100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan22 halaman

HEMATOCHEZIA

Dokumen tersebut memberikan tinjauan umum tentang hematoschezia. Isinya meliputi definisi, epidemiologi, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan perdarahan saluran cerna bagian bawah. Penyebab utamanya adalah divertikulosis kolon, malformasi arteri vena, dan kolitis iskemik. Diagnosis didasarkan pada riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan seperti kolonoskopi. Penatalaksanaannya

Diunggah oleh

Doddy Siswanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • pemeriksaan penunjang,
  • kolonoskopi,
  • divertikulosis,
  • pemeriksaan ultrasonografi,
  • terapi bedah,
  • perdarahan akut,
  • pemeriksaan koagulasi,
  • gejala,
  • pemeriksaan darah segar,
  • pemeriksaan darah harian
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan22 halaman

HEMATOCHEZIA

Dokumen tersebut memberikan tinjauan umum tentang hematoschezia. Isinya meliputi definisi, epidemiologi, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan perdarahan saluran cerna bagian bawah. Penyebab utamanya adalah divertikulosis kolon, malformasi arteri vena, dan kolitis iskemik. Diagnosis didasarkan pada riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan seperti kolonoskopi. Penatalaksanaannya

Diunggah oleh

Doddy Siswanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • pemeriksaan penunjang,
  • kolonoskopi,
  • divertikulosis,
  • pemeriksaan ultrasonografi,
  • terapi bedah,
  • perdarahan akut,
  • pemeriksaan koagulasi,
  • gejala,
  • pemeriksaan darah segar,
  • pemeriksaan darah harian

TINJAUAN PUSTAKA

HEMATOSCHEZIA

DI SUSUN OLEH:
DoddyArio Siswanto Putro
2012730031

KEPANITERAAN KLINIK RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH


SMF ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
DAFTAR ISI

Daftar isi i
BAB I Pendahuluan.. 1
BAB II Tinjauan Umum 2
Definisi. 2
Epidemiologi. 2
Klasifikasi................................................................................................. 3
Etiologi.. 4
Manifestasi Klinis.. 8
Diagnosa 9
Pemeriksaan Penunjang 10
BAB III Penatalaksanaan. 13
BAB IV Kesimpulan 18
Daftar Pustaka.. 19
BAB I
PENDAHULUAN

Perdarahan saluran cerna akut merupakan keadaan gawat darurat yang harus ditangani
secara cepat dan tepat karena dapat menyebabkan kematian. Sementara perdarahan
saluran cerna yang sifatnya kronik walaupun tidak terlihat nyata namun bila tidak
ditangani juga sangat berbahaya. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi dimana saja pada
traktus digestivus dari mulut sampai dengan anus. Darah dapat terlihat pada tinja atau
muntahan atau dapat saja berupa perdarahan tersembunyi yang hanya dapat dilihat
dengan pemeriksaan laboratorium. Perdarahan saluran cerna bagian bawah sebagian
besar terjadi pada usia tua. Dahulu, kematian yang disebabkan oleh perdarahan saluran
cerna bagian bawah yang akut sangat tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh kesulitan
untuk menemukan sumber pendarahan.5 Namun, seiring dengan kemajuan dan
pembangunan di bidang teknologi medis, khususnya kolonoskopi dan angiografi, telah
menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh perdarahan saluran cerna bagian
bawah sebesar 5-10% selama dekade terakhir. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh
peningkatan kemampuan dalam mencari sumber pendarahan, dalam resusitasi dan juga
perawatan medis yang lebih baik. Penyebab utama kehilangan darah dari saluran
pencernaan bagian bawah yang akut adalah divertikulosis dan angiodisplasia. 5 Sementara
itu, penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian bawah yang kronik adalah
keganasan dan penyakit di daerah perianal.5 Perdarahan saluran cerna bagian bawah
yang kronik terjadi secara bertahap dan sebentar-sebentar, sehingga seringkali pasien
tidak menyadarinya dan membutuhkan rawat inap di rumah sakit.5
BAB II
TINJAUAN UMUM

