Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hepatitis virus akut merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang penting
tidak hanya di Amerika Serikat tapi seluruh dunia. The centers for Disease Control and
Prevention (CDC) memperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 3000.000 infeksi virus
hepatitis B. Walaupun mortalitas penyakit hepatitis rendah, faktor morbiditas yang luas
dan ekonomi yang kurang memiliki kaitan dengan penyakit ini. Hepatitis virus akut
adalah penyakit infeksi yang penyebarannya luas, walaupun efek utamanya pada hati.
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemukan berbagai macam penyakit
khususnya hepatitis. Hepatitis adalah suatu penyakit yang dapat menimbulkan
peradangan hati. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi atau oleh toksin termasuk
alcohol, dan dijumpai pada kanker hati. Gejala dan tanda masing-masing jenis hepatitis
serupa namun cara penularan dan hasil akhirnya mungkin berbeda.
B. Tujuan Penulisan
Maksud dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih banyak lagi
tentang penyakit hepatitis dan mengetahui bagaimana proses terjadinya penyakit tersebut.
Makalah tersebut juga dijadikan sebagai refrensi dalam proses perkuliahan.
C. Manfaat Penulisan
1. Sebagai bahan pembelajaran untuk penderita hepatitis agar lebih menjaga
kesehatannya
2. Sebagai tambahan membuat asuhan keperawatan
3. Sebagai sumber informasi bagi para pembaca

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1

A. Konsep Hepatitis Akut


1. Pengertian
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau infeksi pada hati (Elizabeth J. Corwin,
2001). Hepatitis ada yang akut dan ada juga yang kronik. Hepatitis akut adalah
penyakit infeksi akut dengan gejala utama yang berhubungan erat dengan adanya
nekrosis pada jaringan hati (Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I).
Hepatitis kronik adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan
nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu
palaing sedikit 6 bulan (Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 3).
2. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, rata-rata sekitar 1500 gr, atau 2,5 %
berat badan orang dewasa normal. Hati merupakan organ plastis lunak yang
tercetak oleh struktur sekitarnya. Permukaan superior adalah cembung dan terletak
di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah hati
adalah cekung dan merupakan atap ginjal kanan, lambung, pankreas, dan usus.
Hati memiliki dua lobus utama, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi
segmen anterior dan posterior oleh fissura segmentalis kanan yang tidak terlihat di
luar. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh ligamentum
falsiforme yang dapat dilihat dari luar. Ligamentum falsiforme berjalan dari hati ke
diafragma dan dinding depan abdomen. Permukaan hati diliputi oleh peritoneum
viseralis, kecuali daerah kecil pada permukaan posterior yang melekat langsung
pada diafragma. Beberapa ligamentum yang merupakan lipatan peritoneum
membantu menyokong hati. Dibawah peritoneum terdapat jaringan penyambung
padat yang dinamakan kapsul glisson, yang meliputi seluruh permukaan organ ;
kapsula ini pada hilus atau porta hepatis di permukaan inferior, melanjutkan diri ke
2

dalam massa hati, membentuk rangka untuk cabang-cabang vena porta, arteri
hepatika, dan saluran empedu.
Struktur mikroskopik :
Setiap lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yang dinamakan lobulus,
yang merupakan unit mikroskopis dan fungsional organ (gambar). Setiap lobulus
merupakan badan heksagonal yang terdiri atas lempeng-lempeng sel hati yang
berbentuk kubus, tersusun radial mengelilingi vena sentralis. Diantara lempengan
sel hati terdapat kapiler-kapiler yang dinamakan sinusoid, yang merupakan cabang
vena porta dan arteri hepatika. Tidak seperti kapiler lain, sinusoid dibatasi oleh sel
fagositik atau sel kuffer. Sel kuffer merupakan sistem monosit-makrofag yang
lebih banyak daripada yang terdapat dalam hati, jadi hati merupakan salah satu
organ utama sebagai pertahanan terhadap invasi bakteri dan agen toksik. Selain
cabang-cabang vena porta dan arteria hepatica yang melingkari bagian perifer
lobulus hati, juga terdapat saluran empedu yang sangat kecil yang dinamakan
kanalikuli (tidak tampak), berjalan di tengah-tengah lempengan sel hati. Empedu
yang dibentuk dalam hepatosit dieksresi ke dalam kanalikuli yang bersatu
membentuk saluran empedu yang makin lama makin besar, hingga menjadi saluran
empedu yang besar (duktus koledokus).
Vena porta menerima aliran darah dari saluran limpa dan pankreas. Darah vena
porta ini berbeda dengan darah vena lain karena :
-

Tekanan sedikit lebih tinggi.


-

Oksigen lebih tinggi, karena aliran darah di daerah splanknikus ini relatif
lebih banyak.

Mengandung lebih banyak zat makanan.

Mengandung lebih banyak sisa-sisa bakteri dari saluran pencernaan.


Volume total darah yang melalui hati 100 1500 ml tiap menit dan
dialirkan melalui vena hepatica kanan dan kiri yang mengosongkannya ke
vena kava inverior.

b. Fungsi Hati

Selain merupakan organ parenkim yang berukuran besar, hati juga menduduki
urutan pertama dalam hal banyaknya kerumitan dan ragam dari fungsinya. Hati
sangat penting untuk mempertahankan hidup dan berperan pada hampir setiap
fungsi metabolik tubuh; pada tabel di bawah ini dapat dlihat beberapa fungsi utama
hati :
Fungsi Hati
1.

Pembentukan dan ekskresi empedu.

2.

Metabolisme pigmen empedu.

3.

Metabolisme protein.

4.

