Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Ginjal adalah organ vital yang mempunyai peran penting dalam mempertahankan
kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, dan
asam-asam dengan cara filtrasi darah, reabsorbsi selektif air, elektrolit, dan non elektrolit, serta
mengekskresi kelebihannya sebagai urin. Fungsi ekskresi ginjal seringkali terganggu diantaranya
oleh batu saluran kemih yang berdasarkan tempat terbentuknya terdiri dari nefrolitiasis,
ureterolitiasis, vesicolitiasis, batu prostat, dan batu uretra. Batu saluran kemih terutama dapat
merugikan karena obstruksi saluran kemih dan infeksi yang ditimbulkannya (de jong, 2004).
Obstruksi dapat menyebabkan dilatasi pelvis renalis maupun kaliks yang dikenal sebagai
hidronefrosis. Batu dapat menyebabkan kerusakan atau gangguan fungsi ginjal karena
menyumbat aliran urine. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, urin akan mengalir balik
kesaluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal
(hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal (Depkes, 2007). Pada umumnya
obstruksi saluran kemih sebelah bawah yang berkepanjangan akan menyebabkan obstruksi
sebelah atas. Jika tidak diterapi dengan tepat, obstruksi ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi
dan kerusakan struktur ginjal yang permanen, seperti nefropati obstruktif, dan jika mengalami
infeksi saluran kemih dapat menimbulkan urosepsis (Purnomo, 2011).
Proses ini umumnya berlangsung lama sekali. Tapi juga bias mendadak (akut) bila
sumbatan secara total. Kasus hidronefrosis semakin sering didapati. Di Amerika Serikat,
insidensinya mencapai 3,1 %, 2,9 % pada wanita dan 3,3 % pada pria. Penyebabnya dapat
bermacam macam dimana obstruksi merupakan penyebab yang tersering (Rahmani, 2010).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Traktus Urinarius


o Traktus urinarius adalah sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah(sehingga
darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh) dan menyerap zat-zat
yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidakdipergunakan lagi oleh tubuh
larut dalam air dan dikeluarkan dari tubuh berupa urin(air kemih).
o Traktus urinarius memiliki fungsi:
1. Keseimbangan transportasi air dan zat terlarut
2.Mensekresi hormon yang membantu mengatur tekanan darah, erithropoietin dan
metabolisme kalsium
3.Menyimpan nutrient
4.Ekskresi zat buangan
5.Mengatur keseimbangan asam basa
6.Membentuk urin
Sistem kemih terdiri dari saluran kemih atas ( sepasang injal dan ureter ) dan saluran kemih
bawah ( kandung kemih dan uretra )
2.1.1 Saluran kemih atas
o Ginjal
Organ yang berbentuk seperti kacang, terdapat sepasang (masing-masing satu di sebelah
kanan dan kiri vertebra) dan posisinya retroperitoneal. Ginjal kanan terletak sedikit lebih
rendah (kurang lebih 1 cm) dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan adanya hati yang
mendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga 11 (vertebra
T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga 11 atau iga 12. Adapun
kutub bawah ginjal kiri adalah processus transversus vertebra L2 (kira-kira 5 cm dari
krista iliaka) sedangkan kutub bawah ginjal kanan adalah pertengahan vertebra L3.

Dari batas-batas tersebut dapat terlihat bahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah
dibandingkan

ginjal

kiri.

Syntopi ginjal
Ginjal kiri
Anterior

Ginjal kanan

Dinding dorsal gaster Pankreas Lobus kanan hati Duodenum


Limpa

pars descendens

Vasa lienalis

Fleksura hepatica

Usus halus

Usus halus

Fleksura lienalis
Posterior

Diafragma, m.psoas major, m. quadratus lumborum, m.


transversus abdominis(aponeurosis), n.subcostalis,
n.iliohypogastricus, a.subcostalis, aa.lumbales 1-2(3), iga 12
(ginjal kanan) dan iga 11-12 (ginjal kiri).

Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:

o Korteks
yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari korpus renalis/Malpighi
(glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus
distalis.
o Medula
terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus, lengkung Henle dan
tubukus pengumpul (ductus colligent).

o Columna renalis

bagian korteks di antara pyramid ginjal


o Processus renalis
bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah korteks
o Hilus renalis
yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf atau duktus
memasuki/meninggalkan ginjal.
o Papilla renalis
bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpul dan calix minor.
o Calix minor
percabangan dari calix major.
o Calix major
percabangan dari pelvis renalis.
o Pelvis renalis
disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara calix major dan ureter.
o Ureter
saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria
o Fungsi ginjal :
a)

memegang peranan penting dalam pengeluaran racun,

b)

mempertahankan keseimbangan cairan tubuh,

c)

mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan

d)

mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.

e)

Mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan tulang.

f)

Produksi hormon yang mengontrol tekanan darah.

g)

Produksi Hormon Erythropoietin yang membantu pembuatan sel darah merah.

Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan ginjal (filtrasi,
reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter yang
terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk setiap ginjal.
Syntopi ureter

Anterior

Ureter kiri

Ureter kanan

Kolon sigmoid a/v. colica

Duodenum pars descendens

sinistra

Ileum terminal

a/v. testicularis/ovarica

a/v. colica dextra


a/v.ileocolica
mesostenium

Posterior

M.psoas major, percabangan a.iliaca communis


Laki-laki: melintas di bawah lig. umbilikal lateral dan ductus
deferens Perempuan: melintas di sepanjang sisi cervix uteri dan
bagian atas vagina

Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan m.psoas major, lalu
menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis. Ureter berjalan secara postero-inferior
di dinding lateral pelvis, lalu melengkung secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria.
Adanya katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung kemih.
Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaitu peralihan pelvis renalisureter, fleksura marginalis serta muara ureter ke dalam vesica urinaria. Tempat-tempat seperti ini

sering terbentuk batu/kalkulus.


Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca communis,
a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan persarafan ureter melalui segmen T10L1 atau L2 melalui pleksus renalis, pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior dan
inferior.

2.1.2 Saluran kemih bawah


Vesica urinaria
sering disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan tempat untuk menampung urine yang
berasal dari ginjal melalui ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan
eksternal tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria terletak di lantai pelvis
(pelvic floor), bersama-sama dengan organ lain seperti rektum, organ reproduksi, bagian usus
halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik dan saraf.
Syntopi vesica urinaria
Vertex

Lig. umbilical medial

Infero-lateral

Os. Pubis, M.obturator internus, M.levator ani

Superior

Kolon sigmoid, ileum (laki-laki), fundus-korpus uteri, excav.


vesicouterina (perempuan)

Infero-posterior

Laki-laki: gl.vesiculosa, ampula vas deferens,rektum Perempuan: korpuscervis uteri, vagina

Dalam keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atas tiga bagian yaitu
apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan (superior dan inferolateral
dextra dan sinistra) serta empat tepi (anterior, posterior, dan lateral dextra dan sinistra). Dinding
vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor (otot spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum
vesicae pada bagian posteroinferior dan collum vesicae. Trigonum vesicae merupakan suatu
bagian berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan collum vesicae,

bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak memiliki rugae walaupun dalam keadaan kosong.
Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior. Namun pada perempuan,
a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis. Sedangkan persarafan pada vesica urinaria terdiri
atas persarafan simpatis dan parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor,
n.splanchnicus imus, dan n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun persarafan parasimpatis
melalui n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan motorik.

Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju lingkungan
luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki
panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar
prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria memiliki dua
otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat
involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan
pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat
volunter). Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars
membranosa dan pars spongiosa.

Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan aspek superior
kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m. sphincter urethrae internal yang berlanjut
dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh persarafan simpatis.
Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus kelenjar prostat. Bagian
ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar dibanding bagian lainnya.
Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan tersempit. Bagian ini
menghubungkan dari prostat menuju bulbus penis melintasi diafragma urogenital.
Diliputi otot polos dan di luarnya oleh m.sphincter urethrae eksternal yang berada di bawah
kendali volunter (somatis).

Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang, membentang dari pars
membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh korpus
spongiosum di bagian luarnya.

Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm) dibanding uretra pada pria.
Setelah melewati diafragma urogenital, uretra akan bermuara pada orifisiumnya di antara klitoris
dan vagina (vagina opening). Terdapat m. spchinter urethrae yang bersifat volunter di bawah
kendali somatis, namun tidak seperti uretra pria, uretra pada wanita tidak memiliki fungsi
reproduktif.

