Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR 1

ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI LARUTAN TEMBAGA

Disusun oleh

MASYKUR

H041 17 1318

Laporan ini telah diperiksa oleh:

Asisten

SALMIYAH
H311 14 032
Laporan Praktikum

ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI LARUTAN TEMBAGA

MASYKUR

H041 17 1318

LABORATORIUM KIMIA DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Spektrofotometer adalah suatu instrument untuk mengukur transmitan atau

absorbans suatu contoh sebagai fungsi panjang gelombang, pengukuran terhadap

sederetan sampel pada suatu panjang gelombang tunggal dapat pula dilakukan.

Instrumen semacam itu dapat dikelompokkan secara manual atau merekam atau

pengelompokkan lain: berkas tunggal dan berkas rangkap (Ratnawulan dkk, 2013).

Spektrofotometri dapat digunakan untuk menganalisis konsenterasi suatu zat

di dalam larutan berdasarkan absorbansi terhadap warna dari larutan pada panjang

gelombang tertentu. Metode spektrofotometri memerlukan larutan standar yang telah

diketahui konsentrasinya. Larutan standarnya terdiri dari beberapa tingkat

konsentrasi mulai yang rendah sampai konsentrasi tinggi (Kirkiewicz dkk, 2004).

Spektrofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan elektron dari

tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keuntungan utama

pemilihan metode spektrofotometri ini adalah bahwa metode spektrofotometri ini

memberikan metode sangat sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat

kecil (Henri dkk, 2002).

Spektrometri UV-Vis adalah salah satu metoda analisis yang berdasarkan

pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh media. Berdasarkan penurunan

intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media tergantung pada tebal tipisnya media

dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Spektrometri visible
umumnya disebut kalori,karena itu pembentukan warna pada metoda ini sangat

menentukan ketelitian hasil yang diperoleh. Pembentukan warna dilakukan dengan

cara penambahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan

(Henri dkk, 2002)..

Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan agar praktikan dapat mengetahui

cara menentukan konsentrasi larutan dengan spektrofotometer, serta mengetahui cara

kerja dari spektrofotometer.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk memahami prinsip

penggunaan dari spektrofotometer, membuat kurva standar, dan menggunakannya

untuk pengukuran sampel spektrofotometer.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Menentukan panjang gelombang maksimum dengan serapan larutan CuSO4

2. Membuat kurva kalibrasi larutan CuSO4

3. Menentukan konsentrasi tembaga dalam sampel larutan menggunakan

spektrofotometer.

1. 3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini adalah mengukur absorbansi larutan pada panjang

gelombang maksimum untuk mengetahui konsentrasi suatu komponen tertentu dalam

larutan dengan menggunakan spektrofotometer UV/VIS atau kurva kalibrasi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hukum Lambert Beer

Dalam upaya untuk mengetahui tingkat kemampuan (kinerja) analitik metode

spektrofotometri telah ditentukan beberapa unjuk kerja analisis yaitu linieritas,

akurasi, presisi dan batasan pengukuran. Linieritas merupakan jangkauan konsentrasi

yang memenuhi hukum Lambert Beer, yang menyatakan adanya hubungan liniear

antara konsentrasi dan absorbansi adalah sebagai berikut (Masrukan dkk, 2012).

A= .b.c

2.2 Spektrofotometri

Spektroskopi UV-Vis adalah teknik analisis spektroskopi yang menggunakan

sumber radiasi elektromegnetik ultraviolet dan sinar tampak dengan menggunakan

instrumen spektrofotometer. Prinsip dari spektrofotometer UV-Vis adalah

penyerapan sinar tampak untuk ultra violet dengan suatu molekul dapat

menyebabkan terjadinya eksitasi molekul dari tingkat energi dasar (ground state)

ketingkat energi yang paling tinggi (Hendayana, 1994).

Metode spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu metode kimia untuk

menentukan kandungan unsur logam dalam suatu bahan secara kualitatif maupun

kuantitatif. Prinsip pengukuran spektrofotometri UV-Vis berdasarkan penyerapan

cahaya ultra violet (180 350 nm) dan tampak (350-800 nm) oleh suatu senyawa.

