Anda di halaman 1dari 175

WALIKOTA TERNATE

PERATURAN WALIKOTA TERNATE


NOMOR 22 TAHUN 2010

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH


KOTA TERNATE TAHUN 2011 2015

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


KOTA TERNATE TAHUN 2010
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

WALIKOTA TERNATE

PERATURAN WALIKOTA TERNATE


NOMOR 22 TAHUN 2010
TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH
KOTA TERNATE TAHUN 2011 2015

WALIKOTA TERNATE

Menimbang :
a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan
pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, perlu disusun Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah untuk kurun waktu 5 (lima) tahun yang
merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Kepala Daerah;
b. bahwa untuk melaksanakan maksud tersebut pada huruf a di atas, perlu ditetapkan
Peraturan Walikota tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota
Ternate Tahun 2011-2015.

i
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah
Tingkat II Ternate (Lembaran Negara tahun 1999 Nomor 45, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3824);
2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang Undangan (Lembaran Negara tahun 2004 Nomor 53, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4489);
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (Lembaran Negara tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4421);
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4437);
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);
6. Peraturan Pemerintah 108 Tahun 2000 tentang tata cara Pertanggungjawaban
Kepala Daerah.
7. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 04 Tahun 2006 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Kota Ternate tahun 2005-2010.

MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN WALIKOTA TERNATE TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH (RPJM) KOTA TERNATE TAHUN 2011- 2015.

ii
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Walikota yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Daerah Kota Ternate;
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Ternate;
3. Walikota adalah Walikota Ternate;
4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah yang selanjutnya disingkat RPJM adalah
Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah memuat penjabaran dari visi,
misi dan program Kepala Daerah untuk kurun waktu 5 (lima) tahun;
5. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah yang selanjutnya disebut Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) adalah dokumen perencanaan Daerah untuk kurun waktu
1 (satu) tahun;
6. Rencana Strategi Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra - SKPD) adalah dokumen
perencanaan untuk kurun waktu 5 (lima) tahun.

BAB II
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH
Pasal 2
RPJMD merupakan Dokumen Perencanaan Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang
memuat visi, misi dan 11 Program Prioritas Kepala Daerah untuk kurun waktu 5 (lima)
tahun, terhitung mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 sebagaimana tersebut
dalam Lampiran Peraturan Walikota ini.

Pasal 3
Penjabaran dari RPJM ini akan ditindaklanjuti dalam RKPD yang ditetapkan dengan Peraturan
Walikota dan Renstra-SKPD yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD).

iii
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB III
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 4
Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan Pengundangan Peraturan Walikota ini dengan
penempatannya dalam Berita Daerah Kota Ternate.

Ditetapkan di Ternate
pada tanggal 8 November 2010

WALIKOTA T
TERNATE

H. BURHAN ABDURAHMAN

Diundangkan di Ternate pada tanggal 8 November 2010

SEKRETARIS DAERAH KOTA TERNATE

H. ISNAIN IBRAHIM

BERITA DAERAH KOTA TERNATE TAHUN 2010, NOMOR 109

iv
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xiii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Maksud dan Tujuan 1
1.2.1 Maksud 1
1.2.2 Tujuan 2
1.3 Landasan Hukum 2
1.4 Hubungan RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya 4
1.5 Sistematika Penulisan 6

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 7


2.1 Kondisi Geografis 7
2.2 Ekonomi Makro Daerah 10
2.2.1 Pertumbuhan Ekonomi 10
2.2.2 Perkembangan Inflasi 12
2.2.3 Perdagangan 13
2.2.4 Investasi 14
2.2.5 Koperasi dan UKM 16
2.2.6 Kemiskinan dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial 17
2.2.7 Ketenagakerjaan 18
2.3 Sosial dan Budaya Daerah 20
2.3.1 Kependudukan 20
2.3.2 Pendidikan 20
2.3.3 Kesehatan 22
2.3.4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 24
2.4 Sarana dan Prasarana Daerah 26

v
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

2.4.1 Jalan Darat 26


2.4.2 Angkutan Perkotaan 28
2.4.3 Terminal 28
2.4.4 Angkutan Penyeberangan 29
2.4.5 Angkutan Laut 30
2.4.6 Angkutan Udara 30
2.4.7 Komunikasi dan Telekomunikasi 31
2.4.8 Prasarana Dasar Permukiman 32
2.4.9 Energi Listrik 34
2.5 Perkembangan Pertanian 35
2.5.1 Ketahanan Pangan 35
2.5.2 Pertanian Tanaman Pangan 36
2.5.3 Perkebunan 37
2.5.4 Perikanan dan Kelautan 38
2.5.5 Peternakan 39
2.5.6 Kehutanan 40
2.6 Penetapan Kawasan Strategis Kota Ternate 40

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN


KERANGKA PENDANAAAN
3.1 Pengelolaan Keuangan Daerah 45
3.1.1 Pengelolaan Pendapatan Daerah 45
3.1.2 Pengelolaan Belanja Daerah 49
3.2 Kerangka Pendanaan 53
3.2.1 Pengelolaan Pendapatan Daerah 54
3.2.2 Pengelolaan Belanja Daerah 56
3.3.3 Pembiayaan Daerah 59

BAB IV ANALISIS ISU STRATEGIS DAERAH 63


4.1 Analisis Lingkungan Eksternal 63
4.1.1 Analisa Peluang Daerah 63
4.1.2 Analisa Ancaman Daerah 65
4.2 Analisis Lingkungan Internal 66

vi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

4.2.1 Analisa Kekuatan Daerah 66


4.2.2 Analisa Kelemahan Daerah 67
4.3 Isu Strategis Daerah 68

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 75


5.1 Visi dan Misi 75
5.1.1 Visi 75
5.1.2 Misi 77
5.2 Tujuan dan Sasaran 83
5.2.1 Tujuan 83
5.2.2 Sasaran 84

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 87


6.1 Reorientasi, Reposisi dan Revitalisasi 87
6.1.1 Reorientasi 87
6.1.2 Reposisi 88
6.1.3 Revitalisasi 89
6.2 Strategi Inti 89
6.2.1 Pimpinan Berkualitas dan Berpengalaman 89
6.2.2 Azas Organisasi 90
6.2.3 Budaya Organisasi 91
6.2.4 Sentralisasi Perencanaan & Desentralisasi Pelaksanaan
Pembangunan 92
6.2.5 Pengembangan SDM 92
6.3 Strategi dan Arah Kebijakan 92
6.3.1 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 1 92
6.3.2 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 2 93
6.3.3 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 3 95
6.3.4 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 4 96
6.3.5 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 5 98
6.3.6 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 6 99
6.3.7 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 7 100
6.3.8 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 8 102

vii
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3.9 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 9 102


6.3.10 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 10 103
6.3.11 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Prioritas 11 105

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN 107


7.1 Program Prioritas 107
7.2 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Pertama 113
7.3 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Kedua 115
7.4 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Ketiga 117
7.5 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Keempat 120
7.6 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Kelima 121
7.7 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Keenam 125
7.8 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Ketujuh 127
7.9 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Kedelapan 131
7.10 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Kesembilan 133
7.11 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Kesepuluh 135
7.12 Program Pembangunan Untuk Mewujudkan Prioritas Kesebelas 138
7.13 Indikasi Rencana Program, Kebutuhan Pendanaan dan Capaian Kinerja 140
7.14 Program Lintas Bidang dan Lintas SKPD 140
7.15 Pembangunan Wilayah 141

viii
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB VIII PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAN PENETAPAN INDIKATOR


KINERJA DAERAH 145
8.1 Pentahapan Pembangunan 145
8.1.1 Tahap I Tahun 2011 : Infrastruktur Perkotaan, Pendidikan dan
Kesehatan 145
8.1.2 Tahap II Tahun 2012 : APBD Pro Rakyat, Pengendalian dan
Pemanfaatan Ruang Kota 146
8.1.3 Tahap III Tahun 2013 : Tata Pemerintahan dan Peningkatan
Ekonomi Rakyat 147
8.1.4 Tahap IV Tahun 2014 : Pelayanan Publik dan Pengembangan
Kawasan Pesisir 148
8.1.5 Tahap V Tahun 2015 : Sosial Kebudayaan dan Penegakan
Supremasi Hukum 149
8.2 Penetapan Indikator Kinerja Daerah 150

BAB IX KAIDAH PELAKSANAAN DAN PEDOMAN TRANSISI 155


9.1 Kaidah Pelaksanaan 155
9.2 Pedoman Transisi 157

BAB XI PENUTUP 159

ix
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

DAFTAR TABEL
II.1 Administrasi Wilayah Kota Ternate 9
II.2 Kinerja Makro Ekonomi Kota Ternate 2005-2009 12
II.3 Realisasi Investasi Pemerintah dan Swasta Tahun 2005-2009 15
II.4 Jumlah Koperasi di Kota Ternate Tahun 2005-2009 16
II.5 Jumlah UMKM Kota Ternate Tahun 2005-2009 17
II.6 Statistik Kemiskinan Kota Ternate 18
II.7 Statistik Ketenagakerjaan di Kota Ternate 19
II.8 Angka Partisipasi Kasar (APM), Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka
Putus Sekolah Kota Ternate 2005-2009 21
II.9 IPM Kota Ternate Tahun 2005-2009 25
II.10 Prediksi Indikator Sosial Kota Ternate Tahun 2011-2015 25
II.11 Jenis Jalan di Kota Ternate Tahun 2005-2009 27
II.12 Pembangunan Jalan Lingkungan, Jalan Setapak dan Jembatan Pelintas di
Kota Ternate 2005-2009 27
II.13 Produksi dan Luas Panen Tanaman Pangan dan Holtikultura
Tahun 2007-2009 36
III.1 Perkembangan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Ternate
Tahun 2005-2009 (Rp. Juta) 46
III.2 Struktur Pendapatan Asli Daerah Kota Ternate Tahun 2005-2009 47
III.3 Realisasi Pajak Daerah Kota Ternate Tahun 2005-2009 (Rp. Juta) 48
III.4 Realisasi Dana Perimbangan Kota Ternate Tahun 2005-2009 (Rp. Juta) 49
III.5 Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 dan 2008 (Rp. Juta) 51
III.6 Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009 (Rp. Juta) 52
III.7 Proyeksi Pendapatan Kota Ternate Tahun 2010-2015 (Rp. Milyar) 56
III.8 Perkiraan Belanja Daerah Kota Ternate Tahun 2010-2015 (Rp. Milyar) 58

x
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

VI.1 Program Prioritas Pertama : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 93
VI.2 Program Prioritas Kedua : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 94
VI.3 Program Prioritas Ketiga : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 95
VI.4 Program Prioritas Keempat : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 96
VI.5 Program Prioritas Kelima : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 98
VI.6 Program Prioritas Keenam : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 100
VI.7 Program Prioritas Ketujuh : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah
Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 101
VI.8 Program Prioritas Kedelapan : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan
Arah Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 102
VI.9 Program Prioritas Kesembilan : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan
Arah Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 103
VI.10 Program Prioritas Kesepuluh : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan
Arah Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 104
VI.11 Program Prioritas Kesebelas : Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan
Arah Kebijakan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 105
VII.1 Prioritas Pertama : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 114
VII.2 Prioritas Kedua : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 116
VII.3 Prioritas Ketiga : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 118
VII.4 Prioritas Keempat : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 120

xi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

VII.5 Prioritas Kelima : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 123
VII.6 Prioritas Keenam : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 126
VII.7 Prioritas Ketujuh : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 129
VII.8 Prioritas Kedelapan : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 132
VII.9 Prioritas Kesembilan : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program
dan SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 134
VII.10 Prioritas Kesepuluh : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 136
VII.11 Prioritas Kesebelas : Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 139
VIII.1 Indikator Kinerja Pembangunan Menurut Sasaran Strategis 150
IX.1 Program Utama Transisi 157

xii
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

DAFTAR GAMBAR
I.1 Hubungan RPJM dan Dokumen Perencanaan Lainnya 6
II.1 Peta Administrasi Kota Ternate 8
II.2 Perkembangan Inflasi Kota Ternate 2005-2009 13
V.1 Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah 77
V.2 Keterhubungan Visi Misi dalam RPJM 78

xiii
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB I
Pendahuluan

1.1 LATAR BELAKANG


Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Ternate Tahun 2011-2015
merupakan penjabaran visi, misi dan program Walikota dan Wakil Walikota Ternate, yang
terpilih pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Walikota Tahun 2010. Dalam rangka
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kota Ternate, RPJM merupakan dokumen
perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan
dari sistem perencanaan pembangunan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 adalah tahapan pembangunan lima (5) tahun ke
depan. RPJM merupakan pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis setiap Satuan
Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
setiap tahun. Dalam penyusunannya, RPJM dilakukan secara komprehensif, terpadu
dan menyeluruh, serta mengedepankan keterlibatan masyarakat secara partisipatif
dengan mempertimbangkan dan menampung aspirasi pemangku kepentingan.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

1.2.1 Maksud
Penyusunan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 dimaksudkan untuk menghasilkan
rumusan strategi, arah kebijakan dan program pembangunan yang terarah, efektif,
efisien dan terpadu yang dapat mendorong terwujudnya visi, misi, tujuan dan sasaran
pembangunan yang telah ditetapkan oleh Walikota dan Wakil Walikota Ternate
dengan memperhatikan arahan Visi dan Misi Kota Ternate Tahun 2011-2015, serta
memperhatikan berbagai aspirasi seluruh pemangku kepentingan yang ada di Kota
Ternate.

Bab I 1
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

RPJM Kota Ternate juga dimaksudkan untuk menjadi acuan dan pedoman resmi
bagi Pemerintah Kota Ternate dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD, Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), serta sekaligus merupakan acuan penentuan
program daerah yang akan dibahas dalam rangkaian forum Musyawarah Perencanaan
Pembangunan (Musrenbang) Daerah Kota Ternate secara berjenjang.

1.2.2 Tujuan
Tujuan penyusunan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut :
(1) menjabarkan visi, misi, agenda pembangunan dan program Walikota dan Wakil
Walikota Ternate ke dalam arah kebijakan dan program pembangunan yang rinci,
terarah, terukur dan dapat dilaksanakan dari tahun 2011 sampai dengan tahun
2015;
(2) menyediakan satu acuan resmi bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) Pemerintah Kota Ternate dalam menentukan prioritas program dan
kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan dengan sumber dana APBD Kota
Ternate, APBN dan sumber dana lainnya;
(3) mendorong terwujudnya koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi
pembangunan baik antar SKPD, antar Pemerintah Kabupaten/Kota, antara
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota, serta antara Pemerintah Kota dan
Pemerintah Pusat;
(4) menyediakan tolok ukur untuk mengukur kinerja dan mengevaluasi kinerja setiap
SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Ternate;
(5) menciptakan iklim pemerintahan yang aman dan kondusif dalam melaksanakan
pembangunan yang berkelanjutan;
(6) mengoptimalkan kerjasama dan kemitraan antara Pemerintah Daerah, swasta
dan masyarakat.

1.3 LANDASAN HUKUM


Dalam penyusunan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015, peraturan perundangan
yang digunakan sebagai landasan hukum adalah :

2 Bab I
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah


Tingkat II Ternate (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 45, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3824);
(2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
(3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
(4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundangundangan, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
(5) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
(6) UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia No. 1137), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
(7) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4438);
(8) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional Tahun 20052025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
(9) Peraturan Pemerintah 108 Tahun 2000 tentang tata cara Pertanggungjawaban
Kepala Daerah;

Bab I 3
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(10) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan


Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
(11) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan;
(12) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan
Rencana Pembangunan Nasional;
(13) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah;
(14) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2009;
(15) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
(16) Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 050/2020/SJ tanggal 11 Agustus
2005 perihal Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJPD dan RPJMD;
(17) Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 3 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Ternate Tahun 2006-2016 (Lembaran Daerah Kota Ternate Tahun
2006 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 08);
(18) Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 4 Tahun 2006 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Kota Ternate Tahun 2005-2010 (Lembaran
Daerah Kota Ternate Tahun 2006 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Nomor
09);

1.4 HUBUNGAN RPJM DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA


Dalam sistem perencanaan pembangunan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 25
tahun 2004, RPJM merupakan satu kesatuan yang utuh dari manajemen pembangunan
di lingkungan Pemerintah Kota Ternate khususnya dalam menjalankan agenda
pembangunan yang telah tertuang dalam berbagai dokumen perencanaan. Hubungan
antara RPJM dengan dokumen perencanaan lainnnya adalah sebagai berikut:

4 Bab I
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(1) RPJM Kota Ternate


RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 merupakan penjabaran prioritas program
Walikota dan Wakil Walikota Ternate, dan berpedoman pada Visi dan Misi Kota
Ternate.
(2) RPJM dan RTRW Kota Ternate
Penyusunan RPJM memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai pola dan
struktur tata ruang yang telah ditetapkan dalam RTRW Kota Ternate sebagai
dasar untuk menetapkan lokasi program pembangunan yang berkaitan dengan
pemanfaatan ruang daerah di Kota Ternate.
(3) RPJM dan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah
RPJM menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang berwawasan 5 (lima) tahunan. Renstra
SKPD merupakan penjabaran teknis RPJM yang berfungsi sebagai dokumen
perencanaan teknis operasional dalam menentukan arah kebijakan serta indikasi
program dan kegiatan setiap urusan bidang dan/atau fungsi pemerintahan untuk
jangka waktu 5 (lima) tahunan, yang disusun oleh setiap Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) di bawah koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) Kota Ternate.
(4) RPJM dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
Pelaksanaan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 setiap tahun dijabarkan ke
dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebagai suatu dokumen
perencanaan tahunan Pemerintah Kota Ternate yang memuat prioritas program
dan kegiatan dari Rencana Kerja SKPD. RKPD merupakan bahan utama
pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Daerah
Kota Ternate yang dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat kelurahan,
kecamatan, kota hingga provinsi.

Gambaran tentang hubungan antara RPJM dengan dokumen perencanaan lainnya


sebagai kesatuan sistem perencanaan pembangunan dan sistem keuangan adalah
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar I.1.

Bab I 5
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Gambar I.1
Hubungan RPJM dan Dokumen Perencanaan Lainnya

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA
PENDANAAN
BAB IV ANALISA ISU STRATEGIS DAERAH
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
BAB VIII PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAN PENETAPAN INDIKATOR KINERJA
DAERAH
BAB IX KAIDAH PELAKSANAAN DAN PEDOMAN TRANSISI
BAB X PENUTUP

6 Bab I
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 KONDISI GEOGRAFIS


Secara geografis wilayah Kota Ternate terletak pada posisi 0o-2o Lintang Utara dan
126o-128o Bujur Timur, Kota Ternate berbatasan dengan :
Sebelah Utara dengan Laut Maluku.
Sebelah Selatan dengan Laut Maluku.
Sebelah Timur dengan Selat Halmahera, dan.
Sebelah Barat dengan Laut Maluku

Kota Ternate adalah Kota Kepulauan dan terdiri dari 8 pulau, meliputi:
1. Pulau Ternate 5. Pulau Tifure
2. Pulau Hiri 6. Pulau Gurida
3. Pulau Moti 7. Pulau Maka
4. Pulau Mayau 8. Pulau Mano

Sebagaimana umumnya daerah Maluku Utara yang didominasi wilayah laut, Kota
Ternate sangat dipengaruhi oleh iklim laut karena mempunyai tipe iklim tropis yang
terdiri dari dua musim (Utara-Barat dan Timur-Selatan) yang seringkali diselingi
dengan dua kali masa pancaroba di setiap tahunnya. Kondisi topografi Kota Ternate
juga ditandai dengan keragaman ketinggian dari permukaan laut (Rendah : 0-499
M, Sedang : 500-699 M, dan Tinggi : lebih dari 700 M). Dengan kondisi tersebut,
Kota Ternate merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 8 pulau. 5 pulau yang
berpenghuni, yaitu Pulau Ternate, Hiri, Moti, Mayau, dan Pulau Tifure, sedangkan
untuk 3 pulau kecil yaitu Pulau Maka, Mano dan Gurida, tidak berpenghuni.

Bab II 7
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Gambar II.1
Peta Administrasi Kota Ternate

8 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Topografi lahan Kepulauan Ternate adalah berbukit-bukit dengan sebuah gunung


berapi yang masih aktif dan terletak di tengah Pulau Ternate. Permukiman masyarakat
secara intensif berkembang di sepanjang garis pantai kepulauan. Dari 5 (lima) pulau
besar yang ada, umumnya masyarakat mengolah lahan perkebunan dengan produksi
rempah-rempah sebagai produk unggulan dan perikanan laut yang diperoleh di sekitar
perairan pantai. Pulau Ternate memiliki kelerengan fisik terbesar di atas 40% yang
mengerucut ke arah puncak Gunung Gamalama, terletak di tengah-tengah pulau.

Di daerah pesisir rata-rata kemiringan adalah sekitar 2% - 8%. Jenis tanah mayoritas
adalah tanah Rogusal di Pulau Ternate, Pulau Moti dan Pulau Hiri. Sedangkan jenis tanah
Rensika ada di Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Maka, Pulau Mano dan Pulau Gurida.
Kondisi tersebut merupakan ciri tanah pulau vulkanis dan pulau karang. Kedalaman
laut adalah bervariasi, pada beberapa lokasi di sekitar Pulau Ternate, terdapat tingkat
kedalaman yang tidak terlalu dalam, sekitar 10 meter sampai pada jarak sekitar 100
meter dari garis pantai, sehingga memungkinkan adanya peluang reklamasi. Tetapi
pada bagian lain terdapat tingkat kedalaman yang cukup besar dan berjarak tidak jauh
dari garis pantai yang ada.

Kota Ternate secara administrasi dibagi menjadi 7 (tujuh) kecamatan dan 77 kelurahan
sebagai hasil pemekaran daerah sejak tahun 1999.

Tabel II.1
Administrasi Wilayah Kota Ternate
NO KECAMATAN JUMLAH KELURAHAN IBU KOTA
1 Ternate Utara 14 Dufa-dufa
2 Ternate Tengah 15 Salahudin
3 Ternate Selatan 17 Kalumata
4 Pulau Ternate 13 Jambula
5 Moti 6 Moti Kota
6 Batang Dua 6 Mayau
7 Hiri 6 Dorari Isa
JUMLAH 77
Sumber : BPS Kota Ternate, 2010

Bab II 9
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Luas wilayah Kota Ternate 5.795,4 Km2, terdiri dari luas perairan 5.633,565 Km2 dan
luas daratan 161,84 Km2. Adapun jarak antara pulau-pulau tersebut dengan pulau
Ternate adalah sebagai berikut:
1. Ternate Hiri : 1,5 ML
2. Ternate Moti : 16,0 ML
3. Ternate Maka : 1,6 ML
4. Ternate Mano : 1,6 ML
5. Ternate Mayau : 90,0 ML
6. Ternate Tifure : 106,0 ML
7. Ternate Gurida : 106,1 ML

2.2 EKONOMI MAKRO DAERAH

2.2.1 Pertumbuhan Ekonomi


Kinerja makro ekonomi Kota Ternate selama kurun waktu lima tahun terakhir
memperlihatkan bahwa kebijakan Pembangunan Ekonomi yang dilaksanakan telah
mampu membuat beberapa Indikator Makro Ekonomi tetap terjaga pada level yang
optimal.

Secara umum kinerja ekonomi Kota Ternate menunjukan tingkat pencapaian yang
baik ini tercermin dari adanya upaya perbaikan iklim investasi baik swasta maupun
pemerintah, terjaganya pertumbuhan ekonomi pada posisi trend peningkatan per
tahun, turunnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan menurunnya jumlah
penduduk miskin serta terjadi peningkatan pada angka Indeks Pembangunan Manusia
(IPM).

Untuk mengukur perkembangan perekonomian suatu wilayah, metode pengukurannya


terdiri dari beberapa indikator, salah satu indikator utama makro ekonomi adalah
pertumbuhan ekonomi yang dalam konteks lain dapat disebutkan sebagai tolok ukur
keberhasilan dari pembangunan di bidang ekonomi pada suatu wilayah.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu


wilayah perekonomian dan dalam selang waktu tertentu. Produksi tersebut diukur

10 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

dalam nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi di
wilayah bersangkutan yang secara total dikenal sebagai Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB).

Paradigma pembangunan saat ini tidak hanya menitikberatkan pada tingginya


pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan dapat
memberi imbas pada rendahnya angka tingkat pengangguran, menurunnya jumlah
penduduk miskin, dan meningkatnya angka Indeks Pembangunan Manusia. Ketiga
komponen tersebut dapat terlaksana jika terjadi distribusi pendapatan yang berkualitas
dan adanya prioritas belanja pemerintah khususnya belanja Sosial Publik.

Sektor-sektor ekonomi yang selama ini telah memberikan andil besar bagi
pertumbuhan ekonomi di Kota Ternate yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran,
sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa. Ketiga sektor ini memberikan
kontribusi lebih dari 40% bagi nilai PDRB Kota Ternate selama lima tahun terakhir.

Berbagai peningkatan baik dari sisi volume dan frekwensi pada ketiga sektor ekonomi
tersebut telah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kearah yang positif dengan
tidak mengesampingkan peran sektor lain.

Dengan berkembangnya perekonomian Kota Ternate tentunya akan berdampak pada


peningkatan PDRB per kapita. Namun angka tersebut belum dapat menggambarkan
penerimaan penduduk secara nyata dan merata karena masih dipengaruhi oleh
kepemilikan faktor produksi serta kesenjangan pendapatan. Walaupun demikian angka
tersebut dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat rata-rata tingkat
kesejahteraan penduduk suatu daerah. PDRB perkapita Kota Ternate atas dasar harga
berlaku dalam kurun waktu tahun 2005-2009 terus mengalami kenaikan seiring dengan
meningkatnya nilai PDRB. Pada tahun 2005,
5, PDRB perkapita Kota Ternate mencapai
2,3 juta rupiah, meningkat menjadi 2,5 juta rupiah pada tahun 2009.

Pendapatan perkapita masyarakat dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan,


dimana pada tahun 2005 sebesar Rp. 2.325.964,- meningkat menjadi Rp. 2.387.514,-
pada tahun 2006 dan terus mengalami peningkatan setiap tahun hingga tahun 2009
menjadi sebesar Rp. 2.611.890,-.

Bab II 11
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel II.2
Kinerja Makro Ekonomi Kota Ternate Tahun 2005 2009
PERTUMBUHAN EKONOMI PENDAPATAN PERKAPITA
TAHUN
% Jutaan Rupiah (Rp.)
2005 6,60 415,085 2.325.964
2006 6,92 443,824 2.387.514
2007 7,85 478,658 2.483.416
2008 7,92 516,574 2.510.879
2009 7,94 557,573 2.611.890
Sumber : BPS Kota Ternate (data diolah), 2010

Dalam lima tahun mendatang, percepatan pembangunan ekonomi menuju Ternate


Bahari Berkesan akan menghadapi berbagai tantangan.

Isu Strategis :
1. Perlunya optimalisasi sektor perdagangan, hotel dan restoran melalui
pengembangan klaster industri, penguatan kerjasama investasi regional,
nasional dan internasional, penyediaan infrastruktur dan pengembangan jaringan
pemasaran.
2. Perlunya revitalisasi sektor pertanian dan perikanan dengan mempercepat
pengembangan agroindustri dan agrobisnis, penyiapan sumber daya manusia
pertanian dan perikanan, pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan
perikanan, yang selama ini nilai kontribusi PDRBnya sangat kecil.
3. Perlunya penguatan sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor jasa-jasa
melalui pengembangan jaringan transportasi, perijinan satu titik dan penyediaan
fasilitas pendukung.

2.2.2 Perkembangan Inflasi


Indikator makro ekonomi lain yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan
pembanggunan ekonomi adalah inflasi, makna dari inflasi adalah persentase tingkat
kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum di konsumsi rumahtangga.
Perkembangan harga dan jasa ini berdampak langsung terhadap tingkat daya beli dan
biaya hidup masyarakat serta berhubungan dengan produktifitas ekonomi.

12 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Inflasi di Kota Ternate lima tahun terakhir mengalami fluktuaktif dimana pada tahun
2005, 2007 dan 2008 inflasi cukup tinggi melebihi 10%, ini banyak disebabkan oleh
pengaruh faktor eksternal seperti kenaikan harga BBM. Dari berbagai kelompok
pengeluaran rata-rata yang menjadi penyumbang terbesar bagi terjadinya inflasi di
Kota Ternate adalah kelompok bahan makanan, ini tidak terlepas dari faktor alam yang
kadang menyebabkan ketersediaan komoditi dari kelompok bahan makanan menjadi
langka, misalnya komoditi ikan dll. Pada tahun 2009 laju inflasi Kota Ternate kembali
stabil yaitu sebesar 3,88% dan untuk bulan pebruari 2010 Kota Ternate mengalami
deflasi sebesar -0,07 persen sedangkan nasional mengalami inflasi 0.30 persen.

Gambar II.2
Perkembangan Inflasi Kota Ternate 2005-2009

2.2.3 Perdagangan
Salah satu potensi Kota Ternate yang cukup menonjol adalah sektor jasa dan
perdagangan, perkembangan sektor jasa dan perdagangan dalam beberapa tahun
ini mengalami peningkatan yang cukup pesat, sehingga memberikan kontribusi dalam
pembentukan struktur ekonomi, meliputi sektor perdagangan, perhotelan dan restoran,
jasa, transportasi dan komunikasi.

Bab II 13
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Beberapa faktor potensial sebagai penunjang adanya peluang-peluang dimaksud yaitu :


letak strategis Kota Ternate sebagai titik sentral transportasi/perhubungan (laut dan
udara) dalam wilayah Maluku Utara, sehingga menjadikan Ternate sebagai pintu
masuk dan titik temu perdagangan lokal (perdagangan), adanya sarana dan prasarana
penunjang seperti Bandara Babullah dan Pelabuhan Laut (Dermaga Ahmad Yani) serta
didukung dengan ketersediaan sarana transportasi lokal lainnya yang menghubungkan
Kota Ternate dengan beberapa kabupaten/kota, dan ketersediaan ruang publik
pengembangan investasi melalui kebijakan pengembangan kawasan khusus sebagai
pusat bisnis dan perdagangan (central bussines distric). Sejalan dengan tingginya
aktivitas pembangunan sektor perdagangan telah ditandai dengan adanya peningkatan
jumlah sarana perbankan.

Isu strategis :
1. Belum berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan dan
perikanan yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditi perdagangan.
2. Masih terbatasnya prasarana dan sarana transportasi pendukung perdagangan.
3. Belum optimalnya sistem informasi dan jarangan pasar dalam mendukung promosi
perdagangan.

2.2.4 Investasi
Perkembangan investasi di Kota Ternate belum optimal sebagai akibat terbatasnya
ketersediaan infrastuktur, serta berbagai pungutan dan hambatan yang menyebabkan
ekonomi biaya tinggi dan mahalnya investasi di daerah. Minat investasi mulai meningkat
sejalan dengan pencanangan Kota Ternate sebagai lumbung energi nasional, namun
realisasi investasi masih terbatas.

Pertumbuhan Ekonomi Kota Ternate selama lima tahun terakhir mampu terus
tumbuh diatas 6% dengan perkembangan yang lebih meningkat setiap tahunnya,
ini memperlihatkan adanya sinergitas antara Program dan kebijakan Pembangunan
Pemerintah Daerah Kota Ternate dengan pihak swasta yang ikut berperan bagi
pertumbuhan ini.

14 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kemampuan pertumbuhan ekonomi seperti yang disebutkan sebelumnya, tidak


terlepas dari adanya investasi baik swasta maupun pemerintah. Investasi swasta
walaupun dalam waktu lima tahun terakhir terjadi fluktuaktif namun dalam waktu
dua tahun terakhir menunjukan peningkatan yang cukup berarti (meningkat 72,87%)
sedangkan investasi pemerintah terus mengalami kenaikan antar tahun dalam lima
tahun terakhir.

Tabel II.3
Realisasi Investasi Pemerintah dan Swasta Tahun 2005-2009
INVESTASI
TAHUN
SWASTA (Rp.) PEMERINTAH (Rp.)
2005 280.655.598.800 59.094.538.220
2006 233.443.104.725 82.790.296.946
2007 175.408.117.780 155.337.254.952
2008 119.327.074.000 170.920.820.065
2009 163.742.236.000 176.890.457.165
Sumber : DPPKAD Kota Ternate, 2010

Isu Strategis :
1. Belum optimalnya pelayanan birokrasi, khususnya berkaitan dengan standarisasi
pelayanan, biaya, dan kecepatan perijinan.
2. Belum optimalnya jaringan infrastruktur terutama penyediaan tenaga listrik, air
bersih dan jalan.
3. Belum optimalnya koordinasi lintas sektor dan lintas daerah dalam perijinan dan
pengembangan investasi.
4. Terbatasnya data dan informasi tentang peluang investasi yang kongkrit tentang
komoditi unggulan daerah yang dapat diakses oleh para penanam modal.
5. Belum terlaksananya pelaksanaan desentralisasi kewenangan perijinan penanaman
modal di daerah.

Bab II 15
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

2.2.5 Koperasi dan UKM


Perkembangan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah menjadi bagian penting
dari pengembangan ekonomi Kota Ternate. Kegiatan perkoperasian di Kota Ternate
tumbuh berkembang, namun relatif lambat. Jumlah koperasi tahun 2005 sebanyak
212 kemudian menjadi 261 koperasi tahun 2009 atau tumbuh rata-rata sebesar 5,34
persen per tahun. Sementara, jumlah anggota terus meningkat dari 16.553 orang
pada tahun 2005 menjadi 17.898 orang pada tahun 2009 (lihat Tabel II.4).

Tabel II.4
Jumlah Koperasi di Kota Ternate Tahun 2005 2009
JUMLAH UNIT JUMLAH MODAL USAHA VOLUME USAHA /
TAHUN
KOPERASI ANGGOTA (000) OMZET (000)
2005 212 16.553 7.327.007 11.807.006
2006 227 16.990 7.570.495 13.275.658
2007 241 17.335 7.831.303 14.616.600
2008 251 17.576 8.057.822 21.433.400
2009 261 17.898 8.227.829 29.939.150
Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Kota Ternate, 2010

Peran koperasi masih belum optimal sebagai pilar perekonomian daerah. Hambatan
dalam pengembangan UKM antara lain adalah terbatasnya akses koperasi dan UKM
terhadap sumber daya produktif terutama permodalan, dan lemahnya kualitas SDM
pelaku usaha. Selain itu, faktor penghambat pengembangan UKM adalah terbatasnya
penguasaan teknologi, manajemen, informasi dan pasar.

Sementara itu, perkembangan UMKM di Kota Ternate menunjukkan peningkatan dari


4.222 unit pada tahun 2005 menjadi 6.563 unit pada tahun 2009 dengan rata-rata
peningkatan sebesar 11,78 persen per tahun (Tabel II.5). Kendala pengembangan
UMKM adalah terbatasnya akses permodalan, lemahnya manajemen usaha, belum
berkembangnya sistem data dan informasi, dan terbatasnya jaringan pemasaran.

16 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel II.5
Jumlah UMKM Kota Ternate Tahun 2005 2009
TAHUN USAHA MIKRO USAHA KECIL USAHA MENENGAH TOTAL %
2005 0 3.629 593 4.222 86%
2006 1.835 1.971 657 4.463 85%
2007 1.952 2.114 784 4.850 84%
2008 2.880 2.161 786 5.827 87%
2009 3.412 2.365 786 6.563 88%
Sumber: Dinas Koperasi dan UKM Kota Ternate, 2010

Isu Strategis :
1. Rendahnya kinerja koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) yang
disebabkan oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia khususnya dalam
bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran, serta
rendahnya kompetensi kewirausahaan.
2. Terbatasnya akses koperasi dan UKM terhadap sumber daya produktif terutama
permodalan, bahan baku dan informasi pasar.
3. Kurang kondusifnya iklim usaha untuk pengembangan koperasi dan UKM antara
lain disebabkan oleh (a) ketidakpastian dan ketidakjelasan prosedur perizinan
yang mengakibatkan besarnya biaya transaksi, panjangnya proses perizinan dan
timbulnya berbagai pungutan tidak resmi; (b) praktek bisnis dan persaingan usaha
yang tidak sehat; dan (c) lemahnya koordinasi lintas intansi dalam pemberdayaan
koperasi dan UKM; (d) mahalnya bahan baku bagi kebutuhan produksi UKM, dan
(e) prosedur pembayaran bahan baku yang masih secara tunai yang memberatkan
koperasi dan UKM.

2.2.6 Kemiskinan dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial


Tingkat kemiskinan Kota Ternate tergolong rendah yaitu 3,79% untuk tahun 2008. Jika
dibandingkan dengan tahun 2007, tingkat kemiskinan mengalami penurunan walau-
pun angkanya tidak signifikan. Secara absolute jumlah penduduk miskin masih tetap
sekitar 6,9 ribu jiwa. Kondisi ini menempatkan Kota Ternate termasuk kelompok yang
memiliki persentase penduduk miskin di bawah rata-rata nasional (15,42 persen). Tan-
tangan dalam lima tahun mendatang adalah menurunkan angka kemiskinan melalui
berbagai kebijakan.

