Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Kosmetik sudah dikenal orang sejak zaman dahulu kala. Di Mesir, 3000 tahun

Sebelum Masehi telah digunakan berbagai bahan alami untuk kosmetik, baik yang berasal

dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Pengetahuan kosmetik tersebut kemudian menyebar

ke seluruh penjuru dunia melalui jalur komunikasi yang terjadi dalam kegiatan perdagangan,

agama, budaya politik dan militer. Di Indonesia sendiri sejarah tentang kosmetologi telah

dimulai jauh sebelum zaman penjajahan Belanda. Kosmetik dewasa ini sudah menjadi

kebutuhan primer bagi hampir seluruh wanita dan sebagian pria (Wasitaatmadja,1997).

Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir

dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah.

Sediaan pewarna bibir terdapat dalam berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan krim.

Pewarna bibir modern yang disukai adalah jenis sediaan pewarna bibir yang jika dilekatkan

pada bibir akan memberikan selaput yang kering. Dewasa ini pewarna bibir yang banyak

digunakan adalah pewarna bibir dalam bentuk krayon. Pewarna bibir krayon lebih dikenal

dengan sebutan lipstik (Ditjen POM, 1985).

Menyadari akan berbagai kelemahan yang terjadi atas pewarna sintetik tersebut dan

seiring dengan berkembangnya gaya hidup back to nature, maka zat warna alami semakin

dibutuhkan keberadaannya karena dianggap lebih aman. Penggunaan pewarna alami dalam

formulasi lipstik merupakan salah satu solusi untuk menghindari penggunaan pewarna

sintetik yang berbahaya. Pewarna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari
tumbuhan, hewan, atau dari sumber-sumber mineral. Zat warna ini sejak dahulu telah

digunakan untuk pewarna makanan dan sampai sekarang penggunaannya secara umum

dianggap lebih aman daripada zat warna sintetis.

Salah satu tumbuhan Indonesia yang memiliki potensi untuk menghasilkan zat warna

alami adalah buah terong belanda(Cyphomandra betacea Sendtn). merupakan komoditi

dalam negeri yang memiliki potensi baik untuk dikembangkan. Buah terong belanda lebih

banyak dikonsumsi sebagai buah, baik dimakan segar, dibuat sirup atau juice (Soetasad dan

Muryanti, 1995 dalam Situmorang 2012).

Pemanfaatan ekstrak biji terong belanda dipilih karena dapat digunakan sebagai pewarna

alami karena mengandung antosianin. Selain buah ini mudah ditemukan, memanfaatkan

limbah biji terong belanda dari produksi sirup dan juice, buah terong belanda ini juga kaya

akan antioksidan seperti vitamin E, vitamin A, Vitamin C, dan Vitamin B6, senyawa

karotenoid, antosianin dan serat (Astawan dan Andreas, 1997).

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berkeinginan untuk memanfaatkan pewarna

alami yang berasal dari buah terong belanda untuk digunakan sebagai pewarna pada

sediaan lipstik. Dilakukan ekstrasi zat warna buah terong belanda yang kemudian dilanjutkan

pada formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan zat warna alami dari ekstrak buah

terong belanda , karena menurut BPOM RI (2011) Public Warning/Peringatan Nomor

HK.03.1.23.08.11.07517 TAHUN 2011 tanggal 3 Desember 2015 tentang kosmetika

mengandung bahan berbahaya/bahan dilarang tercantum bahwa Zat Warna Merah K.3 (CI

15585), Merah K.10 (Rhodamin B) dan Jingga K.1 (CI 12075) yang banyak digunakan

dalam kosmetika merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna

kertas, tekstil atau tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan

dan merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Rhodamin dalam konsentrasi

tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati.


2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a Apakah ekstrak buah terong belanda dapat digunakan sebagai pewarna dalam

formulasi sediaan lipstik?


b Apakah formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak buah terong belanda

yang dibuat stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar?


c Apakah formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah terong belanda sebagai

pewarna tidak menyebabkan iritasi saat digunakan?


3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:

a Ekstrak buah terong belanda dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi

sediaan lipstik.
b Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah terong belanda sebagai pewarna

stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar.


c Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah terong belanda sebagai pewarna

tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.

4 Tujuan

Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah:

a Untuk membuat sediaan lipstik menggunakan zat warna yang diekstraksi dari buah

terong belanda.
b Untuk mengetahui kestabilan sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah terong

belanda dalam penyimpanan pada suhu kamar.


c Untuk mengetahui apakah sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah terong belanda

tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.


