Anda di halaman 1dari 41

I.

JUDUL :
IDENTIFIKASI BAKTERI ENTEROBACTERIACEAE

II. TUJUAN :
1. Memahami prosedur pemeriksaan bakteri Enterobacteriaceae
2. Mampu mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri-bakteri kelompok
Bakteriaceae
III. DASAR TEORI :
Mikrobiologi adalah satu ilmu yang mempelajari kehidupan dan mikroba
organisme hidup yang berukuran mikro atau sangat renik. Mikroorganisme ini
sangaterat kaitannya denga kehidupan, baik yang bermanfaat atau merugikan makhluk
hidup yang lainnya. Ada diantara mereka yang hidup dalam media agar yang dapat
menyebabkan penyakit ataupun menguntungkan misalnya dalam proses pembutan
anggur, keju, yogurt, produksi penisilin dan proses pembuangan limbah (Tortora,
1992 : 22).
Untuk menelaah bakteri di laboratorium kita harus dapat menumbuhkan
bakteri dalam biakan murni.Untuk melakukan hal itu, haruslah mengerti jenis-jenis
nutrient yang disyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkngan fisik yang
menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Kultur bakteri untuk keperluan
yang bermanfaat, pada umunya dilakukan dengan biakan murni, biakan murni hanya
mengandung satu jenis, untuk mengisolasi biakan murni, umumnya digunakan 2
prosedur yaitucawan dengan goresan dan metode agar tuang
Biakan adalah medium yang mengandung organism hidup. Medium itu mengandung
zat-zat makanan untuk bakteri. Berbagai resep ramuan untuk membuat media telah
dibuat untuk memungkinkan untuk tumbuhan jenis-jenis tertentu. Medium pilihan dan
diferensial bermanfaat untuk memisahka berbagai jenis. (Dwijoseputro, 1998)
Syarat yang harus dipenuhi untuk media biakan.
a. Mengandung nurtisi yang di butuhkan oleh mikroorganisme yang berkembang.
b. Memiliki kelembaban optimum bagi pertumbha mikroorganisme.
c. Mengandung oksigen (kultur bakteri aerob) dan pH sesuai.
d. Harus bebas dari mikroba lain dan steril.

Ada tiga jenis media pengembangbiakan berdasarkan konsentrasinya antara lain:


a. Media padat, yaitu media berbentuk padat yang mengandung agar 1-1,5%
misalnya nutrient agar.
b. Media cair yaitu media yang berbentuk cair yang tidak mengandung agar,
misalnya nutrient broth.
c. Media semi padat, yaitu media yang berbentuk padat pada suhu dingin, dan
berbentuk cair bila suhu panas, misalnya media SIM (media yang digunakan
untuk uji produksi sulfur, indiol, motilitas.
Mikroorganisme seperi bakteri yang terdapat di ikan atau lingkungan budidaya,
umumnya terdapat dalam populasi campuran. Untuk keperluan identifikasi diperlukan
suatu biakan murni sehingga teknik isolasi mutlak diperlukan. Mikroorganisme yang
telah diisolasi ini belum dapat ditentukan sifat atau jenis bakterinya. Pengamatan
mengenai bentuk morfologi, sifat gram, dan pola penataan sel dapat diketahui dengan
cara pewarnaan gram. Akan tetapi, untuk mengetahui jenis bakteri tidak cukup hanya
dengan metode pewarnaan gram. Seperti halnya mikroorganisme lainnya bakteri
mempertahankan kehidupannya melalui penyesuaian diri terhadap lingkungan demi
kelanjutan generasinya. Untuk itu, bakteri mampu merombak dan menggunakan
bahan kimia (dalam bentuk larutan) yang ada di linkungannya sebagai sumber energi
dan zat pembangunan. Setiap jenis spesies bakteri mempunyai karakterisasi sifat
biokimia dan fisiologi yang khas. Sifat-sifat ini dapat dijadikan acuan dalam proses
identifikasi. Oleh karena itu dalam praktikum kali ini dilakukan uji enzimatik untuk
mengetahui karakteristik sifat dari bakteri. (Tortora, 1992 : 22).
Untuk melihat reaksi bakteri terhadap media yang digunakan , dapat diadakan
beberapa uji yaitu uji biokimia. Uji biokimia adalah pengujian larutan atau zat-zat
kimia dari bahan-bahan dan proses-proses yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup,
sebagai upaya untuk memahami proses kehidupan dari sisi kimia (Lehninger, 1995).
Biokimia bertujuan untuk memahami bagaimana interaksi biomolekul satu dengan
lainnya yang membawa sifat-sifat kehidupan ini. Belum pernah dalam pengamatan
logika molekul sel hidup, kita menemukan suatu pelanggaran terhadap hukum-hukum
yang telah dikenal, seiring dengan itu pula, kita belum pernah memerlukan
pendefinisian hukum baru. Mesin organik lunak sel hidup berfungsi di dalam
kerangka hukum-hukum yang sama mengatur mesin buatan manusia. Akan tetapi,
reaksi-reaksi kimia dan proses pengaturan sel telah maju demikian pesat, melampaui
kemampuan kerja mesin buatan manusia (Lehninger, 1995).
Ciri biokimia merupakan kriteria yang amat penting di dalam identifikasi
spesimen bakteri yang tak dikenal karena secara morfologis biakan ataupun sel
bakteri yang berbeda dapat tampak serupa, tanpa hasil pengamatan fisiologis yang
memadai mengenai organik yang diperiksa maka penentuan spesiesnya tidak mungkin
dilakukan. Karakteristik dan klasifikasi sebagai mikroba seperti bakteri berdasarkan
pada reaksi enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe
media memproduksi metabolit tentunya yang dideteksi dengan interaksi mikroba
dengan reagen test yang mana menghasilkan perubahan warna reagen (Murray, 2005).
Uji fisiologi bisanya identik dengan uji biokimia. Uji biokimia yang biasanya
dipakai dalam kegiatan identifikasi bakteri atau mikroorganisme yang antara lain uji
katalase, koagulase, dan lain-lain. Pengujian biokimia merupakan salah satu hal yang
sangat penting dalam dunia mikrobiologi (Lim, 1998).
Uji-uji biokimia yang biasanya dipakai dalam kegiatan identifikasi bakteri atau
mikroorganisme yaitu antara lain adalah uji MR-VP, uji gula-gula, uji SIM, Uji TSIA,
Uji Indol, dan Uji Simmons Citrate (Dwidjoseputro, 1954).
Berikut beberapa uji biokimia yang digunakan untuk identifikasi bakteri, antara
lain:
1. Reaksi Fermentasi Karbohidrat (Gula-gula)

Fermentasi merupakan salah satu aktivitas biokimia yang dilakukan oleh


mikroba. Fermentasi adalah proses pengunahan senyawa makromolekul organik
menjadi senyawa yang lebih sederhana oleh aktivitas mikroba pada kondisi
anaerob. Fermentasi dapat menghasilkan berbagai senyawa akhir, contohnya
fermentasi karbohidrat yang dapat menghasilkan berbagai senyawa asam seperti
asam laktat dan propionet, ester-ester, keton dan gas (Pelczar, 2008).

