Anda di halaman 1dari 29

Bab III Tinjauan Pustaka

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Motor Induksi 3 Phasa

Motor listrik 3 phasa yang dikenal dengan motor induksi merupakan motor
arus bolak-balik yang paling banyak digunakan di industri. Dikatakan motor
induksi karena arus rotor motor ini merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat
adanya perbedaan antara putaran rotor dengan medan putar yang dihasilkan.
Motor induksi digunakan untuk mengendalikan kecepatan putaran pada mesin-
mesin produksi. Motor induksi ini lebih banyak dipakai dibandingkan motor
listrik arus searah, karena motor induksi lebih ekonomis dan handal dalam
pengoperasiannya meskipun ditinjau dari aspek pegendalianya relatif lebih
kompleks. Disamping itu, pemeliharaan motor induksi juga relatif lebih mudah
dibanding motor arus searah. Motor ini memiliki kontruksi yang kuat, sederhana
dan handal dan efisiensinya cukup tinggi saat berbeban penuh serta tidak
membutuhkan perawatan yang banyak.

Secara umum motor induksi dibagi menjadi dua buah yaitu motor induksi
1 phasa dan motor induksi 3 phasa. Secara prinsip kerja kedua motor ini adalah
sama yaitu karena adanya induksi yaitu adanya medan putar pada belitan utama
(stator) yang memotong batang-batang motor sehingga akan timbul induksi pada
rotor. Bagian utama dari motor induksi adalah stator (bagian yang diam), bagian
yang bergerak (rotor) dan celah udara. Motor induksi tiga fasa bekerja dengan
memanfaatkan perbedaan fasa sumber untuk menimbulkan gaya putar pada
rotornya. Jika pada motor induksi 1 phasa untuk menghasilkan beda phasa
diperlukan penambahan komponen kapasitor, pada motor 3 phasa perbedaan
phasa sudah didapat langsung dari sumber. Arus 3 phasa memiliki perbedaan 600
antar fasanya. Dengan perbedaan ini, maka penambahan kapasitor tidak
diperlukan.
22
Bab III Tinjauan Pustaka

3.2 Konstruksi Motor Induksi 3 Phasa

Motor induksi 3 phasa memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan
rotor, bagian rotor dipisahkan dengan bagian stator oleh celah udara yang sempit
(air gap) dengan jarak 0,4 mm sampai 4 mm. Tipe dari motor induksi tiga fasa
berdasarkan lilitan pada rotor dibagi menjadi dua macam yaitu rotor belitan
(wound rotor) adalah tipe motor induksi yang memiliki rotor terbuat dari lilitan
yang sama dengan lilitan statornya dan rotor sangkar tupai (squirrel-cage rotor)
yaitu tipe motor induksi dimana konstruksi rotor tersusun oleh beberapa batangan
logam yang dimasukkan melewati slot-slot yang ada pada rotor motor induksi,
kemudian setiap bagian disatukan oleh cincin sehingga membuat batangan logam
terhubung singkat dengan batangan logam yang lain.

Gambar 3.1 Konstruksi Motor Induksi 3 Phasa

Gambar 3.2 Kontruksi Motor Induksi 3 Phasa

23
Bab III Tinjauan Pustaka

3.2.1. Rotor

Rotor adalah bagian yang berputar dari sebuah motor. Rotor dapat
berputar dengan dua sumber energi:

a. Energi mekanik

Dengan diputar secara manual maupun diputar oleh alat yang terhubung dengan
rotor.

b. Energi listrik

Gambar 3.3 Rotor

Rotor dari motor sangkar tupai adalah konstruksi dari inti berlapis dengan
konduktor dipasang paralel dengan poros dan mengelilingi permungkaan inti.
Konduktornya tidak terisolasi dari inti karena arus rotor secara alamiah akan
mengalir melalui tahanan yang paling kecil yaitu konduktor rotor. Pada setiap
unjung rotor, konduktor rotor semuanya dihubung singkat dengan cincin ujung .
konduktor rotor dan cincin ujung serupa dengan sangkar tupai yang berputar
sehingga dinamakan demikian.

Batang rotor dan cincin ujung motor sangkar tupai yang lebih kecil adalah
coran tembaga atau aluminium dalam satu lempengan pada inti rotor. Dalam
motor yang lebih besar, batang rotor tidak dicor melainkan dibenamakan ke dalam

24
Bab III Tinjauan Pustaka

alur rotor dan kemudian dilas dengan kuat ke cincin ujung. Batang rotor motor
sangkar tupai tidak selalu ditempatkan paralel terhadap poros motor tetapi kerap
kali dimiringkan. Hal ini menghasilkan torka yang lebih seragam dan juga
mengurangi derau dengung magnet sewaktu motor sedang berkerja.

