Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

HERNIA INGUINALIS LATERALIS DEXTRA


IREPONIBEL

DISUSUN OLEH :
Agung Prasetyo
I1011131069

PEMBIMBING :
dr. Roy Simamora, Sp.B, FINACS

KEPANITERAAN KLINIK STASE BEDAH


RSUD SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALQADRIE PONTIANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
BAB I
PENDAHULUAN

Hernia merupakan penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah dari
dinding rongga bersangkutan.1 Di seluruh dunia, lebih dari 20 juta orang melakukan
operasi hernia setiap tahunnya, menyebabkan operasi hernia menjadi operasi tersering
yang dilakukan oleh dokter bedah umum.2 Di Amerika Serikat, lebih dari 600.000
hernia dioperasi setiap tahunnya.3
Bank Data Kementerian Kesehatan Indonesia, pada tahun 2004 terdapat 18.145
kasus hernia, dengan 273 diantaranya meninggal dunia.4 Dari semua jenis hernia, 75%
merupakan hernia inguinalis. Dua per tiga merupakan hernia inguinalis lateralis. Pria 25
kali lebih mungkin terkena hernia inguinalis dibandingkan wanita. Hernia inguinalis
lateralis lebih sering terjadi dibandingkan medialis. Tetapi pada wanita, hernia
inguinalis medialis lebih sering terjadi.3
Operasi darurat hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor dua
setelah operasi darurat apendisitis. Selain itu, hernia inkarserata merupakan penyebab
obstuksi usus terbanyak di Indonesia.1 Prevalensi terjadinya hernia meningkat sejalan
dengan peningkatan usia, khususnya hernia inguinalis. Strangulasi, komplikasi paling
serius dari hernia, terjadi sebanyak 1 3% dari hernia. Kebanyakan strangulasi terjadi
pada hernia inguinalis lateralis.3

2
BAB II
PENYAJIAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. S
Usia : 50 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Melayu
Pekerjaan : Office boy di sebual mall
Alamat : Jln. Pramuka
Tanggal masuk RS : 19 April 2017
Rencana operasi : Melalui poli bedah umum

2.2 Anamnesis
2.2.1 Keluhan Utama
Benjolan di lipatan paha kanan
2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli bedah umum dengan keluhan terdapat benjolan di
lipatan paha sebelah kanan. Benjolan tersebut muncul sejak 27 tahun yang
lalu. Benjolan terasa nyeri. Awalnya ukuran benjolan sebesar kelereng,
kemudian benjolan semakin membesar hingga seukuran telur ayam. Sebelumnya
benjolan dapat keluar masuk, muncul saat berdiri dan hilang saat berbaring.
Tetapi sekarang benjolan tidak dapat masuk lagi.
2.2.3 Rewayat Penyakit Dahulu
Pasien sebelumnya pernah berobat ke dokter dan disarankan untuk
operasi, tetapi pada saat itu pasien menolak untuk operasi. Pasien sering
mengeluhkan nyeri di ulu hati. Riwayat hipertensi disangkal, diabetes melitus
disangkal.
2.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang pernah menderita penyakit dengan
keluhan serupa.
2.2.5 Riwayat Sosial dan Kebiasaan

3
Beberapa tahun sebelumnya pada saat keluhan benjolan pertama kali
muncul, pasien bekerja sebagai penjual ikan. Pada saat itu pasien sering
mengangkat beban berat. Kemudian pasien bekerja sebagai office boy di salah
satu mall dan pasien masih sering mengangkat beban berat.

