Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

Tumor kolon dibagi menjadi dua secara garis besarnya tumor jinak dan
tumor ganas. Tumor jinak adalah pertumbuhan non-kanker yang tidak menyebar
pada bagian tubuh dan biasanya tifak membahayakan tubuh. Polip kolorektal
adalah tumor jinak yang paling umum terjadi di kolon.

Karsinoma kolon merupakan keganasan yang mengenai sel-sel epitel di


mukosa kolon. Dasar penting dari keganasan kolon ini adalah proses perubahan
secara genetik pada sel-sel epitel di mukosa kolon.

Gejala klinik karsinoma kolorektal tergantung dari lokasi tumor. Kanker


cecum dan kolon asenden biasanya tidak memberikan gejala obstruksi, sedangkan
kanker rekto sigmoid dapat menyumbat lumen atau berdarah.

Pemeriksaan radiologi untuk memeriksa adanya tumor kalon yaitu dengan


Ultrasonografi (USG), CT-Scan dan MRI, Foto Polos Abdomen Colon in Loop,
dan Kolonoskopi.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi Kolon

Gambar 1. Anatomi kolon

Gambar 2. Gambaran radiologi kolon

Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga


dengan panjang sekitar 1,5m yang terbentang dari caecum hingga

2
canalis analis. Diameter kolon yaitu sekitar 6,5cm, tetapi makin
dekat anus diameternya semakin kecil. Kolon terdiri dari 6 bagian
yaitu caecum, colon ascendens, colon transversum, colon
descendens, colon sigmoid dan rectum.
Colon ascendens panjangnya sekitar 13 cm, dimulai dari
caecum pada fossa iliaca dextra sampai flexura coli dextra pada
dinding dorsal abdomen sebelah kanan, terletak di sebelah ventral
ren dextra, hanya bagian ventral ditutup peritoneum visceral. Jadi
letak colon ascendens ini retroperitoneal, kadang kadang dinding
dorsalnya langsung melekat pada dinding dorsal abdomen yang
ditempati muskulus quadratus lumborum dan ren dextra.
Arterialisasi colon ascendens dari cabang arteri ileocolic dan arteri
colic dextra yang berasal dari arteri mesentrica superior.
Colon transversum panjangnya sekitar 38 cm, berjalan dari
flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Bagian kanan
mempunyai hubungan dengan duodenum dan pankreas di sebelah
dorsal, sedangkan bagian kiri lebih bebas. Flexura coli sinistra
letaknya lebih tinggi daripada yang kanan yaitu pada polus
cranialis ren sinistra, juga lebih tajam sudutnya dan kurang mobile.
Flexura coli dextra erat hubunganya dengan facies visceralis hepar
(lobus dextra bagian caudal) yang terletak di sebelah ventralnya.
Arterialisasi didapat dari cabang cabang arteri colica media.
Arterialisasi colon transversum didapat dari arteri colica media
yang berasal dari arteri mesenterica superior pada 2/3 proksimal,
sedangkan 1/3 distal dari colon transversum mendapat arterialisasi
dari arteri colica sinistra yang berasal dari arteri mesenterica
inferior.
Mesokolon transversum adalah duplikatur peritoneum yang
memfiksasi colon transversum sehingga letak alat ini
intraperitoneal. Pangkal mesokolon transversa disebut radix
mesokolon transversa, yang berjalan dari flexura coli sinistra
sampai flexura coli dextra. Lapisan cranial mesokolon transversa
ini melekat pada omentum majus dan disebut ligamentum gastro

3
(meso) colica, sedangkan lapisan caudal melekat pada pankreas
dan duodenum, didalamnya berisi pembuluh darah, limfa dan
syaraf. Karena panjang dari mesokolon transversum inilah yang
menyebabkan letak dari colon transversum sangat bervariasi, dan
kadangkala mencapai pelvis.
Colon descendens panjangnya sekitar 25 cm, dimulai dari
flexura coli sinistra sampai fossa iliaca sinistra dimana dimulai
colon sigmoideum. Terletak retroperitoneal karena hanya dinding
ventral saja yang diliputi peritoneum, terletak pada muskulus
quadratus lumborum dan erat hubungannya dengan ren sinistra.
Arterialisasi didapat dari cabang-cabang arteri colica sinistra dan
cabang arteri sigmoid yang merupakan cabang dari arteri
mesenterica inferior.
Colon sigmoideum mempunyai mesosigmoideum sehingga
letaknya intraperi toneal, dan terletak didalam fossa iliaca sinistra.
Radix mesosigmoid mempunyai perlekatan yang variabel pada
fossa iliaca sinistra. Colon sigmoid membentuk lipatan-lipatan
yang tergantung isinya didalam lumen, bila terisi penuh dapat
memanjang dan masuk ke dalam cavum pelvis melalui aditus
pelvis, bila kosong lebih pendek dan lipatannya ke arah ventral dan
ke kanan dan akhirnya ke dorsal lagi. Colon sigmoid melanjutkan
diri kedalam rectum pada dinding mediodorsal pada aditus pelvis
di sebelah depan os sacrum. Arterialisasi didapat dari cabang-
cabang arteri sigmoidae dan arteri haemorrhoidalis superior cabang
arteri mesenterica inferior. Aliran vena yang terpenting adalah
adanya anastomosis antara vena haemorrhoidalis superior dengan
vena haemorrhoidalis medius dan inferior, dari ketiga vena ini yang
bermuara kedalam vena porta melalui vena mesenterica inferior
hanya vena haemorrhoidalis superior, sedangkan yang lain menuju
vena iliaca interna. Jadi terdapat hubungan antara vena parietal
(vena iliaca interna) dan vena visceral (vena porta) yang penting
bila terjadi pembendungan pada aliran vena porta misalnya pada
penyakit hepar sehingga mengganggu aliran darah portal.

