Anda di halaman 1dari 12

Resume Pertemuan Ke : 5

Nama : Sri Widyanti

Npm : 011401434

Matkul : Seminar Akuntansi Keuangan

Pengertian Akuntansi Keprilakuan

Akuntansi Keperilakuan merupakan bagian dari akuntansi dan ilmu sosial. Akuntansi
Keperilakuan banyak mencoba membahas tentang bagaimana perilaku manusia dapat
mempengaruhi data-data akuntansi dan pengambilan keputusan bisnis, serta sebaliknya,
bagaimana informasi akuntansi berpengaruh terhadap pengambilan keputusan bisnis dan
perilaku manusia.

Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan


yang digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan
bisnis. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih
tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada
aktivitas bisnis dan ekonomi. Motivasi dan perilaku dari pelaksana sistem
informasi akuntansi menjadi aspek penting dari suatu sistem informasi
akuntansi. Pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok
yaitu pemakai internal (internal user) dan pemakai eksternal (external user).
Pemakaian oleh pihak internal dimaksudkan untuk melakukan serangkaian
evaluasi kinerja. Pihak eksternal juga memiliki suatu rangkaian perilaku yang
dapat mempengaruhi pengambilan keputusan organisasi. Pihak eksternal sama
dengan pihak internal, tetapi mereka labih berfokus pada jumlah investasi yang
mereka lakukan dalam organisasi tersebut.

Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan


dalam lima aliran (school) , yaitu :

Pengendalian manajemen (management control)


Pemrosesan informasi akuntansi (accounting information processing)
Desain sistem informasi (information system design)
Riset audit (audit research)
Sosiologi organisasional (organizational sociology)

Informasi akuntansi dirancang untuk suatu dasar bagi pengambilan banyak


keputusan penting di dalam maupun diluar perusahaan. Awal perkembangan
riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi manajemen
khususnya penganggaran (budgeting), namun yang dominan dalam hal ini terus
berkembang dan bergeser searah akuntansi keuangan, sistem informasi
akuntansi, dan audit. Banyak volume riset atas akuntansi keperilakuan dan
meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik, akan
memberikan manfaat untuk beberapa tujuan berikut ini :
Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam
bidang baru yang ingin diperkenankan
Membantu dalam mengindentifikasikan kesenjangan riset
Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset
melalui sebidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen dan
perpajakan

Perkembangan yang pesat dalam akuntansi keperilakuan lebih disebabkan


karena akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu social secara
menyeluruh. Akuntansi keperilakuan menggunakan metodelogi ilmu
pengetahuan perilaku untuk melengkapi gambaran informasi dengan mengukur
dan melaporkan faktor manusia yang mempengaruhi keputusan bisnis dan hasil
mereka. Akuntansi keperilakuan menyediakan suatu kerangka yang disusun
berdasarkan teknik berikut ini :

Untuk memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-


orang dan kinerja perusahaan
Untuk mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan
terhadap perencanaan strategis
Untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan
keberhasilan implementasi kebijakan perusahaan

Akuntansi Konvensional

Merupakan akuntansi sebagai suatu disiplin jasa yang mampu


memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu mengenai masalah
keuangan perusahaan dan untuk membantu pemakai internal dan eksternal
dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.

Akuntansi sebagai Suatu Sistem Informasi

Sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang kompleks dan


dibentuk dari berbagai komponen yang saling berkaitan. Karakteristik sistem
secara keseluruhan harus memiliki sasaran, input output, dan lingkungan untuk
mencapai target geser yang telah ditetapkan.

Akuntansi adalah Sistem

Sistem informasi yang baru dapat juga menimbulkan hubungan kerja yang
baru diantara karyawan yang ada, perubahan pekerjaan, bahkan mungkin
perubahan struktur organisasi. Dukungan manajemen puncak merupakan suatu
faktor penting yang menent penting yang menentukan efektukan efektivitas
penerimaan sistem informasi dalam organisasi.