Bab II 17
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel II.6
Statistik Kemiskinan Kota Ternate
URAIAN 2007 2008
Garis Kemiskinan 228.202 253.491
Jumlah Penduduk Miskin (000 jiwa) 6,9 6,9
Penduduk Miskin (%) 3,90 3,79
Sumber : BPS, Susenas 2008

Isu strategis :
1. Terbatasnya layanan pendidikan dan kesehatan yang bermutu, prasarana dasar,
dan kesempatan kerja bagi penduduk miskin.
2. Belum optimalnya pertumbuhan ekonomi di Kota Ternate dalam mengurangi
angka kemiskinan. Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi belum berkualitas
dalam menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan.
3. Belum optimalnya upaya pengurangan kemiskinan sebagai akibat belum terpadu-
nya kebijakan dan program, lemahnya koordinasi antar SKPD dan antar pemerin-
tah.
4. Tingginya penyebaran penduduk miskin mengindikasikan perlunya upaya penang-
gulangan secara komprehensif dan terpadu.

2.2.7 Ketenagakerjaan
Dari total penduduk usia kerja (15 tahun keatas), sekitar 87% penduduk Kota Ternate
termasuk dalam angkatan kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) mengalami
sedikit penurunan selama periode 2008-2009 dari 60,58% menjadi 53,97%. Walaupun
demikian tetapi jumlah penduduk yang bekerja meningkat dari 87,43% menjadi
88,77%.

Pasar tenaga kerja Kota Ternate cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tingginya
persentase penduduk usia kerja yang bekerja yang besarnya mencapai lebih dari
88% pada tahun 2009. Tingkat pengangguran pada tahun 2009 menunjukkan
angka penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2008. Pada tahun 2008 tingkat
pengangguran terbuka tercatat sebesar 7,61%. Angka ini menurun menjadi 6,06%
pada tahun 2009.

18 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Berdasarkan perbandingan menurut 3 sektor utama, pilihan bekerja di sektor jasa-


jasa (S) masih mendominasi pasar kerja di Kota Ternate dengan persentase sebesar
52,13% pada tahun 2009, yang diikuti dengan sektor manufaktur (M) dengan
persentase sebesar 31,12%. Sementara pekerja disektor pertanian (A) sebanyak
16,75%. Komposisi tersebut tampaknya tidak banyak mengalami perubahan selama
kurun waktu 2008-2009. Dari ketiga sektor yang mengalami kenaikan adalah sektor
S dari 46,01% menjadi 52,13%, sedangkan 2 sektor lainnya (A dan M) mengalami
penurunan, sektor A menurun dari 17,83% menjadi 16,75% serta sektor M menurun
dari 36,16% menjadi 31,12%.

Tabel II.7
7
Statistik Ketenagakerjaan di Kota Ternate
URAIAN 2008 2009
TPAK (%) 60,58 53,97
Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7,61 6,06
Bekerja (%) 87,43 88,77
Bekerja di Sektor A (%) 17,83 16,75
Bekerja di Sektor M (%) 36,16 31,12
Bekerja di Sektor S (%) 46,01 52,13
Sumber: BPS, Sakernas 2009

Isu strategis :
1. Tingginya penduduk yang bekerja pada sektor pertanian dan perikanan serta
tingginya angka kemiskinan di Kota Ternate mengindikasikan masih terbatasnya
keterampilan dan sarana pendukung lainnya bagi petani dan nelayan untuk
meningkatkan produktivitas pertanian dan perikanan.
2. Rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor Perdagangan, Hotel
dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta Sektor Jasa, yang
merupakan tiga (3) sektor yang selama 3 tahun terakhir merupakan sektor
penyumbang nilai PDRB tertinggi.
3. Masih tingginya angka pengangguran berpendidikan SD, SLTP dan SLTA di
Kota Ternate. Hal ini menegaskan perlunya revitalisasi pendidikan kejuruan
dan keterampilan luar sekolah sebagai alternatif peningkatan kapasitas dan
keterampilan angkatan kerja.

Bab II 19
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

2.3. SOSIAL DAN BUDAYA DAERAH

2.3.1 Kependudukan
Jumlah penduduk Kota Ternate tahun 2010 berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik Kota Ternate berdasarkan hasil Sensus Penduduk sebanyak 185.707 jiwa
dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 0,98 persen per tahun selama 2008-
2010. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk disebabkan oleh tingkat
fertilitas yang tinggi.

Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kondisi Kota Ternate dirasakan


semakin padat. Dengan luas wilayah daratan 161,84 km dan jumlah penduduk
sebanyak 185.707 jiwa, kepadatan penduduk Kota Ternate pada tahun 2010 sebesar
1147 jiwa per km. Ini berarti bahwa terjadi peningkatan kepadatan sebanyak 7 jiwa
per km atau 0,61% bila dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 1140 jiwa per km.
Penduduk Kota Ternate sebagian besar tinggal di Pulau Ternate dan tantangan yang
harus diatasi adalah mengendalikan pertumbuhan penduduk.

2.3.2 Pendidikan
Pembangunan sektor pendidikan tidak hanya diarahkan pada perluasan dan pemerataan
kesempatan memperoleh pendidikan, tetapi juga peningkatan mutu pendidikan serta
relevansinya dengan kebutuhan pasar kerja.

pada tahun 2009 Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk berusia 7-12 tahun (SD)
sebesar 103,47 persen, untuk Angka Partisipasi Murni (APM) sebesar 92,94 persen dan
Angka Putus Sekolah sebesar 0,12 persen. Sedangkan APK kelompok usia 13-15 tahun
(SMP) adalah sebesar 102,36 persen, untuk Angka Partisipasi Murni (APM) sebesar
89,94 persen dan Angka Putus Sekolah sebesar 0,16 persen. dan APK untuk usia 16-18
tahun (SMA/SMK) sebesar 96,80 persen, untuk Angka Partisipasi Murni (APM) sebesar
87,64 persen dan Angka Putus Sekolah sebesar 0,16 persen. Angka ini tersebut sudah
tergolong baik dibanding kabupaten/kota lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa
hampir semua penduduk Kota Ternate berusia 7-18 tahun telah bersekolah (Tabel
II.8). Namun masih terdapatnya angka putus sekolah terutama untuk kelompok usia
16-18 tahun merupakan permasalahan pendidikan yang harus diatasi.

20 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel II.8
Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM)
dan Angka Putus Sekolah Kota Ternate 2005-2009
TAHUN SD SMP SMA/ SMK
APK APM APS APK APM APS APK APM APS
2005 91,86 82,95 0,13 93,54 84,78 0,12 92,36 84,32 0,47
2006 93,73 83,65 0,26 92,87 86,09 0,26 92,79 85,63 0,23
2007 94,34 84,56 0,17 92,47 86,34 0,38 93,45 86,65 0,37
2008 102,39 87,38 0,09 95,85 89,92 0,31 94,67 87,32 0,43
2009 103,47 92,94 0,12 102,36 89,94 0,16 96,80 87,64 0,16
Sumber : Dinas Pendidikan Nasional Kota Ternate, 2010

Kondisi pendidikan ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, dan
tenaga pengajar. Dalam periode 2009/2010, jumlah sekolah SD sebesar 100 unit (83
Negeri dan 17 Swasta). Sementara tenaga pengajar SD meningkat rata-rata sebesar
15 persen periode tahun 2005-2009, dengan jumlah guru tahun 2009 mencapai 1.483
orang dan jumlah murid SD pada tahun 2009 sebesar 19.776 orang. Rasio murid
terhadap guru sebesar 13,33 artinya setiap guru melayani 13 orang murid.
pada jenjang pendidikan SMP, bangunan sekolah pada tahun 2009 sebanyak 26 unit
(14 Negeri dan 12 Swasta). Jumlah guru sebanyak 745 orang pada tahun 2009 dan
meningkat rata-rata sebesar 15,20 persen per tahun periode 2005-2009. Sedangkan
jumlah murid SMP pada tahun 2009 mencapai 8.742 orang. Rasio murid terhadap guru
sebesar 11,73 artinya setiap guru melayani 11 orang murid.
pada jenjang pendidikan SMA dan SMK, pada tahun 2009 bangunan sekolah sebanyak
22 unit (SMU : 9 Negeri dan 4 Swasta, SMK : 6 Negeri dan 3 Swasta), jumlah guru
sebanyak 508 untuk SMA dan 226 untuk SMK, yang meningkat rata-rata sebesar 8
persen untuk SMA dan 18,70 untuk SMK per tahun periode 2005-2009. Sedangkan
jumlah murid SMA pada tahun 2009 mencapai 6.816 orang dan 2.147 orang untuk
SMK. Rasio murid terhadap guru sebesar 13,41 untuk SMA dan 9,5 untuk SMK, artinya
setiap guru melayani 13 orang murid untuk SMA dan 9 orang murid untuk SMK.

Isu strategis :
1. Belum meratanya pencapaian hasil pendidikan, sebagai akibat terbatasnya prasa-
rana dan sarana pendidikan dan terbatasnya jumlah tenaga pengajar.

Bab II 21
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

2. Belum berkembangnya layanan pendidikan bermutu sesuai dengan standar inter-


nasional.

2.3.3 Kesehatan
Penyediaan layanan kesehatan yang terjangkau dan bermutu merupakan salah
satu upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengatasi kemiskinan, dan
membangun pondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Pencapaian program peningkatan derajat kesehatan di Kota Ternate juga belum


maksimal terlihat dari beberapa indikator program misalnya pada tahun 2005 angka
kematian ibu jumlahnya 6 dari 3.135 ibu hamil dan angka kematian bayi sebesar
20 bayi dari 3.135 kelahiran. Jika dilihat dari jumlah kematian masih tinggi, hal ini
disebabkan karena pengetahuan ibu tentang ibu hamil belum maksimal dan lebih
suka melakukan pemeriksaan kehamilan kepada dukun bayi dan lebih banyak yang
meninggal dunia. Ibu hamil yang mengalami kerentanan tersebut, seringkali lambat
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih baik karena tempat tinggalnya berada di luar
pulau Ternate. Pada tahun 2006 angka kematian ibu jumlahnya 7 dari 4.079 ibu hamil,
angka kematian bayi sebesar 8 bayi dari 3.554 kelahiran hidup, dan angka kematian
balita 3 bayi. Tahun 2007 cenderung menurun yakni angka kematian ibu jumlahnya
5 dari 4.079 ibu hamil, angka kematian bayi 12 dari 3.436 kelahiran hidup dan angka
kematian balita 7 bayi. Tahun 2008, angka kematian ibu jumlahnya 6 dari 4.244 ibu
hamil, angka kematian bayi 9 dari 3.733 kelahiran hidup dan angka kematian balita
13 bayi. Tahun 2009, angka kematian ibu hamil menurun menjadi 3 ibu hamil, angka
kematian bayi 10 dari 2.958* kelahiran hidup dan angka kematian balita 14 bayi dari
18.211 sasaran balita.

Begitupula pada angka kesakitan pada tahun 2005 akibat ISPA sebanyak 34.616
orang, malaria klinis sebesar 9.859 orang, positif malaria 3.113 orang, DBD 19 orang,
sedangkan HIV/AIDS belum ditemukan. Penderita malaria klinis cenderung menurun
pada tahun 2006-2009
9 yakni 8.221 orang, 7.775 orang, 6.661 orang dan 6.080 orang
orang.
Sama halnya dengan penderita positif malaria yang menunjukkan gejala penurunan
sepanjang tahun 2006-2008 yakni 1.548 orang, 1.010 orang dan 474 orang, namun
di tahun 2009 tercatat 1.012 orang penderita positif malaria, yang penanganannya

22 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

dilakukan di setiap kelurahan endemis malaria. Penderita DBD cenderung masih


tinggi sepanjang tahun 2006-2009, yakni 72 orang, 202 orang, 116 orang dan 154
orang. Gejala mengejutkan terdapat pada tahun 2007 dan 2008 yakni penderita HIV/
AIDS 3 orang dan 2 orang. Penderita penyakit malaria dan DBD masih tinggi karena
kepedulian masyarakat tentang lingkungan masih rendah begitu pula dengan perilaku
hidup bersih dan sehat belum dipahami secara utuh.

Penderita gizi buruk pada tahun 2005 masih tinggi karena pengetahuan tentang gizi
dan perkembangan anak belum maksimal, ditambah lagi dengan tingkat pendapatan
masyarakat yang masih rendah sehingga mempengaruhi kualitas dan perkembangan
anak. Untuk tahun 2008 terdapat 8 bayi yang mengalami gizi buruk, sedangkan di
akhir tahun 2009 tercatat 7 bayi yang mengalami gizi buruk, hal ini mengindikasikan
bahwa pengetahuan tentang gizi dan perkembangan anak sudah semakin membaik.
Kondisi Kota Ternate pada tahun 2005, baru saja selesai dilanda kerusuhanan horisontal
dimana pada saat itu infrastruktur di Kota Ternate sebagian mengalami kerusakan.
Sarana pelayanan kesehatan kesehatan masih kurang sehingga akses masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan juga mengalami penurunan. Jumlah sarana pelayanan
kesehatan sebatas 7 Puskesmas (rawat jalan 6 unit, rawat inap 1 unit), Puskesmas
Pembantu 13 unit, Polindes 3 unit, Pusling 6 unit dan Polindes 5 unit.

Jumlah sarana dan prasarana kesehatan yang tersedia belum menjangkau semua
masyarakat di Kota Ternate yang tersebar di beberapa pulau. Ini disebabkan karena
dana pemerintah untuk membangun sarana dan prasarana relatif masih sedikit,
sehingga pembangunan sarana dan prasarana kesehatan belum menjangkau seluruh
masyarakat Kota Ternate, utamanya masyarakat di luar pulau Ternate. Fasilitas
kesehatan Puskesmas selama tahun 2005-2007 belum mengalami peningkatan dan
baru pada tahun 2008 jumlahnya bertambah menjadi 8 Puskesmas. Pustu meningkat
pada tahun 2007 dan 2008 menjadi 14 Pustu, dibandingkan pada tahun 2005 dan
2006 sebanyak 13 Pustu, dan untuk tahun 2009 menjadi 15 pustu. Pusling cenderung
naik dari 6 Pusling (tahun 2005), 9 Pusling (tahun 2006 dan 2007), 11 Pusling (tahun
2008),, menjadi 12 Pusling (tahun 2009). Rumah medis atau paramedis bertambah
dari 15 rumah (tahun 2005 dan 2006) menjadi 17 rumah (tahun 2007) dan 18 rumah
(tahun 2008-2009). Polindes cenderung meningkat terus berawal dari 5 Polindes
(tahun 2005), meningkat pesat menjadi 13 Polindes (tahun 2006), 14 Polindes (tahun

Bab II 23
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

2007), 15 Polindes (tahun 2008) dan 16 Polindes (tahun 2009). Sedangkan Poskeskel
baru tersedia 3 Poskeskel (tahun 2007) dan 6 Poskeskel (tahun 2008-2009).

Sedangkan pedagang farmasi, toko obat dan apotek cenderung tidak menunjukkan pe-
ngurangan atau penambahan yang berarti. Toko obat di Ternate masih tetap berjumlah
6 toko obat (tahun 2005-2008), 25 apotek (tahun 2005), 23 apotek (tahun 2006), 24
apotek (tahun 2007) dan 22 apotek (tahun 2008). Pada tahun 2005-2007 belum ter-
dapat pedagang farmasi di Kota Ternate, baru pada tahun 2008 terdapat 3 pedagang
farmasi. Adapun perkembangan sampai dengan akhir tahun 2009 toko obat berjumlah 7,
apotek 23, dan untuk pedagang farmasi terdapat 5 pedagang besar farmasi.

Isu strategis :
1. Masih tingginya angka kematian bayi, anak dan ibu yang terjadi di Kota Ternate;
2. Angka kesakitan akibat penyakit menular masih tinggi seperti ISPA, Malaria, DBD,
Diare dan TB;
3. Kurangnya tenaga kesehatan yang ada baik dari segi kualitas maupun kuantitas,
jika dilihat dari rasio masing-masing jenis tenaga kesehatan yang ada di masing-
masing unit kerja;
4. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat;
5. Masih kurangnya anggaran untuk kesehatan dari APBD Kota Ternate;

2.3.4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Kemajuan pembangunan manusia secara umum dapat ditunjukkan dengan melihat
perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang mencerminkan capaian
kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Dengan melihat perkem-
bangan angka IPM tiap tahun, tampaknya kemajuan yang dicapai Kota Ternate
dalam pembangunan manusia sangat signifikan. Angka IPM Kota Ternate mengalami
peningkatan dari 75,66 pada tahun 2008 menjadi 76,13 pada tahun 2009. Angka IPM
Kota Ternate diatas angka IPM Provinsi Maluku Utara yaitu 68,63. Bila dilihat dari angka
ini bisa disimpulkan bahwa penduduk Kota Ternate lebih maju di bidang pendidikan,
kesehatan maupun ekonomi dari Kab/Kota lainnya di Provinsi Maluku Utara. IPM kab/
kota lain di Provinsi Maluku Utara berkisat antara 64 sampai dengan 68.

24 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel II.9
9
IPM Kota Ternate Tahun 2005-2009
TAHUN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (%)
2005 74,21
2006 74,63
2007 74,93
2008 75,66
2009 76,13
Sumber : BPS, 2010

Isu Strategis :
Belum optimalnya pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan untuk
meningkatkan mutu sumber daya manusia.

Dengan memperhatikan perkembangan kondisi sosial dan berbagai isu strategis, dalam
lima tahun mendatang jumlah penduduk Kota Ternate diperkirakan akan meningkat
dari 217.548 jiwa di tahun 2011 meningkat menjadi 228.491 jiwa pada tahun 2015
(Tabel II.10). Laju pertumbuhan penduduk rata-rata dalam periode 2011-2015 adalah
sebesar 1,58 persen pertahun. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi
oleh rata-rata total Fertility rate sebesar 2,418 pertahun.

Tabel II.10
Prediksi Indikator Sosial Kota Ternate
Tahun 2011-2015
No. SEKTOR 2011 2012 2013 2014 2015
1. Jumlah Penduduk (jiwa) 217,548 220,920 223,713 226,089 228,491
2. Laju Pertumbuhan Penduduk 1,98 1,48 1,48 1,48 1,48
3. Total Fertility Rate 2,646 2,361 2,361 2,361 2,361
4. Angka Kematian Bayi (IMR) 11 9 7 5 3
5. Angka Kematian Bayi (MMR) 5 4 3 2 1
6. Angka Harapan Hidup (AHH) 70,6 75
7. Angka Melek Huruf (AMH) 1174 323 123 2 0
8. Angka Partipasi Kasar (APK)

Bab II 25
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

No. SEKTOR 2011 2012 2013 2014 2015


(1) SD 94,37 96,26 98,18 100,15 102,15
(2) SLTP 92,17 93,09 94,02 94,96 95,91
(3) SLTA 88,03 89,79 91,59 93,42 95,29
9. Angka Partisipasi Murni (APM)
(1) SD 87,75 89,50 91,29 93,12 94,98
(2) SLTP 88,26 89,14 90,03 90,93 91,84
(3) SLTA 70,83 72,25 73,69 75,17 76,67
Sumber: Hasil Analisis 2010

Dalam lima tahun mendatang angka kematian bayi diperkirakan menurun dari 3/1000
KH (11 orang) pada tahun 2011 menjadi 1/1000 KH (3 orang) pada tahun 2015
dengan rata-rata penurunan sebesar 2 per tahun. Angka harapan hidup diperkirakan
akan meningkat dari 70,6 tahun pada tahun 2011 menjadi 75 tahun pada tahun
2015. Sementara angka melek huruf akan menurun dari 323 warga belajar pada
tahun 2011 menjadi 2 warga belajar pada tahun 2013. Angka partisipasi kasar dan
angkat partisipasi murni untuk jenjang pendidikan SD, SLTP dan SLTA juga mengalami
peningkatan selama periode 2011-2015.

2.4. SARANA DAN PRASARANA DAERAH

2.4.1 Jalan Darat


Faktor utama untuk kelancaran perhubungan darat adalah tersedianya sarana jalan
yang baik untuk kegiatan ekonomi, perpindahan penduduk, maupun kegiatan pelayanan
antar daerah. Terdapat tiga tipe (jenis jalan), yaitu jalan tanah, jalan lapen dan jalan
hotmix. Pada tahun 2005 di wilayah Kota Ternate tersedia jalan sepanjang 246.813
km, yang terdiri dari jalan tanah sepanjang 58.079 km, jalan lapen sepanjang 114.455
km dan jalan hotmix sepanjang 74.279 km. Pembangunan jalan di Kota Ternate lebih
banyak didominasi Jenis Jalan Lapen. Rasio Jalan Tanah terhadap total jalan di Kota
Ternate sebesar 23,53 %, Rasio Jalan Lapen sebesar 46,37 % dan Rasio Jalan Hotmix
sebesar 30,10 %. Jenis jalan di Kota Ternate 2005-2009 dapat dilihat pada Tabel
II.11.

Tabel II.11

26 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Jenis Jalan di Kota Ternate Tahun 2005-2009


PANJANG JALAN (KM)
No JENIS JALAN KET
2005 2006 2007 2008 2009
1 Jalan Tanah 58.079 55.479 52.884 58.547 42.720
2 Jalan Lapen 114.455 125.213 129.815 138.948 150.643
3 Jalan Hotmix 74.279 79.279 84.139 89.279 94.913
JUMLAH 246.813 259.971 266.838 286.774 288.276
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate, 2010

Dari Tabel II.11 menunjukkan bahwa pada tahun 2009 panjang jalan lapen mendominasi
dengan 150.643 Km. Untuk pembangunan sarana dan prasarana Jalan lingkungan,
jalan setapak dan Jembatan pelintas dapat dilihat pada Tabel II.12.

Tabel II.12
Pembangunan Jalan Lingkungan, Jalan Setapak dan Jembatan Pelintas
di Kota Ternate 2005-2009
PANJANG JALAN PANJANG JALAN
TAHUN JEMBATAN PELINTAS
LINGKUNGAN SETAPAK
2005 762 M 419 M M (- Unit)
2006 5.056 M 2.312 M 74 M (4 Unit)
2007 3.233 M 4.061 M 48 M (3 Unit)
2008 5.602 M 1.958 M 177 M (6 Unit)
2009 4.321 M 4.556 M 108,5 M (5 Unit)
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate, 2010

Isu strategis :
1. Belum terselesaikannya pembangunan dan peningkatan jalan akses menuju ke
aktivitas perekonomian pada wilayah strategis dan kawasan cepat tumbuh.
2. Terbatasnya ketersediaan jalan menuju tempat wisata potensial.
3. Rendahnya budaya tertib lalu lintas yang dimiliki masyarakat menyebabkan masih
tingginya angka kecelakaan.
4. Masih rendahnya infrastruktur yang menghubungkan antar pulau terutama
Kecamatan Pulau Batang Dua, Kecamatan Moti dan Kecamatan Hiri.

2.4.2 Angkutan Perkotaan

Bab II 27
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kota Ternate sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, perlu didukung dengan sistem
transportasi yang memadai. Pertumbuhan kendaraan dalam Kota Ternate dewasa
ini cukup berpotensi secara signifikan sebagai penyebab utama kemacetan lalu
lintas, karena tidak diimbangi dengan panjang jalan yang ada. Oleh karena itu perlu
diantisipasi dengan penataan sistem transportasi yang mampu mengatasi permasalahan
tersebut.

Isu strategis :
1. Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana angkutan darat belum mencukupi
dalam mendukung pelayanan transportasi yang aman, nyaman, lancar dan
tertib.
2. Angkutan massal perkotaan belum tertata dengan baik.
3. Dukungan penyediaan fasilitas keselamatan transportasi belum maksimal.
4. Pengawasan dan pembinaan penyelenggaraan transportasi belum maksimal.

2.4.3 Terminal
a. Fasilitas Terminal
Dalam mendukung pertumbuhan sektor-sektor ekonomi, pembangunan terminal
penumpang dan barang perlu dilakukan dengan memperhitungkan fungsi pelayanan
penyebaran, yaitu terminal utama dan terminal lokal. Direncanakan 5 tahun ke depan
terminal utama terutama yang berada pada kawasan Gamalama akan ditingkatkan
fasilitas sarana dan prasarana, hal ini dimaksudkan untuk dapat melayani penumpang
dan arus bongkar muat barang.

b. Fasilitas Keselamatan Lalu Lintas Jalan


Keselamatan lalu lintas, khususnya lalu lintas jalan, adalah sesuatu yang tidak dapat
ditawar-tawar, karena keselamatan berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Untuk
maka keselamatan lalu lintas jalan perlu ditingkatkan melalui pengadaan perlengkapan
jalan, seperti : marka jalan, pagar pengaman, rambu-rambu lalu lintas, APILL, traffic
light, RPPJ, mobil derek, peralatan pengujian kendaraan bermotor dan lain sebagainya
pada ruas-ruas jalan. Namun sebelum dilakukan pengadaan perlengkapan jalan
dimaksud, perlu dilakukan survei dan manajemen rekayasa lalu lintas jalan agar titik

28 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

pemasangan dan jumlah kebutuhan perlengkapan jalan dapat ditentukan dengan


efektif dan efisien.

Isu strategis :
1. Belum optimalnya sarana dan prasarana terminal dalam mewujudkan pelayanan
yang aman, nyaman, lancar dan tertib.
2. Masih rendahnya ketersediaan fasilitas keselamatan jalan dalam mendukung
kelancaran, kenyamanan dan keselamatan lalu lintas jalan.

2.4.4 Angkutan Penyeberangan


Pelabuhan penyeberangan Bastiong yang melayani lintasan penyeberangan Ternate
Sidangoli, Sofifi, Tidore, Batang Dua, Bitung dan Bacan memiliki potensi yang sangat
strategis. Prasarana pelabuhan Penyeberangan Bastiong Ternate kondisi yang ada saat
ini tidak mampu mendukung permintaan angkutan penyeberangan tersebut, karena
terdapat kendala seperti areal fasilitas darat terbatas sehingga sulit dikembangkan.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh PT. (Persero) ASDP, bahwa dengan
beroperasinya Pelabuhan Penyeberangan Bastiong. Peningkatan permintaan ini
disebabkan karena meningkatnya aktivitas pegawai Provinsi dari dan ke Sofifi.

Potensi kawasan tersebut perlu ditingkatkan menjadi suatu kawasan terpadu yang
strategis, karena hampir semua sektor-sektor ekonomi ada di kawasan ini. Oleh karena
itulah, maka pembangunan Pelabuhan Penyeberangan dan Pelabuhan Laut perlu
dioptimalkan pada kawasan strategis, karena hal ini sebagai pemicu pertumbuhan
kawasan sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah Kota Ternate.

Isu Strategis :
1. Terbatasnya pengembangan areal darat pelabuhan penyeberangan Bastiong.
2. Meningkatnya permintaan angkutan penyeberangan untuk lintasan Ternate-
Sofifi.
3. Terdukungnya pengembangan kawasan Bastiong.

2.4.5 Angkutan Laut


Bab II 29
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Pelabuhan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang perdagangan antar
daerah. Pelabuhan yang melayani angkutan dari dan ke Kota Ternate adalah Pelabuhan
Dufa-dufa, Pelabuhan Ahmad Yani dan Pelabuhan Bastiong terutama untuk pelayaran
rakyat. Selain itu, terdapat pelabuhan khusus untuk melayani angkutan Perikanan dan
Pertamina.

Sama halnya dengan kondisi Pelabuhan Penyeberangan Bastiong Ternate, pelabuhan


lainnya juga memiliki kendala-kendala teknis yang sama. dan untuk mengatasi kendala-
kendala tersebut, maka perbaikan sarana dan prasarana adalah syarat mutlak untuk
peningkatan pelayanan.

Isu Strategis
Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana angkutan laut belum mencukupi dalam
mendukung pelayanan transportasi yang aman, nyaman, lancar, tertib, tepat waktu
dan selamat.

2.4.6 Angkutan Udara


Letak strategis Kota Ternate sebagai titik sentral transportasi/perhubungan (laut
dan udara) dalam wilayah Maluku Utara, sehingga menjadikan Ternate sebagai
pintu masuk dan titik temu perdagangan lokal (perdagangan), adanya sarana dan
prasarana penunjang seperti Bandara Babullah serta didukung dengan ketersediaan
sarana transportasi lokal lainnya yang menghubungkan Kota Ternate dengan beberapa
kabupaten/kota, dan ketersediaan ruang publik pengembangan investasi melalui
kebijakan pengembangan kawasan khusus sebagai pusat bisnis dan perdagangan
(central bussines distric). Bandara Babullah Ternate telah melayani penerbangan
domestik langsung dari dan ke beberapa kota di Indonesia. Sistem rute penerbangan
jarak pendek lokal dan regional yang menghubungkan Kota Ternate dengan Kabupaten
lainnya di Maluku Utara dan Kota-kota lainnya di Indonesia perlu dikembangkan. Hingga
saat ini terdapat 7 perusahaan penerbangan yang beroperasi di Bandara Babullah,
yaitu : Garuda Indonesia, Merpati, Lion-Wings Air, Batavia Air, Sriwijaya Air, Express
Air dan Trigana Air.

Isu Strategis :

30 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

1. Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana angkutan udara belum mencukupi
dalam mendukung pelayanan transportasi yang aman, nyaman, lancar, tertib,
tepat waktu dan selamat.
2. Belum terwujudnya sistem pelayanan rute penerbangan lokal dan regional, baik
untuk penumpang maupun untuk kargo.

2.4.7 Komunikasi dan Telekomunikasi


Sejauh ini jasa layanan aplikasi telematika belum mampu meningkatkan penyelenggara
jasa pelayanan teknologi informasi yang dapat berfungsi sebagai pusat penyebaran
informasi potensi daerah. Demikian juga halnya dengan sarana komunikasi dan
diseminasi informasi belum dalam rangka pemberdayaan kelembagaan komunikasi
sosial, hubungan kelembagaan komunikasi pemerintah daerah dengan kemitraan media
untuk meningkatkan diseminasi informasi dalam rangka percepatan pertumbuhan
ekonomi daerah.

Pemanfaatan postel, komunikasi dan informatika perlu disosialisaikan secara terus


menerus kepada masyarakat luas guna memberikan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi masyarakat dalam rangka keterlibatan masyarakat dalam pembangunan daerah
untuk tujuan peningkatan pemerataan pelayanan ke seluruh daerah kecamatan yang
ada di Kota Ternate serta peningkatan iklim usaha dan peran serta masyarakat dan
mendorong optimalisasi penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan yang tepat
guna dan pembinaaan potensi pos, telekomunikasi dan informatika.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi melalui pengembangan dan
pendayagunaan aplikasi telematika, kapasitas layanan informasi dan pemberdayaan
potensi masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat berbasis informasi,
peningkatan aplikasi pelayanan publik dalam rangka meningkatkan nilai tambah
layanan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Demikian juga halnya dengan penyediaan dan pelaksanaan e-Government dan e-Business
di Kota Ternate dalam rangka juga belum terlaksana secara maksimal. Hal ini
disebabkan masih lemahnya koordinasi bersama antar Pemerintah Kabupaten/Kota
dengan Pemerintah Kota Ternate serta dunia usaha yang ada, guna kelancaran arus

Bab II 31
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

informasi dan kapasitas layanan informasi serta pemberdayaan potensi masyarakat


dalam rangka mewujudkan masyarakat berbudaya informasi.

Daya jangkau infrastruktur pos, komunikasi dan informatika untuk memperluas


aksesibilitas masyarakat terhadap informasi dalam rangka mengurangi kesenjangan
informasi perlu ditingkatkan. Sehingga penciptaan iklim usaha yang konstruktif dan
kondusif di bidang industri komunikasi dan informatika tidak berjalan.

Kerjasama dan kemitraan serta pemberdayaan lembaga komunikasi dan informatika


pemerintah dan masyarakat serta mendorong peranan media massa dalam rangka
meningkatkan pelayanan informasi yang beretika dan bertanggung jawab serta
memberikan nilai tambah pembangunan daerah.

Isu Strategis :
1. Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pos, telekomunikasi dan teknologi
informasi belum maksimal.
2. Jaringan pelayanan pos, telekomunikasi, komunikasi dan informatika sampai ke
Pulau Batang Dua, Moti dan Hiri belum maksimal.
3. Pemanfaatan teknologi informatika sebagai media publikasi potensi daerah belum
maksimal.
4. E-Government, e-Bussiness dan e-Society belum terwujud.

2.4.8 Prasarana Dasar Permukiman


Pembangunan prasarana dasar permukiman pada hakekatnya untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat secara merata dan menyediakan pelayanan dasar dalam
menunjang program pro-poor sebagaimana tertuang dalam agenda pembangunan
daerah Kota Ternate 2011-2015. Pembangunan prasarana dasar permukiman meliputi
penyediaan prasarana air minum, sanitasi, drainase, perumahan dan permukiman,
serta penataan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Berbagai isu strategis yang dihadapi di bidang keciptakaryaan antara lain : masih
rendahnya tingkat pelayanan prasarana air bersih, sebagian masyarakat tingkat

32 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

kemampuannya masih ada yang relatif rendah untuk memiliki rumah layak huni serta
belum mantapnya dukungan aspek pembiayaan dan sumber daya lainnya.

Persentase rumah tangga yang menggunakan air bersih di Kota Ternate mencapai
54,98%. Berdasarkan data statisik air minum Kota Ternate 2009, pelanggan rumah
tangga merupakan pengguna air PAM yang terbesar jumlahnya mencapai 89,88%
dari pelanggan lainnya. Sistem penyediaan air minum terpasang di perkotaan sebesar
326 l/det yang berarti mampu melayani 107.231 jiwa, namun jumlah penduduk yang
terlayani baru mencapai 99.264 jiwa. Hal ini dapat diartikan juga bahwa sistem yang
tersedia mampu melayani 66,31% penduduk Kota Ternate, namun yang terpakai
baru 59,39% sehingga masih terdapat sisa kemampuan pelayanan sebesar 6,92%.
Untuk itu, berbagai upaya dilakukan oleh Kota Ternate dalam pemenuhan kebutuhan
air bersih antara lain melaksanakan Program Pengembangan kinerja pengelolaan air
minum dengan upaya peningkatan pelayanan berupa penambahan kapasitas sumber,
jaringan pipa distribusi, sambungan rumah, terminal air, hidran umum serta peralatan
dan bangunan pelengkap lainnya.

Untuk prasarana persampahan, tercatat volume sampah yang diproduksi tahun 2005
sebesar 136.875 m3 dan baru diolah secara memadai sebesar 78.110 m3. Secara
fenomenal, Dinas Kebersihan menunjukkan kinerjanya secara maksimal sepanjang
tahun 2006-2008 dengan volume sampah 139.065 m3 (tahun 2006), 144.175 m3
(tahun 2007), 155.490 m3 (tahun 2008) dan 159.870 (tahun 2009), yang rata-rata
sebesar 86.943 m3 tiap tahun. Tingkat pelayanan persampahan yang dilakukan
Dinas Kebersihan mencapai 78,43% (tahun 2005), 80,24% (tahun 2006), 81,77%
(tahun 2007), 82,00% (tahun 2008) dan 82,02% (tahun 2009). Hal ini terkait juga
dengan perkembangan pembangunan perumahan yang dilakukan oleh masyarakat,
perkembangan ini dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah areal lahan terbuka
yang pada gilirannya akan membawa akibat pada lingkungan baik yang positif maupun
yang negatif. Untuk yang berpengaruh positif tentu akan bermanfaat bagi lingkungan
dan masyarakat, namun perlu diantisipasi pengaruh negatif yang akan menyebabkan
penurunan kualitas lingkungan di perkotaan secara keseluruhan akibat perencanaan
yang kurang baik dan adanya tingkat urbanisasi yang tinggi ataupun perkembangan
alamiah.

Bab II 33
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Dengan demikian, akan timbul masalah yang lebih kompleks apabila tidak diiringi pula
dengan perencanaan pembangunan prasarana dan sarana dasar yang tepat dan efisien.

Isu Strategis :
1. Masih rendahnya tingkat pelayanan prasarana dasar air bersih;
2. Masih rendahnya tingkat pelayanan persampahan dan penanganan air limbah;
3. Masih rendahnya tingkat kepemilikan rumah dan lingkungan yang layak huni;
4. Belum optimalnya penyediaan prasarana dasar kawasan perkotaan, kawasan
tradisional dan bersejarah;
5. Belum Optimalnya pengendalian banjir khususnya di Kota Ternate;
6. Masih belum optimalnya penyelenggaraan penataan ruang.

2.4.9 Energi Listrik


Ketersediaan energi listrik di Kota Ternate disalurkan melalui Jaringan Distribusi 20
KV. Hingga akhir tahun 2009, beban puncak di Kota Ternate adalah sebesar 14 MW,
penjualan tenaga listrik di Kota Ternate hingga akhir 2009 adalah sebesar 82,42 GWh
dengan komposisi penjualan per sektor pelanggan untuk Sosial adalah 2,49 GWh (3,02
persen), Rumah Tangga 46,39 GWh (56,28 persen), Bisnis 20,53 GWh (24,91 persen),
Industri 1,55 GWh (1,88 persen), dan Publik 11,47 GWh (13,91 persen). Beberapa
sektor jasa dan industri atau perusahaan memiliki pembangkit listrik untuk keperluan
sendiri. Secara makro, kelistrikan di Kota Ternate masih dilaksanakan oleh PT. PLN
(Persero) yang pemakaiannya masih didominasi oleh pelanggan rumah tangga.

