BAB I
KONSEP MEDIS LEUKEMIA
A. Anatomi Fisiologi Sel Darah Putih
Leukosit (sel darah putih) adalah unit-unit yang dapat bergerak dalam
suatu pertahanan tubuh, keadaan tubuh dan sifatsifat leukosit berlainan
dengan eritrosit dan apa bila kita periksa dan kita lihat dibawah mikroskop
maka akan terlihat. Bentuknya dapat berubahubah dan mempunyai macam-
macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya, warnanya
bening (tidak berwarna) banyaknya dalam 1 mm3 darah kirakira 60009000.
Terdapat 5 jenis Leukosit yang bersirkulasi baik yang mempunyai granula
maupun tidak bergranula, yang dikenal dengan granulosit dan agranulosit.
Macammacam Leukosit meliputi (Agranulosit Dan Granulosit):
1. Agranulosit
a. Limfosit, macam Leukosit yang dihasilkan dari jaringan reticulum
endothelial system dan kelenjar limfe, bentuknya ada yang kecil dan ada
yang besar didalam sitoplasmanya tidak terdapat granula dan intinya
besar. Berfungsi sebagai pembunuh dan pemakan bakteri yang masuk
kedalam jaringan tubuh.
b. Monosit, macam Leukosit yang terbanyak dibuat disumsum merah lebih
besar dari pada limfosit. Dibawah mikroskop terlihat bahwa
protoplasmanya lebar, warna biru dan sedikit abuabu mempunyai
bintikbintik sedikit kemerahan berfungsi sebagai fagosit.
2. Granulosit
a. Neutrofil, atau polimor nukleur leukosit mempunyai inti sel yang barang
kali kadangkadang seperti terpisah pisah. Protoplasmanya banyak
bintik-bintik halus.
b. Eusinofil, ukuran dan bentuknya hampir sama dengan neutrofil tetapi
granula dan sitoplasmanya lebih besar.
c. Basofil, sel ini kecil dari pada eusinofil tetapi mempunyai inti yang
bentuknya teratur. Didalam protoplasmanya terdapat granular-granular
besar.
Leukosit mempunyai 2 fungsi didalam tubuh manusia antara lain:
1. Sebagai serdadu tubuh yaitu bertugas membunuh dan memakan bibit
penyakit/bakteri yang masuk kedalam tubuh jaringan RES (sistem
retikulo endotel), tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar
limfe.
2. Sebagai pengangkut yaitu, mengangkut dan membawa zat lemak dari
dinding usus melalui limfa terus ke pembuluh darah.
B. Konsep Dasar Penyakit Leukimia
1. Pengertian
Leukimia merupakan penyakit keganasan sel darah putih yang berasal
dari sumsum tulang, ditandai oleh profilerasi sel-sel darah putih, dengan
manifestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi. (Permono,
Bambang. 2005).
Leukemia adalah jenis gangguan pada sistem hematopoietic yang fatal
dan terkait dengan susmsum tulang dan pembuluh limfe ditandai
dengan tidak terkendalinya proliferasi dari leukosit dan prosedurnya.
(Long, Barbara C. 1996).
Leukemia adalah proliperasi tidak teratur atau akumulasi selsel darah
putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemenelemen sumsum
normal, juga terdapat proliperasi dalam hepar, limpe, dan nodus limpe
serta invasi dan organorgan nonhemotologis. (Baugman, Diane C.
1996. Keperawatan Medikal Bedah: 336).
2. Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat beberapa faktor
predisposisi yang meyebabkan terjadinya leukimia yaitu:
1) Faktor Genetik: Virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur
gen (T cell leukimia-lymphoma virus/HTLV)
2) Radiasi ionisasi: Lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker
sebelumnya
3) Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol,
fenilbutazon, dan agen anti neoplastik, alkylating
4) Obat-obatan imunosipresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol.
5) Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
6) Kelainan kromosom: Sindrom Blooms, trisomi 21 (Sindrom Downs),
Trisomi G (Sindrom Klinefelters), sindrom fanconis, kromosom
Philadelphia positif, Talangiektasis ataksia.
