarak, kejiwaan dan suhu.
Misalnya :
biru ; jarak jauh dan sejuk
hijau ; menyegarkan
merah ; dekat, hangat, merangsang
orange ; sangat dekat, merangsang.
9. Kelelahan
Kelelahan adalah mekanisme perlindungan tubuh
terhindar dari kerusakan lebih lanjut dan memerlukan
terjadinya

proses

pemulihan.

Sebab-sebab

kelelahan

diantaranya adalah monotomi kerja, beban kerja yang


berlebihan, lingkungan kerja jelek, gangguan kesehatan dan
gizi kurang.

2.10

Alat pelindung diri (PEE)


Persyaratan umum penyediaan alat pelindung diri (personal protective

equipmentPPE) tercantum dalam personal protective equipment at work


regulation 1992. Dalam menyediakan perlindungan terhadap bahaya, prioritas
pertama seorang majikan adalah melindungi pekerjanya secara keseluruhan
daripada individu (Ridley. 2006: 142). Ada prinsip umum yang harus diikuti :
PPE yang efektif harus :
a) Sesuai dengan bahaya yang dihadapi
b) Terbuat dari material yang akan tahan dengan bahaya tersebut
c) Cocok bagi orang yang akan menggunakannya
d) Tidak mengganggu kerja operator yang bekerja
e) Memiliki konstruksi yang sangat kuat
f) Tidak mengganggu PPE lain yang sedang dipakai secara bersamaan
g) Tidak meningkatkan risiko terhadap pemakainya.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Operator-operator yang menggunakan PPE harus memperoleh :


a) Informasi tentang bahaya yang dihadapi
b) Instruksi tentang tindakan pencegahan yang perlu diambil
c) Pelatihan tentang penggunan peralatan dengan benar
d) Konsultasi dan diizinkan pemilih PPE yang tergantung pada
kecocokannya
e) Pelatihan cara memelihara dan menyimpan PPE
f) Instruksi agar melaporkan setiap kecacatan atau kerusakan.
Contoh-contoh perlindungan PPE (Ridley. 2006: 143-144)
Bagian tubuh

Kepala

Telinga

Mata

Paru

Tangan

Kaki
Kulit

PPE
Helm keras , helm empuk, topi, harnet,

atau pemangkasan rambut.


Tutup telinga (ear murf) dan sumbat

telinga (ear plug)


Kacamata pelindung (googles), pelindung

wajah, goggles khusus.


Masker wajah, respirator, alat bantu

pernafasan.
Sarung tangan pelindung, sarung tangan

tahan bahan kimia, sarung tangan insulasi.


Sepatu pengaman, selubung kaki (gaiter)

dan sepatu pengaman.


Krim pelindung.
Pelindung yang kedap seperti sarung
tangan dan celemek.

2.11

Torso dan tubuh

Keseluruhan tubuh

Pakaian bertekanan udara (pressurized


suits)

Tujuan penerapan keperawatan kesehatan kerja

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Secara umum, tujuan keperawatan kesehatan kerja adalah menciptakan


tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan hyperkes dapat diperinci sebagai
berikut (Rachman. 1990):
1.

Agar tenaga kerja dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu

2.

dalam keadaan sehat dan selamat


Agar sumber-sumber produksi dapat berjalan secara lancar tanpa adanya

2.12

hambatan.
Fungsi dan tugas perawat dalam keselamatan dan kesehatan kerja
Fungsi dan tugas perawat dalam usaha keselamatan dan kesehatan kerja

(K3) di industri adalah sebagai berikut (Effendy, Nasrul. 1998):


1. Fungsi perawat
a. Mengkaji masalah kesehatan
b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja
c. Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan terhadap pekerja
d. Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan
2. Tugas perawat
a. Mengawasi lingkungan pekerja
b. Memelihara fasilitas kesehatan perusahaan
c. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja
d. Membantu melakukan penilaian terhadap keadaan kesehatan pekerja
e. Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan perawatan di
rumah kepada pekerja dan keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan
f. Ikut berperan dalam penyelenggaraan pendidikan K3 terhadap pekerja
g. Ikut berperan dalam usaha keselamatan kerja
h. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB terhadap pekerja dan

2.13

keluarganya
i. Membantu usaha penyelidikan kesehatan pekerja
j. Mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan K3.
Diagnosis spesifik penyakit akibat kerja
Secara teknis penegakan diagnosis dilakukan dengan cara berikut ini (B,

sugeng. 2003):
1. Anamnesis (wawancara) meliputi, identitas, riwayat kesehatan, riwayat
penyakit, dan keluhan yang dialami saat ini.
2. Riwayat pekerjaan
a. Sejak pertama kali bekerja (kapan mulai bekerja di tempat tersebut)
b. Kapan, bilamana, apa yang dikerjakan, bahan yang digunakan, jenis
bahaya yang ada, kejadian sama pada pekerja lain, pemakaian alat

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

pelindun diri, cara melakukan pekerjaan, pekerjaan lain yang


dilakukan, kegemaran (hobi), dan kebiasaan lain (merokok, alkohol)
c. Sesuai tingkat penegtahuan, pemahaman pekerjaan.
3. Membandingkan gejala penyakit sewaktu bekerja dan dalam keadaan tidak
bekerja
a. Pada saat bekerja maka gejala timbul atau menjadi lebih berat, tetapi
pada saat tidak bekerja atau istirahat maka gejala berkurang atau
hilang.
b. Perhatikan juga kemungkinan pemajanan di luar tempat kerja.
c. informasi tentang ini dapat ditanyakan dalam anamnesa atau dari data
penyakit di perusahaan.
4. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan catatan
a. Tanda dan gejala yang muncul mungkin tidak spesifik.
b. Pemeriksaan laboratorium membantu diagnostik klinis.
c. Dugaan adanya penyakit akibat bekerja dilakukan juga melalui
pemeriksaan laboratorium khusus atau pemeriksaan biomedis.
5. Pemeriksaan laboratorium khusus atau pemeriksaan biomedis
a. Seperti pemeriksaan spirometri dan rontgen paru (pneumokoniosispembacaan standart ILO).
b. Pemeriksaan audiometri.
c. Pemeriksaan hasil metabolit dalam darah dan urine.
6. Pemeriksaan atau pengujian lingkungan kerja atau data hygine perusahaan
yang memerlukan:
a. Kerjasama dengan tenaga ahli hygine perusahaan.
b. Kemampuan mengevaluasi faktor fisik dan kimia berdasarkan data
yang ada.
c. Pengenalan secara lengsung sistem kerja dan lama pemakaian.
7. Konsultasi keahlian medis dan keahlian lain
a. Seringkali penyakit akibat kerja ditentukan setelah ada diagnosis
klinis, kemudian dicari faktor penyebabnya di tempat kerja, atau
melalui pengamatan (penelitian) yang relatif lebih lama.
b. Dokter spesialis lainnya, ahli toksikologi, dan dokter penasehat
(kaitannya dengan kompensasi).
Menurut (dermawan, deden. 2012: 194-197) Untuk dapat mendiagnosis
penyakit akibat kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis
untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara
tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan
sebagai pedoman :

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Tentukan diagnosis klinisnya


Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan
memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya
dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik
ditegakkan dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut
berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.
2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga
kerja adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan
pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesa mengenai riwayat
pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup :
a. Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

penderita secara kronologis.


Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan.
Bahan yang diproduksi.
Materi (bahan baku) yang digunakan.
Jumlah pajanananya.
Pemakaian alat perlindungan diri (masker).
Pola waktu terjadinya gejala.
Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami

gejala serupa).
i. Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan
(MSDS, label, dan sebagainya).
3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit
tersebut.
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang
mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit
yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar
ilmiah yang menyatakan hal tersebut diatas, maka tidak dapat ditegakkan
diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang
mendukung, perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan
sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah,
lama dan sebagainya).
4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan


pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja
menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan
kepustakaan yang ada untuk dapat menetukan diagnosis penyakit akibat
kerja.
5. Tentukan

apakah

ada

faktor-faktor

lain

yang

mungkin

dapat

mempengaruhi.
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat
perkerjaannya, yang dapat mengubah keadaan pajanan, misalnya
penggunaan APD, riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga
resikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan
(riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih
sensitif terhadap pajanan yang dialami.
6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit.
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit?
Apakah penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat
merupakan penyebab penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain
tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat
kerja.
7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya.
Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu
keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar
ilmiah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan
merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjann
hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini
perlu dibedakan waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan
dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan
pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita
penyakit tersebut pada saat ini.
Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan
apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa
tergantung

pekerjaannya,

tetapi

pekerjaannya/pajanannya

memperberat/mempercepat timbulnya penyakit.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

2.14

Penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit/ five level and

prevention diseases (leavel and clark) pada penyakit akibat kerja (effendi,
ferry. 2009: 238)
1.
Peningkatan kesehatan (health promotion)
Misalnya; pendidikan kesehatan, meningkatkan

gizi

yang

baik,

pengembangan kepribadian, perusahaan yang sehat dan memadai, rekreasi,


lingkungan kerja yang memadai, penyuluhan perkawinan dan pendidikan
2.

seksual, konsultasi tentang keturunan dan pemeriksaan kesehatan periodik.


Perlindungan khusu (spesific protection)
Misalnya; imunisasi, hygine perorangan, sanitasi lingkungan, serta

3.

proteksi terhadap bahaya dan kecelakaaan kerja.


Deteksi dini dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt treatment)
Misalnya; diagnosa dini setiap keluhan dan pengobatan segera serta

4.

pembatasan titik-titik lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi.


Membatasi kecacatan (disability limitation)
Misalnya; memeriksa dan mengobati tenaga kerja komprehensif,

5.

mengobati tenaga kerja secara sempurna, dan pendidikan kesehatan.


Pemulihan kesehatan (rehabilitation)
Misalnya; rehabilitasi dan mempekerjakan kembali para pekerja yang
menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan
karyawan-karyawan cacat di jabatan yang sesuai, menyediakan tempat

2.15

kerja yang dilindungi, dan terapi kerja di rumah sakit.


Promosi Kesehatan Dalam Kesehatan Dan Keselamatan Kerja
Promosi kesehatan, pencegahan dan kontrol penyakit, kesejahteraan,

penurunan faktor risiko, dan pelayanan kesehatan preventif adalah beberapa


istilah yang digunakan pada program kesehatan di lahan kerja (anderson. 2007:
451).
Promosi kesehatan digunakan untuk menunjukkan sebuah proses
pembelajaran para pekerja mengenai bagaimana cara meningkatkan kesehatan dan
kualitas hidup mereka dengan mengembangkan gaya hidup yang baru. Proses
promosi kesehatan di lahan kerja biasanya dimulai dari pekerja yang mendapat
pengetahuan mengenai perilaku, risiko kesehatan atau proses penyakit (anderson.
2007: 451).
Perawat kesehatan kerja sering kali bertanggung jawab terhadap program
promosi kesehatan di lahan kerja dan berada pada posisi yang tepat untuk

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

menciptakan kemitraan dengan komunitas. Apabila suatu organisasi tidak


memiliki perawat kesehatan kerja, program kesehatan menjadi tanggung jawab
staf

keamanan kerja atau staf departemen sumber daya manusia atau staf

departemen keuangan. Proses keperawatan untuk meningkatkan kesehatan di


lahan kerja berfokus pada keseluruhan populasi perusahaan dan mungkin meluas
kepada individu yang menjadi tanggungan pekerja (pasangan dan anak)
(anderson. 2007: 451).
Aktivitas promosi kesehatan seluruh pekerja, termasuk manajemen.
Langkah berikutnya adalah menciptakan kesadaran terhadap isu-isu kesehatan
melalui pendidikan internal perusahaan, skrining, dan intervensi yang berfokus
pada gaya hidup.
2.15.1 Jenis aktivitas promosi kesehatan
Aktivitas yang lazim dilakukan dalam upaya mempromosikan
kesehatan atau mencegah cedera dan penyakit di lahan kerja adalah olah
raga,

penghentian

merokok,

perawatan

punggung,

dan

program

manajemen stres. Ada tiga jenis promosi kesehatan di lahan kerja


(anderson. 2007: 451), yaitu:
1. Program kesadaran, meningkatkan tingkat pengetahuan dan minat
pekerja (contoh, dengan selebaran, seminar dan surat kabar).
2. Aktivitas perubahan perilaku, membantu para partisipan
mengembangkan perilaku yang lebih sehat (contoh, menghentikan
kebiasaan merokok,olah raga teratur, dan nutrisi sehat).
3. Lingkungan penunjang, menciptakan peluang kerja

yang

meningkatkan gaya hidup sehat (contoh, penyediaan makanan


rendah lemak di cafetaria, kelas aerobik di tempat kerja,
menyediakan waktu senggang untuk skrining kesehatan, kudapan
sehat di etalase makanan).
Sebelum memutuskan untuk memilih jenis program promosi
kesehatan yang ditawarkan, penting untuk menentukan konsistensi
program dengan misi dan tujuan perusahaan. Perhatikan juga biaya dan
manfaat aktivitas, baik bagi pengusaha maupun para pekerja. Apabila

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

menyadari potensi manfaat finansial yang akan di dapat dari aktivitas ini,
seperti penurunan angka ketidak hadiran atau meningkatkan hasil kerja,
kebanyakan pekerja ikut berpartisipasi dalam program promosi kesehatan
karena alasan pribadi (seperti menurunkan berat badan, meningkatkan
kebugaran fisik). Para pekerja memiliki keinginan untuk merasa atau
terlihat lebih baik atau mengalami peningkatan kualitas hidup. Apabila
kedua kebutuhan, baik kebutuhan organisasi dan para pekerja terpenuhi,
program kesehatan ini akan mendapat dukungan luas dan partisipasi yang
tinggi dari pekerja dan mencapai kesuksesan besar.
2.15.2 Perencanaan program promosi kesehatan (anderson. 2007: 452-458)
1. Pengkajian kebutuhan
Kuesioner dan penilaian risiko kesehatan umumnya digunakan
untuk mengidentifikasi minat pekerja terhadap topik pendidikan dan
menggambarkan kondisi kesehatan saat ini serta perilaku yang aman.
Kesehatan pekerja dan catatan asuransi juga dapat digunakan
untuk mengidentifikasi prevalensi penyakit kronik pekerja yang perlu
ditangani. Catatan keamanan, format kompensasi pekerja atau
wawancara dengan manajer dan pekerja adalah sumber tambahan untuk
menentukan kebutuhan promosi kesehatan pekerja dan perusahaan.
Setelah mengidentifikasi kebutuhan promosi kesehatan, anda
dapat membantu perawat kesehatan kerja atau komite penasehat
perencanaan dalam menjamin dukungan manajemen terhadap program
promosi kesehatan. Presentasi proposal atau catatan eksekutif sering
kali merupakan salah satu langkah awal dalam meyakinkan manajemen
mengenai manfaat proyek. Suatu pendekatan perencanaan bisnis untuk
mengomunikasikan program anda dapat digunakan untuk menciptakan
kesamaan persepsi dan pengertian terhadap proyek dari semua orang
yang ada di dalam organisasi. Di bawah ini adalah contoh dari sebuah
perencanaan bisnis:
a. Catatan eksekutif: sebuah kesimpulan singkat mengenai rencana
promosi kesehatan, termasuk di dalamnya tujuan (contoh, untuk
menurunkan strain punggung bagian bawah), metode (contoh,

