Anda di halaman 1dari 11

1.

DASAR TEORI
Darah
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam
cairan yang disebut Plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai
jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur
sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah
adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah
juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa
metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang
bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen
sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah
disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang
terdapat dalam eritrosit dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah juga mengangkut
bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati
untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni (Tadeus, 2009).

Leukosit
Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik
yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi
sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau
jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel
tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan
menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup.
Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara
mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic
pluripotent yang ada pada sumsum tulang (Hoffbrand,A.V.2012)

Jenis-Jenis Leukosit :
Basofil
Basofil adalah jenis leukosit yang terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang
seperti asma, alergi kulit, dan lain-lain. Sel ini jarang ditemukan dalam darah tepi
normal. Sel ini mempunyai banyak granula sitoplasma yang gelap menutup inti
serta mengandung heparin dan histamin. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan
melepaskan histamin dari granulanya. Di dalam jaringan basofil berubah menjadi
sel mast basofil mrmpunyai tempat perlekatan immunoglobulin E (IgE) dan
degranulasinya disertai dengan pelepasan histamin. Basofil terutama bertanggung
jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan
histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
Eosinofil
Eosinofil merupakan jenis leukosit yang terlibat dalam alergi dan infeksi
(terutama parasit) dalam tubuh. Sel ini mirip dengan neutrofil kecuali granula
sitoplasmanya lebih kasar, lebih berwarna merah tua, jarang dijumpai lebih dari 3
lobus inti. Sel ini memasuki eksudat inflamatorik dan berperan khusus dalam
respon alergi, pertahanan terhadap parasit, dan pembuangan fibrin yang terbentuk
selama inflamasi.
Neutrofil
Neutrofil merupakan sel yang paling cepat bereaksi terhadap radang dan luka
dibanding leukosit yang lain dan merupakan pertahanan selama fase infeksi akut.
Sel ini mempunyai inti padat khas yang terdiri atas 2-5 lobus dan sitoplasma yang
pucat dengan batas tida beraturan, mengandung banyak granula merah-biru
(azurofilik) atau kelabu-biru. Granula terbagi menjadi granula primer yang
muncul pada stadium promielosit, dan sekunder yang muncul pada stadium
mielosit dan terbanyak pada neutrofil matang. Netrofilia adalah suatu keadaan
dimana jumlah netrofil lebih dari 7000/l dalam darah tepi. Penyebab biasanya
adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat, gangguan
metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan radang. Banyak
faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti penyebab
infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan pengobatan.
Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya
granulosit muda ke peredaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri
atau shift to the left. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai
banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita
yang kurang. Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda
degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar
dan gelap yang disebut granulasi toksik.
Limfosit
Limfosit adalah jenis leukosit agranuler dimana sel ini berukuran kecil dan
sitoplasmanya sedikit. Salah satu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan
dan pembentukan antibodi. Limfosit adalah sel yang kompeten secara imunologik
dan membantu fagosit dalam petahanan tubuh terhadap infeksi dan invasi asing
lain. Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis
limfosit, yaitu:
a. Sel B.
Berfungsi membuat antbodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya (sel
B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen tetapi setelah
adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam
menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori').
b. Sel T = CD+4 (pembantu)
Berfungsi mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV)
serta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD+8 (sitotoksik) dapat
membunuh sel yang terinfeksi virus
c. Sel natural killer = sel pembunuh alami (NK, Natural Killer) dapat
membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh
dibinuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker.

Monosit
Monosit merupakan salah satu leukosit yang berinti besar dengan ukuran 2x
lebih besar dari eritrosit sel darah merah, terbesar dalam sirkulasi darah dan
diproduksi di jaringan limpatik. biasanya berukuran lebih besar dari leukosit darah
tepi lainnya dan mempunyai inti sentral berbentuk lonjong atau berlekuk dengan
kromatin yang menggumpal. Sitoplasmanya yang banyak berwarna biru dan
mengandung banyak vakuola halus sehingga memberikan gambaran kaca asah
(ground-glass-apperance). Granula sitoplasma juga sering d-glass-apperance.
granula sitoplasma juga sering dijumpai. Monosit membagi fungsi 'pembersih
vakum' (fagositosis) dari neutrofil tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas
tambahan yaitu memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen
tersebut dapat dihafal dan dibunuh atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk
menjaga (Sari, Lia Dwi, 2013).



Differential Count
Diff Count atau yang sering kita ketahui dengan pemeriksaan hitung jenis
leukosit. Diff Count ini merupakan salah satu pemeriksaan penting dalam bidang
hematologi, jadi tidak boleh dilewatkan dan harus dipahami tujuan, prinsip, alat
dan bahan yang digunakan, cara, harga normal, dan cara menghitungnya.
Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah
yang diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di
bawah mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap
jenis sel darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung
dengan mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan
dalam sel/L
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan
pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi.
Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu
diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas
terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan
eritrosit tidak boleh bergerombol
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis
leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi
yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit,
monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi
yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit
hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk
mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%)
dikalikan jumlah leukosit total (sel/l)
Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih
banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung
jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu
lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%.
(Radias, 2012)
Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10 per 100
leukosit, maka jumlah leukosit/l perlu dikoreksi. Berikut ini merupakan beberapa
hasil yang mungkin diperoleh pada hitung jenis leukosit:
1. Netrofilia
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai
normal. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan
logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan
darah dan kelainan mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti
penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan
pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan
Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi
oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan
netrofilia. Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang
dewasa. Pada penderita yang lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga
sering tidak disertai netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya
jaringan yang meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte
promoting substance sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia
lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic
hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada
penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya
granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri
atau shift to the left.
Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai
netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi
berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa
netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan
infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi,
yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap
yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan
vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma
2. Eosinofilia
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai
normal. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang
dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang
menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik,
infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan
leukemia granulositik kronik.
3. Basofilia
Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai normal.
Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis
ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan
melepaskan histamin dari granulanya.
4. Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit
melebihi nilai normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti
morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis
dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan
makroglobulinemia primer.
5. Monositosit
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi nilai
normal. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia
monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus
eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik
oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur
Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada
tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara
jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada
tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.
6. Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari nilai
normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu
meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan
netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek
karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan
merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat
terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan
fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak
diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan
rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
7. Limfopenia
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari nilai
normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada
penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan
oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat
seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.
8. Eosinopenia dan lain-lain
Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal ini
dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi
berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan dengan
kortikosteroid.
Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan
basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian,
jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna
dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak
dijumlah basofil maupun eosinofil (Yully, 2013).

DAPUS
Bakri,Samsyul,dkk.1989.Hematologi.Jakarta:Pesat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Departemen Kesehatan RI
Gandosoebrata,R.2010.Penuntun Laboratorium Klinik edisi keenambelas.Jakarta:Dian
Rakyat
Hoffbrand,A.V.2012.Kapita Selekta Hematologi edisi keempat.Jakarta:EGC

Info Laboratorium Kesehatan, 2012, Cara Membaca Hasil Laboratorium,
ONLINE, available:
https://infolaboratoriumkesehatan.wordpress.com/tag/nilai-normal-
leukosit-sel-darah-putih/, diakses pada 12 April 2014
Radias, 2012, Differential Count (Hitung Jenis Leukosit), ONLINE, available:
http://radiascakep86.blogspot.com/2012/04/diff-count.html, diakses
pada 12 April 2014
Sari, Lia Dwi, 2013, Makalah Hematologi Differential Counting Hitung Jenis
Leukosit Differential Count, ONLINE, available:
http://waterforest94.blogspot.com/2013/06/makalah-hematologi-
differential.html, diakses pada 12 April 2014
Tadeus, 2009, Histopalogi Darah, online,
http://histologidrgtadeus.blogspot.com/2009/01/5-darah.html, 12 April 2014
Yully, 2013, HITUNG JENIS LEUKOSIT (DIFFERENTIAL COUNT) DAN EVALUASI
HAPUSAN DARAH TEPI (HDT), online,
http://yullyanalis.wordpress.com/2013/06/28/hitung-jenis-leukosit-
differential-count-dan-evaluasi-hapusan-darah-tepi-hdt/, 12 April
2014

















Gambar yg diprint


Limposit monosit


Neutrofil stab neutrofil segmen

Eusinofil basofil