Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH FITOTERAPI

ANTI HIPERTENSI

Oleh :

Kelas C11
Kelompok IV
1. WIDYAWATI
15020130332
2. RENY ANGGRIANY HAKIM 15020130333
3. NURHIJRAH AHMAD
15020130334

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2016
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi


Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiratNya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Fitoterapi yang
berjudul Antihipertensi.
Makalah ini telah kami susun dengan baik dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.
Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang fungsi dan
keutamaan dakwah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.
Makassar, 28 November 2016

Kelompok 4

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. HIPERTENSI
B. TERAPI HERBAL
1. Mengkudu
2. Daun Salam
3. Mentimun
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan penyakit metabolik degenerative yang
disebabkan karena adanya peningkatan tekanan darah ataupun
disebabkan oleh komplikasi dari penyakit lainnya sehingga memicu
peningkatan tekanan darah.
Pada makalah ini akan dibahas tentang penyakit hipertensi dari
penyebab

hingga

penanggulangannya

serta

bagaimana

pengobatannya secara tradisional dengan menggunakan tanaman


beberapa tanaman herbal yang dapat digunakan untuk mengobati
hipertensi.
Pengobatan tradisional masih banyak digunakan sebagai
alternatif dalam masyarakat, hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat
masih mengakui khasiat dari pengobatan tradisional, dengan demikian
jenis-jenis tanaman yang dapat dijadikan obat harus tetap dilestarikan
dan dijaga agar dapat dimanfaatkan sebagai resep - resep tradisional
warisan orang tua terdahulu dalam upaya menunjang pelayanan
kesehatan.
Pengobatan tradisional dan obat tradisional telah menyatu
dengan masyarakat, digunakan dalam mengatasi masalah kesehatan.
Kemampuan masyarakat untuk mengobati sendiri, mengenai gejala
penyakit dan memelihara kesehatan perlu ditingkatkan dalam rangka

menjaga kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk ini obat


tradisional dan jamu merupakan potensi yang besar karena sudah
dikenal masyarakat, mudah diperoleh, harga relatif murah, serta
merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu penyakit hipertensi ?
2. Apa sajakah tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk
pengobatan hipertensi ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi yang diderita seseorang erat kaitannya dengan
tekanan sistolik dan diastolik atau keduanya secara terus-menerus.
Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila
jantung

berkontraksi,

sedangkan

tekanan

darah

diastolik

berkaitannya dengan tekanan arteri pada saat jantung relaksasi


diantara dua denyut jantung. Dari hasil pengukuran tekanan sistolik
memiliki nilai yang lebih besar dari tekanan diastolik (Udjianti, 2011).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana dijumpai tekanan
darah lebih dari 140/90 mmHg atau lebih untuk usia 13-50 tahun dan
tekanan darah mencapai 160 95 mmHg untuk usia diatas 50 tahun
dan harus dilakukan pengukuran tekanan darah minimal sebanyak
dua kali untuk lebih memastikan keadaan tersebut dan hipertensi
dapat menimbulkan resiko terhadap penyakit stroke, gagal jantung,
serangan jantung, dan kerusakan ginjal (Muttaqin, 2009).
2. Penyebab Hipertensi
Berdasarkan

Faktor

Akibat

Hipertensi

karena

Terjadi

Peningkatan Tekanan Darah di Dalam Arteri Dengan Beberapa Cara


diantaranya (Nurdiantami, 2013) :
-

Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak

cairan pada setiap detiknya.


Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia
lanjut. Arteri besar kehilangan kelenturan dan menjadi kaku

sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung


memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu, darah pada
setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang
-

sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya darah.


Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan
meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan
fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam

dan air dari dalam tubuh.


Volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah
juga meningkat. Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa jantung
berkurang. Maka, arteri mengalami pelebaran dan banyak cairan
dari sirkulasi. Tekanan darah pula akan menurun atau menjadi
lebih kecil.
Berdasarkan faktor pemicu yang menurut Dewi. S & Familia. D,

(2010) mengatakan hipertensi dibedakan atas yang tidak dapat


terkontrol seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Pada 70-80 %
kasus hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi didalam
keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang
tua, maka dugaan hipertensi primer lebih besar. Hipertensi juga
banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur),
apabila salah satunya menderita hipertensi. Dugaan ini kian
menguatkan bahwa faktor genetik mempunyai peran bagi terjadinya
hipertensi (Tedjasukmana, 2012).

Faktor-faktor yang dapat dikontrol antara lain kegemukan atau


obesitas, stres, kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol
dan garam. Faktor lingkungan ini berpengaruh terhadap timbulnya
hipertensi esensial. Hubungan antara stres dan hipertensi diduga
terjadi melalui aktivitas saraf simpatis, saraf parasimpatis adalah
saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas. Peningkatan aktvitas
saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten
(tidak menentu). Stres berkepanjangan dapat mengakibatkan
tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti,
tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi
dibandingkan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan
pengaruh stres yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di
kota (Tedjasukmana, 2012).
Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas
dari populasi hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai
kaitan yang erat dengan terjadinya hipertensi di kemudian hari.
Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan
hipertensi esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya
pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas
dengan

hipertensi

lebih

tinggi

dibandingkan

penderita

yang

mempunyai berat badan normal. Pada tahap lebih jauh, hipertensi


bisa memunculkan krisis. Krisis hipertensi adalah keadaan potensial
yang dapat mengancam jiwa sehingga memerlukan tindakan medis

untuk mencegah atau mengurangi kerusakan organ yang dapat


terkena, yakni organ target seperti, otak, jantung, ginjal, dan lain-lain.
Benar bahwa biasanya tekanan darah dalam krisis hipertensi
meningkat secara cepat dan biasanya tekanan diastolik (tekanan
yang angkanya ditulis: 120/80 mmHg, 80 mmHg adalah tekanan
diastolik) biasanya melebihi 120-130 mmHg (Tedjasukmana, 2012).
3. Gejala Hipertensi
Gejala-gejala yang sering ditimbulkan oleh penderita Hipertensi
diantaranya,

Sakit

kepala,

Kelelahan,

Masalah

penglihatan

(kemungkinan komplikasi ke retina mata), Nyeri dada, Sulitt


bernafas, Denyut jantung tidak teratur, Adanya darah dalam urin
(kemungkinan komplikasi ginjal), Berdebar di dada,leher, atau telinga
(Susanto S, 2010).
Hipertensi esensial kadang tampa gejala dan baru timbul gejala
setelah terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal,
mata, otak dan jantung. Namun terdapat pasien yang mengalami
gejala dengan sakit kepala, epitaksis (Tim Pokja, 2003).

4. Pertumbuhan dan Perkembangan


Smeltzer & Bare (2002) mengatakan bahwa Mekanisme yang
mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat
vasomotor pada medulla oblongata di otak dimana dari vasomotor ini

mulai dari saraf simpatik yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan
keluar dari kolomna medulla ke ganglia simpatis di torax dan
abdomen, rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk
impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis . Pada
titik ganglion ini neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan melepaskannya norepinephrine mengakibatkan
konskriksi pembuluh darah. Faktor seperti kecemasan dan ketakutan
dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstrikti yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah
akibat aliran darah yang ke ginjal menjadi berkurang /menurun dan
berakibat

diproduksinya

pembentukan

angiotensin

renin,
I

yang

rennin

akan

kemudian

merangsang

diubah

menjadi

angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor yang kuat yang


merangsang sekresi aldosteron oleh cortex adrenal dimana hormone
aldosteron ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus
ginjal dan menyebabkan peningkatan volume cairan intra vaskuler
yang menyebabkan hipertensi.
Patofisiologis

hipertensi

adalah:

pada

hipertensi

primer

perubahan patologisnya tidak jelas didalam tubuh dan organ-organ.


