Anda di halaman 1dari 18

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RUMAH SAKIT SIMPANGAN DEPOK
Nama Mahasiswa

: Theodora A. P. Dolorosa

Tanda Tangan :

Johannes Hansen
NIM

:11. 2015. 219


11. 2015. 378

Dokter Pembimbing
I.

: dr. Henny Komalia, Sp.A

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. DES
Tempat / tanggal lahir : Depok, 27 Juni 2003
Umur : 13 tahun
Jeniskelamin : Laki-laki
Alamat : Kp. Sugutami RT 02/RW 21,
Depok, Jawa Barat
AYAH
Nama : Tn. H
Umur : 42 tahun
Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : -

Hubungan dengan orang tua: anak kandung


Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SD
Masuk RS : 10 Oktober 2016
IBU
Nama : Ny. S
Umur : 39 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SD

II. ANAMNESA
Diambil dari : Alloanamnesis dari ayah dan ibu kandung pasien pada tanggal 11 Oktober 2016
pukul 13.00 WIB di depan ruang HCU.
Keluhan utama : Demam sejak 3 hari SMRS.
Keluhan tambahan : Nyeri otot, nafsu makan berkurang, mencret dan muntah.

Riwayat penyakit sekarang :

Pasien anak laki-laki berusia 13 tahun di bawa ke IGD RSSD oleh ayahnya, dengan
keluhan demam sejak 5 hari SMRS. Demam dirasakan naik turun, demam memuncak pada sore
hari. Pasien sudah meminum obat penurun demam namun hilang timbul. Nafsu makan dan
minum pasien menurun dan juga pasien mengeluh sakit pada ulu hati, dan pasien juga muntah 2
kali dan mencret 2 kali sebelum masuk rumah sakit, ibu pasien juga mengatakan bahwa di
belakang tempat tinggalnya ada yang terkena DBD hingga mimisan namun tidak dibawa
kerumah sakit dan akhirnya meninggal, di lingkungan tempat tinggal mereka juga tidak pernah
dilakukan fogging. Keluhan seperti mimisan dan gusi berdarah disangkal
Pada hari pertama pasien hanya mengeluh demam disertai sakit pada ulu hati, dan pasien
hanya diberi obat penurun panas dan obat maag, namun keluhan tidak membaik, selain itu
menurut ibu pasien, anaknya tidak nafsu makan dan minum sehingga bibirnya kering
Dua hari SMRS orangtua pasien membawa pasien ke klinik terdekat lalu diberi obat
simtomatik dan antibiotik. Namun keluhan semakin berat dan pasien juga semakin tidak nafsu
makan dan minum
Pada malam hari SMRS orangtua pasien mengatakan anaknya semakin lemah dan
bibirnya kering. Keluhan juga disertai mencret sebanyak 3 kali dan muntah 2 kali lalu pasien
juga mengeluh nyeri di seluruh badannya terutama di daerah sendi dan pasien terlihat lemas.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah dirawat di RS karena memiliki riwayat GE saat umur 1 tahun.
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Anak lahir pada saat ibu berusia 26 tahun, G2P1A0 masa gestasi 38 minggu (cukup
bulan), persalinan secara SC,

di RS dan ditolong oleh dokter kandungan. Saat lahir bayi

langsung menangis kencang, tidak kuning dan tidak biru, dengan berat badan lahir (BBL) 3300
gram, panjang badan lahir 47 cm, lingkar kepala dan lingkar dada si ibu tidak ingat..
Selama kehamilan, tidak ada riwayat infeksi TORCH dan tidak ada riwayat
mengkonsumsi obat-obatan selain vitamin dan asam folat dari dokter kandungan.

