Anda di halaman 1dari 5

teori belajar Bernard Weiner

Teori Atribusi Bernard Wainer


Atribusi ialah usaha pokok mencari pemahaman itu merupakan suatu penegas
tindakan yang pokok (Weiner,1979).
Teori yang dikembangkan oleh Bernard Weiner (1979,1980) menghubungkan dua
minat utama dalam teori psikologi: motivasi dan penelitian atribusi. Teori teori yang mula
mula mengenai motivasi, seperti halnya teori belajar , dikembangkan terutama dari
pandangan stimulus respons yang berkuasa dari pertengahan dasa warsa 1930-an. Konstuk
motivasi yang pokok selama itu adalah konsep dorongan (drive).
Tiga arah penelitian menurut Weiner (1977) antara lain :
1. Penggolongan penyebab tingkah laku menurut presepsi
2. Hukum umum yang membuahkan informasi anteseden dengan struktur kognitif seseorang
3. Perkembangan persambungan antara inferensi penyebab dan tingkah-laku kasat mata yang
muncul berikutnya
Teori yang kembangkan Bernard Wainer bermula dengan variable yang disebut dalam
teori motivasi untuk berprestasi. Wainer berpendapat bahwa ada peristiwa internal yang
bertindak sebagai perantara stimulus tugas dan tingkah-laku individu berikutnya. Orang-
orang yang bermotivasi prestasinya tinggi,misalnya melihat dirinya lebih mampu dari pada
mereka yang motivasi prestasinya rendah, dan lagi pula mereka berusaha lebih banyak
melakukan tugas-tugas untuk prestsi itu, Wainer dan Kukla menemukan bahwa akibat atau
pengaruh variabel tugas itu tidak seragam. Artinya, keberhasilan mengerjakan tuigas yang
sulit membuahkan kebanggaan yang lebih besar dari pada keberhasilan pada tugas yang
mudah.
Perkembangan awal teori atribusi Weiner bermula dengan pengenalan empat penyebab
pokok yang khas dipilih individu-individu untuk menjelaskan dicapainya keberhasilan dan
dialaminya kegagalan dan hubungan konseptual antara akibat akibat, atau hasil-hasil kerja
yang dimilikinya dan tingkah-laku yang terjadi berikutnya. Ada empat penyebab pokok itu
adalah kemampuan, usaha, kesulitan tugas, dan kemujuran, yang menjadi inti dari
teori Wainer.Yang dikenali kemudian ialah sifatsifat atau dimensidimensi penyebab
pokok itu, demikian dikenali peran reaksi afektif sebagai motivator tingkah-laku.
Asumsi Dasar
Asumsi dasar teori ini ada hubunganya dengan dua konsep umum. Konsep
konsep itu ialah hakikat interensi penyebab (atribusi) dan hubungan antara infrensi-infrensi
itu dan tingkah-laku.
Hakikat infrensi Penyebab.
Suatu ciri yang penting dari infrensi penyebab ialah hal itu terjadi dalam suatu
bentangan yang luas tentang kegiatan manusia. Atribusi dikembangkan dalam ranah afilatif
dan ranah kekuasaan. Contohnya: Mengapa ajakanku berkencan ditampik? dan Mengapa
aku kalah dalam pemilihan? (Weiner, 1982, hlm 186)
Pandangan Satu Dimensi.
Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa penyebab tingkah-laku menurut presepsi
individu berbeda. Kejadian itu disebabkan (diatribusikan) oleh atau pada individu (diri)
atau pada sifat lingkungan. Menurut pandanganya, presepsi tentang penyebab tingkah-laku
itu terletak pada suatu kontinuum antara dua ujung, yaitu lokus kendali Internal dan lokus
kendali eksternal. orang-orang percaya bahwa penguatan (kosekuensi positif) bergantung
(kontingen) pada tingkah-lakunya sendiri juga percaya bahwa mereka mengendalikan jalan
hidupnya sendiri.
Masalah Berkenaan dengan Analisa suatu Dimensi.
Artinya, dari atribusi yang terjadi dalam dimensi yang sama, internal ataukah eksternal,
bisa timbul beberapa hasil atau akibat (Weiner,1972; Weiner, dkk., 1971). Contohnya,
berbagai pengharapan untuk hasil tindakan di waktu yang akan datang terjadi setelah atribusi
kurangnya keamampuan dan kurangnya usaha. Nilai rendah yang diharapkan terjadi kembali.
Tetapi nilai rendah yang diatribusikan pada kurangnya usaha mungkin tidak diharapkan
diwaktu yang akan datang mengingat banyaknya usaha siswa bisa berubah (Weiner,1976).
Adanya konsekunsi yang berbeda sebagai akibat dari artibusi dalam lokus penyebab
yang sama (Artibusi internal) ini telah menyebabkan orang untuk melakukan analisa lebih
lanjut. Khususnya, telah dilakukan usaha untuk mengenali berbagai dimensi kepercayaan
mengenai faktor-faktor penyebab kejadian yang memprediksi akibat yang berlainan. Analisa
ini menjadi landasan teori Weiner.
Hubungan Infrensi penyebab dengan Tingka-laku.
Berdasar teori atribusi ialah usaha mencari pemahaman itu sumber utama dari motivasi
manusia (Weiner, 1979). Motivator tindakan, pemahaman sejajar dengan hedonisme sebagai
faktor utama yang berpengaruh atas tingkah-laku (Weiner, 1979). Beberapa teori telah
mengenali adanya disposisi yang relatif mantap pada orang untuk tingkan-laku dengan cara
tertentu sebagai sumber dan motivasi. Teori kognitif yang sebenarnya harus
mendiskripsikan kejadian-kejadian internal yang ada di tengah-tengah antara stimulus dan
tingkah-laku individu yang terjadi berikutnya. Model ini dinyatakan S-C-R, dimana C=
Kejadian pengantara internal (Weiner, 1972).
Komponen proses atribusi
1. Model atribusi.
Suatu kejadian dari perbuatan atau tindakan yang membawa hasil baik, atau kegagalan, ke
tingkah-laku berikutnya (Weiner, 1979).
2. Reaksi emosi.
Akibat tindakan yaitu keberhasilan atau kegagalan, menimbulkan reaksi emosi yang tidak ada
kaitannya dengan penyebab yang dipersepsi. Sebaliknya, kegagalan menghasilkan perasaan
tidak senang, tidak bahagia, dan kadang kala kesedihan (Weiner, Rusell, & Lerman,
1978,1979).
3. Atribusi yang tipikal.
Penyebab paling mungkin dipilih untuk hasil perbuatan ialah kemampuan, usaha, tugas, dan