Terjadi secara perlahan yang meluas dan mengambil tempat pada
pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil pada organ
organ seperti jantung, ginjal dan pembuluh darah otak. Pembuluh

seperti aorta, arteri koroner, arteri basiler yang ke otak dan pembuluh
darah perifer di ekstremitas menjadi sklerotik dan membengkak.
Lumen-lumen menjepit, aliran darah ke jantung menurun, bergitu
juga ke otak dan ekstremitas bawah bisa juga terjadi kerusakan
pembuluh darah besar (Tim Kopja, 2003).

Gambar. Terkait Penyakit Hipertensi


B. Terapi Herbal
a) Mengkudu

Gambar. Buah mengkudu


a. Klasifikasi
Berdasarkan

ITIS

(Integrated

Taxonomic

Information

System), klasifikasi tanaman mengkudu adalah sebagai berikut:


Kerajaan : Plantae
Divisi

: Tracheophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Gentianales

Famili

: Rubiaceae

Genus

: Morinda

Spesies : Morinda citrifolia L.


b. Morfologi
Mengkudu atau nama lain Indonesia: eodu, eoru, keumudee,
lengkudu, bangkudu, bengkudu, bakudu, bingkudu, pamarai,
mangkudu, mengkudu, neteu, kudu, cangkudu, kemudu, pace,
tibah, wungkudu, ai kombo, manakudu, bakulu, mangkudu,
wangkudu, labanau. Inggris: Noni, Pilipina: Noni, Bankoro, Apatot,
Tiongkok: ji shu (Budikusuma, 2003).

Budikusuma

(2003)

memaparkan

bahwa

mengkudu

termasuk jenis tanaman yang rendah dan umumnya memiliki


banyak cabang dengan ketinggian pohon sekitar 3-8 meter di atas
permukaan tanah serta tumbuh secara liar di hutan-hutan,
tegalan, pinggiran sungai, dan di pekarangan. Mengkudu dapat
tumbuh di berbagai tipe lahan dan iklim pada ketinggian tempat
dataran rendah sampai 1.500 m di atas permukaan laut dengan
curah hujan 1500-3500 mm/tahun, pH tanah 5-7, suhu 22-300C
dan kelembapan 50-70%.

Gambar 2. Daun dan buah mengkudu


Buah mengkudu memiliki bentuk bulat sampai lonjong,
panjang 10 cm, berwarna kehijauan tetapi menjelang masak
menjadi putih kekuningan (Djauhariya, 2003). Menurut Heyne
(1987), daun mengkudu merupakan daun tunggal berwarna hijau
kekuningan, bersilang hadapan, ujung meruncing dan bertepi rata
dengan ukuran panjang 10-40 cm dan lebar 15-17 cm. Bunga
mengkudu berwarna putih, berbau harum dan mempunyai
mahkota berbentuk terompet (Budikusuma, 2003).
c. Kandungan kimia

Tanaman mengkudu terkenal memiliki khasiat, beberapa


simplisia yang diambil dari tanaman mengkudu untuk diolah
adalah Morindae citrifoliae Fructus (buah mengkudu), Morindae
citrifoliae Folium (daun mengkudu), Morindae citrifoliae Radix
(akar mengkudu) (Noorahmi, 2010).
Beberapa senyawa kimia dalam mengkudu yaitu oligo dan
polisakarida, glikosida termasuk flavonoid (rutin dan asam
asperulosidat), ester asam lemak trisakarida, skopoletin, betasitosterol, damnacanthal, alkaloid (xeronin, proxeronin), asam
oktonoat,

kalium,

(nordamnakantal,

vitamin

morindon,

C,

terpenoid,

rubiadin,

rubiadin,

antrakuinon
metil

eter,

glikosaida antrakuinon), karoten, vitamin A, glikosida flavon, asam


linoleat, alizarin, asam amino, akubin, L-asperulosida, asam
kaproat, asam ursolat (Wang, 2002).
Secara umum, Jensen (2002) merangkum kandungan kimia
dalam mengkudu yang sangat bermanfaat bagi penderita
hipertensi adalah scopoletin dan antrakuionon morindon.

