Hipertensi pada Lansia: Pemahaman dan Penanganan
Hipertensi pada Lansia: Pemahaman dan Penanganan
Disusun Oleh :
Desten Welnimus Adu
NIM. 2013610042
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini penulis buat dengan
tujuan memenuhi tugas Keperawatan Gerontik.
Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Teman teman dan berbagai pihak
yang telah membantu terselasaikannya makalah ini. Semoga yang telah membantu diberkati.
Penulis berharap agar setelah membaca makalah ini, para pembaca dapat memahami dan
mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, sehingga dapat di aplikasikan untuk mengembangkan
kompetensi dalam bidang keperawatan. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini
masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu penulis membuka diri menerima berbagai saran
dan kritik demi perbaikan di masa mendatang.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen
dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia
menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk. Dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke
waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik
pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 :
58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun
2000 : 64.05 tahun (BPS.2000)
Dengan makin meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia, maka dapat
diperkirakan bahwa insidensi penyakit degeneratif akan meningkat pula. Salah satu
penyakit degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi adalah
hipertensi. Hipertensi pada usia lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat bahwa
patogenesis, perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan
hipertensi pada usia dewasa muda. Pada umumnya tekanan darah akan bertambah tinggi
dengan bertambahnya usia pasien, dimana tekanan darah diastolik akan sedikit menurun
sedangkan tekanan sistolik akan terus meningkat.
Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular mengalami peningkatan resiko
penyebab kematian, dimana pada tahun 1990, kematian penyakit tidak menular 48 % dari
seluruh kematian di dunia, sedangkan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh
darah, gagal ginjal dan stroke sebanyak 43% dari seluruh kamatian di dunia dan
meningkat pada tahun 2000 kematian akibat penyakit tidak menular yaitu 64 % dari
seluruh kematian dimana 60% disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah,
stroke dan gagal ginjal. Pada tahun 2020, diperkirakan kematian akibat penyakit tidak
menular sebesar 73% dari seluruh kematian di dunia dan sebanyak 66% diakibatkan
penyakit jantung dan pembuluh darah, gagal ginjal dan stroke, dimana faktor resiko
utama penyakit tersebut adalah hipertensi. (Zamhir, 2006).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan kesakitan
yang tinggi. Darah tinggi sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi
merupakan pembunuh tersembunyi karena disamping karena prevalensinya yang tinggi
dan cenderung meningkat di masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasannya
yang tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. Sehingga kehadiran
hipertensi pada kelompok dewasa muda akan sangat membebani perekonomian keluarga,
karena biaya pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan
seumur hidup. (Bahrianwar, 2009)
Di Indonesia dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi
hipertensi di Indonesia adalah 8.3% (pengkuran standart WHO yaitu pada batas tekanan
darah normal 160/90 mmHg). Pada tahun 2000 prevalensi penderita hipertensi di
indonesia mencapai 21% (pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah
normal 139 / 89 mmHg). Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37 % pada
tahun 2015 dan menjadi 42 % pada tahun 2025. (Zamhir, 2006).
Penyebab hipertensi tidak diketahui pada sekitar 95 % kasus. Bentuk hipertensi
idiopatik disebut hipertensi primer atau esensial. Patogenesis pasti tampaknya sangat
kompleks dengan interaksi dari berbagai variabel, mungkin pula ada predisposisi genetik.
Mekanisme lain yang dikemukakan mencakup perubahan perubahan berikut: (1).
Eksresi natrium dan air oleh ginjal, (2). Kepekaan baroreseptor, (3). Respon vesikuler,
dan (4). Sekresi renin. Sedangkan 5% penyakit hipertensi terjadi sekunder akibat proses
penyakit lain seperti penyakit parenkhim ginjal atau aldosterronisme primer (Prince,
2005).
Beberapa
organisasi
dunia
dan
regional
telah
memproduksi,
bahkan
1.2.7
1.2.8
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Agar pembaca dapat memahami lebih jauh tentang penyakit hipertensi pada
lansia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui pengertian hipertensi pada lansia.
1.3.2.2 Untuk mengetahui klasifikasi hipertensi pada lansia.
1.3.2.3 Untuk mengetahui etiologi hipertensi pada lansia.
1.3.2.4 Untuk mengetahui patofisiologi hipertensi pada lansia.
1.3.2.5 Untuk mengetahui Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia.
1.3.2.6 Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia.
