Anda di halaman 1dari 43

ISA-SA-200 s.d.

265
ISA-SA-300 s.d. 450

D
I
S
U
S
U
N
Oleh :

Kelompok 8
Widyawati Indahyani (1213092)
Like Liyadi (1213106)
Melisa Mangesa (1213115)

UNIVERSITAS ATMA JAYA MAKASSAR


Tahun Ajaran 2015/2016
STANDAR AUDIT SA 200 : TUJUAN KESELURUHAN AUDITOR
INDEPENDEN DAN PELAKSANAAN AUDIT BERDASARKAN
STANDAR AUDIT

PENDAHULUAN

Standar audit mengatur tanggung jawab keseluruhan auditor independen ketika


melaksanakan audit atas laporan keuangan berdasarkan SA. SA ini juga menjelaskan
ruang lingkup, wewenang, dan struktur SA, serta mengatur ketentuan untuk
menetapkan tanggung jawab umum auditor independen yang berlaku untuk semua
audit, termasuk kewajiban untuk mematuhi SA.

SA ditulis dalam konteks audit atas laporan keuangan yang dilakukan oleh
auditor. SA tidak mengatur tanggung jawab auditor yang mungkin ada dalam legislasi
atau peraturan. Namun auditor tetap bertanggung jawab untuk memastikan kepatuhan
terhadap seluruh kewajiban hukum, regulasi atau profesi yang relevan.

Tujuan suatu audit adalah untuk meningkatkan tingkat keyakinan pengguna


laporan keuangan yang dituju. Hal ini dicapai melalui pernyataan suatu opini oleh
auditor tentang apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material,
sesuai dengan suatu kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Suatu audit yang
dilaksanakan berdasarkan SA dan sesuai dengan ketentuan etika yang relevan
memungkinkan auditor untuk merumuskan opini.

Laporan keuangan yang diaudit adalah milik entitas, yang disusun oleh
manajemen entitas dengan pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola.
Sebagai basis untuk opini auditor, SA mengharuskan auditor untuk memperoleh
keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun
kesalahan. Keyakinan tersebut diperoleh ketika auditor telah mendapatkan bukti audit
yang cukup dan tepat untuk menrunkan risiko audit ke suatu tingkat rendah yang
dapat diterima.

Konsep materialitas diterapkan oleh auditor dalam perencanaan dan pelaksanann


audit, serta dalam pengevaluasian dampak kesalahan penyajian dalam audit dan
kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi.

SA berisi tujuan, ketentuan, serta materi penerapan dan penjelasan lain yang
dirancang untuk mendukung auditor dalam memperoleh keyakinan memadai.

Bentuk opini yang dinyatakan oleh auditor akan bergantung pada kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku serta peraturan perundang-undangan atau regulasi
yang berlaku.

Auditor juga dapat memiliki tanggung jawab komunikasi dan pelaporan lain
tertentu kepada pengguna laporan keuangan, manajemen, pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola, atau pihak diluar entitas, sehubungan dengan hal-hal yang
timbul dari audit.

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang
dimulai pada atau setelah tanggal: (i) 1 januari 2013 (untuk emiten), atau (ii) 1 januari
2014 (untuk entitas selain emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk entitas selain
Emiten.

TUJUAN KESELURUHAN AUDITOR


Dalam melaksanakan suatu audit atas laporan keuangan, tujuan keseluruhan auditor
adalah :
a. Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secaraa
keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, baik disebabkan oleh
kecurangan maupun kesalahan.
b. Melaporkan atas laporan keuangan dan mengkomunikasikannya sebagaimana
ditentukan oleh SA berdasarkan temuan auditor.

Dalam hal keyakinan memadai tidak dapat diperoleh dan suatu opini wajar dengan
pengecualian dalam laporan auditor tidak memadai dalam kondisi tersebut untuk
tujuan pelaporan kepada pengguna laporan keuangan yang dituju, SA mengharuskan
auditor untuk menyatakan suatu opini atau menarik diri dari perikatan sesuai dengan
regulasi yang berlaku.

DEFINISI
Untuk tujuan SA, terminology dibawah ini memiliki arti sebagai berikut:
(a) Kerangka pelaporan keuangan yang berlaku: kerangka pelaporan keuangan yang
diterapkan oleh manajemen dan jika relevan, maka pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola dapat diterima dari sudut pandang sifat entitas dan tujuan
laporan keuangan.
(b) Bukti audit: informasi yang digunakan auditor dalam mencapai kesimpulan yang
mendasari opini auditor. Bukti audit mencakup informasi yang terdapat dalam
catatan akuntansi yang mendasari laporan keuangan dan informasi lainnya.
(c) Resiko audit: risiko bahwa auditor menyatakan suatu opini audit yang tidak tepat
ketika laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material.
(d) Auditor: terminologi auditor digunakan untuk menyebut orang yang
melaksanakan audit atau jika relevan disebut KAP.
(e) Resiko deteksi: resiko bahwa prosedur yang dilaksanakan oleh auditor untuk
menurunkan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima tidak akan
mendeteksi suatu kesalahan penyajian yang ada dan yang mungkin material, baik
secara individual maupun secara kolektif.
(f) Laporan keuangan: suatu representasi terstruktur atas informasi keuangan
historis, termasuk catatan atas laporan keuangan terkait, yang dimaksudkan untuk
mengkomunikasikan sumber daya ekonomi atau kewajiban entitas pada suatu
tanggal atau perubahan pada suatu periode sesuai dengan kerangka pelaporannya.
(g) Informasi keuangan historis: informasi yang dinyatakan dalam terminology
keuangan suatu entitas tertentu, yang terutama dihasilkan oleh system akuntansi
entitas.
(h) Manajemen: orang dengan tanggung jawab eksekutif untuk melaksanakan
kegiatan entitas.
(i) Kesalahan penyajian: suatu selisih atas angka, klasifikasi, penyajian, atau
pengungkapan suatu pos laporan keuangan, antara yang dilaporkan dalam
laporan keuangan dengan yang seharusnya menurut kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku.
(j) Premis, berkaitan dengan tanggung jawab manajemen dan jika relevan, pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola yang melandasi pelaksanaan suatu audit.
(k) Pertimbangan professional: penerapan pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman
yang relevan dalam konteks standar audit, akuntansi dan etika dalam membuat
keputusan.
(l) Skeptisisme professional: suatu sikap yang mencakup suatu pikiran yang selalu
mempertanyakan, waspada terhadap kondisi kesalahan penyajian baik
disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan.
(m) Keyakinan memadai: dalam konteks audit atas laporan keuangan, suatu tingkat
keyakinan tinggi, tetapi bukan tingkat keyakinan absolut.
(n) Risiko kesalahan penyajian material: risiko bahwa laporan keuangan
mengandung kesalahan penyajian material sebelum dilakukan audit.
(o) Pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola: orang-orang atau organisasi
dengan tanggung jawab untuk mengawasi arah strategis entitas dengan kewajiban
yang terkait dengan akuntabilitas entitas.
(p) Entitas dengan kepentingan publik: seluruh emiten dan setiap entitas: yang
didefinisikan oleh regulasi atau legislasi sebagai entitas atau kepentingan publik.
(q) Emiten: entitas yang efeknya terdaftar dan diperdagangkan oleh suatu bursa efek
yang diakui.
KETENTUAN
Ketentuan etika yang berkaitan dengan audit atas laporan keuangan
Auditor harus mematuhi ketentuan etika yang relevan, termasuk ketentuan
independensi yang berkaitan dengan perikatan audit atas laporan
keuangan.
Skeptisisme professional
Auditor harus menggunakan pertimbangan professional dalam
melaksanakan audit dengan skeptisisme porfesional mengingat kondisi
tertentu yang dapat menyebabkan laporan keuangan mengandung
kesalahan penyajian material.
Pertimbangan professional
Auditor harus menggunakan pertimbangan professional dalam
merencanakan dan melaksanakan audit atas laporan keuangan.
Bukti audit yang cukup dan tepat serta risiko audit

Untuk memperoleh keyakinan memadai, auditor harus memperoleh bukti


audit yang cukup dan tepat untuk menurunkan risiko audit yang cukup dan
tepat untuk menurunkan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima
dan oleh karena itu memungkinkan auditor untuk menarik kesimpulan
wajar yang mendasari opini auditor.