Hipotesis yang menarik saat ini mengenai etiologi kimia pada anak-anak
adalah peranan infeksi virus dan atau bakteri seperti disebutkan Graves
(Graves, Alexander 1993). Ia mempercayai ada dua langkah maturasi pada
sistem imun. Pertama setelah kehamilan atau awal masa bayi dan kedua
selama tahun pertama kehidupan sebagai konsekuensi dan respons terhadap
infeksi pada umumnya.
Beberapa kondisi parenatal merupakan faktor resiko terjadinya leukimia
pada anak, seperti yang dilaporkan oleh Cnattingius dkk (1995). Faktor-
faktor tersebut adalah penyakit ginjal pada ibu, penggunaan suplemen
oksigen, asfiksia, berat badan lahir > 4500 gram, dan hipertensi saat hamil.
Sedangkan Shu dkk (1996) melaporkan bahwa ibu hamil yang
mengkonsumsi alkohol meningkatkan resiko terjadinya leukimia pada bayi,
terutaama LMA (Leukimia Mioblastik Akut).
3. Klasifikasi Leukemia
Leukemia dibagi menjadi leukemia akut dan kronik. Dengan kemajuan
pengobatan akhir-akhir ini, penderita leukemia limfoblastik akut dapat
hidup lebih lama daripada penderita leukemia granulositik kronik. Jadi
pembagian atas akut dan kronis tidak lagi mencerminkan lamanya harapan
hidup. Pembagian ini masih menggambarkan kecepatan timbulnya gejala
dan komplikasi.
1) Leukemia Kronis
a. Leukemia Granulositik Kronis (LGK)
LGK adalah suatu penyakit mieloproliferatif yang ditandai dengan
produksi berlebihan seri granulosit yang relatif matang. Walaupun
manifestasi penyakit ini berupa produksi berlebihan seri mieloid tua,
akhir-akhir ini banyak bukti menunjukkan bahwa LGK merupakan
keganasan klonal sel pluripoten, bukan keganasan seri mieloid muda
maupun mieloid yang lebih matang. Manifestasi klinis yang sering
dijumpai adalah rasa lelah, penurunan berat badan, rasa penuh di
perut; kadang-kadang rasa sakit di perut, dan mudah mengalami
pendarahan.
Sebagian besar penderita LGK akan meninggal setelah memasuki fase
akhir yang disebut krisis blastik. Gambaran krisis blastik mirip sekali
dengan leukemia akut, yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit,
biasanya berupa mieloblas dan/atau promielosit, disertai produksi
neutrofil, trombosit dan sel darah merah (eritrosit) yang amat kurang.
b. Leukemia Limfositik Kronik (LLK)
LLK merupakan 25% dari seluruh leukemia di negara barat, tetapi
amat jarang ditemukan di jepang, cina, dan indonesia. Lebih sering
ditemukan pada laki-laki daripada wanita (2:1) dan jarang ditemukan
pada pada umur kurang dari 40 tahun. Gejala LLK berupa
limfadenopati, splenomegali, hepatomegali, infiltrasi alat tubuh lain
(paru, pleura, tulang, kulit), anemia hemolitik, trombositopenia,
hipogamaglobulinemia dan gamopati monoklonal sehingga penderita
mudah terserang infeksi.
Tingkat Penyakit Median Survival (bulan)
1. Hanya limfositosis dengan 150
infiltrasi sel
2. Limfositosis dan limfadenopati 101
3. Limfositosis dan 71
splenomegali/hepatomegali
4. Limfositosis dan anemia < 11 g 19
% dengan/tanpa pembesaran
hati, limpa, kelenjar.
5. Limfositosis dan 19
trombositopenia
<100.000/mm3 dengan/tanpa
pembesaran hati, limpa,
kelenjar.
2) Leukemia Akut
a. Leukemia Limfoblastik Akut.
Insidensi LLA 2 sampai 3 per 100.000 penduduk. Ada 24 penderita
LLA yang diperiksa darah secara imunologis selama 16 bulan terakhir
di Klinik Hematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.
LLA sering ditemukan pada anak-anak (82%) dari pada umur dewasa
(18%). Lebih sering ditmukan pada laki-laki dari pada wanita.
Manifestasi klinis LLA yang sering dijumpai rasa lelah, panas tanpa
infeksi, purpura, nyeri tulang dan sendi, macam-macam infeksi,
penurunan berat badan dan sering ditemukan sutau masa abnormal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan splenomgeali (86%),
hepatomegali, limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis, dan
perdarahan retina.
b. Leukemia Mieloblastik Akut.