Metabolisme lemak.

5.

Penyimpanan vitamin dan mineral.

6.

Metabolisme steroid.

7.

Detoksifikasi.

8.

Ruang pengapung dan fungsi penyaring.

9.

Pembentukan urea.

10. Penyimpanan protein

Dari berbagai fungsi tersebut diatas, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa
fungsi dasar hati adalah :
1.)

Fungsi pembentukan dan ekskresi empedu.

2.)

Fungsi metabolik

3.)

Fungsi pertahanan tubuh

4.)

Fungsi vaskular hati


4

c. Fungsi Pembentukan dan Ekskresi Empedu


Hal ini merupakan fungsi utama hati. Saluran empedu mengalirkan, kandungan
empedu menyimpan dan mengeluarkan ke dalam usus halus sesuai yang
dibutuhkan. Hati mengekskresikan sekitar 1 liter empedu tiap hari. unsur utama
empedu adalah air (97%), elektrolit, garam empedu fosfolipid, kolesterol dan
pigmen empedu (terutama bilirubin terkonjugasi). Garam empedu penting untuk
pencernaan dan absorbsi lemak dalam usus halus. Oleh bakteri usus halus sebagian
besar garam empedu direabsorbsi dalam ileum, mengalami sirkulasi ke hati,
kemudian mengalami rekonjugasi dan resekresi. Walaupun bilirubin (pigmen
empedu) merupakan hasil akhir metabolisme dan secara fisiologis tidak
mempunyai peran aktif, ia penting sebagai indikator penyakit hati dan saluran
empedu, karena bilirubin cenderung mewarnai jaringan dan cairan yang
berhubungan dengannya.
d. Fungsi Metabolik
Hati memegang peranan penting pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan juga memproduksi energi dan tenaga. Zat tersebut di atas dikirim
melalui vena porta setelah diabsorbsi oleh usus. Monosaksarida dari usus halus
diubah menjadi glikogen dan di simpan dalam hati (glikogenesis). Dari depot
glikogen ini mensuplai glukosa secara konstan ke darah (glikogenesis) untuk
memenuhi kebutuhan tubuh. Sebagian glukosa dimetabolisme dalam jaringan unuk
menghasilkan panas atau tenaga (energi) dan sisanya diubah menjadi glikogen,
disimpan dalam otot atau menjadi lemak yang disimpan dalam jaringan subcutan.
Hati juga mampu menyintetis glukosa dari protein dan lemak (glukoneogenesis).
Peran hati pada metabolisme protein penting untuk hidup. Protein plasma, kecuali
globulin gamma, disintetis oleh hati. Protein ini adalah albumin yang diperlukan
untuk mempertahankan tekanan osmotik koloid, fibrinogen dan faktor-faktor
pembekuan yang lain.

e. Fungsi Pertahanan Tubuh


Terdiri dari fungsi detoksifikasi dan fungsi perlindungan, dimana fungsi
detoksifikasi oleh enzim-enzim hati yang melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisis
atau konjugasi zat yang memungkinkan membahayakan dan mengubahnya
menjadi zat yang secara fisiologis tidak aktif. Fungsi perlindungan dimana yang
berperanan penting adalah sel kuffer yang berfungsi sebagai sistem endoteal yang
berkemampuan memfagositosis dan juga menghasilkan immunolobulin.
f. Fungsi Vaskuler Hati
Setiap menit mengalir 1200 cc darah portal ke dalam hati melalui sinusoid hati,
seterusnya darah mengalir ke vena sentralis dan menuju ke vena hepatika untuk
selanjutnya masuk ke dalam vena kava inferior. Selain itu dari arteria hepatika
mengalir masuk kira-kira 350 cc darah. Darah arterial ini akan masuk dan
bercampur dengan darah portal. Pada orang dewasa jumlah aliran darah ke hati
diperkirakan mencapai 1500 cc tiap menit.

3. Patofisiologi
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus
dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional
darah dari hepar disebut lobule karena memiliki suplai darah sendiri. Seiring
dengan berkembangnya inflamasi pada hepar. Pola normal pada hepar terganggu.
Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan
nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang
rusak dibuang dari tubuh oleh respon imune digantikan oleh sel-sel hepar baru yang
sehat. Oleh karenanya sebagian besar oleh pasien yang mengalami hepatitis sembuh
dengan fungsi hepar normal
4. Etiologi
a. Virus.
b. Bakteri (salmonella typhi).
6

c. Obat-obatan.
d. Racun (hepatotoxic).
e. Alcohol.
5. Klasifikasi
Terdapat dua jenis virus yang menjadi penyebab yaitu RNA (Ribo Nucleic Acid)
dan DNA (Deoksi Nucleic Acid).

HepatitisA/Hepatitis

infeksius

Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala,


sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam,
diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Penyakit ini
ditularkan terutama melalui kontaminasi oral fekal akibat higyne yang buruk atau
makanan yang tercemar.Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang
yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan
hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Masa
inkubasi 30 hari.Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi
feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan
kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya
terkontaminasi.
Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu
setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan
vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk
homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
HepatitisB/hepatitis serum
Virus hepatitis B adalah suatu virus DNA untai ganda yang disebut partikel dane.
Virus ini memiliki sejumlah antigen inti dan antigen permukaan yang telah
diketahui secara rinci dapat diidentifikasikan dari sampel darah hasil
pemeriksaan lab.hepatitis B memiliki masa tunas yang lama, antara 1 7 bulan
dengan awitan rata-rata 1-2 bulan. Sekitar 5-10% orang dewasa yang terjangkit
hepatitis B akan mengalami hepatitis kronis dan terus mengalami peradangan
hati selama lebih dari 6 bulan. Gejalanya mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu
7

hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta
demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi,
transfusi darah dan gigitan manusia.
Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine, serta imunoglobulin yang
mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah
paparan. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa
tahun yang lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu
narkotika, orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.
Hepatitis c
Hepatitis c diidentifikasi pada tahun 1989.cara penularan virus RNA tersebut
sama dengan hepatitis B dan terutama ditularkan melalui transfusi darah
dikalangan penduduk amerika serikat sebelum ada penapisan. Virus ini dapat
dijumpai dalam semen dan sekresi vagina tetapi jarang sekali pasangan seksual
cukup lama dari pembawa hepatitis C terinfeksi dengan virus ini. Masa tunas
hepatitis C berkisar dari

