Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Society Consultant American Pharmacist menyebutkan bahwa tujuan dari


terapi obat adalah perbaikan kualitas hidup pasien melalui pengobatan atau
pencegahan penyakit, mengurangi timbulnya gejala, atau memperlambat
proses penyakit. Kebutuhan pasien berkaitan dengan terapi obat atau drug
related needs meliputi ketepatan indikasi, keefektifan, keamanan terapi,
kepatuhan pasien, dan indikasi yang belum tertangani. Apabila kebutuhan
tersebut tidak terpenuhi atau outcome pasien tidak tercapai maka hal ini dapat
dikategorikan sebagai DRP

Drug Related Problems (DRPs) merupakan keadaan yang tidak diinginkan


pasien terkait dengan terapi obat serta hal-hal yang mengganggu tercapainya
hasil akhir yang sesuai dan dikehendaki untuk pasien. Tujuh penggolongan
DRPs menurut Cipolle adalah penggunaan obat yang tidak diperlukan,
kebutuhan akan terapi obat tambahan, obat yang tidak efektif, dosis terapi
yang digunakan terlalu rendah, adverse drug reactoin, dosis terapi yang
terlalu tinggi, dan ketidakpatuhan. Hal-hal yang terkait dengan DRP
seharusnya dapat dicegah dan dikurangi keberadaannya melalui pengenalan
secara awal terhadap adanya DRP oleh seorang farmasis.

Pemberian informasi obat memiliki peranan penting dalam rangka


memperbaiki kualitas hidup pasien dan menyediakan pelayanan bermutu bagi
pasien. Kualitas hidup dan pelayanan bermutu dapat menurun akibat adanya
ketidakpatuhan terhadap program pengobatan. Penyebab ketidakpatuhan
tersebut salah satunya disebabkan kurangnya informasi tentang obat. Selain
itu, regimen pengobatan yang kompleks dan kesulitan mengikuti regimen
pengobatan yang diresepkan merupakan masalah yang mengakibatkan

1
ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Selain masalah kepatuhan, pasien juga
dapat mengalami efek yang tidak diinginkan dari penggunaan obat. Dengan
diberikannya informasi obat kepada pasien maka masalah terkait obat seperti
penggunaan obat tanpa indikasi, indikasi yang tidak terobati, dosis obat
terlalu tinggi, dosis subterapi, serta interaksi obat dapat dihindari.

Jenis informasi yang diberikan apoteker pada pasien yang mendapat resep
baru meliputi nama dan gambaran obat, tujuan pengobatan, cara dan waktu
penggunaan, saran ketaatan dan pemantauan sendiri, efek samping dan efek
merugikan, tindakan pencegahan, kontraindikasi, dan interaksi, petunjuk
penyimpanan, informasi pengulangan resep dan rencana pemantauan lanjutan.
Selain itu, diskusi penutup juga diperlukan untuk mengulang kembali dan
menekankan hal-hal terpenting terkait pemberian informasi mengenai obat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Drug Related Problems?
2. Apa saja Klasifikasi Drug Related Problems?
3. Apa saja komponen primer dari Drug Related Problems
4. Apa saja data yang penting mengenai pasien yang harus diketahui ?
5. Bagaimana mengidentifikasi dan Memecahkan Drug Related Problems ?
6. Apa saja contoh studi kasus Drug Related Problems?

1.3 Tujuan Makalah


1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Drug Related Problems.
2. Mengetahui Klasifikasi Drug Related Problems.
3. Mengetahui komponen primer dari Drug Related Problems.
4. Mengetahui data yang penting mengenai pasien yang harus diketahui dari
Drug Related Problems
5. Mengetahui cara mengidentifikasi dan Memecahkan Drug Related Problems
6. Mengetahui contoh studi kasus Drug Related Problems

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Drug Related Problems (DRPs)

Pharmaceutical Care Network Europe mendefinisikan Drug Related


Problems (DRPs) adalah kejadian suatu kondisi terkait dengan terapi obat

2
yang secara nyata atau potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang
diinginkan (Pharmaceutical Care Network Europe., 2006).

Drug Related Problems merupakan suatu kejadian yang tidak diharapkan


dan pengalaman pasien akibat atau diduga akibat terapi obat sehingga
kenyataannya/potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang
dikehendaki (Cipolle et al, 1998).

2.2 .Klasifikasi Drug Related Problems DRPs

Pharmaceutical Care Network Europe (The PCNE Classification


V5.01)mengelompokkan Drug Related Problems sebagai berikut
(Pharmaceutical Care Network Europe., 2006) :