2.3 Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum
a. Kesan : Kompos mentis
b. GCS : 15 (E4V5M6)
c. Tanda Vital
1) Tekanan darah : 110/70 mmHg
2) Denyut nadi : 88 kali/menit
3) Frekuensi nafas : 20 kali/menit
4) Suhu : 36,6 oC
2. Status Generalis
a. Kulit : Sawo matang, ikterik (-)
b. Kepala : Normosefalik
c. Mata : Konjungtiva anemis (- / -), sklera ikterik ( - / - ), refleks cahaya
direk / indirek ( + / + ), pupil isokor
d. Telinga : Nyeri tekan tragus ( - / - ), sekret ( - / - )
e. Hidung : Simetris (+), sekret ( - / - )
f. Tenggorokan : Faring hiperemis (-), tonsil dalam batas normal (T1/T1)
g. Leher : Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-), peningkatan JVP (-),
tiroid tidak membesar
h. Toraks
1) Paru
a) Inspeksi : simetris, gerakan dinding dada tidak tertinggal,
retraksi ( - / - )
b) Palpasi : Fremitus taktil kanan = kiri, nyeri tekan ( - / - )
c) Perkusi : Sonor ( + / + )
d) Auskultasi : Suara nafas dasar vesikuler ( + / + ), Ronki (- /- ),
Wheezing ( - / - )
2) Jantung
a) Inskepsi : Iktus kordis tidak tampak

4
b) Palpasi : Iktus kordis teraba pada SIC V linea
midklavikularis sinistra
c) Perkusi : Ukuran jantung dalam batas normal
d) Auskultasi : Bunyi jantung I dan II tunggal, reguler, murmur
(-), gallop (-)
i. Abdomen
1) Inspeksi : Perut datar, venektasi (-). Luka post operasi (+)
2) Auskultasi : Bu (+) 22x/menit, bruit (-), metallic sound (-)
3) Perkusi : Timpani, nyeri ketok CVA (-/-)
4) Palpasi : Nyeri tekan (+) regio , balotemen (-), hepar tidak teraba,
lien tidak teraba
j. Regio inguinale : Dalam batas normal
k. Ekstremitas : CRT < 2 detik, akral hangat, edema (-)

2.4 Pemeriksaan Penunjang


Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 18 April 2017
1. Leukosit : 8.140 sel/L
2. Eritrosit : 5.440.000 sel / L
3. Hemoglobin : 14,2 g/dL
4. Hematokrit : 38,1 %
5. MCV : 70,0 fL
6. MCH : 26,1 pg
7. MCHC : 37,3 g/dL
8. Trombosit : 250.000 sel / L
9. Golongan darah : O (+)
10. BT : 2 00
11. CT : 10 00
12. GDS : 79 mg/dL
13. HbsAg : Non reaktif
14. HIV : Non reaktif
15. Urea : 32,8 mg/dL
16. Kreatinin : 1,06 mg/dL
17. SGOT : 21,2 U/L
18. SGPT : 12,7 U/L

5
2.5 Diagnosis
Hernia inguinalis lateralis dextra ireponibel

2.6 Diagnosis Banding


Hernia inguinalis medialis dextra ireponibel

2.7 Tatalaksana
Tindakan operasi herniorafi

2.8 Prognosis
1. Ad vitam : Bonam
2. Ad functionam : Bonam
3. Ad sanctionam : Bonam

2.9 Catatan Kemajuan


1. Jumat, 21 April 2017
S : Keadaan umum baik, masih terasa nyeri di sekitar luka operasi, flatus (+),
belum ada buang air besar, buang air kecil lancar
O : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,7 oC
Abdomen
1) Inspeksi : Perut datar, venektasi (-). Luka post operasi (+)
2) Auskultasi : Bu (+), bruit (-), metallic sound (-)
3) Perkusi : Timpani, nyeri ketok CVA (-/-)
4) Palpasi : Nyeri tekan (+) regio iliaka kanan , balotemen (-), hepar
tidak teraba, lien tidak teraba
A : Post operasi herniorafi
P : IVFD RL 25 tpm
Ceftriakson 2 x 1 gr
Ranitidin 2 x 1 amp
Ketorolak 3 x 1 amp

