Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

HEPATITIS

OLEH :
BENNY JOHNY MULYANTO
NIM 113063J11609

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN BANJARMASIN
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KONSEP TEORI

A. Pengertian
Hepatitis adalah peradangan pada hati (liver) yang disebabkan oleh
virus. Virus hepatitis termasuk virus hepatotropik yang dapat
mengakibatkan hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV),
delta hepatitis (HDV), hepatitis E (HEV), hepatitis F dan hepatitis G.
Hepatitis dibagi dua tahapan:
1. Hepatitis akut : infeksi virus sistemik yang berlangsung selama <6
bulan
2. Hepatitis kronis: gangguan-gangguan yang terjadi >6 bulan dan
kelanjutan dari hepatitis akut
3. Hepatitis fulminant adalah perkembangan mulai dari timbulnya
hepatitis hingga kegagalan hati dlam waktu kurang dari 4 minggu
oleh karena itu hanya terjadi pada bentuk akut (Amir, 2016).

Hepatitis merupakan suatu peradangan hati yang dapat disebabkan


oleh infeksi, biokimia, obat atau oleh toksin termasuk alkohol dan
dijumpai pada kanker hati (Corwn, 2008).

B. Etiologi
1. Hepatitis A
Virusnya HAV/Hepatitis infeksiosa dengan agen virus RNA untai
tunggal dan disebabkan oleh virus RNA dari famili enterovirus serta
dapat terjadi pada usia anak-anak & dewasa muda. Cara penularan
fekal-oral, makanan, penularan melalui air, parenteral (jarang), seksual
(mungkin) dan penularan melalui darah. Masa inkubasi 15-45 hari, rata-
rata 30 hari pada usia anak-anak dan dewasa muda. Resiko penularan
pada sanitasi buruk, daerah padat seperti rumah sakit, pengguna obat,
hubungan seksual dengan orang terinfeksi dan daerah endemis. Tanda
dan gejala dapat terjadi dengan atau tanpa gejala, sakit mirip flu.
Virus ini merupakan virus RNA kecil berdiameter 27 nm yang
dapat dideteksi didalam feses pada masa inkubasi dan fase praikterik.
Awalnya kadar antibodi IgM anti-HAV meningkat tajam, sehingga
memudahkan untuk mendiagnosis secara tepat adanya suatu inveksi
HAV. Setelah masa akut antibodi IgG anti-HAV menjadi dominan dan
bertahan seterusnya hingga menunjukkan bahwa penderita pernah
mengalami infeksi HAV di masa lampau da memiliki imunitas
sedangkan keadaan karier tidak pernah ditemukan.
Manifestasi kliniknya banyak pasien tidak tampak ikterik dan tanpa
gejala. Ketika gejalanya muncul bentuknya berupa infeksi saluran nafas
atas dan anoreksia yang terjadi akibat pelepasan toksin oleh hati yang
rusak atau akibat kegagalan sel hati yang rusak untuk melakukan
detoksifikasi produk yang abnormal. Gejala dispepsia dapat ditandai
dengan rasa nyeri epigastium,mual, nyeri ulu hati dan flatulensi. Semua
gejala akan hilang setelah fase ikterus.
2. Hepatitis B
Virusnya HBV/Hepatitis serum dengan agen virus DNA
berselubung ganda yang dapat terjadi pada semua usia. Cara
penularannya parenteral (fekal-oral) terutama melalui darah, kontak
langsung, kontak seksual, oral-oral dan perinatal. Masa inkubasinya
50-180 hari dengan rata-rata 60-90 hari. Resiko penularan pada
aktivitas homoseksual, pasangan seksual multipel, pengguna obat
melalui suntikan IV, hemodialisis kronis, pekerja layanan kesehatan,
tranfusi darah dan bayi lahir dengan ibu terinfeksi. Bisa terjadi tanpa
gejala akan tetapi bisa timbul atralgia dan ruam. Dapat juga mengalami
penurunan selera makan, dispepsia, nyeri abdomen, pegal-pegal
menyeluruh, tidak enak badan dan lemah. Apabila ikterus akan disertai