Sementara, rasio elektrifikasi di Kota Ternate baru mencapai 63,11 persen. Tantangan
dalam lima tahun mendatang adalah memperluas jaringan layanan listrik di seluruh
Kota Ternate dan meningkatkan akses masyarakat terhadap listrik terutama dalam
mendorong perekonomian masyarakat dengan tumbuhnya sentra-sentra industri.

Penyediaan tenaga listrik termasuk pembangunan dan pengoperasian pembangkit serta


sistem transmisi, pengelolaan sistem distribusi, dan pelayanan pelanggan. Tantangan
dalam lima tahun mendatang dalam rangka mengantisipasi kebutuhan energi listrik di
Kota Ternate adalah percepatan terwujudnya Kota Ternate.

34 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Isu Strategis :
1. Masih terbatasnya dukungan penyediaan energi listrik untuk mengembangkan
kegiatan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.
2. Belum optimalnya pembangkit dan pengembangan jaringan listrik di Kota Ternate.
3. Masih rendahnya rasio elektrifikasi.

2.5. PERKEMBANGAN PERTANIAN

2.5.1 Ketahanan Pangan


Dalam rangka mengurangi angka kemiskinan dan kerawanan pangan, untuk
mewujudkan pemantapan ketahanan pangan yang mempunyai nilai sangat strategis
dalam pembangunan antara lain: (1) akses terhadap pangan dengan gizi yang cukup
merupakan hak yang paling asasi bagi manusia, (2) kualitas pangan dan gizi yang
dikonsumsi merupakan unsur penentu yang penting bagi pembentukan sumberdaya
manusia yang berkualitas, (3) ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama
yang menopang ketahanan ekonomi, daerah dan nasional yang berkelanjutan, maka
pembangunan Ketahanan Pangan selain diarahkan pada pemenuhan kecukupan
pangan bagi setiap rumah tangga juga bagaimana melakukan pengelolaan pangan
yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi.

Pola konsumsi pangan penduduk Kota Ternate menunjukkan konsumsi pangan nabati
masih didominasi dari padi-padian dalam hal ini beras (nabati), sementara konsumsi
pangan hewani dan sumber vitamin dan mineral masih rendah, menyebabkan kualitas
konsumsi gizi masyarakat Kota Ternate masih rendah, belum beragam dan bergizi
seimbang.

Isu Strategis :
1. Pola konsumsi belum beragam, bergizi seimbang karena masih sangat tergantung
dengan beras.
2. Kemiskinan menyebabkan rendahnya akses pangan masyarakat.

Bab II 35
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

2.5.2 Pertanian Tanaman Pangan


Jenis komoditi tanaman bahan makanan yang banyak diusahakan petani di daerah ini
adalah ubi kayu, jagung dan kacang tanah.

Selama kurun waktu tahun 2009, luas panen, produksi dan produktivitas dari beberapa
komoditi tersebut diatas tercatat : Jagung luas panennya 81,68 ha dengan jumlah
produksi sekitar 181,09 ton dan produktivitas 7,79 ton/ha; ubi kayu luas panen 375,6
ha dengan jumlah produksi 1.512,23 ton dan produktivitas sekitar 15,28 ton/ha dan
kacang tanah memiliki luas lahan dan produksi adalah 32,04 ha, 10,06 ton dengan
produktivitas sebesar 2,25 ton/ha.

Selain komoditi tanaman palawija, petani di Kota Ternate mengusahakan tanaman


hortikultura berupa sayuran dan buah-buahan. Dalam tahun 2009, produksi tanaman
sayuran tercatat antara lain ketimun 151,1 ton, terung 96,71 ton dan kangkung
35,97 ton. Sementara produksi buah-buahan dalam tahun yang sama adalah sebagai
berikut, pisang sebesar 778,29 ton, nenas 28,99 ton dan alpokat 35,58 ton. Lebih jelas
mengenai hal ini dapat dilihat pada Tabel II.13.

Tabel II.13
Produksi dan Luas Panen Tanaman Pangan dan Holtikultura
Tahun 2007-2009
TAHUN
NO JENIS SATUAN
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6
TANAMAN PANGAN
Luas (Ha) 67,20 112,21 81,68
1 Jagung
Produksi (Ton) 71,97 184,60 181,09
Luas (Ha) 25,52 27,77 32,04
2 Kacang Tanah
Produksi (Ton) 7,93 9,01 10,6
Luas (Ha) 321,90 356,16 375,6
3 Ubi Kayu
Produksi (Ton) 1.308,72 1.439,58 1.512,23
Luas (Ha) 22,88 25,18 27,06
4 Ubi Jalar
Produksi (Ton) 40,85 47,83 51,71

36 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

TAHUN
NO JENIS SATUAN
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6
TANAMAN HOLTIKULTURA
1 Alpukat Produksi (Ton) 32,22 33,53 35,58
2 Nanas Produksi (Ton) 26,98 27,57 28,99
3 Pisang Produksi (Ton) 661,45 740,14 778,29
4 Terung Produksi (Ton) 79,94 87,91 96,71
5 Ketimun Produksi (Ton) 124,89 137,36 151,10
6 Kangkung Produksi (Ton) 21,21 23,98 35,97

Tantangan dalam lima tahun mendatang dalam peningkatan produksi adalah


mempertahankan produktivitas lahan dan meningkatkan intensitas tanaman dalam
suatu areal yang telah termanfaatkan.

Isu Strategis :
1. Belum optimalnya pemanfaatan lahan pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura.
2. Masih rendahnya Produktivitas Tanaman Pangan karena terbatasnya ketersediaan
sarana produksi dan sarana penunjang pengairan (irigasi dan infrastruktur
pengairan tingkat usaha tani).
3. Belum berkembangnya potensi sentra-sentra produksi untuk komoditi unggulan
pertanian.
4. Masih tingginya tingkat kehilangan hasil dan rendahnya mutu produk tanaman
pangan dan hortikulutura.
5. Masih rendahnya pengetahuan dan kemampuan SDM petani dalam pengembangan
usaha pertanian.
6. Belum berfungsinya kelembagaan usaha tani dalam peningkatan kesejahteraan
petani.

2.5.3 Perkebunan
Sebagaimana daerah Maluku Utara pada umumnya, corak pertanian Kota Ternate pun
didominasi oleh sub sektor tanaman perkebunan. Secara historis komoditi tanaman

Bab II 37
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

perkebunan terutama cengkih dan pala dari daerah ini sudah dikenal sejak zaman
kolonial. Sampai saat ini kedua kondisi tersebut masih menjadi bagian dari mata
pencaharian sebagian penduduk.

Jenis usaha tani komoditi tanaman perkebunan banyak diusahakan oleh skala usaha
rumah tangga di Kota Ternate. Produksi tanaman perkebunan tidak saja dipasarkan
di Dalam Negeri tetapi juga merupakan komoditi ekspor yang mempunyai prospek
ekonomi cukup potensial untuk dipasarkan ke luar negeri. Adapun jenis tanaman
perkebunan yang banyak diusahakan rumahtangga pertanian di derah ini antara lain :
Cengkih, Kelapa, Pala dan kayu manis sementara coklat dan lada masih belum banyak
diusahakan.

Luas tanaman menghasilkan, jumlah produksi dan produktivitas beberapa komoditi


tanaman perkebunan di Kota Ternate pada tahun 2009 antara lain adalah : Cengkih
luas tanaman menghasilkan 1.378
.378 ha, produksi 488 ton dengan produktivitas 2,82 ton/
ha ; Kelapa luas tanaman menghasilkan 1.737
.737 ha, produksi sekitar 1.210
.210 ton dengan
produktivitas 1,43 ton/ha; pala luas tanaman menghasilkan 607 ha, produksinya
mencapai 1.077 ton dan produktivitasnya sebesar 0,56 ton/ha.

Isu strategis :
1. Belum berkembangnya usaha agribisnis dan agroindustri di Kota Ternate.
2. Belum optimalnya pengembangan industri pengolahan hasil perkebunan sehingga
belum mampu meningkatkan nilai tambah.
3. Masih rendahnya kualitas SDM dan kelembagaan petani dalam mendukung usaha
perkebunan.
4. Tingginya penyebaran hama penyakit tanaman yang merusak tanaman dan
mengurangi produktivitas tanaman.

2.5.4 Perikanan dan Kelautan


Kota Ternate memiliki luas wilayah perairan atau laut mencapai 903,73 km2. Kondisi
wilayah seperti ini berarti potensi laut yang dikandung sangat besar pula, sehingga
jika dikelola dan dikembangkan secara maksimal akan berdampak pada peningkatan

38 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

taraf hidup masyarakat khususnya di daerah pesisir yang sebagian besar bermata
pencaharian sebagai nelayan. Sampai saat ini potensi laut yang dimiliki daerah ini
belum dapat dikelola dan dikembangkan secara optimal disebabkan antara lain masih
terbatasnya fasilitas yang ada bagi para nelayan terutama pada peralatannya.

Jenis-jenis ikan yang produksinya cukup tinggi di wilayah Kota Ternate antara lain
tuna/cakalang, layang/selar, tongkol serta kakap/kerapu. Produksi jenis-jenis ikan
tersebut di daerah ini sepanjang tahun 2009 adalah : tuna/cakalang 447.151 ton,
tongkol 116.188 ton, layang/selar 42.208 ton serta kakap/kerapu mencapai 19.474
.474
ton. Perkembangan produksi hasil perikanan, jenis motor laut yang digunakan serta
jenis alat tangkap yang digunakan..

Isu Strategis :
1. Masih rendahnya penguasaan teknologi penangkapan dan budidaya perikanan
dan kelautan.
2. Terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana untuk kegiatan usaha perikanan
baik tangkap maupun budidaya.
3. Masih rendahnya teknologi penanganan paska produksi dan pemasaran ikan hasil
tangkapan laut dan budidaya.
4. Belum optimalnya pencegahan dan penanganan penyakit budidaya ikan air
tawar.

2.5.5 Peternakan
Kebutuhan konsumsi hasil ternak masyarakat di Kota Ternate, hingga saat ini masih
didominasi suplai stok dari luar kota, hal tersebut disebabkan produksi ternak lokal
masih relatif rendah sementara dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah
mengakibatkan permintaan terhadap hasil ternak menjadi makin meningkat pula.
Jenis ternak dan hasil ternak yang banyak didatangkan dari luar Kota Ternate seperti
ayam potong, sapi dan telur.

Meskipun dengan tingkat produksi yang relatif rendah dibanding tingkat kebutuhan
masyarakat, namun masih cukup banyak pula petani yang mengusahakan ternak.

Bab II 39
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Rumah tangga petani ternak di daerah ini lebih banyak mengusahakan jenis ternak
seperti sapi dan kambing serta unggas berupa ayam buras. Hingga tahun 2009,
populasi jenis ternak dan unggas di Kota Ternate tercatat : sapi 1.606
.606 ekor, kambing
13.764
.764 ekor dan unggas 156.820
.820 ekor.

Isu Strategis :
1. Belum optimalnya kapasitas produksi ternak lokal untuk mencukupi kebutuhan
konsumsi masyarakat di Kota Ternate.
2. Belum optimalnya pemberdayaan masyarakat dibidang peternakan sebagai
investasi melalui kerjasama perbankan.
3. Belum optimal pemanfaatan teknologi dibidang peternakan guna meningkatkan
hasil produksi peternakan.

2.5.6 Kehutanan
Luas kawasan non budidaya hutan lindung di Kota Ternate berdasarkan data Ternate
dalam Angka Tahun 2009 adalah 2.221 ha. Dalam perkembangannya luas kawasan
hutan tersebut saat ini telah banyak mengalami perubahan.

Isu Strategis :
Kondisi kawasan hutan lindung di wilayah Kota Ternate telah diokupasi dan atau
dimanfaatkan oleh masyarakat. Kondisi ini memerlukan penanganan yang lebih intensif
untuk menjadikannya sebagai peluang partisipatif masyarakat di sekitar kawasan
hutan.

2.6. PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS KOTA TERNATE


Dalam Revisi RTRW Kota Ternate 2011-2031 menyebutkan bahwa kawasan strategis
adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh
sangat penting terhadap perkembangan kawasan makro Kota Ternate baik dari segi
ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan. Selain itu, kawasan strategis juga akan
berpengaruh terhadap tata ruang di wilayah sekitarntya, kegiatan lain di bidang yang
sejenis dan kegiatan di bidang lainnya serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mengingat kawasan ini mempunyai pengaruh yang sangat penting maka diperlukan

40 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

penetapan secara tegas dan rencana serta penanganan perkembangannya harus


dilihat secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai sektor, sinergis
dengan kawasan yang ada di sekitarnya, dan harmonis tetap mempertimbangkan
dampak lingkungan yang dapat ditimbulkan. Penetapan kawasan strategis Kota
Ternate, meliputi :
1. Kawasan Strategis Pertahanan dan Militer, merupakan kawasan yang dinilai
memiliki nilai strategis dan diprioritaskan untuk kegiatan pertahanan dan
keamanan. Sistem kegiatan didalamnya memiliki spesifikasi dan aktivitas khusus
terkait dengan sistem keamanan dan pertahanan negara. Perlunya ditetapkan
deliniasi kawasan strategis ini, yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi
kepentingan sistem pertahanan dan keamanan negara, lokasi kawasan ini antara
lain; di Kelurahan Tubo (Lapangan tembak AD), Kelurahan Takome (Lapangan
tembak AD), Kelurahan Akehuda (AL), Kelurahan Siko (KOREM), Kelurahan
Mangga Dua Utara (KODIM), Kelurahan Salahudin (Kipan/AD), Kelurahan Takoma
(Kepolisian/Polres).
2. Kawasan Strategis Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi, merupakan kawasan yang
memiliki nilai strategis terhadap kepentingan ekonomi Kota Ternate. Penetapan
kawasan ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kota Ternate, dengan
memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada, sehingga diharapkan dapat
menjadi sumber-sumber pendapatan ekonomi bagi pemerintah dan masyarakat.
Fungsi kawasan diarahkan untuk kegiatan budidaya, dengan mengembangkan
aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi yang memiliki :
Potensi ekonomi cepat tumbuh.
Sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
Potensi ekspor.
Dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi.
Kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi

Kawasan strategis kepentingan pertumbuhan ekonomi, yang diarahkan


pengembangannya di Kota Ternate meliputi :
Pengembangan Kawasan Kota Baru Ternate di Kecamatan Ternate Selatan
dan Kecamatan Ternate Pulau.

Bab II 41
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Pengembangan Kawasan Minapolitan Kota Ternate.


Kawasan Water Front City (Kawasan Reklamasi) Kota Ternate.
Kawasan Lokasi Industri di Tafure dan Tabam.
Kawasan pengembangan lahan pertanian di Kecamatan Pulau Moti dan
Batang Dua.
Kawasan Agrowisata di Foramadiahi

3. Kawasan Strategis Rawan Bencana ditetapkan sebagai bagian dari perlunya


pertimbangan faktor kebencanaan di dalam pengembangan wilayah. Kawasan ini
ditetapkan di pada Kawasan Gunung Gamalama utama, yaitu:
Hampir seluruh wilayah Kota Ternate untuk kawasan rawan letusan gunung;
Kawasan sepanjang pesisir pantai untuk kawasan rawan bencana tsunami,
terutama di Kecamatan Batang Dua (Pulau Mayau dan Tifure).
Kawasan Danau Laguna dan sekitarnya.
Kawasan Danau Tolire dan Sekitarnya.
Kawasan Mata Air Ake Gale, Santosa, Tege-Tege, Ake Rica, Ake Minta, Ake
Tubo
4. Kawasan Strategis Kepentingan Sosial Budaya, merupakan kawasan yang memiliki
nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya, seperti :
Keraton Kesultanan Ternate di Kelurahan Soa Kecamatan Ternate Utara.
Pesta Rakyat yang disebut Legu Gam yang sudah menjadi agenda tahunan
Kota Ternate yang setiap tahun dilaksanakan di Lapangan Ngaralamo.
Kawasan Benteng Kota Janji di Kelurahan Fitu Kecamatan Ternate Selatan.
Kawasan Benteng Orange di Kelurahan Makassar Timur Kecamatan Ternate
Tengah.
Kawasan Benteng Toloco/Holandia di Kelurahan Sangaji Utara Kecamatan
Ternate Utara.
Kawasan wisata budaya di Kawasan Kelurahan Soasio seperti Upacara Adat
Kolano Uci Sabea, Penobatan Kapita/Fanyura, Baramasuwen (bambu Gila),
Badabus, Soya-soya, Cakalele, Lagu dan Dadansa, Tide dan Ronggeng, Gala,
Upacara Adat perkawinan Malut, Lala, Dana-dana, Salajin dan Togal yang

42 Bab II
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

merupakan wisata budaya yang memiliki potensi sebagai atraksi budaya


tradisional Ternate.
Penetapan kawasan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi pengembangan
sosial budaya termasuk pelestarian nilai-nilai budaya lokal dan history yang dapat
menjadi ciri khas kota, serta sebagai daya tarik atraksi wisata budaya.

Isu Strategis :
1. Belum optimalnya pengembangan kawasan strategis kepentingan pertumbuhan
ekonomi sebagai penggerak ekonomi Kota Ternate.
2. Belum adanya keseimbangan, keterpaduan, keterkaitan, dan konsistensi
perencanaan, penataan dan pengembangan tata ruang.
3. Belum optimalnya langkah-langkah pengembangan klaster, dalam rangka
peningkatan pertumbuhan antar kawasan strategis.

Bab II 43
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB III
GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN
KERANGKA PENDANAAN

3.1 PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


Pengelolaan keuangan daerah Kota Ternate diselenggarakan sesuai dengan Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor
1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri
(Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 yang kemudian diubah dan dilengkapi dengan
ketentuan baru yang diatur dalam Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, serta Peraturan Daerah yang mengatur
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

3.1.1 Pengelolaan Pendapatan Daerah


Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi
Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, sumber pendapatan daerah yang
dikelola oleh Pemerintah Kota Ternate meliputi pendapatan asli daerah (PAD), dana
perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kota Ternate terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba perusahaan
milik daerah/hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD
yang sah. Sedangkan Dana Perimbangan meliputi Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi
Khusus, Dana Bagi Hasil Pajak, dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak.

Kebijakan pengelolaan pendapatan daerah yang dilakukan pada kurun waktu 2005-
2009 diarahkan pada intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan pendapatan daerah
terutama sumber penerimaan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk pajak daerah

Bab III 45
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

dan retribusi daerah, penerimaan hasil laba BUMD dan pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan, serta penerimaan lain-lain PAD yang sah. Kebijakan pengelolaan
pendapatan daerah juga dilakukan dengan mengoptimalkan dana perimbangan
termasuk dana bagi hasil pajak dan dana bagi hasil bukan pajak.

Realisasi pengelolaan pendapatan daerah selama periode 2005-2009 menunjukkan


bahwa pendapatan daerah telah memenuhi target yang telah ditetapkan (Tabel III.1).
Pendapatan daerah terus meningkat sebesar 40,24 persen pada tahun 2006, 30,31
persen pada tahun 2007, 6,21 persen pada tahun 2008 dan tahun 2009 sebesar 14,11
dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 22,72 persen per tahun. Pendapatan Asli Daerah
juga terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 19,48 persen.
Sementara, pertumbuhan dana perimbangan rata-rata per tahun sebesar 19,85 persen.

Tabel III.1
Perkembangan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Ternate
Tahun 2005-2009 (Rp. Juta)
KONTRIBUSI PAD
DANA LAIN-LAIN PENDAPATAN
TAHUN PAD THD PENDAPATAN
PERIMBANGAN PENDAPATAN DAERAH
DAERAH (%)
2005 T 11.781,000 175.968,000 9.545,820 197.294,820 5,97
R 11.910,137 184.336,254 11.365,626 207.611,018 5,73
2006 T 14.750,500 260.401,320 3.405,000 278.556,820 5,29
R 16.765,470 270.973,303 3.404,803 291.143,577 5,76
2007 T 18.025,000 334.620,627 5.622,000 358.267,627 5,03
R 18.640,985 342.786,067 17.974,284 379.401,337 4,91
2008 T 23.075,000 355.847,157 34.138,914 413.061,071 5,58
R 23.081,410 343.433,456 36.451,348 402.966,215 5,72
2009 T 26.905,000 363.203,346 73.215,063 463.323,409 5,80
R 23.571,413 363.020,229 73.241,634 459.833,277 5,12
Keterangan : T = Target R=Realisasi

Sumber : Dinas PPKAD Kota Ternate Tahun 2010

Struktur pendapatan daerah Pemerintah Kota Ternate menunjukkan bahwa sumbangan


PAD terhadap pendapatan daerah rata-rata sebesar 5,45 persen per tahun selama
periode 2005-2009. Sementara, sumbangan dana perimbangan terhadap pendapatan
daerah rata-rata sebesar 87,82 persen per tahun. Struktur pendapatan tersebut
menegaskan perlunya optimalisasi PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah

46 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

untuk mengurangi ketergantungan terhadap dana perimbangan. Dengan demikian,


tantangan pengelolaan pendapatan daerah periode 2010-2015 adalah perlunya
optimalisasi PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah dengan memperhatikan
keberlanjutan fiskal dan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Struktur Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Ternate Tahun 2005-2009 mengindikasikan
bahwa sumber utama PAD berasal dari pajak daerah. Berbagai langkah yang telah
dilakukan untuk mengoptimalkan PAD antara lain adalah peningkatan penagihan pajak,
sosialiasi dan penyuluhan pajak untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
membayar pajak, intensifikasi pendataan dan penagihan pajak kendaraan bermotor
dari luar daerah yang beroperasi di Kota Ternate. Langkah lain yang telah dilakukan
adalah penguatan koordinasi antardinas/instansi pemungut retribusi, peningkatan
penerimaan dari BUMD, peningkatan kinerja BUMD, dan peningkatan koordinasi
dengan BUMN dan BUMS dalam bentuk Sumbangan Pihak Ketiga. Berbagai langkah
tersebut secara bertahap telah meningkatkan PAD Kota Ternate.

Perkembangan struktur PAD menunjukkan bahwa rata-rata sumbangan pajak daerah


terhadap PAD adalah sebesar 34,09 persen per tahun, rata-rata sumbangan retribusi
daerah terhadap PAD adalah 35,88 persen per tahun, hasil pengelolaan kekayaan
daerah 0,11 persen per tahun dan lain-lain PAD yang sah 29,92 persen per tahun.

Tabel III.2
Struktur Pendapatan Asli Daerah Kota Ternate Tahun 2005-2009
Kekayaan
Lain-lain PAD
Pajak Daerah Retribusi Daerah Daerah yang Total
yang sah
Tahun Dipisahkan
Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai
(%) (%) (%)
(Rp. Juta) (Rp. Juta) (Rp. Juta) (%) (Rp. Juta) (Rp. Juta) (%)
2005 4.639,045 38,95 4.375,554 36,74 - - 2.895,537 24,31 11.910,137 100
2006 5.327,093 31,77 5.361,447 31,98 - - 6.076,928 36,25 16.765,470 100
2007 5.781,772 31,02 6.099,819 32,72 - - 6.759,393 36,26 18.640.985 100
2008 7.876,232 34,12 8.384,763 36,33 - - 6.820,414 29,55 23.081,410 100
2009 8.157,823 34,61 9.810,752 41,62 128,865 0,55 5.473,971 23,22 23.571,413 100
Rata-
6.356,939 34,09 6.806,467 35,88 5.605,247 29,72 18.793,883 100
rata
Sumber: Dinas PPKAD Kota Ternate Tahun 2010

Bab III 47
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tantangan pengelolaan PAD dalam lima tahun mendatang antara lain adalah perlunya
percepatan pengembangan ekonomi daerah, pembenahan administrasi perpajakan
dan perbaikan pelayanan perpajakan untuk meningkatkan pajak daerah. Selain
itu, tantangan yang perlu dihadapi untuk meningkatkan PAD adalah meningkatkan
pelayanan publik, mengoptimalkan pengelolaan kekayaan dan asset daerah, dan
memberikan kemudahan perijinan usaha.

Tabel III.3
Realisasi Pajak Daerah Kota Ternate
Tahun 2005-2009 (Rp. Juta)
URAIAN 2005 2006 2007 2008 2009
1. Pajak Hotel dan Restoran 494,290 674,098 1.035,167 1.304,521 1.518,978
2. Pajak Hiburan 13,300 86,795 52,374 30,586 32,390
3. Pajak Reklame 387,000 406,021 573,130 688,032 722,775
4. Pajak Penerangan Jalan 2.319,301 2.494,122 2.705,515 3.846,901 3.657,320
5. Pajak Pengambilan dan Pengolahan 1.425,152 1.666,054 1.415,584 2.006,191 2.212,359
Bahan Galian C
6. Pajak Usaha Rumah Kost - - - 14,000
Sumber: Dinas PPKAD Kota Ternate Tahun 2010

Sumber pendapatan daerah Kota Ternate juga berasal dari Dana Perimbangan. Dalam
kurun waktu 2005-2009, Dana Perimbangan Kota Ternate rata-rata mencapai Rp.
300.909,862 juta per tahun, sedangkan Bagi Hasil Pajak sebesar Rp. 36.256,289 juta
per tahun, Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp. 8.074,250 juta per tahun, dan Dana
Alokasi Umum sebesar Rp. 218.430,961 juta per tahun. Dari segi pertumbuhan selama
periode tersebut, penerimaan total dana perimbangan meningkat rata-rata sebesar
19,85 persen per tahun, bagi hasil pajak rata-rata sebesar 8,58 persen per tahun, bagi
hasil bukan pajak rata-rata sebesar 26,14 persen dan dana alokasi umum rata-rata
sebesar 18,81 persen.

Struktur penerimaan dari dana perimbangan Kota Ternate menunjukkan bahwa dana
alokasi umum rata-rata menyumbang sebesar 72,87 persen, bagi hasil bukan pajak
rata-rata sebesar 2,65 persen dan bagi hasil pajak rata-rata sebesar 12,45 persen per
tahun ( Tabel III.4)

Tabel III.4

48 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Realisasi Dana Perimbangan Kota Ternate


Tahun 2005-2009 (Rp. Juta)
URAIAN 2005 2006 2007 2008 2009
A. BAGI HASIL PAJAK 28.332,254 38.118,201 39.233,654 34.928,621 40.668,715
1. Pajak Bumi dan Bangunan 24.624,289 33.619,696 32.854,323 27.193,879 31.766,056
(PBB)
2. Biaya Perolehan Hak Atas 1.816,432 1.863,536 2.950,966 3.363,956 3.714,174
Tanah dan Bangunan
(BPHTB)
3. P P h Pasal 21 1.891,533 2.634,969 3.428,364 4.370,785 5.188,484
B. BAGI HASIL SUMBER 4.777,244 5.345,706 13.474,144 10.147,991 6.626,168
DAYA ALAM
1. Provisi Sumber Daya Hutan 1.608,338 1.581,283 2.142,702 1.879,504 629,522
(PSDH)
2. Royalty 2.850,589 3.463,543 10.967,998 8.105,273 5.856,075
3. Perikanan 318,317 300,879 363,443 163,213 140,570
C. Dana Alokasi Umum 137.416,895 202.669,720 244.043,000 245.930,844 262.094,346
D. Dana Alokasi Khusus 13.809,860 24.839,675 46.035,267 52.426,000 53.631,000
Total Dana Perimbangan 184.336,254 270.973,303 342.786,067 343.433,456 363.020,229
Sumber: Dinas PPKAD Kota Ternate Tahun 2010

3.1.2 Pengelolaan Belanja Daerah


Pengelolaan belanja daerah merupakan bagian dari pelaksaaan program pembangunan
untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan. Kebijakan pengelolaan
belanja daerah didasarkan pada anggaran berbasis kinerja dengan orientasi pada
pencapaian hasil, dan prinsip transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas.

Struktur belanja daerah berubah sesuai dengan perubahan peraturan perundangan


yang berlaku. Sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002,
dalam APBD Kota Ternate Tahun Anggaran 2005 struktur belanja daerah dibedakan
menjadi Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan. Belanja rutin diarahkan untuk
mendukung penyelenggaraan operasional pemerintahan, dan belanja pembangunan
diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan
kemiskinan, serta meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pendidikan dan kesehatan
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program dan
kegiatan pembangunan.

Bab III 49
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 beserta
revisinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, struktur belanja daerah dibedakan menjadi
belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja tidak langsung diarahkan untuk
pemenuhan kebutuhan belanja pegawai, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil,
belanja bantuan keuangan, serta belanja tidak terduga. Sedangkan belanja langsung
diarahkan untuk mendukung terwujudnya visi, misi Pemerintah Kota Ternate dalam
menuju Terwujudnya Ternate Menjadi Kota Berbudaya, Agamais, Harmonis, Mandiri,
Berkeadilan dan Berwawasan Lingkungan - Kota Ternate BAHARI BERKESAN.

Belanja langsung diarahkan untuk mendukung 11 (sebelas) program prioritas


pembangunan Kota Ternate, yaitu:
1. Peningkatan dan Penataan Inftrastruktur Perkotaan serta Percepatan dan
Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan.
2. Mewujudkan Pendidikan Murah, Terjangkau dan Berkualitas.
3. Mewujudkan Kesehatan Murah, Terjangkau dan Berkualitas.
4. Kebijakan Anggaran (APBD)
APBD)) yang
ang Proporsional dan Pro Rakyat.
5. Penataan, Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Kota yang Serasi Antara
Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan, antar Aspek Topografi dan Kawasan Pantai/
Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian Lingkungan Sosial Budaya dan
Ekologis.
6. Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik,, dengan Kapasitas
apasitas Sumber
umber Daya
Aparatur
paratur yang Profesional,
rofesional,, Bersih dan Berwibawa, serta Birokrasi yang Efisien,
Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif..
7. Peningkatan Ekonomi Rakyat, melalui Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro Kecil
Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja..
8. Pelayanan Publik yang Cepat, Murah dan Mudah.
9. Pengembangan Masyarakat Kawasan Pesisir Secara Berkelanjutan.
10. Membangun Kepedulian Sosial, Kesadaran Nilai Keagamaan, Kebudayaan dan
Adat Istiadat.

50 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

11. Penegakan Supremasi Hukum, Hak Azasi Manusia, untuk Mendorong Partisipasi
Publik yang Dinamis dan Konstruktif.

Belanja daerah tahun anggaran 2007 menunjukkan bahwa belanja langsung sebesar
61,18 persen dan belanja tidak langsung sebesar 38,82 persen. Belanja tidak langsung
sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai (83,19 persen). Sementara belanja
langsung digunakan untuk belanja modal sebesar 62,92 persen dan belanja barang
dan jasa sebesar 22,87 persen (lihat Tabel III.5).

Tabel III.5
Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 dan 2008
(Rp. Juta)
Tahun 2007 Tahun 2008
URAIAN
Rencana Realisasi % Rencana Realisasi %
BELANJA 404.895,712 365.164,244 90,19 460.567,024 429.167,129 93,18
1. Belanja Tidak langsung 154.456,997 141.757,882 91,78 173.274,066 163.250,445 94,22
- Belanja Pegawai 129.917,997 117.928,427 90,77 162.845,566 152.897,533 93,89
- Belanja Bunga - - 0 - - 0
- Belanja Subsidi - - 0 - - 0
- Belanja Hibah - - 0 - - 0
- Belanja Bantuan Sosial 23.539,000 22.950,525 97,50 9.248,500 9,248,050 100
- Belanja Bantuan Keuangan - - 0 - - 0
- Belanja Tidak Terduga 1.000,000 878,929 87,90 1.180,000 1.104,862 93,63
2. Belanja Langsung 250.438,714 223.406,362 89,21 287.292,958 265.916,683 92,56
- Belanja Pegawai 32.585,160 31.743,489 97,42 42.344,115 39.827,563 94,06
- Belanja Barang dan Jasa 52.903,949 51.102,836 96,60 74.028,562 70.463,569 95,18
- Belanja Modal 164.949,604 140.560,035 85,21 170.920,280 155.625,551 91,05
II. PEMBIAYAAN 36.801,216 36.801,216 100 46.783,610 46.783,610 100
1. Penerimaan Daerah 41.301,216 41.301,216 100 50.783,610 50.783,610 100
- SILPA 41.301,216 41.301,216 100 50.783,610 50.783,610 100
2. Pengeluaran Daerah 4.500,000 4.500,000 100 4.000,000 4.000,000 100
- Penyertaan Modal 4.500,000 4.500,000 100 4.000,000 4.000,000 100
Sumber : Dinas PPKAD Kota Ternate, 2010

Struktur belanja daerah tahun anggaran 2008 sedikit berbeda dengan belanja tahun
anggaran 2007. Pada tahun 2008, rasio belanja langsung terhadap total belanja adalah
61,96 persen, sedangkan belanja tidak langsung sebesar 38,04 persen. Belanja tidak
langsung sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai (93,66 persen). Sementara

Bab III 51
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

belanja langsung digunakan untuk belanja modal sebesar 58,82 persen dan belanja
barang dan jasa sebesar 26,50 persen.

Belanja daerah tahun anggaran 2009 menunjukkan bahwa belanja langsung sebesar
58,77 persen dan belanja tidak langsung sebesar 41,23 persen. Belanja tidak langsung
sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai (93,50 persen). Sementara belanja
langsung digunakan untuk belanja modal sebesar 57,66 persen dan belanja barang
dan jasa sebesar 28,70 persen (lihat Tabel III.6).

Tabel III.6
Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009
(Rp. Juta)
Tahun 2009
URAIAN
Rencana Realisasi %
BELANJA 502.706,110 475.234,718 94,54
1. Belanja Tidak langsung 199.395,270 195.961,187 98,28
- Belanja Pegawai 186.481,770 183.224,075 98,25
- Belanja Bunga - - -
- Belanja Subsidi - - -
- Belanja Hibah 2.350,000 2.350,000 100
- Belanja Bantuan Sosial 8.313,500 8.310,977 99,97
- Belanja Bantuan Keuangan - - -
- Belanja Tidak Terduga 2.250,000 2.076,133 92,27
2. Belanja Langsung 303.310,840 279.273,531 92,08
- Belanja Pegawai 41.646,533 38.087,349 91,45
- Belanja Barang dan Jasa 84.773,849 80.148,056 94,54
- Belanja Modal 176.890,457 161.038,125 91,04
II. PEMBIAYAAN 39.382,701 18.458,492 46,87
1. Penerimaan Daerah 40.582,701 19.608,492 48,32
- Sisa Lebih Perhitungan Anggarn 20.582,701 19.608,492 95,27
- Penerimaan Pinjaman Daerah 20.000,000 - 0
2. Pengeluaran Daerah 1.200,000 1.150,000 95,83
- Penyertaan Modal (Investasi) 1.200,000 1.150,000 95,83
Sumber : Dinas PPKAD Kota Ternate, 2010

52 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan belanja daerah antara lain
adalah:
(1) Belum adanya konsistensi peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
struktur keuangan daerah. Selain itu, peraturan perundang-undangan tentang
pengelolaan keuangan daerah terus mengalami perubahan yang menyebabkan
kelambatan dalam proses penyusunan anggaran, mengganggu kelancaran
dalam pelaksanaan anggaran dan menghambat kecepatan dalam pelaporan
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran.
(2) Adanya perubahan peraturan perundangan yang sangat cepat tanpa diikuti
oleh sosialisasi juga telah menyebabkan keterlambatan penyesuaian terhadap
peraturan yang baru dan berdampak terhadap kurang optimalnya penyerapan
belanja daerah.
(3) Terbatasnya pemahaman aparatur terhadap teknis penyusunan anggaran dan
pengalokasian dana terutama dalam penentuan prioritas belanja dengan mengacu
pada prinsip anggaran berbasis kinerja.
(4) Belum adanya standar pelayanan minimal sebagai acuan dalam mengalokasikan
anggaran belanja daerah.
(5) Belum adanya standar analisis belanja sebagai acuan yang digunakan untuk
mengukur tingkat kewajaran belanja dan beban kerja.
(6) Belum semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Dinas/Instansi
menggunakan anggaran berbasis kinerja sebagai dasar penyusunan anggaran.
Kondisi ini menyebabkan kesulitan dalam menetapkan indikator kinerja program
dan kegiatan setiap SKPD dan ketidaktepatan dalam mengalokasikan belanja
daerah untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan.

3.2. KERANGKA PENDANAAAN


Dalam upaya mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan, kebijakan
pengelolaan keuangan daerah diarahkan pada pengelolaan pendapatan, belanja dan
pembiayaan daerah secara efisien, efektif, transparan, adil, akuntabel dan berbasis
kinerja untuk mendanai berbagai program dan kegiatan pembangunan selama kurun
waktu lima tahun (2011-2015).

Bab III 53
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Pendekatan berbasis kinerja berarti bahwa penetapan anggaran suatu SKPD harus
disertai sasaran dan indikator kinerja (masukan, keluaran dan hasil) yang spesifik,
terukur, dapat dicapai, masuk akal dan memperhatikan dimensi waktu, sesuai dengan
tugas pokok dan fungsi; serta memperhatikan kondisi keuangan daerah. Sedangkan
penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas berarti bahwa penetapan mekanisme
pengendalian, pengawasan, evaluasi dan pelaporan berbasis sistem informasi yang dapat
diakses oleh seluruh pemangku kepentingan sehingga pengelolaan dana bermanfaat
bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan daerah secara berkelanjutan.

