Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Penelitian Teknik Sipil

PERENCANAAN PELABUHAN PULAU SALEMO KABUPATEN PANGKEP

Mukhsan P. Hatta1, S. Pongmanda2, A. Syafiuddin Sapada3

ABSTRACT: A port planning for Salemo Island. To create a better ecomomical development and
better transportation system, Salemo Island need a port that’s connect the island and main island
which is Sulawesi Island. To create a port, first assignment is to make a several surveys. Which is
area mapping, tidal, water level, wind and waves analysist and also soil investigation. All of this
surveys must be done to make a plan well. Tidal survey resulting a 1.24 m Highest Astromomical Tide
sea water level. The waves analysist resulting wave’s high for 50 year planning (H50) is 2.062 m high.
From the tidal and waves analysist, resulting the level for the port is 2.609 m above the sea level. The
ship that will berth at the port is general transportation that has a 350 DWT so it needs 50 m length
and 8 m wide.the type for the port is jetty, it mean the water level that qualify for the ship is far from
the surface. Fender type that is use for the port is “Bridgestone Super Arch Fender” Tipe AD –
A250H rubber fender that maintain 1.5 tons energy and bitt that is use for the port is 25 tons bitt’s
capacity.

Keywords: Tidal Survey, water-level, wind and waves analysist, soil investigation, 350 DWT type
ship, jetty.

PENDAHULUAN diantara empat pulau yang termasuk dalam


Desa Mattiro Bombang. Dengan kurangnya
Secara umum telah diketahui bahwa sarana perhubungan laut maka sulit untuk
transportasi merupakan hal vital dalam pulau ini dapat berkembang mengingat satu-
mendukung perekonomian suatu bangsa, satunya akses menuju kota kabupaten
karena dengan sistem yang semakin baik dan hanyalah transportasi laut.
lengkap, akan meningkatkan interaksi antar
pelakunya. Interaksi yang terjadi tidak hanya METODOLOGI
interaksi ekonomi, namun juga interaksi sosial
dan budaya. Transportasi laut merupakan salah Adapun metode penelitian yang akan
satu dari bagian dari sistem trasnportasi yang dilakukan untuk merencanakan pelabuhan
sangat berperan dalam transportai antar pulau. salemo sebagai berikut:
Berbagai upaya terus dilakukan dalam 1. Topografi dan Bathimetri
melaksanakan pembangunan, khususnya a. Survey Kondisi Area Lahan Rencana
pembangunan di sektor perhubungan laut saat b. Survey Kedalaman Laut (echo
ini mendapat perhatian yang utama. Sebagai sounding)
prioritas pertama dalam rangka pengembangan 2. Analisis Pasang Surut
wilayah kawasan Timur Indonesia yang a. Konstanta Pasang Surut
mencakup wilayah kepulauan Sulawesi, b. Tipe Pasang Surut
kepulauan Maluku, Papua dan pulau-pulau c. Elevasi Muka Air
disekitarnya. 3. Analisis Gelombang
Oleh karena itu pembangunan pelabuhan a. Pengolahan Data Angin
di Indonesia akan terus dilaksanakan dalam b. Peramalan Gelombang
rangka menunjang angkutan/transportasi 4. Survey Penyelidikan Tanah
penumpang, petikemas, general cargo, 5. Struktur Dermaga dan Trestle
pelayaran perintis, pelayaran lokal maupun
pelayaran rakyat, baik berupa pembangunan Topografi dilakukan untuk mendapatkan
baru maupun peningkatan fasilitas yang telah dan mengetahui kondisi topografi (tinggi
ada. rendah daratan, informasi alam, bangunan)
Pulau salemo yang terletak di Desa yang ada dan lain-lainnya. Hasil-hasil survey
Mattiro Bombang Kecamatan Liukang ini akan digunakan untuk menentukan posisi
Tupabiring Kabupaten Pangkep merupakan lokasi bagunan dermaga yang akan
salah satu desa yang berada berada di daerah dikembangkan, sehingga aman terhadap
yang belum mendapat sarana perhubungan laut gangguan baik oleh alam maupun oleh
yang layak. Pulau ini merupakan pulau utama penduduk setempat. Kemudian dipasang

