Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perdagangan narkotika dan obat obatan terlarang (narkoba) merupakan isu
global yang belakangan ini bertiup kencang dan menjadi perhatian banyak negara
dan masyarakat internasional didunia. Ini karena perdagangan narkoba telah menjadi
kejahatan transnasional yang merajalela, sehingga membahayakan kehidupan
manusia yang berusia produktif secara global. Selat Malaka adalah sebuah selat yang
terletak di antara Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, Singapura) dan Pulau
Sumatra (Indonesia). Dari segi ekonomi dan strategis, Selat Malaka merupakan salah
satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau
Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan
jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok.
Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, mengangkut
antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Sebanyak setengah dari
minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini; pada 2003, jumlah itu
diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak per hari, suatu jumlah yang dipastikan
akan meningkat mengingat besarnya permintaan dari Tiongkok. Oleh karena lebar
Selat Malaka hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu Selat Phillips dekat
Singapura, ia merupakan salah satu dari kemacetan lalu lintas terpenting di dunia.
2. Identifikasi Masalah
a. Bagaimana isu perdagangan narkoba menjadi isu global ?
b. Bagaimana Pengaruh Selat Malaka dalam Arus Perdagangan Narkoba ?
c. Apa dampak perdagangan narkoba di selat malaka terhadap Indonesia?
d. Apa yang dilakukan negara litoral untuk mencegah penyelundupan narkoba di
Selat Malaka?

3. Pembatasan Masalah

Mengingat masalah yang dipaparkan sangat luas, maka untuk memudahkan dalam
menganalisa permasalahan diatas, penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1. Dampak dampak yang akan dihadapi Indonesia dalam bidang keamanan dalam
kurun waktu 1 tahun (tahun 2014).
2. Hanya membahas penyelundupan narkoba yang terjadi di Selat Malaka dengan
tujuan Indonesia.
4. Rumusan Masalah
Kenapa Selat Malaka bisa menjadi pintu gerbang perdagangan narkoba ke
Indonesia?
5. Tujuan dan Manfaat Penulisan
A. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui isu perdagangan Narkoba menjadi isu global.
2. Untuk mengetahui pengaruh Selat Malaka dalam Arus perdagangan
Narkoba.
B. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti adalah untuk pengembangan ilmu penge-tahuan yang telah
dipelajari di jurusan ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Pasundan.
2. Bagi institusi pendidikan adalah sebagai sumber referensi dalam penelitian
berikutnya.

6. Kerangka Teori
Teori Liberalisme
Liberalisme merupakan salah satu dari banyak teori dari Hubungan Internasional.
Ahli liberalisme, Charles Kegley, dalam essay nya There is an International
Society memiliki beberapa pendapat tentang pandangan liberalisme, yaitu :
A. Manusia pada dasarnya adalah baik, oleh karena itu manusia mampu untuk
berkolaborasi dan saling menguntunkan.

B. Perhatian manusia yang fundamental terhadap kesejahterahan bersama semakin


mungkin terjadi.
C. Kebiasaan manusia yang jelek bukanlah produk dari manusia yang jahat,
melainkan produk dari institusi dan susunan struktural yang jahat, yang mana
memotivasi manusia untuk berperilaku egois dan saling menyakiti, termasuk
berperang.
D. Perang bukanlah sesuatu yang tidak bisa dielakkan dan frekuensi perang bisa
diredam dengan menhapuskan kondisi yang anarkis yang berkontribusi memicu
peperangan.
E. Perang dan ketidakadilan adalah masalah Internasional yang membutuhkan
kolektivitas atau multilateral dibanding usaha suatu negara yang berusaha sendiri
untuk menghilangkan kedua hal tersebut.
F. Masyarakat Internasional, wajib untuk mengorganisir ulang institusi untuk
menghilangkan anarkisme yang menghasilkan masalah seperti perang.
Liberalisme juga merupakan rival dari teori realisme, hal ini dapat dilihat dari
pandangan kedua teori ini. Liberalisme memiliki asumsi dasar yakni aktor domestik
memiliki pengaruh terhadap karakter kebijakan luar negeri (Dunne, et al., 2007).
Dimana teori realisme memiliki pandangan bahwa manusia mempunyai sifat dasar yang
buruk, dicerminkan dari sifat egois dan hanya ingin mendapatkan keinginannya sendiri
dan kaum realisme beranggapan bahwa dunia ini adalah anarki dan sulit untuk
mendapatkan perdamaian dan menurut realisme perdamaian hanya dapat di dapat
melalui perang. Berbeda dengan realisme, liberalisme memiliki asumsi dasar yang
bertentangan dengan realisme yakni manusia pada dasarnya adalah mahkluk yang
memiliki sifat baik. Liberalisme memiliki pandangan bahwa dunia internasional bersifat
kooperatif.
Dalam mencapai perdamaian, liberalisme tidak menggunakan perang seperti yang
dilakukan oleh realisme akan tetapi liberalisme menggunakan kerja sama antar negara
di dunia guna mencapai perdamaian. Di dalam bukunya, Scott Burchill menyebutkan
bahwa perdamaian tidak harus melaui perang melainkan dengan kerjasama untuk saling
menguntungkan satu sama lain. Berbeda dengan realisme yang menyebutkan bahwa
aktor di dunia internasional adalah negara, liberalisme menyebutkan bahwa non-state
actor juga memiliki peran yang penting di dalam dunia internasional. Liberalisme
percaya dan optimis bahwa dunia internasional bersifat kooperatif daripada konfliktual.
Liberalisme berpendapat bahwa perang merupakan hal yang irasional.

