Anda di halaman 1dari 20

FISIKA ADALAH MONSTER BAGI PARA SISWA

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya sehingga saya dapat menyusun Makalah yang berjudul Fisika Sebagai Monster
Bagi Para Siswa. Dalam penyusunan Makalah ini tidak terlepas adanya sumbang sih dari
berbagai sumber, oleh karenanya Makalah ini berisikan tentang faktor apa saja yang dapat
menyebabkan banyaknya siswa yang memiliki minat belajar yang rendah terhadap mata
pelajaran fisika.
Semoga kehadiran Makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, khusunya para
pendidik yang setiap harinya berinteraksi dengan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Sehingga para pendidik dapat memberikan tindakan terhadap rendahnya minat siswa dalam
mata pelajaran fisika.

Jambi, Desember 2013

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mata pelajaran Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang bisa dikatakan
sulit,hal tersebut terbukti dari banyak siswa yang menjadikan fisika sebagai mata pelajaran
yang sangat menakutkan. Tetapi tidak sedikit pula siswa yang menggemari mata pelajaran
tersebut. Apakah yang sebenarnya menyebabkan banyak siswa tidak berminat untuk belajar
fisika?
Karya ilmiah ini ditulis bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyabab
rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika. Setelah mengetahui faktorfaktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi,diharapkan adanya perbaikan dari semua aspek
penyebab rendahnya minat belajar siswa untuk belajar fisika dan menjadi berminat untuk
belajar mata pelajaran Fisika tersebut.
Untuk itu,pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan beberapa faktor yang
menyebabkan rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika . Khususnya pada
jenjang Sekolah Menengah Atas.
Dengan adanya karya ilmiah ini diharapkan dapat memperbaiki pola berfikir siswa
tentang mata pelajaran fisika sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap
mata pelajaran fisika.
1.2. Permasalahan
Dalam Makalah ini yang akan kita bahas adalah apa saja uang menjadi penyebab
rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran fisika.
1.3. Tujuan Penulisan
Karya ilmiah ini di tulis bertujuan untuk
1. Mengetahui penyebab rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika.
2. Mengetahui bagaimana sistem pembelajaran yang diterapkan oleh guru untuk mata pelajaran
fisika.
3. Membuat siswa menjadi berminat dan tertarik untuk belajar Fisika.

BAB II
LANDASAN TEORI
Belajar adalah suatu proses yang komplek yang terjadi pada diri setiap orang
sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena interaksi antara seseorang dengan
lingkungannya. (Azhar Arsyad,2007:1). Belajar merupakan sebuah tahapan perubahan
positif atas perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri peserta didik.
Snelbecker dalam Toeti Soekamto (1996:9) menyimpulkan definisi belajar sebagai berikut (1)
belajar harus mencakup tingkah laku, (2) tingkah laku harus berubah dari tingkat yang
paling sederhana sampai paling komplek (3) perubahan tingkah laku tersebut harus dapat
dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal.
Dalam pengertian yang umum, belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan
perubahan yang relatif permanen sebagai akibat dari upaya-upaya dilakukannya. Perubahanperubahan tersebut tidak disebabkan oleh faktor kelelahan,

kematangan maupun

mengkonsumsi obat tertentu. Menurut Klein (1996: 2) Learning defined as an experential


process resulting in a relatively permanent change in behavior that cannot be explained by
temporary states, maturation, or innate response tendencies. Dalam pengertian ini
terdapat tiga komponen penting belajar adalah 1) refleksi sebuah perubahan yang potensial
untuk perilaku. Belajar tidak otomatis akan menuntun kepada perubahan perilaku. 2)
Perubahan pada perilaku untuk belajar relatif permanen, 3) Perubahan pada perilaku dapat
saja didapat pada proses lain selain belajar. Ahli yang mendukung pengertian tentang
belajar yang menekankan pada aspek perubahan adalah Crowk, Sally, Podell

(1997: 23).

Crowl mendefinisikan dengan kalimat pendek Learning refers to changes in individual


due to experience. (Perubahan yang terjadi pada diri individu itu karena pengalaman atau
prestasi belajar). Dalam pengertian ini terdapat kata change atau perubahan yang berarti
bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku
baik aspek pengetahuan, ketrampilan maupun aspek sikapnya. Menurut Syaiful Bahri
Djamariah (1994: 21) Belajar adalah aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk
mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Artinya belajar adalah suatu
aktivitas yang sadar akan tujuan. Tujuan dalam belajar adalah terjadinya suatu perubahan
dalam diri individu, perubahan dalam arti menuju perkembangan pribadi individu seutuhnya.
Menurut Moh. Uzer Usman (1996: 5) Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah

laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu lain dengan
lingkungannya.
Pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan
terkendali agar orang lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang
lain. Usaha ini dapat dilakukan oleh seseorang atau tim yang memiliki kemampuan dan
kompetensi dalam merancang dan atau mengembangkan sumber belajar yang diperlukan,
demikian menurut Yusufhadi Miarso (2007:545). Pembelajaran diartikan sebagai upaya
yang sistematis dan disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar
peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut terjadi
interaksi edukatif antara

peserta didik yang melakukan kegiatan belajar dengan pendidik

yang melakukan kegiatan pembelajaran.