Sebagian besar mikroorganisme memperoleh energi dari substrat berupa


karbohidrat yang selanjutnya di fermentasi menghasilkan asam-asam organik
(seperti asam laktat, format, asetat), dengan disertai atau tidak disertai
pembentukan gas. Organisme-organisme yang berbeda akan menggunakan
karbohidrat/gula-gula yang berbeda tergantung dari komponen enzim yang
dimilikinya. Perbenihan gula-gula digunakan untuk melihat adanya pembentukan
asam yaitu dengan adanya perubahan warna indikator (merah fenol atau biru
bromtimol) yang terdapat dalam perbenihan menjadi kuning yang sebelum
ditanami berwarna merah (indikator merah fenol) atau berwarna biru (indikator
biru bromtimol) serta untuk pembentukan gas, yaitu dengan terlihatnyaudara di
dalam tabung peragian/fermentasi (tabung durham). Jenis karbohidrat yang
digunakan pada uji fermentasi karbohidrat antara lain: Sukrosa, Laktosa, Maltosa,
Manitol. Glukosa dapat langsung masuk dalam jalur fermentasi tahap pertama.
Sedangkan, sukrosa, laktosa mantol, dan maltosa akan di hidrolisis terlebih dahulu
menjadi monosakarida penyusunnya. Laktosa dihidrolisis menjadi galaktosa dan
glukosa. Monosakarida jenis manosa dan galaktosa terlebih dahulu akan diubah
menjadi glukosa melalui reaksi epimerisasi. Sedangkan fruktosa akan diubah
terlebih dahulu menjadi fruktosa 6-fosfat dan kemudian fruktosa 6-fosfat diubah
menjadi glukosa 6-fosfat. Glukosa 6-fosfat dan glukosa hasil epimerisasi
galaktosa dan manosa akan masuk dalam tahap awal proses fermentasi untuk
menghasilkan asam piruvat, asam asetat dan CO2 dan kemudian pada tahap kedua
fermentasi asam piruvat dan asam asetat di reduksi kembali oleh atom hidrogen
yang dilepaskan dalam tahap pertama, membentuk asam laktat dan etanol (Volk
dan Wheeler, 1993).

2. Uji Imvic (Indol, Methyl Red, Voges-Proskauer, Simmons Citrate)

Identifikasi basil enterik sangat penting dalam mengendalikan infeksi usus


dengan mencegah kontaminasi pasokan makanan dan air. Kelompok bakteri yang
dapat ditemukan di saluran usus manusia dan mamalia yang lebih rendah
diklasifikasikan sebagai anggota family Enterobacteriaeae. Yang termasuk dalam
keluarga ini adalah:

a. Pathogen seperti anggota genera Salmonella dan Shigella


b. Sesekali pathogen seperti anggota genera Proteus dan Klabsie
c. Yang normal flora usus seperti Escherichia anggota marga
dan Enterobacter, yang merupakan penduduk saprophytic dari saluran
usus.
Diferensiasi kelompok utama Enterobacteriaceae dapat dicapai atas dasar sifat
biokimia dan reaksi enzimatik di hadapan substrat tertentu. Seri tes IMViC, indol,
metil-merah, Voges-Preskauer, dan pemanfaatan sitrat dapat digunakan
untuk identifikasi ini.

2.1. Indol

Tryptophan merupakan asam amino esensial yang dapat mengalami oksidasi


dengan cara kegiatan enzimatik beberapa bakteri. Konversi triptofan menjadi
produk metabolik di mediasi oleh enzim Tryptophanase. Media ini biasanya
digunakan dalam indetifikasi yang cepat. Perbenihan indol digunakan untuk melihat
kemampuan bakteri mendegradasi asam amino triptofan secara enzimatik. Hasil uji
indol yang diperoleh negatif karena tidak terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah
muda pada permukaan biakan, artinya bakteri ini tidak membentuk indol dari
tryptopan sebagai sumber karbon, yang dapat diketahui dengan menambahkan
larutan kovaks. Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang
lazim terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dengan mudah dapat
digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein (Volk dan Wheeler,
1993).

2.2. MR-VP

Uji MR Perbenihan ini digunakan untuk mendeteksi bakteri yang memiliki


kemampuan untuk mengoksidasi glukosa menghasilkan produk asam berkonsentrasi
tinggi yang stabil sehingga menyebabkan pH media turun hingga dibawah 4,4 yang
ditandai dengan hasil positif, terjadi perubahan warna menjadi merah setelah
ditambahkan Methyl Red. Artinya, bakteri ini mengahasilkan asam campuran
(metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang terkandung dalam medium
MR-VP (Lehninger, 1995).

2.3. Uji VP

Dengan hasil negatif, karena tidak terbentuk warna merah pada medium
setelah ditambahkan -napthol dan KOH, artinya hasil akhir fermentasi bakteri
inibukan asetil metil karbinol (asetolin) (Volk dan Wheeler, 1993).

2.4. Simmons Citrate

Perbenihan ini digunakan untuk melihat kemampuan organisme enterik


berdasarkan kemampuan memfermentasi sitrat sebagai sumber karbon. Perbenihan
Simmons Citrate ini mengandung indikator biru bromtimol yang akan berubah
menjadi biru pada reaksi positif dan tetap hijau jika reaksi negatif (Volk dan
Wheeler, 1993).

2.5. Uji katalase

Uji katalase merupakan suatu pengujian terhadap bakteri tertentu


untuk mengetahui apakah bakteri tersebut merupakan bakteri aerob, anaerob
fakultatif, atau anaerob obligat dan digunakan untuk mengetahui kemampuan
mikroorganisme untuk menguraikan hidrogen peroksida dengan menghasilkan
enzim katalase. Bakteri yang memerlukan oksigen manghasilkan hidrogen
peroksida (H2O2) yang sebenarnya beracun bagi bakteri sendiri. Namun mereka
dapat tetap hidup dengan adanya anti metabolit tersebut karena mereka
menghasilkan enzim katalase yang dapat mengubah hidrogen peroksida menjadi air
dan oksigen. Enzim merupakan katalisator sejati, dimana molekul ini meningkatkan
dengan nyata kecepatan reaksi kimia spesifik yang tanpa enzim akan berlangsung
sangat lambat. Enzim tidak dapat mengubah titik keseimbangan reaksi yang
dikatalisnya, enzim juga tidak akan habis dipakai atau diubah secara permanen oleh
reaksi-reaksi ini. Enzim merupakan biokatalis yang berfungsi untuk membantu
proses metabolisme. Enzim memiliki kemampuan untuk mengkatalisis suatu reaksi.
Suatu enzim adalah suatu katalis biologis. Hampir tiap rekasi biokimia dikatalis
oleh enzim. Enzim merupakan katalis yang lebih efisien daripada kebanyakan
katalis laboratorium atau industri. Enzim juga memungkinkan suatu selektivitas
pereaksi-pereaksi dan suatu pengendalian laju reaksi yang tidak dimungkinkan oleh
kelas katalis lain. Kespesifikan enzim disebabkan oleh bentuknya yang unik dan
oleh gugus-gugus polar (atau nonpolar) yang terdapat dalam struktur enzim tersebut.
Beberapa enzim bekerja bersama suatu kofaktor non protein, yang dapat berupa
senyawa organik maupun anorganik. Hidrolisis Gelatin terdapat enzim-enzim yang
menguraikan golongan potein disebut protenase/protease, kedua nama ini dianggap
sinonim. Contoh pada hidrolisis gelatin dimana protein diperoleh dari hidrolisis
kalogen, yaitu zat pada jaringan penghubung dan tendon dari hewan. Gelatin akan
terurai oleh mikrobia yang mensintesis enzim proteolisis. Larutan gelatin bersifat
cair pada suhu ruang atau suhu kamar dan padat apabila berada di dalam
refrigerator. Dan apabila gelatin sudah dihidrolisis oleh mikroba, maka akan tetap
bersifat cair (Hadioetomo, 1993).