2.2

Hidronefrosis

2.2.1

Definisi

Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua ginjal akibat
adanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik sehingga tekanan di
ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih tekanan balik akan
mempengaruhi kedua ginjal, tetapi kalau obtruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu
atau kekakuan, maka hanya satu ginjal saja yang rusak (Brunner & Suddarth, 2002).
Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih
dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan ureter yang dapat
mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal (Price Sylvia A, 2005).
Dari kedua pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa hidronefrosis adalah bendungan
dalam ginjal yang di sebabkan oleh obtruksi yang terdapat pada ureter yang di sebabkan karena
adanya batu ureter, sehingga terjadi tekanan balik ke ginjal.

2.2.2

Etiologi

Jaringan parut ginjal / ureter.

Batu

Neoplasma / tumor

Hipertrofi prostat

Kelainan konginetal pada leher kandung kemih dan uretra

Penyempitan uretra

Pembesaran uterus pada kehamilan (Smeltzer dan Bare, 2002).

2.2.3

Patofisiologi

Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga tekanan di
ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan balik akan
mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu
atau kekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak.
Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu renal yang terbentuk di piala
ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya. Obstruksi dapat diakibatkan oleh tumor yang
menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses atau inflamasi dekat ureter dan menjepit
saluran tersebut. Gangguan dapat sebagai akibat dari bentuk abnormal di pangkal ureter atau
posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan ureter berpilin atau kaku. Pada pria lansia ,
penyebab tersering adalah obstruksi uretra pada pintu kandung kemih akibat pembesaran prostat.
Hidronefrosis juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran uterus.

Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan distensi
piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu ginjal sedang
mengalami kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar secara bertahap
(hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu.

2.2.4

Manifestasi klinis

Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksi akut dapat
menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadi infeksi maja disuria,
menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi. Hematuri dan piuria mungkin
juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan muncul,
seperti:

Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium).

Gagal jantung kongestif.

Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).

Pruritis (gatal kulit).

Butiran uremik (kristal urea pada kulit).

Anoreksia, mual, muntah, cegukan.

Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang.

Amenore, atrofi testikuler.


(Smeltzer dan Bare, 2002)

2.2.5

Diagnosis
Diagnosa Penyakit Hidronefrosis bisa merasakan adanya massa di daerah antara tulang

rusuk dan tulang pinggul, terutama jika ginjal sangat membesar. Pemeriksaan darah bisa
menunjukkan adanya kadar urea yang tinggi karena ginjal tidak mampu membuang limbah
metabolik ini.

Beberapa prosedur digunakan utnuk mendiagnosis hidronefrosis:

USG, memberikan gambaran ginjal, ureter dan kandung kemih

Urografi intravena, bisa menunjukkan aliran air kemih melalui ginjal

Sistoskopi, bisa melihat kandung kemih secara langsung.

Gambaran radiologi
Gambaran radiologis dari hidronefrosia terbagi berdasarkan gradenya. Ada 4 grade
hidronefrosis, antara lain :
a. Hidronefrosis derajat 1. Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi kaliks. Kaliks berbentuk blunting,
alias tumpul.
b. Hidronefrosis derajat 2. Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor. Kaliks berbentuk flattening,
alias mendatar.
c. Hidronefrosis derajat 3. Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Tanpa adanya
penipisan korteks. Kaliks berbentuk clubbing, alias menonjol.
d. Hidronefrosis derajat 4. Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Serta adanya
penipisan korteks Calices berbentuk ballooning alias menggembung.
2.2.6

Penatalaksanaan
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari hidronefrosis

(obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal.


Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau tipe
disertasi lainnya. Infeksi ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan
menyebabkan infeksi dan pielonefritis.
Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor, obstruksi
ureter). Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan hancur maka nefrektomi (pengangkatan
ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer dan Bare, 2002).

Pada hidronefrosis akut:

Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeri yang hebat, maka air kemih yang
terkumpul diatas penyumbatan segera dikeluarkan (biasanya melalui sebuah jarum yang
dimasukkan melalui kulit).

