Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur
yang bisa bersifat sementara atau persisten (Siregar, 2011:73). Insomnia
merupakan suatu keadaan seseorang yang mengalami sulit untuk tidur atau
sering terbangun di malam hari atau bangun terlalu pagi (Hariana, 2004:46).
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa insomnia
merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami gangguan tidur
berupa kesulitan untuk memulai tidur, sering terbangun dimalam hari atas
sering bangun terlalu pagi yang dapat bersifat sementara atau persisten.
Insomnia merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai di semua
lingkungan, baik di negara maju maupun negara berkembang (Susilo dan
Wulandari, 2011:24).
Insomnia adalah salah satu fenomena umum dalam gangguan pola tidur.
Jangka panjang dapat menyebabkan gejala somatik dan perkembangan
penyakit (Siregar, 2011:73). Sekarang ini insomnia tidak hanya menjadi
masalah pada anak-anak dan remaja, tetapi bisa juga terjadi pada orang
dewasa bahkan cenderung terjadi pada usia lanjut. Dari semua kelompok usia
yang ada, masalah insomnia sering terjadi pada usia lanjut. Makin lanjut usia
seseorang, makin banyak terjadi insomnia. Pada usia lebih dari 50 tahun,
angka kejadian insomnia sekitar 30% (Siregar, 2011:75).
Sebagian besar lansia mempunyai resiko tinggi mengalami gangguan tidur
akibat berbagai faktor. Orang lanjut usia yang sehat sering mengalami
perubahan pada pola tidurnya yaitu memerlukan waktu yang lama untuk dapat
tidur. Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan perubahan pola tidur.
Menurut teori penuaan biologi, lansia mengalami penurunan fungsi dan
struktur atau mengalami proses degeneratif. Hal ini mengakibatkan perubahan
sistem saraf pusat, antara lain sistem gelombang otak dan siklus sirkadian.
Perubahan tersebut menyebabkan terganggunya pusat pengaturan tidur yang
2

ditandai dengan menurunnya aktivitas gelombang alfa sehingga


mempengaruhi proses tidur (Kurnia, 2009:84).
Menurut data dari WHO (World Health Organization) kurang lebih 18%
penduduk dunia pernah mengalami gangguan sulit tidur dan meningkat setiap
tahunnya dengan keluhan yang sedemikian hebat sehingga menyebabkan
tekanan jiwa bagi penderitanya. Pada saat ini diperkirakan 1 dari 3 orang
mengalami insomnia. Nilai ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan
penyakit lainnya (Siregar, 2011:74). Prevalensi insomnia di Indonesia sekitar
10%. Artinya kurang lebih 28 juta dari total 238 juta penduduk Indonesia
menderita insomnia. Jumlah ini hanya mereka yang terdata dalam data
statistik. Selain itu, masih banyak jumlah penderita insomnia yang belum
terdeteksi (Siregar, 2011:12).
Lanjut Usia adalah usia 60 tahun ke atas sesuai dengan definisi World
Health Organization (WHO) yang terdiri dari: 1. Usia lanjut (elderly) 60-74
tahun 2. Usia tua (old) 75-90 tahun 3. Usia sangat lanjut (very old) diatas 90
tahun (WHO,2009). Di Indonesia pada tahun 1999, proporsi penduduk berusia
60-64 tahun besarnya 2,9%, kelompok berusia 65-69 tahun sebesar 2,3%,
kelompok berusia 70-74 tahun 1,4%, dan penduduk berusia 75 tahun lebih
besar 1,4%. Umur harapan hidup penduduk Indonesia pada tahun 2000 adalah
68,23 tahun, yang diatas 70 tahun adalah Jakarta, Jawa tengah 72 tahun,
Sumatera selatan 71 tahun, Sumatera utara 70 tahun (Prayitno, 2002). Lebih
dari 80% penduduk lansia menderita penyakit fisik yang mengganggu fungsi
mandirinya. Sejumlah 30% penderita yang menderita penyakit fisik tersebut
menderita kondisi komorbid psikiatrik, terutama depresi dan cemas. Sebagian
besar lanjut usia yang menderita penyakit fisik dan gangguan mental tersebut
menderita gangguan tidur atau insomnia (Prayitno, 2002). Indonesia adalah
termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lansia. Berdasarkan
data Biro Pusat Statistik penduduk Jawa Tengah menyebutkan bahwa jumlah
penduduk lansia diatas 65 tahun di Jawa Tengah pada tahun 2002 sebesar
2.016.003 jiwa, tahun 2004 sebesar 2.118.338 jiwa, dan tahun 2006 mencapai
2.281.200 jiwa. Sedangkan, di Kota Surakarta dengan usia 65 tahun ke atas
berjumlah 27.594 jiwa dari total penduduk Kota Surakarta 512.898 jiwa (Biro
3