4
Mesosigmoideum mempunyai radix yang berbentuk huruf V dan
ujungnya letaknya terbalik pada ureter kiri dan percabangan arteri
iliaca communis sinistra menjadi cabang-cabangnya, dan diantara
kaki-kaki huruf V ini terdapat reccessus intersigmoideus.

Gambar: Lapisan otot dari kolon

Lapisan otot longitudinal kolon membentuk tiga buah pita,


yang disebut tenia (tenia; taenia = pita) yang lebih pendek dari
kolon itu sendiri sehingga kolon berlipat-lipat dan berbentuk
seperti sakulus (sakulus; saculus=saccus kecil; saccus=kantong),
yang disebut haustra (haustra; haustrum=bejana).
Kolon transversum dan kolon sigmoideum terletak
intraperitoneal dan dilengkapi dengan mesenterium.

II. Patofisiologi
Fungsi usus besar yaitu menyerap air, vitamin, dan
elektrolit, eksresi mukus, serta menyimpan feses, dan kemudian
mendorongnya keluar. Dari 700-1000 ml cairan usus halus yang
diterima oleh kolon, 150-200 ml sehari dikeluarkan sebagai feses.
Oksigen dan co2 didalamnya diserap diusus sedangkan nitrogen
bersama dengan gas hasil pencernaan dan peragian dikeluarkan

5
sebagai flatus.
Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang
berkembang dari polyp adenoma. Insidensi tumor dari kolon kanan
meningkat, meskipun umumnya masih terjadi di rektum dan kolon
sigmoid. Pertumbuhan tumor secara tipikal tidak terdeteksi,
menimbulkan beberapa gejala. Pada saat timbul gejala, penyakit
mungkin sudah menyebar kedalam lapisan lebih dalam dari
jaringan usus dan oragan-organ yang berdekatan. Kanker
kolorektal menyebar dengan perluasan langsung ke sekeliling
permukaan usus, submukosa, dan dinding luar usus. Struktur yang
berdekatan, seperti hepar, kurvatura mayor lambung, duodenum,
usus halus, pankreas, limpa, saluran genitourinary, dan dinding
abdominal juga dapat dikenai oleh perluasan. Metastasis ke
kelenjar getah bening regional sering berasal dari penyebaran
tumor. Tanda ini tidak selalu terjadi, bisa saja kelenjar yang jauh
sudah dikenai namun kelenjar regional masih normal. Sel-sel
kanker dari tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem
limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paru-
paru, otak, tulang, dan ginjal. Penyemaian dari tumor ke area lain
dari rongga peritoneal dapat terjadi bila tumor meluas melalui
serosa atau selama pemotongan pembedahan.
Awalnya sebagai nodul, kanker usus sering tanpa gejala
hingga tahap lanjut. Karena pola pertumbuhan lamban, 5 sampai
15 tahun sebelum muncul gejala.
Kanker kolon dan rectum terutama (95%) adenokarsinoma
(muncul dari lapisan epitel usus) dimulai sebagai polip jinak tetapi
dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal
serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat
terlepas dari tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain
(paling sering ke hati).

A. Tumor jinak
1. Adenoma
Tumor jinak sering terdapat pada kolon dan rektum.
Dapat dijumpai pada semua umur, tapi paling sering pada umur

6
dewasa. Dua pertiga terdapat pada kaum laki-laki. Adenoma
mungkin memegang peranan penting pada terjadinya
degenerasi maligna.

Patologi
Mungkin berbentuk tak bertangkai atau bertangkai,
licin atau vilous. Biasanya dengan diameter hanya beberapa
milimeter dan tak bertangkai. Yang terbesar berbentuk sferis.
Secara histopatologis berbentuk papiler atau vilous. Bentuk
villi ini biasanya tunggal dan letaknya di bagian distal dari
rectosigmoid junction.
Polip biasanya mempunyai dasar yang lebar tapi
lembek tanpa fiksasi. Permukaan berkeriput, halus lapisan
lendir. Pada pemeriksaan sigmoidoskopi dapat dengan mudah
dilihat bentuk polip tersebut. Demikian juga rectal toucher
dengan mudah dapat diraba karena lembek.
Rektal dan kolon adenoma dari kanak-kanak
berbeda dengan pada orang dewasa. Mempunyai stroma yang
berlebihan, bermacam-macam tingkatan, dengan infiltrasi sel-
sel inflamasi terutama sel-sel eosinofil, dan sering pula
terbentuk retensi kista. Bentuk adenoma ini tak jarang dijumpai
pada orang dewasa tak bisa pada ank-anak.

