Anda di halaman 1dari 19

PERKEMBANGAN EMBRIO MAMALIA

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Struktur Perkembangan Hewan II
Yang dibina oleh Dra. Amy Tenzer, M.S dan Dra. Nursasi Handayani, M.Si

Disajikan pada Rabu, 18 Oktober 2017


Disusun oleh :

Kelompok 5 Offering B 2016

1. Amalia Nurul Arfianti NIM: 160341606078


2. Intan Ayu Idha Wulandari NIM: 160341606095
3. Lingga Mofa Diah Lorentin NIM: 160341606034
4. Teny Yasinta Kusumadewi NIM: 160341606052

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2017
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikanmakalah yang
berjudul Perkembangan Embrio Mamalia.Ucapan terima kasih juga kami
ucapkan kepada Ibu Dra. Amy Tenzer, M.S dan Dra. Nursasi Handayani, M.Si
selaku dosen pembina mata kuliah Struktur Perkembangan Hewan II.
Kami sangat berharap semoga makalah ini bisa menambah wawasan
terutama tentang struktur ribosom dan inti sel. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini bermanfaat dan bisa menjadi wawasan. Sebelumnya
kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata yang kurang berkenan dan kami
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Malang, 17 Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... iii

ABSTRAK ...................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
1.4 Manfaat ..................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Fertilisasi Mamalia .................................................................................... 3
2.2 Pembelahan dan Blastulasi pada Mamalia ................................................ 4
2.3 Grastulasi dan Pembentukan Lapisan Germinal pada Mamalia ............... 6
2.4 Pembentukan Aksis Embrio Mamalia (Neurulasi) ................................... 10

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan ................................................................................................... 13
3.2 Saran ......................................................................................................... 14

DAFTAR RUJUKAN.................................................................................... 15

ii
DAFTAR GAMBAR
halaman

2.1.1 Fertilisasi ................................................................................................. 4


2.2.1 Pembelahan rotasional pada mamalia. 5
2.2.2 Pembelahan embrio mencit yang diamati secara in vitro............ 5
2.3.1 Gerakan sel selama gastrulasi pada manusia. (A,B) embrio pada uterus
waktu 15 tahap gestasi 7
2.3.2 Human Embryogenesis. 7
2.3.3 Development of Human Embryonic Tissues 8
2.3.4 Embrio Manusia 9
2.4.1 Gambar Neurulasi Primer ....................................................................... 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada hampir semua mahluk hidup suatu generasi baru dimulai dari suatu
telur yang telah difertilisasi (dibuahi), atau zigot yaitu suatu sel
hasil penggabungandari sel induk betina dan sel induk jantan, dimana
masing-masing induk berperand a l a m menentukan sifat -sifat
i n d i v i d u b a r u ya k n i d a l a m h a l u k u r a n , b e n t u k , perlengkapan
fisiologis dan pola perilakunya. Pada proses perkembangan manusiamelalui
berbagai tahap yang dimulai dari gametogenesis pada masing-
masinginduk, dimana induk jantan mengalami spermatogenesis
(proses pembentukansperma), dan induk betina mengalami
oogenesis ( proses pembentukan ovum). Setelah terjadi vertilisasi (proses
peleburan dua gamet sehingga terbentuk individud e n g a n s i f a t g e n e t i k
yang berasal dari kedua i n d u k n ya ) maka akan
terbentuk zigot. Zigot akan mulai membentuk suatu
o r g a n i s m e ya n g m u l t i s e l u l e r ya n g dilakukan dengan proses-proses
pembelahan.Pembelahan awal yang terjadi disebut sebagai blastulasi,
d i m a n a s e l ya n g merupakan hasil fertilisasi antara dua induk
mengalami pembelahan. Setelah beberapa kali mengalami pembelahan
sinkron, embrio kemudian membentuk suatu bola yang disebut morulla.
Setelah embrio menjalani tahap pembelahan dan pembentukan blastula,
embrio akan masuk kedalam suatu tahapan yang palingkritis selama masa
perkembangannya, yaitu stadium grastula. Grastulasi
(proses pembentukan grastula) ditandai dengan perubahan susunan yang
sangat besar dansangat rapi dari sel-sel embrio. Grastulasi akan
menghasilkan suatu embrio yangm e m p u n ya i tiga lapisan
l e m b a g a ya i t u l a p i s a n e n d o d e r m d i s e b e l a h d a l a m , mesoderm
disebelah tengah dan ektoderm disebelah luar.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Bagaimana proses fertilisasi pada Mamalia?
2. Bagaimana proses pembelahan pada zigot Mamalia?
3. Bagaimana proses grastulasi pada embrio Mamalia?
4. Bagaimana proses neurulasi pada embrio Mamalia?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah sebagai
berikut :
1. Memahami proses fertilisasi pada Mamalia.
2. Memahami proses pembelahan pada zigot Mamalia.
3. Memahami proses grastulasi pada embrio Mamalia.
4. Memahamiproses neurulasi pada embrio Mamalia.