LMA lebih sering ditemukan pada umur dewasa (85%) dari pada
anak-anak (15%). Ditemukan lebih sering pada laki-laki dari pada
wanita. Manifestasi klinis LMA adalah rasa lelah, pucat, nafsu makan
hilang, anemia, petekie, perdarahan, nyeri tulang, infeksi, dan
pembesarn kelenjar getah bening.
Menurut klasifikasi FAB (French-American-British), LMA dibagi
dalam 6 jenis, yaitu:
M1: leukemia mieloblastik tanpa pematangan
M2: leukemia mieloblastik dengan berbagi derajat pematangan
M3: leukimia promielositik hipergranular
M4: leukemia mielomonositik akut
M5: leukemia monositik akut
M6: leukemia eritroblastik (eritro leukemia)
M7: leukemia megakariositik akut
4. Patofisoiologi dan klasifikasi morfologik
Leukemia adalah jenis gangguan pada sistem hematopoietic yang fatal dan
terkait dengan sumsum tulang dan pembuluh limfa di tandai dengan tidak
terkendalinya proliferasi dari leukosit dan prosedirnya. Leukimia
sebenarnya merupakan suatu istilah untuk beberapa jenis penyakit yang
berbeda dengan manifestasi patofisiologis yang berbeda pula. Mulai dari
yang berat dengan penekanan sumsum tulang belakang yang berat pula
seperti pada leukimia akut sampai kepada penyakit dengan perjalanan yang
lambat dan gejala yang ringan (indolent) seperti pada leukimia kronik. Pada
dasarnya efek patofisiologi berbagai macam leukimia akaut mempunyai
kemiripan tetapi sangat berbeda dengan leukimia kronik.
Kelainan yang menjadi ciri khas sel leukimia diantaranya termasuk asal
mula gugus sel (clonal), kelainan profilerasi, kelainan sitogenetik dan
morfologi, kegagalan diferensiasi, petanda sel dan perbedaan biokimiawi
terhadap sel normal. Terdapat bukti kuat bahwa leukimia akut dimulai dari
sel tunggal yang berproliferasi secra klonal sampai mencapai sejumlah
populasi sel yang dapat terdeteksi. Walaupun etiologi dari leukimia pada
manusia belum diketahui benar, tetapi pada penelitian mengenai proses
leukemogenesis pada binatang percobaan ditemukan bahwa penyebab
(agent)nya mempunyai kemampuan melakukan modifikasi pada nukleus
DNA, dan kemampuan ini meningkat bila terdapat suatu kondisi (mungkin
sutau kelainan) genetik tertentu seperti translokasi, amplifikasi dan mutasi
onkogen seluler.
Pengamatan ini menguatkan anggapan bahwa leukimia dimulai dari suatu
mutasi somatik yang mengakibatkan terbentuknya gugus
(clone) abnormal, akibatnya dapat terjadi berbagai jenis sel
leukimia. Misalnya jumlah besar dari sel pertama-tama mengumpal pada
tempat asalnya (granulosit dalam sumsum tulang, limfosit didalam kelenjar
limfe) dan menyebar ke organ hematopoietic dan berlanjut ke organ yang
lebih besar (speinomegali, hematomegali) proliferasi dari jenis sel sering
mengganggu produksi normal hematopoietic lainnya dan mengarah ke
pengembangan/pembelahan sel yang cepat dan ke cytopenias (penurunan
jumlah). Pembelahan dari sel darah putih yang imatur mengakibatkan
menurunnya imuno kompeten dengan meningkatnya kemungkinan
mendapat infeksi. Leukositosis akan menghancurkan sel-sel darah sehat
(eritrosit, trombosit) sehingga menyebabkan anemia, trombositopenia.
Kelainan fungsi leukosit akan menurunkan kemampuan imunitas sehingga
menyebabkan infeksi. (Pansitopenia). Leukositosis juga akan menyebabkan
leukostasis yang nantinya akan menyumbat /trombus dan emboli vaskuler
pada otak, ginjal, dan jantung, yang mana leukositosis adalah jumlah
leukosit > 11.000 IU, sedangkan leukopenia adalah jumlah leukosit < 4000
IU.