Pelaksanaan audit berdasarkan SA

Kepatuhan terhadap SA yang relevan dengan audit

1. Auditor harus mematuhi seluruh SA yang relevan dengan audit.

2. Auditor harus memiliki suatu pemahaman tentang keseluruhan isi suatu


SA, termasuk materi penerapan dan penjelasan lain dengan tepat.

3. Auditor tidak diperkenankan untuk menyatakan kepatuhannya terhadap


SA dalam laporan auditor kecuali auditor telah mematuhi ketentuan SA
ini.

Tujuan yang dinyatakan dalam setiap SA


Untuk mencapai seluruh tujuan auditor, auditor harus menggunakan tujuan
yang dinyatakan dalam SA yang relevan dalam melaksanakan audit.

Kepatuhan terhadap ketentuan yang relevan

1. Auditor harus mematuhi setiap ketentuan suatu SA dalam suatu audit,


kecuali keseluruhan SA tidak relevan atau ketentuan tersebut tidak relevan
karena bergantung pada suatu kondisi dan kondisi tersebut tidak terjadi.
2. Dalam kondisi luar biasa, auditor dapat memutuskan untuk menyimpang
dari suatu kententuan yang relevan dalam suatu SA.

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN


a. Audit atas laporan keuangan

Ruang lingkup audit

Opini auditor atas laporan keuangan menyatakan apakah laporan


keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku. Opini tersebut merupakan hal yang umum
dalam semua audit atas laporan keuangan.

Penyusunan laporan keuangan

Peraturan perundang-undangan atau regulasi dapat menetapkan tanggung jawab


manajemen dan jika relevan maka pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola,
sehubungan dengan pelaporan keuangan.

Penyusunan laporan keuangan oleh manajemen dan jika relevan maka pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola yang mengharuskan:

Pengidentifikasian atas kerangka pelaporan keuangan yang berlaku sesuai


dengan regulasi yang berlaku.
Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan kerangka tersebut

Pencantuman deskripsi yang memadai mengenai kerangka tersebut dalam


laporan keuangan.

Laporan keuangan dapat disusun sesuai dengan suatu kerangka pelaporan


keuangan yang dirancang untuk memenuhi:

Kebutuhan berbagai pengguna laporan keuangan atas informasi keuangan umum,


atau

Kebutuhan pengguna laporan keuangan tertentu atas informai keuangan.

Bentuk opini auditor :

Opini yang dinyatakan oleh auditor adalah tentang apakah laporan keuangan
disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku.
Jika kerangka pelaporan keuangan merupakan suatu kerangka penyajian wajar,
maka opini menurut SA adalah tentang apakah laporan keuangan disajikan secara
wajar dalam semua hal material.

b. Ketentuan etika yang berkaitan dengan audit atas laporan keuangan

Auditor harus memenuhi ketentuan etika yang relevan, termasuk


ketentuan yang berkaitan dengan independensi. Kode etik menetapkan prinsip
dasar etika profesi yang relevan bagi auditor ketika melaksanakan suatu audit
atas laporan keuangan. Oleh karena perikatan audit yang menyangkut
kepentingan public, sebagaimana diatur dalam kode etik, auditor harus
independen dari entitas yang diaudit.

c. Skeptisisme professional

Skeptisisme professional mencakup:

Bukti audit yang bertentangan dengan bukti lainnya

Informasi yang menimbulkan pertanyaan tentang keandalan dokumen

Keadaan yang mengindikasikan adanya kemungkinan kecurangan

Kondisi yang menyarankan perlunya prosedur audit tambahan selain yang


disyaratkan oleh SA.

d. Pertimbangan professional

Pertimbangan professional merupakan hal penting untuk melaksanakan audit


secara tepat. Hal ini karena adanya interpretasi ketentuan etika dan SA yang
relevan. Pelaksanaan pertimbangan professional dalam kasus tertentu didasarkan
pada fakta dan kondisi yang diketahui oleh auditor.

e. Bukti audit yang cukup dan tepat serta resiko audit

Bukti audit diperlukan untuk mendukung opini dan laporan auditor.


Kecukupan dan ketepatan bukti audit saling berhubungan. Kecukupan
merupakan ukuran kuantitas bukti audit. Ketepatan merupakan ukuran kualitas
bukti audit. Hal mengenai apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah
diperoleh untuk mengurangi resiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima
dan memungkinkan auditor untuk menarik kesimpulan yang wajar.

STANDAR AUDIT SA 210


PERSETUJUAN ATAS KETENTUAN PERIKATAN AUDIT

PENDAHULUAN

Standar audit ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor dalam menyepakati
syarat perikatan audit dengan manajemen dan dengan pihak yang bertanggung jawab
atas tata kelola entitas.

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang
dimulai pada atau setelah tanggal : (i) 1 januari 2013(untuk emiten), atau (ii) 1 januari
2014 (untuk entitas selain emiten).

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untuk menerima atau melanjutkan perikatan audit hanya ketika
bisnis yang melandasi pelaksanaan audit telah disepakati, melalui:

a. Penetapan apakah terdapat prakondisi untuk suatu audit, atau

b. Penegasan bahwa ada pemahaman yang sama tentang ketentuan perikatan


audit antara auditor dan manajemen.

DEFINISI

Untuk tujuan SA ini, istilah dibawah ini bermakna sebagai berikut: prakondisi
untuk suatu audit: penggunaan suatu kerangka pelaporan keuangan yang dapat
diterima dalam penyusunan laporan keuangan oleh manajemen dan
persetujuan manajemen.

KETENTUAN
a. Prakondisi untuk suatu audit

Dalam rangka penentuan apakah terdapat prakondisi suatu audit, auditor


harus:
Menentukan apakah kerangka pelaporan keuangan yang akan diterapkan dalam
penyusunan laporan keuangan dapat diterima, dan
Memperoleh persetujuan dari manajemen bahwa manajemen mengakui dan
memahami tangung jawabnya.
b. Persetujuan atas ketentuan perikatan audit

Auditor harus menyepakati ketentuan perikatan audit dengan manajemen


atau pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas, jika relevan.
Ketentuan perikatan audit yang disepakati harus dicatat dalam surat perikatan
audit atau bentuk kesepakatan tertulis lainnya.

Jika peraturan perundang-undangan telah menentukan secara rinci


ketentuan perikatan audit yang mengacu pada paragraph 10, auditor tidak perlu
mencantumkannya dalam kesepakatan tertulis, kecuali untuk fakta bahwa
peraturan undang-undang tersebut berlaku dan manajemen mengakui dan
memahami tanggung jawabnya.

c. Audit berulang

Dalam audit berulang, auditor harus menilai apakah terdapat kondisi yang
memerlukan suatu revisi terhadap ketentuan perikatan audit dan apakah perlu
mengingatkan entitas yang bersangkutan tentang ketentuan perikatan audit yang
masih berlaku.

d. Penerimaan perubahan dalam ketentuan perikatan audit

Auditor tidak boleh menyepakati perubahan dalam ketentuan perikatan


audit jika tidak ada alasan yang memadai untuk melakukan perubahan tersebut.
Jika sebelum penyelesaian perikatan audit, auditor diminta untuk mengubah
perikatan audit tersebut ke perikatan yang menyebabkan auditor memperoleh
tingkat asurans yang lebih rendah, maka auditor harus mempertimbangkan
apakah terdapat dasar yang wajar untuk meakukan perubahan tersebut.
Jika ketentuan perikatan audit diubah, auditor dan manajemen harus
sepakat atas ketentuan baru tersebut dan menuangkannya ke dalam suatu surat
perikatan baru atau bentuk perjanjian tertulis lainnya yang tepat. Jika auditor
dapat menyepakati perubahan dalam ketentuan perikatan auditor dan manajemen
tidak mengizinkan auditor untuk meneruskan perikatan audit semula, auditor
harus:

a. Menarik diri dari perikatan aduit sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan

b. Menentuka apakah ada kewajiban, baik secara kontrak maupun dalam bentuk
lainnya.

e. Pertimbangan lain dalam penerimaan perikatan

Standar pelaporan keuangan yang ditambahkan oleh peraturan


perundang-undangan

Jika standar pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh suatu organisasi


penyusunan standar yang berwenang atau diakui diberi ketentuan tambahan oleh
peraturan perundang-undangan, auditor harus mempertimbangkan apakah ada
benturan antara standar pelaporan keuangan dan ketentuan tambahan tersebut.