Pusat Statistik Jawa Tengah, 2006). Insomnia biasanya timbul sebagai gejala
suatu gangguan lain yang mendasarinya, seperti kecemasan dan depresi atau
gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia. Insomnia yang ringan
tidak perlu diberi obat, tetapi cukup dengan penjaminan kembali. Insomnia
yang berat biasanya merupakan gejala gangguan yang lain atau dapat
merupakan faktor penyebab (misalnya kelemahan badan, tremor,
berkurangnya kosentrasi) atau faktor pencetus karena stres yang
ditimbulkannya (seperti gejala-gejala skizofrenia) mungkin timbul lagi atau
kecemasan. Insomnia pada pagi-pagi sekali (penderita tertidur biasa, tetapi
terbangun pukul 02 atau 03 lalu tidak dapat tidur lagi. Biasanya merupakan
gejala depresi endogenik. Kesukaran untuk memulai tidur biasanya terdapat
pada nerosa (depresi atau cemas). Terdapat juga pasien yang takut tertidur
karena takut mimpi buruk (Maramis, 2005).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah penulisan laporan ini sebagai berikut:
1. Apa saja konsep dasar lansia?
2. Apa definisi konsep lansia?
3. Apa saja batasan umur lansia ?
4. Apa saja klasifikasi lansia ?
5. Apa saja karakeristik lansia ?
6. Apa saja tipe lansia ?
7. Apa saja proses penuaan pada lansia ?
8. Apa saja teori proses penuaan ?
9. Apa definisi insomnia ?
10. Apa penyebab insomnia ?
11. Apa saja Tipe-tipe insomnia ?
12. Apa saja Dampak insomnia ?
13. Apa saja klasifikasi insomnia ?
14. Apa saja fisiologi tidur normal ?
15. Apa saja Perubahan pola tidur pada lansia ?
16. Bagaimana kualitas tidur pada lansia?
4

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.2 Tujuan Umum
Untuk dapat mengetahui tentang insomnia pada lansia
1.3.3 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep dasar lansia
2. Untuk mengetahui definisi konsep lansia
3. Untuk mengetahui batasan umur lansia
4. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi lansia
5. Untuk mengetahui Apa saja karakeristik lansia
6. Untuk mengetahui Apa saja proses penuaan pada lansia
7. Untuk mengetahui definisi insomnia
8. Untuk mengetahui penyebab insomnia
9. Untuk mengetahui Tipe-tipe insomnia
10. Untuk mengetahui Dampak insomnia
11. Untuk mengetahui Apa saja klasifikasi insomnia ?
12. Untik mengetahui Apa saja fisiologi tidur normal ?
13. Untuk mengetahui Perubahan pola tidur pada lansia ?
14. Untuk mengetahui kualitas tidur pada lansia?

1.4 Manfaat Penulisan


Agar pembaca dapat memahi bagaiman Penyebab insomnia pada lansia, tipt
tipe insomnia, dan penatalaksaan insomnia pada.
5

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Lanjut Usia


2.1.1 Definisi Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU
No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut
adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam
dkk, 2008).
Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia
(lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit,
namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang
ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi
dengan stres lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh
kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap
kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya
kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual
(Efendi, 2009).
Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia
(lansia) dimulai pada abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun
merupakan batas minimal untuk kategori lansia. Namun, banyak lansia
yang masih menganggap dirinya berada pada masa usia pertengahan.
Usia kronologis biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan dengan
kenyataan penuaan lansia. Setiap orang menua dengan cara yang
berbeda-beda, berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya. Setiap lansia
adalah unik, oleh karena itu perawat harus memberikan pendekatan
yang berbeda antara satu lansia dengan lansia lainnya (Potter & Perry,
2009).
6

2.1.2 Batasan Umur Lanjut Usia


Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-
batasan umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai
berikut:
- Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal
1 ayat 2 yang berbunyi Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai
usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.
- Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi
menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah
45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua
(old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90
tahun.
- Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :
pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities)
ialah 40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun,
keempat (fase senium) ialah 65 hingga tutup usia.
- Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia
(geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric
age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old
(70-75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun) (Efendi,
2009).
-
2.1.3 Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia
berdasarkan Depkes RI (2003) dalam Maryam dkk (2009) yang terdiri
dari : pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59
tahun, lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, lansia
resiko tinggi ialah seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang
yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan, lansia
potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa, lansia tidak potensial
7

ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya


bergantung pada bantuan orang lain.
2.1.4 Karakteristik Lansia
Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut: berusia lebih dari 60
tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan),
kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit,
dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi
adaptif hingga kondisi maladaptif, lingkungan tempat tinggal bervariasi
(Maryam dkk, 2008).

