Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNO-SEROLOGI

PEMERIKSAAN WIDAL METODE TABUNG

Oleh
Kelompok 3

DEVRIYANTI OSKAR BAU 85AK17038


CINDRA DINATA O.ABDULLAH 85AK17037
SRI RAHMA AMANDA SADINGO 85AK17065
SARPIN OTOLUWA 85AK17059
KURNIA EKAPUTRI UNO 85AK15023

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


STIKES BINA MANDIRI GORONTALO
2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
DAFTAR TABEL ..................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 2
1.3 Tujuan Praktikum ..................................................................... 2
1.4 Manfaat Praktikum .................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 3
2.1 Definisi S salmonella thypi ifilis ............................................... 3
2.2 Klasifikasi salmonella thypi ...................................................... 4
2.3 Patogenitas salmonella thypi ..................................................... 4
2.4 Demam thypoid ......................................................................... 5
2.5 Gejala demam thypoid .............................................................. 6
2.6 Faktor Virulensi ........................................................................ 6
2.7 Diagnosis demam thypoid ......................................................... 7
BAB III METODE PRAKTIKUM .......................................................... 10
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ............................................... 10
3.2 Metode ....................................................................................... 10
3.3 Prinsip........................................................................................ 10
3.4 Pra Analiti ................................................................................. 10
3.5 Analitik ...................................................................................... 10
3.6 Pasca Analitik ............................................................................ 11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 12
4.1 Hasil .......................................................................................... 12
4.2 Pembahasan ............................................................................... 12
BAB V PENUTUP ..................................................................................... 15
5.1 Kesimpulan................................................................................ 15
5.2 Saran .......................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Immunoserologi Dengan judul percobaaan “Uji widal” yang


disusun oleh :

KELOMPOK :
KELAS :B
PRODI : D-III ANALIS KESEHATAN

Pada hari ini ................ tanggal ............bulan ............................... tahun .................


Telah diperiksa dan disetujui oleh asisten, maka dengan ini dinyatakan diterima
dan dapat mengikuti percobaan berikutnya.

Gorontalo, Oktober 2019


Asisten I Asisten II

..……..................... ........................................
LEMBAR ASISTENSI
KELOMPOK :
KELAS :B
PRAKTIKUM : IMUNO-SEROLOGI

NO Hari/tanggal Koreksi Paraf


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi akut sistemik yang

disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis dan subtropics. Gejala

klinik dari salmonella typhi demam > 37 celsius, gangguan pencernaan mual,

muntah, nyeri perut, serta atau tanpa gangguan kesadaran. Penyakit ini juga

merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena

penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk

kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar

higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah (Prasetyo RV,

Ismoedijanto, 2011).

Pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan adalah uji

serologis. Kultur salmonella merupakan gold standard dalam menegakkan

diagnosis demam tifoid. Tes serologis lain yang dapat digunakan dalam

menentukan diagnosis demam tifoid adalah tes Widal, dan tes IgM

Salmonella typhi. Pada kultur darah, hasil biakan yang positif memastikan

demam tifoid. Pada uji Widal, akan dilakukan pemeriksaan reaksi antara

antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran

berbeda-beda terhadap antigen somatic (O) dan flagela (H) yang ditambahkan

dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi

yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukaan titer anti bodi dalam serum

(A. Fatmawati Rachman, 2011).


Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan

(slide test) atau uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan secara

cepat dan digunakan dalam prosedur pelapisan sedangkan uji tabung

membutuhkan teknik yang lebih rumit tetapi dapat digunakan untuk

konfirmasi hasil dari uji hapusan.

Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan pemeriksaan widal

menggunakan sampel serum untuk mendiagnosis demam tifoid yang

disebabkan oleh bakteri salmonella typhi.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana cara pemeriksaan

widal metode tabung?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum pada praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana

cara pemeriksaan widal metode tabung

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat praktikum pada praktikum ini adalah agar dapat mengetahui

bagaimana cara pemeriksaan widal metode tabung


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Salmonella typhi

Salmonella typhi adalah suatu genus bakteri entero bakteria gram

negatif berbentuk batang. Morfologi Salmonella typhosa berbentuk batang,

tidak berspora dan tidak bersimpai tetapi mempunyai flagel feritrik (fimbrae),

pada pewarnaan gram bersifat gram negatif, ukuran 2-4 mikrometer x 0.5 - 0.8

mikrometer dan bergerak, pada biakan agar darah, koloninya besar bergaris

tengah 2 sampai 3 millimeter, bulat, agak cembung, jernih, licin dan tidak

menyebabkan hemolisis. Tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob,

pada suhu 15 - 41oC (suhu pertumbuhan optimum 37 oC) dan pH pertumbuhan

6 - 8. Salmonella sp. yang hanya menginfeksi manusia, diantaranya S.

typhii, S. paratyphi A, S. paratyphi C. Kelompok ini termasuk agen yang

menyebabkan demam tifoid dan paratifoid, yang menjadi penyebab sebagian

besar serangan salmonella ( Pelczar, dkk, 2005).