Akuntansi adalah Informasi

Akuntansi dapat dipandang sebagai suatu informasi. Perusahaan harus


berupaya untuk mengoptimalkan peran informasi ini untuk mencapai tujuannya.
Informasi yang diperlukan oleh manajemen harus memiliki karakteristik seperti
akurat dan tepat waktu. Tersedianya informasi secara cepat, relevan, dan
lengkap lebih dikarenakan adanya kebutuhan yang sangat dirasakan oleh
masing-masing unit bisnis untuk mendapatkan posisi keunggulan kompetitif.

Perkembangan Sejarah Akuntansi Keprilakuan

Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok, dan organisasi bisnis, terutama yang
berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Studi terhadap perilaku akuntan
atau perilaku dari non akuntan telah banyak dipengaruhi oleh fungsi akuntan dan laporan
(Hofstede dan Kinerd, 1970). Riset akuntansi keperilakuan meliputi masalah yang
berhubungan dengan:

1) Pembuatan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor.


2) Pengaruh dari fungsi akuntansi seperti partisipasi dalam penyusunan anggaran,
karakteristik sistem informasi, dan fungsi audit terhadap perilaku baik karyawan,
manajer, investor, maupun Wajib Pajak.
3) Pengaruh dari hasil fungsi tersebut, seperti informasi akuntansi dan pengunaan
pertimbangan dalam pembuatan keputusan

Pada bulan Juni 1951, Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk
menyelidiki dampak anggaran terhadap manusia. Sejumlah penjelasan dan kesimpulan dari
hasil riset mengenai perangkap keperilakuan pada anggaran dan pembuatan anggaran dalam
banyak pemikiran masih bersifat sementara, dan oleh karena itu masih perlu disempurnakan.

Paradigma riset perilaku yang dilakukan oleh Steadry (1960) dalam disertasinya telah
menggali pengaruh anggaran motivasional dengan menggunakan suatu eksperimen analog.
Selanjutnya disusul oleh karya Benston (1963) serta Churcil dan Cooper (1965) yang
memfokuskan pada akuntansi manajerial dan pengaruh fungsi akuntansi pada perilaku. Riset-
riset ini berlanjut pada tahun 1970-an dengan satu rangkaian studi oleh Mock (1969-1973),
Barefield (1972), Magee dan Dickhout (1978), Benbasat dan Dexter (1979). Fokus dari studi-
studi tersebut adalah pada akuntansi manajerial, namun penekanannya mengalami pergeseran
dari pengaruh fungsi akuntansi ke perilaku terhadap pemrosesan informasi oleh pembuat
keputusan. Studi yang mempengaruhi bidang ini dilakukan oleh Ashton (1974) dan Libby
(1975), yang membantu membentuk suatu standar dalam desain eksperimental dan validitas
internal untuk pertimbangan riset yang diikuti.

Mulai dari tahun 1960 sampai 1980-an, jumlah artikel mengenai akuntansi keperilakuan
semakin meningkat. Artikel pertama menggambarkan mengenai akuntansi keperilakuan,
sementara artikel selanjutnya membahas mengenai teori dan konsep ilmu pengetahuan
keperilakuan dalam kaitannya dengan akuntansi serta implikasinya bagi prinsip-prinsip
akuntansi dan praktisnya. Pertumbuhan studi akuntansi keperilakuan mulai muncul dan
berkembang, terutama diprakarsai oleh akademisi profesi akuntan. Penggabungan aspek-
aspek perilaku pada akuntansi menunjukkan adanya pertumbuhan minat akan bidang riset ini.
Berbagai variabel perilaku yang terus dipelajari oleh para akuntan terkait dengan akuntansi
dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
Landasan Teori dan Pendekatan Akuntansi Keperilakuan

Hidayati (2002) menjelaskan bahwa sebagai bagian dari ilmu keperilakuan (behavior
science), teori-teori akuntansi keperilakuan dikembangkan dari riset empiris atas perilaku
manusia dalam organisasi. Dengan demikian, peranan riset dalam pengembangan ilmu itu
sendiri tidak diragukan lagi.

Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif

Pada awal perkembangannya, desain riset dalam bidang akuntansi manajemen masih
sangat sederhana, yaitu hanya memfokuskan pada masalah-masalah perhitungan harga pokok
produk. Seiring dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset diperluas
dengan diangkatnya topic mengenai penyusunan anggaran, akuntansi pertanggungjawaban,
dan masalah harga transfer. Meskipun demikian, berbagai riset tersebut masih bersifat
normatif.

Pada tahun 1952 C. Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952, desain riset akuntansi
manajemen mengalami perkembangan yang signifikan dengan dimulainya usaha untuk
menghubungkan desain system pengendalian manajemen suatu organisasi dengan perilaku
manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan diharapkan lebih bisa
menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku organisasi.

Dari Pendekatan Universal ke Pendekatan Kontijensi

Riset keperilakuan pada awalnya dirancang dengan pendekatan universal (universalistic


approach), seperti riset Argyris (1952), Hopwood (1972), dan Otley (1978). Tetapi, karena
pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, maka segera muncul pendekatan lain yang
selanjutnya mendapat perhatian besar dalam bidang riset, yaitu pendekatan kontinjensi
(contingency approach).

Berbagai riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi dilakukan dengan tujuan


mengidentifikasi berbagai variabel kontinjensi yang mempengaruhi perancangan dan
penggunaan sistem pengendalian manajemen. Secara ringkas, berbagai variabel kontinjensi
yang mempengaruhi desain system pengendalian manajemen tersebut adalah sebagai berikut:

Ketidakpastian (uncertainty) seperti tugas, rutinitas, repetisi, dan faktor-faktor


eksternal lainnya.
Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependence) seperti proses
produksi, produk masal, dan lainnya.
Industri, perusahaan, dan unit variabel seperti kendala masuk ke dalam industri, rasio
konsentrasi, dan ukuran perusahaan.
Strategi kompetitif (competitive strategy) seperti penggunaan biaya rendah atau
keunikan.
Faktor-faktor yang dapat diamati (observability factor) seperti desentralisasi,
sentralisasi, budaya organisasi dan lainnya.

Pengukuran Laba

Konsep Laba

Laba adalah kenaikan asset dalam satu periode akibat kegiatan produktif yg
dapatdibagi atau di didistribusi kepada kreditor,pemerintah, pemegang saham (dalambentuk
bunga, pajak, dan deviden) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas pemegangsaham semula.

Laba merupakan hal yang penting dan mendasar dari laporan keuangan dan memiliki banyak
kegunaan di berbagai konteks.

Ada lima karakteristik yang terdapat dalam laba akuntansi:

a) Laba akuntansi yang didasarkan pada transaksi actual yang dilakukan oleh perusahaan
( terutama laba yang muncul dari penjualan barang atau jasa dikurangi biaya-biaya
yang di butuhkan untuk berhasil melakukan penjualan tersebut )
b) Laba akuntansi didasarkan pada postulate periode dan mengacu pada kinerja
keuangan dari perusahaan selama satu periode tertentu.
c) Laba akuntansi didasarkan pada prinsip laba dan membutuhkan definisi, pengukuran,
dan pengakuan pendapatan.
d) Laba akuntansi meminta adanya pengukuran beban-beban dari segi biaya historisnya
terhadap perusahaan yang menunjukan ketaatan yang tinggi pada prinsip biaya.
e) Laba akuntansi meminta penghasilan yg realisasi di perusahaan tersebut dihubungkan
dengan biaya-biaya relevan yang terkait.

keunggulan laba akuntansi

berguna sebagai penentu bagi praktik-praktik dan pola pikir para pengambil
keputusan.
Laba akuntansi didasarkan pada transaksi-transaksi actual dan factual.
Dengan mengandalkan prinsip realisasi untuk pengakuan pendapatan,laba akuntansi
memenuhi kriteria dan konservatisme.
Berguna untuk tujuan pengendalian.

