Anda di halaman 1dari 2

MEWUJUDKAN PEMILU SERENTAK YANG EFEKTIF, DEMOKRATIS

DAN BERINTEGRITAS

Pemilu dalam negara demokrasi Indonesia merupakan suatu proses pergantian


kekuasaan secara damai yang dilakukan secara berkala sesuai dengan prinsip-prinsip yang
digariskan konstitusi. Dari prinsip-prinsip pemilu tersebut dapat kita pahami bahwa pemilu
merupakan kegiatan politik yang sangat penting dalam proses penyelenggaraan kekuasaan
dalam sebuah negara yang menganut prinsip-prinsip demokrasi.

Indonesia sebagai salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia telah menetapkan
enam ukuran pemilu yang demokratis yakni langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Hal itu termuat dalam pasal 22E ayat 1 Undang Undang Dasar 1945. Undang Undang Pemilu
dan Penyelenggara Pemilu yang menjadi turunannya kemudian menambah beberapa keriteria
lagi seperti transparan, akuntabel, tertib dan profesional.

Dalam mengimplementasikan enam asas penyelenggaraan pemilu tersebut, Indonesia


pascareformasi telah melakukan sejumlah perbaikan mulai dari perbaikan sistem pemilu
(electoral system), tata kelola pemilu (electoral process) dan penegakan hukum pemilu
(electoral law). Untuk mewujudkan pemilu serentak yang berintegritas, dibutuhkan perbaikan
dalam aspek tata kelola atau manajemen secara menyeluruh dengan menyasar dua hal utama
yakni penyelenggara pemilu (electoral actor) dan penyelenggaraan pemilu (electoral
process)

Dari sisi penyelenggara, Kelembagaan KPU bersifat hierarkis. Implementasinya


satuan kerja (satker) penyelenggara pemilu, dalam menjalankan tugas, bertanggung jawab ke
atasnya secara berjenjang. Model hierarkis dipilih untuk memperkuat independensi
penyelenggara pemilu sekaligus memperkuat fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
dan evaluasi penyelenggaraan pemilu secara nasional.

Sementara itu, dari sisi penyelenggaraan dan dalam hal tata kelola pemilu perlu ada
terobosan yang harus dilakukan KPU untuk menghadirkan pemilu yang berkualitas dan
berintegritas. Terobosan ini setidaknya menyasar tiga aspek utama yakni menata akses
informasi public, menjamin hak konstitusional warga Negara dan menjaga otentisitas suara
rakyat.

Penataan akses informasi publik dilakukan dengan menerapkan asas keterbukaan


dalam pelaksanaan setiap tahapan. Untuk mendukung pelaksanaan transparansi dibutuhkan
dua hal penting yakni dokumen dan alat untuk merekam dan mempublikasikan dokumen.
Karena itu, KPU dalam pelaksanaan setiap tahapan pemilu menggunakan aplikasi sistem
informasi sebagai alat bantu untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan mengelola tahapan
dan sekaligus sarana publikasi kepada publik.

Sementara dalam hal jaminan hak konstitusional warga Negara dalam


penyelenggaraan pemilu harus diperkuat dengan melakukan sejumlah perbaikan dalam tata
kelola data pemilih baik perbaikan dari sisi regulasi maupun teknis. Satu-satunya hal yang
bisa menghambat aspek teknis adalah masih belum sempurnanya perekaman data E-KTP
yang menjadi acuan utama dalam penentuan DPT dan rencana e-votting di Pemilu Legislatif
2019 mendatang.

Demikian pula dalam hal menjaga otentisitas suara rakyat adalah hal penting dalam
tata kelola pemilu. Untuk itu, KPU harus menerapkan membuka dokumen hasil penghitungan
suara di TPS dan rekap di setiap jenjang kepada publik. Dokumen tersebut bisa dibaca dan
sekaligus didownload oleh publik yang membutuhkannya.

Persoalan lain yang terkait dengan Pemilu serentak 2019 adalah anggaran pemilu dan
potensi keamanan yang dapat memicu konflik dalam proses pengamanan pelaksanaan pemilu
serentak. Poinnya adalah kekurangan angggaran pilkada, selain dapat berpotensi konflik juga
dapat menurunkan kualitas penyelenggaraan pemilu serentak.

Secara akademis, konsep pemilu serentak hanya berlaku dalam sistem pemerintahan
presidensial. Penggabungkan pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu eksekutif dalam satu
hari pemilihan bertujuan untuk menciptakan pemerintahan hasil pemilu yang kongruen dan
menghasilkan pemerintahan stabil dan efektif. Melalui format pemilu serentak, keterpilihan
calon presiden akan mempengaruhi keterpilihan calon anggota legislatif karena
kecenderungan pemilih setelah memilih calon presiden, akan memilih partai politik atau
koalisi partai politik yang mencalonkan presiden yang dipilihnya.

Pada akhirnya Pemilihan Legislatif dan Presiden-Wakil Presiden dan serentak


merupakan hajatan demokrasi terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Setahap demi
setahap, konsolidasi demokrasi semakin menunjukkan bentuknya, perbaikan pemilihan
kepala daerah baik dari aspek prosedural maupun substansi terus dirancang demi
pembangunan demokrasi yang sesuai dengan roh dan semangat Pancasila dan UUD 1945.