kemujuran. Usaha siswa untuk menjelaskan keberhasilan atau kegagalannya seringkali
berasal dari perkiraan mengenai tingkat kemampuan, banyaknya usaha, bagaimana sulitnya
tugas, dan derajat serta arah kemujuran yang ada dalam suatu situasi (Weiner, 1978).
4. Soal penerapan model.
Model atribusi mengenali adanya hubungan antara hasil, atribusi, dan konsekunsi yang
datang mengikutinya. Ada tiga komponen penting yang bisa membantu
memahami hubungan-hubungan itu yaitu (1) macam informasi antesenden yang digunakan
individu dalam memilih atribusi penyebab, (2) sifat atribusi penyebab, dan (3) peran reaksi
yang berkenaan dengan tingkah laku.
5. Anteseden Inferensi Penyebab.
Sumber informasi yang didapat individu sebelum dilakukan atribusi untuk suatu hasil disebut
anteseden. Ada tiga jenis anteseden, yaitu (1) pengisyarat penginformasi (seperti riwayat
keberhasilan seseorang waktu lampau). (2) struktur kognitif internal individu, disebut skema
penyebab, dan (3) paradisposisi individu.
6. Pengisyarat Penginformasian Khusus.
Riwayat keberhasilan individu di waktu-waktu yang lampau merupakan penentu utama bagi
memilih apakan kemampuan yang merupakan atribusi (Weiner, 1974). Norma sosial dan
catatan unjuk perbuatan orang lain juga bisa memberikan informasi tentang kemampuan. Jika
seseorang berhasil mengerjakan suatu tugas yang orang lain tidak bisa dilakukannya, maka
orang itu kemungkinnya akan mengatakan dirinya mampu (Weiner, 1974). Makin besar
presentase terjadinya kegagalan dalam menjalankan tugas. Makin besar kemungkinan terjadi
inferensi atas kegagalan itu berdasarkan sulitnya tugas (Weiner, 1974).
7. Skema Penyebab.
Skema penyebabab ialah struktur kognitif yang agak tetap sifatnya, dan menggambarkan
kepercayan umum individu mengenai kejadian dan apa yang merupakan penyebab yang
berkaitan denganya (Weiner,1977). Skema penyebab yang lain adalah bergantung pada
kemampuan dan usaha.
8. Pradisposisi Perseorangan.
Orang yang kebutuhan prestasinya tinggi cenderung mengatribusikan keberhasilan dan buah
kerja pada dirinya sendiri, artinya, keterampilan dan usahanya. Orang yang kebutuha
prestasinya rendah cenderung mencari faktor-faktor luar yang menjadi penyebab keberhasilan
(Weiner & Kukla, 1970).
9. Ciri Infrensi Penyebab.
Suatu sumbangan penting model ini bagi memahami motivasi adalah untuk mengetahui ciri-
ciri atribusi yang menyebabkan reaksi yang tidak sama. Weiner (1979, 1982 telah mengenali
tiga dimensi itu :1. lokus penyebab (ciri internal atau eksternal), 2. Kemantapan, 3. Hal dapat
dikontrol.
10. Fungsi Dimensi Penyebab.
Dimensi pempunyai dua fungsi penting. (1) dengan cara tertentu dimensi membantu individu
dalam menetapkan tujuan dan pengharapan untuk masa depan. (2) bahwa reaksi emosi
tertentu itu ditimbulkan oleh dimensi atribusi masing-masing.

