Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH SURVEY HIDROGRAFI

PANTAI SENDANG BIRU, KABUPATEN MALANG

Disusun Oleh

Ivtitah Anita Pratiwi

15.4110.4987

JURUSAN TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hidrografi (atau geodesi kelautan) adalah ilmu tentang pemetaan laut dan
pesisir. Hidrografi menurut International Hydrographic Organization (IHO)
adalah ilmu tentang pengukuran dan penggambaran parameter-parameter yang
diperlukan untuk menjelaskan sifat-sifat dan konfigurasi dasar laut secara tepat,
hubungan geografisnya dengan daratan, serta karakteristik-karakteristik dan
dinamika-dinamika lautan. Secara etimologi, Hidrografi berasal dari bahasa
Yunani yang terdiri dari kata hidro yang berarti air dan grafi yang berarti
menulis, hidrografi artinya gambaran permukaan bumi yang digenangi air.
Survei adalah kegiatan terpenting dalam menghasilkan informasi
hidrografi. Adapun aktivitas utama survei hidrografi meliputi penentuan posisi
dan penggunaan sistem referensi, pengukuran kedalaman (pemeruman),
pengamatan pasut, pengukuran detil situasi dan garis pantai (untuk pemetaan
pesisir). Survei biasanya dilakukan pada daerah laut yang tenang sehingga
pengamatan pasang surut bisapendapatkan akurasi yang tepat. Makalah ini berisi
tentang pembuatan peta bathymetri sekitar Pantai Sendang Biru, Kabupaten
Malang.

I.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana proses pengolahan data pemetaan detil situasi pantai Sendang
Biru Kabupaten Malang?

2. Bagaimana proses pengolahan data pengamatan GPS untuk menentukaan


koordinat Base Point terhadap titik-titik pengamatan yang lain?

3. Bagaimana proses pengolahan data sounding kedalaman laut terhadap


MSL?

4. Bagaimana proses pengolahan data pengamatan pasang surut terhadap


MSL?
5. Bagaimana hasil tampilan peta batimetri dari hasil pengolahan data
praktikum survei hidrografi di pantai Sendang Biru Kabupaten Malang?

I.3 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mahasiswa dapat melakukan perencanaan survey bathymetri dengan baik.
2. Mahasiswa dapat melakukan pengamatan dan pengolahan data pasang
surut.
3. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran detil situasi dan memtakan area
pengamatan.
4. Mahasiswa dapat melakukan pemeruman dan proses pengolahan datanya.
5. Mahasiswa dapat melakukan perhitungan posisi suatu titik menggunakan
GPS metode Kinematik.
6. Mahasiswa dapat membuat tampilan peta batimetri dari hasil pengolahan
data praktikum survei hidrografi.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Hidrografi
Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa Inggris hydrography.
Secara etimologis, hydrography berasal dari kata sifat dalam bahasa Prancis
abad pertengahan hydrographique yaitu kata yang berhubungan dengan sifat
dan pengukuran badan air, misalnya kedalaman dan arus (Merriam-Webster
Online, 2004). Sedangkan Batimetri berasal dari bahasa Yunani : , berarti
"kedalaman", dan , berarti "ukuran". Batimetri adalah ilmu yang
mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai
samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief lantai
atau dataran dengan garis-garis kontur (contour lines) yang disebut kontur
kedalaman (depth contours atau isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan
berupa informasi navigasi permukaan yang merupakan hasil akhir yang
diharapkan dalam penyusunan laporan Survei Hidrografi ini.
Hingga sekitar akhir 1980-an, kegiatan hidrografi utamanya didominasi
oleh survei dan pemetaan laut untuk pembuatan peta navigasi laut (nautical
chart) dan survei untuk eksplorasi minyak dan gas bumi (Ingham, 1975). Peta
navigasi laut memuat informasi penting yang diperlukan untuk menjamin
keselamatan pelayaran, seperti kedalaman perairan, rambu-rambu navigasi, garis
pantai, alur pelayaran, bahaya-bahaya pelayaran dan sebagainya. Selain itu,
kegiatan hidrografi juga didominasi oleh penentuan posisi dan kedalaman di laut
lepas yang mendukung eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi.
Definisi akademik untuk terminologi hidrografi, dikemukakan pertama kali oleh
International Hydrographic Organization (IHO) pada Special Publication
Number 32 (SP-32) tahun 1970 dan Group of Experts on Hydrographic
Surveying and Nautical Charting dalam laporannya pada Second United Nations
Regional Cartographic Conference for the Americas di Mexico City tahun 1979.
IHO mengemukakan bahwa hidrografi adalah that branch of applied science
which deals with measurement and description of physical features of the
navigable portion of earths surface and adjoining coastal areas, with special
reference to their use for the purpose of navigation. Group of Experts on
Hydrographic Surveying and Nautical Charting mengemukakan bahwa
hidrografi adalah the science of measuring, describing, and depicting nature
and configuration of the seabed, geographical relationship to landmass, and
characteristics and dynamics of the sea. Perkembangan hidrografi juga
mengakibatkan perubahan definisi hidrografi yang oleh IHO didefinisikan
sebagai that branch of applied sciences which deals with the measurement and
description of the features of the seas and coastal areas for the primary purpose
of navigation and all other marine purposes and activitie including -inter alia-
offshore activities, research, protection of the environment and prediction
services (Gorziglia, 2004).

Awalnya, batimetri mengacu kepada pengukuran kedalaman samudra.


Pengukuran kedalaman dasar laut dapat dilakukan dengan Conventional Depth
Echo Sounder dimana kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu
antara pengiriman dan penerimaan pulsa suara. Dengan pertimbangan sistim
Side-Scan Sonar pada saat ini, pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry)
dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemetaan dasar laut (Sea Bed
Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen dibawah dasar laut
(subbottom profilers). Pada pengaplikasian Hidrografi untuk membuat peta
batimetri diperlukan survei lokasi pantai terlebih dahulu, sehingga didapatkan
data pengamatan pasang surut, posisi kapal (x,y) dan data kedalaman laut (z)
serta pemetaan detil di sekitar pantai. Survei adalah kegiatan terpenting dalam
menghasilkan informasi hidrografi. Adapun aktivitas utama survei hidrografi
meliputi :
Penentuan posisi (1) dan penggunaan sistem referensi (7)
Pengukuran kedalaman (pemeruman) (2)

Pengukuran arus (3)

Pengukuran (pengambilan contoh dan analisis) sedimen (4)

Pengamatan pasut (5)

Pengukuran detil situasi dan garis pantai (untuk pemetaan pesisir) (6)

Data yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas dapat disajikan


sebagai informasi dalam bentuk peta dan non-peta serta disusun dalam bentuk
basis data kelautan.