5. Manifestasi Klinis
Gejala leukemia dibagi secara umum sesuai dengan klasifikasi leukemia
(LGA, LMA, LLK, LLA), namun gejala klinis yang sering dijumpai adalah:
o Anemia: pucat, mudah lelah, kadang-kadang sesak nafas, Hb rendah
o Leukopenia (karena penurunan fungsi): infeksi lokal atau umum (sepsis)
dengan gejala suhu tubuh meningkat dan penurunan keadaan umum
akibat peningkatan jumlah leukosit imatur.
o Trombositopenia: Perdarahan kulit, mukosa dan tempat-tempat
lainepistaksis, perdarahan intrakranial, perdarahan gusi, melena.
Akibat infiltrasi ke organ lain:
a. Nyeri tulang
b. Pembesaran kelenjar getah bening (lymfadenopati)
c. Hepatomegali dan splenomegali
(pedoman diagnosis dan terapi ilmu kesehatan anak. Fakultas Kedokteran
Unair & RSUD dr.Soetomo Surabaya, 1994).
Gejala lain seperti purpura, epistaksis (sering), hematoma, infeksi
oropharingeal, pembesaran nodus limfatikus, lemah, faringitis, gejala
mirip flu (flu like syndrome) yang merupakan manifestasi klinis awal,
limfadenopati, ikterus kejang samapai koma (Cawson 1982 ; De Vita Jr,
1985, Archida, 1987, Lister, 1990, Rubbin, 1992).
6. Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada kasus leukimia ini adalah gagal sumsum
tulang, infeksi, koagulasi intravaskuler diseminata (KID/DIC),
splenomegali, hepatomegali, trombositopenia, leukopenia, perdarahan intra
kranial, dan ketidak seimbangan elektrolit.
7. Pemeriksaan Penunjang
o Hitung darah lengkap: Menunjukkan normositik, anemia normositik.
o Hemoglobulin: dapat kurang dari 10 gr/100 ml.
o Retikulosit: Jumlah biasanya rendah
o Trombosit: sangat rendah <50.000/mm
o SDP: mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP imatur.
o PTT : memanjang
o LDH : mungkin meningkat
o Asam urat serum : mugkin meningkat
o Muramidase serum : pengiktan pada leukimia monositik akut dan
mielomonositik.
o Copper serum : meningkat
o Zink serum : menurun
o Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat
keterlibatan.
o Aspirasi sumsum tulang
o Pemeriksaan fungsi ginjal
o Pemeriksaan elektrolit
o MRI
o CT Scan
8. Penatalaksanaan
Penanganan leukimia meliputi kuratif dan suportif. Penanganan suportif
meliputi pengobatan peyakit lain yang menyertai leukimia dan pengobatan
komplikasi antara lain berupa pemberian transfusi darah, pemberian
antibiotik, pemberian obat untuk meningkatkan granulosit, obat anti jamur,
pemberian nutrisi yang baik, dan pendekatam aspek psikososial.
Terapi kuratif/spesifik bertujuan untuk menyembuhkan leukimianya berupa
kemoterapi yang meliputi induksi remisi, intensifikasi, profilaksis susunan
saraf pusat dan rumatan. Klasifikasi resiko tinggi atau resiko normal,
menentukan protokol kemoterapi. Saat ini di indonesia sudah ada 2 protokol
pengobatan yang lazim digunakan untuk pasien LLA, yaitu Protokol
Nasional (Jakarta) dan protokol WK-ALL 2000.
Terapi induksi berlangsung 4-6 minggu dengan dasar 3-4 kali obat yang
berbeda untuk Leukemia limfositik Akut seperti deksametason, vinkristin,
L-asparginase dan atau antrasiklin. Sedangkan untuk Leukemia Akut
Nonlimfositik (LANL/AML)
cytabarine, daunorubicine, deksametason.Kemungkinan hasil yang dapat
dicapai remisi komplit, remisi parsial, atau gagal. Intensifikasi merupakan
kemoterapi intenesif tambahan setelah remisi kompilit dan untuk profilaksi
leukimia pada susunan saraf pusat (SSP). Hasil yang diharapakan adalah
tercapainya perpanjangan remisi dan peningkatan kualitas remisi. Terapi
SSP yaitu secara langsung diberikan melalui injeksi intratekal dengan obat
metotreksat, sering dikombinasikan dengan infus berulang metoterksat dosis
sedang (500 mg/m2) atau dosis tinggi pusat pengobatan (3-5 gr/m 2).
