Perencanaan Ventilasi Tambang Bawah Tanah
Perencanaan Ventilasi Tambang Bawah Tanah
Oleh :
HARSALIM AIMUNANDAR JAYAPUTRA
NIM : 22116019
Program Studi Magister Rekayasa Pertambangan
( Bidang Khusus Lingkungan Pertambangan)
i
2.3.5 Dasar-dasar Perhitungan Jaringan Ventilasi ........................................................... 23
2.4 Kualitas Udara Tambang...................................................................................................... 24
2.4.1 Gas-gas Pengotor Pada Udara Tambang Bijih ........................................................ 24
2.4.2 Dasar Peraturan Ventilasi Tambang........................................................................ 28
2.4.3 Perangkat Lunak Ventsim Visual 4......................................................................... 29
ii
BAB I
PENDAHULUAN
PT. Harsanjaya (PT. HAJ) Merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang
usaha petambangan berwawasan lingkungan yang memiliki lokasi penambangan cadangan bijih
emas yang teretak berdekatan dengan lokasi Taman Nasional Ujung kulon. Berdasarkan
pertimbangan produktivitas dalam kegiatan penambangan nantinya, PT. HAJ menggunakan
system penambangan bawah tanah dengan metode cut and fill, sehinggah diharuskan memiliki
perencanaan system ventiasi yang mempuni dalam mendukung berlangungnya kegiatan
penambangan nantinya.
Berdasarkan keberadaan arah urat vein PT HAJ, tambang tersebut direncanakan untuk
melakukan kegiatan penambangan (development dan produksi) yang beroperasi selama 10 tahun
dengan target sebesar 1800 ton ore/hari. Adapun pembagian tahapan penambangan akan dibagi
menjadi 3 stage , yaitu stage ke 1 pada tahun ke -1 dan ke -2 merupakan kegiatan development dan
produksi, dan tahap produksi selanjutnyaa dibagi dalam stage ke 2 untuk tahun ke -3 sampai tahun
ke -8 dan stage ke-3 untuk tahun tahun ke -9 sampai tahun ke -10.
Dalam proses penambangan bawah tanah, salah satu hal yang peting adalah dibuatnya
ventilasi tambang dalam menyediakan udara segar untuk para pekerja. Ventilasi merupakan
pengendalian pergerakan udara, arah dan jumlahnya. Meskipun tidak memberi kontribusi langsung
ke tahap operasi produksi, system ventilasi yang kurang tepat seringkali akan menyebabkan
efisiensi yang lebih rendah, produktifitas pekerja menurun dan tingkat kecelakaan yang meningkat.
Oleh karena itu, system ventilasi menjadi hal yang sangat penting pada pertambangan bawah
tanah. Hal ini juga telah diatur dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No
555.K/26/M.PE/1995 mengenai perencanaan sistm ventilasai yang baik.
Dalam melakukan perencanaan ventilasi tambang bawah tanah pengunaan perangkat lunak
akan mempermudah permodelan dalam merencanakan system ventilasi tambang bawah tanah.
Sehinggah pada penelitian ini akan digunakan perangkat lunak Visual VentSim 4 dalam
melakukan perencanaan system ventilasi tambang bijih bawah tanah.
1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang akan dibahas adalah bagaimana desain
system ventilasi tambang untuk masing masing tahapan rencana kemajuan tambang di PT. HAJ
yang didasari oleh Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No 555.K/26/M.PE/1995.
1.3 Tujuan
Adapun Batasan masalah untuk perencanaan system ventilasi ini dibatasi oleh :
a. Parameter kualitas udara dibatasi pada temperatur basah (Wet Bulb 0C) dan temperatur
kering (Dry Bulb 0C), kandungan O2 (%), konsentrasi CO (ppm) dan H2S (ppm), serta
kelembaban udara relatif (Rh %) yang didapatkan dari hasil penelitian Tugas Akhir
Sandro Hanaehan Sirait.
b. Parameter kuantitas udara dibatasi pada kecepatan angin (m/s) dan debit udara (m3/s)
yang didapatkan dari hasil penelitian Tugas Akhir Sandro Hanaehan Sirait.
c. Pemodelan jaringan system ventilasi utama dan local dengan perencanaan yang
dilakukan untuk jangka waktu 8 tahun (3 tahapan kemajuan penambangan).
1.5 Hipotesis
Hipotesis yang akan dilakukan adalah sistem ventilasi tambang PT HAJ sesuai dengan
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.555.K/26/M.PE/1995.
2
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini terdiri dari 7 (tujuh) bab, yaitu sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan berisi uraian penjelasan mengenai latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan, batasan masalah, hipotesis, sistematika penulisan, dan diagram alir
penelitian.
Bab II Tinjauan Pustaka berisi kumpulan dari beberapa sumber literature sebagai acuan
dan pedoman yang digunakan dalam penelitian disusun dalam bab ini. Sumber literatur
ini diambil dari referensi beberapa buku yang berkaitan dengan penelitian dan dari media
internet.
Bab III Data dan Pengolahan berisi data - data sekunder yang didapatkan dari referensi
Tugas Akhir dan dilakukan pengolahan data tersebut.
Bab IV Analisis berisi pembahasan perencanaan ventilasi yang dibutuhkan.