2.1.5 Tipe Lansia


Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman
hidup, lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya
(Nugroho 2000 dalam Maryam dkk, 2008). Tipe tersebut dijabarkan
sebagai berikut.
2.1.5.1 Tipe arif bijaksana
Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan
perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah
hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi
panutan.
2.1.5.2 Tipe mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
2.1.5.3 Tipe tidak puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik
dan banyak menuntut.
2.1.5.4 Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan
melakukan pekerjaan apa saja.
8

2.1.5.5 Tipe bingung


Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,
menyesal, pasif, dan acuh tak acuh. Tipe lain dari lansia adalah tipe
optimis, tipe konstruktif, tipe independen (ketergantungan), tipe
defensife (bertahan), tipe militan dan serius, tipe pemarah/frustasi
(kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), serta tipe putus
asa (benci pada diri sendiri).

2.1.6 Proses Penuaan


Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku
yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka
mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan
suatu fenomena yang kompleks multidimensional yang dapat
diobservasi di dalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan
sistem. (Stanley, 2006).
Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik
perkembangan yang maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut
dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh.
Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi secara
perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan (Maryam dkk,
2008).
Aging process atau proses penuaan merupakan suatu proses
biologis yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang.
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
(gradual) kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti
serta mempertahankan struktur dan fungsi secara normal, ketahanan
terhadap cedera, termasuk adanya infeksi.
Proses penuaan sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai
dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot,
susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi
sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia berapa
kondisi kesehatan seseorang mulai menurun. Setiap orang memiliki
9

fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal
pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya.
Umumnya fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya pada usia 20-30
tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam
kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi
sedikit sesuai dengan bertambahnya usia (Mubarak, 2009).
Pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah,
baik secara biologis, mental, maupun ekonomi. Semakin lanjut usia
seseorang, maka kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga
dapat mengakibatkan kemunduran pada peran-peran sosialnya (Tamher,
2009). Oleh karena itu, perlu perlu membantu individu lansia untuk
menjaga harkat dan otonomi maksimal meskipun dalam keadaan
kehilangan fisik, sosial dan psikologis (Smeltzer, 2001).

2.1.7 Teori-Teori Proses Penuaan


Menurut Maryam, dkk (2008) ada beberapa teori yang berkaitan
dengan proses penuaan, yaitu : teori biologi, teori psikologi, teori sosial,
dan teori spiritual.
2.1.7.1 Teori biologis
Teori biologi mencakup teori genetik dan mutasi,
immunology slow theory, teori stres, teori radikal bebas, dan teori
rantai silang.
2.1.7.2 Teori genetik dan mutasi
Menurut teori genetik dan mutasi, semua terprogram secara
genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat
dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul
DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

2.1.7.3 Immunology slow theory


Menurut immunology slow theory, sistem imun menjadi
efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam
tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
10

2.1.7.4 Teori stress


Teori stres mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya
sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak
dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan
usaha, dan stres yang menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.

2.1.7.5 Teori radikal bebas


Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak
stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi
oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein.
Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi.

2.1.7.6 Teori rantai silang


Pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia
sel-sel yang tua menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya
jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas
kekacauan, dan hilangnya fungsi sel.
2.1.7.7 Teori psikologi
Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula
dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif.
Adanya penurunan dan intelektualitas yang meliputi persepsi,
kemampuan kognitif, memori, dan belajar pada usia lanjut
menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan
berinteraksi.Persepsi merupakan kemampuan interpretasi pada
lingkungan. Dengan adanya penurunan fungsi sistem sensorik,
maka akan terjadi pula penurunan kemampuan untuk menerima,
memproses, dan merespons stimulus sehingga terkadang akan
muncul aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang ada.

2.1.7.8 Teori social


Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses
penuaan, yaitu teori interaksi sosial (social exchange theory), teori
penarikan diri (disengagement theory), teori aktivitas (activity
theory), teori kesinambungan (continuity theory), teori
11

perkembangan (development theory), dan teori stratifikasi usia


(age stratification theory).

2.1.7.9 Teori interaksi social


Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak
pada suatu situasi tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai
masyarakat. Pada lansia, kekuasaan dan prestasinya berkurang
sehingga menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang,
yang tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan mereka untuk
mengikuti perintah.

2.1.7.10 Teori penarikan diri


Teori ini menyatakan bahwa kemiskinan yang diderita
lansia dan menurunnya derajat kesehatan mengakibatkan seorang
lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan di
sekitarnya.

2.1.7.11 Teori aktivitas


Teori ini menyatakan bahwa penuaan yang sukses
bergantung bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalam
melakukan aktivitas serta mempertahankan aktivitas tersebut lebih
penting dibandingkan kuantitas dan aktivitas yang dilakukan.

2.1.7.12 Teori kesinambungan


Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam
siklus kehidupan lansia. Pengalaman hidup seseorang pada suatu
saat merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi lansia.
Hal ini dapat terlihat bahwa gaya hidup, perilaku, dan harapan
seseorang ternyata tidak berubah meskipun ia telah menjadi lansia.

