Anda di halaman 1dari 12

Laporan Kasus Anak

Oleh: SRI WAHYUNI NIM. 09101057

Tutor : dr. Santi Widiasari

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN & ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU 2012

LAPORAN KASUS ILMU KESEHATAN ANAK

Identitas pasien : No rekam medik Nama Anak Umur Jenis kelamin Nama Ayah / Ibu Pekerjaan ayah / Ibu Alamat Agama Anamnesis : Alloanamnesis Keluhan Utama Keluhan tambahan RPS : Demam sejak 1 minggu yang lalu. :Batuk berdahak sejak 1 minggu yang lalu :- Demam sejak 1 minggu yang lalu. Demam tidak tinggi. - Batuk berdahak, encer, dan keluarnya darah. - Bersin (+) - Pilek (-) - Mengi (-) - Nafsu makan menurun (-) jernih. Tidak disertai : 101200130 : An. L : 2 tahun : Laki-laki : Tn.K/Ny. S : Karyawan : JL.Lembah Raya No. 35 : Islam

- Nyeri dada tidak ada - Jantung berdebar-debar tidak ada

- BAB sebanyak 3x/hari dengan konsistensi lunak-cair. Riwayat Kelahiran : Lahir normal di rumah sakit dengan ditolong oleh dokter spesialis kandungan. Dengan BB lahir 3,7 kg

dan PL : 50 cm. Tidak ada riwayat penyulit saat di


lahirkan. RPD : - Belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Pernah masuk rumah sakit beberapa bulan yang lalu karena mencret-mencret. - Riwayat alergi (-) RPK : Tidak ada riwayat penyakit keluarga dengan keluhan yang sama. RSE :Tinggal di perumahan yang letaknya dekat dengan

pabrik. Lingkungan sekitar rumah cukup bersih. Ayah F suka merokok. Aktivitas di sekolah sedikit terganggu.
Riwayat Imunisasi Pemeriksaan Fisik : Status Generalis Keadan umum : baik/tidak Kesadaran : Vital sign : BB R N T : 11 kg : 65x/menit :80x/menit :370C : Imunisasi wajib lengkap

Kepala dan leher

: Normocephali, pusing (-), muntah (-)

Mata

: - Konjungtiva tidak anemis


- Sclera tidak ikterik - Gangguan penglihatan (-) - Pupil isokord

- Alat bantu (-) Hidung : - Sekret (-), gangguan penciuman (-), nyeri (-), edema konka (-) Telinga : - Bentuk telinga normal - Gangguan pendengaran (-)
Mulut : - Sianosis (-)

- Mukosa lembab Tenggorokan Thorax: Paru-Paru :


Inspeksi : - Simetris - Retraksi (+) Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Simetris : Iktus kordis teraba : Batas jantung normal : - Bunyi jantung I reguler : Vocal fremitus simetris kanan dan kiri : Sonor pada lapang kedua paru : Ekspirasi memanjang, ronkhi (+)

: Nyeri saat menelan (-)

- Bunyi jantung II reguler - Murmur (-) - Gallop (-)

Abdomen: Inspeksi : - Perut sejajar dengan dada - Dinding perut simetris - Massa (-) - Bekas luka (-) Auskultasi Perkusi : - Peristaltik usus (+) : - Timpani pada seluruh regio abdomen

Palpasi
Ekstremitas atas - Dextra

: - Nyeri tekan (-)


: : - Edema (-) - Akral hangat

- Sinistra

- Edema (-) - Akral hangat

Ekstremitas Bawah : - Dextra : - Edema (-) - Akral hangat - Sinistra : - Edema (-) - Akral hangat

Pemeriksaan darah lengkap A. Pemeriksaan Laboratorium

Sedikit peningkatan limposit dan trombosit 2. Rx.thorax AP/PA : paru-paru dalam keadaan hipererasi, terdapat bercak-bercak konsolidasi yang tersebar Diagnosa kerja Diagnosa Banding Penatalaksanaan - Medikamentosa : Infus raen IB : 30 tts/i Th.injeksi : ceftriaxone 2x300 mg, dexa 3x1 mg, ranitidine 3x5 mg Th.oral : sanmol 4x0,7 cc Nebu : 3x/hari FSHR/hr : : Bronkiolitis : Asma, bronkopneumonia

- Edukatif : rawat inap, konsultasi ulang jika ada keluhan, istirahat yang cukup Prognosis :dubia ad bonam (sembuh setelah 48-27 jam, mortaliti < 1 %)

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Bronkiolitis Bronkiolitis adalah peradangan atau suatu sindrom obstruksi pada bronkiolus yang ditandai oleh sesak napas, mengi, dan hiperinflasi paru. 1,2

2. Etiologi Bronkiolitis

Bronkiolitis sebagian besar disebabkan oleh Respiratory syncytial virus (50%). Penyebab lainnya adalah parainfulenza virus, eaton agent (Mycoplasma pneumoniae), adenovirus, enterovirus dan beberapa virus lain (20%)2,3.