Belajar dapat ditinjau dari dua segi, yaitu belajar sebagai proses dan belajar sebagai
hasil. Sebagai proses belajar diartikan sebagai upaya yang wajar melalui penyesuaian tingkah
laku, sedangkan belajar sebagai prestasi adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh
dari kegiatan belajar. Perubahan tingkah laku sebagai prestasi belajar itu mencakup ranah
kognisi, afeksi dan psikomotor (pengetahuan, sikap dan ketrampilan), walaupun menurut
Mohammad Asrori (2008:6) pembelajaran merupakan proses perubahan tingkah laku yang
diperoleh melalui pengalaman individu yang bersangkutan. Namun pengertian belajar yang
dimaksud adalah upaya penyesuaian diri yang sengaja dialami oleh peserta didik dengan
maksud untuk melakukan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan belajarnya.
Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu agar peserta didik melakukan
kegiatan belajar. Kegiatan belajar yang terjadi pada diri peserta didik sebagai akibat dari
kegiatan pembelajaran. Istilah pembelajaran yang diangkat dalam proses pendidikan
didasarkan atas pendekatan inquiri dan bukan berdasarkan pendekatan ekspositori .
Prestasi merupakan kecakapan yang dicapai oleh seseorang dalam waktu tertentu
setelah melakukan belajar. Belajar sebenarnya suatu proses dalam diri seseorang yang
ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku . Perubahan tingkah laku pada diri
seseorang mengandung

pengertian yang

luas

mencakup pengetahuan, pemahaman,

ketrampilan dan sikap. Bentuk perubahan tingkah laku ada yang dapat diamati dan ada pula
yang tidak dapat diamati. Tingkah laku yang dapat diamati karena tampak disebut behavior
performance, sedang yang tidak tampak tetapi hanya kecenderungan disebut behavior
tendency. Siswa yang menjalani pembelajaran akan dapat diketahui perubahan tingkah
lakunya, dapat berupa perubahan pengetahuan, pemahaman bahkan sikapnya. Tingkatan atau
capaian prestasi belajar dapat dianggap sebagai prestasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Depdikbud (1998) , prestasi diartikan


sebagai capaian prestasi dari sesuatu yang telah diterka sebelumnya. Pengertian capaian
ini bersifat umum, sehingga dalam arti khusus dapat diartikan sebagai prestasi kerja atau
sebagai prestasi belajar. Prestasi adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai yang
diketahui dengan tes prestasi belajar. Dalam hubungannya dengan prestasi belajar, Muhibbin
Syah (1996:141) menyatakan bahwa Istilah Tes Prestasi Belajar (TPB) adalah alat ukur
yang banyak digunakan untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proses belajarmengajar atau menentukan taraf keberhasilan sebuah program pengajaran
Prestasi belajar dapat diketahui dengan pengukuran prestasi

proses belajar.

Menurut Howard Kingsley dalam Sudjana (2009) hasil belajar dibagi menjadi tiga macam,
yaitu: (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan citacita . Benyamin Bloom dalam Nana Sudjana ( 2008: 22) mengklasifikasikan prestasi
belajar atas 3 hal, yaitu :
1)

Ranah Kognitif, berkenaan dengan prestasi belajar intelektual (Pengetahuan

Pemahaman

,Aplikasi , Analisis , Sintesa , Evaluasi).


2)

Ranah Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.(attending , Responding n , Valuing )

3)

Ranah psikomotor, prestasi belajar tampak dalam bentuk ketrampilan (skill) dan kemampuan
untuk bertindak individu . Ada enam macam tingkatan ketrampilan, yakni :

c)

a)

Gerakan refleks (ketrampilan ada gerakan yang tidak sadar),

b)

Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar,

Kemampuan preseptual, termasukdi dalamnya, membedakan visual, membedakan auditif,


motoris dan lain-lain.
d)

e)

Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan.

Gerakan-gerakan skill , mulai dari ketrampilan sederhana sampai pada ketrampilan yang
kompleks.
Indonesia yang berfalsafah Pancasila, memiliki tujuan pendidikan nasional pada
khususnya dan pembangunan pada umumnya yaitu ingin menciptakan manusia seutuhnya,
sangatlah tepat. Konsep Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, telah memberikan
kesempatan seluas-luasnya bagi setiap individu untuk mengembangkan hubungan dengan
Tuhan, dengan alam lingkungan, dengan manusia lain, bahkan juga untuk mengembangkan
cipta, rasa dan karsanya, jasmani maupun rohaninya secara integral.

Berkaitan dengan usaha yang menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas,
pemerintah Republik Indonesia telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap dunia
pendidikan dengan berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Langkah
konkritnya adalah dengan disusunnya UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Dalam Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab.
Tujuan pendidikan tersebut di atas dapat dicapai melalui tiga macam jalur pendidikan
yaitu pendidikan formal, informal, dan nonformal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan
yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah,
pendidikan tinggi. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Sedangkan pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal


yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Melalui tiga macam pendidikan
tersebut di atas, diharapkan tujuan pendidikan nasional dapat dicapai sehingga akan tercipta
sumber daya manusia yang benar-benar berkualitas.
Salah satu yang menunjang tercapainya tujuan adalah terciptanya pembelajaran yang
efektif, efisien serta menyenangkan bagi siswa, sehingga pembelajaran yang di berikan akan
menjadi bermakna bagi siswa. Namun, jika peserta didik memiliki minat yang rendah
terhadap proses pembelajaran, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan
maksimal. Oleh karena itu di perlukan motivasi yang kuat bagi siswa untuk mengikuti
pembelajaran. Dalam proses belajar, motivasi seseorang tercermin melalui ketekunan yang
tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi
juga ditunjukkan melalui intensitas unjuk kerja dalam melakukan suatu tugas. McClelland
(Sutikno, 2007 :23) menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation)
mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
Pada saat ini kita melihat semangat siswa untuk belajar sungguh sangat rendah. hal itu
di tandai dengan rendahnya hasil belajar yang di capai siswa pada semua mata pelajaran yang