3.2.1 Pengelolaan Pendapatan Daerah


Berdasarkan pertimbangan perkembangan keuangan daerah, maka kebijakan
pengelolaan keuangan daerah Kota Ternate selama periode tahun 2010-2015 diarahkan
pada hal-hal berikut.
1. Mengoptimalkan penerimaan daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah
(PAD) baik pajak, retribusi dan pendapatan lain yang sah tanpa memberatkan
dunia usaha dan masyarakat melalui berbagai langkah sebagai berikut:
a. Membenahi dan memantapkan sistem dan prosedur administrasi dalam
pemungutan, pencatatan dan pengelolaan pajak dan retribusi daerah;
b. Meningkatkan sosialisasi dan pelayanan perpajakan untuk meningkatkan
kesadaran dan ketaatan masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi
daerah;
c. Melakukan evaluasi dan revisi secara berkala terhadap berbagai peraturan
daerah yang mengatur pajak dan retribusi daerah;
d. Meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas pemungutan PAD yang
diikuti dengan peningkatan kualitas, kemudahan, ketepatan dan kecepatan
pelayanan;
e. Melakukan intensifikasi pemungutan Pajak Daerah melalui razia di lapangan
secara terus-menerus dan menggali sumber pajak baru dan penagihan
tunggakan dengan cara persuasif yang ditindaklanjuti dengan penagihan
secara paksa sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.
Selain itu juga diupayakan melalui peningkatan kendaraan bermotor asal
luar daerah yang mutasi ke Kota Ternate.

54 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

f. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan gedung/asrama/aula yang


dimiliki oleh Pemerintah Kota Ternate sehingga dapat memberikan layanan
yang lebih baik dan meningkatkan retribusi sewa dari gedung/asrama/aula
tersebut;
g. Mengoptimalkan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam
memberikan pelayanan publik dan meningkatkan pendapatan daerah
termasuk meningkatkan bagian laba PD. Citra Gamalama dan PDAM;
h. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten/
Kota dan berbagai pihak terkait lainnya dalam pemungutan, pencatatan dan
pengelolaan pendapatan daerah.
2. Mengupayakan peningkatan penerimaaan dari dana perimbangan terutama dana
bagi hasil pengelolaan sumberdaya alam secara lebih adil.
a. Optimalisasi intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PBB, Pajak Orang
Pribadi Dalam Negeri (PPh OPDN), PPh Pasal 21 dan BPHTB;
b. Mengembangkan datadasar dan sistem informasi yang akurat dalam
pendataan sumber daya alam sebagai dasar perhitungan pembagian dana
perimbangan;
c. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Kabupaten/Kota
dalam pengalokasian dan pengelolaan dana perimbangan;
d. Mengupayakan tersedianya Dana Alokasi Khusus sebagai kompensasi dari
pengurangan Dana Alokasi Umum yang mulai tahun 2010 diperkirakan tidak
tersedia lagi.
3. Membenahi dan memperkuat sistem informasi dan kelembagaan Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan berbagai aset
daerah;
4. Menggali dan mengembangkan potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah
yang baru dan yang sah.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, pendapatan daerah tahun 2010-2015 diperkirakan


mengalami pertumbuhan ratarata sekitar 5,82 persen per tahun. Pertumbuhan
tersebut didorong oleh peningkatan PAD yang diperkirakan ratarata bertambah
sekitar 6,24 persen per tahun (lihat Tabel III.7).

Bab III 55
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel III.7
Proyeksi Pendapatan Kota Ternate
Tahun 2010-2015 (Rp. Miliar)
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Pendapatan Asli Daerah 26,905 28,747 29,852 33,709 34,987 36,320


1. Pajak Daerah 8,800 11,902 12,516 10,523 11,049 11,600
2. Retribusi Daerah 11,855 10,577 10,788 13,057 13,318 13,584
3. Pengelolaan Kekayaan Daerah yang 0,300 0,300 0,300 0,300 0,300 0,300
Dipisahkan
4. Lain-lain Pendapatan yang Sah 5,950 5,950 6,247 9,828 10,320 10,836
Dana Perimbangan 359,343 396,475 415,230 434,891 455,502 477,109
1. Bagi Hasil Pajak 42,028 42,028 43,288 44,587 45,925 47,302
2. Bagi Hasil SDA 11,377 11,377 11,718 12,069 12,431 12,804
3. Dana Alokasi Umum 281,284 313,570 329,248 345,710 362,996 381,146
4. Dana Alokasi Khusus 24,653 29,500 30,975 32,523 34,150 36,857
Lain-lain Penerimaan yang Sah 12,877 12,877 13,520 14,196 14,906 15,652
1. Bagi Hasil Pajak Propinsi 12,877 12,877 13,520 14,196 14,906 15,652
JUMLAH PENDAPATAN 399,125 438,099 458,603 482,796 505,396 529,081
Sumber : Hasil Proyeksi Dinas PPKAD Kota Ternate, 2010

Sumbangan PAD terhadap pendapatan daerah diperkirakan mengalami pertumbuhan


ratarata sekitar 6,76 persen per tahun. Pada tahun 2010 sebesar 6,74 persen, di
tahun 2012 sebesar 6,51 persen dan 6,86 persen pada tahun 2015. Sementara,
sumbangan dana perimbangan terhadap pendapatan daerah diperkirakan ratarata
sekitar 90,24 persen per tahun. Pada tahun 2010 sebesar 90,03 persen, di tahun 2012
sebesar 90,54 persen dan 90,18 persen pada tahun 2015. Struktur pendapatan daerah
tersebut diharapkan akan mendorong kemandirian Kota Ternate dalam pengelolaan
keuangan daerah dan memperkuat kapasitas fiskal daerah.

3.2.2 Pengelolaan Belanja Daerah


Pemerintah Kota Ternate akan melakukan re-definisi dan re-posisi pada pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi dengan berbagai langkah.
Pertama, alokasi belanja dalam dokumen anggaran setiap unit satuan kerja harus
dapat menjamin keselarasan dan kesesuaian dengan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) Kota Ternate 2011-2015, sehingga setiap Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) di Lingkungan Pemerintah Kota Ternate harus mampu menghasilkan

56 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

keluaran dan dampak positif yang menjadi target daerah untuk dicapai dalam lima
tahun.
Kedua, alokasi anggaran dalam dokumen anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) harus secara jelas menunjukkan keselarasan dan kesesuaian dengan
tugas pokok dan fungsi setiap unit satuan kerja dalam Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD), yaitu seperti apa yang telah diamanatkan dalam Rencana Strategis Satuan
Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Renja SKPD). Hal ini harus dilakukan untuk menjamin setiap alokasi dana
publik untuk membiayai proses pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam
dokumen perencanaan pembangunan daerah, dilaksanakan oleh institusi pemerintah
yang berkompeten dan bertanggungjawab dalam proses pencapaiannya. Langkah ini
harus dilakukan untuk mencegah inefisiensi alokasi yang disebabkan oleh proses kerja
yang tumpang tindih, tidak terarah, tidak konsisten dengan perencanaan tugas pokok
dan fungsi serta tidak secara substansial memberikan kontribusi kepada pencapaian
sasaran kebijakan daerah.
Ketiga, seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus berani untuk melakukan
penilaian kembali dan penghematan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat tidak
substansif pada pencapaian keluaran dan hasil sehingga pengeluaran-pengeluaran
pada pos tersebut dapat secara signifikan dihemat. Sebaliknya, seluruh Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) dapat mengidentifikasikan keluaran atau hasil yang sangat
krusial untuk mencapai sasaran kebijakan daerah yang menjadi tanggung jawabnya,
sehingga alokasi anggaran menghasilkan secara nyata peningkatan kesejahteraan dan
perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Kebijakan pengelolaan belanja daerah Pemerintah Kota Ternate selama tahun 2011-
2015 mengutamakan pada pencapaian hasil program dan kegiatan melalui belanja
langsung dengan arah sebagai berikut:
1. Peningkatan dan Penataan Infrastruktur Perkotaan serta Percepatan dan
Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan.
2. Mewujudkan Pendidikan Murah, Terjangkau dan Berkualitas.
3. Mewujudkan Kesehatan Murah, Terjangkau dan Berkualitas.
4. Kebijakan Anggaran (APBD)
APBD)) yang
ang Proporsional dan Pro Rakyat.

Bab III 57
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

5. Penataan, Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Kota yang Serasi antara


Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan, antar Aspek Topografi dan Kawasan Pantai/
Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian Lingkungan Sosial Budaya dan
Ekologis.
6. Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik,, dengan Kapasitas
apasitas Sumber
umber Daya
Aparatur
paratur yang Profesional,
rofesional,, Bersih dan Berwibawa, serta Birokrasi yang Efisien,
Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif..
7. Peningkatan Ekonomi Rakyat, melalui Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro Kecil
Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja..
8. Pelayanan Publik yang Cepat, Murah dan Mudah.
9. Pengembangan Masyarakat Kawasan Pesisir Secara Berkelanjutan.
10. Membangun Kepedulian Sosial, Kesadaran Nilai Keagamaan, Kebudayaan dan
Adat Istiadat.
11. Penegakan Supremasi Hukum, Hak Azasi Manusia, untuk Mendorong Partisipasi
Publik yang Dinamis dan Konstruktif.

Dengan kebijakan belanja daerah tersebut, komposisi belanja daerah diperkirakan akan
didominasi oleh belanja langsung dengan rasio terhadap belanja total adalah rata-rata
sebesar 42,82 persen, sedangkan belanja tidak langsung diperkirakan sekitar 58,66
persen. Perkiraan belanja daerah Kota Ternate hingga tahun 2015 adalah sebagai
berikut (lihat Tabel III.8).

Tabel III.8
Perkiraan Belanja Daerah Kota Ternate
Tahun 2010-2015 (Rp. Miliar)
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
BELANJA DAERAH 448,170 494,490 506,852 519,532 597,452 657,197
I. Belanja Tidak Langsung 265,111 267,104 289,855 334,753 358,104 376,275
1. Belanja Pegawai 244,837 257,351 283,086 325,549 348,338 365,755
2. Belanja Bunga 0,300 - - - - -
3. Belanja Subsidi - - - - - -
4. Belanja Hibah 12,775 2,144 2,409 3,125 3,188 3,520
5. Belanja Bantuan Sosial 6,198 6,108 4,360 4,578 4,578 5,000

58 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015


6. Belanja Bagi Hasil Kepada - - - - - -
Provinsi/ Kabupaten/Kota dan
Pemerintah Desa
7. Belanja Bantuan Keuangan - - - - - -
Kepada Provinsi/Kabupaten/ Kota
dan Pemerintah Desa
8. Belanja Tidak Terduga 1,000 1,500 1,250 1,500 2,000 2,000
II. Belanja Langsung 223,058 227,385 216,996 184,770 239,347 280,922
1. Belanja Pegawai 38,459 45,090 37,601 29,987 66,564 68,367
2. Belanja Barang dan Jasa 82,742 91,942 80,148 74,167 70,167 78,167
3. Belanja Modal 101,856 90,353 98,103 80,615 102,615 134,387
III. Surplus/Defisit (1,142) - - -
(22,668) (21,284)
Sumber: Hasil Analisis 2010

3.3.3 Pembiayaan Daerah


Pembiayaan daerah ditetapkan untuk menutup defisit yang disebabkan oleh jumlah
belanja daerah lebih besar dibanding pendapatan daerah yang diperoleh. Penyebab
utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah
yang semakin meningkat. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan.

(1) Penerimaan Pembiayaan


Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada
tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya, meliputi
sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SILPA), pencairan dana
cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman
daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman, dan penerimaan piutang daerah.

Kebijakan penerimaan pembiayaan Kota Ternate tahun 2011-2015 adalah sebagai


berikut:
a. Mencegah terjadinya Sisa Lebih Anggaran tahun sebelumnya (SiLPA) dengan
menerapkan perencanaan dan penganggaran secara terpadu dan konsisten, serta
prinsip perencanaan dan anggaran berbasis kinerja.

Bab III 59
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

b. Mengembangkan skema pengelolaan pinjaman baik dari dalam maupun luar


negeri melalui penerbitan obligasi daerah ataupun bentuk pinjaman lainnya untuk
membiayai pembangunan infrastruktur publik ataupun program dan kegiatan
strategis lainnya.

(2) Pengeluaran Pembiayaan


Pengeluaran pembiayaan adalah pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada
tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya, yang
mencakup pembentukan dana cadangan, penyertaan modal (investasi) pemerintah
daerah, pembayaran pokok utang, dan pemberian pinjaman daerah.

Kebijakan pengeluaran pembiayaan Kota Ternate tahun 2011-2015 adalah sebagai


berikut:
a. Mendorong percepatan pengembangan ekonomi daerah melalui pengeluaran
pembiayaan untuk penyertaan modal BUMD. Penyertaan modal BUMD dibarengi
dengan revitalisasi dan restrukturisasi kinerja BUMD dan pendayagunaan kekayaan
milik daerah yang dipisahkan dalam rangka efisiensi pengeluaran pembiayaan
termasuk kajian terhadap kelayakan BUMD.
b. Menjamin kesinambungan penyelennggaraan pemerintahan dan pembangunan
dengan pinjaman daerah pada saat terjadi defisit anggaran.
c. Mendukung penyertaan modal dan pemberian pinjaman pada saat terjadi surplus
anggaran dengan tetap mempertimbangkan kesinambungan fiskal daerah dan
ketentuang peraturan perundangan yang berlaku.

(3) Pengelolaan Dana Masyarakat dan Mitra Pihak Ketiga


Pemerintah Kota Ternate akan terus mengoptimalkan pengelolaan dana masyarakat
dan mitra pihak ketiga untuk mendukung proses pembangunan Kota Ternate. Kebijakan
pengelolaan dana masyarakat dan mitra pihak ketiga Kota Ternate Tahun 2011-2015
diarahkan untuk membangun kerjasama yang lebih luas dan meningkatkan partisipasi
swasta/masyarakat dalam pembangunan Ternate. Upaya yang akan dilakukan untuk
meningkatkan investasi daerah adalah:

60 Bab III
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

a. Mengembangkan pelayanan satu titik untuk menyederhanakan proses perijinan.


b. Melakukan harmonisasi peraturan daerah untuk menciptakan iklim usaha yang
kondusif di Kota Ternate;
c. Mengelola kerjasama antara Pemerintah Kota Ternate dengan pihak swasta atau
dengan pihak pemerintah lain dengan perjanjian yang disepakati;
d. Meningkatkan kerjasama antara BUMD dan pihak swasta;
e. Mendorong kerjasama investasi regional, nasional dan internasional yang dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama kegiatan yang melibatkan
peran masyarakat luas seperti sektor pertanian, sektor industri berbasis pertanian
dan kelautan, dan industri pengolahan;
f. Meningkatkan keamanan dan ketertiban, meniadakan tumpang tindih pemungutan,
dan meningkatkan infrastruktur yang mendukung terciptanya iklim investasi yang
sehat;
g. Mengembangkan promosi secara aktif melalui penguatan jaringan kerjasama
regional, nasional dan internasional dan pemanfaatan dan pengembangan
teknologi informasi.

Bab III 61
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB IV
ANALISA ISU STRATEGIS DAERAH

4.1 ANALISA LINGKUNGAN EKSTERNAL


Analisa lingkungan eksternal Kota Ternate dilakukan untuk mengidentifikasi peluang
yang tersedia dan ancaman yang mungkin muncul dalam mewujudkan visi, misi, tujuan
dan sasaran pembangunan Kota Ternate dalam lima tahun mendatang (2011-2015).
Analisa lingkungan eksternal berkaitan dengan tiga arus perubahan yang terjadi, yaitu
globalisasi, demokratisasi dan desentralisasi.

4.1.1 Analisa Peluang Daerah


(1) Globalisasi yang ditandai oleh perpindahan barang dan jasa, modal, dan informasi
lintas daerah dan lintas negara secara bebas, serta interaksi pasar lokal, pasar
daerah, pasar Dalam Negeri dan pasar internasional secara lebih terbuka memberi
peluang bagi masa depan Kota Ternate, yaitu:
a. Posisi strategis Kota Ternate akan menjadi pusat pertumbuhan (aglomerasi)
Maluku Utara, mata rantai perekonomian yang menghubungkan wilayah
Maluku Utara dengan Wilayah Tengah dan Wilayah Timur Indonesia.
b. Posisi Kota Ternate sebagai pusat perdagangan menjadikan daerah yang
diperhatikan dan dianggap penting secara regional dan nasional.
c. Pengembangan kerjasama antarkawasan secara lebih luas dan nyata
diharapkan nantinya akan member nilai tambah investasi, produksi,
kesempatan kerja dan pendapatan bagi kesejahteraan masyarakat dan
kemajuan Kota Ternate.
d. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi akan menciptakan
berbagai kemudahan dan fasilitas dalam penyebaran informasi, ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan mendorong perbaikan manajemen
pembangunan daerah Kota Ternate.

Bab IV 63
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

e. Perluasan jaringan dan kerjasama pariwisata lokal dan internasional berbasis


teknologi informasi akan dapat menciptakan peluang bagi perluasan
lapangan kerja, pengembangan parwisata baik wisata alam, wisata sejarah,
wisata kuliner maupun wisata budaya Kota Ternate.

(2) Demokratisasi yang ditandai oleh perubahan tatanan kehidupan sosial,


ekonomi dan politik dengan mengutamakan aspirasi dan partisipasi rakyat telah
memberikan peluang bagi Kota Ternate untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat
secara berkelanjutan, yaitu:
a. Proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan masyarakat
akan selalu dilakukan secara transparan, partisipatif, adil dengan
mempertimbangkan pentingnya penghormatan, perlindungan dan
pemenuhan hak dasar rakyat terutama hak sipil dan politik, dan hak sosial,
ekonomi dan budaya rakyat.
b. Proses perencanaan, penganggaran dan pelaksanan dari berbagai kebijakan
dan program pembangunan akan mengutamakan partispasi masyarakat
sehingga mendorong pengembangan potensi dan peningkatan kualitas
hidup masyarakat, dan terciptanya suatu lingkungan yang memungkinkan
rakyat untuk menikmati kehidupan yang jauh lebih baik, bermutu dan
bermartabat.

(3) Desentralisasi dan otonomi daerah memberikan kewenangan dan sumber daya
bagi pemerintah daerah yang lebih besar untuk menyelenggarakan pemerintahan,
dan memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan.
a. dengan kewenangan otonomi daerah dan ketersediaan sumber saya alam
yang tersedia, Pemerintah Kota Ternate akan mempunyai kesempatan yang
lebih luas dan terbuka untuk mengelola sumber daya secara lebih efisien,
produktif dan efektif bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan
daerah.
b. Pemerintah Kota Ternate akan dapat menjalankan fungsi secara optimal
dan motivasi yang tinggi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat
secara lebih baik, mudah, murah dan bermutu.

64 Bab IV
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

c. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan akan memperhitungkan


penghormatan dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya daerah, kearifan
lokal, keragaman, kekhususan dan keragaman masyarakat.

4.1.2 Analisa Ancaman Daerah


(1) Globalisasi membawa dampak yang dapat menjadi ancaman bagi Kota Ternate,
yaitu:
a. Peningkatan investasi dan percepatan pembangunan akan mendorong
eksploitasi sumber daya alam termasuk hutan dan laut secara berlebihan
yang berdampak negatif bagi kesinambungan pembangunan.
b. Arus masuk barang dari pasar daerah wilayah Barat, wilayah Tengah dan
sebagian wilayah Timur akan mendominasi pasar lokal yang berdampak bagi
menurunnya produksi dan pendapatan para pelaku usaha di Kota Ternate.
c. Krisis ekonomi dan krisis energi yang berasal dari gejolak pasar internasional
dan nasional akan membawa dampak bagi menurunnya investasi,
melemahnya kegiatan produksi, meningkatnya angka pengangguran,
bertambahnya angka kemiskinan, dan menurunnya pendapatan daerah.

(2) Demokratisasi terkadang membawa perubahan yang tidak diharapkan bagi


keberlanjutan pembangunan Kota Ternate, yaitu:
a. Proses konsultasi antara Pemerintah Daerah, DPRD dan masyarakat sipil
seringkali memerlukan waktu yang panjang, bertahap dan tidak pasti
sehingga berdampak pada lambatnya pengambilan keputusan.
b. Pelaksanaan demokrasi seringkali dipahami secara sempit sebagai
kebebasan dalam bentuk berbagai unjuk rasa yang tidak teratur sehingga
akan mengganggu ketertiban dan kehidupan masyarakat.
c. Peran Partai politik yang cenderung dominan berdampak pada melemahnya
tingkat partisipasi masyarakat dan mengaburkan aspirasi masyarakat.

(3) Desentralisasi dan otonomi daerah membawa dampak yang dapat mengganggu
kelancaran pembangunan Kota Ternate, yaitu:

Bab IV 65
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

a. Berbagai peraturan perundang-undangan seringkali tidak konsisten dan


kurang sosialisasi sehingga menghambat pelaksanaan kebijakan dan
program pembangunan di daerah.
b. Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi seringkali menumbuhkan
persaingan antardaerah yang cenderung mengabaikan kepentingan yang
lebih luas dan jangka panjang.
c. Lemahnya koordinasi antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota
menyebabkan kurang optimalnya pengelolaan sumber daya dan lingkungan,
serta lambatnya pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur di daerah.
d. Meningkatnya kesenjangan antar kota-kota di Indonesia sebagai akibat
perbedaan kapasitas, sumber daya dan prasarana di daerah.

4.2.. ANALISA LINGKUNGAN INTERNAL


Analisa lingkungan internal Kota Ternate dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai
kekuatan yang tersedia seperti posisi geografis, sumber daya alam, sumber daya
manusia, prasarana dan sarana, serta berbagai kelemahan yang dapat menghambat
upaya mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan Kota Ternate dalam
lima tahun mendatang (2011-2015).

4.2.1 Analisa Kekuatan Daerah


a. Kota Ternate merupakan daerah yang memiliki potensi sumberdaya alam,
khususnya sumberdaya perikanan dan pertanian, serta memiliki akses yang baik
pada pasar potensial, yakni Pulau Jawa dan beberapa daerah pada wilayah timur
Indonesia.
b. Kota Ternate memiliki potensi perikanan dan pertanian yang cukup bagi
pemenuhan kebutuhan maupun ekspor, dengan berbagai jenis ikan tangkap serta
komoditi pala dan cengkih yang mempunyai posisi tawar yang kuat di pasar.
c. Sumberdaya manusia yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang
cukup, terutama di bidang perikanan dan pertanian.
d. Ketersediaan lembaga pendidikan dan penelitian yang bermutu dan berskala
nasional.

66 Bab IV
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

e. Kota Ternate memiliki kawasan pesisir yang menyimpan potensi bagi pengem-
bangan ekonomi wilayah.
f. Kota Ternate sejak lama terkenal sebagai sentra perdagangan komoditas unggulan
seperti pala dan cengkih, yang memiliki jejaring pemasaran domestik dan ekspor
yang sangat baik.
g. Kota Ternate memiliki potensi wisata yang cukup kaya dan beragam, yaitu
wisata alam seperti Pantai Sulamadaha, Batu Angus, Danau Tolire dan lainnya,
serta wisata budaya seperti Keraton Kesultanan Ternate dan beberapa Benteng
kejayaan peninggalan Belanda dan Portugis.
h. Kota Ternate memiliki lapangan terbang yang selaian melayani penerbangan
nasional juga melayani rute penerbangan lokal, yang keberadaannya dapat
dimanfaatkan sebagai alternatif angkutan antar kabupaten/kota di Provinsi
Maluku Utara.

4.2.2 Analisa Kelemahan Daerah


a. Belum optimalnya pengembangan mutu sumber daya manusia yang ditunjukkan
oleh relatif rendahnya Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM), tingginya angka
kemiskinan, banyaknya angka pengangguran, dan terbatasnya pasokan air bersih
dan listrik.
b. Terbatasnya infrastruktur perekonomian khusunya jalan, listrik, telekomunikasi
terutama pada Kecamatan Hiri, Moti dan Batang Dua yang menghambat
pengembangan usaha dan pelayanan publik.
c. Belum optimalnya kinerja aparat birokrasi dalam memberikan pelayanan publik.
d. Belum tuntasnya penanganan kasus korupsi, serta berbagai perkara pidana dan
perdata.
e. Peraturan perundangan di daerah belum kondusif bagi pengembangan usaha
yang berdampak pada belum optimalnya investasi swasta.
f. Belum optimalnya pelayanan pendidikan sebagai akibat terbatasnya sarana dan
prasarana pendidikan, belum maksimalnya perluasan akses dan pemerataan
pendidikan, masih rendahnya kualitas dan kesejahteraan guru, serta masih
terbatasnya mutu pendidikan.

Bab IV 67
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

g. Belum optimalnya pelayanan kesehatan masyarakat sebagai akibat terbatasnya


fasilitas dan tenaga kesehatan terutama di Kecamatan diluar Pulau Ternate.
h. Kota Ternate memiliki permasalahan sosial yang cukup beragam, di antaranya,
korban penyalahgunaan narkoba, wanita rawan sosial ekonomi (PSK), dan
penderita HIV/AIDS.

4.3. ISU STRATEGIS DAERAH


Dengan memperhatikan analisa lingkungan eksternal dan internal, isu strategis daerah
Kota Ternate dalam lima tahun (2011-2015) mendatang adalah sebagai berikut:
1. Masalah Sumber Daya Pemerintahaan dan pelayanan publik.
Profesionalitas serta kompetensi aparatur birokrasi, relatif belum memadai
sehingga belum mampu secara merata dan adil mendorong program dan
kebijakan bagi kemandirian daerah, menjamin kualitas pelayanan publik
terutama pelayanan dasar bidang pendidikan, kesehatan, listrik, air bersih,
dan utilitas lainnya.
Mentalitas aparatur cenderung berorientasi proyek (project oriented)
ketimbang berorientasi program. Kelemahan ini berimplikasi pada
perencanaan program pembangunan antar wilayah dan antar sektor
relatif belum integratif dan sinergi, selanjutnya berimplikasi pada belum
terpenuhinya azas efisiensi, efektifitas, dan ekonomis dalam pengelolaan
dan pemanfaatan anggaran secara patut, dan memberikan kemanfaatan
yang luas serta berkeadilan kepada masyarakat.
Belum efektifnya akses partisipasi publik yang berkualitas dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan dalam menjamin akuntabilitas serta
transparansi kebijakan anggaran (clean governance) sebagai implementasi
prinsip-prinsip good governance.
Belum otimalnya kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar seperti
pendidikan, kesehatan, listrik, air bersih dan utilitas lainya. Keluhan utamanya
berkaitan dengan kepastian waktu, biaya dan tempat.
Belum terintegrasinya sistem pelayanan publik sehingga menimbulkan biaya
tinggi akibat faktor ketidakpastian pelayanan.

68 Bab IV
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Rendahnya tingkat transparansi dan akuntabilitas serta kurangnya akses


publik dalam perumusan kebijakan pembangunan kota.
Pergeseran paradigma pemerintah bukan lagi sebagai penguasa tetapi seba-
gai pelayan rakyat. Karena itu tugas camat/lurah mengikuti tugas walikota
sebagai pelayan rakyat. Berdaya tidaknya kecamatan/kelurahan sangat ter-
gantung pada pelimpahan wewenang oleh walikota. Besaran kewenangan
kecamatan sangat ditentukan oleh urusan yang dilimpahkan oleh walikota.

2. Masalah Pemerataan pembangunan, Akses Perekonomian dan Kesejahteraan.


Tidak seimbangnya pertumbuhan antar wilayah, terutama wilayah Utara dan
Selatan Ternate, termasuk wilayah Kecamatan di luar pulau Ternate, seperti
Moti, Hiri dan Batang Dua. Kesenjangan pembangunan antar wilayah ini
berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.
Belum sinerginya kegiatan ekonomi perkotaan dengan kegiatan ekonomi
pedesaan, sehingga wilayah luar cenderung mengalami dampak penurunan
pertumbuhan (backwash effects).
Kurangnya akses masyarakat, terutama pelaku usaha jasa konstruksi
terhadap proyek pemerintah akibat terjadinya praktek mafia ekonomi dan
monopoli kepada beberapa pengusaha. Sulitnya pengusaha kecil, petani,
nelayan dan koperasi mendapat sumber permodalan dan pendampingan
manajemen pengembangan usaha.
Informasi potensi dan peluang Usaha belum optimal di promosikan, padahal
Kota Ternate sebagai kota perdagangan dan jasa utama di Maluku Utara
memeliki peluang Investasi yang cukup tinggi.
Akses usaha yang belum merata, dan rendahnya produktifitas ketenagakerjaan.
Ketergantungan terhadap pasokan bahan kebutuhan pokok dari luar adalah
situasi rentan terhadap kemandirian ekonomi rakyat.

3. Masalah Penataan Kawasan Perkotaan.


Tidak terkendalinya pertumbuhan penduduk baik akibat pertambahan
penduduk alamiah maupun akibat urbanisasi sehingga melahirkan kawasan
pemukiman kumuh dan kemiskinan kota.

Bab IV 69
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Karena keterbatasan lahan kota dan inkonsistensi kebijakan penataan ruang


membuat terjadi alih fungsi lahan secara besar-besar baik di wilayah pesisir
pantai maupun kawasan hutan lindung.
Belum terintegrasinya keruangan (spatial integration) secara seimbang pada
setiap simpul strategis wilayah perkotan.
Belum tersedianya ruang terbuka hijau (RTH) bagi warga kota akibat
kebijakan komersialisasi kawasan perkotaan serta desain tata ruang yang
belum memihak kebutuhan publik.
Kurangnya ruang untuk mewadahi kegiatan PKL yang menimbulkan
marginalisasi sector informal dari sistem ekonomi perkotaan secara
integrative.
Terabaikannya potensi kawasan pesisir pantai dengan tidak tersedianya
prasarana dan sarana kelautan yang berakibat pada menurunnya aktivitas
pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir pantai.
Belum mandiri dan terarahnya pembangunan Kota Baru sehingga
mengakibatkan, masyarakat pada kawasan sekitar membangun
pemukimannya tanpa memperhatikan penataan wilayah dan kawasan yang
sesuai dengan konsep penataan ruang.
Kesemerawutan kota, akibat pertumbuhan kendaraan bermotor tanpa
diimbangi oleh ketersedian infrastruktur jalan dan regulasi yang sering tidak
konsisten. Minimnya lahan parkiran menjadi penyebab utama kemacetan
dibeberapa pusat perdagangan. Ruang publik bagi pejalan kaki tidak lagi
berfungsi karena difungsikan bagi PKL.

4. Masalah Banjir, Sampah dan pengelolaan Lingkungan Hidup.


Menurunnya kualitas fisik lingkungan perkotaan, sebagai implikasi dari
eksploitasi pembangunan, serta pengelolaan kawasan yang tidak diikuti
dengan penataan ruang yang baik dan konsisten.
Penataan drainase dan pengelolaan persampahan yang belum memadai.
dan Minimnya Kesadaran warga terhadap lingkungan hidup yang baik
menimbulkan masalah banjir, sanitasi yang buruk dan terjadinya abrasi pada
wilayah pantai.

70 Bab IV
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan pemerintah kota yang belum memperhatian daya dukung


lingkungan dalam pembangunan perkotaan.

5. Masalah Pendidikan, Kesehatan.


Kualitas output pendidikan yang masih rendah sehingga belum mampu menjawab
kesempatan kerja yang tersedia.
Rendahnya kualitas moral anak didik yang tercermin dalam prilaku
bermasyarakat.
Belum meratanya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
dan pendidikan yang mudah, murah, berkualitas dan merata, terutama
masyarakat yang berada di Kecamatan Moti, Pulau Hiri dan Pulau Batang
Dua.
Komersialisasi Kesehatan Ini ditandai dengan Mahalnya Biaya Kesehatan
Akibat Pelayanan Rumah Sakit yang belum profesional akibat Praktek Dokter
Ahli lebih memilihi berpraktek di Rumah sakit swasta atau klinik ketimbang
melayani pasien di RSU.
Manajemen Pelayanan Rumah Sakit yang Belum Mengakomodasi Masyarakat
Miskin (Jamkesda) dan Pemegang Askes.
Masih rendahnya proporsi anggaran kesehatan dalam APBD.
Kematian Ibu dan bayi, yang masih cukup tinggi adalah akibat dari buruknya
akses pelayanan kesehatan yang tersedia.

6. Masalah Sosial Budaya dan Keagamaan.


Masih rendahnya kesadaran budaya hidup toleran masyarakat terutama
dalam hal penutupan jalan untuk acara-acara tertentu.
Rendahnya kualitas moral anak didik yang tercermin dalam prilaku
bermasyarakat.
Fenomena meningkatnya kekerasan terhadap perempuan baik dalam rumah
tangga (KDRT), maraknya kasus perkosaan dan meningkatnya angka
perceraian di Kota Ternate adalah fenomena yang harus menjadi perhatian
kita semua. Fenomena PSK di Kota Ternate adalah penyakit sosial yang
berhubungan erat dengan kehidupan ekonomi dan isu moralitas. Tingkat

Bab IV 71
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

pendidikan yang ditempuh oleh kaum wanita dan terpinggirkan peran wanita
dalam pembangunan seperti, masih bias gender dalam penerimaan pegawai,
promosi jabatan dan diskriminasi dalam dunia kerja. Fenomena ini tidak lagi
menjadi isu domistik perempuan tetapi isu mendasar pembangunan Kota
Ternate kedepan.
Belum sinerginya integrasi sosial masyarakat dalam upaya peningkatan
partisipasi yang lebih luas dan efektif dalam membuat kebijakan publik yang
menyangkut masyarakat.
Penanganan masalah sosial budaya yang terkait dengan masalah kemiskinan
perkotaan, gesekan kepentingan antar masyarakat dan antar kampung.
Makin menjauhnya sebagian besar masyarakat dari nilai adat budaya lokal,
termasuk pemaknaan atas adat se atoran sebagai sumber nilai dan etos
sosial, yang terbukti ampuh menjadi nilai identitas masyarakat Ternate pada
masa kejayaannya.
Berkurangnya perhatian dan kesadaran pemerintah daerah, dan stakeholder
di daerah, untuk melakukan rekonstruksi nilai budaya dan kearifan lokal.
Belum maksimalnya peran lembaga keagamaan serta perhatian yang hanya
fokus pada sarana prasarana tanpa penguatan basis nilai relegiusitas semakin
menjauhkan warga dari nilai-nilai agama.
Masih tingginya angka buta baca Al-Quran di Kota Ternate.

7. Masalah Keuangan dan Kemandirian Fiskal.


Kurangnya kemandirian fiskal Kota Ternate tergambar dari rendahnya
konstribusi Pendapatan Asli daerah (PAD) dalam pembiayaan APBD.
Ketimpangan fiskal yang tinggi menunjukan belum optimalnya kinerja sector
ekonomi sehingga kontribusi pendapatan pajak dan retribusi belum signifikan
dalam Pendapatan Daerah Kota Ternate.
APBD dibuat seringkali lebih berpihak kepada penentu kebijakan daripada
kepentingan rakyat. Kurangnya alokasi anggaran untuk belanja Modal
(investasi) padahal belanja modal ini penting bagi stimulus ekonomi kota di
masa yang akan datang, terutama infrastruktur seperti pembangkit tenaga
listrik,air minum dan transportasi.

72 Bab IV
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

8. Masalah Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas.


Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di level makro ternyata tidak diikuti pada
ekonomi riil dilevel mikro. Fenomena kemiskinan dan pengangguran adalah
gambaran tidak terkoneksinya gambaran makro ekonomi dan kehidupan ekonomi
masyarakat secara umum. Inflasi yang masih cukup tinggi telah menurunkan
pendapatan riil warga dan pada akhirnya menurunkan daya beli. Kurangnya akses
sumberdaya ekonomi dan belum meratanya pembangunan semakin memperburuk
kondisi sosial ekonomi masyarakat secara umum.

