Anda di halaman 1dari 10

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH RHESUS

I.

TUJUAN PERCOBAAN
- Mengetahui cara pengerjaan pemeriksaan golongan darah Rhesus
- Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada pemeriksaan golongan darah
-

melalui analisa secara biokimiawi klinis


Memahami perisip penggolongan darah rhesus melalui analisa secara biokimiawi
klinis.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
Golongan Rhesus
Sistem penggolongan darah manusia telah cukup banyak ditemukan sampai
saat ini, seperti sistem golongan darah ABO, Sistem MNSs, Faktor Rh, dan
sebagainya. Golongan darah seseorang ditentukan oleh jenis antigen yang terdapat
dalam permukaan sel-sel darah merah (eritrosit) yang dimilikinya. Antigen ini akan
bereaksi dengan antibodi yang sesuai. Sistem golongan darah yang memperhatikan
faktor Rh berarti darah seseorang dibedakan berdasarkan ada tidaknya antigen-Rh
dalam eritrositnya.
Menurut

Roberts & Pembrey (1995: 141) sistem rhesus ini ditemukan

melalui penyuntikan sel-sel darah merah kera Rhesus kepada marmot (guinea-pig)
untuk mendapatkan anti serum. Anti serum yang didapat ternyata bereaksi dengan
sel-sel darah merah 85% populasi Eropa Barat dan Amerika Utara. Suryo (1994:
359) menambahkan bahwa antigen-Rh pertama kali ditemukan dalam darah kera
Macaca rhesus oleh Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940 yang kemudian
ditemukan pula antigen-Rh dalam darah manusia. Berdasarkan ada tidaknya antigenRh, maka golongan darah manusia dibedakan atas dua kelompok, yaitu :

1. Orang Rh-positif (Rh+), berarti darahnya memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan


dengan reaksi positif atau terjadi penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes
dengan anti-Rh (antibodi Rh).
2. Orang Rh-negatif (Rh-), berarti darahnya tidak memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan
dengan reaksi negatif atau tidak terjadi penggumpalan saat dilakukan tes dengan antiRh (antibodi Rh).
Menurut Landsteiner golongan darah Rh ini termasuk keturunan (herediter) yang
diatur oleh satu gen yang terdiri dari 2 alel, yaitu R dan r. R dominan terhadap r
sehingga terbentuknya antigen-Rh ditentukan oleh gen dominan R. Orang Rh+
mempunyai genotip RR atau Rr, sedangkan orang Rh- mempunyai genotip rr. Wiener
menyatakan bahwa golongan darah Rh ditentukan oleh satu seri alel yang terdiri dari
8 alel. Hal ini didasarkan pada kenyataan tidak semua orang Rh+ mempunyai antigenRh yang sama dan begitu juga dengan orang Rh-. Kedelapan alel tersebut yaitu: (1)
Rh+, alel-alelnya RZ , R1 , R2 , R0 dan (2) Rh-, alel-alelnya ry, r, r, r .
Peneliti lain yaitu R.R. Race dan R.A. Fisher berpendapat bahwa golongan darah
Rh ditentukan oleh 3 pasang gen (C,D, dan E). Gen-gen ini bukan alel tetapi terangkai
amat berdekatan satu sama lain dan ketiga gen ini dominan terhadap alelnya c,d, dan
e. Ada tidaknya antigen-Rh dalam eritrosit seseorang ditentukan oleh gen D. Orang
Rh+ mempunyai gen D dan bergenotip CDE atau cDe , dan sebagainya. Orang Rhtidak mempunyai gen D dan genotipnya dapat ditulis cdE atau CdE . Ketiga sistem
tersebut tetap berlaku karena belum dapat dipastikan sistem mana yang benar sampai
sekarang (Suryo, 1998: 266-267).
Peranan Faktor Rh dalam Klinik

Suryo (1994: 362-368) menyatakan bahwa faktor Rh dalam darah seseorang


mempunyai arti penting dalam klinik. Orang yang serum dan plasma darahnya tidak
mempunyai

anti-Rh

dapat

distimulir

(dipacu)

untuk

membentuk

anti-Rh.

