Anda di halaman 1dari 10

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

LAPORAN PROPOSAL COMPANY VISIT


REPOEBLIK TELO
LAWANG MALANG

Disusun Oleh:

Nama : Elga Dian Sefti


Nim : 2014310305
Kelas :J

STIE PERBANAS SURABAYA


2016 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt atas segala nikmat yang diberikan
kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan proposal Company Visit Repoeblik Telo.
Tak lupa kami haturkan shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw
sebagai Nabi yang menjadi suri tauladan bagi kita semua. Laporan ini disusun sebagai ulasan
dari rangkaian perjalanan Company Visit yang diadakan di Sentral Pengembangan Agribisnis
Terpadu (SPAT) Bakpao Telo di Lawang, Malang JATIM. Proposal ini juga merupakan tugas
yang dilaksanakan dalam rangka penyelesaian Mata Kuliah Sistem Pengendalian Manajemen
di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PERBANAS Surabaya.
Mengigat keterbatasan yang ada kami menyadari sepenuhnya bahwa isi proposal ini
masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan masukan
dan saran yang sifatnya konstruktif dari semua pihak guna penyempurnaan proposal ini.
Tak lupa kami mengucapkan terimah kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen
pembimbing dan Pemandu lapangan, atas segala bantuan mulai dari rencana kegiatan,
pelaksanaan, hingga penyusunan proposal ini. Semua pihak yang telah turut memberikan
sumbangsih sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik.
Akhirnya kami senantiasa berharap semoga proposal ini dapat menjadi salah satu
sumber informasi dan pengetahuan bagi kita semua.

Surabaya, 04 Januari 2016

Elga Dian Sefti


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Indonesia sudah lama dikenal sebagai salah satu negara yang berbasis pertanian.
Dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini didukung
oleh sumber daya alam yang melimpah dan tanah yang subur yang cocok untuk ditanami segala
jenis komoditi pertanian. Sayangnya, potensi yang sangat menguntungkan tersebut tidak
didukung dengan adanya sumber daya manusia yang baik pula, sehingga Indonesia tertinggal
jauh dengan negara-negara lainnya. Untuk itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus dapat
meningkatkan pertanian di Indonesia agar terwujud pertanian yang tangguh dan
lestari sehingga bisa memberi inovasi yang bisa menghasilkan produk pertanian yang bagus
dan berkualitas baik dinillai dari sisi kesehatan, dan dinilai dari bidang agribisnis.
Hasil pertanian sangat beraneka ragam dan berbagai manfaat dari produk hasil
pertanian, untuk memenuhi kebutuhan kehidupan baik dalam bentuk konsumsi sendiri atau pun
dijual untuk kebutuhan lain. Produk produk pertanian yang dijual bernilai agribisnis, baik
dijual perorangan, pengumpul atau produk yang telah diolah sehingga bernilai agribisnis yang
sebenarnya yang disebut kegiatan bisnis.
Kegiatan bisnis sebagai aktivitas yang menyediakan barang dan jasa yang diperlukan
atau diinginkan oleh konsumen,dapat dilakukan oleh organisasi perusahaan yang memiliki
badan hukum,perusahaan yang memiliki badan usaha maupun perorangan yang tidak memiliki
badan hukum maupun badan usaha seperti pedagang kaki lima serta usaha informal lainnya.
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah, otonomi daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-
aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintah daerah, potensi dan
keanekaragaman daerah, peluang dan persaingan global, dengan memberikan peluang yang
seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban
menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan system penyelenggaraan pemerintah. Di
mana pemerintah menurut asas otonomi khusus diarahkan untuk mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan pertanian merupakan bagian dari pembangunan ekonomi nasional yang
bertumpu pada upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan dan makmur
seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu pembangunan
pertanian sebagaimana pembangunan perekonomian nasional harus dilakukan dengan
memberdayakan potensi sumberdaya ekonomi dalam negeri yang dimiliki, serta
memperhatikan perkembangan ekonomi dunia yang terus berkembang secara dinamis.
Basis kekuatan ekonomi nasional berada dipedesaan. kekayaan agraris di Indonesia
berupa pertanian harus tetap dijaga. Sesuai dengan namanya Sentra Pengembangan Agrobisnis
Terpadu (SPAT) merupakan puncak aktivitas bisnis pertanian, media untuk memposisikan para
petani dan kelompok uasaha kecil untuk langsung bereinteraksi pasar.
Dispat ini menyajikan Bakpao Telo sebagai produk unggulan untuk menarik minat beli
konsumen. Bakpao Telo adalah bakpao yang berbahan dasar ubi jalar yang kemudian
dihancurkan menjadi tepung ubi jalar. Untuk tetap mempertahankan minat beli terhadap
Bakpao Telo, manajemen harus mengantisipasi strategi pemasaran dengan mempertahankan
kepuasan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberi nilai dan
kepuasan kepada konsumen melalui penyampaian produk dan jasa yang berkualitas dengan
harga bersaing. Atribut Bakpao Telo adalah unsur-unsur Bakpao Telo yang dipandang penting
oleh konsumen dan dijadikan dasar pengembangan keputusan pembelian.
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sumber modal dan struktur permodalan perusahaan agribisnis Republik
Telo?
2. Bagaimana kinerja finansial mencakup omzet, rentabilitas, struktur asset, likuiditas
keuangan lainnya pada perusahaan Republik Telo?