2.1.7.13 Teori perkembangan


Teori perkembangan menjelaskan bagaimana proses
menjadi tua merupakan suatu tantangan dan bagaimana jawaban
lansia terhadap berbagai tantangan tersebut yang dapat bernilai
positif ataupun negatif. Akan tetapi, teori ini tidak menggariskan
12

bagaimana cara menjadi tua yang diinginkan atau yang seharusnya


diterapkan oleh lansia tersebut.

2.1.7.14 Teori stratifikasi usia


Keunggulan teori stratifikasi usia adalah bahwa pendekatan
yang dilakukan bersifat deterministik dan dapat dipergunakan
untuk mempelajari sifat lansia secara kelompok dan bersifat
makro. Setiap kelompok dapat ditinjau dari sudut pandang
demografi dan keterkaitannya dengan kelompok usia lainnya.
Kelemahannya adalah teori ini tidak dapat dipergunakan untuk
menilai lansia secara perorangan, mengingat bahwa stratifikasi
sangat kompleks dan dinamis serta terkait dengan klasifikasi kelas
dan kelompok etnik.

2.1.7.15 Teori spiritual


Komponen spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada
pengertian hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi
individu tentang arti kehidupan.
2.1.7.16 Tugas Perkembangan Lansia
Lansia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik
yang terjadi seiring penuaan. Waktu dan durasi perubahan ini
bervariasi pada tiap individu, namun seiring penuaan sistem tubuh,
perubahan penampilan dan fungsi tubuh akan terjadi. Perubahan ini
tidak dihubungkan dengan penyakit dan merupakan perubahan
normal. Adanya penyakit terkadang mengubah waktu timbulnya
perubahan atau dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Adapun tugas perkembangan pada lansia dalam adalah :
beradaptasi terhadap penurunan kesehatan dan kekuatan fisik,
beradaptasi terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan,
beradaptasi terhadap kematian pasangan, menerima diri sebagai
individu yang menua, mempertahankan kehidupan yang
memuaskan, menetapkan kembali hubungan dengan anak yang
13

telah dewasa, menemukan cara mempertahankan kualitas hidup


(Potter & Perry, 2009).

2.2 Konsep Insomnia


2.2.1 Definisi
Insomnia adalah ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur
baik kualitas maupun kuantitas. Jenis insomnia ada 3 macam yaitu
insomnia inisial atau tidak dapat memulai tidur, insomnia intermitten
atau tidak bisa mempertahankan tidur atau sering terjaga dan insomnia
terminal atau bangun secara dini dan tidak dapat tidur kembali (Potter,
2005). Untuk menyembuhkan insomnia, maka terlebih dahulu harus
dikenali penyebabnya. Artinya, kalau disebabkan penyakit tertentu,
maka untuk mengobatinya maka penyakitnya yang harus disembuhkan
terlebih dahulu (Aman, 2005).

2.2.2 Penyebab insomnia


Sebab-sebab terjadinya insomnia antara lain :
- Suara atau bunyi : Biasanya orang dapat menyesuaikan dengan suara
atau bunyi sehingga tidak mengganggu tidurnya. Misalnya seseorang
yang takut diserang atau dirampok, pada malam hari terbangun
berkali-kali hanya suara yang halus sekalipun.
- Suhu udara : Kebanyakan orang akan berusaha tidur pada suhu udara
yang menyenangkan bagi dirinya. Bila suhu udara rendah memakai
selimut dan bila suhu tinggi memakai pakaian tipis, insomnia ini
sering dijumpai didaerah tropic.
- Tinggi suatu daerah ; Insomnia merupakan gejala yang sering
dijumpai pada mountain sickness (mabuk udara tipis), terjadi pada
pendaki gunung yang lebih dari 3500 meter diatas permukaan air
laut.
- Penggunaan bahan yang mengganggu susunan saraf pusat : insomnia
dapat terjadi karena penggunaan bahan-bahan seperti kopi yang
mengandung kafein, tembakau yang mengandung nikotin dan
14

obatobat pengurus badan yang mengandung anfetamin atau yang


sejenis.
- Penyakit psikologi : Beberapa penyakit psikologi ditandai antara lain
dengan adanya insomnia seperti pada gangguan afektif, gangguan
neurotic, beberapa gangguan kepribadian, gangguan stress
pascatrauma dan lain-lain (Joewana, 2006).