1
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

Bemch Mark sebagai tanda lokasi perencanaan dilakukan adalah memasukkan model Grid dan
pelabuhan. memilih jenis satuan yang akan dipakai pada
Pemeruman atau sounding dilakukan perhitungan. Kemudian setelah itu
tunuk mengetahui kedalaman dan bentuk dari direncanakan material yang akan digunakan
permukaan laut yang meliputi areal seluas ± pada struktur serta jenis tulangan. Kemudian
40 Ha. Pengetahuan mengenai profil bawah ditentukan section properties yang akan
laut berguna dalam tinjauan daerah perairan digunakan. Setelah itu digambarlah bentang
yang menyangkut luas, kedalaman perairan, struktur yang akan direncanakan, dalam hal ini
alur pelayaran, penambatan, tempat labuh dan adalah struktur dermaga dan trestle rencana.
kemungkinan pengembangan dimasa Setelah itu dimasukkan pula jenis pembebanan
mendatang. yang berlaku dan jenis kombinasi
Tujuan pengamatan gelombang pasang- pembebanannya. Apabila sudah dilaksanakan
surut adalah untuk mengetahui elevasi muka maka dilakukan “Run” pada aplikasi tersebut
air minimum dan maksimum di lokasi studi sehingga ada hasil perhitungan momen negatif
yang kemudian akan digunakan sebagai dasar maksimum dan momen positif maksimum.
perencanaan elevasi bangunan pantai, dalam Setelah didapatkan momen positif maksimum
hal ini pelabuhan. Pengamatan pasang-surut dan momen negatif maksimum maka
dimulai dengan meletakkan rambu dilakukanlah perhitungan untuk tulangan
pengamatan (peilshcaal) pada lokasi yang struktur dermaga.
mudah diamati dasar peilschaal harus berada Waktu pengambilan data tugas akhir ini
di bawah muka air surut terendah serta berlangsung selama dua bulan yaitu mulai
dipasang dengan kokoh sehingga berada tidak bulan oktober hingga november 2013.
mudah mengalami perubahan posisi akibat
kondisi alam. Puncak peilschaal harus berada HASIL DAN PEMBAHASAN
di atas batas maksimum pasang yang mungkin
terjadi. Hasil Pengukuran Topografi dan
Pergerakan angin mengakibatkan gaya Bathimetri
pada bangunan, termasuk perlabuhan. Data Tabel 1 menunjukkan 2 patok BM yang
angin yang digunakan untuk peramalan akan di pasang di lokasi pelabuhan rencana.
gelombang merupakan data dipermukaan laut Setelah patok dipasang, maka dilakukan
pada lokasi pembangkitan. Tipe data adalah pengukuran topografi dan titik BM diplot
data bulanan maksimum selama 11 tahun menggunakan GPS.
Untuk merencanakan gelombang, yang
diperlukan adalah data angin bulanan selama Tabel 1. Koordinat BM
11 tahun. Terlebih dahulu hasil pengamatan
KOORDINAT (m)
data angin ini dikonversikan. Pada ketinggian PATOK/TITIK
10 m. kemudian apabila pengukuran dilakukan X y Z
di darat seperti pada studi ini, maka data
BM 1 773991 9481145 2,31
tersebut harus dikonversi menjadi data angin
laut. Setelah didapatkan kecepatan angin BM 2 774001 9481128 2,08
koreksi, selanjutnya dilakukan perhitungan
Fetch. Jika didapatkan data angin dan fetch Gambar 1 merupakan potongan gambar
maka dapat diprediksikan periode, tinggi hasil pengukuran bathimetri di sekitar Pulau
gelombang dan gelombang pecah maksimum. Salemo. Pada hasil pengukuran terlihat bahwa
Pekerjaan penyelidikan tanah ini disekitar Pulau Salemo, kedalaman laut hasil
dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran pengukuran di bibir pantai Pulau Salemo
kondisi litologi profil geoteknis tanah di lokasi sekitar 2-3 meter. sedangkan untuk kedalaman
pekerjaan pembangunan dermaga dan 4-5 meter, jarak dari bibir pantai berkisar 55
bangunan pendukung lainnya. Selanjutnya meter. penentuan letak dermaga akan
data dan hasil penyelidikan disampaikan ditentukan berdasarkan karakteristik kapal
sebagai data acuan pada saat perencanaan yang akan sandar di dermaga.
fondasi suatu bangunan. Pada perhitungan
struktur dermaga. Penulis melakukan
perencanaan dengan menggunakan aplikasi
SAP 2000 V.14. Langkah pertama yang

