Anda di halaman 1dari 3

CRP atau Protein C-Reaction adalah protein yang ditemukan dalam darah, yang

meningkat sebagai respon terhadap peradangan (suatu protein fase akut). Peran fisiologis
adalah untuk mengikat fosfokholin diekspresikan pada permukaan sel-sel mati atau sekarat
(dan beberapa jenis bakteri) untuk mengaktifkan system pelengkap melalui kompleks CIQ
Prosedur Tes CRP dapat dilakukan secara manual menggunakan metode aglutinasi atau
metode lain yang lebih maju, misalnya sandwich imunometri
Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan kadar C-Reaktif Protein (CRP) pada sampel
serum. Pemeriksaan ini dilakukan dengan dua metode yaitu metode kualitatif dan metode
semi-kuantitatif. Pada setiap pemeriksaan imunoserologi, semua sampel harus dianggap
infeksius dan praktikan harus menggunakan alat pelindung diri (APD) demi menjaga
keamanan dan kesehatan pemeriksa dari risiko terjadinya kecelakaan kerja di Laboratorium.
Sebelum pemeriksaan dilakukan, mula-mula sampel dan reagen yang akan digunakan harus
dikondisikan pada suhu ruang (18-390C). Hal tersebut dikarenakan adanya antibody dalam
sampel serum dan dari antibody pada reagen. Antibody tersusun dari moleku-molekul protein,
dimana protein dapat bereaksi optimal pada suhu ruang. Oleh karena itu, sampel dan reagen
harus dikondisikan pada suhu ruang dahulu sebelum digunakan.
Penghomogenan reagen CRP latex bertujuan untuk memastikan bahwa partikel-partikel pada
reagen tersebar secara merata. Jika tidak dihomogenkan, dikhawatirkan reagen yang terpipet
hanya mengandung sedikit partikel latex, sehingga berisiko mendapatkan hasil pemeriksaan
yang palsu.
Pemeriksaan CRP dengan metode lateks aglutination ini digunakan slide test berlatar
belakang gelap yang telah berisi beberapa lingkaran sebagai tempat mereaksikan antigen
dalam sampel serum dan antibodi anti-CRP pada reagen lateks. Latar belakang gelap
bertujuan untuk mempermudah pengamatan, karena campuran yang terbentuk dari
homohenisasi reagen lateks dan serum berwarna putih. Pada pemeriksaan CRP ini dilakukan
test kualitatif dan semi kuantitatif. Pemeriksaan CRP secara kualitatif dilakukan untuk
mengetahui secara kasar ada tidaknya antigen CRP di dalam sampel serum yang diperiksa.
Jika dalam pemeriksaan CRP secara kualitatif diperoleh hasil positif, maka dilanjutkan
dengan pemeriksaan secara semi-kuantitatif untuk menentukan kadar CRP di dalam sampel
serum tersebut
Pemeriksaan secara semi kuantitatif dilakukan dengan mereaksikan serum yang telah
diencerkan dengan reagen lateks. Sampel serum diencerkan menggunakan larutan buffer
saline (NaCl 0,9%) dengan pengenceran bertingkat (1/2, , 1/8, 1/16 dan seterusnya). Serum
yang telah diencerkan kemudian dilakukan pemeriksaan seperti cara kuantitatif. Pemeriksaan
serum ini harus berurutan dari pengenceran terendah. Dimulai dari pemeriksaan serum dengan
pengenceran . Apabila pemeriksaan menunjukkan hasil positif, maka dilanjutkan dengan
pengujian serum dengan pengenceran . Demikian seterusnya sampai hasil menunjukkan
reaksi negatif, sehingga titer antibodi dapat ditentukan. Titer antibodi merupakan pengenceran
tertinggi yang masih menghasilkan reaksi positif aglutinasi. Masing-masing titer antibodi

berhubungan kadar CRP tersendiri, sehingga kadar CRP dalam serum yang diperiksa dapat
diketahui
Pada saat meneteskan reagen, CRP latex ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Diteteskan sebanyak 1 tetes dengan posisi pipet yang tegak lurus. Jika dimiringkan, dapat
berpengaruh pada volume penetesan (volume penetesan berkurang/berlebih)
b. Saat meneteskan reagen, posisi ujung pipet tidak menyentuh slide test, hal tersebut untuk
menghindari kontaminasi pada seluruh reagen apabila pipet yang terkontaminasi
dimasukkan kembali ke dalam botol reagen
c. Reagen diteteskan terlebih dahulu, kemudian diteteskan serum. Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kontaminasi
d. Reagen diteteskan di bagian pinggir dalam lingkaran slide test dan diusahakan saat
meneteskan serum tidak langsung bercampur dengan reagen, karena akan mempengaruhi
waktu inkubasi, dimana waktu inkubasi harus dimulai bersamaan
e. Dalam setiap pengujian CRP, harus selalu disertakan serum kontrol positif dan serum
kontrol negatif. Serum kontrol positif merupakan serum standar yang positif mengandung
CRP, sedangkan serum kontrol negatif merupakan serum standar yang tidak mengandung
CRP
Penggunaan serum control positif dan serum control negative digunakan untuk
memverifikasi hasil pemeriksaan serta control terhadap reagen. Apabila hasil pemeriksaan
pada serum control tidak sesuai dengan yang diahrapkan, maka hasil pemeriksaan tidak
valid karena ada kesalahan pada reagen.
Setelah ditetesi reagen kemudian di tetesi serum sampel dan dilakukan penggoyangan
slide test selama 2 menit adalah untuk mengoptimalkan reaksi imunologis antara antibody
pada sampel dengan partikel latex pada reagen CRP.
Pada pemeriksaan kualitatif terhadap sampel xxxxxx, diperoleh hasil negative yang
ditandai dengan tidak terjadi aglutinasi (tidak terbentuknya butiran halus berwarna putih)
Sehingga tidak dilakukan lagi pemeriksaan semi kuantitatif. Dengan hasil negative ini dapat
dinyatakan pada sampel serum tidak terbentuk ikatan antara antigen pada larutan kontrol
dengan antibodi CRP. Hal ini disebabkan tidak adanya zat asing seperti bakteri atau virus
yang dapat menyebabkan peradangan akut, sehinga kadar CRP masih dibatas normal, yaitu
CRP<6 mg/L. Tidak adanya peradangan akut juga tidak memicu interleukin untuk
menghasilkan protein ini
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan CRP latex, yakni
a. Slide test yang digunakan harus bersih, bebas dari kotoran, sehingga tidak
mengganggu pengamatan aglutinasi.

b. Sebelum digunakan, reagen dan sampel harus dikondisikan pada suhu ruang dan
dihomogenkan. Hal ini penting dilakukan untuk mengoptimalkan reaksi antara antigen
pada sampel serum yang diperiksa dan antibodi anti CRP pada reagen lateks.
c. Reagen yang tersedia telah siap untuk digunakan, sehingga tidak diperlukan
pengenceran lebih lanjut.
d. Serum yang digunakan harus jernih sehingga tidak akan mengganggu pengamatan
aglutinasi. Sebelum diteteskan, serum dihomogenkan terlebih dahulu untuk meratakan
penyebaran partikel-partikel sampel serum tersebut, sehingga reaksi antigen dalam
serum dan antibodi anti-CRP dalam reagen lateks dapat terjadi dengan optimal.
e. Penetesan reagen maupun sampel serum dilakukan secara vertikal agar tetesan benarbenar satu tetes penuh. Petugas/praktikan yang meneteskan reagen dan sampel untuk
setiap pengujian harus orang yang sama agar hasil penetesan dari awal sampai terakhir
stabil sebab tekanan setiap orang berbeda-beda.
f. Ujung pipet penetes tidak boleh menyentuh slide test untuk mencegah terjadinya
kontaminasi. Apabila reagen lateks terkontaminasi oleh serum dengan CRP positif,
maka reagen akan rusak dan akan menimbulkan reaksi yang palsu untuk pemeriksaan
selanjutnya.
g. Pada saat menggoyang-goyangkan slide test untuk tujuan homogenisasi, diusahakan
agar campuran tidak keluar dari garis lingkaran, sehingga tidak tercampur dengan
sampel lainnya pada satu slide test.
h. Pembacaan hasil dilakukan tidak kurang dan tidak lebih dari 2 menit. Bila waktu
inkubasi kurang, kemungkinan antibodi anti-CRP pada reagen lateks belum berikatan
dengan antigen CRP di dalam sampel serum yang diperiksa. Sedangkan jika
pembacaan dilakukan lebih dari 2 menit, maka kemungkinan antigen lain di dalam
sampel serum yang seharusnya tidak bereaksi dengan antibodi anti CRP di dalam
reagen lateks akan bereaksi, sehingga terjadi aglutinasi. Kedua hal ini akan
menyebabkan hasil palsu.
i. Kontrol positif dan negatif harus diperiksa dalam waktu yang bersamaan.
j. Reagen kontrol positif dan negatif tersedia dalam keadaan siap untuk digunakan dan
tidak memerlukan pengenceran lebih lanjut.
k. Pembacaan hasil sebaiknya dilakukan pada pencahayaan terang, sehingga aglutinasi
dapatdiamati dengan jelas.
l. Setelah selesai digunakan, slide tes harus dibilas bersih menggunakan aquadest,
dikeringkandan dilap dengan tissue untuk mencegah kontaminasi pada pemeriksaan
selanjutnya.