Gambar 2.1 Konfigurasi Survey Hidrografi

2.2 Pemeruman
Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan untuk memperoleh
gambaran (model) bentuk permukaan (topografi) dasar perairan (seabed surface).
Proses penggambaran dasar perairan tersebut (sejak pengukuran, pengolahan
hingga visualisasi) disebut dengan survei batimetri. Model batimetri (kontur
kedalaman) diperoleh dengan menginterpolasikan titi-titik pengukuran
kedalaman bergantung pada skala model yang hendak dibuat. Titik-titik
pengukuran kedalaman berada pada lajur-lajur pengukuran kedalaman yang
disebut sebagai lajur perum (sounding line). Jarak antar titik-titik fiks perum pada
suatu lajur pemeruman setidak-tidaknya sama dengan atau lebih rapat dari
interval lajur perum.
Pengukuran kedalaman dilakukan pada titik-titik yang dipilih untuk
mewakili keseluruhan daerah yang akan dipetakan. Pada titik-titik tersebut juga
dilakukan pengukuran untuk penentuan posisi. Titik-titik tempat dilakukannya
pengukuran untuk penentuan posisi dan kedalaman disebut sebagai titik fiks
perum. Pada setiap titik fiks perum harus juga dilakukan pencatatan waktu (saat)
pengukuran untuk reduksi hasil pengukuran karena pasut.

Gambar 2.2 Tahapan Pembuatan Peta Bathimetri

2.2.1 Lajur Pemeruman


Pemeruman dilakukan dengan membuat profil (potongan) pengukuran
kedalaman. Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, lingkaran-lingkaran
konsentrik, atau lainnya sesuai metode yang digunakan untuk penentuan posisi
titik-titik fiks perumnya. Lajur-lajur perum didesain sedemikian rupa sehingga
memungkinkan pendeteksian perubahan kedalaman yang lebih ekstrem. Untuk
itu, desain lajur-lajur perum harus memperhatikan kecenderungan bentuk dan
topografi pantai sekitar perairan yang akan disurvei. Agar mampu mendeteksi
perubahan kedalaman yang lebih ekstrem lajur perum dipilih dengan arah yang
tegak lurus terhadap kecenderungan arah garis pantai.
Dari pengukuran kedalaman di titik-titik fiks perum pada lajur-lajur
perum yang telah didesain, akan didapatkan sebaran titik-titik fiks perum pada
daerah survei yang nilai-nilai pengukuran kedalamannya dapat dipakai untuk
menggambarkan batimetri yang diinginkan. Berdasarkan sebaran angka-angka
kedalaman pada titik-titik fiks perum itu, batimetri perairan yang disurvei dapat
diperoleh dengan menarik garis-garis kontur kedalaman. Penarikan garis kontur
kedalaman dilakukan dengan membangun grid dari sebaran data kedalaman.
Dari grid yang dibangun, dapat ditarik garis-garis yang menunjukkan angka-
angka kedalaman yang sama.

2.2.2 Teknik Pengukuran Kedalaman


Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pemeruman
yang menurut prinsip dan karakter teknologi yang digunakan dapat dilakukan
dengan metode mekanik, optik, dan akustik. Berikut uraian metode mekanik,
optik dan akustik :
1) Metode Mekanik disebut juga dengan metode pengukuran kedalaman
secara langsung. Metode ini efektif digunakan untuk perairan yang
sangat dangkal atau rawa. Instrumen yang digunakan adalah tongkat
ukur atau rantai ukur yang dilakukan dengan bantuan wahana apung.
Bentuk tongkat ukur mirip dengan rambu ukur yang dipakai untuk
pengukuran sipat datar. Sedangkan rantai ukur, karena fleksibilitas
bentuknya, biasanya dipakai untuk pengukuran kedalaman yang rata-
rata lebih dalam dibanding dengan tongkat ukur. Pada ujung rantai ukur
digantungkan pemberat untuk menghindari sapuan arus perairan dan
menjaga agar rantai senantiasa relatif tegak. Pengukuran kedalaman
dengan metode mekanik efektif digunakan untuk pemetaan pada batas
daerah survei yang relatif tidak luas dengan skala yang cukup besar.

2) Metode Optik memanfaatkan transmisi sinar laser dari pesawat terbang


dan prinsip-prinsip optik untuk mengukur kedalaman perairan. Dikenal
dengan Laser Ariborne Bathymetry (LAB).

Kanada : LIDAR (Light Detecting and Ranging)


AS : AOL (Airborne Oceanographic LIDAR) dam HALS (Hydrographi
Airborne Laser Sounder)
Australia : LADS (Laser Airborne Depth Sounder)
Prinsip kerja LADS adalah transmisi sinar laser dari pesawat terbang
dengan sudut tertentu terhadap sumbu vertikal ke permukaan air. Sebagian
gelombang sinar laser dipantulkan dan dibiaskan ke segala arah dan salah satu
berkasnya akan menembus ke dalam air. Berkas sinar laser yang menembus ke
dalam air adalah 98% dari energi awalnya dan akan dibiaskan dengan arah
mendekati garis normal akibat perubahan dari densitas medium yang lebih
renggang ke densitas medium yang lebih rapat. Berkas gelombang sinar laser
akan meneruskan perjalanan perambatannya di dalam air hingga menyentuh
dasar perairan dan dipantulkan ke segala arah dan salah satu berkasnya
dipantulkan kembali ke arah sudut datangnya. Berkas sinar yang memantul ke
arah sudut datangnya kemudian meneruskan perjalanan perambatannya dan
menembus batas air dan udara. Karena perubahan densitas medium yang lebih
rapat ke medium yang lebih renggang, berkas sinar akan dibiaskan menjauhi
garis normal dan merambat pada garis lintasan yang searah dengan saat
pertama kali ditransmisikan dan diterima kembali di pesawat terbang oleh unit
penerima gelombang. Teknologi LADS dioperasikan menggunakan pesawat
terbang sekelas Fokker-27 Seri 500 dengan kecepatan terbang sekitar 145 knot
pada ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut menggunakan sistem
penentuan posisi kinematic differential GPS. Gelombang yang digunakan
adalah sinar laser infra merah dengan panjang gelombang 532 nm dan periode
5 ns dengan pembangkit daya sebesar 1 MW. Sistem ini hanya untuk
kedalaman 2 50 m dengan kondisi air jernih dan terbuka, cakupan daerah
survei yang luas dan untuk pemetaan skala kecil. Teknik pengukuran
kedalaman dengan metode optik efektif digunakan pada perairan dangkal yang
jernih dengan kedalaman sekitar 50 m.
3) Metode Akustik ini paling sering digunakan. Gelombang akustik dengan
frekuensi 5 kHz atau 100 Hz akan mempertahankan kehilangan intensitasnya
hingga kurang dari 10% pada kedalaman 10 km, sedangkan gelombang akustik
dengan frekuensi 500 kHz akan kehilangan intensitasnya pada kedalaman
kurang dari 100 m. Alat yang digunakan adalah echosounder (perum gema)
yang pertama kali dikembangkan di Jerman tahun 1920. Prinsip metode ini
adalah pengukuran jarak dengan memanfaatkan gelombang akustik yang
dipancarkan dari tranduser. Tranduser adalah bagian dari alat perum gema yang
mengubah energi listrik menjadi mekanik (untuk membangkitkan gelombang
suara) dan sebaliknya. Gelombang akustik merambat pada medium air hingga
menyentuh dasar perairan dan dipantulkan kembali ke transduser.