dengan tinja berwarna cerah dan urin berwarna gelap. Hati penderita
akan terasa nyeri tekan dan membesar hingga panjangnya mencapai
12-14 cm, limpa membesar dan kelenjar limfe servikal posterior juga
membesar.
Virus hepatitis B merupakan virus DNA yang tersusun dari partikel
HbcAg, HbsAg, HbeAg dan HbxAg. Virus ini mengadakan replikasi
dalam hati dan tetap berada dalam serum selama periode yang relatif
lama sehingga memungkinkan penularan virus tersebut.
3. Hepatitis C
Virusnya RNA HCV/sebelumnya NANBH dengan agen virus RNA
untai tunggal yang dapat terjadi pada semua usia. Cara penularan
terutama melalui darah hubungan seksual dan perinatal. Masa
inkubasinya 15-160 hari dengan rata-rata 50 hari. Resiko penularannya
pada pengguna obat suntik, pasien hemodialisis, pekerja layanan
keehatan, hubungan seksual, resipien infeksi sebelum Juli 1992,
resipien faktor pembekuan sebelum tahun 1987 dan bayi yang lahir
dari ibu terinfeksi.
HCV merupakan virus RNA rantai tunggal, linear berdiameter 50-
60 nm. Pemeriksaan imun enzim untuk mendeteksi antibodi terhadap
HCV banyak menghasilkan negatif-palsu sehingga digunakan
pemeriksaan rekombinan suplemental (recombinant assay, RIBA).
4. Hepatitis D
Virusnya RNA HDV/agen delta atau HDV (delta) dengan agen
virus RNA untai tunggal, dapat terjadi pada semua usia. Cara
penularan terutama darah tapi sebagian melalui hubungan seksual dan
parenteral. Masa inkubasinya 30-60 hari, 21-140 hari rata-rata 40 hari
yang terjadi pada semua usia. Resiko penularan pada pengguna obat
IV, penderita hemovilia dan resipien konsentrat faktor pembekuan.
Hepatitis D terdapat pada beberapa kasus hepatitis B. Karena
memerlukan antigen permukaan hepatitis B untuk replikasinya, maka
hanya penderita hepatitis B yang beresiko terkenahepatitis D. Antibodi
anti-delta dengan adanya BBAg pada pemeriksaan laboratorium
memastikan diagnosis tersebut. Gejala hepatitis D serupa hepatitis B
kecuali pasiennya lebih cenderung untuk menderita hepatitis fulminan
dan berlanjut menjadi hepatitis aktif yang kronis serta sirosis hati.
5. Hepatitis E
Virusnya RNA HEV/agen penyebab utama untuk NANBH dengan
agen virus RNA untai tunggal tak berkapsul. Cara penularan fekal-oral
dan melali air, bisa terjadi pada dewasa muda hingga pertengahan.
Masa inkubasinya 15-60 hari, rata-rata 40 hari. Resiko penularannya
pada air minum terkontaminasi dan wisatawan pada daerah endemis.
HEV merupakan suatu virus rantai tunggal yang kecil
berdiameterkurang lebih 32-34 nm dan tidak berkapsul. HEV adalah
jenis hepatitis non-A, non-B, pemeriksaan serologis untuk HEV
menggunakan pemeriksaan imun enzim yang dikodekan khusus.
6. Hepatitis Toksik
Mendapat riwayat pajanan atau kontak dengan zat-zat kimia, obat
atau preparat lain yang bersifat hepatotoksik. Gejala yang dijumpai
adalah anoreksia, mual dan muntah. Pemulihan cepat apabila
hepatotoksin dikenali dandihilangkan secara dini atau kontak dengan
penyebabnya terbatas. Terapi ditujukan pada tindakan untuk
memulihkan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit,
penggantian darah, memberikan rasa nyaman dan tindakan pendukung.
7. Hepatitis yang Ditimbulkan oleh Obat
Setiap obat dapat mempengaruhi fungsi hati namun obat yang
paling berkaitan denagn cedera hati tidak terbatas pada obat anastesi
tapi mencakup obat-obat yang dipakai untuk mengobati penakit
rematik seta muskuloskletal, obat anti depresan,, psikotropik,
antikonvulsan dan antituberkulosis.