1.4 Manfaat
Manfaat pembuatan makalah adalah sebagai berikut :
1. Dapat lebih memahami proses fertilisasi pada Mamalia.
2. Dapat lebih memahami pembelahan pada zigot Mamalia.
3. Dapat lebih memahami grastulasi pada embrio Mamalia.
4. Dapat lebih memahami proses neurulasi pada embrio Mamalia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fertilisasi

Perkembangan embrio mamaiia, didahului dengan fertilisasi. Tahapan


fertilisasi pada berbagai spesies, umumnya meliputi (1) kontak dan pengenaian
oleh sperma dan sel telur, (2) regulasi masuknya sperma ke dalam sel teiur, hanya
satu sperma yang dapat memasuki sel telur, sedang sperma yang lain dihambat,
(3) fusi materi genetik dari sperma dan sel telur, (4) aktivasi metabolisme sel telur
untuk memulai proses perkembangan.
Pengenalan sperma diawali dengan terikatnya protein membran
spermatozoa pada reseptor ZP3 (Gambar 6.1A). Terdapat beberapa protein
membran sperma yang berbeda, dapat mengikat reseptor pada ZP3. Beberapa
Protein membran sperma manusia dapat mengikat serin-treonin terikat karbohidrat
2P3, dan saiah satu protein galaktosil transferase pada membran sperma yang
dikenaii oleh karbohidrat 2P3 (Gambar 6.18). Sesaat setelah spermatozoa terikat
ke zona pelusida, proenzim proteolitik misalnya enzim hialuronidase digunakan
untuk melepaskan ikatan glikoprotein ZP3.
Polispermi tidak pernah terjadi karena dalam mekanisme fertlisasi telah ada
sistem reguiasi, pada mamaiia slow block polispermi diiakukan oleh granuia
kortikal yang bersifat enzimatis yang dapat memodifikasi protein ZP3. Misalnya
pada granula kortikal sel telur pada mencit, terdiri atas enzim
Naeetilglukosaminidase yang mampu melepaskan N-asetilgiukosamin dan rantai
karbohidrat ZP3. N-asetilglukosamin merupakan salah satu ketompok karbohidrat
yang dapat mengikat protein membran sperma.
Fusi materi genetik dari sperma dengan oosit terjadi setelah protein
membran sperma terikat pada reseptor di viii membran oosit. Kepaia sperma
dalam keadaan posisi mendatar terhadap membran oosit, seianjutnya terjadi
distribusi DNA sperma ke dalam sitoplasma oosit yang berada dalam tahap
metafase ll meiosis II. Ca+ yang masuk bersama dengan masuknya materi genetic
sperma menyebabkan aktivasi enzim kinase yang berfuungsi dalam proteolisis
pada siklin dan sekurin sehingga siklus sel dilanjutkan dan menghasilkan
kromosom haploid, dan akhirna dengan fusi membrane pronulear kedua gamet.

3
Ca+ yang mengikat dalam sitoplasma sel telur, sangat diperlukan untuk
aktivasi sel telur tersebut yanag berupa dimulainya kembali meiosis II, eksositosis
granula korteks, dan pembentukan pronukleus. Mekanisme aktivasi sel telur
terjadi dalam peristiwa fusi materi genetic sperma dan oosit.

Gambar 2.1.1 Fertilisasi (Sumber: Ikhsanun, 2013)

2.2 Pembelahan dan Blastulasi

Pembelahan mamalia berbeda dengan hewan lain. Setelah terjadi penetrasi


sperma ke oosit di ampula oviduk, meiosis akan dilanjutkan dan pembelahan
segera dimulai. Tahap perkembangan selanjutnya adalah pembelahan yang
berlangsung terus menerus tanpa istirahat, dengan tidak diikuti oleh pertambahan
volume, sehingga menghasilkan banyak sel dengan ukuran yang sangat kecil.
Pembelahan pada mamalia yang pertama kali adalah meridional selanjutnya satu
blastomer akan membelah secara meridional pula, blastomer kedua secara
ekuatorial. Pembelahan seperti ini disebut pembelahan rotasional.