Penyerapan sinar ultra violet (UV) dan tampak (visibel) oleh suatu senyawa dibatasi

pada sejumlah gugus fungsi yang mengandung elektron valensi dengan tingkat

eksitasi yang rendah dengan melibatkan 3 jenis elektron yaitu sigma, phi dan non
bonding elektron. Bagian molekul yang dapat menyerap sinar disebut sebagai gugus

kromofor (Masrukan dkk, 2012).

Spektrofotometri adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan

spektrofotometer. Sektriofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan

fotometer. Spektofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur energi

secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan

sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari

spektrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat pengukur

intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Apabila radiasi atau

cahaya putih dilewatkan melalui larutan berwarna, maka radiasi dengan panjang

gelombang tertentu akan diserap (absorbsi) secara selektif dan radiasi lainnya akan

diteruskan (transmisi). Absorbansi adalah perbandingan intensitas sinar yang diserap

dengan intensitas sinar datang. Nilai absorbansi ini akan bergantung pada kadar zat

yang terkandung di dalamnya, semakin banyak kadar zat yang terkandung dalam

suatu sampel maka semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada

panjang gelombang tertentu sehingga nilai absorbansi semakin besar atau dengan

kata lain nilai absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang

terkandung didalam suatu sampel (Ratnawulan dkk, 2013).

Jika suatu molekul bergerak dari suatu tingkat energy ke tingkat energi yang

lebih rendah maka beberapa energy akan dilepaskan. Energi ini dapat hilang sebagai

radiasi dan dapat dikatakan telah terjadi emisi radiasi. Jika suatu molekul dikenai

suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai sehingga energi molekul

tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, maka terjadi peristiwa penyerapan

(absorpsi) energi oleh molekul. Suatu grafik yang menghubungkan antara banyaknya

sinar yang diserap dengan frekuensi (panjang gelombang) sinar merupakan spektrum
absorpsi (jamak: spektra). Spektra juga dapat berfungsi sebagai bahan informasi yang

bermanfaat untuk analisa kualitatif. Banyaknya sinar yang diabsorpsi pada panjang

gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi,

sehingga spektra absorpsi juga dapat digunakan untuk analisa kuantitatif. Dalam

suatu molekul, yang memegang peranan penting adalah elektron valensi dari setiap

atom yang ada hingga dapat menentukan sifat suatu materi. Elektron-elektron yang

dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar

(vibrasi) jika dikenai suatu energy (Ratnawulan dkk, 2013).

Ketika cahaya dengan berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis)

mengenai suatu molekul, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang

akan diserap. Jika molekul menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi

perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan

elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya

inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau electron ikatan pada suatu

molekul hanya akan bergetar (vibrasi), sedangkan gerakan berputar elektron terjadi

pada energi yang lebih rendah lagi. Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang

untuk mengukur konsentrasi yang ada dalam suatu sampel, dimana molekul yang ada

dalam sel sampel disinari dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu.

Ketika cahaya mengenai sampel, sebagian akan diserap, sebagian akan dihamburkan

dan sebagian lagi akan diteruskan (Ratnawulan dkk, 2013).

Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang

mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang

dapat diukur adalah transmittansi atau absorbansi. Cahaya yang diserap diukur

sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai

transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau Hukum Beer yang
berbunyi, jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya)

yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi

eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan. Secara kualitatif, absorpsi cahaya

dapat diperoleh dengan pertimbangan absorbsi cahaya pada cahaya tampak. Kita

melihat objek dengan pertolongan cahaya yang diteruskan atau dipantulkan. Apabila

cahaya polikromatis (cahaya putih) yang mengandung seluruh spektrum panjang

gelombang melewati daerah tertentu dan menyerap panjang gelombang tertentu,

maka medium itu tampak berwarna. Karena panjang gelombang yang diteruskan

sampai ke mata, maka panjang gelombang inilah yang menentukan warna medium.

Warna ini disebut warna yang komplementer terhadap warna yang diabsorpsi

(Neldawati dkk, 2013).