1. Reaksi obat yang tidak dikehendaki/ROTD (Adverse Drug Reaction/ADR)


Pasien mengalami reaksi obat yang tidak dikehendaki seperti efek samping
atau toksisitas.
2. Masalah pemilihan obat (Drug Choice Problem)
Masalah pemilihan obat di sini berarti pasien memperoleh atau akan
memperoleh obat yang salah (atau tidak memperoleh obat) untuk penyakit
dan kondisinya. Masalah pemilihan obat antara lain: obat diresepkan tapi
indikasi tidak jelas, bentuk sediaan tidak sesuai, kontraindikasi dengan
obat yang digunakan, obat tidak diresepkan untuk indikasi yang jelas.
3. Masalah pemberian dosis obat (Drug Dosing Problem)
Masalah pemberian dosis obat berarti pasien memperoleh dosis yang lebih
besar atau lebih kecil daripada yang dibutuhkannya.
4. Masalah pemberian/penggunaan obat (Drug Use/Administration Problem)
Masalah pemberian/penggunaan obat berarti tidak memberikan/tidak
menggunakan obat sama sekali atau memberikan/menggunakan yang tidak
diresepkan.
5. Interaksi obat (Interaction)
Interaksi berarti terdapat interaksi obat-obat atau obat-makanan yang
bermanifestasi atau potensial.
6. Masalah lainnya (Others)
Masalah lainnya misalnya: pasien tidak puas dengan terapi, kesadaran
yang kurang mengenai kesehatan dan penyakit, keluhan yang tidak jelas

3
(memerlukan klarifikasi lebih lanjut), kegagalan terapi yang tidak
diketahui penyebabnya, perlu pemeriksaan laboratorium.

Menurut Cipolle et al,1998 kategori DRPs adalah:

a. Membutuhkan obat tetapi tidak menerimanya

Membutuhkan obat tambahan misalnya untuk profilaksis atau premedikasi,


memiliki penyakit kronik yang memerlukan pengobatan

kontinyu.

b. Menerima obat tanpa indikasi yang sesuai

Menggunakan obat tanpa indikasi yang tepat, dapat membaik kondisinya


dengan terapi non obat,minum beberapa obat padahal hanya satu terapi
obat yang diindikasikan dan atau minum obat untuk mengobati efek
samping.

c. Menerima obat salah

Kasus yang mungkin terjadi: obat tidak efektif, alergi, adanya resiko
kontraindikasi, resisten terhadap obat yang diberikan, kombinasi obat yang
tidak perlu dan bukan yang paling aman.

d. Dosis terlalu rendah

Penyebab yang sering terjadi: dosis terlalu kecil untuk menghasilkan


respon yang diinginkan, jangka waktu terapi yang terlalu pendek,
pemilihan obat, dosis, rute pemberian, dan sediaan obat tidak tepat.

e. Dosis terlalu tinggi

Penyebab yang sering terjadi: dosis salah, frekuensi tidak tepat, jangka
waktu tidak tepat dan adanya interaksi obat.

f. Pasien mengalami ADR

4
Penyebabnya: pasien dengan factor resiko yang berbahaya bila obat
digunakan, efek dari obat dapat diubah oleh substansi makanan pasien,
interaksi dengan obat lain, dosis dinaikkan atau diturunkan terlalu cepat
sehingga menyebabkan ADR dan mengalami efek yang tidak dikehendaki
yang tidak diprediksi.

g. Kepatuhan

Penyebab: pasien tidak menerima aturan pemakaian obat yang tepat,


pasien tidak menuruti rekomendasi yang diberikan untuk pengobatan,
pasien tidak mengambil obat yang diresepkan karena harganya mahal,
pasien tidak mengambil beberapa obat yang diresepkan secara konsisten
karena merasa sudah sehat (Cipolle et al, 1998).

Klasifikasi DRPs:

1. Indikasi

Pasien mengalami masalah medis yang memerlukan terapi obat


(indikasi untuk penggunaan obat), tetapi tidak menerima obat untuk
indikasi tersebut.

a. Pasien memerlukan obat tambahan

Keadaan yang ditemukan pada DRP adalah suatu keadaan ketika


pasien menderita penyakit sekunder yang mengakibatkan keadaan
yang lebih buruk daripada sebelumnya, sehingga memerlukan terapi
tambahan. Penyebab utama perlunya terapi tambahan antara lain
ialah untuk mengatasi kondisi sakit pasien yang tidak mendapatkan
pengobatan, untuk menambahkan efek terapi yang sinergis, dan
terapi untuk tujuan preventif atau profilaktif. Misalnya, penggunaan
obat AINS biasanya dikombinasikan dengan obat antihistamin 2
dengan tujuan untuk mencegah terjadinya iritasi lambung.

5
b. Pasien menerima obat yang tidak diperlukan

Pada kategori ini termasuk juga penyalahgunaan obat, swamedikasi


yang tidak benar, polifarmasi dan duplikasi. Merupakan
tanggungjawab farmasi agar pasien tidak menggunakan obat yang
tidak memiliki indikasi yang tepat. DRP kategori ini dapat
menimbulkan implikasi negatif pada pasien berupa toksisitas atau
efek samping, dan membengkaknya biaya yang dikeluarkan diluar
yang seharusnya. Misalnya, pasien yang menderita batuk dan flu
mengkonsumsi obat batuk dan analgesik-antipiretik terpisah padahal
dalam obat batuk tersebut sudah mengandung paracetamol.