15 sampai 150 hari, dengan rata-rata 50 hari. Karena

gejalanya cenderung lebih ringan dari hepatitis B, invidu mugkin tidak


menyadari mereka mengidap infeksi serius sehingga tidak datang ke pelayanan
kesehatan. Antibody terhadap virus hepatitis C dan virus itu sendiri dapat di
deteksi dalam darah, sehingga penapisan donor darah efektif. Adanya antibody
terhadap

virus hepatitis C tidak

berarti stadium kronis tidak terjadi.

saat ini belum tersedia vaksin hepatitis C.


Hepatitis D
Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak
lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan
melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit
hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau
amat progresif. agen hepatitis D ini meningkatkan resiko timbulnya hepatitis
Fulminan, kegagalan hati dan kematian. Pencegahan dapat dilakukan dengan
menghindari virus hepatitis B.
8

Hepatitis E
virus ini adalah suatu virus RNA yang terutama ditularkan melalui ingesti air
yang tercemar. Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu
makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri ( self-limited ),
keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat
mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces.

Tabel Virus Hepatitis Yang Dikenali Saat Ini

Jenis

penularan

Prognosis

Diagnosis

Hepatitis A

Oral atau fekal

Biasanya sembuh

Antibody hepatitis A ;

sendiri

IgM(stadium
dini),IgG(stadium
lanjut)

Hepatitis B

Ditularkan melalui

Biasanya sembuh

Antigen permukaan

darah,khususnya

sendiri.10%

hepatitis B (HbsAg)

dari ibu ke anak.

diantaranya dapat

dan antigen

Juga ditularkan

menjadi hepatitis B

inti(HbeAg) yang

melalui hubungan

kronis atau fulminan.

diikuti dengan antibody

seksual

terhadap antigen
permukaan hepatits B
dan antigen inti.

Heparitis C

Ditularkan melalui

50% dapat menjadi

darah ( angkat

infeksi kronis

Antibody hepatitis C

penularan melalui

hubungan kelamin
rendah).
Hepatitis D

Ditularkan melalui

Meningkatkan

Antigen hepatitis D,

darah.ko-infeksi

kemungkinan

antibody hepatitis D.

hanya dengan

perburukan hepatitis B

hepatitis B
Hepatitis E

Air tercemar, oral

Biasanya sembuh

Pengukuran virus

atau fekal

sendiri, tetapi

hepatitis E

menimbulkan angka
kematian tinggi pada
wanita hamil

6. Manifestasi Klinik
Terdapat tiga stadium :
a.

Stadium pre ikterik


Berlangsung selama 4 7 hari, pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia,
mual, muntah, demam, nyeri otot, dan nyeri perut kanan atas, urine lebih coklat.

b. Stadium ikterik, yang berlangsung selama 3 6 minggu. Ikterus mula-mula


terlihat pada sclera, kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan berkurang
tetapi pasien masih lemah, anoreksia dan muntah, tinja mungkin berwarna
kelabu atau kuning muda, hati membesar dan nyeri tekan.
c. Stadium pasca ikterik (rekonvalensensi)
Ikterus mereda, warna urine dan tinja menjadi normal lagi. Penyembuhan pada
anak-anak lebih cepat daripada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua.
Karena penyebab yang biasa berbeda.
10

7. Penularan
HVA

Penularan

Fekal oral

Parenteral

HVB

HVC

Darah

Darah

Saliva

Saliva

HVD

Darah

HVE

Fekal oral

Seksual

(Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I)


Resiko penularan untuk HVA yaitu : sanitasi buruk, institusi yang ramai seperti
rumah perawatan, rumah sakit jiwa, jasa boga, terinfeksi. Sedangkan resiko
penularan HVB aktivitas homoseksual, memiliki banyak pasangan seksual, memakai
obat-obatan melalui suntikan intravena, hemodialisis kronik, pekerja sosial di bidang
kesehatan, transfusi darah (sekarang sudah jarang karena ada pemeriksaan rutin).
8. Pencegahan
Karena terbatasnya pengobatan hepatitis, maka penekanan lebih diarahkan pada
pencegahan diataranya sebagai berikut :
a. Kini tersedia globulin imun HBV tertinggi (HBIG) dan vaksin untuk pencegahan
dan pengobatan HBV, utamanya bagi petugas yang terlibat dalam kontak resiko
tinggi misalnya pada hemodialisis, transfusi tukar dan terapi parenteral perlu
sangat hati-hati dalam menangani peralatan parenteral tersebut.
b. Hindari kontak langsung dengan barang yang terkontaminasi virus hepatitis akut.
11

c. Pelihara personal hygiene dan lingkungan.


d. Galat-alat disposible untuk suntik.
e. Alat-alat yang terkontaminasi disterilkan.
9. Penatalaksanaan
a. Tirah baring selama fase akut dengan diet yang cukup bergizi merupakan
anjuran yang lazim.
b. Diet TKTP, pemberian makanan intravena mungkin perlu selama fase akut bila
pasien terus-menerus muntah.
c. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi hingga gejala-gejala mereda dan tes
fungsi hati kembali normal.
d. Terapi sesuai instruksi dokter.
e. Jaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
f. Alat-alat makan disterilkan.
g. Alat-alat tenun sebelum dicuci direndam dahulu dengan antiseptik.

