Anda di halaman 1dari 70

RC14-1361

TEKNIK IRIGASI
PETAK TERSIER
SEJARAH IRIGASI
Keberadaan sistem irigasi di
Indonesia telah dikenal sejak zaman
Hindu, pada zaman tersebut telah
dilakukan usaha pembangunan
prasarana irigasi sederhana.

Beberapa bukti keberadaan


peninggalan sejarah tersebut adalah
adanya usaha pembagian air irigasi di
beberapa tempat. Misalnya, Irigasi
Subak di Bali, sistem pendistribusian
air di Minangkabau yang dikenal
dengan Minta Air Sebatu.
PENGERTIAN IRIGASI

usaha untuk
mendatangkan air dari
sumbernya untuk
keperluan pertanian
dengan cara mengalirkan
dan membagikan air secara
teratur yang kemudian
dibuang kembali.
PETA PETAK TERSIER

Petak tersier merupakan unit


atau petak tanah terkecil
dengan ukuran 50 100 ha,
dengan batas seperti jalan,
kampung, saluran pembuang,
lembah dan berbatasan
langsung dengan saluran
sekunder.
PERENCANAAN PETAK TERSIER
Petak itu merupakan bagian
dari daerah irigasi yang
mendapat air irigasi dan satu
bangunan sadap tersier dan
dilayani oleh satu jaringan
tersier.

Petak Tersier dibagi-bagi


menjadi petak-petak kuarter.
Sebuah petak tersier
merupakan bagian dari petak
tersier yang menerima air dan
saluran kuarter.
SISTEM TATA NAMA

Boks tersier diberi kode T, diikuti dengan nomor urut


menurut arah jarum jam, mulai dan boks pertama di hilir
bangunan sadap tersier: T1, T2, dan seterusnya.

Boks kuarter diberi kode K, diikuti dengan nomor urut jarum


jam, mulai dari boks kuarter pertama di hilir boks nomor urut
tertinggi K1, K2, dan seterusnya.

Ruas-ruas saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama


boks yang terletak di antara kedua boks, niisalnya (T1 - T2),
(T3 K1).
SISTEM TATA NAMA

Petak kuarter diberi nama sesuai dengan petak rotasi, diikuti


dengan nomor urut menurut arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B,
C dan seterusnya menurut arah jarum jam.

Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak


kuarter yang dilayani tetapi dengan huruf kecil, misalnya al,
a2, dan seterusnya.

Saluran pembuang kuarter diberi nama sesuai dengan petak


kuarter yang dibuang airnya, diawali dengan dk, misalnya dka1, dka2 dan
seterusnya.

Saluran pembuang tersier diberi kode dt1, dt2, juga menurut arah jarum
jam.
SISTEM TATA NAMA
SISTEM TATA NAMA
PERENCANAAN PETAK TERSIER

Perencanaan petak tersier,


terdiri dari beberapa kegiatan :
1. Menentukan layout dan
trase saluran.
2. Menentukan muka air
rencana.
3. Merencanakan dimensi
saluran.
4. Merencanakan boks bagi.
5. Merencanakan bangunan
pelengkap.
PERENCANAAN PETAK TERSIER

Data yang dibutuhkan dalam


perencanaan :
1. Peta topografi skala 1 :
5000 atau 1 : 2000
2. Kebutuhan air irigasi dan
pembuang.
3. Kondisi fasilitas pemberian
air irigasi dan pembuang.
4. Prosedur eksploitasi yang
berlaku.
PETA JARINGAN IRIGASI

Peta Petak
Pembuatan jaringan irigasi
dilakukan berdasarkan peta
topografi yang dituangkan ke
peta ikhtisar berskala 1 : 25000.
Kemudian didetailkan pada peta
ikhtisar berskala 1 : 5000 atau 1
: 2000. Peta ikhtisar detail
dikenal sebagai Peta Petak.
PETA PETAK TERSIER
Dipetak tersier yang berukuran kecil
biasanya efisiensi irigasi akan menjadi
lebih tinggi karena :

1. Diperlukan lebih sedikit titik - titik


pembagian air.
2. Saluran - saluran yang Iebih
pendek menyebabkan kehilangan
air yang lebih sedikit.
3. Lebih sedikit petani yang terlibat,
jadi kerja sama dapat menjadi
Iebih baik. Pengaturan (air) yang
lebih baik sesuai dengan kondisi
tanaman.
4. Perencanaan lebih fleksibel
sehubungan dengan batas- batas
desa.
PETA PETAK TERSIER

Kriteria Perencanaan Bagian Petak Tersier (KP-05 )

Ukuran Petak Tersier 50 - 100 Ha


Ukuran Petak Kuarter 8 - 15 Ha
Panjang Saluran Tersier 1500 m
Panjang Saluran Kuarter < 500 m
Jarak antara Saluran Kuarter dan Pembuang < 300 m
PETAK TERSIER IDEAL

Petak tersier bisa dikatakan


ideal jika masing-masing
pemilikan sawah memiliki
pengambilan sendiri dan dapat
membuang kelebihan air
langsung ke jaringan pembuang.

