Anda di halaman 1dari 4

"Antara menjadi wanita karir dan ibu rumah tangga itu tidak akan pernah bisa berjalan beriringan.

Mereka harus memilih diantaranya." Hillary Rodham Clinton.

Untuk Siapa Wanita Bekerja


Haruskah seorang wanita bekerja? Bagaimana jika wanita tersebut telah menikah, bukankah
suami yang seharusnya mencukupi kebutuhannya? Lalu bagaimana bila suami belum dapat
memenuhi semua kebutuhan keluarga? Dan jika tidak bekerja, lalu buat apa wanita
diperbolehkan sekolah hingga ke perguruan tinggi dan bahkan terkadang prestasinya lebih baik
dari laki-laki?!
Adakah pertanyaan tersebut pernah terbesit dalam benak kita, wahai saudariku? Dilema yang
dihadapi kaum muslimah terutama setelah menikah dan mempunyai keturunan. Pilihan yang
dirasa berat saat harus memilih antara pekerjaan dan keluarga. Karenanya banyak yang memilih
untuk menjalankan keduanya.
Jika dilakukan survei apakah alasan wanita memilih tetap bekerja setelah menikah dan memiliki
anak, beragam alasan yang muncul. Mungkin alasan yang terbanyak adalah karena faktor
ekonomi. Tingginya kebutuhan keluarga dan harga yang terus meningkat tidak selalu berjalan
searah dengan peningkatan penghasilan menyebabkan istri dituntut pula untuk membantu suami
dalam mencari nafkah keluarga.
Selain masalah ekonomi, ada juga muslimah yang bekerja karena ingin mengabdikan ilmu yang
telah didapatnya seperti dokter, guru dan lainnya. Dan mungkin ada juga muslimah yang bekerja
untuk dapat meniti karirnya dibidang tertentu. Namun, selain alasan-alasan diatas, ada pula
muslimah yang memilih tetap bekerja karena merasa bosan dengan pekerjaan rutinitas
mengurus rumah tangga atau karena anggapan bahwa dengan bekerja pergaulan dan statusnya
lebih baik dibanding hanya menjadi ibu rumah tangga. Islam tidak melarang seorang muslimah
untuk bekerja, bukankah putri Rasulullah Fatimah mendapatkan upah dari hasil menumbuk
gandum. Kisah istri Nabi Ayub yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika Nabi
Ayub tengah sakit, juga adalah contoh bagaimana muslimah mengambil peran dalam turut
memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun tentunya Islam sebagai agama yang sempurna dan komplit memberikan petunjuk dan
arahan apa dan bagaimana sebaiknya muslimah bekerja. Dan tidak hanya batasan mengenai
pekerjaan apa yang baik, apa yang harus dihindari, tetapi Islam pun memberikan panduan
tentang penghasilan serta harta seorang muslimah yang bekerja.
Tugas atau peran utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah yang telah menjadi istri
dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi
nafkah. Seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk turut mencari nafkah, karena kewajiban ini
telah dibebankan kepada suami.
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.
(Al Baqarah: 233)
Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan
janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka
(istri-istri yang telah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga
mereka melahirkan. (Ath-Thalaq: 6)
Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak seperti yang
diperintahkan dalam ayat diatas. Dan kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan
anak-anak berlaku meski suami miskin atau istri dalam keadaan kaya/berkecukupan. Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan
rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.Allah tidak
memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Ath-Thalaq:7)
Mengenai besaran nafkah yang harus diberikan suami untuk keluarga, menurut beberapa ulama
adalah disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan kebiasaan yang berlaku dimasyarakat. Hal
ini sesuai dengan hadist; Ambilah nafkah yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang
baik. (HR Bukhari)
Standar minimal bagi seorang suami dalam memberikan nafkah kepada keluarga adalah batas
kecukupan. Tidak ada jumlah yang pasti untuk nafkah karena perbedaan waktu, kebiasaan,
murah dan mahalnya barang kebutuhan. Untuk itu suami harus memperkirakan nafkah
secukupnya untuk istri dan anak-anak, baik itu makanan beserta lauknya, pakaian dan
kebutuhan lainnya.