10. Komplikasi
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit
yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis
kronis persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami
kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau
aktivitas fisik yang berlebihan setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien
akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati
seperti digerogoti (picce meal). Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang
cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
11. Pemeriksaan Diagnostik
a. Enzim-enzim serum AST (SGOT), ALT (SGPT), LDH : meningkat pada
kerusakan sel hati dan pada keadaan lain terutama infark miokardium.
b. Bilirubin direk : meningkat pada gangguan eksresi bilirubin terkonyugasi.
12

c. Bilirubin indirek : meningkat pada gangguan hemolitik dan sindrom gilbert.


d. Bilirubin serum total : meningkat pada penyakit hepatoseluler
e. Protein serum total : kadarnya menurun pada berbagai gangguan hati.
f. Masa protrombin : meningkat pada penurunan sintetis protrombin akibat
kerusakan sel hati.
g. Kolesterol serum : menurun pada kerusakan sel hati, meningkat pada obstruksi
duktus biliaris.

B. Konsep Asuhan Keperawatan Hepatitis Akut


Proses perawatan adalah suatu metode yang sistematik dan terorganisir dalam pemberian
askep

yang

difokuskan

pada

reaksi/respon

manusia

unik

pada

suatu

kelompok/perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami baik aktual maupun


resiko.
1. Pengkajian
Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang
terorganisir yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data, menyortir dan
mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data yang dikumpulkan,
mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Dengan
menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada pendapatan profil pasien yang
akan memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien dan diagnosa
yang cocok, merencanakan masalah, mengimplementasikan intervensi dan
mengevaluasi hasil. Profil ini disebut data-data pasien. Data dasar pasien memberikan
suatu pengertian tentang status kesehatan pasien yang menyeluruh. Data tergantung
pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati.
Data dasar pengkajian pasien
a.

Aktivitas/istirahat
Gejala

b.

: Kelemahan, kelelahan, malaise umum.

Sirkulasi
13

Tanda

: Bradikardi (hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit


dan membran mukosa.

c.

Eliminasi
Gejala

: Urine gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/


berulangnya hemodialisa

d.

yhyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

Makanan dan cairan


Gejala

: Hilang nafsu makan (anoreksia, penurunan berat badan atau


meningkat (oedema), mual/muntah.

e.

Neurosensori
Tanda

f.

: Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.

Nyeri/kenyamanan
Gejala

: Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artalgia,


mialgia, sakit kepala (pruritus).

Tanda
g.

Pernafasan
Tanda

h.

i.

: Otot tegang, gelisah.


: Tidak minat/enggan merokok (perokok).

Keamanan
Gejala

: Adanya transfusi darah/produk darah.

Tanda

: Demam

Seksualitas
Gejala

: Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko terpanjang (contoh :


homoseksual aktif/biseksual pada wanita).

2. Identifikasi/Analisa masalah (Diagnosa Keperawatan)


Tahap kedua dari proses keperawatan sering disebut juga sebagai analisis, dan juga
identifikasi masalah atau diagnosa keperawatan. Proses ini amat penting dan esensial
karena proses ini merupakan satu bagian yang paling vital dalam proses keperawatan.
Diagnosa keperawatan :
14

a. Intolerans aktivitas berhubungan dengan :


Kelemahan umum : penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
Mengalami keterbatasan aktivitas : depresi.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mua/muntah,
gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik
(refleks viseral), empedu tertahan.
c. Kekurangan volume cairan dan diare, perpindahan area ke tiga (acites), gangguan
proses pembekuan
d. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan
e. Potensial terjadi penularan pada orang lain serta staf medis berhubungan dengan :
kontak dengan pasien serta pengelolaan alat-alat.
f. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia,
akumulasi garam empedu dalam jaringan.
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.
3. Perencanaan
Diagnosa keperawatan :
a.

Aktivitas intoleran berhubungan dengan :

Kelemahan umum, penurunan kekuatan otot/ketahanan : nyeri.

Mengalami keterbatasan aktivitas.

Data subyektif

: Laporan kelemahan.

Data objektif

: Tampak lemah, kekuatan otot menurun, istirahat di tempat tidur.

Tujuan

Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.

Kriteria

Menunjukkan teknik/perilaku kemampuan kembali melakukan aktivitas.

Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.

Tindakan keperawatan

15

1.)

Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi


pengunjung.
Rasional :
Meningkatkan ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan.

2.)

Ubah posisi dengan sering, perawatan kulit yang baik.


Rasional :
Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area
tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.

3.)

Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.


Rasional :
Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.

4.)

Tingkatkan aktivitas sesuai intoleransi, bantu melakukan rentang gerak


sedikit pasif/aktif.
Rasional :
Tirah baring yang lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi
karena keterbatasan aktivitas.

5.)

Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, membaca,


mendengarkan radio.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali
perhatian, dan dapat meningkatkan koping.

6.)

Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.


Rasional :
Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan
istirahat lanjut, mengganti program terapi.
Kolaborasi :
Membantu menentukan kadar aktivitas yang tepat, sebagai peningkatan
prematur pada potensial resiko berulang.

