Anda di halaman 1dari 11

rekayasa ide himpunan dan logika

BAB I
PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa, logika, matematika, dan statistika adalah sarana yang mutlak diperlukan dalam suatu
kegiatan ilmiah (Suriasumantri, 1999:167).Bahasa merupakan alat komunikasi, logika
merupakan pola berpikir, matematika berperan dalam pola pikir deduktif, dan statistika berperan
dalam pola pikir induktif.Matematika adalah bahasa yang sangat simbolis (Kline dalam
Suriasumantri, 1983:174-184).Matematika menjembatani antara manusia dan alam, antara dunia
batin dan dunia lahir. Matematika adalah alat pikiran, bahasa ilmu, tata cara pengetahuan, dan
penyimpulan deduktif.
Pada tahun-tahun terakhir ini, lebih banyak prosedur matematika yang rumit digunakan
dalam berbagai cabang ilmu, seperti ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu ekonomi, ilmu kedokteran,
serta dalam jumlah yang semakin meningkat.Oleh karena itu, topik ini sangat membantu siswa
untuk meningkatkan berpikir secara kreatif dan dapat meningkatkan daya nalar siswa, serta dapat
juga diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.Disini guru berperan penting
dan harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitas, keaktifan, dan keterampilan
siswa dalam melakukan penalaran secara logis dan kritis.
1.2 Rumusan Masalah
1.Bagaimana Menentukan Benar Dan Salah Dalam Pernyataan?
2.Apa Saja Simbol Yang Melambangkan Pernyataan ?
3.Bagaimana Mengartikan Kembali Simbol Tersebut ?
4.Apa pengertian logika?

1.3 Tujuan Penelitian


1.Untuk Mengetahui Membedakan Sebuah Pernyataan
2.Untuk Dapat Membaca Simbol Dalam Sebuah Pernyaan
3.Untuk menganalisis soal
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TINJAUAN PUSTAKA

Logika adalah sesuatu yang berhubungan dengan metode berpikir yang merupakan suatu
pernyataan yang tidak dapat dibantah bahwa logika, penalaran dan argumentasi sering sekali
ditemukan bahkan digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Logika memberikan
aturan-aturan dan tekhnik untuk menentukan apakah suatu pernyataan yang diberikan adalah
valid, serta berpikir logis dan kritis yang digunakan dalam matematika untuk membuktikan suatu
teorema.Seperti, untuk menarik kesimpulan dalam Ilmu Pengetahuan Alam adalah dari suatu
eksperimen. Dalam logika kita tertarik pada benar atau salah dari suatu pernyataan, dan
bagaimana mencari kebenaran atau kesalahan dari suatu pernyataan yang dapat ditentukan dari
pernyataan-pernyataan lain dengan menggunakan penghubung logika sebagai pengganti dari
suatu pernyataan yang spesifik untuk menyajikan sebarang pernyataan-pernyataan, sehingga
hasilnya dapat digunakan dalam banyak kasus yang serupa.
Secara etimologis, logika berasal dari kata Yunani logos yang berarti kata, ucapan,
pikiran secara utuh atau bisa juga berarti ilmu pengetahuan (Kusumah, 1986). Dalam arti luas,
logika adalah suatu cabang ilmu yang mengkaji penurunan-penurunan kesimpulan yang shahih
(valid, correct) dan yang tidak shahih (tidak valid, incorrect). Proses berpikir yang terjadi di saat
menurunkan atau menarik kesimpulan dari pernyataan yang diketahui bernilai benar atau salah
disebut penalaran (reasoning).

