Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

HIPERTENSI PADA LANSIA


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Gerontik
Dosen Pengampu : Ragil Catur Adi Wibowo, S.Kep.,Ns

Disusun Oleh :
Desten Welnimus Adu
NIM. 2013610042

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2016

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini penulis buat dengan
tujuan memenuhi tugas Keperawatan Gerontik.
Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Teman teman dan berbagai pihak
yang telah membantu terselasaikannya makalah ini. Semoga yang telah membantu diberkati.
Penulis berharap agar setelah membaca makalah ini, para pembaca dapat memahami dan
mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, sehingga dapat di aplikasikan untuk mengembangkan
kompetensi dalam bidang keperawatan. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini
masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu penulis membuka diri menerima berbagai saran
dan kritik demi perbaikan di masa mendatang.

Malang, Oktober 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen
dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia
menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk. Dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke
waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik
pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 :
58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun
2000 : 64.05 tahun (BPS.2000)
Dengan makin meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia, maka dapat
diperkirakan bahwa insidensi penyakit degeneratif akan meningkat pula. Salah satu
penyakit degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi adalah
hipertensi. Hipertensi pada usia lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat bahwa
patogenesis, perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan
hipertensi pada usia dewasa muda. Pada umumnya tekanan darah akan bertambah tinggi
dengan bertambahnya usia pasien, dimana tekanan darah diastolik akan sedikit menurun
sedangkan tekanan sistolik akan terus meningkat.
Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular mengalami peningkatan resiko
penyebab kematian, dimana pada tahun 1990, kematian penyakit tidak menular 48 % dari
seluruh kematian di dunia, sedangkan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh
darah, gagal ginjal dan stroke sebanyak 43% dari seluruh kamatian di dunia dan
meningkat pada tahun 2000 kematian akibat penyakit tidak menular yaitu 64 % dari
seluruh kematian dimana 60% disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah,
stroke dan gagal ginjal. Pada tahun 2020, diperkirakan kematian akibat penyakit tidak
menular sebesar 73% dari seluruh kematian di dunia dan sebanyak 66% diakibatkan

penyakit jantung dan pembuluh darah, gagal ginjal dan stroke, dimana faktor resiko
utama penyakit tersebut adalah hipertensi. (Zamhir, 2006).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan kesakitan
yang tinggi. Darah tinggi sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi
merupakan pembunuh tersembunyi karena disamping karena prevalensinya yang tinggi
dan cenderung meningkat di masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasannya
yang tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. Sehingga kehadiran
hipertensi pada kelompok dewasa muda akan sangat membebani perekonomian keluarga,
karena biaya pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan
seumur hidup. (Bahrianwar, 2009)
Di Indonesia dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi
hipertensi di Indonesia adalah 8.3% (pengkuran standart WHO yaitu pada batas tekanan
darah normal 160/90 mmHg). Pada tahun 2000 prevalensi penderita hipertensi di
indonesia mencapai 21% (pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah
normal 139 / 89 mmHg). Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37 % pada
tahun 2015 dan menjadi 42 % pada tahun 2025. (Zamhir, 2006).
Penyebab hipertensi tidak diketahui pada sekitar 95 % kasus. Bentuk hipertensi
idiopatik disebut hipertensi primer atau esensial. Patogenesis pasti tampaknya sangat
kompleks dengan interaksi dari berbagai variabel, mungkin pula ada predisposisi genetik.
Mekanisme lain yang dikemukakan mencakup perubahan perubahan berikut: (1).
Eksresi natrium dan air oleh ginjal, (2). Kepekaan baroreseptor, (3). Respon vesikuler,
dan (4). Sekresi renin. Sedangkan 5% penyakit hipertensi terjadi sekunder akibat proses
penyakit lain seperti penyakit parenkhim ginjal atau aldosterronisme primer (Prince,
2005).
Beberapa

organisasi

dunia

dan

regional

telah

memproduksi,

bahkan

memperbaharui pedoman penanggulangan hipertensi. Dari berbagai strategi dapat


disimpulkan bahwa penanggulangan hipertensi melibatkan banyak disiplin ilmu. Kunci
pencegahan atau penanggulangan perorangan adalah gaya hidup sehat. Masyarakat juga
perlu tahu risiko hipertensi agar dapat saling mendukung untuk mencegah atau
menanggulangi agar tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan sampai mencegah
terjadinya komplikasi. (Bahrianwar,2009).
Di Indonesia, Pemerintah bersama Departemen Kesehatan RI memberi apresiasi
dan perhatian serius dalam pengendalian penyakit Hipertensi. Sejak tahun 2006