2. Familial Poliposis
Familial poliposis telah dilaporkan pertama kali oleh
LOCKHART MUMMENY pada tahun 1925. Penyakit ini
penting mengingat bahwa gejala-gejala yang diberikan adalah
berat dan sebagaimana biasanya mengalami degenerasi
maligna.

Patologi
Poliposis sebagai proliferasi epitel granuler membrana
mukosa dari kolon. Banyak terbentuk suatu polipoid tumor
kecil yang tak bertangkai. Pada waktu lahirnya kolon berbentuk
normal, dan tumor tersebut timbul pertama kali pada waktu
menginjak dewasa. Biasanya bersifat benigna, yang kemudian

7
mengalami degenerasi maligna. Bila telah berubah menjadi
maligna, maka tumor tumbuh menjadi besar dan berwarna
lebih gelap dan mungkin mengalami ulserasi.

B. Tumor-tumor ganas
1. Karsinoma dari kolon
Etiologi
Beberapa kelainan di kolon dapat menyebabkan
terjadinya karsinoma misalnya:
a. Ada kemungkinan besar tumor jinak di kolon dapat
mengalami degenerasi maligna, terutama dari bentuk
adenoma.
b. Familial polyposis
Telah diketahui merupakan kondisi premaligna. Menurut
catatan dari MORGAN 1955 70% dari poliposis akan
mengalami degenerasi maligna.

c. Kolitis ulserative
Kolitis ulserative sering juga menyebabkan terjadinya
karsinoma dari kolon, dan paling banyak terdapat di
segmen proksimal dari kolon.
d. Virus
MUELLER dkk. Pada pemeriksaan elektron mikroskop
menemukan 3 tipe yang tak biasanya yaitu
intracytoplasma particles. Satu atau lebih di antaranya
mempunyai substansia aktif atau virus degeneratif.
e. Herediter
MACKLIN (1956) menemukan pada anak yang berasal
dari orang tuanya yang menderita karsinoma intestinal
bahwa frekuensi 3 x lebih banyak dari pada anak-anak
yang orang tuanya sehat.

Patologi
Karsinoma dapat tumbuh pada tiap bagian dari kolon,
mungkin akan tumbuh lebih dari satu tempat. Menurut catatan
lokalisasi yang terbanyak yaitu rektosigmoid.
a. Lokalisasi

8
Menurut laporan MUR (1947) yang mengumpulkan
714 karsinoma dari kolon, ternyata bahwa 15% terdapat di
kolon asendens, 10% di sigmoid, sedang 58% terdapat di
rektum atau rektosigmoid. Dan BOCKUS memberikan
catatan bahwa 40,7% direktum, 20,4% di sigmoid, 11,4% di
kolon desendes, 5,5% di flesura lienalis, kolon transversum
5,7%, 2,4% di fleksura hepatis, 5,7% di kolon asendens dan
8,3% di sekum. Jadi frekuensi yang terbanyak di rektum
kemudian menyusul di daerah rectosigmoid junction,
kolon sigmoid, kemudian pada daerah kolon lain yang
kurang dengan urutan sekum dari kolon asendens, kolon
transversum, kolon desenndens fleksura hepatika, fleksura
lienalis.
b. Makroskopik
Karsinoma dari kolon dapat dibagi atas 4 tipe yaitu:
1. Noduler
Ini adalah suatu masa yang keras dan menonjol
ke dalam lumen, dengan permukaan yang noduler.
Biasanya tak bertangkai dan meluai ke dinding kolon.
Sering juga terjadi ulserasi, dengan dasar ulkus yang
nekrotik tapi yang menaik, menghalami indurasi dan
noduler. Di daerah sekum bentuk tumor ini mungkin
tumbuh menjadi fungoid atau tipe ensefaloid.
Permukaan ulkus akan mengeluarkan pus dan darah.
2. Koloid
Bentuk ini tumbuhnya mengalami degenerasi mukoid.
3. Skirous (Scirrhous)
Disini reaksi fibrous sangat banyak sehingga
terjadi pertumbuhan yang keras serta melingkari
dinding kolon sehingga terjadi konstriksi dari kolon
untuk membentuk napkin ring.
4. Papillari atau polipoid
Tipe ini merupakan pertumbuhan yang sering
berasal dari simpel papiloma atau adenoma.