II.1 Definisi
Perdarahan saluran cerna bagian bawah umumnya didefinisikan sebagai perdarahan yang
berasal dari usus di sebelah bawah ligamentum Treitz.3
Hematochezia diartikan sebagai darah segar atau berwarna merah maroon yang keluar
melalui anus dan merupakan manifestasi tersering dari perdarahan saluran cerna bagian
bawah. Namun, perdarahan dari saluran pencernaan bagian atas yang masif juga dapat
menimbulkan hematochezia.1,3
Melena diartikan sebagai tinja berwarna hitam seperti ter, lengket, dengan bau yang
khas. Melena timbul bila hemoglobin dikonversi menjadi hematin atau hemokrom lain
oleh bakteri setelah 14 jam. 1,2 Umumnya melena menunjukkan perdarahan di saluran
cerna bagian atas atau usus halus, namun melena dapat pula berasal dari perdarahan
kolon sebelah kanan dengan perlambatan mobilitas.2 Tidak semua kotoran hitam adalah
melena karena bismuth, atau obat-obat yang mengandung besi ( obat penambah darah )
dapat pula menyebabkan feces menjadi hitam.1,3
Darah Samar timbul bilamana ada perdarahan ringan namun tidak sampai merubah warna
feces. Darah samar dapat diketahui dengan tes Guaiac.1,3
Darah yang bisa dideteksi oleh tes Guaiac minimal 5-10ml/hr, sementara saluran cerna
secara normal sebenarnya kehilangan darah 0,5-1,5 ml/hari yang biasanya tidak terdeteksi
dengan tes Guaiac.1

II.2 Epidemiologi
Penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah diverticulosis,
malformasi arteri vena (AVM), dan kolitis iskemik. 1 Dari keseluruhan perdarahan saluran
cerna, 20%nya adalah perdarahan saluran cerna bagian bawah , dan biasanya tidak lebih
berat dari perdarahan saluran cerna bagian atas. Perdarahan SCBB ini biasanya terjadi
pada orang tua berusia antara 63-77 tahun. 1 Sebanyak 80% biasanya berhenti secara
spontan.1 Dalam dekade terakhir , kasus perdarahan saluran cerna meningkat secara
signifikan. Mortalitas akibat perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah 3,6 %,
sementara tingkat mortalitas akibat perdarahan saluran cerna bagian atas adalah 3,57%.3
Pasien perdarahan saluran cerna bagian bawah yang dirawat di rumah sakit memiliki
angka mortalitas yang lebih tinggi, yaitu sebanyak 23% dibandingkan pasien yang rawat
jalan, hanya sebesar 3.6%.1

II.3 Klasifikasi
a. Perdarahan akut
Pasien pasien yang mengalami perdarahan berat dan kontinyu harus dirawat di rumah
sakit. Penting untuk diingat bahwa pada 10-15% kasus yang pada awalnya bermanifestasi
sebagai perdarahan saluran cerna bagian bawah ternyata memiliki sumber perdarahan di
saluran cerna bagian atas.1 Petunjuk kemungkinan terjadinya perdarahan saluran cerna
bagian atas yang diawali dengan hematochezia adalah ketidakstabilan hemodinamik
( hipotensi, takikardi,perubahan posisi mengakibatkan perubahan pada tekanan darah)2,
melena, dan riwayat perdarahan saluran cerna bagian atas.1 Pemasangan NGT membantu
menegakkan diagnosa perdarahan saluran cerna bagian atas pada pasien dengan
perdarahan saluran cerna bagian bawah yang berat.1
b. Outlet-type bleeding
Yang dimaksud outlet-type bleeding adalah terlihat darah selama atau sesudah defekasi
pada kertas toilet atau handuk, tapi tanpa gejala ataupun faktor resiko khusus untuk ca
colorectal.1 Pasien outlet-type bleeding yang berusia muda, lebih dianjurkan
menggunakan fleksibel sigmoidoskopi dibandingkan kolonoskopi.
c. Perdarahan kronik-intermitten
Manifestasi klinis pada pasien ini adalah tes Guaiac positif, atau anemia atau keduanya.
Biasanya terjadi pada pasien-pasien rawat jalan yang tidak menyadari terjadinya
perdarahan saluran cerna bagian bawah namun mengalami anemia kronis. Walaupun
begitu jika anemi yang timbul sudah berat dan terdapat gejala-gejala kardiopulmoner
maka pasien tersebut harus dirawat inap untuk monitoring,evaluasi dan tata laksana lebih
lanjut. Pada pasien-pasien ini harus dievaluasi dengan kolonoskopi. Berdasarkan studi,
sekitar 25-41% dari pasien ini ditemukan kelainan pada endoskopi saluran cerna bagian
atasnya. Jadi, bila dengan kolonoskopi tidak ditemukan sumber perdarahan maka sebaik
nya dilakukan endoskopi. 1

II.4 Etiologi
Penyebab perdarahan saluran cerna bagian bawah :
a. Perdarahan divertikel kolon