3.2.2. Stator

Komponen stator adalah bagian terluar dari motor yang merupakan bagian
yang diam dan mengalirkan arus phasa. Stator terdiri atas tumpukan laminasi inti
yang memiliki alur yang menjadi tempat kumparan dililitkan yang berbentuk
silindris. Stator terdiri dari lilitan atau kumparan yang memberikan efek magnet
kepada rotor, sehingga rotor dapat berputar.

Inti stator terbuat dari lapis-lapis pelat baja beralur yang didukung dalam
rangka stator yang terbuat dari besi tuang atau pelat baja yang di pabrikasi.
Lilitan-lilitan sama halnya dengan lilitan stator dari generator sinkron, diletakkan
dalam alur stator yang terpisah 1200. Lilitan phasa ini bisa tersambung delta
ataupun bintang.

. Gambar 3.4. Konstruksi Stator (a) lempengan inti (b) tumpukan inti dengan
kertas isolasi pada beberapa alurnya (c) tumpukan inti dan belitan dalam caking
statornya

25
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar 3.5 Stator

3.2.3. Terminal Box

Salah satu bagian yang cukup penting untuk dapat memahami motor
starter. Terminal Box adalah stop kontak yang bertugas menyambung alian
listrik dari sumber ke motor. Dari terminal box, pengaturan starter star atau delta
dapat dilakkan, pengaturan star atau delta mengacu pada informasi yang tertera
pada nameplate motor.

3.3 Jenis Motor Induksi 3 Phasa

3.3.1 Motor Induksi 3 Phasa Sangkar Tupai (Squirrel-cage motor)

Penampang motor sangkar tupai memiliki konstruksi yang sederhana. Inti


stator pada motor sangkar tupai 3 phasa terbuat dari lapisan-lapisan pelat baja
beralur yang didukung dalam rangka stator yang terbuat dari besi atau pelat baja
yang dipabrikasi. Lilitan-lilitan kumparan stator diletakkan dalam alur stator yang
terpisah 1200. Lilitan phasa ini dapat tersambung dalam hubungan delta ()
ataupun bintang ().

26
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar 3.6 (a) Tipikal Rotor Sangkar, (b) Bagian-Bagian Rotor Sangkar

Batang rotor dan cincin ujung motor sangkar tupai yang lebih kecil
adalah coran tembaga atau aluminium dalam satu lempeng pada inti rotor.
Dalam motor yang lebih besar, batang rotor tidak dicor melainkan dibenamkan
ke dalam alur rotor dan kemudian dilas dengan kuat ke cincin ujung. Batang
rotor motor sangkar tupai tidak selalu ditempatkan paralel terhadap poros
motor tetapi kerapkali dimiringkan. Hal ini akan menghasilkan torsi yang
lebih seragam dan juga mengurangi derau dengung magnetik sewaktu motor
sedang berputar.

Gambar 3.7 (a) Konstruksi Motor Induksi Rotor Sangkar Ukuran Kecil

(b) Konstruksi Motor Induksi Rotor Sangkar Ukuran Besar

Pada ujung cincin penutup dilekatkan sirip yang berfungsi sebagai


pendingin. Rotor jenis rotor sangkar standar tidak terisolasi, karena batangan
membawa arus yang besar pada tegangan rendah. Karakteristik motor sangkar
tupai adalah sebagai berikut :

27
Bab III Tinjauan Pustaka

1. Rotor terdiri dari penghantar tembaga yang dipasangkan pada inti yang solid
dengan ujung-ujung yang dihubung singkat

2. Kecepatan konstan

3. Arus start yang besar diperlukan oleh motor menyebapkan tegangan berfluktasi

4. Arah putaran dapat dibalik dengan menukarkan dua dari tiga fasa daya utama
pada motor

5. Faktor daya cendrung buruk untuk beban yang dikurangi

6. Apabila tegangan diberikan pada lilitan stator dihasilkan medan magnet putar
yang menginduksikan tegangan pada rotor. Tegangan tersebut pada gilirannya
menimbulkan medan magnet. Medan rotor dan medan stator cendrung saling tarik
menarik satu sama lain. Situasi tersebut membangkitkan torka yang memutar rotor
dengan arah yang sama dengan putaran medan magnet yang dihasilkan oleh
stator.