Nama Salmonella sendiri baru diberikan oleh Daniel Edward Salmon,

rekan Smith yang melakukan penelitian lebih lanjut terhadap jenis bakteri

tersebut. Salmon menyimpulkan bahwa bakteri salmonella termasuk dalam

genus bakteri enterobakteria gram-negatif, berbentuk batang, bisa bergerak

bebas dan menghasilkan hidrogen sulfida, serta menjadi penyebab timbulnya

penyakit salmonellosis ( Pelczar, dkk, 2005)

Salmonella merupakan kuman gram negatif, tidak berspora dan

panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih.

Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan


sukrosa dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari

glukosa dan manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan

masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya

hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini

menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi

salmonella dari tinja ( Pelczar, dkk, 2005)

2.2 Klasifikasi Salmonella typhi

Menurut Pelczar, dkk, (2005) Berikut ini klasifikasi dari bakteri

Salmonella tiphy yaitu :

Kingdom : Bakteria

Phylum : Proteobakteria

Classis : Gamma proteobakteria

Ordo : Enterobakteriales

Familia : Enterobakteriakceae

Genus : Salmonella

Species : Salmonella thyposa

2.3 Patogenitas Salmonella typhi

Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui

makanan (foodborne diseases). Pada umumnya, serotipeSalmonella

menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang disebabkan

oleh Salmonella disebut salmonellosis. Ciri-ciri orang yang mengalami

salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-72 jam

setelah memakan makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala

lainnya adalah demam, sakit kepala, mual dan muntah-muntah. Tiga serotipe
utama dari jenis Salmonella enterica adalah Salmonella typhi, Salmonella

typhimurium, dan Salmonella enteritidis (Harti, 2008)

Salmonellatyphi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever),

karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis, yang

disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi. Gejala demam tifus meliputi

demam, mual-mual, muntah dan kematian. Salmonella typhi memiliki

keunikan hanya menyerang manusia, dan tidak ada inang lain. Infeksi

Salmonella dapat berakibat fatal kepada bayi, balita, ibu hamil dan

kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan

tubuh mereka yang menurun. Kontaminasi Salmonella dapat dicegah dengan

mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi (Harti,

2008).

2.4 Demam Tyfoid

Demam tifoid merupakan penyakit sistemik yang menjadi masalah

kesehatan dunia. Demam tifoid terjadi baik di neg ara tropis maupun negara

subtropis, terlebih pada negara berkembang. Besarnya angka kejadian demam

tifoid sulit ditentukan karena mempunyai gejala dengan spectrum klinis yang

luas. Insidensi demam tifoid berbeda pada tiap daerah. Demam tifoid lebih

sering menyerang anak usia 5-15 tahun. Menurut laporan WHO (2003),

insidensi demam tifoid pada anak umur 5-15 tahun di Indonesia terjadi

180,3/100.000 kasus pertahun dan dengan prevalensi mencapai 61,4/1000

kasus pertahun. Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella

enterica, terutama serotype Salmonella thypii (S. typhii). Bakteri ini termasuk

kuman Gram negatif yang memiliki flagel, tidak berspora, motil, berbentuk
batang,berkapsul dan bersifat fakultatif anaerob dengan karakteristik antigen

O, H dan Vi (Harti, 2008).

2.5 Gejala Demam Tyfoid

Demam tyfoid adalah gejala yang ditimbulkan oleh beberapa Salmonella

khususnya Salmonella typhi (S.typhi). setelah masa inkubasi 10 – 14 hari,

timbul demam, lemah, sakit kepala, konstipasi, bradikardia, dan mialgia.

Demam sangat tinggi, limpa, serta hati sangat membesar. Lesi yang menonjol

adalah hyperplasia dan nekrosis jaringan limfoid, hepatitis, nekrosis fokal

dalam hati, dan peradangan kandung empedu, periosterium, paru – paru, dan

alat tubuh lainnya. S.typhi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan

pelepasan zat pirogen dan lekosit jaringan radang, sehingga terjadi demam.