Departemen Kesehatan RI melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang


bertugas untuk melaksanakan pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah
termasuk hipertensi dan penyakit degenaritaif linnya, serta gangguan akibat kecelakaan
dan cedera. (Depkes, 2007).
Untuk mengendalikan hipertensi di Indonesia telah dilakukan beberapa langkah,
yaitu mendistribusikan buku pedoman, Juklak dan Juknis pengendalian hipertensi;
melaksanakan advokasi dan sosialisasi; melaksanakan intensifikasi, akselerasi, dan
inovasi program sesuai dengan kemajuan teknologi dan kondisi daerah setempat (local
area specific); mengembangkan (investasi) sumber daya manusia dalam pengendalian
hipertensi; memperkuat jaringan kerja pengendalian hipertensi, antara lain dengan
dibentuknya Kelompok Kerja Pengendalian Hipertensi; memperkuat logistik dan
distribusi untuk deteksi dini faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk
hipertensi; meningkatkan surveilans epidemiologi dan sistem informasi pengendalian
hipertensi; melaksanakan monitoring dan evaluasi; dan mengembangkan sistem
pembiayaan pengendalian hipertensi. (Depkes, 2007).
Pada usia lanjut aspek diagnosis selain kearah hipertensi dan komplikasi,
pengenalan berbagai penyakit yang juga diderita oleh orang tersebut perlu mendapatkan
perhatian oleh karena berhubungan erat dengan penatalaksanaan secara keseluruhan.
Dahulu hipertensi pada lanjut usia dianggap tidak selalu perlu diobati, bahkan dianggap
berbahaya untuk diturunkan. Memang teori ini didukung oleh observasi yang
menunjukkan turunnya tekanan darah sering kali diikuti pada jangka pendeknya oleh
perburukan serangan iskemik yang transient (TIA). Tetapi akhir-akhir ini dari
penyelidikan epidemiologi maupun trial klinik obat-obat antihipertensi pada lanjut usia
menunjukan bahwa hipertensi pada lansia merupakan risiko yang paling penting untuk
terjadinya penyakit kardiovaskuler, strok dan penyakit ginjal. Banyak data akhir-akhir ini
menunjukan bahwa pengobatan hipertensi pada lanjut usia dapat mengurangi mortalitas
dan morbiditas.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu hipertensi pada lansia?
1.2.2 Apa saja klasifikasi hipertensi pada lansia?
1.2.3 Bagaimana etiologi hipertensi pada lansia?
1.2.4 Seperti apa patofisiologi hipertensi pada lansia?
1.2.5 Bagaimana Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia?
1.2.6 Apa saja pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia?

1.2.7
1.2.8

Apa saja komplikasi hipertensi pada lansia?


Bagaimana penatalaksanaan hipertensi pada lansia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Agar pembaca dapat memahami lebih jauh tentang penyakit hipertensi pada
lansia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui pengertian hipertensi pada lansia.
1.3.2.2 Untuk mengetahui klasifikasi hipertensi pada lansia.
1.3.2.3 Untuk mengetahui etiologi hipertensi pada lansia.
1.3.2.4 Untuk mengetahui patofisiologi hipertensi pada lansia.
1.3.2.5 Untuk mengetahui Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia.
1.3.2.6 Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia.
1.3.2.7 Untuk mengetahui komplikasi hipertensi pada lansia.
1.3.2.8 Untuk mengetahui penatalaksanaan hipertensi pada lansia.
1.4 Manfaat
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi baik bagi tenaga
kesehatan ataupun masyarakat umum mengenai Hipertensi pada lansia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hipertensi Pada Lansia


Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang
intermiten atau menetap. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).Menurut WHO
(1978), tekanan darah sama dengan atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai
hipertensi.
Pada Populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg
dan tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 1996)

2.2. Klasifikasi Hipertensi Pada Lansia


2.2.1. Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi :
1. Hipertensi primer atau esensial
Penyebab pasti masih belum diketahui. Jenis ini adalah yang terbanyak, yaitu
sekitar 90-95% dari seluruh pasien hipertensi. Riwayat keluarga,obesitas,diit tinggi
natrium,lemak jenuh dan penuaan adalah faktor pendukung. Walaupun faktor genetik
sepertinya sangat berhubungan dengan hipertensi primer, tapi mekanisme pastinya
masih belum diketahui.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal atau penyebab yang terindentifikasi
lainya. Hipertensi yang penyebabnya diketahui seperti hipertensi renovaskuler,
feokromositoma, sindrom cushing, aldosteronisme primer, dan obat-obatan, yaitu
sekitar 2-10% dari seluruh pasien hipertensi.