I.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penulisan dari laporan proposal ini adalah :
1. Untuk menambah wawasan mahasiswa dalam hal manajemen agribisnis.
2. Untuk menambah pengetahuan mahasiswa dalam hal manajemen agribisnis.
3. Untuk menambah pengalaman lapangan mahasiswa dalam hal manajemen agribisnis.
4. Untuk mengetahui sumber modal dan struktur permodalan perusahaan agribisnis
Republik Telo.
5. Untuk mengetahui kinerja finansial mencakup omzet, rentabilitas, struktur asset,
likuiditas keuangan lainnya pada perusahaan Republik Telo.

BAB II
KERANGKA TEORITIS

Menurut Austin Agribisnis adalah kesatuan kegiatan usaha yang meliputi kegiatan
usahatani, pengolahan bahan makanan, usaha sarana dan prasarana produksi pertanian,
transportasi, perdagangan, kestabilan pangan dan kegiatan-kegiatan lainnya termasuk distribusi
bahan pangan dan serat-seratan kepada konsumen. Kegiatan usaha tersebut tidak lain yaitu
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari agar terwujudnya kesejahteraan.
Sistem Agribisnis adalah semua aktivitas mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana
produksi sampai kepada pemasaran produk-produk yang dihasilakan oleh usaha tani dan
agroindustri yang saling terkait satu sama lain. Sistem agribisnis merupakan suatu konsep yang
menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komprehensif sekaligus
sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan.
Sistem Agribisnis merupakan suatu system yang terdiri dari beberapa susisten,
diantaranya Subsistem hulu, Subsistem Usaha Tani, Subsistem Pengolahan, Subsistem
Pemasaran, dan Subsistem Jasa Pendukung.
Lingkup kegiatan agribisnis mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan
dan kehutanan. pertanian dalam arti luas adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak,
serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan
hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama budi daya (cultivation, atau untuk ternak:
raising), Sedangkan pertanian dalam arti sempit adalah proses menghasilkan bahan makanan.
Perkebunan merupakan usaha tani di lahan kering yang ditanami dengan tanaman industri yang
laku di pasar. Peternakan merupakan usaha tani yang dilakukan dengan membudidayakan
ternak.
Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi,
pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis
perikanan. Berikkutnya bagian terakhir dari lingkup kegiatan bisnis yaitu kehtanan, Kehutanan
adalah kegiatan pertanian yang dilakukan untuk mempoduksi atau memamfaatkan hasil
hutan,baik yang timbuh atau hidup secara alami maupun yang telah dibudidayakan.
Kegiatan agribsnis umumnya berbasis kekuatan ekonomi nasional berada dipedesaan.
kekayaan agraris di Indonesia berupa pertanian harus tetap dijaga. Sesuai dengan namanya
Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) merupakan puncak aktivitas bisnis
pertanian, media untuk memposisikan para petani dan kelompok uasaha kecil untuk langsung
bereinteraksi pasar.
Salah satu pengembangan produk pertanian berbasis agribisnis adalah Republik
Telo terletak di Jalan Raya Purwodadi No 1, Simping Kecamatan Purwodadi Kabupaten
Pasuruan Jawa Timur Indonesia yang merupakan tempat yang sangat strategis untuk pusat
pengembangan agribisnis karena tempat tersebut merupakan jalan lintas dari Malang menuju
Surabaya dan Pasuruan sehingga sangat banyak pengunjung yang mampir untuk mengunjungi
Republik Telo dan menikmati produk dari Republik Telo sambil beristirahat. Namun tidak
sedikit pengunjung yang sengaja datang untuk berbelanja dan menikmati produk produk
Republik Telo. Selain itu tempat Republik Telo sangat sejuk dan terdapat pemandangan yang
indah karena merupakan daerah sekitar pegunungan dan terletak dipedesaan sehingga sangat
tenang untuk beristirahat serta berwisata.
Direktur Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu SPAT (Ir. Unggul Abinowo, MS)
menyatakan bahwa SPAT merupakan kegiatan pengembangan agribisnis yang memanfaatkan
potensi sumber daya lokal secara optimal untuk peningkatan pendapatan. Visi SPAT ialah
mewujudkan model pertanian terpadu yang efisien, tangguh, modern berkelanjutan dan
berdimensi kerakyatan. Komoditas utama yang dikembangkan SPAT adalah ubi jalar, selain
itu juga dikembangkan komoditas lainnya, dengan sistem pengembangan diversifikasi produk
olahan.
Pengembangan kerja sama dengan kelompok tani perlu dilaksanakan agar petani
mampu memproduksi ubi jalar sesuai dengan permintaan pasar. Bentuk kerja sama dengan
petani plasma penghasil ubi jalar adalah dalam bentuk membeli ubi jalar (produk) yang
diusahakan petani dengan harga yang layak (adanya jaminan pasar) dan sarana yang diberikan
ke petani di antaranya adalah kemudahan dalam meningkatkan permodalan (jaminan dalam
meminjam uang ke bank).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 WAKTU DAN TEMPAT


Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2016 di SPAT (sentra
pengembangan agribisnis terpadu) Jl. Raya Purwodadi Kabupaten Pasuruan.

3.2 SUMBER DATA


Data yang kami peroleh dalam pratikum ini adalah data primer dan data
skunder,yang mana data primer merupakan sumber data yang di peroleh secara langsung
dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer umumnya berupa opini
subyek (orang) secara individual atau kelompok,hasil observasi terhadap suatu benda
(fisik),kejadian atau kegiatan dan hasil pengujian.
Dan data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara
tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data
sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam
arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan.
Data sekunder ini di dapat setelah mengidentifikasi data yang dibutuhkan, yaitu
berupa topik bahasan yang ingin dibahas dalam praktikum seperti mengenai gambaran
umum perusahaan serta kelembagaan dan kemitraan perusahaan.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan


a) Lokasi perusahaan
Salah satu pengembangan produk pertanian berbasis agribisnis adalahRepublik
Telo terletak di Jalan Raya Purwodadi No 1, Simping Kecamatan Purwodadi
Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Indonesia yang merupakan tempat yang sangat
strategis untuk pusat pengembangan agribisnis karena tempat tersebut merupakan
jalan lintas dari Malang menuju Surabaya dan Pasuruan sehingga sangat banyak
pengunjung yang mampir untuk mengunjungi Republik Telo dan menikmati produk
dari Republik Telo sambil beristirahat. Namun tidak sedikit pengunjung yang sengaja
datang untuk berbelanja dan menikmati produk produk Republik Telo. Selain itu
tempat Republik Telo sangat sejuk dan terdapat pemandangan yang indah karena
merupakan daerah sekitar pegunungan dan terletak dipedesaan sehingga sangat tenang
untuk beristirahat serta berwisata.
b) Pendirian perusahaan (sejarah perusahaan)
Republik Telo yang awalnya diprakarsai oleh Unggul Abinowo merupakan
perusahaan pengolahan sumber daya alam berupa telo dalam berbagai olahan yang
disebut juga dengan Perusahaan SPAT (Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu)
yang terletak di di Purwodadi-Malang., Jawa Timur. Republik telo awalnya adalah
sebuah home industri kecil yang didirikan oleh Unggul Abinowo (45 tahun).
Berbicara tentang nasib petani Indonesia sama artinya dengan membicarakan
penderitaan yang tidak berujung pangkal dan tidak pernah berakhir. Tidak heran
kegelisahan serta keprihatinan itu terus-menerus terekspresikan dalam nada bicara Ir
Unggul Abinowo alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun
1984 yang sekaligus perintis penerapan sistem terminal agrobisnis di Kabupaten
Pasuruan Jawa Timur (Jatim). Ayah berputra dua ini mengaku telanjur mencintai dan
mendedikasikan dirinya pada dunia pertanian serta kehidupan petani. Bahkan sejak
kelas dua sekolah menengah atas Unggul sudah mencoba terjun menjadi petani yang
sebenarnya. Ia menyewa sebidang lahan yang ia tanami beberapa jenis tanaman
pangan dan perkebunan, modalnya hanya uang saku serta sedikit dana
pinjaman. Usahanya bertani terus berkembang hingga saat ia kuliah di Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya. Waktu di tingkat dua saya malah sudah punya
kendaraan dan sopir sendiri. Saat itu saya sudah mengelola sekitar 22 hektar lahan
yang masih saya sewa jelas Unggul bangga. Terlahir sebagai putra keempat dari
pasangan Prof Dr Ir Moeljadi Banoewidjojo dan Hajjah Soemarni Kartamihardja pada
6 Mei 1960, Unggul sejak kecil dekat dengan dunia pertanian. Hal ini lantaran
almarhum ayahnya juga Professor di bidang pertanian.
Tahun 1984, mantan Sekjen Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) Nasional tahun
2000 ini mendirikan Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT). Sentra ini
rutin melakukan enam kegiatan, mulai dari pusat pendidikan dan pelatihan terpadu,
pusat data dan informasi, pusat kajian dan strategi gerakan pembangunan desa, pusat
pengembangan teknologi tepat guna, pusat kajian investasi dan pembiayaan, hingga
terminal agrobisnis. Kemudian di atas lahan seluas 8.000 meter persegi di perbatasan
Kabupaten Pasuruan dan Malang itu dia bangun terminal agrobisnis yang terdiri atas
Kantor Sekretariat SPAT, ruang pamer produk tanaman hias, hidroponik, dan pupuk.
Sementara bangunan terakhir yang menjadi inti terminal agrobisnis adalah ruang