Divertikel adalah kantong yang terjadi karena penonjolan kearah luar usus melalui
lapisan otot . Proses terbentuknya divertikel berhubungan dengan kebiasaan makan
pasien. Pasien dengan divertikel mempunyai kebiasaan makan makanan yang tidak atau
kurang berserat, akibatnya tinja yang terbentuk keras dan volumenya kecil, sehingga
kolon harus berkontraksi lebih keras untuk menggiring tinja keluar, maka sering timbul
tekanan tinggi dalam kolon biasanya di bagian bawah. Tekanan yang besar ini dapat
menekan celah lemah pada dinding usus. Paling sering divertikel ditemukan di bagian
sigmoid . Kelainan ini lebih sering ditemukan usia lebih dari 50 tahun. Pasien dengan
divertikel yang cukup banyak disebut divertikulosis. Bila divertikel ini meradang disebut
divertikulitis. Penonjolan ini besarnya berkisar antara beberapa milimeter sampai dua cm.
Leher divertikel dan pintunya biasanya sempit. Kadang-kadang di dalamnya terbentuk
fecolith.

Keluhan dan tandanya dapat berupa keluhan mulai dari yang ringan seperti mual, nyeri
pada perut kiri bawah, sembelit dan diare oleh karena gangguan pengerasan usus sampai
keluhan berat seperti pecahnya usus, abses dan perdarahan.
Pecahnya usus ditandai dengan perut yang menjadi tegang dan terasa nyeri. Abses
ditandai dengan adanya massa di perut kiri bawah yang sangat nyeri disertai keluhan
sembelit, demam dan keadaan umum penderita buruk. Perdarahan baru nyata setelah
keluar perdarahan saat penderita BAB, dan mungkin terjadi anemia. Pada penderita usia
lanjut, dapat terjadi perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan syok dan tidak jarang
memerlukan transfusi darah.

b. Angiodisplasia
Angiodisplasia (vascularectasis) diklasifikasikan sebagai penyebab perdarahan saluran
cerna bagian bawah secara bertahap atau kronis. Lima puluh empat persen dari
angiodisplasia kronis menyebabkan perdarahan di dalam usus. Angiodisplasia adalah lesi
degeneratif yang berkaitan dengan penuaan. Dua pertiga pasien dengan angiodisplasia
berusia di atas 70 tahun. Patogenesis angiodisplasia tidak diketahui,mungkin disebabkan
oleh parsial, obstruksi intermiten,mulai dari vena-vena submukosa sampai terjadinya
dilatasi, sehingga hubungan arteriovenosa didirikan. Angiodisplasia didiagnosis dengan
menggunakan kolonoskopi dan angiography. 5

c. Arteriovenous Malformation1
AVM dilaporkan sebagai sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah pada 3-40%
pasien. AVMs biasanya kelainan kongenital dan ditemukan di usus pada 1-2% dari
spesimen autopsi. AVMs adalah suatu kelainan pada mukosa dan submukosa
pembuluh darah memiliki komunikasi langsung antara arteri dan vena tanpa campur
tangan kapiler. Lebih dari setengahnya berlokasi di kolon kanan, dan 47% persen
pasien mengalami hematochezia yang tanpa nyeri serupa dengan perdarahan yang
disebabkan oleh penyakit divertikular, dapat pula muncul berupa perdarahan yang
kronik dan intermitten. Faktor resikonya adalah orang tua, berusia lebih dari 60 tahun,
lokasi di sisi kanan kolon , dan pada pasien yang memiliki penyakit gagal ginjal
kronis dan stenosis aorta. Pemeriksaan terbaik untuk AVMs adalah angiography.

d. Kolitis
Kolitis merupakan istilah yang menunjukkan adanya proses peradangan atau inflamasi
pada kolon. Kolitis sering diawali dengan infeksi, toksin, produk bakteri, yang terjadi
pada individu yang rentan . Pelepasan bahan toksin menimbulkan reaksi inflamasi yang
menyebabkan perubahan mukosa dan dinding. Kolitis dibagi 2, yaitu kolitis ulseratif non
spesifik dan kolitis Crohn. Kolitis ulseratif berlangsung lama dan disertai masa remisi
dan eksaserbasi yang berganti-ganti. Tanda dan gejala klinis yang penting adalah nyeri
abdomen, diare dan perdarahan rektum.6 Diagnosis banding antara lain : kolitis infeksi,
IBS, divertikulitis, enteritis radiasi, dan kanker kolon. Walaupun tidak ada tes darah yang
spesifik untuk kolitis iskemik, namun biasanya terdapat kenaikan leukosit, amilase,
kreatin fosfokinase dan serum laktat. Foto rontgen polos biasanya tidak ditemukan
sesuatu yang khas, meskipun tanda edema submukosa dan pneumatosis dapat dilihat
biasanya pada pasien dengan penyakit lanjut.Diagnosa dengan CT scan mungkin
memperlihatkan penebalan segmental kolon yang terkena. Evaluasi endoskopi dengan
sigmoidoskopi atau kolonoskopi dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa pada
pasien yang tidak jelas diagnosanya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda peritonitis
atau perforasi.5