c. Mikroskopik

9
Adenokarsinoma merupakan tumor terbanyak yang
berasal dari epitel kolon.
- Bentuk yang diferensiasinya sempurna mempunyai
struktur dari glandula dan kelenjar-kelenjar sendiri
membesar, terjadi pembengkakan sel kalumna, dengan
nuklei hiperkromasi. Banyak sel yang mengalami
mitose.
- Pada bentuk yang kurang diferensiasinya sel-sel epitel
terlihat di dalam kolumna atau masa.
Besarnya sel variabel dan mungkin terdapat invasi
dari pembuluh darah dan pembuluh limfe. Pertumbuhan
anaplastik acapkali terlihat segnet ring cell; inti mendesak
ke arah sel.
Berdasarkan besarnya diferensiasi sel, maka
BRODER 1920 membuat klasifikasi dalam 4 tingkat yaitu:
Grade I. Sel-sel anaplastik tak akan melebihi 25%
Grade II. Sel-sel anaplastik terdapat antara 25-50%
Grade III. Sel-sel anaplastik terdapat antara 50-75%
Grade IV. Sel-sel anaplastik terdapat lebih dari 75%

Disamping klasifikasi yang berdasar atas


diferensiasi sel maka juga dikenal klasifikasi DUKES yang
dibagi atas penyebaran sel karsinoma yaitu:
- Stadium I : Neoplasma masih terbatas pada
dinding rektum dan kolon.
- Stadium II : terdapat penyebaran kanker dinding
kolon tapi belum terjadi metastase ke kelenjar limfe.
- Stadium III : sudah terjadi metastase ke kelenjar
limfe regional.
- Stadium IV : terdapat metastase ke kelenjar limfe
yag agak berjauhan atau ke pleksus limfatikus dan ke
lain organ misalnya ke hepar, pulmo.

10
III. Penegakkan Diagnosa
Diagnosis karsinoma kolon ditegakkan melalui anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
labiratoris, radiologis dan histopatologi.
A. Anamnesis
Pada stadium dini, karsinoma kolon tidak memberikan
gejala. Gejala biasanya timbul saat perjalanan penyakit sudah
lanjut. Pasien dengan karsinoma kolon biasanya mengeluh rasa
tidak enak, kembung, tidak bisa flatus, sampai nyeri di perut.
Didapatkan juga perubahan kebiasaan buang air besar berupa diare
atau sebaliknya, obstipasi, kadang disertai darah dan lendir. Buang
air besar yang disertai dengan darah dan lendir biasanya
dikeluhkan oleh pasien dengan karsinoma bagian proksimal. Hal
ini disebabkan karena darah yang dikeluarkan oleh karsinoma
tersebut sudah bercampur dengan feses. Gejala umum lain yang
dikeluhkan oleh pasien berupa kelemahan, kehilangan nafsu makan
dan penurunan berat badan.
B. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik mungkin tidak banyak menolong dalam
menegakkan diagnosa. Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba
pada palpasi abdomen, bila teraba menunjukkan keadaan yang
sudah lanjut. Bila tumor sudah metastasis ke hepar akan teraba
hepar yang noduler dengan bagian yang keras dan yang kenyal.
Asites biasa didapatkan jika tumor sudah metastasis ke peritoneal.
Perabaan lomfinodi inguinal iliaka dan supraklavikular penting
untuk mengetahui ada atau tidaknya metastasis ke limfonodi
tersebut. Pada pasien yang diduga menderita karsinoma kolorektal
harus dilakukan rectal toucher. Bila letak tumor ada di rektum atau
rekto sigmoid, akan teraba massa maligna (keras dan berbenjol-
benjol dengan striktura) di rektum atau rektosigmoid teraba keras
dan kenyal. Biasanya pada sarung rangan akan terdapat lendir dan
darah.
C. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium tidak dapat menentukan
diagnosis. Walau demikian, setiap pasien yang mengalami

11
perdarahan perlu diperiksa kadar hemoglobin. Pemeriksaan
radiologis yang dapat dikerjakan berupa foto polos abdomen,
barium enema dan foto thoraks.
1. Pemeriksaan Laboratorium
Anemia dapat dibuktikan dengan pemeriksaan
laboratorium darah (hemoglobin dan hematokrit)
Tes darah samar pada feses
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen merupakan pemeriksaan awal
untuk melakukan pemeriksaan barium enema. Apabila pada
pemeriksaan foto polos abdomen ditemukan tanda-tanda
perforasi, maka pemeriksaan barium enema merupakan
kontra indikasi.
Foto polos abdomen sedapat mungkin dibuat pada
posisi tegak dengan sinar horizontal. Posisi supine perlu
untuk melihat distribusi gas, sedangkan di sikap tegak
untuk melihat batas udara-air dan letak obstruksi karena
massa.