Bab V Kesimpulan berisi simpulan dari hasil simulasi perencanaan ventilasi Myang
dilakukan.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Jalan masuk dan keluar bagi karyawan dan alat angkut yang bergerak: truk, lori, skip dan
cage
2. Menempatkan peralatan: trafo, sistem telekomunikasi, ban berjalan, winch, fan, pipa air,
pipa angin, pipa lumpur, dan ruang makan
4
3. Mengangkut material: peralatan penyangga (kayu, balok, besi profil, steel arches,
hydraulic props, rock bolt, resin dll), bahan peledak dan perlengkapannya, air, udara
segar, dan batu hasil penambangan
4. Lubang khusus ventilasi
5. Untuk penirisan, sumur dan open channel
6. Keselamatan kerja (penyelamatan jika terjadi kecelakaan)
Mengingat fungsinya yang sangat spesifik tersebut, maka selain karyawantambang yang
sedang bertugas dilarang masuk, kecuali bagi orang-orangtertentu yang mendapat izin seperti
siswa/mahasiswa praktek, dan tamu tertentu. Berdasarkan posisinya lubang-lubang bukaan
dapat berupa :
5
ketinggian ruang yang mencukupi untuk melakukan pemboran bijih selanjutnya. Material Filling
digunakan sebagai tempat berpijak untuk melakukan pemboran bijih selanjutnya. Material filling
sering berupa waste rock dari kegiatan development dan eksplorasi sekitar tambang yang
kemudian ditumpahkan melalui rise mengarah ke stope yang akan diisi dan untuk meningkatkan
kekuatan material pengisi maka ditambahkan semen.
Ada beberapa syarat untuk metode cut and fill stoping, antara lain :
a. Endapan bijih tebalnya antara 1 6 m.
b. Arah endapan relatif mendatar tapi cukup tebal.
c. Sebaiknya untuk endapan vein, kemiringannya harus lebih dari 45o. Dan untuk endapan yang
bukan vein kurang dari 45o.
d. Endapan bijih keras, tapi batuan induknya boleh tidak kompeten mengingat hampir secara
langsung disangga dengan material filling.
e. Endapan bijih bernilai tinggi baik kadar maupun harganya.
6
2.2 Prinsip Dasar Ventilasi Tambang Bawah Tanah
7
Table2.0.1 Kandungan Udara Bebas (Hartman, (1997)
8
d. Panas peledakan
Panas yang ditimbulkan hasil peledakan dapat dikatakan dengan panas yang dalam waktu
singkat, namun panas ini dapat mengakibatkan panas yang berkepanjangan apabila
ventilasnya tidak bekerja dengan baik. Hasil ledakan batuan yang tidak terangkut keluar
dapat mengakibatkan banyaknya genangan air (lumpur) sehingga dapat mngakibatkan
meningkatnya uap air udara.
e. Faktor Autocompresion
Faktor alam ini yang dapat mempengaruhi ruang kerja menjadi panas. Faktor
autocompresion adalah faktor dimana naiknya temperatur setiap 1 km akan naik sebesar
1C.
f. Air tanah
Banyaknya air tanah yang mengenangi pada tambang bawah tanah akan berpengaruh pada
kelembaban udara. Kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan udara menjadi
panas.
Temperatur udara di dalam tambang bawah tanah diukur dalam satuan derajat Celcius. Temperatur
yang digunakan di dalam tambang bawah tanah adalah temperatur basah dan temperatur kering.
Besarnya temperature yang dihasilkan selalu temperature basah lebih rendah atau sama dengan
temperatur kering.
9
motorik tubuh yang disebabkan oleh timbulnya kekakuan fisik tubuh. Kedua kondisi ini dapat
mengurangi produktivitas kerja bahkan potensial menyebabkan kecelakaan kerja.
Pada system ventilasi aliran udara, satu titik ke titik yang lain harus mempunyai perbedaan
tekanan antara dua titik tersebut. Perbedaan tekanan ini disebut sebagai tekanan ventilasi dan
berikut adalah aturan yang biasa dipakai dalam tambang bawah tanah.
1. Udara selalu mengalir dari tekan tinggike tekanan rendah dan selama perbedaan tekanan tetap
maka udara akan tetap mengalir.
2. Semakin besar perbedaan tekanan antara dua titik maka semakin besar jumlah aliran udara
yang mengalir. Dengan asumsi nilai resistensi tidak berubah.
3. Resistensi dapat mengurangi tekanan system ventilasi.
4. Jika perbedaan tekanan anatara dua titik sama dengan resistensi meningkat maka kuantitas
udara yang mengalir akan berkurang.
Tekanan adalah gaya yang digunakan pada luasan tertentu. Didalam system ventialsi digunakan
satuan pascal. Pascal (Pa) = 1 Newton per meter persegi (N/m2).
10
f. Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan pada ventilasi tambang.
Jumlah udara yang akan mengalir melalui sebuah system ventilasi tergantung pada
perbedaan tekanan antara titik permulaan dan titiik akhir jalurventilasi dan ukuran dari bukaan.
Selain itu terdapat juga factor lain yang menyebabkan jumlah udara yang mengalir sedikit adalah
kekasaran dari dinding dan belokan tajam aliran udara serta berapa kali udara berubah arah.
Ketika mengalirkan udara pada jalur yang lurus dengan energy konstan maka udara akan
mengalir dengan kecepatan yang sama. Sehingga jika kekasaran permukaan berubah maka akan
terjadi hambatan dalam mengalirkan udara dengan kecepatan yang sama dan membutuhkan energi
yang lebih banyak untuk mempertahankan kecepatan. Kehilangan energy yang diakibatkan oleh
kekasaran dari dinding dikenal dengan kehilangan tekanan gesek (Frictional Pressure Loss).