e. Penyakit perianal
Contohnya adalah hemoroid dan fissura ani, biasanya menimbulkan perdarahan dengan
warna merah segar tetapi tidak bercampur dengan feces. Polip dan karsinoma kadang
menimbulkan perdarahan yang mirip dengan yang disebabkan oleh hemoroid, oleh
karena itu pada perdarahan yang diduga dari hemoroid perlu dilakukan pemeriksaan
untuk menyingkirkan kemungkinan polip dan karsinoma kolon. Pemeriksaan dilakukan
menggunakan anoskopi dan kolonoskopi. Kelainan perianal diterapi dengan obat
(suppositoria, pelumas, hydroxitison) tetapi sering kambuh sehingga skleroterapi /
koagulasi, ligasi, atau intervensi bedah dapat dipertimbangkan.5

f. Neoplasia kolon
Baik tumor ganas dan jinak di usus bisa mirip divertikulosis, dan kebanyakan terjadi pada
usia tua.Neoplasma jarang menyebabkan perdarahan masif. Perdarahan bisa berupa
sebentar-sebentar, atau kebanyakan kasus adalah perdarahan tersembunyi ( occult blood).
Dulu, diagnosis dibuat menggunakan barium enema, namun kini dengan menggunakan
kolonoskopi dan biopsi diagnosa dapat langsung dilakukan. Pengelolaan tumor saluran
cerna bagian bawah adalah dengan eksisi, baik dibantu oleh endoskopi atau melalui
operasi.5
g. Divertikulum Meckel7
Divertikulum Meckel adalah suatu kelainan bawaan, yang
merupakan suatu kantung (divertikula) yang menonjol dari dinding
usus halus. Divertikula bisa mengandung jaringan lambung
maupun jaringan pankreas. Divertikulum meckel adalah suatu sisa
dari struktur perkembangan yang tidak diserap seluruhnya pada
masa perkembangan janin. Penyebab yang pasti dari tidak
diserapnya sisa struktur tersebut tidak diketahui. Sekitar 2% dari
jumlah penduduk memiliki divertikulum meckel, tetapi hanya
sebagian kecil yang menunjukkan gejala.
Divertikulum meckel biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kantungnya dapat
melepaskan asam dan menyebabkan ulkus, sehingga terjadi perdarahan melalui rektum
yang tidak disertai nyeri. Tinja biasanya berwarna keunguan atau kehitaman. Pada remaja
dan orang dewasa, divertikulum lebih cenderung menyebabkan penyumbatan usus,
sehingga timbul nyeri kram dan muntah. Bisa terjadi peradangan mendadak pada
divertikulum yang disebut divertikulitis akut. peradangan ini menyebabkan nyeri perut
yang hebat, seringkali disertai muntah.Jika tidak menimbulkan gejala, maka tidak perlu
dilakukan pengobatan khusus. Jika terjadi perdarahan, maka dilakukan pengangkatan
divertikulum disertai pengangkatan jaringan usus di sekitarnya yang telah mengalami
kerusakan.Jika tidak ditemukan kerusakan pada jaringan usus di sekitarnya, maka yang
dibuang hanya divertikulumnya. Untuk memperbaiki anemia, mungkin perlu diberikan
zat besi tambahan. Jika terjadi perdarahan yang hebat, mungkin perlu dilakukan transfusi
darah.

II.4 Manifestasi Klinis


Perdarahan akut :
a.Sinkop : takikardia, kepala pusing,melayang
b.Syok : - tekanan darah turun (sistolik< 90 mmHg atau turun > 30 mmHg dari semula)
- takikardi, nadi cepat (> 100x/mnt) denyut kecil, lemah atau tidak teraba.
c. muka (kulit, mukosa) pucat
d. akral dingin
e.berkurangnya pembentukan air kemih.
f. berkurangnya aliran darah ke otak (bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan
syok)

Perdarahan Kronik:
Akibat kehilangan darah kronik:
a. anemia def.Fe
b. palpitasi
c. lemas
d. sesak napas
e. anoreksia
f. insomnia.

