Anda di halaman 1dari 36

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan

Hal yang paling mendasar dari perencanaan struktur gempa adalah adanya
komponen struktur yang diperbolehkan untuk mengalami kelelahan. Komponen yang
mengalami leleh tersebut adalah komponen yang menyerap energi selama terjadinya
gempa. Agar memenuhi konsep perencanaan bangunan tahan gempa terebut maka pada
struktur rangka bresing konsentris yang terlebih dahulu diperbolehkan leleh adalah
bracing dan balok.
Dalam bab ini akan dibahas mengenai perancangan stabilitas struktur rangka
bresing konsentris dengan metode Effective Length Method (ELM) dan Direct Analysis
Method (DAM).

2.2 Penelitian Terdahulu

Valentino (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Perbandingan Rangka


Bresing Konsentrik Dengan Variasi Lokasi Bresing memaparkan mengenai penempatan
bresing konsentrik akan memberikan kinerja atau hasil yang baik jika lokasi bresing
dibuat tersebar dan tidak terpusat.
Arfiandi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Penetapan SNI
Gempa 2012 Pada Desain Struktur Rangka Momen Beton Bertulang Di Beberapa Kota
Di Indonesia memaparkan mengenai studi komparasi antara peraturan gempa lama tahun
2002 dengan 2012 di 22 kota di Indonesia. Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan
bahwa kota Semarang dan Palu mengalami peningkatan percepatan respon spectral baik
pada periode pendek maupun pada periode 1 detik.

2.3 Stabilitas Struktur

Stabilitas struktur harus ditinjau secara menyeluruh, baik tingkat struktur


(global), maupun tingkat elemen-elemen penyusun (lokal). Oleh sebab itu dalam analisis
stabilitas struktur perlu memperhitungkan hal-hal yang mempengaruhinya, seperti :

II - 1
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Deformasi elemen akibat gaya-gaya internal yang bekerja, juga deformasi


lain yang mempengaruhi perilaku struktur,
b. Pengaruh orde-2 atau non-linier geometri, baik P- (global struktur)
maupun P- (lokal elemen),
c. Adanya ketidaklurusan batang atau cacat bawaan akibat ketidak-
sempurnaan geometri (geometry imperfection),
d. Reduksi kekuatan akibat inelastisitas,
e. Ketidak-pastian kekuatan dan kekakuan pada perencanaan.
Jika diperhatikan, faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas struktur adalah
gaya-gaya internal dan deformasi yang terjadi pada batang. Oleh sebab itu perancang
perlu melakukan analisis-analisis untuk memprediksi gaya-gaya internal dan deformasi
yang mungkin terjadi.

2.4 Sistem Struktur Rangka Bresing Konsentris

Struktur rangka bresing konsentris (SRBK) merupakan sistim struktur untuk


menahan beban lateral dengan kekakuan struktur yang tinggi. Kekakuan yang tinggi pada
struktur ini dihasilkan oleh elemen bresing yang berfungsi untuk menahan beban lateral
pada struktur. Pada sistim struktur ini, elemen bresing diharapkan mampu berdeformasi
inelastic yang besar tanpa terjadinya kehilangan kekuatan dan kekakuan struktur yang
signifikan.

Gambar 2.4.1 Jenis Sistem Rangka Bresing Konsentris

II - 2
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Elemen bresing pada system SRBK berfungsi untuk menambah kekakuan


struktur karena adanya bresing pada struktur, deformasi struktur akan menjadi lebih kecil
sehingga kekakuan strukturnya meningkat. Pada system struktur SRBK, kategori struktur
dibagi menjadi dua, yaitu system rangka bresing konsetrik biasa (SRBKB) dan system
rangka bresing konsentrik khusus (SRBKK). Pada system SRBKB diharapkan system ini
dapat mengalami deformasi inelastic secara terbatas apabila dibebani gaya-gaya yang
berasal dari gempa rencana. Berbeda dengan SRBKB, pada system SRBKK diharapkan
struktur dapat berdeformasi inelastic cukup besar akibat gaya gempa rencana.
Secara umum system SRBK memiliki kekakuan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan struktur rangka yang lain karena adanya elemen bresing pada struktur. Namun
demikian, kekakuan yang besar pada SRBK mengakibatkan deformasi yang terjadi pada
struktur lebih terbatas sehingga daktilitas SRBK lebih rendah jika dibandingkan dengan
system struktur rangka pemikul momen.

2.5 Ketentuan Pembebanan

Perencanaan pembebanan ini digunakan beberapa acuan standar sebagai berikut


:
a. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SKBI
1987)
b. Beban Minimum Untuk Perancagan Bangunan Gedung dan Struktur Lain
(SNI 1727 : 2013)
c. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI
1726 : 2012)

2.6 Ketentuan Desain

Perhitungan desain stabilitas mengacu pada code desain :


a. Spesifikasi Untuk Bangunan Gedung Baja Struktural (SNI 1729 : 2015)
b. Effective Length Method (AISC 2005)
c. Direct Analysis Method (AISC 2010)

2.7 Pembebanan

Berdasarkan peraturan-peraturan diatas, struktur sebuah gedung harus


direncanakan kekuatan dan stabilitasnya terhadap beban-beban berikut :