Dibeberapa pasien resiko tinggi dengan umur > 5 tahun mungkin lebih
efektif dengan memberikan radiasi cranial (18-24 Gy) disamping pemakaian
kemoterapi sistemik dosis tinggi.
Terapi lanjutan rumatan dengan menggunakan obat merkaptopurin tiap hari
dan metotreksat sekali seminggu (untuk ALL), secara oral dengan sitistatika
lain selama perawatan tahun pertama. Lamanya terapi rumatan ini pada
kebanyakan studi adlah 2-21/2 tahun dan tidak ada keuntungan jika
perawatan sampai 3 tahun. Dosis sitostatika secara individual dipantau
dengan melihat leukosit dan atau monitor konsentrasi obat selama terapi
rumatan. Pasien dinyatakan remisi komplit apabila tidak ada keluhan dan
bebas gejala klinis leukimia, pada aspirasi sumsum tulang didapatkan
jumlah sel blas < 5% dari sel berinti, hemoglobin > 12g/dl tanpa transfusi,
jumlah leukosit > 3000 /ul dengan hitung jenis leukosit normal, jumlah
granulosit > 2000/ul, jimlah trombosit > 100.000/ul, dan pemeriksaan cairan
serebrospinal normal.
Dengan terapi intensiv moderen, remisi akan tercapai pada 98% pasien. 2-
3% dari pasien anak akan meninggal dalam CCR (Continuos Complate
Remission) dan 25-30% akan kambuh. Sebab utama kegagalan terapi adalah
kambuhnya penyakit. Relaps sumsum tulang yang terjadi (dalam 18 bulan
sesudah diagnosis) memperburuk prognosis (10-20% long-term survival)
sementara relaps yang terjadi kemusian setelah penghentian terapi
mempunyai prognosis lebih baik, khususnya relaps testis dimana long-term
survival 50-60%. Terapi relaps harus lebih agresif untuk mengatasi
resistensi obat. Untuk
Leukemia Granulositik dan Limfositik Kronis, Kemoterapi
(busulfan, hydroxiurea), prednison, radiasi, pembedahan (splenektomi)
cangkok sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang mungkin
memberikan kesempatan untuk sembuh, khsusnya bagi anak-anak dengan
leukimia sel-T yang telah relaps mempunyai prognosis yang buruk dengan
terapi sitostatika konvensional.
Kemoterapi dengan nama lain sebagai anti tumor. Sitostatika, ataupun racun
sel. Kemoterapi selain berefek terhadap sel kanker juga terhadap sel normal
yang mempunyai tingkat pertumbuhan cepat, seperti folikel rambut, mukosa
saluraan pencernaan, sistem reproduksi (sel indung telur, sperma), dan
jaringan pembentuk darah. Sitostatika yang diberikan akan terkumpul pada
jaringan tertentu menyebabkan toksisitas (keracunan) yang khas dengan
akibat kerusakan serius pada orang tersebut. Apabila toksisitas terlalu berat
dapat mengancam kehidupan sehingga meninggal. Obat ini juga bersifat
toksis pada beberapa organ seperti jantung, hati, ginjal dan sistem syaraf.
Toksisitas dini terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah
diberikannnya terapi dan biasanya berkaitan dengan pengaruh sitotoksik
pada sel-sel yang aktif membelah diri pada sumsum tulang, epitel saluran
cerna, kulit dan rambut.
Efek lambat berlangsung selang beberapa minggu, bulan, atau tahun dan
lebih menyerang organ-organ tertentu seperti jantung, paru-paru, ginjal dan
sebagainya. Beberpa jenis toksisitas terjadi apabila pasien terpapar berulang
kali atau menerima dosis kumulatif.
Komplikasi agen kemoterapi yang paling sering membahayakan jiwa adalah
supresi sumsum tulang yang ditandai dengan trombositopenia, anemia,
leukopenia. Kebanyakan agen kemoterapi juga memiliki efek mukositas
yang dapat terjadi pada rongga mulut sampai dengan rektum. Umumnya
terjadi pada hari ke-5 samap 7 setelah kemoterapi.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN (TEORI)
a. Pengkajian
1. Aktivitas
Gejala: Kelemahan, malaise, kelemahan; ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas biasanya.