3.3.2. Motor Induksi 3 Phasa Rotor Belitan (Wound-Rotor Motor)

Motor rotor belitan (motor cincin slip) berbeda dengan motor sangkar
tupai dalam hal konstruksi rotornya. Seperti namanya, rotor dililit dengan lilitan
terisolasi serupa dengan lilitan stator. Lilitan fasa rotor dihubungkan secara
dan masing -masing phasa ujung terbuka yang dikeluarkan ke cincin slip yang
terpasang pada poros rotor. Secara skematik dapat dilihat pada gambar 3.8.
Dari gambar ini dapat dilihat bahwa cincin slip dan sikat semata-mata merupakan
penghubung tahanan kendali variabel luar ke dalam rangkaian rotor.

28
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar 3.8 Cincin Slip

Pada motor ini, cincin slip yang terhubung ke sebuah tahanan variabel
eksternal yang berfungsi membatasi arus pengasutan dan yang bertanggung
jawab terhadap pemanasan rotor. Selama pengasutan, penambahan tahanan
eksternal pada rangkaian rotor belitan menghasilkan torsi pengasutan yang lebih
besar dengan arus pengasutan yang lebih kecil dibanding dengan rotor sangkar

Gambar 3.9 Konstruksi Rotor Belitan

3.4 Prisip Kerja Motor Induksi 3 Phasa

Adapun prinsip kerja motor induksi 3 phasa adalah sebagai berikut:

1. Apabila sumber tegangan 3 phasa dipasang pada kumparan stator, timbullah


kecepatan medan putar (Ns)

2. Perputaran medan putar pada stator tersebut akan memotong batang-batang


konduktor pada bagian rotor

29
Bab III Tinjauan Pustaka

3. Akibatnya, pada bagian rotor akan timbul tegangan induksi (GGL) sebesar E2s =
4,44 f2 N2 (untuk satu fasa) dimana E2s adalah tegangan induksi saat rotor berputar

4. Karena pada rotor timbul tegangan induksi dan rotor merupakan rangkaian
yang tertutup sehingga pada rotor akan timbul arus (I)

5. Adanya arus di dalam medan magnet akan menimbulkan gaya (F) pada rotor

6. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F pada rotor cukup besar untuk
memikul kopel beban, maka rotor akan berputar searah dengan medan putar stator

7. Agar tegangan terinduksi dipelukan adanya perbedaan anatara kecepatan medan


putar stator dengan kecepatan putaran rotor

8. Perbedaan kecepatan anatara nr dan ns disebut dengan slip (S) dinyatakan

dengan:

9. Apabila nr = ns tegangan tidak terinduksi dan arus tidak mengalir pada


kumparan jangkar rotor dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Kopel motor
akan ditimbulkan apabila nr lebih kecil dari ns.

Berubah-ubahnya kecepatan motor insuksi (nr) mengakibatkan


berubahnya harga slip dari 100% pada saat start sampai 0% pada saat diam
(nr=ns). Hubungan frekuensi dengan slip dapat dilihat seperti persamaan berikut
ini:

Pada rotor berlaku hubungan:

( )
2 =
120

Dimana f2 adalah frekuensi arus rotor


2 =
120

30
Bab III Tinjauan Pustaka


Karena = dan 1 =
120

Maka 2 = 1 pada saat S = 100% dan f2 = f1

3.5 Medan Magnet Putar

Apabila belitan stator dihubungkan dengan catu daya 3 phasa maka akan
dihasilkan medan magnet yang berputar, medan magnet ini dibentuk oleh kutub-
kutubnya yang berada pada posisi yang tidak tetap pada stator tetapi berubah-ubah
mengelilingi stator. Adapun magnitude dari medan putar ini selalu tetap yaitu
sebesar 1.5 m dimana m adalah fluks yang disebabkan suatu phasa. Untuk
melihat bagaimana medan putar dibangkitkan, maka dapat diambil contoh pada
motor induksi 3 phasa dengan jumlah kutub dua. Dimana ketiga fasanya R,S,T
disuplai dengan sumber tegangan 3 phasa, dan arus pada phasa ini ditunjukkan
sebagai IR, IS, dan IT, maka fluks yang dihasilkan oleh arus-arus ini adalah :

= sin

= sin( 120)

= sin( 240)

Gambar 3.10 (a) arus 3 phasa yang seimbang (b) diagram phasor fluksi seimbang

31
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar 3.11 medan putar pada motor induksi 3 phasa