Jika terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau terdapat batu, maka bisa dipasang kateter
pada pelvis renalis untuk sementara waktu.
Pada Hidronefrosis kronis :
Diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi penyumbatan air kemih. Ureter yang
menyempit atau abnormal bisa diangkat melalui pembedahan dan ujung-ujungnya disambungkan
kembali. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa.
Jika sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka dilakukan pembedahan untuk
melepaskan ureter dan menyambungkannya kembali di sisi kandung kemih yang berbeda.
Jika uretra tersumbat, maka pengobatannya meliputi: terapi hormonal untuk kanker
prostat adalah dengan pembedahan dan melebarkan uretra dengan dilator

2.3
2.3.1

Nefrolithiasis
Definisi

Nefrolithiasis adalah keadaan yang ditandai dengan adanya batu ginjal (renal kalkuli). Ne
frolithiasis merupakan penumpukan garam mineral berupa kalsium oksalat, kalsium fosfat,asam
urat dan lain-lain yang terdapat pada di kaliks atau pelvis dan bila akan keluar dapat berhenti di
ureter.
2.3.2

Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran

urin,gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang
masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis, terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang
berasal daritubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan
disekitarnya.
Faktor intrinsik itu antara lain :
1) Herediter (keturunan). Penyakit ini diduga diturunkan dari orangtuanya
2) Umur: Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
3) Jenis kelamin Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan.
Beberapa faktor ekstrinsik diantaranya:
1)Geografi: Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang
lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu).
2 ) Iklim dan temperatur tinggi
3) Asupan air. Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi,dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.d)
4 )Faktor Diet. Diet tinggi purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit
batu salurankemih.
5 )Pekerjaan. Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya hanya duduk
atau kurang aktifitas
2.3.3

Jenis Batu Ginjal


a. Batu kalsium

Batu jenis ini paling banyak dijumpai, yaitu 70-80% dari seluruh batu saluran
kemih,yaitu terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campuran dari kedua unsur
itu.
Faktor terjadinya batu kalsium adalah Hiperkalsiuri, yaitu kadar kalsium di dalam urin
lebih besar dari 250-300 mg/24 jam.Terdapat 3 macam penyebab terjadinya hiperkalsiuri, antara
lain:
3

Hiperkalsiuri absorbtif yang terjadi karena adanya peningkatan absorbsi kalsium melalui

usus.
Hiperkalsiuri renal terjadi karena adanya gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium

melalui tubulus ginjal


Hiperkalsiuri resorptif terjadi karena adanya peningkatan resorbsi kalsium tulang yang
banyak terjadi pada hiperparatiroidisme primer atau pada tumor paratiroid.
Hiperoksaluri adalah ekskresi oksalat urine yang melebihi 45 gram per hari. Keadaan ini

banyak dijumpai pada pasien yang mengalami gangguan pada usus sehabis menjalani
pembedahan usus dan pasien yang banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan oksalat ( teh,
kopi instan, soft drink , sayuran berwarna hijau).
Hiperurikosuria adalah kadar asam urat di dalam urine yang melebihi 850 mg/24
jam.Asam urat yang berlebihan dalam urine bertindak sebagai inti batu untukterbentuknya batu
kalsium oksalat. Sumber asam urat di dalam urine berasal darimakanan yang mengandung
banyak purin maupun berasal dari metabolism endogen.
Hipositraturia. Di dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsiumsitrat,
sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Hal inidimungkinkan karena
ikatan kalsium sitrat lebih mudah larut dalam kalsium oksalat.Oleh karena itu sitrat dapat
bertindak sebagai penghambat pembentukan batu kalsium.
Hipomagnesuria.

Seperti

halnya

pada

sitrat,

magnesium

bertindak

sebagai penghambat timbulnya batu kalsium, karena di dalam urine, magnesium bereaksidenga
oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan kalsium dengan oksalat.

Penyebab tersering hipomagnesuria adalah penyakit inflamasi usus yang diikuti dengan
gangguan malabsorbsi.

b. Batu Struvit
Terbentuknya

batu

ini

disebabkan

oleh

adanya

infeksi

saluran

kemih.