Gambar 3. Struktur kimia morindon (kiri) dan skopoletin (kanan)


d. Mekanisme Kerja

Jensen (2002) dalam Clinical Research on Morinda citrifolia


menyebutkan aktivitas-aktivitas farmakologi tersebut sebagai
berikut.
-

Scopoletin, senyawa ini berfungsi mengatur tekanan darah.


Saat tekanan darah tinggi, scopoletin membantu menurunkan
dengan memperlebar pembuluh darah dan memperlancar
peredaran darah. Sebaliknya bila tekanan darah menjadi
rendah, ia akan menaikkannya. Selain berindikasi antibakteri,
senyawa ini juga mengatur hormone serotonin yang membantu

menurunkan kadar kecemasan dan depresi.


Morindon, zat ini berkhasiat dalam meningkatkan sistem
pertahanan tubuh.

e. Cara Penggunaan

Gambar. Contoh sediaan mengkudu


Jus mengkudu : Buah mengkudu matang diblender dengan
penambahan air secukupnya. Jus buah segar mengkudu 30-

180 ml diminum setiap hari, setengah jam sebelum makan atau


-

satu jam setelah makan.


Serbuk mengkudu : Buah mengkudu dikeringkan kemudian
dibuat menjadi serbuk untuk selanjutnya diolah lebih lanjut
menjadi jus, tablet, atau kapsul.

b)

Daun Salam

Gambar. Daun Salam


a. Klasifikasi
Salam merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang mudah
tumbuh pada daerah tropis. Salam banyak tumbuh di hutan dan
dapat ditanam di pekarangan rumah. Salam merupakan tumbuhan

asli Indonesia yang telah ditetapkan sebagai salah satu tumbuhan


obat yang tergolong dalam klasifikasi sebagai berikut (Wulandari,
2006):
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Syzygium

Spesies

: Syzygium polyanthum (Wight) Walp.

b. Morfologi
Daun salam (Eugenia polyantha) memiliki aroma yang khas
yang sering digunakan sebagai bahan masakan. Batangnya
berwarna cokelat jingga kemerahandan digunakan sebagai bahan
bangunan dan perabotan rumah tangga. Pohon salam tersebar di
Asia

Tenggara,

seperti

di

Burma,

Semenanjung

Malaya,

Kalimantan dan Jawa (Sudarsono dkk., 2002).


Salam tumbuh liar di hutan dan pegunungan, ditanam di
pekarangan atau disekitar rumah.Tanaman ini dapat ditemukan di
dataran rendah sampai 1400 m dpl. Salam merupakan pohon
dengan tinggi mencapai 25 m, batang bulat,permukaan licin,

bertajuk

rimbun

dan

berakar

tunggang.Daun

tunggal,

letakberhadapan, panjang tangkai daun 0,5-1 cm. Helaian daun


berbentuk lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, ujung
meruncing, pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip,
permukaan atas licin berwarna hijau tua, permukaan bawah
berwarna hijau muda, panjang 5-15 cm, lebar 3-8 cm, jika diremas
berbau harum (Lelono, 2009).
c. Kandungan Kimia
Kandungan

daun

salam

antara

lain

adalah

saponin,triterpenoid, flavonoid, polifenol, alkaloid, tanin dan


minyak atsiri yang terdiri dari sesquiterpen, lakton dan fenol. Daun
salam juga mempunyai kandungan kimia yaitu tanin, flavonoid,
dan minyak atsiri 0,05 % yang terdiri dari eugenol dan sitral
(Lelono, 2009).
Kandungan flavonoid dalam daun salam yaitu kuersetin dan
fluoretin. Flavonoid adalah senyawa antioksidan polifenol alami,
terdapat pada tumbuhan, buah-buahan, dan minuman (tehdan
wine) yang dapat menurunkan kadar kolesterol dan kadar
trigliserida
kerusakan,

dalam

darah,melindungi

mengurangi

jumlah

pembuluh
penimbunan

arteri

dari

kolesterol

dipermukaan endotel pembuluh darah arteri (Venugopal, 2002;


Chen, 2001).