Kerangka pelaporan keuangan yang ditentukan oleh peraturan perundang-


undangan-hal lain yang mempengaruhi penerimaan

Jika auditor telah menentukan bahwa kerangka pelaporan keuangan yang


diatur oleh peraturan undang-undang tidak dapat diterima namun faktanya hal
tersebut telah diatur oleh undang-undang, maka auditor harus menerima
perikatan audit jika Manajemen setuju untuk memberikan pengungkapan
tambahan dalam laporan keuangan.

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN


a. Ruang lingkup

Perikatan asurans, hanya boleh diterima jika auditor mempertimbangkan


bahwa ketentuan etika yang relevan seperti independensi dan kompetensi
professional akan dipenuhi.

b. Prakondisi untuk suatu audit

Suatu kondisi untuk penerimaan suatu perikatan asurans adalah bahwa


kriteria yang diacu dalam definisi suatu perikatan asurans sesuai dan tersedia
untuk pengguna yang dituju. Kriteria adalah standar pembanding yang digunakan
untuk mengevaluasi hal-hal pokok. Tanpa kerangka pelaporan keuangan yang
dapat diterima, manajemen tidak memiliki basis yang tepat untuk menyusun
laporan keuangan dan auditor tidak memiliki kriteria yang sesuai untuk
mengaudit laporan keuangan.

c. Persetujuan atas ketentuan perikatan audit

Peran manajemen dalam menyetujui ketentuan perikatan audit tergantung


pada struktur tata kelola klien dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bentuk da nisi surat perikatan audit dapat beragam untuk setiap entitas. Rekan
perikatan yang mengambil alih suatu audit selama perikatan dapat menerapkan
prosedur penelaahan untuk menelaah pekerjaan yang telah dilakukan hingga
tanggal serah terima perikatan.

STANDAR AUDIT SA 230

DOKUMENTASI AUDIT

PENDAHULUAN

Standar audit ini berkaitan dengan kewajiban auditor dalam menyusun dokumentasi
audit untuk keperluan audit atas laporan keuangan. Lampiran pada SA biasanya
memuat panduan dan ketentuan yang spesifik. Ketentuan dokumentasi spesifik dalam
SA lain tidak membatasi penerapan SA ini. Peraturan undang-undang juga dapat
menambahkan ketentuan dokumentasi.

Tujuan dokumentasi audit adalah:

Memberikan bukti dasar bagi auditor untuk menarik suatu kesimpulan tentang
pencapaian tujuan keseluruhan auditor

Memberikan bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai


dengan SA dan peraturan undang-undang yang berlaku.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untuk menyusun dokumentasi yang memberikan :

Catatan yang cukup dan tepat sebagai dasar untuk laporan auditor

Bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan SA dan
peraturan undang-undang yang berlaku

DEFINISI

Untuk lingkup SA ini, istilah berikut didefinisikan sebagai:

Dokumentasi audit: dokumentasi atas prosedur audit yang telah dilakukan, bukti
audit yang relevan diperoleh, dan kesimpulan yang ditarik oleh auditor

Folder audit: satu atau lebih folder atau media penyimpanan lain, dalam bentuk
fiscal atau elektronis, yang berisi dokumentasi audit untuk suatu perikatan.

Auditor berpengalaman: seorang personel yang baik yang berpengalaman dalam


praktik audit.

KETENTUAN
a. Penyiapan dokumentasi audit tepat waktu

Auditor harus menyiapkan dokumentasi audit secara tepat waktu.

b. Pendokumentasian prosedur audit yang telah dilaksanakan dan bukti audit


yang diperoleh

Auditor harus menyusun dokumentasi audit yang memadai sehingga tidak


memungkinkan seorang auditor berpengalaman yang tidak memiliki keterkaitan
sebelumnya dengan audit tersebut. Jika auditor menemukan informasi yang tidak
mendukung kesimpulan akhir tentang hal-hal signifikan, auditor harus
mendokumentasikan pendekatan yang digunakan untuk mengatasi
ketidakkonsistensian tersebut.

c. Penyusunan folder audit final

Auditor harus menyusun dokumentasi audit dalam sebuah folder audit dan
melengkapi proses administrative yang diperlukan secara tepat waktu
setelah tanggal laporan audit. Namun, setelah penyusunan folder audit
final selesai dilakukan, auditor tidak boleh menghapus atau membuang
dokumentasi audit apa pun sebelum masa penyimpanan yang disyaratkan
berakhir.

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN

a. Penyiapan dokumentasi audit tepat waktu

Penyiapan dokumentasi audit yang memadai secara tepat waktu membantu


untuk meningkatkan kualitas audit dan memfasilitasi proses penelaahan dan
pengevaluasian secara efektif bukti audityang diperoleh dan kesimpulan yang
ditarik sebelum laporan auditor difinalisasi.

b. Pendokumentasian prosedur audit yang telah dilaksanakan dan bukti audit


yang diperoleh
Bentuk, isi, dan luas dokumentasi audit bergantung pada factor-faktor berikut:

Ukuran dan kompleksitas entitas

Sifat prosedur audit yang dilakukan

Risiko kesalahan penyajian material yang diidentifikasi

Signifikansi bukti audit yang diperoleh

Sifat dan luas penyimpangan yang diidentifikasi

STANDAR AUDIT SA 240

TANGGUNG JAWAB AUDITOR TERKAIT DENGAN KECURANGAN


DALAM SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN

PENDAHULUAN

Standar audit ini berhubungan dengan tanggung jawab auditor yang terkait
dengan kecurangan, dalam suatu audit atas laporan keuangan. Karakteristik
kecurangan itu biasanya berada pada kesalahan penyajian dalam laporan keuangan
yang biasanya timbul akibat kecurangan atau kesalahan.
Tanggung jawab utama untuk pencegahan dan pendeteksian kecurangan berada pada
dua pihak yaitu yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas dan manajemen. Hal
ini juga memerlukan komitmen untuk menciptakan budaya jujur dan perilaku etis
yang dapat ditegakkan dengan pengawasan aktif oleh pihak yang bertanggung jawab
atas tata kelola. Pengawasan tersebut meliputi pertimbangan tentang potensi
pengesampingan pengendalian atau pengaruh yang tidak wajar terhadap proses
laporan keuangan.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah:

Mengidentifikasi dan menilai resiko kesalahan penyajian material dalam laporan


keuangan yang diakibatkan oleh kecurangan

Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat terkait dengan penilaian resiko
kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan, dan

Memberikan respons terhadap kecurangan yang diidentifikasi selama audit

DEFINISI

Untuk tujuan SA, istilah-istilah dibawah ini memiliki arti sebagai:

Kecurangan: suatu tindakan yang disengaja oleh suatu individu, atau lebih dalam
manajemen, atau pihak ketiga yang melibatkan penggunaan tipu muslihat untuk
memperoleh suatu keuntungan

Factor risiko kecurangan: peristiwa atau kondisi yang menunjukkan adanya tekanan
untuk melakukan kecurangan atau memberi peluang untuk melakukan kecurangan.