Kuman penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea yang dapat menghasilkanenzi
m urease dan mengubah urin menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak.
Suasana basa ini yang memudahkan garam-garam magnesium, ammonium, fosfat dan karbonat
membentuk batu magnesium ammonium fosfat dan karbonat apatit, yang dikenal sebagai triple
phosphate.
Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea adalah Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Stafilokokus
c. Batu Asam Urat
Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih. Di antara 75-80%
batu asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya merupakan campuran kalsium oksalat.
Penyakit

batu

asam

urat

banyak

diderita

oleh

pasien

gout, penyakit mieloproloferatif, pasien yang mendapatkan terapi antikanker, dan yang
menggunakan obat urikosurik seperti thiazide, sulfinpirazone, dan salisilat. Kegemukan,alkohol,
dan diet tinggi protein mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penyakit ini.
Sumber asam urat berasal dari diet yang mengandung purin dan metabolismendogen di
dalam tubuh. Degradasi purin di dalam tubuh melalui asam inosinat dirubahmenjadi hipoxantin.
Dengan bantuan enzim xanthin oksidase, hipoxanthin dirubahmenjadi xanthin yang akhirnya
dirubah menjadi asam urat.
Asam urat tidak larut dalam urine sehingga pada keadaan tertentu mudah sekali
membentuk Kristal asam urat, danselanjutnya membentuk batu asam urat. Faktor yang
menyebabkan terbentuknya batu asam urat :
(1) urine yang terlalu asam (pH urine <6)

(2) volume urine yang jumlahnya sedikit (<2 liter/hari) atau dehidrasi
(3) hiperurikosuri atau kadar asamurat yang tinggi.
Batu Jenis Lain
Batu sistin, batu xanthin, batu triamteren, dan batu silikat sangat jarang dijumpai..
2.3.4

Patofisisologi
Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada tempat-

tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (statis urine), yaitu pada sistem kalises
ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pevikalises ( stenosis-urethra
pelvis) divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostat benigna,striktura,
dan buli-buli neurogenik merupakan

keadaan-keadaan yang

memudahkan terjadinya

pembentukan batu.
Mekanisme pembentukan batu dapat dibagi menjadi 3 tahap :
(a) kejenuhan urin
(b) adanya kondisi yang memungkinkan terjadinya nukleasi
(c) adanya inhibitor.
Dalam pembentukan batu,urin yang jenuh merupakan suatu prasyarat absolut untuk
pengendapan

kristal.

Semakin besar konsentrasi dari ion-ion, semakin mudah ion-

ion tersebut mengendap. Konsentrasiion yang rendah menimbulkan keadaan


Undersaturation dan peningkatan kelarutan.Seiring dengan peningkatan konsentrasi ion,
suatu saat ion-ion tersebut akan mencapaisatu titik yang disebut solubility product.
Konsentrasi di atas titik ini disebut keadaan metastable dan berpotensi untuk memulai
pembentukan endapan. Ketika konsentrasi larutan menjadi semakin tinggi, ion-ion akan
mencapai formation product.
Tingkat

kejenuhan

di

atas ini

disebut

keadaan

unstable

,dan

dapat

terjadi pembentukan endapan secara spontan. Endapan ini tersusun atas kristal-kristal yangterdiri
dari bahan-bahan organik dan non-organik yang terlarut dalam urin. Kristal-kristal tersebut
berada dalam keadaan metastable (tetap larut) dalam urin jika tidak ada keadaan
tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal ini saling mengadakan

presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan menjadi agregasi, dan menarik
bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar.Agregat kristal menempel pada epitel
saluran kemih (membentuk retensi kristal), dan bersama bahan lain diendapkan pada agregat itu
sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih.
Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada di kaliks , infundibulum, pelvis
ginjal, dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal. Batu yangmengisi pielum dan
labih dari dua kaliks ginjal memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu
staghorn
2.3.5

Manifestasi Klinis
Nefrolithiasis jarang menimbulkan

gejala, kalaupun

ada batu

pada kaliks ginjal

memberikan rada nyeri ringan sampai berat karena distensi dari kapsul ginjal. Begitu
juga baru pada pelvis renalis, dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Batu
yang ukurannya kecil (<5 mm) pada umumnya dapat keluar spontan dan tidak menimbulkan
nyeri. Nyeri baru timbul ketika ukuran batu ginjal yang lebih besar dari 5mm memasuki ureter
(uretherolithiasis) dan menimbulkan obstruksi kronik berupa hidroureter/hidronefrosis Keluhan
yang

paling

dirasakan

oleh

pasien

adalah

nyeri

pada pinggang. Nyeri ini mungkin bisa merupakan nyeri kolik ataupun bukan kolik. Nyerikolik
terjadi karena aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun uretermeningkat dalam usaha
untuk

mengeluarkan

batu

dari

saluran

kemih.

Peningkatan peristaltik itu menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat sehingga terjadi per
egangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri. Nyeri ini disebabkan oleh karena
adanya batu yang menyumbat saluran kemih, biasanya pada pertemuan pelvis rendengan ureter
(ureteropelvic junction), dan ureter.
Nyeri bersifat tajam dan episodik didaerah pinggang (flank) yang sering menjalar ke
perut, atau lipat paha, bahkan pada batu ureter distal sering ke kemaluan. Mual dan muntah
sering menyertai keadaan ini.
Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi hidronefrosis atau
infeksi pada ginjal. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok pada daerah kosto-

vertebra, teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis, terlihat tanda-tanda gagal ginjal,
retensi urine, dan jika disertai infeksi didapatkan demam-menggigil.
2.3.6

Pemeriksaan Fisik

Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, pada didapatkan nyeri ketok pada daerah
kostovertebra (CVA), dapat disertai takikardi, berkeringat, dan nausea.
Teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis. Terlihat tanda gagal ginjal dan retensi urin, jika
disertai infeksi didapatkan demam dan menggigil.
Selain itu, dapat pula dilakukan pengkajian :
a) Aktivitas istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajang pada lingkungan bersuhu
tinggi. Keterbatasan aktivitas/ immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
b) Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal jantung). Kulit hangat dan
kemerahan, pucat.
c) Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus), penurunan volume
urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuria, dan perubahan pola berkemih
d) Makanan/cairan
Gejala : mual/muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat, danatau
fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup.
Tanda : distensi abdominal, penurunan atau tak adanya bising usus, dan muntah.

2.3.7

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan pada kasus batu ginjal adalah adalah

foto polos abdomen, USG abdomen, CT-scan.

Dari

pemeriksaan radiologi

dapat menentukan jenis batu, letak batu, ukuran, dan keadaan anatomi traktus urinarius. Secara
radiologi, batu dapat berupa radio-opak dan radio-lusen
o Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radio-opak
di saluran kemih.

Batu jenis

kalsium oksalat

dan kalsium

fosfat bersifat radio-

opak dan paling sering dijumpai di antara batu jenis lain. Batu Magnesium Ammoniak Phospat

(MAP) memberikan gambaran semi-opak.Sedangkan batu asam urat, batu matriks dan indinivar
bersifat radio-lusen.

Pielografi Intra Vena (IVP)

Pemeriksaan

ini

untuk

menilai

anatomi

dan

fungsi

ginjal

, selain

itu IVP juga dapat mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu non-opak yang tidak dapat
terlihat oleh foto polos abdomen.

Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga adanya
batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan tertentu terkadang batu terletak di depan
bayangan tulang,sehingga dapat luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto polos sering perlu
ditambah

foto

pielografi

intravena

(PIV/IVP).

Pada

batu

radiolusen,

foto

dengan bantuan kontras akan menyebabkan defek pengisian (filling defect) di tempat batu
berada.
Yang menyulitkan adalah bila ginjal yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga
kontras ini tidak muncul. Dalam hal ini perlu dilakukan pielografiretrograd

USG

USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada
keadaan-keadaan : alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun,dan pada wanita yang
sedang hamil.
Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batudi ginjal atau di buli-buli yang ditunjukkan
dengan echoic shadow, hidronefrosisdengan gambaran dilatasi pelvis dan kaliks ginjal,
pionefrosis, atau pengerutan ginjal. USG dapat mendeteksi adanya batu dan dilatasi sistem
kollektivus.

Pemeriksaan laboratorium
(1) Urine analisis, volume urine, berat jenis urine, protein, reduksi, dan
sediment.Bertujuan menunjukkan adanya leukosituria, hematuria, dan dijumpai
kristal-kristal pembentuk batu.