d = (vt)
dimana:
du = kedalaman hasil ukuran
v = kecepatan gelombang akustik pada medium air
t = selang waktu sejak gelombang dipancarkan dan diterima
kembali
Dalam survei ini digunakan metode akustik untuk pengukuran kedalaman.
Penggunaan gelombang akustik untuk pengukuran-pengukuran bawah air
(termasuk: pengukuran kedalaman, arus, dan sedimen) merupakan teknik yang
paling populer dalam hidrografi pada saat ini. Gelombang akustik dengan
frekuensi 5 kHz atau 100 Hz akan mempertahankan kehilangan intensitasnya
hingga kurang dari 10% pada kedalaman 10 km, Sedangkan gelombang akustik
dengan frekuensi 500 kHz akan kehilangan intensitasnya pada kedalaman
kurang dari 100 m. Untuk pengukuran kedalaman, digunakan echosounder atau
perum gema yang pertama kali dikembangkan di Jerman tahun 1920
(Lurton,2002). Untuk pemilihan echosounder, faktor-faktor yang harus
diperhatikan adalah kedalaman maksimum daerah yang disurvei dan sudut
pancaran pulsa. Jenis Echosounder berdasarkan kemampuan kedalaman yang
dapat dicapai adalah Echosounder laut dangkal dan Echosounder laut dalam.
Teknik echosounder yang dipakai untuk mengukur kedalaman laut, bisa dibuat
alat pengukur jarak dengan ultra sonic. Pengukur jarak ini memakai rangkaian
yang sama dengan Jam Digital dalam artikel yang lalu, ditambah dengan
rangkaian pemancar dan penerima Ultra Sonic.

Gambar 2.3 Echosounder Dual Frekuensi

Prinsip kerja echosounder untuk pengukuran jarak menggunakan pulsa


ultrasonic dengan frekwensi lebih kurang 41 KHz sebanyak 12 periode yang
dikirimkan dari pemancar. Ketika pulsa mengenai benda penghalang, pulsa ini
dipantulkan, dan diterima kembali oleh penerima ultrasonic. Dengan mengukur
selang waktu antara saat pulsa dikirim dan pulsa pantul diterima, jarak antara
alat pengukur dan benda penghalang bisa dihitung.
Gambar 2.4 Prinsip EchoSounder

2.2.3 Single-beam Echosounder


Single-beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman air yang
menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal
gelombang suara. Sistem batimetri dengan menggunakan single beam secara
umum mempunyai susunan : transciever (tranducer/reciever) yang terpasang
pada lambung kapal atau sisi bantalan pada kapal. Sistem ini mengukur
kedalaman air secara langsung dari kapal penyelidikan. Transciever yang
terpasang pada lambung kapal mengirimkan pulsa akustik dengan frekuensi
tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang suara) secara langsung
menyusuri bawah kolom air. Energi akustik memantulkan sampai dasar laut dari
kapal dan diterima kembali oleh tranciever. Transciever terdiri dari sebuah
transmitter yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol panjang gelombang
pulsa yang dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk besar frekuensi
yang diberikan.
Transmitter ini menerima secara berulang-ulang dlam kecepatan yang tinggi,
sampai pada orde kecepatan milisekon. Perekaman kedalaman air secara
berkesinambungan dari bawah kapal menghasilkan ukuran kedalamn beresolusi
tinggi sepanjang lajur yang disurvei. Informasi tambahan seperti heave (gerakan
naik-turunnya kapal yang disebabkan oleh gaya pengaruh air laut), pitch
(gerakan kapal ke arah depan berpusat di titik tengah kapal), dan roll (gerakan
kapal ke arah sisi-sisinya (lambung kapal) atau pada sumbu memanjang) dari
sebuah kapal dapat diukur oleh sebuah alat dengan nama Motion Reference Unit
(MRU), yang juga digunakan untuk koreksi posisi pengukuran kedalaman selam
proses berlangsung.
Range frekuensi yang dipakai pada sistem ini menurut WHSC Sea-floor
Mapping Group mengoperasikan range frekuensi dari 3.5 kHz sampai 200 kHz.
Single-beam echosounders relatif mudah untuk digunakan, tetapi alat ini hanya
menyediakan informasi kedalaman sepanjang garis trak yang dilalui oleh kapal.
Jadi, ada feature yang tidak terekam antara lajur per lajur sebagai garis traking
perekaman, yang mana ada ruang sekitar 10 sampai 100 meter yang tidak
terlihat oleh sistem ini.

2.3 Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai


Pengukuran detil situasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data detil pada
permukaan bumi (unsur alam maupun buatan manusia) yang diperlukan bagi
pelaksanaan pemetaan situasi yang bertujuan memberikan gambaran situasi
secara lengkap pada suatu daerah di sepanjang pantai dengan skala tertentu
untuk berbagai keperluan. Sedangkan pengukuran garis pantai dimaksudkan
untuk memperoleh garis pemisah antara daratan (permukaan bumi yang tidak
tergenang) dan lautan (permukaan bumi yang tergenang). Pada dasarnya,
pengukuran detil situasi dan garis pantai juga merupakan kegiatan penentuan
posisi titik-titik detil sepanjang topografi pantai dan titik-titik yang terletak pada
garis pantai. Selain dengan menggunakan GPS, pengukuran garis pantai dapat
pula dilakukan menggunakan cara offset atau polar, data hasil pengukuran
lapangan dengan metoda tachymetri.
Untuk keperluan ini, diperlukan sedikitnya sepasang titik kontrol (kerangka
dasar) sebagai referensi posisi. Kerapatan titik detil pantai tergantung dari skala
peta yang akan dibuat, serta bentuk geometris garis pantai. Semakin besar skala
peta, semakin rapat titik detil pantai yang harus diukur. Demikian juga,
kerumitan bentuk garis pantai akan memperbanyak titik detil yang harus diukur.
Ketelitian detil situasi dan garis pantai yang disyaratkan umumnya adalah 1 mm
pada skala peta.
Sebelum menghitung jarak mendatar (D), terlebih dahulu dihitung jarak kiring
(Dm).
Dm = 100 (BA-BB)cos m, atau
Dm = 100 (BA-BB)sin z
Setelah jarak miring (Dm) dihitung, maka jarak mendatar (D) dapat dihitung
dengan rumus:
D = Dm cos m atau
D = Dm sin z
Sedangkan untuk penentuan beda tinggi (HAB) adalah sebagai berikut:
HAB = Ta + TPA + D tan m BT TPB
dimana:
Ta = Tinggi alat
TPA = Tinggi patok di titik A
D = Jarak mendatar
m = Jarak miring
BT = Bacaan benang tengah pada rambu
TPB = Tinggi patok di titik B
Sehingga koordinat titik B dapat diperoleh dengan rumus:
XB = XA + Dsin
YB = YA + Dcos
HB = HA + HAB
2.4 Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya
permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya
gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh
matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan
karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. Pasang laut merupakan
hasil dari gaya gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan
ke arah luar pusat rotasi (bumi). Gravitasi bervariasi secara langsung dengan
massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih
kecil dari Matahari, namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada
gaya tarik Matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan
lebih dekat daripada jarak Matahari ke bumi.Faktor non astronomi yang
mempengaruhi pasut terutama di perairan semi tertutup seperti teluk adalah bentuk
garis pantai dan topografi dasar perairan.
Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut
pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut
rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antara
puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya.
Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50
menit. Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan surut setiap harinya.
Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya pembangkit
pasang surut. Ada tiga tipe pasang surut, yaitu:
1. Pasang surut harian tunggal (diurnal tides) yaitu jika suatu perairan
mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari.