BAB II
PEMBAHASAN
a. Isu Perdagangan Narkoba Menjadi Isu Global
Perdagangan narkotika dan obat obatan terlarang (narkoba) merupakan isu
global yang belakangan ini bertiup kencang dan menjadi perhatian banyak negara
dan masyarakat internasional di dunia. Ini karena perdagangan narkoba telah menjadi
kejahatan transnasional yang merajalela, sehingga membahayakan lehidupan
manusia yang berusia produktif secara global. Sebagaimana yang telah dijelaskan
dalam bab pendahuluan, sebuah isu bia dikatakan isu global jika memenuhi empat
indicator. Indikator pertama adalah isu perdagangan narkoba telah menjadi perhatian
khusus dari pemerintah-pemerintah serta elite pembuat kebijakan di seluruh dunia.
Pembuat kebijakan di kebanyakan negara didunia telah membuat regulai khusus,
yang mengatur tentang perdagangan narkoba di wilayah nasionalnya, seperti di
Indonesia.
Indikator kedua adalah perdagangan narkoba telah menjadi liputan secara terusmenerus oleh pers dunia.Berita-berita mengenai keberadaan kartel di Amerika
Selatan, mafia di China, atau di belahan dunia lain, seperti pedagangan narkoba yang

marak di Eropa Timur sering menjadi pemberitaan pers di seluruh dunia. Indikator
ketiga yang menjadikan perdagangan narkoba sebagai isu global kontemporer adalah
isu ini telah menjadi subjek studi dan penelitian-penelitian secara serius oleh para
ahli dan ilmuan di seluruh dunia. Banyak penelitian yang membahas mengenai
maraknya perdagangan narkoba di seluruh dunia yang disertai dengan informasi
tentang bahaya yang dapat ditimbulkan oleh narkoba tersebut. Indokator terakhir
adalah perdagangan narkoba telah menjadi agenda penting di organisasi-organisasi
internasional. PBB yang merupakan organisasi internasional terbesar, bahkan
membuat badan khusus yang mengawasi perdagangan narkoba, yaitu United Nations
on Drugs and Crime (UNODC). Oleh karena itulah perdagangan narkoba bisa
dikatakan sebagai isu global kontemporer yang layak memperoleh perhatian khusus
dari seluruh negara di dunia
b. Pengaruh Selat Malaka dalam Arus Perdagangan Narkoba
Selat Malaka memiliki nilai strategis dari sisi ekonomi, politik, dan keamanan.
Selain dari posisi dan historis, selat ini merupakan jalur perniagaan internasional
yang sangat ramai dan padat. Oleh karena letaknya yang strategis, maka selat ini
rawan akan ancaman kejahatan maritim. Rawan yang tidak hanya terfokus pada halhal yang bersifat militeristik, tetapi telah berkembang mengarah pada berbagai aspek
seperti perlindungan lingkungan, hak asasi manusia, perluasan perdagangan dan
investasi, pemberantasan kejahatan internasional, atau perdagangan barang terlarang.
Maka, strategi pertahanan dan keamanan daerah ini memerlukan suatu perhatian
khusus terutama dari littoral states yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan
mengadakan kerjasama untuk mengatasi ancaman kejahatan di Selat Malaka. Selat
Malaka yang merupakan jalur strategis yang berada dibawah kedaulatan tiga negara
di Asia yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura, sangat rentan dengan berbagai aksi
kejahatan seperti yang disebutkan diatas.
Indonesia, Malaysia dan Singapura, yang merupakan littoral states atau dalam
istilah lain dari Negara pantai, yaitu Negara-negara yang memiliki suatu kawasan
yang sama, dan bertanggung jawab penuh terhadap segala hal yang