Spektrofotometri serap merupakan pengukuran interaksi antara radiasi

elekfomagnetik panjang gelombang tertentu yang sempit dan mendekati

monokromatik, dengan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Hal ini didasarkan

pada kenyataan bahwa molekul selalu mengabsorbsi cahaya elektromagnetik jika

frekuensi cahaya tersebut sama dengan frekuensi getaran dari molelnil tersebut.

Elektron yang terikat dan elekkon yang tidak terikat akan tereksitasi pada suatu

daerah frekuensi, yang sesuai dengan cahaya ultraviolet dan cahaya tampak (UV-

Vis). Spektrum absorbsi daerah ini adalah sekitar 220 nm sampai 800 nm dan

dinyatakan sebagai spektrum elektron. Suatu spektrum ultraviolet meliputi daerah

bagian ultraviolet (190-380 nm), spektrum Vis (Vis = Visibel) bagian sinar tampak

(380-780 nm) (Henri dkk, 2002).

Spektrofotometer UV-Vis digunakan terutama untuk analisa kuantitatif, tetapi

dapat juga untuk analisa kualitatif. Panjang gelombang yang digunakan untuk

melakukan analisis kuantitatif suatu zat biasanya merupakan panjang gelombang


dimana zat yang bersangkutan memberikan serapan yang

maksimum (1, maks), sebab keakuratan pengukurannya akan lebih besar.

(Kirkiewicz dkk, 2004).

2.3 Penentuan konsentrasi Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis

Instrumentasi dari spektrofotometer UV-Vis ini dapat diuraikan sebagai berikut

(Henri dkk, 2002):

1. Suatu sumber energi cahaya yang berkesinambungan yang meliputi daerah

spektrum yang

2. mana alat tersebut dirancang untuk beroperasi.

3. Suatu monokromator, yakni sebuah piranti untuk memencilkan pita sempit

panjang gelombang dari spektrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya.

4. Suatu wadah untuk sampel ( dalam hal ini digunakan kuvet ).

5. Suatu detektor, yang berupa transduser yang merubah energi cahaya menjadi

suatu isyarat

6. listrik.

7. Suatu amplifier (pengganda) dan rangkaian yang berkaitan yang membuat isyarat

listrik itu

8. memadai untuk dibaca.

9. Suatu sistem baca dimana diperagakan besarnya isyarat listrik yang ditangkap.
BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah Larutan CuSO4 0,2

M, Larutan CuSO4 yang belum diketahui konsentrasinya (sample) dan kertas grafik

atau program Exel.

3.2 Alat Percobaan

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Spektrofotometer

UV/VIS, Labu takar 50 mL, pipet ukur 5 mL, erlenmeyer 100 mL dan karet

penghisap (bulb pipet filter).

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pembuatan Kurva Kalibrasi

Adapun prosedur pembuatan kurva kalibrasi adalah sebagai berikut:

1. Buatlah deretan larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,04; 0,06; 0,08; dan 0,1 M.

Bila serapan tersebut tersebut terlampau tinggi, buatlah larutan lebih encer, atau

bilamana serapan larutan terlampau rendah, maka buatlah deretan larutan baru

yang sedikit lebih pekat.

2. Ukur serapan masing-masing deretan larutan tersebut pada panjang gelombang

maksimum. Gunakan aquadessebagai blanko atau referens.

3. Setelah pengukuran selesai, buatlah kurva yang menghubungkan antara

konsentrasi larutan CuSO2 dengan absorbansi terukur.

3.3.2 Penentuan Konsentrasi Larutan CuSO4

Adapun prosedur penentuan konsentrasi larutan CuSO4 adalah sebagai

berikut:
1. disediakan larutan CuSO4 yang belum diketahui konsentrasinya oleh asisten.

Masukkan larutan tersebut ke dalam kuvet, lalu ukur serapannya pada panjang

gelombang maksimum.

2. Cara yang serupa bahwa sebelum pengukuran sampel, serapan blanko atau

referens diatur hingga menunjukkan angka nol (0). Plot serapan larutan sampel

terhadap konsentrasi pada kurva kalibrasi. Konsentrasi yang ditunjukkan hasil

plot tersebut adalah konsentrasi CuSO4 dalam larutan atau gunakan persamaan

regresi linier pada kurva untuk mengetahui konsentrasi larutan tersebut.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Pengukuran Absorbansi Larutan CuSO4

Tabel 1. Absorbansi Larutan CuSO4

NO Konsentrasi CuSO4 Absorbansi


1. 0,04 M 0,393

2. 0,06 M 0,602

3. 0,08 M 0,864

4. 0,1 M 1.027

4.1.2 Reaksi

CuSO4 + H2O H2SO4+ CuO

4.1.3 Grafik

Grafik konsentrasi Terhadap Absorbansi


1.2

0.8
Absorbansi

0.6
y = 10,57x - 0,031
0.4 R = 1

0.2

0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
Konsentrasi (M)
4.2 Pembahasan

Percobaan analisi spektrofotometer larutan tembaga meliputi penetuan

panjang gelombang maksimum larutan tembaga, pembuatan kurva kalibrasi larutan

tembaga dan penetuan konsentrasi larutan tembaga. Langkah-langkah utama dalam

analisa dengan sinar UV-Vis adalah sebagai berikut: Pembentukan molekul yang

dapat menyerap sinar UV-Vis, harus dilakukan jika senyawa yang dianalisa tidak

melakukan penyerapan didaerah UV-Vis, senyawa harus diubah menjadi bentuk lain

yang dapat melakukan penyerapan pada daerah yang dimaksud. Misalnya mengubah

menjadi berwarna atau tidak berwarna, pemilihan panjang gelombang agar diperoleh

panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi. Untuk keperluan ini

dibuat sejumlah larutan standar dengan berbagai konsentrasi, absorban larutan

standar ini diukur kemudian dibuat grafik A versus C. Hukum Lambert Beer

terpenuhi, jika grafik berbentuk garis lurus yang melalui titik nol. Pengukuran

sampel dilakukan pada kondisi yang sama seperti pada larutan standar.

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang

digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan

kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan

yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang

dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat

berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron valensi.

Hasil percobaan diperoleh data yakni panjang gelombang maksimum larutan

tembaga adalah 470 nm. Pada kurva kalibrasi terlihat bahwa semakin tinggi

konsentrasi maka semakin besar pula nilai absorbansi dan berdasarkan nilai

absorbansi maka konsentrasi larutan tembaga yang dianalisis adalah 0,08 M.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Spektrofotometri adalah metode pengukuran dalam analisis kimia kuantitatif

berdasarkan hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa jumlah sinar yang

diserap atau diteruskan oleh suatu larutan merupakan fungsi eksponensial dari

konsentrasi larutan dan tebal larutan yang dilalui sinar tersebut.

2. Kurva kalibrasi adalah kurva yang menunjukkan hubungan linier antara

konsentrasi larutan dengan absorbansi. Dari percobaan tersebut kita dapat

menarik kesimpulan bahwa kurva kalibrasi merupakan perbandingan antara

konsentrasi (M) dengan nilai absorban. Semakin besar konsentrasinya maka nilai

ansorbannya akan semakin besar pula.

3. Spektrofotometer adalah alat yang dapat digunakan untuk menganalisis

konsentrasi tembaga dalam sampel larutan. Sehingga pada percobaan dapat

diketahui nilai konsentrasi CuSO4 0,04 M; 0,06 M; 0,08 M; dan 0,1 M.

5.2 Saran

Sebaiknya sebelum dan sesudah melakukan percobaan, laboratorium selalu

dibersihkan dan juga alat-alat serta bahan-bahan di laboratorium dilengkapi agar

para praktikan nyaman dalam melakukan percobaan. Saran untuk praktikum adalah

harus selalu diperbarui dan penuntun praktikum seharusnya lebih dilengkapi lagi

agar praktikan tidak terlalu bingung mencari bahan laporan.