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

dilakukan melalui 3 kali pertemuan , masing-masing selama 30


menit), keuntungan yang dapat diharapkan (contoh, lebih sedikit
absen pada hari kerja, peningkatan produktivitas), biaya (contoh,
biaya program, seperti brosur, selebaran, waktu pengajaran, insentif,
ketidak hadiran, dan biaya tak terduga, seperti biaya akibat
penurunan asuransi dan klaim kompensasi pekerja).
b. Tujuan: secara jelas menggambarkan apa yang ingin dicapai dan
rasional. Termasuk tujuan Masyarakat Sehat 2010 (Healthy People
2010 Objectives) untuk dewasa sehat.
c. Metode: bagaimana, bilamana, dan

dimana

rencana

akan

diwujudkan ke dalam tindakan. Uraikan setiap tugas yang harus


diselesaikan (contoh, rancangan brosur dan selebaran serta
diseminasi)

dan

individu

yang

bertanggung

jawab

untuk

melaksanakan tugas tersebut, beserta batas waktu penyelesaian


program. Jelaskan isi program, termasuk mengundang pembicara
tamu, demonstrasi ulang, dan metode untuk meningkatkan
partisipasi pekerja serta adaptasi dari perilaku yang diajarkan.
Selain itu, tentukan juga tujuan dan objektif program. Tujuan
program dapat berupa: Delapan puluh persen pekerja yang telah
menjalani program perawatan punggung melaporkan penurunan
pengajuan izin sakit yang berhubungan dengan nyeri punggung
bawah. Objektif program dapat berupa: Setelah mengikuti
pembelajaran demonstrasi mengenai prosedur mengangkat yang
benar, 90% pekerja berpartisipasi akan mendemonstrasikan
prosedur mengangkat yang benar.
d. Manfaat yang diharapkan: Tulislah hasil program (contoh, jumlah
absensi pekerja karena nyeri punggung bawah menurun). Ide yang
bagus jika dalam proposal, dicantumkan jumlah absensi pekerja
pada tahun terkahir dan besarnya presentase keberhasila program
yang diajukan dalammenurunkan ketidakhadiran. Selain itu,
cantumkan pula pada laporan Anda, nama perusahaan lain hasil
temuan Anda dari literatur yang mengimplementasikan program
serupa, beserta keberhasila yang dicapai oleh perusahaan tersebut.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

e. Biaya: Proyeksi akurat dari biaya program (material, waktu para


pengajar, insentif), dan profit yang diharapkan dari penurunan
1.

ketidakhadiran dan peningkatan produktivitas.


Implementasi program promosi kesehatan
Marketing adalah bagian esensial dari keberhasilan implementasi
program. Termasuk di dalam beberapa strategi Marketing adalah:
a. Poster. Harus tampak profesional. Judul dan kata-kata yang menarik
adalah unsur penting (contoh, Weigh To Go untuk penurunan
program berat badan). Ganti poster secara teratur untuk tetap menarik
perhatian.
b. Surat elektronik/ e-mail. Hitungan mundur kegiatan; memberikan
pertanyaan kuis berkaitan dengan kesehatan dan memberikan jawaban
serta rasionalnya pada hari berikutnya.
c. Surat kabar kesehatan. Detail mengenai cerita keberhasilan, seperti
cerita mengenai deteksi dini melanoma maligna, program penurunan
berat badan dengan program jalan kaki, individu yang menderita
tekanan darah tinggi sampai ia berpartisipasi dalam skrining kesehatan,
dan bagaimana perubahan sederhana dari gaya hidup dapat membantu
individu mengontrol penyakit (tanpa pengobatan).
d. Surat dari pimpinan perusahaan atau manajer keuangan. Memberikan
kesempatan

kepada

perusahaan

untuk

melaksanakan

skrining

kesehatan, mengumumkan bahwa perusahaan akan membayar


sebagian atau seluruh biaya dari program penghentian kebiasaan
merokok/tes skrining kesehatan, atau mengizinkan atan jual-beli
kebutuhan kesehatan selama 2 jam dengan kehadiran program
kesejahteraan.
e. Memberikan hadiah insentif kepada pekerja yang ikut berpartisipasi,
seperti kaus oblong, topi, sampel tabir surya, kudapan buah-buahan,
2.

botol minuman.
Evaluasi program promosi kesehatan
Proses evaluasi memberikan kesempatan untuk menentukan hasil
yang dicapai dari program promosi kesehatan dan mengarahkan
peningkatan pelayanan kesehatan kepada para pekerja. Evaluasi struktur,

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

program, proses pelaksanaan program dan hasil program adalah tiga


pendekatan yang umum dilakukan dalam meninjau ulang jaminan mutu.
a. Termasuk dalam evaluasi struktur adalah (1) meninjau ulang
mekanisme pelaporan yang diberikan kepada manajemen beserta
dukungan terhadap program promosi kesehatan; (2) menentukan
keadekuatan

fasilitas

fisik

untuk

menunjang

program;

(3)

mengidentifikasi peralatan dan persediaan yang digunakan; (4)


mengidentifikasi kebutuhan kepegawaian dan kualifikasinya; (5)
menganalisis demografik pekerja dan kebutuhan status kesehatan; (6)
menentukan apakah misi, tujuan, dan objektif program diformulasikan
untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para pekerja dan kebutuhan
bisnis pengusaha.
b. Evaluasi proses mencakup (1) apakah aktivitas promosi kesehatan
sesuai dengan kondisi; (2) apakah program promosi kesehatan di
bentuk untuk memenuhi kebutuhan di lahan kerja (saatnya anda
melakukan perbandingan terhadap pengkajian awal kebutuhan), dan
(3) apakah terdapat pendokumentasian dan pencatatan.
c. Evaluasi hasil berfokus pada (1) apakah tujuan dan objektif yang
diharapkan dapat dicapai; (2) apakah program membawa hasil yang
positif; (3) apakah hasil kesehatan menunjukkan pencegahan penyakit/
pengetahuan pekerja tentang perawatan diri, mengembalikan fungsi
atau menurunkan ketidaknyamanan; (4) bagaimana perbandingan
keuntungan yang dicapai program dengan biaya program; dan (5)
kepuasan (dari pekerja, pengusaha, dan orang-orang yang bergantung
pada pekerja) terhadap kualitas pelayanan promosi kesehatan yang
diterima.Metode yang lazim digunakan untuk evaluasi adalah skala
rating pascaprogram, observasi, dan wawancara dengan para pekerja
tentang pendapat,sikap, dan kepuasan mereka terhadap program.
Tinjauan ulang bagan dan catatan dapat dilakukan untuk menentukan
perbedaan singkat morbiditas dan mortalitas.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KESEHATAN KERJA
DENGAN APLIKASI KASUS DI KOMUNITAS PEKERJA DI
PERUSAHAAN EKSPOR IKAN HIDUP PT. CV ANUGRAH SAPUTRA DI
DESA TAPULAGA KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
2.1 Deskripsi Kasus
Sekelompok

mahasiswa

keperawatan

profesi

ners

stik Avicenna

melakukan kegiatan praktik keperawatan komunitas untuk kesehatan kerja di


komunitas pekerja di perusahaan Ekspor Ikan Hidup PT.CV ANUGRAH
SAPUTRA di Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Provinsi
Sulawesi Tenggara, selama 1 Bulan mulai dari tanggal 5 November sampai 2

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Desember 2015. Kami melakukan kegiatan pengkajian selama 3 hari (mulai


tanggal 13-15 november) kepada para pekerja di perusahaan Ekspor Ikan Hidup
PT.CV ANUGRAH SAPUTRA yang berjumlah 10 orang, berdasarkan data dari
HRD perusahaan ini di dapat data umum sebagai berikut:
No.