Juga para petani dapat


mengangkut hasil pertanian dan
peralatan mesin atau ternak
mereka ke dan dan sawah melalui
jalan petani yang ada.
SALURAN TERSIER

Untuk saluran tersier :


V = 0,20- 0,6 m/s
W = 0,30 m
D = 0,4 m
Guna kepentingan inspeksi,
lebar tanggul dapat diperlebar
menjadi 1,00 m
SALURAN KUARTER

Untuk saluran Kuarter:


Debit perencanaan ( Q )
minimum = 15 l/s
Kecepatan :Rumus Strickler
PEMBERIAN AIR IRIGASI

Pemberian air irigasi dapat dilakukan


dengan cara :
1. Secara serentak : air yang
masuk dibagikan ke seluruh blok
secara bersamaan, dengan debit
yang sesuai menurut
kebutuhannya.
2. Secara bergiliran: dilakukan
secara bergiliran untuk areal2
tertentu. Dapat dilakukan
dengan cara rotasi antar kuarter,
rotasi antar blok, rotasi antar
kuarter dan antar blok.
PEMBERIAN AIR IRIGASI

Mengapa pemberian air diberikan secara bergiliran ?????


Jika persediaan air cukup memadai, maka pemberian air dapat dilakukan
secara serentak. Jika tidak, maka dilakukan secara bergiliran.
Beberapa alasan pemberian air secara bergiliran :
1. Debit air yang tersedia tidak selalu mencukupi.
2. Debit yang tersedia sangat kecil jika dibandingkan dengan debit
kebutuhan.
3. Untuk mengatasi permasalahan kekurangan air pada tanaman.
Tata cara penggunaan air secara bergiliran disesuaikan pada
kelengkapan saluran pada jaringan tersier dan dilakukan bergiliran
antar sub tersier dan antar kuarter.Pelaksanaan dilakukan oleh petugas
P3A.
ROTASI PEMBERIAN AIR

ROTASI
1. Rotasi sub tersier 1.
satu sub tersier ditutup, sub tersier lain tetap mendapat
air.
2. Rotasi sub tersier 2.
dua petak sub tersier ditutup, sub tersier lain tetap
menerima air.
3. Rotasi sub tersier 3.
3 petak sub tersier ditutup, lainnya tetap mendapat air.
Note : pembagian petak tergantung dari kondisi medan.
ROTASI PEMBERIAN AIR

Petak Tersier Terbagi menjadi 4 Sub Tersier


T1 T2 k1

a1

k2

b3 b1
a2
T1 k3 b2

c1
Terdiri dari 4 sub tersier :
c2 -Sub Tersier A : a1 + a2
k4
-Sub Tersier B : b1 + b2 + b3
d1
-Sub Tersier C : c1 + c2
d2 -Sub Tersier D : d1 + d2
ROTASI PEMBERIAN AIR

Rotasi 1
1. Bila giliran sub tersier A yang tidak mendapat air, maka
yang ditutup adalah pintu pada :
- Box T2 = A, agar air dapat masuk pada petak B.
- Box T1 = A, agar air dapat masuk ke petak B,C dan D
tanpa terbagi dengan petak A.
ROTASI PEMBERIAN AIR

2. Bila giliran petak sub tersier B yag tidak diairi, maka yang
ditutup adalah pintu pada :
- Box T2 = B, agar air dapat masuk penuh pada petak A
tanpa terbagi dengan B.
- Box T1 = B, agar air dapat masuk pada petak A,C dan D
tanpa terbagi dengan petak B.
ROTASI PEMBERIAN AIR

3. Bila giliran petak sub tersier C yang tidak diairi, maka


yang ditutup adalah pintu pada :
- Box T3 = C, agar dapat masuk pada petak D tanpa terbagi
dengan petak C.
- Box T1 = C, agar air dapat masuk pada petak A, B dan D
tanpa terbagi ke C.
ROTASI PEMBERIAN AIR