Batas kecukupan inilah yang terkadang memicu perselisihan, karena setiap orang/masyarakat
mempunyai standar kecukupan terhadap kebutuhan yang berbeda. Keluarga yang tinggal di
desa dengan keluarga yang tinggal di kota akan berbeda standar kecukupannya, meski
sebenarnya kebutuhan dasarnya adalah sama. Seorang istri yang berasal dari keluarga kaya
tentu memiliki standar kecukupan yang berbeda dengan istri yang berasal dari keluarga
sederhana. Untuk itu fuqaha Syafiiyah menilai ukuran kecukupan didasarkan pada ketentuan
syariat.
Nafkah yang harus dipenuhi suami kepada istri, antara lain tempat tinggal, makan dan minum,
pakaian, dan biaya kesehatan ketika sakit. Hal tersebut adalah nafkah yang utama disamping
nafkah lainnya yang mengikuti sesuai dengan kebutuhan. Suami berkewajiban memberikan
tempat tinggal untuk ditempati bersama demi mewujudkan ketenangan dan cinta kasih diantara
keduanya. Tempat tinggal tidak disyaratkan harus hak milik suami, karena dapat juga sewa atau
berupa pinjaman. Mengenai makanan dan minuman suami memberikan nafkah sesuai dengan
kebiasaan yang berlaku, seperti misalnya suami menyediakan berbagai peralatan dapur serta
memberikan uang belanja agar istri dapat memasak. Suami pun wajib memberikan pakaian
kepada istri dengan yang baik. Dan mengenai pakaian bagi istri, Islam telah mengatur
bagaimana pakaian yang sesuai syariat.
Jika istri terbiasa dengan adanya khadimah, maka suamipun dianjurkan untuk dapat
memenuhinya. Namun hal ini tentu kembali kepada kemampuan dari suami. Hendaklah orang
yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (Ath-Thalaq:7) Orang yang mampu
menurut kemampuannya dan orang miskin menurut kemampuannya (pula). (Al-Baqarah: 236)
Biaya hidup untuk memenuhi beragam kebutuhan tersebut kian tahun selalu meningkat. Dan
alasan inilah yang menyebabkan banyak muslimah yang turut membantu suami dalam mencari
nafkah.
Jika dulu mungkin pekerjaan yang tersedia untuk para muslimah adalah pekerjaan-pekerjaan
yang tidak jauh dari pekerjaan yang berkaitan dengan rumah tangga. Sekarang ini seiring
dengan akses untuk pendidikan yang lebih terbuka baik untuk pria maupun wanita, lapangan
pekerjaan pun semakin luas untuk para wanita. Bahkan ada yang mengatakan dengan
disebarluaskannya isu kesetaraan gender, wanita memiliki kesempatan dan hak yang sama
untuk setiap bidang pekerjaan.
Karena hal tersebut juga, sebagian orang berpendapat masuknya wanita pada pekerjaan di
sektor publik mempersempit lapangan kerja bagi lelaki, sehingga lelaki menjadi sulit mendapat
pekerjaan. Banyak industri yang terutama perusahaan kapitalis lebih memilih pekerja wanita
karena dinilai lebih teliti, lebih tekun dan lebih kecil upahnya atau kesejahteraan yang harus
ditanggungnya.
Entah pendapat tersebut benar atau tidak, perlu dikaji lebih dalam lagi. Tetapi, ada hal yang
perlu menjadi renungan kita bersama wahai ukti, ketika kita memutuskan untuk bekerja
membantu suami memenuhi nafkah keluarga. Luruskanlah niat kita untuk benar-benar
membantu suami memenuhi nafkah keluarga, bukan karena ingin mengejar karir, kedudukan,
popularitas atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain yang bukan utama dan hanya
karena ingin terlihat lebih baik dimata orang lain.
Di tengah arus informasi yang deras, tidak semua berita dan informasi benar dan bermanfaat.