II - 3
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Beban Mati (Dead Load),


b. Beban Hidup (Live Load),
c. Beban Gempa (Earthquake Load),

2.8 Deskripsi Beban

Beban-beban yang bekerja pada struktur bangunan diuraikan sebagai berikut :

2.8.1 Beban Mati (Dead Load)

Beban mati yang diperhitungkan dalam struktur gedung bertingkat ini


merupakan berat sendiri elemen struktur bangunan yang memiliki fungsi struktural
menahan beban. Beban tersebut harus disesuaikan dengan volum elemen struktur yang
akan digunakan. Karena analisis dilakukan dengan bantuan program SAP 2000, maka
berat sendiri akan dihitung secara langsung. Untuk beban mati tambahan dapat dilihat
pada tabel 2.8.1 berikut ini.
Tabel 2.8.1 Tabel Beban Mati Sesuai PPPURGG 1987

No Jenis Beban Mati Berat Satuan


3
1 Baja 78,5 kN/m
3
2 Beton 22 kN/m
3
3 Pasangan Batu Kali 22 kN/m
3
4 Mortar, Spesi 22 kN/m
3
5 Beton Bertulang 24 kN/m
3
6 Pasir 16 kN/m
2
7 Lapisan Aspal 14 kN/m
3
8 Air 10 kN/m
2
9 Dinding pasangan bata 1/2 batu 2,5 kN/m
2
10 Curtain wall kaca + rangka 0,6 kN/m

II - 4
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2
11 Langit - langit dan penggantung 0,2 kN/m
2
12 Cladding metal sheet + rangka 0,2 kN/m
3
13 Finishing lantai (tegel atau keramik) 22 kN/m
2
14 Marmer, granit per cm tebal 0,24 kN/m
2
15 Instalasi plumbing 0,25 kN/m
2
16 Penutup atap genteng 0,5 kN/m

2.8.2 Beban Hidup (Live Load)

Beban hidup yang diperhitungkan adalah beban hidup selama masa layan.
Beban hidup selama masa konstruksi tidak diperhitungkan karena diperkirakan beban
hidup masa layan lebih besar daripada beban hidup masa konstruksi. Beban hidup yang
direncanakan adalah sebagai berikut:
a. Beban hidup pada lantai gedung
b. Beban hidup yang digunakan mengacu pada standar pedoman
pembebanan yang ada yaitu sebesar 250 kg/m2.
c. Beban hidup pada atap gedung
d. Beban hidup yang digunakan mengacu pada standar pedoman
pembebanan yang ada, yaitu sebesar 100 kg/m2.
Atau bias juga dilihat pada tabel 2 berikut ini :

Tabel 2.8.2 Beban Hidup Minimum Pada Lantai


Merata Terpusat
Hunian atau penggunaan 2
Psf (kN/m ) Lb (kN)
Gedung perkantoran :
Ruang arsip dan komputer harus dirancang untuk beban yang lebih berat
berdasarkan pada perkiraan hunian
Lobi dan koridor lantai pertama 100 (4,79) 2000 (8,90)
Kantor 50 (2,40) 2000 (8,90)
Koridor diatas lantai pertama 80 (3,83) 2000 (8,90)
Atap
Atap datar, berbubung, dan lengkung 20 (0,96)
Atap digunakan untuk taman atap 100 (4,79)
Atap yang digunakan untuk tujuan lain Sama seperti
hunian lainnya
Atap yang digunakan untuk hunian lainnya

II - 5
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Atap yang digunakan untuk hunian lainnya


Awning dan kanopi
Konstruksi pabrik yang didukung oleh struktur rangka kaku ringan 5 (0,24) tidak boleh
direduksi

Rangka tumpu layar penutup 5 (0,24) tidak noleh 200 (0,89)


direduksi dan
berdasarkan luas
tributari dari atap
yang ditumpu oleh
rangka

Semua konstruksi lainnya 2 (0,96) 2000 (1,33)


Komponen struktur atap utama, yang terhubung langsung dengan
pekerjaan lantai
Titik panel tunggal dari batang bawah rangka atap atau setiap titik 300 (1,33)
sepanjang komponen struktur utama yang mendukung atap diatas
pabrik, gudang dan garasi
Semua komponen struktur atau atap utama lainnya
Semua permukaan atap dengan beban pekerjaan pemeliharaan 300 (1,33)

2.8.3 Beban Gempa (Earthquake Load)

Beban gempa adalah beban yang timbul akibat percepatan getaran tanah pada
saat gempa terjadi. Untuk merencanakan struktur bangunan tahan gempa, perlu diketahui
percepatan yang terjadi pada batuan dasar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, terdapat parameter-parameter perencanaan beban gempa yaitu sebagai berikut
:

2.8.3.1 Menentukan Kategori Risiko Struktur Bangunan (IIV) dan faktor


keutamaan (Ie)

Kategori risiko struktur bangunan gedung dan non gedung dapat ditentukan
seperti yang tertera pada tabel berikut :

Tabel 2.8.3 Kategori Resiko Struktur Bangunan

II - 6
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II - 7
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Faktor keutamaan gempa :


Tabel 2.8.4 Faktor Keutamaan Gempa (Ie)

2.8.3.2 Menentukan Parameter percepatan gempa (Ss, S1)

Parameter Ss (percepatan batuan dasar pada perioda pendek) dan S1 (percepatan


batuan dasar pada perioda 1 detik) harus ditetapkan masing-masing dari respons spektral
percepatan 0,2 detik dan 1 detik dalam peta gerak tanah seismik dengan kemungkinan 2
persen terlampaui dalam 50 tahun (MCER, 2 persen dalam 50 tahun), dan dinyatakan
dalam bilangan desimal terhadap percepatan gravitasi.