KETENTUAN
a. Skeptisisme professional

Berdasarkan SA 200 auditor harus mempertahankan skeptisime professional


sepanjang audit, menyadari kemungkinan kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan walaupun pengalaman masa lalu auditor menunjukkan
adanya kejujuran.

b. Pembahasan diantara tim perikatan

SA 315 mensyaratkan adanya pembahasan di antara anggota tim perikatan tentang hal
yang dikomunikasikan kepada anggota tim yang tidak terlibat dalam pembahasan.
Pembahasan ini dapat menekankan secara khusus bagaimana dan dimana laporan
keuangan entitas mungkin rentan terhadap kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan.

c. Prosedur penilaian resiko dan aktivitas terkait

Ketika melaksanakan prosedur penilaian risiko dan aktivitas terkait untuk


memperoleh pemahaman tentang entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian
internal entitas yang disyaratkan oleh SA 315 dimana auditor harus melaksanakan
prosedur yang ada pada SA untuk memperoleh informasi yang digunakan dalam
mengidentifikasikan risiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan.

d. Pengevaluasian terhadap bukti audit

Auditor harus mengevaluasi apakah prosedur analitis yang dilaksanakan berdekatan


dengan akhir audit, ketika membentuk kesimpulan secara keseluruhan tentang apakah
laporan keuangan konsisten dengan pemahaman auditor atas entitas.

e. Dokumentasi

Auditor harus memasukkan hal-hal berikut dalam dokumentasi audit:


Keputusan signifikan yang dicapai selama pembahasan di antara tim perikatan terkait
dengan dugaan kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan

Risiko kesalahan penyajian material yang telah diidentifikasi dan ditentukan yang
diakibatkan oleh kecurangan pada tingkat laporan keuangan dan asersi.

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN

a. Karakteristik kecurangan

Kecurangan, apakah dalam pelaporan keuangan atau penyalahgunaan aset mencakup


tekanan untuk melakukan kecurangan atau peluang untuk melakukannya dan
pembenaran atas tindakan tersebut.

Pelaporan keuangan yang mengandung kecurangan dapat dilakukan dengan cara


sebagai berikut:

Manipulasi, pemalsuan atau pengubahan catatan akuntansi

Pernyataan yang salah atau penghilangan suatu peristiwa secara sengaja

Penerapan yang salah yang disengaja

b. Skeptisisme profesional

Untuk mempertahankan hal ini diperlukan pengajuan pertanyaan secara berkelanjutan


tentang apakah informasi dan bukti audit yang diperoleh memberi petunjuk bahwa
kesalahan penyajian material tersebut diakibatkan oleh kecurangan yang mungkin
terjadi.

c. Pembahasan di antara tim perikatan

Mendiskusikan kerentanan adanya kesalahan penyajian material yang diakibatkan


oleh kecurangan dalam laporan keuangan entitas dengan tim perikatan:
Memberikan kesempatan bagi anggota tim perikatan yang lebih berpengalaman untuk
berbagi wawasan kepada mereka tentang bagaiman dan area mana yang rentan terjadi
kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan

Memungkinkan auditor untuk mempertimbangkan respons yang tepat terhadap


kerentanan tersebut dan untuk menentukan anggota tim perikatan yang akan
melaksanakan prosedur audit tertentu

Memperkenankan auditor untuk menentukan bagaimana hasil prosedur audit akan


dibagi diantara tim perikatan dan bagaimana merespons dugaan kecurangan yang
mungkin menjadi perhatian auditor.

d. Evaluasi atas bukti audit

SA 330, mensyaratkan auditor berdasarkan prosedur audit yang dilakukan dan bukti
audit yang diperoleh, untuk mengevaluasi apakah penilaian resiko kesalahan
penyajian material pada tingkat asersi masih tepat. Evaluasi ini bersifat kualititif
berdasarkan pertimbangan auditor. Evaluasi seperti itu dapat memberikan wawasan
lebih lanjut terhadap resiko kesalahan penyajian material yang diakibatkan oleh
kecurangan.

e. Representasi tertulis

SA 580, menetapkan dan menyediakan panduan untuk mendapatkan representasi


yang tepat dari manajemen dan jika berlaku, dari pihak yang bertanggung jawab atas
tata kelola.

f. Komunikasi kepada badan pengatur dan penegak hukum

Kewajiban professional auditor untuk menjaga kerahasiaan informasi klien dapat


menghalangi pelaporan kecurangan kepada pihak diluar klien. Namun, tanggung
jawab hokum auditor dapat bervariasi menurut yuridiksi dan dalam kondisi tertentu,
tugas penjagaan rahasia tersebut dapat diabaikan dalam peraturan perundang-
undangan.

STANDAR AUDIT 250

PERTIMBANGAN ATAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DALAM


AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN

PENDAHULUAN

Standar Audit (SA) ini mengatur tentang tanggung jawab auditor untuk
mempertimbangkan peraturan perundang-undangan dalam audit atas laporan
keuangan. SA ini tidak berlaku bagi perikatan assurance lain yang di dalamnya
auditor secara spesifik ditugaskan untuk melakukan pengujian dan pelaporan secara
terpisah terhadap kepatuhan peraturan perundang-undangan tertentu.

Dampak Peraturan Perundang-Undangan, terhadap laporan keuangan sangat


bervariasi. Peraturan perundang-undangan tersebut bersifat mengikat dan merupakan
kerangka peraturan perundang-undangan bagi suatu entitas. Ketentuan dalam
beberapa peraturan perundang-undangan berdampak langsung terhadap laporan
keuangan yang menentukan jumlah dan pengungkapan yang dilaporkan dalam
laporan keuangan suatu entitas.

Tanggung jawab untuk mematuhi peraturan Perundang-undangan adalah tanggung


jawab manajemen, dengan pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola, untuk memastikan bahwa operasi entitas dijalankan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Tanggung Jawab Auditor, ketentuan dalam SA ini dirancang untuk membantu auditor
dalam mengidentifkasi kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, namun
auditor tidak bertanggung jawab untuk mencegah dan tidak dapat diharapkan untuk
mendeteksi ketidakpatuhan terhadap semua peraturan perundang-undangan.

Auditor bertanggung jawab untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan


keuangan, secara keseluruhan, bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang
disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Oleh, karena keterbatasan bawaan
yang melekat dalam audit, terdapat risiko yag tidak dapat dihindari bahwa beberapa
kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan mungkin tidak dapat dideteksi.

Tanggal efektif

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai
pada atau setelah tanggal ; (i) 1 januari 2013 (untuk Emiten), atau (ii) 1 januari 2014
(untuk entitas selain emiten)

TUJUAN

Tujuan auditor adalah :

a. Untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat terkait dengan kepatuhan
terhadap ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.
b. Untuk melaksanakan prosedur audit tertentu untuk membantu
mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan.
c. Untuk merespons adanya ketidakpatuhan atau dugaan ketidakpatuhan
peraturan perundang-undangan.

Pertimbangan Auditor atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-


Undangan.
Berdasarkan SA 315, sebagai bagian dari usaha untuk memahami entitas dan
lingkungan bisnisnya, auditor harus memperoleh suatu pemahaman umum
mengenai :
a. Kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi entitas dan
industri.
b. Bagaimana entitas mematuhi kerangka tersebut.

Peraturan perundangan-uandangan yang secara umum memiliki dampak


langsung dalam menentukan jumlah dan pengungkapan material dalam
laporan keuangan. Peraturan perundang-undangan tertentu telah ditegakkan
dengan baik, dan diketahui oleh entitas dalam industri atau sektor yang di
dalamnya entitas beroperasi, serta relevan dengan laporan keuangan entitas.
Sebagai contoh, ketentuan tersebut dapat mencakup hal-hal yang berhubungan
:

- Bentuk dan isi dari laporan keuangan;


- Isu pelaporan keuangan yang spesifik untuk industri yang bersangkutan;
- Akuntansi untuk transaksi yang dilaksanakan berdasarkan kontrak dengan
pemerintah; atau
- Akrual atau pengakuan atas beban pajak penghasilan atau beban pensiun.

STANDAR AUDIT SA 260

KOMUNIKASI DENGAN PIHAK YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS


TATA KELOLA

PENDAHULUAN

SA ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor untuk berkomunikasi dengan pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam audit atas laporan keuangan.
Meskipun SA ini diterapkan dengan mengabaikan struktur atau besarnya tata kelola
atau ukuran entitas, SA ini menyediakan kerangka menyeluruh untuk komunikasi
auditor dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan mengidentifikasi
beberapa hal spesifik yang perlu dikomunikasikan kepada mereka.