C. Tanda dan Gejala


1. Masa tunas
a. Virus A :15-45 hari (rata-rata 25 hari)
b. Virus B :40-180 hari (rata-rata 75 hari)
c. Virus non A dan non B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)
2. Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi
virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama
kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan
sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan
malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar
39 o C berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan
gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B.
3. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan
suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera
yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru
berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa
seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
4. Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit
di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari
setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita
mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.

D. Epidemiologi
1. Hepatitis A
Hepatitis A adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis
A (HAV) virus genom RNA beruntai tunggal dan linear dengan ukuran
7.8 kb. Virus hepatitis A merupakan anggota famili pikornaviradae
berukuran 27-32 nm dengan bentuk partikel yang membulat. HAV
mempunyai simetri kubik, tidak memiliki selubung, serta tahan
terhadap panas dan kondisi asam. HAV mula-mula diidentifikasi dari
tinja dan sediaan hati. Penambahan antiserum hepatitis A spesifik dari
penderita yang hampir sembuh (konvalesen) pada tinja penderita
diawasl masa inkubasi penyakitnya, sebelum timbul ikterus,
memungkinkan pemekatan dan terlihatnya partikel virus melalui
pembentukan agregat antigenantibodi. Asai serologic yang lebih peka,
seperti asai mikrotiter imunoradiometri fase padat dan pelekatan imun,
telah memungkinkan deteksi HAV di dalam tinja, homogenate hati,
dan empedu, serta pengukuran antibodi spesifik (IgG untuk kasus
infeksi lalu dan IgM untuk kasus infeksi akut) di dalam serum.
HVA menyerang manusia, baik dewasa maupun anak-anak.
Siapapun yang belum pernah terinfeksi atau divaksinasi dapat terkena
hepatitis A. Di daerah di mana virus tersebar luas, sebagian besar yang
terinfeksi HAV adalah anak usia dini.
Faktor risiko lain untuk virus hepatitis A antara lain obat-obatan
suntik, tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi, atau mitra
seksual dari seseorang dengan infeksi HAV akut. Selain sanitasi yang
tidak baik dan kepadatan penduduk, penyakit ini juga erat terkait
dengan kebersihan pribadi (personal hygiene) yang buruk. Umumnya
masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk sebagai tujuan dari
urbanisasi akan membentuk perkampungan kumuh (slum area)
dikarenakan keadaan ekonomi yang belum memadai. Hal ini tentu
akan memberikan dampak prilaku negatif terhadap kebersihan pribadi
masyarakat tersebut, yang akan cenderung tidak terlalu memperhatikan