Ketika udara dialirkan dengan kecepatan konstan, energy dbutuhkan untuk megubah
kecepatan dan arah aliran. Perubahan ini terjadi di setiap aliran udara mengikuti perubahan arah,
bentuk, dan ukuran. Kehingan energy pada perubahan arah aliran udara disebut Shock Pressure
Loss. Contoh aliran jalur ventilasi pada tambang bawah tanah dapat dilihat pada Gambar III.1
dibawah ini.
Gambar 2.0.1 Contoh Salah Satu Rangkaian Jalur Ventilasi (McPherson, 1993)
11
2.2.6 Resistensi Udara
Aliran udara yang mengalir didalam sistem ventilasi tambang bawah tanah merupakan
aliran udara yang sangat komplek, dimana aliran udara dipengaruhi oleh bentuk dan kekasaran
permukaan yang heterogen sehingga terjadi kehilangan tekanan akibat friction dan shock yang
kompleks. Tahanan aliran udara tambang dari pada rumus Atkinson yang dituliskan sebagai
berikut .
= ( + ) . (III.1)
3
Keterangan :
R = Resistensi (Ns/m8)
Leq = Length Equivalent, merupakan representasi dari shock loss pembesaran / pengecilan
luas dan sebagainya, yang dipresentasikan sebagai losses pada panjang jalur udara lurus,
Tabel II.2 (m)
12
Table 0.2 1 Nilai Equivalent Length dan Type Jalur Udara (McPhrson,1993)
13
Table 2.0.3 Faktor Gesekan ( McPherson ,1993 )
14
2.2.7 Shock Loss
Shock Loss adalah perubahan dari tekanan total sepanjang sauran udara seperti pada pintu
masuk udara, belokan, percabangan, perubahan luas saluran udara, perubahan penampang pada
saluran udara keluar. Shock Loss pendek terjadi akibat perubahan arah aliran udara.
Kehilangan tekanan yang diakibatkan dari perubahan arah dapat ditentukan dengan
persamaan shock loss sebagai berikut.
Keterangan:
= faktor shockloss
2
= ( )
2
Keterangan :
15
i. Bentuk saluran udara
j. Saluran udara yang secara tiba-tiba berubah arah
k. Jumlah dan tipe bentuk saluran udara yang kompleks seperti terdapat dua belokan, belokan yang
tersebut diikuti dengan perubahan penampang.
Saluran yang di hubungkan secara seri ini, ditengahnya sama sekali tidak ada cabang, baik
memisah maupun menggabung. Apabila yang dihubungkan secara seri, bebit udara pada saluran
udara di R1 sama dengan debit udara di R2 . Kehilangan tekanan total pada system ini adalah
jumlah kehilangan tekanan pada saluran udara A dan saluran udara B.
16
Tahanan jenis R1, R2,, Rn dihubungkan secara paralel, R, maka dapat dirumuskan sebagai
berikut.
1 1 1 1
= + + +
1 2
Pada rangkain udara parallel dimana kehilangan tekanan sepanjang saluran udara R1 sama dengan
kehilangan tekanan sepanjang saluran udara R2. Total debit udara yang mengalir dalam system
sama dengan debit udara yang mengalir pada saluran udara R1 dan saluran udara R2.
Jenis-jenis ventilasi dapat digolongan berdasarkan beberapa hal berikut ini, antara lain :
Penggolongan berdasarkan metode pembangkitan daya ventilasi, terdiri dari ventilasi alami
dan ventilasi mesin
Penggolongan berdasarkan tekanan ventilasi pada ventilasi mesin , terdiri dari ventilasi tiup
dan ventilasi sedot.
Penggolongan berdasarkan letak intake dan outake airway, terdiri dari ventilasi terpusat dan
ventilasi diagonal.
17
b. Ventilasi Mekanis (Artificial / mechanical ventilation)
Ventilasi mekanis adalah jenis ventilasi dimana aliran udara masuk ke dalam tambang
disebabkan oleh perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh alat mekanis. Yang dimaksud peralatan
ventilasu mekanis adlaah semua jenis mesin penggerak yang digunakan untuk memompa dan
menekan udara segar agar mengalir ke dalam lubang bawah tanah. Yang paling penting dan umum
digunakan adalah fan atau mein angin. Mesin angina adalah pompa udara, yang menimbulkan
adanya perbedaan tekanan antara kedua sisinya, sehingga udara akan bergerak dari tempat yang
tekanannya lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Pada proes menerus dapat dilihat bahwa
mesin angina menerima udara pada tekanan tertentu dan dikeluarkan dengan tekanan yang lebih
besar.
Jadi mesin angin adalah perubah energi dari mekanis ke fluida, dengan memasok tekanan
untuk mengatasi kehilangan tekanan (head losses) dalam aliran udara. Pergerakkan udara di
tambang bawah tanah dibangkitkan dan diatur oleh pembangkit tekanan yang disebut ventilator
atau mesin angin. Mesin angina yang memasok kebutuhan udara untuk seluruh tambang
dinamakan mesin angina utama (main fan). Mesin angin yang digunakan untuk mempercepat
aliran udara pada percabangan atau suatu lokasi tertentu di dalam tambang, tetapi tidak menambah
volume total udara di dalam tambang tersebut disebut mesin angina penguat (booster fan)
sedangkan mesin angina yang digunakan pada lokasi kemajuan atau saluran udara tertutup (lubang
buntu) dinamakan mesin angin bantu (auxiliary fan). Berdasarkan cara menimbulkan udaranya
serta letak mesinnya, ventilasi mekanis dibedakan menjadi tiga metode yaitu :
1. Forcing System (Sistem Hembus)
Sistem hembus akan memberikan hembusan udara bertekanan positif ke front kerja dengan
aliran udara yang bertekanan lebih besar dibanding udara di atmosfer. Udara ini dialirkan
melalui pipa saluran ventilasi yang menghubungkan fan dengan front kerja sebagaimana
terlihat pada gambar. Dalam sistem ini, dihembuskan udara bersih ke front. Sistem forcing ini
dapat digambarklan seperti Gambar berikut ini.