Karakteristik
Jenis kelamin

1.

a. Laki-laki
b. Perempuan

Frekuensi/ jumlah
10 orang
0 orang

Jenis pekerjaan
2.

a. Penyortiran ikan

9 orang

b. Pengawas
1 orang
Usia
3.

a.
b.
c.
d.

25-35 tahun
36-46 tahun
47-57 tahun
58-60 tahun

2 orang
6 orang
2 orang
Orang

Tingkat pendidikan
4.

a. Tamat SD
b. Tamat SMP
c. Tamat SMA

3 orang
4 orang
3 orang

Lama bekerja

5.

a.
b.
c.
d.
e.

1-2 tahun
3-4 tahun
5-6 tahun
7-9 tahun
> 10 tahun

4 orang
2 orang
2 orang
1 orang
1 orang

Kemudian kami melakukan pengkajian lebih lanjut terhadap masingmasing pekerja dan juga dari HRD perusahaan sehingga didapat hasil pengkajian
sebagai berikut:
2.2 Proses Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
A. DATA INTI

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

1. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas


perusahaan Ekspor Ikan Hidup PT.CV ANUGRAH SAPUTRA
berada di wilayah Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten
Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas bangunan pabrik
keseluruhan sebesar 1 Ha. Pabrik ini berada di tepi jalan raya yang
merupakan akses utama di Desa Tapulaga Kecamatan Soropia
Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Terdiri dari beberapa
ruangan sektor yang didalamnya terdapat berbagai macam pekerjaan
industri yang berhubungan dengan ekspor ikan hidup diantaranya
adalah bagian penyortiran lkan hidup, penyimpanan ikan hidup,
pengolahan ikan hidup, ruang dan kolam penampungan ikan hidup, dll.
perusahaan Ekspor Ikan Hidup PT.CV ANUGRAH SAPUTRA
merupakan salah satu perusahan Ekspor Ikan Hidup PT.CV
ANUGRAH SAPUTRA yang terbagi menjadi beberapa bagian tugas
didalamnya yaitu bagian penyortiran ikan hidup pengelompokan ikan
hidup berdasarkan jenis dan pengawasan. Jumlah pekerja di ruangan
perusahaan Ekspor Ikan Hidup PT.CV ANUGRAH SAPUTRA
sebanyak 10 orang (perincian berdasarkan karakteristik umum ada di
tabel yang tersedia di awal) sebagaian besar bekerja adalah orang bugis
7 orang bajo 3 orang (100%) dan berasal dari desa tapulaga sebanyak 7
orang (70%). Desa leppe 3 orang (30%).
1. Status kesehatan komunitas
Dari pengkajian (anamnesa) dan kuisioner yang dilakukan
mahasiswa langsung kepada para pekerja di perusahaan Ekspor Ikan
Hidup PT.CV ANUGRAH SAPUTRA didapatkan hasil:
a. Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas
4 orang pekerja (40%) menegeluhkan sering batuk-batuk
3 orang (30%) pekerja mengeluhkan sering pusing
Sisanya 3 orang (30%) tidak ada keluhan
b. Tanda-tanda vital*
TD:
< 110/70 mmHg
: 2 orang (5%)
110/70mmHg-130/90mmHg
: 7 orang (75%)
>130/90 mmHg
: 1 orang (20%)
Nadi:
60-80x/menit
: 2 orang (90%)
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

80-100x/menit
: 8 orang (10%)
RR:
16-24x/menit
: 6 orang (90%)
>24x/ menit
: 4 orang (10%)
Suhu tubuh:
36,5C-37C
: 10 orang (100%)
c. Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir) *
ISPA
: 2 orang/ kasus (20%)
PPOK
: 1 orang (10%)
Diare
: 1 orang (10%)
Batuk
: 4 orang (40%)
Demam
: 1 orang (10%)
Sisanya tidak ada laporan keluhan penyakit 1 orang (10%)
Ket: (*) : data dari klinik perusahaan pada tanggal 12 November 2015
d. Riwayat penyakit komunitas
Data diambil dari 4 orang pekerja (100%) yang mengeluhkan
sering batuk-batuk, kami melakukan pengkajian dengan memberikan
kuisioner kepada 4 pekerja tersebut, dengan hasil:
No.

Karakteristik
Frekuensi
Menderita batuk berdahak minimal 30 kali

Presentase %

1.

setahun, sekurang-kurangnya 2 tahun

4 orang

100%

2.
3.

beruntun
Mempunyai riwayat merokok
Terpajan langsung dengan bahan produk
Mempunyai keluarga dengan riwayat

4 orang
4 orang

100%
100%

25%

25%

25%

25%

2
1

50%
25%

4.
5.
6.
7.
8.
9.

bronkitis dan emsifema


Sering mengalami sesak nafas saat
aktivitas sedang (jalan cepat, naik tangga)
Pernah merasa sesak atau nafas sulit
bahkan pada saaat istirahat
Pernah merasa sesak nafas menetap dan
makin lama makin berat
Saat Batuk selalu berdahak dan beriak
Pernah memeriksakan ke dokter atau
tempat pelayanan kesehatan baik umum
maupun yang ada di perusahaan dan
positif dinyatakan penderita PPOK

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

10.

(bronkhitis kronis, emfisema)


Pernah merasa dada terasa berat saat
bernafas

25%

e. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi komunitas


Para pekerja mendapat istirahat makan siang dari peusahaan,
makan siang rutin dilaksanakan tiap pukul 13.00 WIB di kantin pabrik.
f. Pola pemenuhan cairan dan elektrolit
Selama bekerja kebutuhan cairan pekerja didapat dari minuman
yang dibawa oleh para pekerja dari rumah.
g. Pola istirahat tidur
Para pekerja mengatakan bahwa istirahat tidur mereka biasanya
dilakukan pada malam hari saat pulang bekerja karena waktu bekerja
mereka adalah 9 jam mulai pukul 8 pagi-5 sore.
h. Pola eliminasi
Saat dilakukan anamnesa kepeada para pekerja Sebanyak 5 orang
dari 10 orang (50%) pekerja mengatakan pernah sakit anyanganyangan, hal ini ternyata disebabkan oleh 3 orang (60%) kurang
sering minum air putih saat bekerja, 2 orang (40%) menahan BAK
karena jarak kamar mandi dengan ruang penyortiran agak jauh. .
i. Pola aktivitas gerak
Saat dilakukan anamnesa kepada para pekerja sebanyak 10 orang
dari 10 orang (100%) jumlah pekerja mengeluhkan sering merasa
pegal di daerah leher dan punggungnya. Saat dilakukan observasi
secara langsung ternyata sebanyak 5 orang (50%) pekerja duduk
dengan posisi duduk yang salah/ terlalu membungkuk,5 orang (50%)
tidak menggerak-gerakkan badannya untuk merelaksasi tubuhnya/
berada dalam posisi duduk yang sama dalam waktu yang lama.
j. Pola pemenuhan kebersihan diri
Saat dilakukan observasi didapatkan data sebanyak 7 orang dari 10
orang pekerja (70%) tidak mencuci tangan setelah bekerja sisanya 3
orang (30%) mencuci tangan tapi dengan prosedur yang kurang benar.
k. Status psikososial
Antar kelompok pekerja tidak pernah mengalami pertengkaran atau
perselisihan karena mereka menganggap semua pekerja saling
bersaudara karena sudah bekerja bersama dalam waktu yang lama,
antar pekerja saling membantu dan memberikan dukungan bila ada
masalah.
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