status kesehatan.
2. Hepatitis B
Penyebab Hepatitis B adalah virus hepatitis B termasuk DNA
virus. Virus hepatitis B atau partikel Dane merupakan partikel bulat
berukuran 42nm dengan selubung fosfolipid (HbsAg) (2,5). Virus
Hepatitis B terdiri atas 3 jenis antigen yakni HBsAg, HBcAg, dan
HBeAg. Berdasarkan sifat imunologik protein pada HBsAg, virus
dibagi atas 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw, dan ayr yang menyebabkan
perbedaan geografi dalam penyebarannya. Subtype adw terjadi di
Eropah, Amerika dan Australia. Subtype ayw terjadi di Afrika Utara
dan Selatan. Subtype adw dan adr terjadi di Malaysia, Thailand,
Indonesia. Sedangkan subtype adr terjadi di Jepang dan China.
Semua faktor yang terdapat pada diri manusia yang dapat
mempengaruhi timbul serta perjalanan penyakit hepatitis B.
Faktor penjamu meliputi:
a. Umur
Hepatitis B dapat menyerang semua golongan umur. Paling sering
pada bayi dan anak (25 -45,9 %) resiko untuk menjadi kronis,
menurun dengan bertambahnya umur dimana pada anak bayi 90 %
akan menjadi kronis, pada anak usia sekolah 23 -46 % dan
pada orang dewasa 3-10%.
b. Jenis Kelamin
Berdasarkan sex ratio, wanita 3x lebih sering terinfeksi
hepatitis B Dibanding pria.
c. Mekanisme Pertahanan
Tubuh Bayi baru lahir atau bayi 2 bulan pertama setelah lahir lebih
sering terinfeksi hepatitis B, terutama pada bayi yang sering
terinfeksi hepatitis B, terutama pada bayi yang belum mendapat
imunisasi hepatitis B. Hal ini karena sistem imun belum
berkembang sempurna.
d. Kebiasaan Hidup Sebagian besar penularan pada masa remaja
disebabkan karena aktivitas seksual dan gaya hidup seperti
homoseksual, pecandu obat narkotika suntikan, pemakaian tatto,
pemakaian akupuntur.
e. Pekerjaan
Kelompok resiko tinggi untuk mendapat infeksi hepatitis B adalah
dokter, dokter bedah, dokter gigi, perawat, bidan, petugas
kamar operasi, petugas laboratorium dimana mereka dalam
pekerjaan sehari-hari kontak dengan penderita dan material
manusia (darah, tinja, air kemih).
3. Hepatitis C
Hepatitis C di sebabkan oleh virus Hepatitis C atau sering
dikatakan virus Hepatiis non-A non-B atau juga HVC. HCV
merupakan genus tersendiri dalam famili Flavi-viridae, diameternya 60
nm dan ber-envelop, bentuk capsidnya icosahedral, mempunyai sebuah
RNA yang linear, single-stranded dan positive-sense, dengan 9500
nukleotida. Virus Hepatitis C masuk ke sel hati, menggunakan mesin
genetik dalam sel untuk menduplikasi virus Hepatitis C, kemudian
menginfeksi banyak sel lainnya.
HCV menyerang hati manusia dan merusak hati manusia. Orang-
orang yang rentan memiliki resiko tinggitertular selain penerima
transfuse darah (karena 48% Negara melaporkan jika mereka tidak
menguji 100% darah yang mereka kelola. Berarti masih ada
kemungkinan penyebaran lewat transfuse darah), adalah:
a. Pasien dan staff yang menangani cuci darah
b. Penderita Hemofilia
c. Mereka yang berhubungan dengan peralatan medis yang tidak
steril
d. Para pasien akupuntur
e. Mereka yang bertato
f. Pasangan Seks Penderita
g. Anak/Bayi dari ibu pengidap Hepatitis C