4. Bila giliran sub tersier D yang tidak diairi, maka yang


ditutup adalah pintu pada :
-Box T3 = D, agar jatah air untuk C tidak terbagi dengan
petak D.
-Box T1 = D, agar jatah air untuk petak A,B dan C tidak
terbagi dengan D.
ROTASI PEMBERIAN AIR

Rotasi 2
1. Bila giliran petak sub tersier A dan sub tersier B yang
tidak diari, maka pintu yang ditutup adalah :
- Box T1 = A dan B, agar jatah air dapat mengalir pada
petak C dan D tanpa terbagi ke A dan B.
ROTASI PEMBERIAN AIR

2. Bila giliran petak sub tersier C dan D yang tidak diari,


maka pintu yang ditutup adalah :
-Box T1 = C dan D, agar jatah air dapat masuk ke A dan B
tanpa terbagai pada petak C dan D.

3. Bila giliran petak sub tersier A dan C yang tidak diairi,


maka pintu yang ditutup adalah :
-Box T1 = A dan C, air terbagi ke B dan D.
-Box T2 = A, air terbagi ke B.
-Box T3 = C, air terbagi ke D.
ROTASI PEMBERIAN AIR

4. Bila giliran petak sub tersier B dan D yang tidak diairi,


maka pintu yang ditutup adalah :
- Box T1 = B dan D, air terbagi ke petak sub tersier A dan C.
- Box T2 = B, air terbagi ke petak A.
- Box T3 = D, air terbagi ke petak C.
ROTASI PEMBERIAN AIR

5. Bila giliran petak sub tersier A dan D yang tidak diairi,


maka pintu yang ditutup adalah :
- Box T1 = A dan D, air terbagi ke petak B dan C.
- Box T2 = A, air terbagi ke petak B.
- Box T3 = D, air terbagi ke petak C.
ROTASI PEMBERIAN AIR

6. Bila giliran petak sub tersier B dan C yang tidak diairi,


maka pintu yang ditutup adalah :
-Box T1 = B dan C, air terbagi ke sub tersier A dan D.
-Box T2 = B, air terbagi ke sub tersier A.
-Box T3 = C, air terbagi ke petak sub tersier D.
ROTASI PEMBERIAN AIR

Rotasi 3
1. Bila giliran sub tersier B,C dan D yang tidak diairi, maka
pintu yang ditutup adalah :
- Box T1 = B,C,D, air terbagi ke petak sub tersier A.
- Box T2 = B, air terbagi ke petak sub tersier A.
ROTASI PEMBERIAN AIR

2. Bila giliran petak sub tersier A,C dan D yang tidak diairi,
maka pintu yang ditutup adalah :
-Box T1 = A,C dan D, air terbagi ke petak sub tersier B.
-Box T2 = A, air terbagi ke sub tersier B.

3. Bila giliran petak sub tersier A,B dan D yang tidak diairi,
maka pintu yang ditutup adalah :
-Box T1 = A,B dan D, air terbagi ke petak tersier C.
-Box T3 = D, air terbagi ke petak tersier C.
ROTASI PEMBERIAN AIR

4. Bila giliran petak sub tersier A,B dan C yang tidak diairi.
Maka pintu yang ditutup adalah :
- Box T1 = A,B dan C, air terbagi ke petak sub tersier D.
- Box T3 = C, air terbagi ke petak sub tersier D.
BATASAN LUAS PETAK TERSIER

a. Prosida Ditjen Air : 75-150 ha


b. Prosida Pekalen Sampean Jember : 70 ha
c. Zaman Belanda : 80-160 ha
d. Keadaan medan : sampai 200 ha

Batasan Luas Petak Kwarter:


a. Pedoman Perencanaan KP : 10-20 ha
b. Keadaan medan : < 10 ha
ROTASI PEMBERIAN AIR

Bangunan Sadap : Menyadap air untuk petak tersier


Box Tersier : Bangunan yang berfungsi membagi air ke petak
Tersier / Sub Tersier

Box Kwarter : Bangunan yang berfungsi membagi air ke


petak-petak kwarter

Pembagian debit air diadakan secara proporsionalitas


SKEMA JARINGAN TERSIER
DENAH BOX KWARTER
DENAH BOX KWARTER
ROTASI PEMBERIAN AIR

Membuat proporsional pada suatu box dilakukan dengan


cara:
1. Tinggi air diatas ambang lubang box pada stu box dibuat
sama, ini berarti yang dibuat sama adalah elevasi
ambang
2. Luas yang dialiri berbanding langsung dengan lubang
box
Pada box tersier : dilengkapi pintu penutup