Tanda: Kelelahan otot. Peningkatan kebutuhan tidur, somnolen.
2. Sirkulasi
Gejala: Palpitasi
Tanda: Takikardi, murmur jantung. Kulit, membran mukosa pucat, nadi,
TD Defisit saraf kranial dan atau tanda perdarahan serebral.
3. Eliminasi
Gejala: Diare; nyeri tekan perianal, nyeri. Darah merah terang pada tisu,
feses hitam. Darah pada urin (gross hematuria), penurunan haluran urin.
4. Integritas Ego
Gejala: Perasaan tidak berdaya/tidak ada harapan
Tanda: Depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang
Perubahan alam perasaan, kacau.
5. Makanan/cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah. Perubahan
rasa/penyimpangan rasa. Penurunan berat badan, Faringitis, disfagia.
Tanda: Distensi abdominal, penurunan bunyi usus. Splenomegali,
hepatomegali; ikterik, Stomatitis, ulkus mulut. Hipertrofi gusi
6. Neuorosensori
Gejala: Kurang/penuurunan koordinasi, penurunan kesadaran, pusing.
Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi. Pusing;
kebas, kesemutan, parastesia
Tanda: Otot mudah terangsang, aktivitas kejang, delirium, muntah-
muntah
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala: Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang/sendi; nyeri tekan
sternal, kram otot.
Tanda: Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, fokus pada diri sendir.
8. Pernapasan
Gejala: Nafas pendek dengan kerja minimal
Tanda: Dipsnea, takipnea, sianosi. Batuk, Gemericik, ronchi, Penurunan
bunyi
9. Keamanan
Gejala: Riwayat infeksi saat ini/dahulu; Gangguan
penglihatan/kerusakan. Perdarahan spontan tak terkontrol dengan trauma
minima
Tanda: Demam, infeksi, Kemerahan, purpura, perdarahan retinal,
perdarahan gusi, atau epistaksis. Pembesaran nodus limfe, limpa, atau
hati (sehubungan dengan invasi jaringan). Papiledema dan eksoftalmus,
Infiltrat leukimia pada dermis
10. Seksulitas
Gejala: Perubahan libido, Perubahan aliran menstruasi, menorgia.
Impoten
11. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Riwayat terpajan pada kimiawi, mis.benzene, fenilbutazon,
kloramfenikol; kadar ionisasi radiasi berlebihan; pengobatan kemoterapi
sebelumnya, khususnya agen pengkelat. Gangguan kromosom, contoh
sindrome Down atau anemia Franconi aplastik.
Pemeriksaan Diagnostik
1. Hitung darah lengkap: Menunjukkan normositik, anemia normositik.
2. Hemoglobulin: dapat kurang dari 10 gr/100 ml.
3. Retikulosit: Jumlah biasanya rendah
4. Trombosit: sangat rendah <50.000/mm.
5. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP imatur.
6. PTT: memanjang
7. LED: mungkin meningkat
8. Asam urat serum: mugkin meningkat
9. Muramidase serum: pengiktan pada leukimia monositik akut dan
mielomonositik.
10. Copper serum: meningkat
11. Zink serum: menurun
12. Foto dada dan biopsi nodus limfe: dapat mengindikasikan derajat
keterlibatan.
13. Aspirasi sumsum tulang
14. Pemeriksaan fungsi ginjal
15. Pemeriksaan elektrolit
b. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperwatan yang akan muncul adalah :
Diagnosa Etiologi
a. Resiko tinggi infeksi a. Tidak adekuatnya pertahanan
b. Resiko tinggi terhadap sekunder, Tidak adekuatnya
kekurangan volume cairan pertahan primer, Prosedur infasiv,
c. Nyeri Malnutrisi, penyakit kronis
d. Intoleransi aktivitas b. Penurunan pemasukan cairan,
e. Kurang pengetahuan tentang kehilangan yang berlebihan oleh
penyakit, prognosis, dan perdarahan, peningktan kebutuhan
kebutuhan pengobatan. cairan
f. Perubahan perfusi jaringan c. Pembesaran organ/nodus limfe,
g. Gangguan pertukaran gas sumsum tulang yang dikemas
h. Gangguan pemenuhan nutrisi dengan sel leukemik, manifestasi
i. PK : Trombositopenia psikologis
d. Peningkatan laju metabolik dan
produksi leukosit masif ketidak
seimbangan antara suplai dan
kebutuhan okaigen, pembatasan
terapeutik (isolasi/tirah baring
lama); efek terapi obat
e. Kurang terpajan pada sumber,
salah interpretasi informasi/kurang
mengingat.