2.2.2. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Pedoman Joint National Committee 7


Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal

115 atau kurang

75 atau kurang

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi stage I

140-159

90-99

Hipertensi stage II

160

100

Berdasarkan klasifikasi dari JNC-VI maka hipertensi pada usia lanjut dapat dibedakan:

Hipertensi sistolik saja (Isolated systolic hypertension), terdapat pada 6-12%


penderita di atas usia 60th, terutama pada wanita. Insioden meningkat seiring

bertambahnya umur.
Hipertensi diastolic saja (Diastolic hypertension), terdapat antara 12-14%
penderita di atas usia 60th, terutama pada pria. Insidensi menurun seiring

bertambahnya umur.
Hipertensi sistolik-diastolik: terdapat pada 6-8% penderita usia di atas 60th, lebih
banyak pada wanita. Menningkat dengan bertambahnya umur.

2.3. Etiologi Hipertensi Pada Lansia


Dengan perubahan fisiologis normal penuaan, faktor resiko hipertensi lain meliputi
diabetes ras riwayat keluarga jenis kelamin faktor gaya hidup seperti obesitas asupan
garam yang tinggi alkohol yang berlebihan.
Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol,
antara lain:
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol:
Faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti riwayat keluarga (genetik kromosomal),
umur (pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun), jenis kelamin pria atau wanita pasca
menopause.
1. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.Namun wanita
terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum
mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam
meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang
tinggi

merupakan

faktor

pelindung

dalam

mencegah

terjadinya

proses

aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya


imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai
kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi
pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen
tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang
umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi
berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%.Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria
bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah

umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering
dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause.
2. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang
lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia
lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini
disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat
yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi
banyak terjadi pada usia lanjut. hipertensi sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun;
wanita : > 65 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah
menopause. Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan
dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteriarteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan
mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu
kehilangan daya penyesuaian diri.

3. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan keluarga itu
mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan
kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium
Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih
besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga
dengan riwayat hipertensi. Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:
1. Obesitas
Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi penurunan
kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat.
Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia dapat memicu
timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah,
hipertensi. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah,

terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada
orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya
normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan
lebih.
2. Kurang Olahraga.
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena
olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan
menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga
menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat
karena adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan
darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang
tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung
mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering
jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat
dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya
stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.
4. Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu

World

Health

Organization

(WHO)

merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya


hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol
(sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. Konsumsi natrium yang
berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler
meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga
volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler
tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada
timbulnya hipertensi.
5. Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organorgan lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan
termasuk salah satu faktor resiko hipertensi.

6. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75
200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan
tekanan darah 5 -10 mmHg.
7. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis
peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah
menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di
masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat
dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang
tinggal di kota. Menurut Anggraini (2009) mengatakan stres akan meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi
aktivitas saraf simpatis. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan,
kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
2.4 Tanda Dan Gejala Hipertensi Pada Lansia
Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya, hipertensi sering tidak
memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi
(occult). Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah,
Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun
2.5 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi Pada Lansia
a.

Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat
mengindikasikan factor factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.

b.

BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal

c.

Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).

d.

Kalium serum

Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi


efek samping terapi diuretik.
e.

Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.

f.

Kolesterol dan trigliserid serum


Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya

pembentukan

plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )


g.

Pemeriksaan tiroid.
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.

h.

Kadar aldosteron urin/serum


Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ).

i.

Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.

j.

Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.

k.

Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme

l.

IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu
ginjal / ureter.

m. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung.
n.

CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati.

o.

EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

2.6 Komplikasi Hipertensi Pada Lansia

Pasien dengan hipertensi dapat meninggal dengan cepat; penyebab tersering


kematian adalah penyakit jantung, sedangkan stroke dan gagal ginjal sering ditemukan, dan
sebagian kecil pada pasien dengan retinopati.
a. Komplikasi pada Sistem Kardiovaskuler
Kompensasi akibat penambahan kerja jantung dengan peningkatan tekanan sistemik
adalah hipertrofi ventrikel kiri, yang ditandai dengan penebalan dinding ventrikel. Hal
ini menyebabkan fungsi ventrikel memburuk, kapasitasnya membesar dan timbul
gejala-gejala dan tanda-tanda gagal jantung. Angina pektoris dapat timbul sebagai
akibat dari kombinasi penyakit arteri koronaria dan peningkatan kebutuhan oksigen
miokard karena penambahan massanya. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan
pembesaran jantung dengan denyut ventrikel kiri yang menonjol. Suara penutupan
aorta menonjol dan mungkin ditemukan murmur dari regurgitasi aorta. Bunyi jantung
presistolik (atrial, keempat) sering terdengar pada penyakit jantung hipertensif, dan
bunyi jantung protodiastolik (ventrikuler, ketiga) atau irama gallop mungkin saja
ditemukan. Pada elektrokardiogram, ditemukan tanda-tanda hipertrofi ventrikel kiri.
Bila penyakit berlanjut, dapat terjadi iskemi dan infark. Sebagian besar kematian
dengan hipertensi disebabkan oleh infark miokard atau gagal jantung kongestif. Datadata terbaru menduga bahwa kerusakan miokardial mungkin lebih diperantarai oleh
aldosteron pada asupan garam yang normal atau tinggi dibandingkan hanya oleh
peningkatan tekanan darah atau kadar angiotensin II.
b. Efek Neurologik
Efek neurologik pada hipertensi lanjut dibagi dalam perubahan pada retina dan
sistem saraf pusat. Karena retina adalah satu-satunya jaringan dengan arteri dan
arteriol yang dapat langsung diperiksa, maka dengan pemeriksaan optalmoskopik
berulang memungkinkan pengamatan terhadap proses dampak hipertensi pada
pembuluh darah retina.
Efek pada sistem saraf pusat juga sering terjadi pada pasien hipertensi. Sakit
kepala di daerah oksipital, paling sering terjadi pada pagi hari, yang merupakan salah
satu dari gejala-gejala awal hipertensi. Dapat juga ditemukan keleyengan, kepala
terasa ringan, vertigo, tinitus dan penglihatan menurun atau sinkope, tapi manifestasi
yang lebih serius adalah oklusi vaskuler, perdarahan atau ensefalopati. Patogenesa dari
kedua hal pertama sedikit berbeda. Infark serebri terjadi secara sekunder akibat

peningkatan aterosklerosis pada pasien hipertensi, dimana perdarahan serebri adalah


akibat dari peningkatan tekanan darah dan perkembangan mikroaneurisma vaskuler
serebri (aneurisma Charcot-Bouchard). Hanya umur dan tekanan arterial diketahui
berpengaruh terhadap perkembangan mikroaneurisma.
Ensefalopati hipertensi terdiri dari gejala-gejala : hipertensi berat, gangguan
kesadaran, peningkatan tekanan intrakranial, retinopati dengan papiledem dan kejang.
Patogenesisnya tidak jelas tapi kemungkinan tidak berkaitan dengan spasme arterioler
atau udem serebri. Tanda-tanda fokal neurologik jarang ditemukan dan jikalau ada,
lebih dipikirkan suatu infark / perdarahan serebri atau transient ischemic attack.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi memberikan kelainan pada retina berupa
retinopati hipertensi, dengan arteri yang besarnya tidak beraturan, eksudat pada retina,
edema retina dan perdarahan retina. Kelainan pembuluh darah dapat berupa
penyempitan umum atau setempat, percabangan pembuluh darah yang tajam,
fenomena crossing atau sklerosis pembuluh darah.
c. Efek pada Ginjal
Lesi aterosklerosis pada arteriol aferen dan eferen serta kapiler glomerulus adalah
lesi vaskuler renal yang paling umum pada hipertensi dan berakibat pada penurunan
tingkat filtrasi glomerulus dan disfungsi tubuler. Proteinuria dan hematuria
mikroskopik terjadi karena lesi pada glomerulus dan 10 % kematian disebabkan oleh
hipertensi akibat gagal ginjal. Kehilangan darah pada hipertensi terjadi tidak hanya
dari lesi pada ginjal; epitaksis, hemoptisis dan metroragi juga sering terjadi pada
pasien-pasien ini.
2.7 Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia
Lebih dari 10 tahun yang lalu masih terjadi perdebatan tentang perlu tidaknya
pengobatan hipertensi pada usia lanjut. Golongan yang kontra menyatakan bahwa
penurunan tekanan darah pada hipertensi lansia justru akan menyebabkan kemungkinan
terjadinya trombosis koroner, hipotensi postural dan penurunan kualitas hidup. Dengan
penelitian-penelitian yang diadakan dalam 10 tahun terakhir ini jelas dibuktikan bahwa
menurunkan tekanan darah pada hipertensi lansia jelas akan menurunkan komplikasi akibat
hipertensi secara bermakna.

Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas


yang berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Karena kebanyakan penderita
hipertensi, khususnya yang berusia > 50 tahun akan mencapai target tekanan diastol saat
target tekanan sistol sudah dicapai, sehingga fokus utamanya adalah mencapai target
tekanan sistol. Penurunan tekanan sistol dan diastol < 140 / 90 mmHg berhubungan dengan
penurunan terjadinya komplikasi stroke, dan pada pasien hipertensi dengan diabetes
melitus, target tekanan darah ialah < 130 / 80 mmHg.

Penalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip, yaitu :


1.

Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan


kausal.

2.

Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan


darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi.

3.

Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan


obat antihipertensi.

4.

Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan


mungkin seumur hidup.

5.

Pengobatan dengan menggunakan standart triple therapy (stt)


menjadi dasar pengobatan hipertensi.

Pemakain obat pada lanjut usia perlu dipikirkan kemungkinan adanya :


a. Gangguan absorsbsi dalam alat pencernaan
b. Interaksi obat
c. Efek samping obat.
d. Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal.
Pada pengobatan hipertensi ada tiga hal evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penderita
adalah :

a. Pola hidup dan indentifikasi ada tidaknya faktor resiko kardiovaskuler.


b. Penyebab langsung hipertensi sekunder atau primer.
c. Organ yang rusak karena hipertensi.

Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat
antihipertensi, yaitu:
1. Mempunyai efektivitas yang tinggi
2. Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal
3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4. Tidak menimbulkan intoleransi
5. Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh penderita.
6. Memungkinkan penggunaan obat dalam jangka panjang

Tidak jarang penatalaksanaan hipertensi dengan menggunakan obat-obat antihipertensi


mengalami kegagalan, yang dapat disebabkan oleh hal-hal di bawah ini :
1. Ketidakpatuhan penderita
2. Peningkatan volume oleh karena peningkatan asupan natrium, kerusakan ginjal, dan
kurangnya pemberian diuretik
3. Obesitas
4. Dosis yang tidak adekuat
5. Interaksi obat

6. Kontrasepsi oral
7. Penggunaan obat-obat steroid
8. Hipertensi sekunder

Klasifikasi dan Managemen Tekanan Darah untuk Dewasa *

BP

SBP

DBP

Lifestyle

Classific

(mmHg)

(mmHg

Modificati

ation

)*

on

Initial Drug Therapy


Without Compelling With Compelling
Indication

Normal

< 120

and < 80 Encourage

Prehypert

120-139

or 80-89

Yes

ension

Indication

No antihypertensive Drug(s)
indicated

for

compelling
indications.

Stage

I 140-159

or 90-99

Yes

Thiazide-type

Drug(s) for the

Hyperten

diuretics for most. compelling

sion

May

consider indications.

ACEI , ARB, BB ,
CCB
combination.

or

Other
antihypertensive
drugs

(diuretics,

Stage

II 160

100

Yes

Two-drug

Hyperten

combination

sion

most

ACEI, ARB, BB,


for CCB) as needed.
(usually

thiazide-type
diuretic and ACEI or
ARB or

BB or

CCB)
SBP : Systolic Blood Pressure
DBP : Diastolic Blood Pressure.
Drug abbreviations : BP :
ACEI : Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor
ARB : Angiotensin Receptor Blocker
CCB : Calsium Channel Bloker.
BB : Beta-Bloker
* Treatment determined by highest BP category.

Initial combined therapy should be used cautiously in those at risk for orthostatic

hypotension.

Treat patients with chronic kidney disease or diabetes or BP goal < 130/80 mmHg

2.7.1

Konsep Penatalaksanaan Hipertensi Terkini


Joint National Committee VII merekomendasikan konsep terapi yang terbaru yaitu :

a. Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolic
80-89 mmHg hanya memerlukan penatalaksanaan nonfarmakologis dengan cara
modifikasi gaya hidup.
b. Pasien yang tidak memiliki komplikasi hipertensi, diperlukan penatalaksanaan
secara farmakologis dengan diberikan obat golongan diuretik atau bisa juga
diberikan obat dari golongan lain.
c. Lebih memperhatikan tekanan darah sistolik dan penanganannya harus dimulai
jika tekanan darah sistolik meningkat walaupun tekanan darah diastoliknya tidak.
d. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat kombinasi antihipertensi,
salah satunya adalah obat dari golongan diuretik tiazid.
e. Kebanyakan pasien hipertensi memerlukan 2 atau lebih pengobatan untuk
mencapai tekanan darah 20/10 mmHg di atas tekanan darah yang diinginkan.
f. Golongan ACE Inhibitor sendiri atau kombinasi dengan golongan diuretic masih
merupakan terapi pilihan yang terbaik untuk pasien dengan hipertensi yang sudah
mengalami komplikasi penyakit jantung.

Bila hipertensi yang terjadi tanpa disertai dengan komplikasi atau penyakit penyerta
lain, maka pengobatan adalah mudah.