2
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

data gelombang maksimum signifikan per


tahun seperti yang disajikan dalam

Tabel 3. Tinggi dan Periode Gelombang


Pecah Maksimum
Periode Puncak Tinggi Gelombang
No Tahun
Gelombang (dtk) Pecah (m)
1 2001 3.556 1.357
2 2002 3.207 1.047
3 2003 3.908 1.722
4 2004 3.866 1.676
5 2005 3.509 1.312
6 2006 3.693 1.492
Gambar 1. Hasil Pengukuran Bathimetri 7 2007 3.648 1.447
8 2008 3.866 1.676
Analisis Pasang Surut 9 2009 3.989 1.815
Perekaman pasang surut dilakukan untuk 10 2010 3.824 1.630
mengetahui posisi atau kedudukan muka air di 11 2011 3.908 1.722
daerah perairan survey, baik untuk kedudukan
air tinggi (HWS), muka air rerata (MSL) dan Dari hasil hindcasting didapat nilai tinggi
kedudukan air rendah (LWS). gelombang. Dengan menggunakan dua metode
Data mentah pasang surut diolah dengan untuk memprediksi gelombang dengan periode
pemisahan komponen menggunakan metode ulang tertentu, yaitu distribusi Gumbel (Fisher-
Admiralty. Pada metode ini terdapat beberapa Tippett Type 1) maka diperoleh hasil sebagai
langkah yang dilakukan dalam bentuk skema. . berikut.
Terdapat 7 skema dalam pelaksanaan
langkah analisis menggunakan Metode Tabel Gelombang dengan periode
4.
Admiralty. Kemudian dari hasil 7 skema tertentu Metode Fisher-Tippett Type 1
tersebut didapatkan hasil konstanta peramalan Periode
σnr σr H s - 1,28 σr Hs +
ulang y r (tahun) H sr (m)
pasang surut yang terdapat pada Tabel 2 dan (tahun)
(m) 1,28 σr (m)

Gambar 2 2 0.367 1.416 0.320 0.074 1.322 1.510


5 1.500 1.624 0.535 0.123 1.466 1.781
10 2.250 1.761 0.728 0.167 1.547 1.975
Tabel 2. Konstanta pasang surut menggunakan 25 3.199 1.934 0.989 0.227 1.643 2.224
50 3.902 2.062 1.188 0.273 1.714 2.411
metode Admiralty 100 4.600 2.190 1.387 0.318 1.782 2.598
S0 M2 S2 N2 K1 O1 M 4 MS 4 K2 P1
A (cm) 152 13 26 5 32 13 2 2 7 9
Berdasarkan hasil analisis perhitungan
go 0 23 230 91 267 177 150 251 230 267
gelombang rencana, hasil analisis di
Grafik Pasang Surut Pelabuhan Salemo rekapitulasi pada Tabel 4. Maka dari hasil
8 Oktober- 22 Oktober 2013
300
analisis, Gelombang Rencana untuk
250
perhitungan struktur untuk 50 tahun adalah =
200
2,062 m
Elevasi Pasang Surut (cm)

150

Karakteristik Kapal Desain


100
Dermaga pelabuhan Pulau Salemo
50 Kabupaten Pangkep direncanakan akan
melayani kapal perintis 350 DWT(Gambar 3).
Data Asli
Prediksi
MSL
LWS