Gambar: polos abdomen

12
Gambar:foto abdomen left lateral decubitus

Gambar: Foto polos abdomen-Left lateral decubitus


Pada foto BOF/LLD tampak adanya
peumoperitoneum (udara bebas diatas hepar pada foto
LLD) menunjukan adanya perforasi usus.
Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset
film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta
dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran
35 x 43 cm.
Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran step
ladder dan air fluid level pada foto polos abdomen dapat
disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi. Foto polos
abdomen mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada

13
obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas 84% pada
obstruksi kolon.
Pada foto polos abdomen dapat ditemukan
gambaran step ladder dan air fluid level terutama pada
obstruksi bagian distal. Pada kolon bisa saja tidak tampak
gas. Jika terjadi stangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat
gambaran berupa hilangnya mukosa yang reguler dan
adanya gas dalam dinding usus. Udara bebas pada foto
thoraks tegak menunjukkan adanya perforasi usus.
Penggunaan kontras tidak dianjurkan karena dapat
menyebabkan peritonitis akibat adanya perforasi.

b. Ultrasonografi (USG)
Terdapat struktur hiperechoic yang diproyeksikan
kedalam lumen dari kolon. Endorektal ultrasonografi dapat
digunakan untuk mendiagnosa carcinoma colon. Polip
dapat sukar untuk diidentifikasi pada USG diperoleh
dengan posisi supine, karena udara normalnya berkumpul
di anterior, sehingga menyebabkan distal bayangan akustik.
Tumor primer biasanya terlihat massa yang kurang echo
dengan pusat yang hiperechoic yang diketahui sebagai
target sign. Penemuan lain termasuk penebalan dinding
usus secara irregular terlokalisasi, contour yang irregular,
kurangnya peristaltic normal dan absens nya lapisan dari
dinding kolon

14
Gambaran USG

Gambaran: USG pada Polip Colon

c. Colon in loop
Tehnik yang sering digunakan adalah dengan memakai double kontras
barium enema, yang sensitifitasnya mencapai 90% dalam mendeteksi
polip yang berukuran >1 cm. Tehnik ini jika digunakan bersama-sama
fleksibel sigmoidoskopi merupakan cara yang hemat biaya sebagai
alternatif pengganti kolonoskopi untuk pasien yang tidak dapat
mentoleransi kolonoskopi, atau digunakan sebagai pemantauan jangka
panjang pada pasien yang mempunyai riwayat polip atau kanker yang
telah di eksisi. Risiko perforasi dengan menggunakan barium enema
sangat rendah, yaitu sebesar 0,02 %. Jika terdapat kemungkinan
perforasi, maka sebuah kontras larut air harus digunakan daripada
barium enema. Barium peritonitis merupakan komplikasi yang sangat
serius yang dapat mengakibatkan berbagai infeksi dan peritoneal
fibrosis. Tetapi sayangnya sebuah kontras larut air tidak dapat
menunjukkan detail yang penting untuk menunjukkan lesi kecil pada
mukosa kolon.

15
Gambar: polip pada barium enema

Gambar : Gambaran colon in loop

Gambar : Gambaran colon in loop

16
Gambar. Karsinoma kolon-apple core

Gambar. Barium enema

17
Gambar. Karsinoma kolon

18
19
Gambar. Colorecral canc

Gambaran Karsinoma Kolon dengan Colon in Loop


Karsinoma kolon secara radiologi member gambaran :
- Penonjolan ke dalam lumen (protruded lession)
Bentuk klasik tipe ini adalah polip. Polip dapat
bertangkai (pedunculated) dan tidak bertangkai
(sessile). Dinding kolon seringkali masih baik.
- Kerancuan dinding kolon (colonic wall deformity)
Dapat bersifat simetris (napkin ring) atau
asimetris (apple core). Lumen kolon sempit dan
irregular. Kerap kali hal ini sulit dibedakan dengan
colitis Crohn
- Kekakuan dinding kolon (rigidity colonic wall)

20
Bersifat segmental, terkadang mukosa masih
baik. Lumen kolon dapat tidak menyempit. Bentuk ini
sukar dibedakan dengan colitis ulseratif.

d. Endoskopi
Tes tersebut diindikasikan untuk menilai seluruh
mukosa kolon karena 3% dari pasien mempunyai synchronous
kanker dan berkemungkinan untuk mempunyai polip
premaligna.

Gambar : metode pemeriksaan endoscopy tumor kolon

Gambar : karsinoma kolon yang dilihat dengan pemeriksaan


endoskopi

21
e. Proktosigmoidoskopi

Pemeriksaan ini dapat menjangkau 20-25 cm dari linea dentata, tapi


akut angulasi dari rektosigmoid junction akan dapat menghalangi
masuknya instrumen. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi 20-25% dari
kanker kolon. Rigid proctosigmoidoskopi aman dan efektif untuk
digunakan sebagai evaluasi seseorang dengan risiko rendah dibawah
usia 40 tahun jika digunakan bersama sama dengan occult blood test.