5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:

Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan buah terong

belanda (Cyphomandra betacea Sendtn) sebagai pewarna alami yang dapat menggantikan

penggunaan pewarna sintetis pada formulasi sediaan lipstik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Buah Terong Belanda (Cyphomandra betacea Sendtn)

Terung belanda memiliki ciri-ciri bau seperti lembu kutub, panjang tangkai daunnya

mencapai 710 cm. Bunga terung belanda berada dalam rangkaian kecil di ketiak daun, dekat

ujung cabang, berwarna merah jambu sampai biru muda, harum, berdiameter kira-kira 1 cm.

Ciri lain dari tanaman terung belanda juga dapat dilihat dari bagian-bagian bunga

yang berbilangan lima, daun mahkota berbentuk genta, bercuping lima, benang sari 5 utas,

berada di depan daun mahkota, kepala sari tersembunyi dalam runjung yang bertentangan

dengan putik, bakal buah beruang dua, dengan banyak bakal biji, dan kepala putik yang

kecil. Buah terung belanda berbentuk bulat telur sungsang atau bulat telur, berukuran 3
10 cm x 35 cm, meruncing ke dua ujungnya, bergelantungan, bertangkai panjang, daun

kelopaknya tidak rontok. Kulit buah tipis, licin, berwarna lembayung kemerah-merahan,

merah jingga sampai kekuning-kuningan, daging buahnya mengandung banyak sari buah,

agak asam, berwarna kehitam-hitaman sampai kekuningkuningan. Bijinya bulat pipih, tipis,

dan keras.

Terung belanda aslinya berasal dari Peru, dan sekarang sudah umum dijumpai di

daerah tropis. Tumbuh baik di pegunungan/dataran tinggi pada ketinggian 1000 mdpl.

Di Jawa Barat dahulu dapat ditemui sedari 450-1700 mdpl. Menghendaki tanah yang kaya

akan hara, drainase yang baik, dan tanah yang lembab dan dingin.

2.1.1 Sistematika Buah Terong Belanda

Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Polemoniales

Suku : Solanaceae

Marga : Cyphomandra

Spesies : Cyphomandra betacea Sendtn


2.1.2 Manfaat dan kandungan

Buah terong belanda ini juga kaya akan antioksidan seperti vitamin E, vitamin A,

Vitamin C, dan Vitamin B6, senyawa karotenoid, antosianin dan serat (Astawan dan Andreas,

1997). Buah terung belanda ini dimanfaatkan dengan cara dimakan sebagai buah segar, untuk

bumbu masak, sayuran dan minuman. Buah terong ini dapat dimakan segar, direbus,

dibuat asinan, dan lain sebagainya. Terung belanda mengandung provitamin A yang baik

untuk kesehatan mata dan vitamin C untuk mengobati sariawan, panas dalam dan

meningkatkan daya tahan tubuh. Terung Belanda mengandung antosianin yang termasuk

kedalam golongan flavonoid yang merupakan salah satu jenis antioksidan, serat yang tinggi

di dalam buahnya bermanfaat untuk mencegah kanker dan sembelit.

2.2 Antosianin

Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam

tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini merupakan penyebab hampir

semua warna merah jambu, merah marak, merah, ungu, dan biru dalam daun bunga, daun,

dan buah pada tumbuhan tinggi. Secara kimia semua antosianin merupakan turunan suatu

struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini

dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilisasi atau

glikosilasi (Harborne, 1987).

Antosianidin adalah aglikon antosianin yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis

dengan asam. Antosianidin yang paling umum sampai saat ini ialah sianidin yang berwarna

merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya

kurang satu dibandingkan sianidin. Warna lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh

delfinidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan sianidin (Harborne, 1987).
Antosianin terdapat dalam semua tumbuhan tingkat tinggi, banyak ditemukan dalam

bunga dan buah, tetapi ada juga yang ditemukan dalam daun, batang, dan akar. Bagi

tumbuhan, antosianin memiliki banyak fungsi yang berbeda, misalnya sebagai antioksidan

dan pelindung untuk melawan sinar UV. Antosianin telah digunakan untuk mewarnai

makanan sejak zaman dahulu. Warna antosianin bergantung pada struktur dan keasaman.

Sebagian besar antosianin berwarna merah pada kondisi asam dan berubah menjadi biru

pada kondisi asam yang kurang. Selain itu, warna antosianin juga terpengaruh oleh suhu,

oksigen dan sinar UV (Anonim,2011).

2.3 Kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan

hidup manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 1,5 m 2 dengan berat kira kira 15% dari

berat badan. Secara histopatologis kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu lapisan epidermis

atau kutikel, lapisan dermis dan lapisan subkutis (hipodermis). Tidak ada garis tegas yang

memisahkan dermis dan subkutis. Subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan

sel-sel yang membentuk jaringan lemak (Wasitaatmadja, 1997).

Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum

granulosum, stratum spinosum dan stratum basalis. Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah

lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel gepeng yang mati. Stratum

lusidum terdapat langsung di bawah stratum korneum, merupakan lapisan sel gepeng tanpa

inti. Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir

kasar dan terdapat inti sel diantaranya. Stratum spinosum terdiri atas beberapa sel berbentuk

poligonal dengan ukuran bermacam-macam. Stratum basalis terdiri atas sel-sel kubus yang

tersusun vertikal (Wasitaatmadja, 1997).


Berbeda dengan epidermis yang tersusun oleh sel-sel dalam berbagai bentuk dan

keadaan, dermis terutama terdiri dari bahan dasar serabut kolagen dan elastin, yang berada di

dalam substansi dasar yang bersifat koloid dan terbuat dari gelatin mukopolisakarida. Di

dalam dermis terdapat adneksa-adneksa kulit seperti folikel rambut, papila rambut, kelenjar

keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah, dan ujung saraf

(Tranggono dan Latifah, 2007).

Lapisan subkutis merupakan lanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar

berisi sel-sel lemak di dalamnya. Lapisan sel lemak disebut panikulus adiposus, berfungsi

sebagai cadangan makanan. Lapisan lemak ini juga berfungsi sebagai bantalan

(Wasitaatmadja, 1997).

Marchionini (1929) menemukan bahwa stratum korneum dilapisi oleh suatu lapisan

tipis lembab yang bersifat asam, sehingga ia menamakannya sebagai mantel asam kulit.

Tingkat keasamannya (pH) umumnya berkisar antara 4,5 6,5 (Tranggono dan Latifah,

2007).

Fungsi pokok mantel asam kulit yaitu (Tranggono dan Latifah, 2007):

1 Sebagai penyangga (buffer) yang berusaha menetralisir bahan kimia yang terlalu asam

atau terlalu alkalis yang masuk ke kulit.


2 Membunuh atau menekan pertumbuhan mikroorganisme yang membahayakan kulit.
3 Dengan sifat lembabnya sedikit banyak mencegah kekeringan kulit.

2.4 Bibir

Bibir memiliki ciri yang berbeda dari kulit bagian lain, karena lapisan jangatnya sangat

tipis. Stratum germinativum tumbuh dengan kuat dan korium mendorong papila dengan

aliran darah yang banyak tepat di bawah permukaan kulit. Pada kulit bibir tidak terdapat

kelenjar keringat, tetapi pada permukaan kulit bibir sebelah dalam terdapat kelenjar liur,
sehingga bibir akan nampak selalu basah, sangat jarang terdapat kelenjar lemak pada bibir,

menyebabkan bibir hampir bebas dari lemak, sehingga dalam cuaca yang dingin dan kering

lapisan jangat akan cenderung mengering, pecah-pecah, yang memungkinkan zat yang

melekat padanya mudah penetrasi ke stratum germinativum (Ditjen POM, 1985).

Pada permukaan luar, bibir dilapisi oleh integument (jaringan penutup permukaan

kulit), dan permukaan dalam, membran selaput lendir oral menjadi satu dengan kulit bibir

pada batas merah terang. Pada komponen dari bibir di temukan otot oris orbikularis, arteri

dan vena labial, susunan saraf, jaringan lemak dan kelenjar lemak. Kelenjar labial (kelenjar

air liur) sejati terletak diantara membran selaput lendir dan otot oris orbikularis. Bibir

dibasahi oleh saliva atau air liur yang dihasilkan oleh kelenjar labial (Balsam, 1972).

Daerah vermillion adalah bingkai merah bibir, merupakan daerah transisi dimana

kulit bibir bergabung ke dalam membran mukosa. Ini merupakan daerah dimana wanita

sering mengaplikasikan lipstik (Woelfel and Scheild, 2002).

Kosmetik rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga dengan bahan

untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar

ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu lipstik, lip crayon, krim bibir

(lip cream), pengkilap bibir (lip gloss), penggaris bibir (lip liner) dan lip sealer

(Wasitaatmadja, 1997).

2.5 Kosmetik

Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang

dipakai dalam usaha mempercantik diri ini, dahulu di ramu dari bahan-bahan alami yang

terdapat di alam sekitar. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami

tetapi juga dari bahan sintetis untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja,
1997). Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

445/Menkes/Permenkes/1998 adalah sebagai berikut : Kosmetik adalah sediaan atau paduan

bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut kuku, bibir dan

organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya

tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki

bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit

(Tranggono dan Latifah, 2007).

Penggolongan kosmetik menurut kegunaaanya bagi kulit adalah sebagai berikut

(Tranggono dan Latifah, 2007):

1 Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics)


Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk didalamnya :
a Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser)
b Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer)
c Kosmetik pelindung kulit
d Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling)
2 Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)
Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan

penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti

percaya diri (self confidence).