mereka pelajari. Sehingga pembelajaran yang di berikan guru tidak menunjukkan hasil yang
maksimal terhadap tujuan pembelajaran yang telah di tetapkan guru. Selain itu siswa sering
bolos dalam belajar merupakan salah satu penyebab dari kurangnya minat mereka dalam
belajar. Jika hal ini di biarkan terus menerus tentu saja akan berdampak buruk terhadap masa
depan mereka. Jika hal ini terjadi maka tujuan Pendidikan Nasional tidak akan tercapai.
Indikasi Penyebab Rendahnya Motivasi Belajar Siswa.
Faktor Internal Penyebab Rendahnya Motivasi Belajar Siswa.
Penyebab kesulitan belajar peserta didik yang bersumber dari dalam dirinya. Faktor
internal ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu: faktor psikologis dan faktor
fisiologis. Jika diklasifikasikan secara konseptual faktor psikologis dapat digolongkan terdiri
dari faktor intelektual dan faktor non intelektual.
Faktor intelektual yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa dapat berupa
tingkat kecerdasanintelektual(yang popular dikenal sebagai IQ). Rendahnya motovasi
merupakan masalah dalam belajar, karena hal ini memberikan dampak bagi ketercapaian hasil
belajar yang diharapkan. Mengolah bahan belajar dapat diartikan sebagai proses berfikir
seseorang untuk mengolah informasi-informasi yang diterima sehingga menjadi bermakna.
Dalam kajian konstruktifme mengolah bahan belajar atau mengolah informasi merupakan
penting agar seseorang dapat mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri berdasarkan
informasi yang telah ia terima.
Faktor internal diartikan sebagai kesulitan faktor penyebab kesulitan belajar peserta
didik yang bersumber dari dalam dirinya. Dalam kegiatan belajar, sikap siswa dalam proses
belajar terutama ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk
diperhatikan karena aktifitas belajar siswa selanjutnya banyak ditentukan oleh sikap siswa
akan memulai suatu kegiatan belajar, bila mana ketika memulai kegiatan belajar siswa
memiliki sikap menerima atau kesediaan emosional untuk belajar, maka ia akan cenderung
untuk berusahha terlibat dalam kegiatan belajar dengan baik, demikian juga sebaliknya.
Motivasi kegiatan dalam belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi tenaga pendorong
bagi siswa untuk mendaya gunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi yang
di luar dirinya untuk mewujudkan kegiatan belajar.

BAB III
PEMBAHASAN
4.1. Pengertian Motivasi
Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan
belajar tersebut berasal dari berbagai sumber. Pada peristiwa pertama, motivasi siswa rendah
menjadi lebih baik setelah siswa memperoleh informasi yang benar. Pada peristiwa kedua,
motivasi belajar dapat menjadi rendah dan dapat diperbaiki kembali. Pada kedua peristiwa
tersebut peranan guru untuk mempertinggi motivasi belajar siswa sangat berarti. Pada
peristiwa ketiga, motivasi dari siswa tergolong tinggi. Timbul pertnyaan-pertanyaan sepertui
(i) kekuatan apa yang menjadi penggerak belajar siswa, (ii) berapa lama kekuatan tersebut
berpengaruh dalam kegiatan belajar, dan (iii) dapatkah kekuatan tersebut dipelihara?
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental tersebut
berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat
tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mental
yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi dipandang
sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk
perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan,
menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.
4.2. Rendahnya Minat Belajar Siswa terhadap Mata Pelajaran Fisika
Pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada jenjang
pendidikan SMP dan SMA di Indonesia. Fisika merupakan bagian dari sains yang
mempelajari fenomena dan gejala alam secara empiris, logis, sistematis dan rasional yang
melibatkan proses dan sikap ilmiah. Ketika belajar fisika, siswa akan dikenalkan tentang
produk fisika berupa materi, konsep, asas, teori, prinsip dan hukum-hukum fisika. Siswa juga
akan diajarkan untuk bereksperimen di dalam laboratorium atau di luar laboratorium sebagai
proses ilmiah untuk memahami berbagai pokok bahasan dalam fisika. Hal yang juga
dikembangkan selama berlangsungnya proses belajar mengajar fisika adalah sikap ilmiah
seperti jujur, obyektif, rasional, skeptis, kritis, dan sebagainya.Selama ini, antusiasme siswa
dalam mengikuti pelajaran fisika di sekolah tidak seperti mengikuti pelajaran lainnya.