Pembentukan anti-Rh ini dapat melalui jalan :


1. Transfusi Darah. Contoh kasus ini misalnya pada seorang perempuan Rh- yang
kerena sesuatu hal harus ditolong dengan transfusi darah. Darah donor kebetulan
Rh+, berarti mengandung antigen-Rh. Antigen-Rh ini akan dipandang sebagai
protein asing sehingga perempuan itu akan distimulir membentuk anti-Rh. Serum
darah perempuan yang semula bersih dari anti-Rh akan mengandung anti-Rh.
Anti-Rh akan terus bertambah jika transfusi dilakukan lebih dari sekali. Anti-Rh
akan membuat darah yang mengandung antigen-Rh menjadi menggumpal
sehingga perempuan Rh- tersebut tidak bisa menerima darah dari orang Rh+.
Orang Rh- harus selalu ditransfusi dengan darah Rh-. Seseorang yang akan
melakukan transfusi sebaiknya selain memeriksa golongan darah dengan sistem
ABO juga harus memeriksakan faktor Rh nya.
2. Perkawinan. Kasus ini bisa terjadi misalnya seorang perempuan Rh- (genotip rr)
menikah dengan laki-laki Rh+ (bergenotip homozigotik RR) dan perempuan
tersebut hamil. Janin dari pasangan ini tentunya akan bergolongan darah Rh+
(genotip Rr) yang diwarisi dari ayahnya. Sebagian kecil darah janin yang
mengandung antigen-Rh tersebut akan menembus plasenta dan masuk kedalam
tubuh ibunya. Serum dan plasma darah ibu distimulir untuk membentuk anti-Rh
sehingga darah ibu yang mengalir kembali ke janin mengandung anti-Rh. Anti-Rh
ini akan merusak sel darah merah janin yang mengandung antigen-Rh sehingga
janin akan mengalami hemolisis eritrosit. Hemolisis eritrosit akan menghasilkan

bilirubin indirek yang bersifat tidak larut air tetapi larut lemak dan tentunya akan
meningkatkan kadar bilirubin darah janin. Peningkatan ini dapat menyebabkan
ikterus patologis yaitu suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah
mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kerusakan ikterus
bila tidak segera ditangani. Kerusakan ikterus merupakan suatu kerusakan otak
akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama pada korpus striatum,
talamus, nukleus sub talamus, hipokampus, nukleus merah dan nukleus pada dasar
ventrikulus IV. Bayi yang mengalami kern ikterus biasanya mengalami kuning
disekujur tubuhnya (Mula Tarigan, 2003: 1-2). Ada 2 kemungkinan bagi janin
yang mengalami ketidakcocokan Rh ini, yaitu : Bayi pertama bisa selamat karena
anti-Rh yang dibentuk oleh ibu itu masih sedikit sedangkan bayi pada kehamilan
kedua bisa meninggal jika anemia berat. Penyakit seperti ini dikenal dengan nama
eritoblastosis fetalis. Kejadian ini akan terulang pada waktu ibu hamil berikutnya
(Campbell, dkk, 2004: 91). Bayi dapat juga hidup, tetapi biasanya akan
mengalami cacat, lumpuh, dan retardasi mental.
Rhesus faktor atau Rh adalah suatu antigen peting lainnya yang terdapat di dalam
darah. Manusia ada yang mengandung Rh (Rh positif, di tulis Rh+) dan ada yang tidak
mengandung Rh(Rh negatif, ditulis Rh-). Bila darah dengan Rh+ ditransfusikan pada
orang yang tidak memiliki Rh (Rh-), maka orang tersebut akan dibentuk antibodi (anti
Rh+).
Pada transfusi pertama mungkin tidak akan terjadi apa-apa atau kecil sekali
pengaruhnya. Akan tetapi bila transfusi yang kedua dan seterusnya dilakukan dengan
darah yang sama atau darah yang mengandung Rh, maka antibodki yang dibentuk akan
semakin kuat. Hal tersebut dapat nmengakibatkan kerusakan sel-sel darah pada orang si