pamer produk agro hasil olahan dan hasil kerajinan dari Kabupaten Pasuruan dan
beberapa daerah lain.
Terminal agrobisnis ini juga memiliki fungsi untuk media berpromosi, pusat
data, sekaligus tempat pengolahan produk pertanian untuk mendapatkan nilai tambah
yang tinggi. Kegagalan produksi masih bisa disiasati, namun kegagalan dalam
pemasaran membuat kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dengan mengolah,
mengemas, serta memasarkan produk pertanian sedemikian rupa hingga
meningkatkan nilai jual, kegagalan produksi bisa dikompensasi, ujarnya.
Sampai kini ada sekitar 350 petani dari berbagai daerah yang memasarkan
produk mentah sampai olahan di terminal agrobisnis ini. Mereka tidak hanya berasal
dari Jatim bahkan juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedikitnya ada 300 jenis
produk dijual di lokasi ini. Sementara, menurut Unggul, omzet rata-rata setiap bulan
terminal agrobisnis ini mencapai Rp 300 juta-Rp 400 juta. Di terminal ini, petani
menetapkan harga jual produknya, kemudian produk itu dicoba jualkan yang
sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Namun sebelumnya, harga terlebih
dulu dinaikkan 20 persen. Sepuluh persen untuk pajak dan sisanya untuk SPAT.
Setelah tiga bulan produk itu akan dievaluasi kelebihan serta kekurangannya.
Jika terbukti laris dan si petani berniat mengembangkannya, namun terbentur modal,
SPAT melalui divisi investasi dan pembiayaan akan memberi pinjaman dengan
pengembalian diambil langsung dari hasil penjualan nanti. Namun, jika hasil evaluasi
menunjukkan masih terdapat kekurangan, SPAT akan memberikan masukan untuk
upaya perbaikan serta kemungkinan pengembangannya lebih lanjut. Selama ini
memang ada yang salah dengan kebijakan kita di bidang pertanian. Dari dulu sampai
sekarang petani cuma dijadikan alat untuk melegalkan kepentingan di luar mereka.
Sejak masa pemerintahan yang lalu dan berlanjut sampai sekarang. Tidak satu
pun kebijakan yang dihasilkan mampu menyentuh apa yang dibutuhkan petani.
Bahkan, partai-partai politik sekalipun memanfaatkan petani untuk keuntungan
sendiri, ujar pria yang pernah memperoleh penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat
Nasional tahun 1996 ini. Kalaupun ada yang berubah menurut Unggul, itu pun baru
sebatas terjadi pada pelaku pemerintahan. Tetapi, hal itu tidak berpengaruh sedikit pun
pada peningkatan harkat dan martabat petani. Selama ini petani cuma disuruh
memenuhi target produksi seperti, misalnya, program swasembada beras.
Bibit serta jenis varietas yang harus ditanam pun sudah ditentukan. Setelah
target terpenuhi, tak satu pun penentu kebijakan bertanggung jawab ketika harga jual
kemudian jatuh. Jika terus begini keadaannya, petani kita benar-benar tidak punya
harapan lagi, tambah laki-laki yang oleh pemerintah diberi kesempatan mewakili
petani Jatim berkunjung ke beberapa negara ASEAN dan Australia pada tahun 1991.
Sebelum menerapkan sistem perdagangan di terminal agrobisnisnya, Unggul
mempraktikkan sistem pengolahan dan pemasaran yang sama pada produknya sendiri.
Unggul, misalnya, mengolah ubi jalar produksinya menjadi bakpau yang
dinamai bakpao telo. Awalnya saya mencoba membangun brand image lewat
produksi bakpao telo. Saya coba buktikan bahwa dari ketela yang harga jualnya sekitar
Rp 200 per kg, bisa ditingkatkan menjadi Rp 750 hingga Rp 1.000 per kg, bahkan
lebih dari Rp 2.000 setelah dijadikan bakpao telo, ujarnya. Dari empat hektar lahan