Siswa berpendapat bahwa pelajaran fisika sulit karena mereka banyak menjumpai
persamaan matematik sehingga ia diidentikkan dengan angka dan rumus. Bagi siswa, konsep
dan prinsip fisika menjadi sulit dipahami dan dicerna oleh kebanyakan mereka. Hal ini
berdampak pada rendahnya minat siswa untuk belajar fisika. Masalah ini merupakan salah
satu masalah klasik yang kerap dijumpai oleh para guru fisika di sekolah.
Ketidaksukaan pada pelajaran fisika, dapat berdampak pula pada sikap siswa terhadap
guru fisikanya. Tidak sedikit guru fisika yang kurang mendapat simpati dari para muridnya
karena ketidakberhasilan siswa dalam belajar fisika. Nilai yang buruk dalam tes formatif dan
sumatif fisika menempatkan guru sebagai penyebab kegagalan di mata siswa dan orang tua.
Sikap siswa akan sangat berbeda pada guru kesenian atau olah raga misalnya, pelajaran yang
menjadi favorit bagi kebanyakan siswa.
Motivasi belajar fisika siswa yang rendah menyebabkan mereka tidak dapat belajar
optimal selama di kelas. Prestasi belajar fisika siswa pada umumnya lebih rendah dibanding
pelajaran sains lainnya seperti biologi dan kimia. Walaupun sudah ada siswa Indonesia yang
menjadi juara olimpiade fisika, tetapi kondisi umum motivasi dan prestasi siswa pada
pelajaran fisika di Indonesia masih rendah.
Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) adalah jenjang pendidikan
menengah formal yang dikelola oleh Departemen Agama. Selain mengikuti kurikulum dari
Departemen Agama, Madrasah juga melaksanakan kurikulum Departemen Pendidikan
Nasional. Pelajaran fisika di Madrasah juga tidak terlalu diminati oleh sebagian besar siswa.
Bahkan prestasi belajar fisika siswa Madrasah secara umum lebih rendah daripada prestasi
siswa SMP dan SMA.
Siswa MTs dan MA umumnya memiki karakteristik yang hampir sama dengan siswa
SMP dan SMA. Siswa MTs dan MA merupakan remaja yang sedang mengalami pubertas
dengan perkembangan fisik dan kognitif seperti remaja lainnya. Keingintahuan mereka
sangat besar terhadap berbagai hal, dari masalah identitas diri hingga lingkungan. Hal ini
merupakan peluang bagi para guru untuk menanamkan berbagi pengetahuan, nilai-nilai moral
dan sosial.
Peran guru fisika sebagai motivator dalam belajar mengajar di kelas akan selalu perlu
untuk dilakukan dan dioptimalkan. Materi fisika yang memerlukan analisis pemahaman dan
penalaran, akan membutuhkan motivasi belajar yang relatif kuat dan stabil. Faktor-faktor

penyebab rendahnya motivasi dan berbagai cara yang dapat diterapkan di kelas dalam upaya
peningkatan motivasi belajar siswa perlu selalu dikaji dan dianalisa.
Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran fisika juga dapat disebabkan karena
siswa terkadang hanya dituntut untuk menghapal rumus dan mengaplikasikan penggunaan
rumus tersebut di dalam soal-soal latihan. Mereka tidak memahami konsep yang mendasari
rumus-rumus tersebut. Mereka hanya berkutat dengan rumus-rumus yang diberikan oleh guru
mereka dan jarang sekali diberikan contoh nyata alam kehidupan sehari-hari dari penerapan
rumus tersebut. Pengakuan dari seorang siswa SMA bahwa ia mendapat kesulitan
mempelajari fisika karena minimnya contoh yang dapat ia dapatkan untuk dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran fisika yang hanya berkutat dengan rumus tentu saja dapat membuat para
siswa menjadi bosan dalam mempelajari fisika sehingga minat mereka dalam mendalami
lebih jauh mengenai fisika menjadi rendah.
Motivasi belajar siswa yang rendah menyebabkan mereka tidak optimal dalam
belajar di kelas. Oleh karena itu, peran guru fisika sebagai motivator dalam belajar mengajar
di kelas perlu dilakukan dan dioptimalkan. Materi fisika yang memerlukan analisis dan
pemahaman, akan membutuhkan motivasi belajar yang kuat dan berkelanjutan. Faktor-faktor
penyebab rendahnya motivasi dan berbagai cara yang dapat diterapkan di kelas untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa perlu dianalisa.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa. Pertama,
metode mengajar guru yang monoton dan tidak menyenangkan akan mempengaruhi motivasi
belajar siswa. Kedua, tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas (tidak disampaikan
kepada siswa). Ketiga, tidak adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat
siswa. Yang keempat adalah latar belakang ekonomi dan sosial budaya siswa. Kelima,
kemajuan teknologi dan informasi. Keenam, siswa merasa kurang mampu terhadap mata
pelajaran tertentu, seperti fisika. Dan yang terakhir yaitu masalah pribadi siswa baik dengan
orang tua, teman maupun dengan lingkungan sekitarnya. (Astuti, 2009)
Sebagai guru, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi
belajar siswa dalam pelajaran fisika. Guru harus menciptakan iklim belajar yang terbuka dan
positif dengan menitikberatkan pada kebutuhan siswa saat ini. Membuat siswa aktif
berpartisipasi dalam pembelajaran dan mengaitkan pembelajaran fisika dengan kehidupan
sehari-hari. Selanjutnya bersama siswa menganalisis apa yang membuat kelas menjadi lebih
atau kurang termotivasi. Dalam perencanaan pembelajaran, guru harus merancang tindakan