Berikut adalah data kapal yang akan


0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350
Waktu

Gambar 2. Grafik Prediksi Pasang Surut Pulau


digunakan pada proses desain dermaga
Salemo Menggunakan Metode Admiralty pelabuhan Pulau Salemo.
Tipe kapal : Kapal Perintis
Peramalan Gelombang
Tonase : 350 DWT
Dari data hindcasting didapatkan data
Panjang (Loa) : 42 m
gelombang signifikan beserta periodanya Draft penuh : 2,6 m
sebanyak data angin yang dimiliki. Untuk Kec. Tambat : 0,15 m/det
keperluan perhitungan tinggi gelombang
rencana, dari data gelombang tersebut dipilih

3
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

Analisis Pembebanan Dermaga


Untuk merencanakan struktur dermaga,
terlebih dahulu harus dilakukan analisis
pembebanan dermaga. Untuk analisis ini,
digunakan program SAP2000 v.14. hasil yang
ingin didapatkan pada analisis pembebanan
dermaga ialah momen positif maksimum dan
Gambar 3. Karakteristik Kapal Desain momen negatif maksimum. Adapun
pembebanan yang dianalisis pada struktur
Tipe Dermaga dermaga sebagai berikut:
Tipe dermaga yang dipilih yaitu berbentuk 1. Beban Mati
jetty. Dermaga ini dibangun bila garis 2. Beban Hidup
kedalaman jauh dari pantai dan perencana 3. Beban Berjalan
tidak menginginkan adanya pergerukan kolam 4. Beban Angin
pelabuhan yang besar. Antara dermaga dan 5. Beban Arus
pantai dihubungkan dengan jembatan 6. Beban Gelombang
penghubung (approach trestle) sebagai 7. Beban Gempa
penerus dari pergerukan barang. Jembatan 8. Beban Berthing dan Pemilihan Fender
penghubung dapat ditempatkan di tengah, di 9. Beban Mooring dan Pemilihan Bitt
sisi atau kombinasi. Sedangkan jenis struktur Setelah itu dilakukanlah kombinasi
yang digunakan adalah Deck On Pile. pembebanan yaitu sebagai berikut:
Kombo 1 = 1.4 DL + 1.4 G + 1.4 A + 1.6 ML
Elevasi Dermaga Kombo 2 = 1.2 DL + 1.6 LL
Untuk menentukan elevasi bangunan, Kombo 3 = 1.2 DL + 1.0 LL +1.0 E
terlebih dahulu ditentukan elevasi muka air Kombo 4 = 1.2 DL + 1.6 LL + 1.2 G + 1.2 A +
laut rencana yang akan ditambahkan dengan 1.2 B + 1.2 W
tinggi jagaan. Kombo 5 = 1.2 DL + 1.6 LL + 1.2 G + 1.2 A
Elevasi muka air laut rencana merupakan +1.2 M + 1.2 W
penjumlahan dari beberapa parameter yaitu: DL = beban mati
pasang surut (MHWL), wave setup (Sw) dan G = beban gelombang
pemanasan global (SLR). LL = beban hidup
Berdasarkan pengamatan pasang surut B = beban tambat
diperoleh HAT = 1.239 m, dari elevasi 0,00 E = beban gempa
(LAT) M = beban tarik
Hb = 2,062 m (diambil dari gelombang A = beban arus
rencana pada periode 50 tahun) ML = beban berjalan
Periode gelombang, T = 3,989 dtk W = beban angin
Maka Sw = 0,265 m
Berdasarkan grafik pada buku Teknik Perencanaan Balok Dermaga
Pantai, Bambang Triatmojo, 1999 hal. 115, Dari hasil simulasi untuk perencanaan
diperoleh tinggi muka air akibat pemanasan struktur dermaga pada program SAP2000 v.14
global (SLR) = 0,1 m maka didapatkan Mpos maks dan Mneg maks
Jadi elevasi tinggi bangunan dengan yang ditampilakan pada
memperhitungkan tinggi kebebasan adalah
1,00 m, adalah 2.609 m ,dari elevasi LAT.