2.2.3 Tipe-tipe insomnia


Insomnia terdiri atas tiga tipe :
- Tidak bisa masuk atau sulit masuk tidur yang disebut juga insomnia
inisial dimana keadaan ini sering dijumpai pada orang-orang muda.
Berlangsung selama 1-3 jam dan kemudian karena kelelahan ia biasa
tertidur juga. Tipe insomnia ini bisa diartikan ketidakmampuan
seseorang untuk tidur.
- Terbangun tengah malam beberapa kali, tipe insomnia ini dapat
masuk tidur dengan mudah, tetapi setelah 2-3 jam akan terbangun
dan tertidur kembali, kejadian ini dapat terjadi berulang kali. Tipe
insomnia ini disebut jaga intermitent insomnia.
- Terbangun pada waktu pagi yang sangat dini disebut juga insomnia
terminal, dimana pada tipe ini dapat tidur dengan mudah dan cukup
nyenyak, tetapi pada saat dini hari sudah terbangun dan tidak dapat
tidur lagi (Erry 2000).

2.2.4 Dampak insomnia


Insomnia dapat memberi efek pada kehidupan seseorang, antara lain :
- Efek fisiologis : Karena kebanyakan insomnia diakibatkan oleh
stress
- Efek psikologis : Dapat berupa gangguan memori, gangguan
berkonsentrasi, kehilangan motivasi, depresi dan lain-lain.
- Efek fisik/somatic : Dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi
dan sebagainya.
15

- Efek sosial : Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti


susah mendapat promosi pada lingkungan kerjanya, kurang bisa
menikmati hubungan sosial dan keluarga.
- Kematian orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki
angka
- harapan hidup lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam.
Hal ini mungkin disebabkan karena penyakit yang mengindiksi
insomnia yang memperpendek angka harapan hidup atau karena high
arousal state yang terdapat pada insomnia. Selain itu, orang yang
menderita insomnia memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar untuk
mengalami kecelakaan lalu lintas jika dibandingkan dengan orang yang
normal (Turana, 2007).

2.2.5 Klasifikasi Insomnia


2.2.5.1 Gangguan tidur primer
Gangguan tidur primer adalah gangguan tidur yang bukan
disebabkan oleh gangguan mental lain, kondisi medik umum, atau zat.
Gangguan tidur ini dibagi dua yaitu disomnia dan parasomnia. Disomnia
ditandai dengan gangguan pada jumlah, kualitas, dan waktu tidur.
Parasomnia dikaitkan dengan perilaku tidur atau peristiwa fisiologis yang
dikaitkan dengan tidur, stadium tidur tertentu atau perpindahan tidur-
bangun. Disomnia terdiri dari insomnia primer, hipersomnia primer,
narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan,
gangguan ritmik sirkadian tidur, dan disomnia yang tidak dapat
diklasifikasikan. Parasomnia terdiri dari gangguan mimpi buruk, gangguan
teror tidur, berjalan saat tidur, dan parasomnia yang tidak dapat
diklasifikasikan.
2.2.5.2 Gangguan tidur terkait gangguan mental lain
Gangguan tidur terkait gangguan mental lain yaitu terdapatnya
keluhan gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh gangguan
mental lain (sering karena gangguan mood) tetapi tidak memenuhi syarat
untuk ditegakkan sebagai gangguan tidur tersendiri. Ada dugaan bahwa
16

mekanisme patofisiologik yang mendasari gangguan mental juga


mempengaruhi terjadinya gangguan tidur-bangun. Gangguan tidur ini
terdiri dari: Insomnia terkait aksis I atau II dan Hipersomnia terkait aksis I
atau II.
2.2.5.3 Gangguan tidur akibat kondisi medik umum
Gangguan akibat kondisi medik umum yaitu adanya keluhan
gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh pengaruh fisiologik
langsung kondisi medik umum terhadap siklus tidur-bangun. Gangguan
tidur akibat zat Yaitu adanya keluhan tidur yang menonjol akibat sedang
menggunakan atau menghentikan penggunaan zat (termasuk medikasi).
Penilaian sistematik terhadap seseorang yang mengalami keluhan tidur
seperti evaluasi bentuk gangguan tidur yang spesifik, gangguan mental
saat ini, kondisi medik umum, dan zat atau medikasi yang digunakan,
perlu dilakukan.
2.2.6 Tanda dan Gejala
Menurut Remelda (2008), tanda dan gejala yang timbul dari pasien yang
mengalami insomnia yaitu penderita mengalami kesulitan untuk tertidur
atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan.
Insomnia juga bisa dialami dengan berbagai cara:
1. Sulit untuk tidur tidak ada masalah untuk tidur namun mengalami
kesulitan untuk tetap tidur (sering bangun)
2. Bangun terlalu awal Kesulitan tidur hanyalah satu dari beberapa gejala
insomnia. Gejala yang dialami waktu siang hari adalah:
- Resah
- Mengantuk
- Sulit berkonsentrasi
- Sulit mengingat
- Gampang tersinggung

