Anda di halaman 1dari 6

BAB I DASAR TEORI MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG I.

PENDAHULUAN Secara umum, motor listrik berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik yang berupa tenaga putar. Di dalam motor DC, energi listrik diambil langsung dari kumparan armature dengan melalui sikat dan komutator, oleh karena itu motor DC disebut motor konduksi. Lain halnya pada motor AC, kumparan rotor tidak menerima anergi listrik langsung, tetapi secara induksi seperti terjadi pada energi kumparan sekunder tranformator. Oleh karena itu, motor ac dikenal dengan motor induksi. Sebenarnya motor induksi dapat diidentikkan dengan tranformator yang kumparan primer sebagai kumparan stator atau armature, sedangkan kumparan sekunder sebagai kumparan rotor. Menurut Sujoto ( 1984. 107 ), motor induksi sering disebut motor tidak serempak. Disebut demikian karena jumlah putaran rotor tidak sama dengan jumlah putaran medan magnit stator. Pendapat lain Robert Rosenberg ( 1985. 91 ), mengemukakan motor berfasa banyak adalah motor arus bolak balik ( AC ) yang direncanakan baik untuk tiga fasa maupun dua fasa. Kedua macam motor ini konstruksinya dibuat sama, akan tetapi hubungan dalam kumparan berbeda. Motor tiga fasa bermacam-macam ukurannya, dari yang bertenaga kecil ( < 1 HP ) sampai beberapa ribu HP. Motor-motor ini mempunyai sifat agak konstan kecepatannya, dan direncanakan dengan sifat-sifat momen putar yang bermacam-macam.

II. KONSTRUKSI MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG Motor induksi tiga fasa rotor gulung adalah suatu alat yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanik, alat ini biasa digunakan sebagai penggerak mesin. Motor induksi tiga fasa mempunyai tiga buah kumparan stator yang memiliki jumlah dan diameter kawat yang sama dan ditempatkan dengan perbedaan sudut sebesar 120 derajat listrik antara satu dengan lainnya. Motor induksi tiga fasa rotor sangkar memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan rotor. Gambar 1 menunjukkan tampilan stator motor induksi.

Gambar 1. Stator Motor Induksi

Pada dasarnya belitan stator motor induksi tiga fasa sama dengan belitan motor sinkron. Konstruksi statornya belapis lapis dan mempunyai alur untuk melilitkan kumparan. Stator mempunyai tiga buah kumparan, ujung-ujung belitan kumparan dihubungkan melalui terminal untuk memudahkan penyambungan dengan sumber tegangan. Masing-masing kumparan stator mempunyai beberapa buah kutub, jumlah kutub ini menentukan kecepatan motor tersebut. Semakin banyak jumlah kutubnya maka putaran yang terjadi semakin rendah. Celah udara antara stator dan rotor pada motor yg berukuran kecil 0,25 mm- 0,75 mm, sedangkan pada motor yang berukuran besar bisa mencapai 10 mm. Celah udara yang besar ini disediakan untuk mengantisipasi terjadinya pelengkungan pada sumbu sebagai akibat pembebanan. Tarikan pada pita (belt) atau beban yang tergantung akan menyebabkan sumbu motor melengkung. Rotor gulung terdiri atas belitan fasa banyak, belitan ini dimasukkan ke dalam alur - alur initi rotor. Belitan ini sama dengan belitan stator, tetapi belitan selalu dihubungkan secara bintang. Tiga buah ujung-ujung belitan dihubungkan ke terminal- terminal sikat/cincin seret yang terletak pada poros rotor. Pada jenis rotor gulung kita dapat mengatur kecepatan motor dengan cara mengatur tahanan belitan rotor tersebut. Pada keadaan kerja normal sikat karbon yang berhubungan dengan cincin seret tadi dihubung singkat. Motor induksi rotor gulung dikenal dengan sebutan Motor Induksi Slipring atau Motor Induksi Rotor Lilit. Gambar 2a dan 2b menunjukkan tampilan rotor gulung motor induksi tiga fasa.

(a) Gambar 2. Rotor Gulung

(b)

Pada motor induksi tiga fasa rotor gulung, kumparan dihubungkan bintang di bagian dalam dan ujung yang lain dihubungkan dengan slipring ke tahanan luar. Kumparan dapat dikembangkan menjadi pengaturan kecepatan putaran motor. Pada kerja normal slipring hubung singkat secara otomatis, sehingga rotor bekerja seperti rotor sangkar. Pada tipe rotor gulung, slot rotor menampung belitan terisolasi yang mirip dengan belitan pada stator. Belitan rotor terdistribusi merata, biasanya terhubung bintang dan masing masing ujung fasa terbuka yang terhubung pada cincin slip yang terpasang pada rotor. Pada motor rotor gulung, sikat karbon menekan cincin slip, oleh karena itu tahanan eksternal dapat dihubungkan seri dengan belitan rotor untuk mengontrol torsi start dan kecepatan selama pengasutan. Penambahan tahanan eksternal pada rangkaian rotor gulung menghasilkan torsi yang lebih besar dengan arus pengasutan

yang lebih kecil dibanding rotor sangkar. Gambar 3 menunjukkan tampilan motor induksi tiga fasa rotor sangkar secara keseluruhan.

Gambar 3. Motor Induksi Tiga Fasa Rotor Gulung

III. KARAKTERISTIK OPERASI MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG Motor induksi dengan rotor gulung digunakan bila diinginkan torsi awal starting beban secara halus atau diperlukan yang tinggi, dengan arus awal yang rendah. Perbedaan dengan rotor gulung adalah perbedaan cara memperoleh tegangan induksi. Pada rotor sangkar tahanan rotor tetap, sehingga diperoleh kerakteristik full load operating speed, torque maksimum dan accelarasi putaran juga tetap. Pada rotor gulung, kumparan rotor terdiri dari tiga kumparan seperti halnya pada kumparan stator, ujung- ujung dihubungkan ke slip-ring, dimana pada slip ini dipasangkan tahanan kontroler. Dengan merubah nilai tahanan rotor akan diperoleh perubahan torsi awal dan perubahan putaran,atau kata lain putaran dan torsi dapat diatur secara halus (perubahan putaran dapat mencapai 50%- 75%). Makin tinggi tahanan rotor makin rendah putarannya. Motor induksi dengan rotor gulung banyak digunakan pada elevator, crane, Kompresor, hoist, large ventillating fan, dan sejenisnya. Rotor gulung sendiri memiliki arus starting rendah , torsi starting tinggi dan memungkinkan tahanan luar dihubungkan ke tahanan rotor melalui slip ring yang terhubung ke sikat. IV. PRINSIP KERJA MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG Prinsip kerja motor induksi tiga fasa rotor gulung ini adalah sebagai berikut: 1. Apabila sumber tegangan 3 fasa dipasang pada kumparan stator, timbulah medan putar (ns), dengan kecepatan = 120 f / p. 2. Perputaran medan putar pada stator tersebut akan memotong batangbatang konduktor pada bagian rotor. 3. Akibatnya, pada bagian rotor akan timbul tegangan induksi (ggl) sebesar : E2s = 4,44 f2 N2 (untuk satu fasa), dimana Es2 adalah tegangan induksi saat rotor berputar. 4. Karena pada rotor timbul tegangan induksi, dan rotor merupakan rangkaian yang tertutup, sehingga pada rotor akan timbul arus (I).

5. 6.

7.

8.

Adanya arus (I) di dalam medan magnet, akan menimbulkan gaya (F) pada rotor. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor cukup besar unuk memikul kopel beban, maka rotor akan berputar searah dengan medan putar stator. Seperti telah dijelaskan pada nomor (3) tegangan induksi timbul karena terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh medan putar stator. Artinya agar tegangan terinduksi, diperlukan adanya perbedaan antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan berputar rotor (nr). Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip (S) dinyatakan dengan :

tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak mengalir pada kumparan jangkar rotor, dengan demikian tidak dihasilkan kopel. V. RANGKAIAN EKIVALEN MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG Sebuah motor induksi identik dengan sebuah transformator. Oleh sebab itu, rangkaian ekivalen motor induksi mirip dengan rangkaian ekivalen transformator. Perbedaannya hanyalah bahwa kumparan rotor dari motor induksi berputar, yang berfungsi untuk menghasilkan daya mekanik. Pada stator terdapat inti dan kumparan yang digunakan untuk menghasilkan fluks. Gambar 4 menunjukkan rangkaian ekivalen stator.

Gambar 4. Rangkaian Ekivalen Stator Pada rotor terdapat belitan yang dihubung singkat. Gambar 5 menunjukkan rangkaian ekivalen rotor.

Gambar 5. Rangkaian Ekivalen Rotor VI. RANGKAIAN EKIVALEN LENGKAP MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG Dibawah kondisi kerja normal pada tegangan dan frekuensi konstan, rugi inti pada motor induksi biasanya juga konstan. Dalam pandangan pada

kenyataan ini, tahanan rugi inti Rc yang mewakili rugi inti motor, dapat dihilangkan dari rangkaian ekivalen motor induksi. Akan tetapi, untuk menentukan daya poros atau torsi poros, rugi inti yang konstan harus diikutsertakan dalam pertimbangan, bersama dengan gesekan, rugi-rugi beban buta (stray-load losses) dan angin. Gambar 6 menunjukkan rangkaian ekivalen lengkap motor induksi tiga fasa rotor sangkar

Gambar 6. Rangkaian Ekivalen Lengkap Motor Induksi Semua karakteristik kinerja motor induksi tiga fasa dapat ditentukan dari rangkaian ekivalennya. Dalam menganalisis rangkaian ekivalen sebuah transformator, bagian parallel dari rangkaian yang terdiri dari Re dan X dapat diabaikan atau menggeser bagian parallel tersebut ke arah terminal primer. Namun cara ini tidak diijinkan dalam menganalisis rangkaian ekivalen motor induksi. Hal ini dikarenakan kenyataan bahwa arus penguatan pada transformator berkisar antara 2% sampai 6% dari arus beban penuh dan juga reaktansi bocor primer per unitnya juga sangat kecil. Sedangkan pada motor induksi, arus penguatan berkisar antara 30% sampai 50% dari arus beban penuh dan juga reaktansi bocor primer per unit cukup besar. Oleh sebab itu, apabila komponen parallel rangkaian ekivalen motor induksi diabaikan maka akan terdapat kesalahan yang besar dalam hal perhitungan daya dan torsi motor induksi. VII. PENGATURAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI 3 FASA ROTOR GULUNG Motor pada umumnya berputar dengan kecepatan konstan, mendekati kecepatan sinkronnya. Meskipun demikian pada penggunaan tertentu dikehendaki juga adanya pengaturan putaran. Pengaturan motor induksi memerlukan biaya yang agak tinggi. Pengaturan kecepatan putaran motor induksi tiga fasa rotor gulung dapat dilakukan dengan mengganti jumlah kutub stator (slip motor induksi dapat diubah dengan mengubah karakteristik rangkaian rotor. Jika batang-batang/ jeruji rotor gulung secara permanen terhubung-singkat, slip motor tidak dapat diubah). Hanya dua atau empat kecepatan yang memungkinkan jika menggunakan metode seperti ini. Motor dua-kecepatan memiliki satu belitan stator yang memungkinkan ditukar (switched) melalui perlengkapan pengendali yang sesuai untuk menyediakan dua kecepatan, salah satunya merupakan setengah bagian yang lain. Misalnya, belitan untuk 4 atau 8 kutub, untuk memperoleh kecepatan sinkron 1500 dan 750 r.p.m. Motor empatkecepatan dilengkapi dengan dua belitan stator terpisah masing-masing menyediakan dua kecepatan. Kerugian metoda seperti ini adalah :

a. Tidak mungkin mendapatkan kendali kecepatan kontinyu secara gradual (berangsur-angsur). b. Karena komplikasi disain dan pertukaran interkoneksi dari belitan stator, metode ini dapat menyediakan maksimum dari empat perbedaan kecepatan sinkron untuk setiap motor. VIII. METODE PENGASUTAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA ROTOR GULUNG Metode yang diterapkan dalam pengasutan motor induksi tergantung pada ukuran motor dan jenis motor. Untuk otor induksi 3 fasa jenis rotor sangkar menggunakan tiga metode seperti berikut : 1. Direct On Line starting Metode pengasutan ini hanya menyatakan secara tidak langsung motor di asut dengan menyambung langsung ke suplai 3-fase. Impedan motor saat berhenti relatif rendah dan ketika disambung secara langsung ke sistem suplai, arus asutannya akan menjadi tinggi (4 sampai 10 kali arus beban-penuh) dan faktor dayanya rendah. 2. Stator resistance starting Dalam metoda ini, resistan eksternal disambung secara seri dengan setiap fase belitan stator selama pengasutan. Hal tersebut menyebabkan drop tegangan melalui resistan, sehingga tegangan yang menuju terminal tereduksi dan selanjutnya arus asutnya juga. Resistan asut secara gradual/ bertahap dikurangi (cut out in steps) dengan cara menutup MC (Magnetik Contactor) penghubung-singkat resistan tersebut dari rangkaian stator setelah motor memperoleh putaranya. Ketika motor mencapai kecepatan rated-nya, semua resistan cut-out dan secara penuh motor menggunakan tegangan jala-jala. 3. Autotransformer starting Metoda ini juga dimaksudkan untuk mereduksi suplai pada sambungan (terminal) motor induksi pada saat asutan dan kemudian menghubungkannya secara langsung ke jala-jala setelah motor cukup memperoleh kecepatannya. Tap penyadap (tapping) pada autotransformer diatur sedemikian sehingga rangkaian berada pada 65% sampai 80% tegangan jala-jala yang digunakan pada motor. 4. Star-delta starting Starter ini mengurangi lonjakan arus dan torsi pada saat start. Tersusun atas 3 buah contactor yaitu Main Contactor, Star Contactor dan Delta Contactor, Timer untuk pengalihan dari Star ke Delta serta sebuah overload relay. Pada saat start, starter terhubung secara Star. Gulungan stator hanya menerima tegangan sekitar 0,578 (seper akar tiga) dari tegangan line. Jadi arus dan torsi yang dihasilkan akan lebih kecil dari pada DOL Starter. Setelah mendekati speed normal starter akan berpindah menjadi terkoneksi secara Delta. Starter ini akan bekerja dengan baik jika saat start motor tidak terbebani dengan berat.