Panjang Dermaga
Panjang dermaga untuk satu tambatan,
yaitu sama dengan panjang kapal terbesar yang
menggunakan dermaga ditambah masing- Mneg maks. = -5.4 tm
masing 10% panjang kapal di ujung hulu dan
buritan kapal. Mpos maks. = -23.51 tm
Lp = Loa + 20% Loa
= 42 + 0,2(42) = 50 m Gambar 4. Bidang Momen Bentang Melintang
Dermaga Kombinasi 5

4
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

1.00 4.0 4.0 4.0 4.0

1
3

Gambar 7. Denah Lantai Dermaga


Dari perhitungan struktur untuk lantai
dermaga (Gambar 7) maka didapatkan
Mneg maks. = -30.5 tm rekapitulasi tulangan untuk lantai dermaga
sebagai berikut:
Mpos maks. = 3.09 tm

Gambar 5. Bidang Momen Bentang Tabel 6. Rekapitulasi penulangan Lantai


Memanjang Kombinasi 5 Dermaga
Penulangan Lantai Tulangan Ket.
Data : Tumpuan f 18 -150 M (-)
Mneg = -30.50 ton.m Lapangan f 18 -150 M(+)
Mpos = 3.09 ton.m
Geser Balok ∅ 12 - 250 Vu
fy = 320 Mpa b1 = 0.85
f'c = 25 MPa f = 0.8
b = 400 mm d' = 80 mm
h = 700 mm d = 597 mm
E = 200000 Mpa

Maka dari perhitungan struktur untuk


balok melintang dan balok memanjang
dermaga maka didapatkan penulangan Gambar 8. Sketsa Penulangan Plat
dermaga yang ditampilkan pada Error! Dermaga
Reference source not found. dan balok
precast dermaga pada Perhitungan Poer Dermaga
Penulangan poer dermaga dianalisa
Tabel 5. Tabel Rekapitulasi Penulangan pada berdasarkan gaya-gaya maksimum yang
Balok Dermaga bekerja pada balok tertumpu pada poer
Kondisi Balok Dermaga Tulangan Ket. tunggal. Gaya-gaya maksimum yang bekerja
8 D 20 M (+) pada poer tunggal adalah = -52060 kgm
Balok Memanjang
4 D 20 M (-) Berdasarkan perhitungan struktur untuk
8 D 20 M (+) poer dermaga, didapatkan tulangan yang
Balok Melintang
4 D 20 M (-) ditampilkan pada berikut
Geser Balok ∅ 12 - 250 Vu
Tabel 7. Penulangan Poer Dermaga
Poer Dermaga Tulangan Ket.
Tumpuan 8 D 22 M (-)
Geser Balok ∅ 12 - 200 Vu

Perencanaan Trestle
Ukuran Trestle adalah sebagai berikut :
Gambar 6. Penulangan Balok Precast Lebar =6m
Dermaga Panjang = 55 m
Elevasi Trestle = 4 m
Perencanaan Lantai Dermaga
Analisis Pembebanan Trestle
Untuk merencanakan struktur trestle,
terlebih dahulu harus dilakukan analisis
pembebanan trestle. Untuk analisis ini,
digunakan program SAP2000 v.14. hasil yang
ingin didapatkan pada analisis pembebanan