Struktur umum flavonoid (Rohyami, 2008)


d. Mekanisme Kerja Senyawa
Di dalam daun salam terdapat 3 komponen yaitu minyak
atsiri

sebagai

pengharum

atau

penyedap

yang

dapat

menenangkan pikiran dan juga mengurangi produksi hormon


stres, tanin dalam daun salam mampu mengendurkan otot arteri
sehingga menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi,
dan flavonoid sebagai inhibitor ACE dengan menghambat aktivitas
ACE maka pembentukan angiotensin II dapat dibatasi sehingga
dapat mencegah hipertensi (Agoes, 2010).
Pada penelitian yang dilakukan Edwards et al. (2007)
diketahui bahwa kuersetin dapat mengurangi tekanan darah pada
subjek yang mengalami hipertensi. Penelitian laboratorium yang
lain telah menunjukkan bahwa kuersetin memiliki sifat penting
sebagai vasorelaksan pada arteri terisolasi dan menurunkan
tekanan darah pada tikus hipertensi spontan (Duarte et al, 1993).
Salah satu faktor yang mempengaruhi tekanan darah arteri adalah
cardiac output. Sedangkan cardiac output dipengaruhi oleh
frekuensi denyut jantung, dengan demikian perubahan tekanan
darah yang terjadi secara fisiologis dapat diketahui salah satu

penyebabnya (Rushmer, 1976; Keele et al., 1982). Salah satu zat


yang

juga

dapat

mempengaruhi

tekanan

darah

adalah

Mn/mangan (Braunwald, 1982).


Kandungan flavonoid dikaitkan dengan efek perlindungan
terhadap fungsi endotel dan menghambat agregasi platelet,
sehingga dapat menurunan resiko penyakit jantung koroner,
penyakit kardiovaskuler.18 Flavonoid memiliki efek hipotensi
dengan mekanisme menghambat aktivitas ACE, serta sebagai
diuretic(Panjaitan, 2014; Putri, 2012; Nurdiantami, 2013; Athiroh,
2012; Pradono, 2010; Ismarani, 2011).
Flavonoid dapat menghambat

ACE.

Diketahui

ACE

memegang peran dalam pembentukan angiotensin II yang


merupakan salah satu penyebab hipertensi. Angiotensin II
menyebabkan

pembuluh

darah

menyempit,

yang

dapat

menaikkan tekanan darah. ACE inhibitor menyebabkan pembuluh


darah melebar sehingga darah lebih banyak mengalir ke jantung,
mengakibatkan penurunan tekanan darah (Ismarani, 2011;
Balasuriya, 2011).
Selain itu, flavonoid dapat meningkatkan urinasi dan
pengeluaran elektrolit, yang mana berfungsi layaknya kalium, yaitu
mengabsorbsi cairan ion-ion elektrolit seperti natrium yang ada di
dalam intraseluler darah untuk menuju ekstraseluler memasuki
tubulus ginjal. Glomerular filtration rate (GFR) yang tinggi akibat
adanya

aktivitas

flavonoid

menyebabkan

ginjal

mampu

mengeluarkan produk buangan dari tubuh dengan cepat (Rao,


2011; Kane, 2009; Septian, 2014).
e. Biosintesis
Senyawa flavanoid adalah senyawa yang mengandung C15
terdiri atas dua inti fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan
karbon. Cincin A memiliki karakteristik bentuk hidroksilasi
phloroglusinol atau resorsinol, dan cincin B biasanya 4-, 3,4- atau
3,4,5-terhidroksilasi (Najib, 2006).