Gambar 2.8.1 Peta Parameter Ss (percepatan batuan dasar pada periode pendek)

II - 8
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.8.2 Peta Parameter S1 (percepatan batuan dasar pada periode 1 detik)

2.8.3.3 Menentukan kelas situs (SASF)

Dalam perumusankroteria desain seismik suatu bangunan dipermukaan tanah


atau penentuan amplifikasi besaran percepatan gempa puncak dari batuan dasar ke
permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus diklasifikasikan sesuai
dengan tabel 5, berdasarkan profil tanah lapisan 30 m paling atas. Penetapan kelas situs
harus melalui penyelidikan tanah di lapangan dan laboratorium, yang dilakukan oleh yang
berwenang atau ahli desain geoteknik bersertifikat, dengan minimal mengukur secara
independen dua dari tiga parameter tanah yang tercantum dalam tabel 5 dalam hal ini,
kelas situs dengan kondisi yang lebih buruk harus diberlakukan. Apabila tidak tersedia
data tanah yang spesifik pada situs sampai kedalaman 30 m, maka sifat-sifat tanah harus
di estimasi oleh seorang ahli geoteknik yang memiliki sertifikat/ijin keahlian yang
menyiapkan laporan penyelidikan tanah berdasarkan kondisi geotekniknya. Penetapan
kelas situs SA dan kelas situs SB tidak diperkenankan jika terdapat lebih dari 3m lapisan
tanah antara dasar telapak atau rakit fondasi dan permukaan batuan dasar.

II - 9
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.8.5 Kelas Situs

Penetapan kelas situs SC, SD, dan SE harus dilakukan dengan menggunakan
sedikitnya hasil pengukuran dua dari tiga parameter vs, N, dan su yang dihitung sesuai.
Metode vs, kecepatan rambat gelombang geser rata-rata (vs) pada regangan geser
yang kecil, didalam lapisan 30 m teratas. Pengukuran vs di lapangan dapat dilakukan
dengan uji Seismic-Downhole (SDH), uji Spektral Analysis of Surface Wafe (SASW),
atau uji seismik sejenis.
Metode N, tahanan penetrasi standar rata-rata (N) dalam lapisan 30 m paling
atas atau Nch tahanan penetrasi standar rata-rata tanah non kohesif (PI < 20) didalam
lapisan 30 m paling atas.
Metode su, kuat geser niralir rata-rata (su) untuk lapisan tanah kohesif (PI < 20)
didalam lapisan 30 m paling atas.
Bila Nch dan su menghasilkan kriteria yang berbeda, kelas situs harus
diberlakukan sesuai dengan kategori tanah yang lebih lunak.
Profil tanah yang mengandung beberapa lapisan tanah dan atau batuan yang
nyata berbeda, harus dibagi menjadi lapisan-lapisan yang diberi nomor ke-1 sampai ke-n
dari atas ke bawah, sehingga total n- lapisan tanah yang berbeda pada lapisan 30 m paling
atas tersebut. Bila sebagian lapisan dari n adalah kohesif dan yang lainnya non kohesif,
maka k adalah jumlah lapisan kohesif dan m adalah jumlah lapisan non-kohesif, simbol i
mengacu kepada lapisan antara 1 dan n.

II - 10
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Kecepatan rata-rata gelombang geser

Nilai Vs harus ditentukan sesuai rumus :

Dimana :
= tebal lapisan antara kedalaman 0 sampai 30 m
= kecepatan gelombang geser lapisan I (m/detik)

= 30

b. Tahanan penetrasi standar lapangan rata-rata (N), dan tahanan penetrasi


standar rata-rata untuk lapisan non-kohesif (Nch)

Nilai N dan Nch ditentukan dari rumus berikut :

Dimana Ni dan di dalam persamaan diatas berlaku untuk tanah non-kohesif,


tanah kohesif dan lapisan batu.

Dimana dan pada persamaan diatas berlaku untuk lapisan tanah non-
kohesif saja, dan = dimana adalah ketebalan total dari lapisan
tanah non-kohesif di 30 m lapisan paling atas.

adalah tahanan penetrasi standar 60 persen energy ( ) yang terukur


langsung di lapangan tanpa koreksi, dengan nilai tidak lebih dari 305 pukulan/m.