l. Status pertumbuhan dan perkembangan


a) Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan
Berdasarkan data dari
perusahaan semua pekerja

tidak

mendapatkan asuransi kesehatan, tetapi data yang di dapat dari


pekerja menunjukka bahwa:
No

Karakteristik

.
1.
2.

3.

Pekerja yang memeriksakan


kesehatan secara rutin ke klinik
Pekerja yang memeriksakan
kesehatannya saat sakit saja
Pekerja yang tidak pernah/ belum
pernah datang ke klinik untuk

Frekuensi

Presentase (%)

1 orang

10%

2 orang

20%

7 orang

70%

memeriksakan kesehatannya
b) Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan
Setelah dilakukan pengkajian melalui observasi langsung kepada
10 pekerja di didapatkan hasil:
No.

Karakteristik

1.

Tidak menggunakan

2.

masker saat bekerja


Tidak menggunakan
sarung tangan saat

Jenis
pekerjaan
a. Pengepakan
b.pengawasan
a. Pengepakan
b.Pengawasan

bekerja

Ferekuensi

Presentase(%)

9 orang

100%

1 orang

100%

9 orang

100%

1 orang

100%

c) Pola perilaku tidak sehat dalam komunitas


Saat dilakukan observasi didapatkan data sebanyak 7 orang dari 10
orang pekerja dibagian pengepakan (70%) tidak mencuci tangan
setelah bekerja sisanya 3 orang (30%) mencuci tangan tapi dengan
A.

prosedur yang kurang benar.


DATA LINGKUNGAN FISIK
luas bangunan 20x10 meter bentuk bangunan berupa ruangan luas
yang lapang dengan meja-meja tempat pelintingan, pengepakan dan
terdapat 2 kamar mandi di dalamnya. Jenis bangunannya semi permanen

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

atap bangunan berupa seng alumunium dengan dinding terbuat dari papan
dengan lantai dari semen/ plesteran, ventilasi di ruangan ini berasal dari
jendela jendela kecil di atas tembok sisi bangunan total 5 buah,
penerangan ruangan berasal dari pintu ruangan kecil yang di buka saat jam
kerja bila menjelang sore terdapat lampu neon yang memberikan
pencahayaan diruangan ini. Kebersihan di dalam ruangan kurang rapi dan
agak kotor. Kondisi kamar mandi kurang bersih tetapi jumlahnya sangat
terbatas dan jarak.
B.

PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL


Di perusahaan PT. Anugerah putra tidak terdapat sebuah klinik
kesehatan yang disediakan untuk seluruh pekerja dan pegawai
diperusahaan ini. Sumber kesehatan yang ada di dekat perusahaan yakni
PUSTU (puskesmas pembantu) yang ada di Pustu ini adalah terdapat 1
perawat, fasilitas alat yang dimiliki klinik ini terdiri dari 2 kamar tidur,
obat-obatan yang cukup lengkap .

C.

EKONOMI
Rata-rata penghasilan pekerja di ruangan 1-1,5 juta rupiah
sedangkan untuk bagian pengawas sekitar 1,5-2 juta rupiah.

D.

KEAMANAN DAN TRANSPORTASI


Sistem

keamanan

perusahaan

penanggulangan kebakaran

tidak

cukup

baik.

Untuk

tidak terdapat alat pemadam kebakaran

manual di setiap ruangan produksi dan perusahaan ini juga tidak memiliki
unit mobil pemadam kebakaran

selain itu perusahaan juga tidak

bekerjasama dengan dinas pemadam kebakaran kota untuk menanggulangi


jika terjadi masalah kebakaran. Penanggualangan polusi tidak ada, dan
tidak adanya alat blower untuk ventilasi agar tidak terjadi polusi di dalam
pabrik.
E.

POLITIK DAN KEAMANAN


Perusahaan PT. Anugerah saputra merupakan perusahaan milik
swasta yang dimiliki oleh Tn. HK.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

F.

SISTEM KOMUNIKASI
Sarana komunikasi yang digunakan oleh pekerja di ruangan
sebagaian besar menggunakan alat komunikasi telfon genggam (HP)
sebagai alat komunikasi antara pekerja, keluarga dan masyarakatnya.
Mayoritas pekerja dengan menggunakan bahasa bugis dan sebagaian kecil
menggunakan bahasa bajo.

G.

PENDIDIKAN
Data yang didapat dari HRD perusahaan Anugerah saputra
didapatkan data tingkat pendidikan pekerja di ruangan adalah sebagai
berikut:
Tingkat pendidikan
a. Tamat SD
b. Tamat SMP
c. Tamat SMA

3 orang
4 orang
3 orang

Saat dilakukan pengkajian dengan kuisioner tentang pengetahuan


pekerja terhadap pentingnya penggunaan standart keselamatan kerja di
perusahaan ekspor ikan hidup terhadap kesehatan pekerja, di dapatkan
data:

H.

7 orang (70%) dari pekerja tidak mengetahui


3 orang (30%) dari pekerja mengetahui
REKREASI
Berdasarkan data yang didapat dari perusahaan, tidak terdapat hari
libur
Di akhir tahun biasanya juga diadakan rekreasi bersama yang di
fasilitasi oleh perusahaan yang juga dilakukan secara giliran atau gantian
di tiap pekerja

2.2.2

Pengolahan Data

Komposisi pekerja berdasarkan suku

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Menurut suku
Laki-laki; 40%
Perempuan; 60%

Gambar; Komposisi pekerja berdasarkan suku di perusahaan

PT. CV.ANUGERAH

SAPUTRA desa tapulaga pada tanggal 13-15 november 2015


Berdasarkan gambar tersebut, terlihat bahwa pekerja di ruangan sektor A7
di perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA yang terbanyak adalah bugis
sebanyak 60% (60 orang) dan bajo sebanyak 40% (40 orang).

Proporsi pekerja berdasarkan jenis pekerjaan

Menurut Jenis Pekerjaan


Pengawas; 10%

Pengepakan; 35%

Pengelintingan; 55%

Gambar; proporsi pekerja berdasarkan jenis pekerjaan di perusahaan PT. CV.ANUGERAH


SAPUTRA desa tapu pada tanggal 13-15 november 2015

Berdasarkan proporsi pekerja berdasarkan jenis pekerjaannya, terlihat


bahwa bahwa pekerja di perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA bagian
yang terbanyak adalah bagian pengexporan 55% (5 orang), bagian pengyortiran
35% (4 orang), dan bagian pengawasan 10% (1 orang).
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Komposisi pekerja berdasarkan usia

Pekerja Menurut Usia


100%
80%
60%
40%
20%
0%

25-35 th

36-46 th

47-57 th

Gambar; komposisi pekerja berdasarkan usia di perusahaan

58-60 th

PT. CV.ANUGERAH

SAPUTRA di desa tapulaga pada tanggal 13-15 november 2015


Berdasarkan komposisi pekerja berdasarkan usia, terlihat bahwa bahwa
pekerja di perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA yang terbanyak berusia
36-46 tahun sebanyak 4 orang (40%).