terjadi di

kawasan tersebut. Dalam pembahasan penulisan ini, littoral states yang dimaksud
adalah Indonesia dan Singapura, yang secara geografis, bertanggung jawab terhadap
keadaan apapun termasuk keamanan di Selat Malaka. Kedua negara ini memiliki

peranan penting dalam menjaga keamanan di perairan Selat Malaka. Indonesia


sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang terhadap Selat Malaka,
sedangkan Singapura merupakan negara yang kuat dalam sistem pertahanan dan
keamanan terhadap Selat Malaka dan tidak dipungkiri lagi bahwa Singapura
memiliki kepentingan yang besar terhadap jalur perdagangan yang strategis ini.
Lokasi geografis Selat Malaka menjadikannya rapuh terhadap praktik
perompakan dan aksi kejahatan. Selat Malaka sejak lama merupakan sebuah jalur
penting yang menghubungkan Cina dan India, dan seringkali digunakan untuk tujuan
perdagangan. Di era modern, Selat ini merupakan jalur antara Eropa, Kanal Suez,
dan negara-negara penghasil minyak di Teluk Persia; serta pelabuhan-pelabuhan Asia
Timur yang sibuk. Terdapat ribuan pulau kecil di selat sempit ini, selain itu selat ini
juga menjadi muara banyak sungai. Dua hal ini menjadikan Selat Malaka tempat
yang ideal bagi para perompak untuk bersembunyi dan menghindari penangkapan.
Kabupaten Bengkalis yang berada dilintas pelayaran perdagangan internasional
Selat Melaka ditambah dengan banyaknya jumlah pelabuhan-pelabuhan yang tidak
resmi, serta wilayah kecamatan yang berada dalam jalur lintas Sumatera, menjadikan
daerah ini kondisinya cukup rawan terhadap peredaran narkotika. Data dari Polres
Bengkalis tahun 2013, dari Januari 2013 sampai Mei terdapat sebanyak 131 kasus
dan pada tahun 2014 dari Januari sampai Agustus terdapat 50 kasus 1. Ini
menunjukkan bahwa peredaran narkotika di daerah kita sangat mengkhawatirkan.
c. Dampak Perdagangan Narkoba di Selat Malaka Terhadap Indonesia
Tentunya banyak berbagai macam alasan yang dapat menjelaskan mengapa
Indonesia dijadikan sebagai salah satu target dari tujuan perdagangan narkotika dan
obat-obatan terlarang sejenisnya. Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya harus ada
pengamatan secara mendalam mengenai Indonesia yang selalu menjadi target sasaran
para pengedar narkotika lintas negara. Logika sederhananya adalah, tidak mungkin
para sindikat pengedar narkotika lintas negara tersebut ke Indonesia tampa adanya
permintaan dari para konsumen yang membutuhkan pasokan narkotika dan obatobatan terlarang sejenisnya dari pihak asing, maka dari itu, Indonesia dianggap
sebagai lahan yang cukup subur untuk perdagangan narkotika dan obat-obatan
terlarang sejenisnya. Ditambah lagi dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat
1 http://riaupos.co/53623-berita-jalur-selat-melaka-rawan-peredarannarkotika.html diakses pada tanggal 29 Desember 2015