kelemahan laba akuntansi


Ada beberapa argumen tentang kelemahan laba akuntansi :

tidak mampu mengakui kenaikan nilai yang belum terealisasi dari aktiva yang
dimiliki dalam satu periode tertentu akibat penerapan biaya historis dan prinsip-
prinsip realisasi.
Adanya ketergantungan laba akuntansi pada prinsip biaya historis menjadikan
komparabilitas menjadi sulit untuk dilakukan.
Adanya ketergantungan laba akuntansi pada prinsip realisasi ,prinsip biaya historis
dan konservatisme yang dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan tidak relevan
bagi penggunanya.

Laba sebagai alat prediksi

SFAC 1 mengatakan bahwa laba untuk membantu mereka menetapkan prospekarus kas
bersih perusahaan, tetapi mereka sering menggunakan laba untuk membantu mereka
mengevaluasi daya menghasilkan laba. Harapan akan laba masa depan dipandang harus
digunakan oleh banyak investor sebagai faktor utama untuk meramal distribusi deviden masa
depan.

Pengukuran Laba

Pengukuran laba adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengukur dan
memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi, alasan yang
mendasar mengapa pengukuran laba memimbulkan masalah bagi akuntan adalah karena tidak
adanya definisi yang tepat mengenai laba, faktor penting lainnya adalah karena perlu
dibuatnya keputusan-keputusan diseratai berbagai hal dalam usaha untk mencapai
pengukuran tersebut. Dengan demikian penelitian yang sungguh-sungguh diarahkan kepada
penetapan laba itu, tiga pendekatan yang banyak dikenal pada pengukuran laba adalah seperti
yang dikemukakan oleh Donald E. Kieso, Jerry J. Weygandt dan Terry D. Warfield yang
diterjemahkan oleh Emil Salim (2002:153) menyatakan bahwa:

a. Pedekatan Tansaksi (Transaction Apporach)

Laba berasal dari transaksi pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. Transaksi
ini diikhtisarkan dalam laporan laba rugi. Metode pengukuran laba ini dikenal ini sebagai
pendekatan transaksi karena berfokus pada aktivitas yang berhubungan dengan laba yang
terjadi selama periode akuntansi. Prepared by Ridwan Iskandar Sudayat, SE.

b. Pendekatan pemeliharaan Modal (Capital maintenanceAppoach) Menurut


pendapatan ini, laba suatu periode ditentukan berdasarkan perubahan akuitas setelah
disesuaikan dengan modal (misalnya investasi oleh pemilik) atau distribusi modal (misalnya
deviden)

c. Pendekatan kinerja operasi berjalan (current operating performance Appoach)


Analisis tersebut berpendapat bahwa ukuran laba yang paling berguna hanya untuk
mencerminkan unsur pedapatan atau beban yang biasa serta berulang. Pos-pos tidak akan
mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dimasa depan.

Pendekatan transaksi untuk pengukuran laba

Laba diukur dengan cara konvensional, yaitu laba diukur dan diakui pada saat terjadinya
transaksi (transaksieksternal) yang diakumulasi pada saat periode.

Beberapa manfaat utama dari pendekatan transaksi :

a. Komponen laba dapat diklasifikasikan dlm beberapacara, untuk mendapatkan


informasi yg lebih berguna bagi manajemen.
b. Laba yg berasal dari berbagai sumber seperti operasidan dari penyebab
eksternal.
c. Hal itu memberikan dasar untuk menentukan jenis dankuantitas aktiva dan
kewajiban yang ada pada akhirperiode.
d. Efisiensi bisnis mengharuskan pencatatan transaksieksternal untuk alasan-
alasan lain.
e. Berbagai laporan dapat dibuat untuk saling berhbungan satu sama lain.