3. Morfologi Bakteri E. coli dan S. aureus

Berdasarkan perbedaan morfologi bakteri E. Coli dan Staphylococcus aureus


adalah sebagai berikut:

Morfologi E. Coli
Dari anggota family Enterobacteriaceae. Ukuran sel dengan panjang 2,06,0
m dan lebar 1,11,5 m. Bentuk sel dari bentuk seperti coocal hingga
membentuk sepanjang ukuran flamentous. Tidak ditemukan spora.

E. Coli batang gram negatif. Selnya bisa terdapat tunggal, berpasangan, dan
dalam rantai pendek, biasanya tidak berkapsul. Bakteri ini aerobik dan dapat juga
aerobik fakultatif. E. Coli merupakan penghuni normal usus, seringkali
menyebabkan infeksi.

Kapsula atau mikrokapsula terbuat dari asamasam polisakarida. Mukoid


kadangkadang memproduksi pembuangan ekstraselular yang tidak lain adalah
sebuah polisakarida dari speksitifitas antigen K tententu atau terdapat pada asam
polisakarida yang dibentuk oleh banyak E. Coli seperti pada Enterobacteriaceae.
Selanjutnya, digambarkan sebagai antigen M dan dikomposisikan oleh asam
kolanik. Penyakit yang sering ditimbulkan oleh E. Coli adalah Diare.

Morfologi Staphylococcus aureus

Bentuknya bulat atau lonjong (0,8 sampai 0,9), jenis yang tidak bergerak,
tidak berspora dan gram positif. Tersusun dalam kelompok seperti buah anggur.
Pembentukan kelompok ini terjadi karena pembelahan sel terjadi dalam tiga
bidang dan sel anaknya cenderung dekat dengan sel induknya. Sifat biakan
bersifat aerob dan tumbuh baik pada pembenihan yang sederhana pada temperatur
optimum 37oC dan pH 7,4.

Staphylococcus Staph adalah kuman yang ditemukan pada kulit dan hidung
kita. Spesies Staphylococcus ini adalah gram positif yang fakultatif anaerob.
Staphylococcus pathogen mempunyai sifat sebagai berikut:

Dapat menghemolisa eritrosit

Menghasilkan koagulasi dapat membentuk pigmen (kuning keemasan)

Dapat memecah manitol menjadi asam


Sebagian besar sebagai flora normal kulit yang tidak berbahaya. Sebagian
besar Staphylococcus aureus (SA) dapat dirawat dengan antibiotik seperti
methicillin (salah satu tipe penicillin). Tetapi, SA menjadi meningkat
pertahanannya dengan antibiotik yang biasa digunakan. Infeksi S. aureus
diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya bisul, jerawat,
pneumonia, meningitis, dan arthritits.

Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan ke


biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini dilakukan
dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama pemindahan
berulangkali. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat.
Kekeruhan dalam kaldu menunjukkan terjadinya pertumbuhan mikroorganisme. Bila
mikroorganisme menumpuk pada dasar tabung maka akan membentuk sedimen,
sedangkan pada permukaan kaldu pertumbuhannya terlihat sebagai pelikel (Lay,
1998).

Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh


suatu biakan yang murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah
pencemaran dari luar. Media untuk membiakkan bakteri haruslah steril sebelum
digunakan. Pencemaran terutama berasal dari udara yang mengandung banyak
mikroorganisme. Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat hati-hati
dan mematuhi prosedur laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi. Oleh karena itu,
diperlukan teknik-teknik dalam pembiakan mikroorganisme yang disebut dengan
teknik inokulasi biakan (Dwijoseputro, 1998).

Pembiakan mikrobia di laboratorium memerlukan media yang berisi zat hara


serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai bagi mikroba. Menurut Lay(Annonymous,
2016), media adalah suatu bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba yang
terdiri atas campuran nutrisi atau zatzat makanan. Selain untuk menumbuhkan
mikroba, media dapat juga digunakan untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-
sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba.

Sulfida indole motility (SIM) adalah media agar semisolid digunakan untuk
menentukan hidrogen sulfida (H 2 S) produksi, pembentukan indol, dan motilitas.
Media SIM (Sulfide Indole Motility) adalah media differensial. SIM media digunakan
untuk membedakan anggota keluarga Enterobacteriaceae. Kekaburan yang menyebar
dari garis menusuk menunjukkan tes positif untuk motilitas. Tabung harus
dibandingkan dengan tabung tanpa inokulasi untuk membedakan antara kekaburan
samar dan motilitas. Adanya warna merah setelah penambahan reagen Kovcs
menunjukkan produksi indole. Terbentuknya endapan hitam menunjukkan produksi
H 2 S. (Anoname,2012).

Media Gula-Gula termasuk media Identifikasi, media identifikasi adalah


perbenihan yang digunakan untuk menentukan jenis bakteri. Biasanya digunakan
beberapa media bersama-sama. Disebut media gula-gula karena terbuat dari beberapa
gula seperti, glukosa, laktosa, mannosa, maltosa, sakarosa. Media gula-gula adalah air
pepton yang ditambah gula tertentu. Tujuannya adalah untuk mengetahui bakteri
memfermentasi karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya
terjadi perubahan warna pada media gula-gula yang
berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk asam dari fermentasi
glukosa. Pada media gula-gula juga terbentuk gelembung pada tabung durham yang
diletakan terbalik didalam tabung media, artinya hasil fermentasi berbentuk gas.Untuk
medium ini dipakai air pepton, jenis gula tertentu 1%, dan indikator fenol red
(indikator yang digunakan tidak harus fenol red, indikator lain yang bisa digunakan
seperti BTB,warna yang dihasilkan tergantung dari indikator yang digunakan. Jika
menggunakan fenol redmaka media akan berwarna merah, jika menggunakan BTB
maka media akan berwarna biru.)Indikator berguna untuk melihat ada atau tidaknya
pembentukan asam. Sebelum ditanami oleh bakteri medium tersebut berwarna merah
(jika menggunakan indikator fenol red). Apabila sudah ditanami atau terbentuk asam
maka akan berwarna kuning. Hal ini terbukti dari seluruh hasil yang diperoleh
praktikan, media tersebut masih steril karena berwarna merah.Selain itu juga,
dipergunakan tabung Durham untuk mengetahui ada
tidaknya pembentukan gas sebagai hasil penguraian gula dalam medium. Tabung Dur
ham diletakan terbalik di dalam tabung gula sehingga gas yang terbentuk akan
tertampung di dalam tabungtersebut. Sebelum dipakai, media gula-gula ini harus
selalu diperiksa apakah masih steril atau tidak. Bila telah keruh atau kuning berarti
media tidak dapat dipergunakan lagi. Sifat penguraian terhadap gula dari setiap
mikroba adalah berlainan, dengan demikian hasil penguraian (reaksi)ini dapat dipakai
untuk determinasi suatu jenis bakteri sehingga dapat ditentukan spesiesnya. Media ini
digunakan untuk pemeriksaan bakteri E. Coli.