2.2.7 Fisiologi Tidur Normal


Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu 7 jam untuk tidur
setiap malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang
17

membutuhkan tidur lebih atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh


beberapa faktor misalnya usia. Seseorang yang berusia muda cenderung
tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan lansia. Waktu tidur lansia
berkurang berkaitan dengan faktor ketuaan. Fisiologi tidur dapat dilihat
melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur.
Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak
selama tidur. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur
malam hari. Alat tersebut dapat mencatat aktivitas EEG,
elektrookulografi, dan elektromiografi. Elektromiografi perifer berguna
untuk menilai gerakan abnormal saat tidur. Stadium tidur - diukur dengan
polisomnografi - terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur
non-rapid eye movement (NREM). Tidur REM disebut juga tidur D atau
bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks
karena EEG aktif selama fase ini. Tidur NREM disebut juga tidur
ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua stadia ini
bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 120 menit.
Secara umum ada 4-6 siklus NREM-REM yang terjadi setiap malam.
Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam,
periode REM makin panjang. Tidur NREM terdiri dari empat stadium
yaitu stadium 1,2,3,4.

2.2.8 Perubahan Tidur Pada Lansia


Pola tidur-bangun berubah sesuai dengan bertambahnya umur.
Pada masa neonatus sekitar 50% waktu tidur total adalah tidur REM.
Lama tidur sekitar 18 jam. Pada usia satu tahun lama tidur sekitar 13 jam
dan 30 % adalah tidur REM. Waktu tidur menurun dengan tajam setelah
itu. Dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8 jam dengan NREM 75%
dan REM 25%. Kebutuhan ini menetap sampai batas lansia. Lansia
menghabiskan waktunya lebih banyak di tempat tidur, mudah jatuh tidur,
tetapi juga mudah terbangun dari tidurnya.
Perubahan yang sangat menonjol yaitu terjadi pengurangan pada
gelombang lambat, terutama stadium 4, gelombang alfa menurun, dan
18

meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya


fragmentasi tidur karena seringnya terbangun. Gangguan juga terjadi pada
dalamnya tidur sehingga lansia sangat sensitif terhadap stimulus
lingkungan. Selama tidur malam, seorang dewasa muda normal akan
terbangun sekitar 2-4 kali. Tidak begitu halnya dengan lansia, ia lebih
sering terbangun. Walaupun demikian, rata-rata waktu tidur total lansia
hampir sama dengan dewasa muda. Ritmik sirkadian tidur-bangun lansia
juga sering terganggu. Jam biologik lansia lebih pendek dan fase tidurnya
lebih maju. Seringnya terbangun pada malam hari menyebabkan keletihan,
mengantuk, dan mudah jatuh tidur pada siang hari. Dengan perkataan lain,
bertambahnya umur juga dikaitkan dengan kecenderungan untuk tidur dan
bangun lebih awal. Toleransi terhadap fase atau jadual tidur-bangun
menurun, misalnya sangat rentan dengan perpindahan jam kerja. Adanya
gangguan ritmik sirkadian tidur juga berpengaruh terhadap kadar hormon
yaitu terjadi penurunan sekresi hormon pertumbuhan, prolaktin, tiroid, dan
kortisol pada lansia. Hormon-hormon ini dikeluarkan selama tidur dalam.
Sekresi melatonin juga berkurang. Melatonin berfungsi mengontrol
sirkadian tidur. Sekresinya terutama pada malam hari. Apabila terpajan
dengan cahaya terang, sekresi melatonin akan berkurang.

2.2.9 Kualitas Tidur


Kualitas tidur merupakan konstruksi klinis yang penting. Hal ini
dikarenakan keluhan akan kualitas tidur umum terjadi di masyarakat dan
kualitas tidur yang buruk merupakan gejala penting dari adanya gangguan
tidur dan penyakit lainnya (Buysse et al, 1988). Potter & Perry (2005),juga
menambahkan pentingnya kualitas tidur terbaik dalam upaya peningkatan
kesehatan dan pemulihan individu yang sakit. Kualitas tidur adalah
karakteristik subjektif dan seringkali ditentukan oleh perasaan energik atau
tidak setelah bangun tidur (Kozier, 2008). Kualitas tidur adalah kepuasan
terhadap tidur, sehingga orang tersebut tidak memperlihatkan perasaan
lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di sekitar
mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, perhatian terpecah, sakit
19