Pendekatan aktivitas untuk mengukur laba

Dalam penerapannya, pendekatan kegiatan merupakan lanjutan dari pendekatan


transaksi karena muncul dari transaksi yang dijadikan dasar pengukuran. Pendekatan ini
didasarkan pada konsep real work mengenai kegiatan perusahaan dari proses perencanaan
sampai produk dijual sehingga dapat dikatakan penghematan biaya operasional perusahaan
dapat meningkatkan income perusahaan. Jadi, laba diakui selama aktivitas terjadi dari proses
perencanaan sampai produk dijual, tidak menunggu sampai barang itu terjual.

1. Pendekatan pasar modal

Studi empiris menyatakan bahwa laba persaham atau proyeksi laba per saham
yangdilaporkan ada mempunyai dampak langsungpada harga pasar saham biasa. Menurut
RayBall dan Phillip Brown harga sekuritas bergerakdalam arah yang sama dengan laba
akuntansi.Korelasi antara harga dan laba tidak sempurna.Aspek kunci dari research dalam
dampak akuntansi pada pasar modal adalah menentukan kandungan informasi angka laba.

2. konsep laba pada tingkat semantik

Laba akuntansi Vs. Laba ekonomi Laba Akuntansi ( Accounting Income), digunakan dalam
menyajikan laporan keuangan secara objektif dan andal. Laba Ekonomi (Economic
Income),digunakan investor untuk menilai suatu investasi. Laba Ekonomi menggunakan
metode bunga Laba multi person. Hampir semua anlisis laba akuntansi dalam kaitan dengan
laba ekonomi dilakukan dalam konteks kepastian. Dengan kata lain,semua fakta situasi
diasumsikan diketahui semua orang. Pada realita, banyak perbedaan tingkat bunga yang
digunakan.
3. Konsep laba pada tingkat sintatik

Pada tingkat sintaksis konsep income dihubungkan dengan konvensi (kebiasaan) dan
aturan logis serta konsisten dengan mendasarkan pada premis dan konsep yang telah
berkembang dari praktik akuntansi yang ada. Terdapat dua pendekatan pengukuran laba
(income measurement) pada tingkat sintaksis, yaitu: Pendekatan Transaksi dan Pendekatan
Aktiva.

4. Konsep laba pada tingkat pragmatik

Konsep laba pada tingkat pragmatik berkaitan dengan dampak dan informasi laba rugi
pemakainya. Apakah informasi bermanfaat atau apakah informasi laba nyatanya digunakan.
Kalau memang digunakan, untuk kepentingan apa informasi laba digunakan sehingga angka
laba benar-benar harus disediakan.

Pandangan pendekatan kontaktual dari laba

Kekuatan dari pendekatan kontraktual adalah bahwa hal itu tidak menuntut interprestasi
semantik dari laba akuntansi. Pendukung pendekatan ini menyatakan bahwa masyarakat
setuju untuk bermain dengan aturan apapun yang dipilih tanpa memperhatikan apakah itu
masuk akal atau tidak. Posisi ini dipandang ekstrim oleh beberapa pihak. Teori laba
pragmatik tidak dapat sah dalam jangka panjang tanpa konsep laba dunia nyata
danpembuktian dari implikasi perilakunya.

Tujuan Pelaporan Laba

Laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya secara akrual. Pengertian seperti ini
akan mempermudah dalam pengukuran dan pelaporan laba secaa obyektif, dan bermakna
sebagai pengukur kembali atas investasi dari pada sekedar perubahan kas. Berdasarkan
pengertian dan cara pengukuran laba akuntansi diharapkan dapat dapat digunakan sebagai :
pengukur efisiensi, pengukur kinerja entitas dan manajemen, dasar penentu pajak, sarana
alokasi sumber ekonomi, penentuan tarif jasa publik, optimalisasi kontrak utang piutang,
basis kompensasi, motivator dan dasar pembagian deviden.