2.5.1 Kosmetik Dekoratif

Kosmetik dekoratif fungsi utamanya hanya untuk mempercantik dan memperindah

diri. Pewarna merupakan komponen utama dalam setiap formulasi kosmetik dekoratif.

Tujuan kosmetik dekoratif yaitu untuk memperbaiki penampilan, memberikan rona,

meratakan warna kulit, menyembunyikan ketidaksempurnaan, dan fungsi protektif (Barel, et

al, 2001).

Persyaratan untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah warna yang menarik, bau yang

harum dan menyenangkan, tidak lengket, tidak menyebabkan kulit tampak berkilau, dan
tidak merusak atau mengganggu kulit, bibir, kuku, dan adeneksa lainnya (Tranggono dan

Latifah, 2007).

Kosmetik dekoratif dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu(Tranggono dan

Latifah, 2007):

1. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan pemakaiannya

sebentar, misalnya bedak, lipstik, perona pipi, eye shadow, dan lain-lain.
2. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru

luntur, misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut, pengeriting rambut, dan preparat

penghilang rambut.

Berdasarkan bagian tubuh yang dirias, kosmetik dekoratif dapat dibagi menjadi

(Wasitaatmadja, 1997):

1 Kosmetik rias kulit (wajah)


2 Kosmetik rias bibir
3 Kosmetik rias rambut
4 Kosmetik rias mata
5 Kosmetik rias kuku.

2.6 Lipstik

Lipstik menambah warna pada wajah agar terlihat lebih sehat dan juga membentuk

bibir. Lipstik dapat digunakan untuk harmonisasi wajah antara mata, rambut, dan pakaian.

Lipstik juga mampu menciptakan ilusi bibir agar terlihat lebih kecil atau lebih besar

tergantung dari warnanya (Barel, et al, 2001).

Hakekat fungsi dari lipstik adalah untuk memberikan warna bibir menjadi merah

yang dianggap akan memberikan ekspresi wajah sehat nan menarik. Akan tetapi kenyataan

kemudian warna lain pun mulai digemari orang, sehingga corak warna lipstik bervariasi
mulai dari warna kemudaan hingga warna sangat tua dengan corak warna dari merah jambu,

merah jingga, hingga merah biru bahkan ungu (Ditjen POM, 1985).

Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari

campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat

memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstik yang ideal

sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38 o C.

Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya,

terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih

sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62 o C, biasanya berkisar antara 55-75 o C (Ditjen

POM, 1985).

Adapun persyaratan untuk lipstik adalah sebagai berikut(Tranggono dan Latifah,

2007):

1 Melapisi bibir secara mencukupi


2 Dapat bertahan di bibir selama mungkin
3 Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket
4 Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir
5 Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya
6 Memberikan warna yang merata pada bibir
7 Penampilannya harus menarik, baik warna maupun bentuknya
8 Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau berbintik-bintik,

atau memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik.

2.6.1 Komponen utama dalam sediaan lipstik

Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin , lemak dan

zat warna

1 Minyak
Minyak yang digunakan dalam lipstik harus memberikan kelembutan, kilauan, dan

berfungsi sebagai medium pendispersi zat warna (Poucher, 2000). Minyak yang
sering digunakan antara lain minyak jarak, minyak mineral, dan minyak nabati lain.

Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang

tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak

jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern.

Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda

pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi

pigmen benar benar merata (Balsam, 1972).


2 Lilin
Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan

menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal

akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50 dan mampu mengikat fase

minyak agar tidak keluar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah

dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin. Lilin yang digunakan

antara lain carnauba wax, candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil

alkohol. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami yang yang sangat keras

karena memiliki titik lebur yang tinggi yaitu 85 . Biasa digunakan dalam jumlah

kecil untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972).
3 Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk

membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut, meningkatkan

kekuatan lipstik, dan dapat mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lipstik.

Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam

basis antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen.

Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin,

lesitin, minyak nabati terhidrogenasi dan lain-lain (Jellineck, 1976).


4 Zat warna
Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen.

Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya,
sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam

basisnya. Kedua macam zat warna ini masing- masing memiliki arti tersendiri, tetapi

dalam lipstik keduanya dicampur dengan komposisi sedemikian rupa untuk

memperoleh warna yang diinginkan (Balsam, 1972).

2.6.2 Zat tambahan dalam sediaan lipstik

Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk

menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi

dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil, dan

dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula lipstik. Zat tambahan yang

digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum (Senzel, 1977).

1 Antioksidan
Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang

rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang

paling sering digunakan (Poucher, 2000). Antioksidan yang digunakan harus

memenuhi syarat (Wasitaatmadja S, 1997):


a Tidak berbau agar tidak mengganggu wangi parfum dalam kosmetika
b Tidak berwarna
c Tidak toksik
d Tidak berubah meskipun disimpan lama.
2 Pengawet
Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan lipstik sebenarnya

sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik

diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lipstik

sehingga terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan

pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil

paraben dan propil paraben (Poucher, 2000).