6
2. Sabtu, 22 April 2017
S : Keadaan umum baik, masih terasa nyeri di sekitar luka operasi, flatus (+),
belum ada buang air besar, buang air kecil lancar
O : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 88x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,7 oC
Abdomen
1) Inspeksi : Perut datar, venektasi (-). Luka post operasi (+)
2) Auskultasi : Bu (+), bruit (-), metallic sound (-)
3) Perkusi : Timpani, nyeri ketok CVA (-/-)
4) Palpasi : Nyeri tekan (+) regio iliaka kanan , balotemen (-), hepar
tidak teraba, lien tidak teraba
A : Post operasi herniorafi
P : IVFD RL 25 tpm
Ceftriakson 2 x 1 gr
Ranitidin 2 x 1 amp
Ketorolak 3 x 1 amp
3. Minggu, 23 April 2017
S : Keadaan umum baik, masih terasa nyeri di sekitar luka operasi, flatus (+),
belum ada buang air besar, buang air kecil lancar
O : TD : 140/70 mmHg
Nadi : 78x/menit
RR : 19x/menit
Suhu : 36,5 oC
Abdomen
1) Inspeksi : Perut datar, venektasi (-). Luka post operasi (+)
2) Auskultasi : Bu (+) 22x/menit, bruit (-), metallic sound (-)
3) Perkusi : Timpani, nyeri ketok CVA (-/-)
4) Palpasi : Nyeri tekan (+) regio iliaka kanan , balotemen (-), hepar
tidak teraba, lien tidak teraba
A : Post operasi herniorafi
P : IVFD RL 25 tpm
Ceftriakson 2 x 1 gr

7
Ranitidin 2 x 1 amp
Ketorolak 3 x 1 amp
Pasien boleh pulang

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi
Dinding perut terdiri atas beberapa lapis, yaitu (dari luar ke dalam) lapis kulit
yang terdiri dari kutis dan subkutis, lemak subkutan dan fasia superfisialis, kemudian
ketiga otot dinding perut yaitu otot oblikus eksternus abdominis, oblikus internus
abdominis dan transversus abdominis, dan akhirnya lapisan praperitoneum serta
peritoneum yaitu fasia transversalis, lemak praperitoneal dan peritoneum.1

Gambar 1. Anatomi dinding perut5

Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut.
Integritas lapisan muskuloaponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah
terjadinya hernia bawaan, didapat maupun iatrogenik. Otot dinding perut juga berfungsi
dalam pernapasan, proses berkemih serta waktu buang air besar dengan meningkatkan
tekanan intraabdomen.1
Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yang
merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis otot transversus
abdominis. Di medial bawah, kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus, bagian

9
terbuka dari aponeurosis otot oblikus eksternus abbdominis. Kanalis inguinasil berisi
funikulus spermatikus pada laki-laki dan ligamentum rotundum pada perempuan.1

Gambar 2. Hernia inguinalis5

3.2 Patofisiologi
Hernia inguinalis dapat berupa kelainan kongenital atau didapat. Pada hernia
inguinalis yang terjadi secara kongenital disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus
vaginalis. Kegagalan penutupan prosesus vaginalis sering menjadi penyebab terjadinya
hernia inguinalis pada anak.6
Pada orang dewasa, hernia inguinalis disebabkan oleh defek yang didapat pada
dinding abdomen. Beberapa penelitian dilakukan untuk memahami penyebab utama
terjadinya hernia inguinalis. Kelemahan pada otot dinding abdomen menjadi faktor
resiko utama terjadinya hernia inguinalis. Faktor lain yang meningkatkan resiko
terjadinya hernia inguinalis pada orang dewasa adalah peningkatan tekanan
intraabdomen secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan
asites.1,6

10
3.3 Faktor Resiko
Faktor resiko yang berhubungan dengan hernia inguinalis adalah sebagai
berikut.7
1. Keturunan
2. Jenis kelamin, lebih sering terjadi pada pria
3. Usia
4. Merokok
5. Prosesus vaginalis yang gagal menutup
6. Pernah operasi apendiktomi dan prostatektomi
7. Melakukan pekerjaan berat dalam jangka waktu yang lama
8. PPOK (batuk kronis)