Bab IV 73
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB V
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
PEMBANGUNAN DAERAH

5.1. VISI DAN MISI

5.1.1 Visi
Dengan mempertimbangkan keinginan luhur dari para pendiri bangsa dan cerminan
hati sanubari rakyat Kota Ternate untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera
lahir dan batin, memperhatikan isu strategis dalam lima tahun mendatang serta
memperhatikan amanat konstitusional yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945,
maka Visi Pembangunan Kota Ternate Tahun 2011-2015 adalah:

Terwujudnya Ternate menjadi Kota Berbudaya,


Agamais, Harmonis, Mandiri, Berkeadilan
dan Berwawasan Lingkungan

____ KOTA TERNATE BAHARI BERKESAN ___

1. Ternate Berbudaya, bahwa kebijakan pemerintahan maupun perilaku masya-


rakat haruslah mencerminkan nilai-nilai budaya dan adat se atoran sebagai
sumber nilai yang terbukti ampuh menjadi spririt sosial dan spirit moral Moloku Kie
Raha pada masa kejayaannya. Hal ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran
dan kecintaan terhadap nilai budaya dan adat se atoran dengan mengupayakan
pelestariannya, sekaligus menjadikannya sistem nilai yang membentuk kesadaran
sosial yang diharapkan terefleksi dalam perilaku sosial masyarakat.
2. Ternate Agamais, adalah upaya menciptakan serta menumbuhkan kesadaran
keberagamaan dan spiritualitas di dalam masyarakat yang dimulai sejak masa
kanak-kanak dan usia remaja, yang diarahkan untuk menangkal berbagai dampak
buruk modernitas upaya mewujudkan masyarakat bermartabat, berakhlaq, berbudi

Bab V 75
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

pekerti luhur, toleran, penuh belas kasih, yang menempatkan nilai keberagamaan
sebagai basis moral yang membentuk kesadaran sosial dan tercermin dalam
kehidupan sosial yang santun, religius,, aman dan tentram.
3. Ternate Harmonis, artinya mengupayakan terwujudnya keserasian,
keselarasan dan keseimbangan lingkungan sosial dan lingkungan fisik perkotaan,
melalui tata ruang perkotaan terpadu, serasi, nyaman dan sehat, yang mampu
mengakomodasi dinamika ekonomi, sosial budaya, dan politik secara seimbang
melalui ketersediaan ruang publik yang representatif bagi seluruh masyarakat
tanpa kesan pengabaian dan diskriminasi, sehingga menumbuhkan rasa memiliki
terhadap Kota Ternate, terpeliharanya persatuan dan kesatuan, meningkatkan
wawasan kebangsaan, kerukunan dalam pembauran, semangat persaudaraan,
sikap toleran baik antar umat beragama,, antar etnik, maupun antar kelompok.
4. Ternate Mandiri, artinya menjadikan
enjadikan Ternate Kota Jasa dan Perdagangan
sebagai pusat perekonomian Maluku Utara, melalui penataan sistem pengelolaan
keuangan daerah yang efisien,, ekonomis, kompetitif,, dukungan infrastruktur
ekonomi yang memadai, kepastian hukum, kemudahan investasi. Sekaligus
mendorong kreatifitas dan produktifitas melalui pengembangan Koperasi dan
Usaha Mikro Kecil Menengah agar lebih produktif dan berdaya saing, yang
diarahkan pada kemandirian ekonomi masyarakat.
5. Ternate Berkeadilan, artinya mewujudkan prinsip persamaan hak warga
negara di hadapan hukum dan pemerintahan yang diarahkan pada penegakan
supermasi hukum, perlindungan HAM, keterbukaan akses dan kesempatan
yang merata dalam pelayanan publik disemua bidang yang diarahkan secara
sungguh-sungguh pada upaya menjamin kesejahteraan rakyat melalui kebijakan
APBD yang memihak rakyat, serta kualitas pelayanan publik, pemerataan akses
pelayanan kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan
masyarakat, teratasinya masalah perkotaan seperti kemiskinan, mengurangi
kesenjangan antar wilayah dan sektoral, serta pemberdayaan masyarakat hingga
mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs).
6. Ternate Berwawasan Lingkungan,, artinya mengupayakan penataan
pembangunan perkotaan
kotaan
an yang seluruh arah perkembangannya didasarkan pada
keasrian dan keaslian potensi lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya,,
dengan memperhatikan keseimbangan ekologis.. Hal ini diarahkan pada upaya
revitalisasi lingkungan fisik perkotaan dan lingkungan hidup yang hijau, asri,

76 Bab V
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

nyaman, dan sehat melalui penataan yang padu dan serasi antara lingkungan
hidup dan lingkungan sosial, yang diharapkan memberi ketenangan, kenyamanan
dan kedamaian kepada warga masyarakat, sekaligus mengupayakan pelestarian
ekologi pantai, dan menghindari kecenderungan eksploitasi lingkungan fisik dan
ekologi pantai sebagai dampak pengembangan water front city, dan perilaku
masyarakat yang relatif belum ramah lingkungan.

5.1.2 Misi
Dalam upaya mewujudkan visi pembangunan Kota Ternate Tahun 2011-2015 tersebut,
misi pembangunan Kota Ternate adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan Ternate yang agamis.
2. Mewujudkan pemerataan Sarana dan Prasarana perekonomian yang lebih repre-
sentatif.
3. Membangun Ternate sebagai kota pesisir berbasis lingkungan.
4. Membangun Ternate sebagai kota pariwisata berciri budaya dan bahari.
5. Membangun Ternate sebagai kota terbuka, demokratis dan adil.
6. Membangun Ternate yang sehat dan sejahtera.

Gambar V.1
Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah

Bab V 77
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Gambar V.2
Keterhubungan Visi - Misi dalam RPJM

Permasalahan dan Isu-isu Pembangunan


1. Masalah Sumber Daya Pemerintahan dan Pelayanan Publik.
Profesionalitas serta kompetensi aparatur birokrasi, relatif belum memadai
sehingga belum mampu secara merata dan adil mendorong program dan
kebijakan bagi kemandirian daerah, menjamin kualitas pelayanan publik
terutama pelayanan dasar bidang pendidikan, kesehatan, listrik, air bersih,
dan utilitas lainnya.
Mentalitas aparatur cenderung berorientasi proyek (project oriented)
ketimbang berorientasi program. Kelemahan ini berimplikasi pada
perencanaan program pembangunan antar wilayah dan antar sektor
relatif belum integratif dan sinergi, selanjutnya berimplikasi pada belum
terpenuhinya azas efisiensi, efektifitas, dan ekonomis dalam pengelolaan
dan pemanfaatan anggaran secara patut, dan memberikan kemanfaatan
yang luas serta berkeadilan kepada masyarakat.
Belum efektifnya akses partisipasi publik yang berkualitas dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan dalam menjamin akuntabilitas serta

78 Bab V
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

transparansi kebijakan anggaran (clean governance) sebagai implementasi


prinsip-prinsip good governance.
Belum optimalnya kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar
seperti pendidikan, kesehatan, listrik, air bersih dan utilitas lainnya. Keluhan
utamanya berkaitan dengan kepastian waktu, biaya dan tempat.
Belum terintegrasinya sistem pelayanan publik sehingga menimbulkan biaya
tinggi akibat faktor ketidakpastian pelayanan.
Rendahnya tingkat transparansi dan akuntabilitas serta kurangnya akses
publik dalam perumusan kebijakan pembangunan kota.
Pergeseran paradigma pemerintah bukan lagi sebagai penguasa tetapi sebagai
pelayan rakyat. Karena itu tugas camat/lurah mengikuti tugas walikota sebagai
pelayan rakyat. Berdaya tidaknya kecamatan/kelurahan sangat tergantung
pada pelimpahan wewenang oleh walikota. Besaran kewenangan kecamatan
sangat ditentukan oleh urusan yang dilimpahkan oleh walikota.

2.. Masalah Pemerataan Pembangunan, Akses Perekonomian dan


Kesejahteraan..
Tidak seimbangnya pertumbuhan antar wilayah, terutama wilayah Utara dan
Selatan Ternate, termasuk wilayah Kecamatan di luar Pulau Ternate,, seperti
Moti, Hiri dan Batang Dua. Kesenjangan pembangunan antar wilayah ini
berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.
Belum sinerginya kegiatan ekonomi perkotaan dengan kegiatan ekonomi
pedesaan, sehingga wilayah luar cenderung mengalami dampak penurunan
pertumbuhan (backwash effects).
Kurangnya akses masyarakat, terutama pelaku usaha jasa konstruksi
terhadap proyek pemerintah akibat terjadinya praktek mafia ekonomi dan
monopoli kepada beberapa pengusaha. Sulitnya pengusaha kecil, petani,
nelayan dan koperasi mendapat sumber permodalan dan pendampingan
manajemen pengembangan usaha.
Informasi potensi dan peluang Usaha belum optimal dipromosikan, padahal
Kota Ternate sebagai kota perdagangan dan jasa utama di Maluku Utara
memeliki peluang Investasi yang cukup tinggi.

Bab V 79
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Akses usaha yang belum merata, dan rendahnya produktifitas ketenaga-


kerjaan. Ketergantungan terhadap pasokan bahan kebutuhan pokok dari
luar adalah situasi rentan terhadap kemandirian ekonomi rakyat.

3. Masalah Penataan Kawasan Perkotaan.


Tidak terkendalinya pertumbuhan penduduk baik akibat pertambahan
penduduk alamiah maupun akibat urbanisasi sehingga melahirkan kawasan
pemukiman kumuh dan kemiskinan kota.
Karena keterbatasan lahan kota dan inkonsistensi kebijakan penataan ruang
membuat terjadi alih fungsi lahan secara besar-besar baik di wilayah pesisir
pantai maupun kawasan hutan lindung.
Belum terintegrasinya keruangan (spatial integration) secara seimbang pada
setiap simpul strategis wilayah perkotaan.
Belum tersedianya ruang terbuka hijau (RTH) bagi warga kota akibat
kebijakan komersialisasi kawasan perkotaan serta disain tata ruang yang
belum memihak kebutuhan publik.
Kurangnya ruang untuk mewadahi kegiatan PKL yang menimbulkan
marginalisasi sektor informal dari sistem ekonomi perkotaan secara
integrative.
Terabaikannya potensi kawasan pesisir pantai dengan tidak tersedianya
prasarana dan sarana kelautan yang berakibat pada menurunnya aktivitas
pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir pantai.
Belum mandiri dan terarahnya pembangunan Kota Baru sehingga meng-
akibatkan masyarakat pada kawasan sekitar membangun pemukimannya
tanpa memperhatikan penataan wilayah dan kawasan yang sesuai dengan
konsep penataan ruang.
Kesemerawutan kota, akibat pertumbuhan kendaraan bermotor tanpa
diimbangi oleh ketersediaan infrastruktur jalan dan regulasi yang sering tidak
konsisten. Minimnya lahan parkiran menjadi penyebab utama kemacetan
di beberapa pusat perdagangan. Ruang publik bagi pejalan kaki tidak lagi
berfungsi karena difungsikan bagi PKL.

80 Bab V
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

4.. Masalah Banjir, Sampah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup..


Menurunnya kualitas fisik lingkungan perkotaan, sebagai implikasi dari
eksploitasi pembangunan, serta pengelolaan kawasan yang tidak diikuti
dengan penataan ruang yang baik dan konsisten.
Penataan drainase dan pengelolaan persampahan yang belum memadai.
dan minimnya kesadaran warga terhadap lingkungan hidup yang baik
menimbulkan masalah banjir, sanitasi yang buruk dan terjadinya abrasi pada
wilayah pantai.
Kebijakan pemerintah kota yang belum memperhatian daya dukung
lingkungan dalam pembangunan perkotaan.

5. Masalah Pendidikan, Kesehatan.


Kualitas output pendidikan yang masih rendah sehingga belum
mampu menjawab kesempatan kerja yang tersedia.
Rendahnya kualitas moral anak didik yang tercermin dalam perilaku berma-
syarakat.
Belum meratanya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan pen-
didikan yang mudah, murah, berkualitas dan merata, terutama masyarakat
yang berada di Kecamatan Moti, Pulau Hiri dan Pulau Batang Dua.
Komersialisasi kesehatan ini ditandai dengan Mahalnya Biaya Kesehatan aki-
bat pelayanan Rumah Sakit yang belum profesional akibat praktek dokter
ahli lebih memilihi berpraktek di Rumah Sakit swasta atau klinik ketimbang
melayani pasien di RSU.
Manajemen pelayanan Rumah Sakit yang belum mengakomodasi masyara-
kat miskin (Jamkesda) dan pemegang askes.
Masih rendahnya proporsi anggaran kesehatan dalam APBD.
Kematian Ibu dan bayi, yang masih cukup tinggi adalah akibat dari buruknya
akses pelayanan kesehatan yang tersedia.

Bab V 81
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6. Masalah Sosial Budaya dan Keagamaan.


Masih rendahnya kesadaran budaya hidup toleran masyarakat terutama
dalam hal penutupan jalan untuk acara-acara tertentu.
Rendahnya kualitas moral anak didik yang tercermin dalam perilaku ber-
masyarakat.
Fenomena meningkatnya kekerasan terhadap perempuan baik dalam rumah
tangga (KDRT), maraknya kasus perkosaan dan meningkatnya angka
perceraian di Kota Ternate adalah fenomena yang harus menjadi perhatian
kita semua. Fenomena PSK di Kota Ternate adalah penyakit sosial yang
berhubungan erat dengan kehidupan ekonomi dan isu moralitas. Tingkat
pendidikan yang ditempuh oleh kaum wanita dan terpinggirkan peran wanita
dalam pembangunan seperti, masih bias gender dalam penerimaan pegawai,
promosi jabatan dan diskriminasi dalam dunia kerja. Fenomena ini tidak lagi
menjadi isu domestik perempuan tetapi isu mendasar pembangunan Kota
Ternate ke depan.
Belum sinerginya integrasi sosial masyarakat dalam upaya peningkatan
partisipasi yang lebih luas dan efektif dalam membuat kebijakan publik yang
menyangkut masyarakat.
Penanganan masalah sosial budaya yang terkait dengan masalah kemiskinan
perkotaan, gesekan kepentingan antar masyarakat dan antar kampung.
Makin menjauhnya sebagian besar masyarakat dari nilai adat budaya lokal,
termasuk pemaknaan atas adat se atoran sebagai sumber nilai dan etos
sosial, yang terbukti ampuh menjadi nilai identitas masyarakat Ternate pada
masa kejayaannya.
Berkurangnya perhatian dan kesadaran pemerintah daerah, dan stakeholder
di daerah, untuk melakukan rekonstruksi nilai budaya dan kearifan lokal.
Belum maksimalnya peran lembaga keagamaan serta perhatian yang hanya
fokus pada sarana prasarana tanpa penguatan basis nilai relegiusitas semakin
menjauhkan warga dari nilai-nilai agama.
Masih tingginya angka buta baca Al-Quran di Kota Ternate.

82 Bab V
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

7. Masalah Keuangan dan Kemandirian Fiskal.


Kurangnya kemandirian fiskal Kota Ternate tergambar dari rendahnya
kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam pembiayaan APBD.
Ketimpangan fiskal yang tinggi menunjukan belum optimalnya kinerja sektor
ekonomi sehingga kontribusi pendapatan pajak dan retribusi belum signifikan
dalam Pendapatan Daerah Kota Ternate.
APBD dibuat seringkali lebih berpihak kepada penentu kebijakan daripada
kepentingan rakyat. Kurangnya alokasi anggaran untuk belanja Modal
(investasi) padahal belanja modal ini penting bagi stimulus ekonomi kota di
masa yang akan datang, terutama infrastruktur seperti pembangkit tenaga
listrik, air minum dan transportasi.

8. Masalah Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas.


Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di level makro ternyata tidak diikuti pada
ekonomi riil dilevel mikro. Fenomena kemiskinan dan pengangguran adalah
gambaran tidak terkoneksinya gambaran makro ekonomi dan kehidupan
ekonomi masyarakat secara umum. Inflasi yang masih cukup tinggi telah
menurunkan pendapatan riil warga dan pada akhirnya menurunkan daya beli.
Kurangnya akses sumberdaya ekonomi dan belum meratanya pembangunan
semakin memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat secara umum.

5.2. TUJUAN DAN SASARAN

5.2.1 Tujuan
Tujuan Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Ternate Tahun 2011-2015
berdasarkan 11 (sebelas) Program Prioritas adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan dan Penataan Infrastruktur Perkotaan serta Percepatan dan
Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan.
2. Mewujudkan Pendidikan Murah, Terjangkau dan Berkualitas.
3. Mewujudkan Kesehatan Murah, Terjangkau dan Berkualitas.
4. Kebijakan Anggaran (APBD)
APBD)) yang
ang Proporsional dan Pro Rakyat.

Bab V 83
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

5. Penataan, Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Kota yang Serasi Antara


Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan, antar Aspek Topografi dan Kawasan Pantai/
Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian Lingkungan Sosial Budaya dan
Ekologis.
6. Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik,, dengan Kapasitas
apasitas Sumber
umber Daya
Aparatur
paratur yang Profesional,
rofesional,, Bersih dan Berwibawa, serta Birokrasi yang Efisien,
Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif..
7. Peningkatan Ekonomi Rakyat melalui Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro Kecil
Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja..
8. Pelayanan Publik yang Cepat, Murah dan Mudah.
9. Pengembangan Masyarakat Kawasan Pesisir Secara Berkelanjutan.
10. Membangun Kepedulian Sosial, Kesadaran Nilai Keagamaan, Kebudayaan dan
Adat Istiadat.
11. Penegakan Supremasi Hukum, Hak Azasi Manusia, untuk Mendorong Partisipasi
Publik yang Dinamis dan Konstruktif.

5.2.2 Sasaran
1. Tujuan 1 : Peningkatan dan Penataan Infrastruktur Perkotaan serta Percepatan
dan Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan;
Yang diarahkan pada percepatan pengembangan infrastruktur secara merata dan
berkeadilan, terutama pada kecamatan-kecamatan di luar kawasan perkotaan
untuk membuka keterisolasian, serta memungkinkan terjadinya mobilitas arus
barang dan manusia yang mempercepat perkembangan secara merata pada
semua wilayah kecamatan.
2. Tujuan 2 : Mewujudkan Pendidikan Murah, Terjangkau dan Berkualitas;
Yang diarahkan pada upaya peningkatan Sumber Daya Manusia, khususnya
peningkatan derajat Pendidikan melalui perluasan akses pendidikan yang murah
dan terjangkau, sarana dan fasilitas yang memadai, tenaga guru yang cukup, dan
mutu yang terus membaik.

84 Bab V
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

3. Tujuan 3 : Mewujudkan Kesehatan Murah, Terjangkau dan Berkualitas;


Yang diarahkan pada upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia, melalui
peningkatan derajat Kesehatan dengan perluasan akses yang mudah, murah,
terjangkau, dukungan sarana dan fasilitas memadai, ketersediaan dokter, tenaga
kesehatan dan keperawatan yang cukup, dan mutu pelayanan yang terus
membaik.
4. Tujuan 4 : Mewujudkan Anggaran (APBD) yang Proporsional dan Pro Rakyat;
Yang diarahkan pada kebijakan Anggaran (APBD) yang proporsional dan Pro
Rakyat, yang diprioritaskan pada upaya pemenuhan kebutuhan rakyat serta
membiayai program pembangunan yang strategis, juga program populis yang
menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, melalui desain program berbasis
keswadayaan dan berciri budaya.
5. Tujuan 5 : Penataan, Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Kota yang Serasi
Antara Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan, antar Aspek Topografi dan Kawasan
Pantai/Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian Lingkungan Sosial Budaya
dan Ekologis;
yang diarahkan pada penataan infrastruktur perkotaan sebagai kota jasa dan
perdagangan dengan pemanfaatan ruang kota secara terpadu untuk mendukung
interaksi spasial, mobilitas dan aktivitas perkotaan yang tertib menuju terwujudnya
Kota Ternate yang harmoni, sehat, aman dan nyaman dan berciri budaya serta
berwawasan lingkungan.
6. Tujuan 6 : Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik, dengan Kapasitas Sumber
Daya Aparatur yang Profesional, Bersih dan Berwibawa, serta Birokrasi yang
Efisien, Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif;
Yang diarahkan pada terwujudnya good government, dengan sumberdaya
aparatur yang profesional, kreatif, inovatif, yang mampu menjamin peningkatan
kualitas pelayanan, akuntabilitas dan kemandirian masyarakat.
7. Tujuan 7 : Peningkatan Ekonomi Rakyat melalui Pengembangan Koperasi, Usaha
Mikro Kecil Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja;
Yang diarahkan pada upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Petani,
Nelayan, Pekebun, Peternak, Buruh dan Pekerja, Koperasi, Usaha Mikro Kecil

Bab V 85
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Menengah (UMKM), Pedagang Kaki Lima, dan Pedagang Tradisional, menuju pada
kemandirian dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need).
8. Tujuan 8 : Pelayanan Publik yang Cepat, Murah dan Mudah;
Yang diarahkan pada terwujudnya pelayanan publik oleh aparatur yang profesional,
dengan pelayanan yang cepat, mudah, murah, nyaman dan berkualitas.
9. Tujuan 9 : Pengembangan Masyarakat Kawasan Pesisir Secara Berkelanjutan;
Yang diarahkan pada peningkatan kemandirian masyarakat, melalui pengem-
bangan ekonomi kerakyatan berbasis potensi pesisir, melalui pengembangan
usaha mikro kecil, menengah, koperasi yang mengarah pada produktifitas, dan
kemampuan daya saing.
10. Tujuan 10 : Membangun Kepedulian Sosial, Kesadaran Nilai Keagamaan,
Kebudayaan dan Adat Istiadat;
Yang diarahkan untuk menjawab permasalahan perkotaan seperti menurunnya
kesadaran spiritualitas keberagamaan, solidaritas sosial dan kesadaran kebudayaan
sebagai identitas daerah dan jati diri masyarakat, meningkatkan etos sosial, dan
optimalisasi penanggulangan masalah-masalah sosial seperti minuman keras,
PSK, narkoba serta permasalahan sosial lainnya.
11. Tujuan 11 : Penegakan Supremasi Hukum, Hak Azasi Manusia, untuk Mendorong
Partisipasi Publik yang Dinamis dan Konstruktif;
yang diarahkan untuk menjawab masalah penegakan dan kepastian hukum di
daerah, termasuk upaya mengadakan regulasi daerah yang mampu mendorong
partisipasi publik yang dinamis dan konstruktif, serta regulasi untuk menjamin
kualitas pelayanan publik.

86 Bab V
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB VI
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Dalam upaya mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan menuju Kota
Ternate sejahtera dan terdepan bersama masyarakat cerdas yang berbudaya, perlu
perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Strategi dan arah kebijakan
Pemerintah Kota Ternate Tahun 2011-2015 mengacu pada tiga arus utama perubahan,
yaitu Reorientasi, Reposisi dan Revitalisasi (3R-Change).

Pemaknaan lebih lanjut dari perubahan tersebut adalah pembangunan secara Cerdas
yang dilaksanakan dengan Handal oleh orang yang Amanah dan memegang Norma
yang berlaku melalui Gerakan bersama menuju Ekonomi maju yang dicapai dengan
mengubah haluan (Reorientasi), penempatan diri yang proporsional (Reposisi) dan
bersandar pada kekuatan rencana yang baik (Revitalisasi).

6.1 REORIENTASI, REPOSISI DAN REVITALISASI

6.1.1 Reorientasi
Reorientasi dimaksudkan untuk mengubah haluan pelayanan publik Pemerintah Kota
Ternate menjadi lebih cepat, mudah, bermutu dan adil. Reorientasi juga menyangkut
perubahan cara pandang, cara mengelola sumberdaya dan cara bertindak aparat
Pemerintah Kota Ternate yang lebih efisien dan efektif dengan tetap mengutamakan
pelayanan prima kepada masyarakat. Reorientasi dilakukan melalui berbagai upaya
pengembangan sumberdaya manusia aparat pemerintah yang profesional, bersih,
berwibawa, tunduk pada hukum, serta taat pada norma umum yang berlaku.

Reorientasi juga menyangkut pemanfaatan hasil-hasil pembangunan yang harus


dirasakan adil dan merata oleh seluruh masyarakat Kota Ternate. Pembangunan
tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan, tetapi juga

Bab VI 87
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan ke seluruh


kecamatan. Pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai adalah pertumbuhan yang lebih
berkualitas yang disertai dengan pengurangan kemiskinan dan pengangguran. Oleh
sebab itu, manajemen pembangunan harus diarahkan untuk memacu pemerataan
melalui pertumbuhan.

Reorientasi dilakukan pula dengan mengutamakan pembangunan kerakyatan dan


pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, strategi, kebijakan dan program
pembangunan Kota Ternate diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat secara
penuh dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pembangunan.

6.1.2 Reposisi
Reposisi dimaksudkan untuk menegaskan dan menguatkan peran Pemerintah Kota
Ternate dalam melakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi berbagai
kebijakan dan program pembangunan untuk mewujudkan masyarakat Kota Ternate
yang sejahtera dan terdepan. Reposisi berarti juga pelaksanaan peran dan fungsi
Pemerintah Pusat di daerah secara bijak dan bertanggung jawab. Dengan demikian,
pelaksanaan otonomi daerah akan mendorong kemandirian daerah dengan pengelolaan
pembangunan yang lebih efektif, efisien dan produktif.

Reposisi juga berkaitan dengan perubahan paradigma dari penerima yang pasif menjadi
penyumbang yang aktif pada pencapaian tujuan pembangunan, dan perubahan
paradigma dari mengatur ke dalam (inward looking) menjadi mencari ke luar (outward
looking). Reposisi ini berarti kemajuan hanya dapat dicapai melalui upaya sinergis
yang memadukan semua unsur kekuatan dan berbasis pada kemampuan daerah. Oleh
karena itu, kerjasama antar daerah yang saling menguntungkan harus dibangun secara
intensif sebagai sarana percepatan pembangunan. Reposisi tersebut mengharuskan
perbedaan pola kerja dari para pimpinan di lingkungan Pemerintah Kota Ternate agar
tidak sepenuhnya menggantungkan pada kekuatan sumbedaya alam, manusia, dan
buatan yang tersedia, tetapi harus mampu membangun jejaring yang luas dalam
pembiayaan, pengembangan pasar, dan investasi.

88 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Konsekuensi dari paradigma baru tersebut adalah perbaikan pelayanan ke dalam


dan kemudahan akses dan kepercayaan yang tinggi dari luar. Pimpinan daerah
harus mampu menjadi pembangun birokrasi yang bersih dengan pelayanan efektif
dan efisien. Pemikiran ini juga sejalan dengan arah baru pembangunan daerah yang
menuju kemandirian ekonomi yang berarti menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

6.1.3 Revitalisasi
Bertolak dari pemikiran Reorientasi dan Reposisi, Pemerintah Kota Ternate sebagai
perencana, pelaksana, dan penyediaan dana pembangunan harus melakukan
revitalisasi dalam merumuskan satu acuan pembangunan sebagai peta jalan (road
map) menuju kesejahteraan. Perencanaan merupakan kewajiban pimpinan tertinggi
di daerah yang didelegasikan kepada SKPD terkait. Kelemahan di masa lalu adalah
perencanaan pembangunan dilakukan secara parsial menurut masing-masing sektor.
Dengan demikian, rencana pembangunan merupakan mosaik yang terlepas satu
dengan lainnya.

Revitalisasi dimaksudkan untuk menguatkan kembali (revitalisasi) perencanaan


pembangunan dan lembaga perencana. Dalam satu daerah hanya ada satu rencana
pembangunan induk yang menjadi acuan semua pihak terkait dan bertanggungjawab
dalam pelaksanaan dan pembiayaan. Hal ini memungkinkan terjadinya keterpaduan
dalam pelaksanaan pembangunan sehingga lebih efektif, efisien dan profesional.

Selain itu, revitalisasi dimaksudkan untuk mengangkat nilai budaya dalam menyusun
perencanaan pembangunan sehingga ciri khas daerah menjadi yang utama dan nyata.
Kedudukan pimpinan atau perencana tradisional perlu dilibatkan untuk mewarnai
pembangunan dengan potensi dan kearifan lokal. Dalam perspektif ini, peningkatan
kesejahteraan masyarakat menjadi sesuai dengan nilai-nilai budaya, norma, dan
kearifan daerah serta adat se atoran.

Bab VI 89
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.2. STRATEGI INTI


Strategi inti merupakan manajemen Pemerintah Kota Ternate untuk mempercepat
masa transisi, menata diri, dan mendorong perubahan mendasar dalam manajemen
Pemerintah Kota Ternate yang lebih transparan, fleksibel, partisipatif, akuntabel dan
kerjasama organisasi yang saling melengkapi.

Manajemen pemerintahan Kota Ternate bertumpu pada pimpinan yang berkualitas


dan berpengalaman dengan ciri mempunyai karakter, kompetensi pribadi, kompetensi
kelompok, fokus kepada hasil dan memimpin perubahan organisasi. Pemimpin yang
berkualitas dihasilkan dari proses pembelajaran, pengembangan diri, dan peningkatan
kompetensi.

Dalam menghadapi permasalahan dan tantangan Kota Ternate yang semakin kompleks
dan dinamis, Pemerintah Kota Ternate dituntut untuk bekerja lebih profesional dalam
meningkatkan mutu, efisiensi dan efektivitas pembangunan, dengan memperhatikan
kaidah pembangunan berkelanjutan serta menjaga keserasian, keseimbangan dan
keselarasan aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Dalam upaya menjamin terlaksananya
tiga arus utama perubahan, strategi yang diperlukan meliputi: (1) pemimpin berkualitas
dan berpengalaman, (2) azas organisasi, (3) budaya organisasi, (4) sentralisasi
perencanaan dan desentralisasi pelaksanaan pembangunan dan (5) pengembangan
SDM.

6.2.1 Pemimpin Berkualitas dan Berpengalaman


Pimpinan di lingkungan Pemerintahan Kota Ternate dituntut mempunyai kemampuan
manajerial yang berkualitas dan berpengalaman. Di satu sisi, dia harus mampu
dan kompeten dalam manajemen pembangunan seperti administrasi keuangan,
akuntansi, optimasi sumberdaya, dan metode perencanaan berjaringan. Di sisi lain,
dia dituntut untuk mampu dan kompeten dalam kepemimpinan termasuk komunikasi,
negosiasi, pencapaian konsensus, musyawarah sampai sosialisasi program. Selain itu,
pimpinan harus memiliki kompetensi dalam perencanaan, pencarian alternatif sumber
pembiayaan dan pelaksana pembangunan.

90 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.2.2 Azas Organisasi


Penyelenggaraan pemerintahan Kota Ternate harus dikelola dengan mengikuti
azas organisasi sesuai prinsip kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu
transparansi, partisipasi dan akuntabilitas. Selain itu, penyelenggaraan pemerintahan
perlu didukung oleh interaksi semua tingkatan dan elemen organisasi secara terbuka,
aktif berkontribusi dan bertanggungjawab atas pelaksanaan tugas dan fungsi dalam
mencapai tujuan secara kolektif.

Prinsip transparansi adalah upaya menciptakan kepercayaan timbal balik antara


pimpinan, anggota dan pemangku kepentingan melalui penyediaan informasi dan
menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
Prinsip partisipasi adalah upaya mendorong setiap pemangku kepentingan untuk
menggunakan hak menyampaikan pendapat baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan publik.
Prinsip akuntabilitas adalah perwujudan kewajiban bagi seluruh aparat Pemerintah
Kota Ternate untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan atau kegagalan
perwujudan misi organisasi dan pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
melalui alat pertanggungjawaban secara periodik.

6.2.3 Budaya Organisasi


Budaya organisasi merupakan suatu tatanan yang telah tertanam pada tiap individu
dalam organisasi kemudian mengakar dan tumbuh dalam bentuk perilaku dan sikap
keseharian. Perubahan dalam tubuh Pemerintah Kota Ternate secara otomatis harus
diikuti oleh pergeseran budaya organisasi dan peningkatan kinerja organisasi.
Pergeseran budaya organisasi yang terjadi harus berpegang teguh pada semua fungsi
Pemerintah Kota Ternate mulai dari perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan
pembangunan dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) integritas dengan menjunjung
nilai-nilai moral, jujur, transparan, serta taat terhadap peraturan yang ada; (2)
profesionalisme dengan berusaha meningkatkan kinerja lebih bermutu, efisien, dan
bertanggungjawab, serta dengan kekuatan dan peluang yang ada, mampu menghadapi
tantangan dan memperbaiki kelemahan; (3) berpihak kepada petani dan nelayan
serta masyarakat ekonomi lemah dalam semua kebijakan dan tindakan dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat; (4) pencapaian tujuan

Bab VI 91
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

pembangunan, yaitu seluruh aparat di lingkungan Pemerintah Kota Ternate secara


terus menerus meningkatkan kinerja; dan (5) sumberdaya manusia yang kompeten,
kapabel dan bertanggungjawab sebagai tiang utama pemerintahan yang tangguh dan
handal yang dikembangkan melalui perekrutan, pembinaan, pendidikan, dan pelatihan
yang berkualitas dan berkelanjutan.

6.2.4 Sentralisasi Perencanaan dan Desentralisasi Pelaksanaan


Pembangunan

Keterpaduan pembangunan adalah kunci pelaksanaan yang efektif dan efisien dalam
pencapaian tujuan. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan sentralisasi perencanaan di
bawah koordinasi Bappeda. Sentralisasi perencanaan dimaksudkan untuk mendorong
koordinasi, sinkronisasi dan sinergi berbagai kebijakan, program dan kegiatan dari
seluruh SKPD dalam mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang termuat dalam
11 (sebelas) program prioritas pembangunan Kota Ternate dalam periode 2011-2015.
Dengan melaksanakan rencana yang dibuat dan disepakati bersama, setiap SKPD
dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan
capaian sesuai rencana. Selain itu, sentralisasi perencanaan juga mencegah tumpang
tindih dan duplikasi, yang menyebabkan pengurasan dan pemborosan sumberdaya
pembangunan.

6.2.5 Pengembangan SDM


Pengembangan SDM diarahkan pada penataan dan perubahan mendasar dalam
tatakelola pemerintahan yang menyangkut penyiapan standar baku pelaksanaan
(SOP-Standard Operating Procedure), data dasar pegawai, kebijakan kepegawaian dan
penyiapan kemampuan SDM sesuai dengan kompetensi bidang tugas. Pengembangan
SDM akan ditempuh melalui: (1) pengembangan kompetensi sumberdaya manusia
dengan pendidikan dan pelatihan; (2) penuntasan perubahan budaya dari pemanfaatan
anggaran ke budaya peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan masyarakat
dan administrasi pemerintahan; (3) rotasi penugasan dan pelatihan sebagai sarana
peningkatan mutu SDM, dan (4) rekruitmen tenaga secara profesional sesuai
kebutuhan.

92 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


Strategi pembangunan Kota Ternate Tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut :

6.3.1 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 1


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 1 : Peningkatan dan Penataan
Infrastruktur Perkotaan serta Percepatan dan Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah
Kecamatan, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Mempercepat pembangunan sarana infrastruktur wilayah di luar kawasan perkotaan
berupa pemerataan pelayanan Air Bersih dan pelayanan Listrik pada Kecamatan Hiri,
Moti dan Batang Dua.

Tabel VI.1
Program Prioritas Pertama :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Peningkatan Percepatan Mempercepat Mempercepat
Pemerataan dan Penataan pengembangan pembangunan pembangunan sarana
Pembangunan, Perkotaan serta infrastruktur sarana infrastruktur wilayah
Akses Percepatan dan secara merata dan infrastruktur pada kecamatan-
Perekonomian Pemerataan berkeadilan, terutama wilayah di kecamatan di luar
dan Infrastruktur pada kecamatan- luar kawasan kawasan perkotaan.
Kesejahteraan. pada Wilayah kecamatan di luar perkotaan berupa Pemerataan pelayanan
Masalah Kecamatan kawasan perkotaan pemerataan Air Bersih pada
Penataan untuk membuka pelayanan Air kawasan dataran tinggi
Kawasan keterisolasian, serta Bersih dan di pulau Ternate dan
Perkotaan memungkinkan pelayanan Listrik pada kecamatan di
terjadinya mobilitas pada kecamatan luar Ternate (Hiri, Moti
arus barang dan Hiri, Moti dan dan Batang Dua).
manusia yang Batang Dua. Pemerataan pelayanan
mempercepat Listrik pada Kelurahan
perkembangan secara yang tidak terjangkau
merata pada semua layanan PLN, melalui
wilayah kecamatan sumber energi
alternatif lainnya
Sumber: Analisis 2010

Bab VI 93
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3.2 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 2


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 2 : Mewujudkan Pendidikan Murah,
Terjangkau dan Berkualitas, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, pemerataan tenaga pengajar dan
peningkatan mutu pendidikan pada semua tingkatan dengan alokasi dana penunjang
melalui APBD, serta pemberian beasiswa dan insentif.

Tabel VI.2.
Program Prioritas Kedua :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Mewujudkan Peningkatan Meningkatkan Memperbaiki sarana pendidikan, pemera-
Pemerataan Pendidikan Sumber Daya sarana dan taan tenaga pengajar dan peningkatan
Pembangunan, Murah, Manusia, prasarana mutu pendidikan pada semua tingkatan.
Akses Terjangkau khususnya pendidikan, Mewujudkan Pendidikan Dasar yang
Perekonomian dan peningkatan pemerataan berkualitas dengan mengalokasi dana
dan Berkualitas derajat tenaga penunjang kegiatan sekolah melalui
Kesejahteraan. Pendidikan pengajar dan APBD untuk menutupi kekurangan Dana
Masalah melalui peningkatan Bantuan Operasional sekolah.
Pendidikan, perluasan mutu Menyediakan buku pelajaran di Perpus-
Kesehatan akses pendidikan takaan Sekolah untuk meningkatkan
pendidikan pada semua kualitas pendidikan dan mengurangi
yang tingkatan beban Orang Tua Siswa.
murah dan dengan Memfasilitasi dan Membantu Guru untuk
terjangkau, alokasi dana Mendapatkan Gelar S1.
sarana dan penunjang Memberikan Beasiswa kepada Pelajar
fasilitas yang melalui Berprestasi mulai SD, SMP, SMA,
memadai, APBD, serta Perguruan Tinggi dan Pasca Sarjana,
tenaga guru pemberian yang diprioritaskan pada siswa dari
yang cukup, beasiswa dan Warga Kurang Mampu dengan indikator
dan mutu insentif. penilaian yang terukur dan konsisten.
yang terus Memberikan beasiswa kepada guru
membaik berprestasi untuk melanjutkan studi ke
jenjang yang lebih tinggi yang disesuai-
kan dengan kebutuhan pengembangan
mutu pendidikan di daerah.
Memberikan insentif kepada guru yang
bertugas di daerah terpencil, atau
daerah dengan jarak jangakauan dan
tingkat kesulitan transportasi
Sumber: Analisis 2010

94 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3.3 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 3


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 3 : Mewujudkan Kesehatan Murah,
Terjangkau dan Berkualitas, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan, untuk menjamin kualitas pelayanan
kesehatan masyarakat secara efektif dan tepat sasaran, yang menjangkau seluruh
masyarakat miskin.