18
Gambar 2.4 Forcing System Ventilation
3. Overlap System
Sistem ini merupakan gabungan dari sistem exhausting dan forcing (Gambar II.6). Sistem ini
menggunakan 2 fan yang memiliki tugas berbeda satu sama lain. Ada fan yang bertugas
menyuplai udara ke front (intake fan), ada fan yang bertugas untuk menghisap udara dari front
(exhausting fan). Tetapi exhaust fan dipasang lebih mundur (lebih jauh) dari front
penambangan. Sedangkan duct akhir dari intake fan dipasang lebih dekat dengan front
19
penambangan. Hal ini untuk mencegah agar udara yang disuplai langsung dihisap oleh exhaust
fan sehingga udara akan memiliki waktu untuk bersirkulasi pada front penambangan.
2.3.1 Fan
Fan adalah mesin yang berputar sehingga udara dapat mengalir secara terus
menerus pada suatu tekanan dan menyalurkan pada tekanan yang lebih tinggi. Energi
mekanik dihasilkan dari kipas diubah menjadi energy potensial (tekanan) dan energy
kinetic (kecepatan). Tekanan ini berguna untuk mengatasi hambatan pada saluran udara.
1. Kipas Aksial
Kipas Aksial mengalirkan udara parallel dengan impeller kipas dan jarak aliran yang
konstan dari sumbu aksis. Tekanan naik dihasilkan oleh pergerakan bilah kipas. Kipas
aksial dibagi menjasi 3 :
20
1. Kipas aksial bebas yaitu impeller tidak dalam keadaan terkukung
2. Kipas aksial dengan tabung aksial yaitu impeller terbungkus
3. Vane aksial yaitu vane dibuat rapat dengan bungkus untuk menghindari adanya
ketidakstabilan putaran angin.
4. Kipas Sentifugal
Pada kipas sentrifugal udara masuk secara parallel dengan sumbu aksis dan
dibelokkan 90o dan udara dikeluarkan secara radial melewati bilah. Gaya yang
dihasilkan oleh bilah merupakan gaya tangensial yang menyebabkan udara berputar
dengan bilah dan tekan utama akan naik dengan gaya sentrifugal.
Kinerja dari fan dipresentasikan dalam bentuk grafik yang diplot pada sumbu
horizontal yaitu debit aliran udara dan sumbu vertical yaitu tekanan fan. Titik ini ditentukan
dari tes dimana kinerja fan sebernya diukur. Pertemuan dua titik ini memebentuk kurva.
Kurva ini disebut kurva karakteristik fan. Energi dan efisisensi kipas ditunjukkan oleh
masing masing titik aliran udara. Kurva kinerja fan ini diberikan oleh pabrik pembuat fan
untuk memprediksi volume aliran udara pada tekanan tertentu.
Dengan bertambahnya tekanan, volume aliran udara akan menurun. Hal yang harus
diperhatikan adalah kurva hanya dapat diaplikasikan pada kipas tersebut dan densitas udara
pada keadaan tersebut. Berikut ini menujukkan salah satu contoh kurva karakterisktik kipas
aksial.
21
Gambar 2.7 Kurva Karakteristik Fan (McPherson, 1993)
22
Table 2.4. Hukum Kipas (Mc Person, 1993)
Persamaan diatas berlaku jikakedua kipas mempunyaidimensi geometri yang sama danjika
ukuran berbeda maka tekanan total kipas akan lebih besar dari tekanan yang dihasilkan
berdasarkan perhitungan diatas.
Hal ini yang mungkin berubah adalah densitas selama terjadi kompresi udara yang dapat
mempengaruhi hasil dari perhitungan hukum diatas. Hal ini akan terjadi pada tekanan diatas 2.5
kPa.
Proses pengaliran udara pada ventilasi tambang diasumsikan sebagai proses aliran tetap
(steady flow process). Dalam suatu aliran tetap berlaku Hukum Kekekalan Energi, yang
menyatakan bahwa energi total di dalam suatu system adalah tetap, walaupun energi tersebut dapat
diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
23
2.4 Kualitas Udara Tambang
Udara tambang meliputi campuran antara udara atmosfer dengan emisi gas-gas dalam
tambang serta bahan-bahan pengotornya. Parameter kualitas udara meliputi gas, debu, temperature
serta kelembaban udara. Standar udara yang bersih adalah udara yang mempunyai komposisi sama
atau mendekati dengan komposisi udara atmosfer pada keadaan normal. Udara segar normal yang
dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida, Argo dan gas-
gas lain Komposisi udara segar dapat dilihat pada table 3.1
Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar normal
terdiri dari Notrogen = 79% dan Oksigen =21%. Disamping itu dianggap bahwa udara
segar akan selalu mengandung karbondioksida (CO2) sebesar 0.03%. Udara dalam ventilasi
tambang selalu mengandung uap air, tidak pernah ada udara yang benar-benar kering.
Karena itu akan selalu ada istilah kelembaban udara.