Pada box Kwarter: Hanya lubang box tanpa pintu, tetapi


tetap diberi alur untuk skot balok.
PERHITUNGAN LUBANG BOX

Fungsinya membagi air secara proporsional sesuai dengan


masing-masing petak yang diairi

Untuk mencapai maksud tersebut, maka lubang dalam satu


box harus:
-Tinggi peil ambang sama
- Lebar ambang sebanding dengan luas areal masing-masing
petak yang dialiri.
PERHITUNGAN LUBANG BOX
PERHITUNGAN LUBANG BOX
PERHITUNGAN LUBANG BOX
PERHITUNGAN LUBANG BOX
RC09-1361
SISTEM DAN BANGUNAN IRIGASI
CARA PEMBERIAN AIR
CARA PEMBERIAN AIR

Petak tersier terbagi dalam 4


sub tersier.
Cara pemberian air dibedakan
menjadi 4 keadaan.

Pemberian air terus


menerus
Pemberian air secara rotasi
CARA PEMBERIAN AIR

TERSIER YANG TERBAGI DALAM 4 SUB TERSIER:


LAMA PEMBERIAN AIR
Rotasi Sub Tersier I
1. Periode I : a,b dan c yang diairi. d tidak diairi. Maka lama
pemberian air :
2. Periode II : b,c dan d yang diairi, a tidak diairi. Maka lama
pemberian air : + + + + + 336
3

3. Periode III : a,c dan d yang diairi, b tidak diairi.


Maka lama pemberian air :
4. Periode IV : a,b dan d yang diairi, c tidak diairi.
Maka lama pemberian air :
CARA PEMBERIAN AIR

Rotasi Sub Tersier II


1. Periode I : a dan c yang diairi, b dan d tidak diairi.
Maka lama pemberian air :

2. Periode II : b dan d yang diairi, a dan c tidak diairi.


Maka lama pemberian air :
CARA PEMBERIAN AIR
Rotasi Sub Tersier III
1. Periode I : a diairi, b, c dan d tidak diairi.
Maka lama pemberian air :

2. Periode II : b diairi, a, c dan d tidak diairi.


Maka lama pemberian air :

3. Periode III: c diairi, a,b dan d tidak diairi.


Maka lama pemberian air :

4. Periode IV: d diairi, a,bdan c tidak diairi.


Maka lama pemberian air :
CARA PEMBERIAN AIR
CARA PEMBERIAN AIR
SKEMA JAR.IRIGASI
T1 T2 k1

a1

k2

b3 b1
a2

T1 k3 b2

c1

c2
k4

d1

d2
Skema Jaringan Irigasi Tersier
CARA PEMBERIAN AIR
Pertanyaan 1 :
1. Dalam satu petak tersier
tersebut terbagi menjadi berapa
sub tersier ? Sub tersier apa
sajakah ?
2. Pada skema jaringan tersebut
terdapat berapa box tersier?
Dan berapa box kwarter?
Pertanyaan 2 :
Bagaimanakah cara
pergiliran pemberian airnya? Jika
debit yang tersedia adalah 75 %
Qmax.
CARA PEMBERIAN AIR
CONTOH SOAL UNTUK PETAK
YANG TERBAGI MENJADI 4 SUB
TERSIER

Luas Petak Tersier: 165,580 ha,


terbagi menjadi 4 sub tersier.
1. A = 51,15 ha.
2. B = 39,65 ha.
3. C = 35,42 ha.
4. D = 39,36 ha.
kebutuhan air pada sawah: 1.4
l/dt/ha,
jika debit yang tersedia, Q = 50 % -
75 % Qmax.
CARA PEMBERIAN AIR

Maka rotasi yang dilakukan


adalah Rotasi I, satu sub tersier
tidak diairi, tiga sub tersier diairi.
1. Periode I : sub tersier a,b
dan c diairi, maka lama
pemberian air adalah :
=
= 85,38 = 85 jam
2. Periode II : sub tersier a,b
dan d diairi, maka lama
pemberian air adalah :
=
= 87,84 = 88 jam
CARA PEMBERIAN AIR
Maka rotasi yang dilakukan
adalah Rotasi I, satu sub
tersier tidak diairi, tiga sub
tersier diairi.
1. Periode I : sub tersier b
c dan d diairi, maka lama
pemberian air adalah :
=
= 77,40 = 78 jam
2. Periode II : sub tersier
a,c dan d diairi, maka
lama pemberian air
adalah :
=
= 85,18 = 85 jam
ROTASI SUB TERSIER I