Ada beberapa pihak yang sengaja memanfaatkan wanita sebagai objek komersial, seperti
propaganda kecantikan dengan berbagai produk perawatan hingga fashion. Image sebagai
wanita modern yang memiliki karir dan keluarga harmonis menjadi topik di media-media, bahkan
media yang khusus wanita tumbuh pesat. Wanita-wanita sukses menurut versi media
kebanyakan adalah yang memiliki karir di posisi tinggi pada perusahaan dan memiliki keluarga
yang harmonis dimana anak-anaknya memiliki prestasi akademis atau seni yang baik.
Sebagai muslimah, kita perlu terus memperkaya diri dengan ilmu yang berasal dari Quran dan
Hadist agar dapat memilah dan memilih informasi yang benar dan bermanfaat bagi diri dan
keluarga. Tugas utama manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt., dan ini berlaku
untuk lelaki maupun wanita. Dan bagi wanita muslimah ketika telah berkeluarga tugas utamanya
adalah melayani suami, melahirkan dan merawat serta mendidik anak-anak, dan menjaga
rumah, harta dan kehormatan suami. Para ulama berpendapat bahwa melakukan pekerjaan
rumah tidak merupakan kewajiban bagi istri, tetapi hal itu dianjurkan sebagaimana kebiasaan
yang berlaku dan istri mendapat pahala dengan mengerjakan pekerjaan rumah secara ikhlas.
Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, namun ada beberapa kekhawatiran seiring
dengan semakin banyaknya wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja dan mengejar karir di
luar rumah. Beberapa dampak negatif yang timbul diantaranya keluarga terpecah karena suami
istri sibuk bekerja dan anak-anak menjadi terlantar, istri menjadi terlalu lelah karena konsentrasi
yang terbagi antara beban pekerjaan di luar rumah dan juga dirumah, banyak penelitian
mengungkap salah satu pemicu angka perceraian meningkat adalah kerena wanita terlalu sibuk
di luar rumah sehingga mengabaikan urusan rumah tangga dan memicu pertikaian, angka
pengangguran lelaki yang meningkat, dan tersebarnya fenomena kerusakan sosial di
masyarakat.
Sebelum memutuskan untuk bekerja di luar rumah, ada baiknya melihat pada beberapa faktor
syari yang mendorong seorang muslimah untuk bekerja di luar rumah antara lain: Suami
kesulitan memberi nafkah istri dan keluarga. Syariat memberi pilihan bagi istri yang suaminya
tidak mampu memberi nafkah antara mengajukan fasakh atau tetap bertahan sebagai istri,
seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Istri yang memilih mempertahankan kehidupan suami
istri terpaks harus bekerja untuk mendapatkan materi sebagai penopang kehidupannya dan juga
keluarga. Suami dengan pendapatan terbatas sementara istri tidak bisa bekerja karena sibuk
membangun kehidupan mulia bersama anak-anak. Akhirnya kondisi ini mendorong istri bekerja
untuk mendapatkan materi yang bisa meningkatkan taraf hidup pribadi dan keluarga atas
kerelaan hatinya. Istri memiliki utang yang harus dilunasi sehingga istri terdorong bekerja demi
mendapatkan uang untuk menutup utang tersebut.
Selain itu, bagi seorang muslimah ada kaidah-kaidah syari yang perlu diperhatikan ketika
bekerja di luar rumah untuk menghindari berbagai sisi negatif: Mengenakan pakaian syari yang
diwajibkan Allah untuk menutupi aurat serta menjaga kehormatan dan kemuliaan Tempat kerja
tidak membaur dengan kaum lelaki dalam bentuk yang bisa menimbulkan kerusakan. Sementara
jika berinteraksi dengan kaum lelaki namun tetap mengindahkan kaidah-kaidah syari, hukumnya
tidak apa-apa, dengan catatan si wanita tidak berhadapan langsung dengan lelaki. Pekerjaan
yang dilakukan harus halal dan tidak bertentangan dengan nash-nash syariat. Misalnya, mereka
tidak boleh bekerja di bank-bank ribawi atau bekerja di tempat-tempat pemicu perbuatan keji,
maksiat dan lainnya yang diharamkan Allah. Suami tahu si istri bekerja di tempatnya, tidak boleh
keluar meninggalkan tempat kerja tanpa izin suaminya. Hal ini tidak mesti suami tahu setiap hari,
tetapi cukup dengan izi secara umum sebelumnya. Harus mengindahkan etika-etika Islami
dalam berinteraksi dengan orang lain. Misalnya menjawab salam, menundukkan pandangan,
tidak menggunjing orang lain, menghindari berduaan dengan lelaki yang bukan mahram, saat
bicara harus tegas tanpa dibuat-buat atau dengan tutur kata lembut saat berbicara dengan lelaki.