Peran komunikasi :

Fokus utama SA ini adalah komunikasi dari auditor kepada pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola. Meskipun demikian, peran komunikasi dua arah yang efektif
penting untuk membantu :

a. Auditor dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam memahami
hal yang terkait dengan konteks audit.
b. Auditor dalam memperoleh informasi audir yang relevan dari pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola.
c. Pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam memenuhi tanggung
jawab mereka untuk mengawasi proses pelaporan keuangan.

Tanggal efektif

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang
dimulai pada atau setelah tanggal : (i) 1 januari 2013 (untuk emiten), atau (ii) 1
januari 2014 (untuk entitas selain emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk
entitas selain emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah :

a. Mengomunikasikan secara jelas kepada pihak yang bertanggung jawab atas


tata kelola tentang tanggung jawab auditor yang berkaitan dengan laporan
keuangan dan gambaran umum perencanaan lingkup dan saat audit;
b. Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan audit dari pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola;
c. Untuk menyediakan kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola
secara tepat waktu;
d. Untuk mendukung komunikasi dua-arah yang efektif antara auditor dengan
pihak yang bertanggung jawab atas kelola.

Untuk tujuan SA ini, beberapa istilah berikut memiliki arti seperti di bawah
berikut :

a. Pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola : individu atau organisasi,
seperti wali amanat korporasi yang memilki tanggung jawab untuk mengawasi
arah strategis entitas dan pemenuhan kewajiban yang berkaitan dengan
akuntabilitas entitas.
b. Manajemen : individu atau kelompok individu dengan tanggung jawab
eksekutif untuk melaksanakan operasi entitas.

Auditor harus mengkomunikasikan kepada pihak yang bertanggung jawab atas


tata kelola tentang tanggung jawab auditor yang berkaitan dengan audit atas
laporan keuangan, termasuk bahwa :

a. Auditor bertanggung jawab untuk membentuk dan menyatakan opini atas


laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen.
b. Audit atas laporan keuangan tidak membebaskan manajemen atau pihak yang
bertanggung jawab.

Proses komunikasi, auditor harus mengkomunikasikan kepada pihak yang


bertanggung jawab atas tata kelola bentuk, saat dan materi umum yang
diharapkan dari komunikasi. Tanggung jawab auditor dalam kaitannya dengan
audit atas laporan keuangan sering kali dimasukkan dalam surat perikatan atau
bentuk lain perjanjian tertulis yang mencatat ketentuan yang disetujui dalam
pertikatan, hal-hal sebagai berikut :

- Tanggung jawab auditor dalam melaksanakan audit berdasarkan SA, yang


bertujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan.
- Kenyataan bahwa SA tidak mensyaratkan auditor untuk mendesain
prosedur yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal tambahan yang
pelu dikomunikasikan.
- Bila berlaku, tanggung jawab auditor untuk mengkomunikasikan hal-hal
tertentu yang diisyaratkan oleh peraturan perundang-uandangan.

Hal-hal yang dikomunikasikan dapat meliputi :

- Bagaimana auditor mengusulakn untuk menangani risiko signifikan atas


kesalahan penyajian material.
- Pendekatan auditor terhadap pengendalian internal yang relevan terhadap
audit.
- Penerapan konsep materialitas dalam konteks dengan suatu audit.

Membangun proses komunikasi

Komunikasi yang jelas atas tanggung jawab auditor, ruang lingkup dan saat
audit yang direncanakan, dan isi umum dari komunikasi yang diharapkan
membantu dalam menetapkan basis untuk komunikasi dua arah yang efektif.
Hal-hal yang mungkin membantu dalam komunikasi dua-arah yang efektif
mencakup pembahasan tentang :

- Tujuan komunikasi.
- Bentuk komunikasi yang akan dilakukan.
- Individu atau individu-individu dari tim audit dan dari pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola yang akan melakukan komunikasi atas
hal-hal tertentu.
- Harapan auditro atas komunikasi akan menjadi dua arah, dan bahwa pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola akan mengkomunikasikan kepada
auditor.
- Proses untuk mengambil tindakan dan melaporkan kembali beberapa hal
yang dikomunikasikan oleh auditor.
- Proses untuk mengambil tindakan dan melaporkan kembali beberapa hal
yang dikomunikasikan.
Proses komunikasi akan bervariasi sesuai dengan kondisi, termasuk ukuran
dan struktur tata kelola entitas, bagaimana pihak yang bertanggung jawab atas
tata kelola menjalankan tugasnya, dan pandangan auditor mengenai
pentingnya untuk mengkomunikasikan hal-hal signifikan.

Ketika suatu hal signifikan dibahas dengan salah satu anggota pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, misalnya, ketua komite audit, auditor
mungkin perlu meringkas hal tersebut dalam komunikasi selanjutnya,
sehingga semua pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola memiliki
informasi yang lengkap dan seimbang.

STANDAR AUDIT SA 265

PENGKOMUNIKASIAN DEFISIENSI DALAM PENGENDALIAN


INTERNAL KEPADA PIHAK YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS TATA
KELOLA MANAJEMEN

PENDAHULUAN

Standar Audit (SA) ini mengatur tanggung jawab auditor untuk


mengkomunikasikan dengan tepat kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola dan manajemen tentang defisiensi dalam pengendalian internal yang
diidentifkasi oleh auditor dalam audit atas laporan keuangan, auditor diharuskan
untuk memperoleh pemahaman tentang pengendalian internal yang relevan dengan
audit pada saat mengidentifikasikan dan menilai risiko keslaha penyajian material.
Tanggal efektif, SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk
periode yang dimulai pada atau setelah tanggal : (i) 1 januari 2013 (untuk emiten),
atau (ii) 1 januari 2014 (untuk entitas selain emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk
entitas selain emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untuk mengkomunikasikan dengan semestinya kepada pihak


yang bertanggung jawab atas tata kelola dan manajemen tentang defisiensi dalam
pengendalian internal yang diidentifikasikan oleh auditor selama audit dan menurut
pertimbangan profesional auditor adalah cukup penting untuk mendapatkan perhatian
dari pihak-pihak yang bersangkutan.

Untuk kepentingan SA ini, istilah-istilah berikut memiliki pengertian seperti


dijelaskan di bawah ini :

a. Defisiensi dalam pengendalian internal. Hal ini terjadi bila :


(i) Suatu pengendalian dirancangan diterapkan atau dioperasikan sedemikian rupa
sehingga pengendalian dapat mendeteksi laporan keuangan secara tepat waktu.
(ii) Tidak adanya suatu pengendalian yang diperlukan untuk mencegah, atau mendeteksi
dan mengoreksi kesalahan penyajian dalam laporan keuangan secara tepat waktu.
b. Defisiensi signifikan dalam pengendalian internal. Suatu defisiensi atau kombinasi
beberapa difisiensi dalam pegendalian internal, yang menurut pertimbangan
profesional auditor, adalah cukup penting untuk mendapatkan perhatian.

KETENTUAN

Auditor harus menentukan apakah, berdasarkan pekerjaan audit yang telah dilakukan,
auditor telah mengidentifikasikan satu atau lebih defisiensi dalam pengendalian
internal.

Jika auditor telah mengidentifikasi satu atau lebih defisiensi dalam pengendalian
internal, auditor harus menetukan, berdasarkan pekerjaan audit yang telah dilakukan,
apakah defisiensi tersebut, secara individual atau kombinasi merupakan defisiensi
signifikan. Signifikan suatu defisiensi atau kombinasi dari beberapa defisiensi dalam
pengendalian internal tidak hanya tergantung pada apakah kesalahan penyajian telah
terjadi, namun juga pada kemungkinan bahwa kesalahan penyajian dapat terjadi dan
dampak dari kesalahan penyajian tersebut. Oleh karenanya, defisiensi signifikan
mungkin saja terjadi meskipun auditor belum mengidentifikasi kesalahan penyajian
selama auditnya.