Tabel VI.3
Program Prioritas Ketiga :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Mewujudkan Meningkatkan Menin- Perbaikan sarana prasarana Pelayanan
Pemerataan Kesehatan Sumber Daya gkatkan Kesehatan, Ketersediaan Dokter dan
Pembangunan, Murah, Manusia, sarana dan Tenaga Keperawatan, serta obat-
Akses Terjangkau melalui prasarana obatan pada setiap Puskesmas/Pustu/
Perekonomian dan peningkatan kesehatan, Polindes, untuk menjamin kualitas
dan Berkualitas derajat untuk pelayanan kesehatan masyarakat.
Kesejahteraan. kesehatan menjamin Memberikan insentif kepada bidan desa
Masalah dengan kualitas atau tenaga kesehatan di daerah ter-
Pendidikan, perluasan pelayanan pencil, atau daerah dengan jangkauan
Kesehatan akses yang kesehatan dan tingkat kesulitan transportasi.
mudah, masyarakat Memberikan beasiswa kepada dokter,
murah, secara efek- tenaga medis putera/puteri daerah ber-
terjangkau, tif dan tepat prestasi terutama dari keluarga kurang
dukungan sasaran, mampu untuk melanjutkan ke jenjang
sarana dan yang men- spesialis atau ke jenjang pendidikan
fasilitas jangkau lebih tinggi.
memadai, seluruh Pelayanan Jamkesda, secara efektif, te-
ketersediaan masyarakat pat sasaran, pelayanan yang menjang-
dokter, tenaga miskin. kau seluruh masyarakat miskin, dengan
kesehatan dan pengawasan dan evaluasi berkala agar
keperawatan penyelenggarannya terus diperbaiki.
yang cukup, Menetapkan kebijakan subsidi silang;
dan mutu setiap pasien rawat inap pengguna fasili-
pelayanan tas VIP, Kelas I, dan Kelas II, mensubsidi
yang terus pasien kurang mampu yang meng-
membaik. gunakan fasilitas rawat inap kelas III.
Memberikan layanan Ambulance dan
Mobil Jenazah Gratis serta menggratis-
kan Layanan Bersalin untuk Warga
Kurang Mampu
Sumber: Analisis 2010

Bab VI 95
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3.4 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 4


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 4 : Kebijakan Anggaran (APBD) yang
Proporsional dan Pro Rakyat, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Menetapkan One Village One Program dengan penguatan pada kapasitas aparatur,
serta membangun rumah Layak Huni Keluarga Kurang Mampu dengan dana stimulus
Pemerintah Daerah yang melibatkan keswadayaan masyarakat melalui budaya Gotong
Royong atau Bari.

Tabel VI.4
Program Prioritas Keempat :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Kebijakan Terwujudnya Menetapkan Menetapkan One
Pemerataan Anggaran kebijakan Anggaran One Village One Village One Program
Pembangunan, (APBD) yang (APBD) yang Program dengan (satu Kelurahan, satu
Akses Proporsional proporsional dan penguatan Program Unggulan),
Perekonomian dan dan Pro Pro Rakyat, yang pada kapasitas yang didahului dengan
Kesejahteraan. Rakyat diprioritaskan pada aparatur, serta penguatan kapasitas
Masalah Sosial upaya pemenuhan membangun Aparatur, pemantapan
Budaya dan kebutuhan rakyat rumah Layak Huni Visi Misi Kelurahan
Keagamaan. serta membiayai Keluarga Kurang dan identifikasi potensi
Masalah Keuangan program Mampu dengan unggulan setiap
dan Kemandirian pembangunan dana stimulus Kelurahan.
Fiskal yang strategis, juga Pemerintah Membangun rumah
program populis Daerah yang Layak Huni Keluarga
yang menyentuh melibatkan Kurang Mampu melalui
kebutuhan dasar keswadayaan dana stimulus Pemerin-
masyarakat, masyarakat tah Daerah dengan cara
melalui desain melalui budaya menggalang keswadaya-
program berbasis Gotong Royong an masyarakat (Gotong
keswadayaan dan atau Bari. Royong/Bari).
berciri budaya Membangun
infrastruktur lingkungan
melalui dana
stimulus Pemerintah
Daerah dengan
cara menggalang
keswadayaan
masyarakat (Gotong
Royong/Bari)

96 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN


Santunan Kematian
Warga Kurang Mampu.
Bantuan Dana Rutin
untuk Masjid/Gereja
dan tempat ibadah
lainnya.
Dana Pembinaan
Generasi Muda untuk
kegiatan usaha
produktif dan atau
pengembangan
prestasi, minat dan
bakat.
Menggalang kerjasama
dengan Perguruan
Tinggi dan Lembaga
Swadaya Masyarakat
dalam melakukan
pendampingan terhadap
One Village One
Program

Sumber: Analisis 2010

6.3.5 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 5


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 5 : Penataan, Pengendalian dan
Pemanfaatan Ruang Kota yang Serasi Antara Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan,
antar Aspek Topografi dan Kawasan Pantai/Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian
Lingkungan Sosial Budaya dan Ekologis, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Penataan kawasan tapak I plus, tapak II dan penataan taman kota serta ruang terbuka
hijau perkotaan sebagai area publik yang asri, nyaman dan tertib dan mendorong
partisipatif untuk mewujudkan Ternate sebagai Kota Pantai yang Hijau, Asri, Bersih,
Nyaman, dan Ramah Lingkungan.

Bab VI 97
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VI.5
Program Prioritas Kelima :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Penataan, Penataan Penataan Penataan kawasan
Penataan Pengendalian infrastruktur kawasan tapak Pasar Gamalama,
Kawasan dan Pemanfaatan perkotaan sebagai I plus, tapak II tapak I plus dan tapak
Perkotaan. Ruang Kota yang kota jasa dan dan penataan II, sebagai sentra
Masalah Banjir, Serasi Antara perdagangan taman kota serta perekonomian modern
Sampah dan Kebutuhan dan dengan ruang terbuka dengan aksentuasi
pengelolaan Daya Dukung pemanfaatan ruang hijau perkotaan ornamen kebudayaan
Lingkungan Lahan, antar kota secara terpadu sebagai area lokal.
Hidup Aspek Topografi untuk mendukung publik yang Mengoptimalkan
dan Kawasan interaksi spasial, asri, nyaman Pasar Bastiong, Pasar
Pantai/Pesisir mobilitas dan dan tertib dan Dufa-dufa, Pasar
Berbasis aktivitas perkotaan mendorong Kotabaru dan Pasar
Keterpaduan yang tertib menuju partisipatif untuk Sasa sebagai pasar
dan Keserasian terwujudnya Kota mewujudkan tradisional dengan
Lingkungan Sosial Ternate yang Ternate sebagai dukungan regulasi
Budaya dan harmoni, sehat, Kota Pantai pemerintah.
Ekologis aman dan nyaman yang Hijau, Asri, Penataan taman kota
dan berciri budaya Bersih, Nyaman, dan ruang terbuka
serta berwawasan dan Ramah hijau kawasan
lingkungan Lingkungan. perkotaan sebagai
area publik yang asri,
nyaman dan tertib.
Pemantapan Visi dan
penataan kawasan Kota
Baru berbasis pendi-
dikan dan berciri lokal
secara terpadu dan
akomodatif terhadap
masyarakat setempat.
Penataan area depan
kedaton kesultanan,
lapangan Ngara Lamo,
Dodoku Ali sebagai
ruang terbuka hijau
berciri budaya, yang
dijadikan alun-alun
kota dan taman
ekspresi seni budaya

98 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN


Mendorong program
partisipatif untuk
mewujudkan Ternate
sebagai Kota Pesisir
yang Hijau, Asri,
Bersih, Nyaman, dan
Ramah Lingkungan.
Mewujudkan Ternate
Bebas Sampah dan
Bebas Banjir, yang
diutamakan pada
kawasan perkotaan
dan kawasan lainnya
yang menimbulkan
kesan kumuh
Sumber: Analisis 2010

6.3.6 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 6


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 6 : Mewujudkan Tata Pemerintahan
yang Baik, dengan Kapasitas Sumber Daya Aparatur yang Profesional, Bersih dan
Berwibawa, serta Birokrasi yang Efisien, Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif, strategi
pembangunan yang ditempuh adalah:
Melakukan penataan organisasi perangkat daerah guna mewujudkan aparatur
pemerintahan yang profesional, bersih (bebas KKN), kreatif, inovatif dan responsif
dalam optimalisasi kinerja fungsi dan tugasnya.

Bab VI 99
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VI.6
Program Prioritas Keenam :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU
TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
STRATEGIS
Masalah Mewujudkan Terwujudnya Melakukan Melakukan penataan organisasi
Sumber Daya Tata good penataan perangkat daerah yang efektif dan
Pemerintahan Pemerintahan government, organisasi efisien.
dan Pelayanan yang Baik, dengan perangkat Mewujudkan aparatur
Publik dengan sumberdaya daerah guna pemerintahan yang profesional,
Kapasitas aparatur yang mewujudkan bersih (bebas KKN), kreatif, inovatif
Sumber Daya profesional, aparatur dan responsif dalam optimalisasi
Aparatur yang kreatif, inovatif, pemerintahan kinerja fungsi dan tugasnya.
Profesional, yang mampu yang Mengubah mainset aparatur yang
Bersih dan menjamin profesional, berorientasi program dengan target
Berwibawa, peningkatan bersih (bebas serta manfaat terukur, aparatur
serta Birokrasi kualitas KKN), kreatif, yang berkarakter demokratis
yang Efisien, pelayanan, inovatif dan dan terbuka dalam memberikan
Efektif, Kreatif, akuntabilitas responsif pelayanan publik yang berkualitas.
Inovatif dan dan dalam Menyelenggarakan prinsip reward
Responsif; kemandirian optimalisasi and punishman untuk menilai
masyarakat kinerja fungsi kinerja dan prestasi aparatur dalam
dan tugasnya. rotasi maupun promosi jabatan.
Mengembangkan kompetensi
sumber daya aparatur yang
diorientasikan pada peningkatan
skill dan ketrampilan yang benar-
benar dibutuhkan.
Penyerahan urusan (kewenangan)
dari Pemerintah Kota kepada
Kecamatan dan Kelurahan di
bidang pelayanan umum
Sumber: Analisis 2010

6.3.7 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 7


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 7 : Peningkatan Ekonomi Rakyat,
melalui Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perluasan Lapangan
Kerja, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:

100 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Meningkatkan pengembangan Koperasi dan UMKM serta Pedagang Tradisional dan


PKL dengan memberikan kemudahan izin usaha pada masyarakat kurang mampu
serta memberikan kepastian hukum dan kemudahan izin usaha bagi Investor.

Tabel VI.7
Program Prioritas Ketujuh :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU
TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
STRATEGIS
Masalah Peningkatan Meningkatkan Meningkatkan Memberikan kemudahan
Pemerataan Ekonomi kesejahteraan pengembangan izin usaha pada masyarakat
Pembangunan, Rakyat, melalui masyarakat Koperasi dan kurang mampu.
Akses Pengembangan Petani, UMKM serta Memberikan kepastian
Perekonomian Koperasi, Usaha Nelayan, Pedagang hukum dan kemudahan izin
dan Mikro Kecil Pekebun, Tradisional dan usaha bagi Investor.
Kesejahteraan. Menengah Peternak, PKL dengan Pengembangan Koperasi,
Masalah dan Perluasan Buruh dan memberikan UMKM, Pedagang Tradisional
Pertumbuhan Lapangan Kerja Pekerja, kemudahan dan PKL melalui fasilitas
Ekonomi yang Koperasi, izin usaha pada bantuan modal usaha,
Berkualitas Usaha masyarakat berupa dana bergulir atau
Mikro Kecil kurang pinjaman lunak, dengan
Menengah mampu serta pendampingan manajemen,
(UMKM), memberikan penyediaan sarana produksi
Pedagang kepastian dan akses pasar.
Kaki Lima, hukum dan Meningkatkan Kesejahteran
dan Pedagang kemudahan Buruh dan Pekerja pada
Tradisional, izin usaha bagi sektor swasta melalui
menuju pada Investor. peningkatan Upah Minimum
kemandirian Kota.
dan Memberikan bantuan modal
kemampuan usaha kepada Kelompok
memenuhi Perempuan, dan Kelompok
kebutuhan Pemuda.
dasar (basic Menggalakkan kursus
need). dan pelatihan kepada
pengangguran terbuka
unskill, untuk diarahkan
pada usaha kecil menengah
yang didukung penyertaan
modal dan pendampingan
manajemen
Sumber: Analisis 2010

Bab VI 101
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3.8 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 8


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 8 : Pelayanan Publik yang Cepat,
Murah dan Mudah, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Membangun pelayanan satu titik (one stop services), untuk pelayanan publik, sehingga
dapat mewujudkan pelayanan yang efektif dan efisien.

Tabel VI.8
Program Prioritas Kedelapan:
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Pelayanan Terwujudnya Membangun Membentuk Lembaga
Sumber Daya Publik yang pelayanan pelayanan satu Perijinan dalam
Pemerintahaan Cepat, Murah publik oleh titik (one stop mengoptimalkan pelayanan
dan Pelayanan dan Mudah aparatur yang services), untuk kepada masyarakat.
Publik profesional, pelayanan Menghilangkan segala
dengan publik, bentuk Pungutan Liar yang
pelayanan sehingga dapat menyebabkan ekonomi
yang cepat, mewujudkan biaya tinggi dan merusak
mudah, murah, pelayanan yang citra pelayanan publik.
nyaman dan efektif dan Menyediakan Database
berkualitas efisien. Kependudukan Online.
Pelayanan Pembuatan KTP,
KK dan Akta Kelahiran
Gratis dan dilimpahkan
ke Kelurahan agar
lebih mudah dijangkau
masyarakat
Sumber: Analisis 2010

6.3.9. Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 9


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 9 : Pengembangan Masyarakat
Kawasan Pesisir Secara Berkelanjutan, strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Pemetaan potensi masyarakat pesisir, penyediaan sarana prasarana nelayan serta memberi-
kan bantuan modal usaha dan pendampingan, serta kerjasama dengan Perguruan Tinggi
dan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam melakukan pedampingan pemberdayaan.

102 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VI.9.
Program Prioritas Kesembilan :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Pengembangan Peningkatan Pemetaan Melakukan pemetaan
Pemerataan Masyarakat kemandirian potensi potensi masyarakat
Pembangunan, Kawasan masyarakat, masyarakat pesisir untuk
Akses Pesisir Secara melalui pesisir, merumuskan program
Perekonomian Berkelanjutan pengembangan penyediaan pengembangan yang
dan ekonomi sarana prasarana tepat.
Kesejahteraan. kerakyatan nelayan serta Bantuan fasilitas sarana
Masalah berbasis potensi memberikan dan peralatan kepada
Penataan pesisir, melalui bantuan modal Petani dan Nelayan
Kawasan pengembangan usaha dan untuk meningkatkan
Perkotaan. usaha mikro pendampingan, produktifitasnya.
Masalah kecil, menengah, serta kerjasama Memberikan bantuan
Pertumbuhan koperasi yang dengan modal usaha dan
Ekonomi yang mengarah pada Perguruan Tinggi pendampingan kepada
Berkualitas produktifitas, dan dan Lembaga kegiatan pengolahan
kemampuan daya Swadaya hasil produksi pertanian
saing. Masyarakat dan perikanan.
dalam Melakukan kerjasama
melakukan dengan Perguruan Tinggi
pedampingan dan Lembaga Swadaya
pemberdayaan. Masyarakat dalam
melakukan pedampingan
pemberdayaan
Sumber: Analisis 2010

6.3.10 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 10


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 10 : Membangun Kepedulian Sosial,
Kesadaran Nilai Keagamaan, Kebudayaan dan Adat Istiadat, strategi pembangunan
yang ditempuh adalah:
Meningkatkan pembinaan kerukunan antar Umat Beragama, antar Suku, Etnis dan
Subetnis, melalui penguatan Kurikulum Pendidikan Agama dan kurikulum Muatan
Lokal tentang Budaya dan Adat Istiadat Ternate.

Bab VI 103
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VI.10
Program Prioritas Kesepuluh :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Sosial Membangun Menjawab Meningkatkan Penguatan Kurikulum
Budaya dan Kepedulian permasalahan pembinaan Pendidikan Agama dan
Keagamaan Sosial, perkotaan kerukunan Kurikulum Muatan Lokal tentang
Kesadaran seperti antar Umat Budaya dan Adat Istiadat
Nilai menurunnya Beragama, Ternate pada semua tingkatan
Keagamaan, kesadaran antar Suku, Sekolah sejak Pendidikan Usia
Kebudayaan spiritualitas Etnis dan Dini hingga Perguruan Tinggi.
dan Adat keberagamaan, Subetnis, Mengoptimalkan fungsi Taman
Istiadat solidaritas sosial melalui Pengajian Al-Quran sebagai
dan kesadaran penguatan tempat pendidikan baca tulis Al-
kebudayaan Kurikulum Quran, sekaligus memberikan
sebagai identitas Pendidikan pemahaman tentang syariah,
daerah dan jati Agama dan Akhlaq, Budi Pekerti sejak Usia
diri masyarakat, Kurikulum Dini dan Sekolah Dasar.
meningkatkan Muatan Lokal Mengoptimalkan pembinaan
etos sosial, dan tentang Jemaat dan pembinaan Umat
optimalisasi Budaya dan Agama non Muslim sesuai
penanggulangan Adat Istiadat dengan syariat agamanya.
masalah- Ternate. Membina Kerukunan antar
masalah sosial Umat Beragama, antar Suku,
seperti minuman Etnis dan Subetnis, melalui
keras, PSK, kegiatan Sosial Keagamaan dan
narkoba serta Kebudayaan. Memanfaatkan
permasalahan momentum Hari-hari Besar
sosial lainnya. Nasional, Hari-hari Besar
Keagamaan dan Hari-hari
Besar Daerah dengan kegiatan
bernuansa Keagamaan dan
Kebudayaan. Melestarikan Situs,
Artifak, dokumen sejarah dan
Aset Seni Budaya Kota Ternate.
Menjamin Kesejahteraan Imam
Mesjid, Pendeta, Guru Mengaji,
Guru TPA dan Pembimbing
Jemaat.
Menjamin pelestarian adat dan
budaya Ternate
Sumber: Analisis 2010

104 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

6.3.11 Strategi dan Arah Kebijakan Mewujudkan Program Prioritas 11


Dalam upaya mewujudkan Program Prioritas 11 : Penegakan Supremasi Hukum,
Hak Azasi Manusia, untuk Mendorong Partisipasi Publik yang Dinamis dan Konstruktif,
strategi pembangunan yang ditempuh adalah:
Memperkuat regulasi terhadap partisipasi publik yang dinamis, efektif dan
bertanggungjawab dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dengan
mengutamakan Standar Pelayanan Minimal pada bidang pelayanan dasar untuk
publik.

Tabel VI.11
Program Prioritas Kesebelas :
Isu Strategis, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN
Masalah Penegakan Menjawab Memperkuat Mendorong regulasi daerah
Sumber Daya Supremasi masalah regulasi terhadap yang menjamin kepastian
Pemerintahaan Hukum, penegakan partisipasi publik hukum dan kemudahan
dan Pelayanan Hak Azasi dan kepastian yang dinamis, investasi.
Publik. Manusia, untuk hukum di efektif dan Memperkuat regulasi
Masalah Mendorong daerah, bertanggungjawab terhadap partisipasi publik
Keuangan dan Partisipasi termasuk upaya dalam yang dinamis, efektif dan
Kemandirian Publik yang mengadakan mewujudkan bertanggungjawab dalam
Fiskal Dinamis dan regulasi daerah transparansi dan mewujudkan transparansi
Konstruktif yang mampu akuntabilitas dan akuntabilitas.
mendorong dengan Memperkuat regulasi
partisipasi mengutamakan yang menjamin Standar
publik yang Standar Pelayanan Pelayanan Minimal pada
dinamis dan Minimal pada bidang pelayanan dasar
konstruktif, bidang pelayanan untuk publik.
serta regulasi dasar untuk Meninjau kembali
untuk menjamin publik. Peraturan Daerah yang
kualitas berdampak pada tidak
pelayanan kondusifnya keuangan
publik. daerah, terjadinya
ekonomi biaya tinggi, dan
menghambat pertumbuhan
ekonomi rakyat.

Bab VI 105
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

ISU STRATEGIS TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN


Memberikan layanan
bantuan hukum secara
gratis kepada warga
kurang mampu yang
membutuhkannya.
Melakukan kerjasama
dengan Perguruan Tinggi
dan Lembaga Swadaya
Masyarakat, Ormas dan
OKP dalam melakukan
kampanye dan advokasi
hak-hak hukum kepada
masyarakat
Sumber: Analisis 2010

106 Bab VI
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB VII
KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN
DAERAH

7.1 PROGRAM PRIORITAS


Dengan memperhatikan visi, misi, strategi dan arah kebijakan pembangunan Kota
Ternate, program prioritas pembangunan Kota Ternate Tahun 2011-2015 adalah
sebagai berikut:
1. Peningkatan dan Penataan Infrastruktur Perkotaan serta Percepatan
dan Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan, dengan kegiatan
pokok sebagai berikut:
a. Mempercepat pembangunan sarana infrastruktur wilayah pada kecamatan-
kecamatan di luar kawasan perkotaan.
b. Pemerataan pelayanan air bersih pada kawasan dataran tinggi di Pulau
Ternate dan pada kecamatan di luar Ternate (Hiri, Moti dan Batang Dua)
c. Pemerataan pelayanan listrik pada Kelurahan yang tidak terjangkau layanan
PLN, melalui sumber energi alternatif lainnya.

2. Mewujudkan Pendidikan Murah, Terjangkau dan Berkualitas, dengan


kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Memperbaiki sarana pendidikan, pemerataan tenaga pengajar dan
peningkatan mutu pendidikan pada semua tingkatan.
b. Mewujudkan Pendidikan Dasar yang berkualitas dengan mengalokasi dana
penunjang kegiatan sekolah melalui APBD untuk menutupi kekurangan Dana
Bantuan Operasional sekolah.
c. Menyediakan Buku Pelajaran di Perpustakaan Sekolah untuk Meningkatkan
Kualitas Pendidikan dan Mengurangi Beban Orang Tua Siswa.

Bab VII 107


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

d. Memfasilitasi dan Membantu Guru untuk Mendapatkan Gelar S1.


e. Memberikan Beasiswa kepada Pelajar Berprestasi mulai SD, SMP, SMA,
yang diprioritaskan pada siswa dari Warga Kurang Mampu dengan indikator
penilaian yang terukur dan konsisten.
f. Memberikan beasiswa kepada guru berprestasi untuk melanjutkan studi ke
jenjang yang lebih tinggi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan
mutu pendidikan di daerah.
g. Memberikan insentif kepada guru yang bertugas di daerah terpencil, atau
daerah dengan jarak jangkauan dan tingkat kesulitan transportasi.

3. Mewujudkan Kesehatan Murah, Terjangkau dan Berkualitas, dengan


kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Perbaikan sarana prasarana Pelayanan Kesehatan, Ketersediaan Dokter dan
Tenaga Keperawatan, serta obat-obatan pada setiap Puskesmas/Pustu/
Polindes, untuk menjamin kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
b. Memberikan insentif kepada bidan desa atau tenaga kesehatan di
daerah terpencil, atau daerah dengan jangkauan dan tingkat kesulitan
transportasi.
c. Memberikan beasiswa kepada dokter, tenaga medis putera/puteri daerah
berprestasi terutama dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan ke
jenjang spesialis atau ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
d. Pelayanan Jamkesda, secara efektif, tepat sasaran, pelayanan yang
menjangkau seluruh masyarakat miskin, dengan pengawasan dan evaluasi
berkala agar penyelenggaraannya terus diperbaiki.
e. Menetapkan kebijakan subsidi silang; setiap pasien rawat inap pengguna
fasilitas VIP, Kelas I, dan Kelas II, mensubsidi pasien kurang mampu yang
menggunakan fasilitas rawat inap kelas III.
f. Memberikan layanan Ambulance dan Mobil Jenazah Gratis serta menggratis-
kan Layanan Bersalin untuk Warga Kurang Mampu.

4. Kebijakan Anggaran (APBD)


APBD)) yang proporsional dan Pro Rakyat
Rakyat, dengan
kegiatan pokok sebagai berikut:

108 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

a. Menetapkan One Village One Program (satu Kelurahan, satu Program


Unggulan), yang didahului dengan penguatan kapasitas Aparatur,
pemantapan Visi Misi Kelurahan dan identifikasi potensi unggulan setiap
Kelurahan.
b. Membangun rumah Layak Huni Keluarga Kurang Mampu melalui dana stimu-
lus Pemerintah Daerah dengan cara menggalang keswadayaan masyarakat
(Gotong Royong/Bari).
c. Membangun infrastruktur lingkungan melalui dana stimulus Pemerintah
Daerah dengan cara menggalang keswadayaan masyarakat (Gotong Royong/
Bari).
d. Santunan Kematian Warga Kurang Mampu..
e. Bantuan Dana Rutin untuk Masjid/Gereja dan tempat ibadah lainnya
f. Dana Pembinaan Generasi Muda untuk kegiatan usaha produktif dan atau
pengembangan prestasi, minat dan bakat.
g. Menggalang kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya
Masyarakat dalam melakukan pendampingan terhadap One Village One
Program.

5. Penataan, Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Kota yang Serasi


Antara Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan, antar Aspek Topografi
dan Kawasan Pantai/Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian
Lingkungan Sosial Budaya dan Ekologis, dengan kegiatan pokok sebagai
berikut:
a. Penataan kawasan Pasar Gamalama, tapak I plus dan tapak II, sebagai sentra
perekonomian modern dengan aksentuasi ornamen kebudayaan lokal.
b. Mengoptimalkan Pasar Bastiong, Pasar Dufa-dufa, Pasar Kotabaru dan Pasar
Sasa sebagai pasar tradisional dengan dukungan regulasi pemerintah.
c. Penataan taman kota dan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan sebagai
area publik yang asri, nyaman dan tertib.
d. Pemantapan Visi dan penataan kawasan Kota Baru berbasis pendidikan dan
berciri lokal secara terpadu dan akomodatif terhadap masyarakat setempat.

Bab VII 109


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

e. Penataan area depan kedaton kesultanan, lapangan Ngara Lamo, Dodoku


Ali sebagai ruang terbuka hijau berciri budaya, yang dijadikan alun-alun kota
dan taman ekspresi seni budaya.
f. Mendorong program partisipatif untuk mewujudkan Ternate sebagai Kota
Pesisir yang Hijau, Asri, Bersih, Nyaman, dan Ramah Lingkungan.
g. Mewujudkan Ternate Bebas Sampah dan Bebas Banjir, yang diutamakan
pada kawasan perkotaan dan kawasan lainnya yang menimbulkan kesan
kumuh.

6. Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Baik,, dengan Kapasitas


apasitas Sumber
umber
Daya Aparatur
paratur yang Profesional,
rofesional,, Bersih dan Berwibawa, serta Birokrasi
yang Efisien, Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif, dengan kegiatan
pokok sebagai berikut:
a. Melakukan penataan organisasi perangkat daerah yang efektif dan efisien.
b. Mewujudkan aparatur pemerintahan yang profesional, bersih (bebas
KKN), kreatif, inovatif dan responsif dalam optimalisasi kinerja fungsi dan
tugasnya.
c. Mengubah mainset aparatur yang berorientasi program dengan target serta
manfaat terukur, aparatur yang berkarakter demokratis dan terbuka dalam
memberikan pelayanan publik yang berkualitas.
d. Menyelenggarakan prinsip reward and punishman untuk menilai kinerja dan
prestasi aparatur dalam rotasi maupun promosi jabatan.
e. Mengembangkan kompetensi sumber daya aparatur yang diorientasikan
pada peningkatan skill dan ketrampilan yang benar-benar dibutuhkan.
f. Penyerahan urusan (kewenangan) dari Pemerintah Kota kepada Kecamatan
dan Kelurahan di bidang pelayanan umum.

7. Peningkatan Ekonomi Rakyat, melalui pengembangan Koperasi, Usaha


Mikro Kecil Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja,
Kerja dengan kegiatan
pokok sebagai berikut:
a. Memberikan kemudahan izin usaha pada masyarakat kurang mampu.
b. Memberikan kepastian hukum dan kemudahan izin usaha bagi Investor.

110 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

c. Pengembangan Koperasi, UMKM, Pedagang Tradisional dan PKL melalui


fasilitas bantuan modal usaha, berupa dana bergulir atau pinjaman lunak,
dengan pendampingan manajemen, penyediaan sarana produksi dan akses
pasar.
d. Meningkatkan Kesejahteran Buruh dan Pekerja pada sektor swasta melalui
peningkatan Upah Minimum Kota.
e. Memberikan bantuan modal usaha kepada Kelompok Perempuan, dan
Kelompok Pemuda.
f. Menggalakkan kursus dan pelatihan kepada pengangguran terbuka unskill,
untuk diarahkan pada usaha kecil menengah yang didukung penyertaan
modal dan pendampingan manajemen.

8. Pelayanan Publik yang Cepat, Murah dan Mudah, dengan kegiatan pokok
sebagai berikut:
a. Membentuk Lembaga Perijinan dalam mengoptimalkan pelayanan kepada
masyarakat.
b. Menghilangkan segala bentuk Pungutan Liar yang menyebabkan ekonomi
biaya tinggi dan merusak citra pelayanan publik.
c. Menyediakan Database Kependudukan Online.
d. Pelayanan Pembuatan KTP, KK dan Akta Kelahiran Gratis dan dilimpahkan ke
Kelurahan agar lebih mudah dijangkau masyarakat.

9. Pengembangan Masyarakat Kawasan Pesisir Secara Berkelanjutan,


dengan kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Melakukan pemetaan potensi masyarakat pesisir untuk merumuskan program
pengembangan yang tepat.
b. Bantuan fasilitas sarana dan peralatan kepada Petani dan Nelayan untuk
meningkatkan produktifitasnya.
c. Memberikan bantuan modal usaha dan pendampingan kepada kegiatan
pengolahan hasil produksi pertanian dan perikanan.
d. Melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya
Masyarakat dalam melakukan pedampingan pemberdayaan.

Bab VII 111


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

10. Membangun Kepedulian Sosial, Kesadaran Nilai Keagamaan,


Kebudayaaan dan Adat Istiadat, dengan kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Penguatan Kurikulum Pendidikan Agama dan Kurikulum Muatan Lokal
tentang Budaya dan Adat Istiadat Ternate pada semua tingkatan Sekolah
sejak Pendidikan Usia Dini hingga Perguruan Tinggi.
b. Mengoptimalkan fungsi Taman Pengajian Al-Quran sebagai tempat
pendidikan baca tulis Al-Quran, sekaligus memberikan pemahaman tentang
syariah, Akhlaq, Budi Pekerti sejak Usia Dini dan Sekolah Dasar.
c. Mengoptimalkan pembinaan Jemaat dan pembinaan Umat Agama non
Muslim sesuai dengan syariat agamanya.
d. Membina Kerukunan antar Umat Beragama, antar Suku, Etnis dan Subetnis,
melalui kegiatan Sosial Keagamaan dan Kebudayaan. Memanfaatkan
momentum Hari-hari Besar Nasional, Hari-hari Besar Keagamaan dan Hari-
hari Besar Daerah dengan kegiatan bernuansa Keagamaan dan Kebudayaan.
Melestarikan Situs, Artifak, dokumen sejarah dan Aset Seni Budaya Kota
Ternate.
e. Menjamin Kesejahteraan Imam Mesjid, Pendeta, Guru Mengaji, Guru TPA
dan Pembimbing Jemaat.
f. Menjamin pelestarian adat dan budaya Ternate.

11. Penegakan Supremasi Hukum, Hak Azasi Manusia, untuk mendorong


Partisipasi Publik yang Dinamis dan Konstruktif, dengan kegiatan pokok
sebagai berikut:
a. Mendorong regulasi daerah yang menjamin kepastian hukum dan kemudahan
investasi.
b. Memperkuat regulasi terhadap partisipasi publik yang dinamis, efektif dan
bertanggungjawab dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas.
c. Memperkuat regulasi yang menjamin Standar Pelayanan Minimal pada
bidang pelayanan dasar untuk publik.
d. Meninjau kembali Peraturan Daerah yang berdampak pada tidak kondusifnya
keuangan daerah, terjadinya ekonomi biaya tinggi, dan menghambat
pertumbuhan ekonomi rakyat.

112 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

e. Memberikan layanan bantuan hukum secara gratis kepada warga kurang


mampu yang membutuhkannya.
f. Melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya
Masyarakat, Ormas dan OKP dalam melakukan kampanye dan advokasi hak-
hak hukum kepada masyarakat.

Berbagai program prioritas di atas akan didukung oleh rangkaian program sesuai
dengan Urusan Wajib dan Urusan Pilihan yang dilaksanakan oleh SKPD di lingkungan
Pemerintah Kota Ternate.

7.2 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


PERTAMA
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Pertama: Peningkatan dan Penataan Infrastruktur
Perkotaan serta Percepatan dan Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan,
program pembangunan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Urusan Wajib Pekerjaan Umum, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pembangunan Jalan dan Jembatan.
(2) Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-gorong.
(3) Program Pembangunan Turap/Talud/Bronjong.
(4) Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan.
(5) Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Talud/Bronjong.
(6) Program Inspeksi Kondisi Jalan dan Jembatan.
(7) Program Tanggap Darurat Jalan dan Jembatan.
(8) Program Pembangunan Sistem Informasi/Data Base Jalan dan Jembatan.
(9) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kebinamargaan.
(10) Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan
Jaringan Pengairan Lainnya.
(11) Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku.
(12) Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan
Sumber Daya Air Lainnya.

Bab VII 113


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(13) Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah.
(14) Program Pengendalian Banjir.
(15) Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh.

b. Urusan Wajib Perumahan, dengan program sebagai berikut:


(1) Program Pengembangan Perumahan.
(2) Program Lingkungan Sehat Perumahan.
(3) Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan.
(4) Program Perbaikan Perumahan Akibat Bencana Alam/Sosial.
(5) Program Peningkatan Kesiagaan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran.

Tabel VII.1
Prioritas Pertama:
Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Arah Kebijakan SKPD
Urusan Program
Kebijakan Umum Pelaksana
Mempercepat Peningkatan Pekerjaan Program Pembangunan Jalan Dinas
pembangunan dan Penataan Umum dan Jembatan. Pekerjaan
sarana Infrastruktur Program Pembangunan Saluran Umum.
infrastruktur Perkotaan Drainase/Gorong-gorong. Kantor
wilayah pada serta Program Pembangunan Turap/ Pemadam
kecamatan- Percepatan Talud/Bronjong. Kebakaran.
kecamatan di dan Program Rehabilitasi/ Badan
luar kawasan Pemerataan Pemeliharaan Jalan dan Penang-
perkotaan. Infrastruktur Jembatan. gulangan
Pemerataan pada Wilayah Program Rehabilitasi/ Bencana
pelayanan Air Kecamatan Pemeliharaan Talud/Bronjong. Daerah.
Bersih pada Program Inspeksi Kondisi Jalan SKPD Lain-
kawasan dan Jembatan. nya Sesuai
dataran Program Tanggap Darurat Jalan TUPOKSI
tinggi di dan Jembatan.
pulau Ternate Program Pembangunan Sistem
dan pada Informasi/Data Base Jalan dan
kecamatan di Jembatan.
luar Ternate Program Peningkatan Sarana
(Hiri, Moti dan dan Prasarana Kebinamargaan
Batang Dua)

114 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Arah Kebijakan SKPD


Urusan Program
Kebijakan Umum Pelaksana
Pemerataan Program Pengembangan dan
pelayanan Pengelolaan Jaringan Irigasi,
Listrik pada Rawa dan Jaringan Pengairan
Kelurahan Lainnya.
yang tidak Program Penyediaan dan
terjangkau Pengelolaan Air Baku.
layanan Program Pengembangan,
PLN, melalui Pengelolaan, dan Konservasi
sumber energi Sungai, Danau dan Sumber
alternatif Daya Air Lainnya.
lainnya Program Pengembangan Kinerja
Pengelolaan Air Minum dan Air
Limbah.
Program Pengendalian Banjir.
Program Pengembangan
Wilayah Strategis dan Cepat
Tumbuh.
Perumahan Program Pengembangan
Perumahan.
Program Lingkungan Sehat
Perumahan.
Program Pemberdayaan
Komunitas Perumahan.
Program Perbaikan Perumahan
Akibat Bencana Alam/Sosial.
Program Peningkatan Kesiagaan
dan Pencegahan Bahaya
Kebakaran.
Sumber : Analisis 2010

7.3 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KEDUA
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Kedua: Mewujudkan Pendidikan Murah, Terjangkau
dan Berkualitas, maka program pembangunan yang akan dilaksanakan adalah sebagai
berikut:
a. Urusan Wajib Pendidikan, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pendidikan Anak Usia Dini.
(2) Program Wajib Belajar 12 tahun.
(3) Program Pendidikan Menengah.