3. Patofisiologi Bronkiolitis Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah single stranded RNA virus yang berukuran sedang (80-350 nm), termasuk paramyxovirus. Terdapat 2 glikoprotein permukaan yang merupakan bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu protein G (attachment protein) yang mengikat sel dan protein F (fusion protein) yang menghubungkan partikel virus dengan sel target dan sel tetangganya. Kedua protein ini merangsang antibodi neutralusasi protektif pada host. Terdapat 2 macam strain antigen RSV yaitu A dan B.RSV strain A menyebabkan gejala yang pernapasan yang lebih berat dan menimbulkan sekuele. Masa inkubasi RSV 2 - 5 hari. 2,3 Virus bereplikasi di dalam nasofaring kemudian menyebar dari saluran nafas atas ke saluran nafas bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran nafas dan melalui aspirasi sekresi nasofaring. RSV mempengaruhi sistem saluran napas melalui kolonisasi dan replikasi virus pada mukosa bronkus dan bronkiolus yang memberi gambaran patologi awal berupa nekrosis sel epitel silia. Nekrosis sel epitel saluran napas menyebabkan terjadi edema submukosa dan pelepasan debris dan fibrin kedalam lumen bronkiolus.2,3 Infeksi virus pada epitel bersilia bronkus menyebabkan respon inflamasi akut, ditandai dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mucus, timbunan debris selular/sel-sel mati yang terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi limfosit peribronkial dan edema submukosa3. Karena tahanan aliran udara berbanding terbalik dengan diameter penampang saluran pernafasan, maka sedikit saja penebalan mukosa akan memberikan hambatan aliran udara yang besar3,4,6,terutama pada bayi yang memiliki penampang saluran pernafasan yang kecil. Resistensi pada bronkiolus meningkat selama fase inspirasi dan ekspirasi, tetapi karena radius saluran respiratori lebih kecil selama ekspirasi, maka akan menyebabkan air traping dan hiperinflasi. Ateletaksis dapat terjadi pada saat terjadi obstruksi total dan udara yang terjebak diabsorbsi total.2,3 Virus yang merusak epitel bersilia juga mengganggu gerakan mukosilier, mukus tertimbun di dalam bronkiolus . Kerusakan sel epitel saluran napas juga mengakibatkan saraf

aferen lebih terpapar terhadap alergen/iritan, sehingga dilepaskan beberapa neuropeptida (neurokinin, substance P) yang menyebabkan kontraksi otot polos saluran napas. Pada akhirnya kerusakan epitel saluran napas juga meningkatkan ekspresi Intercellular Adhesion Molecule-1 (ICAM-1) dan produksi sitokin yang akan menarik eosinofil dan sel-sel inflamasi. Jadi, bronkiolus menjadi sempit karena kombinasi dari proses inflamasi, edema saluran nafas, akumulasi sel-sel debris dan mukus serta spasme otot polos saluran napas.Adapun respon paru ialah dengan meningkatkan kapasitas fungsi residu, menurunkan compliance, meningkatkan tahanan saluran napas, dead space serta meningkatkan shunt.2,3

4. Gambaran Klinis Bronkiolitis Mula-mula bayi menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin. Gejala ini berlangsung beberapa hari, kadang-kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan minum. Bronkiolitis biasanya terjadi setelah kontak dengan orang dewasa atau anak besar yang menderita infeksi saluran nafas atas yang ringan.Bayi mengalami demam ringan atau tidak demam sama sekali dan bahkan ada yang mengalami hipotermi.2 Terjadi distres nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit, kadang-kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat. Terdapat nafas cuping hidung, penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi. Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Terdapat ekspirasi yang memanjang. Hepar dan lien teraba akibat pendorongan diafragma karena tertekan oleh paru yang hiperinflasi. Ronkhi nyaring halus kadang-kadang terdengar pada akhir inspirasi atau pada permulaan ekspirasi. Pada keadaan yang berat sekali suara pernafasan hampir tidak terdengar karena kemungkinan obstruksi hamper total.2 Beratnya penyakit ditentukan berdasarkan skala klinis. Digunakan berbagai skala klinis, misalnya Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI) atau modifikasinya yang mengukur laju pernafasan/respiratory rate (RR), usaha nafas, beratnya wheezing dan oksigenasi.3 Skala klinis yang digunakan Abul Ainine dan Luyt adalah :

a. Respiratory Rate (RR) : dihitung manual, baik dengan palpasi dan melihat gerakan dada, dilakukan selama 1 menit penuh, dua kali perhitungan diambil rata-ratanya. b. Heart Rate (HR) diambil dari pulse oxymetri yang dibaca lima kali selama pengamatan 1 menit, diambil rata-ratanya. c. Saturasi O2 : dari pulse oxymetri yang dibaca lima kali selama pengamatan 1 menit, diambil rata-ratanya. d. Respiratory clinical status yang dinilai menggunakan RDAI menurut Lowell dkk. e. Status aktivitas bayi (empat tingkat : tidur, tenang, rewel dan menangis).

