100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
342 tayangan31 halaman

Respirasi Anaerob pada Tumbuhan

Makalah ini membahas tentang struktur dan fungsi respirasi pada tumbuhan. Respirasi adalah proses penting yang terjadi pada tumbuhan untuk memperoleh energi melalui oksidasi senyawa organik seperti karbohidrat menjadi karbon dioksida dan air. Proses ini terjadi di sel-sel tumbuhan untuk menghasilkan ATP yang digunakan dalam berbagai aktivitas fisiologis.

Diunggah oleh

Hanif
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
342 tayangan31 halaman

Respirasi Anaerob pada Tumbuhan

Makalah ini membahas tentang struktur dan fungsi respirasi pada tumbuhan. Respirasi adalah proses penting yang terjadi pada tumbuhan untuk memperoleh energi melalui oksidasi senyawa organik seperti karbohidrat menjadi karbon dioksida dan air. Proses ini terjadi di sel-sel tumbuhan untuk menghasilkan ATP yang digunakan dalam berbagai aktivitas fisiologis.

Diunggah oleh

Hanif
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH STRUKTUR DAN FUNGSI TUMBUHAN

RESPIRASI

Disusun oleh :
Kelompok 5

1. Ika Nur Kholifah (14312241012)


2. Rizki Arumningtyas (14312241005)
3. Meilisa Utaminingsih (14312241021)
4. Febriana Cahyaningsih (14312241043)
5. Asri Maharani (14312241051)

Pendidikan IPA Internasional 2014

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pengertian sehari-hari, bernafas sekedar diartikan sebagai proses pertukaran
gas di paru-paru. Tetapi secara biologis, pengertian respirasi tidaklah demikian.
Pernafasan lebih menunjuk kepada proses pembongkaran atau pembakaran zat sumber
energi di dalam sel-sel tubuh untuk memperoleh energi atau tenaga. Zat makanan sumber
tenaga yang paling utama adalah karbohidrat (Suyitno, 2006).
Setiap mahkluk hidup melakukan aktivitas bernafas, atau yang disebut dengan
respirasi. Tidak terkecuali dengan tumbuhan juga melakukan respirasi. Tumbuhan tingkat
tinggi pada umumnya tergolong pada organisme autotrof, yaitu makhluk hidup yang
dapat mensintesis sendiri senyawa organik yang dibutuhkannya. Senyawa organik yang
baku adalah rantai karbon yang dibentuk oleh tumbuhan hijau dari proses fotosintesis.
Fotosintesis atau asimilasi karbon adalah proses pengubahan zat-zat anorganik H 2O dan
CO2 oleh klorofil menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan cahaya. Proses
fotosintesis hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang mempunyai klorofil (Iskandar,
2012).
Kalau fotosintesis adalah suatu proses penyusunan (anabolisme atau asimilasi) di
mana energi diperoleh dari sumber cahaya dan disimpan sebagai zat kimia, maka proses
respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme atau disimilasi) dimana energi
yang tersimpan dibongkar kembali untuk menyelenggarakan prosesproses kehidupan.
Pembakaran membutuhkan oksigen (O2), terjadai di dalam setiap sel yang hidup.
Energi yang diperoleh berupa energi kimia (ATP) yang digunakan untuk berbagai
aktivitas fisiologi dalam tubuh. Di samping itu, pembakaran menghasilkan pula zat sisa
berupa gas asam arang (CO2) dan air. Pada organisme anaerob, pembongkaran zat
sumber tenaga (glukosa) berlangsung tanpa melibatkan oksigen. Pembongkaran semacam
ini disebut respirasi anaerob (Suyitno, 2006).
Tumbuhan juga menyerap O2 untuk pernafasannya, umumnya diserap melalui daun
(stomata). Pada keadaan aerob, tumbuhan melakukan respirasi aerob. Bila dalam keadaan
anaerob atau kurang oksigen, jaringan melakukan respirasi secara anaerob. Misal pada
akar yang tergenang air. Pada respirasi aerob, terjadi pembakaran (oksidasi) zat gula
(glukosa) secara sempurna, sehingga menghasilkan energi jauh lebih besar (36 ATP)
daripada respirasi anaerob (2 ATP saja). Demikian pula respirasi yang terjadi pada jazad
renik (mikroorganisma). Sebagian mikroorgaanisma melakukan respirasi aerobik (dengan
zat asam), anerobik (tanpa zat asam) atau cara keduanya (aerobik fakultatif) (Suyitno,
2006). Proses mendapatkan energi melalui respirasi dilakukan dengan katabolisme
(pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih sederhana), misalnya karbohidrat
menjdi molekul yang lebih kecil, yaitu karbondioksida dan uap air. Sehingga reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:

C6H12O6 + 6H2O 6CO2 + 6H2O + Energi

Dari reaksi di atas, dapat dilihat bahwa karbondioksida dan uap air merupakan
produk dari proses respirasi. Proses ini berawal dari glukosa yang dipecah dalam suatu
rangkaian reaksi enzimatis, sehingga beberapa energi dibebaskan dan diubah menjadi
bentuk ikatan Phospat bertenaga tinggi (ATP) dan sebagian lagi hilang sebagai panas.
Reaksi enzimatis dalam respirasi berlangsung dalam suhu rendah dan pemecahan molekul
senyawa organic berlangsung bertahap. Semakin besar CO2 yang dihasilkan maka dapat
dipastikan bahwa kecepatan respirasinya semakin besar pula. Respirasi merupakan
rangkaian dari 50 atau lebih reaksi komponen, masing-masing dikatalis oleh enzim yang
berbeda.
Berdasarkan uraian diatas maka dibuatlah makalah yang berjudul Respirasi
Tumbuhan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan respirasi?
2. Apakah yang dimaksud dengan kuosien respirasi?
3. Bagaimana pembentukan gula heksosa?
4. Bagaimana mekanisme respirasi pada tumbuhan?
5. Bagaimanakah efisiensi respirasi?
6. Bagaimanakah lintasan pentosa fosfat?
7. Bagaimanakah hubungan Antara reaksi respirasi dan sintesis makromolekul?
8. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian respirasi
2. Untuk mengetahuikuosien respirasi
3. Untuk mengetahui pembentukan gula heksosa

4. Untuk mengetahui mekanisme respirasi pada tumbuhan


5. Untuk mengetahui efisiensi respirasi
6. Untuk mengetahui lintasan pentosa fosfat
7. Untuk mengetahui hubungan antara reaksi respirasi dan sintesis makromolekul
8. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Respirasi
Respirasi adalah proses utama dan penting yang terjadi pada hampir semua makluk
hidup, seperti halnya buah. Proses respirasi pada buah sangat bermanfaat untuk
melangsungkan proses kehidupannya. Proses respirasi ini tidak hanya terjadi pada waktu
buah masih berada di pohon, akan tetapi setelah dipanen buah-buahan juga masih
melangsungkan proses respirasi. Pada tumbuhan, respirasi dapat berlangsung melalui
permukaan akar, batang, dan daun. Respirasi yang berlangsung melalui permukaan
akar dan batang sering disebut respirasi lentisel. Sedang respirasi yang berlangsung
melalui permukaan daun disebut respirasi stomata.
Menurut Santosa (1990), Respirasi adalah reaksi oksidasi senyawa organik untuk
menghasilkan energi yang digunakan untuk aktivitas sel dan dan kehidupan tumbuhan
dalam bentuk ATP atau senyawa berenergi tinggi lainnya. Selain itu respirasi juga
menghasilkan senyawa-senyawa antara yang berguna sebagai bahan sintesis berbagai
senyawa lain. Hasil akhir respirasi adalah CO2 yang berperan pada keseimbangan karbon
dunia. Respirasi berlangsung siang-malam karena cahaya bukan merupakan syarat.
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa organik menjadi
senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan organik yang terjadi didalam
sel dan berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerob diperlukan
oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam respirasi anaerob
dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa selain
karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit energi
(Lovelles, 1997).

B. Kuoesien Respirasi
Jika karbohidrat seperti sukrosa, fruktan, atau pati yang digunakan sebagai substrat
pada proses respirasi dan jika senyawa tersebut teroksidasi secara sempurna, maka jumlah
O2 yang digunakan akan persis sama dengan jumlah CO2 yang dihasilkan. Nisbah CO2/O2
ini disebut Kuosien Respirasi, sering disingkat RQ (respiratory quotient). Nilai RQ ini
pada kebanyakan kasus akan mendekati nilai 1. Sebagai contoh, nilai RQ rata-rata dari
daun berbagai spesies adalah sekitar 1,05. Biji dari tanaman serealia dan legum dimana
pati merupakan cadangan karbohidrat utama juga menunjukkan niai RQ mendekati 1,0.
Tetapi jika bahan cadangan yang dominan bukan pati, misalnya lemak atau
minyak, maka nilai RQ dapat menjadi lebih rendah. Nilai RQ serendah 0,7 dapat
terjadi. Sebagai contoh adalah oksidasi asam lemak yang umum dijumpai, yakni asam
oleat.

C18 H 34 O2 +25,5 O2 18CO 2 +17 H 2 O


Nilai RQ dari reaksi diatas adalah 18/25,5 = 0,71.
Dengan mengetahui nilai RQ dari suatu organ atau jaringan, akan dapat
diperkirakan jenis senyawa yang dioksidasi (substrat dari proses respirasi) pada organ
atau jaringan tersebut. tetapi perlu diingat bahwa senyawa yang dioksidasi mungkin
terdiri dari beberapa jenis, sehingga nilali RQ yang terukur merupakan rata-rata dari
hasil oksidasi berbagai senyawa tersebut. Secara umun, nilai RQ ini dapat digunakan
sebagai indikasi dari porsi karbihidrat sebagai substrat respirasi. Jika nilai RQ
semakin mendekati 1, maka semakin dominan porsi karbohidrat sebagai substrat
respirasi.

C. Pembentukan Gula Heksosa


1. Penyimpanan dan Degradasi Pati.
Pati disimpan dalam bentuk butiran yang tak larut dalam air, yang terdiri dari
moekul amilopektin yang bercabang dan molekul amilosa yang tak bercabang. Pati
yang terakumulasi pada kloropas selama fotosintesis berlangsung merupakan
cadangan karbohidrat yang penting pada daun hampir semua spesies. Pati yang
terbentuk didalam amiloplas suatu jaringan atau organ (dengan menggunakan sukrosa
yang diangkut dari organ fotosintetik melalui pembuluh floem) juga merupakan
karbohidrat cadangan yang penting dari jaringan atau organ tersebut. Pati yang
diakumulasikan ini dapat digunakan sebagai substrat respirasi yang penting pada
stadia pertumbuhan atau perkembangan tertentu dari organ ini. Sebagai contoh, pati
yang terakumulasi pada umbi kentang atau biji tanaman yang digunakan sebagai
benih akan dioksidasi pada saat umbi atau biji tersebut mulai tumbuh.
Degradasi pati akan dipicu oleh 3 enzim utama (beberapa enzim lain juga ikut
berperan dalam degradasi pati), yakni alfa amilase, beta amilase, dan fosforilase. Di
antara ketiga enzim ini, hanya alfa amilase yang secara langsung dapat berperan
mengurai molekul pati yang masih utuh. Jika beta amilase dan fosforilase ikut
berperan, kedua enzim ini mengurai lebih lanjut hasil awal penguraian pati oleh enzim
alfa amilase.
Enzim alfa amilase memutus ikatan 1,4 pada rantai amilopektin maupun
amilosa secara acak, sehingga akan menghasilkan beberapa senyawa dengan sekitar
10 unit glukosa yang disebut dekstrin. Selanjutnya penguraian dekstrin akan
menghasilkan alfa maltosa yang mengandung 2 unit glukosa. Enzim alfa amilase tidak
dapat memutus ikatan 1,6 pada percabangan molekul amilopektin, sehingga
penguraian amilopektin akan terhentii setekah terbentuk dekstrin dengan cabang
pendek. Enzim alfa amilase diaktivasi oleh Ca2+.
Enzim beta amilase berperan menghidrolisis pati. Hasil penguraian pati oleh
enzim ini akan menghasilkan beta maltosa. Perbedaan antara alfa dan beta maltosa
dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Beta maltosa secara cepat kemudian diubah
melalui mutarotasi menjadi campuran isomer alfa dan beta. Hidrolisis pati oleh beta
amilase tidak dapat berlangsung sampai tuntas, karena ikatan cabang pada
amilopektin tidak dapat diputus oleh enzim ini. jadi akan tersisa molekul dekstrin dari
penguraian pati oleh enzim ini.

Gambar. -Maltosa
Sumber: Benyamin, 1993

Gambar. -Maltosa
Sumber: Benyamin, 1993

Aktivasi kedua enzim amilase ini melibatkan penggunaan satu molekul air dari
setiap ikatan yang diputus, dengan demikian kedua enzim ini tergolong enzim
hidrolase. Reaksi hidrolitik ini bersifat tidak dapat balik, berarti tidak ada molekul pati
yang akan disintesis dengan bantuan enzim amilase. Sebagaimana lazimnya, suatu
molekul yang besar disintesis melalui suatu lintasan tertentu (dengan serangkaian
enzim-enzimnya yang berperanan) dan diurai melalui lintasan yang lain ( dengan
enzim-enzim lain).
Enzim amilase dapat dijumpai pada hampir semua jaringan tumbuhan, tetapi
lebih aktif pada biji yang sedang berkecambah yang banyak mengandung pati. Pada
daun, alfa amilase agaknya lebih banyak berperan dalam menghidrolisis pati
dibanding beta amilase. Alfa amilase terdapat di dalam kloroplas dan terikat pada
butiran pati yang akan diurai. Alfa amilase dapat berfungsi baik pada siang maupun
malam hari. Pada siang hari, karena fotosintesis berlangsung, walaupun terjadi
hidrolisis pati, pati akan tetap terakumulasi karena jumlah yang disintesis lebih
banyak dibanding dengan yang diurai. Alfa amilase mempunyai pH optimum sekitar
5,0. Oleh sebab itu, enzim ini menghidrolisis pati lebih lambat pada siang hari, karena
pH stroma kloroplas pada siang hari mendekati 8, sedangkan pada malam hari pH
turun sekitar 7.
Enzim fosforilase mengurai pati tidak dengan menggunakan air (sebagaimana
halnya enzim amilase), tetapi dengan menambahkan fosfat pada produknya. Oleh
sebab itu, tergolong enzim fosforolitik. Reaksi yang dipengaruhi enzim ini dapat
bersifat bolak balik.

glukosa1fosfat

Pati+ H 2 PO 4

Walaupun secara in vitro reaksi penguraian pati oleh enzim fosfatase ini dapat
bolak balik, sebagian ahli berkeyakinan bahwa reaksi tersebut lebih mengarah pada
penguraian pati, karena konsentrasi P-anorganik pada plastida sering sekitar 100 kali
lebih tinggi dibanding glukosa-1-P. Pembentukan glukosa-1-P tidak membutuhkan
ATP untuk mengkonversi glukosa menjadi glukosa fosfat selama proses respirasi
berlangsung.
Amilopektin tidak dapat dirombak secara menyeluruh oleh enzim fosforilase.
Hasil perombaka pati oleh enzim ini akan menyisakan beberapa molekul glukosa
yang terikat oleh ikatan 1,6. Sebagaimana oleh amilase, maka penguraian oleh
fosforilase juga akan menyisakan dekstrin. Berbeda dengan amilopektin, amilosa akan
terurai secara keseluruhan, karena tidak mengandung ikatan 1,6.
Sebagaimana dengan amilase, enzim fosforilase juga dapat dijumpai pada
semua bagian tanaman. Oleh sebab itu, sulit untuk menentukan enzim mana yang
lebih berperan dalam mengurai pati.
Ikatan 1,6 pada cabang amilopektin yang tidak mampu untuk diputuskan oleh
ketiga enzim diatas akan dihidrolisis oleh enzim pemutus cabang seperti pullulanase
dan isoamilase. Kedua enzim ini dapat mengurai amilopektin secara sempurna (tidak
ada dekstrin yang tersisa) untuk menghasilkan glukosa, maltosa atau glukosa-1-fosfat.
Maltosa jarang terakumulasi karena senyawa ini akan dihidrolisis oleh alfa amilase
atau lebih cepat lagi dihidrolisisoleh enzim maltase untuk menghasilkan 2 molekul
alfa-D-glukosa. Glukosa ini kemudiann dapat dikonversi menjadi bentuk-bentuk
polisakarida lainnya atau diurai lebih lanjut dalam pross respirasi.
2. Hidrolisis Fruktan.
Fruktan (atau fruktosan) dihidrolisis oleh enzim beta-fruktofuranosidase yang
berperan memutus ikatan beta 2,1 atau beta -2,6. Enzim ini dapat melepas satu per
satu unit fruktosa pada molekul fruktan dan hanya menyisakan satu unit fruktosa yang
terikat pada glukosa pada ujung fruktan.

GluFru[ Fru ] n+ n H 2 O n Fru+GluFru

Jadi, dari hidrolisis fruktan akan dihasilkan beberapa molekul fruktosa dan satu
molekul sukrosa.
3. Hidrolisis Sukrosa.
Sukrosa hasil penguraian fruktan atau yang diangkut dari organ sumber
melalui floem akan dihidrolisis lebih lanjut oleh enzim invertase untuk menghasilkan
glukosa dan fruktosa . Glukosa, fruktosa, dan glukosa 1-P (hasil penguraian pati oleh
enzim fosforilase) selanjutnya akan digunakan dalam rangkaian rekasi glikolisis.

D. Glikolisis
Rangkaian reaksi untuk mengkonversi glukosa, glukosa-1-P, dan fruktosa menjadi asam
piruvat pada sitosol disebut reaksi glikolisis. Glikolisis secara harfiah berarti penguraian gula
(pada awalnya istilah ini digunakan untuk menghasilkan etil alcohol atau etanol, tetapi penguraian
gula pada kondisi kecukupan oksigen akan menghasilkan asam piruvat). Gula yang diurai adalah
heksosa. Beberapa tahap dari glikolisis mungkin berlangsung pada kloroplas atau plastida lainnya,
tetapi reaksi pada plastida-plastida ini tidak lengkap.
Glikolisis merupakan tahap pertama dari 3 tahap proses respirasi. Glikolisis kemudian diikuti
oleh reaksi-reaksi pada siklus krebs dan selanjutnya transfer electron yang berlangsung pada
mitokondria.

Secara ringkas reaksi glikolisis dapat ditulis seperti gambar berikut:

Gambar.1. Reaksi glikolisis


(Sumber: Lakitan, Benyamin. 2012)
Glikolisis memberikan beberapa manfaat, yakni:
1 Mereduksi 2 molekul NAD+ menjadi molekul heksosa yang dirombak
2 Setiap molekul heksosa yang dirombak akan dihasilkan 2 molekul ATP, jika
substratnya berupa glukosa-1-P, glukosa-6-P, atau fruktosa-6-P maka akan
dihasilkan 3 molekul ATP.
3 Melalui glikolisis akan dihasilkan senyawa-senyawa Antara yang dapat menjadi
bahan baku untuk sintesis berbagai senyawa yang terdapat dalam tumbuhan.

E. Fermentasi
Walaupun glikolisis dapat berlangsung dengan tanpa kehadiran O 2, tetapi tahap berikutnya,
yakni oksidasi piruvat dan NADH membutuhkan O 2. Proses fermentasi terjadi saat oksigen tidak
tersedia, asam piruvat dan NADH akan terakumulasi dan tumbuhan akan melangsungkan proses
fermentasi (respirasi anaerobic) yang akan menghasilkan etanol atau asam malat. Proses
fermentasi umum dijumpai pada system perakaran tumbuhan jika mengalami penggenangan.
Pada reaksi fermentasi akan dihasilkan asetaldehida melalui proses derkaboksilasi, kemudian
asetaldehida direduksi oleh NADH untuk menghasilkan etanol. Reaksi terakhir ini tergantung
pada aktivitas enzim alcohol dehidrogenasi. Aktivitas enzim ini akan menentukan apakah etanol
atau asam malat yang akan dihasilkan sebagai produk reaksi [Link] adalah reaksi
fermentasi.

Gambar2. Reaksi fermentasi alkohol


Sumber: [Link]
Gambar3. Reaksi fermentasi asam laktat
Sumber: [Link]
Asam piruvat diubah menjadi laktat dengan cara mereduksi NADH menjadi
NAD dengan bantuan enzim laktat dehidrogenase.
Secara lebih rinci mengenai fermentasi yang berlangsung pada tumbuhan
hidup dapat ditelusuri pada publikasi-publikasi yang berhubungan dengan tanggapan
tanaman terhadap kondisi hipoksa atau anoksia baik yang terjadi secara alami
misalnya karena penggenangan atau yang dirancang untuk penelitian dengan
menggunakan gas nitrogen sebagai pengganti udara normal untuk menjamin
ketersediaan oksigen (Lakitan, 2012).

F. Siklus Krebs
1. Pengertian
Siklus asam sitrat ini pertama kali dipelajari oleh ilmuwan peraih hadiah
Nobel, Albert Szent-Gyrgyi pada periode 1930-an dan berhasil mendeteksi salah
satu senyawa kunci dari siklus ini yakni asam fumarat.
Studi mengenai siklus ini akhirnya berhasil dirampungkan oleh Hans A. Krebs
pada tahun 1937 dan para ilmuwan sepakat menamai siklus yang ditemukannya ini
siklus krebs.
Siklus Krebs disebut juga Siklus Asam Sitrat, karena asam sitrat merupakan
senyawa antara yang penting, disebut juga Siklus Asam Trikarboksilat, karena asam
sitrat atau asam isositrat sebagai senyawa antara tersebut memiliki 3 gugus karboksil.
Reaksi Siklus Krebs berlangsung di dalam Mitokondria.
Gambar 1. Bagian Bagian Mitokondria
Sumber: Lakitan, 2013: 16
Pada prinsipnya, Siklus krebs ialah tahapan kedua reaksi aerob yang
merupakan bagian dari proses pernapasan yang panjang. Siklus krebs membawa
asetat aktif berupa Asetil Ko-A yang dengan oksidasi glukosa diubah menjadi CO2 dan
H2O menyebabkan pelepasan dan penangkapan ATP (adenosin trifosfat) sebagai
energi yang dibutuhkan jaringan.
Jadi kesimpulannya, Siklus krebs merupakan jalur metabolisme utama dari
berbagai senyawa hasil metabolime yang mengikuti proses glikolisis (mengkonversi
lemak dan karbohidrat) menjadi ATP (adenosin trifosfat) sebagai sumber utama energi
tubuh.
2. Tahapan Tahapan Siklus Krebs

a. Tahap 1: Sitrat Sintase


Proses yang berlangsung ditahap ini dikenal dengan hidrolisis. Pada tahap ini
terjadi penggabungan molekul Asetil Ko-A dengan oksaloasetat membentuk asam
sitrat dibantu oleh enzim asam sitrat sintase.
Gambar 2. Tahap Sitrat Sintase
Sumber: [Link]

b. Tahap 2: Isomerase Sitrat


Pada tahap ini, asam sitrat yang sudah terbentuk diubah menjadi isositrat dengan
bantuan enzim akotinase yang mengandung Fe2+.

Gambar 3. Tahap Isomerase Sitrat


Sumber: [Link]

c. Tahap 3: Isositrat Dehidrogenase


Pada tahap ketiga ini, berlangsung proses dekarboksilasi (perombakan) pertama
sekali. Isositrat yang terbentuk pada tahapan sebelumnya dioksidasi menjadi
oksalosuksinat yang terikat enzim oleh enzim isositrat dehidrogenase. Selain itu,
pada tahap ini isositrat juga diubah menjadi -ketoglutarat oleh enzim yang sama
dan dibantu NADH.

Gambar 4. Tahap Isositrat Dehidrogenase


Sumber: [Link]
d. Tahap 4: -Ketoglutarat Dehidrogenase Kompleks
Dalam tahap ini terjadi proses pengubahan -ketoglutarat menjadi suksinil Ko-A
oleh enzim -ketoglutarat dehidrogenase kompleks.

Gambar 5. Tahap -Ketoglutarat Dehidrogenase Kompleks


Sumber: [Link]

e. Tahap 5: Suksinat Thiokinase


Pada tahap kelima ini, terjadinya konversi suksinil Ko-A menjadi suksinat. Proses
pengubahan ini berbeda dengan tahapan-tahapan sebelumnya. Pada tahap ini
proses konversi tidak hanya dibantu oleh enzim saja, melainkan juga memerlukan
Mg2+ dan GDP yang dengan Pi (Fosfat) akan membentuk GTP. GTP inilah yang
akan dirubah sebagai ATP sehingga menjadi energi yang dibutuhkan jaringan.
f. Tahap 6: Suksinat Dehidrogenase
Suksinat yang telah dihasilkan pada tahap kelima akan didehidrigenase menjadi
fumarat dengan bantuan enzim suksinat dehidrogenase.

Gambar 6. Tahap Suksinat Dehidrogenase


Sumber: [Link]

g. Tahap 7: Hidrasi
Hidrasi ialah penambahan atom hidrogen pada ikatan ganda karbon (C=C) yang
ada pada fumarat sehingga menghasilkan malat.

h. Tahap 8: Regenerasi Oksaloasetat


Tahap kedelapan ini merupakan tahap akhir dari siklus kreb. Pada tahap ini, terjadi
pengubahan malat oleh enzim malat dehidrogenase membentuk oksaloasetat.
Oksaloasetat ini berperan untuk menangkap Asetil-KoA sehingga proses siklus
kreb dapat berlangsung kembali. Untuk mencukupi kebutuhan energi, siklus kreb
harus berlangsung dua kali. Hal tersebut dikarenakan reaksi oksidasi pada molekul
glukosa untuk sekali proses siklus kreb hanya menghasilkan 2 molekul Asetil Ko-
A.
3. Enzim yang Terlibat dalam Siklus Krebs
a Citrate synthase : merupakan enzim yang mengawali rangkaian siklus krebs.
Enzim ini mengkatalis reaksi pembentukan isositrat dari kondensasi dua molekul
beratom karbon dua, asetat yang diturunkan dari molekul asetil-CoA dan molekul
beratom empat, oksaloasetat.
b Acotinate hydratase: adalah enzim yang mengkatalis reaksi isomerasi asam sitrat
menjadi isositrat dengan molekul intermediet cis-aconitate.
c Isocitrate dehydrogenase: enzim ini mengkatalis reaksi dekarboksilasi oksidatif
isositrat menjadi alfa-ketoglutarat dan karbon dioksida. Pada reaksi ini juga terjadi
pelepasan H+ yang digunakan untuk memproduksi NADH.
4. Hasil Siklus Krebs
Gambar 7. Reaksi reaksi pada Siklus Krebs
Sumber: Lakitan, 2013: 190
Hasil yang diperoleh dari proses satu kali Siklus kreb, meliputi 1 molekul GTP
yang akan secara langsung diproduksi menjadi ATP, 3 molekul NADH yang akan
dioksidasi melalui transpor elektron menghasilkan 3 ATP per molekul, 1 molekul
FADH yang akan dioksidasi melalui transpor elektron menghasilkan 2 ATP per
molekul, dan 1 molekul CO2 yang dilepaskan.
Jadi, total energi (ATP) dari satu kali proses siklus kreb ialah:

Sehingga, untuk dua kali Siklus krebs akan dihasilkan energi sebanyak 24 ATP
dan 2 molekul CO2.
Agar proses siklus kreb ini dapat terus berulang, terdapat beberapa komponen
yang berperan penting terhadap regulasi siklus krebs. Adapun regulasi siklus krebs
diatur oleh Sitrat Sintase, Isositrat Dehidrogenase, dan -Ketoglutarat Dehidrogenase.
Ketiga komponen/enzim tersebut ketersediaannya sangat bergantung pada
oksaloasetat. Kecukupan oksaloasetat sendiri dalam keberlangsungan siklus krebs
maka asupan Karbohidrat seseorang harus terpenuhi, karena kekurangan Karbohidrat
akan menyebabkan kekurangan oksaloasetat.
5. Fungsi Siklus Krebs
a Mereduksi NAD+ dan FAD menjadi NADH dan FADH 2 yang kemudian dioksidasi
untuk menghasilkan ATP.
b Sintesis ATP secara langsung, yakni 1 molekul ATP untuk setiap molekul piruvat
yang dioksidasi.
c Pembentukan kerangka karbon yang dapat digunakan untuk sintesis asam asam
amino tertentu, yang kemudian dapat dikonversi untuk membentuk senyawa yang
lebih besar.

G. Sistem Pengangkutan Elektron dan Fosforilasi Oksidatif


1 Pengertian
Pengangkutan elektron atau transpor elektron merupakan proses produksi ATP
(energi) dari NADH dan FADH2 yang dihasilkan dalam glikolisis, dekarboksilasi
oksidatif, dan siklus krebs. Transfer elektron terjadi di membran dalam mitokondria,
yang dibantu oleh kelompok-kelompok protein yang terdapat pada membran
tersebut. Proses ini disebut juga dengan fosforilasi oksidatif dan ditemukan pada
tahun 1948 oleh Eugene Kennedy dan Albert Lehninger.
Energi yang diperlukan untuk aktivitas setiap sel tubuh tersimpan dalam
bentuk ATP yang dihasilkan melalui respirasi aerob maupun respirasi anaerob.
Respirasi aerob merupakan proses pemecahan glukosa menghasilkan energi dengan
adanya oksigen yang akan menghasilkan sisa air dan karbondioksida. Sedangkan
repirasi anaerob merupakan pemecahan glukosa menghasilkan energi tanpa adanya
oksigen dengan hasil akhir berupa asam laktat (pada hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme) dan alkohol (pada jamur bersel satu / yeast).
Energi yang dihasilkan dari respirasi aerob lebih banyak (36 / 38 ATP)
dibandingkan energi yang dihasilkan melalui respirasi anaerob (2 ATP). Oleh karena
itu, tubuh selalu mengutamakan terjadinya respirasi aerob dibandingkan anaerob.
Respirasi aerob terjadi melalui empat tahapan yaitu glikolisis, dekarboksilasi
oksidatif, siklus krebs, dan transfer elektron.

Gambar 8. Transpor Elektron didalam Membran Dalam Mitokondria


Sumber: [Link]
Transfer elektron merupakan tahapan terakhir dari respirasi aerob yang
nantinya akan menghasilkan ATP dan H2O sebagai hasil akhirnya. Dalam transfer
elektron, oksigen berperan sebagai penerima elektron terakhir yang nantinya akan
membentuk H2O yang akan dikeluarkan dari sel.
Disebut dengan transfer elektron karena dalam prosesnya terjadi transfer
elektron dari satu protein ke protein yang lain. Elektron yang ditransfer berasal dari
NADH dan FADH2 yang telah terbentuk sebelumnya. Elektron akan ditransfer dari
tingkat energi tinggi menuju tingkat energi yang lebih rendah sehingga akan
melepaskan energi yang akan digunakan untuk membentuk ATP.
Pada membran dalam mitokondria terdapat komplek protein I, komplek
protein II, ubiquinon (Q), komplek protein III, sitokrom c (cyt c), dan komplek
protein IV. Elektron akan ditransfer ke masing-masing protein tersebut untuk
membentuk ATP. Sedangkan molekul O2 akan berperan sebagai penerima elekron
terakhir yang nantinya akan berubah menjadi H 2O. ATP akan dihasilkan oleh enzim
ATP sintase melalui proses yang disebut kemiosmosis.
2 Tahapan Tahapan Pengangkutan Elektron
a. NADH akan melepaskan elektronnya (e-) kepada komplek protein I. Peristiwa ini
membebaskan energi yang memicu dipompanya H+ dari matriks mitokondria
menuju ruang antar membran. NADH yang telah kehilangan elektron akan
berubah menjadi NAD+.
b. Elektron akan diteruskan kepada ubiquinon.
c. Kemudian elektron diteruskan pada komplek protein III. Hal ini akan memicu
dipompanya H+ keluar menuju ruang antar membran.
d. Elektron akan diteruskan kepada sitokrom c.
e. Elektron akan diteruskan kepada komplek protein IV. Hal ini juga akan memicu
dipompanya H+ keluar menuju ruang antar membran.
f. Elektron kemudian akan diterima oleh molekul oksigen, yang kemudian berikatan
dengan 2 ion H+ membentuk H2O.
g. Bila dihitung, transfer elektron dari bermacam-macam protein tadi memicu
dipompanya 3 H+ keluar menuju ruang antar membran. H + atau proton tersebut
akan kembali menuju matriks mitokondria melalui enzim yang disebut ATP
sintase.
h. Lewatnya H+ pada ATP sintase akan memicu enzim tersebut membentuk ATP
secara bersamaan. Karena terdapat 3 H+ yang masuk kembali ke dalam matriks,
maka terbentuklah 3 molekul ATP.
i. Proses pembentukan ATP oleh enzim ATP sintase tersebut dinamakan dengan
kemiosmosis.
Gambar 9. Pengangkutan Elektron pada Membran Dalam Mitokondria
Sumber: Lakitan, 2013: 193
Penjelasan di atas adalah proses transfer elektron yang berasal dari molekul
NADH. Sedangkan FADH2 akan mentransfer elektronnya bukan kepada komplek
protein I, namun pada komplek protein II. Transfer pada komplak protein II tidak
memicu dipompanya H+ keluar menuju ruang antar membran. Setelah dari komplek
protein II, elektron akan ditangkap oleh ubiquinon dan proses selanjutnya sama dengan
transfer elektron dari NADH. Jadi pada transfer elektron yang berasal dari FADH 2 ,
hanya terjadi 2 kali pemompaan H+ keluar menuju ruang antar mebran. Oleh sebab itu
dalam proses kemiosmosis hanya terbentuk 2 molekul ATP saja.

3 Hasil Pengangkutan Elektron


a. Satu NADH yang menjalani transfer elektron akan menghasilkan 3 molekul ATP.
b. Sedangkan satu molekul FADH2 yang menjalani transfer elektron akan
menghasilkan 2 molekul ATP.
c. Disinilah akhir dari respirasi aerob molekul glukosa. Respirasi ini akan
menghasilkan energi sebanyak 36 / 38 ATP dengan hasil akhir berupa CO 2 dan
H2O yang akan dikeluarkan dari tubuh sebagai zat sisa respirasi. Satu molekul
glukosa dengan 6 atom C, ketika mengalami respirasi aerob akan melepaskan 6
molekul CO2. Karbondioksida tersebut dibebaskan pada tahap dekarboksilasi
oksidatif dan siklus krebs.
4 Hasil Akhir Pembentukan ATP
Ada perbedaan dalam hasil akhir pembentukan ATP pada proses respirasi. Proses respirasi
yang berlangsung pada mitokondria di hati, ginjal, dan mitokondria jantung menghasilkan 38
ATP untuk satu molekul glukosa yang dipecah, karena tahap akhir respirasi aerob yaitu rantai
transpor elektron berlangsung melalui sistem ulang-alik malat aspartat. Sistem ulang-alik lain
adalah ulang-alik gliserol-phosphat. Sistem ini hanya menghasilkan 36 ATP untuk tiap mol
glukosa, dan berlangsung di otot rangka dan otak.
Proses respirasi aerob menghasilkan senyawa antara berupa NADH. Glikolisis
menghasilkan NADH yang sering disebut NADH sitosol, karena proses tersebut berlangsung
pada sitosol. Dekarboksilasi oksidatif dan Siklus Krebs menghasilkan NADH matriks, karena
proses tersebut berlangsung pada matriks mitokondria. Dalam rantai transpor elektron, NADH
akan dioksidasi ulang dan pada akhir reaksi akan menghasilkan ATP dan H 2O. Pada
kenyataannya, membran mitokondria tidak permeabel terhadap NADH sitosol. Dengan
sederhana dikatakan: NADH sitosol tidak dapat masuk ke dalam mitokondria untuk
mengalami oksidasi ulang pada rantai transpor elektron.
Suatu cara yang berlangsung dengan cerdik telah diketahui. NADH sitosol dapat masuk ke
dalam mitokondria secara tidak langsung melalui sistem ulang-alik malat-aspartat. Prosesnya
sebagai berikut: NADH sitosol melepaskan H+ dan ditangkap oleh oksaloasetat sehingga
berubah menjadi malat, yang kemudian masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan sistem
transpor malat-a-ketoglutarat yang terdapat pada membran mitokondria. Di dalam matriks
mitokondria, malat akan melepaskan ion H+ yang akan diterima oleh NAD sehingga tereduksi
menjadi NADH, dan selanjutnya NADH akan dioksidasi ulang melalui rantai transpor
elektron. Sementara itu malat yang telah melepaskan ion H+ berubah kembali menjadi
oksaloasetat. Karena membran mitokondria tidak permeabel terhadap oksaloasetat, maka
oksaloasetat dipecah menjadi a-ketoglutarat dan aspartat melalui reaksi dengan glutamat.
Aspartat keluar dari dalam matriks ke sitosol melalui sistem transpor glutamat-aspartat yang
juga terdapat pada membran mitokondria, sedangkan a-ketoglutarat keluar dari matriks melalui
sistem transpor malat-a-ketoglutarat. Di sitosol aspartat akan bereaksi dengan a-ketoglutarat
dan menghasilkan oksaloasetat dan glutamat untuk mengulangi siklus yang sama.
Gambar 10. Sistem Ulang Alik Malik Aspartat (Total Produksi ATP 38)
Sumber: [Link]

Berbeda dengan sistem ulang-alik malat-aspartat, sistem ulang-alik gliserol-


phosphat lebih sederhana. Prosesnya sebagai berikut: NADH sitosol melepaskan ion
H+ dan diterima oleh dihydroxyacetonphosphate hingga tereduksi menjadi glycerol-
3-phosphate. Glycerol-3- phosphate akan melepaskan ion H+ kepada FAD sehingga
tereduksi menjadi FADH, dan kembali berubah menjadi dihydroxyacetonephosphate
untuk mengulangi siklus yang sama. Ion H+ dari FADH akan dipindahkan kepada
ubikuinon sehingga tereduksi menjadi ubikuinon H untuk selanjutnya memasuki
rantai traspor elektron.

Gambar 11. Sistem Ulang Alik Gliserol Phospate (Total Produksi ATP 36)
Sumber: [Link]

Kesimpulannya adalah bila melalui sistem ulang-alik malat-aspartat NADH


sitosol dapat masuk ke dalam mitokondria untuk mengalami proses rantai transpor
elektron dan menghasilkan 3 ATP untuk setiap NADH yang dioksidasi. Bila melalui
sistem ulang-alik gliserol-phospat, NADH sitosol dikonversi menjadi FADH lalu
masuk ke dalam mitokondria untuk mengalami proses rantai transpor elektron dan
dihasilkan 2 ATP untuk setiap FADH yang dioksidasi.
H. Efisiensi Respirasi
Tidak semua heksosa yang dioksidasi menjadi CO2 dan H2O melalui glikolisis, Siklus Krebs,
maupun sistem pengangkutan elektron dapat diubah menjadi energi berupa ATP, tetapi sebagian
akan hilang dalam bentuk panas pula. Perbandingan antara energi yang diperangkap dalam ATP
dengan total energi yang dihasilkan dari oksidasi molekul heksosa menjadi ukuran dari efisiensi
respirasi.
Sebelum membahas mengenai efisiensi respirasi, sebaiknya kita mengetahui jumlah molekul
ATP yang dihasilkan selama 1 siklus respirasi tersebut. Berikut ini dijabarkan mengenai jumlah
ATP yang dihasilkan selama proses respirasi tersebut.
1 Pada tahap glikolisis akan dihasilkan 2 ATP dan 2 NADH per molekul heksosa. Oksidasi
masing masing NADH melalui sistem pengangkutan elektron akan menghasilkan 2 ATP,
berarti secara keseluruhan total ATP yang dihasilkan untuk satu molekul heksosa selama
tahap glikolisis adalah 6 ATP.
2 Siklus Krebs akan menghasilkan 2 ATP per heksosa ( atau per molekul piruvat ) saat suksinil
CoA dipecah menjadi suksinat dan CoASH. Kemudian , pada siklus Krebs juga akan
dihasilkan 8 NADH per molekul heksosa pada matriks mitokondria, dimana melalui
fosforilasi oksidatif setiap molekul NADH akan dihasilkan 3 ATP , berarti 24 ATP per
molekul heksosa. Kemudian, masing masing FADH 2 dari siklus Krebs akan menghasilkan 2
ATP melalui fosforilasi oksidatif, berarti 4 ATP per molekul heksosa. Kontribusi total siklus
Krebs per molekul heksosa adalah 30 ATP.
Jika total ATP yang dihasilkan untuk masing masing tahap glikolisis dan siklus Krebs
digabungkan, maka untuk oksidasi satu molekul heksosa dapat menghasilkan 36 ATP melalui
respirasi.
Berdasarkan jumlah total ATP yang dihasilkan ini, maka nilai efisiensi respirasi dapat
dihitung. Dalam perhitungan ini, maka digunakanlah patokan / ukuran untuk energi dalam reaktan
respirasi , dimana untuk perubahan energi bebas Gibbs baku pada pH 7 untuk okidasi lengkap dari
1 molekul glukkosa atau fruktosa adalah 2870 kJ atau 686 kcal. Di antara energi energi yang
dihasilkan melalui respirasi, hanya energi yang terkandung pada fosfat terminal ATP saja yang
berguna. Hidrolisis fosfat terminal ATP akan menghasilkan energi sebesar 31,8 kJ atau 7,6 kcal.
Hal ini berarti bahwa untuk 36 molekul ATP akan dihasilkan 1140 kJ . Jadi, efisiensi respirasi
adalah 1140 kJ/ 2870 kJ atau sekitar 40 %, sementara sisanya akan hilang dalam bentuk panas.

I. Lintasan Pentosa Fosfat


Setelah tahun 1950, mulai disadari bahwa glikolisis dan siklus Krebs bukanlah rangkaian
reaksi satu satunya bagi tumbuhan untuk mendapatkan energi dari oksidasi gula menjadi karbon
dioksida dan air. Lintasan reaksi yang berbeda dari glikolisis dan siklus Krebs itu adalah Lintasan
Pentosa Fosfat. Dikatakan sebagai Lintasan Pentosa Fosfat dikarenakan dalam prosesnya akan
terbentuk senyawa antara yang terdiri dari 5 atom karbon. Lintasan ini juga sering disebut sebagai
Lintasan Fosfoglukonat.
Beberapa senyawa antara yang terbentuk selama LPF sama dengan yang terbentuk pada
siklus Calvin pada kloroplast. Hanya saja jika pada Siklus Calvin senyawa senyawa gula fosfat
tersebut merupakan hasil dari sintesis, maka pada LPF senyawa gula fosfat merupakan hasil dari
degradasi senyawa yang lebih besar. Antara glikolisis dan LPF juga terdapat beberapa reaktan
yang sama dan keduanya berlangsung pada sitosol sel. Namun, terdapat perbedaan antara
keduanya, dimana pada LPF yang berperan sebagai penerima elektron adalah selalu NADP + ,
sedangkan jika pada glikolisis yang berperan sebagai penerima elektron pada umumnya adalah
NAD+ .
Rangkaian reaksi pada LPF dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Reaksi pertama pada LPF melibatkan glukosa 6 P ( hasil penguraian pati


oleh enzim fosforilase yang diikuti oleh aksi enzim fosfoglukomutase pada glikolisis
atau hasil penambatan fosfat terminal ATP pada glukosa atau hasil langsung reaksi
fotosintesis). Glukosa 6 P segera dioksidasi (dehidrogenasi) oleh enzim
dehidrogenase untuk membentuk senyawa 6 fosfoglukononlakton, yang kemudian
dengan cepat dihidrolisis menjadi 6- fosfoglukonat oleh suatu enzim laktonase.
Senyawa 6- fosfoglukonat kemudian mengalami dekarboksilasi oksidatif untuk
menghasilkan ribukkosa 5 P oleh enzim 6 fosfoglukonat dehidrogenase .
Reaksi reaksi selanjutnya dari LPF akan menghasilkan pentosa fosfat.
Reaksi reaksi ini dipacu oleh enzim isomerase (reaksi 4) dan epimerase (reaksi 5).
Reaksi reaksi ini dan reaksi selanjutnya sama dengan reaksi - reaksi yang
berlangsung pada Siklus Calvin. Perhatikan bahwa reaksi 6,7, dan 8 menghasilkan 3
fosfogliseraldehida dan fruktosa 6 P , yang merupakan senyawa antara pada
glikolisis. Dengan demikian, LPF dapat dianggap sebagai lintasan alternatif untuk
menghasilkan senyawa senyawa yang selanjutnya diurai melalui glikolisis.
LPF paling tidak mempunyai 3 fungsi, yaitu
1 Memproduksi NADPH, dimana senyawa ini kemudian dapat dioksidasi untuk
menghasilkan ATP. NADPH juga secara spesifik berperan sebagai penerima
elektron dari berbagai reaksi reaksi tertentu dimana NADH tidak berfuungsi,
misalnya pada pembentukan asam - asam lemak dan beberapa senyawa
isoprenoid.
2 Terbentuknya senyawa erithrosa 4 P, dimana senyawa ini merupakan bahan
baku esensial untuk pembentukan berbagai senyawa fenolik, seperti anthosianin
dan lignin.
3 Menghasilkan ribulosa 5 - P yang merupakan bahan baku unit ribosa dan
deoksiribosa pada nukleotida RNA dan DNA.
Dengan tiga fungsi tersebut, maka LPF sama esensialnya dengan glikolisis dan
Siklus Krebs bagi kelangsungan hidup tumbuhan.

J. Senyawa antara Reaksi Respirasi dan Sintesis Makromolekul


Beberapa senyawa antara dalam reaksi-reaksi respirasi (baik glikolisis maupun
siklus krebs) merupakan senyawa awal untuk sintesis berbagai senyawa yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan tanaman. Beberapa senyawa yang disintesis tersebut adalah senyawa
molekul besar (makromolekul) seperti lipida, protein, klorofi; dan asam-asam nukleat.
Untuk sintesis makromolekul ini dibutuhkan ATP dan elektron yang disumbangkan oleh
NADPH atau NADH. Suatu proses lainnya yang membutuhkan NADH adalah reduksi
nitrat menjadi nitrit. Peran glikolisis dan siklus krebs untuk menyediakan rangka karbon
diringkas:
Gambar. Glikolisis dan siklus krebs
(sumber: [Link])
Tidak semua substrat respirasi akan terurai secara keseluruhan untuk
menghasilkan CO2 dan tidak semua elektron yang ditransfer oleh NADH atau NADPH
akan bergabung dengan O2 untuk menghasilkan H2O. Sebaliknya, tidak semua senyawa
antara yang dihasilkan pada reaksi-reaksi respirasi akan digunakan untuk sintesis berbagai
makromolekul tersebut, karena proses sintesis ini tidak dapat berlangsung jika tidak
tersedia cukup ATP dan NADH atau NADPH. Jadi, kedua proses tersebut (sintesis
makromolekul dan produksi ATP, NADH atau NADPH) harus berjalan bersama
(Lakitan,2011:197)
Hal penting lainnya adalah jika asam-asam organik dari siklus krebs digunakan
(misalnya melalui konverensi menjadi asam aspartat, asam glutamat, klorofil, dan
sitokhrom) maka regenerasi asam oksaloasetat akan dicegah, sehingga daur reaksi pada
siklus krebs segera terhenti. Akan tetapi, pada semua tumbuhan siang dan malam, selalu
berlangung, fiksasi CO2 menjadi oksaloasetat melalui reaksi yang dipacu oleh PEP
karboksilase. Reaksi ini essensial untuk pertumbuhan karena akan menyediakan kembali
asam-asam organik yang digunakan dalam sintesis makromolekul dengan demikian siklus
krebs dapat berlangsung secara kontinu.

K. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respirasi


1. Substrat
Respirasi bergantung pada tersedianya substrat terutama dalam bentuk
karbohidrat (amilum, glukosa). Pada tumbuhan yang persediaan kabohidratnya
rendah, respirasinya juga rendah. Jika starvasi (defisiensi bahan cadangan makanan)
pada tumbuhan terjadi sangat parah, maka protein juga dapat dioksidasi. Protein
tersebut dihidrolisis menjadi asam-asam amino penyusunnya yang kemudian diurai
melalui reaksi-reaksi glikolitik dan siklus krebs. Asam glutamate dan aspartate akan
dikonversi menjadi asam alfaketoglutarat dan asam oksaloasetat. Demikian pula
halnya dengan alanine yang dioksidasi untuk membentuk asam piruvat. Pada saat
daun mulai menguning, maka sebagian besar protein dan senyawa mengandung
nitrogen pada kloroplas akan terurai. Ion-ion ammonium yang dibebaskan dari
penguraian tersebut akan digunakan dalam sintesis glutamin dan aspargin. Hal ini
akan menghindari dari tumbuhan dari keracunan ammonium.
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, tetapi besarnya
pengaruh tersebut berbeda antara spesies dan bahkan antara organ yang sama.
Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju
respirasi karena jumlah oksigen yang dibutuhkan jauh lebih rendah dari yang tersedia
di udara (Lakitan,2011: 200)
3. Temperatur
Nilai Q10 untuk respirasi antara suhu 50C sampai 250C adalah antara 2,0
sampai 2,5. Berarti untuk kisaran suhu tersebut, laju respirasi akan meningkat lebih
dari dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 100c. jika suhu ditingkatkan
sampai sekitar 35oC laju respirasi tetap meningkat tetapi dengan nilai Q10 yang lebih
rendah. Penurunan nilai q10 ini diduga diakibatkan karena penetrasi oksigen melalui
kutikula atau peridermis tidak mencukupi kebutuhan. Pada suhu yang lebih tinggi lagi
laju respirasi akan menurun, hal ini karena sebagian enzim yang berperan akan mulai
mengalami denaturasi (lakitan, 2011:200)
4. Tipe dan Umur Tumbuhan
Jaringan meristimatik menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding
jaringan tua. Secara umum terdapat korelasi yang kuat antara laju pertumbuhan
dengan laju respirasi dengan laju respirasi, karena dalam pertumbuhan akan
digunakan ATP, NADH, dan NADPH untuk sintesis protein, bahan penyusun dinding
sel, komponen membrane, asam nukleat. Penggunaan ATP, NADH, dan NADPH
meningkatkan ketersediaan ADP, NAD+, dan NADP+ untuk respirasi.
Umur tumbuhan akan mempengaruhi laju respirasinya. Laju respirasi tinggi
pada saat perkecambahan dan tetap tinggi pada fase pertumbuhan vegetative awal (di
mana laju pertumbuhan juga tinggi) dan kemudian turun dengan bertambahnya umur
tumbuhan.
Respirasi pada organ buah juga tinggi pada saat awal pertumbuhan buah,
yakni pada saat sel aktif. Umur dan tipe jaringan Respirasi pada jaringan muda lebih
kuat dari pada jaringan tua. Pada jaringan yang berkembang (tumbuh) respirasi lebih
tinggi dari jaringan yang sudah matang. Hal ini logis, karena respirasi merupakan
penghasil energy untuk pertumbuhan dan aktivitas dalam sel. Pada perkembangan
buah muda, laju respirasi tinggi. Kemudian berangsur menurun sesuai tingkat
kematangannya. Namun dalam banyak spesies (apel) menurunnya secara berangsur-
angsur respirasi aerob, diikuti dengan meningkatnya respirasi anaerob, yang disebut
klimakterik. Klimakterik biasanya bertepatan dengan masaknya dan timbulnya flavor
(aroma) buah tersebut. Buah jenis ini dapat tahan lama setelah dipetik. Beberapa buah
seperti jeruk, anggur dan nenas tidak menunjukkan klimakterik. Sehingga jenis buah
ini tidak tahan disimpan.
5. Ketersediaan air
Pada rentang tertentu, kadar air dari jaringan tanaman sangat mempengaruhi
laju respirasi. Dalam sebagian besar penyimpanan benih mampu menjaga kadar air di
bawah titik terendah yang memungkinkan untuk melakukan respirasi secara cepat.
6. Kondisi protoplasma
Jaringan muda yang tumbuh yang memiliki jumlah protoplasma yang lebih
besar dibandingkan dengan jaringan yang lebih tua, menunjukkan tingkat respirasi
yang lebih tinggi. Tingkat respirasi yang lebih tinggi mendukung kegiatan
meristematik dari sel-sel dengan menyediakan sejumlah besar energi (Kumar,2016)
7. Faktor lain
Berbagai bahan kimia, seperti sianida, azides dan fluorida, telah dilaporkan
mampu memperlambat laju respirasi melalui efeknya pada enzim pernapasan. laju
respirasi mungkin kemungkinan akan dipercepat oleh konsentrasi rendah dari
senyawa seperti etilena, karbon monoksida, kloroform dan eter.
Klorida dari berbagai mineral, seperti natrium, kalium, kalsium dan
magnesium telah dilaporkan memiliki efek pada laju respirasi. klorida monovalen,
seperti KCl dan NaCl, meningkatkan laju respirasi sedangkan klorida divalen, seperti
MgCl2 dan CaCl2 sangat memperlambat laju respirasi. Steward dan Preston (1941)
berpendapat bahwa kation menekan respirasi dan fotosintesis (Kumar,2016)
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan makalah yang telah disusun dapat ditarik kesimpulan:

1 Respirasi adalah reaksi oksidasi senyawa organik untuk menghasilkan energi yang digunakan
untuk aktivitas sel dan dan kehidupan tumbuhan dalam bentuk ATP atau senyawa berenergi tinggi
lainnya.
2 Kuosien Respirasi adalah cara mengukur konsumsi oksigen dan produksi CO 2 melalui
perbandingan antara produksi CO2 dengan O2.
3 Respirasi secara umum terjadi pada 4 tahap yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus Krebs
dan transpor elektron, dimana semuanya berlangsung di mitokondria kecuali glikolisis.
4 Fermentasi merupakan proses yang berlangsung ketika tidak terdapat oksigen bagi tumbuhan
seperti ketika akar terendam air. Pada fermentasi alkohol, piruvat diubah menjadi etanol dalam dua
langkah. Langkah pertama melepaskan karbon dioksida dari piruvat, yang diubah menjadi senyawa
berkarbon dua, asetaldehida. Pada langkah kedua asetaldehida direduksi menjadi etanol oleh
NADH.
5 Respirasi antar atau intramolekul terjadi sama seperti pada proses fermentasi. Respirasi anaerob
pada tumbuhan disebut juga respirasi intramolekul, mengingat, bahwa respirasi ini hanya terjadi di
dalam molekul saja.
6 Lintasan Pentosa Fosfat (LPF) adalah lintasan reaksi yang berbeda dengan glikolisis dan siklus
Krebs karena terbentuk senyawa antara yang terdiri dari 5 atom karbon.
7 Efisiensi respirasi adalah metode penghitungan laba ATP, yang mana jika dihitung ATP total yang
diperoleh dari oksidasi 1 mol glukosa adalah 36 ATP dengan estimasi penghitungan diperoleh
sekitar 40% energi potensial kimia dalam glukosa di transfer ke ATP.
8 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi terdiri dari faktor internal yaitu jumlah plasma sel,
jumlah substrat, umur dan tipe pertumbuhan. Faktor eksternal yaitu suhu, kadar O 2 di udara, kadar
CO2 di udara, kadar air dalam jaringan, cahaya dan luka stimulus mekanik.

DAFTAR PUSTAKA
Jurtshuk P Jr. 1996. Medical Microbiology 4th edition. Galveston, Texas: University of Texas
Medical Branch at Galveston.
Kim, B.H., Gadd, M.G. 2008. Bacterial Physiology and Metabolism. Cambridge: Cambridge
University Press.
Kumar, [Link] Affecting Aerobic Respiration (article) on
[Link] diakses tanggal 15 November 2016.

Lakitan, Benyamin. 2013. Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan. Depok: PT Raja Grafindo
Persada.
Lovelles, A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropis. Gramedia,
Jakarta.
Moat, A.G., Foster, J.W., Spector, M.P. 2002. Microbial Physiology 4th edition. New York:
Wiley-Liss, Inc.
Murray, Robert K. 2009. Biokimia HARPER Edisi 27. Jakarta: EGC.
Santosa. 1990. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.
Suyitno. 2006. Respirasi pada Tumbuhan. [Link] diakses pada 19 Noveember
2016 pukul 15.30 WIB.
Yatim, Wildan. 2003. Biologi Modern Biologi Sel. Bandung: Tarsito.

Anda mungkin juga menyukai