pengajaran dan merumuskan RPP yang variatif (sesuai dengan pokok bahasan) agar dapat
memotivasi siswa. Ketika pelaksanaan pembelajaran guru menginformasikan dengan jelas
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Memberikan penekanan pada pemahaman dan
pembelajaran dibandingkan nilai. Melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya,
sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya.
Kemudian memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa untuk menumbuhkan motivasi
instrinsik. (Sutikno, 2010)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum motivasi instrinsik
memiliki dampak lebih kuat daripada motivasi ekstrinsik. Guru perlu menggunakan berbagai
cara dalam meningkatkan motivasi instrinsik siswa untuk belajar fisika melalui berbagai
pendekatan yang sesuai pokok bahasan dengan memperhatikan perkembangan siswa.
Beragamnya kepribadian siswa serta banyaknya materi yang perlu disampaikan pada
pelajaran fisika mengharuskan guru untuk mencari berbagai metode, strategi dan pendekatan
yang sesuai dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru yang profesional tidak hanya
berfungsi sebagi penyampai materi pelajaran tetapi juga yang dapat menjadi motivator bagi
siswa dalam proses belajar mengajar. Pemahaman terhadap berbagai pendekatan motivasi
belajar dapat membantu guru dalam memotivasi siswa dan memecahkan masalah dalam
proses belajar mengajar di kelas.
Pelajaran fisika dimata para siswa berbeda-beda, ada yang berpendapat bahwa pelajaran
fisika itu adalah pelajaran yang seru dan mengasyikan, ada pula yang berpendapat bahwa
pelajaran fisika itu rumit dan membosankan, dimana kita ketahui dalam belajar semua
tergantung dari diri kita, tergantung minat serta kemampuan kita. Bagi yang berpendapat
bahwa fisika itu seru dan mengasyikan tentu tidaklah salah, karena pelajaran yang satu ini
memang mengasyikan apalagi jika dalam belajar kita didukung oleh fasilitas-fasilitas yang
memadai dan menghilangkan kejenuhan. Contohnya saja dengan selingan-selingan media
internet, dengan belajar ditempat yang nyaman , dengan tambahan aplikasi-aplikasi yang
menarik, serta dengan ditunjang dengan berbagai macam faktor yang dapat mengurangi
kejenuhan, apalagi jika guru bidang study tersebut sangat menarik dan mengasyikan,
sehingga mampu menjaga moody belajar siswa untuk tidak terbebani dengan pelajaran yang
sedang dihadapinya.
Untuk sebagian siswa yang berpendapat bahwa pelajaran fisika adalah pelajaran yang
sulit hal ini bisa diakibatkan karna kurangnya kemampuan siswa untuk memahami apa yang
disampaikan oleh guru pengajar. Selain itu siswa juga mudah terpengaruh dengan suasana

hati atau moody. Biasanya apabila siswa sedang memiliki moody yang baik, maka dia juga
mampu konsentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik pula, berbeda hal dengan siswa
yang sedang bad moody, jangankan untuk memahami apa yang disampaikan pengajar, untuk
mencerna apa yang disampaikan juga sangatlah sulit. Sehingga keadaan atau suasana hati
sangatlah berpengaruh besar bagi minat belajar siswa. Dimana suasana hati ini akan timbul
setelah terjadi sesuatu pada diri pribadi, baik dan buruknya hal yang dialami akan
menimbulkan dampak tersendiri bagi suasana hati. Dengan demikian apabila seorang siswa
tidak mampu berkonsentrasi dalam belajar, maka dia tidak akan mengerti apa yang
disampaikan, dan apabila dia tidak mengerti berarti dia tidak memahami, dan apabila
seseorang sudah tidak mampu untuk memahami maka tidak akan ada pelajaran yang diserap
artinya apabila dia diberi pertanyaan maka tidak akan mampu menjawab, hal ini berkaitan
dengan nilai yang didapatkan dalam menempuh ulangan harian ataupun ujian sekolah. Selain
itu dukungan orang tua juga berpengaruh besar terhadap minat belajar siswa, hal ini
menimbulkan

ketertarikan

tersendiri

bahkan

bisa mengakibatkan

seseorang lebih

bersemangat dalam mengikuti pelajaran disekolah.

Selain suasana hati, banyak hal yang mempengaruhi minat siswa terhadap pelajaran
fisika, salah satunya guru bidang study dan bagaimana cara mengajarnya.

Dalam

menyampaikan pelajaran diperlukan teknik mengajar khusus yang dapat meningkatkan minat
belajar siswa terutama dalam belajar fisika, dimana dalam belajar fisika banyak sekali
dijumpai rumus-rumus yang menjenuhkan. Hal ini juga mengakibatkan seseorang kehilangan
minat belajar dan ketertarikan terhadap suatu pelajaran. Metoda belajar yang mengasyikan
dan tidak membosankan dapat dilakukan dengan berbagai hal, contohnya menambahkan
aplikasi-aplikasi unik dan menarik, melakukan praktikum-praktikum yang dapat menambah
ketertarikan untuk mengikuti pelajaran tersebut.
Salah satu cara untuk menambah minat seseorang belajar antara lain mengikutsertakan
kemajuan teknologi dalam pelajaran. Sehingga siswa tidak terlalu jenuh dan bosan ketika
harus berhadapan dengan rumus-rumus yang demikian memusingkan. Dalam proses belajar
mengajar juga diperlukan keterkaitan dan penyatuan jiwa antara guru dengan muridnya,
sehingga seorang murid tidak merasa terasing ketika harus berkompetensi dengan siswa-siswi
lainnya.
Sebagian besar siswa merasa senang ketika mendapat perhatian lebih dari gurunya, karna
hal itu mampu menambah semangat dan kepuasan tersendiri bagi siswa tersebut. Selebihnya

apabila siswa sudah merasa tidak senang dengan guru tersebut maka dia juga tidak akan
menyatu dengan pelajaran yang disampaikan, dengan guru maupun dengan rekan-rekannya.
Saat seorang siswa menemukan hal yang baru ketika belajar, maka akan timbul rasa
penasaran sebab dan bisa memicu semangat serta minat siswa tersebut untuk belajar.
Seorang siswa juga membutuhkan komunikasi yang baik dengan guru pengajarnya, apalagi
ketika menemukan kesulitan dalam pelajaran, siswa tersebut butuh bimbingan dan perhatian
yang lebih dari gurunya. Namun apabila guru yang bersangkutan tidak bisa mengajak siswa
untuk berkomunikasi maka ada kemungkinan siswa tersebut merasa minder dan terasing, hal
ini mampu mengakibatkan siswa merasa dirinya bodoh, dan disaat seorang siswa merasa
dirinya bodoh, maka prasangka buruk terhadap dirinya tersebut mampu mengubah jiwa siswa
tersebut untuk merasa dirinya bodoh, padahal dia memiliki kemampuan yang mungkin
melebihi rekan-rekannya.