f. Penurunan kadar Hb sekunder
oleh destruksi sel darah merah
g. Hambatan ventilasi dan perfusi
h. Anoreksia
c. Intervensi Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan leukemia secara
teoritis menurut Dongoes, Marylinn E, (2000: 599604) yaitu:
1. Resiko tinggi infeksi behubungan dengan tidak adekuat pertahan sekunder
Tujuan: Mengidentifikasi tindakan untuk mencegah atau menurunkan
resiko tinggi.
Tindakan atau intervensi (rasional):
Mandiri: Tempatkan pada ruanga khusus. Batasi pengunjung sesuai
indikasi. Rasional: Melindungi dari sumber potensial patogen/infeksi.
Catatan: supresi sumsum tulang berat, neutropenia, dan kemoterapi
menempatkan pasien pada resiko tinggi infeksi.
Mandiri: Berikan protokol untuk mencuci tangan yang baik untuk semua
petugas dan pengunjung.
Rasional: Mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi.
Mandiri: Awasi tanda-tanda infeksi. Perhatikan hubungan antara
peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam
sehubungan dengan takikardi, hipotensi, perubahan mental samar.
Rasional: Hipertermia lanjut terjadi padea beberapa tipe infeksi, dan
demam (tidak berhubungan dengan obat atau produk darah) terjadi pada
banyak pasien leukimia. Catatan: Septikemia dapat terjadi tanda demam.
Mandiri: Cegah menggigil: tingkatkan cairan. Berikan mandi kompres.
Rasional: Membantu menurunkan demam, yang menambah ketidak
seimbangan cairan, ketidak nyamanan, dan komplikasi SSP.
Mandiri: Dorong klien untuk sering mengubah posisi, nafas dalam, dan
batuk. Rasional: Mencegah statis sekret pernafasan, menurunkan resiko
atelektasis/pneumonia.
Mandiri: Insfeksi kulit untuk nyeri tekan. Rasional: Mengidentifikasi
infeksi lokal
Mandiri: Inspeksi membran mukosa mulut. Rasional: Rongga mulut
adalah medium yang baik untuk perumbuhan organisme
Kolaborasi: Hitung darah lengkap. Rasional: Penurunan SDP abnormal
dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapi.
Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik.
Rasional: Untuk mengobatkan infeksi
Kolaborasi: Berikan diet rendah bekteri, misalnya makanan dimasak,
diproses.
Rasional: Meminimalkan sumber potensial kontaminasi bakterial.
2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
pendarahan
Tujuan: Menunjukan volume cairan adekuat, dibuktikan oleh tanda vital
stabil, nadi teraba, dan haluaran urin.
Tindakan atau intervensi (rasional):
Mandiri: Awasi intake dan output
Rasional: Kemungkinan dapat mengakibatkan batu ginjal, retensi urin dan
ginjal.
Mandiri: Timbang berat badan setiap hari
Rasional: Mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai fungsi ginjal.
Mandiri: Awasi tekanan darah dan frekuensi jantung
Rasional: Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemia
(perdarahan/dehidrasi).
Mandiri: Perhatikan perdarah gusi
Rasional: Supresi sumsum tulang dapat produksi trombosit menempatkan
pasien pada resiko perdarahan spontan tak terkendali.
Kolaborasi: Berikan cairan intravena sesuai indikasi
Rasional: Mempertahankan keseimbangan cairan atau elektrolit karena
tidak adekuatnya pemasukan oral.
Kolaborasi: Berikan transfusi SDM, trombosit, faktor pembekuan.
Rasional: Memperbaiki atau menormalkan jumlah SDM dan kapasitas
pembawa oksigen untuk memperbaiki anemia, berguna untuk mencegah
atau mengobati pendarahan.
3. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran organ/nodus limfe, sumsum
tulang yang dikemas dengan sel leukemik.
Tujuan: Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
Tindakan atau inetrvensi (Rasional):
Mandiri: Selidiki keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dua sisi
(gunakan skala 0-10).
Rasional: Membantu mengkaji kebutuhan untuk intervensi:dapat
mengidfentifikasi terjadinya komplikasi.
Mandiri: Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi, ekstrimitas
dengan bantal atau bantalan.
Rasional: Dapat menurunkan ketidaknyamanan tulang atau sendi.
Mandiri: Ubah posisi secara periodik dan berikan atau bantu latihan
rentang gerak.
Rasional: Memperbaiki sirkulasi jaringan dan mobilitas sendi.
Mandiri: Bantu atau berikan aktivitas terapeutik dan tehnik relaksasi
Rasional: Membantu manajemen nyeri dengan perhatian langsung.
Kolaborasi: Awasi kadar asam urat
Rasional: Penggantian cepat dan dekstruksi leukemia (sel) selama
kemoterapi meningkatkan asam urat, menyebabkan pembengkakan dan
nyeri sendi.
Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan: laporan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur (nadi,
pernafasan, tekanan darah dalam batas normal).
Tindakan/Intervensi (Rasional):
Mandiri: Perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas
sehari-hari.
Rasional: Efek leukimia, anemia dan kemoterapi: mungkin komulatif.
Mandiri: Berikan lingkungan yang tenang
Rasional: Menghemat energik untuk aktivitas dan regenarasi
seluler/penyembuhan jaringan.
Mandiri: Implmentasikan tehnik penghematan energi.
Rasional: Memaksimalkan persediaan energi untuk tugas perawtan diri.
Kolaborasi: Berikan oksigen tambahan
Rasional: Memaksimalkan persediaan oksigen untuk kebutuhan seluler.
5. Kurang Pengetahuan Berhubungan Dengan Kurang Terpajan Pada
Sumber
Tujuan: Menyatukan pemahaman kondisi / proses penyakit dan
pengobatan.
Tindaka /intervensi (Rasional):
Mandiri: Kaji ulang patologi batuk khusus leukimiadan berbagai batuk
pengobatan.
Rasional: Pengobatan doat termasuk berbagai obat anti neoplastik radiasi
seluruh tubuh atau hati limfa, transfusi atau transportasi sumsum tulang.
6. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan hambatan ventilasi dan
perfusi
Tujuan: Menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil,
membran mukosa warna merah muda, pengisian kapiler baik, haluaran
urin adekuat.
Mandiri: Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna
kulit/membran mukosa, dasar kuku.
Rasional: Memeberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi
jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
Mandiri: Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi,
gangguan memori, bingung.
Rasional: Dapat mengidentifikasikan gangguan fungsi serebral karena
hipoksia atau defisiensi vitamin B12.
Mandiri: Catat keluhan rasa dingin, perthankan suhu lingkungan,
pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi.
Rasional: Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.
Kenyamana pasien/kenutuhan rasa hangat harus seimbang dengan
kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi
(penurunan perfusi organ).
Kolaborasi: Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya Hb/Ht dan jumlah
SDM, GDA.
Rasional: Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan respon
terhadap terapi.
Kolaborasi: Berikan SDM darah lengakap/packed, produk darah sesuai
indikasi, awasi ketat untuk komplikasi transfusi.
Rasional: Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki
defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudoyo, Aru.W. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta
Permono, Bambang. (2005). Buku Ajar Hematologo-Onkologi Anak. Badan
Penerbit IDAI. Jakarta
Engram, Barbara. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah. EGC.
Jakarta:1999
Doenges, Marilyn. E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC.
Jakarta
Long, Barbar C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan keperawatan. Bandung.
Metastasic cancer. 2007 Nov 19. [cited 2007 Nov 15]. Available from:
URL:http://www.zometa.com/med/topi 1332.htm, diakses tanggal 19 Juni
2012.
Siswono,dr. [online] 2007 Nov 18. Penyebaran kanker Ganas. Bag. Radiology
FKUI, Jakarta. URL: http://www.portalkalbe.com, diakses tanggal 19 Juni
2012.