1.3.2.7 Untuk mengetahui komplikasi hipertensi pada lansia.
1.3.2.8 Untuk mengetahui penatalaksanaan hipertensi pada lansia.
1.4 Manfaat
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi baik bagi tenaga
kesehatan ataupun masyarakat umum mengenai Hipertensi pada lansia.
BAB II
PEMBAHASAN
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Optimal
75 atau kurang
Normal
< 120
< 80
Prehipertensi
120-139
80-89
Hipertensi stage I
140-159
90-99
Hipertensi stage II
160
100
Berdasarkan klasifikasi dari JNC-VI maka hipertensi pada usia lanjut dapat dibedakan:
bertambahnya umur.
Hipertensi diastolic saja (Diastolic hypertension), terdapat antara 12-14%
penderita di atas usia 60th, terutama pada pria. Insidensi menurun seiring
bertambahnya umur.
Hipertensi sistolik-diastolik: terdapat pada 6-8% penderita usia di atas 60th, lebih
banyak pada wanita. Menningkat dengan bertambahnya umur.
merupakan
faktor
pelindung
dalam
mencegah
terjadinya
proses
umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering
dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause.
2. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang
lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia
lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini
disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat
yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi
banyak terjadi pada usia lanjut. hipertensi sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun;
wanita : > 65 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah
menopause. Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan
dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteriarteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan
mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu
kehilangan daya penyesuaian diri.
3. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan keluarga itu
mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan
kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium
Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih
besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga
dengan riwayat hipertensi. Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:
1. Obesitas
Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi penurunan
kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat.
Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia dapat memicu
timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah,
hipertensi. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah,
terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada
orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya
normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan
lebih.
2. Kurang Olahraga.
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena
olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan
menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga
menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat
karena adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan
darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang
tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung
mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering
jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat
dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya
stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.
4. Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu
World
Health
Organization
(WHO)
6. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75
200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan
tekanan darah 5 -10 mmHg.
7. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis
peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah
menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di
masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat
dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang
tinggal di kota. Menurut Anggraini (2009) mengatakan stres akan meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi
aktivitas saraf simpatis. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan,
kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
2.4 Tanda Dan Gejala Hipertensi Pada Lansia
Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya, hipertensi sering tidak
memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi
(occult). Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah,
Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun
2.5 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi Pada Lansia
a.
Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat
mengindikasikan factor factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
b.
c.
Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).
d.
Kalium serum
Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.
f.
pembentukan
Pemeriksaan tiroid.
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.
h.
i.
Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.
j.
Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
k.
Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
l.
IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu
ginjal / ureter.
m. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung.
n.
CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati.
o.
EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
2.
3.
4.
5.
Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat
antihipertensi, yaitu:
1. Mempunyai efektivitas yang tinggi
2. Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal
3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4. Tidak menimbulkan intoleransi
5. Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh penderita.
6. Memungkinkan penggunaan obat dalam jangka panjang
6. Kontrasepsi oral
7. Penggunaan obat-obat steroid
8. Hipertensi sekunder
BP
SBP
DBP
Lifestyle
Classific
(mmHg)
(mmHg
Modificati
ation
)*
on
Normal
< 120
Prehypert
120-139
or 80-89
Yes
ension
Indication
No antihypertensive Drug(s)
indicated
for
compelling
indications.
Stage
I 140-159
or 90-99
Yes
Thiazide-type
Hyperten
sion
May
consider indications.
ACEI , ARB, BB ,
CCB
combination.
or
Other
antihypertensive
drugs
(diuretics,
Stage
II 160
100
Yes
Two-drug
Hyperten
combination
sion
most
thiazide-type
diuretic and ACEI or
ARB or
BB or
CCB)
SBP : Systolic Blood Pressure
DBP : Diastolic Blood Pressure.
Drug abbreviations : BP :
ACEI : Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor
ARB : Angiotensin Receptor Blocker
CCB : Calsium Channel Bloker.
BB : Beta-Bloker
* Treatment determined by highest BP category.
Initial combined therapy should be used cautiously in those at risk for orthostatic
hypotension.