(2) Urine kultur meliputi: mikroorganisme adanya pertumbuhan kuman pemecah


urea, sensitivity test
(3) Pemeriksaan darah lengkap
(4) Pemeriksaan kadar serum elektrolit, ureum, kreatinin, penting untuk menilai
fungsiginjal, untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan foto IVU
2.3.8

Diagnosis Banding
Infeksi Saluran Kemih (ISK )
Kolelithiasis
Ginjal kanan yang mengecil

2.3.9 Penatalaksanaan
2.3.9.1 Medikamentosa
Terapi ini ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm, karena diharapkan
batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan mengurangi nyeri, memperlancar
aliran urin dengan pemberian diuretikum, dan minum banyaksupaya dapat mendorong keluar
batu saluran kemih.

b. Intervensi bedah ESWL (Extracorporal Shock Wave Lithotrypsi)


Teknik ini menggunakan getaran yang dapat memecah batu ginjal menjadi fragmenfragmen kecil sehingga mudah keluar melalui saluran kemih tanpa melalui tindakan invasif dan
tanpa pembiusan.
c. PNL (Percutaneus Litholapaxy)
Usaha mengeluarkan batu dengan memasukkan alat endoskopi ke sistemkalises melalui
insisi kulit. Batu kemudian dikelaurkan dengan memecah terlebihdahulu menjadi fragmenfragmen kecil.
d. Bedah laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kenih saat ini sedang
berkembang. cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.

e. Bedah terbuka
Di klinik-klinik yang belum memiliki fasilitas endourologi, laparaskopi,maupun ESWL,
pengambilan batu dilakukan dengan bedah terbuka, antara lain: pielolitotomi dan nefrolitotomi
untuk mengambil batu di ginjal dan ureter.
2.3.10 Komplikasi
Batu ginjal yang hanya menimbulkan keluhan nyeri kolik renal mungkin tidakmengalami
masalah setelah nyeri berhasil diatasi. Apabila batu tersebut menyababkan sumbatan atau infeksi.
Sumbatan ini dapat menetap dan batu berisiko menyebabkan gagal ginjal.
2.3.11 Prognosis
Prognosis tergantung pada besar batu, letak batu, adanya infeksi, dan adanya obstruksi.
2.3.12 Pencegahan
Pencegahan berupa: menghindari dehidrasi dengan minum cukup air 2-3 liter perhari, diet
rendah protein, rendah oksalat, rendah garam, rendah purin untuk mengurangikadar zat
komponen pembentuk batu, aktivitas harian yang cukup, dan pemberian medikamentosa.

LAPORAN KASUS
I.

Identitas Pasien

II.

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
No. Reg CM
Masuk RS

: Tn. JG
: 47 tahun
: Laki laki
: Katolik
: Tembalang
: 331281
: 27 Juli 2015

Anamnesa ( Alloanamnesa )
Tanggal : 30 Juli 2015
Keluhan Utama : Nyeri perut kiri menjalar hingga ke piggang kiri
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Semarang dengan keluhan nyeri perut
kiri di mulai dari pusar menjalar sampai ke pinggang sebelah kiri sejak 4 hari
SMRS. Nyeri dirasakan terus menerus, tidak hilang timbul, tidak membaik
dengan istirahat atau dengan perubahan posisi. Riwayat BAK baik, tidak nyeri,
tidak ada darah, tidak terasa seperti ada pasir saat buang air kecil. Riwayat BAB
terdapat bercak darah, hemoroid (+)

III.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :


Pasien mengaku pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun yang lalu namun
pasien sudah berobat kedokter dan keluhan membaik setelah minum obat

Riwayat Hipertensi disangkal


Riwayat Diabetes Mellitus disangkal
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat penyakit paru disangkal
Riwayat penyakit ginjal disangkal
Riwayat alergi disangkal

IV.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA :


Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat Diabetes Melitus disangkal
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat penyakit ginjal disangkal

V.

RIWAYAT KEBIASAAN :
Frekuensi makan 3x sehari. Pasien mengaku jarang makan buah dan sayuran

VI.

RIWAYAT PENGOBATAN :
Tidak ada diberikan penanganan SMRS.