2.2 Pernyataan
Unit terkecil yang berhubungan dengan logika adalah kalimat.Kalimat adalah susunan
kata-kata yang memiliki arti yang dapat berupa pernyataan, pertanyaan, perintah atau
permintaan.Kalimat-kalimat yang berhubungan dengan logika bukan sebarang kalimat,
melainkan kalimat-kalimat yang bernilai benar atau salah, namun bukan keduanya.Jenis kalimat
seperti itu disebut pernyataan atau statement.
Setiap pernyataan adalah sebuah kalimat, tetapi sebuah kalimat belum tentu
pernyataan.Hanya sebuah kalimat yang menerangkan sesuatu (kalimat deklaratif) yang dapat
digolongkan sebagai pernyataan karena memiliki nilai benar atau salah, namun bukan keduanya.
Jadi, pernyataan adalah sebuah kalimat deklaratif yang bernilai benar saja atau salah saja.
Istilah lain dari pernyataan adalah proposisi atau kalimat tertutup.
Suatu pernyataan (termasuk teori) tidak akan ada artinya jika tidak bernilai benar. Oleh
karena itu, untuk menjelaskan tentang kriteria kebenaran ini perhatikan kalimat berikut
p = Semua manusia akan mati.
q = Jumlah besar sudut-sudut segitiga adalah 180.
Pernyataan yang disajikan dengan huruf p, q, disebut sebagai variabel pernyataan
primitif yang dapat digabungkan dengan penghubung logika untuk memperoleh pernyataan
majemuk.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Suriasumantri (1988) menyatakan bahwa ada tiga
teori yang berkaitan dengan kriteria kebenaran ini., yaitu teori korespondensi, teori koherensi,
dan teori pragmatis. Namun, sebagian buku hanya membicarakan dua teori saja, yaitu yaitu teori
korespondensi (suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan yang terkandung di kalimat
tersebut sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya) dan teori koherensi (suatu kalimat akan
bernilai benar jika pernyataan yang terkandung di dalam kalimat itu bersifat koheren, konsisten,
dan tidak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar).
Sehingga, jawaban dari pernyataan p dan q sama-sama bernilai benar, namun dengan alasan yang
berbeda.

2.3 Penghubung Logika


2.3.1 Negasi (Ingkaran)
Negasi adalah ingkaran suatu pernyataan yang bernilai benar jika pernyataan yang semula
bernilai salah, dan sebaliknya ingkaran suatu pernyataan yang bernilai salah jika pernyataan yang
semula bernilai benar. Membuat sebuah ingkaran suatu pernyataan dapat dengan menambahkan
kalimat bukan, tidak, atau tidak benar bahwa di depan pernyataan aslinya, namun tidak
untuk pernyataan-pernyataan tertentu.
Contoh:
1. Jika p = Jakarta Ibu Kota RI (B)
Maka, p = Tidak benar bahwa Jakarta Ibu Kota RI (S)atau
p = Jakarta bukan Ibu Kota RI (S)
2. Jika q = 3 + 4 > 8 (S)
Maka, q = Tidak benar bahwa 3 + 4 > 8 (B) atau
q = 2 + 3 < 8 (B)
Berdasarkan contoh pernyataan diatas, maka dapat dibuat sebuah tabel kebenaran untuk
ingkaran, yaitu p p
B S
S B

2.3.2 Konjungsi (dan)


Konjungsi adalah dua buah pernyataan majemuk yang dihubungkan dengan dan serta
diberi symbol .Jika suatu pernyataan yang pertama bernilai benar, maka pernyataan yang
kedua juga benar.Dan sebaliknya, jika pernyataan yang pertama bernilai salah, maka pernyataan
yang kedua bernilai salah.
Contoh:
1. Jika r = Sholihuddin mahasiswa STKIP Sidoarjo
s = Sholihuddin mahasiswa Prodi Matematika
Maka, r s = Sholihuddin mahasiswa STKIP Sidoarjo dan Prodi Matematika
2. Jika x = Sholihuddin mahasiswa STKIP Sidoarjo
y = Nanang mahasiswa UIN Surabaya
Maka, x y = Sholihuddin mahasiswa STKIP Sidoarjo dan Nanang mahasiswa UIN Surabaya
Berdasarkan contoh pernyataan diatas, maka dapat dibuat sebuah tabel kebenaranuntuk
konjungsi, yaitu : p q pq
B B B
B S S
S B S
S S S

2.3.3 Disjungsi (atau)


Disjungsi adalah suatu pernyataan yang dihubungkan dengan atau yang akan bernilai
salah hanya jika komponen-komponennya, yaitu baik pernyataan pertama maupun pernyataan
kedua, keduanya bernilai salah, dan yang selain itu akan bernilai benar.
Berdasarkan pengertian diatas, dua buah pernyataan yang dihubungkan dengan atau
yang merupakan disjungsi dari kedua pernyataan semula, yaitu
a. Disjungsi inklusif yang diberi symbol V dan akan bernilai benar jika paling sedikit
komponennya bernilai benar
b. Disjungsi eksklusif yang diberi symbol V dan akan bernilai benar jika hanya salah satu
komponennya bernilai benar
Contoh:
1. Jika r = Aku tinggal di Indonesia
s = Aku belajar matematika sejak SMP
Maka, r V s = Aku tinggal di Indonesia atau belajar matematika sejak SMP
Pernyataan r V s akan bernilai benar jika Aku benar-benar tinggal di Indonesia atau Aku benar-
benar belajar matematika sejak SMP.
2. Jika r = Fahmi lahir di Surabaya
s = Fahmi lahir di Bandung
Maka, r V s = Fahmi lahir di Surabaya atau Bandung
Pernyataan r V s akan bernilai benar jika Fahmi benar-benar lahir di salah satu kota, yaitu
Surabaya atau Bandung, dan tidak di kedua tempat itu.
Berdasarkan pengertian dan contoh diatas, maka dapat dibuat sebuah tabel
kebenaranuntuk disjungsi, yaitu

P Q pVq p q pVq
B B B B B S
B S B B S B
S B B S B B
S S S
S S S

a. disjungsi inklusif b. disjungsi eksklusif

2.3.4 Kondisional (Implikasi atau Pernyataan Bersyarat)


Kondisional (implikasi) adalah pernyataan dalam matematika yang berbentuk jika p
maka p dan diberi simbol =>. Pernyataan p => q, p disebut hepotesa (anteseden) dan q
disebut konklusi (konsejuen) serta dapat dibaca sebagai:
a. Jika p maka p
b. p berimplikasi q
c. p hanya jika q
d. q jika p
e. q asal saja p
Implikasi p => q bernilai benar jika anteseden salah atau konsekuen benar.
Contoh:
1. Jika p = Burung mempunyai sayap (B)
q = 2 + 3 = 5 (B)
Maka, p => q = Jika burung mempunya sayap, maka 2 + 3 = 5 (B)
2. Jika r = x bilangan cacah (B)
s = x bilangan bulat positif (S)
Maka, r => s = Jika x bilangan cacah, maka x bilangan bulat positif (S)
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat dibuat sebuah tabel kebenaranuntuk implikasi,
yaitu P q p =>q
B B B
B S S
S B B
S S B

2.3.4.1 Konvers, Invers dan Kontraposisi


Suatu pernyataan bernilai benar jika hari hujan, Andi memakai jas hujan, maka itu tidak
berarti bahwa Andi memakai jas hujan jika hari hujan juga bernilai benar, sebab mungkin saja
Andi memakai jas hujan walapun hari tidak hujan. Demikian pula dengan pernyataan jika hari
tidak hujan, Andi tidak memakai jas hujan belum tentu bernilai benar, sedangkan pernyataan
jika Andi tidak memakai jas hujan, hari tidak hujan akan bernilai benar. Maka : a. Konvers dari
implikasi p => q adalah q => p
b. Invers dari implikasi p => q adalah p => q
c. Kontraposisi dari implikasi p => q adalah q => p
Sehingga, hubungan antara implikasi, konvers, invers, dan kontraposisi dapat ditunjukkan
dengan skema berikut ini:
q => p Konvers q => p

Invers Kontraposisi Kontraposisi Invers

q =>p Konvers q =>p

2.3.5 Bikondisional (Biimplikasi atau Pernyataan Bersyarat Ganda)


Bikondisional (biimplikasi) adalah suatu pernyataan matematika yang berbentuk p jika
dan hanya jika q dan diberi simbol juga disebut sebagai pernyataan biimplikatif.
p jika dan hanya jika q berarti jika p maka q dan jika q maka p, sehingga p adalah
syarat perlu dan cukup bagi q.
Pernyataan bikondisional bernilai benar hanya jika komponen-komponennya bernilai
benar.
Contoh:
1. Jika p = 2 adalah bilangan genap (B)
q = 3 adalah bilangan ganjil (B)
Maka, p q = 2 adalah bilangan genap jika dan hanya jika 3 adalah bilangan ganjil (B)
2. Jika r = 2 + 2 5 (B)
s = 4 + 4 < 8 (S)
Maka, r s = 2 + 2 5 jika dan hanya jika 4 + 4 < 8 (S)
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat dibuat tabel kebenaranuntuk biimplikasi, yaitu:

p Q pq
B B B
B S S
S B S
S S B
2.1 METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan kualitatif merupakan desain yang sangat alamiah,dalam arti
penelitian ini tidak berusaha memanipulasi setting penelitian,melainkan studi terhadap suatu
fenomena.
Alasan menggunakan metode penelitian kualitatif adalah berdasarkan pendapat Alsa
(2003) yaitu penelitian kualitatif umumnya dipakai apabila peneliti tertarik untuk memahami
suatu permasalahan.
Data yang muncul dalam penelitian kualitatif ini berbentuk angka, dan bukan rangkaian kata-
kata. Cara-cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data adalah dengan memberikan soal
kepada mahasiswa dan menjawab soal tersebut.

2.2 HASIL DAN PEMBAHASAN


Setelah melakukan penelitian,maka menerima hasil megenai logika pada kehidupan sehari-
hari yang sering kita temukan. Operasi ini ternyata dapat disajikan dalam bentuk kita pakai untuk
konsep ini. Misalnya untuk menjawab permasalahn berikut yang merupakan bentuk
pengaplikasiannya untuk menyelesaikan dengan mudah dan logis.
Pada kajian pustaka sudah jelas kita dapat melihat dari contoh-contoh yang diberikan tentang
logika matematika dan keterkaitan pernyataan tersebut pada kehidupan sehari-hari, jadi seluruh
pernyataan tentang logika matematika tersebut dapat dibuktikan dalam pernyataan yang
berkaitan dalam kehidupan sehari-hari.Dan bila dihubungkan dengan table kebenaran pun
pernyataan tersebut tetap sesuai dengan ketetapan yang ada pada logika matematika dan juga
keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari.Kelebihan dari ini adalah dapat membantu kita
menyelesaikan soal logika matematika yang dinyatakan dalam pernyataan biasa dan bukan
dengan symbol huruf.Kekurangannya adalah sulit unuk mengubah soal yang dalam bentuk
pernyataan menjadi symbol jika melibatkan banyak pernyataan.memangg sagat banyak contoh
logoika mata matematika dalam kehideupqan sehari hari akan tetapi di dalam pembahasan ini
akan di bahas bagaimana cara menentukan nilai keb enran itu dengan mudah
1 jika pake dan berarti berarti kita misalakan jelana dan baju maka jika pake baju dan jelana
adalah benar,jikia pake jelana tidak pake baju adalah salah,jika tidak pake baju dan pake jelana
adalah salah,berarti pemakean dan benar jika keduanya benar atau q dan p benar jika tidak
maka salah
2 pemakean atau ini kita misalakan ada 2 barang harus dipilih maka jika hanya bernilai
tidak dipilih duanya adalah salah atau p (s) dan q (s) berarti salah selain dari pernyataan itu
semua benar.
3 pemakean maka kita misalkan ini adalah pemberian hadia jika si anak juara maka si ibu
memberi hadiah dari pernyataan ini berarti jika di P salah terlebih dahulu adalah salah maka
selain itu semua benar

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Logika adalah sesuatu yang berhubungan dengan metode berpikir yang merupakan suatu
pernyataan yang tidak dapat dibantah bahwa logika, penalaran dan argumentasi sering sekali
ditemukan bahkan digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata
tiga teori yang berkaitan dengan kriteria kebenaran ini., yaitu teori korespondensi, teori
koherensi, dan teori pragmatis. Namun, sebagian buku hanya membicarakan dua teori saja, yaitu
yaitu teori korespondensi (suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan yang terkandung di
kalimat tersebut sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya) dan teori koherensi (suatu kalimat
akan bernilai benar jika pernyataan yang terkandung di dalam kalimat itu bersifat koheren,
konsisten, dan tidak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar). Sehingga, jawaban dari pernyataan p dan q sama-sama bernilai benar, namun dengan
alasan yang berbeda.

Daftar Pustaka

Seputro, Theresia M.H. Tirta. 1989. Pengantar Dasar Matematika (Logika dan Teori
Himpunan). Jakarta: Ikip Surabaya.

Markaban. 2004. Logika Matematika. Yogyakarta, (Online),


(http://p4tkmatematika.org/downloads/sma/logika.pdf, diakses 26 Januari 2015)

Suyitno, Hadi. 2008. Hubungan Antara Bahasa Dengan Logika dan Matematika Menurut
Pemikiran Wittenstein, (Online), Volume 20, (http://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-
humaniora/article/view/971/764, diakses 26 Januari 2015