16

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,


mual.
Data subjektif :

Kurang nafsu makan, nyeri abdomen/kram.

Data obyektif : Porsi makan tidak dihabiskan, berat badan menurun,


muntah
*

Tujuan

Menunjukkan berat badan yang meningkat atau kembali normal.

Diet yang dianjurkan dapat ditoleransi tanpa rasa tak nyaman.

Kriteria

Berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal


dan bebas tanda malnutrisi.

Tindakan keperawatan
1.) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makanan sedikit tapi
sering dalam frekuensi sering dan tawarkan makanan pagi paling besar.
Rasional :
Makanan banyak sulit mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga
paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit
pada sore hari.
2.) Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional :
Menghilangkan rasa tidak enak, meningkatkan nafsu makan.
3.) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional :
Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan
pemasukan.
4.) Dorongan pemasukan sari jeruk, minuman karbohidrat dan permen
berat sepanjang hari.
Rasional :
Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna,
toleran bila makanan lain tidak.
17

5.) Berikan obat sesuai indikasi : Vit. B Comp, tambahan diet lain sesuai
indikasi.
Rasional :
Memperoleh kekurangan dan membantu proses penyembuhan.
Kolaborasi :
6.) Konsul pada ahli diet. Dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet
sesuai kebutuhan pasien dengan pemasukan lemak dan protein sesuai
toleransi.
Rasional :
Berguna dalam membuat program diet memenuhi kebutuhan individu.
Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi pengeluaran
empedu dan perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare.
Bila toleransi pemasukan normal atau lebih protein akan membantu
regenerasi hati. Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat
karena akumulasi produk akhir protein dapat mencetuskan hepati
ensefalopati.
7.) Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional :
Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda
kekurangan terjadi/gejala memanjang.
c.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan


melalui muntah dan diare, ditandai dengan :
Data subyektif : Data obyektif
*

: Muntah dan diare.

Tujuan
Mempertahankan hidrasi adekuat.

Kriteria

Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran


seimbang.
18

Tindaka keperawatan
1.) Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian,
catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional :
Memberikan informasi tentang kebutuhan pengganti/efek terapi.
2.) Kaji tanda vital,

nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan

membran mukosa.
Rasional :
Indikator volume sirkulasi/perifer.
3.) Periksa acites atau pembentukan oedema, ukur lingkar abdomen sesuai
indikasi.
Rasional :
Menerangkan kemungkingan perdarahan ke dalam jaringan.
4.) Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk
sikat gigi.
Rasional :
Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
5.) Awasi nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Na + albumin dan waktu
pembekuan.
Rasional :
Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein
yang dapat menimbulkan pembentukan oedema.
6.) Berikan cairan IV, elektrolit.
Rasional :
Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
7.) Protein hidrolisat : vitamin K
Rasional :
Memperbaiki

kekurangan

albumin/protein

dapat

membantu

mengembalikan cairan dari jaringan ke sistem sirkulasi, mencegah


masalah koagulasi.
19

d. Harga diri rendah berhubungan dengan gejala jengkel/marah, terkurung/ isolasi,


sakit lama/periode penyembuhan.
Data subyektif : Perasaan tak berdaya.
Data obyektif : Perawatan isolasi, icterus pada mata dan seluruh tubuh.
*

Tujuan
Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi
negatif.

Kriteria

Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan/ kebutuhan isolasi.

Mengakui diri sebagai orang tua yang berguna.

Tindakan keperawatan
1.) Kontak dengna pasien mengenai waktu untuk mendengar.
Rasional :
Penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya.
2.) Dorong diskusi perasaan marah.
Rasional :
Kesempatan untuk mengekspresikan perasaan memungkinkan pasien
untuk merasa lebih mengontrol situasi. Pengungkapan menurunkan
cemas dan depresi memudahkan perilaku koping positif.
3.) Hindari membuat penilaian neoral tentang pola hidup.
Rasional :
Pasien merasa marah/kesal dan mengalahkan diri : penilaian dari orang
lain akan merusak harga diri lebih lanjut.
4.) Diskusikan harapan penyembuhan.
Rasional :
Periode penyembuhan mungkin lama/potensial stres keluarga/ situasi
dan memerlukan perencanaan, dukungan dan evaluasi.
5.) Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional :

20

Masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan peran fungsi pasien


pada keluarga/penyembuhan lama.
6.) Tawarkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.
Rasional :
Memampukan pasien untuk menggungkan waktu dan energi pada cara
konstruktif yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas
dan depresi.
7.) Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau biru/hitam
daripada kuning atau hijau.
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahankan tubuh sekunder tak adekuat
dan malnutrisi.
Data subyektif: Data obyektif : - Klien dirawat di ruangan isolasi
- Faeces warna dempul.
- Urine warna pekat.
*

Tujuan
Mencegah penularan kepada orang lain.

Kriteria
Mendemonstrasikan/melakukan teknik-teknik/cara penularan penyakit.
Perubahan-perubahan teknik ulang perilaku atau mencegah penularan
penyakit terhadap orang lain.

Tindakan keperawatan
1.) Terapkan teknik isolasi dengan cara yang tepat
-

Gunakan celemek dan sarung tangan bila mengadakan kontak dengan


klien (berhati-hati terhadap kontaminasi dengan alat-alat suntik klien
seperti darah dan sekretnya).

Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.


Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain. Melalui cuci tangan
yang efektif dalam mencegah transmisi virus tipe C di transmisikan
melalui terpajan pada darah dan produk darah.
21

2.) Jelaskan prosedur isolasi kepada klien dan keluarga.


Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.
3.) Membahas pentingnya imunisasi kepada klien, keluarga dan tenaga
kesehatan.

f. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat


kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Data subyektif : Pengungkapan rasa gatal.
Data obyektif : Bilirubin meningkat.
*

Tujuan
Klien akan mengungkapkan tidak terjadi gangguan integritas kulit.

Kriteria

Jaringan kulit utuh tanpa lecet/luka.

Gatal-gatal berkurang/hilang.

Tindakan keperawatan
1.) Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji. Hindari sabun
mandi alkali.
Rasional :
2.) Anjurkan untuk menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk rasa
gatal, pertahankan kuku pendek.
Rasional :
Menurunkan resiko cedera kulit.
3.) Beri massage pada waktu tidur.
Rasional :
Bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.
4.) Hindari komentar tentang penampilan pasien.
Rasional :
Menimbulkan stres psikologik sehubungan dengan perubahan kulit.
22

Kolaborasi
5.) Berikan obat sesuai indikasi ; antihistamin contoh : metdilazin,
difenhidramin.
Rasional :
Menghilangkan gatal, catatan : gunakan terus-menerus pada hepatik
hebat.

g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber
informasi ditandai dengan :
Data subyektif: Pernyataan yang salah konsepsi.
Data obyektif : Pernyataaan/meminta informasi.
*

Tujuan
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.

Kriteria

Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan hubungan dan gejala


dengan faktor penyebab.

Melakukan perubahan perilaku dan berpatisipasi pada pengobatan.

Tindakan keperawatan
1.) Kaji

tingkat

pemahaman

proses

penyakit,

harapan/prognosis,

kemungkinan pilihan pengobatan.


Rasional :
Mengidentifikasi area kekurangan/salah informasi dan memberikan
kesempatan untuk memberikan informasi tambahan yang sesuai
keperluan.
2.) Berikan informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit.
Rasional :
Kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi karena hepatitis dan situasi
individu.
23

3.) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih.


Rasional :
Aktivitas yang dapat dinikmati akan dapat membantu menghindari
pemusatan pada penyembuhan panjang.
4.) Diskusikan pembatasan donatur darah.
Mencegah penyebaran penyakit. Kebanyakan undang-undang negara
bagian menerima donor darah yang mempunyai riwayat berbagai tipe
hepatitis.
5.) Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi
laboratorium.
Rasional :
Proses penyakit dapat memakai waktu berbulan-bulan untuk membaik.
Bila gejala ada lebih lama dari enam bulan. Biopsi hati diperlukan
untuk memastikan adanya hepatitis kronis.
6.) Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 12 bulan minuman
atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional :
Meningkatkan iritasi hepatik dan mempengaruhi pemulihan.

4. Implementasi
Merupakan tahan keempat dari proses keperawatan dimana rencana keperawatan
dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan, pada tahap ini
perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam
rencana perawatan pasien. Pelaksanaan keperawatan/implementasi harus sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan
dengan masalah yang terjadi. Dalam pelaksanaan keperawatan ada 4 tindakan yang
dilakukan yaitu :
a.

Tindakan mandiri

b.

Tindakan observasi
24

c.

Tindakan health education

d.

Tindakan kolaborasi

5. Evaluasi
Tahapan evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan dapat
dicapai, sehingga dalam mengevaluasi efektivitas tindakan keperawatan. Perawat perlu
mengetahui kriteria keberhasilan dimana kriteria ini harus dapat diukur dan diamati
agar kemajuan perkembangan keperawatan kesehatan klien dapat diketahui Dalam
evaluasi dapat dikemukakan 4 kemungkinan yang menentukan keperawatan
selanjutnya yaitu :
a.

Masalah klien dapat dipecahkan .

b.

Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.

c.

Masalah klien tidak dapat dipecahkan.

d.

Dapat muncul masalah baru.

25

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. N DENGAN HEPATITIS AKUT DI
RUANG ASTER BLUD RSUD Dr. DORIS SYLVANUS PALANGKARAYA
Terlampir

26

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melaksanakan dan menerapkan asuhan keperawatan pada Tn. N dengan
penyakit hepatitis akut di ruang Aster Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Doris Sylvanus Palangka
Raya, maka dalam bab ini penulis akan membahas beberapa hal, baik yang mendukung maupun
yang menghambat kelancaran proses keperawatan.
Adapun tujuan pambahasan ini adalah : untuk menemukan antara tinjauan teoritis dengan
tinjauan kasus yang sebenarnya dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang
dimulai dari tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan yang penulis lakukan pada Tn. N selama tahap pengkajian penulis
tidak mendapatkan kesulitan karena klien dan keluarga bersedia memberikan informasi yang
diperlukan penulis dan klien bersedia kooperatif kepada penulis.
Adapun pengkajian pengumpulan data yang penulis temukan kesenjangan antara teori dan
pada kasus dari penyakit hepatitis akut.
1. Aktivitas / Istirahat
Pada teori ditemukan adanya kelemahan, kelelahan, malaise umum setiap hari.
Sedangkan pada kasus klien tidak mengalami gejala diatas.