Demam merupakan keluhan dan gejala klinis yang timbul pada semua

penderita demam tyfoid ini. Namun, pada anak manifestasi klinis demam

tyfoid tidak khas dan sangat bervariasi sesuai dengan patogenesis demam

tyfoid (Nasar, dkk, 2019).

2.6 Faktor Virulensi

Menurut Harti, (2008) Ada tiga faktor yang menentukan virulensi

bakteri salmonella, yaitu :

2.6.1 Daya invasi

Dalam usus halus, bakteri Salmonella yang berpenetrasi di epitel dan

masuk ke dalam jaringan sub-epitel sampai lamina propia. Mekanisme

biokimia yang terjadi saat penetrasi belum diketahui dengan jelas, tetapi

prosesnya menyerupai fagositosis. Setelah penetrasi, bakteri difagosit


oleh makrofag, berkembang biak, dan dibawa oleh makrofag ke bagian

tubuh yang lain.

2.6.2 Endotoksin

Kemampuan Salmonella yang hidup intra seluler diduga karena

memiliki antigen permukaan (antigen Vi). Simpai sel Salmonella

mengandung kompleks lipopolisakarida (LPS) yang berfungsi sebagai

endotoksin dan merupakan faktor virulensi. Endotoksin dapat

merangsang pelepasan zat pirogen dari sel-sel makrofag dan sel-sel

polimorfonunuklear (PMN) sehingga mengakibatkan demam. Selain itu,

endotoksin dapat merangsang aktifasi sistem komplemen, pelepasan

kinin, dan mempengaruhi limfosit. Sirkulasi endotoksin dalam peredaran

darah dapat menyebabkan kejang akibat infeksi.

2.6.3 Enterotoksin dan sitotoksin

Toksin lain yang dihasilkan oleh Salmonella adalah enterotoksin

dan sitotoksin. Kedua toksin ini diduga juga dapat meningkatkan daya

invasi dan merupakan faktor virulensi Salmonella.

2.7 Diagnosis Demam Tyfoid

Diagnosis tyfoid sulit ditegakkan, sebab gambaran klinis sangat bervariasi

dan tidak khas. Untuk diagnosis laboratorium tyfoid ada 3 kelompok yaitu:

(Nasar, dkk, 2019).

1. Tes serologis, untuk mendeteksi kadar Ab terhadap Ag S.typhi dan

menentukan adanya Ag dari S.typhi.

2. Tes biakan, untuk deteksi kuman S.typhi dari spesimen klinik (darah,

sumsum tulang, urine, dan tinja).


3. Tes Polymerase Chain Reaction (PCR), untuk deteksi DNA spesifik

S.typhi.

Uji serologik demam tyfoid masih sering dilakukan adalah uji widal.

Dibeberapa negara maju tes ini tidak digunakan lagi, tetapi tes yang lebih

sensitive dan spesifik, tetapi di Indonesia masih digunakan. Salmonella

diketahui banyak serotypenya, tetapi pada umumnya dikenal 17 golongan

berdasarkan Ag O (Somatik). Dikenal ada 5 golongan yang penting untuk

infeksi pada manusia yaitu golongan Salmonella paratyphi A, B, C, D, dan E.

Di samping Ag O, Salmonella memiliki Ag H (flagella), dan Ag Vi (tidak

dipakai untuk diagnosis infeksi, tetapi carrier). Ag H memiliki sifat tahan

formalin, tetapi tidak tahan panas, fenol, atau alkohol. Sedang Ag O tidak

terpengaruh oleh zat – zat tersebut. Perbedaan sifat ini dipakai untuk

memisahkan kedua jenis Ag (Nasar, dkk, 2019).

Beberapa pakar menyatakan bahwa titer 1/40 dan 1/80 masih dianggap

normal. Vaksinasi belum lama dapat meningkatkan titer aglutinin (khususnya

aglutinin H), Enterobactericiaceae dapat pula beraksi silang pada aglutinin O

tetapi tidak pada H. Demikian pula pada penderita RF dapat positif palsu.

Demikian pula pada penderita demam tyfoid pemberian antibiotik dapat

memberikan reaksi widal negatif (Nasar, dkk, 2019).