2. Efektivitas

a. Pasien menerima regimen terapi yang salah

Terapi multi obat (polifarmasi)

Polifarmasi merupakan penggunaan obat yang berlebihan oleh


pasien dan penulisan obat berlebihan oleh dokter dimana pasien
menerima rata-rata 8-10 jenis obat sekaligus sekali kunjungan
dokter atau pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang
diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat. Jumlah obat
yang diberikan lebih dari yang diperlukan untuk pengobatan
penyakit dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti
pemberian puyer pada anak dengan batuk pilek yang berisi :

a. Amoksisillin
b. Parasetamol
c. Gliseril Guaiakolat
d. Deksametason
e. CTM
f. Luminal

Dari hal tersebut terlihat adanya polifarmasi, seorang farmasis


bisa menkonfirmasikan atau mendiskusikan terlebih dahulu

6
kepada dokter sehingga penggunaan yang tidak perlu seperti
deksametason dan luminal sebaiknya tidak diberikan untuk
mencegah terjadinya regimen terapi yang salah.

Frekuensi pemberian

Banyak obat harus diberikan pada jangka waktu yang sering


untuk memelihara konsentrasi darah dan jaringan. Namun,
beberapa obat yang dikonsumsi 3 atau 4 kali sehari biasanya
benar-benar manjur apabila dikonsumsi sekali dalam sehari.

Contohnya: frekwensi pemberian amoksisilin 4 kali sehari yang


seharusnya 3 kali sehari.

cara pemberian yang tidak tepat misalnya pemberian asetosal atau


aspirin sebelum makan, yang seharusnya diberikan sesudah
makan karena dapat mengiritasi lambung.

Durasi dari terapi

Contohnya penggunaan antibiotik harus diminum sampai habis


selama satu kurum pengobatan, meskipun gejala klinik sudah
mereda atau menghilang sama sekali. Interval waktu minum obat
juga harus tepat, bila 4 kali sehari berarti tiap enam jam, untuk
antibiotik hal ini sangat penting agar kadar obat dalam darah
berada diatas kadar minimal yang dapat membunuh bakteri
penyebab penyakit.

b. Pasien menerima obat yang benar tetapi dosisnya terlalu rendah

Pasien menerima obat dalam jumlah lebih kecil dibandingkan dosis


terapinya. Hal ini dapat menjadi masalah karena menyebabkan tidak
efektifnya terapi sehingga pasien tidak sembuh, atau bahkan dapat
memperburuk kondisi kesehatannya. Hal-hal yang menyebabkan
pasien menerima obat dalam jumlah yang terlalu sedikit antara lain

7
ialah kesalahan dosis pada peresepan obat, frekuensi dan durasi obat
yang tidak tepat dapat menyebabkan jumlah obat yang diterima lebih
sedikit dari yang seharusnya, penyimpanan juga berpengaruh
terhadap beberapa jenis sediaan obat, selain itu cara pemberian yang
tidak benar juga dapat mengurangi jumlah obat yang masuk ke
dalam tubuh pasien.

Ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan kejadian


tersebut yaitu antara lain obat diresepkan dengan metode fixed
model (hanya merujuk pada dosis lazim) tanpa mempertimbangkan
lebih lanjut usia, berat badan, jenis kelamin dan kondisi penyakit
pasien sehingga terjadi kesalahan dosis pada peresepan. Adanya
asumsi dari tenaga kesehatan yang lebih menekankan keamanan obat
dan meminimalisir efek toksik terkadang sampai mengorbankan sisi
efektivitas terapi. Ketidakpatuhan pasien yang menyebabkan
konsumsi obat tidak tepat jumlah, antara lain disebabkan karena
faktor ekonomi pasien tidak mampu menebus semua obat yang
diresepkan, dan pasien tidak paham cara menggunakan obat yang
tepat. Misalnya pemberian antibiotik selama tiga hari pada penyakit
ISFA Pneumonia.

3. Keamanan

a. Pasien menerima obat dalam dosis terlalu tinggi

Pasien menerima obat dalam jumlah dosis terlalu tinggi dibandingkan


dosis terapinya. Hal ini tentu berbahaya karena dapat terjadi
peningkatan resiko efek toksik dan bisa jadi membahayakan Hal-hal
yang menyebabkan pasien menerima obat dalam jumlah dosis terlalu
tinggi antara lain ialah kesalahan dosis pada peresepan obat, frekuensi
dan durasi minum obat yang tidak tepat. Misalnya, penggunaan fenitoin
dengan kloramfenikol secara bersamaan, menyebabkan interaksi

8
farmakokinetik yaitu inhibisi metabolisme fenitoin oleh kloramfenikol
sehingga kadar fenitoin dalam darah meningkat.

b. Pasien mengalami efek obat yang tidak diinginkan (Adverse drug


reaction)

Dalam terapinya pasien mungkin menderita ADR yang dapat


disebabkan karena obat tidak sesuai dengan kondisi pasien, cara
pemberian obat yang tidak benar baik dari frekuensi pemberian
maupun durasi terapi, adanya interaksi obat, dan perubahan dosis
yang terlalu cepat pada pemberian obat-obat tertentu.

ADR merupakan respon terhadap suatu obat yang berbahaya dan


tidak diharapkan serta terjadi pada dosis lazim yang dipakai oleh
manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi.