strategis, dengan bentuk negara yang sebagian besar adalah kepulauan terpisah dan
masih banyak menysahkan celah untuk tumbuh suburnya perdagangan dan perdaran
narkotika di Indonesia. Hal ini diperparah dengan, proses penegakkan hukum yang
terkadang masih bersifat ambiguitas dan kurangnya pengawasan dari para penegak
hukum di Indonesia, dan yang lebih ironisnya lagi adalah banyak dari para oknum
aparatur negara yang ikut berperan dalam peredaran narkotika dan obat-obatan
terlarang sejenisnya yang datang melalui cara yang illegal. Maka tidak heran jika kita
sering kali mendengar istilah perdaran narkoba dibalik jeruji besi.
Maraknya berbagai kasus imigran gelap di Indonesia, turut menjadi
permasalahan mendasar bagi pemerintah dalam menghadapi peredaran narkotika
nasional. Sindikat perdagangan narkotika lintas negara, tidak jarang menggunakan
cara seperti ini untuk bisa masuk kewilayah Indonesia, karena sebagai upaya mereka
untuk menghindari pengawasan dari pihak kepolisian dan anggota bea-cukai. Akhirakhir ini para imigran gelap yang datang ke Indonesia tidak lagi hanya berasal dari
negara-negara Afrika dan Amerika akan tetapi saat ini para imigran gelap banyak
yang berasal dari Asia, seperti Vietnam, Thailand, Kamboja bahkan terakhirterakhir
ini sering menggunakan orang Indonesia sendiri untuk menjalankan modus
operasinya. Cara ini digunakan untuk menghindari kecurigaan dari pihak kepolisian.
Dari data yang telah ditunjukan diawal, bahwa selalu terjadi penambahan jumlah
imigran gelap yang datang ke Indonesia setiap tahunnya dari jumlah tahun
sebelumnya. Dari sisi inilah, yang menjadi salah satu titik kelemahan Indonesia yang
dimanfaatkan oleh para sindikat pengedar narkotika lintas negara untuk dapat
memasuki wilayah Indonesia dan memasarkan Narkotika dan obat-obatan terlarang
sejenisnya. Faktor lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia dapat
menjadi salah satu faktor yang pendukung dari peredaran narkotika dan obat-obatan
terlarang sejenisnya. Khususnya bagi masyarakat yang menetap di kota-kota besar,
yang sebagian besar mereka telah terbiasa hidup dengan budaya hedonisme,
glamoritas, modernisme, kemewahan.
Pergeseran pola hidup masayarakat Indonesia khususnya di kota-kota besar
seperti di Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, telah membawa Indonesia menuju
kearah budaya baru, yang penuh dengan berbagai aksi amoral (barbar) dengan
mencoba kehiduapan ala budaya barat. Maka tidak diherankan lagi, jika dikota-kota
besar banyak sekali tempat-tempat hiburan malam, seperti, diskotik, bar, kafe malam,

dan berbagai tempat-tempat hiburan malam lainnya. Para sindikat pengedar


narkotika lintas negara melihat hal ini sebagai kesempatan yang sangat baik untuk
dapat mengedarkan sejumlah narkotika dan obat-obatan terlarang sejenisnya.

d. Upaya Negara Litoral untuk Mencegah Penyelundupan Narkoba di Selat Malaka?


Berikut upaya yang telah dilakukan dari masing-masing negara. Dengan
mengambil konsep dari Singla maka terdapat lima tolak ukur upaya penegakan
hukum demi mencegah upaya kejahatan maritim.2
1. Peningkatan pengawasan laut
Pengawasan dalam hal ini dapat diwujudkan dengan meningkatkan intensitas
patroli di laut. Hal ini dapat dilakukan di perbatasan antar negara dan pelabuhan. Di
perbatasan negara, di Indonesia pengawasan dilakukan oleh angkatan bersenjata
sedangkan di pelabuhan dapat dilakukan oleh petugas imigrasi, bea cukai, maupun
polisi air di bawah Badan Kordinasi Keamanan Laut (BAKORKAMLA) . Hal yang
senada juga dilakukan oleh Malaysia dan Singapura.
2. Menggunakan satelit pengawas
Seiring perkembangan teknologi, Indonesia menggunakan citra satelit inderaja
Modis, NOAA dan sea wif diharapkan sebagai salah satu pendukung data utama
dalam rangka sistem pengawasan laut terutama di Indonesia (Hariyanto, 2008).
Selain itu Indonesia memiliki radar kemanan yang merupakan hibah dari Amerika
Serikat demi keamanan regionalnya (Indonesia Maritime Institute, 2012). Malaysia
memiliki radar pengaman yang sama seperti Indonesia. Di Singapura tentunya sistem
radar sudah lebih canggih karena diketahui perkembagan teknologi negara tersebut
sangat pesat sehingga tidak diragukan lagi. Terlebih sekarang ini Singapura lebih
tahu dan sering memberitahu negara Indonesia dan Malaysia jika terdapat gangguan
keamanan.
3. Memperketat regulasi dan penegakan hukum
Regulasi diperketat namun regulasi diperketat saja belum cukup. Pengetatan
regulasi juga harus dibarengi oleh personel yang profesional dalam implementasi
regulasi dalam rangka penegakan hukum tersebut. Untuk tiga negara sudah
2 Singla, S. (2011, September 7). 9 Types of Maritime Crimes. 26 Oktober 2013, dari Marine Insight:
http://www.marineinsight.com/misc/marine-safety/9-types-of-maritime-crimes/