Uji widal sulit distandarisasikan, sehingga hasil antara laboratorium

mungkin berbeda. Titer aglutinin ≥ 1/160 sudah menunjukkan infeksi akut,

kenaikan 4 kali pada uji ganda merupakan indikator infeksi akut. Pada 50%

penderita, titer aglutinin meningkat pada akhir minggu pertama, sedang 90%

penderita aglutinin meningkat pada minggu ke-4. Titer aglutinin O mencapai


puncak pada minggu ke 3 – 6, kemudian turun / menghilang setelah 12 bulan.

Kadang pada infeksi tidak ada aglutinin H dalam serum, tetapi jika aada titer

aglutinin H tidak cepat turun, bahkan tetap tinggi sampai beberapa tahun

(Nasar, dkk, 2019).


BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum Immunoserologi yang berjudul “Pemeriksaan Widal Metode

Tabung” dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 2019 di Laboratorium Stikes

Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Metode

Metode yang digunakan dalam pemeriksaan widal ini adalah metode

tabung(Tube Test)

3.3 Prinsip

Prinsip pemeriksaannya ialah reaksi aglutinasi terjadi bila serum penderita

dicampur dengan suspense antigen Salmonella Typoid

3.4 Pra Analitik

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum tabung tutup merah,

vacutainer, kapas alcohol 70%, tabung, mikropipet dan tip, serum penderita

tifoid dan reagen S. typhi O dan H, S. paratipi AH dan BH

3.5 Analitik

1. Siapkan 10 tabung, tabung 1 masukkan 1,9 ml NaCl 0,9% dan tabung 2-10

masukkan 1 ml NaCl 0,9% tiap tabung

2. Tambahkan 0,1 ml pada tabung 1 dan homogenkan

3. Dan tabung 1, ambil sebanyak 1 ml kemudian masukkan pada tabung 2

dan tabung 2 masukkan 1 ml kedalam tabung 3 dan seterusnya sampai

tabung 9

4. Buang 1 m dari tabung 9 dan untuk tabung 10 sebagai control


5. Tambahakan 1 tetes antigen pada tabung 1-10 homogenkan

6. Kemudian inkubasi : Untuk Typhi “O” dengan 37° Selama 4 jam dan

untuk Typhi “H” dengan suhu 37° selama 2 jam

3.6 Pasca Analitik

1. Positif : Aglutnasi menyebar, berarti terdapat antibodi

2. Negatif : Jika tidak terdapat aglutinasi Atau Tidak adanya reaksi Ag-Ab

yang di tandai dengan adanya aglutinasi (gumpalan).


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil yang telah di dapatkan pada praktikum pemeriksaan widal

metode tabung adalah sebagai berikut :

Pengenceran/Diluent
Antigen Serum Keterangan
(ml)

Tabung 1
BH
1,9ml

Tabung 2
BH
1ml

Tabung 3
BH
1ml

Tabung 4
BH
1ml Terdapat
100 ul
Tabung 5 Aglutinasi (+)
BH
1ml pada tabung 1-8

Tabung 6
BH
1ml

Tabung 7
BH
1ml

Tabung 8
BH
1ml
Kontrol
9 BH
(-) Negatif

(Sumber Data Premier.2019)

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Widal metode tabung

4.2 Pembahasan

Demam tifoid (Typhus abdominalis) adalah penyakit infeksi akutyang

disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi A, B, atau C,

yang masuk kedalam tubuh melalui makanan dan minuman yang tercemar.

Untuk pemeriksaan demam tifoid ialah uji serologi widal slide dan tabung

test dengan menggunakan sampel serum.

Pemeriksaan widal adalah suatu pemeriksaan serologi yang berarti bahwa

seseorang pernah terinfeksi kuman Salmonella tipe tertentu. Untuk

menentukan seseorang menderita demam tifoid atau bukan, tetap harus

didasarkan atas gejala-gejala yang sesuai dengan penyakit tifus. Uji widal

hanya dapat dikatakan sebagai penunjang diagnose jika seseorang tanpa

gejala dengan uji widal positif tidak dapat dikatakan menderita tifus.Tes

Widal merupakan tes aglutinasi yang digunakan dalam diagnosis serologi

penyakit demam typhoid. Tes Widal mengukur level aglutinasi antibodi

terhadap antigen O (somatic) dan antigen H (flagellar). Uji reaksi Widal

menggunakan suspensi bakteri S.typhi dan S. paratyphi dengan perlakuan

antigen H dan O. Antigen ini dikerjakan untuk mendeteksi antibodi yang

sesuai pada serum pasien yang diduga menderita demam typhoid. Antibodi

IgM somatik O menunjukksn awal dan merepresentasikan respon serologi


awal pada penderita demam thypoid akut, dimana antibodi IgG flagela H

biasanya berkembang lebih lambat tetapi tetap memanjang.