4
Gambar 2.2.1 Pembelahan rotasional pada mamalia

Ciri pembelahan embrio mamalia adalah:

1. Terjadi sekitar satu hari setelah pembelahan meiosis selesai.


2. Pembelahannya berlangsung tidak sinkron, artinya blastomer pada embrio
mamalia tidak semua membelah pada waktu yang sama.
3. Jumlah sel tidak meningkat secara eksponensional dari tahap 2 sel menjadi 4
sel kemudian menjadi 8 sel atau kelipatannya tetapi menghasilkan jumlah sel
yang ganjil.

Lambatnya pembelahan embrio mamalia, kemungkinan terkait dengan


mulai aktifnya gen pada awal pembelahan yang selanjutnya dihasilkan protein
yang spesifik untuk keperluan perkembangan embrio. Pada manusia gen aktif
pertama kali terjadi pada embrio kisaran tahap 4 sel dan 8 sel, sedangkan pada
embrio mencit dan kambing, control zigotik dilakukan pada tahap 2 sel.

Pada tahap 8 sel, hubungan antar sel masih dalam keadaan longgar yang
selanjutnya mengalami pemadatan dan disebut morula. Morula mengalami
pembelahan secara cepat sehingga menjadi morula dengan 16 sel, yang
mempunyai susunan blastomer dalam keadaan kompak dan padat. Susunan
blastomer dikemas sangat rapat melalui perlekatan antar membrane sel oleh
protein adhesi seperti E-cadherine yang membentuk tigth junction yang
menghubungkan antar membran sel, dan gap junction pada bagian dalam untuk

5
melewatkan pertukaran ion-ion serta molekul-molekul sederhana dari satu sel ke
sel berikutnya.

Gambar 2.2.2 Pembelahan embrio mencit yang diamati secara in vitro

Tahap embrio 16 sel terdiri atas sekelompok sel berukuran kecil yang
disebut Inner Cell Mass/ICM merupakan struktur sel yang akan berkembang
menjadi embbrio, dikelilingi oleh sel-sel yang berukuran lebih besar yang
dinamakan sel tropoblas (tropektoderm) yang nantinya berkembang menjadi
jaringan bukan embrio yaitu jaringan korion yang memiliki fungsi antara lain:

1. Sebagai tempat penempatan embrio di uterus.


2. Sebagai transportasi oksigen dan nutrisi dari induk.
3. Mensekresikan hormon agar uterus menerima embrio.
4. Mensekresikan regulator untuk respon imun sehingga induk tidak menolak
embrio.

2.3Gastrulasi dan Pembentukan Lapisan Germinal.

Pemisahan pertama dari sel-sel ICM (inner cell mast) adalah untuk
pembentukan hipoblast, yang membatasi rongga blastula dan akan menjadi
endoderm kantung yolk. Sisa sel pada ICM yang terletak di atas hipoblast
berbentuk suatu keping embrio terdiri atas epiblast. Epiblast memisahkan diri,
dengan membentuk suatu rongga disebut amnion yang berisi cairan amnion.

6
Gambar 2.3.1 Gerakan sel selama gastrulasi pada manusia. (A,B) embrio pada
uterus waktu 15 tahap gestasi (Dikutip dari Gilbert, 2010)

Gambar 2.3.2 Human Embryogenesis


(Sumber: Larsen, W J (2001). Human Embryology (3rd ed.). Elsevier. p. 87.
ISBN 0-443-06583-7.)
Epiblast mengandung semua bakal jaringan embrional, yang selanjutnya bagian
posterior akan berploriferasi sehingga di daerah ini epiblast mengalami penebalan
yang selanjutnya menjadi area primitif yang merupakan tempat migrasinya bakal

7
endoderm dan mesoderm. Pembentukan dan asal dari lapisan embrional pada
manusia dan kera dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.3.3 Development of Human Embryonic Tissues.( 2001 Terese


Winslow)

Selama gastrulasi berlangsung, jaringan ekstrak embrio berdeferensiasi


menjadi tropoblast. Jaringan ini membentuk korion yang berfungsi memberikan
O2 dan nutrisi dari induknya selain itu juga mensekresikan hormon sehingga

8
uterus dapat mempertahankanembrio dan menghasilkan regulator dari respon
imun sehingga induk tidak menolak embrionya. Dengan demikian pembentukan
tropektoderm merukan peristiwa deferensiasi pertama dalam perkembangan
mamalia. Bagian tropoblast membentuk suatu jaringan baru yang disebut
sitotropoblast dan sinsiotropoblast. Sinsiotropoblast memasuki permukaan uterus
sehingga embrio tertanam dalam uterus.