Metil Red adalah indikator asam-basa yang berubah menjadi merah


dalammedium yang sedikit asam. Jadi, jika metil merah ditambahkan pada
mediumbiakan yang mengandung glukosa yang di dalamnya organisme telah
tumbuhselama 18 sampai 24 jam, warna merah menunjukkan bahwa asam organik
telahterbentuk sebagai akibat fermentasi glukosa. Escherichia coli membentuk
banyakasam dan adalah positif terhadap metil merah. Metil merah adalah suatu
indicatoryang akan menunjukan warna merah bila pH ada di bawah 4. Hasil test
positifditandai dengan terbentuknya warna merah, sedangkan warna kuning
menunjukanhasil negative. Pada uji ini sebelumnya ditambahkan reagen MR (0,4%
dalam alcohol 96%) kedalamnya untuk dapat mengetahui reaksi warna (Sahdan,
2010).Untuk melihat hasil positif maka ke dalam medium yang telah ditanami
ditambahkan KOH kemudian dipanaskan sebentar. Dalam hal ini akan terbentuk
diacethil. Diacetyl ini dengan sisa-sisa guanidine akan membentuk warna merah
kecoklatan yang berupa cincin dipermukaan tabung sebagai VP (+), bila tidak terjadi
apa-apa ditulis VP (-). Dengan manggunakan medium citrate menurut Simmon,
merupakan medium padat yang terdiri dari mono ammonium fosfat, Nacitrate, NaCl,
air , agar-agar, dan indicator Bromtymol blue. Menurut Hartini, pada uji ini medium
yang tadinya berwarna hijau kebiruan, bila bereaksi positif maka akan berubah
menjadi berwarna biru terang. Bila rekasi negative, maka akan tetap berwarna hijau
kebiruaan(Aditia, 2014).

TSIA merupakan media yang dapat mengidentifikasi bakteri sesuai dengan


karakter spesifik yang ditunjukan oleh bakteri. Media TSIA mengandung 0,1%
glukosa, 1% sukrosa, 1% laktosa, ferosulfat (untuk mendeteksi produksi H2S),
ekstrak jaringan (substrat pertumbuhan protein), dan indikator pH (fenol merah). Zat
tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi sehingga menghasilkan agar miring
dengan bagian pangkal yang dalam dan diinokulasi dengan menusukkan pertumbuhan
bakteri ke dalam bagian pangkal. Jika memfermentasikan glukosa bagian miring dan
pangkal akan berubah warna kuning akibat sejumlah kecil asam yang dihasilkan.
Apabila produk fermentasi kemudian dioksidasi menjadi CO2 dan H2O dan
dilepaskan dari agar miring serta dekarbosilasi oksidatif protein masih berlanjut
dengan pembentukan amino ,bagian miring berubah menjadi alkalin (merah). Reaksi
oleh Klebsiella sp. pada TSIA yaitu asam/asam bewarna kuning pada bagian pangkal
dan miring, dapat terdeteksi gas, tidak dihasilkan H2S.

IV. WAKTU DAN TEMPAT :


- Hari/Tanggal : Senin, 11 September 2017
- Waktu : 13.50-16.40 WITA

- Hari/Tanggal : Selasa, 12 September 2017


- Waktu : 08.50-11.40 WITA

- Hari/Tanggal : Senin, 18 September 2017


- Waktu : 13.50-16.40 WITA

- Hari/Tanggal : Senin, 19 September 2017


- Waktu : 08.50-11.40

- Tempat Praktikum : Praktikum bakteriologi dilakukan di


Laboratorium Bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan, Politeknik
Kesehatan Denpasar.

V. ALAT DAN BAHAN:

a) Pembuatan Media

ALAT BAHAN MEDIA


1. Tabung Reaksi 1. Akuadest 1. MCA

2. Gelas beker 2. Alkohol 2. EMB

3. Plate 3. Aluminium foil 3. TSIA

4. Gelas Ukur 4. Kapas 4. Glukosa & Laktosa

5. Spatula 5. Tissue 5. Maltosa, Manitol, dan


Sakarosa
6. Hotplate 6. BTB
6. Indool/SIM
7. Magnetik stirrer 7. Metil Red
7. MRVP
8. Neraca analitik 8. APW
8. Sitrat
9. Api Bunsen 9. Korek api
9. Urease
10. Pipet tetes
11. Pipet ukur 5 ml, 10
ml

12. Ball pipet

13. Rak tabung

14. Inkubator

15. Tabung durham

b) Identifikasi bakteri Enterobacteriaceae

ALAT BAHAN MEDIA


1. Ose 1. Akuades 1. MCA

2. Bunsen 2. Alcohol 2. EMB

3. BSC 3. Tissue 3. NA

4. Rak tabung 4. Feses

5. Inkubator 5. Korek Api

c) Uji biokimia

ALAT BAHAN/REAGEN MEDIA


1. Tabung reaksi 1. Alcohol 1. Media gula-gula
(Glukosa, Laktosa,
2. Ose 2. Kertas buram
Maltosa, Manitol, dan
3. Api Bunsen 3. Karet gelang Sakarosa)

4. Rak tabung 4. Tissue 2. TSIA

5. Inkubator 5. Pereaksi kovac 3. MR-VP

6. Indicator metal merah 4. SIM/Indool


5. Sitrat

6. Urease

VI. CARA KERJA :

a) Cara Kerja Pembuatan Media

1.) Maltosa, Manitol, Sakarosa, Glukosa, dan Laktosa

- Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

- Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

- Ditimbang bahan maltosa, manitol, sakarosa, glukosa, dan laktosa


menggunakan neraca analitik sebanyak 0,8 gram.

Rumus perhitungannya : 80 gram : 100 ml = 0,8 gram

- Setelah ditimbang, bahan dilarutkan dalam 80 ml APW. Lalu dihomogenkan


menggunakan hotplate serta magnetic stirrer.

- Kemudian ditambahkan BTB sebanyak 2 tetes.

- Larutan dimasukkan ke dalam 8 tabung reaksi (yang telah berisi tabung


durham) sebanyak 10 ml per masing-masing tabung dan ditutupi dengan
kapas. Lalu diberi label pada tabung. Kemudian dimasukkan kedalam kulkas.

- Dilakukan kembali desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

2.) TSIA

- Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

- Dilakukan desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%

- Ditimbang TSIA sebanyak 3,9 gram menggunakan neraca analitik, dengan


rumus perhitungan = 65 gram : 1000 liter = 0,065 x 60 = 3,9 gram

NB: 60 (berapa banyak sampel yang dibuat)

- Sampel yang sudah ditimbang, dilarutkan menggunakan akuadest dan


dihomogenkan dengan hotplate serta magnetic stirrer.
- Kemudian, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi
tabung durham sebanyak 5 ml dan diberi label serta ditutupi menggunakan
kapas pada mulut tabung.

- Pada area kerja dilakukan desinfeksi kembali.

3.) Indool / SIM

- Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

- Dilakukan desinfeksi area kerja yang akan digunakan menggunakan alcohol


70%.

- Ditimbang bahan SIM sebanyak 1,65 gram menggunakan neraca analitik,


dengan rumus perhitungan = 30 gram : 1000 ml = 0,03 gram x 55 = 1,65 gram

- Dilarutkan bahan menggunakan akuades dan dihomogenkan menggunakan


hotplate serta magnetic stirrer.

- Dimasukkan kedalam autoclave pada suhu 121oC.

- Kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5 ml dan beri label.


Dan diletakkan didalam kulkas hingga solid.

- Dilakukan kembali desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

4.) MR-VP

- Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

- Didesinfeksi area kerja yang akan digunakan menggunakan alcohol 70%.

- Ditimbang bahan MR-VP sebanyak 1,87 gram menggunakan neraca analitik


dengan rumus perhitungan = 17 gram : 1000 ml =0,017 x 110= 1,87 gram.

- Kemudian bahan dilarutkan menggunakan akuadest sebanyak 80 ml. Dan


dihomogenkan dengan hotplate dan magnetik stirrer.