5
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

trestle ialah momen positif maksimum dan Kondisi Balok Dermaga Tulangan Ket.
momen negatif maksimum. Adapun 10 D 20 M (+)
Balok Memanjang
pembebanan yang dianalisis pada struktur 4 D 20 M (-)
trestle sebagai berikut: 10 D 20 M (+)
Balok Melintang
10. Beban Mati 4 D 20 M (-)
Geser Balok ∅ 12 - 250 Vu
11. Beban Hidup
12. Beban Berjalan
13. Beban Gelombang Untuk perencanaan balok precast trestle,
14. Beban Gempa bentang balok trestle yang direncanakan yaitu
Setelah itu dilakukanlah kombinasi 400 x 700 mm, dan dari hasil perhitungan
pembebanan yaitu sebagai berikut: struktur maka didapatkan penulangan struktur
Kombo 1 1.4DL +1.4G +1.6ML balok precast trestle seperti yang terlihat pada
Kombo 2 1.2DL + 1.6LL
Kombo 3 1.2DL + 1.0LL + 1.0 E
Kombo 4 1.2DL + 1.6LL + 1.2G
DL = beban mati
LL = beban hidup
E = beban gempa
ML = beban berjalan
G = beban gelombang
Gambar 10. Sketsa Penulangan Balok
Perencanaan Balok Trestle Precast Trestle
Dari hasil simulasi perencanaan struktur
trestle didapatkan nilai Mpos dan Mneg
Perencanaan Lantai Trestle
sebagaimana pada
1 4 4 4 4

4.0

Gambar 9 Bidang Momen di Trestle pada Gambar 11. Denah Lantai Trestle
SAP2000 v.14
Dari yang terlihat pada Error! Reference
Data : source not found. bahwa plat lantai trestle
Mneg = -42.16 ton.m bahwa perencanaan lantai trestle perbentang
Mpos = 36.19 ton.m sepanjan 400 x 400 cm. Dan diketahui
fy = 320 Mpa b1 = 0.85 spesifikasi struktur lantai treslte sebagai
f'c = 25 MPa f = 0.8 berikut
b = 400 mm d' = 80 mm Lantai treste dari konstruksi beton
h = 700 mm d = 598 mm
bertulang dengan
E = 200000 Mpa
• Tebal plat = 25 cm
Desain terhadap momen negatif • Mutu beton = 25 Mpa
Dari hasil perhitungan struktur untuk
- Tentukan ratio tulangan minimum (ρmin ) • Mutu baja = 320 Mpa
balok trestle 1.4 maka 1.4 didapatkan penulangan
r min = trestle = = 0.0044 Beban yang bekerja pada lantai trestle
untuk balok fy yang
320 direkapitulasikan
adalah
seperti yangrasio
- Tentukan terlihat
tulangan pada
balanceError!
(ρb) Reference
• Tebal plat = 25 cm
source not found.. fc' 600
r b = 0.85 b1
fy 600 + fy • Beban merata = 1.5 ton
Tabel 8. Rekapitulasi 25
Penulangan 600pada • Beban truk = 8 ton/roda
= 0.85 0.85 = 0.037
320 600 + 320
Balok Trestle
rmaks = 0.75 rb = 0.75 0.0368 = 0.0276
Mu 421600000
Mn = = = 527000000 Nmm
f 0.8
fy 320 6
m = = = 15.059
0.85 f'c 0.85 x 25
Mn 527000000
Rn = = 2 = 3.6842
b d2 400 x 598
0.5
1 2m.Rn
r = 1 - 1 -
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