3 Parfum
Parfum digunakan untuk memberikan bau yang menyenangkan, menutupi bau dari

lemak yang digunakan sebagai basis, dan dapat menutupi bau yang mungkin timbul

selama penyimpanan dan penggunaan lipstik (Balsam, 1972).

2.7 Evaluasi Lipstik

2.7.1 Pemeriksaan titik lebur lipstik

Penetapan suhu lebur lipstik dapat dilakukan dengan berbagai metode. Ada dua

metode yang biasanya digunakan yaitu metode melting point dan metode drop point. Metode

melting point menggunakan pipa kapiler sedangkan metode drop point menggunakan pelat

tipis. Syarat lipstik melebur pada metode melting point adalah 60 atau lebih, sedangkan

untuk metode drop point adalah diatas 50 (Balsam, 1972).

Penetapan suhu lebur lipstik dilakukan untuk mengetahui pada suhu berapa lipstik

akan meleleh dalam wadahnya sehingga minyak akan keluar. Suhu tersebut menunjukkan

batas suhu penyimpanan lipstik yang selanjutnya berguna dalam proses pembentukan,

pengemasan, dan pengangkutan lipstik (Balsam, 1972).

2.7.2 Pemeriksaan kekuatan lipstik

Evaluasi kekerasan lipstik menunjukkan kualitas patahan lipstik dan juga kekuatan

lipstik dalam proses pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan.

Evaluasi ini dapat dilakukan untuk mengetahui kekuatan lilin dalam lipstik (Balsam, 1972).

Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lipstik dengan cara lipstik diletakkan

horizontal. Pada jarak kira-kira inci dari tepi, digantungkan beban yang berfungsi sebagai

pemberat. Berat beban ditambah secara berangsur-angsur dengan nilai yang spesifik pada
interval waktu 30 detik, dan berat dimana lipstik patah merupakan nilai breaking point

(Vishwakarma, et al., 2011).

2.7.3 Uji oles

Uji oles dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada kulit

punggung tangan kemudian mengamati banyaknya warna yang menempel dengan perlakuan

5 kali pengolesan pada tekanan tertentu seperti biasanya kita menggunakan lipstik (Keithler,

1956).

2.7.4 Penentuan pH sediaan

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Sampel di buat

dalam konsentrasi 1% yaitu 1 gram sampel dalam 100 ml akuades (Rawlins, 2003).

2.7.5 Pemeriksaan stabilitas sediaan

Pengamatan terhadap adanya perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan lipstik

dilakukan terhadap masing-masing sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari

ke 1, 5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30 (Vishwakarma, et al., 2011).

2.8 Uji Tempel (Patch Test)

Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara

mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia dengan maksud untuk mengetahui

apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak (Ditjen POM, 1985).

Iritasi umumnya akan segera menimbulkan reaksi kulit sesaat setelah pelekatan pada

kulit, iritasi demikian disebut iritasi primer. Tetapi jika iritasi tersebut timbul beberapa jam

setelah pelekatannya pada kulit, iritasi ini disebut iritasi sekunder. Tanda-tanda reaksi kulit
yang ditimbulkan yaitu hiperemia, eritema, edema atau vesikula kulit. Reaksi kulit yang

demikian bersifat lokal pada daerah kulit yang rusak saja (Ditjen POM, 1985).

Panel uji tempel meliputi manusia sehat dan penderita. Manusia sehat yang dijadikan

panel uji tempel sebaiknya wanita, usia diantara 20-30 tahun, berbadan sehat jasmani dan

rohani, dan menyatakan kesediaannya dijadikan panel uji tempel (Ditjen POM, 1985).

Lokasi uji lekatan adalah bagian kulit panel yang dijadikan daerah lokasi untuk uji

tempel. Biasanya yang paling tepat dijadikan daerah lokasi uji tempel adalah bagian

punggung, lengan tangan, lipatan siku, dan bagian kulit di belakang telinga (Ditjen POM,

1985).

Teknik uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan uji pada luas

tertentu lokasi lekatan, biarkan terbuka selama lebih kurang 24 jam, amati reaksi kulit yang

terjadi. Reaksi kulit akibat iritan primer terjadi antara beberapa menit hingga satu jam setelah

pelekatan (Ditjen POM, 1985).

Prosedur uji tempel preventif adalah prosedur uji tempel yang dilakukan sebelum

penggunaan kosmetika untuk mengetahui apakah pengguna peka terhadap sediaan ini atau

tidak. Uji tempel preventif dilakukan dengan teknik uji tempel terbuka atau tertutup, waktu

pelekatannya ditetapkan 24 jam, daerah lokasi lekatan di belakang telinga atau bahu.