Gambar : karsinoma kolon yang dilihat dengan sigmoidoskopi

f. Flexible Sigmoidoskopi

Flexible sigmoidoscopi dapat menjangkau 60 cm kedalam lumen


kolon dan dapat mencapai bagian proksimal dari kolon kiri. Lima
puluh persen dari kanker kolon dapat terdeteksi dengan
menggunakan alat ini. Flexible sigmoidoscopi tidak dianjurkan
digunakan untuk indikasi terapeutik polipektomi, kauterisasi dan
semacamnya; kecuali pada keadaan khusus, seperti pada ileorektal
anastomosis. Flexible sigmoidoscopi setiap 5 tahun dimulai pada
umur 50 tahun merupakan metode yang direkomendasikan untuk
screening seseorang yang asimptomatik yang berada pada tingkatan

22
risiko menengah untuk menderita kanker kolon. Sebuah polip
adenomatous yang ditemukan pada flexible sigmoidoscopi
merupakan indikasi untuk dilakukannya kolonoskopi, karena
meskipun kecil (<10 mm), adenoma yang berada di distal kolon
biasanya berhubungan dengan neoplasma yang letaknya proksimal
pada 6-10% pasien.

g. Kolonoskopi

Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh


mukosa kolon dan rectum. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya
dapat mencapai 160 cm. Kolonoskopi merupakan cara yang paling
akurat untuk dapat menunjukkan polip dengan ukuran kurang dari 1
cm dan keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi sebesar 94%, lebih
baik daripada barium enema yang keakuratannya hanya sebesar
67%.2 Sebuah kolonoskopi juga dapat digunakan untuk biopsi,
polipektomi, mengontrol perdarahan dan dilatasi dari striktur.
Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana
komplikasi utama (perdarahan, komplikasi anestesi dan perforasi)
hanya muncul kurang dari 0,2% pada pasien. Kolonoskopi
merupakan cara yang sangat berguna untuk mendiagnosis dan
manajemen dari inflammatory bowel disease, non akut divertikulitis,
sigmoid volvulus, gastrointestinal bleeding, megakolon non toksik,
striktur kolon dan neoplasma. Komplikasi lebih sering terjadi pada
kolonoskopi terapi daripada diagnostik kolonoskopi, perdarahan
merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi terapeutik,
sedangkan perforasi merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi
diagnostik.

23
Gambar : Metode pemeriksaan kolonoskopi

Gambar: Colon Normal

Gambar : Kolonoskopi dari karsinoma kolon

24
h. Imaging Tehnik
MRI, CT scan, transrectal ultrasound merupakan bagian dari tehnik
imaging yang digunakan untuk evaluasi, staging dan tindak lanjut
pasien dengan kanker kolon, tetapi tehnik ini bukan merupakan
screening tes.

a. CT scan
CT scan dapat mengevaluasi abdominal cavity dari pasien
kanker kolon pre operatif. CT scan bisa mendeteksi metastase ke
hepar, kelenjar adrenal, ovarium, kelenjar limfa dan organ
lainnya di pelvis. CT scan sangat berguna untuk mendeteksi
rekurensi pada pasien dengan nilai CEA yang meningkat setelah
pembedahan kanker kolon. Sensitifitas CT scan mencapai 55%.
CT scan memegang peranan penting pada pasien dengan kanker
kolon karena sulitnya dalam menentukan stage dari lesi sebelum
tindakan operasi. Pelvic CT scan dapat mengidentifikasi invasi
tumor ke dinding usus dengan akurasi mencapai 90 %, dan
mendeteksi pembesaran kelanjar getah bening >1 cm pada 75%
pasien.19 Penggunaan CT dengan kontras dari abdomen dan
pelvis dapat mengidentifikasi metastase pada hepar dan daerah
intraperitoneal.

25
Gambar : CT scan pelvis menunjukkan adanya tumor kolon
yang sudah metastasis pada hepar dan daerah
intraperitoneal

Gambar : CT scan pelvis yang menunjukkan adanya karsinoma


kolon

26
Gambar : CT scan pelvis yang menunjukkan adanya karsinoma
kolon

b. MRI

MRI lebih spesifik untuk tumor pada hepar daripada CT scan


dan sering digunakan pada klarifikasi lesi yang tak
teridentifikasi dengan menggunakan CT scan. Karena
sensifitasnya yang lebih tinggi daripada CT scan, MRI
dipergunakan untuk mengidentifikasikan metastasis ke hepar.

27
iv. Penatalaksanaan

Satu-satunya kemungkinan terapi kuratif adalah tindakan bedah.


Tujuan utama tindakan bedah adalah memperlancar saluran cerna baik bersifat
kuratif maupun non kuratif dengan mengangkat karsinoma dan kemudian
memulihkan kesinambungan usus. Kemoterapi dan radiasi bersifat paliatif dan
tidak memberikan manfaat kuratif. Tindakan bedah terdiri dari reseksi luas
karsinoma primer dan kelenjar limfe regional. Bila sudah terjadi metastase
jauh, tumor primer akan direseksi juga dengan maksud mencegah obstruksi,
perdarahan, anemia, inkontinensia, fistel dan nyeri.