II - 11
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

c. Kuat geser niralir rata-rata ( )

Nilai ditentukan dari rumus berikut :

Dengan,

= ketebalan total dari lapisan-lapisan tanah kohesif didalam lapisan 30m


paling atas
= kuat geser niralir (kPa), dengan nilai tidak lebih dari 250 kPa seperti
yang ditentukan dan sesuai dengan tata cara yang berlaku
PI = indeks plastisitas, berdasarkan tata cara yang berlaku
w = kadar air dalam persen, sesuai tata cara yang berlaku

d. Menentukan koefisien-koefisien situs dan parameter respons spektral


percepatan gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko-tertarget
(MCER)

Untuk menetukan respons spektral percepatan gempa MCER dipermukaan


tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada perioda 0,2 detik dan
perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran terkait
percepatan pada getaran perioda pendek (Fa) dan faktor amplifikasi terkait
percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (Fv). Parameter spektrum
respons percepatan perioda pendek (SMS) dan perioda 1 detik (S M1) yang
didesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs, dapat ditentukan dengan
persamaan berikut :

II - 12
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dimana,
= parameter respon spectral percepatan gempa terpetakan periode
pendek
= parameter respon spectral percepatan gempa terpetakan periode 1
detik

Dan koefisien situs dan dapat diambil dari tabel berikut :


Tabel 2.8.6 Koefisien Situs, Fa

a) Untuk nilai-nilai antara dapat dilakukan interpolasi


b) : situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis
respon situs spesifik, lihat pasal 6.10.1

Tabel 2.8.7 Koefisien Situs, Fv

a) Untuk nilai-nilai antara dapat dilakukan interpolasi


b) : situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis
respon situs spesifik, lihat pasal 6.10.1

e. Parameter percepatan spektral desain

Parameter percepatan spektral desain untuk perioda pendek, S DS dan pada


perioda 1 detik, S D1, dapat ditentukan dari persamaan berikut :

II - 13
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2
=
3

2
=
3

f. Menentukan spectrum respon desain

Penentuan respons spektrum desain dalam ketentuan ini, harus mengikuti


ketentuan berikut :
Untuk <

= 0,4 + 0,6

Untuk < <

Untuk >

Dimana,
: parameter respons spektral percepatan desain pada periode pendek
: parameter respons spektral percepatan desain pada periode 1 detik
T : periode getar fundamental struktur

= 0,2

II - 14
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.8.3 Respon Spektrum Analisis

g. Menentukan kategori desain seismik (A-D)

Struktur kategori risiko I, II, atau III yang berlokasi dimana parameter
respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik, S 1, lebih besar dari
atau sama dengan 0,75 harus ditetapkan sebagai struktur dengan kategori desain
seismik E.
Struktur dengan kategori risiko IV yang berlokasi dimana parameter
respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik, S 1, lebih besar dari
atau sama dengan 0,75, harus ditetapkan sebagai struktur dengan kategori desain
seismik F.
Semua struktur lainnya harus ditetapkan kategori desain seismiknya
berdasarkan kategori risikonya dan parameter respons spektral percepatan
desainnya, SDS, SD1. Masing-masing bangunan dan struktur harus ditetapkan
kedalam kategori desain seismik yang lebih parah, dengan mengacu pada tabel
8 atau 9, terlepas dari nilai perioda fundamental struktur, T.
Apabila S1 lebih kecil dari 0,75, kategori desain seismik diijinkan untuk
ditentukan sesuai tabel 8 saja, dimana berlaku semua ketentuan dibawah ini :
1) Pada masing-masing dua arah ortogonal, perkiraan perioda fundamental
struktur, Ta yang ditentukan sesuai dengan pasal 7.8.2.1 adalah 0,8 Ts
2) Pada masing-masing dua arah ortogonal, perioda fundamental struktur
yang digunakan untuk menghitung simpangan antar lantai adalah kurang
dari Ts
3) Persamaan 22 digunakan untuk menentukan koefisien respons seismik,
Cs

II - 15
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4) Diafragma struktural adalah kaku sebagaimana disebutkan di pasal 7.3.1


atau untu diafragma yang fleksibel, jarak antara elemen-elemen vertikal
penahan gaya gempa tidak melebihi 12 m.

Tabel 2.8.8 Desain seismik berdasarkan parameter respon percepatan pada periode pendek

Tabel 2.8.9 Desain seismik berdasarkan parameter respon percepatan pada periode 1 detik

h. Pemilihan sistem struktur

Tabel 2.8.10 Koefisien modifikasi respon, faktor kuat-lebih, dan faktor perbesaran defleksi
Koefisien Faktor kuat Faktor Batasan sistem struktur dan batasan
modifikasi lebih pembesaran tinggi struktur, h n
Sistem Penahan Gaya Seismik sistem, defleksi,
respon,
a g b
Kategori desain seismik
R 0 Cd
B C D E F
B. Sistem Rangka Bangunan
1. Rangka baja dengan bresing eksentris 8 2 4 TB TB 48 48 30

2. Rangka baja dengan bresing konsentris khusus 6 2 5 TB TB 48 48 30

3. Rangka baja dengan bresing konsentris biasa 3 1/4 2 3 1/4 TB TB 10 10 TI

4. Dinding geser beton bertulang khusus 6 2 1/2 5 TB TB 48 48 30

5. Dinding geser beton bertulang biasa 5 2 1/2 4 1/2 TB TB TI TI TI

Catatan R mereduksi gaya sampai tingkat kekuatan, bukan tingkat tegangan ijin.
a
Faktor modifikasi respon, R. Untuk penggunaan pada keseluruhan tata
cara
b
Faktor perbesaran defleksi, . Untuk penggunaan dalam tabel 7.8.6 ,
7.8.7 , 7.8.9