(a). Pada keadaan 1, t = 0 ; arus dalam fasa R bernilai nol sedangkan besarnya
arus pada phasa S dan phasa T memiliki nilai yang sama dan arahnya berlawanan.
Dalam keadaan seperti ini arus sedang mengalir ke luar dari konduktor sebelah
atas dan memasuki konduktor sebelah bawah. Sementara resultan fluks yang
dihasilkan memiliki besar yang konstan yaitu sebesar 1,5 m. Oleh karena itu
resultan fluks, adalah jumlah phasor dari dan sehingga resultan fluks,
3
= 2 x os 300 = 1,5 .
2

Gambar 3.12 Keadaan 1 dengan t = 00

32
Bab III Tinjauan Pustaka

(b). Pada keadaan 2, arus bernilai maksimum negatif pada phasa S, sedangkan
pada R dan phasa T bernilai 0,5 maksimum pada phasa R dan phasa T dan pada
saat ini t = 300. Maka jumlah phasor R dan - T adalah = r = 2 x 0,5 m
cos 60 = 0,5 m. Sehingga resultan fluks r = 0,5 m + m = 1,5 m.dari
gambar diagram phasor tersebut dapat dilihat bahwa resultan fluks berpindah
sejauh 300 dari posisi pertama.

Gambar 3.13 Keadaan 2 dengan t = 300

(c). Pada keadaan 3, t = 60o, arus pada fasa R dan fasa T memiliki besar yang
sama dan arahnya berlawanan ( 0,866 m ). Maka magnitude dari fluks resultan :
r = 2 x m cos 300= 1,5 m, dari gambar diagram phasor tersebut dapat dilihat
bahwa resultan fluks berpindah sejauh 600 dari posisi pertama.

Gambar 3.14 Keadaan 3 dengan t = 600

33
Bab III Tinjauan Pustaka

(d). Pada keadaan 4, t = 900, arus pada fasa R maksimum ( positif), dan arus
pada fasa S dan fasa T = 0,5 m. Maka jumlah phasor - T dan S adalah =
r = 2 x 0,5 m cos 60 = 0,5 m. Sehingga resultan fluks r = 0,5 m + m =
1,5 m. Dari gambar diagram phasor tersebut dapat dilihat bahwa resultan fluks
berpindah 900 dari posisi pertama.

Gambar 3.15 Keadaan 4 dengan t = 900

3.6 Kecepatan Medan Magnet Putar

Dalam lilitan dua kutub, medan membuat satu putaran penuh dalam satu
siklus arus. Dalam lilitan empat kutub yang mana setiap phasa mempunyai dua
grup kumparan terpisah yang dihubungkan secara seri, dapat ditunjukkan bahwa
medan magnet putar membuat satu putaran dalam dua siklus arus. Dalam lilitan
enam kutub, medan membuat satu putaran dalam tiga siklus arus. Secara umum
medan membuat satu putaran dalam P/2 siklus atau Siklus = P/2 x putaran atau
siklus per detik = P/2 x putaran per detik. Oleh karena putaran per detik sama
dengan putaran per menit, putaran (n) dibagi 60 dan banyaknya siklus per detik

adalah frekuensi (f ), maka f = 2 x = n 120
60

120
= kecepatan putar dari medan magnet putar disebut kecepatan sinkron

atau kecepatan stator dari motor.

34
Bab III Tinjauan Pustaka

3.7 Frekuensi Rotor

Jika motor induksi 60 Hz dua kutub (kecepatan sinkron = 3600 rpm)


bekerja pada slip 5 %, slip dalam putaran setiap menitnya adalah 3600 x 0,05 atau
180 rpm. Ini berarti bahwa sepasang kutub stator melewati konduktor rotor
tertentu 180 kali setiap menit, atau tiga kali setiap detik. Jika sepasang kutub
bergerak melewati konduktor, satu siklus ggl diinduksikan dalam konduktor. Jadi
konduktor yang dikemukakan diatas akan menginduksikan ggl di dalamnya
dengan frekuensi rotor menjadi 60 Hz. Maka jelaslah bahwa frekuensi rotor
bergantung pada slip. Makin besar slip makin besar frekuensi rotor. Untuk setiap
harga slip, frekuensi roto (fr) sama dengan frekuensi stator (fs) dikalikan dengan
slip (S) yang dinyatakan dengan decimal atau (fr) = S (fs). Frekuensi rotor sangat
berarti karena jika saja berubah maka reaktansi rotor (Xr= 2 fr Lr) juga berubah,
berarti menpengaruhi karakteristik start maupun karakteristik jalan motor.