Fakta bahwa auditor mengomunikasiakn defisiensi signifikan kepada pihak yang


bertanggung jawab atas tata kelola dan manajemen dalam audit periode lalu tidak
menghilangkan kewajiban auditor untuk mengulangi komunikasi tersebut jika
tindakan perbaikan belum dilakukan.

STANDAR AUDIT SA 300

PERENCANAAN SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN

PENDAHULUAN

Standar Audit (SA) ini mengatur tanggung jawab auditor untuk merencanakan audit
atas laporan keuanga. SA ini ditulis dalam konteks audit berulang. Pertimbangan
tambahan dalam perikatan audit tahun pertama diidentifikasi secara terpisah.

Perencanaan suatu audit melibatkan penetapan strategi audit secara keseluruhan untuk
perikatan tersebut dan pengembangan rencana audit. Perencanaan yang cukup
bermanfaat dalam audit atas laporan keuangan dalam beberapa hal, termasuk hal-hal
sebagai berikut :

- Membantu auditor untuk mencurahkan perhatian yang tepat terhadap area yang
penting dalam audit.
- Membantu auditor untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang potensial
secara tepat waktu.
- Membantu auditor untuk mengorganisasikan dan mengelola perikatan audit dengan
baik.

Tanggal efektif, SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk
periode yang dimulai pada atau setelah tanggal : (i) 1 januari 2013 (untuk emiten),
atau (ii) 1 januari 2014 (untuk entitas selain emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk
entitas selain emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untu merencanakan audit agar audit tersebut dapat
dilaksanakan dengan efektif. Perencanaan bukan merupakan suatu fase audit yang
terpisah dari fase audit lainnya, tetapi lebih merupakan suatu proses yang
berkelanjutan dan berulang yang sering dimulai seketika setelah penyelesaian audit
periode sebelumnya dan berlanjut hingga penyelesaian perikatan audit periode kini.
Namun, perencanaan mencakup pertimbangan tentang kapan dilakukan aktivitas dan
prosedur audit tertentu yang perlu dilengkapi sebelum pelaksanaan audit lanjutan.

STANDAR AUDIT 315

PENGIDENTIFIKASIAN DAN PENILAIAN RISIKO KESALAHAN


PENYAJIAN MATERIAL MELALUI PEMAHAMAN ATAS ENTITAS DAN
LINGKUNGANNYA

PENDAHULUAN

Ruang Lingkup
Standar Audit (SA) ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor untuk
mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan, melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk
pengendalian internal entitas.

Tanggal Efektif

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai
pada atau setelah tanggal: (i) 1 Januari 2013(untuk Emiten), atau (ii) 1 Januari 2014
(untuk entitas selain Emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk entitas selain Emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untuk mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian
material, apakah karena kecurangan atau kesalahan, pada tingkat laporan keuangan
dan asersi, melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk
pengendalian internal entitas, oleh karena itu menyediakan suatu dasar untuk
merancang dan mengimplementasikan respons terhadap risiko yang ditetapkan atas
kesalahan penyajian material tersebut.

DEFINISI

Untuk tujuan SA istilah berikut memiliki makna sebagai diuraikan dibawah ini :

a. Asersi: Representasi oleh manajemen, secara eksplisit atau dengan cara lain,
yang terkandung dalam laporan keuangan, yang dipakai oleh auditor untuk
mempertimbangkan berbagai jenis kesalahan panyajian potensial yang
mungkin terjadi.
b. Risiko bisnis: Suatu risiko sebagai akibat dari kondisi, peristiwa, keadaan
tindakan atau tidak adanya tindakan signifikan yang dapat berdampak negatif
terhadap kemampuan entitas dalam mencapai tujuannya dan dalam
melaksanakan strateginya, atau dari penetapan sasaran dan strategi yang tidak
tepat.
c. Pengendalian Internal: Proses yang dirancang, diimplementasikan, dan
dipelihara oleh pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, manajemen,
dan personel lain untuk menyediakan keyakinan memadai tentang pencapaian
tujuan suatu entitas yang berkaitan dengan keandalan pelaporan keuangan,
efisiensi dan efektivitas operasi, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan. Istilah pengendalian mengacu pada setiap aspek dari satu atau
lebih komponen pengendalian internal.
d. Prosedur penilaian risiko: prosedur audit yang dilaksanakan untuk
memperoleh suatu pemahaman tentang entitas dan lingkungannya, termasuk
pengendalian internal entitas, untuk mengidentifikasi dan menilai risiko
kesalahan penyajian material, apakah karena kecurangan atau kesalahan, pada
tingkat laporan keuangan dan asersi.
e. Risiko signifikan: Suatu risiko kesalahan penyajian material yang
diidentifikasi dan dinilai yang, dalam pertimbangan auditor, memerlukan
pertimbangan khusus.

KETENTUAN

1. Prosedur Penilaian Risiko dan aktivitas Terkait.


2. Pemahaman atas Entitas dan Lingkungannya yang Diharuskan, Termasuk
Pengendalian Internal Entitas.
3. Pengidentifikasian dan Penilan Risiko Kesalahan Penyajian Material.
4. Dokumentasi.

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN

1. Prosedur Penilaian Risiko dan aktivitas Terkait.


2. Pemahaman atas Entitas dan Lingkungannya yang Diharuskan, Termasuk
Pengendalian Internal Entitas.
3. Pengidentifikasian dan Penilan Risiko Kesalahan Penyajian Material.
4. Dokumentasi.

STANDAR AUDIT 320


MATERIALITAS DALAM TAHAP PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
AUDIT

PENDAHULUAN

Ruang Lingkup

Standar Audit (SA) ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor untuk menerapkan
konsep materialitas dalam perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan.
SA 450 menjelaskan tentang bagaimana materialitas diterapkan dalam mengevaluasi
dampak kesalahan penyajian yang teridentifikasi dalam suatu audit dan kesalahan
penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada, terhadap laporan keuangan.

Materialitas dalam Konteks Audit

Kerangka pelaporan keuangan sering kali membahas konsep materialitas dalam


konteks penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Walaupun kerangka pelaporan
keuangan mungkin membahas materialitas dengan menggunakan istilah yang
berbeda-beda, kerangka tersebut secara umum menjelaskan bahwa:

Kesalahan penyajian, termasuk penghilangan, dianggap material bila


kesalahan penyajian tersebut, secara individual atau agregat, diperkirakan
dapat memengaruhi keputusan ekonomi yang diambil berdasarkan laporan
keuangan oleh pengguna laporan keuangan tersebut .
Pertimbangan tentang materialitas dibuat dengan memperhitungkan berbagai
kondisi yang melingkupinya dan dipengaruhi oleh ukuran atau sifat kesalahan
penyajian, atau kombinasi keduanya; dan
Pertimbangan tentang hal-hal yang material bagi pengguna laporan keuangan
didasarkan pada pertimbangan kebutuhan inform keuangan yang umum yang
diperlukan oleh pengguna laporan keuangan sebagai suatu grup.
Kemungkinan dampak kesalahan penyajian terhadap pengguna laporan
keuangan individual tertentu, yang kebutuhannya beragam, tidak
dipertimbangkan.

Pembahasan tersebut di atas, jika ada dalam kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku, menyediakan kerangka acuan bagi auditor dalam menentukan materialitas
untuk audit. Jika kerangka pelaporan keuangan yang berlaku tidak mencakup
pembahasan tentang konsep materialitas, maka karakteristik-karakteristik yang
diuraikan dalam paragraf 2 dapat dijadikan sebagai kerangka acuan bagi auditor
dalam menentukan materialitas.