VII.
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
BB / TB
IMT
Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah
Nadi
Pernafasan
Suhu Axilla
Kepala
Rambut
Mata

: Tampak sakit sedang


: Compos Mentis, GCS : E4V5M6
: 55 / 165
: 20,2 Normoweight
: 120 / 80 mmHg
: 84 x/menit
: 22 x/menit
: 36,0 C
: Normocephal
: Warna hitam dan putih, persebaran merata, tidak
mudah dicabut
: Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, pupil
isokor, diameter 2,5mm, reflek cahaya langsung

Hidung

dan tidak langsung (+/+)


: Simetris, sekret -/-, deviasi septum (-), nafas

Telinga

cuping hidung (-)


: Normotia, sekret -/-

Tenggorokan

: Arkus faring tidak hiperemis, simetris, tonsil T1T1


: Deviasi trachea (-)
: tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening pada

Leher
Kelenjar Getah Bening

axilla, supraklavikula
Paru

Inspeksi

: simetris statis dan dinamis

Palpasi

: vocal fremitus lapang paru kanan dan kiri sama kuat

Perkusi

: terdengar sonor pada lapang paru kiri dan kanan

Auskultasi

: lapang paru kanan dan kiri vesikuler,


rhonki (-/-) dan wheezing(-/-)

Jantung

Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba di 1 jari lateral sela iga 5 Linea Mid

Clavicula Sinistra tidak kuat angkat.

Perkusi

:Batas

atas

ICS

II

Parasternal

Line

Sinistra

Batas bawah kiri 1 cm lateral ICS V MCL Sinistra


Batas bawah kanan ICS IV Sternal Line Dekstra

Auskultasi

: S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: Datar, strie (-), skar (-), ekskoriasi (-)

Auskultasi

: bising usus (+), peristaltic normal

Perkusi

: Timpani, shifting dullness tidak ada

Palpasi

: Supel, nyeri tekan tidak ada, defens muskular tidak ada,

hepar dan limpa tidak teraba


Ekstremitas: Akral dingin
Edema

capillary refill time < 2 detik

VIII. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium
LAB DARAH

30 Juli 2015

Kesan

Hb

12.7

Menurun

Hematokrit

39.80

Normal

Trombosit

285.000

Normal

Leukosit

12.200

Meningkat

27 April 2015

Kesan

89

Normal

43,7/1.3

Meningkat

15/18

Normal

Asam Urat

5.7

Normal

Trigliserida

69

Normal

Kolestrol total

180

Normal

LAB DARAH
LAB DARAH KIMIA
Gula Darah Sewaktu
Ureum/Creatinin

SGOT/SGPT

Resume
BNO IVP

Fungsi ekskresi kedua ginjal normal.

Blunting to flattening hidronefrosis sinistra dan hidroureter sinistra dengan bendungan pada
sepertiga tengah ureter setinggi lumbal IV curiga et causa batu lusen.
Tak tampak tanda bendungan pada ginjal dan ureter dextra dan vesica urinaria.

Diagnosis
Hidronefrosis sinistra dan hidroureter sinistra susp e.c nefrolitiasis

BAB III
KESIMPULAN

Hidronefrosis adalah bendungan dalam ginjal yang di sebabkan oleh obstruksi yang
terdapat pada ureter yang di sebabkan karena adanya batu ureter, sehingga terjadi tekanan balik
ke ginjal.
Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan distensi
piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu ginjal sedang
mengalami kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar secara bertahap
(hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu.
Tujuan penatalaksanaan hidronefrosis untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab
dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner,L dan Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah (H.Kuncara, A. Hartono,
M. Ester, Y. Asih, Terjemahan), Edisi 8, Volume 1, Penerbit EGC, Jakarta
Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. Edisi Ke-2. Jakarta : Perpustakaan Nasional republik
Indonesia. 2003. 62-65.
Sjamsuhidrajat R, 1 W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2004. 756-763.
Sylvia A.Price dkk, 2006, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Jilid 2, Penerbit
EGC, Jakarta
Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urology. Edisi ke-16. New York : Lange Medical
Book. 2004. 256-283.
Coe FL, Evan A, Worcester E. 2005. Kidney stone disease. Journal Clin Invest. 115:
2598-2608.
Effendi, Imam dan Markum, HMS. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Edisi
IV. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hall PM. 2009. Kidney stones: formation, treatment, and prevention. Journal Cleveland
Clinic. 76:583591.
Matlaga, BR. 2013. How Do We Manage Infected, Obstructed Hydronephrosis. Journal
European Urology. 64:9396.
Purnomo, Basuki. 2009. Dasar-dasar Urologi. Edisi 2. Jakarta: CV.Sagung Seto. hlm 5768.
Samplaski MK, Irwin BH, Desai M. 2009. Less-invasive ways to remove stones from the
kidneys and ureters. Journal Cleveland Clinic. 76:592-598.