II - 16
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

c
TB = Tidak Dibatasi dan TI = Tidak Diijinkan
d
Lihat 7.2.5.4 untuk penjelasan system penahan gaya gempa yang dibatasi
dengan bangunan dengan ketinggian 72 m atau kurang
f
Lihat 7.2.5.4 untuk penjelasan system penahan gaya gempa yang dibatasi
dengan bangunan dengan ketinggian 48 m atau kurang
g
Harga tabel factor kuat lebih diijinkan untuk direduksi denga
mengurangi setengah untuk struktur dengan diafragma fleksibel, tetapi
tidak boleh kurang dari 2,0 untuk segala struktur, kecuali sistem kolom
kantilever
h
Lihat 7.2.5.6 dan 7.2.5.7 untuk struktur yang dikenai kategori desain
seismic D atau E
i
Lihat 7.2.5.6 dan 7.2.5.7 untuk struktur yang dikenai kategori desain
seismic A

i. Menentukan gaya geser dasar (V)

Gaya geser dasar seismik, V dalam arah yang ditentukan sesuai dengan
persamaan berikut :

Dimana,
: koefisien respon seismic
: berat seismic efektif

Dimana,
: parameter percepatan spectrum respon desain pada periode pendek
: faktormodifikasi respon
: factor keutamaan gempa

Nilai yang dihitung dari persamaan diatas tidak perlu melebihi berikut in :

II - 17
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

harus tidak kurang dari

= 0,044 0,01

Sebagai tambahan untuk struktur yang berlokasi di daaerah dimana sama


dengan atau lebih besar dari 0,6g, maka harus tidak kurang dari :

0,5
=

Keterangan,
: parameter percepatan psektrum respon desain pada periode 1 detik
: periode fundamental struktur
: parameter respon spektral percepatan gempa terpetakan periode 1
detik

j. Periode fundamental pendekatan

Perioda fundamental pendekatan (Ta), harus ditentukan dari persamaan berikut


:

Dimana,
adalah ketinggian struktur dalam (m), diatas dasar sampai tingkat tertinggi
struktur dan koefisien dan ditentukan dari tabel berikut :

II - 18
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2.8.11 Koefisien Cu

Tabel 2.8.12 Koefisien Ct dan x

Sebagai alternatif, diijinkan untuk menentukan perioda fundamental


pendekatan (Ta), dari persamaan berikut untuk struktur dengan ketinggian tidak
melebihi 12 tingkat dimana sistem penahan gaya gempa terdiri dari rangka
penahan momen beton atau baja secara keseluruhan dan tinggi tingkat paling
sedikit 3 m :

= 0,1

Dimana,
: jumlah tingkat

Jika memilki periode getar dari metode yang lebih akurat, misalnya analisis
computer ( ), maka :

Jika > gunakan =


Jika < < gunakan =
Jika < gunakan =

II - 19
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

k. Distrbusi vertikal gaya gempa

Gaya gempa lateral ( ) yang timbul di semua tingkat harus ditentukan dari
persamaan berikut :

Dan

Keterangan,
: Faktor distribusi vertical
: gaya lateral desain total atau geser di dasar struktur (kN)
dan : bagian berat seismic efektif total struktur ( ) yang dikenakan
pada tingkat i atau x
dan : tinggi dari dasar sampai tingkat i atau x (m)

Untuk struktur yang mempunyai periode sebesar 0,5 detik atau kurang, =1
Untuk struktur yang mempunyai periode sebesar 2,5 detik atau lebih, =2
Untuk struktur yang mempunyai periode antara 0,5 atau 2,5 detik, k harus
sebesar 2 atau harus ditentukan dengan interpolasi linier antara 1 dan 2

l. Distribusi horizontal gaya gempa

Gaya geser tingkat dasar di semua tingkat ( ) harus ditentukan dari persamaan
berikut :

Keterangan,
adalah bagian dari geser seismik (V) yang timbul di tingkat i

II - 20
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.9 Kombinasi Pembebanan

Konfigurasi kombinasi pembebanan yang digunakan dalam perencanaan


struktur adalah sebagai berikut :
a. 1,4 DL
b. 1,2 DL + 1,6 LL
c. 1,2 DL + 0,5 LL EQx 0,3 EQy
d. 1,2 DL + 0,5 LL 0,3 EQx EQy
e. 0,9 DL EQx 0,3 EQy
f. 0,9 DL 0,3 EQx EQy

Dimana,
DL : Dead Load / Beban Mati
LL : Live Load / Beban Hidup
EQx : Earthquake Load X Direction / Beban Gempa Arah X
EQy : Earthquake Load Y Direction / Beban Gempa Arah Y

2.10 Kondisi Batas

Kondisi batas menunjukkan kemampuan batas struktur agar bisa digunakan.


Kriteria perencanaan memastikan bahwa kondisi batas harus kecil kemungkinan
terlampaui, caranya dengan memilih kombinasi gaya, faktor tahanan dan nilai ketahanan
yang tidak mungkin terlampaui berdasarkan kriteria perencanaan yang ada. Kondisi batas
(limit state) yang diterapkan pada struktur terdiri dari dua kategori, yaitu kondisi batas
kekuatan (limit states of strength) dan kondisi batas layan (limit states of serviceability).
Kondisi batas kekuatan (limit states of strength) didasarkan pada kemanan atau
kapasitas daya dukung struktur terhadap beban rencana atau beban ultimate. Sedangkan
kondisi batas layan (limit states of serviceability) berhubungan dengan performasi
struktur dan batasan-batasan agar struktur dapat berfungsi sesuai yang direncanakan.