penerima transfusi darah, karena adanya reaksi antara antigen (faktor Rh) dengan
antibodi (anti Rh).
Kerusakan tersebut berupa pecahnya sel-sel darah (hemolisis) yang dapat
menggakibatkan kematian bagi orang tersebut. Bila seorang ibu dengan Rh
mengandung bayi yang memiliki Rh (Rh+), maka si ibu akan membentuk antibodi yang
dapat merusak eritrosit bayi yang dikandungnya. Kematian bayi yang dikandungnya
biasanya akan terjadi pada kehamilan kedua dan seterusnya. Seperti juga golongan
darah berdasarkan sistem ABO, golongan darah Rhesus juga didasarkan pada jenis
aglutinogen rhesus pada permukaan eritrosit.
Landsteiner dan Weiner tahun 1940 menemukan antigen sistem Rhesus pada sel
darah merah. Mula-mula mereka menyuntikkan sel darah monyet Rhesus pada kelinci,
ternyata serum kelinci yang telah disuntik atau diimunisasi tersebut, mengandung zat
anti atau antibody yang mengagglutinasikan (menggumpalkan) sel darah merah, seperti
pada 85% orang-orang Eropa, dan golongan darah mereka kemudian disebut golongan
Rhesus Positif (Rh Positif). Pada 15% sisanya, yang sel-selnya tidak diagglutinasikan
(tidak digumpalkan) disebut golongan Rhesus negatif (Rh negatif).
Berdasarkan pembagian ras manusia, ternyata rhesus negatif lebih banyak
dijumpai pada orang:

Eropa (bule) sekitar 15% Rh dan 88% Rh +

Negro : 7-8% Rh dan 90 93% Rh +

Asia : 99% rhesus + dan Rh < 1%

Dalam sistem Rhesus tidak ada anti RH yang timbul secara alami. Bila dalam
tubuh seseorang ada zat anti, anti RH, pasti hal itu karena immunisasi. Proses
immunisasi memerlukan waktu, mungkin beberapa minggu setelah penyuntikan
antigen, sebelum zat antinya terbentuk dalam darah.
Dalam sistem Rhesus telah ditemukan beberapa macam antigen dan antigen yang
utama, yaitu antigen D. Antigen ini merupakan antigen yang kuat yang dapat
menyebabkan komplikasi, berupa reaksi transfusi hemolitik, yaitu reaksi hancurnya selsel darah merah. Pada bayi menyebabkan penyakit Hemolytic disease of the newborn,
yaitu bayi lahir kuning atau bahkan bengkak di seluruh tubuh atau mungkin lahir
meninggal.
Rhesus maupun Rhesus + (dalam kondisi darurat). Tetapi orang Rhesus + hanya
diperbolehkan mendonorkan darahnya kepada Rhesus (+) saja, dan tidak boleh ke
Rhesus (). Alasannya sama seperti golongan darah ABO, yaitu karena Rhesus +
sebagai donor memiliki antigen (antigen Rhesus) dan Rhesus (-) sebagai resipien
memiliki antibodi (anti Rhesus). Inkompatibilitas ini akan menyebabkan penggumpalan
(aglutinasi) antigen Rhesus oleh anti Rhesus, dan bisa menyebabkan kematian sang
resipien.
Nilai medis lain dari golongan Rhesus ini terutama dalam masalah perkawinan.
Jika seorang pria Rhesus + menikah dengan wanita Rhesus , maka anaknya berpeluang
mengalami eritroblastosis fetalis (penyakit kuning pada bayi). Kasus ini hanya terjadi
pada tipe perkawinan pria Rhesus (+) dengan wanita Rhesus ().

III.