Komposisi pekerja berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Pekerja

Tamat SMA; 25%


Tamat SD; 30%

Tamat SMP; 45%

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Gambar; komposisi pekerja berdasarkan tingkat pendidikan di perusahaan

PT.

CV.ANUGERAH SAPUTRA di desa tapulaga pada tanggal 13-15 november 2015


Berdasarkan komposisi pekerja berdasarkan tingkat pendidikan, terlihat
bahwa bahwa pekerja di perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA yang
terbanyak adalah tamat SMP sebanyak 4 orang (40%).

Komposisi pekerja berdasarkan lama bekerja

Lama Bekerja
100%
80%
60%
40%
20%
0%

5-10 th
15 org

11-15 th 16-20 th 21-25 th


35 org

30 org

15 org2

> 25 th
5 org

Gambar; komposisi pekerja berdasarkan lama bekerja di perusahaan

PT. CV.ANUGERAH

SAPUTRA di desa tapulaga pada tanggal 13-15 november 2015

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Berdasarkan komposisi pekerja berdasarkan lama bekerja, terlihat bahwa


pekerja di perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA yang terbanyak adalah
pekerja yang sudah bekerja selama 5-10 tahun sebanyak 7 orang (70%).

2.2.3

Analisa Data
Data yang telah kami dapat dari hasil pengkajian yang kami lakukan mulai

tanggal 13-15 november 2015, untuk menentukan diagnosa keperawatan maka


kami menyusun analisa data sebagai berikut;
NO

DATA

.
1.

DS:

Pekerja mengatakan
mengeluhkan sering batuk-

batuk.
Pekerja mengatakan tidak
terlalu memeperhatikan
pentingnya penggunaan

ETIOLOGI
Kurang

Resiko terjadinya

pengetahuan

peningkatan

pekerja tentang

penyakit akibat

pentingnya K3

kerja

bagi kesehatan

berhubungan

dan keselamatan

dengan kurang

pekerja

pengetahuan

masker dan sarung tangan


DO:

PROBLEM

4 orang pekerja (40%) dari


10 pekerja di ruangan

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

pekerja dan
perusahaan
tentang standar
keselamatan dan

menegeluhkan sering batukbatuk dengan perincian:


4 orang (100%) dari 4
orang pekerja yang
sering batuk .
4 orang (40%)dari 10
pekerja yang sering
batuk mengalami batuk
menahun sekurangkurangnya selama 2
tahun.
4 orang (40%) dari 10
pekeja yang sering
batuk saat batuk selalu
berdahak dan beriak.
1 orang (10%) dari 10
pekerja yang sering
batuk positif didiagnosa
PPOK
1 orang (10%) dari 10
pekerja yang sering
batuk merasa dada berat

saat bernafas.
Riwayat penyakit pekerja
ruangan sektor A7 dalam
satu tahun terakhir; ISPA: 2
orang/ kasus (20%), PPOK:
1 orang (10%), batuk 4

orang (40%).
Pekerja yang tidak
menggunakan masker dan
sarung tangan diruangan
sebanyak 10 orang dari 10
orang pekerja (100%).

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

kesehatan kerja,
penggunaan
APD, posisi
kerja yang
benar,fasilitas
kerja.

7 orang (70%) dari 10


pekerja diruangan tidak
mengetahui pentingnya K3
bagi kesehatan dan
keselamatan mereka

2.

DS:

Pekerja mengatakan jarang


melakukan cuci tangan

Ketidakadekuatan

Perilaku

hygine perorangan

kesehatan

pada pekerja

cenderung
beresiko pada

setelah melakukan

pekerja

pekerjaannya atau sebelum

perusahan di

makan karena keterbatasan

ruangan PT.

kamar mandi dan fasilitas

Anugerah

yang kurang mendukung

saputra

(tidak ada sabun cuci tangan


di kamar mandi).
DO:

7 orang (70%) dari 10 orang


pekerja dibagian tidak
mencuci tangan setelah
bekerja.

3 orang (30%) dari 10 orang


pekerja mencuci tangan tapi
dengan prosedur yang
kurang benar.

3.

DS:

Pekerja mengatakan sering


mengalami pegal di daerah

Posisi tubuh saat

Resiko cidera

bekerja yang salah

pada pekerja

pada pekerja

perusahaan PT

punggung dan leher.


DO:
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Anugerah
Saputra

10 orang dari 10 orang


(100%) jumlah pekerja
mengeluhkan sering merasa
pegal di daerah leher dan
punggungnya.
5 orang (50%) dari 10
orang pekerja duduk
dengan posisi duduk
yang salah/ terlalu
membungkuk.
5 orang (50%) dari 10
orang pekerja tidak
menggerak-gerakkan
badannya untuk
merelaksasi tubuhnya/
berada dalam posisi
duduk yang sama dalam
waktu yang lama.

2.2.4

Penapisan Masalah
Dari hasil analisa data, didapatkan data yang kemudian dilakukan

penapisan masalah untuk menentukan perioritas masalah, adapun penapisan


masalah tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
No.

Masalah
Kesehatan

1.

Resiko

KRITERIA
1 2 3 4 5 6 7 8

Score

34

5 5

4 3

terjadinya
peningkatan

Keterangan
Keterangan
kriteria:
1. Sesuai dg

penyakit akibat

peran perawat

kerja

komunitas

berhubungan

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

dengan kurang

2. Resiko

pengetahuan

terjadi/jumlah

pekerja dan

yang beresiko
3. Resiko parah
4. Potensi utk

perusahaan
tentang standar

pend.kesehatan
5. Interest utk

keselamatan
dan kesehatan

komunitas
6. Kemungkinan

kerja,

diatasi
7. Relevan dg

penggunaan
APD, posisi

program
8. Tersedianya

kerja yang
benar,fasilitas
2.

kerja.
Perilaku

sumber daya
5

4 4

4 3

33

kesehatan

Pembobotan:

cenderung

1. Sangat rendah

beresiko pada

2. Rendah

pekerja

3. Cukup

perusahaan

4. Tinggi

perusahaan PT.

5. Sangat tinggi

CV.ANUGERA
H SAPUTRA
berhubungan
dengan
Ketidakadekuat
an hygine
perorangan
pada pekerja
3.

Resiko cidera

Keterangan

5 3

3 4

31

kerja pada
pekerja
perusahaan PT.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

CV.ANUGERA
H SAPUTRA
berhubungan
dengan Posisi
tubuh saat
bekerja yang
salah pada
2.2.5

pekerja
Prioritas Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan scoring di atas, maka prioritas diagnosa keperawatan

komunitas pada pekerja perusahaai ruangan PT. Anugerah saputra adalah sebagai
berikut:
No

Diagnosa Keperawatan

Score

Resiko terjadinya peningkatan penyakit akibat kerja


1.

berhubungan dengan kurang pengetahuan pekerja dan


perusahaan tentang standar keselamatan dan kesehatan kerja,

34

penggunaan APD, posisi kerja yang benar,fasilitas kerja.