3.8 Torsi pada Motor Induksi 3 Phasa

Dari rangkaian ekivalen dan diagram aliran daya motor induksi tiga fasa
yang telah diperoleh sebelumnya dapat diturunkan suatu rumusan umum untuk
torsi induksi sebagai fungsi dari kecepatan. Torsi motor induksi diberikan oleh
persamaan:

Persamaan diatas sangat berguna, karenakecepatan sinkron selalu bernilai


konstan untuk tiap-tiap frekuensi dan jumlah kutub yang diberikan oleh motor.
Karena kecepatan sinkron selalu tetap,maka daya pada celah udara akan
menentukan besar torsi induksi pada motor.Untuk menentukan besarnya arus I2,
kemungkinan penyelesaian paling mudah dapat dilakukan dengan menentukan
rangkaian ekivalen thevenin, agar dapat menentukan rangkaian ekivalen thevenin
35
Bab III Tinjauan Pustaka

dari sisi input rangkaian ekivalen motor induksi, pertama-tama terminal Xs


dihubungkan buka (open-circuit) kemudian tegangan open-circuit diterminal
tersebut ditentukan. Untuk menentukan impedansi thevenin maka tegangan fasa
dihubung singkat (short circuit) dan Zegditentukan dengan melihat ke sisi dalam
terminal.

Gambar 3.16 Tegangan Ekivalen Thevenin pada Sisi Rangkaian Input

Dari gambar diatas ditunjukkan bahwa terminal di open circuit untuk


mendapatkan tegangan ekivalen thevenin. Magnitud dari teganganthevenin Vth
adalah :


= 1
12 +(1+)2

Karena reaktansi magnetic Xm >> X1 dan Xm >> R1, harga pendekatan


dari magnitud tegangan ekivalen thevenin :


1 1+

Gambar 3.17 Impedansi Ekivalen Thevenin pada Sisi Rangkaian Input


36
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar diatas menunjukkan tegangan input dihubung singkat. Impedansi


ekivalen thevenin dibentuk oleh impedansi paralel yang terdapat pada rangkaian
Impedansi Thevenin diberikan oleh :

(1+ )

= + = 1+(1+ )

Karena Xm>> X1dan Xm+ X1>> R1,tahanan reaktansi thevenin secara


pendekatan oleh :

Gambar 3.18 Rangkaian Ekivalen Thevenin Motor Induksi

Dari gambar diatas arus I2 diberikan oleh :


2 =

+ 2 + + 2

Magnitude dari arus:


[2 ] =
( + 2 )2 + ( + 1)2

3 2 2
322 2
= ; = 2
[( + 2) + ( + 2 )2 ]

37
Bab III Tinjauan Pustaka

Sedangkan torsi induksi pada rotor :


=
[( + 2 )2 + ( + 2 )2 ]

Gambar kurva torsi kecepatan (slip) pada motor induksi ditunjukkan pada gambar

dibawah ini.

Gambar 3.19 Karakteristik torsi slip pada motor induksi

Sedangkan kurva torsi kecepatan motor induksi yang menunjukkan


kecepatan diluar daerah operasi normal terlihat pada gambara dibawah ini :

38
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar 3.20 Karakteristik torsi putaran pada motor induksi pada berbagai
daerah operasi

Dari kedua kurva karakteristik torsi motor induksi diatas dapat diambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut :

1. Torsi motor induksi akan bernilai nol pada saat kecepatan sinkron

2. Kurva torsi kecepatan mendekati linear di antara beban nol dan beban penuh.
Dalam daerah ini, tahanan rotor jauh lebih besar dari reaktansi rotor, oleh karena
itu arus rotor, medan magnet rotor, dan torsi induksi meningkat secara linear
dengan peningkatan slip

3. Akan terdapat torsi maksimum yang tak mungkin akan dapat dilampaui. Torsi
ini disebut juga dengan pull out torque atau break down torque, yang besarnya
2 3 kali torsi beban penuh dari motor

4. Torsi start pada motor sedikit lebih besar daripada torsi beban penuhnya, oleh
karena itu motor ini akan start dengan suatu beban tertentu yang dapat disuplai
pada daya penuh

39
Bab III Tinjauan Pustaka

5. Torsi pada motor akan memberikan harga slip yang bervariasi sebagai harga
kuadrat dari tegangan yang diberikan. Hal ini sangat penting dalam membentuk
pengaturan kecepatan dari motor