Uterus membentuk banyak pembuluh darah yang berhubungan dengan


sinsiotropoblast, selanjutnya mesoderm meluas keluar dari embrio yang
selanjutnya mengalami perubahan yang menjadi pembuluh darah yang merupakan
tali pusat untuk mengantar nutrisi dari induk ke embrio tropoblast dengan
mesoderm yang mengalami perubahan menjadi pembuluh darah disebut korion,
dan peleburannnya dengan jaringan uterus membentuk plasenta. Pada babi, korion
dapat berdekatan sekali dengan jaringan maternal tetapi masih dapat terpisah,
sedangkan pada manusia berlekatan sangat erat sehingga kedua macam jaringan
tersebut tidak dapat dipisahkan

Gambar 2.3.4 Embrio Manusia (Sumber: Wedly,2010)

9
2.4 Neurulasi pembentukan aksis

Neurulasi merupakan proses pembentukan bumbung neural yang akan menjadi


bakal sistem saraf pusat oleh jaringan keping neural dan embrio yang mengalami
perubahan disebut neurula. Secara ringkas terdapat 2 macam pembentukan pada
proses neurulasi, yaitu pembentukan sistem saraf pusat dan pembentukan
bumbung neural.

I. Pembentukan sistem saraf pusat

Pada Pembentukan sistem saraf pusat terdapat 4 tahapan perubahan dari sel
pluripoten yang merupakan perubahan epiblast menjadi sel prekursor sel saraf,
yaitu:

1. Kompeten merupakan peristiwa terjadinya perubahan sel dalam


multipotent menjadi neurublas apabila dihadapkan pada sinyal yang tepat.
2. Spesifikasi merupakan suatu peristiwa dimana sel telah menerima sinyal
untuk menjadi neuroblas, akan tetapi dalam perkembangannya agar
berdiferensiasi, neurublas masih memerlukan sinyal lainnya.
3. Pembentukan neuron merupakan peristiwa Penentuan neurublast untuk
memasuki jalur differensiasi sehingga terbentuknya neuron.
4. Differensiasi merupakan peristiwa dimana gen neurublas akan terekspresi
sehingga neurublas berkembang menjadi neuron yang memilki struktur
spesifik.

II. Pembentukan bumbung neural

Dalam pembentukannya terdapat 2 cara utama konversi keeping neural menjadi


bumbung neural, yaitu neurulasi primer dan neurulasi sekunder

A. Neurulasi primer: dalam neurulasi primer membagi tiga lapisan sel yaitu
1. lapisan ektoderm internal yang diposisikan sebagai bumbung neural yang
akan menjadi otak dan sumsum tulang belakang,
2. epidermis eksternal yang akan diposisikan sebagai intergumen,
3. membentuk wilayah yang menghubungkan bumbung neural dan
epidermis, tetapi sel-sel tersebutt bermigrasi ke lokasi baru dan akan

10
menghasilkan neuron perifer, glia, sel pigmen kulit, dan beberapa jenis sel
lain.
Pada neurulasi primer , sel-sel yang mengelilingi keeping neural langsung
berproliferasi dab sel pial neural berinvaginasi, serta terlihat menonjol dari
permukaan sehingga terbentuk sebuah tabung berongga. Umumnya
pembentukan bumbung neural anterior terjadi pada saat neurulasi primer.
B. Neurulasi sekunder
Neurulasi sekunder pada mamalia diawali pada vertebrata sacral ekor, setelah
ectoderm neural diinduksi oleh notokorda, neurulasi berlangsung di sebelah
anterior nodus hensen. Pelipatan (invaginasi) keeping neural terjadi karena
adanya kontraksi mikrofilamen di bagian apeks sel. Karena notokorda berpaut
dengan keeping neural yang berada tepat diatasnya oleh adanya anchoring
milekul sedangkan sel penyusun keping neural terus berproliferasi, maka tepi
kiri dan kanan keping neural akan terangkat dan melipat. Mekanisme
pelekukan dan pelipatan juga terjadi oleh berubahnya bentuk sel alas keping
neural karena konstriksi mikrofilamen di puncak sel. Umumya pembentukan
bumbung neural posterior terjadi pada saat neurulasi sekunder .