Gambar 5.1 .
Jalur biosintesis flavonoid (Winkel, 2006)
f. Cara penggunaan
Beberapa cara pemakaian daun salam sebagai anti
hipertensi (Santoso & Suharjo, 2003):

Daun salam 7 lembar, sirih 7 lembar, daun alpukat 7 lembar,


direbus 3 gelas menjadi 1 gelas untuk diminum 3 kali satu gelas
satu hari selama satu sampai tiga kali (Jika sembuh, stop).
Daun salam 9 lembar direbus dengan air 3 L sampai 2 L diminum 3
kali sehari.
Cuci 7-10 lembar daun salam sampai bersih, lalu rebus dalam 3
gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air
saringannya diminum sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.
3. Mentimun

Gambar. Mentimun
a. Klasifikasi dari Tanaman Mentimun
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Cucurbitales
Famili
: Cucurbitaceae
Genus
: Cucumis
Spesies
: Cucumis sativus L.
b. Kandungan Mentimun
Menurut Sudarsono S M, (2002) memaparkan bahwasannya
bagian mentimun yang terasa keras termasuk kulitnya banyak
mengandung mineral yang penting bagi tubuh yang salah satunya
adalah silika. Silika mempunyai peranan yang tidak sedikit dalam
pembentukan jaringan konektif yang meliputi otot, tulang, dan

instraseluler. Zat yang terkandung dalam mentimun ini pula yang


baik untuk kesehatan kulit. Mentimun juga mengandung zat yang
berfungsi untuk menjaga suhu untuk berpengaruhi baik terhadap
pencernaan. Air mentimun juga baik untuk menjaga kesehatan
ginjal jika diminum rutin setiap hari sebanyak satu sendok teh.
Vitamin A, B komplek, C, dan E berfungsi sebagai antioksidan,
selain itu kandungan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan
bagi kesehatan. Kandungan kalori yang rendah dalam mentimun
cocok bagi yang menjalani diet.
Buah berbentuk lonjong dan berbiji ini sering dijadikan
sebagai lalapan dan acar. Beberapa orang juga menggunakan
sebagai masker untuk merawat kecantikan wajah. Sementara itu,
manfaat yang tidak kalah penting dari mentimun adalah
kemampuan membantu menurunkan tekanan darah. Kandungan
kalium (potasium), magnesium, dan fosfor dalam mentimun efektif
mampu mengobati hipertensi. Selain itu, mentimun juga bersifat
diuretik karena kandungan airnya yang tinggi sehingga membantu
menurunkan tekanan darah (Sudarsono, 2002).
c. Mekanisme Kerja
Pada sub pembahasan ini akan dipaparkan secara detail
manfaat dari beberapa kandungan yang ada pada mentimun
sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Menurut Solanki. P,
(2011) menyatakan beberapa mekanisme bagaimana kalium
dapat menurunkan tekanan darah sebagai berikut: Kalium dapat

menurunkan

tekanan

darah

dengan

vasodilatasi

sehingga

menyebabkan penurunan retensi perifer total dan meningkatkan


output jantung. Karena mentimun memiliki sekitar 95% dari
kandungan air mereka adalah cara terbaik untuk meningkatkan
asupan serat dan air. Ada tingginya kandungan vitamin A, B6 dan
C hadir dalam daging mentimun. Selain itu sayuran ini diketahui
memiliki konsentrasi tinggi mineral seperti kalsium, kalium,
magnesium, dan silica (Nurdiantami, 2013).
Kandungan air pada mentimun yang tinggi maka mentimun
menurunkan tekanan darah dengan berkhasiat sebagai diuretik.
Air mentimun juga menjaga kesehatan ginjal dan aktivitasnya
sehingga dapat mengubah aktivitas sistem renin-angiotensin.
Kandungan kalium (potasium) membantu mengatur saraf perifer
dan sentral yang mempengaruhi tekanan darah. Cara kerja kalium
berbeda dengan natrium, kalium (potasium) merupakan ion utama
di dalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium adalah kebalikan
dari natrium. Konsumsi kalium yang banyak akan meningkatkan
konsentrasinya di dalam cairan intraseluler sehingga cenderung
menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan
darah (Nurdiantami, 2013).
d. Cara Penggunaan
Bisa langsung di komsumsi setelah di cuci bersih, tetapi
akan lenih bik lagi jika mentimun dihaluskan sebanyak 1 buah
kemudian di peras airnya. Lalu buang ampasnya, kemudian air
perasannya diminum. Untuk hasil yang optimal