Pada umumnya ADR dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :

1. Reaksi tipe A

Reaksi tipe A mencakup kerja farmakologis primer atau sekunder


yang berlebihan atau perluasan yang tidak diharapkan dari kerja obat
seperti diuretik mengimbas hipokalemia atau propanolol mengimbas
pemblok jantung. Reaksi ini seringkali bergantung dosis dan
mungkin disebabkan oleh suatu penyakit bersamaan, interaksi obat-
obat atau obat-makanan. Reaksi tipe A dapat terjadi pada setiap
orang.

2. Reaksi tipe B

Reaksi tipe B merupakan reaksi idiosinkratik atau reaksi imunologi.


Reaksi alergi mencakup tipe berikut :

a. Tipe I, anafilaktik (reaksi alergi mendadak bersifat sistemik) atau


segera (hipersensitivitas)

9
b. Tipe II, sitotoksik

c. Tipe III, serum

d. Tipe IV, reaksi alergi tertunda misalnya penggunaan fenitoin


dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan Steven Johnson
syndrome.

3. Reaksi Tipe C (berkelanjutan)

Reaksi tipe C disebabkan penggunaan obat yang lama misalnya


analgesik, nefropati.

4. Reaksi Tipe D

Reaksi tipe D adalah reaksi tertunda, misalnya teratogenesis dan


karsinogenesis.

5. Reaksi Tipe E

Reaksi tipe E, penghentian penggunaan misalnya timbul kembali


karena ketidakcukupan adrenokortikal.

4. Kepatuhan

Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan


nasehat medis atau kesehatan. Kepatuhan pasien untuk minum obat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :

a. Persepsi tentang kesehatan


b. Pengalaman mengobati sendiri
c. Pengalaman dengan terapi sebelumnya
d. Lingkungan (teman, keluarga)
e. Adanya efek samping obat
f. Keadaan ekonomi
g. Interaksi dengan tenaga kesehatan (dokter, apoteker, perawat).

Akibat dari ketidakpatuhan (non-compliance) pasien untuk mengikuti


aturan selama pengobatan dapat berupa kegagalan terapi dan toksisitas.

10
Ketidakpatuhan seolah-olah diartikan akibat kelalaian dari pasien, dan
hanya pasienlah yang bertanggung jawab terhadap hal-hal yang terjadi
akibat ketidakpatuhannya. Padahal penyebab ketidakpatuhan bukan
semata-mata hanya kelalaian pasien dalam mengikuti terapi yang telah
ditentukan, namun banyak faktor pendorongnya, yaitu :

a. Obat tidak tersedia

Tidak tersedianya obat yang dibutuhkan pasien diapotek terdekat


menyebabkan pasien enggan untuk menebus obat keapotek lain.

b. Regimen yang kompleks

Jenis sediaan obat terlalu beragam, misalnya pada saat bersamaan


pasien mendapat sirup, tablet, tablet hisap, dan obat inhaslasi, hal ini
dapat menyebabkan pasien enggan minum obat.

c. Usia lanjut

Misalnya, banyak pasien geriatrik menggunakan lima atau eman obat-


obatan beberapa kali dalam sehari pada waktu yang berbeda. Kesamaan
penampilan seperti ukuran, warna, atau bentuk obat-obat tertentu dapat
berkontribusi pada kebingungan. Beberapa pasien geriatrik dapat
mengalami hilang daya ingat yang membuat ketidak patuhan lebih
mungkin.

d. Lamanya terapi

Pemberian obat dalam jangka panjang misalnya pada penderita TBC,


DM, arthritis, hipertensi dapat mempengaruhi kepatuhan pasien,
dimana pasien merasa bosan dalam penggunaan obat tersebut yang
menyebabkan efek terapi tidak tercapai.

e. Hilangnya gejala

11
Pasien dapat merasa lebih baik setelah menggunaan obat dan merasa
bahwa ia tidak perlu lebih lama menggunakan obatnya setelah reda.
Misalnya, ketika seorang pasien tidak menghabiskan obatnya selama
terapi antibiotik setelah ia merasa bahwa infeksi telah terkendali. Hal
ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kembali infeksi, sehingga
pasien wajib diberi nasehat untuk menggunakan seluruh obat selama
terapi antibiotik.

f. Takut akan efek samping,

Timbulnya efek samping setelah meminum obat, seperti : ruam kulit


dan nyeri lambung atau timbulnya efek ikutan seperti urin menjadi
merah karena minum obat rimpafisin dapat menyebabkan pasien tidak
mau menggunakan obat.

g. Rasa obat yang tidak enak

Masalah rasa obat-obatan paling umum dihadapi dengan penggunaan


cairan oral oleh anak-anak, misalnya dalam formulasi obat cair oral
bagi anak-anak penambahan penawar rasa dan zat warna dilakukan
untuk daya tarik, sehingga mempermudah pemberian obat dan
meningkatkan kepatuhan.

h. Tidak mampu membeli obat

Ketidakpatuhan sering terjadi dengan penggunaan obat yang relatif


mahal, pasien akan lebih enggan mematuhi instruksi penggunaan obat
yang lebih mahal.

i. Pasien lupa dalam pengobatan.

j. Kurangnya pengetahuan terhadap kondisi penyakit, pentingnya terapi


dan petunjuk penggunaan obat.