2. Pasang surut harian ganda (semidiurnal tides) yaitu jika terjadi dua kali pasang
dan dua kali surut dalam sehari.

3. Pasang surut tipe campuran (mixed tides) yaitu peralihan antara tipe tunggal
dan ganda dan tipe pasut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe
campuran dominasi ganda dan tipe campuran dominasi tunggal.

Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada
dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat
tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi
pada saat bulan baru dan bulan purnama.
Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk
sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan
pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4
dan 3/4.

Tipe pasang surut dapat ditentukkan berdasarkan bilangan Formzal (F) yang
dinyatakan dalam bentuk:
F = [A(O1) + A(K1)]/[A(M2) + A(S2)]
dengan ketentuan :
F 0.25 : Pasang surut tipe ganda (semidiurnal tides)
0,25<F1.5 : Pasang surut tipe campuran condong harian ganda (mixed mainly
semidiurnal tides)
1.50<F3.0 : Pasang surut tipe campuran condong harian tunggal (mixed
mainly diurnal tides)
F > 3.0 : Pasang surut tipe tunggal (diurnal tides)

dimana:
F : Bilangan Formzal
AK1 : Amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh
gaya tarik bulan & matahari
AO1 : Amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh
gaya tarik bulan
AM2 : Amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh
gaya tarik bulan
AS2 : Amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh
gaya tarik matahari

2.4.1 Perhitungan Pasang Surut menggunakan Metode Dodsoon


Berdasarkan metode Doodson pengamatan pasang surut dilakukan selama 39
jam, dimana titik tengah atau titik tengah jam pengamatan terletak pada jam 12
siang. Sehingga pada praktikum Survey Hodrografi untuk pengamatan pasang
surut dilakukan mulai dari jam 17.00 WIB pada hari jumat tanggal 16 Mei 2014
sampai dengan jam 7.00 WIB hari minggu tanggal 18 Mei 2014. Dimana titik
tengah pengamatan terletak pada jam 12.00 pada hari Sabtu tanggal 17 Mei 2014.
Rumus perhitungan pasang surut menggunakan metode Doodson adalah sebagai
berikut:
dimana:
H(t) : Ketinggian permukaan air
T : Waktu tengan pengamatan jam 12:00
F(t) : Konstanta pengali data pasut yaitu (2,1,1,2,0,1,1,0,2,0,1,1,0,1,0,0,1,0,1)
Perhitungan pasut nii untuk mengetahui nilai muka air laut rata-rata pada hari
sabtu tanggal 17 Mei 2014. Contoh perhitungan pasang surut metode Doodson
adalah sebagai berikut:
Gambar 2.7 Contoh Perhitungan Pasang Surut Metode Dodsoon

2.5 Global Positioning System


GPS (Global Positioning System) adalah sebuah sistem navigasi berbasiskan
radio yang menyediakan informasi koordinat posisi, kecepatan, dan waktu
kepada pengguna di seluruh dunia. Jasa penggunaan satelit GPS tidak dikenakan
biaya. Pengguna hanya membutuhkan GPS receiver untuk dapat mengetahui
koordinat lokasi. Keakuratan koordinat lokasi tergantung pada tipe GPS receiver.
GPS terdiri dari tiga bagian yaitu satelit yang mengorbit bumi (Satelit GPS
mengelilingi bumi 2x sehari), stasiun pengendali dan pemantau di bumi, dan GPS
receiver (alat penerima GPS). Satelit GPS dikelola oleh Amerika Serikat. Alat
penerima GPS inilah yang dipakai oleh pengguna untuk melihat koordinat posisi.
Selain itu GPS juga berfungsi untuk menentukan waktu (Sutrisnono, 2008). radio
angkasa, yang diperlengkapi dengan antena-antena untuk mengirim dan menerima
sinyal-sinyal gelombang. Sinyal-sinyal ini selanjutnya diterima oleh receiver GPS
di/dekat permukaan bumi, dan digunakan untuk menentukan informasi posisi,
kecepatan, maupun waktu. Selain itu satelit GPS juga dilengkapi dengan peralatan
untuk mengontrol attitude satelit. Secara umum segmen sistem kontrol berfungsi
mengontrol dan memantau operasional satelit dan memastikan bahwa satelit
berfungsi sebagaimana mestinya. Segmen pengguna terdiri dari para pengguna
satelit GPS di manapun berada. Dalam hal ini alat penerima sinyal GPS (GPS
receiver) diperlukan untuk menerima dan memproses sinyal-sinyal dari satelit GPS
untuk digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan dan waktu. Komponen utama
dari suatu receiver GPS secara umum adalah antena dengan pre-amplifier, bagian RF
dengan pengidentifikasi sinyal dan pemroses sinyal, pemroses mikro untuk
pengontrolan receiver, data sampling dan pemroses data (solusi navigasi), osilator
presisi , catu daya, unit perintah dan tampilan, dan memori serta perekam data
(Wikipedia, 2009).
Satelit GPS memancarkan dua sinyal yaitu frekuensi L1 (1575.42 MHz) dan L2
(1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random
yaitu kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya
membawa kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga
penerima (GPS Receiver) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada
saat fitur Anti-Spoofing diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan
selanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y. Penghitungan posisi
dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan kode C/A dan kode P(Y). GPS receiver
menghitung jarak antara GPS receiver dengan satelit (pseudorange). Ada tiga
jenis alat GPS. Tipe pertama adalah GPS Navigasi, GPS Navigasi biasanya
memiliki tingkat kesalahan dibawah 10 m (rata-rata GPS tipe ini memiliki
kesalahan 3 sampai dengan 6 meter), Harga GPS Navigasi berkisar dari Rp 750
ribu sampai dengan Rp 10 juta-an). Tipe kedua adalah tipe GPS Geodesi single
frekuensi, GPS Geodesi single frekuensi biasanya digunakan untuk pemetaan,
tingkat kesalahan dibawah 1 m, GPS Geodesi tipe ini dijual sekitar 20 -30 jutaan.
GPS tipe terakhir adalah GPS tipe Geodetik dual frekuensi, GPS ini memiliki
tingkat ketelitian yang tinggi dan tingkat kesalahannya di bawah 1 cm. GPS
Geodesi dual frekuensi digunakan untuk mengukur pergerakan tanah.