minumlah air

perasan timun sebanyak tiga kali sehari pada pagi,sian, dan


malam hari.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi merupakan penyakit metabolik degeneratif yang
disebabkan oleh peningkatan tekanan darah yang dapat diobati
dengan beberapa tanaman alternatif diantaranya:
1) Mengkudu
2) Daun Salam
3) Mentimun

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar., 2010, Tanaman Obat Indonesia. Edisi 2. Jakarta: Salemba


Medika.
Athiroh NAS, Permatasari N., 2012, Mekanisme kerja benalu teh pada
pembuluh darah, Jurnal Kedokteran Brawijaya, 27(1):1-7.
Balasuriya BWN, Rupasinghe HPN. Plant flavonoids as angiotensin
converting enzyme inhibitors in regulation of hypertension. FFHD.
2011;5:172-188.
Braunwald, E., 1982, Mechanism of Action of Calcium-Channel-Blocking
Agents, N. Engl. J. Med. 307 (28), 1618 1627.
Budikusuma, Ludmilla.., 2003, Efek Antelmintik Mengkudu (Morinda
citrifolia L.) Terhadap Ascaris suum Invitro. R Medicine., Skripsi,
FMIPA UI., Jakarta.
Chen TH, Liu JC, Chang JJ, Tsai MF, Hsieh MH, Chan P., 2001, The in
vitro

inhibitory

effect

of

flavonoid

astilbin

on

3-hydroxy-3-

methylglutaryl coenzyme a reductase on vero cells. Zhonghua Yi


Xue Za Zhi (Taipei).Jul;64(7):382-7.
Duarte J, Perez-Vizcaino F, Zarzuelo A, Jimenez J, and Tamargo J., 1993,
Vasodilator effects of quercetin in isolated rat vascular smooth
muscle. Eur. J. Pharmacol., 239, 17.

Edwards, R.L., Lyon, T., Litwin, S.E., Rabovsky, A. and Symons, J.D. ,
2007, Quercetin Reduces Blood Pressure in Hypertensive Subjects,
J.Nutr., 137, 2405 2411.
Ismarani, Pradono DI, Darusman LK. Mikroenkapsulasi Ekstrak Formula
Pegagan-Kumis Kucing-Sambiloto Sebagai inhibitor angiotensin I
converting enzyme Secara In Vitro. CEFARS: Jurnal Agribisnis dan
Pengembangan Wilayah. 2011;3(1):11-24.
Kane SR, Apte VA, Todkar SS, Mohite SK. Diuretic and laxative activity of
ethanolic extract and its fractions of Euphorbia Thymifolia Linn. Int J
ChemTech Res. 2009;1(2):149-152.
Keele, C.A., Neil, E., Joels, N., 1982, Samson Wrights Applied
Physiology, 13th Ed., 65 152
Lelono RAA, Tachibana S, Itoh K., 2009, In vitroantioxidative activities and
polyphenol content of Eugenia polyantha Wight grown in Indonesia.
PakistanJournal of Biological Sciences. 12(24): 15641570.
Muttaqin, Arif., 2009, Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Kardiovaskular, Salemba Medika, Jakarta.
Noorahmi, Wulandari Siti., 2010, Uji Efek Antelmintik Buah dan Daun
Mengkudu (Morinda citrifolia) Terhadap Ascaris suum Secara In Vitro.
R Medicine (General).
Nurdiantami, Y., 2013, Efek penghambatan aktivitas angiotensin I
converting enzyme dari beberapa tanaman di Indonesia yang

digunakan

sebagai

antihipertensi

[skripsi],

Fakultas

Farmasi

Universitas Indonesia, Depok.