27

2. Sirkulasi
Pada teori ini di temukan adanya bradikardia atau hiperbilirubin berat, ikterik. Sedangkan
pada kasus klien tidak mengalami gejala diatas.
3. Eliminasi
Pada teori ditemukan adanya urin gelap, diare / konstipasi, fases tanah liat. Sedangkan
pada kasus klien tidak mengalami salah satu gejala diatas.
4. Makanan atau Cairan
Pada teori di temukan adanya hilang nafsu makan (anoraksial), penurunan berat badan
atau meningkat, mual, muntah. Sedangkan pada kasus klien hanya ditemukan adanya
penurunan nafsu makan.
5. Neurosensori
Pada teori di temukan adanya peka rangsangan, cenderung tidur, latergi, asteriksi,
sedangkan pada kasus klien tidak mengalami gejala di atas.
6. Nyeri / Kenyamanan
Pada teori di temukan adanya keram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas,
mialgia, artralgia, sakit kepala, gatal ( pruritas ). Sedangkan pada kasus klien hanya
mengalami nyeri tekan pada kuadran kanan atas, tapi klien tidak mengalami gatal
( pruritas )
7. Pernafasan
Pada teori ditemukan adanya :
Tidak minat/enggan merokok (perokok). Sedangkan pada kasus tidak ditemukan gejala di
atas.
8. Keamanan
Antara teori dan kasus tidak ditemukan adanya kesenjangaan antara teoritis, pada kasus
klien mendapatkan tranfusi darah.
28

9. Seksualitas
Gejala yang ada pada teori adalah : pola hidup/prilaku meningkatnya resiko terpajan
(contoh : homo seksual, aktif / biseksual pada wanita). Sedangkan pada kasus klien tidak
ditemukan tanda-tanda di atas.

B. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang terdapat pada tinjauan teoritis adalah sebagai berikut :
1. Intolerans aktivitas berhubungan dengan :
Kelemahan umum : penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
Mengalami keterbatasan aktivitas : depresi.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan
untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mua/muntah, gangguan absorbsi dan
metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu
tertahan.
3. Kekurangan volume cairan dan diare, perpindahan area ke tiga (acites), gangguan proses
pembekuan
4. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan
5. Potensial terjadi penularan pada orang lain serta staf medis berhubungan dengan : kontak
dengan pasien serta pengelolaan alat-alat.
6. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia, akumulasi
garam empedu dalam jaringan.
7. Kurang

pengetahuan

tentang

kondisi,

prognosis,

dan

kebutuhan

pengobatan

berhubungan dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.

Sedangkan diagnosa keperawatan yang terdapat pada tinjauan kasus, yaitu :


1.

Nyeri akut b.d refleks spasme otot sekunder terhadap hepar.

2. Ketidakefektifan jalan nafas b.d gangguan fungsi pernapasan


29

Diagnosa keperawatan yang terdapat pada tinjauan teori tapi tidak terdapat pada tinjauan
kasus adalah :
1. Intolerans aktivitas berhubungan dengan :
Kelemahan umum : penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
Mengalami keterbatasan aktivitas : depresi.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan
untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mua/muntah, gangguan absorbsi dan
metabolisme pencernaan makanan : penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu
tertahan.
3. Kekurangan volume cairan dan diare, perpindahan area ke tiga (acites), gangguan proses
pembekuan
4. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan
5. Potensial terjadi penularan pada orang lain serta staf medis berhubungan dengan : kontak
dengan pasien serta pengelolaan alat-alat.
6. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia, akumulasi
garam empedu dalam jaringan.
7. Kurang

pengetahuan

tentang

kondisi,

prognosis,

dan

kebutuhan

pengobatan

berhubungan dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.

Diagnosa keperawatan yang terdapat pada tinjauan kasus tetapi tidak terdapat di tinjauan
teori :
1. Nyeri akut b.d refleks spasme otot sekunder terhadap hepar.
2. Ketidakefektifan jalan nafas b.d gangguan fungsi pernapasan

30

Diagnosa keperawatan yang terdapat pada tinjauan kasus juga terdapat pada tinjauan teori
adalah: tidak terdapat diagnosa keperawatan yang ada di tinjauan kasus terdapat pada
tinjauan teoritis.

C. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan merupakan kelanjutan dari diagnosa keperawatan dalam rangka mengatasi
masalah yang timbul. Adapun intervensi pada tinjauan kasus disesuaikan dengan fasilitas
yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya, secara umum
intervensi yang diberikan kepada Tn. N berupa teknik relaksasi nafas dalam.
D. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan merupakan realisasai dan rencana tindakan keperawatan dalam secara teoritis
dan sesuai dengan keadaan dan kebutuhn pasien, penetapan pelaksanaan tindakan
keperawatan yang mencakup tindakan independent dan dependent
a. Independent
Tindakan secara mandiri (independent) adalah tindakan yang dilakukan untuk mengatasi
kesehatan dan memenuhi kebutuhan pasien seperti :
-

Mengajarkan teknik relaksaasi nafas dalam kepada pasien

Kolaborasi dengan dokter rentang pemberian terapi

Kolaborasi dengan team gizi

b. Dependent
Hal ini tidak dilakukan karena sarana dan prasarana serta fasilitas Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya sudah memadai untuk menanggulangi masalah
yang dihadapi
31

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam tahapan proses keperawatan evaluasi berguna
untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dievaluasi,
berorientasi sesaat dimana yang timbul dan dialami pasien serta berorientasi pada saat pasien
dirawat.

Dari semua evaluasi tinjauan kasus, masalah teratasi sebagian dan tindakan

selanjutnya adalah melanjutkan intervensi keperawatan yang diperlukan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Pengkajian pasien dengan hepatitis akut akan menjumpai beberapa data penting dari aspek
biologi dan psikologi. Pada hepatitis akut pada Tn. N didapatkan data antara lain : Nyeri
pada perut kanan atas (ulu hati), dan batuk-batuk.
2. Berbagai diagnosa keperawatan dapat terjadi pada pasien Tn. N dengan penyakit hepatitis
akut adalah :

Nyeri akut b.d refleks spasme otot sekunder terhadap hepar dan

ketidakefektifan jalan nafas b.d gangguan fungsi pernapasan


3. Penyusunan rencana tindakan yang penulis lakukan pada Tn. N dengan penyakit hepatitis
akut adalah tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi antara lain :
Untuk Diagnosa I : Nyeri akut b.d refleks spasme otot sekunder terhadap hepar
1.