Pengamatannya reaksi kulit positif atau negatif (Ditjen POM, 1985)

2.9 Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Uji Kesukaan (Hedonic Test) adalah metode uji yang digunakan untuk mengukur

tingkat kesukaan terhadap produk dengan menggunakan lembar penilaian. Jumlah minimal

panelis standar dalam satu kali pengujian adalah 6 orang, sedangkan untuk panelis non
standar adalah 30 orang. Menurut Badan Standar Nasional (2006) syarat-syarat panelis

adalah sebagai berikut:

1 Tertarik terhadap uji organoleptik sensori dan mau berpatisipasi


2 Konsisten dalam mengambil keputusan
3 Berbadan sehat

Penilaian sampel yang diuji berdasarkan tingkat kesukaan panelis. Jumlah tingkat

kesukaan bervariasi. Penilaian dapat diubah dalam bentuk angka dan selanjutnya dapat

dianalisis secara statistik untuk penarikan kesimpulan (Badan Standar Nasional, 2006).

BAB III
METODE PENELITIAN

III.A Tempat dan Waktu Penelitian

III.A.1 Tempat Penelitian


Penelitian Formulasi sediaan lipstik ini dilakukan di Laboratorium Teknologi

Sediaan Solid, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Jakarta Selatan DKI

Jakarta.
III.A.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari 2016 sampai Juni 2016 .

III.B Bahan Penelitian

1. Bahan Pewarna yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah buah Terong

Belanda (Cyphomandra betacea Sendtn) yang diperoleh dari daerah Bogor- Jawa

Barat . Bagian buah yang digunakan untuk penelitian ini adalah bagian buah.
2. Pelarut
a akuades,
b etanol 96%,
c asam tartarat,
3. Bahan Kimia
a) butil hidroksitoluen,
b) carnauba wax,
c) cera alba (Brataco),
d) lanolin anhidrat (Brataco),
e) nipagin,
f) oleum ricini (Brataco),
g) parfum anggur,
h) propilen glikol,
i) setil alkohol (Brataco),
j) titanium dioksida, dan
k) vaselin alba (Brataco)
4. Alat

Alat-alat yang digunakan antara lain:

a) alat-alat gelas laboratorium,


b) blender (Philips),
c) cawan penguap,
d) freeze dryer,
e) kaca objek,
f) kertas saring,
g) lumpang dan alu porselen,
h) neraca analitis (Mettler Toledo),
i) oven, penangas air,
j) pencetak suppositoria,
k) pH meter,
l) pipet tetes,
m) rotary evaporator (Buchi),
n) spatula,
o) sudip dan wadah lipstik (roll up).

III.C Prinsip Penelitian

Dilakukan pengolahan sampel dari buah buah terong belanda (Cyphomandra betacea

Sendtn) yang masih segar dimana daging dari buahnya telah dipisahkan dan dicuci dengan

bersih, kemudian diblender. Buah buah terong belanda (Cyphomandra betacea Sendtn) yang

telah halus kemudian dimaserasi dengan etanol 96% dan 1% asam tatarat , ditutup dan

dibiarkan selama 1 malam terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, saring, filtrat di

tampung, lalu diuapkan dengan bantuan alat rotary evaporator pada temperatur kurang lebih

50 C, kemudian di freeze dryer sehingga didapatkan ekstrak kental buah terong belanda

(Hidayat dan Saati, 2006).

Kemudian dilakukan modifikasi formula terhadap formula dasar sediaan lipstik yang

akan dibuat dengan bahan pewarna dari hasil ekstraksi buah (Cyphomandra betacea Sendtn)

tersebut dengan membuat beberapa perbandingan formula. Setelah itu dilakukan uji evaluasi

terhadap sediaan dengan melakukan pemeriksaan mutu fisik sediaan, uji iritasi terhadap

sediaan, dan uji kesukaan (hedonic test) terhadap variasi sediaan yang dibuat.
III.D Tahapan penelitian

A. Determinasi Bahan Pewarna


Bahan Pewarna yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah (Cyphomandra

betacea Sendtn) yang diperoleh dari daerah Bogor- Jawa Barat dideterminasi di

Laboratorium Teknologi Sediaan Solid, Institut Sains dan Teknologi Nasional,

Jakarta Selatan DKI Jakarta.