E. Patofisiologi
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh
infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan
kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik
karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya
inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan
terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis
dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang
menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan
oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien
yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan
peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu
timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini
dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun
jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati
tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu
intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut
didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi.
Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus,
karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada
duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun
bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus
yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam
pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak
pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin
dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine
dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat
disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan
menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan pigmen
1) Urobilirubin direk
2) Bilirubun Serum Total
3) Bilirubin Urine
4) Urobilinogen Urine
5) Urobilinogen Feses
b. Pemeriksaan protein
1) Protein Total Serum
2) Albumin Serum
3) Globulin Serum
4) Hbsag
c. Waktu protombin
1) respon waktu protombin terhadap vitamin k

d. Pemeriksaan serum transferase dan transaminase


1) AST atau SGOT
2) ALT atau SGPT
3) LDH
4) Amonia Serum
2. Radiologi
a. Foto rontgen abdomen
b. Pemindahan hati dengan preparat technetium, emas, atau rose
bengal yang berlabel radioaktif
c. Kolestogram dan kalangiogram
d. Arteriografi pembuluh darah seliaka
3. Pemeriksaan tambahan
a. Laparoskopi
b. Biopsi hati

G. Penatalaksanaan
1. Non medis
a. Tirah baring dan selanjutnya aktivitas pasien dibatasi sampai gejala
pembesaran hati kenaikan bilirubin kembali normal.
b. Nutrisi yang adekuat
c. Pertimbangan psikososial akibat pengisolasian dan pemisahan dari
keluarga sehingga diperlukan perencanaan khusus untuk
meminimalkan perubahan dalam persepsi sensori.
d. Pengendalian dan pencegahan
2. Medis
a. Pencegahan
1) Hepatitis virus B. penderita hepatitis sampai enam bulan
sebaiknya tidak menjadi donor darah karena dapat menular
melalui darah dan produk darah.
2) Pemberian imonoglubin dalam pencegahan hepatitis infeksiosa
memberi pengaruh yang baik. Diberikan dalam dosis 0,02ml /
kg BB, intramuskular.
b. Obat-obatan terpilih
1) Kortikosteroid. Pemberian bila untuk penyelamatan nyawa
dimana ada reaksi imun yang berlebihan.
2) Antibiotik, misalnya Neomycin 4 x 1000 mg / hr peroral.
3) Lactose 3 x (30-50) ml peroral.
4) Vitamin K dengan kasus kecenderungan perdarahan 10 mg/ hr
intravena.
5) Roboransia.
6) Glukonal kalsikus 10% 10 cc intravena (jika ada hipokalsemia)
7) Sulfas magnesikus 15 gr dalam 400 ml air.
8) Infus glukosa 10% 2 lt / hr.
c. Istirahat, pada periode akut dan keadaan lemah diberikan cukup
istirahat.
d. jika penderita enak, tidak napsu makan atau muntah - muntah
sebaiknya di berikan infus glukosa. Jika napsu makan telah
kembali diberikan makanan yang cukup
e. Bila penderita dalam keadaan prekoma atau koma, berikan obat
obatan yang mengubah susunan feora usus,misalnya neomisin atau
kanamycin sampai dosis total 4-6 mg / hr. laktosa dapat diberikan
peroral, dengan pegangan bahwa harus sedemikian banyak
sehingga Ph feces berubah menjadi asam.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Biodata

Pada biodata diperoleh data tentang nam, umur, jenis kelamin,


tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan dan status perkawinan.
b. Keluhan utama
Penderita datang untuk berobat dengan keluhan tiba-tiba tidak
nafsu makan, malaise, demam (lebih sering pada HVA), rasa pegal
linu dan sakit kepala pada HVB, serta hilangnya daya rasa lokal
untuk perokok.
2. Riwayat penyakit/Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan yang mencangkup tentang nyeri abdomen pada
kuadran kanan atas, demam, malaise, mual, muntah (anoreksia),
feses berwarna tanah liat dan urine pekat
b. Riwayat penyakit lalu
Riwayat apakah pasien pernah mengalami bradikardi atau pernah
menderita masa medis lainnya yang menyebabkan hepatitis (yang
meliputi penyakit gagal hati dan penyakit autoimun). Dan, kaji
pula apakah pasien pernah mengindap infeksi virus dan buat
catatan obat-obatan yang pernah digunakan.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji riwayat keluarga yang mengonsumsi alkohol, mengindap
hepatitis, dan penyakit biliaris.
Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan
hati
a. Aktivitas
1) Kelemahan
2) Kelelahan
3) Malaise

b. Sirkulasi
1) Bradikardi (Hiperbilirubin berat)
2) Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
c. Eliminasi
1) Urine gelap
2) Diare feses warna tanah liat
d. Makanan dan Cairan
1) Anoreksia
2) Berat badan menurun
3) Mual dan muntah
4) Peningkatan oedema
5) Asites
e. Neurosensori
1) Peka terhadap rangsang
2) Cenderung tidur
3) Letargi
4) Asteriksis
f. Nyeri / Kenyamanan
1) Kram abdomen
2) Nyeri tekan pada kuadran kanan
3) Mialgia
4) Atralgia
5) Sakit kepala
6) Gatal ( pruritus )
g. Keamanan
1) Demam
2) Urtikaria
3) Lesi makulopopuler
4) Eritema
5) Splenomegali
6) Pembesaran nodus servikal posterior