Kaji skala nyeri, lokasi dan lamanya nyeri

2.

Periksa TTV pasien

3.

Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam


32

4.

Kolaborasi dalam pemberian analgesic

Untuk Diagnosa II : Ketidakefektifan jalan nafas b.d gangguan fungsi pernapasan


1.

Auskultasi bunyi nafas

2.

Atur posisi senyaman mungkin

3.

Lakukan teknik postural drainage

4.

Ajarkan pasien teknik nafas dalam dan batuk efektif

4. Tindakan Keperawatan
Setelah penulis melakukan pengkajian dan manganalisa pada Tn. N di RuangAster Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya, penulis tidak menemukan
hambatan dalam melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi keperwatan
karena didukung klien dan keluarga klien yang kooperatif.
Adapun tindakan pelaksanaan dilakukan pada Tn. N adalah :
Pada diagnosa keperawatan I : Nyeri akut b.d refleks spasme otot sekunder terhadap hepar
Implementasi dilakukan oleh penulis sesuai dengan rencana keperawatan yang telah
disusun dan disesuaikan dengan sarana dan fasilitas rumah sakit yaitu :
1.

Mengkaji skala, lokasi dan lamanya nyeri

2.

Memeriksa TTV

3.

Mengajarkan teknik relaksasi napas dalam

4.

Berkolaborasi dalam pemberian obat

Pada diagnosa keperawatan I : Ketidakefektifan jalan nafas b.d

gangguan fungsi

pernapasan
Implementasi dilakukan oleh penulis sesuai dengan rencana keperawatan yang telah
disusun dan disesuaikan dengan sarana dan fasilitas rumah sakit yaitu :
1. Mengauskultasi bunyi napas pasien

33

2. Mengatur posisi senyaman mungkin


3. Melakukan teknik postural drainage pada pasien
4. Mengajarkan pasien teknik nafas dalam dan batuk efektif

5. Evaluasi Keperawatan
Setelah penulis melakukan pengkajian dan menganalisa data pada Tn. N dengan hepatitis
akut di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Dilakukan setiap
hari melihat hasil perubahan-perubahan pada setiap masalah klien sesuai dengan
implementasi yang dibuat asuhan keperawatan, meskipun teratasi sebagian, namun asuhan
keperawatan yang diberikan telah banyak membantu dalam mengatasi masalah klien,
penilaian yang dilakukan dengan menggunakan SOAP (Subjek, Objek, Analisa, dan
Planning)
Asuhan keperawatan yang dilakukan masih teratasi sebagian karena pada saat penulis
melakukan pengkajian, klien baru mandapat perawatan beberapa hari saja.
Adapun evaluasi yang terdapat pada diagnosa keperawatan pada kasus adalah :
Diagnosa I : Nyeri akut b.d refleks spasme otot sekunder terhadap hepar
Evaluasi :

S:

Pasien mengatakan nyeri perutnya berkurang.

O:

Pasien tampak lebih rileks

A:

Masalah teratasi sebagian sebagian

P:

Lanjutkan intervensi 2 dan 4

Memeriksa TTV pasien/ klien


Berkolaborasi dalam pemberian obat
Diagnosa II : Ketidakefektifan jalan nafas b.d gangguan fungsi pernapasan
Evaluasi :
S:

Pasien mengatakan batuknya mulai berkurang.

O:

Pasien tampak lebih rileks dan tenang.


34

A:

Masalah teratasi sebagian

P:

Lanjutkan intervensi 1, 2 dan 3

Mengauskultasi bunyi nafas


Mengatur posisi senyaman mungkin
Melakukan teknik postural drainage pada pasien.

B. Saran
1. Bagi klien
Disarankan kepada klien agar meningkatkan pembinaan pola hidup sehat, dan memahami
perlunya menjaga kesehatan mengenai faktor-faktor resiko penyakit hepatitis.
2. Bagi perawat
Hendaknya berperan aktif dengan menanyakan apa yang dirasakan klien dan keluarga
selama menderita penyakit hepatitis sehingga perawat melakukan pengkajian
keperawatan, menegakkan diagnosa keperawatan, membuat rencana keperawatan,
melakukan tindakan keperawatan dan mengevaluasi Asuhan Keperawatan Pada Tn. N
Dengan penyakit hepatitis akut di ruang Aster Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya, sehingga terjalin kerjasama yang baik sesuai dengan prioritas
masalah kesehatan klien dan tercapailah hasil yang maksimal.
3. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan pedoman dalam perencanaan Asuhan Keperawatan Pada Tn. N dengan
penyakit hepatitis akut di ruang Aster Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Doris Doris
Sylvanus Palangka Raya.

35

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.
Gallo, Hudak, 1995, Keperawatan Kritis, EGC, Jakarta.
Hadim Sujono, 1999, Gastroenterologi, Alumni Bandung.
Moectyi, Sjahmien, 1997, Pengaturan Makanan dan Diit untuk Pertumbuhan Penyakit,
Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses Penyakit, EGC, Jakarta.
Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa
Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.
Susan, Martyn Tucker et al, Standar Perawatan Pasien, jakarta, EGC, 1998.
Reeves, Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono, Edisi I, jakarta,
Salemba Medika.
Sjaifoellah Noer,H.M, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, Balai Penerbit
FKUI, jakarta.\

36

37