Disinilah peran seorang guru sangat mempengaruhi jiwa

muridnya. Selain itu kehadiran juga mempengaruhi kemampuan siswa, dimana ketika siswa
tidak dapat mengikuti pelajaran seperti rekan-rekan lainnya maka ia tidak bisa mengimbangi
pengetahuan rekan-rekannya, apalagi jika pelajaran yang tertinggal sampai satu atau dua bab,
otomatis siswa tidak bisa memahami apa dan bagaimana sebenarnya yang dipelajari dalam
sub bahasan itu. Kejadian ini merupakan salah satu akibat berkurangnya minat belajar
seorang siswa, dikarenakan siswa tersebut merasa tidak mampu dan merasa tertinggal dari
rekan-rekan lainnya. Dalam berkompetensi akan timbul rasa persaingan satu sama lain.
Namun saat seseorang merasa tidak percaya diri, maka dia juga tidak dapat memaksimalkan
kemampuan yang sebenarnya ia miliki.
2.3 Beberapa Hal Yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa
Dalam lingkungan pelajar banyak sekali hal yang dapat mempengaruhi minat belajar,
selain dari faktor luar ada juga faktor pribadi yang mampu memengaruhi minat belajar
seorang siswa, antara lain :
a). Masalah Pribadi
Seorang siswa yang memiliki masalah pribadi akan memiliki beban tersendiri, dia juga
tidak bisa berkonsentrasi dengan palajarannya. Masalah yang timbul bukan hanya dari
lingkungan persahabatan, bisa juga dari keluarga, bahkan dari pacar.

Untuk bisa

berkonsentrasi penuh seorang siswa harus fokus terhadap pelajaran sehingga tidak ada
fikiran-fikiran lain yang mengganggu terutama ketika proses belajar mengajar dimulai, karna
apabila siswa yang mampu berkonsentrasi setidaknya ia mampu menyerap apa yang

disampaikan oleh guru pengajar, berbeda dengan siswa yang sedang tidak konsentrasi, dia
juga tidak bisa menyerap semua pelajaran yang disampaikan. Apalagi untuk mencernanya.
b). Pergaulan
Pergaulan bisa juga mempengaruhi minat belajar seseorang, apalagi ketika yang dimiliki
adalah sahabat yang senangnya bermain dan tidak memperdulikan kewajiban dan tanggung
jawabnya sebagai seorang pelajar, teman yang seperti itu akan mempengaruhi minat siswa,
sebab apabila siswa memiliki sahabat yang seperti itu, maka ia merasa memiliki pendukung
untuk tetap menjadi dirinya yang malas dan tidak baertanggung jawab terhadap kewajibannya
disekolah sebagai seorang siswa. Tapi jika siswa berteman dengan siswa lain yang rajin, giat
dan maka setidaknya ia akan terbawa rajin juga.

c). Dorongan Orang Tua


Peran orang tua untuk mendorong anaknya agar mau belajar dirumah sangat penting, karna
akan menimbulkan semangat tersendiri bagi siswa tersebut, sehingga siswa merasa lebih
mencintai kewajibannya sebagai seorang siswa, dan seorang siswa yang mendapat perhatian
penuh dari orang tuanya selalu merasa dirinya bersemangat dan bisa menghadapi pelajaran
disekolah, berbeda dengan orang tua yang tidak perduli, maka tidak akan ada yang
mengingatkan ketika siswa sedang lalai dengan tugas-tugsanya. Harusnya orang tua memberi
perhatian ekstra kepada anaknya, jangan sampai membiarkan anaknya lalai dengan tugas, dan
jangan sampai siswa terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, karna itu akan
mengakibatkan siswa kehilangan waktunya untuk belajar. Jika waktu yang dimiliki tidak
dimanfaatkan untuk belajar dan mengisi tugas-tugas maka siswa jelas tidak akan menambah
kemampuan dan pemahamannya terhadap pelajaran, terutama pelajaran fisika yang
membahas banyak rumus-rumus yang memusingkan. Tapi apabila kita sering berlatih
setidaknya kita bisa mengenal rumus-rumus yang disampaikan oleh guru. Dan ini akan
menambahkan manfaat yang positif bagi siswa itu sendiri, dengan dia mengenal maka dia
akan sayang, setelah dia menyayangi suatu mata pelajaran maka ia akan merasa senang
dengan palajaran-pelajaran yang disampaikan, akibatnya minat siswa bisa bertambah.
Fisika sebenarnya pelajaran yang menyenangkan, terlebih ketika dalam proses belajar
mengajar diselingi oleh aplikasi-aplikasi menarik yang dapat menghibur. Saat guru
menerangkan adalah hal yang menyenangkan apalagi siswa bisa tertawa ketika guru yang
menyampaikan pelajaran bersenda gurau, namun lain halnya ketika guru menyampaikan
rumusnya. Bahwa kita ketahui rumus fisika bagaikan monster galak yang akan menerkam