24
a. Karbondioksida (CO2)
Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau dan tidak mendukung nyala api dan merupakan
gas racun. Gas ini lebih berat dari pada udara, karenanya selalu terdapat pada bagian bawah
dari suatu jalan udara. Dalam udara normal kandungan CO2 adalah 0,03%. Dalam tambang
bawah tanah sering terkumpul pada bagian bekas-bekas penambangan terutama yang tidak
terkena aliran ventilasi, juga pada dasar sumur-sumur tua.
Sumber dari CO2 berasal dari hasil pembakaran, hasil peledakan atau dari lapisan batuan
dan dari hasil pernafasan manusia. Pada kandungan CO2 = 0.5% laju pernafasan manusia mulai
meningkat, pada kandungan CO2 = 3 % laju pernafasan menjadi duakali lipat keadaan normal,
dan pada kandungan CO2 = 5% laju pernafasan meningkat tiga kali lipat dan pada CO2 = 10%
manusia hanya dapat bertahan beberapa menit. Kombinasi CO2 dan udara biasa disebut
blackdamp.
25
c. Hidrogen Sulfida (H2S)
Gas inis erring disebut juga gas busuk (stinkdamp) karena baunya seperti bau telur busuk.
Gas ini tidak berwarna, beracun dan dapat meledak, merupakan hasil dekomposisi dari
senyawa belerang. Gas ini mempunyai berat jenis yang sedikit lebih berat dari udara. Nilai
ambang batas (TLV-TWA/Threshold Limit Value-Time Weigted Averag) yang diperkenankan
untuk pemaparan sebesar 10 ppm pada waktu selama 8 jam sehari.
Untuk waktu singkat (TLV-STEL/Threshold Limit Value Short Term Exposure Limit)
tidak diperkenankan terpapar lebih dari 20 ppm. Walaupun gas H2S mempunyai bau yang
sangat jelas, namun kepekatan terhadap bau ini akan dapat merusak akibat reaksi gas H2S
terhadap syaraf penciuman.
f. Debu
Sangat penting untuk mengetahui daerah-daerah vital yang menghasilkan debu pada
tambang bawah tanah. Hampir semua kegiatan penambangan menghasilkan polusi debu. Jika
suatu kegiatan operasi penambangan menghasilkan debu, kegiatan ini ditentukan sebagai
sumber utama. Jika kegiatan ini hanya mendispersi debu maka disebut sebagai sumber
sekunder. Berikut ini daftar operasi yang menghasilkan debu :
26
Table 2. 6 Aktifitas Penambangan Penghasil Debu (Hartman, 1997)
Tabel 2.6 Menunjukkan bahwa kegiatan penambangan penghasil debu utama adalah
kegiatan continuous miner dan roof bolter, sedangkan sumber penghasil debu sekunder adalah
pada kegiatan operasi roof bolter dan shuttle cars.
Secara garis besar, sumber debu pada tambang bawah tanah berasal dari aktivitas
penambangan yang meliputi operasi pemboran, peledakan, permuatan, dan pengangkutan bijih
atau batubara. Partikel debu dapat digolongkan berdasarkan kandungan material solid dan
ukuran diameter rata-rata partikelnya.
27
2.4.2 Dasar Peraturan Ventilasi Tambang
Aturan penghitungan penyediaan kebutuhan udara bersih minium didasarkan kepada
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995 tentang Keselamatan
Kerja Pertambangan Umum. Teori Jurani (1992) dan Mark (1991( serta patokan kebiasaan (Rules
of Thumb) juga sering digunakan dalam perhitungan ventilasi tambang.
28
7. Menurut MSHA (Mine Safetu and Health Administration) , kehilangan udara dari system
ventilasi yang diijinkan adalah maksimal 10%. Kebutuhan minimum udara segar yang
diperlukan seseorang untuk pernafasan, dapat dihitung dengan memperhatikan pembatasan
pada jumlah O2 minimum yang diperkenankan dan berdasarkan jumlah CO2 maksimum
yang diijinkan dalam udara.
29
Gambar 2. 8 Tampilan Ventsim Visual 4
Gambar II.9
30
BAB III
Perencanaan proses penambangan dilakukan dalam 3 tahapan. Dimana setiap tahapan mempunyai
kebutuhan udara segar yang berbeda-beda. Setiap tahapan mempunyai simulasi jaringan perencanaan
ventilasi yang berbeda beda.
Dalam perencanaan ventilasi menggunakan simulasi perangkat lunak Ventsim dibutuhkan data data
sebagai berikut.
Dimensi lubang bukaan meliputi tinggi dan lebar bukaan terowongan. Data dimensi terowongan ini
didapatkan dari data yang diberikan oleh Asisten. Besarnya luasan lubang bukaan didapatkan dari hasil
perkalian tinggi dikali lebar. Dimensi lubang bukaan ini diasumsikan sama untuk semua jalur lubang
bukaan. Berikut ini data dimensi lubang bukaan dapat dilihat pada Tabel III.1 dibawah ini.
Dimensi Terowongan
Mine
Type Dimension
Airway
Shaft Round Diameter = 2.8 m
Drift Square 4.8 m x 4 m
Raise Round Diameter = 2.2 m
Cross - cut Arched 4.8 m x 4 m
Duct Round 0.6 m
31
3.4 Resistensi
Resistensi merupakan hambatan dalam suatu lokasi. Hambatan ini akan mempengaruhi besar
kecilnya kecepatan aliran udara. Semakin besar nilai hambatan disuatu lokasi makin kecil
kecepatan aliran udara yang mengalir di lokasi tersebut. Besarnya resistensi ini dihitung dengan
menggunakan rumus II.1. Panjang jalur udara telah ditentukan oleh Asisten, panjang ekivalent
didapatkan dari Tabel II.2, dan faktor gesekan Atkinson dapat dilihat pada Tabel II.3. Perhitungan
resistensi ini dilakukan 3 tahap berdasarkan perencaaan kemajuan tambangnya. Data resistensi
yang didapatkan akan menjadi data input dalam simulasi perangkat lunak Ventsim.