Treat patients with chronic kidney disease or diabetes or BP goal < 130/80 mmHg
2.7.1
a. Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolic
80-89 mmHg hanya memerlukan penatalaksanaan nonfarmakologis dengan cara
modifikasi gaya hidup.
b. Pasien yang tidak memiliki komplikasi hipertensi, diperlukan penatalaksanaan
secara farmakologis dengan diberikan obat golongan diuretik atau bisa juga
diberikan obat dari golongan lain.
c. Lebih memperhatikan tekanan darah sistolik dan penanganannya harus dimulai
jika tekanan darah sistolik meningkat walaupun tekanan darah diastoliknya tidak.
d. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat kombinasi antihipertensi,
salah satunya adalah obat dari golongan diuretik tiazid.
e. Kebanyakan pasien hipertensi memerlukan 2 atau lebih pengobatan untuk
mencapai tekanan darah 20/10 mmHg di atas tekanan darah yang diinginkan.
f. Golongan ACE Inhibitor sendiri atau kombinasi dengan golongan diuretic masih
merupakan terapi pilihan yang terbaik untuk pasien dengan hipertensi yang sudah
mengalami komplikasi penyakit jantung.
Bila hipertensi yang terjadi tanpa disertai dengan komplikasi atau penyakit penyerta
lain, maka pengobatan adalah mudah.
menjadi :
1. Non Farmakologis atau modifikasi gaya hidup.
2. Farmakologis
IMT (kg/m2)
<18,5
18,5-24,9
25,0-29,9
30,0-34,9
35,0
Membatasi alkohol.
Olahraga teratur sesuai dengan kondisi tubuh.
Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na, atau 2.4 g Na , atau 6 g NaCl/hari)
Mempertahankan asupan kalium (90 mmol/hari), kalsium dan magnesium yang
adekuat.
Berhenti merokok.
Kurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.
Modification
Recommendation
Approximate
SBP
Reduction (Range)
Weight reduction
24,9 kg/m2)
Adopt
weight loss
eating plan
Dietary
reduction
Physical activity
Engage
in
regular
aerobic
alcohol
consumption
B. Farmakologis :
Obat-obat Antihipertensi :
1. Diuretik
Cara kerja : meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air sehingga volume
plasma dan cairan ekstrasel.
Klortalidonn tab 50 mg
Bendroflumentiazid tab 5 mg
Xipamid tab 20 mg
b. Diuretik kuat :
a. Furosemid tab 40 mg
c. Diuretik hemat kalium :
a. Amilorid tab 5 mg
b. Spironolakton tab 25 dan 100 mg
2. Penghambat Adrenergik
Efektif untuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung, serta menurunkan
sekresi renin
3. Vasodilator
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan cara relaksasi otot polos yang
akan mengakibatkan penurunan resistensi pembuluh darah
Yang paling sering digunakan adalah natrium nitroprusid dengan efek samping
hipotensi ortostatik.
Bekerja
menghambat
sistem
renin-angiotensin,
menstimulasi
sintesis
5.
Antagonis Kalsium
Proses apoptosis dan regenerasi jaringan juga tetap berlangsung karena reseptor
tidak dipengaruhi.
SLOW)
Pengobatan harus segera dilakukan pada hipertensi berat dan apabila terdapat
kelainan target organ. Oleh karena fungsi ginjal telah menurun dan terdapat gangguan
metabolisme obat, sebaiknya dosis awal dimulai dengan dosis yang lebih rendah. Pada
hipertensi tanpa komplikasi golongan diuretik dosis rendah (HCT 12,5 25 mg atau setara)
yang dikombinasi dengan diuretik hemat kalium dapat diberi sebagai pengobatan awal.
Obat anti hipertensi lain dapat diberikan atas indikasi spesifik.
Pada pasien dengan payah jantung, obat penghambat ACE dan diuretik merupakan
obat pilihan pertama. Tetapi pada pemberian diuretika sering menimbulkan efek
hipokalemia dan hiponatremia karena kedua mineral tadi ikut terbuang bersama urine.
Pada pasien pascainfark miokard, pemakaian penyebat yang kardioselektif
dianjurkan. Akan tetapi pada umumnya pemakaian penyekat tidak begitu disukai oleh
karena menimbulkan perburukan penyakit vaskuler perifer dan bronkospastik. Penghambat
merupakan pilihan pada pasien dengan dislipidemia dan hipertrofi prostat, akan tetapi
harus hati-hati terhadap efek hipotensi ortostatik, karena hal ini dapat menyebabkan lansia
jatuh bahkan sampai mengalami komplikasi fraktur.