2.5.1 Cara Kerja GPS


Setiap satelit mentransmisikan dua sinyal yaitu L1 (1575.42 MHz) dan L2
(1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random
yaitu
kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa
kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima
(perangkat GPS) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur
Anti-Spoofing diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan selanjutnya dikenal
sebagai kode P(Y) atau kode Y. Perangkat GPS yang dikhususkan buat sipil
hanya menerima kode C/A pada sinyal L1 (meskipun pada perangkat GPS yang
canggih dapat memanfaatkan sinyal L2 untuk memperoleh pengukuran yang
lebih teliti. Perangkat GPS menerima sinyal yang ditransmisikan oleh satelit
GPS. Dalam menentukan posisi, kita membutuhkan paling sedikit 3 satelit untuk
penentuan posisi 2 dimensi (lintang dan bujur) dan 4 satelit untuk penentuan
posisi 3 dimensi (lintang, bujur, dan ketinggian). Semakin banyak satelit yang
diperoleh maka akurasi posisi kita akan semakin tinggi. Untuk mendapatkan
sinyal tersebut, perangkat GPS harus berada di ruang terbuka. Apabila perangkat
GPS kita berada dalam ruangan atau kanopi yang lebat dan daerah kita dikelilingi
oleh gedung tinggi maka sinyal yang diperoleh akan semakin berkurang sehingga
akan sukar untuk menentukan posisi dengan tepat atau bahkan tidak dapat
menentukan posisi.
Perangkat GPS menerima sinyal dari satelit dan kemudian melakukan
perhitungan sehingga pada tampilan umumnya kita dapat mengetahui posisi
(dalam lintang dan bujur), kecepatan, dan waktu. Disamping itu juga informasi
tambahan seperti jarak, dan waktu tempuh. Posisi yang ditampilkan merupakan
sistem referensi geodetik WGS-84 dan waktu merupakan referensi USNO (U.S.
Naval Observatory Time) (Jangwahyu, 2009). Ada 3 macam tipe alat GPS,
dengan masing-masing memberikan tingkat ketelitian (posisi) yang berbeda-
beda. Tipe alat GPS pertama adalah tipe Navigasi (Handheld, Handy GPS). Tipe
nagivasi harganya cukup murah, sekitar 1 4 juta rupiah, namun ketelitian posisi
yang diberikan saat ini baru dapat mencapai 3 sampai 6 meter. Tipe alat yang
kedua adalah tipe geodetik single frekuensi (tipe pemetaan), yang biasa
digunakan dalam survey dan pemetaan yang membutuhkan ketelitian posisi
sekitar sentimeter sampai dengan beberapa desimeter. Tipe terakhir adalah tipe
Geodetik dual frekuensi yang dapat memberikan ketelitian posisi hingga
mencapai milimeter. Tipe ini biasa digunakan untuk aplikasi precise positioning
seperti pembangunan jaring titik kontrol, survey deformasi, dan geodinamika.
Harga receiver tipe geodetik cukup mahal, mencapai ratusan juta rupiah untuk 1
unitnya.
Metode penentuan posisi dengan GPS pertama-tama terbagi dua, yaitu metoda
absolut, dan metoda diferensial. Masing-masing metoda kemudian dapat
dilakukan dengan cara real time dan atau post-processing. Apabila obyek yang
ditentukan posisinya diam maka metodenya disebut Statik. Sebaliknya apabila
obyek yang ditentukan posisinya bergerak, maka metodenya disebut kinematik.
Selanjutnya lebih detail lagi kita akan menemukan metoda-metoda seperti SPP,
DGPS, RTK, Survei GPS, Rapid statik, pseudo kinematik, dan stop and go, serta
masih ada beberapa metode lainnya
Pada sistem GPS terdapat beberapa kesalahan komponen sistem yang akan
mempengaruhi ketelitian hasil posisi yang diperoleh. Kesalahan tersebut
contohnya kesalahan orbit satelit, kesalahan jam satelit, kesalahan jam receiver,
kesalahan pusat fase antena, dan multipath. Hal-hal lainnya juga ada yang
mengiringi kesalahan sistem seperti efek imaging, dan noise. Kesalahan ini
dapat dieliminir dengan menggunakan teknik differencing data. Ketika sinyal
melalui lapisan atmosfer, maka sinyal tersebut akan terganggu oleh konten dari
atmosfer tersebut. Besarnya gangguan di sebut bias. Bias sinyal terdiri dari 2
macam yaitu bias ionosfer dan bias troposfer. Bias ini harus diperhitungkan
(dimodelkan atau diestimasi atau melakukan teknik differencing untuk metode
diferensial dengan jarak baseline yang tidak terlalu panjang) untuk mendapatkan
solusi akhir koordinat dengan ketelitian yang baik. Apabila bias diabaikan dapat
memberikan kesalahan posisi sampai dengan orde meter.
2.5.2 Penentuan Posisi menggunakan GPS
Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi (pengikatan
ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan ke
beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan
oleh GPS adalah posisi 3 dimensi (x,y,z atau ,,h) yang dinyatakan dalam
datum WGS (World Geodetic System) 1984, sedangkan inggi yang diperoleh
adalah tinggi ellipsoid.
Pada prinsipnya survey GPS bertumpu pada metode-metode penentuan posisi
static secara diferensial dengan menggunakan data fase. Penentuan posisi relatif
atau metode differensial adalah menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik
lain yang telah diketahui koordinatnnya. Pengukuran dilakukan bersamaan di
kedua titik dengan selang waktu tertentu. Hasil dari pengukuran akan diproses
hingga didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut
juga dengan baseline antar titik yang diukur.Dalam hal ini pengamatan satelit
GPS umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu tertentu.
(beberapa puluh menit hingga beberapa jam tergantung tingkat ketelitian yang
diinginkan) dalam suatu kerangka titik-titik yang akan ditentukan posisinya.

Gambar 2.8 Penentuan Posisi menggunakan GPS


Secara garis besar penentuan posisi dengan GPS ini dibagi menjadi dua metode
yaitu metode absolut dan metode relatif.
Metode absolut atau juga dikenal sebagai point positioning, menentukan posisi
hanya berdasarkan pada 1 pesawat penerima (receiver) saja. Ketelitian posisi
dalam beberapa meter (tidak berketelitian tinggi) dan umumnya hanya
diperuntukkan bagi keperluan navigasi.

Metode relatif atau sering disebut differential positioning, menetukan posisi


dengan menggunakan lebih dari sebuah receiver. Satu GPS dipasang pada lokasi
tertentu dimuka bumi dan secara terus menerus menerima sinyal dari satelit
dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai referensi bagi yang lainnya.
Metode ini menghasilkan posisi berketelitian tinggi (umumnya kurang dari 1
meter) dan diaplikasikan untuk keperluan survei geodesi ataupun pemetaan yang
memerlukan ketelitian tinggi.

Tabel 2.2 Spesifikasi Metode GPS


Metode penentuan posisi dengan survei static singkat (Rapid static) pada
dasarnya adalah survei statik dengan waktu pengamatan yang lebih singkat, yaitu
15-45 menit. Prosedur operasional lapangan pada survei statik singkat adalah
sama seperti pada survei statik, hanya selang waktu pengamatannya yang lebih
singkat. Oleh sebab itu, disamping memerlukan perangkat lunak yang handal dan
canggih, metode statik singkat juga memerlukan geometri pengamatan yang baik,
tingkat residu kesalahan dan bias yang relatif rendah, serta lingkungan
pengamatan yang relatif tidak menimbulkan multipath.
Terdapat beberapa hal yang perlu di catat yaitu :
1) Survei statik singkat mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi,
karena waktu pengamatan satu sesi relative singkat.
2) Metode survei statik singkat memerlukan receiver GPS serta piranti lunak
pemrosesan data yang lebih canggih dan lebih modern.
3) Metode survei statik singkat relatif kurang fleksibel dalam hal spesifikasi
pengamatan.
4) Metode survei statik singkat relatif lebih rentan terhadap efek kesalahan dan
bias.

2.6 Pengukuran Beda Tinggi


Kerangka kontrol vertikal (KKV) merupakan kumpulan titik-titik yang telah
diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya terhadap sebuah datum ketinggian.
Datum ketinggian ini dapat berupa ketinggian muka air laut rata-rata (mean sea
level-MSL) atau ditentukan lokal. Tinggi adalah perbedaan jarak tegak dari suatu
bidang referensi yang telah ditentukan terhadap suatu titik sepanjang garis
vertikalnya. Untuk mendapatkan tingi suatu titik perlu dilakukan pengukuran
beda tinggi antara suatu titik terhadap titik yang telah diketahui tingginya dengan
alat sipat datar. Pengukuran KKV bertujuan untuk menentukan tinggi titik-titik
yang dicari (koordinat vertikal) terhadap bidang referensi.
1. Pengukuran dilakukan dengan cara pulang pergi atau dengan dengan double
stand.

2. Semua Bench Mark yang dipakai harus dilalui jalur Sipat Datar.

3. Batas toleransi untuk kesalahan penutup maksimum 8mm km. D (Waterpass


Orde 2)

2.7 Reduksi Kedalaman Laut


Hasil pengukuran pemeruman berupa kertas grafik kedalaman dasar laut
(koordinat Z) , hasil ini harus dikoreksi dengan hasil pengamatan pasang surut
selama pengukuran, serta tinggi acuan yang di gunakan (lihat Gambar 2.11).

Gambar 2.11 Reduksi Elevasi Hasil Pemeruman


Elevasi titik fix dapat ditulis : Elevasi titik fix = h - r + p d. Dimana :
h = Elevasi titik BM terhadap referensi tinggi yang dipakai (m)
p = bacaan pasut (m)
r = beda tinggi antara BM dengan nol pasut hasil pengukuran waterpas
d = kedalaman air laut saat penentuan posisi titik fix.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum survei hidrografi adalah
sebagai berikut.
1. Perahu motor 1 buah

2. Echosounder 1 set
(depth recorder KYOWA SHOKO)
3. Map Sounder 1 set

4. Dudukan pipa penyangga transduser 1 buah

5. Kabel penghubung antara perekam dan accu 1 set

6. Receiver GARMIN GPSmap 168 Sounder 1 set

7. Antena receiver GPS 1 buah

8. Kabel dari receiver ke antena 1 buah

9. Barcheck 1 buah

10. Accu besar 2 buah

11. Accu kecil 1 buah

12. Statif 3 buah

13. Payung 3 buah

14. GPS navigasi (GPS Map 76) 2 buah

15. Palem 3 meter 1 buah

16. Sipat datar/ waterpass Nikon AE7C 1 unit

17. Rambu ukur 1 buah

18. Pelampung 12 buah

19. Alat pencatatat waktu 1 buah

20. Kalkulator 1 buah

21. Alat tulis 3 buah

22. Formulir pengukuran 5 buah


23. Karet ban 8 buah

24. Patok paralon 5 buah

25. Roll meter 30m 4 buah


Adapun perangkat lunak yang digunakan dalam praktikum survei hidrografi
adalah sebagai berikut.
1. Ms Word.

2. Ms Excel.

3. AutoCAD Land Desktop.

4. Surfer 11.
3.4 Tahapan Survei
Adapun tahapan praktikum dalam survei hidrografi ini adalah sebagai berikut.
1. Pengukuran detil situasi sekitar pantai sendang biru menggunakan Total
Station.

2. Pengamatan pasang surut air lautdengan menggunakan tide pole (palem).

3. Pemeruman atau pengukuran kedalaman laut menggunakan alat GPS Map


Sounder dan echosounder.

4. Penentuan posisi horizontal (fix point) pada saat pemeruman dengan metode
kinematic.

5. Pengukuran beda tinggi untuk menentukan ketinggian datum vertical (chart


datum).

6. Pengamatan Benchmark dengan metode radial.

3.4.1 Pengukuran Detil


Adapun tahapan pengukuran detil adalah sebagai berikut.
1. Pembuatan titik-titik kerangka horisontal dengan metode kerangka poligon.

2. Tandai titik-ttik kerangka poligon tersebut dengan patok paralon atau bisa
juga dengan menggunakan paku payung.

3. Berdirikan alat Total station dan lakukan centering.


4. Ukur tinggi alat dengan roll meter.

5. Lakukan pengukuran kerangka kontrol horisontal.

6. Lakukan pengukuran detail situasi untuk area garis pantai (shoreline) seperti
jalan, bangunan, saluran air, tiang listrik, pohon, lampu, dermaga, dan sekitar
area garis pantai.

7. Catat hasil pengukuran poligon dan lakukan penggamabaran sketsa untuk


pengukuran detail situasi agar memudahkan dalam pengolahan data.

3.4.2 Pengamatan Pasang Surut


Metode pelaksanaan pengamatan pasang surut pada survai hidrografi ini
menggunakan rambu pasang surut/palem. Inetrval waktu untuk pengamatan
pasang surut ini terbagi menjadi interval waktu pengamatan setiap 30 menit.
Adapun tahapan pengamatan pasang surut adalah sebagai berikut.
1. Letakkan rambu pasang surut/palem pada lokasi dimana pada saat surut,
palem masih terkena air dan saat pasang palem tidak tenggelam (masih
terlihat).

2. Palem diikat dengan menggunakan karet ban (tali karet) dan klem agar
kokoh dan berada dalam keadaan stabil.

3. Selama pengamatan berlangsung palem harus diamati. Catat waktu dan


kedudukan muka air laut pada palem dengan interval 30 menit dan 15 menit
apabila bersamaan dengan waktu pemeruman. Catat pada formulir
pengukuran pasang surut.

3.4.3 Pemeruman
Pemeruman atau sounding dilakukan dengan echosounder dan GPS map
sounder dengan titik fix perum diamati sesuai dengan jalur pemeruman yang
telah dibuat. Jalur perum dibuat dari software map source dengan panjang jalur
1 km dan lebar jalur terhadap garis pantai 150 m.
Adapun tahapan pemeruman adalah sebagai berikut.
1. Pasang alat-alat yang akan digunakan di perahu (echosounder dan GPS map
sounder serta perlengkapannya).
Siapkan kabel penghubung antara depth recorder dengan accu dan transduser.

Pasang transduser pada pipa penyangga dan kencangkan transduser pada pipa
penyangga dengan baut.

Pasang dudukan pipa penyangga di lambung kapal dengan kokoh agar tegak dan tidak
goyah oleh arus dan gelombang laut.

Pasang antena GPS map sounder di atas tiang penyangga transduser.

Tempatkan depth recorder pada tempat yang aman di perahu, pastikan POWER dalam
keadaan OFF.
Hubungkan kabel transduser dengan recorder di TRANSDUSER dengan accu.

2. Siapkan posisi perahu pada jalur perum yang telah direncanakan.

3. Lakukan pemeruman dengan aba-aba dari salah satu orang di perahu.

4. Pada setiap titik fix perum, akan diberikan aba-aba fix, dan operator akan
menekan tombol marker pada echosounder serta mencatat nomor titik pada
kertas fax (echogram).

5. Pada GPS map sounder, ketika aba-aba fix maka operator akan menekan
tombol ENTER hingga muncul posisi perahu dalam lintang dan bujur.

6. Lakukan prosedur yang sama pada semua titik fix perum hingga jalur terakhir.
3.4.4 Penentuan Posisi Horisontal (Base GPS pemeruman)
Metode ini dilaksanakan untuk menentukan posisi horisontal selama proses
pemeruman di laut. Adapun tahapan penentuan posisi horisontal pemeruman
adalah sebagai berikut.
1. Mendirikan alat GPS Geodetik di Benchmark yang ditetapkan sebagai base.

2. Pasang rover dan controller GPS di perahu.

3. Pasang rover segaris dengan pemasangan tranduser.


4. Melakukan perekaman data GPS selama proses pemeruman dilaksanakan.

3.4.5 Pengukuran Sipat Datar


Pengukuran sipat datar dilaksanakan untuk mengikatkan rambu pasang surut
terhadap benchmark agar diketahui tinggi datum vertikal berdasarkan referensi
mean sea level.
Adapun tahapan pengukuran sipat datar adalah sebagai berikut.
1. Pembuatan kerangka kontrol vertikal untuk pengikatan BM terhadap rambu
pasang surut.

2. Pembagian slug selama proses pengukuran sipat datar.

3. Berdrikan alat waterpass kemudian lakukan centering.

4. Pembacaan rambu waterpass, kemudian pencatatan hasil pembacaan.

5. Proses pengukuran dilakukan sesuai dengan rute pulang-pergi.

6. Lakukan pengukuran jarak antara titik berdiri alat dan rambu ukur.

3.4.6 Pengamatan Benchmark Metode Radial


Pengamatan benchmark dilakukan untuk menghitung dan menentukan
koordinat-koordinat benchmark yang ada dengan menggunakan metode rapid
static (radial) dengan alat GPS Geodetik.
Adapun tahapan pengamatan BM adalah sebagai berikut.
1. Pertama-tama lakukan perencanaan titik-titik benchmark (BM).

2. Pasang BM sesuai dengan persebaran titik yang telah ditentukan. Dalam hal
ini pemasangan BM dilakukan secara permanen.

3. Pengamatan BM dilakukan dengan cara berdirikan alat diatas BM dan


lakukan centering.

4. Berdirikan alat GPS Geodetik di salah satu BM yang telah diketahui


koordinatnya.

5. Berdiriakan juga alat GPS pada titik yang akan dicari koordinatnya.

6. Nyalakan GPS dan lakukan setting GPS dengan interval pengamatan selama
30 menit dengan spesifikasi perekaman data setiap 3 detik.

7. Setelah selasai, pindahkan GPS ke titik yang lain hingga semua titik selasai
dilakukan pengamatan.
3.5 Metode Perhitungan
Hasil output dari praktikum hidrografi ini adalah peta bathimetry. Dari data hasil
pengukuran diolah sehingga menghasilkan posisi X, Y, dan Z dari titik fix
kedalaman, dan juga posisi detil daratan serta garis pantai.
1. Metode Perhitungan detil daratan dan garis pantai. Metode perhitungan detil
daratan menggunakan metode tachimetry. Data yang diambil adalah sebagai
berikut.
a. Tinggi alat.

b. Data sudut horizontal poligon.

c. Data sudut horizontal detil.

d. Data sudut vertikal detil.

e. Data jarak vertikal

f. Keterangan dan sket gambar detil.

Dari data-data diatas dihitung:


Besar sudut horizontal dengan rumus

= Bacaan sudut horizontal detil Bacaan sudut horizontal backsight


Besar sudut vertikal dengan rumus

= 90 Bacaan sudut vertikal


Jarak miring dan jarak mendatar dengan rumus

Dm = 100(BA-BB)cos m atau Dm = 100(BA-BB)sin z


D = Dm cos m atau Dm sin z
Perhitungan beda tinggi dengan rumus

HAB = Talat + Tpatok-alat + D.tan m BT Tpatok-objek


Koordinat titik detil dapat dihitung dengan rumus

Xd = Xa + D sin
Yd = Ya + D cos
Hd = Ha + hab
2. Metode Pengamatan Pasut. Data yang diperlukan dalam perhitungan pasut
adalah sebagai berikut.
a. Waktu pengambilan data.

b. Bacaan rambu pasut.

c. Tinggi alat.

d. Bacaan rambu (BA,BB,BT).

Dari data di atas dapat dihitung

Tinggi muka air laut rata-rata dengan menjumlahkan semua data dan dibagi
jumlah data.
Beda tinggi dari rambu pasut ke BM dengan rumus
h = (BT rambu pasut BT rambu) + (BT rambu BT rambu BM)
3. Metode Perhitungan Kedalaman Titik Fix dengan Tranduser. Data yang
diperlukan dalam perhitungan kedalaman titik fix adalah sebagai berikut.
a. Pengamatan pasut.

b. Data sounding tranduser.

c. Tinggi BM terhadap MSL.

d. Beda tinggi dari rambu pasut ke BM.

Dari data di atas dapat dihitung


Interpolasi linier antara waktu dan ketinggian pasut.

Dtitik fix 1 = D1 + ((Wtitik fix W1/W2-W1) x D2 D1


Kedalaman titik dari rambu pasut

Drm 1 = data sounding tranduser + Dtitik fix 1


Kedalaman titik dari BM

Dbm 1 = Drm + h
Kedalaman titik dari MSL
Dmsl = Dbm + MSL
4. Metode Perhitungan penentuan posisi Titik Fix dengan Map Sounder.
Metode perhitungan kedalaman titik fix dengan menggunakan alat map
sounder, data-datanya telah terekam secara digital sehingga pengguna tidak
perlu untuk menghitung data kedalaman dan posisi titik fix. Data yang ada di
map sounder adalah sebagai berikut.
a. Data kedalaman.

b. Data posisi.

c. Data track kapal (perahu).

d. Data waktu pengambilan.

e. Nomor titik fix.

f. Jalur pengukuran pada GPS Map Sonder.


5. Metode Perhitungan Posisi Titik Fix dengan total station. Data yang
diperlukan untuk menghitung posisi kapal adalah sebagai berikut.
a. Koordinat titik fix darat (titik berdirinya alat)

b. Bacaan sudut horizontal backsight.


c. Bacaan sudut horizontal perahu.

d. Waktu pengambilan sudut horizontal perahu.