Bab VII 115


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(4) Program Pendidikan Non-Formal.


(5) Program Pendidikan Luar Biasa.
(6) Program Pendidikan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan.
(7) Program Manajemen Pelayanan Pendidikan.
(8) Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan.
(9) Program Manajemen Pelayanan Pendidikan.

Tabel VII.2
Prioritas Kedua:
Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Memperbaiki sarana pendidikan, Mewujudkan Pendidikan Program Dinas
pemerataan tenaga pengajar dan Pendidikan Pendidikan Pendidikan
peningkatan mutu pendidikan Murah, Anak Usia Dini. Nasional.
pada semua tingkatan. Terjangkau Program Wajib Sanggar
Mewujudkan Pendidikan Dasar dan Belajar 12 Kegiatan
yang berkualitas dengan menga- Berkualitas tahun. Belajar.
lokasi dana penunjang kegiatan Program Balai Bahasa
sekolah melalui APBD untuk me- Pendidikan Daerah.
nutupi kekurangan Dana Bantuan Menengah. SKPD Lainnya
Operasional sekolah. Program Sesuai
Menyediakan Buku Pelajaran Pendidikan TUPOKSI
di Perpustakaan Sekolah Non-Formal.
untuk Meningkatkan Kualitas Program
Pendidikan dan Mengurangi Pendidikan
Beban Orang Tua Siswa. Luar Biasa.
Memfasilitasi dan Membantu Program
Guru untuk Mendapatkan Gelar Pendidikan
S1. Mutu Pendidik
Memberikan Beasiswa kepada dan Tenaga
Pelajar Berprestasi mulai SD, Pendidikan.
SMP, SMA, yang diprioritaskan Program
pada siswa dari Warga Kurang Manajemen
Mampu dengan indikator peni- Pelayanan
laian yang terukur dan konsisten Pendidikan.

116 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Memberikan beasiswa kepada Program
guru berprestasi untuk melanjut- Pengembangan
kan studi ke jenjang yang lebih Budaya Baca
tinggi yang disesuaikan dengan dan Pembinaan
kebutuhan pengembangan mutu Perpustakaan.
pendidikan di daerah. Program
Memberikan insentif kepada Manajemen
guru yang bertugas di daerah Pelayanan
terpencil, atau daerah dengan Pendidikan.
jarak jangkauan dan tingkat
kesulitan transportasi
Sumber : Analisis 2010

7.4 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KETIGA
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Ketiga: Mewujudkan Kesehatan Murah, Terjangkau
dan Berkualitas, maka program pembangunan yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut:
Urusan Wajib Kesehatan dengan program sebagai berikut:
(1) Program Obat dan Perbekalan Kesehatan.
(2) Program Upaya Kesehatan Masyarakat.
(3) Program Pengawasan Obat dan Makanan.
(4) Program Pengembangan Obat Asli Indonesia.
(5) Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kesehatan.
(6) Program Perbaikan Gizi Masyarakat.
(7) Program Pengembangan Lingkungan Sehat.
(8) Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular.
(9) Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan.
(10) Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin.
(11) Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskes-
mas/Puskesmas Pembantu dan jaringannya.
(12) Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana RS/RSJ/RS Paru-paru/
RS Mata.

Bab VII 117


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(13) Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/
Rumah Sakit Paru-paru/Rumah Sakit Mata.
(14) Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan Kesehatan.
(15) Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita.
(16) Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia.
(17) Program Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Makanan.
(18) Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak.
(19) Program Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan.
(20) Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kesehatan.
(21) Program Peningkatan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.
(22) Program Kebijakan dan Manajemen Kesehatan.

Tabel VII.3
Prioritas Ketiga:
Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Perbaikan sarana Mewujudkan Kesehatan Program Obat dan Perbeka- Dinas
prasarana Pelayanan Kesehatan lan Kesehatan. Kesehatan.
Kesehatan, Keterse- Murah, Ter- Program Upaya Kesehatan SKPD Lain-
diaan Dokter dan jangkau dan Masyarakat. nya Sesuai
Tenaga Keperawatan, Berkualitas Program Pengawasan Obat TUPOKSI
serta obat-obatan dan Makanan.
pada setiap Puskes- Program Pengembangan
mas/Pustu/Polindes, Obat Asli Indonesia.
untuk menjamin Program Promosi Kesehatan
kualitas pelayanan dan Pemberdayaan
kesehatan masyara- Kesehatan.
kat. Program Perbaikan Gizi
Memberikan insentif Masyarakat.
kepada bidan desa Program Pengembangan
atau tenaga kese- Lingkungan Sehat.
hatan di daerah ter- Program Pencegahan dan
pencil, atau daerah Penanggulangan Penyakit
dengan jangkauan Menular.
dan tingkat kesulitan Program Standarisasi
transportasi Pelayanan Kesehatan.

118 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Memberikan Program Pelayanan Kese-
beasiswa kepada hatan Penduduk Miskin.
dokter, tenaga medis Program Pengadaan,
putera/puteri daerah Peningkatan dan Perbaikan
berprestasi terutama Sarana dan Prasarana
dari keluarga kurang Puskesmas/Puskesmas
mampu untuk melan- Pembantu dan jaringannya.
jutkan ke jenjang Program Pengadaan,
spesialis atau ke Peningkatan Sarana dan
jenjang pendidikan Prasarana RS/RSJ/RS Paru-
lebih tinggi. paru/RS Mata.
Pelayanan Jamkesda, Program Pemeliharaan
secara efektif, tepat Sarana dan Prasarana
sasaran, pelayanan Rumah Sakit/Rumah Sakit
yang menjangkau Jiwa/Rumah Sakit Paru-
seluruh masyarakat paru/Rumah Sakit Mata.
miskin, dengan Program Kemitraan Pening-
pengawasan dan katan Pelayanan Kesehatan.
evaluasi berkala agar Program Peningkatan
penyelenggaraannya Pelayanan Kesehatan Anak
terus diperbaiki. Balita.
Menetapkan kebijak- Program Peningkatan Pela-
an subsidi silang; yanan Kesehatan Lansia.
setiap pasien rawat Program Pengawasan dan
inap pengguna Pengendalian Kesehatan
fasilitas VIP, Kelas I, Makanan.
dan Kelas II, men- Program Peningkatan
subsidi pasien kurang Keselamatan Ibu Melahirkan
mampu yang meng- dan Anak.
gunakan fasilitas Program Peningkatan Mutu
rawat inap kelas III. Tenaga Kesehatan.
Memberikan layanan Program Peningkatan
Ambulance dan Mobil Profesionalisme Tenaga
Jenazah Gratis Kesehatan.
serta menggratiskan Program Peningkatan Pendi-
Layanan Bersalin dikan dan Pelatihan Tenaga
untuk Warga Kurang Kesehatan.
Mampu Program Kebijakan dan
Manajemen Kesehatan.
Sumber : Analisis 2010

Bab VII 119


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

7.5 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KEEMPAT
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Keempat: Kebijakan Anggaran (APBD)
APBD)) yang
ang
Proporsional dan Pro Rakyat, maka program pembangunan yang akan dilakukan
adalah sebagai berikut:
a. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan program
sebagai berikut:
(1) Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan.
(2) Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak.
(3) Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan.
(4) Program Peningkatan Peran serta dan Kesetaraan Gender dalam Pemba-
ngunan.
b. Urusan Wajib Pemberdayaan Masyarakat, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat.
(2) Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Masyarakat.
(3) Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Masyarakat.
(4) Pelayanan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah.
(5) Program Peningkatan Peran Perempuan.

Tabel VII.4
Prioritas Keempat: Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program
dan SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Menetapkan One Village Kebijakan Pemberdayaan Program Kesera- Badan Pem-
One Program (satu Anggaran Perempuan sian Kebijakan berdayaan
Kelurahan, satu Program (APBD) yang dan Perlindu- Peningkatan Masyarakat.
Unggulan), yang dida- Proposional ngan Anak Kualitas Anak dan Kantor Pem-
hului dengan penguatan dan Pro Perempuan. berdayaan
kapasitas Aparatur, Rakyat Program Pengua- Perempuan.
pemantapan Visi Misi tan Kelembagaan SKPD Lain-
Kelurahan dan identifikasi Pengarusutama- nya Sesuai
potensi unggulan setiap an Gender dan TUPOKSI
Kelurahan Anak.

120 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Membangun rumah Program
Layak Huni Keluarga Peningkatan
Kurang Mampu melalui Kualitas Hidup
dana stimulus Pemerin- dan Perlindungan
tah Daerah dengan cara Perempuan.
menggalang keswadaya- Program Pening-
an masyarakat (Gotong katan Peran serta
Royong/Bari). dan Kesetaraan
Membangun infrastruktur Gender dalam
lingkungan melalui dana Pembangunan.
stimulus Pemerintah Pemberdayaan Program Pening-
Daerah dengan cara Masyarakat katan Keberdaya-
menggalang keswadaya- dan Desa an Masyarakat.
an masyarakat (Gotong Program Pengem-
Royong/Bari). bangan Lembaga
Santunan Kematian Ekonomi.
Warga Kurang Mampu. Program Pening-
Bantuan Dana Rutin katan Partisipasi
untuk Masjid/Gereja dan Masyarakat
tempat ibadah lainnya. dalam Pemban-
Dana Pembinaan Gene- gunan Masyara-
rasi Muda untuk kegiatan kat.
usaha produktif dan atau Pelayanan Pening-
pengembangan prestasi, katan Kapasitas
minat dan bakat. Aparatur Pemerin-
Menggalang kerjasama tah.
dengan Perguruan Program Pening-
Tinggi dan Lembaga katan Peran
Swadaya Masyarakat Perempuan.
dalam melakukan pen-
dampingan terhadap One
Village One Program
Sumber : Analisis 2010

7.6 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KELIMA
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Kelima: Penataan, Pengendalian dan Pemanfaatan
Ruang Kota yang Serasi Antara Kebutuhan dan Daya Dukung Lahan, antar Aspek
Topografi dan Kawasan Pantai/Pesisir Berbasis Keterpaduan dan Keserasian Lingkungan
Sosial Budaya dan Ekologis, program pembangunan yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut:

Bab VII 121


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

a. Urusan Wajib Penataan Ruang, dengan program sebagai berikut:


(1) Program Perencanaan Tata Ruang.
(2) Program Pemanfaatan Ruang.
(3) Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
b. Urusan Wajib Perencanaan Pembangunan, dengan program sebagai
berikut:
(1) Program Pengembangan Data/Informasi.
(2) Program Kerjasama Pembangunan.
(3) Program Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh.
(4) Program Perencanaan Pengembangan Kota-kota Menengah dan Besar.
(5) Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perencanaan Pembangunan
Daerah.
(6) Program Perencanaan Pembangunan Daerah.
(7) Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi.
(8) Program Perencanaan Sosial dan Budaya.
(9) Program Perencanaan Prasarana Wilayah dan Sumber Daya Alam.
(10) Program Perencanaan Pembangunan Daerah Rawan Bencana.
c. Urusan Wajib Perhubungan, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan.
(2) Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ.
(3) Program Peningkatan Pelayanan Angkutan.
(4) Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan.
(5) Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas.
(6) Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaraan Bermotor.
d. Urusan Wajib Lingkungan Hidup, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan.
(2) Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup.
(3) Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam.
(4) Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam.

122 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(5) Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan
Lingkungan.
(6) Program Pengendalian Kebakaran Hutan.
(7) Program Pengelolaan dan Rehabilitasi Ekosistem Pesisir dan laut.
(8) Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Tabel VII.5
Prioritas Kelima:
Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Penataan kawasan Penataan, Penataan Program Perencanaan Tata Dinas
Pasar Gamalama, Pengen- Ruang Ruang. Tata Kota
tapak I plus dan tapak dalian dan Program Pemanfaatan Ruang. dan Per-
II, sebagai sentra Peman- Program Pengendalian Peman- tamanan.
perekonomian modern faatan faatan Ruang. Badan
dengan aksentuasi Ruang Perencanaan Program Pengembangan Data/ Peren-
ornamen kebudayaan Kota yang Pembangu- Informasi. canaan
lokal. Serasi nan Program Kerjasama Pembangu- Pemban-
Mengoptimalkan Pasar antara Ke- nan. gunan
Bastiong, Pasar Dufa- butuhan Program Perencanaan Pengem- Daerah.
dufa, Pasar Kotabaru dan Daya bangan Wilayah Strategis dan Dinas
dan Pasar Sasa seba- Dukung Cepat Tumbuh. Perhubun-
gai pasar tradisional Lahan, an- Program Perencanaan Pengem- gan.
dengan dukungan tar Aspek bangan Kota-kota Menengah Badan
regulasi pemerintah. Topografi dan Besar. Ling-
Penataan taman kota dan Program Peningkatan Kapasitas kungan
dan ruang terbuka hi- Kawasan Kelembagaan Perencanaan Hidup.
jau kawasan perkotaan Pantai/ Pembangunan Daerah. Dinas Ke-
sebagai area publik Pesisir Program Perencanaan Pemban- bersihan.
yang asri, nyaman dan Berbasis gunan Daerah. SKPD
tertib. Keterpa- Program Perencanaan Pemban- Lainnya
Pemantapan Visi dan duan dan gunan Ekonomi. Sesuai
penataan kawasan Keserasian Program Perencanaan Sosial TUPOKSI
Kota Baru berbasis Lingkung- dan Budaya.
pendidikan dan berciri an Sosial Program Perencanaan Prasa-
lokal secara terpadu Budaya rana Wilayah dan Sumber Daya
dan akomodatif ter- dan Ekolo- Alam.
hadap masyarakat gis. Program Perencanaan Pemban-
setempat gunan Daerah Rawan Bencana.

Bab VII 123


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Penataan area depan Perhubungan Program Pembangunan Prasa-
kedaton kesultanan, rana dan Fasilitas Perhubungan.
lapangan Ngara Lamo, Program Rehabilitasi dan Peme-
Dodoku Ali sebagai liharaan Prasarana dan Fasilitas
ruang terbuka hijau LLAJ.
berciri budaya, yang Program Peningkatan Pelayan-
dijadikan alun-alun an Angkutan.
kota dan taman Program Pembangunan Sarana
ekspresi seni budaya. dan Prasarana Perhubungan.
Mendorong program Program Pengendalian dan
partisipatif untuk Pengamanan Lalu Lintas.
mewujudkan Ternate Program Peningkatan Kelaikan
sebagai Kota Pesisir Pengoperasian Kendaraan
yang Hijau, Asri, Bermotor.
Bersih, Nyaman, dan Lingkungan Program Pengembangan
Ramah Lingkungan. Hidup Kinerja Pengelolaan
Mewujudkan Ternate Persampahan.
Bebas Sampah dan Program Pengendalian
Bebas Banjir, yang Pencemaran dan Perusakan
diutamakan pada ka- Lingkungan Hidup.
wasan perkotaan dan Program Perlindungan dan
kawasan lainnya yang Konservasi Sumber Daya Alam.
menimbulkan kesan Program Rehabilitasi dan
kumuh Pemulihan Cadangan Sumber
Daya Alam.
Program Peningkatan Kualitas
dan Akses Informasi Sumber
Daya Alam dan Lingkungan.
Program Pengendalian Keba-
karan Hutan.
Program Pengelolaan dan
Rehabilitasi Ekosistem Pesisir
dan Laut.
Program Pengelolaan Ruang
Terbuka Hijau (RTH).
Sumber : Analisis 2010

124 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

7.7 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KEENAM
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Keenam : Mewujudkan Tata Pemerintahan yang
Baik,, dengan Kapasitas
apasitas Sumber
umber Daya Aparatur
paratur yang Profesional,
rofesional,, Bersih dan Berwibawa,
serta Birokrasi yang Efisien, Efektif, Kreatif, Inovatif dan Responsif, maka program
pembangunan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
Urusan Wajib Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan
Daerah, Perangkat Daerah dan Kepegawaian, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah.
(2) Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah.
(3) Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah.
(4) Program Pembinaan dan Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Daerah.
(5) Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan
Kebijakan KDH.
(6) Progam Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Penga-
wasan.
(7) Program Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur Penga-
wasan.
(8) Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi.
(9) Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat.
(10) Program Peningkatan Kerjasama antar Pemerintah Daerah.
(11) Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan.
(12) Program Penataan Daerah Otonomi Baru.
(13) Program Pendidikan Kedinasan.
(14) Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur.
(15) Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur.

Bab VII 125


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VII.6
Prioritas Keenam:
Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Melakukan penataan Mewujudkan Urusan Wa- Program Peningkatan Sekretariat
organisasi perangkat Tata Pemerin- jib Otonomi Kapasitas Lembaga Per- Daerah.
daerah yang efektif tahan yang Baik, Daerah, wakilan Rakyat Daerah. Sekretariat
dan efisien. dengan Kapa- Pemerintah- Program Peningkatan DPRD.
Mewujudkan apara- sitas Sumber an Umum, Pelayanan Kedinasan Ke- Dinas
tur pemerintahan Daya Aparatur Administrasi pala Daerah/Wakil Kepala Pendapatan,
yang profesional, yang Profe- Keuangan Daerah. Pengelolaan
bersih (bebas KKN), sional, Bersih Daerah, Program Peningkatan dan Keuangan dan
kreatif, inovatif dan dan Berwibawa, Perangkat Pengembangan Pengelo- Aset Daerah.
responsif dalam serta Birokrasi Daerah dan laan Keuangan Daerah. Inspektorat.
optimalisasi kinerja yang Efisien, Kepega- Program Pembinaan dan Badan
fungsi dan tugasnya. Efektif, Kreatif, waian Fasilitasi Pengelolaan Kepegawaian
Mengubah mainset Inovatif dan Keuangan Daerah. Daerah.
aparatur yang Responsif. Program Peningkatan Sis- Kantor Keca-
berorientasi tem Pengawasan Internal matan.
program dengan dan Pengendalian Pelaksa- SKPD Lain-
target serta manfaat naan Kebijakan KDH. nya Sesuai
terukur, aparatur Progam Peningkatan TUPOKSI
yang berkarakter Profesionalisme Tenaga
demokratis dan Pemeriksa dan Aparatur
terbuka dalam Pengawasan.
memberikan pela- Program Penataan dan
yanan publik yang Penyempurnaan Kebijakan
berkualitas. Sistem dan Prosedur
Menyelenggarakan Pengawasan.
prinsip reward and Program Optimalisasi
punishman untuk Pemanfaatan Teknologi
menilai kinerja dan Informasi.
prestasi apara- Program Mengintensifkan
tur dalam rotasi Penanganan Pengaduan
maupun promosi Masyarakat.
jabatan. Program Peningkatan Ker-
Mengembangkan jasama antar Pemerintah
kompetensi sumber Daerah.
daya aparatur yang Program Penataan Peratur-
diorientasikan pada an Perundang-Undangan.
peningkatan skill Program Penataan Daerah
dan ketrampilan Otonomi Baru.
yang benar-benar
dibutuhkan

126 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Penyerahan urusan Program Pendidikan
(kewenangan) dari Kedinasan.
Pemerintah Kota Program Peningkatan
kepada Kecamatan Kapasitas Sumberdaya
dan Kelurahan di Aparatur.
bidang pelayanan Program Pembinaan dan
umum Pengembangan Aparatur.
Sumber : Analisa 2010

7.8 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KETUJUH
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Ketujuh: Peningkatan Ekonomi Rakyat, melalui
Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja,
maka program pembangunan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Urusan Wajib Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, dengan
program sebagai berikut:
(1) Program Keluarga Berencana.
(2) Program Kesehatan Reproduksi Remaja.
(3) Program Pelayanan Kontrasepsi.
(4) Program Pembinaan Peran serta Masyarakat dalam Pelayanan KB/KR yang
Mandiri.
(5) Program Promosi Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak melalui Kelompok Kegiatan
di Masyarakat.
(6) Program Pengembangan Pusat Pelayanan Informasi dan Konseling KRR.
(7) Program Peningkatan Penanggulangan Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS.
(8) Program Pengembangan Bahan Informasi tentang Pengasuhan dan
Pembinaan Tumbuh Kembang Anak.
(9) Program Pengembangan Tenaga Pendamping Kelompok Bina Keluarga.
(10) Program Pengembangan Model Operasional BKB-Posyandu-PADU.

Bab VII 127


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

b. Urusan Wajib Ketenagakerjaan, dengan program sebagai berikut:


(1) Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja.
(2) Program Peningkatan Kesempatan Kerja.
(3) Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan.

c. Urusan Wajib Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, dengan program


sebagai berikut:
(1) Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah yang Kondusif.
(2) Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha
Kecil Menengah.
(3) Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha bagi Usaha Mikro Kecil
Menengah.
(4) Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi.

d. Urusan Pilihan Pertanian, dengan program sebagai berikut:


(1) Program Peningkatan Kesejahteraan Petani.
(2) Program Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan).
(3) Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan.
(4) Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan.
(5) Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan.
(6) Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan.
(7) Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak.
(8) Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan.
(9) Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan.
(10) Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan.

e. Urusan Pilihan Kehutanan, dengan program sebagai berikut:


(1) Program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan.
(2) Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan.
(3) Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan.
(4) Program Perencanaan dan Pengembangan Hutan.

128 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VII.7
Prioritas Ketujuh: Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Memberikan kemuda- Peningkatan Keluarga Program Keluarga Beren- Dinas
han izin usaha pada Ekonomi Beren- cana. Tenaga
masyarakat kurang Rakyat, cana dan Program Kesehatan Re- Kerja dan
mampu. melalui Keluarga produksi Remaja. Sosial.
Memberikan kepas- Pengemban- Sejahtera Program Pelayanan Kontra- Dinas Kope-
tian hukum dan ke- gan Koperasi, sepsi. rasi dan
mudahan izin usaha Usaha Mikro Program Pembinaan Peran UKM.
bagi Investor. Kecil Menen- serta Masyarakat dalam Dinas Perta-
Pengembangan gah dan Pelayanan KB/KR yang nian dan
Koperasi, UMKM, Perluasan Mandiri. Kehutanan.
Pedagang Tradisional Lapangan Program Promosi Kesehatan Badan
dan PKL melalui fasi- Kerja Ibu, Bayi dan Anak melalui Pelaksana
litas bantuan modal Kelompok Kegiatan di Masya- Penyuluhan
usaha, berupa dana rakat. Pertanian,
bergulir atau pinjam- Program Pengembangan Perikanan
an lunak, dengan Pusat Pelayanan Informasi dan Kehuta-
pendampingan mana- dan Konseling KRR. nan (BP4K).
jemen, penyediaan Program Peningkatan Kantor
sarana produksi dan Penanggulangan Narkoba, Keluarga
akses pasar. PMS termasuk HIV/AIDS. Berencana.
Meningkatkan Program Pengembangan SKPD Lain-
Kesejahteran Buruh Bahan Informasi Tentang nya Sesuai
dan Pekerja pada Pengasuhan dan Pembinaan TUPOKSI
sektor swasta melalui Tumbuh Kembang Anak.
peningkatan Upah Program Pengembangan
Minimum Kota. Tenaga Pendamping Kelom-
Memberikan bantuan pok Bina Keluarga.
modal usaha kepada Program Pengembangan
Kelompok Perem- Model Operasional BKB-
puan, dan Kelompok Posyandu-PADU.
Pemuda. Ketenaga- Program Peningkatan
Menggalakkan kursus kerjaan Kualitas dan Produktivitas
dan pelatihan kepada Tenaga Kerja.
pengangguran ter- Program Peningkatan Kes-
buka unskill, untuk empatan Kerja.
diarahkan pada usaha Program Perlindungan dan
kecil menengah yang Pengembangan Lembaga
didukung penyertaan Ketenagakerjaan.
modal & pendamping-
an manajemen

Bab VII 129


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Koperasi Program Penciptaan Iklim
dan Usaha Kecil Menengah yang
Usaha Kondusif.
Kecil Program Pengembangan
Mene- Kewirausahaan dan Keung-
ngah gulan Kompetitif Usaha Kecil
Menengah.
Program Pengembangan
Sistem Pendukung Usaha
Bagi Usaha Mikro Kecil
Menengah.
Program Peningkatan Kuali-
tas Kelembagaan Koperasi.

Pertanian Program Peningkatan Kese-


jahteraan petani.
Program Peningkatan Keta-
hanan Pangan (Pertanian/
Perkebunan).
Program Peningkatan
Pemasaran Hasil Produksi
Pertanian/Perkebunan.
Program Peningkatan Pene-
rapan Teknologi Pertanian/
Perkebunan.
Program Peningkatan
Produksi Pertanian/Perke-
bunan.
Program Pemberdayaan
Penyuluh Pertanian/Perke-
bunan Lapangan.
Program Pencegahan dan
Penanggulangan Penyakit
Ternak.
Program Peningkatan
Produksi Hasil Peternakan.
Program Peningkatan
Pemasaran Hasil Produksi
Peternakan.
Program Peningkatan Pene-
rapan Teknologi Peternakan.

130 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Kehu- Program Pemanfaatan Po-
tanan tensi Sumber Daya Hutan.
Program Rehabilitasi Hutan
dan Lahan.
Program Perlindungan dan
Konservasi Sumber Daya
Hutan.
Program Perencanaan dan
Pengembangan Hutan.
Sumber : Analisis 2010

7.9 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KEDELAPAN
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Kedelapan: Pelayanan Publik yang Cepat, Murah
dan Mudah, program pembangunan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Urusan Wajib Kependudukan dan Catatan Sipil, dengan program Program
Penataan Administrasi Kependudukan.
b. Urusan Wajib Kearsipan, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan.
(2) Program Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen/Arsip Daerah.
(3) Program Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana dan Prasarana Kearsipan.
(4) Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi.
c. Urusan Wajib Komunikasi dan Informatika, dengan program sebagai
berikut:
(1) Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa.
(2) Program Pengkajian dan Penelitian Bidang Informasi dan Komunikasi.
(3) Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi.
(4) Program Kerjasama Informasi dengan Mass Media.

Bab VII 131


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VII.8
Prioritas Kedelapan: Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Membentuk Pelayanan Kependudukan Program Penataan Dinas
Lembaga Publik yang dan Catatan Administrasi Kependudukan
Perijinan dalam Cepat, Murah Sipil Kependudukan. dan Catatan
mengoptimalkan dan Mudah Sipil
pelayanan kepada Kearsipan Program Perbaikan
masyarakat. Sistem Administrasi
Menghilangkan Kearsipan.
segala bentuk Program
Pungutan Liar yang Penyelamatan dan
menyebabkan Pelestarian Dokumen/
ekonomi biaya Arsip Daerah.
tinggi dan merusak Prog. Pemeliharaan
citra pelayanan Rutin/Berkala Sarana
publik. dan Prasarana
Menyediakan Kearsipan.
Database Program Peningkatan
Kependudukan Kualitas Pelayanan
Online. Informasi.
Pelayanan Komunikasi Program
Pembuatan KTP, dan Pengembangan
KK dan Akta Informatika Komunikasi, Informasi
Kelahiran Gratis dan Media Massa.
dan dilimpahkan Program Pengkajian
ke Kelurahan dan Penelitian
agar lebih Bidang Informasi dan
mudah dijangkau Komunikasi.
masyarakat. Program Fasilitasi
Kantor Arsip dan Peningkatan SDM
Perpustakaan Bidang Komunikasi
Daerah. dan Informasi.
Kantor Komunikasi Program Kerjasama
dan Informatika. Informasi dengan
SKPD Lainnya Mass Media.
Sesuai TUPOKSI
Sumber : Analisis 2010

132 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

7.10 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KESEMBILAN
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Kesembilan: Pengembangan Masyarakat Kawasan
Pesisir Secara Berkelanjutan, program pembangunan yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Urusan Pilihan Kelautan dan Perikanan, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir.
(2) Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengawasan dan Pengendalian
Sumberdaya Kelautan.
(3) Program Peningkatan Kesadaran dan Penengakan Hukum dalam
Penyalahgunaan Sumberdaya Laut.
(4) Program Peningkatan Mitigasi Bencana Alam Laut dan Prakiraan Iklim Laut.
(5) Program Peningkatan Kegiatan Budaya Kelautan dan Wawasan Maritim
Kepada Masyarakat.
(6) Program Pengembangan Budidaya Perikanan.
(7) Program Pengembangan Perikanan Tangkap.
(8) Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan.
(9) Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan.
(10) Program Pengembangan Kawasan Budidaya Laut, Air Payau dan Air Tawar.
b. Urusan Pilihan Perdagangan, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan.
(2) Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri.
(3) Program Pembinaan Pedagang.
c. Urusan Pilihan Perindustrian, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi.
(2) Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah.
(3) Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri.
(4) Program Pengembangan Sentra-sentra Industri Potensial.

Bab VII 133


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Tabel VII.9
Prioritas Kesembilan: Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan
SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan
Arah Kebijakan Urusan Program SKPD Pelaksana
Umum
Melakukan Pengembangan Kelautan Program Pemberdayaan Dinas Perikanan
pemetaan potensi Masyarakat dan Ekonomi Masyarakat dan Kelautan.
masyarakat Kawasan Perikanan Pesisir. Dinas
pesisir untuk Pesisir Secara Program Pemberdayaan Perindustrian
merumuskan Berkelanjutan Masyarakat dalam dan
program Pengawasan dan Perdagangan.
pengembangan Pengendalian Dinas Pasar.
yang tepat. Sumberdaya Kelautan. SKPD Lainnya
Bantuan fasilitas Program Peningkatan Sesuai TUPOKSI
sarana dan Kesadaran dan
peralatan kepada Penengakan Hukum
Petani dan dalam Penyalahgunaan
Nelayan untuk Sumberdaya Laut.
meningkatkan Program Peningkatan
produktifitasnya. Mitigasi Bencana Alam
Memberikan Laut dan Prakiraan Iklim
bantuan modal Laut.
usaha dan Program Peningkatan
pendampingan Kegiatan Budaya
kepada kegiatan Kelautan dan Wawasan
pengolahan hasil Maritim Kepada
produksi pertanian Masyarakat.
dan perikanan. Program Pengembangan
Melakukan Budidaya Perikanan.
kerjasama dengan Program Pengembangan
Perguruan Tinggi Perikanan Tangkap.
dan Lembaga Program Pengembangan
Swadaya Sistem Penyuluhan
Masyarakat Perikanan.
dalam melakukan Program Optimalisasi
pedampingan Pengelolaan dan
pemberdayaan Pemasaran Produksi
Perikanan.
Program Pengembangan
Kawasan Budidaya Laut,
Air Payau dan Air Tawar.

134 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan
Arah Kebijakan Urusan Program SKPD Pelaksana
Umum
Perda- Program Perlindungan
gangan Konsumen dan Pen-
gamanan Perdagangan.
Program Peningkatan
Efisiensi Perdagangan
Dalam Negeri.
Program Pembinaan
Pedagang.
Perindus- Program Peningkatan
trian Kapasitas Iptek Sistem
Produksi.
Program Pengemban-
gan Industri Kecil dan
Menengah.
Program Peningkatan
Kemampuan Teknologi
Industri.
Program Pengembangan
Sentra-sentra Industri
Potensial.
Sumber : Analisis 2010

7.11 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KESEPULUH
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Kesepuluh: Membangun Kepedulian Sosial,
Kesadaran Nilai Keagamaan, Kebudayaan dan Adat Istiadat, program pembangunan
yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Urusan Wajib Sosial, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya.
(2) Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial.
(3) Program Pembinaan Anak Terlantar.
(4) Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma.
(5) Program Pembinaan Panti Asuhan/Panti Jompo.
(6) Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial (Eks Narapidana, PSK,
Narkoba dan Penyakit Sosial Lainnya).

Bab VII 135


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(7) Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial.


b. Urusan Wajib Kebudayaan, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pengembangan Nilai Budaya.
(2) Program Pengelolaan Kekayaan Budaya.
(3) Program Pengelolaan Keragaman Budaya.
(4) Program Pengembangan Kerjasama Pengelolaan Kekayaan Budaya.
c. Urusan Wajib Pemuda dan Olah Raga, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemuda.
(2) Program Peningkatan Peran serta Kepemudaan.
(3) Program Peningkatan Upaya Penumbuhan Kewirausahaan dan Kecakapan
Hidup Pemuda.
(4) Program Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba.
(5) Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Olah Raga.
(6) Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga.
(7) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olah Raga.
d. Urusan Pilihan Pariwisata, dengan program sebagai berikut:
(1) Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata.
(2) Program Pengembangan Destinasi Pariwisata.
(3) Program Pengembangan Kemitraan.

Tabel VII.10
Prioritas Kesepuluh: Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program
dan SKPD Pelaksana RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Penguatan Kurikulum Membangun Sosial Program Dinas Tenaga
Pendidikan Agama dan Kepedulian Pemberdayaan Kerja dan
Kurikulum Muatan Lokal Sosial, Fakir Miskin, Sosial.
tentang Budaya dan Adat Kesadaran Nilai Komunitas Adat Dinas Pemuda
Istiadat Ternate pada Keagamaan, Terpencil (KAT) dan dan Olah
semua tingkatan Sekolah Kebudayaan Penyandang Masalah Raga.
sejak Pendidikan Usia Dini dan Adat Kesejahteraan Sosial Dinas Kebu-
hingga Perguruan Tinggi Istiadat (PMKS) Lainnya. dayaan dan
Pariwisata

136 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Mengoptimalkan fungsi Program Pelayanan SKPD Lainnya
Taman Pengajian Al- dan Rehabilitasi Sesuai
Quran sebagai tempat Kesejahteraan Sosial. TUPOKSI
pendidikan baca tulis Program Pembinaan
Al-Quran, sekaligus Anak Terlantar.
memberikan pemahaman Program Pembinaan
tentang syariah, Akhlaq, Para Penyandang
Budi Pekerti sejak Usia Cacat dan Trauma.
Dini dan Sekolah Dasar. Program Pembinaan
Mengoptimalkan Panti Asuhan/Panti
pembinaan Jemaat dan Jompo.
pembinaan Umat Agama Program Pembinaan
non Muslim sesuai Eks Penyandang
dengan syariat agamanya. Penyakit Sosial (Eks
Membina Kerukunan Narapidana, PSK,
antar Umat Beragama, Narkoba dan Penyakit
antar Suku, Etnis dan Sosial Lainnya).
Subetnis, melalui kegiatan Program
Sosial Keagamaan Pemberdayaan
dan Kebudayaan. Kelembagaan
Memanfaatkan Kesejahteraan Sosial.
momentum Hari-hari Kebuda- Program Pengem-
Besar Nasional, Hari- yaan bangan Nilai Budaya.
hari Besar Keagamaan Program Pengelolaan
dan Hari-hari Besar Kekayaan Budaya.
Daerah dengan kegiatan Program Pengelolaan
bernuansa Keagamaan Keragaman Budaya.
dan Kebudayaan. Program
Melestarikan Situs, Pengembangan
Artifak, dokumen sejarah Kerjasama
dan Aset Seni Budaya Pengelolaan
Kota Ternate. Kekayaan Budaya.
Menjamin Kesejahteraan
Imam Mesjid, Pendeta,
Guru Mengaji, Guru TPA
dan Pembimbing Jemaat.
Menjamin pelestarian
adat dan budaya Ternate
Pemuda Program
dan Pengembangan dan
Olah Keserasian Kebijakan
Raga Pemuda.
Program Peningkatan
Peran serta Kepemu-
daan.

Bab VII 137


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Kebijakan SKPD
Arah Kebijakan Urusan Program
Umum Pelaksana
Program Peningkatan
Upaya Penumbuhan
Kewirausahaan dan
Kecakapan Hidup
Pemuda.
Program Upaya
Pencegahan
Penyalahgunaan
Narkoba.
Program
Pengembangan
Kebijakan dan
Manajemen Olah
Raga.
Program Pembinaan
dan Pemasyarakatan
Olah Raga.
Program Peningkatan
Sarana dan Prasarana
Olah Raga.
Pariwi- Program
sata Pengembangan
Pemasaran
Pariwisata.
Program
Pengembangan
Destinasi Pariwisata.
Program
Pengembangan
Kemitraan.
Sumber : Analisis 2010

7.12 PROGRAM PEMBANGUNAN UNTUK MEWUJUDKAN PRIORITAS


KESEBELAS
Dalam upaya mewujudkan Prioritas Kesebelas: Penegakan Supremasi Hukum, Hak
Azasi Manusia, untuk Mendorong Partisipasi Publik yang Dinamis dan Konstruktif,
program pembangunan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.
Urusan Wajib Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri dengan program
sebagai berikut:

138 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(1) Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan.


(2) Program Pemeliharaan Kantrantibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal.
(3) Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan.
(4) Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Kebangsaan.
(5) Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Menjaga Ketertiban dan Keamanan.
(6) Program Pendidikan Politik Masyarakat.
(7) Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam.