Aliran udara segar yang cukup ditempat kerja didalam tambang akan menciptakan kondisi kerja
yang nyaman dan aman, sehinggaakan dapat meningkatkan produktivitas kerja dan menurunkan
tingkat kecelakaan tambang. Udara didalam tambang harus memenuhi udara minimum disetiap
jalr tempat kerja sesuai dengan Keptusan Menteri Pertambangan dan Energi No
555.K/26/M.PE/1995 Pasal 369 (3) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
peralatan yang digunakan dalam operasi penambangan, dan jumlah tenaga kerja yang bekerja
didalam Tambang
Kegiatan Development dan produksi tambang bawah tanah PT HAJ akan dibagi menjadi 3
stage , dengan perencanaan jumlah alat dan jumlah pekerja sebagai berikut :
Stage 1
Peralatan Jumlah unit
2 Boom Development Jumbo 2
LHD ST 1520 2
U/G Trucks MT5020 2
Charge-up Wagon (Normet Charmec or similar) 2
Shotcrete Sprayer (Normet Spraymec or
2
similar)
Airflow for Personal U/G 16
32
Stage 2
Peralatan Jumlah unit
2 Boom Development Jumbo 3
Longhole Drill Rig 3
Cable Bolt Rig 2
LHD ST 1520 2
U/G Trucks MT5020 2
Grader CAT 12M 2
Charge-up Wagon (Normet Charmec or similar) 2
Shotcrete Sprayer (Normet Spraymec or
2
similar)
Agi Truck (Normet Transmixer or similar) 3
4WD Light Vehicles 4
Service Truck 1
Airflow for Personal U/G 50
Stage 3
Peralatan Jumlah unit
2 Boom Development Jumbo 3
Longhole Drill Rig 3
Cable Bolt Rig 2
LHD ST 1520 3
U/G Trucks MT5020 3
Grader CAT 12M 1
Charge-up Wagon (Normet Charmec or similar) 2
Shotcrete Sprayer (Normet Spraymec or
2
similar)
Airflow for Personal U/G 30
Data ini akan digunakan sebagai dasar perencanaan system ventilasi dan perencanaan biaya yang
diperlukan selama kegiatan development dan penambangan berlangsung.
33
4 BAB IV
4.1.1 Resistensi
Resistensi merupakan hambatan dalam suatu lokasi. Hambatan ini akan mempengaruhi
besar kecilnya kecepatan aliran udara. Semakin besar nilai hambatan disuatu lokasi makin kecil
kecepatan aliran udara yang mengalir di lokasi tersebut.
Data resistensi yang didapatkan akan menjadi data input dalam simulasi perangkat lunak
Ventsim. Berdasarkan perencaaan kemajuan tambangnya data perhitungan didapatkan sebagai
berikut ;
34
- Konsentrasi debu yang dihasilkan pada proses penambangan PT HAJ 15 mg/m3
- Target Produksi PT. HAJ : 1800 ton/day
: 1.24 ton/menit
: 0.020 ton/s
a) Specific Gravity Ore : 2 (Asumsi)
b) Konsetrasi Debu Penambangan : 5 mg/ton
c) Allowable Dust (Hartman) : 2 mg/m3
= ( /)
5 0.020
= (3 /)
2
= 0.05 3 /
Dimana :
Q : Udara minimal mendilusi debu (m3/s)
Ed : Konsentrasi debu (mg/ton)
P : Production rate (ton/s)
Cd : Batas Minimum Debu (m3/s)
Jadi dibutuhkan aliran udara sebesar 0.05 m3/s untuk mendelusikan debu yang dihasilkan dari
proses penambangan.
a. Pengenceran Gas CO
Dengan Asumsi Jenis Ruangan :
35
Asumsi Debit Minimal Pada Front 13 m3/s
Luas Mining Front 240 m3
Gas CO setelah peledakan 335 m3
15 3/
= = = 10
1.5
240 3 0.01
= ln []= ln [ 335 ] = 250.1 s
10
Perhitungan sistem perencaan kemajuan tambang yang akan dilakukan oleh PT. HAJ
didasari oleh besar target produksi perhari yang telah ditetapkan yaitu 1800 ton ore/hari serta
kapasitas alat yang akan digunakan oleh PT. HAJ sendiri , yaitu LHD ST 1520 LP dengan bucket
capacity 7.5 m3 serta Truck MT 5020 dengan load capacity 50 m3. Dengan pertimbangan tambang
bawah tanah yang memiliki kondisi luas kerja terbatas yang sangat berbeda dengan tambang
teruka, maka perhitungan diasumsikan bahwa satu alat gali hanya dapat dilayani 1 alat angkut ,
36
untuk menghindari terjadinya crowded atau berselisihnya alat angkut dalam satu jalur. Sehingga
perhitungan kebutuhan alat hanya akan dihitung berdasarkan kapasitas dan nilai produktivitas alat
gali dalam kasus ini adalah LHD ST 1520 LP.
Dengan perhitungan jarak dari stope level teratas sampai dengan stock pile (diluar lokasi
tambang) adalah sebesar 1.67 km dan jarak antar level adalah 300 m , maka perhitungan besar
produktivitas dari alat gali muat dan alat angkut yang digunakan oleh PT. HAJ adalah sebagai
berikut :
Pada stage ke 1 (untuk tahun ke 1 dan tahun ke 2) merupakan masa tahap development.