Dari hasil perhitungan struktur lantai Sedangkan daya daya dukung ijin tiang
trestle maka didapatkan sketsa lantai precast sebesar 77.9 ton dan daya dukung ijin netto
trestle sebagai mana yang terdapat pada untuk satu tiang adalah 77.02 ton
Maka jumlah tiang pancang untuk satu
baris yaitu 1 tiang.dengan jarak antar tiang dan
poer adalah 0.6 m.
Gaya maksmum yang dipikul tiang adalah
53.5 ton. Gaya maksimum yang terjadi tidak
melebihi daya dukung ijin netto tiang.
Tiang miring umumnya dipakai apabila
Gambar 12. Sketsa Penulangan Lantai Trestle tiang dipengaruhi oleh beban transversal lebih
dari 5 kN (0.49 ton) sedangkan dari analisis
Perhitungan Poer Trestle pembebanan dermaga pada program SAP2000
Penulangan poer trestle dianalisa v.14, gaya transversal maskimum yang
berdasarkan gaya-gaya maksimum yang diterima yaitu 0.43 ton. maka dermaga tidak
bekerja pada balok tertumpu pada poer memerlukan tiang pancang miring.
tunggal. Gaya-gaya maksimum yang bekerja
pada poer tunggal adalah = -46220 kgm Perencanaan Tiang Trestle
Berdasarkan perhitungan struktur untuk Untuk kapasitas satu tiang pancang dari
poer trestle, didapatkan tulangan yang data SPT didapatkan Qu (Kapasitas Ultimit
ditampilkan pada berikut tiang) sebesar 211.0 ton
Sedangkan daya daya dukung ijin tiang
Tabel 9. Penulanga Poer Trestle sebesar 70.3 ton dan daya dukung ijin netto
Poer Dermaga Tulangan Ket. untuk satu tiang adalah 66.81 ton
Tumpuan 8 D 22 M (-) Maka jumlah tiang pancang untuk satu
Geser Balok ∅ 12 - 200 Vu baris yaitu 1 tiang.dengan jarak antar tiang dan
poer adalah 0.6 m.
Perencanaan Pondasi Tiang Pancang Gaya maksmum yang dipikul tiang adalah
Analisis mekanika teknik menggunakan 33.6 ton. Gaya maksimum yang terjadi tidak
program berbasis elemen hingga dengan tinggi melebihi daya dukung ijin netto tiang.
struktur diambil dari titik jepit (point of fix) ke Tiang miring umumnya dipakai apabila
elevasi tertinggi dari struktur (pelat lantai). tiang dipengaruhi oleh beban transversal lebih
Perhitungan letak titik jepit tanah terhadap dari 5 kN (0.49 ton) sedangkan dari analisis
tiang pancang untuk tanah normally pembebanan trestle pada program SAP2000
consolidated clay dan granular soil, digunakan v.14, gaya transversal maskimum yang
persamaan: diterima yaitu 0.21 ton. maka trestle tidak
Zf = 1.8 T memerlukan tiang pancang miring.
Dengan
Perencanaan Fender
! 𝐸𝐼 Fender direncanakan menahan kapal
𝑇=
𝑛ℎ peneumpang besar yang berukuran 350 DWT.
E = modulus elastisitas tiang pancang Dalam perencanaan fender dianggap bahwa
I = inersia tiang pancang kapal dengan muatan penuh merapat ke
Nh = 350 – 700 kN/m3, untuk soft dermaga dengan membentuk sudut 10°
normally consolidated clays terhadap sisi depan dermaga.
Diambil nh = 350 kN/m3 = 0.035 kg/cm3
Sehingga
Zf = 5.134 m (dari dasar laut)

Perencanaan Tiang Dermaga Gambar 13. Sudut Benturan Kapal Terhadap


Untuk kapasitas satu tiang pancang dari Dermaga
data SPT didapatkan Qu (Kapasitas Ultimit
tiang) sebesar 233.8 ton Maka energi yang diterima oleh dermaga
yaitu 0.02 ton. dari energi benturan tersebut