Pasien biasanya mengetahui relatif sedikit tentang kesakitan mereka,


apalagi manfaat dan masalah terapi yang diakibatkan oleh obat.

12
Biasanya pasien menetapkan pikiran sendiri berkenaan dengan kondisi
dan pengharapan yang berkaitan dengan efek terapi obat. Jika terapi
tidak memenuhi harapan, mereka cenderung tidak patuh. Oleh karena
itu diperlukan edukasi pada pasien tentang kondisi penyakitnya,
manfaat serta keterbatasan terapi obat.

Dari beberapa faktor pendorong terjadinya ketidakpatuhan, apoteker


memiliki peran untuk meningkatkan kepatuhan pasien dengan
memberikan informasi tentang pentingnya pengobatan pada keadaan
penyakit pasien. Selain itu, diperlukan juga komunikasi yang efektif
antara dokter dan apoteker sehingga upaya penyembuhan kondisi
penyakit pasien dapat berjalan dengan baik.

5. Pemilihan Obat

Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis


ditegakkan dengan benar. Obat yang dipilih untuk mengobati setiap
kondisi harus yang paling tepat dari yang tersedia. Banyak reaksi
merugikan dapat dicegah, jika dokter serta pasien melakukan
pertimbangan dan pengendalian yang baik. Pasien yang bijak tidak
menghendaki pengobatan yang berlebihan. Pasien akan bekerjasama
dengan dokter untuk menyeimbangkan dengan tepat keseriusan penyakit
dan bahaya obat. Dengan demikian obat yang dipilih haruslah yang
memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.

6. Interaksi Obat

Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat
lain yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan. Efek obat dapat
bertambah kuat atau berkurang karena interaksi ini akibat yang
dikehendaki dari interaksi ini ada dua kemungkinan yakni meningkatkan
efek toksik atau efek samping atau berkurangnya efek klinik yang
diharapkan. Interaksi obat dapat terjadi sebagai berikut:

13
1. Obat-Makanan

Interaksi obat-makanan perlu mendapat perhatian dalam kegiatan


pemantauan terapi obat. Ada 2 jenis yang mungkin terjadi:

a. Perubahan parameter farmakokinetik (absorpsi dan eliminasi).


Misalnya, obat antibiotik tidak boleh dicampur dengan susu karena
akan membenuk ikatan sehingga obat tdak dapat diabsorbsi dan
menurunkan efektifitas.

b. Perubahan dalam efikasi terapi obat (misalnya, makanan protein


tinggi meningkatkan kecepatan metabolisme teophillin). Sebagai
tambahan, banyak obat diberikan pada saat lambung kosong.
Sebaliknya, terapi obat dapat mengubah absorpsi secara merugikan dari
penggunaan suatu bahan gizi.

2. Obat-Uji Laboratorium

Interaksi obat-uji laboratorium terjadi apabila obat mempengaruhi


akurasi uji diagnostik. Interaksi ini dapat terjadi melalui gangguan
kimia. Misalnya, laksatif antrakuinon dapat mempengaruhi uji urin
untuk urobilinogen atau oleh perubahan zat yang diukur. Apabila
mengevaluasi status kesehatan pasien apoteker harus
mempertimbangkan efek terapi obat pada hasil uji diagnostik.

3. Obat-Penyakit

Interaksi obat-penyakit juga merupakan masalah yang perlu dipantau.


Apoteker harus mengevaluasi pengaruh efek merugikan suatu obat pada
kondisi medik pasien. Dalam pustaka medik, interaksi obat-penyakit
sering disebut sebagai kontraindikasi absolut dan relatif. Misalnya,
penggunaan kloramfenikol dapat menyebabkan anemia aplastik, dan
penggunaan antibiotik aminoglikosida dapat menyebabkan nefrotoksik.

4. Obat-Obat

14
Interaksi antara obat-obat merupakan masalah yang perlu dihindari. Semua
obat termasuk obat non resep harus dikaji untuk interaksi obat. Apoteker
perlu mengetahui interaksi obat-obat yang secara klinik signifikan. Suatu
interaksi dianggap signifikan secara klinik jika hal itu mempunyai
kemungkinan menyebabkan kerugian atau bahaya pada pasien. Interaksi
antar obat dapat berakibat merugikan atau menguntungkan. Interaksi obat
dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas
dan/atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi, terutama bila
menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit.

15
2.3 Komponen Primer Dari Drug Related Problems

a. Pasien mengalami keadaan yang tidak dikehendaki.

Pasien mengalami keluhan medis, gejala, diagnose penyakit kerusakan,


cacat atau sindrom dan dapat mengakibatkan gangguan psikologis,
fisiologis, sosial, bahkan kondisi ekonomi.

b. Ada hubungan antara keadaan yang tidak dikehendaki dengan terapi obat.