Sedangkan Shuh, yang diadaptasi oleh Dobson, menilai skor klinis sebagai berikut : a. Keadaan umum : diberi skor 0 (tidur) hingga 4 (sangat rewel) b. Penggunaan otot bantu nafas : Skor 0 (tidak ada retraksi) hingga 3 (retraksi berat)
c. Wheezing : skor 0 (tidak ada) hingga 3 (wheezing hebat inspiratorik dan

ekspiratorik).3 Atas dasar frekuensi nafas dan keadaan umum bronkiolitis dibagi menjadi : bronkiolitis ringan dan bronkiolitis berat (R 60 x/ menit).

Berdasarkan gejala klinis, bronkiolitis juga dibagi menjadi bronkiolitis ringan, sedang, berat dengan tanda sebagai berikut : BRONKIOLITIS

RINGAN Kemampuan makan normal Sedikit atau tidak ada pernafasan


Tidak

SEDANG untuk Gangguan pernafasan dengan dan nafas sedang beberapa cuping ringan

BERAT Tidak dapat untuk makan Gangguan pernafasan berat, dengan retraksi dinding dada yang jelas, nafas cuping hidung dan yang

gangguan kebutuhan

kontraksi dinding dada hidung Hipoksemia dan dapat dengan oksigen Mungkin menampakkan pernafasan Mungkin episode singkat yang memiliki yang pendek ketika makan apnoe dikoreksi

akan oksigen tambahan (saturasi O2 > 95 %

dengkuran. Hipoksemia oksigen tambahan Mungkin atau episode terdapat apnoe peningkatan frekuensi yang panjang. Mungkin menampakkan peningkatan kelelahan. tidak terkoreksi dengan

5. Diagnosis Bronkiolitis Diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran klinis yang khas seperti yang tersebut di atas. Keadaan ini harus dibedakan dengan asma yang kadang-kadang juga timbul pada usia muda. Anak dengan asma akan memberikan respons terhadap pengobatan dengan bronkodilator, sedangkan anak dengan bronkilitis tidak. Bronkiolitis juga harus dibedakan dengan bronkopneumonia.1,2,3

6. Prognosis Prognsosis dari bronkiolitis tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan penyakit latar belakang (penyakit jantung, defisiensi imun, dan prematuritas).3

7. Penatalaksanaan Bronkiolitis2

a. Tempatkan anak dalam ruangan dengan kelembaban udara yang tinggi, sebaiknya dengan uap dingin (mist-tent), keadaan ini dapat mencairkan sekret bronkus yang liat. b. Beri oksigen walaupun anak belum dalam keadaan sianosis c. Beri cairan intravena dengan elektrolit yang diperlukan, diberikan untuk mengoreksi asidosis respiratorik dan metabolik yang mungkin timbul dan juga utnuk mengoreksi kemungkinan dehidrasi.
d. Antibiotik diberikan apabila curiga infeksi bakterial dan sebaiknya dipilih

yang mempunyai spektrum luas. Bila dicurigai Mycoplasma pneumoniae sebagai penyebabnya, obat yang dipilih adalah eritromisin. e. Pemberian steroid masih pro-kontra f. Pemberian sedativa tidak diperkenankan, karena dapat menimbulkan depresi pernapasan. Bila dianggap perlu, berikan kloralhidrat. g. Bronkodilator tidak dianjurkan dan merupakan kontraindikasi, karena dapat memperberat keadaan anak, penderita dapat menjadi lebih gelisah dan keperluan oksigen akan meningkat.

Daftar Pustaka
1. Rusepno

H,

Husein

A,

dkk.

2007.

Buku

Kuliah

Ilmu

Kesehatan

Anak.Jakarta:Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ; Jakarta


2. Magdalena Sidharta Zain, 2008. Bronkhiolitis dalam Buku Ajar Respirology Anak,

Edisi Pertama, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Badan Penerbit IDAI ; Jakarta
3. Mary Ellen B, Wohl, MD. Bronchiolitis in Kendigs Disorder of The Respiratory

Tract in Children. Seventh Edition, Elsevier Inc, 2006 page : 423 431.