II.5 Diagnosa
Tentukan penyebab atau lokasi perdarahan, dilakukan setelah status hemodinamik stabil (
pada perdarahan akut )1
a. Anamnesis : tanyakan volume perdarahan, berapa kali mengalami perdarahan ,
juga penting ditanyakan kepada pasien mengenai riwayat penyakit terdahulu,
apakah pasien menderita tukak peptik,penyakit hati kronik, kelainan saluran cerna
bawah (hemorroid,kolitis, ca). Penting pula mengetahui riwayat penyakit
sekarang , beberapa petunjuk misalnya jika pasien mengaku:1
1) Feses terbungkus darah, biasanya menandakan perdarahan akibat hemoroid.
2) Darah bercampur dengan feses, menandakan sumber perdarahan yang lebih
proksimal.
3) Diare berdarah, terdapat tenesmus ani, biasanya merupakan gejala Irritable Bowel
Disease (IBD).
4) Diare berdarah, demam dan nyeri abdomen ,biasanya adalah pasien dengan kolitis
5) Jika terdapat nyeri saat defekasi biasanya adalah hemoroid atau fissura anal.
6) Jika feses berubah ukurannya menjadi bentuk panjang seperti pensil disertai
penurunan berat badan biasanya adalah pasien kanker kolon.
7) Perdarahan yang terjadi tanpa disertai nyeri biasanya terjadi pada pasien penyakit
divertikular , AVM, atau proctitis
Tanyakan pula apakah terdapat sesak, nyeri dada, lightheadedness, dan kelemahan.1

b. Pemeriksaan fisik
1) cek tanda vital :
a.Kesadaran
b.Tekanan darah : hipotensi orthostatik timbul pada kehilangan 15% volume darah.1 Bila
penderita syok tek. sistolik < 90 mmHg dan nadi > 100x/mnt,berkeringat dingin, muka
pucat, akral dingin maka kehilangan darah sekitar 40%.
c. Nadi
d.Pernafasan
e. Suhu
2) Mata : ada tidaknya anemis
3) Turgor kulit menurun
4) Ekstremitas : akral dingin, ujung-ujung jari sianotik
5)Auskultasi Jantung : irama cepat atau lambat
6)Abdomen : teraba massa atau tidak, ukuran hepar, splenomegali.1
auskultasi : peristaltik usus menurun atau tidak
7) Colok dubur : darah (+/-), palpasi massa (+/-), identifikasi feses, dan lakukan tes
Guaiac.1

c. Pemeriksaan laboratorium :1
1) darah : cito dan pemeriksaan darah lengkap . Selanjutnya perlu dicek Hb dan Ht tiap 6
jam
2) Elektrolit
3) BUN / serum creatinin
4) Liver Function Test
5) Faktor pembekuan : Prothrombin Time (PT)
: activated Partial Thrombin Time (aPTT)
II.6 Pemeriksaan Penunjang
a. Kolonoskopi
Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh mukosa kolon dan
rectum. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya dapat mencapai 160 cm. Kolonoskopi
merupakan cara yang paling akurat untuk dapat menunjukkan polip dengan ukuran
kurang dari 1 cm dan keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi lebih baik daripada
barium enema yang keakuratannya hanya sebesar 67%. Sebuah kolonoskopi juga dapat
digunakan untuk biopsi, polipektomi, mengontrol perdarahan dan dilatasi dari striktur. 1.
Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana komplikasi utama
(perdarahan, komplikasi anestesi dan perforasi) hanya muncul kurang dari 1,3% pada
pasien.1 Komplikasi lebih sering terjadi pada kolonoskopi terapi daripada diagnostik
kolonoskopi, perdarahan merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi terapeutik,
sedangkan perforasi merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi diagnostic
Merupakan pemeriksaan terbaik untuk perdarahan saluran cerna bagian bawah, bisa
untuk diagnostik maupun terapeutik. Akurasi untuk diagnosa dengan kolonoskopi adalah
48% -90%.1 Terlihatnya darah segar pada ileum terminalis mengindikasikan sumber
perdarahan bukan berasal dari kolon.1

b. Urgent Colonoscopy
Adalah tindakan kolonoskopi yang dilakukan dalam 24 jam setelah episode perdarahan.
Pada pasien ini dilakukan persiapan awal yang minim dengan air atau gliserin enema.
Baru-baru ini digunakan polietilen glikol . Penyakit yang paling sering ditemukan oleh
kolonoskopi mendesak adalah kolitis iskemik transien .Urgent colonoscopy dianggap
aman dan berguna untuk pemeriksaan pada perdarahan saluran cerna bagian bawah akut
dan hemostasis.9