B. Diagnosa keperawatan
1. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum, penurunan kekuatan/
ketahanan; nyeri.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d gangguan absorpsi dan metabolisme
pencernaan makanan; penurunan peristaltic, empedu tertahan.
3. Hipetermi berhubungan dengan proses inflamasi

C. Intervensi dan Rasional


1. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum, penurunan kekuatan/
ketahanan; nyeri
Tujuan dan Kriteria hasil : Klien akan menunjukkan perbaikan
toleransi aktivitas
a) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang; batasi
pengunjung sesuai kebutuhan.
R/ Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi
yang digunakan untuk penyembuhan. Aktivitas dan posisi duduk
tegak diyakini menurunkan aliran darah ke kaki, yang mencegah
sirkulasi optimal kasal hati
b) Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik
R/ Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan
pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan
c) Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan
rentang gerak sendi pasif/aktif.
R/ Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat
terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode
istirahat
d) Dorong penggunaan teknik manajemen stress, mis: relaksasi.
R/ Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan
kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping
e) Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati
R/ Menunjukkan kurangnya resolusi/eksasorbasi penyakit,
memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi
f) Berikan antidot atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi
tergantung pada pemajangan.
R/ Membuang agen penyebab pada hepatitis toksik dapat
membatasi derajat kerusakan jaringan.
g) Berikan obat sesuai indikasi: sedative, agen antiansietas, contoh
diazepam (valium), larozepam (artisan).
R/ Membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d gangguan absorpsi dan metabolisme


pencernaan makanan; penurunan peristaltic, empedu tertahan.
Tujuan dan Kriteria hasil : Kebutuhan nutrisi terpenuhi, menunjukkan
peningkatan berat badan, bebas tanda malnutrisi
a) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam
frekuensi sering
R/ Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia
b) Berikan perawatan mulut sebelum makan
R/ Menghilangkan rasa tidak enak. Dapat meningkatkan nafsu
makan
c) Anjurkan makan pada posisi tegak
R/ Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan
pemasukan
d) Dorong pemasukan sari jeruk. Minuman karbonat dan permen
berat sepanjang hari
R/ Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah
dicerna/toleran bila makanan lain tidak
e) Konsul pada ahli gizi. Dukungan tim nutrisi untuk memberikan
diet sesuai kebutuhan pasien. Dengan masukan lemak dan protein
sesuai toleransi
R/ Berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi
kebutuhan individu.
f) Berikan obat sesuai indikasi, mis: antiemetik
(metalopramide/raglan), antasid, vitamin (B kompleks dan C)
R/ Diberikan jam sebelum makan, dapat menurunkan mual dan
meningkatkan toleransi pada makanan, Kerja pada asam gaster,
dapat menurunkan iritasi/resiko perdarahan, Memperbaiki
kekurangan dan membantu proses penyembuhan

3. Hipetermi berhubungan dengan proses inflamasi


Tujuan dan Kriteria hasil : Suhu tubuh tidak panas lagi dan dalam
rentang normal
a) Pantau tanda-tanda vital terutama suhu
R/Tanda-tanda vital merupakan aluan untuk mengetahui keadaan
umum pasien terutama suhu tubuhnya
b) Beri pasien banyak minum air (1500-2000 cc/hari)
R/ Dengan minum banyak air diharapkan cairan yang hilang dapat
diganti
c) Beri pasien kompres air hangat atau air dingin
R/ Dengan kompres akan terjadi perpindahan panas secara
konduksi dan kompres hangat akan mendilatasi pembuluh darah
d) Pantau suhu lingkungan
R/ Suhu ruangan harus dirubah agar dapat membantu
mempertahankan suhu pasien
e) Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik dan antibiotik
R/ Pemberian obat antibiotik unuk mencegah infeksi pemberian
obat antipiretik untuk penurunan panas