Riwayat Imunisasi
2

(+) BCG 1 kali, pada usia 3 bulan


(+) Hepatitis B 1 kali, pada umur 0 bulan
(+) Polio 4 kali, pada 0 bulan, 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan
(+) DPT 3 kali, pada usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan
(+) Campak 1 kali, pada usia 9 bulan
Kesimpulan : imunisasi dasar sesuai usia

Riwayat Perkembangan (Developmental History)


Ayah dan ibu pasien mengatakan tidak ingat akan perkembangan anaknya, namun ayah dan ibu
pasien mengaku bahwa perkembangan anaknya tidak ada kelainan atau keterlambatan.
Kesimpulan : Tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah anak kedua. Biaya pengobatan menggunakan Umum, penghasilan perbulan cukup
memenuhi kebutuhan. Kepemilikan rumah mengontrak. Satu rumah ditinggali 4 orang dengan 2
kamar.
Riwayat penyakit dahulu [Tahun, di isi bila ya (+), bila tidak (-)]:
(-) Sepsis

(-) Meningoencephalitis

(-) Kejang Demam

(-) Tuberculosis

(-) Pneumonia

(-)ISPA

(-) Asma

(-) Alergi Rhinitis

(-) Alergi lainnya

(-) Diare akut

(-) Diare Kronis

(+) Gastritis

(-) Disentri

(-) Kolera

(-) Amoebiasis

(-) Tifus Abdominalis

(-) DHF

(-) Difteri

(-) Cacar Air

(-) Campak

(-) Polio

(-) BatukRejan

(-) Tetanus

(-) PenyakitJantungBawaan

(-) DemamRematikAkut

(-) PenyakitJantungRematik

(-) ISK

(-) Glomerulonefritis

(-) SindromaNefrotik

(-) Kecelakaan

Riwayat penyakit keluarga :


Penyakit

Ya

Tidak

Hubungan

Alergi

Asma

Tuberkolosis

Penyakit paru

Hipertensi

Diabetes

Kejang Demam

Epilepsi

Hepatitis

Silsilah Keluarga (Familys Tree)

: Laki-laki

: Anak laki-laki sakit

: Perempuan

II PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2016 jam 13.30 WIB.
Pemeriksaan Umum
o Keadaan umum : tampak sakit sedang
o Kesadaran : compos mentis
4

o Tanda tanda vital :


Nadi : 81x / menit
Suhu : 36,7
RR : 24x/ menit
Pemeriksaan Antropometri
o Berat badan : 25 Kg
o Tinggi Badan : 147 Cm
o IMT =
BB
(TB)2
=
25kg
(1,47m)2

= 11,5 (sangat kurus)

Pemeriksaan sistematis

Kulit

Tidak sianosis, ikterik (-), turgor baik, ptekie(-), hematom (-)

Kepala

Normocephal, rambut hitam,

Mata

Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Telinga

bentuk normal, sekret -/-

Hidung

bentuk normal, deviasi septum (-), napas cuping hidung (-), sekret (+/+)

Mulut

Bibir tidak sianosis, mukosa mulut kering

Leher

Retraksi suprasternal (-)

Thorax

Paru
Inspeksi : simetris thorax kanan kiri, pernapasan thorako abdominal,
retraksi dada (-)
Palpasi:gerak napas simetris, sela iga tidak melebar, tidak teraba massa.
Perkusi :sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri.
Auskultasi : suara nafas Stridor -/-, ronkhi -/-, wheezing -/Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba pada selaiga V linea midclavicula sinistra,
Kuat angkat.
Perkusi : sulit dinilai
Auskultasi :bunyi jantung I-II murni regular, murmur (-), gallop (-).

Abdomen

Inpeksi : tampak datar, benjolan (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal


Palpasi : supel
Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
Perkusi : timpani
Anus & rectum
(Colok dubur)

Tidak dilakukan

Tulang

Tidak ada kelainan

belakang
Ekstremitas

III.

Atas :akral hangat, sianosis-/-, edema -/-, deformitas -/-, ikterik -/Bawah :akral hangat, sianosis -/-, edema -/-, deformitas -/-, ikterik -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hematologi rutin

Hematologi rutin

11 September

11 September
04.00

09.22
Hemoglobin

18,5

Hemoglobin

19.4

Leukosit

5.400

Leukosit

7.000

Hematokrit
Hematologi rutin
Trombosit

52

11 September
55.000
15.00

Hemoglobin

18.6

Leukosit

8.700

Hematokrit

51

Hematokrit
11 September
Trombosit

53
46.000

21.30

Hematologi rutin

Trombosit
Hematologi rutin 40.000
12 September

12 September
16.00

Hematologi
06.00 rutin
Hemoglobin

15,7

Leukosit

12.000

Hematokrit

42

Hemoglobin

15.9
Hemoglobin

16,5

Leukosit

10.500
Leukosit

9.800

Hematokrit

43Hematokrit

44

Trombosit

59.000
Trombosit

Trombosit
49.000

69.000

Hematologi rutin

13 September
Hematologi rutin

13 September

5.40
Hemoglobin

15.1

Leukosit

10.800

Hematokrit

40

Trombosit

86.000

15.30
Hemoglobin

15,8

Leukosit

9.500

Hematokrit

42

Trombosit

103.000

Ringkasan (RESUME)
Pasien anak laki-laki berusia 13 tahun di bawa ke IGD RSSD oleh ayahnya, dengan
keluhan demam sejak 5 hari SMRS. Demam dirasakan naik turun, demam memuncak pada sore
hari. Pasien sudah meminum obat penurun demam namun hilang timbul. Nafsu makan dan
minum pasien menurun dan juga pasien mengeluh sakit pada ulu hati, dan pasien juga muntah 2
kali dan mencret 2 kali sebelum masuk rumah sakit. Pada malam hari SMRS orangtua pasien
mengatakan anaknya semakin lemah dan bibirnya kering. Keluhan juga disertai mencret
sebanyak 3 kali dan muntah 2 kali lalu pasien juga mengeluh nyeri di seluruh badannya terutama
di daerah sendi dan pasien terlihat lemas.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan di UGD RSSD ditemukan. Keadaan umum tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis. Tanda tanda vital : nadi 88x/meni (agak dalam)t, suhu 37,0C, RR
24x/menit. TD: 100/90, BB= 25kg. Pada pemeriksaan fisik ditemukan mata terlihat cekung,
nyeri tekan epigastrium, dan akral yang agak dingin.
Pemeriksaan penunjang
7

Pada saat di IGD RSSD dilakukan pemeriksaan laboratorium H2TL, dengan hasil Hb:
18.5 Leukosit: 5.400 Ht: 52 % Trombosit 55.000. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan Tubex
dimana pada pemeriksaan IgG dan IgM ditemukan hasil negative

V. DIAGNOSIS KERJA
-

DHF grade III


Dasar Diagnosis : Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria WHO dimana pada
pasien ditemukan gejala klinis berupa demam sejak 5 hari yang lalu, ditemukan tandatanda syok berupa nadi yang melemah dan akral yang dingin. Serta dari hasil lab
ditemukan hasil lab trombosit 55.000 dan Ht . 20%.

Dehridrasi Ringan Sedang


Dasar Diagnosis : Pada pasien ditemukan riwayat mencret dan muntah, pada pemeriksaan
fisik ditemukan mata pasien cekung, bibir kering dan keadaan umum tampak sakit
sedang.

VI. DIAGNOSIS BANDING


- Demam Dengue: demam 2-7 hari, mendadak, tinggi, tanpa diikuti hemokonsentrasi.
- Demam Tifoid : demam >7 hari, naik bertahap, disertai tes widal positif (+)
VII.

PEMERIKSAAN ANJURAN
1. H2TL
2. Elektrolit

VIII. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
1. IVFD RL 500 cc dalam 1 jam
2. Ondansetron 3x4 mg
3. Ranitidin 3x50 mg IV
4. Omeprazol 2x20 mg
5. Ceftriaxon 1x2gr IV
6. FFP 250 cc

IX.