melakukannya, tetapi untuk memperkuat hukum harus memperkuat unsur legislasi


supaya hukum tidak dapat ditembus.
4. Pengawasan kapal dan pelabuhan diperketat
Pengawasan kapal dan pelabuhan dapat dilakukan patroli, razia atau operasi
pada kurun waktu tertentu. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh petugas bea cukai
dan polisi air. Hal ini telah dilakukan oleh ketiga negara.
5. Pelayanan dan penjaminan yang lebih baik
Pelayanan dan penjaminan yang lebih baik merupakan sebuah wujud tanggung
jawab nyata dari pembangunan yang dihasilkan dari pajak dan segala pemasukan
aktivitas legal. Jika pelayanan dan penjaminan tidak dijaga dengan baik maka
masyarakat cenderung menggunakan jasa-jasa ilegal dengan cara menyuap,
menyelundupkan dan bentuk kegiatan illegal lainnya. Untuk hal ini Malaysia dan
Singapura sudah dinilai baik dalam sisi pelayanan namun sayangnya Indonesia masih
terbelit dengan masalah birokrasi yang rumit.
6. Meningkatkan koordinasi dengan memperbaiki sistem komunikasi
Komunikasi sering terjadi dari ketiga negara. Namun untuk masalah ini
Singapura yang seolah menjadi koordinator untuk masalah komunikasi, terbuktu
Singapura lebih sigap dan cepat tahu jika terdapat masalah keamanan.
7. Latihan militer bersama
Seringkali ketiga negara mengadakan latihan mititer bersama biasanya berupa
latihan bersama pasukan khusus yang merupakan pasukan terbaik dari satuan militer
masing-masing negara.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Selat Malaka memiliki nilai strategis dari sisi ekonomi, politik, dan keamanan.
Selain dari posisi dan historis, selat ini merupakan jalur perniagaan internasional yang
sangat ramai dan padat. Oleh karena letaknya yang strategis, maka selat ini rawan akan
ancaman kejahatan maritim. Rawan yang

tidak hanya terfokus pada hal-hal yang

bersifat militeristik, tetapi telah berkembang mengarah pada berbagai aspek seperti
perlindungan lingkungan, hak asasi manusia, perluasan perdagangan dan investasi,
pemberantasan kejahatan internasional, atau perdagangan barang terlarang. Maka,
strategi

pertahanan dan keamanan daerah ini memerlukan suatu perhatian khusus

terutama dari littoral states yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan
mengadakan kerjasama untuk mengatasi ancaman kejahatan di Selat Malaka.
Selat Malaka yang merupakan jalur strategis yang berada dibawah kedaulatan
tiga negara di Asia yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura, sangat rentan dengan
berbagai aksi kejahatan seperti yang disebutkan diatas.

Indonesia, Malaysia dan

Singapura, yang merupakan littoral states atau dalam istilah lain dari Negara pantai,
yaitu Negara-negara yang memiliki suatu kawasan yang sama, dan bertanggung jawab
penuh terhadap segala hal yang

terjadi di kawasan tersebut. Dalam pembahasan

penulisan ini, littoral states yang dimaksud adalah Indonesia dan Singapura, yang secara
geografis, bertanggung jawab terhadap keadaan apapun termasuk keamanan di Selat
Malaka.

Daftar Pustaka
Dunne, T., Kurki, M. & Smith, S., 2007. International Relations Theories:
Discipline and Diversity. 1st ed. New York: Oxford University Press.