Perilaku kesehatan cenderung beresiko pada pekerja
2.

perusahaan PT. CV.ANUGERAH SAPUTRA berhubungan

33

dengan Ketidakadekuatan hygine perorangan pada pekerja.


Resiko cidera kerja pada pekerja perusahaan PT.
3.

CV.ANUGERAH SAPUTRA berhubungan dengan Posisi

31

tubuh saat bekerja yang salah pada pekerja.

RENCANA KEGIATAN
1.- Pemaparan materi pada pemilik usaha dan pekerja mengenai berbagai
kecelakaan kerja
- Pemaparan materi pada pemilik usaha dan pekerja mengenai risiko yang bisa
terjadi akibat tidak menggunakan APD

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

2. - Pemaparan materi mengenai manfaat APD dan macam-macamnya


- Pengenalan alat yang digunakan untuk melindungi pekerja
- Memasang poster tentang akibat yang ditimbulkan jika tidak menggunakan
APD
- Menyebar leaflet tentang pentingnya APD

dan bahaya tidak menggunakan

APD
3. - Mempraktikan cara penggunaan APD

langsung oleh anggota perusahaan.

-Memotivasi pemilik usaha dan pekerja berkenaan penggunaan APD


4. - Bersama berdiskusi tentang pemilihan APD
- Mengajak pemilik usaha untuk membina hubungan kemitraan dengan
penyedia APD dan pihak puskesmas.
- Mempromosikan penggunaan APD kepada karyawan.
- Pemilik membuat peraturan bagi para karyawannya untuk wajib
menggunakan APD
EVALUASI
1. - pekerja dapat menyebutkan kembali 3 dari 4 kecelakaan kerja
- pekerja dapat menyebutkan kembali apa yang dimaksud dengan kecelakaan
kerja.
-pekerja dapat menyebutkan kembali 4 dari 7 resiko masalah kesehatan
akibat kecelakaan kerja
2. pekerja dapat menyebutkan kembali 4 dari 5 jenis-jenis APD yang telah di
kenalkan penyuluh.
3. - para pekerja beserta petugas kesehatan dan mahasiswa mendiskusikan
temtang APD
Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

pemilik usaha memutuskan untuk menggunakan APD

4. - Pemilik mau mengadakan kerjasama dengan perusahaan APD


- Pemilik mampu mengajak pekerja untuk menggunakan APD
- Pemilik mampu membuat peraturan penggun aan APD
- Pekerja mau mematuhi aturan yang sudah dibuat

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

BAB IV
PEMBAHASAN
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan
sekedar kesehatan pada sektor industri saja melainkan juga mengarah kepada
upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health
of all at work). Sebenarnya hal ini merupakan keuntungan bagi pemilik lapangan
pekerjaan atau para pengusaha untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman
karena hasilnya adalah pengurangan biaya yang berhubungan dengan absennya
pekerja, perawatan pekerja di rumah sakit dan kecacatan (suddarth. 2002: 27).
Tahap proses kesehatan kerja pada dasarnya sama dengan tahapan pada
proses keperawatan di klinik keperawatan yang meliputi : pengkajian,
perencanaan dan evaluasi. Pembahasan inipun mengacu pada analisis SWOT
(strength/kekuatan,

weaknass/kelemahan,

opportunity/kesempatan

dan

threat/ancaman).
A. PENGKAJIAN
Sesuai dengan teori Neuman, kelompok atau komunitas dilihat sebagai
klien dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu komunitas yang merupakan
klien dan penggunaan proses keperawatan sebagai pendekatan, yang terdiri
dari 5 tahapan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi dan evaluasi.
Pada tahap pengkajian data yang perlu dikaji pada kelompok atau
komunitas menurut teori Neuman adalah data inti yang terdiri atas data
demografi : uur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, agama, nilai-nilai
keyakinan serta riwayat timbulnya komunitas. Selain itu perlu mengkaji sub
system yang mempengaruhi kmunitas seperti lingkungan fisik perumahan,

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

pendidikan, kesehatan, keamanan, keselamatan politik, dan kebijakan


pemerintah tentang kesehatan, sarana pelayanan kesehatan yang tersedia,
sistem komunikasi dan ekonomi dan ekonomi. Pengkajian dilaksanankan
dengan

menggunakan

metode

wawancara

serta

observasi

langsung

berdasarkan format pengkajian.


Analisis SWOT
Strength/kekuatan
1. Adanya dasar pengetahuan mehasiswa tentang pengkajian tentang
kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Adanya dukungan dari pihak akademik khususnya tim kperawatan
komunitas`dan tersedianya format pengkajian kesehatan dan keselamatan
kerja yang baku.
3. Adanya dukungan positif dari sebagian besar pekerja yang di mintai data
(pekerja cukup kooperatif)
4. Adanya dukungan dari kepala perusahaan dan pengawas perusahaan
setempat yang bersedia mendampingi mahasiswa melakukan orientasi
wilayah dan memberikan informasi-informasi terkait.
Weakness/kelemahan
1. Kurangnya waktu yang diberikan oleh kepala perusahaan pada mahasiswa
untuk melakukan pengkajian.
2. Terbatasnya waktu pekerja saat dilakukan wawancara oleh mahasisswa
Opportunity/kesempatan
Penerimaan yang baik dari kepala perusahaan dan para pekerja karena
kegiatan berhubungan denagan masalah kesehatan sesuai dengan kebutuhan
pekerja.
Threat/ancaman
1. Keakuratan data yang diragukan karena sebagian pekerja kurang mengerti
dengan bahasa kesehatan yang ada pada pengkajian
2. Tingkat keseriusan pengumpul data yang berbeda-beda dalam mengkaji
permasalahan yang di alami sebenarnya.
B. Perencanaan

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Analisis SWOT:
Strengt/kekuatan
1. Adanya dukungan dari akademik dan pemilik perusahaan..
2. Adanya kerja sama antara mahasiswa yang diwujudkan melalui pembagian
penanggung jawab masing-masing kegiatan sehingga kegiatan dapat
terlaksana sesuai dengan rencana/target waktu yang ditetapkan.
3. Perencanaan program di perusahaan merupakan hasil dari diskusi
mahasiswa.
Weakness/kelemahan
1. Tidak tepatnya waktu yang direncanakan untuk melakukan pengkajian dan
penyuluhan.
Opportunity/kesempatan
1. Adanya pekerja yang memeliki waktu luang untuk ikut berpartisipasi
dalam kegiatan yang direncanakan sehingga mereka menyempatkan diri
sebagai responden dalam beberapa kegiatan.
2. Adanya beberapa perencanaan yang merupakan program yang sudah
berjalan pada pekerja.
Threat/ancaman
1. Kemungkinan peran serta aktif para pekerja dalam pelaksanaan nantinya
akan berkurang berhubungan denagan kesibukan pekerja.
2. Kemungkinan nantinya para pekerja lupa materi penyuluhan..
C. Implementasi
Dalam pembahasan ini akan dijelaskan secara analisis SWOT berdasarkan
pada jenis masalah keperawatan yang ada.
1. Masalah kesehatan I : Resiko terjadinya peningkatan penyakit akibat
kerja

berhubungan

perusahaan

tentang

dengan

kurang

standar

pengetahuan

keselamatan

pekerja

dan

kerja,penggunaan APD,posisi kerja yang benar,fasilitas kerja.


Analisis SWOT
Strengt/kekuatan
Adanya penyulihan yang dilakukan oleh mahasiswa.
Adanya puskesmas di wilayah kerja kecamatan Soropia.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

dan

kesehatan

Adanya keinginan pekerja untuk sehat hal ini terlihat dari antusias
pekerja untuk mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh
mahasiswa.