Sedangkan dari data tersebut bisa dihitung


Jarak antara titik fix darat dan sudut jurusannya.

Dac = [(Xc-Xa)2+(Yc-Ya)2]1/2
ac = arc tan [(Xc-Xa)/(Yc-Ya)]
ca = arc tan [(Xa-Xc)/(Ya-Yc)]
Sudut mendatar tiap epok i dari kedua titik fix darat.

= Bacaan sudut horizontal perahu bacaan sudut horizontal backsight


= Bacaan sudut horizontal backsight bacaan sudut horizontal perahu
= 180 (+ )
Jarak mendatar tiap epok i dari kedua titik fix darat. Dengan
menggunakan rumus Sinus yaitu Dac/Sin = Dab/sin = Dcb/Sin

Sudut jurusan tiap epok i dari kedua titik fix darat.

ab = ac dan cb = (ac+180) +
Koordinat di titik fix laut.

Xb = Xa + Dab Sin ab
Yb = Ya + Dab cos ab
Kontrol hitungan.

Xb = Xc + Dcb Sin cb
Yb = Yc + Dcb Cos cb
Proses selanjutnya yaitu pengeplotan titik di software Autocad untuk
mengetahui posisi sebenarnya.

BAB IV
ANALISA HASIL SURVEI

4.1 Analisa Hasil Pengukuran


4.2.1 Analisa Hasil Pengamatan GPS
Dari data hasil pengamatan dan setelah dilakukan pengolahan dengan software
Topcon Tools maka didapatkan hasil koordinat fix dari setiap benchmark yang
ada. Setiap koordinat memiliki standar deviasi yang menunjukkan nilai
kesalahan yang didapatkan. Standar deviasi dari setiap titik relatif kecil, tetapi
kesalahan yang paling besar terjadi adalah di titik BM 2 dikarenakan terletak di
titik yang terdapat banyak pohon disekitarnya. Maka pada BM 2 terjadi efek
multipath yang mempengaruhi akurasi pengukuran.
4.2.2 Analisa Hasil Pengamatan Pasang Surut
Dari data pengukuran dan perhitungan di atas, data pasang surut Pantai Sendang
Biru pada tanggal 16 Mei 18 Mei 2014 adalah sebagai berikut.
Pasang Tertinggi adalah 2,890

Muka air laut rata rata (Mean Sea Level) adalah 1,642

Surut terendah adalah 0,400


Pengolahan data pasang surut dengan menggunakan metode Doodson ini hanya
bisa mendapatkan nilai MSL saja, tidak seperti dengan metoda Admiralty atau
Least Square.
4.2.3 Analisa Hasil Pemeruman
Dari data pasang surut yang menghasilkan nilai Mean Sea Level (MSL) di angka
1,642, maka data hasil pemeruman diolah sehingga didapatkan data pada tabel
4.5. Data tersebut diolah sehingga menjadi tampilan 3-dimensi menggunakan
perangkat lunak Surfer 11. Adapun hasil tampilan 3-dimensi adalah sebagai
berikut.

Gambar 4.3 Tampilan 3-Dimensi Hasil Pemeruman


4.2.4 Analisa Hasil Pengukuran Detil
Dari data hasil pengukuran detil, didapatkan kesalahan beda tinggi sebesar 0.001
m pada pengukuran dari rambu pasang surut ke BM 1 serta sebesar 0.004 m
pada pengukuran poligon. Selain itu, didapatkan ketelitian pengukuran
horisontal sebesar -0.008 m sumbu X dan -0.139 m sumbu Y serta kesalahan
sudut sebesar 9. Sehingga didapatkan kesalahan linear sebesar 0.00034 m.
Semua data tersebut memenuhi toleransi sehingga pengukuran detil memiliki
akurasi yang tinggi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam Survei Hidrografi 2014 di Pantai Sendang Biru,
Kabupaten Malang adalah sebagai berikut.
1. Setiap koordinat memiliki standar deviasi yang menunjukkan nilai kesalahan
yang didapatkan. Standar deviasi dari setiap titik relatif kecil, tetapi kesalahan
yang paling besar terjadi adalah di titik BM 2 dikarenakan terletak di titik yang
terdapat banyak pohon disekitarnya. Maka pada BM 2 terjadi efek multipath
yang mempengaruhi akurasi pengukuran.

2. Didapatkan pasang tertinggi di angka 2.890 bacaan rambu, nilai Mean Sea
Level di angka 1.642 bacaan rambu, serta surut terendah di angka 0.400 bacaan
rambu. Pengolahan data pasang surut dengan menggunakan metode Doodson ini
hanya bisa mendapatkan nilai MSL saja, tidak seperti dengan metode Admiralty
atau Least Square.

3. Dari data pasang surut yang menghasilkan nilai Mean Sea Level (MSL) di
angka 1,642, maka data hasil pemeruman diolah sehingga didapatkan data pada
tabel 4.5. Data tersebut diolah sehingga menjadi tampilan 3-dimensi
menggunakan perangkat lunak Surfer 11.

4. Dari data hasil pengukuran detil, didapatkan kesalahan beda tinggi sebesar
0.001 m pada pengukuran dari rambu pasang surut ke BM 1 serta sebesar 0.004
m pada pengukuran poligon. Selain itu, didapatkan ketelitian pengukuran
horisontal sebesar -0.008 m sumbu X dan -0.139 m sumbu Y serta kesalahan
sudut sebesar 9. Sehingga didapatkan kesalahan linear sebesar 0.00034 m.
Semua data tersebut memenuhi toleransi sehingga pengukuran detil memiliki
akurasi yang tinggi.

5.2 Saran
Adapun saran dalam Survei Hidrografi 2014 di Pantai Sendang Biru, Kabupaten
Malang adalah sebagai berikut.
1. Dalam menentukan titik benchmark, dibutuhkan tempat yang terbuka agar
kemungkinan terjadinya kesalahan sangat kecil.
2. Dalam melakukan pengamatan pasang surut, dibutuhkan tempat yang bisa
dilalui mahasiswa agar dapat melihat angka rambu pasang surut lebih baik.

3. Dalam melakukan pemeruman, dibutuhkan kerjasama tim yang baik agar data
yang didapat secara otomatis (data dari echosounder) dan secara manual tidak
berbeda.

4. Dalam melakukan pengukuran detil, dibutuhkan fokus yang lebih agar tidak
terjadi kekurangan data.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Hasanuddin Z. 2002. Survei dengan GPS. Jakarta : Institut Teknologi Bandung.
Anonim. 1985. Manual on Sea Level Measurement and Interpretation Volume I- Basic
Procedures. Intergovermental Oceanographic Commision. UNESCO.
http://ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2007/11/Kuliah%20II%20new1.pdf. (diakses
tanggal 10 April 2017 pada pukul 09.20 WIB)
http://bukukita1.blogspot.com/2012/12/pengertian-pasang-surut-air-1.html. (diakses
tanggal 10 April 2017 pada pukul 12.15 WIB )
http://ilmu-kelautan-geologi-lingkungan-laut.blogspot.com/. (diakses tanggal 10 April
2017 pada pukul 19.00 WIB)