kepala dan sering menguap atau mengantuk (Hidayat, 2006, dalam Sagala,
2011).
2.2.10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan insomnia ini
dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Tindakan Keperawatan
a. Kaji efek samping pengobatan pada pola tidur klien.
b. Pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor fisik
(misalnya: apnea saat tidur, sumbatan jalan nafas, nyeri /
ketidaknyamanan, dan sering berkemih).
c. Jelaskan pada klien pentingnya tidur adekuat (selama kehamilan,
sakit, stress psikososial).
d. Ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari faktor penyebab
(misal : gaya hidup, diet, aktivitas, dan faktor lingkungan).
e. Ajarkan klien dan kelurga dalam teknik relaksasi (pijat/urut
sebelum tidur, mandi air hangat, minum susu hangat).
Menurut Remelda (2008) untuk tindakan keperawatan pada pasien
insomnia dimulai dengan menghilangkan kebiasaan (pindah tempat
tidur, memakai tempat tidur hanya untuk tidur, dll). Jika tidak
berhasil dapat diberikan obat golongan hipnotik (harus konsultasi
dengan psikiater).
2. Tindakan Medis
Menurut Remelda (2008) untuk tindakan medis pada pasien insomnia
yaitu dengan cara pemberian obat golongan hipnotik-sedatif misalnya :
Benzodiazepin (Diazepam, Lorazepam, Triazolam, Klordiazepoksid)
tetapi efek samping dari obat tersebut mengakibatkan Inkoordinsi
motorik, gangguan fungsi mental dan psikomotor, gangguan
koordinasi berpikir, mulut kering.
20

2.3 Manajemen Keperawatan

2.3.1 Pengkajian

Aspek yang perlu dikaji pada klien untuk mengidentifikasi mengenai


gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi pengkaiian mengenal:

2.3.1.1 Riwayat Tidur

1. Pola tidur, seperti jam berapa klien masuk kamar untuk tidur, jam berapa
biasa bangun tidur, dan keteraturan pota tidur klien;

2. Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur, seperti membaca buku,


buang air kecil, dan lain-lain.

3. Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya.

4. Kebiasaan tidur siang.

5. lingkungan tidur klien. Bagaimana kondisi lingkungan tidur apakah


kondisinva bising, gelap, atau suhunya dingin dan lain lain.

6. Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. Perawat mempelajari


apakah peristiwa, yang dialami klien, yang menyebabkan klien mengalami
gangguan tidur.

7. Status emosi dan mental klien. Status emosi dan mental memengaruhi
terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Perawat perlu
mengkaji mengenai status emosional dan mental klien, misalnya apakah
klien mengalami stres emosional atau ansietas, juga dikaji sumber stres
yang dialami klien.

8. Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul
sebagai akibat gangguan istirahat tidur, seperti:

a. Penampilan wajah, misalnya adakah area gelap di sekitar mata,


bengkak di kclopak mata, konjungtiva kemerahan, atau mata yang
terlihat cekung;
21

b. Perilaku yang terkait dengan gangguan istirabat tidur, misalnya


apakah klien mudah tersinggung, selalu menguap, kurang konsentrasi,
atau terlihat bingung;

c. Kelelahan, misalnya apakah klien tampak lelah, letih, atau lesu.

2.3.1.2 Gejala Klinis

Gejala klinis yang mungkin muncul: perasaan lelah, gelisah, emosi, apetis,
adanya kehitaman di daerah sekitar mata bengkak, konjungtiva merah dan mata
perih, perhatian tidak fokus, sakit kepala.

2.3.1.3 Penyimpangan Tidur

Kaji penyimpangan tidur seperti insomnia, somnambulisme, enuresis, narkolepsi,


night terrors, mendengkur, dn lain-lin.

2.3.1.4 Pemeriksaan fisik

1. Tingkat energy, seperti terlihat kelelahan, kelemahan fisik, terlihat lesu

2. Ciri-ciri diwajah, seperti mata sipit, kelopak mata sembab, mata merah,
semangat

3. Ciri-ciri tingkah laku, seperti oleng/ sempoyongan, menggosok-gosok


mata, bicara lambat, sikap loyo

4. Data penunjang yang menyebabkan adanya masalah potensial, seperti


obesitas, deviasi septum, TD rendah, RR dangkal dan dalam

2.3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan yang mungkin ditemukan pada klien dengan


gangguan pemenuhan istirahat tidur menurut Asmadi (2008), antara lain:

Gangguan pola tidur b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres yang
berlebihan
22

1. Data subjektif

a. Klien mengatakan mengalami gangguan tidur insomnia

b. Klien mengatakan tidurnya sering terbangun dan susah untuk tidur


kembali

c. Klien mengatakan saat terbangun kepalanya pusing dan saat pertama kali
tidur kepala seperti berputar-putar

d. Klien mengatakan mengalami masalah tidur sejak 2 bulan yang lalu

e. Klien mengatakan kesulitan tertidur setiap hari

f. Klien mengatakan butuh waktu 2-4 jam untuk tertidur namun 1-3
kemudian terbangun dn susah untuk tidur kembali

g. Klien mengatakan sebelum tidur biasanya melihat tv sebentar

h. Klien mengatakan saat beraktivitas merasa kelelahan dan keletihan

2. Data objektif

a. Klien terlihat kelelahan

b. Terlihat lingkar hitam disekitar mata

c. Wajah terlihat kusam

d. Terlihat gelisah

e. Tidur selalu terbangun

f. Tidur tidak pernah tenang

2.3.3 Intervensi Keperawatan


Gangguan pola tidur b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres yang
berlebihan

Tujuan:
23

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24 jam, klien dapat


mempertahankan pola tidur dalam batas rentang normal 6 jam

Kriteria hasil:
Klien menunjukkan pola tidur dalam batas rentang normal 6 jam dan klien
tampak nyaman.