BAHAN DAN ALAT


Bahan
- pipet tetes
- objek gelas
- kertas tes darah
- tusuk gigi
- lanset
- kapas
Alat
- alkohol 70%
- darah kapiler
- kit Rhesus (anti D)

IV.

CARA KERJA
Pemeriksaan golongan darah Rhesus
Bersihkan jari manis tangan kiri dengan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol
70%.
Tusuk dengan lanset dengan satu kali tusukkan, tetesan pertama dibuang
dan tetesan selanjutnya diteteskan pada objek glass.
Teteskan di atas tetesan darah pada objek glass kit anti D.
Aduk dengan tusuk gigi dengan cara melingkar, amati reaksi aglutinasi yang
terjadi.

V. HASIL PENGAMATAN
Hasil Pengamatan

RHESUS

KELOMPO
K
1
2
3
4
5
TOTAL (n)
%

6
5
5
6
4
26
100%

0
0
0
0
0
0
0

Keterangan :
( + ) = Terjadi Aglutinasi (pengumpalan)
( - ) = Tidak terjadi Aglutinasi(pengumpalan)
Jumlah mahasiswa: 26 orang.
% = n/jumlah siswa x 100%
Pembahasan
Sistem Rhesus ditemukan beberapa macam antigen yaitu Terdapat enam tipe
antigen Rh yang salah satunya disebut faktor Rh. Tipe-tipe ini ditandai dengan C, D, E,
c, d dan e dan antigen yang utama, yaitu antigen D.
Pembagian golongan darah Rhesus berdasarkan antigen :
1. Orang rhesus positif (Rh+), berarti darahnya memiliki antigen-Rh yang
ditunjukkan dengan reaksi positif atau terjadi penggumpalan eritrosit pada waktu
dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh).Dan orang tersebut memiliki faktor
protein yang cukup dalam sel darah merahnya.
2. Orang rhesus negatif (Rh-), berarti darahnya tidak memiliki antigen-Rh yang
ditunjukkan dengan reaksi negatif atau tidak terjadi penggumpalan eritrosit pada

waktu dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh).Dan orang tersebut kekurangan
faktor protein dalam sel darah merahnya.
Kegiatan pengujian golongan darah ini dilakukan untuk mengetahui cara
menentukan golongan darah melalui perbedaan reaksi antara berbagai golongan darah
kemudian menentukan golongan darah sistem Rhesus. Membran sel darah manusia
mengandung bermacam-macam protein oligosakarida dan senyawa lainnya salah satunya
antigen. Pada analisa biokimia klinis untuk penentuan rhesus, semua praktikan kelompok
memiliki Rh (+)/positif, karena darah yang diamati mengalami aglutinasi. Dan dari
sumber yang didapat rata-rata rhesus untuk didaerah Asia yaitu rhesus (+).

VI.

KESIMPULAN
Aglutinogen D (antigen D) pada eritrosit golongan Rh+, tidak punya aglutinogen D
berarti memiliki golongan Rh Semua praktikan mempunyai rhesus (+).
Rhesus faktor atau Rh adalah suatu antigen peting lainnya yang terdapat di dalam
darah.
Rhesus negatif dapat ditemui tidak hanya pada golongan darah tertentu saja,
melainkan dapat ditemukan pada semua golongan darah.
Selain itu, rhesus negatif juga ditemui tidak pada jenis kelamin tertentu. Bisa pada
anak laki-laki maupun perempuan.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Sindu, E. Hemolytic disease of the newborn. Direktorat
LaboratoriumKesehatan Dirjen. Pelayanan Medik Depkes dan Kessos RI
Cunningham FG, MacDonald PC, et al. Williams Obstetrics. 18th edition1995.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995: 706-721.
Markum AH, Ismail S, Alatas H. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Jakarta:Bagian
IKA FKUI, 1991: 332-334.
http://blood4life.web.id/site/index. com/kenal-lebih-jauh-tentang-rhesus-danberita-transfusi-darah.html