6. Jika rotor motor induksi digerakkan lebih cepat dari kecepatan sinkron,
kemudian arah dari torsi induksi di dalam mesin menjadi terbalik dan mesin akan
bekerja sebagai generator, yang mengkonversikan daya mekanik menjadi daya
elektrik

7. Jika motor induksi bergerak mundur relatif arah dari medan magnet, torsi
induksi mesin akan menghentikan mesin dengan sangat cepat dan akan mencoba
untuk berputar pada arah yang lain. Karena pembalikan arah medan putar
merupakan suatu aksi penyaklaran dua buah fasa stator, maka cara seperti ini
dapat digunakan sebagai suatu cara yang sangat cepat untuk menghentikan motor
induksi. Cara menghentikan motor seperti ini disebut juga dengan plugging.

3.5 Starting Motor Induksi 3 Phasa

Jenis-jenis starting motor induksi 3 Phasa, yaitu antara lain:

1. Starting DOL

2. Starting Y-

3. Soft start

4. Variasi Frekuensi (dengan Inverter)

5. Rheostat

6. Variasi Tegangan dengan Ototrafo

40
Bab III Tinjauan Pustaka

3.5.1. Starting DOL

Pengasutan hubungan langsung atau dikenal dengan istilah Direct On


Line (DOL) adalah jenis pengasutan yang umum dipakai terutama untuk daya
motor dibawah 5 KW. Rangkaian untuk pengasut langsung (DOL Direct On
Line) akan memutus atau menghubungkan suplai utama ke motor secara
langsung. Arus pengasutan motor yang dihasilkan dengan metode starting
DOL ini dapat mencapai tujuh / delapan kali lebih besar dari arus kondisi
normal, maka pengasut langsung ini hanya digunakan untuk motor-motor
kecil. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengasutan secara
langsung (DOL) ini antara lain :

1. Arus meningkat 5 s/d 7 kali arus beban penuh

2. Torsi hanya 1,5 s/d 2,5 kali torsi beban penuh

3. Terjadi drop tegangan pada saat start awal

4. Untuk daya motor yang besar tidak disarankan untuk menggunakan


pengasutan jenis ini

Keterangan : Is = 5 s/d 7 kali In

Pr = 2.Ns. = k.

Dimana Pr adalah Daya input rotor dan rugi-rugi tembaga (Pcu) = 3 x P rotor


Jadi 3 = . . dimana 2 = 1 maka =

Jika If = Arus nominal beban penuh

Sf = Slip beban penuh

..
Maka =

41
Bab III Tinjauan Pustaka


= [ ]

Ketika pengasutan DOL maka arus starting adalah mirip arus hubung singkat (Ihs)


= [ ] = diaman =

Gambar 3.21 Rangkaian daya dan rangkaian kontrol pengasutan DOL

3.5.2. Starting Y-

Secara umum, mode ini terdiri dari dua tahapan starting, tahap
pertama starting motor pada rangkaian bintang (Star-Y) dan setelah beberapa
detik berpindah kerangkaian segitiga (Delta-). Mode ini hanya mengubah
hubungan dikedua ujung terminal stator dari posisi awalnya bintang (Star-Y)
dan kemudian setelah motor beroperasi normal hubungan tersebut menjadi
segitiga (Delta-). SistEm ini, hanya dapat digunakan pada motor yang kedua
ujung stator tiga phasa-nya (U,V,W dan X,Y,Z) tersedia pada terminal
keluaran sehingga bisa digunakan untuk membentuk rangkaian Y (bintang/star)
maupun (delta). Selain itu, perlu diperhatikan name plate motor yang akan
digunakan, name plate motor harus menyatakan hubungan delta pada
tegangan suplay yang kita gunakan.
42
Bab III Tinjauan Pustaka

Hubungan bintang digunakan untuk menurunkan tegangan yang masuk ke


kumparan stator, sedangkan pada saat motor berjalan normal, kumparan stator
dihubung delta. Metode ini cocok digunakan untuk motor-motor diatas 5,5 KW
sampai 15 KW.Pada saat hubungan Bintang tegangan line ke netral dapat
diformulasikan sebagai berikut:


=
3


= =
3.

Sedangkan pada hubungan segitiga tegangan line ke netral dapat


diformulasikan sebagai berikut:


=
3.

Formulasi hubungan torsi starting dan torsi beban penuh

Ist perphase = 1/3 Ihs per phase

Ihs adalah arus saat hubungan segitiga dengan starting DOL.