Penentuan materialitas oleh auditor membutuhkan pertimbangan profesional, dan


dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang kebutuhan informasi keuangan oleh para
pengguna laporan keuangan. Dalam konteks ini, adalah masuk akal bagi auditor
untuk mengasumsikan bahwa pengguna laporan keuangan:

a. Memiliki suatu pengetahuan memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi


serta akuntansi dan kemauan untuk mempelajari informasi yang ada dalam
laporan keuangan dengan cermat;
b. Memahami bahwa laporan keuangan disusun, disajikan dan diaudit
berdasarkan tingkat materialitas tertentu;
c. Mengakui adanya ketidakpastian bawaan dalam pengukuran suatu jumlah
yang ditentukan berdasarkan penggunaan estimasi, pertimbangan dan
pertimbangan atas peristiwa masa depan; dan
d. Membuat keputusan ekonomi yang masuk akal berdasarkan informasi dalam
laporan keuangan.

Konsep materialitas diterapkan oleh auditor pada tahap perencanaan dan pelaksanaan
audit. serta pada saat dampak kesalahan penyajian yang teridentifikasi dalam audit
dan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada, terhadap laporan keuangan
dan pada saat merumuskan opini dalam laporan auditor. (Ref: Para. A1)
Dalam perencanaan audit, auditor membuat pertimbangan-pertimbangan tentang
ukuran kesalahan penyajian yang dipandang material. Pertimbangan-pertimbangan
tersebut menyediakan suatu dasar untuk:

a. Menentukan sifat, saat dan luas prosedur penilaian risiko;


b. Mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material; dan
c. Menentukan sifat, saat dan luas prosedur audit lanjutan.

Materialitas yang ditetapkan pada tahap perencanaan audit tidak semena-mena


menentukan bahwa kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, secara individual atau
gabungan di bawah materialitas tersebut, akan selalu dievaluasi tidak material.
Kondisi kondisi yang berkaitan dengan beberapa kesalahan penyajian dapat
menyebabkan auditor menilai kesalahan penyajian tersebut sebagai kesalahan
penyajian material walaupun kesalahan penyajian tersebut berada di bawah tingkat
materialitas. Walaupun tidak praktis untuk merancang prosedur audit untuk
mendeteksi kesalahan penyajian material yang hanya berdasarkan sifatnya, auditor
tidak boleh hanya mempertimbangkan ukuran, tetapi juga sifat kesalahan penyajian
yang tidak dikoreksi, dan keadaan- keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya
kesalahan penyajian tersebut, pada saat mengevaluasi dampak kesalahan penyajian
tersebut terhadap laporan keuangan.

Tanggal Efektif

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai
pada atau setelah tanggal: (i) Januari 2013 (untuk Emiten), atau (ii) 1 Januari 2014
(untuk entitas selain Emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk entitas selain Emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untuk menerapkan konsep materialitas secara tepat dalam
perencanaan dan pelaksanaan audit.

DEFINISI
Untuk tujuan SA ini, materialitas pelaksanaan (performance materiality) adalah suatu
jumlah yang ditetapkan oleh auditor, pada tingkat yang lebih rendah daripada
materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan, untuk mengurangi ke tingkat
rendah yang semestinya kemungkinan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi dan
yang tidak terdeteksi yang secara agregat melebihi untuk laporan keuangan secara
keseluruhan. Jika berlaku, materialitas pelaksanaan dapat ditetapkan oleh auditor
pada jumlah yang lebih rendah daripada materialitas golongan transaksi, saldo akun
atau pengungkapan tertentu.

KETENTUAN

1. Penentuan Materialitas dan Materialitas Pelaksanaan dalam Perencanaan


Audit.
2. Revisi Sejalan dengan Progres Audit.
3. Dokumentasi.

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN

1. Materialitas dan Risiko Audit.


2. Penentuan Materialitas dan Materialitas Pelaksanaan dalam Perencanaan
Audit.
3. Revisi Sejalan dengan Progres Audit.

STANDAR AUDIT 330

RESPONS AUDITOR TERHADAP RISIKO YANG TELAH DINILAI

PENDAHULUAN

Ruang Lingkup

Standar Audit (SA) ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor untuk merancang
dan menerapkan respons risiko kesalahan penyajian material yang diidentifikasi dan
dinilai oleh auditor berdasarkan SA 315 dalam suatu audit atas laporan keuangan
Tanggal Efektif

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai
pada atau setelah tanggal: (i) 1 Januari 2013 (untuk Emiten), atau (i) 1 Januari 2014
(untuk entitas selain Emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk entitas selain Emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor adalah untuk memperoleh bukti audit cukup dan tepat yang berkaitan
dengan penilaian risiko kesalahan penyajian materia melalui pendesainan dan
penerapan respons yang tepat terhadap risiko tersebut.

DEFINISI

Untuk tujuan SA ini, istilah-istilah berikut mempunyai arti yang dijelaskan seperti di
bawah ini:

a. Prosedur substantif: Suatu prosedur audit yang dirancang untuk mendeteksi


kesalahan penyajian material pada tingkat asersi. Prosedur substantif terdiri
dari:
(i) Pengujian rinci (dari setiap golongan transaksi, saldo akun, dan
pengungkapan); dan
(ii) Prosedur analitis substantif.
b. Pengujian pengendalian: Suatu prosedur audit yang dirancang untuk
mengevaluasi efektivitas operasi pengendalian dalam mencegah, atau
mendeteksi dan mengoreksi, kesalahan penyajian material pada tingkat asersi.

KETENTUAN

1. Respons Keseluruhan
2. Prosedur Audit sebagai Respons terhadap Risiko Kesalahan Penyajian
Material yang Telah Dinilai pada Tingkat Asersi
3. Kecukupan Penyajian dan Pengungkapan
4. Evaluasi terhadap Kecukupan dan Ketepatan Bukti Audit
5. Dokumentasi
MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN

1. Respons Keseluruhan
2. Prosedur Audit sebagai Respons terhadap Risiko Kesalahan Penyajian
Material yang Telah Dinilai pada Tingkat Asersi
3. Kecukupan Penyajian dan Pengungkapan
4. Evaluasi terhadap Kecukupan dan Ketepatan Bukti Audit
5. Dokumentasi

STANDAR AUDIT 402

PERTIMBANGAN AUDIT TERKAIT DENGAN ENTITAS YANG


MENGGUNAKAN SUATU ORGANISASI JASA

PENDAHULUAN

Ruang Lingkup

Standar Audit (SA) ini mengatur tentang tanggung jawab auditor pengguna untuk
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat ketika suatu entitas pengguna
memanfaatkan jasa dari satu atau lebih organisasi jasa. Secara spesifik, standar ini
menjelaskan tentang bagaimana auditor pengguna menerapkan SA 315 dan SA 302
dalam memperoleh pemahaman tentang entitas pengguna termasuk pengendalian
internal yang relevan dengan audit, yang cukup untuk mengidentifikasi dan menilai
risiko adanya kesalahan penyajian material dan dalam merancang dan melaksanakan
prosedur audit lebih lanjut sebagai respons terhadap risiko tersebut.

Banyak entitas melakukan outsource aspek-aspek bisnisnya kepada organisasi


penyedia jasa, mulai dari pelaksanaan tugas spesifik di bawah arahan suatu entitas
sampai dengan penggantian keseluruhan unit atau fungsi bisnis suatu entitas, seperti
fungsi kepatuhan perpajakan. Banyak jasa yang disediakan oleh organisasi semacam
itu yang merupakan bagian integral dari kegiatan operasi bisnis entitas; namun. tidak
semua jasa tersebut relevan dengan audit.