c. Flexible Sigmiodoskopi
Flexible sigmoidoscopi dapat menjangkau 65 cm kedalam lumen kolon dan dapat
mencapai bagian proksimal dari kolon kiri.1 Dapat digunakan tanpa sedatif dan dengan
persiapan enema yang minimal. Lima puluh persen dari kanker kolon dapat terdeteksi
dengan menggunakan alat ini. Flexible sigmoidoscopi tidak dianjurkan digunakan untuk
indikasi terapeutik polipektomi, kauterisasi dan semacamnya; kecuali pada keadaan
khusus, seperti pada ileorektal anastomosis. Flexible sigmoidoscopi setiap 5 tahun
dimulai pada umur 50 tahun merupakan metode yang direkomendasikan untuk screening
seseorang yang asimptomatik yang berada pada tingkatan risiko menengah untuk
menderita kanker kolon. Sebuah polip adenomatous yang ditemukan pada flexible
sigmoidoscopi merupakan indikasi untuk dilakukannya kolonoskopi, karena meskipun
kecil (<10 mm), adenoma yang berada di distal kolon biasanya berhubungan dengan
neoplasma yang letaknya proksimal pada 6-10% pasien.

d. Anoskopi
Anoskopi berguna hanya untuk diagnosa perdarahan yang sumbernya adalah di daerah
anorectal dan anal canal, termasuk di dalamnya adalah hemoroid interna dan fissura anal.
Lebih diutamakan daripada fleksibel sigmoidoskopi untuk mendeteksi hemoroid pada
pasien rawat jalan .1

e. Barium Enema: adalah suatu teknik radiografi dengan menggunakan media kontras
barium sulfat kemudian difoto dengan sinar X sehingga akan tampak gambaran usus
dan bisa melihat apabila ada kebocoram obstruksi akibat polip atau massa. Pada pasien
muda dengan hematochezia minimal yang dengan fleksibel sigmoidoskopi memberikan
hasil negatif, barium enema merupakan alternatif dibandingkan kolonoskopi.1

h.Angiography: merupakan satu cara visualisasi untuk mendiagnosa kelainan pada


pembuluh darah seluruh tubuh dengan menggunakan sinar X. Perdarahan yang bisa
dideteksi oleh angiography adalah perdarahan yang masif yaitu sekitar 0,5-1,5 ml/min.1

II.7 Komplikasi
a. Shock Hipovolemi Gagal Ginjal Akut
b. Efek samping transfusi darah : reaksi hemolitik, infeksi.

BAB III
PENATALAKSANAAN HEMATOSCHEZIA
Tujuan :8 - stabilisasi hemodinamik
- stop perdarahan aktif
- cegah perdarahan ulang.

1. Resusitasi penderita : ( A B C )
a. Pasang infus : - Nadi > 100x/ mnt infus koloid atau NaCl 0.9%
untuk mengetahui jml kehilangan darah, penderita tidur terlentang ukur nadi / tek.
darah lalu penderita didudukkan dan bila nadi naik > 10x/ mnt & tek. Darah sistolis
turun > 10 mmHg maka kehilangan darah adalah sekitar 20%.8
b. Pernafasan : O2 2-4 ltr/menit

2. Ambil contoh darah (cross matched blood untuk transfusi)

3.Periksa hemoglobin,hematokrit,trombosit,leukosit (Hb kurang sesuai dengan jumlah


perdarahan pada tahap akut oleh krn belum terjadi hemodilusi, perlu waktu minimal 8
jam)
Pemberian transfusi segera pada :8
- penderita syok
- perdarahan terus-menerus
- gejala-gejala angina pectoris
- hematokrit < 20%
- Pasien resiko tinggi : orang tua, CHD, Sirosis hepatis diberikan transfusi PRC sampai
Hematokrit > 30 %
- Koagulopati dan trombositopenia harus dikoreksi segera. Trombosit harus
dipertahankan diatas 50.000/ml dan kagulopati harus dikoreksi dengan vitamin K atau
dengan fresh frozen plasma. Vitamin K harus diberikan oral kecuali pada pasien sirosis
atau obstruksi bilier, yang mana pada pasien ini diberikan secara subkutan. Status
hemodinamik merupakan indikator yang lebih baik untuk pemberian darah daripada Hb.
Transfusi diberikan sampai hemodinamik stabil atau Hematokrit 25 30%
4.Medikamentosa :
Paerdarahan akut : Transamin 3x1 kaps
: Vit K 3x1 tab

Beberapa perdarahan dapat diobati secara medikamentosa: 3


Hemoroid, fissura ani, dan ulkus rekti diobati dengan bulk-forming agent, sitz baths dan
menghindari mengedan. Kombinasi estrogen-progesteron dapat mengurangi perdarahan
pada pasien angiodisplasia , dan IBD biasanya memberi respon terhadap obat-obatan anti
inflamasi.