3.4 Klasifikasi
Berdasarkan penyebab terjadinya, hernia diapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu
hernia bawaan atau kongenital dan hernia yang didapat atau akuisita. Berdasarkan
letaknya, hernia diberi nama sesuai dengan lokasi anatominya seperti hernia diafragma,
hernia inguinal, hernia umbilikalis, hernia femoralis.1
Menurut sifatnya, hernia dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
1. Hernia reponibel, bila isi hernia dapat keluar-masuk. Usus keluar ketika berdiri
atau mengedan, dan masuk lagi ketika berbaring atau bila didorong masuk perut.
Selama hernia masih reponibel, tidak ada keluhan nyeri dan gejala obstruksi.
2. Hernia ireponibel, bila isi hernia tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga
perut.
3. Hernia inkarserata, bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia sehingga terjadi
gangguan pasase. Menimbulkan gejala obstruksi usus.
4. Hernia strangulata, bila isi hernia terjepit hingga menyebabkan gangguan
vaskularisasi. Dapat menyebabkan nekrosis hingga gangren.1

3.5 Manifestasi Klinis


Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel, keluhan hanya berupa adanya bejolan di lipatan paha yang muncul
pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring.
Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium.

11
Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus
atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.1

Tabel 1. Manifestasi klinis pasien dengan hernia inguinalis1


Tampak
Jenis Reponibel Nyeri Obstruksi Toksik
sakit
Reponibel + - - - -
Ireponibel - - - - -
Inkarserasi - + + + -
Strangulasi - ++ + ++ ++

3.6 Diagnosis
Pasien dengan simtomatik hernia akan lebih sering mengalami nyeri di bagian
inguinal. Hal penting dalam anamnesis pasien dengan hernia adalah durasi gejala yang
muncul. Hernia biasanya akan mengalami peningkatan ukuran benjolan. Paien sering
mengatakan bahwa benjolan muncul saat melakukan aktivitas berat. Pertanyaan
selanjutnya yang harus ditanyakan kepada pasien adalah apakah hernia dapat direduksi.
Pasien sering mendorong hernia ke dalam abdomen, sehingga menghilangkan gejala
secara sementara. Semakin besar ukuran defek dan semakin banyak isi abdonen yang
memenuhi kantung hernia, hernia semakin sulit untuk direduksi.6
Pada saat pasien berbaring, pasien diminta untuk mecoba mendorong hernia jika
hernia tidak bisa masuk dengan sendirinya. Jika pasien tidak bisa, maka dokter secara
perlahan mencoba untuk mendorong hernia. Jika hernia berhasil di reposisi, pada waktu
jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Jika hernia
menyentuh ujung jari, berarti kemungkinan hernia inguinalis lateralis. Jika hernia
menyentuh jari dari arah medial, kemungkinan hernia inguinalis medialis.5

12
Gambar 2. Pemeriksaan fisik pada hernia inguinalis6

3.7 Penatalaksanaan
Pembedahan merupakan terapi definitif untuk hernia inguinalis, tetapi terapi
tidak selalu diperlukan untuk beberapa pasien. Ketika kondisi medis pasien tidak
memungkinkan untuk dilakukan operasi karena resiko yang tinggi, operasi elektif harus
ditunda sampai kondisi tersebut teratasi. Oleh karena kemungkinan terjadinya
inkarserata dan strangulata pada asimtomatik hernia cukup kecil, penatalaksanaan
nonoperatif dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala yang minimal.6
Pengobatan nonoperatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Jika reposisi hernia
tidak berhasil, operasi harus segera dilakukan dalam waktu enam jam.1
Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi
hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplasti (herniorafi). Pada herniotomi, dilakukan
pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia
dibebaskan kalau ada peleketan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat
setinggi mungkin lalu dipotong.1
Pada hernioplasti, dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus
dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Dikenal berbagai metode
hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus,
menutup dan memperkuat fasia transversa dan menjahitkan pertemua otot transversus
internus abdominis dan otot oblikus internus abdominis ke ligamentum inguinale yang

13
dikenal dengan metode Bassini, atau menjahitkan fasia transversa, otot transversus
abdominis dan otot oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper pada metode
Lotheissen-McVay.1
Kelemahan teknik Bassini adalah terdapatnya regangan berlebihan pada otot-
otot yang dijahit, sehingga dikembangkan operasi hernia bebas reganga menggunakan
mesh. Pada teknik ini, digunakan mesh prostesis untuk memperkuat fasia transversalis
yang membentuk dasar kanalis inguinalis tanpa menjahit otot otot ke ligamentum
inguinale. Pada hernia kongenital bayi dan anak-anak yang penyebabnya adalah
prosesus vaginalis yang tidak menutup, hanya dilakukan herniotomi karena anulus
inguinalis internus cukup elastis dan dinding belakang kanalis cukup kuat.1