Weakness/kelemahan

Kurangnya pengetahuan pekerja tentang kesehatan.


Kurangnya kesadaran pekerja untuk memkai APD saat bekerja
Kurangnya kesadaran pekerja untuk mengunjungi fasilitas

kesehatan yang ada di desa Tapulaga..


Opportunity/kesempatan
Kesediaan pekerja untuk mengikuti kegiatan penyuluhan
Threat/ancaman
Kesibukan pekerja yang terkadang membuat pekerja malas untuk
memeriksakan kesehatannya.
Kurangnya petugas kesehatan melakukan penyuluhan di pekerja.
2. Masalah kesehatan II : Perilaku kesehatan cenderung beresiko pada
pekerja perusahaan PT.CV ANUGERAH SAPUTRA berhubungan dengan
ketidakadekuatan hygine perorangan pada pekerja.
Analisis SWOT :
Strengt/kekuatan
Antusiasnya para pekerja untuk mengikuti penyuluhan yang di berikan

oleh mahasiswa
Adanya dukungan dari kepalah perusahaan untuk menerapkan personal

hygine di perusahaan.
Weakness/kelemahan
Kurangnya kesadaran pekerja untuk berperilaku hidup sehat.
Tidak adanya fasilitas kebersihan diri yang di perusahaan .
Opprtunity/kesempatan
Sejalannya penyuluhan yang diberikan dan adanyya dukungan dari
kepala perusahaan
Threat/ancaman
Kurannya kesadaran pekerja untuk merubah kebiasaan dan perilaku
bersih dan sehat

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

3. Masalah kesehatan II : Resiko cidera kerja pada pekerja perusahaan PT.CV


ANUGRAH SAPUTRA berhubungan dengan posisi tubuh saat bekerja
yang salah pada pekerja.
Analisis SWOT :
Strengt/kekuatan
Antusiasnya para pekerja untuk mengikuti penyuluhan yang di berikan
oleh mahasiswa
Weakness/kelemahan
Kurangnya kesadaran pekerja untuk selalu merubah posisinya saat
bekerja.
Kurangya fasilitas istirahat diperusahaan
Opprtunity/kesempatan
Sejalannya penyuluhan yang diberikan dan adanyya dukungan dari
kepala perusahaan
Threat/ancaman
Kurangnya kesadaran pekerja untuk memerhatikan posisinya bekerja
D. Evaluasi
Berdasarkan respon verbal dan non verbal menurut teori Neuman dapat
disimpulkan hasil evaluasi bahwa :
1. Rencana kegiatan mahasiswa dapat diterimah oleh para pekerja.
2. Pada pelaksanaan kegiatan (implementasi) biasanya pekerja kurang
berespon berhubungan dengan kurangnya kesadaran apalagi jika hal
tersebut membutuhkan pengorbanan materi.
3. Kegiatan yang berhasil dilaksanakan umunya karena dukungan dari
akademik dan pemilik perusahaan dan swadana mahasiswa sendiri..
4. Tindak lanjut dari aparat kesehatan terkait (puskesmas, pustu/bidan
desa) sangatlah perlu terutama dalam peningkatan motivasi dan
kesadaran masyarakat untuk berperan aktif serta dalam berbagai
upaya-upaya kesehatan.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut Asuhan Keperawatan Komunitas Kesehatan Kerja yang diberikan
bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan Pekerja yang
bersifat komprehensif melalui kerja sama dan peran serta pekerja, yang
menekanan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan
tidak mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif.
1. Asuhan keperawatan yang diberikan terdiri dari pengkajian, perencanaan,
implementasi dan evaluasi.
2. Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas Kesehatan Kerja di PT
CV ANUGERAH SAPUTRA, mahasiswa melibatkan serta pekerja
melalui strategi penyuluhan kesehatan kerja bersama-sama dengan
mahasiswa dan pekerja lainnya dalam mengatasi masalah kesehatan.
3. Selama melakukan praktek keperawatan komunitas kesehatan kerja,
mahasiswa bekerja sama dengan

pekerja melakukan pengkajian,

menetapkan masalah, menentukan prioritas, membuat perencanaan,


melaksanakan kegiatan dan evaluasi.
4. Adapun masalah yang ditemukan di Lingkungan perusahaan PT CV
ANUGERAH SAPUTRA adalah: kurangnya pengetahuan pekerja tentang
APD yang kurang optimal, kurangnya pengetahuan tentang persona hygine
dan beresikonya para pekerja cidera saat bekerja
5. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama pekerja dalam mengatasi
masalah tersebut antara lain:
a. Kurangnya pengetahuan tentang APD :
Penyuluhan pentingnya memakai APD saat bekerja
b. Kurang pengetahuan tentang personal hygine :
Penyuluhan cara hidup sehat

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

c. beresiko cidernya pekerja


Memberikan pemahaman tentang selalu merubah posisi
6. Dari kegiatan yang dialaksanakan tersebut diatas didapatkan hasil
terlaksananya kegiatan penyuluhan pada pekerja
7. Keberhasilan yang telah dicapai merupakan kerja sama antara mahasiswa
dan pekerja, Puskesmas, pemerintah setempat, serta mahasiswa Profesi
Ners STIK Avicenna Kendari tahun 2015.
B. Saran-saran
Setelah seluruh kegiatan Asuhan Keperawatan Komunitas Kesehatan
Kerja telah dilaksanakan maka dengan ini kami mengajukan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Puskesmas sebaiknya menindak lanjuti program-program kesehatan yang
telah dilaksanakan oleh mahasiswa selama melaksanakan Program Profesi
Keperawatan Komunitas Kesehatan Kerja.
2. Pihak Puskesmas sebaiknya turun kemasyarakat dan pekerja diperusahaan
untuk menemukan masalah-masalah yang ada dimasyarakat dan pekerja
serta memberikan penyuluhan kesehatan secara berkala diwilayah kerjanya
khususnya di wilayah Desa Tapulaga Kecamatan Soropia
3. Kerja sama antara lintas sektoral dan lintas program perlu ditingkatkan
agar pelaksanaan PKL dapat lebih baik pada masa yang akan datang.
4. Perlunya kerja sama antara Pemerintah Desa Tapulaga, pihak Puskesmas
dan pemilik perusahaan untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat
dan pekerja perusahaan yang sudah terbentuk sehingga terus termotivasi
untuk melaksanakan hidup sehat serta melanjutkan program kegiatan
mahasiswa PKL.

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

DAFTAR PUSTAKA
Ekasari, Mia Fatmawati. (2006). Panduan pengalaman belajar lapangan
keperawatan keluarga, keperawatan gerontik, keperawatan
komunitas. Jakarta: EGC
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2009). Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika.
Mubarak, Wahit Iqbal. (2009). Pengantar keperawatan komunitas 1. Jakarta:
Sagung Seto
Mubarak, Wahit Iqbal. (2009). Ilmu keperawatan komunitas pengantar dan teori
buku 1. Jakarta: Salemba Medika
Mubarak, Wahit Iqbal. (2009). Ilmu keperawatan komunitas pengantar dan teori
buku 2. Jakarta: Salemba Medika
Mubarak, Wahit Iqbal. (2009). Ilmu keperawatan masyarakat: teori dan aplikasi.
Jakarta: Salemba Medika

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

DOKUMENTASI

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Askep Komunitas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja