Anda di halaman 1dari 17

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS (Double Beam)

A. TUJUAN
1. Mempelajari dan memahami peralatan spektrofotometri double beam.
2. Membedakan spektrofotometer single-beam dengan double-beam.
3. Untuk mengetahui kadar nikel di dalam sampel dengan menggunakan spektrofotometer
UV-Vis double beam.
B. WAKTU PELAKSANAAN
Hari / Tanggal : Jumat / 21 November 2014
Waktu : 09.40 12.20 WIB
Tempat : Laboratorium Instrumen Kimia FMIPA UNP

C. TEORI DASAR

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan
sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik
dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube
atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang
digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan
mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi.
Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan
fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi
(Harjadi, 1990).

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel
sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer
ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri (Basset, 1994).

Spektrometri UV-Vis adalah salah satu metoda analisis yang berdasarkan pada penurunan
intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Berdasarkan penurunan intensitas cahaya
yang diserap oleh suatu media tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna
spesies yang ada pada media tersebut. Spektrometri visible umumnya disebut kalori, oleh
karena itu pembentukan warna pada metoda ini sangat menentukan ketelitian hasil yang
diperoleh. Pembentukan warna dilakukan dengan cara penambahan pengompleks yang
selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, 2005).
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu
sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula
pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu
(Underwood, 1986).
Spektrofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan elektron dari tingkat energi
yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan elektron tidak diikuti oleh
perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan sebutan tereksitasi singlet (Khopkar, 1990).
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel
sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer
ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dapat
dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari
absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang
gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas
untuk komponen yang berbeda (Saputra, 2009).
Salah satu contoh instrumentasi analisis yang lebih kompleks adalah spektrofotometer
UV-Vis. Alat ini banyak bermanfaat untuk penentuan konsentrasi senyawa-senyawa yang
dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet (200 400 nm) atau daerah sinar tampak (400
800 nm). Analisis ini dapat digunakan yakni dengan penentuan absorbansi dari larutan
sampel yang diukur.
Senyawa-senyawa yang dapat diukur dengan metoda ini harus memenuhi hukum Lambert-
Beer yaitu :
1. Bila suatu sinar monokromatis dilewatkan pada medium pengabsorpsi, maka
berkurangnya intensitas cahaya per unit tebal medium sebanding dengan intensitas
cahaya tersebut.
2. Berkurangnya intensitas cahaya per unit konsentrasi akan berbanding lurus
dengan intensitas cahaya.
Hukum Lambert-Beer :
Jika seberkas sinar melewati suatu larutan maka sebagian dari sinar tersebut akan diserap
oleh larutan dan sebagian lagi akan diteruskan. Perban-dingan antara intensitas sinar datang
(Io) dengan intensitas sinar yang diteruskan (It) pada suatu panjang gelombang () disebut
dengan transmitan (T). Transmitan biasanya dinyatakan dengan %T. Absorban (A) suatu
sampel adalah nilai negatif dari logaritma transmitan :
% T = (Io / It ) x 100
A = - log (T)
Nilai absorban dari sampel pada suatu panjang gelombang tertentu sebanding dengan
absortivitas zat (konstan untuk setiap panjang gelombang), panjang lintasan yang dialalui oleh
sinar melewati larutan sampel, dan kon-sentrasi zat atau komponen yang dilalauinya.
Dirumuskan dengan :
A=a.b.c
Keterangan : A = Absorban,
a = absortivitas molar zat,
b = panjang lintasan (ketebalan larutan yang dilewati oleh sinar),
c = konsentrasi.
Sifat serapan campuran komponen bersifat aditif dari masing-masing komponen
penyusunnya. Syarat dari larutan yang dapat digunakan untuk analisis campuran dua
komponen adalah :
1. Komponen-komponen dalam larutan tidak boleh saling bereaksi
2. Puncak serapan komponennya cukup berbeda/tumpang tindih
3. Komponen-komponennya memenuhi hukum Lambert-Beer
Rumus yang digunakan untuk analisis campuran dua komponen adalah :
Axy1 = ax1 . b . cx + ay1 . b . cy (1)
A2xy2 = ax2 . b . cx + ay2 . b . cy . (2)
Dimana : Axy1 = absorban campuran pada panjang gelombang maksimum pertama
A2xy2 = absorban campuran pada panjang gelombang maksimum kedua
Cx = konsentrasi komponen penyerap X
Cy = konsentrasi komponen penyerap Y
Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari Hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = log T = log It / I0 = . b . C
Dimana: A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur
T = Transmitansi
I0 = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
= Serapan molar
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel (Tahir, 2009).
Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa serapan (A) tidak memiliki satuan dan
biasanya dinyatakan dengan unit absorbansi. Serapan molar pada persamaan di atas adalah
karakteristik suatu zat yang menginformasikan berapa banyak cahaya yang diserap oleh
molekul zat tersebut pada panjang gelombang tertentu. Semakin besar nilai serapan molar
suatu zat maka semakin banyak cahaya yang diabsorbsi olehnya, atau dengan kata lain nilai
serapan (A) akan semakin besar.
Hukum Lambert-Beer di atas berlaku pada larutan dengan konsentrasi kurang dari
sama dengan 0.01 M untuk sebagian besar zat. Namun, pada larutan dengan konsentrasi pekat
maka satu molekul terlarut dapat memengaruhi molekul terlarut lain sebagai akibat dari
kedekatan masing-masing molekul pada larutan dengan konsentrasi yang pekat tersebut.
Ketika satu molekul dekat dengan molekul yang lain maka nilai serapan molar dari satu
molekul itu akan berubah atau terpengaruh. Secara keseluruhan, nilai absorbansi yang
dihasilkan pun ikut terpengaruh, sehingga secara kuantitatif nilai yang ditunjukkan tidak
mencerminkan jumlah molekul yang diukur di dalam larutan uji.
Adapun instrument dari spektrofotometri UV-vis yaitu:
1. Sumber radiasi
Sumber radiasi pada spektrofotometer harus memiliki panacaran radiasi yang stabil dan
intensitasnya tinggi. Sumber radiasi pada spektrofotometer UV-Vis ada tiga macam:
1. Sumber radiasi Tungsten (Wolfram), Lampu ini digunakan untuk mengukur sampel
pada daerah tampak. Bentuk lampu ini mirip dengna bola lampu pijar biasa. Memiliki
panjang gelombang antara 380-900 nm. Spektrum radiasianya berupa garis lengkung.
Umumnya memiliki waktu 1000 jam pemakaian.
2. Sumber radiasi Deuterium. Lampu ini dipakai pada panjang gelombang 190-380 nm.
Spektrum energi radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur sampel yang
terletak pada daerah uv. Memiliki waktu 500 jam pemakaian.
3. Sumber radiasi merkuri. Sumber radiasi ini memiliki panjang gelombang 365 nm.
2. Monokromator
Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis menjadi cahaya tunggal
(monokromatis) dengan komponen panjang gelombang tertentu. Bagian-bagian
monokromator, yaitu :
1. Prisma
Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya di dapatkan
resolusi yang baik dari radiasi polikromatis.
2. Grating (kisi difraksi)
Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi. Dispersi sinar akan
disebarkan merata, dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi akan lebih baik. Selain itu
kisi difraksi dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spektrum.
3. Celah optis
Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diharapkan dari sumber
radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang tepat, maka radiasi akan dirotasikan melalui
prisma, sehingga diperoleh panjang gelombang yang diharapkan.
4. Filter
Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang diteruskan merupakan
cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang yang dipilih.
3. Sel kuvet
Kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanya kebanyakan kuvet
adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah
meneruskan energi cahaya dalam daerah spektra yang diminati, jadi sel kaca melayani daerah
tampak, sel kuarsa atau kaca silica tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet. Dalam
instrument, tabung reaksi silindris kadang-kadang digunakan sebagai wadah sampel. Penting
bahwa tabung-tabung semacam itu diletakkan secara reprodusibel dengan membubuhkan
tanda pada salah satu sisi tabung dan tanda itu selalu tetap arahnya tiap kali ditaruh dalam
instrument. Sel-sel lebih baik bila permukaan optisnya datar. Sel-sel harus diisi sedemikian
rupa sehingga berkas cahaya menembus larutan. Umumnya sel-sel ditahan pada posisinya
dengan desain kinematik dari pemegangnya atau dengan jepitan berpegas yang memastikan
bahwa posisi tabung dalam ruang sel dari instrument itu reprodusibel.
4. Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian diubah
menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan dalam bentuk angka-
angka pada reader (komputer). Detektor dapat memberikan respon terhadap radiasi pada
berbagai panjang gelombang Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah
melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan
serapan ultra-violet. Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV dari beberapa
panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan yang keluar melalui kolom
dan sebuah detektor pada sisi yang berlawanan, anda akan mendapatkan pembacaan langsung
berapa besar sinar yang diserap. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah
senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa
pelarut yang digunakan tidak mengabsorbsi sinar UV. Pelarut menyerapnya, tetapi senyawa-
senyawa akan menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV.
Misalnya metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada
gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air sebagai pelarut,
anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih besar dari 205 nm untuk
mencegah pembacaan yang salah dari pelarut.

5. Rekorder
Fungsi rekorder mengubah panjang gelombang hasil deteksi dari detektor yang
diperkuat oleh amplifier menjadi radiasi yang ditangkap detektor kemudian diubah menjadi
sinyal-sinyal listrik dalam bentuk spektrum. Spektrum tersebut selanjutnya dibawa ke monitor
sehingga dapat dibaca dalam bentuk transmitan maupun absorbansi.
Mekanisme kerja alat spektrofotometer UV-Vis adalah sinar dari sumber sinar
dilewatkan melalui celah masuk, kemudian sinar dikumpulkankan agar sampai ke prisma
untuk didifraksikan menjadi sinar-sinar dengan panjang gelombang tertentu. Selanjutnya sinar
dilewatkan ke monokromator untuk menyeleksi panjang gelombang yang diinginkan. Sinar
monokromatis melewati sampel dan akan ada sinar yang diserap dan diteruskan. Sinar yang
diteruskan akan dideteksi oleh detektor. Radiasi yang diterima oleh detektor diubah menjadi
sinar listrik yang kemudian terbaca dalam bentuk transmitansi.

Cara kerja spektrofotometer


Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan
pembanding, misalkan blanko dalam sel pertama sedangkan larutan yang dianalisis pada sel
kedua. Kemudian pilh foto sel yang cocok 200-650 nm (650-1100nm) agar daerah panjang
gelombang yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup
nol galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang
diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blanko dan nol galvanometer
didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi,
kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan
dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel.

Spektrofotometri analisa kuantitatif (penentuan kadar suatu zat), alat ini dapat dipakai
karena :
a. Dapat digunakan secara luas baik untuk penentuan senyawa organik maupun senyawa
anorganik, baik berwarna maupun tidak berwarna. Dengan syarat bila larutan tidak
berwarna maka harus direaksikan terlebih dahulu dengan reagen-reagen tertentu atau
reaksi kimia tertentu.
b. Mempunyai kepekaan yang tinggi. Dimana dapat dideteksi suatu senyawa dengan
konsentrasi 10-7M.
c. Sangat selektif, dapat menentukan suatu komponen tanpa pemisahan dengan mengatur
kodisi.
d. Pengerjaannya mudah dan cepat, bisa mendeteksi 5-10 cuplikan / menit.
Keuntungan dari spektrofotometer untuk keperluan kuantitatif antar lain adalah :
1. Dapat digunakan secara luas
2. Memiliki kepekaan yang tinggi
3. Keselektifannya cukup baik
4. Tingkat ketelitian tinggi.
Tipe Instrumen Spektrofotometer
Pada umumnya terdapat dua tipe instrumen spektrofotometer, yaitu single-beam dan
double-beam.
1) Single-Beam Instrument
Single-beam instrument dapat digunakan untuk kuantitatif dengan mengukur
absorbansi pada panjang gelombang tunggal. Single-beam instrument mempunyai beberapa
keuntungan yaitu sederhana, harganya murah, dan mengurangi biaya yang ada meupakan
keuntungan yang nyata. Beberapa instrumen menghasilkan single-beam instrument untuk
pengukuran sinar ultra violet dan sinar tampak. Panjang gelombang paling rendah adalah 190
sampai 210 nm dan paling tinggi adalah 800 sampai 1000 nm.
2) Double-Beam Instrument
Double-Beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190 sampai 750 nm. Double-
beam instrument dimana mempunyai dua sinar yang dibentuk oleh potongan cermin yang
berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama melewati larutan blanko dan sinar
kedua secara serentak melewati sampel, mencocokkan foto detektor yang keluar menjelaskan
perbandingan yang ditetapkan secara elektronik dan ditunjukkan oleh alat pembaca (Skoog,
DA, 1996).

SKEMA ALAT
D. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Spektrofotometer UV-Vis
2. Kuvet
3. Labu ukur 25 mL
4. Gelas kimia 250 mL
5. Pipet tetes
6. Pipet gondok 5 mL
7. Bola hisap
8. Labu semprot
Bahan :
1. NiCl2.6H2O
2. Aquades
E. CARA KERJA
A. Preparasi larutan Induk Nikel 5000 ppm
1. Menimbang kristal NiCl2.6 H2O sebanyak 5,0424 gram dengan neraca analitik.
2. Melarutkan kristal NiCl2.6 H2O dengan aquades dan dimasukkan ke dalam
labu ukur 250 mL.
3. Mempaskan volume larutan dengan aquades sampai tanda batas.
4. Homogenkan larutan.
5. Memasukkan larutan ke dalam botol reagen.
6. Memberi label pada botol reagen yang telah berisi larutan nikel 5000 ppm.
B. Larutan standar Nikel
1. Untuk larutan standar 1000 ppm, dengan memipet larutan induk nikel 5000
ppm sebanyak 5 mL.
2. Memasukkan larutan ke dalam labu ukur 25 mL.
3. Mempaskan volume larutan dengan aquades.
4. Homogen larutan dan memasukkan larutan ke dalam gelas kimia yang telah
diberi label.
5. Lakukan prosedur 1 s/d 4 untuk membuat larutan standar 2000, 3000, dan
4000 ppm.
6. Mengukur Absorban larutan standar dan sampel
F. DATA PENGAMATAN
LARUTAN Absorban (968
Absorban (394 nm) Absorban (723 nm) XY X2
STANDAR (ppm) nm)
1000 0,11579 5,5729E-2 0,18292 115,79 1106
2000 0,19907 8,9198E-2 0,19002 398.14 4106
3000 0,28625 0,12558 0,19977 858.75 9106
4000 0,37587 0,16313 0,21279 1503.48 16106
5000 0,45909 0,19670 0,21939 2295.45 25106
X =15000 Y =1,43607 XY =5171.61 X 2=55 106
Sampel 0,21110

n xy x y
B= 2 2
n x ( x)

a= y b x
5 (5171,61 ) ( 15 000 ) (1,43607)
B= 6 2
3(55 10 )(15 000)
a=0,287( 86,34 106 ) (3 000)
25858,0521541,05
B= a=0,287( 25 9 103 )
275 106225 10 6

4317 a=( 287 103 ) ( 25 9 103 )


B= 6
50 10

B=86 , 34 106

a=28 103
Persamaan regresi : y = a + bx

y= 54 6 103 +8 6,43 106 x

Konsentrasi nikel :
y = a + bx
0,21110=28 103+ 86,43 106 x

0.183
X= 6
86,43 10

6
X =0,002118 10

X =2118,477
G. GRAFIK
0.5

0.45
f(x) = 0.09x + 0.03
0.4

0.35

0.3

ln 1/t 0.25
0.2

0.15

0.1

0.05

0
1000 2000 3000 4000 5000

1/T

H.
I. PEMBAHASAN
J. Pada percobaan kali ini, bertujuan untuk memahami kerja alat
spektrofotometer ultraviolet- visible, mencari panjang gelombang maksimum dan
menentukan konsentrasi suatu sampel. Adapun alat yang digunakan adalah
K.

L.
M. Spektrofotometer ultraviolet visible merupakan alat dengan teknik
spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan sinar tampak. Alat ini digunakan untuk
mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk
larutan.Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah serapan cahaya. Bila cahaya
jatuh pada senyawa, maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul-molekul sesuai
dengan struktur dari molekul senyawa tersebut. Serapan cahaya oleh molekul dalam
daerah spektrum UV-Vis tergantung pada struktur elektronik dari molekul.
N.
O. Spektrofotometer UV-VIS dapat menganalisa secara kualitatif dan kuantitatif.
Pada analisa kualitatif karakteristik resapan suatu zat dalam pelarut tertentu, yaitu
panjang gelombang maksimum dan daya resapnya. Penentuan panjang gelombang
maksimum dengan membuat spektrum dengan cara membuat larutan baku
primer/induk. Terdapat beberapa alasan harus digunakannya panjang gelombang
maksimum, yaitu: (1) pada panjang gelombang maksimum, kepekaannya juga
maksimum karena pada panjang gelombang tersebut, perubahan absorbansi untuk
setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar, (2) di sekitar panjang gelombang
maksimum, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-
Beer akan terpenuhi, (3) jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang
disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali (Sudjadi
2010), dan (4) meminimalisir efek ketidakmonokromatisan.
P. Pada praktikum kali ini, tipe spektrofotometer yang digunakan berbeda pada
praktikum sebelumnya, yaitu double beam. Adapun skema alatnya adalah :
Q.

R.
S. Prinsip kerja dari double beam ini adalah sinar dari monokromator diarahkan
ke sel blangko dan sel sampel dengan bantuan beam splitter (chopper). Kedua sinar
dibandingkan terus menerus/ bergantian secara berulang-ulang.
T. Fluktuasi pada intensitas sumber cahaya respon detektor dan hasil penguat
sinyal dikompensasi dengan mengamati perbandingan sinyal antara blangko dengan
sampel.

U.

V.
W. Sedangkan pada single beam prinsip kerjanya adalah radiasi dari
monokromator yang masuk didispersikan oleh prisma/ grating. Ketika alat pendispersi
dirotasikan, berbagai pita radiasi yang telah terpecah difokuskan pada celah keluar.
Radiasi dilewatkan sampel dan diterima detektor.

X.
Y. Cara menggunakan spektronik yang pertama kali adalah mematchingkan
kuvet, dimana ini berfungsi agar kuvet yang digunakan untuk blanko dan sampel
cocok, sehingga pengukuran adsorban dapat dilakuobaan adsorban sampel kan. Pada
percobaan panjang gelombang maksimumnya NiCl2.6H2O 3000ppm adalah 394 nm
dengan A = 0,28625. Jika dilihat dari percobaan dengan menggunakan single beam
panjang gelombang maksimum adalah NiCl2.6H2O 3000ppm adalah 400 nm dengan
A = 0,257. Hal ini terdapat perbedaan antara single beam dengan double beam dimana
perbedaannya adalah :
Z. Single-beam instrument
AA. Single-beam instrument dapat digunakan untuk kuantitatif dengan
mengukur absorbansi pada panjang gelombang tunggal. Single-beam instrument
mempunyai beberapa keuntungan yaitu sederhana, harganya murah, dan mengurangi
biaya yang ada merupakan keuntungan yang nyata. Beberapa instrumen
menghasilkansingle-beam instrument untuk pengukuran sinar ultra violet dan sinar
tampak. Panjang gelombang paling rendah adalah 190 sampai 210 nm dan paling
tinggi adalah 800 sampai 1000 nm (Skoog, DA, 1996).
AB.
AC. Double-beam instrument
AD. Double-beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190
sampai 750 nm. Double-beam instrumentdimana mempunyai dua sinar yang dibentuk
oleh potongan cermin yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama
melewati larutan blangko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel,
mencocokkan fotodetektor yang keluar menjelaskan perbandingan yang ditetapkan
secara elektronik dan ditunjukkan oleh alat pembaca (Skoog, DA, 1996).
AE.
AF.Perbedaan kedua jenis spektrofotometer tersebut hanya pada pemberian
cahaya, dimana pada single-beam, cahaya hanya melewati satu arah sehingga nilai
yang diperoleh hanya nilai absorbansi dari larutan yang dimasukan.
AG. Spektrofotometer double-beam, nilai blanko dapat langsung diukur
bersamaan dengan larutan yang diinginkan dalam satu kali proses yang sama.
Prinsipnya adalah dengan adanya chopper yang akan membagi sinar menjadi dua,
dimana salah satu melewati blanko (disebut juga reference beam) dan yang lainnya
melewati larutan (disebut juga sample beam).
AH. Dari kedua jenis spektrofotometer tersebut, spektrofotometer double-
beam memiliki keunggulan lebih dibanding single-beam, karena nilai absorbansi
larutannya telah mengalami pengurangan terhadap nilai absorbansi blanko. Selain itu,
pada single-beam, ditemukan juga beberapa kelemahan seperti perubahan intensitas
cahaya akibat fluktuasi voltase.
AI. Berdasarkan teori apabila suatu sampel mememnuhi hokum lamber-beer maka
akan menghasilkan kurva linear. Jika dilihat dari kurva hasil percobaan , larutan
sampel menghasilkan kurva linear. Hal ini sesuai dengan dengan teori.
AJ.
AK. Selanjutnya pada praktikum ini penentuan konsentrasi sampel, adapun

konsentrasi dari sampel adalah = 2118,477 ppm sedangkan pada spektronik single
beam konsentrasi sample yang didapatkan adalah = 959,57 ppm. Perbedaan ini bisa
terjadi oleh kesalahan-kesalahan praktikan yang kurang teliti dalam melakukan
percobaan pada saat menggunakan single beam seperti dalam mencari panjang
gelombang maksimum dan menghitung konsentrasi sampel.
AL.
AM.
AN.
AO.
AP.
AQ.
AR.
AS. KESIMPULAN
1. Double-Beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190 sampai 750
nm. Double-beam instrument dimana mempunyai dua sinar yang dibentuk oleh
potongan cermin yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama
melewati larutan blanko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel,
mencocokkan foto detektor yang keluar menjelaskan perbandingan yang
ditetapkan secara elektronik dan ditunjukkan oleh alat pembaca.
2. Perbedaan kedua jenis spektrofotometer tersebut hanya pada pemberian cahaya,
dimana pada single-beam, cahaya hanya melewati satu arah sehingga nilai yang
diperoleh hanya nilai absorbansi dari larutan yang dimasukan. Spektrofotometer
double-beam, nilai blanko dapat langsung diukur bersamaan dengan larutan yang
diinginkan dalam satu kali proses yang sama. Prinsipnya adalah dengan adanya
chopper yang akan membagi sinar menjadi dua, dimana salah satu melewati
blanko (disebut juga reference beam) dan yang lainnya melewati larutan (disebut
juga sample beam).
3. konsentrasi dari sampel adalah = 2118,477 ppm

AT.
AU.
AV.
AW.
AX.
AY.
AZ.
BA.
BB.
BC.
BD.
BE.
BF.
BG.
BH.
BI.
BJ.
BK.
BL.
BM. DAFTAR PUSTAKA

BN. Fatimah, S, Yanlinastuti dan Yoskasih. 2005. Kualifikasi Alat Spektrometer UV- vis
Untuk Penentuan Uranium dan Besi dalam-U30. Hasil Penelitian
BO. Harjadi. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia.
BP.Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia.
BQ. Saputra, Y.E. 2009. Spektrofotometri. http://www.chem-is-try.org. diakses tanggal 8
November 2014.
BR. Basset, J. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC.
BS.Underwood, A. L. 1990. Analisis Kimia Kiantitatif Edisi ke Enam. Jakarta: Erlangga.

BT.
BU.
BV.
BW.
BX.
BY.
BZ.
CA.
CB.
CC.
CD.
CE.
CF.
CG.
CH.
CI.
CJ.
CK.
CL.
CM.
CN.
CO.
CP.
CQ.
CR.
CS.

CT. LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA


SPEKTROFOTOMETRI
CU. SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
(DOUBLE BEAM)
CV.

CW.

CX.

CY.

CZ.

DA. OLEH

DB.

DC. NAMA : ANNISA RAHMAH


DD. NIM : 1205690
DE. KELOMPOK : 2
DF. DOSEN : Dr. Budi Oktavia, S.si, M.si
DG.
DH.
DI. JURUSAN KIMIA
DJ. FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
DK. UNIVERSITAS NEGERI PADANG
DL. 2014
DM.
DN.
DO.