Berikut ini gambar penjelasan proses dari neurulasi primer

Gambar 2.4.1 Neurulasi primer(sumber :bioedulima.com)

11
Proses neurulasi primer
1. pembentukan bumbung neural pada embrio mammalia.Pada bagian dorsal
ectoderm tampak sel keping neural memanjang berbentuk silindris
2. sel di bagian MHP yang berada diatas presumtif notokorda, mengalami
perubahan bentuk dari kolumnar menjadi kubus dan gerakan presumtim epidermal
menuju kea rah dorsal sehingga terjadi lipatan neural.
3. lipatan neural bergerak kea rah garis tengah dorsal
4. sel lipatan neural yang berbatasan dengan bakal ectodermal mengalami
perubahan bentuk dari silindris menjadi kubus sehingga terjadi pelekukan,
akibatnya bakal ectodermal bergerak melampaui lipatan neyral dan terjadi
penyatuan ectodermal.
5. karena ada kontak lipatan neural dengan ectodermal maka setiap gerakan
ectodermal akan mengikut sertakan lipatan neural sehingga terjadi pertemuan
antara lipatan neural tersebut

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Tahapan fertilisasi pada berbagai spesies, umumnya meliputi (1) kontak dan
pengenaian oleh sperma dan sel telur, (2) regulasi masuknya sperma ke
dalam sel teiur, hanya satu sperma yang dapat memasuki sel telur, sedang
sperma yang lain dihambat, (3) fusi materi genetik dari sperma dan sel
telur, (4) aktivasi metabolisme sel telur untuk memulai proses
perkembangan.
2. P a d a t a h a p b l a s t u l a s i p e r k e m b a n g a n e m b r i o m a n u s i a
t e r d a p a t 2 k e l o m p o k s e l ya i t u i n n e r c e l l m a s s d a n o u t e r
cell mass. Inner c e l l mass membentuk hipoblas dan epiblas.
Hipoblas berkembang menjadi bakal endoderm. Sedangkan epiblas
membentuk endoderme p i d e r m i s , bakal ektoderm s ya r a f ,
n o t o k o r d a , p r e k o r d a d a n b a k a l mesoderm.
3. G a s t r u l a s i m a m m a l i a b e r l a n g s u n g d i d a l a m r o n g g a
uterus induk setelah blastosis berimplantasi di
endometrium uterus m e l a l u i trofoblas (trofektoderm).
inner cell mass berdiferensisasi menjadikeping embrio yang
pada mulanya terdiri atas epiblas dan hipoblasyang selanjutnya
akan membentuk mesoderm dan endoderm serupa dengan proses
yang terjadi pada unggas. Hipoblas adalah endoderm primitif yang
melindungi rongga kantung yolk yaitu rongga yang berasal dari blastosoel.
Trofoblas adalah ektoderm ekstraembrio yanga k a n berperan
dalam membentuk pertautan antara fetus
d e n g a n jaringan induk, untuk memenuhi kebutuhan fisiologis fetus
4. P e r k e m b a n g a n embrio manusia pada tahap nurula
didahului dengant e r b e n t u k n y a lipata neural dan
d i a k h i r i d e n g a n p e m b e n t u k a n bumbung neural.

13
3.2 Saran
1. Sebaiknya kita lebih memahami konsep fertilisasi embrio Mamalia.
2. Sebaiknya kita lebih memahami konsep pembelahan pada Mamalia.
3. Sebaiknya kita lebih memahami konsep Gastrulasi pada Mamalia.
4. Sebaiknya kita lebih memahami konsep Neurulasi pada Mamalia.

14
DAFTAR RUJUKAN

Gilbert, S.F. 2010. Developmental Biology. E. 8, Sunderland: Sinauer

Gilbert, .2003. Gastrulation Human. (online) (http://dc172.4 shared.com/doc


/_7lovpn/preview.html), diakses 17 Oktober 2017

Hickman, C.P., Roberts L.S., dan Larson, A., 2001, Integrated Principles of
Zoology, McGraw Hill, New York.

Kotpal R.L. 2010.Modern Text Book of Zoology Invertebrales. New Delhi, India :
Rastologi Publication

Mahendra, A.P.W. 2010. Perkembangan Partenogenetik dari Oosit Mencit yang


Diaktivasi dengan Ethanol dan 6-DMAP Secara In Vitro. Veterinaria
medika 3(1):71.

Nuryati, T. N., Sutarto, M. Khamim dan P. S. Hardjosworo, 1998. Sukses


Menetaskan Telur. Penebar Swadaya, Jakarta

Surjono, Tien Wiati.2001. Perkembangan Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Tenzer, A., Handayani, N., Lestari, U. Dan Gofur, A. 2017. Perkembangan


Embrio Vertebrata. Malang: FMIPA UM

15