B. Ekstraksi Bahan Pewarna
Sebanyak 1 kilogram buah terong belanda yang telah dihaluskan lalu dimaserasi

dengan 1 liter etanol 96% dan 1% asam sitrat, ditutup dan dibiarkan selama 1

malam terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, saring, filtrat di tampung, lalu

diuapkan dengan bantuan alat rotary evaporator pada temperatur kurang lebih 50

C, kemudian di freeze dryer sehingga didapatkan ekstrak kental buah terong

belanda.
C. Pembuatan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Buah Terong Belanda dalam

Berbagai Konsentrasi

i. Formula
Formula dasar yang dipilih pada pembuatan lipstik dalam penelitian ini dengan

komposisi sebagai berikut (Young, 1974):


R/ Cera alba 36,0
Lanolin 8,0
Vaselin alba 36,0
Setil alkohol 6,0
Oleum ricini 8,0
Carnauba wax 5,0
Pewarna secukupnya
Parfum secukupnya
Pengawet secukupnya

ii. Modifikasi formula

Modifikasi formula dilakukan dengan menambahkan komponen yaitu

propilen glikol, titanium dioksida dan butil hidroksitoluen. Ekstrak buah terong

belanda tidak dapat larut dalam oleum ricini sehingga perlu ditambahkan propilen
glikol untuk melarutkan zat warna tersebut dan zat warna dapat terdispersi homogen

dalam oleum ricini. Propilen glikol yang digunakan sebagai pelarut sebanyak 5-80%

(Rowe,dkk., 2009). Dalam penelitian ini digunakan 5%. Titanium dioksida digunakan

sebagai pigmen, pemburam, pemberi kilau, dan melindungi bibir dari sinar UV

dengan penggunaan dalam formula sebanyak 0,5%. Butil hidroksitoluen digunakan

sebagai antioksidan untuk mencegah proses oksidasi dari minyak dan lemak yang

digunakan dalam formula. Menurut Rowe, dkk (2009), butilhidroksitoluen yang

digunakan sebanyak 0,0075-0,1%. Dalam penelitian ini digunakan 0,1%.

Oleum ricini digunakan dalam formula pembuatan lipstik karena oleum ricini

mempunyai stabilitas yang tinggi dan mempunyai kemampuan mendispersikan zat

warna yang baik. Carnauba wax digunakan untuk memberikan kekuatan kepada

lipstik sehingga lipstik tidak mudah patah. Dalam formula, digunakan juga setil

alkohol yang juga berfungsi sebagai lilin. Setil alkohol digunakan untuk menurunkan

kekerasan lipstik yang disebabkan oleh carnauba waxsehingga lipstik mudah

dioleskan.

D. Prosedur pembuatan lipstik

Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:

Nipagin dilarutkan dalam propilen glikol, setelah nipagin larut, ekstrak buah terong

belanda kemudian dilarutkan dalam campuran propilen glikol dan nipagin tersebut,

butil hidroksitoluen dilarutkan dalam oleum ricini, kemudian ditambahkan ke dalam

campuran pewarna, nipagin, dan propilen glikol, lalu ditambahkan titanium dioksida

dan diaduk hingga homogen (campuran A). Ditimbang cera alba, carnauba wax, setil

alkohol, lanolin dan vaselin alba, dimasukkan dalam cawan penguap, kemudian

dilebur di atas penangas air (campuran B). Campuran A dan campuran B


dicampurkan perlahan-lahan di dalam cawan, kemudian ditambahkan parfum, aduk

hingga homogen. Selagi cair,dimasukkan ke dalam cetakan dan dibiarkan sampai

membeku. Setelah membeku massa dikeluarkan dari cetakan dan dimasukkan dalam

wadah (roll up lipstick).

E. Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan

Pemeriksaan mutu fisik dilakukan terhadap masing-masing sediaan lipstik.

Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi: pemeriksaan homogenitas, titik lebur,

kekuatan lipstik dan stabilitas sediaan yang mencakup pengamatan terhadap perubahan

bentuk, warna dan bau dari sediaan, uji oles, dan pemeriksaan pH.

1) Pemeriksaan homogenitas
Masing-masing sediaan lipstik yang dibuat dari ekstrak buah rasberi diperiksa

homogenitasnya dengan cara mengoleskan sejumlah tertentu sediaan pada kaca

transparan. Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak

terlihat adanya butir-butir kasar (Ditjen POM, 1979).


2) Pemeriksaan titik lebur lipstik
Suhu lebur lipstik yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati

suhu bibir, bervariasi antara 36-38 . Tetapi karena harus memperhatikan faktor

ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropis, suhu

lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yaitu berkisar antara 55-75 (Ditjen POM,

1985).
Metode pengamatan titik lebur lipstik yang digunakan dalam penelitian adalah

dengan cara memasukkan lipstik dalam oven dengan suhu awal 50 selama 15

menit, diamati apakah melebur atau tidak, setelah itu suhu dinaikkan 1 setiap 15

menit dan diamati pada suhu berapa lipstik mulai melebur.


3) Pemeriksaan kekuatan lipstik
Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lipstik dengan cara lipstik diletakkan

horizontal. Pada jarak kira-kira inci dari tepi, digantungkan beban yang

berfungsi sebagai pemberat. Berat beban yang mula-mula digantungkan sebesar

10 gram. Kemudian berat beban ditambah secara berangsur-angsur dengan

berat beban 10 gram pada interval waktu 30 detik, dan berat dimana lipstik

patah merupakan nilai breaking point (Vishwakarma et al., 2011).


4) Pemeriksaan stabilitas sediaan
Pengamatan terhadap adanya perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan

lipstik dilakukan terhadap masing-masing sediaan selama penyimpanan pada

suhu kamar pada hari ke 1, 5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-

30.
5) Uji oles
Uji oles dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada kulit

punggung tangan kemudian mengamati warna yang menempel dengan

perlakuan 5 kali pengolesan pada tekanan tertentu seperti biasanya kita

menggunakan lipstik. Sediaan lipstik dikatakan mempunyai daya oles yang baik

jika warna yang menempel pada kulit punggung tangan sudah merata.

Sedangkan sediaan dikatakan mempunyai daya oles yang tidak baik jika warna

yang menempel sedikit dan tidak merata. Pemeriksaan dilakukan terhadap

masingmasing sediaan yang dibuat dan dioleskan pada kulit punggung tangan

dengan 5 kali pengolesan (Keithler, 1956).


6) Penentuan pH sediaan
Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan alat pH meter.
Cara:
Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar standar

netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan

harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan akuades, lalu

dikeringkan dengan tissue. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu

ditimbang 1 g sediaan dan dilarutkan dalam 100 ml akuades, lalu dipanaskan.


Setelah suhu larutan normal, elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut.

Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang

ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).


F. Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test)
Setelah dilakukan pengujian kestabilan fisik terhadap sediaan, kemudian

dilanjutkan dengan uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test) terhadap sediaan.
a. Uji iritasi
Uji iritasi dilakukan terhadap sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak

buah rasberi dengan maksud untuk mengetahui bahwa lipstik yang dibuat

dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Pada uji ini digunakan

sediaan lipstik dengan konsentrasi ekstrak buah rasberi paling tinggi, yaitu

sediaan yang mengandung konsentrasi pewarna 40%.


Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji tempel terbuka terhadap

10 orang panelis. Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan

sediaan uji pada luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), lokasi lekatan di belakang

telinga atau bahu, biarkan terbuka selama lebih kurang 24 jam, amati reaksi

kulit yang terjadi. Reaksi yang diamati adalah terjadinya eritema, papula,

vesikula atau edema. Menurut Ditjen POM (1985), tanda-tanda untuk

mencatat reaksi uji tempel adalah sebagai berikut:


Tidak ada reaksi -
Eritema +
Eritema dan papula ++
Eritema, papula dan gelembung (vesikula) +++
b. Uji kesukaan (Hedonic test)

Uji kesukaan atau hedonic test dilakukan untuk mengetahui

kesukaan panelis terhadap sediaan lipstik yang dibuat. Uji kesukaan ini

dilakukan secara visual terhadap 30 orang panelis(Badan Standar Nasional,

2006).
a. Setiap panelis diminta untuk mengoleskan masing-masing sediaan lipstik

yang dibuat pada kulit punggung tangannya. Parameter pengamatan pada

uji kesukaan adalah kemudahan pengolesan lipstik, homogenitas dan

intensitas warna lipstik saat dioleskan. Panelis memberikan penilaian

dengan mengisi kuesioner yang telah diberikan


IV.A. Bahan

IV.A.I Bahan Penelitian

Bahan Pewarna yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah

(Cyphomandra betacea Sendtn) yang diperoleh dari daerah Bogor- Jawa Barat .

Bagian buah yang digunakan untuk penelitian ini adalah bagian buah.

IV.A.II Pelarut

a. akuades,
b. etanol 96%,
c. asam tartarat,

IV.A.II Bahan Kimia


5. butil hidroksitoluen,
6. carnauba wax,
7. cera alba (Brataco),
8. lanolin anhidrat (Brataco),
9. nipagin,
10. oleum ricini (Brataco),
11. parfum anggur,
12. propilen glikol,
13. setil alkohol (Brataco),
14. titanium dioksida, dan
15. vaselin alba (Brataco)

IV.B Alat

Alat-alat yang digunakan antara lain:

p) alat-alat gelas laboratorium,


q) blender (Philips),
r) cawan penguap,
s) freeze dryer,
t) kaca objek,
u) kertas saring,
v) lumpang dan alu porselen,
w) neraca analitis (Mettler Toledo),
x) oven, penangas air,
y) pencetak suppositoria,
z) pH meter,
aa) pipet tetes,
ab) rotary evaporator (Buchi),
ac) spatula,
ad) sudipdan wadah lipstik (roll up).