Kondisi batas kekuatan (limit states of strength) yang umum digunakan adalah
:
a. Terjadinya leleh baja sampai terbentuknya sendi plastis, dan mekanisme
plastisnya, ketidak-stabilan elemen dan struktur

II - 21
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

b. Tekuk torsi lateral, tekuk lokal


c. Fraktur tariknatau adanya kemungkinan retak akibat fatig
d. Ketidak-stabilan elemen atau struktur
e. Alternating plasticity
f. Deformasi yang berlebihan

Kondisi batas layan (limit states of serviceability) umumnya meliputi :


a. Lendutan (defleksi) atau drift elastis yang berlebihan
b. Struktur yang bergetar melebihi ambang tertentu
c. Lendutan permanen

Secara matematis kondisi batas harus memenuhi parameter-parameter berikut :

Dimana,

: adalah penjumlahan
i : menunjukan berbagai kondisi yang ditinjau
Qi : pengaruh beban nominal
: kuat perlu, dari kondisi batas yang paling esktrim
: kuat nominal, kekuatan elemen yang dihasilkan
: factor tahanan sesuai jenis struktur yang ditinjau
: kuat rencana, kekuatan struktur yang direncanakan
Ketentuan LRFD menyaratkan kuat perlu (Ru), harus lebih kecil dari kuat
rencana ( Rn), dimana adalah factor tahanan yang nilainya bervariasi tergantung
prilaku aksi komponen struktur yang ditinjau. Secara matematis dapat dituliskan :

II - 22
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.11 Kuat Nominal Penampang

2.11.1 Kuat Tarik Nominal

Kuat tarik rencana t Pn, dengan t sebagai factor tahanan tarik dan Pn sebagai
kuat aksial nominal, adalah nilai terkecil dari dua tinjauan batas keruntuhan yang terjadi,
yaitu pada penampang utuh dan pada penampang berlubang (tempat sambungan). Kuat
tarik penampang utuh terhadap keruntuhan leleh (yield) :

atau,

dimana,
: 0,75 terhadap keruntuhan fraktur
: luas penampang bersih
: luas penampang efektif
: factor shear leg
: tegangan putus baja

2.11.2 Kuat Tekan Nominal

Kuat tekan nominal, Pn adalah nilai terkecil kuat tekan terhadap kondisi batas
tekuk lentur, tekuk torsi, dan tekuk torsi-lentur yang tergantung dari bentuk penampang
kolom.

Adapun Fcr dapat dicari berdasarkan kurva kuat tekan kolom yang merupakan
fungsi dari kelangsingan. Rumus kurva tegangan tekuk kritis kolom, khusus tekuk lentur
saja adalah :

Untuk 4,71 atau < 2,25 kondisi tekuk inelastik,

II - 23
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

= 0,658

Untuk > 4,71 atau > 2,25 kondisi tekuk elastik,

= 0,877

Dimana adalah tegangan tekuk kritis elastis

=
( )

Dimana,

2.11.3 Kuat Lentur Nominal

Kuat lentur nominal, Mn adalah kemampuan balok dalam menerima momen


lentur akibat dari kombinasi pembebanan yang ditinjau dari berbagai kondisi batas.
Secara umum kuat lentur balok harus memenuhi persamaan berikut :

Dimana,
: kuat lentur perlu akibat kombinasi pembebanan
: faktor ketahanan lentur, sebesar 0,9
: kuat lentur nominal balok, ditinjau dari berbagai kondisi batas

Nilai Mn diambil dari nilai terkecil yang dihasilkan dari kondisi batas. Kondisi-
kondisi batas yang menentukan kuat lentur balok :
a. Material Leleh (Momen Plastis)
Kuat batas leleh (yielding)

= =

II - 24
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dimana,
: kuat lentur nominal balok
: momen lentur penampang plastis
: kuat leleh minimum, tegantung mutu baja
: Modulus plastis penampang terhadap sumbu kuat

b. Tekuk Torsi Lateral


Untuk menghitung Mcr yang menyebabkan terjadinya tekuk torsi
lateral (LTB) yang besarnya tidak akan melebihi atau sama dengan Mp,
terlebih dahulu menentukan jarak pertambatan lateral maksimum (Lp)
untuk menghindari tekuk torsi lateral (LTB) sebelum penampang plastis
terbentuk sempurna, dapat dihitung dengan persamaan berikut :

= 1,76

Dimana,
: modulus elastisitas baja
: kuat leleh minimum, tergantung mutu baja
: jari jari girasi balok terhadap sumbu lemah

Jika nilai , maka:

Profil kompak untuk kondisi ini merupakan kondisi paling efisien


dlam pemakaian bahan, khususnya untuk profil hot-rolled yang
mempunyai mutu sama antara elemen badan dan lemen sayapnya.
Bila Lb > Lp, tetapi ingin tetap efisien maka ditetapkan batas Lr,
yaitu jarak pertambatan lateral maksimum sedemikian sehingga serat
terluar penampang (sayap) bisa mencapai leleh. Untuk menentukan Lr
dapat dihitung dengan persamaan berikut :

II - 25
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

0,7
= 1,95 + + 6,76
0,7

Dimana,
: konstanta torsi, mm4
: modulus penampang
: jarak antara titik berat elemen sayap, mm
Profil I atau WF simetri ganda, nilai =1