jika tidak mampu kita jinakkan, begitulah menurut penilaian saya. Saat kita tidak mampu
memahami rumus-rumus itu maka kita akan merasa bingung, tidak sedikit rasa jenuh dan rasa
penat itu menghantui kita saat belajar fisika.
Diakui sebagian besar siswa rumus-rumus dalam pelajaran fisika memang cukup sulit
untik dimengerti, apalagi bagi mereka yang malas tentu tidak akan bisa mngerti ketika guru
menerangkan. Jangankan untuk mengerjakan soal-soalnya, untuk memahami saja tidak
mampu.
Tidak mungkin apabila harus memisahkan fisika dengan rumus-rumusnya, karna dalam
belajar fisika justru rumus-rumusnyalah yang setiap saat akan dijumpai. Hampir sebagian
besar pelajaran fisika mengandung rumus-rumus yang sulit. Disinalah sebagian besar siswa
menemukan kesulitan untuk mencerna dan memahami rumus yang disampaikan. Dalam
memahami rumus-rumus yang disampaikan siswa berusaha semaksimal mungkin agar hasil
yang didapatkan juga sesuai dengan usaha yang dilakukan, namun kemampuan seseorang itu
terbatas sehingga tidak semua siswa bisa memahami dengan baik apa yang disampaikan dan
bagaimana yang seharusnya dilakukan, hal ini dapat membuat siswa bingung harus
melakukan apa dan menggunakan rumus yang mana ketika menjawab soal-soal yang
diberikan. Setelah siswa mendapatkan nilai yang memuaskan maka ia akan merasa bangga
dan ia akan semakin bersemangat dalam mengerjakan soal-soal berikutnya.
Berbeda halnya dengan siswa yang mendapatkan nilai kecil, bisa saja karna ia kecewa
maka ia kehilangan semangat belajarnya. Setiap psikis siswa sangatlah berbeda bahwa kita
ketahui orang-orang yang mempunyai mental yang baik maka ia akan berada lebih maju
dibanding orang-orang yang tidak mempunyai keberanian atau rasa percaya diri. Sebenarnya
tidak semua siswa membenci rumus-rumus, bahkan banyak yang menyukai belajar dengan
rumus-rumus yang rumit. Namun setiap siswa pasti tidak memiliki kesenangan yang sama.
Jika yang sudah menyukai rumus-rumus tersebut tergoda dengan sifat yang membawa
mudharat besar yaitu malas, maka ia juga tidak akan bisa memanfaatkan kemampuannya
dengan maksimal. Bisa saja dia tertinggal dengan kawan-kawan lainnya yang malah tidak
menyukai pelajaran fisika yang berbau rumus. Hal ini membawa dampak negatif bagi siswa
yang memiliki kemampuan lebih tapi cenderung malas untuk mencoba dan berusaha dengan
semaksimal mungkin.
Rumus memang bagian dominan dalam pelajaran fisika. Untuk itu apabila siswa tidak
mampu memahami rumus-rumus ini maka bukan tidak mungkin siswa itu jadi tidak
memahami pelajaran fisika bahkan bisa juga siswa tersebut jadi tidak menyukai pelajaran

fisika, padahal apabila kita mampu memahami rumus-rumus dengan baik pasti kita mampu
menguasai pelajaran fisika dengan baik juga.
4.3. Sistem Pembelajaran yang Diterapkan oleh Guru untuk Mata Pelajaran Fisika
Berdasarkat penelitian yang pernah saya dilakukan di suatu sekolah terhadap minat
siswa terhadap mata pelajaran fisika dengan menggunakan metode penyebaran angket dapat
diketahui bahwa sistem pembelajaran yang dilakukan di sekolah tersebut sebenarnya dapat
dikatakan bagus. Guru yang mengajar dalam bidang fisika ini menerapkan beberapa metode
belajar yang berganti-ganti. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kejenuhan siswa
dalam mengikuti pelajaran fisika.
Sistem pembelajaran yang terapkan oleh guru dalam mengajar fisika bermacammacam, seperti metode ceramah. Dimana guru di sini berperan sebagai penceramah dan
siswa hanya sebagai penerima materi. Tetapi dalam metode ceramah ini siswa tidak hanya
diam dan mendengarkan, tetapi siswa dituntut untuk aktif dalam bertanya maupun menjawab
soal-soal yang diberikan setelah pemberian materi seselai disampaikan.
Berikutnya yaitu metode berdiskusi. Dalam metode ini siswa di dalam kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan pokok bahasan yang berbeda untuk
mereka diskusikan di dalam kelompok mereka masing-masing. Setelah itu barulah setiap
kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka masing-masing. Pada saat diskusi sedang
berlangsung guru hanya menjadi pengamat, dan di sela-sela diskusi guru membantu siswa
dalam meluruskan permasalahan yang sedang mereka bicarakan. Dengan menggunakan
metode ini guru berharap siswa lebih kreatif untuk berfikir dan memahami suatu masalah dan
dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan cara-cara mereka sendiri.
Yang terakhir, pada setiap akhir dari setiap materi selesai dipelajari guru mengajak
siswa untuk melakukan praktik. Praktik di sini guru menggunakan alat-alat yang ada di
laboratorium. Disini masalah yang timbul ialah kurang lengkapnya fasilitas laboratorium.
Sehingga siswa hanya melakukan praktik hanya pada beberapa materi yang dimana di dalam
laboratorium tersebut menyediakan alatnya.
Berdasarkan angket yang diisi oleh siswa mengatakan bahwa guru yang mengajar
tersebut sudah berkompeten. Tetapi faktor dari dalam dirilah yang menyebabkan mereka
memiliki motivasi belajar yang rendah terhadap mata pelajaran fisika.
4.4. Membuat Siswa menjadi Berminat dan Tertarik untuk Belajar Fisika

Dalam upaya meningkatkan minat belajar guru harus memiliki ide-ide kreatif yang
dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran fisika ialah :
1.