Jasa yang diberikan oleh organisasi jasa relevan dengan audit atas laporan keuangan
entitas pengguna ketika jasa tersebut, dan pengendalian terhadap jasa tersebut,
merupakan bagian dari sistem informasi entitas pengguna, termasuk proses bisnis
yang terkait yang relevan terhadap pelaporan keuangan. Walaupun sebagian besar
pengendalian di organisasi jasa kemungkinan besar berhubungan dengan pelaporan
keuangan, ada kemungkinan terdapat pengendalian lain yang relevan terhadap audit,
seperti pengendalian atas pengamanan aset. Jasa suatu organisasi Jasa yang
merupakan bagian dari sistem informasi entitas pengguna, termasuk proses bisnis
yang terkait, relevan terhadap pelaporan keuangan jika jasa tersebut berdampak
terhadap salah satu di bawah ini:

a. Golongan transaksi dalam entitas pengguna yang signifikan terhadap laporan


keuangan entitas pengguna;
b. Prosedur, dalam teknologi informasi ("TI") maupun sistem manual, yang
dengan itu transaksi entitas pengguna diciptakan, dicatat, diproses, dikoreksi,
ditransfer ke buku besar, dan dilaporkan dalam laporan keuangan;
c. Catatan akuntansi yang terkait, baik dalam bentuk elektronik atau manual,
informasi pendukung dan akun-akun spesifik dalam laporan keuangan entitas
pengguna yang digunakan untuk menciptakan, mencatat memproses, dan
melaporkan transaksi entitas pengguna; termasuk pengoreksian atas informasi
yang tidak benar dan cara pentransferan informasi ke buku besar;
d. Bagaimana sistem informasi entitas pengguna mencatat peristiwa dan kondisi,
selain transaksi, yang signifikan terhadap laporan keuangan;
e. Proses pelaporan keuangan yang digunakan untuk menyusun laporan
keuangan entitas pengguna, termasuk estimasi akuntansi signifikan dan
pengungkapan;
f. Pengendalian terhadap entri jurnal, termasuk entri jurnal nonstandar yang
digunakan untuk mencatat transaksi tidak rutin, transaksi atau penyesuaian
yang tidak lazim

Sifat dan luas pekerjaan yang dilaksanakan oleh auditor pengguna yang berkaitan
dengan jasa yang disediakan oleh organisasi jasa tergantung pada sifat dan
signifikansi jasa tersebut terhadap entitas pengguna dan relevansinya terhadap audit

SA ini tidak berlaku bagi jasa yang disediakan oleh institusi Keuangan yang terbatas
pada pemrosesan, untuk rekening entitas yang ada di institusi keuangan, transaksi
yang diotorisasi secara spesifik oleh entitas, seperti pemrosesan transaksi rekening
giro oleh bank atau pemrosesan transaksi oleh pialang. Di samping itu, SA ini tidak
berlaku terhadap atas transaksi yang berasal dari hak kepentingan keuangan dalam
entitas lain, seperti firma, korporasi, dan joint venture, ketika hak
kepemilikan kepentingan dipertanggungjawabkan dan dilaporkan kepada pemegang
kepentingan.

Tanggal Efektif

SA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai
pada atau setelah tanggal: (i) 1 Januari 2013 (untuk Emiten), atau (i) 1 Januari 2014
(untuk entitas selain Emiten). Penerapan dini dianjurkan untuk entitas selain Emiten.

TUJUAN

Tujuan auditor pengguna, ketika entitas pengguna menggunakan jasa dari suatu
organisasi jasa, adalah:

a. Untuk memperoleh pemahaman tentang sifat dan dan yang disediakan oleh
organisasi jasa dan dampaknya terhadap pengendalian internal entitas
pengguna yang relevan dengan audit, yang cukup untuk mengidentifikasi dan
menilai risiko kesalahan penyajian material; dan
b. Untuk merancang dan melaksanakan prosedur audit sebagai respons terhadap
risiko tersebut.

DEFINISI

Untuk tujuan SA, istilah-istilah di bawah ini memiliki makna sebagai berikut:

a. Pengendalian pelengkap entitas pengguna: Pengendalian yang dianggap oleh


organisasi jasa, dalam merancang jasanya, akan diimplementasikan oleh
entitas pengguna, dan diidentifikasi dalam penjelasan sistemnya jika
diperlukan untuk mencapai tujuan pengendalian.
b. Laporan atas deskripsi dan rancangan pengendalian pada suatu organisasi jasa
(dalam standar ini disebut sebagai laporan tipe 1): Sebuah laporan yang terdiri
atas:
(i) Suatu deskripsi, yang disusun oleh manajemen organisasi jasa, tentang
sistem yang dimiliki oleh organisasi jasa, tujuan pengendalian
dan pengendalian terkait yang telah dirancang dan diimplementasikan
pada tanggal tertentu; dan
(ii) Suatu laporan dari auditor jasa yang bertujuan untuk menyampaikan
keyakinan memadai yang mencakup opini auditor jasa terhadap
deskripsi sistem pada organisasi jasa, tujuan pengendalian dan
pengendalian terkait, dan kesesuaian rancangan pengendalian untuk
mencapai tujuan pengendalian yang telah ditentukan.
c. Laporan tentang deskripsi, rancangan, dan efektivitas operasi pengendalian
dalam suatu organisasi jasa (dalam SA ini disebut sebagai laporan tipe 2):
Sebuah laporan yang berisi:
(i) Suatu deskripsi, yang disusun oleh manajemen organisasi jasa, tentang
sistem dalam organisasi jasa, tujuan pengendalian dan pengendalian-
pengendalian yang terkait, rancangan dan implementasi pengendalian
tersebut pada tanggal atau sepanjang periode tertentu dan, dalam
beberapa kasus, efektivitas operasi pengendalian tersebut sepanjang
periode tertentu; dan
(ii) Suatu laporan yang disusun oleh auditor jasa dengan tujuan untuk
menyampaikan keyakinan memadai yang meliputi:
a. Opini auditor jasa terhadap deskripsi sistem organisasi jasa, tujuan
pengendalian dan pengendalian-pengendalian yang terkait,
kesesuaian rancangan pengendalian untuk mencapai tujuan
pengendalian yang telah ditentukan, dan efektivitas operasi
pengendalian, dan
b. Suatu deskripsi tentang pengujian pengendalian yang dilaksanakan
oleh auditor jasa dan hasilnya
d. Auditor jasa: Seorang auditor yang, atas permintaan organisasi jasa,
menyediakan laporan asurans atas pengendalian suatu organisasi jasa.
e. Organisasi jasa: Suatu organisasi pihak ketiga (atau segmen suatu organisasi
pihak ketiga) yang menyediakan jasa kepada entitas pengguna yang
merupakan bagian sistem informasi organisasi entitas tersebut yang relevan
dengan pelaporan keuangan.
f. Sistem organisasi jasa: Kebijakan dan prosedur yang dirancang,
diimplementasikan, dan dipelihara oleh organisasi jasa untuk menyediakan
jasa yang tercakup dalam laporan auditor jasa kepada entitas pengguna.
g. Organisasi subjasa: Suatu organisasi jasa yang digunakan oleh organisasi jasa
lain untuk melaksanakan beberapa jasa bagi entitas pengguna yang menjadi
bagian sistem informasi entitas pengguna tersebut yang relevan terhadap
pelaporan keuangan.
h. Auditor pengguna: Seorang auditor yang melaksanakan audit dan membuat
laporan audit atas laporan keuangan suatu entitas pengguna.
i. Entitas pengguna: Suatu entitas yang menggunakan suatu organisasi jasa dan
yang laporan keuangannya diaudit.

KETENTUAN

1. Pemerolehan Pemahaman Tentang Jasa yang Disediakan oleh Organisasi Jasa,


termasuk Pengendalian Internal
2. Respons terhadap Risiko yang Telah Dinilai atas Kesalahan Penyajian
Material
3. Laporan Tipe 1 dan Tipe 2 yang tidak Memasukkan Jasa Organisasi Subjasa
4. Kecurangan, Ketidakpatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan dan
Kesalahan Penyajian yang tidak Dikoreksi Berkaitan dengan Aktivitas di
Organisasi Jasa
5. Pelaporan oleh Auditor Pengguna

MATERI PENERAPAN DAN PENJELASAN LAIN

1. Pemerolehan Pemahaman Tentang Jasa yang Disediakan oleh Organisasi Jasa,


Termasuk Pengendalian Internal
2. Respons terhadap Risiko yang Telah Dinilai atas Kesalahan Penyajian
Material
3. Laporan Tipe 1 dan Tipe 2 yang Tidak Memasukkan Jasa Organisasi Subjasa
4. Kecurangan, Ketidakpatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan dan
Kesalahan Penyajian yang Tidak Dikoreksi Berkaitan dengan Aktivitas di
Organisasi Jasa
5. Pelaporan oleh Auditor Pengguna