Intervensi :

1. Mengatur posisi yang nyaman untuk tidur

2. Hindari latihan fisik yang berlebihan sebelum tidur

3. Aniurkan klien untuk memakan makanan yang mengandung tinggi


protein, seperti susu dan keju.

4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi pengobtan,

2.3.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan penatalaksanaan perencanan keperawatan oleh
perawat pada pasien. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan
implementasi pada pasien dengan Parkinson adalah mengkaji kapan terjadi tremor
dan kemampuan beraktivitas pasien, membantu pasien dalam melakukan aktivitas
sehari-hari, mengkaji kemampuan berkomunikasi pasien, mengkaji perilaku dan
koping pasien, mengkaji pengetahuan pasien dan keluarga tentang perawatan
kesehatan di rumah, melibatkan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri
sesuai dengan kemampuannya, memonitor tanda-tanda vital dan keadaan umum
pasien, monitor tetesan infus, memonitor fungsi motorik dan keseimbangan dan
adanya konstipasi, menjelaskan pentingnya perawatan kesehatan di rumah bagi
pasien dan memberikan dukungan pada keluarga untuk merawat pasien di rumah,
berkolaborasi dengan tim medis lainnya dalam pemberian obat untuk mengurangi
tremor serta untuk konstipasi.

2.3.5 Evaluasi Keperawatan


Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan. Hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan,
24

kelengkapan, dan kualitas data, teratasi atau tidak masalahnya pasien, serta
pencapaian tujuan dan ketepatan intervensi keperawatan
25

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Tidur merupakan suatu proses di otak yang dibutuhkan seseorang
untuk dapat berfungsi dengan baik. Insomnia merupakan gangguan tidur
yang paling sering ditemukan. Sekitar 67% lansia mengalami gangguan
tidur. Gangguan tidur yang paling sering ditemukan pada lansia yaitu
insomnia, gangguan ritmik tidur, dan apnea tidur. Berdasarkan dugaan
etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat kelompok yaitu,
gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental lain,
gangguan tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang
diinduksi oleh zat. Beberapa kondisi medik umum seperti penyakit
kardiovaskuler, penyakit paru, neurodegenerasi, penyakit endokrin,
kanker, dan penyakit saluran pencernaan, serta penyakit muskuloskeletal
sering menimbulkan gangguan tidur. Gangguan mental seperti depresi,
anksietas, demensia serta delirium dapat pula menimbulkan gangguan
tidur. Pola gangguan tidur pada penderita depresi berbeda dengan yang
tidak menderita depresi; pada depresi terjadi gangguan pada setiap stadium
gangguan tidur. Langkah pertama mengobati gangguan tidur adalah
mengoptimalkan terapi terhadap penyakit yang mendasarinya.
Terapi farmakologik seperti: Nasal continuous positive airway
pressure ditoleransi baik oleh sebagian besar pasien. Metode ini dapat
memperbaiki tidur pasien di malam hari, rasa mengantuk di siang hari, dan
keletihan serta perbaikan fungsi kognitif. Beberapa tindakan bedah seperti
UPP, UAS dan trakeostomi dapat pula dilakukan untuk memperbaiki
apnea tidur obstruktif. Penggunaannya sangat terbatas karena risiko
morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi.
Benzodiazepin merupakan pilihan utama untuk mengatasi
gangguan tidur; walaupun demikian, lama penggunaannya harus dibatasi
karena penggunaan jangka lama malah dapat menimbulkan masalah tidur
atau dapat menutupi gangguan yang mendasarinya. Efek samping sedasi
26

dapat menyebabkan kecelakaan seperti terjatuh. Obat-obat seperti


antidepresan, neuroleptik dapat pula digunakan untuk gangguan tidur.

3.2 SARAN
Untuk meningkatkan pengetahuan tentang insomnia pada lansia
hendaknya mahasiswa aktif mencari dan membaca refrensi-refrensi dan
banyak bertanya kepada dosen pengajar maupun kepada dosen
pembimbing atau kaka tingkat tentang insomnia yang bayak diderita pada
lansia sehingga mehasiswa bisa mengamplikasikan dan mengunakan
teknik pendokumentasian yang benar yang bisa dipertanggung
jawabkan,dan selalu mengunakan komunikasi terapeutik antar perawat dan
klien sehingga terjalin hubungan yang terapeutik sehinggapeltaaksanaan
asuhan keperawatan dapat berlangsung dengan optimal.