11. Lokus Penyebab.


Dimensi ini berkenaan dengan sifat internal atau eksternal dari atribusi. Kemampuanm,
usaha, dan keindahan jasmani ialah atribusi-atribusi internal, sedangkan taraf kesulitan tugas
dan bantuan (atau rintangan) dai orang lain merupakan atribusi-atribusi eksternal. Dimensi ini
juga disebut pembedaan asal mula dan motivasi intrisik atau ekstrinsik (Weiner,1982).
12. Kemantapan.
Pengaruh dimensi kemantapan akan hasil di waktu yang akan datang. Jika suatu hasil tertentu
dipercayai sebagai hasil yang mantap., maka hasil sebelumnya akan dapat diramalkan .
namun, atribusi pada penyebab yantg tidak stabil (seperti kemujuran atau usaha)
menimbulkan keraguan apakah hasil itu akan terulang kembali (Weiner,1979).
13. Hal Pengendalian.
Suasana hati dikatakan tidak intersional (disengaja). Dan usaha dikatakan itersonal. Namun,
Weiner (1979) memberikan batasan kembali mengenai adanya perbedaan yang bersifat pokok
seperti yang dilakukan berkenaan dengan soal pengontrolan.
14. Ikhtisiar tentang Infrensi Penyebab.
Lokus penyebab terutama berkaitan dengan rasa harga diri individu. Penyebab yang
diatribusikan pada diri pribadi bisa meningkatkan perasaan diri pribadi bisa meninggikan
perasaan diri berharga dan tidak menimbulkan cira diri yang negatif.
15. Reaksi Orang lain.
Reaksi itu ada kaitanya dengan perilaku tertentu. Rasa belas kasihan dan tingkah-laku
mengharapkan pertolongan orang bisanya terjadi karena kelemahan atau syarat-syarat keadaa
yang diluar kendalui seseorang. Misalnya sakit keras dan kecelakaan (Weiner, 1979,1982).
16. Peran Reaksi Afekti.
Atribusi dikendalikan dengan tiga sumber (Weiner,1979). Satu ialah akibat dari jenis hasil
perbuatan sukses dan keberhasilan. Dua ialah emosi yang jelas yang ada kaitanya dengan
atribusi tertentu, misanya rasa syukur, permusuhan, kujutan, dll. Tiga ialah ditimbulkan oleh
ciri-ciri atribusi dan reaksi afektif ini ada kaitanya dengan rasa harga diri. Contohnya
kebanggaan, kemahiran, dan malu.
17. Pengisyaratan Emosi dari Orang lain.
Reaksi dari orang lain dapat bertindak selaku pengisyarat yang memberikan informasi
atribusi mengikuti setelah unjuk kerja yang berprestasi (Weiner, 1982). Secara khusus, rasa
iba dan marah ialah dua reaksi afekstif yang muncul dalam diri pengamat unuk penyebab-
penyebab prestasi yang tidak dapat dikendalikan
18. Model Hubungan Afektif.
Reaksi afektif guru bisa mempengaruhi tindakan, yang didalamnya sendiri terkandung pesan
tentang kemampuan.
Contoh penerapan di Kelas :
Ada siasat pembelajaran yaitu pengaturan belajar kelompok atau diskusi yang terdiri
dari 3 atau 4 orang. Kegiatan ini dibenarkan karena siswa terhindar dari kejenuhan dan
membantu belajar. Peran guru ialah berkeliling diantara permainan, menjelaskan pernyataan
atau menjaga kelas tidak menghambat diskusi. Waktu yang palinga efektif adalah seninggu
atau dua minggu sebelum ujian utama.
Guru mengajar siswa mengenai gagasan pokok. Acara pembelajaran yang disajikan
guru adalah :
1. Membangkitkan perhatian.
2. Memberitahu siswa tujuan belajar.
3. Merangsang ingatan akan hal-hal yang sudah dipelajari.
4. Menyajikan ciri-ciri stimulus yang jelas (topik atau pokok + sutu bayang penting tentang
topik tersebut = gagasan pokok) ditambah dua atau tiga buah contoh.
Acara pembelajaran diselenggarakan dengan menggunakan kelompok kecil. Setiap
kelompok mendapat tugas memilih empat film atau program televisi yang merupakan
kegemaran, mengenali gagasan pokok masing-masing, dan memberikan penjelasan tentang
film tersebut. Perbedaan antara rincian cerita, pernyataan garis beras, dan gagasan pokok jika
perlu.
Pada akhir kegiatan, setiap kelompok menyajikan program yang dipilihnya dan
gagasan pokok yang dikenalinya kepada kelas. Dijalankan dalam bentuk diagnostik secara
tertulis. Anak-anak mencari gagasan pokok dengan ciri-ciri konsep. Beberapa hari kemudian
anak diberi latihan tertulis.

Kekurangan teori atribusi Bernard Weiner :


Dilingkungan kelas, artribusi kurangnya kemampuan untuk kegagalan yang terjadi terus
menerus menimbulkan gejala yang disebut kepuasan yang dipelajari. Anak anak dari
golongan ini ciri khasnya ialah menempuh cara- cara yang asal-asalan saja untuk menghadapi
tugas-tugas pelajaran sekolah dan mereka gampang skali menyerah. Teori atribusi
menyarankan agar dijalankan perubahan program dengan tujuan mengubah kepercayaan
mengenai kegagalan dari kurung kemampuan menjadi kurang usaha.
Untuk penerapan teori atribusi ini di kelas masih harus dikembangkan prosedur
pembelajaran di kelas yang khusus. Meskipun telah dketahui oleh penelitian adanya arah
yang memberikan harapan baik, namun masih diperlukan penjajagan lebih lanjut.