Penatalaksanaan untuk hipertensi dibagi

menjadi :
1. Non Farmakologis atau modifikasi gaya hidup.
2. Farmakologis

A. Non farmakologis atau modifikasi gaya hidup meliputi :

Kriteria Indeks Massa Tubuh


Kriteria
Kurang
Normal
Berat badan lebih
Obesitas
Obesitas berat

IMT (kg/m2)
<18,5
18,5-24,9
25,0-29,9
30,0-34,9
35,0

Jaga berat badan ideal. Turunkan berat badan bila IMT 27

Membatasi alkohol.
Olahraga teratur sesuai dengan kondisi tubuh.
Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na, atau 2.4 g Na , atau 6 g NaCl/hari)
Mempertahankan asupan kalium (90 mmol/hari), kalsium dan magnesium yang
adekuat.
Berhenti merokok.
Kurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.

Modifikasi Gaya Hidup Penatalaksanaan Hipertensi *

Modification

Recommendation

Approximate

SBP

Reduction (Range)
Weight reduction

Maintain normal body weight (BMI 18,5 5-20 mmHg / 10 kg

24,9 kg/m2)
Adopt

weight loss

DASH Consume a diet rich in fruits, vegetables 8-14 mmHg

eating plan

and low fat dairy products with a reduced


content of saturated and total fat

Dietary

sodium Reduced dietary sodium intake to no more 2-8 mmHg

reduction

than 100 mmol per day (2,4 g sodium or 6


g sodium chloride)

Physical activity

Engage

in

regular

aerobic

physical 4-9 mmHg

activity such as brisk walking (at least 30


min per day, most days of the week)
Moderation

of Limit consumption to no more than 2 2-4 mmHg

alcohol

drinks (1 oz or 30 ml ethanol; e.g. 24 oz

consumption

beer, 10 oz wine, or 3 oz 80-proof


whiskey) per day in most men and to no
more thsn 1 drink per day in women and
lighter weight persons

DASH, Dietary Approaches to Stop Hypertension


* For overall cardiovascular risk reduction, stop smoking.
The effects of implementing these modifications are dose and time dependent, and could be
greater for some individuals.

B. Farmakologis :

Obat-obat Antihipertensi :
1. Diuretik

Cara kerja : meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air sehingga volume
plasma dan cairan ekstrasel.

Untuk terapi jangka panjang pengaruh utama adalah mengurangi resistensi


perifer.

Terdapat beberapa golongan, yaitu :


a. Diuretik Tiazid dan sejenisnya (paling luas digunakan) , contoh :
-

Hidroklorotiazid (HCT) tab 25 dan 50 mg

Klortalidonn tab 50 mg

Bendroflumentiazid tab 5 mg

Indapamid tab 2,5 mg

Xipamid tab 20 mg

b. Diuretik kuat :
a. Furosemid tab 40 mg
c. Diuretik hemat kalium :
a. Amilorid tab 5 mg
b. Spironolakton tab 25 dan 100 mg

Efek samping : hipotensi dan hipokalemia.

2. Penghambat Adrenergik

Efektif untuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung, serta menurunkan
sekresi renin

Kontraindikasi bagi pasien gagal jantung kongestif

Terdiri dari golongan :


-

penghambat adrenoreseptor / bloker : terazosin, doxazosin, prazosin

penghambat adrenoreseptor / -bloker : propanolol, asebutolol, atenolol,


bisoprolol

penghambat adrenoreseptor dan : labetalol

adrenolitik sentral : klonidin, metildopa, reserpin, guanfasin

3. Vasodilator

Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan cara relaksasi otot polos yang
akan mengakibatkan penurunan resistensi pembuluh darah

Yang termasuk golongan ini adalah natrium nitroprusid, hidralazin, doksazosin,


prazosin, minoksidil, diaksozid.

Yang paling sering digunakan adalah natrium nitroprusid dengan efek samping
hipotensi ortostatik.

4. Penghambat Enzim Konversi Angiotensin

Bekerja

menghambat

sistem

renin-angiotensin,

menstimulasi

sintesis

prostaglandin dan juga mengurangi aktivitas saraf simpatis

Preparat yang paling banyak digunakan adalah Kaptopril, diberikan 1 jam


sebelum makan. Pada gagal ginjal dosis dikurangi (bila CCT > 1.5 mg%).

Efek samping : batuk kering , eritema, gangguan pengecap, proteinuria, gagal


ginjal dan agranulositosis.

5.

Antagonis Kalsium

Mempunyai efek mengurangi tekanan darah dengan cara menyebabkan


vasodilatasi perifer yang berkaitan dengan refleks takikardi yang kurang nyata
dan retensi cairan yang kurang daripada vasodilator lainnya.

Preparat yang biasa digunakan seperti nifedipin, nikardipin, felodipin, amilodipin,


verapamil dan diltiazem.