Sifat hubungan ini tergantung akan kekhususan Drug Related Problems


(DRPs). Hubungan yang biasanya terjadi antara keadaan yang tidak
dikehendaki dengan terapi obat adalah kejadiaan itu akibat dari terapi obat
atau kejadian itu membutuhkan terapi obat( Cipolle et al., 1998). Drug
Related Problems (DRPs) terdiri dari DRPs actual dan DRPs potensial.
DRPs actual adalah problem yang sedang terjadi berkaitan dengan terapi
obat yang sedang diberikan pada pasien. DRPs potensial adalah problem
yang diperkirakan akan terjadi yang berkaitan dengan terapi obat yang
sedang digunakan oleh pasien (Yunita et al., 2004).

2.4 Data Yang Penting Mengenai Pasien

Identifikasi dan pemecahan masalah pada Drug Related Problems


(DRPs) tergantung pada beberapa faktor. Faktor pertama adalah adanya
semua data esensial dan farmasis bertugas menentukan data apa yang
dibutuhkan (Cipolle et al., 1998).

Data yang penting mengenai pasien adalah :

a. Karakter klinis dari penyakit atau kondisi pasien, meliputi: umur, seks,
etnis, ras, sejarah sosial, status kehamilan, status kekebalan, fungsi
ginjal, hati dan jantung, status nutrisi, serta harapan pasien.

16
b. Obat lain yang dikonsumsi pasien, berkaitan dengan terapi obat pada
saat ini dan masa lalu, alergi obat, profil toksisitas, adverse drug
reaction, rute dan cara pemberian obat, dan persepsi mengenai
pengobatannya.

c. Penyakit, keluhan, gejala pasien meliputi masalah sakitnya pasien,


keseriusan, prognosa, kerusakan, cacat, persepsi pasien mengenai
proses penyakitnya.

Data dapat diperoleh dari beberapa sumber misalnya pasien sendiri,


orang yang merawat pasien, keluarga pasien, medical record, profil pasien
dari farmasis, data laboratorium, dokter, perawat dan profesi kesehatan
lainnya (Cipolle et al., 1998).

Secara umum perhatian farmasis terhadap Drug Related Problems


sebaiknya diprioritaskan pada pasien geriatri,pasien pediatri, ibu hamil dan
menyusui, serta pasien yang mendapatkan obat dengan indeks terapi
sempit(Yunita et al., 2004).

Farmasis mempunyai tanggung jawab untuk mengidentifikasi,


mencegah dan memecahkan Drug Related Problems (DRPs), walaupun hal
tersebut tidak selalu mudah dicapai. Faktor kepatuhan pasien ikut
bertanggung jawab atas kesembuhannya. Sebab itu farmasis juga harus
dapat melakukan konseling, edukasi dan informasi kepada pasien (Cipolle
et al., 1998).

Masalah terkait obat dapat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas


kualitas hidup pasien serta berdampak juga terhadap ekonomi dan social
pasien.

2.5 Mengidentifikasi Dan Memecahkan Drug Related Problems (DRPs)


Dalam mengidentifikasi dan memecahkan Drug Related Problems (DRPs)
baik aktual maupun potensial menggunakan modul 1-5 yaitu:

17
1. Modul 1 : Pharmacists Patient Data Base
Tujuan pengisian Pharmacists Patient Data Base adalah untuk
memperoleh data pasien yang obyektif maupun subyektif sehingga dapat
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan terapi.

Yang dicantumkan di dalam Pharmacists Patient Data Base adalah:


a) Informasi tentang data demografi pasien yang meliputi nama,
umur, jenis kelamin, BB, alamat, agama, pekerjaan, dan lokasi
ruangan.
b) Tanggal masuk dan ke luar rumah sakit.
c) Identitas dokter dan farmasis.
d) Riwayat penyakit pasien.
e) Riwayat pengobatan sebelumnya dan yang sekarang.
f) Riwayat keluarga dan status sosial.
g) Gaya hidup atau kebiasaan pasien sehari-hari (pola makan, pola
tidur, dan sebagainya).
h) Masalah medis yang bersifat kronis dan akut.
i) Data laboratorium dan hasil pemeriksaan lain.
j) Jadwal pemberian obat.
k) Riwayat alergi

2. Modul 2: Drug Therapy Assesment Worksheet (DTAW)


DTAW adalah form yang berisi langkah-langkah yang harus dilakukan
untuk mereviewDRPs, untuk menilai kualitas dan efisiensi pengobatan
yang dihubungkan dengan profil penyakit, profil obat, dan profil pasien
dengan mempertimbangkan efikasi, keamanan, dan biaya. Semua DRPs
yang ditemukan dicatat di dalam DTAW.

3. Modul 3: Drug Therapy Problem List (DTPL)


Pada lembar ini ditulis jenis DRPs yang ditemukan sesuai yang ada,di
DTAW dan rekomendasi yang diberikan kepada dokter atau perawat
untuk tercapainya keberhasilan terapi.

4. Modul 4: Pharmacist Care Plan (PCP)


PCP berisi ulasan lebih rinci tentang rencana yang akan dilakukan oleh
farmasis untuk mewujudkan kerasionalan penggunaan obat. Lembar ini
memuat rencana kerja yang harus dikerjakan oleh farmasis, parameter

18
klinik yang dipantau untuk mencapai tujuan terapi, frekuensi pemantauan
kepada pasien dan waktu pemantauan.

5. Modul 5: Pharmacist Care Plan Monitoring Worksheet (PCPMW)


PCPMW berfungsi untuk mengarahkan farmasis dalam melakukan
monitoring secara efektif dalam pelaksanaan Pharmacist Care Plan
(PCP). Pada PCPMW dilakukan pencatatan efektivitas dari terapi,
ataupun kemungkinan efek samping obat yang dialami pasien.

2.6 Studi Kasus DRPs (Drug Related Problems)

Dalam ranah farmasi klinik-komunitas, apoteker pada hakikatnya memiliki


tugas primer yaitu mengidentifikasi dan menangani DRPs ini agar tercapai
pengobatan yang rasional dan optimal. Secara ringkas langkah-langkah untuk
mengidentifikasi dan menangani DRPs adalah sebagai berikut :

1. Menentukan klasifikasi permasalahan terapi obat yang terjadi


2. Menentukan penyebab terjadinya DRPs
3. Menentukan tindakan intervensi yang paling tepat terhadap DRPs
4. Melakukan assesmen (penilaian) terhadap intervensi yang telah dilakukan
untuk evaluasi

2.3.1 Kasus
CONTOH ANALISA KASUS DRPs

Resep
23-5-2014
R/ Metformin 500 XLV
S 3 dd 1
R/ Glibenklamide 5 XV
S 1 dd 1

19
R/ Captopril 50 XLV
S 3 dd 1
R/ furosemid X
S -0-0
R/ BC XLV
S 3 dd 1
R/ Amlodipin 5 XV
S 1 dd 1
R/ Na-diklofenak 50 XXX
S 0-0-1
R/ Simvastatin 10 XV
S 0-0-1

Pro : Tn. EE (66 tahun)

ANALISA
a. Anamnesa/ diagnose
Pasien dinyatakan mengalami diabetes mellitus, hipertensi,
hiperkolesterolemia, ostheoartritis, dan sindrom dispepsia.
b. Analisa resep
Dalam kasus ini pasien menerima 8 item obat, sebagai berikut :
Metformin, antidiabetes golongan biguanid
Glibenklamide, antidiabetes golongan sulfonylurea
Captopril, antihipertensi golongan inhibitor enzim pengkonversi angiotensin
(ACEI
Furosemid, antihipertensi golongan loop diuretic
BC/ vitamin B kompleks, suplemen kekurangan vitamin B
Amlodipin, antihipertensi golongan pemblok kanal kalsium (CCB)
Na-diklofenak, antiinflamasi nonsteroid
Simvastatin, antihiperlipidemia golongan statin

20
Kombinsai metformin dan glibenklamid pada kasus pasien diagnose lain
berupa hipertensi diperbolehkan. Seperti halnya pada kasus resep nomor 2.
Dosis kombinasi kedua obat tersebut juga masih dalam batas aman. Dimana
dosis maksimum keduanya adalah 20 mg/hari untuk glibenkalmid, dan 2000
mg/hari untuk metformin.
Penanganan hipertensi dalam kasus ini digunakan kombinasi 3 antihipertensi,
yaitu captopril (ACE inhibitor), furosemid (loop diuretik), dan amlodipin
(Pemblok kanal kalsium). Kombinasi tersebut diperbolehkan. Dosis furosemid
merupakan dosis terendah yaitu 20 mg, dengan waktu pemberian yang tepat
yaitu pada pagi hari. Sedangkan dosis captopril merupakan dosis maksimum
yaitu 150 mg/hari, dalam dosis terbagi 3. Sedangkan amlodipin yang diberikan
adalah dosis menengah, yaitu 5 mg/hari, lazimnya 2,5-10 mg/hari. Perlu
diperhatikan pasien telah cukup lanjut usianya (66 tahun), captopril diberikan
pada dosis maksimum dikombinasi dengan furosemid, dan amlodipin, akan
berpotensi menimbulkan efek hipotensi. Dengan pemberian furosemid, pasien
akan mengalami diuresis, yang berarti volume darah menurun dan menurun
pula tekanan darahnya, sedangkan pemberian ACE inhibitor dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah melalui berbagai mekanisme yang
terlibat dalam pengaturan sistem rennin-angiotensin-aldosteron (RAAS),
sehingga resiko hipotensinya semakin meningkat, terlebih pada pasien yang
telah lanjut usia, ditambah dengan kombinasi dengan amlodipin. Tekanan darah
harus senantiasa dipantau.
Meski ada kemungkinan lain, bahwa maksud penggunaan furosemid dalam
dosis rendah adalah untuk mengatasi resiko efek samping amlodipin, berupa
udema perifer. Amlodipin dapat menyebabkan terjadinya udema perifer,
dengan pemberian furosemid, maka aktivitas urinary meningkat, sehingga tidak
terjadi udema perifer.
Natrium diklofenak digunakan untuk mengobati gejala nyeri akibat
osteoarthritis. Diklofenak merupakan antiinflamasi nonsteroid (AINS)
nonselektif. Dosis yang diberikan adalah dosis tunggal pada malam hari
sebesar 50 mg.