PROGNOSIS
Advitam
: ad bonam
Adfungtionam : ad bonam
Adsanationam : ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai
dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang
dapat menyebabkan kematian.1
Etiologi
Virus dengue

Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus
(Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan
4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu
dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus
ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai
macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia misalnya sel BHK
(Babby Homster Kidney) maupun sel sel Arthropoda misalnya sel Aedes
Albopictus.2
Vektor

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk
aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies
lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan
menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada
perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya.
Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan
virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes
Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah
pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes
berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana bejana yang
9

terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di
lubang lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air
bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap
darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari.2
Host

Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan
mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih
mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe
lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah
mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk
kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus
dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari
ibunya melalui plasenta.2
Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintikbintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin
terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan
pembesaran limpa (Splenomegali).
Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virusantibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3
dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma
ke ruang ekstra seluler.
Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume
plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan
renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau

10

menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit


menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor
koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya
perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan
ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum,
pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui
infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukkan
kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi
kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung,
sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami
kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa
mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan,
metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan
hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler,
trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh
tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.3

11

Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :3
-

Meningkatnya suhu tubuh (Demam tinggi selama 5 7 hari)

Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

Nyeri kepala menyeluruh atau berpusat pada supra orbita, retroorbita

Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.

Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.

Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.

Pembengkakan sekitar mata.

Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.

Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

Klasifikasi
Derajat DHF menurut WHO :4
Derajat I

: Demam dengan test rumple leed positif.

Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain.
Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien
menjadi gelisah.
Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat
diukur.
Pemeriksaan Penunjang
Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan pemeriksaan
dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakan
dengan pemeriksaan laboratorium yakni :3

12

Trombositopenia (< 100.000 / mm3) , Hb dan PCV meningkat (> 20%) leukopenia
(mungkin normal atau leukositosis), isolasi virus, serologis.

Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI


(Haemaglutination ingibition), yang hasilnya adalah :

Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20
dan akan meningkat sampai < 1/1280 pada stadium rekovalensensi pada infeksi
kedua atau selanjutnya, titer antibodi HI dalam fase akut > 1/20 dan akan
meningkat dalam stadium rekovalensi sampai lebih dari pada 1/2560.

Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280 maka kadang titernya dalam stadium
rekonvalensi tidak naik lagi.

Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb, PCV berulangkali (setiap jam atau 46 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis x-foto dada,
EKG, kreatinin serum.

Laboratorium:
Trombositopenia (< 100.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%.

Secara singkat, pemeriksaan penunjang yang menunjukkan DHF :


a. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %
3) HT meningkat lebih 20 %
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5) Protein darah rendah
6) Ureum PH bisa meningkat
7) NA dan CL rendah
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)
Diagniosis DHF
Menurut WHO, diagnosis DHF jika memenuhi minimal 2 gejala klinis + 1 laboratorium.4
13

Klinis :
(1) Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama
2-7 hari
(2) Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :

Uji bendung positif

Petekie, ekimosis, purpura

Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi

Hematemesis dan atau melena

(3) Pembesaran hati


(4) Syok, ditandai nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan tekanan nadi
(< 20 mmHg), hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan dingin, kulit lembab,
capillary refill time memanjang (>2 detik) dan pasien tampak gelisah.
Laboratorium :
(1) Trombositopenia (<100.000/uL)
(2) Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler, dengan
manifestasi sebagai berikut :

Peningkatan hematokrit >20% dari nilai standar

Penurunan hematokrit >20%, setelah mendapat terapi cairan

Efusi pleura/perikardial, asites, hipoproteinemia

Penatalaksaan DHF Pada Anak


Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF) bersifat
simtomatis dan suportif.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat, Dengue Haemoragic
Fever (DHF) sedang kadang kadang tidak memerlukan perawatan, apabila orang tua
dapat diikutsertakan dalam pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan
terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit. Indikasi rawat
tinggal pada dugaan infeksi virus dengue, yaitu:
-

Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau
kejangkejang.
14

Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati uji torniquet positif/negatif,
kesan sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan Ht/PCV meningkat.

Panas disertai perdarahan- perdarahan.

Panas disertai renjatan.


Dengan renjatan:
1. Alur Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat III

a.

Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/jam


Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba
dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer
Laktat 10 mL/KgBB/jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan
jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu (24 jam dikurangi
waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan).

b.

Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi
masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka
penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang
lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg
BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL
sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi
sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

c.

Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 ml/Kg BB/ 1 jam
keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat
lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma
ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat
diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum
membaik dilanjutkan dengan cairan RL dengan perhitungan sebagai berikut :
kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa
waktu setelah dapat mengatasi renjatan.4

Komplikasi

15

a. DHF mengakibatkan pendarahan pada semua organ tubuh, seperti pendarahan


ginjal, otak, jantung, paru paru, limpa dan hati. Sehingga tubuh kehabisan darah
dan cairan serta menyebabkan kematian.
b. Ensepalopati.
c. Gangguan kesadaran yang disertai kejang.
d. Disorientasi, prognosa buruk
Prognosis
Prognosis demam dengue berhubungan dengan antibodi yang didapat atau infeksi
awal dengan virus yang menyebabkan terjadinya DHF. Keparahan terlihat dari usia, dan
infeksi awal terhadap serotipe dengue virus yang lain sehingga
komplikasi

hemorhagik

yang

parah.

dapat mengakibatkan

Prognosis baik jika diatasi maksimal 90 menit.

Prognosis akan terlihat buruk jika melebihi 90 menit. Kematian telah terjadi pada 40-50%
penderita dengan syok, tetapi dengan perawatan intensif yang cukup kematian akan kurang
dari 2%. Ketahanan hidup secara langsung terkait dengan management awal dan intensif.
Daftar Pustaka
1. Dorland WAN. Kamus kedokteran Dorland. Ed. 31. Hal. 90-2. Jakarta: EGC; 2010. Hal
572-807.
2.

Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak nelson. Ed. 15. Vol. 2.
Jakarta: EGC; 2000. Hal. 1132-35.

3. Tanto C, Liwang F, Hanifati S. Kapita selekta kedokteran. Ed. 4. Jil. 1. Jakarta: Media
Aesculapius; 2014. Hal 68-71.
4. WHO. Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI;
2008. Hal 163-167.

16

Pembahasan
Pada pasien ini dapat di tegakkan diagnosis DHF grade 3 karena memenuhi kriteria WHO
yakni minimal terdapat 2 gejala DHF dan 1 hasil lab yang menunjang dimana pada pasien ini
terdapat gejala klinis sebagai berikut, (1) demam 3 hari, (2) tanda-tanda syok,. Selain itu terdapat
hasil lab (1) trombosit <100.000, (2) peningkatan hematocrit >20%. Sedangkan kriteria grade 3
ditegakkan dengan ditemukannya tanda-tanda awal syok yakni, (1) keadaan pasien menjadi
gelisah, (2) akral yang mulai dingin, (3) nadi yang lemah.
Diagnosis Banding dari kasus ini adalah demam dengue dan tifoid, namun dari gejala
klinis dan hasil lab tidak memenuhi kriteria diagnosis keduanya. Pada Demam Dengue walaupun
gejala klinisnya mirip dengan DBD dan pada hasil ditemukan adanya trombositopenia, namun
pada pasien ini ditemukan tanda-tanda hemo konsentrasi dan syok, sehingga diagnosis Demam
Dengue tidak terpenuhi. Sedangkan diagnosis banding dari tifoid ditentukan dari anamnesis ayah
pasien ini, dimana ayah pasien mengatakan bahwa demam anaknya naik turun, dan demam
terutama pada malam hari. Namun dari hasil pemeriksaan penunjang tes widal negative (-)
sehingga diagnosis tifoid tidak dapat ditegakkan.
Penatalaksanaan awal yang diberi bila menemukan kasus ini adalah pemberian cairan
resusitasi (RL, Ringer Asetat, Asering) sebesar 500 cc (20 ml x 25 kg) dihabiskan secepat
mungkin diikuti dengan pengulangan sebanyak 1 kali. Serta direncanakan pemberian FFP
sebanyak 500 cc/jam/ kali bila pada pasien tidak ada perbaikan. Serta juga diberikan obat-obat
simptomatik seperti Ondansetron, Ranitidin, dan Omeprazole.
Pemeriksaan anjuran yang dapat diberikan pasien ini adalah pengulangan pemeriksaan
darah rutin untuk menilai hemokonsentrasi, pemeriksaan elektrolit dianjurkan untuk memantau
elektrolit pasien karena menderita mencret yang sering, serta bila memungkinkan dapat
dilakukan pemasangan cvp untuk menilai kecukupan cairan yang telah diberikan.
17

18