D. Evaluasi
1. Klien menunjukkan perbaikan toleransi aktivitas
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi, menunjukkan peningkatan berat badan,
bebas tanda malnutrisi
3. Suhu tubuh tidak panas lagi dan dalam rentang normal
Diagnosa Tujuan & Intervensi Rasional
kriteria hasil
1. Intoleransi Klien akan 1. Tingkatkan tirah 1. Meningkatkan
aktivitas menunjukkan baring/duduk. istirahat dan
berhubunga perbaikan Berikan lingkungan ketenangan.
n dengan toleransi tenang; batasi Menyediakan
kelemahan aktivitas pengunjung sesuai energi yang
umum, kebutuhan. digunakan
.
penurunan untuk
kekuatan/ penyembuhan.
ketahanan; Aktivitas dan
nyeri posisi duduk
tegak diyakini
menurunkan
2. Ubah posisi dengan
aliran darah ke
sering. Berikan
kaki, yang
perawatan kulit
mencegah
yang baik.
sirkulasi
optimal kasal
hati
2. Meningkatkan
3. Tingkatkan aktivitas fungsi
sesuai toleransi, pernafasan dan
bantu melakukan meminimalkan
latihan rentang tekanan pada
gerak sendi area tertentu
pasif/aktif. untuk
menurunkan
4. Dorong penggunaan
resiko
teknik manajemen
kerusakan
stress, mis:
jaringan
relaksasi.
3. Tirah baring
lama dapat
menurunkan
kemampuan.
5. Awasi terulangnya Ini dapat terjadi
anoreksia dan nyeri karena
tekan pembesaran keterbatasan
hati. aktivitas yang
mengganggu
periode istirahat
4. Meningkatkan
6. Berikan antidot atau
bantu dalam relaksasi dan
prosedur sesuai penghematan
indikasi tergantung energi,
pada pemajangan. memusatkan
7. Berikan obat sesuai
kembali
indikasi: sedative,
perhatian, dan
agen antiansietas,
dapat
contoh diazepam
meningkatkan
(valium), larozepam
koping.
(artisan). 5. Menunjukkan
kurangnya
resolusi/eksasor
basi penyakit,
memerlukan
istirahat lanjut.
Mengganti
program terapi
6. Membuang
agen penyebab
pada hepatitis
toksik dapat
membatasi
derajat
kerusakan
jaringan.
7. Membantu
dalam
manajemen
kebutuhan
tidur.

2. Nutrisi Kebutuhan 1. Awasi pemasukan 1. Makan banyak


kurang dari nutrisi diet/jumlah kalori. sulit untuk
kebutuhan terpenuhi, Berikan makan mengatur bila
berhubunga menunjukkan sedikit dalam pasien
n dengan peningkatan frekuensi sering. anoreksia.
2. Berikan perawatan 2. Menghilangkan
gangguan berat badan,
mulut sebelum rasa tidak enak.
absorpsi bebas tanda
makan. Dapat
dan malnutrisi
meningkatkan
metabolism
nafsu makan.
e
3. Menurunkan
3. Anjurkan makan
pencernaan
rasa penuh pada
pada posisi tegak.
makanan;
abdomen dan
penurunan
dapat
peristaltic,
. meningkatkan
empedu 4. Dorong pemasukan
pemasukan
tertahan. sari jeruk. Minuman 4. Bahan ini
karbonat dan merupakan
permen berat ekstra kalori
sepanjang hari. dan dapat lebih
mudah
dicerna/toleran
bila makanan
5. Konsul pada ahli lain tidak.
5. Berguna dalam
gizi. Dukungan tim
membuat
nutrisi untuk
program diet
memberikan diet
untuk
sesuai kebutuhan
memenuhi
pasien. Dengan
kebutuhan
masukan lemak dan
individu.
protein sesuai
toleransi.
6. Berikan obat sesuai
indikasi, mis: 6. Diberikan
antiemetik jam sebelum
(metalopramide/ragl makan, dapat
an), antasid, vitamin menurunkan
(B kompleks dan mual dan
C). meningkatkan
toleransi pada
makanan, Kerja
pada asam
gaster, dapat
menurunkan
iritasi/resiko
perdarahan,
Memperbaiki
kekurangan dan
membantu
proses
penyembuhan.