7
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

digunakan fender karet “Bridgestone Super Direncanakan bitt dermaga tersebut


Arch” tipe V dengan data sebagai berikut: sebanyak 7 buah dengan jarak antar bitt 8 m.
Fender tipe V DA-A250 H Bitt terbuat dari baja dan diangkurkan ke
Kapasitas 14.3 ton dermaga melalui plat landas beton.
Energi 1.5 ton
Luas Kontak 0.32 m2 KESIMPULAN DAN SARAN
Besar gaya yang melawan benturan (RF)
0.17 ton Kesimpulan
Diambil jarak antar fender 4 m tepat pada 1. Tipe dermaga yaitu berbentuk jetty.
jalur balok melintang dengan jumlah fender 2. Dari hasil survey pasang surut dan
sebanyak 13 buah. gelombang didapatkan elevasi struktur
dermaga dan trestle yaitu +2.609 dari LAT
3. Layout dermaga di Pulau Salemo dibuat
Perencanaan Balok Fender menjorok ke laut pada kedalaman = -4 m
Ukuran balok fender yaitu 40 x 90 cm2 LWS dengan demensi 50 x 8 m2 dan
dengan panjang bidang kontak 1.6 m dan gaya dihubungkan ke daratan pantai dengan
reaksi 14.3 ton. maka momen yang terjadi struktur trestle dengan dimensi 55 x 6 m2.
pada fender sebesar 5791.5 kgm 4. Fender yang digunakan adalah fender karet
Dari momen yang terjadi pada fender, “Bridgestone Super Arch Fender” Tipe AD
dilakukan perhitungan tulangan dan – A250H dengan energi (E) sebesar 1.5 ton
didapatkan rekapitulasi perhitungan tulangan dan jarak antar fender sebesar 4 m dan
sebagai berikut direncanakan bitt dengan kapasitas 25 ton
yang jumlahnya 7 buah dan diletakkan
Tabel 10 Rekapitulasi Penulangan Balok dengan interval 8 m.
Fender
Kondisi Balok Fender Tulangan Ket. Saran
4 D 20 1. Permodelan sedimentasi tidak dilakukan,
dalam perencanaan pelabuhan yang
Balok fender f 13 - 100 menyeluruh permodelan sedimentasi ini
f 13 - 100 sangat dibutuhkan.
2. Untuk analisa permalan gelombang,
Perencanaan Bitt pengamatan data angin disarankan
Dalam merencanakan bitt disyaratkan agar menggunakan data harian sehingga
tinggi bitt tidak melebihi 50 cm di atas lantai diharapkan memperoleh hasil analisa yang
dermaga. Hal ini dilakukan agar tidak lebih baik.
mengganggu kelancaran arus naik turun peti
kemas di dermga. DAFTAR PUSTAKA
Gaya tarik yang bekerja pada bitt
diperhitungkan sebesar 25 ton.bahan bitt Triatmodjo, Bambang. 2010. Perencanaan
digunakan baja dengan kuat izin yang sama, Pelabuhan. Yogyakarta : Beta Offset.
yaitu fy= 320 MPa. Jarak dan jumlah bitt Triatmodjo, Bambang. 1999. Teknik Pantai.
minimum untuk beberapa ukuran kapal yang Yogyakarta : Beta Offset .
diisyaratkan dapat dilihat pada tabel. Kramadibrata, Soedjono. 2002. Perencanaan
Pelabuhan. Bandung : Penerbit ITB.
Tabel 11. Jarak Bitt Yang Disyaratkan Pugh, David T., 1987. Tides, Surges and Mean
Sea Level. UK.
Ukuran Kapal (GRT) Jarak Maks. (m)
Bruun, Per. 1973. Port Engineering. Houston :
700 s/d 2000 10 - 15 4 Gulf Publishing Company.
2001 - 5000 20 6 Asiyanto. 2008. Metode Konstruksi Bangunan
5001 - 20000 25 6 Pelabuhan. Jakarta : UI Press.
20001 - 50001 35 8 Hardiyatmo, Hary Christady. 2011. Analisis
50001 - 100000 45 8 Dan Perancangan Fondasi II.
Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.

8
Jurnal Penelitian Teknik Sipil

Musrifin. 2011. Analisis Pasang Surut


Perairan Muara Sungai Mesjid
Dumai. Riau : Jurnal Perikanan dan
Kelautan.
Hidayat, Syamsul. 2010. Analasis Harmonik
Pasang Surut dengan Metode
Admiralty (Studi Kasus Pelabuhan
Beras, Bontang, Kalimantan Timur).
Bogor; Institut Pertanian Bogor.
SNI 03-2847-2002. Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung. Jakarta : Badan Standardisasi
Nasional.
SNI 03-1726-2012. Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa Untuk Bangunan
Gedung. Jakarta : Badan Standardisasi
Nasional.
Standards For Port And Harbour Facilities in
Japan. Tokyo, Japan. 2002.