A. Pembedahan

Pembedahan adalah satu satunya cara yang telah secara luas diterima
sebagai penanganan kuratif untuk kanker kolorektal. Pembedahan
kuratif harus mengeksisi dengan batas yang luas dan maksimal regional
lymphadenektomi sementara mempertahankan fungsi dari kolon
sebisanya. Untuk lesi diatas rektum, reseksi tumor dengan minimum
margin 5 cm bebas tumor. Pendekatan laparaskopik kolektomi telah
dihubungkan dan dibandingkan dengan tehnik bedah terbuka pada
beberapa randomized trial. Subtotal kolektomi dengan ileoproktostomi
dapat digunakan pada pasien kolon kanker yang potensial kurabel dan
dengan adenoma yang tersebar pada kolon atau pada pasien dengan
riwayat keluarga menderita kanker kolorektal. Eksisi tumor yang berada
pada kolon kanan harus mengikutsertakan cabang dari arteri media
kolika sebagaimana juga seluruh arteri ileokolika dan arteri kolika
kanan. Eksisi tumor pada hepatik flexure atau splenic flexure harus
mengikutsertakan seluruh arteri media kolika. Permanen kolostomi pada
penderita kanker yang berada pada rektal bagian bawah dan tengah
harus dihindari dengan adanya tehnik pembedahan terbaru secara

28
stapling. Tumor yang menyebabkan obstruksi pada kolon kanan
biasanya ditangani dengan reseksi primer dan anastomosis. Tumor yang
menyebabkan obstruksi pada kolon kiri dapat ditangani dengan
dekompresi. Tumor yang menyebabkan perforasi membutuhkan eksisi
dari tumor primer dan proksimal kolostomi, diikuti dengan
reanastomosis dan closure dari kolostomi.

B. Terapi Radiasi

Terapi radiasi merupakan penanganan kanker dengan


menggunakan x-ray berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker.
Terdapat dua cara pemberian terapi radiasi, yaitu dengan eksternal
radiasi dan internal radiasi. Pemilihan cara radiasi diberikan tergantung
pada tipe dan stadium dari kanker.
Eksternal radiasi (external beam therapy) merupakan penanganan
dimana radiasi tingkat tinggi secara tepat diarahkan pada sel kanker.
Sejak radiasi digunakan untuk membunuh sel kanker, maka dibutuhkan
pelindung khusus untuk melindungi jaringan yang sehat disekitarnya.
Terapi radiasi tidak menyakitkan dan pemberian radiasi hanya
berlangsung beberapa menit.
Internal radiasi (brachytherapy, implant radiation) menggunakan
radiasi yang diberikan ke dalam tubuh sedekat mungkin pada sel
kanker. Substansi yang menghasilkan radiasi disebut radioisotop, bisa
dimasukkan dengan cara oral, parenteral atau implant langsung pada
tumor. Internal radiasi memberikan tingkat radiasi yang lebih tinggi
dengan waktu yang relatif singkat bila dibandingkan dengan eksternal
radiasi, dan beberapa penanganan internal radiasi secara sementara
menetap didalam tubuh.

29
C. Adjuvant Kemoterapi

Kanker kolon telah banyak resisten pada hampir sebagian besar


agen kemoterapi. Bagaimanapun juga kemoterapi yang diikuti dengan
ekstirpasi dari tumor secara teoritis seharusnya dapat menambah
efektifitas dari agen kemoterapi. Kemoterapi sangat efektif digunakan
ketika kehadiran tumor sangat sedikit dan fraksi dari sel maligna yang
berada pada fase pertumbuhan banyak. Obat kemoterapi bisa dipakai
sebagai single agen atau dengan kombinasi, contoh : 5-fluorouracil
(5FU), 5FU + levamisole, 5FU + leucovorin. Pemakaian secara
kombinasi dari obat kemoterapi tersebut berhubungan dengan
peningkatan survival ketika diberikan post operatif kepada pasien tanpa
penyakit penyerta. Terapi 5FU + levamisole menurunkan rekurensi dari
kanker hingga 39%, menurunkan kematian akibat kanker hingga 32%.

1. Adjuvant Kemoterapi untuk Kanker Kolorektal Stadium II

Pemakaian adjuvant kemoterapi untuk penderita kanker


kolorektal stadium II masih kontroversial. Peneliti dari National
Surgical Adjuvant Breast Project (NSABP) menyarankan
penggunaan adjuvant terapi karena dapat menghasilkan
keuntungan yang meskipun kecil pada pasien stadium II kanker
kolorektal pada beberapa penelitiannya. Sebaliknya sebuah meta-
analysis yang mengikutkan sekitar 1000 pasien menunjukkan
perbedaan yang tidak bermakna pada 5-years survival rate sebesar
2%, antara yang diberi perlakuan dan yang tidak untuk semua
pasien stage II.