21
Sebagaimana AINS nonselektif lainnya, diklofenak dapat menginduksi
terjadinya ulkus peptikum, sedangkan dalam diagnosanya dokter telah
menyatakan bahwa pasien mengalami sindrom dispepsia. Meskipun efek buruk
yang disebabkan diklofenak pada saluran cerna tidak sekuat aspirin, namun
pemilihan obat lain yang lebih aman, perlu dipertimbangkan, mengingat pasien
telah dinyatakan mengalami sindrom dispepsia.
Dalam kasus ini, pasien telah didiagnose sindrome dispepsia, dan mendapat
terapi AINS yang dapat memperparah sindrom tersebut, namun pasien tidak
mendapat obat untuk indikasi ini. Tak ada obat yang diberikan untuk
mengobati sindrom dispepsianya.
Simvastatin dosis tunggal pada malam hari 10 mg, untuk terapi
hiperlipidemia. Penggunaan simvastatin pada penderita diabetes diperbolehkan.
Pemberian vitamin B kompleks, yang mengandung asam nikotinat, akan
membentu menghambat pembentukan kolesterol dan trigliserida, sehingga
akan membantu menekan kadar lipid dalam darah.

Interaksi yang mungkin terjadi


1. Amlodipin (pemblok kanal kalsium) dan captopril (ACE inhibitor) yang
digunakan bersama-sama, cenderung berinteraksi menyebabkan efek
hipotensif, ACE inhibitor juga akan bekerja pada sistem kanal kalsium,
meski tidak secara langsung, begitu pun dengan furosemid.
2. Captopril berinteraksi dengan makanan, dan menyebabkan absorpsi captopril
menurun. (DIF)
c. Saran
Dari uraian diatas dapat disarankan :
Kombinasi captopril, furosemid, dan amlodipin, perlu dipantau efeknya,
ada baiknya dosis captopril dikurangi
Konsumsi captopril 1 jam sebelum makan, untuk menghindari
interaksinya dengan makanan
Pasien perlu diberi obat untuk mengatasi sindrome dispepsianya, terlebih
dalam resep tersebut terdapat obat-obat yang menimbulkan efek-efek

22
yang tidak menyenangkan pada saluran cerna, berupa iritasi lambung
(natrium-diklofenak), mual, muntah, diare (metformin dan glibenklamid).
Ranitidine dan antiemetic seperti domperidon atau metoklopramid
mungkin perlu diberikan.
Pasien juga harus diingatkan untuk senantiasa melakukan terapi non
farmakologis, berupa diet makanan rendah karbohidrat, lemak, dan
garam.
Pasien juga harus menghindari konsumsi rokok dan atau alcohol
Olah raga ringan secara teratur sangat dianjurkan

Blangko DRPs

23
24
25
26
27
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Drug Related Problems merupakan suatu kejadian yang tidak diharapkan
dan pengalaman pasien akibat atau diduga akibat terapi obat sehingga
kenyataannya/potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang
dikehendaki.

Pharmaceutical Care Network Europe (The PCNE Classification


V5.01)mengelompokkan Drug Related Problems sebagai berikut
(Pharmaceutical Care Network Europe., 2006) :

1. Reaksi obat yang tidak dikehendaki/ROTD (Adverse Drug


Reaction/ADR)
2. Masalah pemilihan obat (Drug Choice Problem)
3. Masalah pemberian dosis obat (Drug Dosing Problem)
4. Masalah pemberian/penggunaan obat (Drug Use/Administration Problem)
5. Interaksi obat (Interaction)
6. Masalah lainnya (Others)

Komponen Primer Dari Drug Related Problems :

a. Pasien mengalami keadaan yang tidak dikehendaki.

b. Ada hubungan antara keadaan yang tidak dikehendaki dengan terapi obat.

Data Yang Penting Mengenai Pasien :

a. Karakter klinis dari penyakit atau kondisi pasien

b. Obat lain yang dikonsumsi pasien

c. Penyakit, keluhan, gejala pasien

Mengidentifikasi Dan Memecahkan Drug Related Problems (DRPs)

28
Dalam mengidentifikasi dan memecahkan Drug Related
Problems(DRPs) baik aktual maupun potensial menggunakan modul
1-5 yaitu:
Modul 1 : Pharmacists Patient Data Base
Modul 2: Drug Therapy Assesment Worksheet (DTAW)
Modul 3: Drug Therapy Problem List (DTPL)
Modul 4: Pharmacist Care Plan (PCP)
Modul 5: Pharmacist Care Plan Monitoring Worksheet (PCPMW)

3.2 Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis pada
khususnya. Apabila ada kesalahan dalam makalah ini, diharapkan kritik dan
saran yang membangun untuk lebih baik lagi kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

29
Cipolle , R.J at all. 1998. Pharmaceutical Care Practice. New York : McGraw-
Hill

DepKes RI. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas. Jakarta : DepKes

Pharmaceutical Care Network Europe Foundation.2010. Classification For Drug


Related Problems V 6.2 . PCNEF : Zuidlaren

30