5. Observasi dan monitoring terus tanda-tanda vital: observasi tanda-tanda hemodinamik


yaitu tekanan darah, nadi, pernapasan, temperatur. Biasanya tekanan darah (sistolik) 110
mmHg, pernafasan cepat, nadi 110 x/menit, suhu antara 38 39 derajat Celcius, kulit
dingin pucat atau cyanosis pada bibir, ujung-ujung ekstremitas, sirkulasi darah ke ginjal
berkurang, menyebabkan urine berkurang.
Pasien
Pasiendengan
dengan
perdarahan
perdarahanSCBB
SCBBakut
akut

Perdarahan ringan-sedang Evaluasi


Evaluasidan
dan perdarahan berat
resusitasi
resusitasi

Upper
Upperendoscopy
endoscopy
Pertimbangkan
Pertimbangkan Tangani
Tanganisebagai
sebagaiperdrahan
perdrahan
perdarahan
perdarahanSCBA
SCBA SCBA
SCBA
Pasang
PasangNGT
NGT
+/-
+/-upper
upperendoscopy
endoscopy

Kolonoskopi
Kolonoskopi

Sumber
Sumber Hasil
Hasilpemeriksaan
pemeriksaan(-)
(-)
teridentifi
teridentifi
kasi
kasi
Perdarahan Tidak
Perdarahanberhenti
berhenti Arteriography
Arteriography
Terapi
Terapi
sesuai Ya
sesuai
kebutuhan
kebutuhan Endoskopi
Endoskopikapsul
kapsul

Intensitas Infus IV /
Gambaran klinis Tujuan akhir
Perdarahan transfusi
Perdarahan Denyut nadi dan Hb - Mempertahankan
Ringan normal akses intravena
sampai diagnosis
jelas
- memasatikan
tersedia darah
Perdarahan Denyut nadi - menggan Mempertahankan Hb> 9 g/dl
Sedang istirahat > 100x/mnt tikan cairan
dan`/ atau Hb < - meminta 4
10g/dl unit preparat
PRC
Perdarahan Kolaps dan atau - gantikan - mempertahankan vol
Hebat syok cairan urin > 0,5
- tek. Sistolik dengan cepat ml/kgBB/jam
< 100 - pastikan - mempertahankan tek
mmHg tersedia sistolik >100 mmHg
- denyut nadi darah - mempertahankan Hb
>100x/mnt - lakukan > 9 g/dl
transfusi
menurut
pengkajian
klinis dan
kadar HB/Ht

6. Terapi Bedah
Pada beberapa diagnostik , seperti divertikulum Meckel atau keganasan , bedah
merupakan pendekatan utama setelah keadaan pasien stabil.
Tanda-tanda vital tanda kehilangan cairan/
hemodinamik tidak stabil perdarahan berkurang
Resusitasi
Tes darah
Golongan darah dan
crossmatch

Infus NaCl
PRC dan Perdarahan aktif berkurang Endoskopi
factor lain jika elektif
Perdarahan aktif,dicurigai di
dibutuhkan SCBB

Kemungkinan perda- Kolonoskopi lokasi perdarahan


Rahan di SCBA segera atau tak teridentifikasi
scintigrafi
eritrosit +
angiografi -Endoskopi
Endoskopi
SCBA
SCBA Normal -OMD
segera
follow
through
Lokasi perdarahan
Ditemukan
-Enteroskopi

Kauterisasi Perdarahan berulang


elektrik , injeksi
Suplemen
zat sklerotik, zat besi perdarahan cukup
angiografi banyak ,perlu
embolisasi transfusi darah

Pertimbangan:
Angiografi
BEDAH Enteroskopi
operasi
Kolektomi
pasial

IV.KESIMPULAN
Hematoschezia adalah perdarahan saluran cerna bagian bawah yang berwarna merah
segar atau merah marun, dan pendarahan ini terletak di bawah ligamentum Treitz ke
anus. Kemungkinan penyebab hematoschezia adalah divertikulosis,
angiodisplasia, neoplasma, kelainan perianal,divertikulum Meckeli, infeksi dan non-
infeksi kolitis, intususepsi. Dalam kebanyakan kasus pendarahan adalah sepele dan
sebentar-sebentar, kecuali untuk divertikulosis, yang menyebabkan
pendarahan yang cukup hebat. Diagnosis dan terapi hematoschezia bisa
sebagian besar dilakukan melalui endoskopi, hanya sebagian kecil
bagian memerlukan intervensi bedah untuk diagnosis. Untuk kasus hematochezia yang
akut, diperlukan penatalaksanaan yang tepat karena perdarahan yang masif beresiko
kematian, diperlukan pantauan terus terhadap tanda-tanda vital pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Greenberger,Norton.Blumberg,Richard.Burakoff,Robert: Current Diagnosis and
Treatment Gastroenterology,Hepatology,&Endoscopy. McGraw-Hill,Lange.2009 :
343-351.