14
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien pada kasus ini didiagnosis dengan hernia inguinalis lateralis dextra
ireponibel. Diagnosis hernia pada kasus ini ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pada anamnesis didapatkan benjolan di lipatan paha sejak 27 tahun
yang makin lama semakin membesar. Benjolan awalnya dapat keluar masuk, tetapi
sekarang benjolan tidak bisa dimasukkan. Pada pasien ini didapatkan faktor resiko
berupa pekerjaan pasien yang mengharuskan pasien mengangkat barang berat dalam
jangka waktu yang lama. Dari pemeriksaan fisik biasanya ditemukan benjolan di regio
inguinal yang tidak dapat didorong masuk. Berdasarkan hasil laboratorium yang
ditemukan pada pasien, tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan laboratorium, semua
pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
Penanganan hernia inguinalis lateralis ireponibel dilakukan dengan tindakan
pembedahan herniorafi. Tindakan pembedahan herniorafi dilakukan dengan
membebaskan kantong hernia (herniotomi) dan memperkuat dinding hernia
(hernioplasti). Tindakan hernioplasti dilakukan menggunakan mesh.
Penatalaksanaan pada pasien setelah dilakukan operasi adalah pemberian IVFD
RL, ketorolak 3 x 1 amp, ranitidin 2 x 1 amp dan ceftriaxon 1 x 1 gr. Ceftriaxon
merupakan antibiotik spektrum luas golongan cephalosporin generasi ketiga. Ceftriaxon
sensitif terhadap bakteri gram positif dan negatif. Pemberian ceftriaxon diindikasikan
pada infeksi perioperasi bedah. Ketorolak merupakan obat antinyeri golongan NSAID.
Tetapi, oleh karena obat golongan NSAID memiliki efek samping berupa gastritis, pada
pasien ini diberikan obat ranitidin.8
Setelah dilaksanakan operasi, kondisi pasien semakin membaik. Beberapa jam
setelah operasi, bising usus pasien sudah terdengar, menandakan usus telah kembali
aktif. Pasien sudah dapat flatus. Buang air kecil lancar, tetapi pasien masih belum buang
air besar. Hal ini mungkin disebabkan karena pasien hanya makan sedikit. Setelah 3
hari perawatan, pasien boleh pulang.

15
BAB V
KESIMPULAN

1. Hernia inguinalis lateralis merupakan penonjolan isi hernia melalui defek pada
anulus inguinalis internus.
2. Diagnosis hernia inguinalis lateralis dapat ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
3. Penanganan definitif pada pasien dengan hernia inguinalis adalah tindakan operasi
herniorafi.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, Jong W de. Buku Ajar Ilmu Bedah. 3rd ed. Jakarta: EGC; 2010.
2. Kingsnorth A, LeBlanc K. Hernias: inguinal and incisional. The Lancet. 2003
Nov;362(9395):156171.
3. Sabiston DC, Townsend CM, Beauchamp RD, null, Mattox KL, editors. Sabiston
textbook of surgery: the biological basis of modern surgical practic. 20th edition.
Philadelphia, PA: Elsevier; 2017.
4. Depkes RI. Distribusi Penyakit Sistem Cerna Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan
Menurut Golongan Sebab Sakit di Indonesia. Jakarta; 2004.
5. Williams NS, Bulstrode CJK, OConnell PR, Bailey H, Love RJM, editors. Bailey
& Loves short practice of surgery. 26. ed. Boca Raton, Fla.: CRC Press, Taylor &
Francis; 2013.
6. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, editors. Schwartzs
principles of surgery. Tenth edition. New York: McGraw-Hill Education; 2014.
7. Simons MP, Aufenacker T, Bay-Nielsen M, Bouillot JL, Campanelli G, Conze J, et
al. European Hernia Society guidelines on the treatment of inguinal hernia in adult
patients. Hernia. 2009 Aug;13(4):343403.
8. Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ, editors. Basic & clinical pharmacology. 12th
ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2012.

17