Bertakwa kepada Allah dalam melakukan pekerjaa dengan menunaikannya secara baik karena
pekerjaan yang ditugaskan merupakan amanat. Sebelum keluar meninggalkan rumah harus
memastikan makanan untuk anak-anak dan siapa yang menjaga mereka. Misalnya, dititipkan
pada keluarga atau orang yang dikenal yang bisa dipastikan anak-anak aman selama si ibu
bekerja. Atau dititipkan pada pembantu dengan catatan si pembantu harus bisa dipercaya dan
amanah. Atau menitipkan ke lembaga pendidikan dan tempat-tempat pengasuhan anak yang
terpercaya. Hal tersebut untuk menghindari apa yang dikatakan Rasulullah: Cukuplah dosa bagi
seseorang dengan menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya. Harus mendapatkan
izin suami untuk pergi bekerja. Terlebih ketika suami tergolong kaya dan mampu memberi
nafkah. Lain soal ketika suami miskin dan tidak mampu memberi nafkah, saat itu suami tidak
boleh melarang istrinya bekerja. Harus menunaikan hak suami di rumah. Bekerja di luar tidak
boleh membuat istri lalai dalam menunaikan hak suami, misalnya tidak pulang dalam jangka
waktu lama saat suami berada di rumah. Khususnya ketika suami sangat memerlukan
keberadaannya.
Jika syarat-syarat yang disebutkan diatas telah terpenuhi, maka sah-sah saja bekerja di luar
rumah tanpa resiko apapun. Ketika seorang istri bekerja, ia akan memiliki penghasilan sendiri
dan penghasilan yang dimiliki oleh istri adalah hak sepenuhnya istri untuk menggunakannya,
karena kewajiban untuk memberikan nafkah hanya ada pada suami. Namun, istri yang
memberikan penghasilannya untuk keperluan keluarga dan rumah tangga terhitung sebagai
sedekah. Dan jika ada kesepakatan antara suami istri untuk turut bersama memenuhi kebutuhan
keluarga di atas prinsip kasih sayang adalah solusi yang terbaik.
Sekarang ini, banyak sekali peluang pekerjaan bagi wanita, namun tidak sedikit pula peluang-
peluang bisnis yang dapat dikerjakan di rumah. Untuk itu, mari sama-sama kembali meluruskan
niat ketika harus meninggalkan keluarga dan bekerja di luar rumah untuk benar-benar membantu
suami dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dalam membangun mahligai rumah tangga.
Melakukan pekerjaan dengan baik karena itu bentuk dari menjalankan kewajiban untuk
menjalankan amanah sesuai dengan yang Allah dan Rasulullah contohkan, bukan karena ingin
mendapatkan kedudukan/karir yang baik serta penghasilan yang tinggi. Terus mendukung suami
untuk dapat melaksanakan tugasnya dalam memenuhi nafkah dan aturlah kesepakatan
keperluan rumah tangga mana yang dapat dibantu dari penghasilan istri. Seperti yang
disebutkan dalam surat Ath-Thalaq (7) Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah
memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekedar apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
Utamakanlah pemenuhan kebutuhan keluarga dan rumah tangga, bukan hanya menuntut nafkah
kepada suami untuk hal-hal yang sifatnya hanya pelengkap dan hanya untuk penampilan atau
kesenangan semata. Wallahualam. [wn]
Sumber : Saat Istri Punya Penghasilan Sendiri, Hannan Abdul Aziz, Penerbit Aqwam