Profil UNP, =

Untuk profil I, nilai = , sehingga

1
=
2

Nilai cukup akurat dengan hanya memperhitungkan jari-jari


girasi pelat sayap (flange) tekan ditambah 1/6 tinggi badan (web)

=
1
12 1 + 6

Jika Lb = Lr maka Mn = 0,7 Sx Fy, yaitu momen nominal efektif yang


menyebabkan tegangan leleh pada serat tekan terluar dari profil.
Jika maka kapasitas lentur penampang nominal
berbanding lurus Mp 0,7 Sx Fy dihitung dengan interpolasi linier
sederhana sebagai berikut :

II - 26
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA


= 0,7

= 1 + 0,078

2.11.4 Kuat Geser Nominal

Kuat geser nominal, Vn pelat badan (web) dari suatu profil simetri tunggal atau
ganda, yang dihitung tanpa memanfaatkan kekuatan pasca-tekuknya, ditentukan dari
kondisi batas akibat leleh geser dan tekuk geser sebagai berikut :

= 0,6

Koefisien geser badan, Cv ditentukan sebagai berikut :

Jika 1,10

=1

Jika 1,10 1,37

1,37
=

Jika 1,37

1,5
=

II - 27
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Koefisien tekuk geser pelat badan, kv = 5 jika h / tw < 260, adapun Aw = dtw adalah
luas total pelat badan, h adalah jarak bersih antar sayap untuk balok built-up, untuk profil
gilas dikurangi dengan tebal fillet.

2.11.5 Kuat Interaksi Aksial Lentur

Interaksi momen lentur dan gaya aksial pada penampang simetri atau simetri
tunggal dengan 0,1 Iyc / Iy 0,9 yang moemennya dapat dipaksa melentur pada sumbu
simetrinya, harus memenuhi persamaan berikut :
Jika 0,2 maka:

8
+ + 1,0
2 9

Jika < 0,2 maka :

8
+ + 1,0
2 9

2.12 Teori Kolom

Pengetahuan tentang perilaku dan cara perencanaan kolom merupakan hasil


rangkaian penelitian yang telah lama dilakukan sebelumnya. Sejarah mencatat, penelitian
tentang kolom diawali oleh Euler sekitar tahun 1744. Kolom yang dievaluasi dianggap
lurus sempurna (teoritis), penampang prismatic, tumpuan sendi-sendi, gaya tekan tepat
diberikan pada sumbu aksial kolom (aksial murni) dan batangnya relatif langsing
sedemikian sehingga akan mengalami tekuk pada kondisi tegangan elastis (belum leleh)
(Dewobroto, 2015).
Beban tekuk disebut juga beban kritis atau beban bifurcation, dapat
didefinisikan sebagai berikut.

Dimana,
: modulus elastisitas

II - 28
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

: momen inersia arah tekuk


: panjang kolom

Dalam format beban, dapat juga ditentukan dalam format tegangan kritis,
dimana :

Sehingga,

Jika kondisi tumpuannya bukan sendi-sendi, beban atau tegangan kritisnya


dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

=
( )

=
( )

Dimana KL dalam hal ini adalah panjang efektif kolom, yang dicari berdasarkan
bentuk deformasinya. Panjang efektif dihitung dari titik-titik belok. Penjelasannya dapat
dilihat pada gambar 4 dimana L panjang kolom actual dan faktor didepannya adalah K.
jadi sebenarnya KL adalah panjang ekivalen kolom jika tumpuan dirubah sendi-sendi.
Sama seperti kondisi kolom yang dipakai pada penurunan rumus tekuk oleh Euler.

II - 29
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.12.1 Panjang efektif kolom secara visual (Galambos-Surovek 2008)


Untuk kolom tertambat (kolom tidak bergoyang), ujung-ujungnya tidak
mengalami perpindahan, maka cara panjang efektif cukup akurat, tergantung kondisi
tumpuannya, maka K = 0,5 1,0. Sedangkan untuk kolom yang bergoyang (sway), nikai
K 1,0. Untuk nilai yang akurat perlu memperhitungkan struktur secara keseluruhan.
Hanya kolom kantilever tunggal maka hasilnya akurat, yaitu K = 2,0.

2.13 Effective Length Method

Effective Length Method (ELM) adalah metode yang didasarkan pada pada
analisis struktur elastik, dimana pemakaiannya terbatas pada struktur dengan rasio
perbesaran momen akibat perpindahan titik nodal (Dewbroto, 2011). Pada SNI 03-1729-
2002, pengaruh P- dihitung melalui analisis orde pertama. Untuk memperhitungkan
efek orde kedua, struktur dianalisis menjadi struktur bergoyang dan tidak bergoyang,
dimana masing-masing analisis digunakan untuk menghitung efek dari P- dan P-
(Setiady, dkk, 2012).
Pada cara ELM daya dukung kolom dipengaruhi oleh rasio kelangsingan kolom
atau KL/r yang merupakan parameter penting untuk memprediksi kekuatan kolom. nilai
K diperhitungkan berdasarkan chart-bantu yang dibedakan atas struktur tidak bergoyang
dan struktur bergoyang.
Untuk memperhitungkan nilai K pada struktur rangka dapat ditentukan dengan
rumus sebagai berikut :

II - 30
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Rangka tidak bergoyang (0,5 1,0)