Tabel VII.11
Prioritas Kesebelas:
Arah Kebijakan, Kebijakan Umum, Urusan, Program dan SKPD Pelaksana
RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015
SKPD
Arah Kebijakan Kebijakan Umum Urusan Program
Pelaksana
Mendorong regulasi Penegakan Kesatuan Program Pening- Badan Kesatuan
daerah yang menjamin Supremasi Bangsa katan Keamanan Bangsa,
kepastian hukum dan Hukum, dan Politik dan Kenyamanan Politik dan
kemudahan investasi. Hak Azasi Dalam Lingkungan. Perlindungan
Memperkuat regulasi Manusia, untuk Negeri Program Pemelihara- Masyarakat.
terhadap partisipasi Mendorong an Kantrantibmas Kantor Satuan
publik yang dinamis, Partisipasi dan Pencegahan Polisi Pamong
efektif dan bertang- Publik yang Tindak Kriminal. Praja.
gungjawab dalam Dinamis dan Program Pengem- SKPD Lainnya
mewujudkan transpar- Konstruktif bangan Wawasan Sesuai TUPOKSI
ansi dan akuntabilitas. Kebangsaan.
Memperkuat regulasi Program Kemitraan
yang menjamin Standar Pengembangan Wa-
Pelayanan Minimal pada wasan Kebangsaan.
bidang pelayanan dasar Program Pember-
untuk publik. dayaan Masyarakat
Meninjau kembali untuk Menjaga
Peraturan Daerah yang Ketertiban dan Ke-
berdampak pada tidak amanan.
kondusifnya keuangan Program Pendidikan
daerah, terjadinya Politik Masyarakat.
ekonomi biaya tinggi, Program Pencega-
dan menghambat han Dini dan Penang-
pertumbuhan ekonomi gulangan Korban
rakyat Bencana Alam.

Bab VII 139


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

SKPD
Arah Kebijakan Kebijakan Umum Urusan Program
Pelaksana
Memberikan layanan
bantuan hukum secara
gratis kepada warga
kurang mampu yang
membutuhkannya.
Melakukan kerjasama
dengan Perguruan
Tinggi dan Lembaga
Swadaya Masyarakat,
Ormas dan OKP dalam
melakukan kampanye
dan advokasi hak-
hak hukum kepada
masyarakat
Sumber : Analisis 2010

7.13 INDIKASI RENCANA PROGRAM, KEBUTUHAN PENDANAAN DAN


CAPAIAN KINERJA
Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan Kota Ternate Tahun 2011-2015, dibu-
tuhkan kebijakan pendanaan selama 5 (lima) tahun kedepan untuk melaksanakan 11
program prioritas. Disamping itu indikator kinerja dan capaian kinerja merupakan tolok
ukur menilai kemajuan pencapaian pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan.

Perkiraan kebutuhan pendanaan dan capaian kinerja secara terperinci dan sistematis
telah dijabarkan ke dalam Rencana Strategis (RENSTRA), sesuai tugas pokok dan
fungsi masing-masing SKPD.

7.14 PROGRAM LINTAS BIDANG DAN LINTAS SKPD


Dalam upaya mewujudkan visi, misi, 11 program prioritas, tujuan dan sasaran
pembangunan Kota Ternate Tahun 2011-2015, program dan kegiatan dari SKPD terkait
diarahkan juga untuk mendukung:
(1) Pengembangan Kawasan Kota Baru
(2) Pengembangan Kawasan Minapolitan
(3) Pengembangan Kawasan Potensial

140 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

7.15 PEMBANGUNAN WILAYAH


Dalam penentuan Bagian Wilayah Kota (BWK) telah dilakukan analisis dimana terdapat
7 BWK, yang kesemuanya memiliki peran dan fungsi secara proporsional terhadap
wilayah dalam masing-masing BWK.

(1) BWK 1 dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan, yaitu di Kelurahan Dufa-Dufa


Kecamatan Ternate Utara yang meliputi Kelurahan Tarau, Sango, Tabam, Tafure,
Akehuda, Tubo, Dufa Dufa, Sangadji Utara, Sangadji, Toboleu, Kasturian,
Salero, Soa-Sio, dan Soa. Dengan pusat BWK - 1 terletak di Kelurahan Dufa-Dufa.
Adapun arah pengembangan di BWK I adalah sebagai :
Pemukiman,
Bandara,
Pelabuhan,
Pariwisata,
Militer,
Jasa,
Perdagangan,
Perikanan,
Pendidikan,
Olah Raga.

(2) BWK II dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan; yaitu di Kelurahan Salahuddin


Kecamatan Ternate Tengah yang meliputi Kelurahan Makassar Timur, Makassar
Barat, Salahuddin, Kalumpang, Santiong, Gamalama, Moya, Kampung Pisang,
Marikurubu, Muhajirin, Tanah raja, Maliaro, Stadion, Takoma, dan Kota Baru.
Pusat BWK II di Kelurahan Salahuddin. Adapun arah pengembangan di BWK
- II diarahkan sebagai :
Jasa,
Perdagangan,
Pariwisata,
Pelabuhan,

Bab VII 141


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Pemukiman,
Pendidikan,
Pemerintahan,
Militer,
Olah Raga.
(3) BWK III dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan; yaitu di Kelurahan Kalumata
Kecamatan Ternate Selatan yang meliputi : Kelurahan Sasa, Gambesi, Ngade,
Fitu, Kalumata, Kayu Merah, Tabona, Ubo-Ubo, Bastiong Karance, Bastiong
Talangame, Mangga Dua Utara, Mangga Dua, Jati Perumnas, Jati, Tanah Tinggi
Barat, Tanah Tinggi, dan Toboko. Pusat BWK III di Kelurahan Kalumata. Adapun
arah pengembangan BWK III sebagai:
Jasa,
Perdagangan,
Pariwisata,
Pelabuhan,
Perikanan,
Militer,
Olah Raga,
Pendidikan.
(4) BWK IV dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan; yaitu di Kelurahan Jambula
Kecamatan Pulau Ternate yang meliputi : Kelurahan Jambula, Kastela, Foramadiahi,
Rua, Afe Taduma, Dorpedu, Togafo, Loto, Takome, Sulamadaha, Tobololo, Bula
dan Kulaba. Pusat BWK IV di Kelurahan Jambula. Adapun arah pengembangan
BWK IV sebagai:
Pemukiman,
Pariwisata,
Pertanian.
(5) BWK V dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan; yaitu di Kelurahan Togolobe
Kecamatan Pulau Hiri yang meliputi : Kelurahan Faudu, Tomajiko, Dorari Isa,

142 Bab VII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Togolobe, Tafraka, dan Mado. Pusat BWK V di Kelurahan Togolobe. Adapun arah
pengembangan BWK V sebagai:
Perikanan,
Pertanian,
Permukiman.
(6) BWK VI dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan; yaitu di Kelurahan Moti Kota
Kecamatan Moti yang meliputi Kelurahan Moti Kota, Takofi, Tadenas, Figur,
Tafamutu, dan Tafaga. Pusat pemerintahan BWK VI di Kelurahan Moti Kota.
Adapun arah pengambangan BWK VI sebagai:
Permukiman,
Pertanian,
Perikanan.
(7) BWK VII dilengkapi dengan 1 Pusat Lingkungan, yaitu di Kelurahan Mayau
Kecamatan Batang Dua yang meliputi Kelurahan Mayau, Tifure, Bido, Lelewi,
Perum Bersatu dan Pante Sagu. Pusat pemerintahan BWK VII di Kelurahan
Mayau. Adapun arah pengembangan BWK VII sebagai :
Permukiman,
Pertanian,
Perikanan.

Bab VII 143


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB VIII
PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAN PENETAPAN
INDIKATOR KINERJA DAERAH

Dengan memperhatikan uraian mengenai visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan
yang ingin dicapai selama periode 2010-2015, pentahapan pembangunan dan
penetapan indikator kinerja daerah dengan uraian sebagai berikut :

8.1 PENTAHAPAN PEMBANGUNAN


Dalam upaya mewujudkan Ternate menjadi Kota Berbudaya, Agamais,
Harmonis, Mandiri, Berkeadilan dan Berwawasan Lingkungan atau Bahari
Berkesan sebagai tujuan akhir, maka perlu disusun suatu pentahapan pembangunan
Kota Ternate 2011-2015, yang telah ditetapkan dalam 5 tahapan pembangunan dengan
penguatan pada 11 Program Prioritas disetiap tahapannya antara lain :

8.1.1 Tahap I Tahun 2011 : Infrastruktur Perkotaan, Pendidikan dan


Kesehatan
Tahap pembangunan 2011 merupakan tahapan untuk menyambung, melanjutkan
dan menajamkan capaian RPJMD Kota Ternate 2005-2010, sebagai tahapan dasar
pembangunan lima tahun ke depan (2011-2015).

Tahap pembangunan 2011 juga merupakan tahap untuk menjaga, meneruskan dan
melanjutkan pembangunan yang sudah dicapai dan dilaksanakan 5 tahun sebelumnya
dengan mengutamakan peningkatan dan penataan infrastruktur perkotaan, pendidikan
dan kesehatan.

Pembangunan di tahun 2011 lebih menegaskan komitmen untuk penguatan pada 3


(tiga) program sebagai fokus utama pembangunan di Tahap I, antara lain :

Bab VIII 145


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

1. Peningkatan dan Penataan Infrastruktur Perkotaan serta Percepatan


dan Pemerataan Infrastruktur pada Wilayah Kecamatan; yang diarahkan
pada peningkatan dan penataan infrastruktur perkotaan serta percepatan dan
pemerataan infrastruktur secara merata dan berkeadilan di tiap kecamatan,
terutama pada kecamatan-kecamatan di luar kawasan perkotaan untuk membuka
keterisolasian, serta memungkinkan terjadinya mobilitas arus barang dan
manusia yang mempercepat perkembangan secara merata pada semua wilayah
kecamatan.
2. Pendidikan Murah, Terjangkau dan Berkualitas; yang diarahkan pada
upaya peningkatan Sumber Daya Manusia, khusunya peningkatan derajat
Pendidikan melalui perluasan akses pendidikan yang murah dan terjangkau,
sarana dan fasilitas yang memadai, tenaga guru yang cukup, dan mutu yang
terus membaik.
3. Kesehatan Murah, Terjangkau dan Berkualitas; yang diarahkan pada upaya
meningkatkan Sumber Daya Manusia, melalui peningkatan derajat Kesehatan
dengan perluasan akses yang mudah, murah, terjangkau, dukungan sarana dan
fasilitas memadai, ketersediaan dokter, tenaga kesehatan dan keperawatan yang
cukup, dan mutu pelayanan yang terus membaik.

8.1.2 Tahap II Tahun 2012 : APBD Pro Rakyat, Pengendalian dan


Pemanfaatan Ruang Kota
Tahap pembangunan 2012 merupakan tahapan untuk memperkuat landasan
pembangunan menuju Kota Ternate Bahari Berkesan dengan mengutamakan
pemenuhan kebutuhan rakyat serta membiayai program pembangunan yang strategis,
juga program populis yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Disamping itu
juga dilakukan penataan infrastruktur perkotaan sebagai Kota Jasa dan Perdagangan
dengan pemanfaatan Ruang Kota secara terpadu untuk mendukung interaksi spasial,
mobilitas dan aktifitas perkotaan yang tertib.

Pembangunan di tahun 2012 lebih menegaskan komitmen untuk penguatan pada 2


(dua) program sebagai fokus utama pembangunan di Tahap II, antara lain :
1. Mewujudkan Anggaran (APBD) yang proporsional dan pro Rakyat; yang
diarahkan pada kebijakan Anggaran (APBD) yang proporsional dan Pro Rakyat,

146 Bab VIII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

yang diprioritaskan pada upaya pemenuhan kebutuhan rakyat serta membiayai


program pembangunan yang strategis, juga program populis yang menyentuh
kebutuhan dasar masyarakat, melalui desain program berbasis keswadayaan dan
berciri budaya.
2. Penataan, pengendalian dan pemanfaatan ruang kota yang serasi antara
kebutuhan dan daya dukung lahan, antar aspek topografi dan kawasan
pantai/pesisir berbasis keterpaduan dan keserasian lingkungan sosial
budaya dan ekologis; yang diarahkan pada penataan infrastruktur perkotaan
sebagai Kota Jasa dan Perdagangan dengan pemanfaatan Ruang Kota secara
terpadu untuk mendukung interaksi spasial, mobilitas dan aktifitas perkotaan
yang tertib menuju terwujudnya Kota Ternate yang harmoni, sehat, aman dan
nyaman dan berciri budaya serta berwasasan lingkungan.

8.1.3 Tahap III Tahun 2013 : Tata Pemerintahan dan Peningkatan


Ekonomi Rakyat
Tahap pembangunan 2013 merupakan tahapan untuk mempercepat pembangunan
Kota Ternate, terutama pada Tata Pemerintahan dan Peningkatan Ekonomi Rakyat.
Tahap pembangunan 2013 mengutamakan penataan organisasi perangkat daerah
yang efektif dan efisien guna mewujudkan aparatur pemerintahan yang profesional,
bersih (bebas KKN), kreatif, inovatif dan responsif dalam optimalisasi kinerja fungsi
dan tugasnya dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas.

Disamping itu juga untuk peningkatan ekonomi rakyat dilakukan pengembangan


Koperasi, UMKM, Pedagang Tradisional dan PKL melalui fasilitas bantuan modal usaha,
berupa dana bergulir atau pinjaman lunak, dengan pendampingan manajemen,
penyediaan sarana produksi dan akses pasar serta menggalakkan kursus dan pelatihan
kepada pengangguran terbuka unskill, untuk diarahkan pada usaha kecil menengah
yang didukung penyertaan modal dan pendampingan manajemen.

Pembangunan di tahun 2013 lebih menegaskan komitmen untuk penguatan pada 2


(dua) program sebagai fokus utama pembangunan di Tahap III, antara lain :
1. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, dengan kapasitas sumber
daya aparatur yang profesional, bersih dan berwibawa, serta birokrasi

Bab VIII 147


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

yang efisien, efektif, kreatif, inovatif dan responsif; yang diarahkan


peningkatan pada terwujudnya good government, dengan sumberdaya aparatur
yang profesional, kreatif, inofatif, yang mampu menjamin kualitas pelayanan,
akuntabilitas dan kemandirian masyarakat.
2. Peningkatan Ekonomi Rakyat, melalui pengembangan Koperasi, Usaha
Mikro Kecil Menengah dan Perluasan Lapangan Kerja;; yang diarahkan
pada upaya meningkatakan kesejahteraan masyarakat Petani, Nelayan, Pekebun,
Peternak, Buruh dan Pekerja, Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),
Pedagang Kaki Lima, dan Pedagang Tradisional, menuju pada kemandirian dan
kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need).

8.1.4 Tahap IV Tahun 2014 : Pelayanan Publik dan Pengembangan


Kawasan Pesisir
Tahap pembangunan 2014 merupakan tahapan untuk memantapkan pembangunan
menuju Kota Ternate Bahari Berkesan. Tahap pembangunan ini mengutamakan
membentuk Lembaga Perijinan untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat
serta menghilangkan segala bentuk Pungutan Liar yang menyebabkan ekonomi biaya
tinggi dan merusak citra pelayanan publik. Disamping itu juga dilakukan pemetaan
potensi masyarakat pesisir untuk merumuskan program pengembangan yang tepat
dan memberikan bantuan fasilitas sarana dan peralatan kepada Nelayan untuk
meningkatkan produktifitasnya

Pembangunan di tahun 2014 lebih menegaskan komitmen untuk penguatan pada 2


(dua) program sebagai fokus utama pembangunan di Tahap IV, antara lain :
1. Pelayanan Publik yang Cepat, Murah dan Mudah; yang diarahkan pada
terwujudnya pelayanan publik oleh aparatur yang profesional, dengan pelayanan
yang cepat, mudah, murah, nyaman dan berkualitas.
2. Pengembangan Masyarakat Kawasan Pesisir secara berkelanjutan; yang
diarahkan pada peningkatan kemandirian masyarakat, melalui pengembangan
ekonomi kerakyatan berbasis potensi pesisir, melalui pengembangan usaha mikro
kecil, menengah, koperasi yang mengarah pada produktifitas, dan kemampuan
daya saing.

148 Bab VIII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

8.1.5 Tahap V Tahun 2015 : Sosial Kebudayaan dan Penegakan


Supremasi Hukum
Tahap pembangunan 2015 merupakan tahapan untuk perwujudan Ternate menjadi
Kota Berbudaya, Agamais, Harmonis, Mandiri, Berkeadilan dan Berwawasan
Lingkungan, atau BAHARI BERKESAN. Tahap pembangunan ini mengutamakan
penguatan pada Kurikulum Pendidikan Agama dan Kurikulum Muatan Lokal tentang
Budaya dan Adat Istiadat Ternate pada semua tingkatan Sekolah sejak Pendidikan
Usia Dini hingga Perguruan Tinggi dan mengoptimalkan fungsi Taman Pengajian
Al-Quran sebagai tempat pendidikan baca tulis Al-Quran, sekaligus memberikan
pemahaman tentang syariah, Akhlaq, Budi Pekerti sejak Usia Dini dan Sekolah Dasar.
Disamping itu juga mempertegas regulasi daerah guna menjamin kepastian hukum dan
kemudahan investasi, memperkuat regulasi terhadap partisipasi publik yang dinamis,
efektif dan bertanggungjawab dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
serta memperkuat regulasi yang menjamin Standar Pelayanan Minimal pada bidang
pelayanan dasar untuk publik.

Pembangunan di tahun 2015 lebih menegaskan komitmen untuk penguatan pada 2


(dua) program sebagai fokus utama pembangunan di Tahap V, antara lain :
1. Membangun Kepedulian Sosial, Kesadaran Nilai Keagamaan,
Kebudayaaan dan Adat Istiadat dan; yang diarahkan untuk menjawab
permasalahan perkotaan seperti menurunnya kesadaran spiritualitas
keberagamaan, solidaritas sosial dan kesadaran kebudayaan sebagai identitas
daerah dan jati diri masayarakat, meningkatkan etos sosial, dan optimalisasi
penanggulangan masalah-masalah sosial seperti minuman keras, PSK, narkoba
serta permasalahan sosial lainnya.
2. Penegakan Supremasi Hukum, Hak Azasi Manusia untuk mendorong
Partisipasi Publik yang Dinamis dan Konstruktif; yang diarahkan untuk
menjawab masalah penegakan dan kepastian hukum di daerah, termasuk upaya
mengadakan regulasi daerah yang mampu mendorong partisipasi publik yang
dinamis dan konstruktif, serta regulasi untuk menjamin kualitas pelayanan
publik.

Bab VIII 149


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

8.2. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH


Indikator kinerja pembangunan merupakan tolok ukur yang digunakan untuk
mengukur capaian tujuan dan sasaran RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015, serta
mengevaluasi pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan seluruh
SKPD Kota Ternate. Penetapan indikator kinerja dan capaian sasaran dilakukan
dengan mempertimbangkan indikator yang khusus, terukur, dapat dicapai, rasional
dan memperhitungkan waktu pencapaian.

Tabel VIII.1.
Indikator Kinerja Pembangunan Menurut Sasaran Strategis
Sasaran Indikator Kinerja
1. Percepatan pengembangan infrastruktur 1. Proporsi panjang jaringan jalan dalam
secara merata dan berkeadilan, terutama kondisi baik (Pembangunan infrastruktur
pada kecamatan-kecamatan di luar kawas- wilayah di Kecamatan)
an perkotaan untuk membuka keterisola- 2. Cakupan pemerataan pelayanan air bersih
sian, serta memungkinkan terjadinya kawasan dataran tinggi
mobilitas arus barang dan manusia yang
3. Cakupan pemerataan pelayanan listrik
mempercepat perkembangan secara
yang tidak terjangkau layanan PLN
merata pada semua wilayah kecamatan
2. Peningkatan Sumber Daya Manusia, 1. Persentase sarana pendidikan, pemerata-
khususnya peningkatan derajat Pendidikan an tenaga pengajar dan peningkatan
melalui perluasan akses pendidikan mutu pendidikan
yang murah dan terjangkau, sarana dan 2. Dana bantuan penunjang kegiatan seko-
fasilitas yang memadai, tenaga guru yang lah (penunjang BOS) untuk mewujudkan
cukup, dan mutu yang terus membaik pendidikan dasar yang berkualitas
3. Penyediaan buku pelajaran di
perpustakaan sekolah
4. Jumlah guru yang difasilitasi untuk melan-
jutkan studi S-1
5. Pemberian beasiswa kepada siswa/maha-
siswa berprestasi dan kurang mampu
6. Pemberian beasiswa kepada guru berpres-
tasi untuk melanjutkan studi
7. Pemberian insentif kepada guru di daerah
terpencil
8. Angka Melek Huruf
9. Angka Rata-rata Lama Sekolah
10. Angka Partisipasi Murni
11. Angka Partisipasi Kasar
12. Angka Partisipasi Sekolah
13. Rasio Guru/murid (SD)

150 Bab VIII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Sasaran Indikator Kinerja


14. Rasio Guru/murid (SLTP)
15. Rasio Guru/murid (SLTA)
3. Meningkatkan Sumber Daya Manusia, 1. Persentase sarana prasarana pelayanan
melalui peningkatan derajat Kesehatan kesehatan, dokter dan perawat serta
dengan perluasan akses yang mudah, obat-obatan di Puskesmas/Pustu/
murah, terjangkau, dukungan sarana dan Poskeskel
fasilitas memadai, ketersediaan dokter, 2. Pemberian insentif kepada bidan atau
tenaga kesehatan dan keperawatan yang tenaga kesehatan di daerah terpencil
cukup, dan mutu pelayanan yang terus
3. Pemberian beasiswa kepada dokter,
membaik
tenaga medis putera/puteri daerah
berprestasi
4. Jumlah masyarakat miskin yang mendapat
pelayanan Jamkesda
5. Persentase pelaksanaan kebijakan subsidi
silang bagi pasien rawat inap
6. Persentase pelayanan Ambulance dan
Mobil Jenazah gratis bagi warga kurang
mampu
7. Angka Harapan Hidup
8. Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran
hidup
9. Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran
hidup
10. Persentase gizi buruk pada balita
11. Persentase Kecamatan bebas Rawan Gizi
12. Persentase Posyandu Purnama dan Mandiri
13. Persentase Penduduk yang memanfaatkan
Puskesmas
14. Persentase persalinan oleh tenaga kese-
hatan
15. Rasio Puskesmas terhadap Jumlah pen-
duduk
16. Penderita Malaria
4. Terwujudnya kebijakan Anggaran (APBD) 1. Penetapan One Village One Program (satu
yang proporsional dan Pro Rakyat, yang Kelurahan, satu program unggulan)
diprioritaskan pada upaya pemenuhan 2. Pembangunan rumah layak huni bagi
kebutuhan rakyat serta membiayai keluarga kurang mampu
program pembangunan yang strategis,
3. Pembangunan Infrastruktur lingkungan
juga program populis yang menyentuh
kebutuhan dasar masyarakat, melalui 4. Persentase pemberian santunan kematian
desain program berbasis keswadayaan bagi warga kurang mampu
dan berciri budaya 5. Jumlah bantuan dana rutin bagi tempat
ibadah

Bab VIII 151


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Sasaran Indikator Kinerja


6. Bantuan pembinaan bagi generasi muda
7. Kerjasama dengan perguruan tinggi dan
LSM
5. Penataan infrastruktur perkotaan sebagai 1. Persentase penataan kawasan pasar
kota jasa dan perdagangan dengan Gamalama, Tapak I Plus dan Tapak II
pemanfaatan ruang kota secara terpadu dengan aksentuasi ornament kebudayaan
untuk mendukung interaksi spasial, lokal
mobilitas dan aktivitas perkotaan yang 2. Pengoptimalan pasar Bastiong, pasar
tertib menuju terwujudnya Kota Ternate Dufa-dufa, pasar Kotabaru dan pasar Sasa
yang harmoni, sehat, aman dan nyaman sebagai pasar tradisional
dan berciri budaya serta berwawasan
3. Rasio taman kota dan ruang terbuka hijau
lingkungan
kawasan perkotaan
4. Persentase pemantapan visi dan penataan
kota baru berbasis pendidikan dan berciri
lokal
5. Persentase penataan area depan kedaton
kesultanan, lapangan Ngara Lamo,
Dodoku Ali sebagai RTH berciri budaya
6. Peningkatan program partisipatif untuk
mewujudkan Ternate sebagai Kota
Ternate yang hijau, asri, bersih, nyaman
dan ramah lingkungan
7. Perwujudan Ternate bebas sampah dan
bebas banjir
6. Terwujudnya good government, dengan 1. Jumlah organisasi perangkat daerah yang
sumberdaya aparatur yang profesional, efektif dan efisien
kreatif, inovatif, yang mampu menjamin 2. Optimalisasi kapasitas dan kapabilitas
peningkatan kualitas pelayanan, aparatur pemerintah
akuntabilitas dan kemandirian masyarakat
3. Peningkatan mainset aparatur dalam
memberikan pelayanan publik yang
berkualitas
4. Peningkatan kinerja dan prestasi aparatur
5. Peningkatan kompetensi sumber daya
aparatur
6. Peningkatan pelayanan umum di
Kecamatan dan Kelurahan
7. Peningkatan kesejahteraan masyarakat 1. Persentase pelayanan kemudahan izin
Petani, Nelayan, Pekebun, Peternak, usaha bagi masyarakat kurang mampu
Buruh dan Pekerja, Koperasi, Usaha Mikro 2. Persentase pemberian kepastian hukum
Kecil Menengah (UMKM), Pedagang Kaki dan kemudahan izin bagi investor
Lima, dan Pedagang Tradisional, menuju
3. Jumlah koperasi, UMKM, pedagang
pada kemandirian dan kemampuan
tradisional dan PKL yang diberikan
memenuhi kebutuhan dasar (basic need)
bantuan modal usaha

152 Bab VIII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Sasaran Indikator Kinerja


4. Peningkatan kesejahteraan melalui Upah
Minimum Kota
5. Jumlah kelompok perempuan dan pemuda
yang diberikan modal usaha
6. Jumlah kursus dan pelatihan bagi
pengangguran terbuka unskill
7. Jumlah koperasi aktif
8. Jumlah UKM
9. Nilai modal kerja dan investasi UKM
10. Nilai omzet UKM
11. Penyerapan tenaga kerja
12. Tingkat pengangguran terbuka
8. Terwujudnya pelayanan publik oleh apara- 1. Jumlah lembaga perijinan
tur yang profesional, dengan pelayanan 2. Persentase penurunan pungutan liar
yang cepat, mudah, murah, nyaman dan
3. Penyediaan database kependudukan online
berkualitas
4. Persentase pelayanan kelurahan terhadap
pembuatan KTP, KK dan Akta Kelahiran
gratis
5. Jumlah penduduk
6. Laju Pertumbuhan Penduduk
7. Rasio penduduk ber-KTP
8. Rasio keluarga ber-KK
9. Rasio bayi berakte kelahiran
10. Rasio pasangan berakte nikah
11. Jumlah penduduk miskin
12. Jumlah surat kabar nasional/lokal
13. Jumlah penyiaran radio/tv lokal
14. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk
9. Peningkatan kemandirian masyarakat, me- 1. Pemetaan potensi masyarakat pesisir
lalui pengembangan ekonomi kerakyatan 2. Jumlah kelompok yang diberikan bantuan
berbasis potensi pesisir, melalui pengem- fasilitas bantuan dan peralatan
bangan usaha mikro kecil, menengah,
3. Jumlah kelompok pengolahan hasil
koperasi yang mengarah pada produktifi-
produksi perikanan diberikan bantuan
tas, dan kemampuan daya saing
modal usaha dan pendampingan
4. Pelaksanaan kerjasama dengan perguruan
tinggi dan LSM dalam pendampingan
pemberdayaan

Bab VIII 153


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

Sasaran Indikator Kinerja


10. Menjawab permasalahan perkotaan 1. Penguatan kurikulum pendidikan agama
seperti menurunnya kesadaran spirituali- dan kurikulim muatan lokal tentang
tas keberagamaan, solidaritas sosial dan budaya dan adat istiadat Ternate
kesadaran kebudayaan sebagai identitas 2. Jumlah Taman Pengajian Al-Quran
daerah dan jati diri masyarakat, menin-
3. Optimalisasi pembinaan jemaat dan umat
gkatkan etos sosial, dan optimalisasi
agama non-muslim
penanggulangan masalah-masalah sosial
seperti minuman keras, PSK, narkoba 4. Upaya pembinaan kerukunan antar umat
serta permasalahan sosial lainnya beragama, antar suku, etnis dan subetnis
serta pelestarian situs, artifak dan
dokumen sejarah dan aset seni budaya
Kota Ternate
5. Jaminan kesejahteraan Imam Masjid,
Pendeta, Guru Mengaji, Guru TPA dan
Pembimbing Jemaat.
6. Jaminan pelestarian adat dan budaya
Ternate
11. Menjawab masalah penegakan dan 1. Peningkatan regulasi daerah tentang
kepastian hukum di daerah, termasuk jaminan kepastian hukum dan kemudahan
upaya mengadakan regulasi daerah yang investasi
mampu mendorong partisipasi publik yang 2. Penguatan regulasi terhadap partisipatif
dinamis dan konstruktif, serta regulasi publik
untuk menjamin kualitas pelayanan publik
3. Penguatan regulasi tentang jaminan
Standar Pelayanan Minimal
4. Peninjauan kembali Peraturan Daerah
5. Pemberian layanan bantuan hukum secara
gratis terhadap warga kurang mampu

154 Bab VIII


Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB IX
KAIDAH PELAKSANAAN DAN PEDOMAN TRANSISI

9.1 KAIDAH PELAKSANAAN


RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 menjadi pedoman penyusunan Rencana Strategis
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) Kota Ternate, dan pedoman penyu-
sunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Ternate setiap tahunnya.

Dalam upaya mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan, serta melak-
sanakan 11 Program Prioritas dan kegiatan yang tercantum dalam RPJM Kota Ternate
Tahun 2011-2015, kaidah-kaidah pelaksanaan adalah sebagai berikut:
(1) Pelaksanaan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 diarahkan dan dikendalikan
langsung oleh Walikota dan Wakil Walikota Ternate dengan Pelaksana Harian
Sekretaris Daerah Kota Ternate;
(2) dalam menyelenggarakan perencanaan pembangunan daerah, Walikota Kota
Ternate dibantu oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Kepala
Bappeda) Kota Ternate;
(3) Seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di lingkungan Pemerintah
Kota Ternate agar melaksanakan program-program dalam RPJM Kota Ternate
Tahun 2011-2015 dengan sebaik-baiknya;
(4) Setiap SKPD, baik yang berbentuk Badan, Dinas, Kantor dan Bagian, berkewajiban
untuk menyusun Rencana Strategis SKPD (Renstra-SKPD) yang memuat Visi,
Misi, Tujuan, Strategi, Kebijakan, Program, dan Kegiatan Pembangunan sesuai
dengan tugas dan fungsi SKPD yang disusun dengan berpedoman pada RPJM
Kota Ternate Tahun 2011-2015;
(5) Setiap Pemerintah Kecamatan agar mengacu pada RPJM Kota Ternate Tahun
2011-2015 sebagai dasar penyusunan dokumen rencana, dan melaksanakan
program dalam RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 dengan sebaik-baiknya.

Bab IX 155
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

(6) Penjabaran lebih lanjut RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 untuk setiap
tahunnya harus dilakukan melalui penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD) Kota Ternate;
(7) Penyusunan RKPD Kota Ternate harus dilakukan melalui proses Musyawarah
Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang dilaksanakan secara berjenjang,
yaitu mulai dari Musrenbang Kelurahan, Musrenbang Kecamatan, Forum SKPD
dan Musrenbang Kota;
(8) RKPD Kota Ternate harus menjadi acuan bagi setiap SKPD dalam menyusun
Rencana Kerja SKPD (Renja-SKPD) yang disusun dengan pendekatan berbasis
kinerja;
(9) dalam hubungannya dengan keuangan daerah, keberadaan RKPD Kota Ternate
merupakan dasar penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (RAPBD) tahun anggaran berikutnya terutama sebagai rujukan dalam
penyusunan Kebijakan Umum APBD serta penyusunan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara;
(10) Renja-SKPD yang disusun dengan pendekatan berbasis kinerja harus menjadi
pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD);
(11) dalam pelaksanaan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015, setiap SKPD perlu
memperkuat peran pemangku kepentingan dalam mendukung pelaksanaan RPJM
Kota Ternate Tahun 2011-2015 ini, dan melakukan sosialisasi baik kepada aparat
Pemerintah Kota Ternate, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil;
(12) dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan RPJM Kota Ternate Tahun
2011-2015, pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJM Kota Ternate
Tahun 2011-2015 sebagai berikut:
a. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan oleh masing-
masing Pimpinan SKPD;
b. Kepala Bappeda Kota Ternate menghimpun dan menganalisis hasil peman-
tauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing Pimpinan
SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya;
c. Kepala SKPD melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan
SKPD periode sebelumnya;

156 Bab IX
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

d. Kepala Bappeda Kota Ternate menyusun evaluasi rencana pembangunan


berdasarkan hasil evaluasi Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagaimana
dimaksud pada huruf (c);
e. Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada huruf (d) menjadi bahan bagi
penyusunan rencana pembangunan daerah untuk periode berikutnya.
(13) dengan mempertimbangkan berbagai hal yang di luar kendali Pemerintah
Kota Ternate dan diperkirakan dapat menghambat pelaksanaan RPJM Kota
Ternate, maka berbagai strategi, arah kebijakan dan program yang telah
dikembangkan dapat ditinjau kembali dan hasilnya harus dikonsultasikan
kepada DPRD Kota Ternate untuk mendapatkan pertimbangan lebih lanjut
dalam proses pelaksanaannya.

9.2 PEDOMAN TRANSISI


Dalam upaya mengantisipasi kekosongan dokumen perencanaan jangka menengah
pada akhir jabatan Walikota dan Wakil Walikota Ternate untuk masa bakti 2011-2015,
maka dapat disusun rancangan program indikatif satu tahun ke depan bila diperlukan.
Berikut adalah rancangan program transisi untuk Tahun 2016.

Tabel IX.1.
Program Utama Transisi
No Program Utama Sasaran Indikator
1 Program Pengembangan 1. Meningkatnya jangkauan 1. Angka partisipasi sekolah
Pendidikan layanan pendidikan 2. Angka kelulusan
menengah dan tinggi 3. Angka melek huruf
2. Meningkatnya mutu
layanan pendidikan dasar,
menengah dan tinggi
sesuai dengan standar
nasional dan internasional
2 Program Peningkatan 1. Meningkatnya jangkauan 1. Angka kematian bayi
Kesehatan Masyarakat layanan kesehatan 2. Angka kematian ibu
2. Meningkatnya mutu 3. Angka harapan hidup
layanan kesehatan 4. Angka kecukupan
5. Persentase balita bergixi
buruk

Bab IX 157
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

No Program Utama Sasaran Indikator


3 Program Peningkatan dan 1. Berkurangnya angka 1. Jumlah dan persentase
Pemerataan Pembangunan kemiskinan penduduk miskin
2. Berkurangnya angka 2. Jumlah dan persentase
pengangguran angka pengangguran
4 Program Kerjasama Ekonomi, 1. Meningkatkan daya saing 1. Nilai investasi PMDN
dan Kelembagaan daerah 2. Nilai Investasi PMA
2. Meningkatnya daya tarik 3. Jumlah tenaga kerja dari
daerah investasi PMDN
3. Meningkatkan Investasi 4. Jumlah tenaga kerja dari
domestik (PMDN) dan investasi PMA
investasi asing (PMA)
4. Meningkatnya kesempatan
kerja
5 Program Pembangunan 1. Meningkatnya kapasitas 1. Tingkat kecepatan
Pemerintahan sumber daya manusia layanan
aparatur 2. Tingkat ketepatan
2. Meningkatnya mutu layanan
layanan publik 3. Tingkat kepuasan
3. Meningkatnya efisiensi
dan efektivitas
penyelenggaraan
pemerintahan
Sumber : Analisis 2010

158 Bab IX
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kota Ternate Tahun 2011 - 2015

BAB X
PENUTUP

Penyusunan RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 ini akan menjadi pedoman dan arahan
bersama bagi seluruh pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan di Kota Ternate, serta terpadu dan searah dengan pembangunan
nasional selama lima tahun mendatang. RPJM Kota Ternate Tahun 2011-2015 menjadi
pendorong membangun gerakan bersama menuju Terwujudnya Ternate Menjadi Kota
Berbudaya, Agamais, Harmonis, Mandiri, Berkeadilan dan Berwawasan Lingkungan -
Kota Ternate BAHARI BERKESAN.

Dalam kaitan itu perlu adanya kesungguhan dan komitmen yang kuat, agar pada
gilirannya mampu memberikan hasil pembangunan yang dapat dinikmati secara lebih
adil dan merata oleh seluruh masyarakat Kota Ternate. Keberhasilan pelaksanaan
RPJM Kota Ternate ini, tergantung pada sikap, mental, tekad, semangat, ketaatan, dan
disiplin para penyelenggara pemerintahan, khususnya kepada seluruh Kepala Satuan
Perangkat Daerah (SKPD) meliputi Sekretaris Daerah, Asisten Daerah, Kepala Badan,
Kepala Dinas, Kepala Kantor, Camat dan Lurah, serta jajaran perangkat daerah lainnya,
untuk bersama mewujudkan Bahari Berkesan serta Ternate kearah yang Insya Allah
Lebih Baik.

WALIKOTA TERNATE,

H. BURHAN ABDURAHMAN

Bab X 159