6. Antagonis Reseptor Angiotensin II (AIIRA / ARB)

Merupakan golongan obat antihipertensi terbaru, tidak mempengaruhi produksi


Angiotensin II tetapi memblok di tempat kerja pada organ target.

Kelebihannya adalah tidak menimbulkan batuk karena tidak mempengaruhi


metabolisme bradikinin.

Proses apoptosis dan regenerasi jaringan juga tetap berlangsung karena reseptor
tidak dipengaruhi.

Prinsip pemberian obat anti hipertensi pada lansia :

Dimulai dengan 1 macam obat dengan dosis kecil (START LOW GO

SLOW)

Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan, untuk penyesuaian


autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.

Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari

Antisipasi efek samping obat-obat antihipertensi

Pemantauan tekanan darah untuk evaluasi efektivitas pengobatan

Setelah tercapai target maka pemberian obat harus disesuaikan kembali


untuk maintenance (Gambar 2)

Pengobatan harus segera dilakukan pada hipertensi berat dan apabila terdapat
kelainan target organ. Oleh karena fungsi ginjal telah menurun dan terdapat gangguan
metabolisme obat, sebaiknya dosis awal dimulai dengan dosis yang lebih rendah. Pada
hipertensi tanpa komplikasi golongan diuretik dosis rendah (HCT 12,5 25 mg atau setara)
yang dikombinasi dengan diuretik hemat kalium dapat diberi sebagai pengobatan awal.
Obat anti hipertensi lain dapat diberikan atas indikasi spesifik.
Pada pasien dengan payah jantung, obat penghambat ACE dan diuretik merupakan
obat pilihan pertama. Tetapi pada pemberian diuretika sering menimbulkan efek
hipokalemia dan hiponatremia karena kedua mineral tadi ikut terbuang bersama urine.
Pada pasien pascainfark miokard, pemakaian penyebat yang kardioselektif
dianjurkan. Akan tetapi pada umumnya pemakaian penyekat tidak begitu disukai oleh
karena menimbulkan perburukan penyakit vaskuler perifer dan bronkospastik. Penghambat
merupakan pilihan pada pasien dengan dislipidemia dan hipertrofi prostat, akan tetapi
harus hati-hati terhadap efek hipotensi ortostatik, karena hal ini dapat menyebabkan lansia
jatuh bahkan sampai mengalami komplikasi fraktur.

Antagonis kalsium jangka panjang cukup efektif, terutama karena mempunyai efek
natriuretik dan dianjurkan pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Pada pasien
dengan diabetes dan proteinuria diindikasikan pemakaian obat penghambat ACE.
Obat simpatolitik sentral seperti metildopa, klonidin dan guanfasin walaupun efektif,
pemakaiannya kurang dianjurkan pada usia lanjut karena efek samping sedasi, mulut
kering dan hipotensi ortostatik. Dan obat-obat yang mempunyai pengaruh pada susunan
saraf pusat, dan bloker dapat mengakibatkan depresi serta penurunan kesadaran/fungsi
kognitif.
Pemberian antihipertensi pada lansia harus hati-hati karena pada lansia terdapat :
Penurunan refleks baroreseptor sehingga meningkatkan risiko hipotensi

ortostatik.

Gangguan autoregulasi otak sehingga iskemia serebral mudah terjadi

dengan hanya sedikit penurunan tekanan darah sistemik.

Penurunan fungsi ginjal dan hati sehingga terjadi akumulasi obat.

Pengurangan volume intravaskular sehingga sensitif terhadap deplesi


cairan.

Sensitivitas terhadap hipokalemi sehingga mudah terjadi aritmia dan


kelemahan otot.

Pemberian obat juga harus dipikirkan mengenai penyakit komorbid yang


ada pada lansia itu. Jangan sampai obat antihipertensif yang kita beri mempunyai efek
samping yang dapat memperberat gejala penyakit komorbid.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka sebaiknya obat-obat yang dapat menyebabkan


hipotensi ortostatik, yaitu guanetidin, guanadrel, alfa bloker dan labetolol sebaiknya

dihindarkan atau diberikan dengan hati-hati, tekanan darah diturunkan perlahan-lahan


dengan cara memberi dosis awal yang lebih rendah dan peningkatan dosis yang lebih kecil
dengan interval yang lebih panjang dari biasanya pada penderita yang lebih muda, dan
pilihan antihipertensi harus secara individual, berdasarkan pada kondisi penyerta.
Tahap-tahap yang perlu diperhatikan agar terapi hipertensi dapat berhasil adalah :
1.

Diagnosis yang tepat dan sedini mungkin (pengukuran


beberapa kali dan kalau perlu lebih dari 1 kali kunjungan)

2.

Pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan


akan bahaya hipertensi dan makna serta manfaat bila tekanan darah dapat
dinormalkan.

3.

Menyampaikan data yang akurat dari studi klinik pada


tenaga kesehatan maupun masyarakat, khususnya mengenai manfaat penurunan/terapi
hipertensi.

4.

Meningkatkan kepatuhan berobat atau control pasien.

5.

Memotivasi

para

tenaga

kesehatan

untuk

berusahamenurunkan tekanan darah pasien hipertensi.


6.

Menggunakan obat antihipertensi yang dapat ditoleransi


dengan baik dan yang dapat dimakan sekali sehari.

Terapi Kombinasi
Biasanya bila terapi dengan satu macam obat gagal untuk mencapai sasaran, maka
perlu ditambahkan obat ke-2 dengan dosis rendah dahulu dan tidak meningkatkan dosis
obat pertama. Hal ini adalah upaya untuk memaksimalkan efek penurunan tekanan darah
dengan efek samping seminimal mungkin.

Pada penelitian HOT, terapi kombinasi

diperlukan pada sekitar 70% penderita. Dalam JNC-VII, para ahli bahkan menganjurkan
terapi antihipertensi kombinasi langsung pada penderita yang ada pada stadium 1.
Walaupun dosis campuran tetap banyak disediakan oleh pabrik farmasi, upaya titrasi dosis
secara individual dianggap lebih baik. Berikut diberikan pedoman yang dianut oleh para
ahli hipertensi di Inggris yang disebut sebagai The Birmingham Hypertension Square.

The Birmingham Hypertension Square

ACE Inhibitor atau


Bloker Reseptor
Angiotensin II

Diuretik

Nasihat nonfarmakologik :
garam, berat badan, alkohol,
olahraga, rokok

Bloker Kanal
Kalsium golongan
dihidropiridine

-Bloker

Mulai terapi pada kotak manapun dan gunakan terapi tambahan dengan obat yang
ditunjuk oleh panah. Obat-obatan pada kotak yang berdekatan memiliki efek antihipertensi
tambahan, aksi yang saling melengkapi dan biasanya ditoleransi dengan baik.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang intermiten
atau menetap. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Smeltzer,2001). Menurut WHO (1978), tekanan
darah sama dengan atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas yang
berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Karena kebanyakan penderita hipertensi,
khususnya yang berusia > 50 tahun akan mencapai target tekanan diastol saat target tekanan
sistol sudah dicapai, sehingga fokus utamanya

adalah mencapai target tekanan sistol.

Penurunan tekanan sistol dan diastol < 140 / 90 mmHg berhubungan dengan penurunan
terjadinya komplikasi stroke, dan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus, target
tekanan darah ialah < 130 / 80 mmHg. Penalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa
prinsip, yaitu :
1. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan kausal.

2.

Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan


harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi.

3.

Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat antihipertensi.

4.

Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan mungkin seumur


hidup.

5.

Pengobatan dengan menggunakan standart triple therapy (stt) menjadi dasar


pengobatan hipertensi.

Pemakain obat pada lanjut usia perlu dipikirkan kemungkinan adanya :


a) Gangguan absorsbsi dalam alat pencernaan
b) Interaksi obat
c) Efek samping obat.
d) Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal.

Pada pengobatan hipertensi ada tiga hal evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penderita
adalah:
a) Pola hidup dan indentifikasi ada tidaknya faktor resiko kardiovaskuler.
b) Penyebab langsung hipertensi sekunder atau primer.
c) Organ yang rusak karena hipertensi.

Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat
antihipertensi, yaitu:
1)

Mempunyai efektivitas yang tinggi

2)

Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal

3)

Memungkinkan penggunaan obat secara oral.

4)

Tidak menimbulkan intoleransi

5)

Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh penderita.

6)

Memungkinkan penggunaan obat dalam jangka panjang

3.1 Saran
Penyakit hipertensi ini sangat berbahaya bagi keselamatan manusia. Oleh karena itu,
diharapkan kepada kita semua untuk menjaga kesehatan tubuh kita agar terhindar dari penyakit
ini. Dengan adanya makalah ini maka diharapkan untuk lebih memperdalam penyebabnya.
Khususnya, mahasiswa keperawatan agar mampu menangani masalah kesehatan pada pasiennya.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges. E. Marilynn, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta.
Hall dan Guyton. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 8. EGC. Jakarta.
Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. Penuntun
Diet;Edisi Baru, Jakarta, 2004, PT Gramedia Pustaka Utama.
Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W. I, Setiowulan W, 1999 Kapita Selekta
Kedokteran Edisi ke-3 jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Pertama. Media Aesculapius,
Jakarta.

Suyono, Slamet. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.