Income Smoothing

Definisi Income Smoothig

Menurut Belkaoui perataan laba (income smoothing) adalah pengurangan fluktuasi


laba dari tahun ke tahun dengan memindahkan pendapatan dari tahun-tahun yang tinggi
pendapatannya ke periode-periode yang kurang menguntungkan.Income Smoothing adalah
bentuk manajemen pendapatan yang merefleksikan akibat atau hasil ekonomi, bukan karena
hasil-hasil tersebut, melainkan karena manajemen menghasilkan kualitas laba atau
keuntungan yang lebih rendah karena pendapatan tidak menggambarkan kinerja ekonomi
suatu bisnis selama periode tertentu. Income Smoothing tidak tergantung pada kecurangan
dan distorsi atau perubahan, melainkan pada peluang yang muncul dalam alternatif prinsip-
prinsip akuntansi transaksi yang diterima dan penyebarannya. Teori Efficiency Market
Hypothesis (EMH) menyebutkan bahwa laporan keuangan dapat mempengaruhi pasar modal.
Ini menunjukkan betapa pentingnya peranan laporan keuangan. Karena pentingnya laporan
keuangan ini di masyarakat barat khususnya, maka menunjang manajemen melakukan hal-hal
yang mengubah laporan laba rugi untuk kepentingan pribadinya, seperti mempertahankan
jabatan atau mendapatkan bonus yang tinggi. Biasanya laba yang stabil di mana tidak banyak
fluktuasi atau variance dari suatu periode lain dinilai sebagai prestasi baik. Upaya
menstabilkan laba ini disebut income smoothing.

Tujuan Income Smoothing

Perataan laba mempunyai tujuan untuk mengurangi variabilitas atas laba yang
dilaporkan guna mengurangi resiko pasar atas saham perusahaan, yang pada akhirnya dapat
meningkatkan harga pasar perusahaan.

Menurut Foster dalam penelitian Dwimulyani dan Abraham, tujuan perataan laba adalah
sebagai berikut :

Memberikan informasi yang relevan dalam melakukan prediksi terhadap laba di masa
yang akan datang.
Memprediksi citra perusahaan dimata pihak luar bahwa perusahaan tersebut memiliki
resiko yang rendah.
Meningkatkan persepsi pihak eksternal terhadap kemajuan manajemen.
Meningkatkan kompensasi bagi pihak manajemen.
Meningkatkan kepuasan relasi bisnis.

Jenis Perataan Laba

Ada dua jenis perataan laba, yaitu (Riahi-Belkaoui, 2004):

a. Intentional atau designed smoothing

Intentional atau smoothing ialah keputusan atau pilihan yang dibuat untuk mengatur fluktuasi
earnings pada level yang diinginkan.

b. Natural Smoothing

Natural smoothing adalah income generating process yang natural, bukan dari hasil tindakan
yang diambil manajemen.

Faktor Pendorong Perataan Laba

Faktor yang diasumsikan menyebabkan manajer melakukan perataan laba menurut buku
Accounting Theory selanjutnya Scott, mengemukakan beberapa terjadinya motivasi
manajemen laba, yaitu:

Bonus Purposes : Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan
bertindak secara oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba
saat ini (Healy, 1985 dalam Rahmawati dkk, (2006).
Political Motivation :Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan
pada perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena
adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih
ketat.

Taxation Motivation : Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang
paling nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan untuk penghematan pajak
pendapatan.

Pergantian CEO : CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan
untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan
memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

Initial Public Offering (IPO) : Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar,
dan menyebabkan manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba
dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor : Informasi mengenai kinerja perusahaan


harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor
tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

Teknik Perataan Laba

Berbagai teknik yang dilakukan dalam perataan laba diantaranya ialah (Sugiarto,
2003:

1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi.atau pengakuan transaksi. Pihak manajemen


dapat menentukan atau mengendalikan waktu transaksi melalui kebijakan manajemen sendiri
(accruals) misalnya biaya riset dan pegembangan.

