Anda di halaman 1dari 2

AKUNTANSI PENGAKUAN PENDAPATAN PADA REAL ESTATE

23 May 2016
Category: MANAGEMENT SYSTEM
Penulis: Natassia Irene, S.E.

Dunia Properti atau Real Estate Indonesia sedang berkembang dengan pesat seiring dengan
kebutuhan terhadap perumahan rakyat yang semakin besar dan pertumbuhan ekonomi yang
semakin baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan berdampak pada peningkatan kebutuhan
akan gedung perkantoran dan fasilitasnya. Berbagai jenis perumahan sedang dan akan dibangun,
termasuk jenis apartemen, kondomonium, rumah susun, resort dan sebagainya. Penentuan siklus
operasi normal perusahaan yang bergerak di bidang Real Estate pada umumnya lebih dari satu
tahun dan dipengaruhi oleh faktor ketidakpastian yang sangat tinggi (high risk).

Pertumbuhan pesat dalam industri penjualan tanah secara eceran dan rumitnya kegiatan
pengembangan yang dilakukan oleh industri tersebut menimbulkan masalah-masalah akuntansi
yang rumit. Dari sisi akuntansi, Properti atau Real Estate sangat menarik untuk dicermati karena
dalam transaksi-transaksi yang secara khusus berkaitan dengan aktivitas pengembangan real estate
(real estate development activities) dan transaksi nyata yang menyangkut operasi real estate
(kawasan bangunan) menimbulkan prinsip-prinsip pengakuan pendapatan dan metode penetapan
laba yang harus diterapkan dari penjualan tanah secara eceran (retail) tersebut.

Pada saat Perusahaan Real Estate melakukan perhitungan dalam pengakuan pendapatannya, perlu
adanya prinsip atau metode yang akan digunakan oleh perusahaan tersebut atas penjualan yang
dilakukan secara eceran (retail) agar dapat menentukan harga jual dari bangunan rumah, ruko dan
bangunan sejenis lainnya.

Akuntansi pada real estate pada dasamya terdiri dari dua proses yaitu pencatatan penjualan dan
pengakuan pendapatan. Metode pengakuan pendapatan yang digunakan pada PSAK No.44 adalah
full accrual method, deposit method dan lease method. Full accrual method digunakan jika kiteria-
kiteria tertentu terpenuhi dan jika kriteria-kriteria tertentu tidak terpenuhi maka digunakan deposit
method, dan lease method digunakan jika penjual memiliki opsi atau kewajiban untuk membeli
kembali unit yang telah terjual.

Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing metode pengakuan pendapatan:


1.Full Accrual Method

Berdasarkan PSAK No.44 penjualan bangunan rumah, ruko, dan bangunan sejenis lainnya beserta
kapling tanahnya diakui dengan metode akrual penuh apabila kriteria berikut terpenuhi:

Proses penjualan telah selesai;


Harga jual akan tertagih;
Tagihan penjual tidak bersifat subordinasi di masa yang akan datang terhadap pinjaman lain yang
akan diperoleh pembeli;
Penjual telah mengalihkan resiko dan manfaat kepemilikan unit bangunan kepada pembeli melalui
suatu transaksi yang secara substansial adalah penjualan dan penjual tidak lagi berkewajiban atau
terlibat secara signifikan dengan unit bangunan tersebut;
Metode Prosentase Penyelesaian.
Menurut Nicolas Comarano (1995) metode prosentase penyelesaian dapat digunakan jika penjual
masih terlibat dalam proses penyelesaian unit bangunan yang telah teijual apabila biaya-biaya
pengembangan yang akan datang dan laba dapat diestimasi. Jika total biaya dan laba tidak dapat
diestimasai maka laba harus ditangguhkan sampai kontrak selesai atau sampai total biaya dan laba
dapat diestimasi. Metode prosentase penyelesaian menyediakan petunjuk yang lebih baik tentang
arus kas dan menyediakan data yang lebih relevant dan lebih bermanfaat (Chasteen & Flathery,
1984). Selanjutnya Kieso & Wygant (1998) mengemukakan bahwa profesi mensyaratkan bahwa
metode presentasc penyelesaian harus digunakan bila taksiran kemajuan penyelesaian, pendapatan
dan biaya-biaya layak untuk dipercaya layak untuk dipercaya, serta adanya syarat-syarat berikut:

- Kontrak itu secara jelas merinci hak untuk dapat dilaksanakan berkenan dengan barang-barang,
pertimbangan untuk pertukaran serta bentuk dan jenis penyelesaiannya.

- Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi kewajiba