+ 2
+ 1 + 1 = 0
4 2

b. Rangka bergoyang (1,0 )

36
1 =0
6( )

Dimana,

= diujung kolom atas


= diujung kolom bawah

Selain menggunakan rumus diatas, untuk menentukan nilai K dapat juga


dilakukan dengan menggunakan nomogram/alignment chart berikut :

Gambar 2.13.1 Alignment chart rangka tidak bergoyang (AISC 2010)

II - 31
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.13.2 Alignment chart rangka bergoyang (AISC 2010)

Sedangkan menurut Vinnakota (2006) selain kedua cara diatas untuk


menentukan nilai K dapat juga menggunakan rumus dari Dumoteil (1992), yaitu :

a. Rangka tidak bergoyang (0,5 1,0)

3 + 1,4( + ) + 0,64
=
3 + 2,0( + ) + 1,28

b. Rangka bergoyang (1,0 )

(1,6 + 4,0) + (4 + 7,5)


=
+ + 7,5

Dimana,

= diujung kolom atas


= diujung kolom bawah

II - 32
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh orde ke-2 diperhitungkan dengan cara memberikan perbesaran


momen pada ujung-ujung kolom. Perbesaran momen B2 dihitung berdasarkan rumus
berikut :

1
=

Atau

1
=

1

2.14 Direct Analysis Method

Direct Analysis Method (DAM) adalah metode yang digunakan untuk mengatasi
keterbatasan analisis struktur linier yang tidak bisa mengakses stabilitas (Setiady,
Kusumastuti, dan Ediansah, 2012). Dengan menggunakan DAM maka pengaruh
pembebanan pada struktur dapat ditentukan teliti karena telah memperhitungkan
pengaruh ketidak-sempurnaan geometri dan reduksi kekuatan selama proses analisis
struktur itu sendiri (Dewobroto, 2011).
Deformasi dan pengaruh orde ke-2 (P- & P-) yang mempengaruhi perilaku
struktur secara keseluruhan perlu diperhitungkan pada saat mencari gaya-gaya internal
batang. Adapun yang dimaksud P- adalah pengaruh pembebanan akibat terjadinya
perpindahan titik-titik nodal elemen, sedangkan P- adalah pengaruh pembebanan akibat
deformasi di elemen (diantara dua titik nodal), seperti terlihat pada berikut.

II - 33
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.14.1 Pengaruh orde ke 2 (AISC 2010)

Ketidaksempurnaan geometri diperhitungkan melalui penggunaan notional


load. Notional load merupakan beban lateral yang diberikan pada titik nodal disemua
level, berdasarkan proporsi beban vertikal yang bekerja di level tersebut, yang diberikan
pada sistem struktur penahan gravitasi melalui rangka atau kolom vertikal, atau dinding,
untuk mensimulasi pengaruh adanya cacat bawaan (initial imperfection) (Setiady, dkk,
2012). Notional Load (Ni) harus ditambahkan bersama-sama beban lateral lain, juga pada
semua kombinasi. Besarnya notional load dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

= 0,002

Dimana,
: beban notional pada tingkat i
: beban gravitasi pada tingkat I, dari kombinasi pembebanan LRFD

Nilai 0,002 mewakili nilai nominal rasio kemiringan tingkat (story out of plumb-
ness) sebesar 1/500, yang mengacu AISC Code of Standard Practice. Jika struktur yang
aktual ternyata punya kemiringan tingkat yang yang lebih besar, maka nilai tersebut perlu
ditinjau ulang.

II - 34
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Beban notional pada tingkat tersebut akan didistribusikan seperti beban


gravitasi, tetapi pada arah lateral yang dapat menimbulkan efek destabilizing terbesar,
jadi perlu dilakukan beberapa tinjauan.
Adanya leleh setempat (partial yielding) akibat tegangan sisa pada profil baja
akan menyebabkan perlemahan kekuatan saat mendekati kondisi batasnya. Kondisi
tersebut pada akhirnya menghasilkan efek destabilizing seperti yang terjadi akibat adanya
geometry imperfection (Dewobroto : 2015). Kondisi tersebut dapat diatasi dengan
penyesuaian kekakuan struktur, dengan memberikan faktor reduksi kekakuan.
Nilai faktor reduksi kekakuan, b ditentukan sebagai berikut :
a. Bila 0,5

= 1,0

b. Bila > 0,5

=4 1

Dimana,
: kekuatan tekan aksial perlu hasil dari kombinasi LRFD
: kekuatan leleh aksial =

2.15 Perbandingan kerja ELM dan DAM

Dengan program analisis struktur order-2, maka saat metode ELM (Effective
Length Method) dan DAM (Direct Analysis Method) dibandingkan nilai interaksi check
balok-kolom, antara gaya internal ultimate (beban terfaktor) terhadap kapasitas nominal
penampang, akan terlihat bahwa cara yang dipakai DAM dapat mendekati gaya internal
aktual struktur pada kondisi batas.

II - 35
http://digilib.mercubuana.ac.id/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.15.1 Hasil interaksi antara ELM dan DAM (AISC 2010)

Untuk alasan itu pula, interaksi balok-kolom pada bidang tekuk dievaluasi
terhadap kuat tekan, PnL, yang dihitung berdasarkan kurva kolom dengan KL = L atau K
= 1.

II - 36
http://digilib.mercubuana.ac.id/