( = 1)

1
= [ ] = [ ] = [ ]
3 3

Ihs dan Ist adalah arus perphase

43
Bab III Tinjauan Pustaka

Gambar 3.22 Rangkaian daya dan rangkaian kontrolpengasutan bintang


segitiga

3.5.3. Soft Start

Soft starter sangat berbeda dengan starter lain. Alat ini mempergunakan
thyristor sebagai komponen utamanya. Tegangan yang masuk ke motor akan
diatur dimulai dengan sangat rendah sehingga arus dan torsi saat start juga
rendah. Pada saat start ini tegangan yang masuk hanya cukup untuk
menggerakkan beban dan akan menghilangkan kejutan pada beban. Secara
perlahan tegangan dan torsi akan dinaikan sehingga motor akan mengalami
percepatan kehingga tercapai kecepatan normal. Salah satu keuntungan
mempergunakan alat ini adalah kemungkinan dilakukannya pengaturan torsi
pada saat yang diperlukan, tidak terpengaruh ada atau tidaknya beban.

3.5.4. Variasi Frekuensi (dengan Inverter)

Frequency Drive sering disebut juga dengan VSD (Variable Speed


Drive), VFD (Variable frequency Drive) atau Inverter. VSD terdiri dari 2
bagian utama yaitu penyearah tegangan AC (50 atau 60 HZ) ke DC dan
44
Bab III Tinjauan Pustaka

bagian kedua adalah membalikan dari DC ke tegangan AC dengan frekuensi


yang diinginkan. VSD memanfaatkan sifat motor sesuai dengan rumus sebagai
berikut :

dimana

n = Kecepatan putar / speed motor (RPM)

f = Frekuensi (Hz)

P = Jumlah kutub / pole

Frekuensi dikontrol dengan berbagai macam cara yaitu : melalui


keypad (local), dengan external potensiometer, Input 0 ~ 10 VDC , 4 ~ 20
mA atau dengan preset memori. Semua itu bisa dilakukan dengan mengisi
parameter program yang sesuai. Jadi dengan mengatur frekuensi tegangan
yang masuk, maka kecepatan motor akan dapat diatur pula. Demikian pula
pada saat start, dimulai dengan frekuensi rendah sampai rated frekuensinya
hasilnya kecepatan motor akan mengalami percepatan yang lebih halus.

3.5.5. Dengan Tahanan Rotor (Rheostat)

Untuk melakukan pengasutan motor dalam kondisi berbeban umumnya


digunakan motor induksi dengan jenis rotor belitan karena memberi
kemungkinan untuk melakukan penyambungan rangkaian rotor dengan tahanan
luar melalui cincin slip dan sikat untuk meningkatkan torsi asut motor. Pada
saat awal pengasutan motor, resistansi rotor luar adalah bernilai maksimum,
kemudian seiring dengan meningkatnya putaran motor, resistansi rotor luar
ini dikurangi secara bertahap hingga pada saat kecepatn penuh motor
tercapai nilai resistansinya adalah nol dan motor bekerja normal sepertin
45
Bab III Tinjauan Pustaka

halnya rotor motor sangkar. Rangkaian pengasut motor ini dilengkapi juga
dengan peralatan proteksi beban lebih, proteksi terhadap terjadinya
kehilangan tegangan serta sistem interlocking untuk mencegah terjadinya
pengasutan motor dalam kondisi pengasutan motor dalam kondisi resistansi
rotor tak terhubungkan.

3.5.6. Variasi Tegangan dengan Ototrafo

Sebuah pengasutan motor dengan Autotransformator merupakan salah


satu metode lain yang dapat digunakan untuk mengurangi besarnya arus
pengasutan motor dengan jalan mengurangi besarnya tegangan selama proses-
proses awal pengasutan karena pengurangan tegangan akan berakibat pada
berkurangnya torsi asut maka tegangan akan direduksi secukupnya saja
untuk mengurangi arus pengasut, dengan cara memilih tingkat tegangan
tertentu dikenal sebagai tapping tegangan. Rangkaian pengasutan dengan
autotrafo ditunjukkan pada gambar dengan memposisikan saklar pada posisi
mulai (Start) maka akan diperoleh hubungan seri antara belitan-belitan auto
trafo dengan belitan pengasut motor yang terhubung delta. Ketika kecepatan
puataran motor telah cukup tinggi, maka saklar dipindahkan ke posisi jalan
(Run) yang akan menghubungkan belitan-belitan motor secara langsung ke
suplai tegangan 3 fasa.

Keuntungan dari metode pengasutan ini ialah hanya memerlukan 3 buah


kawat penghantar penghubung antara rangkaian pengasut motor dan rangkaian
motor walaupun tidak terlihat di dalam gambar. Pengasut motor ini juga
dilengkapi dengan peralatan proteksi beban lebih serta proteksi terhadap
terjadinya kehilangan tegangan.

Masalah-masalah yang sering muncul pada sistem pengasutan secara


umum adalah arus awal yang terlalu besar dan momen awal yang sering terlalu
kecil. Untuk kebanyakan motor arus awal adalah empat sampai tujuh kali

46
Bab III Tinjauan Pustaka

besarnya arus nominal. Untuk motor-motor yang besar hal ini tidak dapat
diijinkan karena akan mengganggu jaringan, lagipula hal ini akan merusak motor
itu sendiri. Selain itu konsumsi daya listrik juga akan sangat tinggi dikarenakan
arus start yang terlalu besar tadi.

Rumus Arus Awal adalah:

20
(2 )=1 =
22 + 22

Dengan memperhatikan persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa salah


satu cara untuk menurunkan arus awal adalah dengan menurunkan E20, hal ini
dapat dilakukan dengan menurunkan tegangan apit. Dan cara yang kedua adalah
dengan memperbesar nilai tahanan R2. hal ini dapat dilakukan pada jenis rotor
belitan dengan menambahkan tahanan luar melalui cincin gesernya.

3.6 Gangguan-Gangguan Pada Motor Iduksi 3 Phasa

Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak diinginkan dan mengganggu


kerja alat listrik. Akibat gangguan, peralatan listrik tidak berfungsi dan sangat
merugikan. Bahkan gangguan yang luas dapat mengganggu keseluruhan kerja
sistem produksi dan akan merugikan perusahaan sekaligus pelanggan. Jenis
gangguan listrik terjadi karena berbagai penyebab, salah satunya kerusakan isolasi
kabel. Tipe-tipe gangguan elektrik dalam motor-motor adalah serupa dengan tipe-
tipe gangguan elektrik dari generator-generator. Oleh karena itu, motor-motor
secara umum diproteksi dari gangguan-gangguan berikut:

a. Gangguan-gangguan stator

b. Gangguan-gangguan rotor

c. Beban lebih (Overload)

47
Bab III Tinjauan Pustaka

d. Tegangan-tegangan suplai yang tidak seimbang termasuk memfasa tunggal


(single phasing)

e. Tegangan kurang (under voltage)

f. Starting phasa terbuka atau terbalik

g. Kehilangan sinkronisme (dalam kasus motor sinkron saja)

48
Bab III Tinjauan Pustaka

3.7 Slip

Perbedaan kecepatan putaran rotor (Nr) terhadap kecepatan medan putar


stator (Ns) disebut dengan slip. Berubahnya kecepatan motor dapat
mengakibatkan berubahnya besar lip 100 % pada saat start sampai 0 % pada saat
diam (Nr) = (Ns). karena terjadi slip maka kecepatan relative medan putar stator
terhadap putaran rotor adalah S x Ns. frekuensi tegangan yang terinduksi pada
rotor sebanding dengan putaran relative medan putar stator terhadap putaran rotor.
Hubungan antar frekuensi slip dapat dilihat dari persamaan berikut :

Bila f1= frekuensi

.
1 = 120

Bila f2= frekuensi rotor

.
2 =
120


Karena S = maka f2 = f1.S

Karena pada saat start S = 100 %, jadi f2 = f2, dengan demikian terlihat
bahwa pada saat start dan rotor belum berputar, frekuensi arus rotor sama dengan
frekuensi arus stator. Dalam keadaan rotor berputar, frekuensi arus rotor di
pengaruhi oleh slip ( f2 = f1 . S ). Karena tegangan induksi dan reaktansi
kumparan rotor merupakan fungsi frekuensi, maka besarnya juga di pengaruhi
oleh slip.

E2 = 4,44. f2. N2. m

E2s = 4,44. S. f1. N2. m

E2s = S. E2

X2 = 2 . .f2. L2s

49
Bab III Tinjauan Pustaka

X2s = 2 . . S. f1. L2s

X2s = S. X2

Dimana :

E2 = Tegangan induksi pada saat rotor diam (start)

E2s = Tegangan induksi pada saat rotor berputar

N2 = Jumlah lilitan rotor

m = Fluks putaran maksimal

X2 = Reaktansi pada saat rotor diam (start)

X2s = Reaktansi pada saat rotor berputar

L2s = Induktansi rotor

50