DAFTAR PUSTAKA

Hendayana, S., 1994, Kimia Analitik Instrumen, Semarang: Semarang Press.

Henry, A dkk., 2002, Analisi Spektrofotometri UV-Vis Pada Obat Influenza Dengan
Menggunakan Aplikasi Sistem Persamaan Linear, Jakarta, Farmasi FMIPA
Universitas Hasanuddin.

Kirkiewicz dkk., 2004, Spectroscopic Investigation of Oil Pollution on the Surface


and at Various Depths of the Odra River, Scientific Journals, 1(1): 2392-0378.

Masrukan dkk., 2012, Analisi Zr Dalam Paduan Zr (6%) Melalui Pengukuran


Senyawa Zr-Arsenazo III Menggunakan Spektrofotometri UV-VIS, Tangerang
Selatan: Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir.

Ratnawulan dkk., 2013, Analisis Nilai Absorbansi dalam. Penentuan Kadar


Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman ObatAnalisis Nilai
Absorbansi dalam Penentuan Kadar Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun
Tanaman Obat. Padang. Pillar Of Physics, 2(1): 76-83.
Lampiran

BAGAN KERJA

A. Pengenceran Larutan CuSO4

CuSO4

- Dimasukkan ke dalam labu ukur dengan konsentrasi yang

berbeda, yaitu 0,04 M, 0,06 M, 0,08 M, dan 0,1 M sebanyak 10

mL, 15 mL , 20 mL, dan 25 mL.

- Ditambahkan larutan Aquades sampai tanda batas.

- Dihimpitkan dan dihomogenkan.

- Diamati perubahan yang terjadi.

Hasil

B. Pembuatan Kurva Kalibrasi

CuSO4

- Dibuat deret larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,04 M, 0,06

M, 0,08 M, dan 0,1 M.

- Diukur serapan masing-masing larutan dengan panjang

gelombang maksimum yang telah ditentukan yaitu 750 nm.

Digunakan aquades sebagai blangko.

- Dibuat Kurva yang menghubungkan antara konsentrasi larutan

CuSO4 dengan absorbansi yang telah diukur.

Hasil
C. Penentuan Konsentrasi Larutan CuSO4

CuSO4

- Dinyalakan spektrofotometri UV-Vis hingga cahaya indikator

berwarna hijau

- Diletakkan sampel pada sampel compertement yang telah

dipreparasi dan telah dimasukkan ke dalam kuvet.

- Menetralkan spekrofotometer.

- Dibaca dan dicatat hasil pengukuran data absorbansi.

Hasil
PERHITUNGAN

A. Penentukan Konsentrasi Larutan CuSO4 Hasil Pengenceran


M1 V1 = M2 V2

1. Untuk CuSO4 dengan volume 10 ml

0,2 10 = M2 50

M2 = 2/50 = 0,04 M

2. Untuk CuSO4 dengan volume 15 ml

0,2 15 = M2 50

M2 = 3/50 = 0,06 M

3. Untuk CuSO4 dengan volume 20 ml

0,2 20 = M2 50

M2 = 4/50 = 0,08 M

4. Untuk CuSO4 dengan volume 25 ml

0,2 25 = M2 50

M2 = 5/50 = 0,1 M

B. Menentukan Nilai Absorban

( .)( )( )
= 2
( )( )2

3(0,15454)(0,2)(2,022)
= 3(0,0152)(0,2)2

0,46320,4044
= 0,04560,04

0,05922
=
0,0056

= 10,57

= 0,674 10,57
= +

1 = 0,0313525 + (10,57)(0,04)

1 = 0,392

2 = 0,0313525 + (10,57)(0,06)

2 = 0,603

3 = 0,0313525 + (10,57)(0,10)

3 = 1,026

y = 10,57x - 0,031

( Absorbansi larutan tembaga yang belum diketahui konsentrasinya (y) = 0.817).


0,817+0,031
= 10,57

x = 0,08 M.

Jadi, Konsentrasi larutan CuSO4 adalah 0,08 M.


DOKUMENTASI HASIL PERCOBAAN
3,4,5,9,12,13,14,15,16-20