Perhitungan produktivitas alat gali muat dan alat angkut di atas dilakukan berdasarkan penyesuaian
dengan jarak yang akan ditempuh alat dengan kemajuan tambang yang terjadi, dimana
diasumsikan bahwa jarak awal stockpile dengan front terdekat pada stage 1 adalah sejauh 0,687
km , dan jarak dari distances stope to cross cut ialah 55 km.
37
Stage ke 2 (tahun ke sampai tahun ke -8)
LHD ST 1520 LP Truck MT 5020
Pada stage ke 2 (untuk tahun ke 3 dan tahun ke 8) merupakan masa tahap development dan
produksi. Perhitungan produktivitas alat gali muat dan alat angkut di atas dilakukan berdasarkan
penyesuaian dengan jarak yang akan ditempuh alat dengan kemajuan tambang yang terjadi,
dimana diasumsikan bahwa jarak awal stockpile dengan front terdekat pada stage 2 adalah sejauh
1.24 km , dan jarak dari distances stope to cross cut ialah 230 m. kemudian pada tahu ke 4
sampai tahun 8 diperkirakan penambahan jarak angkut tiap tahunnya sekitar 0.67 km dari tahun
sebelumnya (tahun ke -3 dan seterusnya) dengan jarak dari distances stope to cross cut
dipekirakan sama 230 m
38
Stage ke -3 ( utuk tahunke 9 dan tahun 10)
LHD ST 1520 LP Truck MT 5020
Pada stage ke 3 (untuk tahun ke 9 dan tahun ke 10 ) merupakan masa tahap produksi.
Perhitungan produktivitas alat gali muat dan alat angkut di atas dilakukan berdasarkan penyesuaian
dengan jarak yang akan ditempuh alat dengan kemajuan tambang yang terjadi, dimana
diasumsikan bahwa jarak awal stockpile dengan front terdekat pada stage 3 adalah sejauh 1.40
km , dan jarak dari distances stope to cross cut ialah 241 m.
Dalam memprediksi kemajuan tambang, kebutuhan alat gali muat dijadikan sebagai acuan
karena tidak memungkinkannya penambahan alat angkut. Luas terowongan yang terbatas ( lebar
4.8 m & tinggi 4 m ) tidak memungkinkan terjadinya selisih antara dua alat angkut di dalam satu
ramp. Sehingga diasumsikan bahwa 1 alat gali muat akan hanya di layani oleh 1 alat angkut saja.
Adapun dari hasil perhitungan maka didapatkan bahwa untuk mengejar target produksi sebesar
1800 ton ore perhari, pada Stage 1 tahun ke-1 hanya dibutuhkan 1 alat gali muat ( LHD ST 1520
LP ) dan satu alat angkut ( Truck MT 5020 ) saja, sedangkan untuk Stage 2 tahun ketiga sampai
39
dengan tahun ke-8 diperlukan 3 alat gali ( LHD ST 1520 LP ) dan 2 alat angkut (Truck MT 5020).
Untuk Stage ke tiga tahun ke-9 sampai dengan tahun ke- 10 dibutuhkan 2 alat gali muat ( LHD ST
1520 LP ) dan 1 alat angkut ( Truck MT 5020 ).
40
4.2.4 Kebutuhan Udara pada Kemajuan Tambang Tahap 2
Kebutuhan udara pada rencana kemajuan tambang tahap 2 yang diperhitungan diantaranya
penggunaan alat yang akan beroperasi, jumlah tenaga kerja yang bekerja serta antisipasi
kebocoran udara. Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada Tabel III.6 dibawah ini.
Description Jumlah unit kW per unit HP per unit HP Total Standar Ketentuan (m3/s) Kebutuhan Udara per unit (m3/s) Kebutuhan Udara Total (m3/s)
2 Boom Development Jumbo 3 100 134.10 402.31 0.05 6.71 20.12
Longhole Drill Rig 3 75 100.58 301.73 0.05 5.03 15.09
Cable Bolt Rig 2 75 100.58 201.15 0.05 5.03 10.06
LHD ST 1520 2 120 160.92 321.85 0.05 8.05 16.09
U/G Trucks MT5020 2 315 422.42 844.84 0.05 21.12 42.24
Grader CAT 12M 2 125 167.63 335.26 0.05 8.38 16.76
Charge-up Wagon (Normet Charmec or similar) 2 115 154.22 308.44 0.05 7.71 15.42
Shortcrete Sprayer (Normet Spraymec or Similar) 2 80 107.28 214.56 0.05 5.36 10.73
Agi Truck (Normet Spraymec or Similar) 3 100 134.10 402.31 0.05 6.71 20.12
4WD Light Vehicles 4 118 158.24 632.96 0.05 7.91 31.65
Service Truck 1 118 158.24 158.24 0.05 7.91 7.91
Airflow for Personal U/G 50 100.00 0.01 0.00 1.00
Kebocoran/Antisipasi 5% 10.36
Total Kebutuhan Udara pada Stage 2 (m3/s) 89.92 217.54
41
4.3 Perencanaan Sistem Ventilasi & Simulasi Pada Perangkat Lunak Ventsim
Sistem ventilasi yang digunakan pada tambang bawah tanah PT. HAJ adalah system hisap
(exhausting) dan forcing. Aliran udara utama bersumber dari portal (permukaan) yang mengalir
secara alami masuk ke terowongan kemudian udara bersirkulasi sepanjang jalur udara dan
dikeluarkan melalui kipas utama (main fan), selain exhaust fan ada juga main fan yang
menggunakan system forcing. Sedangkan untuk ventilasi local juga menggunakan sistem forcing
dimana meletakkan duct intake pada front untuk mengalirkan udara kedalam lokasi kerja. Udara
yang diambil dari fan ventilasi local ini diambil dari udara shaft yang bersumber dari main fan.