Uji Widal metode tabung merupakan metode konvensional, dengan tingkat

ketelitian lebih baik dari metode slide. Metode tabung juga memilki

kekurangan yakni membutuhkan waktu inkubasi semalam, dan peralatan

yang digunakan cukup banyak, sehingga dianggap kurang praktis. Prinsip uji

widal adalah serum pasien dengan pengenceran berbeda-beda ditambah

antigen dalam jumlah sama. Jika serum terdapat anatibodi maka akan terjadi

aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi

menunjukkan titer antibodi dalam serum.

Uji ini didasarkan pada reaksi aglutinasi antara antigen dalam reagen

terhadap antibody pada serum penderita demam typoid. Reaksi aglutinasi ini

didasarkan pada kenaikan titer, dimana titer awal atau yang biasa disebut

aglutinasi awal yaitu 1/80 yaitu 40ul reagen + 20ul serum penderita. Apabila

terjadi aglutinasi (+) maka dapat dianjutkan dengan pemeriksaan titer

berikutnya yaitu 1/160 yaitu 40ul reagen + 10ul serum penderita, apabila

diperoleh hasil positif, dilanjutkan lagi pada titer berikutnya yaitu 1/320 yatu

40ul reagen +5ul serum penderita, ini adalah titer tertinggi. Apabila telah

mencapai titer 1/320 maka dapat di fonis menderita demam tifoid. Namun

apabila baru mencapai titer 1/80, untuk pasien yang pernah menderita demam

typoid maka ini merupakan titer normal, tetapi untuk pasien yang belum

pernah mengalami demam typoid maka perlu dilakukan pemerikasaan

berikutnya pada 5-7 hari, untuk melihat apakah ada peningkatan titer atau

tidak. Untuk titer 1/160, untuk pasien yang pernah mengalami demam tifoid
maka perlu dilakukan pemeriksaan dalam jangka waktu 5-7 hari untuk

meluhat kenaikan titernya, namun untuk pasien yang belum pernah

mengalami demam typoid maka sudah dapat dikatakan (+) typoid. Lalu

berlanjut pada titer 1/320.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil yaitu terjadi

aglutinasi pada tabung 1-8 dan tabung 9 sebagai control. Hal ini adanya

reaksi antara antigen dengan antibody sehingga terjadinya gumpalan atau

aglutinasi. Hasil yang didapat adalah positif palsu karena penggunaan

reagennya sudah dalam keadaan kadaluarsa, maka hasilnya invalid sehingga

untuk mendiagnosa demam tipoid pada seseorang tidak bisa dikatakan positif.

Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara

lain sensitivitas, spesifitas, stadium penyakit; faktor penderita seperti status

imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi,

saat pengambilan specimen, gambaran imunologis dari masyarakat setempat

(daerah endemis atau non endemis), faktor antigen, teknik serta reagen yang

digunakan.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pemeriksaan widal dapat dilakukan dengan menggunakan metode

tabung. Prinsip tes Widal adalah pasien dengan demam tifoid atau demam

enteric akan memiliki antibodi di dalam serumnya yang dapat bereaksi dan

beraglutinasi dilusi ganda. Pada praktikum ini tiddak ditemukan antigen

salmonella typhi dalam pemeriksaan tersebut.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan pada praktikum ini sebaiknya

pada praktikum selanjutnya menggunakan reagen yang baru, Sehingga hasil

yang dikeluarkanpun akurat.


DAFTAR PUSTAKA

A, Fatmawati Rachman, Nahwa Arkhesi, Hardian, 2011. Uji Diagnosis Tes


Serologi Widal Dibandikan Dengan Kultur Darah Sebagai Baku Emas
Untuk Diagosis Demam Tifoid pada Anak. Universitas Diponegoro
Semarang.
Prasetyo RV, Ismoedijanto, 2011. Metode Diagnostik Demam Tifoid Pada Anak.
FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo. Surabaya.
Harti S.A., 2008. Lembar Kerja Praktikum dan Diktat Kuliah Imunologi
Serologi. Fakultas Biologi Universitas Setia Budi, Surakarta.

Nasar dan Rusdin. 2019. Panduan Praktikum Imunoserologi. D3 Analis


Kesehatan. Stikes Bina Mandiri. Gorontalo.

Pelczar, dkk. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Jakarta: UI Press.