Dari perhitungan sebelumnya


diperoleh :
1. Rotasi Sub Tersier I
- Periode I : sub tersier a, b,
dan d = 85 jam
- Periode II : sub tersier a,b dan
d = 88 jam
- Periode III : sub tersier b,c dan
d = 78 jam
- Periode IV : sub tersier a,c dan
d = 85 jam
TABEL PEMBERIAN AIR
KAPASITAS RENCANA

Kebutuhan air : 1.4 l/dt/ha


Q = 100% x Qmax
1. Sub tersier A : 51,15 x 1.40=
71,61 l/dt
2. Sub tersier B: 39,65 x 1.40=
55,61 l/dt
3. Sub tersier C: 35,42 x 1.40=
49,60 l/dt
4. Sub tersier D: 39,36 x 1.40=
55,10l/dt
Total : 71,61 + 55,61 + 49,60 +
55,10 = 231,82 l/dt
ROTASI SUB TERSIER 1

Q= 75 % x 231,82 l/dt= 173,82


l/dt
1. Giliran sub tersier d tidak diairi:
Sub tersier a + b + c = 51,15 + 39,65
+ 35,42 = 126,22 ha
- A : ( 51,15/ = 126,22 ) x
173,82 = 70,46 l/dt
- B : ( 39,65/126,22 ) x 173,82=
54,62l/dt
- C : (35,42/126,22) x 173,82=
48,79 l/dt
ROTASI SUB TERSIER I

2. Giliran sub tersier c tidak diairi


:
Sub tersier a + b + d = 51,15 + 39,65
+ 39,36 = 130,16 ha
- A : ( 51,15/130,16 ) x 173,82
= 68,32 l/dt
- B : ( 39,65/ 130,16 ) x 173,82
=52,97 l/dt
- D : (39,36/ 130,16 ) x 173,82
= 52.58 l/dt
ROTASI SUB TERSIER I

3. Giliran sub tersier B tidak diairi


:
Sub tersier a + c+ d = 51,15 +35,42+
39,36 = 125,93ha
- A : ( 51,15/125,93) x 173,82 =
70,62 l/dt
- C : ( 35,42/ 125,93) x 173,82=
48,92 l/dt
- D : (39,36/ 125,93) x 173,82=
54,34 l/dt
ROTASI SUB TERSIER I

4. Giliran sub tersier A tidak diairi


:
Sub tersierb+ c+ d =39,65+35,42+
39,36 = 114,13 ha
- B : ( 39,65/ 125,93) x 114,13
=60,25 l/dt
- C : ( 35,42/ 125,93) x 114,13
=53,83 l/dt
- D : (39,36/ 125,93) x 114,13
= 59,80 l/dt
REKAP TABEL
CARA PEMBERIAN AIR
Tergantung dari :
1. Jenis tanaman yang akan diairi.
2. Kondisi dari medan.
3. Kondisi dari tanah.
4. Ketersediaan air.

Untuk pemberian air pada tanaman


pertanian, terdiri dari beberapa
metode, diantaranya :

1. Surface irrigation method.


2. Sprinkling Method.
3. Infiltration Methode.
4. Sub surface irrigation Method.
Surface Irrigation Method
Dapat dilakukan dengan cara :
1. Penggenangan.
Cara penggenangan, dilakukan untuk
tanaman Padi. Yaitu dengan memberikan
lapisan air pada permukaan tanah.
Dalamnya genangan 5 15 cm.
2. Meniris
Cara meniris, dilakukan dengan memberikan
aliran tipis pada permukaan tanah. Cara ini
sangat cocok untuk tanaman yang tidak
membutuhkan banyak air misalnya :
rumput, jagung dan gandum.
Cara meniris dapat dilakukan dengan :
mengalir pada satu dan dua arah.
SPRINKLING METHOD

Proses pemberian air, dibuat


menyerupai air hujan yang jatuh.
Teknik ini memiliki beberapa
keuntungan, yaitu :
1. Tidak dipengaruhi kondisi
kemiringan medan.
2. Dapat menghemat air dan lebih
terkontrol.
INFILTRATION METHOD

Air dialirkan dengan


membuat saluran, yang
kemudian meresap ke dalam
tanah melalui dinding saluran
hingga diserap oleh akar
tanaman. Tanaman yang
cocok adalah tebu, jagung dan
gandum.
PERBANDINGAN PEMBERIAN AIR

Hasil penelitian pada daerah


irigasi Pemali- Comal 1927
oleh jawatan pertanian dan
pengairan:

Padi : Tebu : Gula


4 : 1,5 :1
PERBANDINGAN PEMBERIAN AIR

Contoh: