Anda di halaman 1dari 9

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang.

Status gizi baik atau


status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara
efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja,
dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Gizi kurang (defisiensi gizi)
merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya asupan makanan (Khairina,
2008, Sampoerno, 1992). Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan
(ketidakseimbangan) salah satu atau lebih zat gizi di dalam tubuh (Khairina, 2008 ;
Almatsier, 2001).
Vitamin adalah factor pendukung untk semua reaksi biokimia dalam tubuh. Kita
membutuhkan mereka agar organ berfungsi dengan baik. Gangguan fungsi tersebut kadang-
kadang dapat terjadi dengan terjadi dengan cara yang misterius (Susan Blum, The Immune
System Recovery Plan)
Dalam prosesnya system tubuh memerlukan banyak vitamin dan mineral yang
kompleks untuk menjalankannya, kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi dapat
menggangu system secara keseluruhan. Idealnya, tubuh medapatkan gizi yang diperlukan dari
asupan makanan sehari-hari. Makanan sehat atau apa yang disebut demikian. Memiliki
kandungan zat gizi yang relative lengkap untuk mencukupi kebutuhan tubuh.
Meski demikian, berbagai factor dapat menjadi penyebab kurangnya asupan gizi
tertentu. Misalnya di wilayah yang kurang mendapat paparan sinar matahari, defisiensi
Vitamin D mungkin menjadi resiko bagi kebanyakan orang. Orang yang hidup di dunia
modern, konsumsi junkfood akan menyebabkan kurangnya asupan zat gizi dan stress dapat
menguras persediaan zat-zat gizi dalam tubuh.
Penilaian status gizi secara biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara
laoratori yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang
digunakan antara lain darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan
otot. Pemeriksaaan biokimia mempunyai kelebihan yaitu dalam penilaian status gizi
memberikan hasil yang lebih tepat dan obyektif daripada menilai konsumsi pangan dan
pemeriksaan lain (Supariasa, 2002).
Berikut adalah tanda biokimia dan defisiensi atau kekurangan zat gizi yang umum
dijumpai :

1. Vitamin A
Vitamin A memegang peranan penting untuk pemeliharaan sel kornea dan epitel dari
penglihatan, metabolism umum dan proses reproduksi, membantu melindungi tubuh terhadap
kanker.
Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kebutaan. Kondisi ini juga dapat
meningkatkan risiko infeksi serius, terkadang fatal. Gejala berupa kebutaan malam, kulit
kering, dan sering infeksi.

Tanda Defisiensi :
Bintik pada bola mata, infeksi berulang, ketidakmampuan untuk melihat dalam cahaya
redup, kulit kering atau mata kering.
Tanda Biokimia :
Pemeriksaan vitamin A secara biokimia yaitu dengan pemeriksaaan serum Retinol
Bintind Protein (RBP) mempunyai asumsi bahwa RBP merupakan alat transport retinol.
Pemeriksaaan serum ini baru terlihat bila cadangan hati sudah habis atau sebaliknya
(Wirjatmadi dan Andriani, 2006). Kadar vitamin A dalam plasma tidak merupakan
kekurangan vitamin A yang dini, sebab deplesi terjadi jauh sebelumnya. Apabila sudah
terdapat kelainan mata maka kadar vitamin A serum sudah sangat rendah (kurang dari 5
g/100 ml), begitu juga kadar RBPnya (< 20 g/100ml). Konsentrasi vitamin A dalam hati
merupakan indikasi yang baik untuk menentukan status vitamin A. Akan tetapi, biopsy hati
merupakan tindakan yang mengandung resiko bahaya. Di samping itu, penentuan kadar
vitamin A jaringan tidak mudah dilakukan (Supariasa, 2002). Nilai batas normal plasma
vitamin A dalam darah (mg/100 ml) untuk semua umur dikategorikan sebagai berikut :

Kurang : < 10
Margin : 10 19
Cukup : 20 +

Diet yang dianjurkan (RDA) untuk vitamin A adalah 1,0 mg / hari untuk lelaki dewasa
dan 0,8 mg / hari untuk wanita dewasa. Karena beta-karoten dikonversi menjadi vitamin A
dalam tubuh, kebutuhan tubuh akan vitamin A dapat dipenuhi seluruhnya oleh beta-karoten. 6
mg beta-karoten dianggap setara dengan 1 mg vitamin A.
Menurut WHO (1982) dalam Supariasa (2002), penentuan masalah kesehatan
masyarakat kekurangan vitamin A secara biokimia yaitu dengan menggunakan indicator
plasma vitamin A 10 g/dl dengan batas prevalensi 5 %. Sedangkan untuk liver vitamin
A 5 g/dl dengan batas prevalensi 5 %.

2. Vitamin B kompleks
Vitamin B Kompleks terdiri dari beberapa vitamin, yaitu vitamin B1 (thiamin), vitamin
B2 (riboflavin), vitamin B3 (niacin), vitamin B5 (asam pantotenat), vitamin B6 (piridoksal),
vitamin B7 (biotin), vitamin B9 (folat), dan vitamin B12 (cobalamin). Kelompok vitamin ini
adalah bersifat larut air (kecuali B12, artinya akan dikeluarkan oleh tubuh jika kelebihan. Jadi
tubuh kita sangat memerlukan dari makanan setiap hari.

Tanda Defisiensi :
Masalah kulit, seperti dermatitis, kulit kering, kulit pecah di sudut mulut, mudah memar
dan penyembuhan luka yang lama. Kelelahan, seperti otot lemah, atau semua otot, kedutan,
sakit otot, nyeri sendi, mati rasa, kesemutan di jari tangan dan kaki. Bayi lahir cacat mental,
terutama pada wanita hamil, yang dapat menimpa bayi yang dikandungnya. Beberapa efek
yang berkaitan dengan mental, gampang kebingungan, kehilangan konsentrasi, sakit kepala,
insomnia, dan mudah marah. Gejala gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare, juga
dapat terjadi karena kekurangan vitamin ini.

Tanda Biokimia :
Vitamin B, secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam metabolisme di
dalam tubuh, terutama dalam hal pelepasan energisaat beraktivitas. Hal ini terkait dengan
peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju
reaksimetabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis vitamin yang
tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah
(eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau
(Bajil, 2011).
Vitamin B1, yang dikenal juga dengan nama tiamin, merupakan salah satu jenis
vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu
mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-hari.
Di samping itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak. Bila
terjadi defisiensi vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering
dan bersisik.Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung,
dan sistem saraf. Untuk mencegah hal tersebut, kita perlu banyak mengonsumsi
banyakgandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan. Bahan makanan
inilah yang telah terbukti banyak mengandung vitamin B1.Fungsinya sebagai ko-enzim pada
metabolisme karbohidrat dan reaksi-reaksi fisiologis lainnya. (Bajil, 2011).
Vitamin B2 (riboflavin) banyak berperan penting dalam metabolisme di tubuh
manusia. Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah satu kompenen koenzim flavin
mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin adenine dinukleotida (adenine
dinucleotide, FAD). Kedua enzim ini berperan penting dalam regenerasi energi bagi tubuh
melalui prosesrespirasi. Vitamin ini juga berperan dalam pembentukan molekul steroid,sel
darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagaiorgan tubuh, seperti kulit,
rambut, dankuku. Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran segar,kacang
kedelai, kuning telur, dan susu. Defisiensinya dapat menyebabkan menurunnya daya tahan
tubuh, kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan. Fungsinya
sebagai ko-enzim pada Flavoprotein, yaitu enzim-enzim yang memegang peranan penting
dalam metabolisme asam amino. (Bajil, 2011).
Vitamin B3, juga dikenal dengan istilah niasin. Vitamin ini berperan penting dalam
metabolismekarbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, danprotein. Di
dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan
darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat
dinetralisir dengan bantuan vitamin ini. Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang
banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan.
Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini
dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat
menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan,
muntah-muntah, dan mual. Fungsinya sebagai ko-enzim pada proses oksidasi-reduksi,
misalnya dehidrogenase pada perombahan oksidatif karbohidrat dan asam amino (Bajil,
2011).
Vitamin B5 (asam pantotenat)banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di dalam tubuh.
Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis metabolisme, seperti
dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama lemak. Peranan lain vitamin ini adalah
menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat danotak dan memproduksi senyawa
asam lemak, sterol, neurotransmiter, danhormon tubuh. Vitamin B5 dapat ditemukan dalam
berbagai jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal, dan hati hingga
makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Seperti halnya vitamin B1 dan B2,
defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan bersisik. Selain itu,
gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta kesulitan untuk tidur. Fungsinya
memegang peranan penting dalam proses metabolisme karbohidrat dan lemak (Bajil, 2011).
Vitamin B6 (piridoksin), merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh.
Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawakoenzim A yang digunakan tubuh untuk
menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, sepertispingolipid dan fosfolipid.
Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi
sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya
bagi tubuh. Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena
vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan.
Kekurangan vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah,
keram otot, daninsomnia. Fungsinya memegang peranan penting dlm metabalisme
karbohidrat dan asam amino (Bajil, 2011).
Vitamin B12 atausianokobalamin, merupakan jenis vitamin yang hanya khusus
diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan padatanaman. Oleh karena itu, vegetariansering
kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat kekurangan vitamin ini. Vitamin ini banyak
berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. Vitamin B12 juga termasuk dalam salah
satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan
molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah.Telur, hati, dan daging merupakan
sumber makanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12. Kekurangan vitamin ini
akan menyebabkananemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu, dan iritasi kulit (Bajil,
2011).
Bentuk aktif vitamin B12 adalah sebagai koenzim, terikat pada 5deoksiadenyl
melalui atom Co pada struktur vitamin ini. Vitamin B12 berperan pula dalam methylasi 5-
methyl-THF menjadi THF yang diperlukan dalam sintesis methionine. Vitmain B12 dan
asam folat saling berpengaruh atas kebutuhannya. Bila salah satu vitamin ditambah, maka
akan menyebabkan kebutuhan vitamin lainnya meningkat.
3. Vitamin C

Vitamin C adalah zat gizi yang tidak diproduksi oleh tubuh kita, namun selalu
dibutuhkan setiap harinya. Karena itu, tubuh perlu mendapat asupan vitamin C dari luar
tubuh seperti buah dan sayur, atu dari suplemen vitamin C secara rutin. Saat kekurangan
vitamin C pada tingkat yang parah, tubuh akan mengalami penyakit yang dinamakan dengan
skorbut. Penyakit skorbut adalah gangguan sintesis kolagen (jaringan ikat yang merupakan
bagian dari tulang, gigi, sendi, dinding pembuluh darah dan juga kulit) atau pembentukan
kolagen yang cacat.
Tanda Defisiensi :
Lemah, letih lesu, dan depresi, gusi berdarah, gigi longgar atau gingivitis, perubahan
mood meluap-luap, depresi, dan mudah marah, mudah memar atau luka namun sulit sembut,
nyeri sendi, mudah sakit

Tanda Biokimia :
Asam askorbat (Vitamin C) adalah suatu heksosa dan diklasifikasikan sebagai
karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida.Vitamin C mudah diabsorbsi secara
aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk keperedaran
darah melalui vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan 120
mg sehari.Tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C, bila konsumsi mencapai 100
mg sehari.(Sunita Almatsier 2001). Metabolisme vitamin C terdiri dari oksidasi, ekskresi dan
regenerasi. Hasiloksidasi vitamin C yang pertama adalah radikal bebas askorbil yang
biasaberubah secara reversibel menjadi bentuk vitamin C kembali atau akan mengalami
oksidasi ireversibel menjadi dehydro-L-ascorbid acid. Vitamin C dapat juga mengalami
oksidasi setelah bereaksi dengan vitamin E atau radikal urat.Vitamin C dapat dengan mudah
melepaskan elektron karena oksidasi monovalenreversibel menjadi radikal askorbil, sehingga
dapat berperan dalam systemredoks biokimia. Peranan vitamin C sebagai antioksidan karena
kemampuanbereaksi dengan radikal bebas : SOR, anion superoksida dan radikal
hidroksil.Vitamin C bersifat hidrofilik lebih berperan menjadi proteksi sel di dalam
sitosoldengan cara menurunkan semistabil radikal kromanoksil dan meregenerasivitamin E
(Carr 1999).
Efisiensi antioksidan vitamin C sangat besar pada konsentrasi vitamin yang rendah,
pada kondisi tersebut reaksi yang predominan adalah reaksipemutus. Pada konsentrasi tinggi,
vitamin C menghambat secara signifikan reaksi rantai yang berlanjut antara asam askorbil
dan molekul oksigen. Fungsimetabolik vitamin C sebagai kofaktor enzim (hydroxilating
enzymes), agenprotektif (hydroxylases pada biosintesis collagen), dan sebagai radikal
yangbereaksi dengan metal ion (Carr 1999).
Vitamin C dapat diabsorpsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus
halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk
konsumsi antara 20 dan 120 mg sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 mg (sebagai pil) hanya
diabsorpsi sebangak 16%.Vitamjn C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi
tertinggi adalah didalam jaringan adrenal, pituitari dan retina (Almatsier 2004).
4. Zat Besi
Kekurangan zat besi adalah sangat lazim pada bayi, anak-anak, dan wanita hamil. Ini
mungkin timbul dari asupan zat besi memadai, absrorption miskin, kerugian yang berlebihan,
atau kombinasi dari faktor-faktor ini. Dalam keadaan normal, hanya sejumlah kecil zat besi
yang hilang setiap hari, dengan pengecualian kerugian menstruasi pada wanita
premenopause.
Mineral besi terdapat dalam sel darah merah, yang membawa oksigen ke tubuh dan
memberikan kontribusi untuk pertumbuhan sel. Kekurangan zat besi, atau anemia, adalah
kekurangan zat gizi yang paling umum di seluruh dunia.
Dosis yang dianjurkan : RDA untuk wanita usia 19 50 tahun adalah 18 mg, diatas usia
50 tahun adalah 8 mg. ibu hamil membutuhkan 27 mg. Meskipun mineral besi susah diserap
ke dalam tubuh, asupan zat besi berlebihan tidak dianjurkan. Asupan mineral besi yang
berlebihan merupakan factor resiko penyakit kardiovaskular.

Tanda Defisiensi :
Manifestasi fisik jelas dari kekurangan zat besi meliputi anemia, hypochlorhydria, dan
koilonikia (kuku sendok). Gangguan perilaku seperti pika, dicirikan oleh konsumsi abnormal
nonfood item seperti kotoran (geophagia) dan es (pagophagia), juga dapat terjadi. Lainnya
kurang spesifik manifestasi fisiologis yang berhubungan dengan defisiensi zat besi termasuk
kelelahan, anoreksia, kelelahan, latihan terganggu atau kinerja, keterlambatan perkembangan,
dan gangguan kognitif.
Kelelahan biasanya merupakan ciri khas defisiensi zat besi, karena anda tidak
mendapatkan cukup oksigen untuk bahan bakar sel-sel anda. Anda juga mungkin mengalami
sesak napas, bengkak, lidah mengkilap, kesulitan berkonsentrasi, dan sering infeksi.
Memiliki rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis, rata

Tanda Biokimia :
Tubuh manusia mengandung sekitar 2,5 sampai 4g dari zat besi elemental. Dari jumlah
ini, sekitar 70% dalam bentuk hemoglobin, pembawa zat pewarna oksigen dari sel darah
merah yang memainkan peran penting dalam mentransfer oksigen dari paru ke jaringan.
Hemoglobin terdiri dari empat subunit heme, masing-masing dengan rantai polipyeptida yang
terpasang globin. Setiap molekul heme terdiri dari molekul IX protoporfirin dengan satu atom
besi. Selain itu, sekitar 4% dari besi tubuh dalam bentuk mioglobin, penyimpanan protein
yang mengikat oksigen ditemukan di otot. Struktur mioglobin mirip dengan hemoglobin,
kecuali bahwa itu hanya berisi satu unit heme dan globin satu rantai.
Zat besi untuk orang dewasa, termasuk wanita hamil dan menyusui dengan umur 19
tahun, pada 45 mg / d, sedangkan pada tingkat untuk bayi dan anak-anak usia 1-18 tahun 40
mg/d (IOM,2001).
5. Defisiensi Yodium
Kekurangan yodium adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang kurang mendapatkan
asupan yodium sehingga tubuh tidak mampu menghasilkan hormone tirois secara memadai.
Kekurangan yodium berat akan menyebabkan beberapa masalah kesehatan seperti gondok
(goiter), hipotiroidisme, kretinisme, dan penurunan kesuburan pada wanita. Pada lingkup
populasi, kekurangan yodium berat dapat meningkatkan angka kematian bayi serta
keterbelakangan mental.

Tanda Defisiensi :
Adanya pembesaran kelenjar tiroid, reterdasi mental, gangguan pendengaran, gangguan
bicara, kretinisme (biasanya terjadi pada anak-anak)

Tanda Biokimia :
Tubuh manusia orang dewasa nomal mengandung sekitar 15-20 mg yodium, dimana
70% -80% terkonsentrasi di kelenjar tiroid. Pada kasus gondok dan asupan yodium rendah,
jumlah yodium dalam kelenjar dapat sesedikit 1 mg. Yodium terjadi dalam jaringan terutama
sebagai yodium organik terikat; iodida anorganik ada dalam konsentrasi yang sangat rendah.

6. Kurang Energi Protein


Kurang Energi Protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh
rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari-hari dan atau gangguan
penyakit tertentu. Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat
badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS.
KEP merupakan defisiensi gizi (energy dan protein) yang paling berat dan meluas terutama
pada anak balita.

Tanda Defisiensi :
a. Pada Rambut terdapat tanda-tanda kurang bercahayaa (lack of clustee), rambut
kusam dan kering, rambut tipis dan jarang.
b. Pada Wajah diantaranya terjadi penurunan pigmentasi (defuse depigmentation) yang
tersebar berlebih apabila disertai anemia. Wajah seperti bulan (moon face), wajah
menonjol keluar, lipatan naso labial, pengeringan selaput mata (conjuction xerosis),
bintik bilot (bilots sport), pengeringan kornea (corne xerosis).
c. Pada Mata, antara lain pada selaput mata pucat, keratomalasia, keadaan permukaan
halus/lembut dari keseluruhan bagian tebal atau keseluruhan kornea, angular
palpebritis. Sedangkan pada bibir terjadi angular stomatitis, jaringan parut angular
cheilosis.
d. Pada Lidah, edema dari lidah. Lidah mentah atau scarlet, lidah magenta, atrofi
papilla (papilla atrophic).
e. Pada Gigi, mottled enamel, karies gigi, pengikisan (attrition), hipolasia enamel
(enamel hypolasia), erosi email (enamel erosion), spongy bleeding gums, yaitu
bunga karang keunguan atau merah yang membengkak pada papilla gigi bagian
dalam dan atau tepi gusi.
f. Pada Kulit, antara lain : xerosis yaitu keadaan kulit yang mengalmai kekeringan
tanpa mengandung air, Follicular hyperkeratosis, Petechiae. Bintik haemorhagic
kecil pada kulit atau membrane berlendir yang sulit dilihat pada orang kulit gelap,
Pelagrous rash atau dermatosis (spermatitis).
g. Pada Kuku diantaranya : koilonychias, yaitu keadaan kuku bagian bilateral cacat
berbentuk sendok pada kuku orang dewasa atau karena sugestif anemia (kurang zat
besi). Kuku yang sedikit berbentuk sendok dapat ditemukan secara umum hanya
pada kuku jempol dan pada masyarakat yang sering berkaki telanjang.

Tanda Biokimia :
Perubahan pada protein spesifik seperti protein transport hepar (albumin, transferin,
pre-albumin, retinal-binding protein) dapat juga digunakan untuk menilai malnutrisi,
biasanya pada keadaan stres dan menggambarkan penurunan sintesis, ekstravasasi jaringan,
dan ekspansi cairan ekstraseluler. Pada keadaan stres, serum protein akan menurun seiring
dengan kehilangan massa sel tubuh. Konsentrasi serum protein menurun pada malnutrisi
murni meskipun kehilangan massa tubuh secara signifikan karena kehilangan massa dan air
adalah proporsional. Meskipun demikian, serum protein digunakan pada penilaian metabolik
dari pasien malnutrisi kronik. Serum albumin yang rendah dikaitkan dengan peningkatan
mortalitas pada pasien bedah dan penyakit kronik. Waktu paruh serum albumin untuk
menjadi tidak sensitif terhadap perubahan akut dari status nutrisi ialah 14-20 hari. Hal
tersebut dipengaruhi oleh transfusi albumin, dehidrasi, inflamasi, dan penyakit hepar. Serum
albumin < 3.5 g/dl mulai menunjukkan proses malnutrisi, sedangkan , 2.5 g/dl menunjukkan
malnutrisi berat. Serum transferin dapat pula digunakan untuk mengukur penilaian malnutrisi.
Waktu paruh serum transferin ialah 9 hari. Namun, serum transferin akan meningkat apabila
terjadi perdarahan. Penurunan serum transferin terjadi pada keadaan perioperatif. Serum
prealbumin merupakan penanda yang paling dapat dipercaya sebagai penanda malnutrisi akut
dibandingkan serum albumin dan transferin. Waktu paruh serum prealbumin ialah 24-48 jam.
Abnormalitas imunitas dan limfositopeni absolut dapat juga menjadi indikator penilaian
malnutrisi. Keadaan ini dijumpai pada bermacam-macam keadaan penyakit, misal kanker,
penyakit vaskular, sepsis, uremia, dan cirrhosis, selain itu keadaan tersebut dapat juga
diakibatkan oleh penggunaan obat-obatan. Sehingga menjadi kurang spesifik.
REFERENSI

http://www.smallcrab.com/kesehatan/861-masalah-kekurangan-vitamin-a
https://www.google.co.id/amp/www.tipscaramanfaat.com/akibat-tubuh-jika-kekurangan-
vitamin-b-kompleks-1793.html/amp
http://holisticare.co.id/gejala-dan-ciri-tubuh-kekurangan-vitamin-c/
http://apikanovita.blogspot.co.id/2014/04/makalah-gangguan-akibat-kekurangan.html?m=1
http://www.indonesian-publichealth.com/tanda-klinis-gizi-buruk/
https://www.google.co.id/amp/s/leilyairwanti.wordpress.com/2015/06/02/metode-biokimia-
vitamin-a/amp/
http://googleweblight.com/?lite_url=http://publichealth08.blogspot.com/2011/12/metabolism
e-vitamin-c.html?m%3D1&ei=dm2PC30_&lc=id-
ID&s=1&m=636&host=www.google.co.id&ts=1507694129&sig=ANTY_L2lsvuC2ocS0Io
MM_XafOM5bWK6nQ
https://www.google.co.id/amp/s/ikameilaty.wordpress.com/2010/12/08/analisis-kadar-
vitamin-c-metode-titrimetri/amp/
http://tirzafebrianys.blogspot.co.id/2014/11/vitamin-dan-koenzim-biokimia.html?m=1
http://www.academia.edu/17563415/DEFISIENSI_VIT_C
https://www.google.co.id/amp/s/leilyairwanti.wordpress.com/2015/06/02/penentuan-status-
gizi-biokimia-yodium-2/amp/
https://mabanget.wordpress.com/2009/10/05/referat-malnutrisi/
https://googleweblight.com/?lite_url=https://leilyairwanti.wordpress.com/2015/06/02/15/&ei
=QLHVp2y1&lc=id-
ID&s=1&m=636&host=www.google.co.id&ts=1507704059&sig=ANTY_L23WpEFuryYyk
b4M0oUu6aWfKfnHg