Penggunaan sistem ventilasi akan diuraikan lebih lanjut sebagai hasil simulasi yang terbagi
dalam 3 stage, antara lain :
a. Stage 1.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, stage 1 merupakan kegiatan development dengan
waktu kerja 1 2 tahun. Berikut gambaran simulasi system ventilasi pada stage 1 ;
42
Pada stage ini di perulukan 2 unit auxiliary fan SwedVent Type AVH71.37.2.8/50Hz 60 37 kW
710 mm yang mampu meniupkan udara bersih ke dalam shaft sebesar 52,9 m3/s. dan 1 unit
fan 200 kw. Pada tahap ini hanya dilakukan kegiatan development sehingga kebutuhan udara tidak
begitu besar , selain itu belum terbentuknya shaft sedikit banyak menghambat tempat keluar
masuknya udara. Kemajuan tambang akan terjadi diawali dengan pembangunan drift dimana vent-
duct akan mengikuti dengan arah kemajuan tambang , sampai akhirnya pembuatan shaft dilakukan.
Adapun nilai efisiensi yang dicapai dari simulasi ventilasi stage 1 ini adalah sebesar 75.8 % dengan
kebutuhan daya listrik pertahun sebesar 255.9 kW.
b. Stage 2.
stage 2 merupakan kegiatan development dan produksi dengan waktu kerja 3 8 tahun. Berikut
gambaran simulasi system ventilasi pada stage 2 ;
43
Pada stage ini di perulukan 2 unit auxiliary fan SwedVent Type AVH71.37.2.8/50Hz 60 37 kW
710 mm dan 2 unit fan 200 kw. Pada tahap ini selain dilakukan kegiatan development juga telah
dilakukan kegiatan produksi. Adapun nilai efisiensi yang dicapai dari simulasi ventilasi stage 1 ini
adalah sebesar 41.8 % dengan kebutuhan daya listrik pertahun sebesar 341 kW.
c. Stage 3
stage 3 merupakan kegiatan produksi dengan waktu kerja 9 10 tahun. Berikut gambaran
simulasi system ventilasi pada stage 3 ;
Pada stage ini di perulukan 3 unit auxiliary fan SwedVent Type AVH71.37.2.8/50Hz 60 37 kW
710 mm dan 2 unit fan 200 kw. Pada tahap ini epenuhnya telah dilakukan kegiatan produksi.
Adapun nilai efisiensi yang dicapai dari simulasi ventilasi stage 1 ini adalah sebesar 73.2 % dengan
kebutuhan daya listrik pertahun sebesar 266 kW.
44
Dari hasil simulasi yang dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Ventsim, maka
didapatkan kecepatan udara terowongan PT. HAJ masih berada di bawah standar kecepatan
udara maksimum menurut McPhersin 1993, adapun data tersebut sebagai berikut :
45
5 BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
b. Pada stage ke 2 (untuk tahun ke 3 dan tahun ke 8) merupakan masa tahap development
dan produksi. Perhitungan produktivitas alat gali muat dan alat angkut di atas dilakukan
berdasarkan penyesuaian dengan jarak yang akan ditempuh alat dengan kemajuan
tambang yang terjadi, dimana diasumsikan bahwa jarak awal stockpile dengan front
terdekat pada stage 2 adalah sejauh 1.24 km , dan jarak dari distances stope to cross
cut ialah 230 m. kemudian pada tahu ke 4 sampai tahun 8 diperkirakan penambahan
jarak angkut tiap tahunnya sekitar 0.67 km dari tahun sebelumnya (tahun ke -3 dan
seterusnya) dengan jarak dari distances stope to cross cut dipekirakan sama 230 m
Pada stage ini di perulukan 2 unit auxiliary fan SwedVent Type AVH71.37.2.8/50Hz
60 37 kW 710 mm dan 2 unit fan 200 kw. Pada tahap ini selain dilakukan kegiatan
development juga telah dilakukan kegiatan produksi. Adapun nilai efisiensi yang
46
dicapai dari simulasi ventilasi stage 1 ini adalah sebesar 41.8 % dengan kebutuhan daya
listrik pertahun sebesar 341 kW.
c. Pada stage ke 3 (untuk tahun ke 9 dan tahun ke 10 ) merupakan masa tahap produksi.
Perhitungan produktivitas alat gali muat dan alat angkut di atas dilakukan berdasarkan
penyesuaian dengan jarak yang akan ditempuh alat dengan kemajuan tambang yang
terjadi, dimana diasumsikan bahwa jarak awal stockpile dengan front terdekat pada
stage 3 adalah sejauh 1.40 km , dan jarak dari distances stope to cross cut ialah
241 m.
Pada stage ini di perulukan 3 unit auxiliary fan SwedVent Type AVH71.37.2.8/50Hz
60 37 kW 710 mm dan 2 unit fan 200 kw. Pada tahap ini sepenuhnya telah dilakukan
kegiatan produksi. Adapun nilai efisiensi yang dicapai dari simulasi ventilasi stage 3
ini adalah sebesar 73.2 % dengan kebutuhan daya listrik pertahun sebesar 266 kW.
47