2. Kasper,Dennis.Braunwald,Eugene.Hauser,Stephen, et al.Harrisons Principles of


Internal Medicine, 16th edition.McGraw Hill: 235-238.

3. Sudoyo,Aru.Setiyohadi,Bambang.Idrus,Alwi.et al.Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam Edisi 4.Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta 2006 : 289-
297.

4. Syamsi,Rusi Muhaimin.WHO: Penggunaan Klinis Darah.EGC,Jakarta 2004:161.

5. Wandono,Hadi. Acta Med Indonesia Vol 39 .October - December 2007

6. Malueka,Rusdi Ghazali: Radiologi Diagnostik.Pustaka Cendekia


Press,Yogyakarta:2006.

7. http:// www.kalbe.co.id diakses tanggal 08/11/09

8. http://www.akademik.unsri.ac.id diakses tanggal 08/11/09

9. http://content.karger.com/ProdukteDB/produkte.asp diakses tanggal 09/11/09

Common questions

Didukung oleh AI

Angiodysplasia is thought to result from chronic, intermittent obstruction of submucosal veins leading to vessel dilation and the formation of arteriovenous connections. It typically affects the elderly, particularly those over 70 years old. The condition is challenging to diagnose due to its often intermittent and subtle bleeding patterns, requiring diagnostic tools like colonoscopy and sometimes angiography for confirmation .

Diverticulosis is characterized by the presence of diverticula without inflammation, often asymptomatic but can lead to diverticular bleeding. In contrast, diverticulitis involves inflammation of the diverticula, causing symptoms such as lower abdominal pain, fever, and changes in bowel habits. Complications of diverticulitis may include abscess formation, perforation, peritonitis, and bowel obstructions .

The primary causes of lower gastrointestinal bleeding include diverticulosis, arteriovenous malformation (AVM), and ischemic colitis. These conditions are more prevalent in older adults, typically affecting those between the ages of 63 and 77 years. The majority of lower gastrointestinal bleeding cases stop spontaneously without severe complications .

Diverticular disease prevalence increases with age, particularly in those over 50, due to age-related changes in the colonic wall. A diet low in fiber results in increased intracolonic pressure as the colon exerts more effort to move smaller, harder stools, leading to the formation of diverticula .

Ischemic colitis typically presents with abdominal pain, bloody diarrhea, and a history of cardiovascular risk factors. Common diagnostic indicators include increased leukocyte count, elevated serum lactate, and imaging findings such as colonic wall thickening. Endoscopy may reveal segmental ulceration or edematous mucosa if ischemia is present .

Prompt endoscopic evaluation is critical in acute lower gastrointestinal bleeding to identify the bleeding source, provide therapeutic interventions, and minimize complications such as hemodynamic instability or transfusion requirements. Delayed evaluation may lead to increased morbidity, prolonged hospital stays, and higher mortality rates due to uncontrolled bleeding .

Pharmacological management may include the use of transamin (antifibrinolytic), vitamin K for coagulation disorders, and bulk-forming agents for anorectal bleeding. These methods are supportive and can help manage ongoing bleeding but are often adjunctive to endoscopic or surgical interventions. Effectiveness varies depending on the underlying cause and the severity of bleeding .

Surgical intervention is indicated in cases of massive lower gastrointestinal bleeding when endoscopic or angiographic therapies fail to control the bleeding or when the patient's hemodynamic status cannot be stabilized. Surgical options may include segmental resection of the affected bowel section after identifying the bleeding site .

Angiography is the preferred diagnostic method for detecting arteriovenous malformations (AVMs) in the gastrointestinal tract due to its ability to visualize vascular anomalies. Colonoscopy can also be used, although angiography is more definitive for identifying AVMs .

In young patients presenting with outlet-type bleeding, flexible sigmoidoscopy is often favored over full colonoscopy because it is less invasive, quicker, and typically sufficient to identify potential sources of bleeding within its reach, which is often the distal colon and rectum .

Anda mungkin juga menyukai