Guru dapat memanfaatkan teknologi yang sudah maju saat ini sebagai alat bantu dalam
kegiatan pembelajaran fisika. Sekarang ini sudah tersedia banyak program pembelajaran yang
dapat mendukung kelancaran proses pembelajaran fisika. Materi-materi abstrak dalam fisika
yang tidak dapat diamati secara langsung, dapat disimulasikan dengan program-program
tersebut, misalnya materi mengenai atom yang tidak dapat kita amati secara langsung. Cara
ini akan lebih memudahkan siswa dalam memahami konsep dibandingkan dengan hanya
penjelasan dari guru. Walaupun guru sudah dapat terbantu kerjanya dengan teknologi, tetapi
hendaknya guru tetap menerangkan mengenai materi pelajaran kepada siswa dengan sebaik
mungkin karena ada beberapa siswa yang tidak dapat belajar hanya dari melihat simulasinya
saja tetapi juga membutuhkan penjelasan dari guru.

1.

Melakukan demo nyata atau virtual. Karena objek yag diamati pada pelajaran fisika adalah
benda, maka siswa hendaknya dihapakan langsung dengan peristiwa yang sesungghunya
sehingga siswa dapat mengamati sendiri gejala yang terjadi dan dapat memahaminya dengan
mudah. Demonstrasi kepada siswa memegang peranan penting untuk menggugah motivasi
belajar siswa dan juga merupakan stimulant bagi daya nalar dan pikir siswa. Khusus untuk
hal-hal yang sulit untuk dilakukan secara nyata, misalnya tentang listrik, guru dapat

mengunduh potongan video yang tersedia di internet.


2. Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pelajaran fisika tidak bisa
terlepas dari eksperimen atau percobaan. Walaupun guru dapat memanfaatkan teknologi yang
sudah maju, tetapi tetap saja, bagi beberapa siswa, mengadakan percobaan yang dapat dilihat
dan diamati secara langsung akan lebih mudah untuk dapat dimengerti dibandingkan hanya
melihat videonya. Tetapi, untuk materi pelajaran yang benar-benar tidak bisa dilakukan
percobaannya secara langsung, maka video simulasi akan sangat bermanfaat dalam proses
pemahaman pembelajaran fisika, misalnya mengenai atom. Bagi sekolah-sekolah yang
memiliki sarana dan prasarana yang masih terbatas, maka dibutuhkan ide kreatif dari guru
agar tetap bisa mengadaan percobaan sederhana dengan alat dan bahan yang tersedia di
sekitar kita.
4.

Siswa hendaknya diajarkan untuk memahami konsep bukan menghafal rumus. Perlu
ditanamkan kepada siswa bahwa pelajaran IPA,khususnya fisika, hal yang paling utama
adalah memahami konsep, karena rumus adalah penurunan dari konsep tersebut. Tetapi

apabila memang ada rumus yang harus diingat siswa maka itu hanya rumus dasar saja.
Pelajaran fisika akan lebih mudah dan menyenangkan apabila dapat memahami konsep bukan
menghapal rumus.
5.

Pemberian tugas kepada siswa hendaknya bukan hanya berupa soalsoal yang selalu
berkaitan dengan rumus dan hitungan saja. Akan lebih baik jika secara berkala siswa diberi
tugas yang memotivasi siswa untuk memahami konsep yang lebih dalam. Misalnya siswa
diberi tugas untuk menjelaskan prinsip kerja dari alat elektronik yang terdapat di rumahnya.
Apabila memungkinkan, sisa juga ditugaskan untuk membuat model alat-alat yan bekerja
dengan mengunakan prinsip fisika. Dengan begitu, para siswa akan lebih dapat menyadari
bahwa ilmu fisika sangat dekat dengan kehidupannya sehari

6.

Dalam mewujudkan pembelajaran fisika yang menarik dan tidak membosankan, maka
dibutuhkan guru yang kreatif yang dapat mengantarkan siswa pada pemikiran bahwa fisika
bukanlah mata pelajaran yang menakutkan., karena guru merupakan ujung tombak yang
secara langsung berhadapan dengan siswa. Tidak sedikit siswa yang tidak menyukai suatu
mata pelajaran disebakan karena guru yang mengajarnya membosankan. Oleh karena itu,
kekreatifan guru memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan pembelajaran
yang menyenangkan bagi siswa.
Dengan menerapkan beberapa yang telah disebutkan di atas, diharapkan memberi
pengaruh terhadap siswa dalam membangkitkan motivasi belajarnya terhadap mata pelajaran
fisika.

BAB IV
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Faktor yang menyebabkan rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran fisika
ialah faktor intearnal. Dimana siswa merasa kesulitan dalam memahami materi-materi yang
tardapat dalam lingkup mata pelajaran fisika. Kurangnya ketertarikan siswa dalam belajar
fisika juga menjadi penyebab siswa menjadi tidak meminati mata pelajaran fisika.
5.2. Saran
Supaya para siswa menjadi penggemar mata pelajaran fisika, diharapkan beberapa
pembaharuan dalam dalam melakukan pembelajaran. Terutama dalam mata pelajaran fisika.
Guru diharapkan dapat memberikan motivasi-motivasi kepada siswa agar siswa tergerak
untuk menjadi pencinta mata pelajaran fisika.

DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT RINEKA CIPTA
Dimyati,Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajar. Jakarta : PT RINEKA CIPTA
Hudoyo, Herman. 1988. Belajar Mengajar Fisika. Jakarta : Dirjen Dikti.
http://erlinna.wordpress.com/2011/05/25/140/
http://amingokilb.blogspot.com/2012/02/menumbuhkan-minat-siswa-terhadap-mata.html
http://elfaandriana.blogspot.com/2012/07/motivasi-belajar-siswa-pada-pelajaran.html
http://erviiagotteberry.blogspot.com/2010/10/penyebab-kurangnya-minat-belajar-siswa.html
http://tp.pasca.uns.ac.id/?p=27
Diposkan oleh Uswatun Hasanah di 19.53

http://uunfisika2012.blogspot.co.id/2014/01/fisika-adalah-monster-bagi-parasiswa.html