Antagonis kalsium jangka panjang cukup efektif, terutama karena mempunyai efek
natriuretik dan dianjurkan pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Pada pasien
dengan diabetes dan proteinuria diindikasikan pemakaian obat penghambat ACE.
Obat simpatolitik sentral seperti metildopa, klonidin dan guanfasin walaupun efektif,
pemakaiannya kurang dianjurkan pada usia lanjut karena efek samping sedasi, mulut
kering dan hipotensi ortostatik. Dan obat-obat yang mempunyai pengaruh pada susunan
saraf pusat, dan bloker dapat mengakibatkan depresi serta penurunan kesadaran/fungsi
kognitif.
Pemberian antihipertensi pada lansia harus hati-hati karena pada lansia terdapat :
Penurunan refleks baroreseptor sehingga meningkatkan risiko hipotensi
ortostatik.
2.
3.
4.
5.
Memotivasi
para
tenaga
kesehatan
untuk
Terapi Kombinasi
Biasanya bila terapi dengan satu macam obat gagal untuk mencapai sasaran, maka
perlu ditambahkan obat ke-2 dengan dosis rendah dahulu dan tidak meningkatkan dosis
obat pertama. Hal ini adalah upaya untuk memaksimalkan efek penurunan tekanan darah
dengan efek samping seminimal mungkin.
diperlukan pada sekitar 70% penderita. Dalam JNC-VII, para ahli bahkan menganjurkan
terapi antihipertensi kombinasi langsung pada penderita yang ada pada stadium 1.
Walaupun dosis campuran tetap banyak disediakan oleh pabrik farmasi, upaya titrasi dosis
secara individual dianggap lebih baik. Berikut diberikan pedoman yang dianut oleh para
ahli hipertensi di Inggris yang disebut sebagai The Birmingham Hypertension Square.
Diuretik
Nasihat nonfarmakologik :
garam, berat badan, alkohol,
olahraga, rokok
Bloker Kanal
Kalsium golongan
dihidropiridine
-Bloker
Mulai terapi pada kotak manapun dan gunakan terapi tambahan dengan obat yang
ditunjuk oleh panah. Obat-obatan pada kotak yang berdekatan memiliki efek antihipertensi
tambahan, aksi yang saling melengkapi dan biasanya ditoleransi dengan baik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang intermiten
atau menetap. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Smeltzer,2001). Menurut WHO (1978), tekanan
darah sama dengan atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas yang
berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Karena kebanyakan penderita hipertensi,
khususnya yang berusia > 50 tahun akan mencapai target tekanan diastol saat target tekanan
sistol sudah dicapai, sehingga fokus utamanya
Penurunan tekanan sistol dan diastol < 140 / 90 mmHg berhubungan dengan penurunan
terjadinya komplikasi stroke, dan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus, target
tekanan darah ialah < 130 / 80 mmHg. Penalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa
prinsip, yaitu :
1. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan kausal.
2.
3.
4.
5.
Pada pengobatan hipertensi ada tiga hal evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penderita
adalah:
a) Pola hidup dan indentifikasi ada tidaknya faktor resiko kardiovaskuler.
b) Penyebab langsung hipertensi sekunder atau primer.
c) Organ yang rusak karena hipertensi.
Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat
antihipertensi, yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
3.1 Saran
Penyakit hipertensi ini sangat berbahaya bagi keselamatan manusia. Oleh karena itu,
diharapkan kepada kita semua untuk menjaga kesehatan tubuh kita agar terhindar dari penyakit
ini. Dengan adanya makalah ini maka diharapkan untuk lebih memperdalam penyebabnya.
Khususnya, mahasiswa keperawatan agar mampu menangani masalah kesehatan pada pasiennya.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges. E. Marilynn, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta.
Hall dan Guyton. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 8. EGC. Jakarta.
Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. Penuntun
Diet;Edisi Baru, Jakarta, 2004, PT Gramedia Pustaka Utama.
Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W. I, Setiowulan W, 1999 Kapita Selekta
Kedokteran Edisi ke-3 jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Pertama. Media Aesculapius,
Jakarta.
Suyono, Slamet. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.