- Dimasukkan larutan MR-VP kedalam 8 tabung reaksi sebanyak 10 ml per


masing-masing tabung. Dan diberi label.

- Lalu di autoclave dengan suhu 121oC.

- Kemudian area kerja didesinfeksi menggunakan alcohol 70%


5.) SITRAT

- Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

- Didesinfeksi area kerja yang akan digunakan menggunakan alcohol 70%.

- Ditimbang bahan sebanyak menggunakan neraca analitik dengan


menggunakan rumus perhitungan =

- Bahan dilarutkan dengan akuadest sebanyak 80 ml dan dihomogenkan


menggunakan hotplate dan magnetic stirrer.

- Kemudian larutan dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 10 ml per


masing-masing tabung dan diberi label.

- Sampel dimasukkan kedalam autoclave dengan suhu 121oC, kemudian


didinginkan sampai padat lalu dimasukkan kedalam kulkas.

- Dilakukan desinfeksi kembali area kerja menggunakan alcohol 70%.

6.) UREASE

- Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

- Didesinfeksi area kerja yang akan digunakan menggunakan alcohol 70%.

- Ditimbang bahan sebanyak.menggunakan neraca analitik dengan rumus


perhitungan :

- Bahan dilarutkan dengan akuadest sebanyak 80 ml dan dihomogenkan


menggunakan hotplate serta magnetic stirrer.

- Larutan dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 10 ml


dan diberi label.

- Sampel dimasukkan kedalam autoclave dengan suhu 121oC, kemudian


didinginkan hingga padat dan dimasukkan kedalam kulkas.

- Dilakukan kembali desinfeksi area kerja dengan menggunakan alcohol 70%.

b) Cara Kerja Identifikasi bakteri Enterobacteriaceae

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.


3. Pada media MCA/EMB/NA diberi label tanggal pembuatan.

4. Dihidupkan api Bunsen menggunakan korek api.

5. Sampel feses dihomogenkan menggunakan akuadest. Setelah itu, ose difiksasi


diatas api Bunsen hingga berwarna merah menjalar.

6. Difiksasi bibir media MCA/EMB/NA diatas api Bunsen.

7. Diambil sampel feses menggunakan ose, lalu dilakukan strike pada media. Untuk
kuadran 3 ke 4, ose dilakukan fiksasi. Ini bertujuan untuk peremajaan bakteri.

8. Setelah dilakukan strike, ose difiksasi kembali hingga berwarna merah menjalar.
Dan difiksasi kembali bibir media MCA/EMB/NA diatas api Bunsen.

9. Media dibungkus menggunakan kertas buram dan diisi label diatas kertas.

10. Dilakukan fiksasi kembali pada area kerja.

11. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Dan diamati hasilnya.

c) Cara Kerja Uji Biokimia

A. UJI GULA-GULA

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

3. Diinokulasikan koloni dari biakan kuman ke masing-masing media gula-gula.

4. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.

5. Diamati reaksi yang terjadi

6. Didesinfeksi kembali area kerja menggunakan alcohol 70%.

B. UJI TSIA

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

3. Diinokulasikan koloni dari biakan kuman ke TSIA dengan cara penusukan dengan
ose lurus mulai dari pangkal kemiringan sampai ke dasar tabung, saat menarik ose
kembali, permukaan miring media digores.
4. Diinkubasi kultur pada suhu 37oC selama 24-48 jam.

5. Diamati perubahan warna yang terjadi.

6. Diinterpretasi hasil :

- Hanya meragi glukosa (basa/asam)

Lereng bersifat basa (merah) sedangkan tusukan/dasar bersifat asam (kuning).

- Meragi glukosa dan laktosa (asam/asam)

Konsentrasi laktosa dalam medium TSIA 10 kali lebih besar dibandingkan


glukosa. Dengan demikian setelah inkubasi 24 jam, laktosa akan tetap terdapat
dalam konsentrasi yang cukup sehingga suasana asam dapat dipertahankan.

- Tidak meragi glukosa atau laktosa (basa/basa), (basa/tidak ada perubahan)

Tidak terjadi fermentasi karbohidrat, bakteri menggunakan pepton


menyebabkan kondisi basa karena pembentukan ammonia.

7. Dilakukan kembali area kerja menggunakan alcohol 70%.

C. UJI IMVIC

- Uji produksi Indool/SIM

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Dilakukan desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

3. Koloni dari biakan kuman diinokulasikan ke media SIM, inkubasi pada


suhu 37oC selama 24-48 jam.

4. Reagen kovac ditambahkan di atas permukaan media SIM, diamati reaksi


yang terjadi.

5. Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

- Uji Metil Merah /MR

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Dilakukan desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.


3. Diinokulasikan koloni dari biakan kuman ke media MR-VP, inkubasi pada
suhu 37oC selama 24-48 jam.

4. Ditambahkan indikator metil merah pada biakan.

5. Diamati reaksi yang terjadi.

6. Dilakukan kembali desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

D. UJI SITRAT

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

3. Diinokulasikan koloni dari biakan kuman ke simon sitrat

4. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam.

5. Diamati perubahan warna media.

6. Dilakukan kembali desinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

E. UJI UREASE

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Dilakukan desinfeksi area kerja yang akan digunakan menggunakan alcohol 70%.

3. Diinokulasikan koloni dari biakan kuman ke agar urea.

4. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam.

5. Diamati reaksi yang terjadi.

6. Didesinfeksi area kerja menggunakan alcohol 70%.

VII. HASIL PENGAMATAN :


1. Hasil dari penanaman koloni tunggal di
media TSIA, tidak terjadi fermentasi
karbohidat.

1. Media SIM yang akan diteteskan reagen


kovac untuk uji adanya indol, motility,
dan sulfur

2. Pada media urease diperoleh hasil negatif


(-) yang menandakan enzim hidrolitik
yang memecah senyawa amida seperti
urea tidak menghasilkan ammonia yang
bersifat basa
3. Pada media citrate diperoleh hasil negatif
(-) yang menandakan kondisi basa tidak
menyebabkan indicator bromtimol biru
bekerja

4. Pada media MR-VP diperoleh hasil


negatif (-). Media MR-VP ini akan dibagi
kedalam 2 tabung reaksi untuk melakukan
pemeriksaan MR dan VP

5. Media MR-VP di bagi ke dalam 2 tabung


reaksi yang masing-masing berisi
sebanyak 4 mL dan 6 mL untuk
pemeriksaan MR (6 mL)
Dan VP (4 mL).
- Pada tabung MR (6 mL) diteteskan 8
tetes metil red (beric A)
- Pada tabung VP (4 mL) diteteskan 6
tetes
Reagen beric B
6. Pada media MR (6 mL) diperoleh hasil
positif (+) dimana adanya perubahan
warna menjadi merah yang menandakan
bakteri mempertahankan produk akhir
asam.

7. Pada media VP (4 mL) diperoleh hasil


negatif (-) dimana tidak terjadi perubahan
warna yang menandakan bakteri tidak
mempertahankan produk akhir asam.

8. Pada media sakarosa diperoleh hasil


negatif (-) dimana tidak terjadi perubahan
warna yang pada awalnya berwarna biru
dan tidak terbentuknya gas, yang
menandakan bakteri tidak dapat
memfermentasi sakarosa
9. Pada media laktosa diperoleh hasil positif
(+) dimana terjadi perubahan warna dari
biru menjadi kuning dan terbentuknya
gas, yang menandakan bakteri dapat
memfermentasi laktosa

10. Pada media glukosa diperoleh hasil positif


(+) dimana terjadi perubahan warna dari
biru menjadi kuning dan terbentuknya
gas, yang menandakan bakteri dapat
memfermentasi glukosa

11. Pada media manitol diperoleh hasil positif


(+) dimana terjadi perubahan warna dari
biru menjadi kuning dan terbentuknya
gas, yang menandakan bakteri dapat
memfermentasi mannitol
12. Penambahan reagen kovac untuk
melakukan pemeriksaan media SIM
mengenai adanya Indol, motility, dan
sulfur pada media SIM

13. Pada media SIM dialakukan uji indol


yang telah di tambahkan reagen kovac
diperoleh hasil :
- dimana terbentuknya cincin merah,
yang menandakan terjadinya reaksi
indol pada media. (+)
- terdapatnya awan pada permukaan
media menandakan adanya motility
atau pergerakan pada media SIM. (+)
- Tidak terdapat endapan hitam pada
media yang menandakan bakteri tidak
menghasilkan sulfur. (-)

VIII. PEMBAHASAN :

Bakteri Escherichia coli (E. coli) merupakan suatu bakteri Gram (-) berbentuk
batang, bersifat anaerobik fakultatif, dan mempunyai flagella peritrikat.
(Fardiaz,1992). E. coli dapat hidup secara normal di saluran pencernaan. E. coli
menjadi patogen jika jumlahnya meningkat dalam saluran pencernaan atau berada di
luar usus. Oleh karena itu, pada pratikum digunakan feses sebagai sampel untuk
indentifikasi bakteri E.coli yang hidup pada tubuh kemudian di tanam dalam sebuah
media khusus yang berbeda dimana menghasilkan perubahan sesuai dengan kekhasan
medianya masing-masing. Medium adalah suatu bahan nutrisi tempat menubuhkan
bakteri di laboratorium (Tortora, 2007). Media adalah suatu substrat untuk
menumbuhkan bakteri yang menjadi padat dan tetap tembus pandang pada suhu
inkubasi (Pelczar et al, 1986). Dengan menggunakan bermacam macam media dapat
dilakukan isolasi, perbanyakan, pengaujan sifat fisiologis dan perhitungan sejumlah
mikroba.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, media untuk menumbuhkan
bakteri yaitu MCA dan EMB. Kemudian dilakukan isolasi sampel feses ke media
EMB ( Eosin Methylen Blue Agar ) dan MCA ( Mac Conkey Agar ) dengan teknik
streak plate. cara melakukan Teknik Piringan Goresan (Streak plate method) yaitu
menginokulasi biakan dengan jarum ose pada permukaan atas agar yang penuh
dengan biakan campuran (specimen feses). Ada beberapa metode penggoresan yang
berbeda, namun kesemua metode bertujuan untuk meletakkan sebagian besar
organisme pada beberapa goresan pertama. Apabila sebaran dilakukan dengan
menggerakkan jarum ose bergantian dari satu bagian ke bagian lain cawan petri,
bakteri yang tertinggal pada jarum ose semakin berkurang. Jika dilakukan secara
sempurna, goresan akhir akan meninggalkan bakteri individual cukup terpisah satu
sama lain, sehingga setelah mengalami pertumbuhan, koloni yang berasal dari bakteri
individual akan benar-benar terpisah satu sama lain. Kemudian koloni tunggal dapat
ditinggalkan kemedium steril, dan akan tumbuhlah biakan murni (Hadioetomo, 1993).
MCA ( Mac Conkey Agar ) adalah media selektif dan defferensial yang
digunakan untuk isolasi dan differensiasi non pemilih gram negatif batang, khususnya
anggota keluarga Enterobacteriaceae dan genus Pseudomonas. Setelah pembuatan
media selesai, selanjutnya dilakukan isolasi sampel feses ke media dengan cara streak,
tetapi sebelum itu, sampel di encerkan dengan akuadest terlebih dahulu. Pengenceran
adalah melarutkan atau melepasan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga
lebih mudah penanganannya. Tujuan pengenceran yaitu untuk mengurangi kepadatan
kepadatan bakteri yang ditanam (Fais, 2009). Pada pratikum biakan pada agar
MacConkey menghasilkan koloni berwarna merah. Beberapa koloni bakteri golongan
Coliform yang dapat memfermentasikan laktosa yang terdapat pada media
MacConkey akan membentuk koloni berwarna, seperti koloni E.coli dan Klebsiella
sp. Sedangkan Koloni yang tidak memfermentasikan laktosa seperti Proteus sp akan
membentuk koloni tidak berwarna. Untuk koloni Citrobacter sp yang lambat dalam
melakukan fermentasi laktosa, lama-kelamaan koloni akan membentuk warna.(Arnia
and Warganegara 2013).
Media EMB (Eosin Methylen Blue Agar) mempunyai keistimewaan
mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilih mikroba yang memfermentasikan
laktosa seperti staphylococcus aureus, P. aerugenosa dan salmonella. Hasil positif
adanya E. coli dapat dilihat pada media Eosin Methyline blue (EMB) karena media ini
merupakan media selektif diferensial untuk mengisolasi bakteri E. coli. Pada pH yang
cukup rendah fermentor laktosa seperti E.coli menghasilkan koloni ungu dengan
kemilau hijau metalik, sedangkan kurang keasaman dapat menghasilkan warna coklat-
merah muda koloni. Sedangkan pada fermentor nonlaktosa muncul seperti transparan
atau pink. Adanya eosin dan methylen blue membantu mempertajam perbedaan
tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap awal karena kuman
lainnya juga tumbuh terutama P. aerugenosa dan salmonella sp. Dan dapat
menimbulkan keraguan. Emba yang menggunakan eosin dan methylen blue sebagai
indicator memberikan perbedaan yang nyata antara koloni yang meragikan laktosa
dan tidak meragikan laktosa. ( Hastowo, 1992). Media EMB mengandung enzimatik
dari gelatin yang merupakan sumber nitrogen. Laktosa pada EMB membuat bakteri
gram negatif tumbuh terdiferensiasi berdasarkan sifatnya sehingga memproses
laktosa. Eosin dan methylene blue dari media EMB merupakan pewarna yang
bergabung untuk membentuk kompleks pada pH asam dan menghambat bakteri gram
positif (eosin pada tingkat lebih rendah), sementara eosin berubah warna ke ungu
gelap, ketika media sekitar koloni menjadi asam (Himedia 2011). Hasil pratikum
pertumbuhan bakteri pada cawan petri menghasikan koloni ungu dengan kemilauan
hijau metalik sehingga menunjukkan hasil positif pada media yang diduga koloni dari
bakteri E.coli dengan batang Gram negatif dan koloni berwarna merah muda dan
transparan diduga adalah bakteri Enterobacteria aerogenes yang memiliki sifat gram
negatif bentuk batang.
Setelah itu bakteri di remajakan ke media TSIA. Proses mengisolasi harus
dilakukan dengan cara yang aseptis karena untuk menghindari adanya kontaminasi
antara mikroorganisme lainnya. Mikroorganisme dapat diisolasi dan diinokulasi
dalam biakan murni dengan cara memindahkannya lalu menanamnya kembali pada
medium baru. TSI Agar merupakan media untuk melihat kemampuan suatu
mikroorganisme dalam memfermentasikan gula. TSIA digunakan untuk pengujian
biokimia untuk membedakan beberapa jenis bakteri yang termasuk kelompok
Enterobacteriaceae yang bersifat gram negatif dan memfermentasikan glukosa
kemudian membentuk asam, sehingga dapat dibedakan dengan bakteri gram negatif
lain. Perbedaan ini didasarkan pada pola fermentasi karbohidrat dan produksi H 2S
pada tabung reaksi. Media ini memiliki 3 gula dalam kandungannya, yaitu glukosa,
laktosa, dan sukrosa, dengan konsentrasi 1% sukrosa, 1% laktosa, dan 0,1% glukosa.
Pada uji TSIA, dibagian butt (bawah) bewarna kuning demikian pula pada bagian
slant (miring) juga bewarna kuning, hal ini menunjukkan suasana yang asam pada
butt dan slant. Hasil dari uji TSIA pada E. coli menghasilkan warna kuning. Hal ini
dikarenakan E. coli pada media TSIA dapat memfermentasi glukosa, laktosa dan
sukrosa. Daerah medium pada sampel positif tidak memperlihatkan adanya endapan
hitam (negatif H2S). Hal tersebut terjadi karena E. coli tidak mampu mendesulfurasi
asam amino dan methion yang menghasilkan H2S (Lebofee .2011).
Hasil positif yang ditunjukkan pada media EMB kemudian diuji ke dalam uji
biokimia. Uji biokimia terdiri dari uji indol, uji merah metil, uji Voges Praskauer, dan
uji sitrat (Arifin 2013). Pentingnya uji biokimia ini dapat digunakan untuk
mengidentifikasi mikroorganisme secara fisiologis berdasarkan reaksi biokimia. Jenis
uji biokimia akan dipengaruhi oleh faktor atau sifat mikroorganisme, jenis media atau
faktor lingkungan (Harti, 2015). Uji biokimia ini dilakukan untuk menguatkan dugaan
bahwa bakteri yang di isolasi merupakan bakteri E. coli. Selain di uji dengan uji
biokimia, bakteri yang bersifat Gram negatif ini juga perlu di uji dengan uji gula-gula
dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan fermentasi bakteri terhadap karbohidrat.
Pada Media Sulfur Indol Motility (SIM) diperoleh hasil positif pada indol dan
motilitas sedangkan pada sulfur negatif karena tidak terjadi perubahan warna menjadi
hitam. Motilitas positif ditunjukkan karena ditemukan adanya gelembung disekitar
daerah inokulasi dan juga terbentuknya awan pada permukaan media SIM, yang
berarti bahwa E. coli memiliki flagella dan dapat hidup pada kondisi anaerob.
Berdasarkan hasil uji indol menunjukkan hasil positif karena setelah ditetesi reagen
kovacs yang mengandung P-dimetilaminobenzaldehid, alkohol dan HCl pekat maka
terbentuk cincin merah cherry. Hal ini merupakan hasil dari pemecahan asam amino
triptofan oleh bakteri E. coli (Lewerissa dan Kaihena, 2014). Sedangkan, jika hasil
reaksi negatif ditandai dengan terbentuknya cincin kuning. Pentingnya uji indol ini
adalah karena hanya beberapa jenis bakteri saja yang dapat membentuk indol dan uji
ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi bakteri (Agustina., dkk, 2013).
Uji Merah Metil (Methyl Red) digunakan untuk mendeteksi bakteri dengan
asam campuran. Hasil pengamatan untuk uji MR pada isolat bakteri E. coli adalah
positif yang ditunjukkan dengan larutan berwarna merah. Hal ini dikarenakan
beberapa bakteri dapat memfermentasikan glukosa dan menjadikan berbagai produk
bersifat asam sehingga dapat menurunkan pH media menjadi 5,0 atau lebih rendah.
Penambahan indikator pH merah metil ke dalam kultur bakteri setelah inkubasi
menunjukkan adanya perubahan pH menjadi asam. Merah metil berwarna merah pada
lingkungan dengan pH 4,4 dan berwarna kuning dalam lingkungan dengan pH 6,2
(Widyawati 2012).
Uji Voges-Proskauer yang dilakukan dalam pengamatan menunjukkan hasil
negatif karena tidak adanya perubahan warna terhadap larutan VP. Uji VP digunakan
untuk mengidentifikasi bakteri melewati fermentasi karbohidrat oleh bakteri menjadi
2,3 butanadiol yang dijadikan sebagai produk utama sehingga terjadi penumpukan
dalam media. Bila KOH ditambahkan pada media akan membentuk senyawa (asetoin)
acetylmethylcarbinol namun proses tersebut tergantung pada pencernaan glukosa
terjadi, bila glukosa pecah maka akan bereaksi dengan alpha-naftol. Perubahan warna
memperjelas proses dari pembentukan asetoin menjadi warna merah cherry,
sedangkan hasil yang tidak terjadi pembentukan asetoin menunjukan warna kuning
coklat (Sridhar 2006). Asetoin merupakan perantara dalam produksi butilen glikol.
Alpha-naftol berfungsi untuk katalis dan penguat warna (Kataria et al. 2013).
Uji sitrat digunakan untuk melihat kemampuan bakteri menggunakan sitrat
sebagai satu-satunya sumber karbon. Jika bakteri mampu menggunakan sitrat sebagai
sumber karbonnya maka akan menaikkan pH dan mengubah warna medium biakan
dari hijau menjadi biru. Pada pratikum ini hasilnya negatif dengan warna media yang
tetap hijau karena E. coli tidak dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon
(Fatimawati, 2014).
Uji Urease bertujuan untuk mendeteksi penguraian urea menjadi amonia.
Caranya secara aseptik diinokulasikan biakan bakteri dari media padat ke media urea
agar, kemudian inkubasi 37C selama 24 jam. Urea dihidrolisis menjadi amonia oleh
organisme positif urease akan mengatasi buffer dalam jangka menengah dan
mengubahnya dari oranye menjadi merah muda. Hasil pengamatan untuk uji uraease
pada E. coli menunjukan hasil negatif, hal ini dikarenakan organisme negatif urease
baik tidak menghasilkan perubahan warna dalam media atau mengubahnya kuning
dari produk asam (Leboffe, 2011).
Uji gula-gula ini merupakan salah satu uji biokimia untuk mengisolasi bakteri
E. coli dengan cara mengetahui kemampuan bakteri tersebut memfermentasi
karbohidrat. Media ini digunakan untuk mengetahui fermentasi gula-gula menjadi
asam dengan atau tanpa gas. Caranya biakan bakteri dari media padat diinokulasikan
secara aseptik ke larutan glukosa, tabung Durham diletakkan terbalik dalam masing-
masing tabung sebagai indikator adanya produksi gas kemudian inkubasi 37C selama
24 jam. Hasil positif ditandai dengan perubahan media menjadi kuning, sedangkan
jika gas positif akan tampak gelembung udara pada tabung durham. Pengujian uji
gula-gula yang terdiri dari media glukosa, laktosa, sakarosa, maltosa, dan manitol. Uji
gula-gula menunjukkan reaksi positif dengan terjadinya perubahan warna menjadi
kuning dan menghasilkan gas. Ini menunjukkan bahwa bakteri ini mampu
memfermentasi karbohidrat (Cappucino dkk.2002). Pengujian dengan media sakarosa
tidak mengalami perubahan warna menjadi kuning berarti bakteri tidak dapat
memfermentasi sakarosa. Hajil uji pada media mannitol menunjukkan hasil positif
yaitu dengan perubahan warna menjadi kuning. Perubahan warna menandakan bahwa
bakteri memfermentasi mannitol. Hasil uji terhadap media maltosa juga mengalami
perubahan warna menjadi kuning yang menandakan bakteri dapat memfermentasi
maltosa. Hasil uji laktosa juga didapatkan hasil positif. Hal ini terjadi karena media
laktosa mengandung gula, air pepton dan fenol red, sehingga E. coli dapat mengurai
media laktosa karena memiilki enzim beta-galaktosidase. Media glukosa didapatkan
positif yang ditandai dengan adanya perubahan warna pada media tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa E. coli dapat mengurai glukosa dan memiliki enzim beta
galaktisidase. Pada media glukosa juga terbentuk gelembung pada tabung durham
yang diletakan terbalik didalam tabung media dan menunjukkan hasil fermentasi
berbentuk gas (Oktarina, 2010).

IX. KESIMPULAN :

Berdasarkan praktikum Identifikasi Bakteri Enterobacteriaceae yang


menggunakan sampel feses manusia untuk pemeriksaan yang diperoleh dari situs
microrao dapat diidentifikasikan bahwa jenis bakteri ini adalah bakteri E.coli: 98.07
%,. Pada uji gula-gula bakteri tidak memfermentasi sakarosa. Pada media urea
diperoleh hasil negative, yang tidak menghasilkan ammonia yang bersifat basa. Pada
uji MR dengan hasil positive, adanya perubahan warna menjadi merah yang
menandakan bakteri mempertahankan produk akhir asam. Pada Uji VP negative, tidak
terjadi perubahan warna , karena tidak terbentuk warna merah pada medium setelah
ditambahkan -napthol dan KOH.

X. DAFTAR PUSTAKA :
1. Annonymous, 2016, Panduan Praktikum Mikrobiologi, tersedia:

2. https://www.usd.ac.id/fakultas/farmasi/f1l3/PanduMikroBio.pdf

3. Annonimous, Sekilas Media Gula-Gula, tersedia:

4. http://www.academia.edu/9923615/SEKILAS_MEDIA_GULA-GULA

5. Aditia Lasinrang, 2014, Laporan Lengkap Praktikum Mikrobiologi(Uji


Biokimia IMVIC), tersedia:

6. http://www.academia.edu/16007244/Laporan_Praktikum_Mikrobiologi_Uj
i_Biokimia_IMVIC_

7. Dewi Ayu,Bab II tinjauan pustaka, tersedia:

https://www.google.co.id/http/eprints.undip.ac.id/DEWIAYU_G2A009195_B
AB2KTI.pdf

8. Arnia, and Efrida Warganegara. 2013. Identifikasi Kontaminasi Bakteri


Coliform Pada Daging Sapi Segar Yang Dijual Di Pasar Sekitar Kota
Bandar Lampung. Medical Journal of Lampung University, 18.

9. Di, Keumamah, Pasar Tradisional, and Aceh Besar. 2017. Escherichia


Coli, Staphylococcus Aureus, Keumamah 1 (3): 57483.

10. Huda, Chairul. 2012. Penapisan Aktivitas Antibakteri Dari Bakteri Yang
Berasosiasi Dengan Karang Lunak Sarcophyton S P 4: 6976.

11. Lingkungan, Kesehatan, Dan Pengendalian, and Penyakit Jakarta. 2016.


ANALISIS BAKTERI Escherichia Coli PADA MAKANAN SIAP SAJI
DI KANTIN RUMAH SAKIT X DAN KANTIN RUMAH 12 (2): 21
34.

12. Iswara, Arya. 2015. POLA SENSITIVITAS Eschericia Coli TERHADAP


ANTIBIOTIK METRONIDAZOLE, 27377.

13. (Besar, 2016)Besar, A. (2016). Issn. 2527-6395, 1, 222228.

14. Control, Q. (2011). EMB Agar. HiMedia Laboratories, 12. Retrieved


from http://himedialabs.com/TD/M317.pdf

15. Petang, K., & Badung-bali, K. (2016). Isolasi dan Identifikasi Escherichia
coli O157: H7 pada Feses Sapi di, 8(1), 3035.

16. Pelczar. 1986 .Dasar-DasarMikrobiologi. Jakarta : UI Press


17. Tortora. 2004. Microbiology an Introduction. San Fransisco: Benjamin
Cumming

18. Talaro K.P.1999. Foundation Mikrobiologi third edition.MC Graw Hill

19. Dwidjoseputro.1990 .dasar-dasar microbiologi. Djambatan: Malang


20. Murray. 2005. Buku Ajar Mikrobiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta.

21. Pelczar. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan, Malang.

22. Volk and Wheleer. 1993. Analisis Praktikum Mikrobiologi Umum untuk
Perguruan Tinggi. UGM Press, Yogyakarta.

23. Hadioetomo. 1993. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika, Jakarta.

24. http://nunil08.student.ipb.ac.id/2010/06/19/uji-biokimia-metabolisme-
bakteri/ (Diakses pada: 23 April 2014, pukul: 21.00 WITA)

25. Lehninger. 1995. Microbiology: a Laboratory Manual.Adison-Wesley.


Publishing company: California.

LAMPIRAN FOTO

1. Penimbangan Urea Agar


sebanyak 1,05 gram
2. Media Urea Agar

3. Penimbangan citrate agar


sebanyak 1,15 gram

4. Media citrate agar

5. Pembuatan media urea agar


6. Media urea agar yang sudah
dilarutkan

7. Pembuatan media citrate


agar

8. Media citrate agar yang


sudah dilarutkan
9. Proses menghomogenkan
media urea agar dengan
menggunakan magnetic
stirrer

10. Proses menghomogenkan


media citrate agar dengan
menggunakan magnetic
stirrer

11. Proses penuangan urea agar


sebanyak 5 mL ke dalam
tabung reaksi menggunakan
pipet ukur.
12. Proses penuangan citrate
agar sebanyak 5 mL ke
dalam tabung reaksi
menggunakan pipet ukur.

13. Didiamkan media urea agar


di dalam suhu ruang hingga
memadat dengan posisi
dimiringkan.

14. Didiamkan media urea agar


di dalam suhu ruang hingga
memadat dengan posisi
dimiringkan.

15. Media urea agar dan citrate


agar yang sudah dibungkus
dan kemudian media
disimpan di dalam
pendingin.
2. Hasil dari penanaman koloni
tunggal di media TSIA

1. Hasil penanaman spesimen


feses pada media EMB
2. Hasil penanaman spesimen
feses pada media MCA

1. Proses fiksasi ose di atas api


bunsen

2. Pengambilan koloni tunggal


di media NA
3. Proses penanaman bakteri di
media gula-gula

4. Proses penanaman bakteri di


media urease

5. Proses penanaman bakteri di


media citrate
6. Proses penanaman bakteri di
media indol

7. Proses penanaman bakteri di


media MR-VP
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 26 September 2017

Mahasiswa ( Kelompok 8 )

Mengetahui

Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2

Nyoman Mastra, SKM., S.Pd., M.Si I Nyoman Jirna, SKM., M.Si

Dosen Pembimbing 3 Dosen Pembimbing 4

Burhannuddin, S.Si., M.Biomed Mardiyah Hayati, Amd.AK

Dosen Pembimbing 5

Luh Putu Rinawati, S.si


LAPORAN BAKTERI
IDENTIFIKASI BAKTERI ENTEROBACTERIACEAE

OLEH:

KELOMPOK 8

NAMA ANGGOTA :

1. Ni Komang Dwi Paryanti 010

2. Dwi Kartika Sari 032

3. Kadek Putri Dwi Cahyanti 038

4. Ni Made Dwi Adnyani 041

5. Ni Made Tik Dwi Manda Sari047


6. Komang Feri Kharisma 048

7. Ade Nandani Widyastuti 055

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

2017