3. Hipetermi Suhu tubuh 1. Pantau tanda-tanda 1. Tanda-tanda


berhubun tidak panas vital terutama suhu vital merupakan
gan lagi dan dalam aluan untuk
dengan rentang normal mengetahui
proses keadaan umum
inflamasi pasien terutama
suhu tubuhnya
2. Dengan minum
2. Beri pasien banyak
banyak air
minum air (1500-
diharapkan
2000 cc/hari)
cairan yang
hilang dapat
diganti
3. Dengan
3. Beri pasien
kompres akan
kompres air hangat
terjadi
atau air dingin perpindahan
panas secara
konduksi dan
kompres hangat
akan
mendilatasi
pembuluh darah
4. Suhu ruangan
harus dirubah
4. Pantau suhu
agar dapat
lingkungan
membantu
mempertahanka
n suhu pasien
5. Pemberian obat
antibiotik unuk
5. Kolaborasi dalam
mencegah
pemberian obat
infeksi
antipiretik dan
pemberian obat
antibiotik
antipiretik
untuk
penurunan
panas
Diagnosa Implementasi Evaluasi
1. Intoleransi aktivitas 1. Meningkatkan tirah Klien akan menunjukkan
berhubungan dengan baring/duduk. perbaikan toleransi
kelemahan umum, Berikan lingkungan aktivitas.
penurunan kekuatan/ tenang; batasi
ketahanan; nyeri pengunjung sesuai
kebutuhan.
2. Mengubah posisi
dengan sering.
Berikan perawatan
kulit yang baik.
3. Meningkatkan
aktivitas sesuai
toleransi, bantu
melakukan latihan
rentang gerak sendi
pasif/aktif.
4. Mendorong
penggunaan teknik
manajemen stress,
mis: relaksasi.
5. Mengawasi
terulangnya anoreksia
dan nyeri tekan
pembesaran hati.
6. Memberikan antidot
atau bantu dalam
prosedur sesuai
indikasi tergantung
pada pemajangan.
7. Memberikan obat
sesuai indikasi:
sedative, agen
antiansietas, contoh
diazepam (valium),
larozepam (artisan).

2. Nutrisi kurang dari 1. Mengawasi Kebutuhan nutrisi


kebutuhan pemasukan terpenuhi, menunjukkan
berhubungan dengan diet/jumlah kalori. peningkatan berat badan,
gangguan absorpsi Berikan makan bebas tanda malnutrisi.
dan metabolisme sedikit dalam
pencernaan makanan; frekuensi sering.
2. Memberikan
penurunan peristaltic,
perawatan mulut
empedu tertahan.
sebelum makan.
3. Menganjurkan makan
pada posisi tegak..
4. Mendorong
pemasukan sari jeruk.
Minuman karbonat
dan permen berat
sepanjang hari.
5. Konsultasi pada ahli
gizi. Dukungan tim
nutrisi untuk
memberikan diet
sesuai kebutuhan
pasien. Dengan
masukan lemak dan
protein sesuai
toleransi.
6. Memberikan obat
sesuai indikasi, mis:
antiemetik
(metalopramide/ragla
n), antasid, vitamin
(B kompleks dan C).

3. Hipetermi 1. Memantau tanda- Suhu badan tidak panas


berhubungan dengan dan dalam batas normal
tanda vital terutama
proses inflamasi
suhu
2. Memberi pasien
banyak minum air
(1500-2000 cc/hari)
3. Memberi pasien
kompres air hangat
atau air dingin
4. Memantau suhu
lingkungan
5. Mengkolaborasi
dalam pemberian obat
antipiretik dan
antibiotik
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Huda (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan


Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam berbagai kasus. Jogjakarta :
Mediaction

Corwm, Elizabeth J (2008). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Price, Sylvia Anderson (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proes-proses


Penyakit : edisi 6. Jakarta : EGC