Panjaitan RGP, Bintang M. Peningkatan kandungan kalium urin setelah
pemberian ekstrak sari buah belimbing manis (Averrhoa carambola).
Jurnal Veteriner. 2014;15(1):108-13.
Pradono

DI,

Trisilawati

O,

Raminiwati

M,

Susanto

S.

Formula

antihipertensi (>60% captopril) dari bahan aktif flavonoid pegagan,


tempuyang, kumis kucing, dan sambiloto serta budidaya untuk
meningkatkan kandungan flavonoid (>1,5%). Ringkasan eksekutif
hasil-hasil penelitian tahun 2010; 2010. hlm. 53-5.
Putri OB. Pengaruh pemberian ekstrak buah labu siam (Sechium edule)
terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus wistar yang diinduksi
aloksan [karya tulis ilmiah]. Semarang (Indonesia): Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro; 2012. hlm. 18-9.
Rao KNV, Sunitha CH, Banji D, Sandhya S, Shwetha D, Krishna M.
Diuretic activity on different extracts and formulation on aerial parts of
Rumex vesicarius. Linn. J Chem Pharm Res. 2011;3(6):400-40.
Rohyami Y, 2008, Penentuan kandungan flavonoid dari ekstrak methanol
daging buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa scheff boerl).
Logika. 5(1):1-8.
Sudarsono D, Gunawan S, Wahyono IA, Donatus P, 2002, Tumbuhan
obat II, Pusat Studi Obat Tradisional UGM, Yogyakarta.

Susanto S, Trisilawati O, Raminiwati M, 2010, Formula antihipertensi


(>60% captopril) dari bahan aktif flavonoid pegagan, tempuyang,
kumis kucing, dan sambiloto serta budidaya untuk meningkatkan
kandungan flavonoid (>1,5%). Ringkasan eksekutif hasil-hasil
penelitian tahun : 53-5.
Suzanne, and Bare., 2001, Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Edisi 8, EGC, Jakarta.
Tedjasukmana

P.,

2012,

Tatalaksana

hipertensi,

Cermin

Dunia

Kedokteran, Jakarta.
Tim POKJA RS Jantung Harapan Kita., 2003, Standar Asuhan
Keperawatan Kardiovaskuler. Direktorat Medik dan Pelayanan RS
Jantung dan pembuluh darah Harapan kita. Jakarta FKUI.
Udjianti, Wajan Juni, 2011, Keperawatan Kardiovaskular, Salemba
Medika, Jakarta.
Venugopal SK, Devaraj S, Yuhanna I, Shaul P, Jialal I. , 2002,
Demonstration that C-reactive protein decreases eNOS expression
and bioactivity in human aortic endothelial cells. Circulation. Sep
17;106(12):1439-41.
Wang, M.Y.; West, B.; Jensen, C.J.; Nowicki, D.; Su, C.; Palu, A.K.;
Anderson, G., 2002, Morinda citrifolia (Noni): a literature review and
recent advances in Noni research, Acta Pharmacologica Sinica,
Vol.23, pp. 1127-1141, ISSN 1671-4083

Winkel, BSJ. 2006. The Biosynthesis Of Flavonoids, Department of


Biological Sciences and Fralin Center for Biotechnology, Virginia.
Wulandari, Nety.,

2006, Pengaruh Pemberian

Ekstrak

Syzygium

polyanthum Terhadap Produksi ROI Makrofog Pada Mencit BALB/c


yang Diinokulai Salmonella typhimurium, Skripsi, Semarang :
Universitas Diponegoro, hlm.19.