tanaman ubi yang hasilnya diolah menjadi bakpao, saat ini berkembang menjadi
23 hektar dengan 12 petani plasma. Kebutuhan ubi yang dipakai untuk membuat
bakpao saat ini saja mencapai tiga sampai empat ton setiap minggu untuk
memproduksi 2.000-7.000 bakpao setiap minggunya. Jadi saya berharap, dengan
melihat contoh bakpao saja orang lain juga mau mencari potensi produk pertanian
mereka.
Terminal agrobisnis ini bertujuan menampung semua produk pertanian yang
kemudian diolah dan dikemas sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan nilai
jual serta nilai tambah produk itu, ujarnya. Semua kegiatan SPAT semuanya
bermuara pada pembentukan pasar. Setelah mengetahui apa yang diinginkan
konsumen barulah para petani mulai berproduksi dengan berpegang pada informasi
pasar. Unggul menuntut, kondisi yang berlaku selama ini sudah harus diperbaiki mulai
sekarang. Pemerintahlah yang harusnya menyediakan informasi pasar itu. Selama
ini, mereka hanya menghasilkan konsep ataupun teori berdasarkan penelitian para ahli
yang seharusnya terlebih dulu mendapat masukan dari para pelaku lapangan, tambah
Unggul.
Unggul mempertanyakan bagaimana mungkin para petani bisa mengangkat
harkat dan martabat mereka sendiri jika kebijakan yang berlaku tidak pernah benar-
benar berpihak pada petani. Padahal, kita negara agraris, 70 persen masyarakat
Indonesia petani. Kok, sampai sekarang kondisi mereka masih begini terus,
ujarnya. Semula, Republik Telo merupakan sebuah rumah makan. rumah makan ini
mengawali usahanya dengan memasarkan bakpao yang dibuat dari ubi jalar. Untuk
bagian luarnya, tepung ubi jalar dicampur dengan terigu. Sedangkan untuk isinya,
dipakai campuran ubi jalar dengan keju, kacang hijau, coklat, dan lain-lain.
Dispat ini menyajikan Bakpao Telo sebagai produk unggulan untuk menarik
minat beli konsumen. Bakpao Telo adalah bakpao yang berbahan dasar ubi jalar yang
kemudian dihancurkan menjadi tepung ubi jalar. Untuk tetap mempertahankan minat
beli terhadap Bakpao Telo, manajemen harus mengantisipasi strategi pemasaran
dengan mempertahankan kepuasan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan
persaingan adalah memberi nilai dan kepuasan kepada konsumen melalui
penyampaian produk dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing. Atribut Bakpao
Telo adalah unsur-unsur Bakpao Telo yang dipandang penting oleh konsumen dan
dijadikan dasar pengembangan keputusan pembelian.
Sukses mereka memasarkan bakpao telo kemudian dilanjutkan dengan
mengembangkan berbagai produk lainnya dari bahan baku yang sama. Hampir
semuanya berwarna ungu karena bahan bakunya dari ubi jalar yang berwarna ungu.
Mereka sangat kreatif menciptakan berbagai kue basah seperti: corobikang, brownies,
dan banyak lagi macamnya. Dalam bentuk kering hadir pula kripik ubi jalar. Juga ada
es krim dan jus dari ubi jalar. Pada tahap berikutnya mereka mengembangkan mi yang
dibuat dari ubi jalar. Warna mi-nya juga ungu. Sajian mi goreng telo dari rumah makan
ini cukup enak. Tidak ada bedanya dengan mi goreng enak lainnya.
Belakangan ini mereka juga membuat bakpia telo yang malah langsung
mendapat penghargaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai jajanan
tradisional terbaik. Harus saya akui, bakpia yang sangat renyah bagian luarnya ini
malah lebih bagus daripada bakpia terkenal dari satu kota di Jawa.
c) Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi SPAT
Direktur