2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer mempunyai wewenang
untuk mengalokasikan pendapatan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya: jika
penjualan meningkat maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan pengembangan
serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk menstabilkan laba.

3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan untuk mengklasifikasikan


pos-pos rugi laba dalam kategori yang berbeda. Misalnya jika pendapatan non-operasi sulit
didefinisikan, maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau
pendapatan non-operasi.

Obyek income Smoothing

Sasaran dalam melakukan perataan laba dapat difokuskan pada aktivitas yang
umumnya dilakukan oleh pihak manajemen untuk mempengaruhi aliran dana atau informasi.
Artinya untuk menciptakan laporan keuangan yang diinginkan, manajemen dapat
memasukkan informasi yang seharusnya dilaporkan pada periode yang telah lalu atau yang
akan datang ke dalam laporan periode saat ini atau sebaliknya.Beberapa unsur dalam laporan
keuangan yang sering kali dijadikan sasaran untuk melakukan perataan laba, antara lain.
1. Unsur Waktu

Perataan laba yang melalui periode waktu tertentu dapat dilakukan dengan tiga cara :

Manajemen dapat menentukan waktu terjadinya kejadian tertentu


melaui kebijakan yang dimiliki untuk mengurangi variasi laba yang
dilaporkan.
Manajemen dapat mengalokasikan pendapatan atau biaya tertentu
utnuk beberapa periode akuntansi.
Manajemen memilki kebijakan sendiri untuk mengklaisfikasikan pos-
pos laba atau rugi tertentu dalam kategori yang berbeda.

2. Unsur Penjualan, yaitu:

Pada saat pembuatan faktur penjualan, misalnya pihak manajemen


melakukan transaksi penjualan yang sebenarnya terjadi untuk periode
yang akan datang tetapi pembuatan fakturnya dilakukan dan dilaporkan
sebagai penjualan pada periode saat ini.
Pembuatan pesanan atau penjualan fiktif. Hal ini dilakukan dengan
tujuan agar penghasilan perusahaan periode saat ini menjadi lebih
tinggi dari yang seharusnya dilaporkan.
Dengan cara downgrading (menurunkan nilai produk), misalnya
dengan cara menuliskan dalam faktur penjualan bahwa produk yang
dijual termasuk dalam kelompok produk rusak atau cacat, sehingga
harga yang tercantum menjadi lebih rendah dari harga yang sebenarnya
terjadi. Dengan hasil akhir dalam laporan keuangan bahwa penghasilan
dari penjualan perusahaan menjadi lebih rendah dari penjulan yang
seharusnya terjadi.

3. Unsur Biaya, Yaitu:

a) Mencegah faktur pembelian misalnya faktur untuk sebuah pembelian


atau pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian atau pesanan dan
selanjutnya dan selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dengan tanggal
yang berbeda, sehingga kemudian dilaporkan ke dalam beberapa
periode akuntansi yang berbeda.
b) Dengan memecah faktur pembelian juga memungkinkan terjadinya
peningkatan biaya angkut barang dan atau peningkatan baiaya
administrasi yang semula hanya satu kali menjadi beberapa kali.
c) Mencatat biaya dibayar dimuka (prepayment) sebagai biaya. Misalnya
melaporkan sewa dibayar dimuka untuk periode yang akan datang
sebagai biaya sewa untuk periode saat ini.

Sumber :

http://akuntansikeperilakuan.blogspot.co.id/2009/07/pengantar-akuntansi-
keperilakuan_9945.html
https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/01/11/konsep-laba-dalam-pelaporan-keuangan/

https://www.scribd.com/upload-document?
archive_doc=315278327&escape=false&metadata=%7B%22context%22%3A
%22archive_view_restricted%22%2C%22page%22%3A%22read%22%2C%22action
%22%3Afalse%2C%22logged_in%22%3Atrue%2C%22platform%22%3A%22web%22%7D