30
2. Adjuvant Kemoterapi untuk Kanker Kolorektal Stadium III

Penggunaan 5-FU + levamisole atau 5-FU + leucovorin


telah menurunkan insiden rekurensi sebesar 41% pada sejumlah
prospektif randomized trial. Terapi selama satu tahun dengan
menggunakan 5-FU + levamisole meningkatkan 5-year survival
rate dari 50% menjadi 62% dan menurunkan kematian sebesar
33%. Pada kebanyakan penelitian telah menunjukkan bahwa 6
bulan terapi dengan menggunakan 5-FU + leucovorin telah terbukti
efektif dan sebagai konsekuensinya, standar regimen terapi untuk
stage III kanker kolorektal adalah 5-FU + leucovorin.

3. Adjuvant Kemoterapi Kanker Kolorektal Stadium Lanjut

Sekitar delapan puluh lima persen pasien yang terdiagnosa


kanker kolorektal dapat dilakukan pembedahan. Pasien dengan
kanker yang tidak dapat dilakukan penanganan kuratif, dapat
dilakukan penanganan pembedahan palliatif untuk mencegah
obstruksi, perforasi, dan perdarahan. Bagaimanapun juga
pembedahan dapat tidak dilakukan jika tidak menunjukkan gejala
adanya metastase. Penggunaan stent kolon dan ablasi laser dari
tumor intraluminal cukup memadai untuk kebutuhan pembedahan
walaupun pada kasus asymptomatik.
Radiasi terapi dapat digunakan sebagai tindakan primer
sebagai modalitas penanganan untuk tumor yang kecil dan
bersifat mobile atau dengan kombinasi bersama sama kemoterapi
setelah reseksi dari tumor. Radiasi terapi pada dosis palliatif
meredakan nyeri, obstruksi, perdarahan dan tenesmus pada 80%
kasus. Penggunaan hepatic arterial infusion dengan 5-FU terlihat
meningkatkan tingkat respon, tetapi penggunaan ini dapat
mengakibatkan berbagai masalah termasuk berpindahnya kateter,

31
sklerosis biliaris dan gastrik ulserasi. Regimen standar yang
sering digunakan adalah kombinasi 5-FU dengan leucovorin,
capecitabine (oral 5-FU prodrug), floxuridine (FUDR), irinotecan
(cpt-11) dan oxaliplatin.

v. Diagnosis banding
1. Divertikulitis
Terutama divertikulitis yang terjadi di daerah sigmoid atau kolon
descendens, dimana pada kolon dan divertikulitis sama-sama
ditemukan feces yang bercampur dengan darah dan lendir.
2. Colitis Ulcerative
Pada colitis ulcerativa juga ditemukan feces yang berdarah dan
berlendir, tenesmus, mules dan nyeri perut. Tetapi pada colitis
ulserativa terdapat diare sedangkan pada tumor kolon biasanya
feces berbentuk kecil-kecil seperti kotoran kambing.
3. Appendicitis Infiltrat
Pada appendicitis infiltrat terasa nyeri dan panas yang mirip
dengan tumor sekum stadium lanjut (tumor sekum pada stadium
awal bersifat mobile).
4. Haemoroid
Pada haemoroid, feces juga bercampur darah namun pada
haemoroid darah keluar sesudah feces keluar baru kemudian
bercampur. Sedangkan pada tumor kolon darah keluar bersamaan
dengan feces.
5. Tumor Ovarium
Pada tumor ovarium dan tumor kolon kiri sama-sama sering
ditemukan gangguan konstipasi. Pada tumor ovarium, juga didapati
pembesaran abdomen namun tumor ini tidak menyebabkan
keluarnya darah bersama feces. Selain itu tumor ovarium
menyebabkan gangguan pada miksi berupa peningkatan frekuensi
di mana hal ini tidak dijumpai pada tumor kolon.

vi. Prognosis

32
Prognosis tergantung dari ada atau tidaknya metastasis jauh, yaitu
klasifikasi penyebaran tumor dan tingkat keganasan sel tumor. Bila disertai
dengan diferensiasi sel tumor buruk, prognosisnya sangat buruk.

DAFTAR PUSTAKA

33
1. Syamsuhidajat R, Jong Wim D,(eds). 2004. buku ajar Ilmu Bedah 2nd
ed. EGC: jakarta.

2. WHO. 2006. The Impact of Cancer, (Online),


(http://www.who.int /ncd_
surveillance/infobase/web/InfoBasePolicyMaker/reports/ReporterFull
View.aspx?id=5, diakses 16 september 2016).

3. Depkes. 2006. Deteksi Dini Kanker Usus Besar, (Online),


(http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/KankerUsus011106.ht
m, diakses 16 september 2016).

4. Syah E. 2002. Karsinoma Rekti. referat sub bagian bedah digestif:


jakarta.

5. Price SA, Wilson LM, 2013. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit. Jakarta:EGC. p.420

6. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I et al (eds). 2006. buku ajar Ilmu


Penyakit Dalam 4th Ed. Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

7. Rasad, siraj. 2008. Radiologi Diagnostik Edisi ketiga. Jakarta: Balai


Penerbit FKUI

34