General manager

General Finance & acc Marketing Produksi Qc


affair

Diklat Personali Foo &beverages Saprodi


BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Dari kajian yang kami bahas tentang repoeblik telo ini dapat kami simpulkan
bahwa perusahaan ini tergolong perusahaan yang berpotensi baik karena dengan adanya
repoeblik telo ini mengubah image telo menjadi produk pertanian yang memiliki nilai
jual tinggi. Sehingga komsumennya bukan hanya kalangan menengah kebawah melaikan
mencakup kalangan menengah keatas. Dilihat dari segi permodalan /aspek keuangan
perusahaan ini adalah perusahaan yang mandiri.

5.2 SARAN
1. Dalam proses produksi sebaiknya di tingkatkan sebab kepercayaan petani telo sangat
tergantung pada kelangsungan produksi bakpao telo
2. Dalam meningkatkan suatu usaha sebaiknya di jaga kualitas dan mutu yang di hasilkan
supaya tidak terjadi suatu kegagalan dan kurang kepercayaan produk bakpao telo
3. Diharapkan pada program KKLP selanjutnya bisa lebih di tingkatkan lagi supaya bisa
mengakses ilmu pengetahuan yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, Muhammad. 2010. Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara


Reksohadiprodjo, sukanto. Indriyo Gitosudarmo. 1986. Manajemen Produksi.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Yudhim. 2008. Contoh Struktur Organisasi Perusahaan. http://yudhim.blogspot.com.
Diakses pada tanggal 13-Des-2012